logo ppid

PPIDUNIA.ORG, Tunisia - Empat pemuda Indonesia sedang menguji kebolehannya di hadapan puluhan mahasiswa Universitas Ezzitouna. Mereka berseragam hitam-hitam dengan ikat kepala khas para pendekar silat. Siang itu, kamis (3/11) adalah hari kebudayaan Indonesia di Universitas Ezzitouna, Tunis.

Puncak acaranya adalah seminar tentang “ Moderasi Islam di Tunisia dan Indonesia : Konsep dan Aplikasi” yang akan disampaikan oleh dua peserta ARFI 2016, yaitu Supriyanto, Wakil Rektor IAIN Purwokerto, Jawa Tengah dan Taufik Warman dari IAIN Palangkaraya. Keduanya akan didampingi oleh Mohammed Mistiri, guru besar filsafat dan aqidah Universitas Ezzitouna.

seminar-islam

Pembicara pertama, Suprie Yanto lebih menekankan kemoderatan dalam ranah agama masyarakat Indonesia. Mahasiswa doktoral UIN Sunan Kalijaga ini memberikan contoh kerjasama yang apik antara umat islam dengan umat kristiani. “ Di Indonesia, kerjasama antarumat beragama merupakan hal biasa. Ada umat islam dan kristiani bergotong royong membangun masjid dan juga sebaliknya. Umat kristiani dan umat islam bergotong royong membangun gereja”, terang alumnus Al Azhar, Kairo ini.

Pembicaraan semakin hangat. Slide demi slide ditampilkan. Peserta pun semakin membludak. Ruang rapat Universitas Ezzitouna itu kini nampak sesak dipenuhi peserta seminar. Bukan saja mahasiswa Indonesia namun mancanegara. Semuanya tertarik dengan Islam Moderat yang menjadi ciri khas Islam Indonesia.

Pembicara kedua, adalah Dr. Taufik Warman. Dalam hal ini beliau lebih banyak mengupas sisi kemoderatan masyarakat Indonesia dari segi sosial-politiknya. Beliau mengambil sampel dari sebuah kemajemukan bahasa, budaya dan agama namun justru itu lah letak keindahannya, kemoderatan bisa tercipta.

Sebagai pembicara terahir Dr. Mohamed Mestiri yang merupakan guru besar filsafat dan aqidah Universitas Ezzitouna. Beliau lebih banyak membandingkan kemoderatan-kemoderatan antara Indonesia dan Tunisia. Menurut doctor yang baru saja memenuhi undangan seminar selama 15 hari di Indonesia ini, Indonesia lebih paham syaria’at. Hal ini beliau sampaikan dengan merujuk pada aplikasi masyarakatnya dalam melaksanakan sebuah pernikahan. “Di Indonesia menikah itu dipermudah, sedangkan cerai sulit sekali mencapainya. Hal ini berbanding terbalik dengan Tunisia. Nikah sulit sedangkan cerai mudah”, terang dosen muda jebolan Sorbonne, Prancis.

Acara-acara serupa yang mensyiarkan Islam Damai sangat perlu dilaksanakan. Hal ini sebagai bentuk benteng diri dalam menyikapi permasalahan-permasalahan yang ditimbulkan oleh sekelompok kaum radikal, islam garis keras. Seperti yang disampaikan oleh Dede Ahmad Permana, penanggung jawab ARFI 2016 di Tunisia dalam pesan WA-nya kepada Ppi Tunisia. “Islam yang digambarkan sebagai membawa rahmat bagi sekalian alam, nampaknya telah ternoda oleh perilaku sebagian kalangan umat yang gemar melakukan tindakan kekerasan.

Masalahnya, kekerasan ini sering mereka sebut sebagai atas nama agama. Padahal Islam kan tidak mengajarkan hal demikian. Banyak ayat Al Quran atau hadits Nabi, bahkan petunjuk para ulama terdahulu, bahwa Islam adalah agama yang toleran, tidak ifrat (menggampangkan) atau tafrith (lebay). Allah sendiri telah menegaskan bahwa umat Islam sebagai umatan wasatan (umat yang moderat). Melalui seminar ini, kita sharing pengalaman. Antara Tunisia dan Indonesia. Bagaimana model penerapan konsep wasatiah ini di tengah masyarakat masing-masing”, terang mahasiswa doctoral Universitas Ezzitouna.

Seperti biasa, acara diahiri dengan hidangan khas nusantara yang sebelumnya diawali dengan dialog interaktif antar peserta. Beberapa mahasiswa, baik Tunisia atau pun Indonesia ikut menyemarakan seminar dengan bertanya. [AJU]

Liputan Yordania, pada 7 Oktober 2016 telah diterbitkan Surat Keputusan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia kawasan Timur Tengah dan Afrika tentang pembentukan dan penugasan Aliansi Keputrian Timur Tengah dan Afrika (AKTA) periode 2016-2017.

Pergerakan AKTA bermula sejak tanggal 6 Mei 2016 dengan dibentuknya grup whatsapp beranggotakan perwakilan mahasiswi dari 12 negara di Timur Tengah dan Afrika, diantaranya, Afrika Selatan, Arab Saudi, Iran, Libya, Maroko, Mesir, Pakistan, Suriah, Sudan, Tunisia, Yaman dan Yordania.

Pada dasarnya, pergerakan ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi antarsesama mahasiswi kawasan Timur Tengah dan Afrika yang memiliki kultur khas serta mayoritas pendidikan berbasis agama Islam.

Tujuan ini kemudian berkembang menjadi keinginan untuk memberi kontribusi nyata bagi kemajuan para muslimah di Indonesia maupun di dunia melalui berbagai agenda yang akan bekerja sama dengan PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika serta PPI Dunia.

Inisiatif peresmian aliansi ini disampaikan saat rapat kawasan dalam rentetan agenda LPJ PPI Dunia 2015-2016, pada tanggal 27 Juli 2016 di ruang Bhinneka, KBRI Kairo dan disetujui oleh semua pihak yang turut hadir. Saat ini, anggota AKTA tersisa di sebelas negara (kecuali Libya, Lebanon, dan Uni Emirat Arab) dengan jumlah mencapai 1500 pelajar putri dan mahasiswi Indonesia.

Sebuah kesyukuran atas hadirnya AKTA di tengah maraknya problematika wanita yang terjadi baik di Indonesia maupun di dunia.

“Kami berharap, semoga AKTA dapat mengoptimalkan peran mahasiswi Indonesia di Timur Tengah dan Afrika sebagai duta bangsa untuk menjawab problematika tersebut serta memberi kontribusi nyata untuk agama, bangsa dan dunia. Kami turut haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada PPI Kawasan Timteng dan Afrika serta PPI Dunia atas dukungan dan arahannya hingga AKTA resmi menjadi bagian dari pergerakan PPI Dunia,” ujar pengurus AKTA.

(Rahmah Rasyidah/F)

Setelah beberapa bulan mengalami kevakuman, tepat pada hari Jumat tanggal 21 Oktober 2016 penanggung jawab agenda pengajian masyarakat Indonesia kembali digelar. Agenda yang biasanya diadakan sebulan sekali ini terpaksa molor hingga kurang lebih 3 bulan vakum.

whatsapp-image-2016-10-22-at-12-10-09-1

Dari kiri : Ust. Sopiandrizal, Lc, Bapak Dubes LBBP RI Tunisia Rony Prasetyo Yuliantoro, dan Ust. Azzimam Aulia Arrahman, Lc. Sumber foto : Kominfo PPI Tunisia 2016

Jum'at sore dirasakan tepat untuk mengadakan acara pengajian masyarakat Indonesia, mengingat bulan ini masyarakat Indonesia kedatangan tamu yang cukup banyak, diantaranya adalah tim dosen program ARFI Kemenag 2016, pengajar program bahasa Indonesia, dan juga tim pencak silat.

Selain kehadiran tamu yang membuat suasana guyub semakin gayeng dan ramai, malam sabtu juga tepat untuk berkumpul diantara masyarakat Indonesia. Mengingat besok sabtu bagi kebanyakan masyarakat Indonesia yang bekerja mendapatkan hari libur sehingga agenda kumpul bersama masyarakat Indonesia dapat berlangsung dengan ramah dan santai. Dan meski sampai agak malam, namun kehangatan kekeluargaan tentu sangat didambakan di tanah perantauan ini.

Kali ini, judul "Sholat dan Silat, Akses Menuju Kesehatan Jasmani dan Rohani" menjadi tema pengajian. Sebagai pembicara, dua ustadz muda alumni azhar; Azzimam Aulia Arrahman, Lc. & Sopiandrizal, Lc berduet menyampaikan materi. Begitu menariknya tema pengajian ini sampai Bapak duta besar LBBP RI untuk Tunisia pun terlihat khusuk menyimak, sembari sesekali menganggukan kepala tanda setuju dengan materi yang disampaikan.

Ruang Nusantara KBRI Tunisia yang tidak terlalu luas terlihat sangat sempit disesaki masyarakat Indonesia, para staff KBRI & sekeluarga, Tamu Tim Dosen ARFI 2016, Pegawai Medco & Keluarga, juga teman-teman mahasiswa PPI.

Walaupuan berjalan cukup lama yaitu sekitar satu jam, pengajian masyarakat Indonesia yang dimulai sejak pukul 19.30 tidak membuat hadirin beranjak dari tempat duduknya. Mengingat beberapa kali dua ustadz memberikan materi dalam bentuk video serta praktik silat yang sangat berkaitan dengan sholat, tidak melulu ceramah. Sehingga hadirin tidak merasa bosan.

Menurut Ust. Sopiandrizal, Lc., ibadah sholat dalam rukun Islam itu ibarat pisau yang tumpul dan dapat diasah dalam pencak silat. Hal ini mengingat ada beberapa gerakan dalam sholat yang dapat digunakan untuk menghindar atau menyerang seperti halnya dalam pencak silat. Namun tentu gerakan sholat bukan ditujukan untuk silat, atau sekedar tujuan kesehatan saja.

Setelah ditutup do'a oleh Ust. Azzimam Aulia Arrahman, Lc, pengajian masyarakat Indonesia dilanjutkan sajian jasmani santap malam bersama, menciptakan momen laksana keluarga besar ketika di tanah air dulu. Alhamdulillah.[KhR/AJU]

Yuk, saksikan siaran Kampung Halaman dengan tema "Potret Islam di Tunisia" bersama Taufik Imron (mahasiswa S2, Akidah dan Perbandingan Agama, Universitas Az-Zaitunah, Tunisia). Pada Minggu, 23 Oktober 2016, pukul 21.20 WIB hanya di RRI Pro3 88,8 FM. Jangan sampai ketinggalan ya..

Upcoming Event

Upcoming Event

Liputan Tunisia, Selasa lalu (18/10) Sekretariat PPI Tunisia didatangi oleh tamu peserta Academic Recharging for Higher Islamic Education (ARFI) 2016 yang sedang mendapat tugas ke Tunisia. Pertemuan ini merupakan acara perkenalan sekaligus ramah tamah antara PPI Tunisia dengan peserta ARFI 2016 yang terdiri dari 10 dosen Indonesia.

Sekretariat PPI Tunisia yang terletak di Makhla Zaim, Tunisia ini terlihat ramai dan tidak seperti biasanya. Mahasiswa Indonesia di Tunisia yang sedang memadati aula sekretariat PPI Tunisia tersebut sangat antusias mengikuti nasehat-nasehat serta menerima wacana-wacana segar dari kesepuluh dosen Indonesia yang sedang melakukan penelitian di Tunisia.

Acara diawali dengan sambutan oleh Ketua PPI Tunisia, Ariandi, Lc. Mahasiswa pascasarjana jurusan akidah dan perbandingan agama ini memperkenalkan kondisi Tunisia dan PPI Tunisia secara umum. Selanjutnya Ketua Umum PPI Tunisia 2016 memperkenalkan anggota-anggota PPI Tunisia yang berjumlah tak lebih dari 40 orang itu.

Pak Supriyanto selaku ketua rombongan memimpin perkenalan pada sore hari itu sekaligus memberikan kalimat pembukanya. Dalam kalimat pembukanya dosen IAIN Purwokerto ini memberikan sekelumit wacana-wacana baru tentang gerakan radikalisme di Indonesia. Selanjutnya beliau memberikan kesempatan kepada sepuluh peserta ARFI 2016 untuk memperkenalkan diri masing-masing.

Sepuluh peserta itu adalah Bapak Muhandis Azzuhri dari STAIN Pekalongan, Ibu Nur Hasaniyah dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Pak Roviin dari IAIN Salatiga, Bapak Ahmad Atabik dari STAIN Kudus, Bapak Zaki Ghufron dari IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Bapak Taufik Warman Mahfuzh dari IAIN Palangkaraya, Bapak Khairul Hamim dari IAIN Mataram, Bapak Muhammad Jafar Shodiq dari UIN Sunan Kalijaga, dan terahir Ibu Fatwiah Noor dari STAI Darul Ulum Kandangan.

img-20161020-wa0002

Sepuluh peserta ARFI 2016 semuanya kompak memberikan pesan yang sama kepada mahasiswa untuk focus dan serius dalam belajar selagi masih muda. Seperti pesan yang disampaikan oleh Pak Atabik. “Sebenernya kita ini kalau mau berusaha, bisa. Mau jadi apapun juga bisa kalua kita mau berusaha. Apalagi seperti yang saya katakana tadi, kawan-kawan ini nanti alumni-alumni Timur tengah yang mempunyai nilai plus di mata masyarakat," pesan dosen STAIN Kudus sekaligus wakil ketua PC NU Lasem.

Acara ramah tamah sore itu kemudian ditutup dengan solawat bersama dan santap malam ala nusantara. (Red, aju / Ed, pw)

Madinah - ppmisaudi.org / Bertempat di RM Sanabel Al Madinah, PPMI Arab Saudi mengadakan Silaturrahmi Rutin Tahunan PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika yang sedang bertugas sebagai Tenaga Musiman Haji (TEMUSH).

Pertemuan ini berlangsung pada hari Sabtu, 8 Oktober 2016, dan dihadiri oleh Imam Khairul Annas selaku Ketua Umum PPMI Arab Saudi 2015-2017 serta beberapa perwakilan dari PPMI Arab Saudi. Selain itu turut hadir juga Agus Mujib selaku Ketua KKMI Libya 2016-2017, Rama Rizana selaku Koordinator Divisi Pendidikan, Politik, Ekonomi, Kebudayaan dan Agama (P2EKA) Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia), Abdul Gofur Mahmudin selaku Presiden PPMI Mesir 2015-2016, Choiriah Ikrima Sofyan yang merupakan Sekretaris PPI Kawasan Timteng & Afrika 2014-2015, Zakiah Rahmah yang pernah menjadi Sekretaris PPI Kawasan Timteng & Afrika 2015-2016, Izuddin selaku Ketua MPA PPI Hadhramaut 2015-2016, Rahmat Ilahi Siregar dari PPI Lebanon, Kamal dan Nuraeni dari PPI Sudan, Irhamni Rofiun dari PPI Tunisia, serta Armi dari PPI Maroko.

Acara diawali dengan makan malam, dilanjutkan dengan taaruf (perkenalan) para peserta silaturrahmi dan pemaparan PPI Negara masing-masing. Selanjutnya, sambutan dan ucapan selamat datang dari Ketua Umum PPMI Arab Saudi, yang juga membacakan sambutan dari Koordinator PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika, Kiagus Ahmad Firdaus.

"Silaturrahim ini adalah kegiatan tahunan, tahun lalu diadakan di Madinah, dan 2 tahun lalu diadakan di Jeddah," ujar Imam yang sedang menyelesaikan studi di Universitas Islam Madinah.

"Kami PPMI Arab Saudi mengucapkan apresiasi kepada PPMI Mesir yang telah sukses menyelenggarakan Simposium Internasional PPI Dunia tahun 2016, dan kami memohon doa dan dukungan kawan-kawan semoga kami bisa menyelenggarakan Simposium Kawasan dengan baik dan lancar," lanjut Imam.

Setelah itu, sambutan dari Koordinator Divisi P2EKA PPI Dunia 2016-2017, Rama Rizana, yang juga menyampaikan Program Kerja dari Divisi baru yang ada di PPI Dunia periode ini. "Sekilas tentang Divisi P2EKA, berawal dari Simposium di Kairo kemarin, yang mengadakan 4 Sidang Komisi (Politik, Pendidikan, Ekonomi dan Agama) dan menghasilkan 7 rencana aksi. 7 rencana aksi ini dikerjakan oleh 4 komisi tadi, dan dikawal oleh Divisi P2EKA. 2 rencana aksi yang berasal dari Komisi Agama adalah Pembentukan Tim Kajian Radikalisme Agama serta Tim Media Kerohanian," terang Rama yang juga merupakan Anggota Dewan Syura dan sekaligus Kepala Departemen Pendidikan PPMI Arab Saudi.

Rama juga mengusulkan agar para mahasiswa Timur Tengah yang menjadi TEMUSH untuk membuat sebuah buku yang menceritakan pengalaman-pengalamannya selama bertugas di Tanah Suci. Ide ini disambut baik oleh para peserta silaturrahim. "Saya sangat setuju, ini akan sangat bermanfaat terutama untuk para petugas di tahun-tahun yang akan datang," ujar Abdul Gofur.

Turut hadir dalam kegiatan ini, Azri Alhaq selaku Sekretaris PPMI Arab Saudi; Habli Robbi Waliyya selaku Anggota Badan Otonom Pusat Kajian Strategis PPMI Arab Saudi; Fahmy Husnul Fasya selaku Anggota Departemen Teknologi Informasi PPMI Arab Saudi; Sufyan Tsauri Muhammad Ilyas selaku Anggota Dewan Syura PPMI Arab Saudi; Muhammad Sobri selaku Bendahara PPMI Madinah 2015-2016; dan Asep Sunandar selaku Anggota PPMI Arab Saudi.

Semoga kegiatan ini dapat mendukung program kerja PPI Dunia setahun ke depan serta bisa diselenggarakan kembali di tahun-tahun yang akan datang. (Red, im / Ed, pw)

img-20161010-wa0002

Liputan Bogor, Ini merupakan kali ke dua PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika menyelenggarakan kegiatan orientasi Perguruan Tinggi di pesantren yang ada di Indonesia. Orientasi perdana yang mengusung tema "Orientasi Perguruan Tinggi Arab Saudi, Tunisia dan Timur Tengah" ini diselenggarakan di Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining, 9 Dzulhijjah 1437 H/10 September 2016.

Acara dimulai dengan pembukaan dan sambutan oleh Kepala Biro Sumber Daya Manusia Pesantren Darunnajah 2 Cipining, Al-Ustadz Mustafa Zahir, Lc, yang kemudian dilanjutkan dengan pemaparan tentang tema diatas oleh kedua narasumber yang telah diundang yaitu Muammar Kadafi, Lc, PPI Tunisia dan Imam Khairul Annas, PPMI Arab Saudi. Peserta dan para tamu undangan dalam acara ini adalah santriwan dan santriwati kelas 4, 5, 6 TMI (kelas 10, 11, 12) beserta guru pengabdian tahun pertama dan tahun kedua, dengan jumlah keseluruhan peserta orientasi mencapai 700 orang.

 

Pemberian materi

Pemberian materi

Pada kesempatan tersebut, ketua umum PPMI Arab Saudi 2015/2016, Imam Khairul Annas bertindak sebagai narasumber pertama mempresentasikan tentang perkuliahan di Arab Saudi dan sistem perkuliahan di beberapa negara yang ada di kawasan Timur Tengah dan Afrika.

"PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika ini sendiri terdiri dari 14 PPI Negara yaitu PPMI Pakistan, IPI Iran, PPI Uni Emirat Arab, PPMI Arab Saudi, PPI Yaman, HPMI Yordania, PPI Lebanon, PPI Damaskus, PPMI Mesir, PPI Sudan, KKMI Libya, PPI Tunisia, PPI Maroko dan PPI Afrika Selatan. Masing-masing PPI memberikan informasi tentang sistem perkuliahan, beasiswa yang tersedia, dan kegiatan mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam PPI melalui website dan media sosialnya masing-masing" papar Imam.

"Sedangkan beberapa keuntungan melanjutkan studi di Arab Saudi sendiri adalah tersedianya beasiswa penuh bagi beberapa mahasiswa asing dan lokal, situasi yang aman dan kondusif serta kesempatan untuk menunaikan ibadah haji dan umrah", ujar Imam yang saat ini sedang melanjutkan studinya di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi.

Selain itu Imam yang telah menyelesaikan tugasnya sebagai Koordinator PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika pada Juli lalu juga menambahkan bahwasannya belajar di kawasan Timur Tengah dan Afrika memiliki tradisi yang unik di masing-masing negara. Sebagai contoh adalah Pakistan yang terkenal akan Bahasa Urdunya yang kental. Sehingga jika mahasiswa asing belajar di Pakistan maka mereka juga diharuskan belajar Bahasa Urdu selain Bahasa Inggris.

Peserta Seminar

Peserta Seminar

Selanjutnya seminar kedua dilanjutkan oleh Muammar Kadafi, Lc, Ketua PPI Tunisia 2015/2016. Muammar menjelaskan tentang tiga point penting ketika belajar di Tunisia, yaitu Cara, Tantangan, dan Keuntungan. Cara mendaftar menjadi mahasiswa baru di Tunisia sendiri tidak jauh berbeda dengan negara-negara lain pada umumnya. Di Tunisia sendiri juga memiliki standard nilai minimum yang harus dipenuhi oleh masing-masing calon mahasiswa beserta beberapa dokumen penting yang harus dilengkapi untuk dapat diproses di bagian admission.

"Seperti halnya mendaftarkan ke universitas pada umumnya berkas yang dibutuhkan juga tidak jauh berbeda, dan adik-adik bisa langsung membaca panduan studi di Tunisia yang sudah tersedia dalam website kami www.ppitunisia.org," ungkapnya mengawali point pertama.

Berlanjut ke point kedua, Muammar menjelaskan tentang beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh mahasiswa asing di Tunisia serta solusi menghadapinya. Disesi ini, banyak sekali hal-hal teknis yang tidak terdapat dalam buku panduan kuliah di Luar Negeri. Sehingga sesi ini merupakan sesi yang paling penting kaitannya dengan tantangan dan rintangan selama belajar di negeri orang.

Kemudian point ketiga, Muammar juga menjelaskan tentang beberapa keuntungan kuliah di Tunisia. Salah satunya adalah bahasa. "Bahasa adalah keuntungan yang pertama, selain adik-adik bisa mempraktekkan bahasa Arab yang sudah lebih dahulu dipelajari di pesantren, juga bisa menambah satu bahasa lain yaitu Bahasa Perancis jika memang memiliki kecintaan dalam bahasa," tuturnya dengan lugas.

Ia juga menambahkan bahwa Bahasa adalah signal pertama bagi seseorang itu berilmu pengetahuan yang tinggi dan merupakan salah satu ilmu para Nabi. "Keuntungan yang kedua adalah bisa melihat langsung Sejarah Peradaban Islam yang ada di Tunisia, seperti halnya Jami' Uqbah ibn Nafi', Jami' Az-Zaytunah, jejak sejarah Pakar Sosiolog ternama Ibnu Khaldun dll," ucap Kadafi.

Sedangkan keuntungan yang ketiga yaitu dapat merasakan sistem pendidikan yang sangat baik, muai dari metodologi penulisan, penelitian, dan lingkungan yang mendukung untuk belajar.

Setelah sekian jam pemaparan dari kedua nara sumber diatas maka acara pun dilanjutkan dengan sesi tanya jawab baik dari para peserta dan tamu undangan. Pada akhir acara tersebut, cindera mata diberikan kepada narasumber dan diakhiri dengan foto bersama. (Red, Muammar&Imam/Ed, Amir)

Liputan Jakarta, Perwakilan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) berpartisipasi dalam Diplomatic Forum: The Role of Media in Creating Peaceful World (Peran Media Menciptakan Dunia yang Damai) yang diadakan oleh Radio Republic Indonesia (RRI) World Service of Indonesia pada tanggal 7 September 2016. Acara yang membahas isu internasional tersebut bertempat di salah satu ruangan gedung RRI Jakarta, yaitu di Auditorium Yusuf Ronodipuro LPP RRI.

Perwakilan PPI Dunia yang turut hadir adalah Intan Irani Puspita Santi yang merupakan koordinator PPI Dunia. Selain itu juga hadir perwakilan mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri yaitu Muammar Kadafi dari Tunisia, Adam Dwi Baskoro dari Mesir, dan Imam Khairul Annas dari Saudi Arabia.

Talk Show berbahasa Inggris ini membahas mengenai banyaknya konflik di luar maupun dalam negeri dan melibatkan kalangan diplomat, pemerintah, lembaga masyarakat serta berbagai kalangan terkait. Berdasarkan laporan Indeks Perdamaian Dunia 2016, diketahui bahwa perdamaian dunia memburuk selama satu dekade belakangan. Penyebab utamanya ialah meningkatnya terorisme dan tingkat ketidakstabilan politik yang tinggi.

20160906_125714RRI World Service of Indonesia selaku lembaga penyiaran publik mengangkat tema bahwa peran media sangat penting dalam menciptakan perdamaian dunia. Kepala Stasiun Siaran Luar Negeri LPP RRI Eddy Sukmana menjelaskan bahwa menyuarakan perdamaian ke seluruh pelosok dunia merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan media penyiaran untuk menekan terjadinya konflik. “Media penyiaran juga bertanggung jawab untuk menjadi jembatan penengah dan mengakhiri konflik terjadi,” jelas Eddy Sukmana.

Acara yang berlangsung dari jam 11.00-13.30 WIB ini dihadir oleh pembicara dari berbagai kalangan khususnya diplomat dan penyiaran. Diantaranya Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin, Pemred Harian Republika Irfan Junaidi, Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia Mayong Suryo Laksono, Ketua Federasi Jurnalis ASEAN Bob Iskandar.

Setelah acara selesai, perwakilan PPI Dunia melakukan pertemuan dengan pihak RRI. Selama ini PPI Dunia memiliki kerjasama dengan RRI di bidang siaran, yaitu siaran Youth Forum oleh RRI Voice of Indonesia dan siaran Kampung Halaman oleh RRI Pro3. Pertemuan kali ini membahas mengenai tema, teknis siaran, komunikasi, serta publikasi. "Kami harap RRI dapat menjadi wadah bagi PPI Dunia untuk memublikasikan kegiatan serta prestasi pelajar Indonesia yang berada di luar negara," kata Intan. (Red, adam / Ed, pw)

FullSizeRender

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920