logo ppid

Poster Hari Arsitektur Nasional untuk RRI Voice of Indonesia

Hai sobat PPI Dunia, kali ini kita punya topik asyik nih. Di awal pekan ini kami ingin membahas tentang Hari Arsitektur Nasional bersama para pelajar Turki.

Kira-kira seperti apa sih ulasannya?

Yuk stay tune bersama RRI Voice of Indonesia!!!

JORDAN – Perwakilan Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (HPMI) Jordan mendapat kesempatan untuk hadir dalam Kuliah Umum ASEAN bertajuk “ASEAN and The Middle East: Trajectories for future relations” yang digelar oleh The Committee of The Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), Jordan Institute of Diplomacy (JID) dan Kementerian Luar Negeri Jordan pada Selasa (21/10/2017). Acara yang diadakan di Jordan Institute of Diplomacy, Amman itu dihadiri oleh ratusan peserta dari kalangan para diplomat, pejabat pemerintahan, pebisnis, praktisi dan pelajar.

Acara dibuka dengan sambutan dari Andy Rachmianto selaku Duta Besar RI untuk Yordania dan Palestina. Kuliah umum yang disampaikan oleh eksekutif direktur Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta dan pakar politik dari Indonesia, Dr. Philip Jusario Vermonte itu dimulai pada pukul 10.00 waktu setempat dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dimoderatori oleh Lina Arafat, Direktur Jordan Institute of Diplomacy.

Dalam paparannya, Philip menekankan tiga hal yaitu: politik dan keamanan; ekonomi dan perdagangan; dan hubungan persahabatan. Ia mengawali dengan memaparkan berbagai modal kesamaan yang dimiliki antara regional Asia Tenggara (ASEAN) dan Timur Tengah (Middle East). Pertama, sama-sama beranggotakan negara-negara berkembang yang punya orientasi untuk memajukan negaranya. Kedua, persamaan agama sehingga bisa saling tukar pikiran dalam pengelolaan hubungan antar umat beragama. Ketiga, kebutuhan akan keamanan dalam negeri dan regional dalam menciptakan kedamaian dan dalam menghadapi radikalisme yang sedang berkembang di wilayah regional masing-masing. Terakhir, pertukaran budaya dan perdagangan yang seharusnya memudahkan interaksi antar individu di kedua regional untuk penguatan hubungan persahabatan.

Dalam aspek politik dan keamanan, beberapa hal menjadi poin utama kesamaan antara ASEAN dengan Timur Tengah. Salah satunya ialah penerapan sistem demokrasi dalam pemerintahan negara. Selain itu, telah terbentuk kerjasama bidang industri pertahanan dan keamanan dalam pengadaan alat-alat perlengkapan dan perbaikan kecanggihannya di antara anggota ASEAN dengan negara-negara Timur Tengah. Yang berikutnya perang melawan terorisme, telah terjalin kerjasama dalam bidang pemberantasan terorisme yang dilakukan antar dua negara. Singapura dengan Yordania, Malaysia dengan Turki berkolaborasi dalam perlawanan terhadap terorisme, sementara Indonesia dengan Yordania dalam hal tukar-menukar informasi intelijen dan program deradikalisasi.

"It is known that countries in both regions have established a various of cooperations related to security and the fight against terrorism," kata Philip ketika memaparkan kerjasama antar region dalam bidang keamanan politik. "Such as the exchange of defence equipment and expertise, information and intelligence sharing, interfaith dialogues, and many more," tambahnya.

Di sisi ekonomi, Philip menerangkan bahwa tercatat telah lama terbentuk beberapa kerjasama dan perdagangan yang berlangsung antar ASEAN dengan Gulf Cooperation Council dan ASEAN dengan Liga Arab dalam berbagai komoditi perdagangan dan paling utama terkait minyak bumi. Selain itu, tercatat di tahun 2015, negara Timur Tengah yang melakukan hubungan perdagangan dengan ASEAN paling banyak adalah UAE, Saudi Arabia, Qatar, Turki dan Kuwait. Sedangkan untuk ASEAN dengan Jordan, Indoesia yang paling besar, kemudian Thailand, Malaysia dan Singapura.

Dalam segi persahabatan antar regional, bisa saling bertukar pikiran dan budaya antar pemuda atau mahasiswa dengan mengadakan program tukar pelajar. Dalam hal ini, Indoensia salah satu negara ASEAN yang beberapa tahun ke depan akan mendapatkan bonus demografi. Usia produktif (antara 16–45 tahun) lebih banyak dari jumlah populasi penduduk Indonesia dan saat ini sedang mempersiapkan untuk menuju Kebangkitan Indonesia. Duta Besar Andy Rachmianto tidak lupa menyebutkan bahwa Indonesia sebagai bagian dari ASEAN terus membersamai Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Sebagai tambahan, Andy juga menjelaskan genosida yang terjadi di Rohingya sebagai isu penting ASEAN yang masih terus membutuhkan perhatian dan bantuan kemanusiaan dari berbagai negara. Tercatat di tahun 2015, Jordan membawa angin segar dalam persahabatan antara Jordan dengan ASEAN dan menugaskan duta besarnya untuk negara-negara ASEAN. Mesir dan Maroko juga telah melakukan kerjasama dan menjalin hubungan persahabatan dengan negara-negara anggota ASEAN dan selalu mempromosikan hubungan persahabatan dan kerjasama yang penuh kedamaian selamanya.

 

Pelajaran dari ASEAN untuk Timur Tengah

Dalam masalah blok regional, negara-negara Timur Tengah cenderung untuk menerapkan model regionalisasi seperti Uni Eropa, jika telah berkembang secara signifikan. Model tersebut terutama GCC yang telah tercapai kesepakatan besar pada tingkat kesatuan budaya yang diimplementasikan sejak 2015. Kerja sama ASEAN telah dipandu oleh prinsip kesetaraan dan tidak mengintervensi, kooperatif dalam keamanan dan tidak menggunakan kekerasan. ASEAN sering menekankan pencegahan konflik dan bukan mengedepankan militer, sehingga menghasilkan lingkungan yang damai. Piagam ASEAN pada tahun 2008 memproklamasikan "People Oriented" karena pendekatan itu untuk mengejar dan memperdalam regionalisme di Asia Tenggara. Visi ASEAN 2025 membangun sebuah dasar untuk tujuan akhir dalam menciptakan masyarakat ASEAN yang berpusat pada komunitas masyarakat ASEAN (ASEAN Community). ASEAN memiliki masyarakat sipil yang berbasis di setiap negara-negara anggota dengan bangga menggunakan simbol negara “ASEAN”. Ada semakin banyak acara dan aktivitas publik yang mengutip status tersebut, misalnya forum pemuda ASEAN.

Pada pukul 12.00, acara ditutup setelah sesi tanya jawab selesai kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dan menyantap sajian khas Asia Tenggara dari Indonesia, Malaysia, Thailand dan Filipina.**

 

Pengirim: Miftah Nafid Firdaus

MA Candidate in Islamic Economic and Banking

Yarmouk University, Jordan

 

Editor: Kartika Restu Susilo

JORDAN – Perwakilan Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (HPMI) Jordan mendapat kesempatan untuk hadir dalam Kuliah Umum ASEAN bertajuk “ASEAN and The Middle East: Trajectories for future relations” yang digelar oleh The Committee of The Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), Jordan Institute of Diplomacy (JID) dan Kementerian Luar Negeri Jordan pada Selasa (21/10/2017). Acara yang diadakan di Jordan Institute of Diplomacy, Amman itu dihadiri oleh ratusan peserta dari kalangan para diplomat, pejabat pemerintahan, pebisnis, praktisi dan pelajar.

Acara dibuka dengan sambutan dari Andy Rachmianto selaku Duta Besar RI untuk Yordania dan Palestina. Kuliah umum yang disampaikan oleh eksekutif direktur Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta dan pakar politik dari Indonesia, Dr. Philip Jusario Vermonte itu dimulai pada pukul 10.00 waktu setempat dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dimoderatori oleh Lina Arafat, Direktur Jordan Institute of Diplomacy.

Dalam paparannya, Philip menekankan tiga hal yaitu: politik dan keamanan; ekonomi dan perdagangan; dan hubungan persahabatan. Ia mengawali dengan memaparkan berbagai modal kesamaan yang dimiliki antara regional Asia Tenggara (ASEAN) dan Timur Tengah (Middle East). Pertama, sama-sama beranggotakan negara-negara berkembang yang punya orientasi untuk memajukan negaranya. Kedua, persamaan agama sehingga bisa saling tukar pikiran dalam pengelolaan hubungan antar umat beragama. Ketiga, kebutuhan akan keamanan dalam negeri dan regional dalam menciptakan kedamaian dan dalam menghadapi radikalisme yang sedang berkembang di wilayah regional masing-masing. Terakhir, pertukaran budaya dan perdagangan yang seharusnya memudahkan interaksi antar individu di kedua regional untuk penguatan hubungan persahabatan.

Dalam aspek politik dan keamanan, beberapa hal menjadi poin utama kesamaan antara ASEAN dengan Timur Tengah. Salah satunya ialah penerapan sistem demokrasi dalam pemerintahan negara. Selain itu, telah terbentuk kerjasama bidang industri pertahanan dan keamanan dalam pengadaan alat-alat perlengkapan dan perbaikan kecanggihannya di antara anggota ASEAN dengan negara-negara Timur Tengah. Yang berikutnya perang melawan terorisme, telah terjalin kerjasama dalam bidang pemberantasan terorisme yang dilakukan antar dua negara. Singapura dengan Yordania, Malaysia dengan Turki berkolaborasi dalam perlawanan terhadap terorisme, sementara Indonesia dengan Yordania dalam hal tukar-menukar informasi intelijen dan program deradikalisasi.

"It is known that countries in both regions have established a various of cooperations related to security and the fight against terrorism," kata Philip ketika memaparkan kerjasama antar region dalam bidang keamanan politik. "Such as the exchange of defence equipment and expertise, information and intelligence sharing, interfaith dialogues, and many more," tambahnya.

Di sisi ekonomi, Philip menerangkan bahwa tercatat telah lama terbentuk beberapa kerjasama dan perdagangan yang berlangsung antar ASEAN dengan Gulf Cooperation Council dan ASEAN dengan Liga Arab dalam berbagai komoditi perdagangan dan paling utama terkait minyak bumi. Selain itu, tercatat di tahun 2015, negara Timur Tengah yang melakukan hubungan perdagangan dengan ASEAN paling banyak adalah UAE, Saudi Arabia, Qatar, Turki dan Kuwait. Sedangkan untuk ASEAN dengan Jordan, Indoesia yang paling besar, kemudian Thailand, Malaysia dan Singapura.

Dalam segi persahabatan antar regional, bisa saling bertukar pikiran dan budaya antar pemuda atau mahasiswa dengan mengadakan program tukar pelajar. Dalam hal ini, Indoensia salah satu negara ASEAN yang beberapa tahun ke depan akan mendapatkan bonus demografi. Usia produktif (antara 16–45 tahun) lebih banyak dari jumlah populasi penduduk Indonesia dan saat ini sedang mempersiapkan untuk menuju Kebangkitan Indonesia. Duta Besar Andy Rachmianto tidak lupa menyebutkan bahwa Indonesia sebagai bagian dari ASEAN terus membersamai Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Sebagai tambahan, Andy juga menjelaskan genosida yang terjadi di Rohingya sebagai isu penting ASEAN yang masih terus membutuhkan perhatian dan bantuan kemanusiaan dari berbagai negara. Tercatat di tahun 2015, Jordan membawa angin segar dalam persahabatan antara Jordan dengan ASEAN dan menugaskan duta besarnya untuk negara-negara ASEAN. Mesir dan Maroko juga telah melakukan kerjasama dan menjalin hubungan persahabatan dengan negara-negara anggota ASEAN dan selalu mempromosikan hubungan persahabatan dan kerjasama yang penuh kedamaian selamanya.

 

Pelajaran dari ASEAN untuk Timur Tengah

Dalam masalah blok regional, negara-negara Timur Tengah cenderung untuk menerapkan model regionalisasi seperti Uni Eropa, jika telah berkembang secara signifikan. Model tersebut terutama GCC yang telah tercapai kesepakatan besar pada tingkat kesatuan budaya yang diimplementasikan sejak 2015. Kerja sama ASEAN telah dipandu oleh prinsip kesetaraan dan tidak mengintervensi, kooperatif dalam keamanan dan tidak menggunakan kekerasan. ASEAN sering menekankan pencegahan konflik dan bukan mengedepankan militer, sehingga menghasilkan lingkungan yang damai. Piagam ASEAN pada tahun 2008 memproklamasikan "People Oriented" karena pendekatan itu untuk mengejar dan memperdalam regionalisme di Asia Tenggara. Visi ASEAN 2025 membangun sebuah dasar untuk tujuan akhir dalam menciptakan masyarakat ASEAN yang berpusat pada komunitas masyarakat ASEAN (ASEAN Community). ASEAN memiliki masyarakat sipil yang berbasis di setiap negara-negara anggota dengan bangga menggunakan simbol negara “ASEAN”. Ada semakin banyak acara dan aktivitas publik yang mengutip status tersebut, misalnya forum pemuda ASEAN.

Pada pukul 12.00, acara ditutup setelah sesi tanya jawab selesai kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dan menyantap sajian khas Asia Tenggara dari Indonesia, Malaysia, Thailand dan Filipina.**

 

Pengirim: Miftah Nafid Firdaus

MA Candidate in Islamic Economic and Banking

Yarmouk University, Jordan

 

Editor: Kartika Restu Susilo

Sebagai upaya untuk menghadirkan hal-ihwal Turki lebih lengkap dan menyeluruh, tim Turkish Spirits (portal yang diinisiasi oleh pelajar Indonesia di Turki yang beralamat di www.turkishspirits.org) menerbitkan sebuah buku kompilasi berjudul "Turki Yang Tak Kalian Kenal!" Buku yang diedit dan dikurasi langsung oleh founder Turkish Spirits (TS) Bernando J. Sujibto ini menampung karya-karya dengan berbagai topik yang ditulis oleh tim TS seperti Hari Pebriantok, Didid Haryadi, Lia Yulianti, Hadza Min Fadhli R, Roida Hasna Afrilita, Yanuar Agung Anggoro, Abdul Ghaffar Chodri, Amdya Hisyam, Azahra Nurhabiba dan beberapa tulisan berasal dari kontributor TS.
"Buku ini ingin menyajikan sisi-sisi lain tentang Turki, dengan cara yang elegan dan tidak tendensius. Semua tulisan nyaris seperti sebuah penuturan apa adanya, ditulis dengan nafas kejujuran dari para pelajar Indonesia di Turki yang mengalami langsung tensi politik, sosial dan kebudayaan orang lokal di Turki," jelas Kak Bje, panggilan akrab Bernando J. Sujibto.

Di samping itu, lanjutnya, buku ini ingin membuka cakrawala yang lebih luas tentang Turki dan sekaligus sebagai sumbangsih pelajar sebagai agen intelektual dengan menyajikan konten yang beragam tentang Turki. Karena sejauh ini, kabar-kabar Turki yang terekspos ke tanah air lebih banyak didominasi oleh isu-isu (partai) politik, atau kekerasan. "Sebagai pelajar, kita harus menyajikan hal-hal positif sebagai alternatif bacaan tentang Turki," tukas Kak Bje ketika dihubungi lewat Whatsaap. Buku ini akan beredar di toko buku di seluruh Indonesia pada medio November dengan harga Rp. 68.000. Tapi untuk saat ini, tim TS sedang membuka pemesanan dengan diskon 15% yang sekaligus dengan bubuhan tanda tangan dari Kak Bje sebagai kurator. Bagi pembaca sekalian yang tertarik untuk mengetahui hal-hal yang selama ini tersembunyi tentang Turki bisa membaca dan menikmati Turki yang beda dari buku ini.

 

Buku ini tergolong berani, misalnya mengangkat tentang rasisme, amarah dan tensi ideologis, atau hal-hal yang naif sekalipun: lotre yang masih legal di Turki. Lebih dari itu, hal-hal yang tak akrab tentang Turki bisa pembaca reguk dengan sangat menyenangkan dalam buku ini. Bagi yang tertarik untuk memesannya, sila DM akun instagram TS @spiritturki atau kirim WA langsung ke nomor +6282140827122 dengan melengkali "nama, alamat lengkap, nomor kontak dan jumlah buku". Tunggu update dan karya TS selanjutnya di Fanpage Facebook "Turkish Spirits" atau akun Instagram @spiritturki.

Penulis: Didid Haryadi, Pimred Turkish Spirits, Mahasiswa Program Master Sosiologi di Istanbul University.

Selasa 24 Oktober 2017, Kesatuan Keluarga Mahasiswa Indonesia (KKMI) Libya mendapat penghargaan dari International Islamic Call College (IICC), Tripoli, sebagai organsasi kenegaraan yang teraktif, kreatif dan inovatif. Penghargaan tersebut langsung diterima oleh Presiden KKMI Libya, Alvan Satria Shidiq. Penghargaan itu diberikan di Auditorium kampus IICC, pada acara wisuda angkatan ke 40 lulusan IICC.

“Penghargaan ini kami dapatkan dari perjuangan teman-teman mahasiswa Indonesia di Libya. Dengan segala keterbatasan dan berbagai kesulitan di negara Oemar Mohktar ini, pasca jatuhnya Muammar Kaddafi 2011 lalu yang hingga saat ini masih meninggalkan bekas nan tak kunjung sembuh. Walaupun demikian, kami mahasiswa Indonesia di sini tak ingin ikut terpuruk dalam kegalauan yang melanda negeri Libya. Ibarat lilin, kami ingin menjadi penerang untuk mahasiswa lain yang berasal dari berbagai negara di kampus ini. Kami buktikan bahwa kami bisa berbuat walapun terhimpit kesulitan. Terbukti pada Febuari tahun ini, kami sukses mengadakan acara Pengenalan Budaya Indonesia yang dihadiri oleh mahasiswa dari 30 negara berbeda, pada akhirnya mendapatkan sanjungan dan pujian yang luar biasa”, demikian ungkap Alvan. “Selain itu, penghargaan ini kami dapatkan tak lepas dari dukungan dan sokongan dari Duta Besar Indonesia untuk Libya, Bapak Raudin Anwar beserta para staf KBRI yang lainnya. Peran KBRI Tripoli di sini sangat penting, sebagai orang tua kami di Libya memberi nasehat dan arahan tentang kuliah di Libya”, tambah pemuda Minang ini.

Selain mendapatkan penghargaan untuk organisasi, beberapa orang mahasiswa yang merupakan anggota KKMI Libya juga mendapatkan apresiasi atas prestasi mereka di bidang akademik, diantaranya Okky Afrianto, mahasiswa tahun tiga kuliyah, jurusan Bahasa Arab dan Chairul Amin Mubarak, mahasiswa tahun tiga kuliyah, jurusan Syariah, kedua-duanya mendapatkan penghargaan atas pencapaian mereka dengan nilai tertinggi di kelas masing-masing, keduanya mendapatkan nilai mumtaz.

Bapak Untung, salah seorang staf KBRI yang turut hadir menyaksikan acara wisuda dan pemberian penghargaan ini pun, merasa bangga atas apa yang telah diraih mahasiswa Indonesia di Libya. Beliau mengatakan, “semoga kedepannya prestasi mahasiswa Indonesia di Libya dapat ditingkatkan lagi”.

Hanif Ma’asy Rachman, salah seorang anggota KKMI Libya yang juga merupakan Menteri Olahraga di kepengurusan BEM kampus IICC mengatakan, “Alhamdulillah Indonesia disanjung-sanjung oleh para tamu yang hadir pada acara ini”, ungkapnya dengan senyuman lebar. “Harapan kami semoga ke depannya KKMI Libya bisa lebih eksis lagi, bukan hanya skala kampus tapi bisa mngenalkan Indonesia lebih luas lagi kepada masyarakat Libya”, tambahnya.

Wisuda ini dimulai pukul 10.00 pagi waktu Tripoli, acaranya berjalan lancar hingga selesai pada pukul 14.00 waktu Tripoli. Selain dihadiri oleh mahasiswa, para perwakilan dari kedutaan berbagai negara pun turut hadir, di antaranya perwakilan dari kedutaan Indonesia, Filipina, Sudan, Bangladesh, Turki dan beberapa negara lain dari benua Afrika.

Setelah acara ini selesai, di luar gedung sudah disambut oleh para penunggang kuda, dengan pakaian tradisional Libya. Ada tiga kuda beserta para jokinya masing-masing. Hal ini menambah semarak kegiatan wisuda kampus International Islamic Call College (IICC) tahun ini.

Penulis:Riyadi S. Harun

 

 

 

 

 

Pemutusan hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan Qatar berdampak luas, hingga para mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Universitas Islam Madinah pun terkena dampaknya. Tiket pulang-pergi maskapai Qatar Airways yang seyogyanya ditempuh dengan rute Madinah-Doha-Jakarta terpaksa harus diubah dengan beberapa pilihan rute, antara lain:

☆ Jakarta-Doha-Muscat-Madinah

☆ Jakarta-Doha-Kuwait-Madinah

☆ Jakarta-Doha-Istanbul-Madinah

Adanya opsi transit di Istanbul memunculkan inisiatif dari beberapa mahasiswa untuk masuk ke dalam kota Istanbul jika waktu memungkinkan.

Atas berkat rahmat Allah disepakatilah untuk memilih penerbangan Qatar Airways Kamis, 14 September 2017 pukul 00:20 dini hari dari Jakarta menuju ke Doha, Qatar dengan transit selama 4 setengah jam. Selama di Doha, dilakukan pengarahan (briefing) oleh salah satu mahasiswa yang sebelumnya sudah pernah berkunjung ke Turki terkait hal-hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan setiba di Istanbul nantinya.

Dari Doha penerbangan dilanjutkan ke Istanbul dengan transit selama 9 jam 20 menit. Tiba di Bandara Internasional Sabiha Gökçen sekitar pukul 13:30, sesuai pengarahan ketika di Doha, 21 mahasiswa yang tergabung bersama grup PPMI Madinah langsung menarik uang melalui m
esin ATM bandara, mengantri imigrasi, menukar uang melalui money changer, membeli kartu transportasi (Istanbulkart), lalu menunggu bus Havataş dengan tujuan pelabuhan Kadıköy. Perjalanan darat Sabiha-Kadıköy ditempuh dengan waktu selama 1 jam 11 menit.

Sampai di Kadıköy, rombongan menuju dermaga kapal fery dengan tujuan pelabuhan Eminönü. Perjalanan laut ini ditempuh kurang lebih 25 menit. Di Eminönü dapat terlihat Galata Tower dan Jembatan Bosphorus yang menghubungkan Istanbul wilayah Asia dan Eropa. Dari Eminönü rombongan menaiki Tramvay (kereta listrik) menuju stasiun Sultanahmet.

Dikarenakan terbatasnya waktu, rombongan PPMI Madinah hanya sempat mengunjungi Basilica Cistern, Hagia Sophia, sholat di Blue Mosque, berfoto di area Hippodrome dan taman di depan Blue Mosque.

Dikhawatirkan tak dapat bertemu dengan mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Istanbul, beberapa hari sebelum keberangkatan, salah satu anggota Departemen Publikasi dan Dokumentasi PPMI Madinah sudah lebih dahulu memberi kabar dan memohon maaf kepada PPI Istanbul jika nantinya tidak sempat silah-ukhuwwah. Benar saja, ternyata waktu memang tidak memungkinkan untuk berjumpa saudara seperjuangan di Istanbul.

Menjelang waktu magrib rombongan kembali ke bandara dengan rute sebaliknya dengan alat transportasi yang sama. Tiba di Bandara Internasional Sabiha Gökçen langsung mengantri imigrasi lalu melaksanakan sholat di musholla bandara. Selesai sholat, panggilan untuk masuk pesawat Turkish Airlines tujuan Madinah pun terdengar.

Setelah menempuh perjalanan udara sekitar 3 jam 25 menit rombonganpun tiba di Madinah Al-Munawwarah dengan selamat dengan membawa kenangan singkat selama di dalam kota Istanbul. Tak hanya kenangan, semangat Sahabat Rasulullah; Abu Ayyub Al-Anshori dan Sultan Muhammad Al-Fatih pun terpatri di hati. [] (Red. Ahmad Bilal Almagribi/PPMI Madinah)

Berita baik datang dari wakil Indonesia di ajang Festival Film Pendek tingkat Pelajar Internasional yang pertama di Nabeul, Tunisia. Hadzari, sebuah film pendek berdurasi 2 menit 44 detik adalah sebuah karya pemikiran audiovisual dari sineas muda, Irhamni Rofiun, yang merupakan pelajar Indonesia yang sedang menyelesaikan studi pascasarjana di Universitas Ezzitouna. Film Hadzari, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Waspada’ berhasil menjadi yang terbaik dalam ajang tersebut, dan satu-satunya film yang diputar ketika malam penganugerahan, Minggu malam (9/7).

Film berbahasa Arab ini tidak hanya melibatkan mahasiswa Indonesia sebagai aktor utama, melainkan mengajak crew dan pemain asing dalam proses penggarapannya. Selain itu, Indonesia juga berhasil memborong banyak penghargaan, di antaranya Best Soundtrack dalam film Silat, Taufik Imron sebagai aktor favorit dalam film Hadzari, dan film Silat sebagai film favorit pilihan hadirin panitia dan peserta.

Penghargaan Film Pendek di Tunisia

Menurut pengakuan Irhamni Rofiun, yang juga menjadi sutradara dalam film Silat tersebut, ketika dirinya tiga kali maju untuk mengambil penghargaan di panggung utama, pemanggilan ketiga pemberian penghargaan sebagai sutradara dalam film Silat, ia sempat tidak percaya dan terharu sekaligus bangga karena nama Indonesia kembali harum. Sebab, menurut penuturannya, film Silat tersebut banyak melibatkan banyak orang dan pendukung, di antaranya tim dan pemain yang tergabung dalam organisasi induk PPI Tunisia, anak-anak dari staf KBRI dan Medco Energi, serta yang paling mendukung penuh adalah KBRI Tunis sebagai sponsor tunggal.

Kompetisi film pendek ini diikuti oleh 600 karya dari 125 negara dari 3 jenis kategori: Fiksi, dokumenter dan animasi. Kebanyakan mereka adalah para pelajar atau mahasiswa yang bergelut dalam dunia sinematografi dan perfilman, bahkan ada yang sudah biasa mengikuti festival film pendek di Cannes, Prancis, Toronto, USA, dll. Hanya 27 karya film pendek dari 20 negara di antaranya: Indonesia, Palestina, Turki, Syria, Aljazair, Jordania, Lebanon, Irak, Mesir, Iran, Malaysia, USA, Prancis, Italia, Spanyol, Jerman, Cina, Thailand, Norwegia dan tuan rumah Tunisia. Dan yang diundang khusus oleh panitia penyelenggara hanya 20 sineas muda dari 20 negara tersebut, mereka ditanggung sepenuhnya mulai dari akomodasi, transportasi, penginapan, makan, dll. Untuk mengikuti acara puncak di Nabeul, Tunisia sejak tanggal 6-9 Juli 2017. Kegiatan tersebut meliputi workshop film; writing scripts, shooting & directing, editing & mixing. Dan itu semua dimentori oleh para seniman dan para pakar dalam dunia sinematografi dan perfilman, serta acara hiburan lainnya.

Pengumuman Pemenang Festival Film Pendek se-Tunisia

Berikut daftar peraih penghargaan terbaik Festival Film Pendek Pelajar Internasional 2017 di Nabeul.

- The prize of the best image: Film Fino, disutradarai oleh: Estephan Khattar, Lebanon.
- The prize of the best soundtrack: Film Silat, disutradarai oleh: Irhamni Rofiun, Indonesia.
- The prize of the best editing: Film Day 79, disutradarai oleh: Wissem Al Jaafari, Palestina.
- The prize of Best Scenario: The End of The Good Days, disutradarai oleh: Bask Mehmet, Turki.
- The prize of Best Male Performance: Memood, Jerman.
- The prize of Best Female Performance: Raya Busslah, Film Red on White, Tunisia.
The prize for the best short film: Film Hadzari (Waspada), disutradarai oleh: Irhamni Rofiun, Indonesia.

Daftar di atas adalah pemenang pilihan dewan juri, adapun pilihan pemirsa (penonton: panitia, peserta) adalah:

- Film Pendek Favorit: Film Silat, disutradarai oleh Irhamni Rofiun, Indonesia.
- Aktor Favorit: Taufik Imron, Film Hadzari (Waspada), disutradarai oleh Irhamni Rofiun, Indonesia.

(Red: PPI Tunisia/ Ed: Amir)

Tokyo - Alhamdulillah, bagi warga muslim Indonesia di Tokyo dan sekitarnya, Ramadan kali ini menjadi semakin hangat dan istimewa. Hal itu dikarenakan keberadaan hasil perjuangan 18 tahun pembangunan Masjid Indonesia pertama di Tokyo berbuah manis.

Tepatnya 26 Mei 2017, Jumat sore hari jelang memasuki Ramadan, masjid Indonesia Tokyo diresmikan oleh Duta Besar Indonesia untuk Jepang Bapak Arifin Tasrif. Akhirnya, kami di sini dapat melaksanakan ibadah salat fardhu dan iktikaf di Masjid Indonesia Tokyo. Suasana haru pun dirasakan saat itu, tak luput dari kami hingga ada yang berurai air mata hingga pekikan takbir berucap syukur.

Dengan adanya Masjid Indonesia, kehangatan diantara warga muslim Indonesia kian terasa. Ada tempat berkumpul dalam beribadah, ada wadah untuk menyapa sesama muslim Indonesia yang berjumlah sekitar 5.000 orang di Tokyo dan sekitarnya. Tak hanya itu, fungsi Masjid Indonesia ini pun dirasakan oleh muslim lainnya seperti dari Bangladesh, Pakistan, Turki, Malaysia dan warga muslim Jepang itu sendiri.

Buka puasa bersama di Masjid Indonesia Tokyo (Arif Aditiya)

Ramadan di Jepang tentu berbeda dengan Indonesia. Subuhnya berkisar pukul 02.39 dan waktu Magribnya mendekati pukul 19.00 malam. Sekitar 17 jam lamanya warga muslim di Jepang melaksanakan puasa di musim panas kali ini.

Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII) Jepang yang merupakan wadah berupa organisasi dakwah Islam di Jepang yang dimotori oleh masyarakat Islam Indonesia yang tinggal di Tokyo dan sekitarnya menyelenggarakan rangkaian kegiatan untuk mengisi Ramadan 1438 H. Kegiatan itu seperti buka puasa bersama, salat dan kajian Tarawih, workshop tematik,

Tabligh Akbar tiap Ahad, iktikaf, Pesantren Kilat, Ramadhan Ceria for Kids, A Day : Islamic Culture Festival for Japanese, hingga rangkaian Salat Idul Fitri dan gelaran Open House oleh KBRI Tokyo.

Tak lupa, Panitia Ramadan juga menerima zakat fitrah dan mal dan menyalurkannya kepada yang berhak menerimanya. Kegiatan Tabligh Akbar setiap Ahad, menjadi istimewa yang dinanti setiap pekannya. Di tengah rutinitas harian, kegiatan ini laksana oase di padang pasir.

Tabligh Akbar yang diadakan KMII di Tokyo selama Ramadan di Masjid Indonesia Tokyo yang baru dibuka pada Mei 2017 lalu (Arif Aditiya)

Selain tema beragam yang menarik, momen yang ditunggu yakni pada saat berbuka bersama teman, kerabat atau keluarga menjadi sangat spesial, apalagi menu takjil dan hidangan serba spesial ala Indonesia tersaji apik oleh ibu-ibu Kemuslimahan KMII Jepang. Jumlah yang hadir bisa mencapai 500 orang. Mereka datang dari Tokyo dan luar Tokyo, bahkan ada yang bermalam sebelumnya untuk menghadiri acara ini. Indahnya kebersamaan ini sangat dirasakan.

Kegiatan Ramadan merupakan kegiatan tahunan KMII Jepang yang didukung oleh seluruh komunitas warga muslim Indonesia di Jepang baik para pekerja, pelajar, pekerja magang, dan perawat. Hal ini dapat terlihat dari narasumber yang tidak hanya mengisi di Tokyo, namun juga mengisi ke berbagai daerah di sekitar Tokyo dan luar Tokyo seperti Chiba, Gunma, dan bahkan Fukuoka.

Ramadhan 1438 Hijriyah mempunyai tema "Meniti Surga bersama Keluarga" menghadirkan 4 (empat) narasumber dari Indonesia yaitu ustaz Adi Hidayat, ustaz Maman Surahman, ustaz Hepi Andi Bastoni, dan ustaz Irfan Syauqi. Selain mengisi kajian harian dan Tabligh Akbar, para ustaz juga mengisi workshop tematik dengan tema yang berkaitan dengan keluarga seperti workshop pranikah, cara Nabi mendidik anak dalam keluarga hingga bagaimana mengelola keuangan keluarga.

Ustaz Adi Hidayat mengisi Tabligh Akbar di Masjid Indonesia Tokyo (Arif Aditiya)

Pada pekan pertama lalu, narasumber kami ustaz Adi Hidayat -yang juga pada Ramadan kali ini sebagai narasumber di kolom #TanyaUstazAdi detikRamadan- sempat berkunjung ke beberapa Islamic Center di Tokyo seperti Islamic Arabic Institute, Yuai Islamic International School, serta bertemu dengan anggota Dewan Syariah Islam Tokyo. Hal ini menegaskan bahwa KMII Jepang terus menjembatani dakwah Islam di negeri Sakura kepada seluruh muslim tidak hanya bagi muslim

Indonesia.

Pada Ahad 4 Juni lalu, Wakil Presiden Jusuf Kalla di tengah kunjungan kerjanya di Tokyo menyempatkan untuk dapat salat Tarawih bersama kami di Masjid Indonesia Tokyo. Dalam kesempatan itu, Pak Jusuf Kalla memberikan tausiahnya dan harapannya agar Masjid Indonesia ke depannya dapat menjadi sarana membangun kemampuan umat yang positif. Kami berharap rangkaian kegiatan Ramadan ini menjadikan semakin istimewa bagi segenap masyarakat muslim Indonesia di Jepang.

Wapres Jusuf Kalla yang mampir ke Masjid Indonesia Tokyo yang baru dibuka (Arif Aditiya)

Secara umum, Ramadan di Jepang sangat dirasakan, terlebih jika kita berada di Tokyo, hampir semua masjid yang menyediakan berbuka puasa dan menu halal tersedia di beberapa restoran .

Penulis: Arif Aditiya, Ketua Panitia Ramadhan 1438 H - KMII Jepang, Mahasiswa S2 Civil Engineering The University of Tokyo dan Anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang

*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama antara Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) dan detikcom

 

Khartoum - Sudan merupakan salah satu negara yang terletak di benua Afrika. Jika dilihat seksama, letak Sudan tepat berada di jantung benua Afrika. Negara ini juga memiliki julukan 'Negeri Dua Nil', karena di negara inilah bertemunya dua Sungai Nil, yaitu Nil Biru dan Nil Putih.

Dari jumlah penduduknya, mayoritas masyarakat Sudan memeluk agama Islam. Suasana Islamnya mirip seperti Indonesia, namun memiliki beberapa perbedaan. Misalnya, jika di Indonesia masyarakatnya banyak bermazab Syafii, mayoritas masyarakat Sudan bermazab Maliki.

Ujian sesungguhnya hidup di Sudan ada ketika bulan Ramadan. Kita diharuskan berpuasa di atas suhu stabil 40° Celsius. Total lamanya berpuasa di Sudan sekitar 13 jam. Mulai azan Subuh pukul 05.00 hingga azan Magrib berkumandang kisaran pukul 19.30.

Suhu panas di Sudan memuncak ketika Ramadan. Hal unik yang terjadi, ketika salat Zuhur, masjid-masjid sangat dipenuhi oleh masyarakat Sudan. Di tengah suhu yang panas, mayoritas masjid di Sudan terdapat pendingin ruangan, seperti air conditioner (AC) dan cooler. Hal ini dimanfaatkan oleh masyarakat Sudan untuk tidur siang, sambil mengamankan diri sesaat dari panasnya Sudan. Kejadian unik ini selalu terjadi setiap harinya di bulan Ramadan ini.

Foto: 'Begal Ramadan' di Sudan, 'membegal' orang lewat untuk berbuka puasa (Landmark Sudan, Masjid Alnilin (Muhammad Faiz Alamsyah)

Namun, Sudan sangat ramah dalam menyambut datangnya bulan yang penuh berkah. Beberapa fenomena menarik banyak terjadi, dan hanya terjadi di bulan Ramadan. Beberapa fenomena yang jarang, atau bahkan kita tidak pernah lihat di Indonesia.

Di Sudan, ada satu kejadian yang paling menarik ketika Ramadan. Kami warga Indonesia yang menetap di Sudan menyebutnya dengan 'begal ramadan'. Jika di Indonesia, orang membegal kendaraan, di Sudan orang membegal orang lain di jalanan untuk mau berbuka bersama mereka.

Foto: 'Begal Ramadan' di Sudan, 'membegal' orang lewat untuk berbuka puasa (Landmark Sudan, Masjid Alnilin (Muhammad Faiz Alamsyah)

Begal ini terjadi hampir di setiap sudut negeri Sudan. Di dekat tempat kami tinggal, ada sekitar 5 rumah yang menyediakan tempat untuk berbuka. Kami tinggal pilih saja, mau 'dibegal' oleh rumah yang mana.

Rumah-rumah ini menggelar tikar di depan rumah mereka, untuk orang lain datang berbuka. Mereka menyediakan aneka makanan dan minuman khas Sudan, dengan cuma-cuma. Hal ini mereka lakukan, di setiap hari selama Ramadan, sebulan penuh, mereka menyediakan hidangan berbuka itu.

Hebatnya efek 'begal' ini, banyak warga Sudan 'berebut' orang di jalan. Bahkan beberapa tahun lalu, seperti dilansir beberapa media cetak di Sudan, ada dua orang Sudan yang sampai terlibat baku hantam. Mereka pun dipolisikan. Alasannya sangat sederhana, hanya karena berebut orang di jalanan untuk berbuka puasa bersama mereka.

Cara berbuka puasa orang Sudan pun unik. Ketika azan berkumandang, mereka memilih untuk memakan kurma terlebih dahulu, berbeda dengan kita yang mayoritas memilih untuk minum teh hangat ketika azan. Teh hangat mereka sajikan justru setelah salat Magrib berjemaah. Yang lebih aneh lagi, tidak ada es teh di seluruh Sudan. Bukan kebiasaan mereka, mencampurkan teh dengan es batu.

Lalu bagaimana mengobati rindu dengan suasana berbuka di Indonesia? Alhamdulillah, pada hari Jumat dalam setiap minggunya, KBRI Khartoum selalu mengadakan buka puasa bersama dengan seluruh WNI di Sudan yang diadakan di Wisma Duta RI, tempat tinggal bapak Duta Besar RI untuk Sudan.

Foto: Buka puasa bersama di KBRI Khartoum Sudan (Tidur siang setelah salat Zuhur di masjid-masjid di Sudan ('Begal Ramadan' di Sudan, 'membegal' orang lewat untuk berbuka puasa (Landmark Sudan, Masjid Alnilin (Muhammad Faiz Alamsyah)

Ini cara kami mengobati kerinduan akan Ramadan di Indonesia. Tersaji takjil khas Indonesia, seperti kolak pisang, bakwan, es teh, brownies, dll. Setelah Isya pun diadakan tarawih bersama.

Mungkin ini sedikit gambaran bagaimana Ramadan di Sudan. Bagi yang penasaran akan cerita Ramadan lainnya di Sudan, Persatuan Pelajar Indonesia di Sudan (PPI Sudan) dan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Turki (PPI Turki) tahun lalu menerbitkan e-book yang berjudul "Diary Ramadhan". "Diary Ramadhan" ini berisikan tentang cerita-cerita mahasiswa /i Indonesia saat Ramadhan di Turki dan Sudan. Info Diary Ramadhan selengkapnya terdapat di link ini.

Semoga kita semua diberikan kemudahan, dan senantiasa diberikan kesehatan, dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Penulis: Muhammad Faiz Alamsyah, Mahasiswa S1 University of Holy Quran and Islamic Sciences Sudan, ketua departemen media dan informasi PPI Sudan 2016-2017 dan anggota Biro Pers PPI Dunia 2016-2017

*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama antara Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) dan detikcom

SALAM PERHIMPUNAN!!

BEM UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG dan TIM FESTIVAL LUAR NEGERI PPI DUNIA akan bekerjasama untuk menyelenggarakan event Edufair
"Padjadjaran International Education Festival"

Hari, tanggal : Jumat, 26 Mei 2017
Waktu : 08:00 WIB - 16:00 WIB
Tempat : Bale Sawala Unpad Jatinangor

Perwakilan PPI Dunia akan menjadi keynote speakers dan meramaikan acara ini, mereka adalah:

Intan Irani Koordinator PPI Dunia 2016/2017 (PPI Italia)

Steven Guntur Koordinator PPI Dunia 2015/2016 (Permira Rusia)

Rizki Putri Hassan, Koordinator Divisi Pendanaan PPI Dunia (PPI UK)

Dan akan ada stand berbagai informasi studi dan hidup di luar negeri yang akan diramaikan oleh delegasi dari PPI Negara diantaranya:

1. PPI Polandia
2.PPI Hungaria
3.Perpika Korea Selatan
4.PPI Malaysia
5.PPI Swedia
6.PPI Spanyol
7.PPI Estonia
8.PPI Tiongkok
9.PPI Thailand
10.PPI Prancis
11.PPI Italy
12.PPI New Zealand
13.PPMI Saudi Arabia
14.PPI UK
15.PPMI Mesir
16.PPI Turki
17. PPI Jepang
18. PPI Jerman

Berita selengkapnya, follow:
IG: felarippidunia Facebook: felari ppi dunia
Web: www.ppidunia.org

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920