Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika Wawasan Dunia

PPI Tunisia Peringati Hari Santri Nasional dengan Diskusi Ilmiah

TUNISIA, 22 Oktober 2017 – Hari Santri Nasional merupakan momentum penting untuk mengingat kesetiaan serta komitmen santri dan ulama dalam membela dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme di Indonesia juga  dimonitori oleh ulama dan santri dari berbagai daerah di Indonesia. Maka, sudah seharusnya para santri dan kita semua terutama sebagai mahasiswa untuk selalu menjaga dan mengisi negara dengan memberikan kesetiaan  dan kontribusi yang terbaik bagi kelangsungan dan kemajuan bangsa ini.

Oleh karena itu, dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 22 Oktober 2017, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia mengadakan diskusi ilmiah di Sekretariat PPI Tunisia. Acara yang dimulai pukul 14.00 CET itu mengundang antusias para mahasiswa untuk hadir. Diskusi kali ini mengusung tema “Integrasi Disiplin-Disiplin Ilmu dalam Pandangan Ibnu Khaldun, Teori Pengetahuan” yang dibawakan langsung oleh Dr. Ramadhan Barhoumy, salah satu Dosen Universitas Ezzitouna.

Dalam kesempatan tersebut, beliau mengaku sangat senang sekali dapat berjumpa dengan mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas Zaitunah. Ini adalah kali kedua beliau menjadi pemateri dalam diskusi PPI Tunisia. Dalam dialog Ibnu Khaldun itu, Dr. Barhoumy menjelaskan terlebih dahulu tentang biografi singkat sang tokoh. Semasa hidup, Ibnu Khaldun banyak melakukan rihlah atau perjalanan ke berbagai belahan di dunia Islam. Dr. Barhoumy mengatakan bahwa setidaknya terdapat 2 faktor penting yang menyebabkan sang penulis kitab “Muqoddimah” itu menjalani hidupnya dengan cara berpindah-pindah tempat.

Yang pertama adalah faktor internal, yaitu kehausan akan ilmu dan pengalaman. Yang kedua adalah faktor eksternal, yaitu kondisi politik dan respon ulama di sekitarnya terhadap Ibnu Khaldun. Dosen dalam bidang ilmu kalam dan aqidah itu juga mengingatkan “Anak Zaituni patut mengetahui tentang karangan dan pemikiran Ibnu Khaldun, terutama pelajar Asia, karena negara kalian adalah salah satu pusat penyebaran islam di Asia,“ tuturnya. Kitab Ibnu Khaldun menjelaskan banyak hal, tetapi “Muqaddimah” mengutamakan sejarah. Terdapat dua asas yang ditekankan dalam perkembangan pemikirannya yaitu, urgensi Qonun Ilmu Al ’Imroni Albasayari dan urgensi konektifitas segala sesuatu dengan sejarah. Menurut pengarang buku itu, terdapat 3 ibarat terkait tahapan generasi yang dilakukan oleh manusia, pertama Jiil Atta’bi (generasi sulit), kedua Jiil Adzahabi (generasi keemasan), ketiga Jiil Alhatobi (generasi kayu bakar yang mengibaratkan kemunduran). Baginya, ilmu-ilmu itu saling melengkapi dan saling membutuhkan.

Setelah Dr. Barhoumy menyampaikan paparannya, moderator memberikan kesempatan bagi peserta untuk bertanya. D iantara pertanyaan yang cukup menarik adalah kaitannya dengan kemasyhuran Ibnu Khaldun sebagai Bapak Sosiologi ini. Beliau menyampaikan bahwa ilmu yang dicetuskan oleh Ibnu Khaldun adalah ilmu Al Umran Al Basyari yang memang dalam pembahasannya memiliki banyak kesamaan dengan sosiologi modern. Adapun pengaruh Magnum Opus dalam perkembangan ilmu sosiologi bukanlah hal yang aneh dalam keilmuan, meskipun memang porsi yang diambil oleh para sosiolog modern dari buku itu lebih banyak dibandingkan dengan karya klasik lainnya.**

 

Penulis: Saura Chairunnisa

Editor: Kartika Restu Susilo

Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Puluhan Temus dari Sembilan Negara Berkumpul di Makkah

Bertempat di Hotel Lu’lu’ah ‘Aziziyah, Makkah al-Mukarramah pada hari Kamis, 7 September 2017, seperti di tahun-tahun sebelumnya, PPMI Arab Saudi menjamu para tenaga musiman haji (TEMUSH) dari perwakilan PPI Negara di kawasan Timur Tengah & Afrika. Total ada 9 negara yang mendapatkan kuota TEMUSH di musim haji 1438 H/2017 M, yakni Lebanon (2 orang), Libya (2 orang), Mesir (45 orang), Maroko (5 orang), Sudan (12 orang), Syria (5 orang), Tunisia (2 orang), Yaman (8 orang), Yordania (4 orang).

Di pertemuan silaturrahmi tersebut, dibuka dengan sambutan dari tuan rumah, PPMI Arab Saudi, yang langsung diberikan oleh Ketua Umum PPMI Arab Saudi periode 2017-2019, Sdr. Byan Aqila Ramadhan. Selanjutnya, perwakilan masing-masing PPI negara memperkenalkan diri dan menceritakan kondisi negara tempat studi, disertai dengan diskusi tanya jawab singkat. Acara disambung dengan sharing singkat dari perwakilan PPI Dunia oleh Sdr. Rama Rizana, penjelasan tentang Aliansi Keputrian Timur Tengah & Afrika (AKTA) oleh Sdri. Rahmah Rasyidah, dan acara ditutup dengan sesi foto bersama, serta makan bareng. Sebelum sesi foto bersama, SekJend PPMI Arab Saudi 2015-2017 Sdr. Prabasworo Jihwakir, menyampaikan beberapa pesan pengingat, di antaranya mengenai wacana penambahan kuota TEMUSH Timur Tengah & Afrika dari Komisi VIII DPR RI yang perlu dikawal.

Categories
Prestasi Anak Bangsa Timur Tengah dan Afrika

Indonesia Raih Film Pendek Terbaik Dalam Ajang International Student Short Film Festival di Tunisia

Berita baik datang dari wakil Indonesia di ajang Festival Film Pendek tingkat Pelajar Internasional yang pertama di Nabeul, Tunisia. Hadzari, sebuah film pendek berdurasi 2 menit 44 detik adalah sebuah karya pemikiran audiovisual dari sineas muda, Irhamni Rofiun, yang merupakan pelajar Indonesia yang sedang menyelesaikan studi pascasarjana di Universitas Ezzitouna. Film Hadzari, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Waspada’ berhasil menjadi yang terbaik dalam ajang tersebut, dan satu-satunya film yang diputar ketika malam penganugerahan, Minggu malam (9/7).

Film berbahasa Arab ini tidak hanya melibatkan mahasiswa Indonesia sebagai aktor utama, melainkan mengajak crew dan pemain asing dalam proses penggarapannya. Selain itu, Indonesia juga berhasil memborong banyak penghargaan, di antaranya Best Soundtrack dalam film Silat, Taufik Imron sebagai aktor favorit dalam film Hadzari, dan film Silat sebagai film favorit pilihan hadirin panitia dan peserta.

Penghargaan Film Pendek di Tunisia

Menurut pengakuan Irhamni Rofiun, yang juga menjadi sutradara dalam film Silat tersebut, ketika dirinya tiga kali maju untuk mengambil penghargaan di panggung utama, pemanggilan ketiga pemberian penghargaan sebagai sutradara dalam film Silat, ia sempat tidak percaya dan terharu sekaligus bangga karena nama Indonesia kembali harum. Sebab, menurut penuturannya, film Silat tersebut banyak melibatkan banyak orang dan pendukung, di antaranya tim dan pemain yang tergabung dalam organisasi induk PPI Tunisia, anak-anak dari staf KBRI dan Medco Energi, serta yang paling mendukung penuh adalah KBRI Tunis sebagai sponsor tunggal.

Kompetisi film pendek ini diikuti oleh 600 karya dari 125 negara dari 3 jenis kategori: Fiksi, dokumenter dan animasi. Kebanyakan mereka adalah para pelajar atau mahasiswa yang bergelut dalam dunia sinematografi dan perfilman, bahkan ada yang sudah biasa mengikuti festival film pendek di Cannes, Prancis, Toronto, USA, dll. Hanya 27 karya film pendek dari 20 negara di antaranya: Indonesia, Palestina, Turki, Syria, Aljazair, Jordania, Lebanon, Irak, Mesir, Iran, Malaysia, USA, Prancis, Italia, Spanyol, Jerman, Cina, Thailand, Norwegia dan tuan rumah Tunisia. Dan yang diundang khusus oleh panitia penyelenggara hanya 20 sineas muda dari 20 negara tersebut, mereka ditanggung sepenuhnya mulai dari akomodasi, transportasi, penginapan, makan, dll. Untuk mengikuti acara puncak di Nabeul, Tunisia sejak tanggal 6-9 Juli 2017. Kegiatan tersebut meliputi workshop film; writing scripts, shooting & directing, editing & mixing. Dan itu semua dimentori oleh para seniman dan para pakar dalam dunia sinematografi dan perfilman, serta acara hiburan lainnya.

Pengumuman Pemenang Festival Film Pendek se-Tunisia

Berikut daftar peraih penghargaan terbaik Festival Film Pendek Pelajar Internasional 2017 di Nabeul.

– The prize of the best image: Film Fino, disutradarai oleh: Estephan Khattar, Lebanon.
– The prize of the best soundtrack: Film Silat, disutradarai oleh: Irhamni Rofiun, Indonesia.
– The prize of the best editing: Film Day 79, disutradarai oleh: Wissem Al Jaafari, Palestina.
– The prize of Best Scenario: The End of The Good Days, disutradarai oleh: Bask Mehmet, Turki.
– The prize of Best Male Performance: Memood, Jerman.
– The prize of Best Female Performance: Raya Busslah, Film Red on White, Tunisia.
The prize for the best short film: Film Hadzari (Waspada), disutradarai oleh: Irhamni Rofiun, Indonesia.

Daftar di atas adalah pemenang pilihan dewan juri, adapun pilihan pemirsa (penonton: panitia, peserta) adalah:

– Film Pendek Favorit: Film Silat, disutradarai oleh Irhamni Rofiun, Indonesia.
– Aktor Favorit: Taufik Imron, Film Hadzari (Waspada), disutradarai oleh Irhamni Rofiun, Indonesia.

(Red: PPI Tunisia/ Ed: Amir)

Categories
Berita PPI Dunia PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Liputan Hari Pertama Simposium Timtengka Madinah 2017

Liputan Madinah – Senin 3 April 2017 pukul 09.00 waktu setempat acara Simposium PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika resmi dibuka dan dimulai.

Sesi seremonial dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qu’ran surat Al-Imron ayat 102-108, yang dilantunkan oleh Abdurrahim Syamsuri, mahasiswa Universitas Islam Madinah. Kemudian setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersamaan dengan khidmat, acara pembukaan ini dilanjutkan dengan kata sambutan ketua panitia Fahmi Aufar Asyraf, mahasiswa Fakultas Psikologi King Saud University-Riyaadh. Dan selanjutnya disusul sambutan Ketua Divisi P2EKA (Pendidikan Politik Ekonomi dan Agama) PPI Dunia mewakili Koordinator PPI Dunia, Rama Rizana mahasiswa pascasarjana King Fahd University of Petroleum and Minerals-Dhahran. Berikutnya adalah keynote speaker yang disampaikan oleh special guest Dekan Fakultas Adab King Saud University, Prof. Dr. Ali Al Mayouf.

Prof. Dr. Ali Al Mayouf berbicara mengenai pengalamannya selama bertahun-tahun menjadi pengajar dan mentor bahasa dan satra Arab. Beliau selama ini juga menjadi konsultan King Abdullah Bin Abdulaziz International Center for The Arabic Language. Dalam tugasnya sebagai konsultan itulah ia berkeliling dunia guna berbagi pengalaman dan mengajarkan bahasa Arab, diantaranya adalah Indonesia. Beliau telah berkelilling di banyak kota di Indonesia, bekerjasama dengan banyak kampus dan universitas, beliau telah menjalani 11 kali kunjungan kerja.

Beliau banyak mengambil manfaat dan faedah dari beragam kunjungan dan persinggungannya dengan bangsa Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa masyarakat Indonesia memiliki sifat-sifat baik yang membuatnya pantas disebut sebagai pembawa risalah Islam. Diantaranya adalah hikmah, merendah, dan dermawan. Sifat-sifat inilah yang membuat masyarakat Indonesia dapat bersatu dan bermasyarakat dengan baik dan beradab.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Arab Saudi dan OKI, Bapak Drs. Agus Maftuh Abegebriel, M.Ag. Beliau banyak menyampaikan tentang aksi beliau selama setahun menjadi Dubes di Riyadh. Diantaranya adalah poros Saunesia (Saudi Arabia – Indonesia) yang digagas oleh beliau sejak awal pelantikannya. Poros ini menjadi semangat baru diplomasi yang diusungnya. Diplomasi yang setara antara dua Negara, dan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Diantara keberhasilan beliau adalah berhasil menyukseskan kunjungan kenegaraan Raja Salman ke Indonesia, setelah untuk terakhir kalinya kunjungan raja Faishal pada tahun 70an di era Presiden Soeharto.

Beliau sebagai representasi pemerintah Indonesia bersama pemerintah Arab Saudi bekerjasama menggaungkan konsep Islam yang Moderat di dunia. Yaitu sebuah konsep islam yang telah diajarkan oleh pemuka dan alim ulama islam sepanjang masa yang lampau. Islam moderat yang toleran dan ramah. Beliau juga mengatakan supaya simposium ini menegaskan kembali semangat Asia-Afrika yang dulunya diinisiasi oleh Indonesia. Mengingat bahwa peserta dan pelaksana simposium ini adalah Perhimpunan Pelajar Indonesia di Negara-negara yang terletak di Asia dan Afrika.

Acara selanjutnya disusul dengan pemukulan gong sebanyak lima kali, oleh Bapak Drs. Agus Maftuh Abegebriel, M.Ag. tanda dimulainya secara resmi kegiatan Simposium Kawasan PPI Timur Tengah dan Afrika 2017.

Diskusi panel pertama dengan judul “Merajut Tenun Kebangsaan di Tengah Kemajemukan” dimulai dengan pemaparan materi oleh Bapak Mochammad Ridwan Kamil, S.T., M.U.D. Beliau menyampaikan bahwa Indonesia sekarang sedang berjalan dalam laju yang positif, menuju harapan Indonesia sebagai Negara terkuat dan termaju ketiga di dunia nanti pada tahun 2045, dan 2030 sebagai Negara ketujuh dunia. Syaratnya, adalah Negara dengan kondisi sosial dan politik yang stabil, yaitu bilamana angka pertumbuhan kita selalu berada di angka 5, dan tidak ada konflik maupun perselisihan yang menyedot energi bangsa untuk mengurusnya.

Beliau banyak menyampaikan statement yang penting dan faktual. Diantaranya adalah, “toleransi bagi saya adalah kita melindungi kaum minoritas, dan juga kaum minoritas memahami kaum mayoritas. Keadilan itu tidak berarti selalu sama, namun proporsional, yaitu memberikan sesuatu sesuai yang dibutuhkannya”. “Baldatun thoyyibatun wa robbun ghoffur itu artinya keseimbangan antara dunia dan akhirat”. “Orang Indonesia itu tidak suka baca dan terlalu suka ngobrol, akibatnya tidak ada tulisan. Akibatnya banyak berita fitnah dan bohong, serta minimnya penjelasan dan literasi ilmiah”. “Tinggikan argumentasinya, bukan tinggikan suaranya”. “Para mahasiswa tolong bantu kami dengan mengembangkan konten positif. Anak muda di Indonesia bisa menghabiskan waktu tiga jam hanya untuk menikmati medsos”. “Kalau kita susah untuk mengedepankan ukhuwah islamiah, maka kedepankanlah ukhuwah wathoniyah, dan jikalau tetap saja susah maka kedepankanlah ukhuwah insaniyah. Bila anda tersesat di hutan, dan bertemu orang untuk meminta pertolongan, anda tentu tak akan bertanya dulu, agamamu apa? Negaramu apa?”. “Kepimimpinan terbaik adalah kepemimpinn dengan keteladanan, dan dakwah terbaik adalah dakwah dengan akhlak”. “Dakwahlah di jalan yang sulit, jangan hanya dakwah di jalan yang mudah”.

Pembicara kedua adalah Bapak Prof. Dr. Mahfud MD. Beliau berbicara tentang cara merajut tenun kebangsaan dan bagaimana cara mengelola kebersamaan. Kita menjaga pluralisme dengan kesatuan hukum yang sah dan berlaku di depan publik. Beliau juga optimis bahwa Indonesia tidak sedang dalam kondisi yang kritis, menurut studi Mc Kensey, Indonesia saat ini adalah Negara ekonomi ke enam belas, dan pada tahun 2030 akan menjadi Negara ekonomi ketujuh. Indonesia sekarang telah tumbuh menjadi lebih baik bila dibanding dulu. Baik secara ekonomi, politik maupun sosial.

Indonesia dapat menjadi Negara pluralis yang berhasil, meski memiliki unsur heterogen yang terbanyak, itu terjadi karena beberapa hal mendasar yang dimilikinya, yang pertama adalah dikarenakan terdorong kemauan dari bawah, dan bukan paksaan dari atas, yang kedua adalah pada saat perjuangan mencapai cita-cita kemerdekaan yang sama, mereka sepakat untuk mengikat itu semua dalam bingkai Pancasila dan Bhinneka tunggal ika, yang ketiga adalah adanya kesepakatan untuk menyelenggarakan sistem demokrasi (kedaulatan rakyat) yang nomokrasi (kedaulatan hukum), dan yang keempat adalah dituangkannya itu semua dalam bentuk UUD 1945, dan dikawal dalam UU Pemerintahan.

Pembicara ketiga adalah Bapak Prof. Dr. Din Syamsudin. beliau menyambung apa yang telah disampaikan oleh pembicara-pembicara sebelumnya, diantaranya pak Mahfud MD. Beliau juga tidak sepakat bila Indonesia disebut kritis disintegrasi dan intoleransi. Bahkan Indonesia secara umum sangatlah bagus. Beliau juga tak mempercayai statistik dan survey yang menunjukkan hal sebaliknya. Bahkan integrasi dan toleransi tersebut sangat didukung oleh faktor Islam. Ketika Islam tidak bersanding dengan kesukuan dan perkotakan lainnya. Para tokoh islam dalam sejarah rela melepaskan tujuh kata yang dipersoalkan dalam piagam Jakarta agar menjadi seperti Pancasila yang kita kenal. Terlebih lagi ajaran hikmah dan rahmat yang diajarkan dalam Islam dan juga telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Ke depannya Indonesia akan tetap menghadapi masalah, terlebih seteah berakhirnya perang dingin, di mana banyak kepentingan-kepentingan yang saling tarik menarik. Di sanalah dibutuhkan kekuatan Negara yang bisa menyatukan segala pandangan dengan baik.

Beliau berpesan, “orang-orang yang ekskuslif hanya akan gagal, oleh karenanya kita menawarkan inklusifme”. “Pancasila adalah dasar Negara yang telah final”. “Kita membutuhkan dialog dan ngobrol, bukan dialektika yang intinya adalah pokoknya. Namun Negara haruslah hadir sebagai penengah dan pemutus”. “Umat islam Indonesia haruslah mengedepankan praksisme keagamaan bukan justru populisme keagamaan”. Dan beliau menutup seminarnya dengan ucapan, “Ringkasnya, rajutan ini haruslah didialogkan”.

Sesi panel kedua yang berjudul “Wawasan Politik Hukum Indonesia dan Kerangka Diplomasi dengan negara-negara Timur Tengah”, diawali dengan ceramah Bapak Masykuri Abdillah dengan membawakan tema “Islam Dalam Konteks Negara Demokrasi”. Beliau berbicara dengan menitikberatkan pada hubungan antara agama dan Negara. Sebuah persoalan yang mencakup Negara-negara timur tengah dan Indonesia sekaligus sebagai Negara muslim yang menganut faham demokrasi.

Konsep kontra sekulerisme pada dasarnya bukan hanya dianut oleh negara-negara muslim saja. Bahkan beberapa negara Barat secara eksplisit memasukkan agama dalam Negara, seperti Negara-negara Balkan. Norwegia, adapun beberapa Negara yang tidak memasukkan agama dalam konstitusi ataupun pemerintahan, mereka juga masih mengurusi agama, seperti adanya partai politik yang berbasis agama dan menggunakan isu-isu agama, pajak gereja, pendidikan agama dalam sekolah yang dibiayai oleh pemerintah, dan sebagainya. Bahkan tidak ada sama sekali Negara barat yang murni sekuler selain Prancis. Sebagaimana juga tidak ada Negara muslim yang murni sebagai sekuler selain Turki.

Oleh karenanya, tidak bisa mengharuskan Indonesia menjadi negara sekuler murni. Memang dia tidak mencampur adukkan agama dengan Negara, namun dia tetap mengurusi agama dalam tatanan Negara pemerintahan.

Berbicara mengenai demokrasi di Negara muslim, hanya Indonesia dan Tunisia yang benar-benar demokratis. Dan itu ditandai dengan adanya al-hiwar al-wathoni atau dialog nasional ketika terjadi perselisihan maupun konflik antar golongan. Bahkan turki sekalipun saat ini tidak bisa disebut sebagai negara demokratis, semenjak pertama kalinya kudeta militer, dan terus bertambah parah hingga saat ini di era Erdogan.

Indonesia adalah contoh negara demokrasi yang terbaik, terutama dalam bilangan-bilangan negara islam. Indonesia tidak pernah memiliki kristophobia sebagaimana yang terjadi di negara-negara barat dengan islamphobia-nya. Indonesia juga tidak pernah ada penghinaan maupun kezaliman dari pemeluk agama mayoritas kepada agama lainnya. Yang ada hanya kejadian-kejadian lokal yang menyangkut oknum bukan komunitas secara menyeluruh.

Problemnya adalah Indonesia sudah terlanjur dicap memiliki kesan yang buruk dalam mengelola demokratisme dan kebebasan beragama dan pemikiran. Konflik-konflik kecil ini haruslah dijaga dengan baik, karena hal seperti ini selalu menjadi konsumsi opini dan publik di Negara-negara asing, yang berakibat adanya distorsi tentang toleransi secara keseluruhan dalam ranah implementatifnya di Indonesia.

Diantara solusi yang beliau sampaikan adalah menyebarkan Indonesia yang Islam rahmatan lil ‘alamin ke dunia luar. Beliau juga menyampaikan gagasannya, “LPDP hendaknya memberikan juga beasiswa ke mahasiswa asing, agar mereka juga bisa menjadi juru bicara bagi Indonesia dan islam yang rahmatan lil ‘alamin di negeri mereka”. Beliau juga berpesan kepada para delegasi terkait solusi ini, “para mahasiswa juga bisa menjadi diplomat bagi Indonesia di negeri tempat ia menetap, diplomasi people to people”.

Selanjutnya pembicara kedua dan terakhir adalah Bapak Drs. Hery Saripudin, M.A., Konjen RI di Jeddah-Saudi Arabia. Beliau membahas tentang “Kerangka Diplomasi dengan Negara-Negara Timur Tengah”. Kerangka diplomasi Indonesia adalah bagaimana meperjuangkan kepentingan Indonesia di luar negeri. Selain offisial diplomat terdapat juga diplomat non formal.

Berbicara tentang diplomasi luar negeri haruslah merujuk kepada Pancasila ataupun UUD 1945, dan itu tertuang jelas dalam alinea keempat UUD 1945. Berupa perlindungan dan kedaulatan, kesejahteraan, kemajuan, dan peran internasional. Semua era pemerintahan indonseia selalu berkisar seputar hal-hal ini, hanya saja karena diplomasi luar negeri itu dalam tataran praktis bersifat luwes dan fleksibel sehingga berbeda-beda formulanya.

Presiden jokowi sebagai contoh menitikberatkan pada perlindungan kedaulatan NKRI, perlindungan WNI di Negara asing, promosi wisata indonesia, dan penunjukan peran Indonesia di kancah dunia. Itu semua tidak lepas dari kerangka yang telah digariskan dalam UUD 1945 tersebut.

Kerangka diplomasi Indonesia untuk Negara-negara timur tengah berasas pada; peaceful, phosperous, democratic, bebas senjata nuklir dan pemusnah massal, serta dukungan perjuangan Palestina.

Terkhusus untuk kerangka diplomasi indomesia untuk Arab Saudi. Beliau menegaskan asas equality, hal ini tampak berhasil ketika Raja Salman melakukan kunjungannya ke Indonesia beberapa waktu lalu, setelah sebelumnya Indonesia cenderung memiliki stigma di mata masyarakat Arab Saudi sebagai pihak yang membutuhkan pekerjaan non formal atau tanpa skil, dan juga sebagai pihak yang butuh untuk bepergian menunaikan ibadah di tanah suci, tak lebih dari itu.

Beliau juga menyinggung tentang peran pelajar dan mahasiswa Indonesia di timur tengah dan afrika utara (MENA / Middle East and North Africa). Bahwa mereka semua memiliki modal diplomasi berupa; kemampuan berbahasa arab, pemahaman budaya dan adat istiadat, jaringan dan relasi selama studi, penguasaan ilmu pengetahuan dan kapabilitas keilmuan.

Adapun mahasiswa Haromain alias Dua Tanah Suci; Madinah dan Mekkah, mereka punya satu keunggulan yang tidak terdapat di tempat lain, yaitu nila-nilai spritual. Yang mana nantinya pada tahun 2045, mereka semua akan menjadi agen perubahan, dan diharapkan membawa Negara kearah yang lebih baik, termasuk dalam kebijakan dan politik luar negeri. Mereka dapat mengingatkan kesalahan-kesalahan moral, hukum dan spiritual yang mungkin terjadi dari unsur bangsa lainnya. Terakhir beliau berpesan kepada seluruh delegasi peserta simposium, “You are the agent of change”. (Red: Izzy, Ed: Adam)

Galeri Foto: (Sumber sie. Media Simposium Kawasan PPI Timtengka Madinah 2017)

 



Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Acara Bertajuk Rihlah Bahagia Mengisi Liburan Ppi Tunisia

PPIDUNIA.ORG, Tunisia – Acara bertajuk “Rihlah Bahagia” mengisi liburan teman-teman mahasiswa Indonesia di Tunisia. Rihlah bahagia adalah acara tour bersama yang diadakan oleh PPI Tunisia selama dua hari pada Kami-Jumat (23-24/03) perjalanan dengan empat destinasi wisata berbeda; Uthina, Zaghouan, Hammmamet dan Takrouna.

rihlah bahagia PPI Tunisia

Selain menjadi sarana mengisi liburan musim semi, acara ini juga sekaligus menjadi penutupan agenda kegiatan PPI Tunisia menjelang LPJ yang akan diadakan pada akhir bulan nanti. Acara ini pun dirancang untuk mengakrabkan kembali jalinan persatuan para anggota PPI Tunisia. Hal ini selaras dengan ungkpan ketua panitia tour Labib El Muna kepada Kominfo PPI Tunisia melalui pesan WA pada (25/03), “Tujuan rihlah kali ini sesuai dengan temanya adalah untuk memberikan refreshment teman-teman PPI sebelum pecan-pekan mndekati ujian selain juga agar tetap menjaga kebersamaan antara anggota PPI. Dengan acara-acara di dalamnya yang bisa memupuk kebersamaan. Destinasi tahun ini pun kami rancang agar serba segar dan baru.”

Diawali dengan mengunjungi Uthina, sebuah komplek kota warisan Romawi, acara tour dilaksanakan. Di Uthina peserta asyik mengikuti rangkaian-rangkain acara seru yang telah dirancang oleh panitia. Selain tentu saja peserta disuguhi dengan pemandangan alamnya yang indah khas musim semi; bunga-bunga yang mulai bermekaran dengan perbukitan hijau yang menghampar subur nan luas.

Setelah puas berfoto peserta diajak menuju ke destinasi selanjutnya yaitu Zaghuan; sebuah kuil air tempat pemujaan orang-orang romawi kuno. Letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi destinasi pertama. Perjalanan pun lancar ditempuh selama satu jam.

Di Zaghuan peserta semakin antusias dengan kejutan dan permainan-permainan ala outbond oleh panitia. Karena seperti tujuan awalnya, acara ini memang sengaja dirancang untuk semakin memperkokoh jalinan persatuan antar peserta sekaligus ajang silaturahim bersama.

Acara pun sukses berjalan dari awal hingga ahir destinasi. Dimulai dari Uthina hingga berakhir di Takrouna. Bahkan beberapa peserta merasa sangat puas dengan panitia lantaran dengan dana akomodasi yang sangat kecil namun bisa merancang sebuah agenda yang sangat luar biasa. Seperti yang diutarakan oleh salah satu peserta tour, Irham. “Rihlah tahun ini begitu berkesan bagi kami. Bagaimana tidak, dengan dana akomodasi yang sangat murah bisa berkunjung ke 4 lokasi yang berbeda dan konsumsi yang cukup. Pokoknya kalian luar biassaaaaaaa..!!”, ujar mahasiswa tingkat ahir asal Solo ini.

Acara pun ditutup dengan foto bersama sekaligus perekemanan video untuk penyambutan duta besar yang akan datang, Bapak Ikrar Nusa Bhakti. [AJU]

Categories
Inspirasi Dunia

Pengalaman Beasiswa Uni Eropa, Erasmus Mundus, Program Mover 2013/2014

Sebelumnya saya pernah melamar beberapa beasiswa semenjak duduk di bangku sekolah menengah kejuruan. Tercatat lebih dari 50 program beasiswa dan sejenisnya yang pernah saya lamar, namun hanya 6 diantaranya yang menerima aplikasi beasiswa saya. Enam program beasiswa tersebut diantaranya Beasiswa Toyota dan Astra 2012, Erasmus Mundus-Mover 2013 (Uni Eropa), Dataprint 2014, Dataprint 2015, Beasiswa Pemerintah China 2016, dan Ignacy Łukasiewicz Scholarship (Pemerintah Polandia) 2016.

Pada kesempatan ini saya akan menceritakan pengalaman Beasiswa Erasmus Mundus-Mover 2013 program srata1 selama 2 semester dengan jurusan Electrical Engineering and computer Science di Lublin University of Techology, Polandia. Beasiswa Erasmus Mundus (sekarang Erasmus+)  merupakan beasiswa yang diberikan Uni Eropa untuk mahasiswa dari negara berkembang, baik mahasiswa yang sedang studi atau lulus, di universitas negeri atau swasta. Beasiswa ini bisa dilamar oleh semua mahasiswa di Indonesia meskipun universitas tempat kalian studi di Indonesia tidak mempunyai kerjasama dengan pihak Erasmus.

Beasiswa Erasmus Mundus ini merupakan kali ke dua beasiswa Uni Eropa yang saya dapatkan, setelah beasiswa Erasmus Mundus pada 2012 saya dibatalkan sepihak oleh penyedia beasiswa ketika terjadi krisis ekonomi yang melanda Eropa pada 2012. Perlu diketahui, beasiswa ini hanya menyeleksi aplikan melalui dokumen persyaratan tanpa ada psikotest dan wawancara. Jadi yang seharusnya dilakukan aplikan adalah memahami kriteria penilaian beasiswa dan memaksimalkan dokumen persyaratan. Menurut saya mengurus beasiswa ini gampang-gampang susah karena kita harus memaksimalkan dokumen yang tentunya memerlukan waktu dan tenaga yang banyak, seperti mengkonsultasikan motivation letter ke dosen yang mana waktunya tidak bisa kita tebak dan tentukan jika dosen yang bersangkutan mempunyai jadual yang full, belum lagi print dokumen dan meminta tanda tangan ke beberapa orang yang berbeda yang mengharuskan kita kesana kemari. Diperlukan niat, kesabaran, dan ketelitian yang besar memang, karena jika tidak kita bisa berhenti di tengah jalan. Hal ini pernah dialami beberapa teman yang akhirnya memilih mengundurkan diri. Belum cukup di situ, kami juga bersaing dengan aplikan di dalam dan di luar negeri karena terdapat kuota penerima beasiswa.

Terdapat beberapa persyaratan yang harus dipersiapkan, diantaranya KTM, CV (Format eropa), language certificate, letter of motivation, transkrip nilai, dokumen pendukung lain seperti sertifikat prestasi dan seminar, dll. Untuk CV bisa di download di website resminya. Saya mulai menyiapkan semuanya 6 bulan sebelum deadline. Waktu tersebut saya gunakan untuk mengurus persyaratan di dalam dan di luar kampus, berkonsultasi motivation letter ke beberapa dosen bahasa inggris, update informasi, dan lain-lain sehingga saya mempunyai waktu cukup.

Meskipun IPK saya pas-pasan, saya mencoba memaksimalkan dokumen lain sehingga untuk menarik penyeleksi, saya melampirkan keterangan prestasi yang pernah saya raih dan pengalaman organisasi. Perlu diketahui bahwa kriteria penilain beasiswa ini bukan hanya dilihat dari keaktifan di dalam kampus tapi juga di luar kampus. “Kebanyakan penerima beasiswa  adalah para aktifis kampus”, tutur Bapak Soeparto, Kepala BKLN (Biro Kerjasama Luar Negeri) UMM dalam seminar sosialisasi Beasiswa Erasmus Mundus pada 2013.

Terdapat 2 tahap seleksi. Yang pertama seleksi antara penerima dengan cadangan dan yang ditolak. Yang kedua, seleksi antara penerima dan ditolak. Proses ini memakan waktu 1 sampai 2 bulan. Setelah sekian lama menunggu, alhamdulillah akhirnya saya diterima di urutan ke dua dari 63 penerima beasiswa se-Asia. Beberapa hari kemudian saya mendapatkan Letter of Acceptance yang menyatakan saya resmi diterima beasiswa. Pada tahap aman ini saya mulai mempersiapkan dokumen-dokumen sebelum pemberangkatan seperti tiket pesawat, visa, dan lain-lain.

Pada beasiswa ini, penerima mendapatkan studi gratis selama 9 bulan, tiket pesawat pulang-pergi, living cost 1000 euro perbulan (Rp 16 juta ketika itu), asuransi kesehatan, sertifikat penerima beasiswa, transkrip nilai, dan tentunya pengalaman yang tidak terlupakan. Di sini kami belajar bersama ratusan mahasiswa dari berbagai negara, seperti Amerika, Italia, Spanyol, Polandia, Turki, Kazakhstan, Tunisia, Ukraina, Aljazair, Kamboja, dan Filipina.

Proses pengajaran kami menggunakan bahasa inggris. Kami diberi kemudahan dan perhatian yang lebih dari para pengajar.  Sebagai mahasiswa jurusan teknik informatika, saya merasakan sistem pengajaran ilmu terapan yang kami dapat jauh berbeda dari jurusan teknik informatika UMM. Perbedaannya, jika UMM menerapkan sistem 50% teori dan 50% praktek, maka di sini hanya 10% teori dan 90% praktek. Dalam hal tugas besar kebanyakan diberikan secara individu sehingga mahasiswa dituntut untuk lebih kreatif dan mandiri dalam mengerjakan tugas. Di Teknik informatika UMM kami tidak hanya diajarkan mata kuliah yang berbau IPA seperti pemrograman, namun juga diajarkan mata kuliyah yang berbau IPS seperti Pendidikan Kewarganegaraan, Kepribadian, dan Bahasa Inggris. Namun ketika itu, kami hanya diajarkan mata kuliyah yang hanya konsen dengan jurusan kami, yaitu IPA.

Di luar kelas reguler, itu kami diajar bahasa dan budaya Polandia serta Jerman selama 2 semester. Saya merasa mempelajari kedua hal ini sangat berguna terutama ketika kita berinteraksi dengan masyarakat sekitar dimana mayoritas masyarakat tidak mampu berbahasa inggris. Meskipun tidak terlalu menguasai bahasa Polandia, setidaknya saya menguasai kata-kata sehari-hari yang biasa dipakai. Saya merasakan hal ini sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari. Selain belajar bahasa Polandia di kelas,  kami juga belajar sedikit tentang bahasa Turki, Arab, Spanyol, dan lain-lain dari mahasiswa yang berasal dari negara tersebut.

Selain kegiatan di kelas, kami mengikuti kegiatan di luar kelas yang di naungi oleh organisasi pemuda internasional ESN (Erasmus Student Network). Diantara kegiatannya adalah kegiatan sosial di panti asuhan dan olahraga di setiap senin. Pernah suatu ketika organisasi ini mengadakan kompetisi olahraga voli di akhir semester. Dan kami ambil bagian dengan mendirikan tim yang kami namai “Java United” yang berarti Persatuan Orang Jawa. Meskipun tim kami terdiri dari 2 orang jawa tapi kami juga merekrut anggota lain dari italia, Portugal, Kamboja, dan Turki. Kami masuk di babak final melawan anggota organisasi ESN. Diakhir babak alhamdulillah kami menjadi juara meskipun hanya runner up. Diakhir pertandingan kami mendapatkan penghargaan berupa sertifikat kejuaran di masing-masing tim.

Terdapat kebudayaan masyarakat Polandia yang berbeda dari kebudayaan kita. Seperti ketika seseorang ingin masuk ke kamar orang lain, setelah mengetuk pintu 3 kali seketika itu, dia bisa langsung masuk tanpa menunggu, selama pintunya tidak dikunci. Selain itu mereka menganggap bahwa tangan kanan sama seperti tangan kiri, sehingga kebiasaan memberikan sesuatu dengan menggunakan tangan kiri adalah hal yang biasa. Dalam hal perbedaan sistem transportasi, di negara ini menggunakan jalur kanan sebagai jalan kendaraan termasuk jalur kanan untuk para pejalan kaki. Transportasi umum lebih diminati daripada transportasi pribadi sehingga jarang terjadi kemacetan terlebih polusi udara, masyarakat mentaati peraturan lalu lintas, sistem “buang sampah pada tempatnya” juga berlaku di negara bekas komunis ini.

Ada beberapa pengalaman unik kami selama di Polandia. Salah satunya ketika kami bertemu masyarakat Polandia  di jalan, mereka tidak jarang menyapa kami dengan sapaan Bahasa Jepang seperti “arigato”, “konichiwa”. Kejadian ini beberapa kali terulang pada waktu dan tempat yang berbeda. Mungkin masyarakat Polandia lebih mengenal Bangsa Jepang daripada Bangsa Indonesia. Ditambah lagi kami memiliki wajah Asia meskipun menurut kita berbeda. Pengalaman unik lain adalah ketika ada teman dari negara lain yang akan pulang ke negaranya selalu kami ajak foto bersama sambil membawa bendera negaranya dan bendera kami, Indonesia. Hal ini kami lakukan agar  kita selalu saling mengingat.

Pengalaman menarik selama di Polandia adalah ketika winter atau musim salju. Pada musim ini segalanya menjadi indah. Tanah, bangunan, tanaman menjadi putih karena tertutup butiran salju. Kesempatan ini tidak kami lewatkan dengan mengabadikan gambar di beberapa tempat. Selain itu kami juga bermain skii beberapa kali. Meskipun hawa dingin menusuk tulang dan terkadang juga sampai membuat jari tangan tidak bisa bergerak, namun kami tetap menikmati suasana ini. Bagaimana tidak? Meskipun temperatur suhu minus 20 derajat cecius, kami masih asyik bermain skii hingga terkadang kami membayar harga penyewaan ekstra karena terlalu lama bermain .

Tentang makanan, setiap hari kami memasak di dapur asrama karena jarang terdapat restauran Asia. Jika adapun tentunya harganya tidak bisa dibilang murah untuk kantong mahasiswa. Makanan pokok masyarakat Polandia adalah kentang, sedangkan kita nasi, namun nasi juga dijual di sini. Setiap hari kami menanak atau menggoreng nasi dengan lauk pauk sesuai keinginan kita. Jangan harap lauk yang biasa terdapat di Indonesia seperti tempe dan bakwan ada di sini. Kita biasa makan lauk yang dijual di sini saja seperti telur, daging, ikan dan lauk umum lainnya. Dari sini kita dituntut lebih mandiri untuk melakukan apapun.

Selain Polandia kami juga menyempatkan berkunjung ke 12 negara Eropa lain. Negara tersebut adalah Jerman, Belanda, Perancis, Belgia, Spanyol, Hungaria, Czech Republic, Slovakia, Austria, Italia, Vatikan, dan Yunani. Di sini kami mendapatkan pengalaman yang tidak terlupakan. Kami berkunjung ke beberapa tempat terkenal seperti Tembok Berlin di Jerman, Kincir Angin di Belanda, Menara Eiffel di Paris, Gedung Parlemen Uni Eropa di Brussel-Belgia, Stadion Nou Camp di Barcelona-Spanyol, Gedung Parlemen Hungaria, dan Gedung Opera di  Ceko. Menariknya, kami selalu membawa dan berfoto dengan bendera Indonesia, UMM, serta organisasi kami ke setiap negara tersebut. Hal ini kami lakukan agar masyarakat internasional mengetahui bahwa identitas nama baik kita berkibar dengan gagah di bumi eropa selain itu agar mahasiswa Indonesia lebih bersemangat untuk melakukan hal yang sama, kuliah di luar negeri.  Dari kunjungan ini kami mendapatkan pengalaman yang tidak terlupakan. Selain keindahan artsitektur eropa kami juga bertemu beberapa masyarakat dengan berbagai macam latar belakang sosial, budaya, dan agama. Dari interaksi ini kami menemukan pengetahuan yang tidak kami pelajari di bangku perkuliahan. Pengalaman yang baik perlu kami tiru dan implementasikan nantinya.

Berkaitan dengan beasiswa, saya memiliki beberapa saran serta tips bagi calon pelamar, diantaranya :

  1. Diperlukan niat, kesabaran, dan usaha yang kuat. Sebagian teman yang awalnya mempunyai niat besar belajar di luar negeri merasa sibuk dengan urusannya masing-masing dan akhirnya memilih mengundurkan diri dari melamar beasiswa ini. Padahal mereka sudah melengkapi sebagian persyaratannya. Mereka merasa tidak sanggup karena mereka pikir persyaratannya terlalu rumit. Padahal kebanyakan beasiswa luar negeri yang ditawarkan memang seperti itu, membutuhkan banyak persyaratan yang harus disiapkan untuk mencari mahasiswa sesuai kriteria penyedia beasiswa, sehingga membutuhkan niat, kesabaran, serta usaha yang kuat dalam mengurusnya. Secara tidak langsung mereka menyeleksi dirinya untuk tidak diterima beasiswa. Padahal bagi penyedia beasiswa, persyaratan tersebut digunakan untuk referensi siapa diri anda, apakah Anda orang pilihan yang sesuai kriteria mereka? Untuk menjadi tidak biasa, kita harus menjadi luar biasa, luar biasa dalam niat, kesabaran, dan usaha;
  2. Bahasa Inggris adalah kebutuhan. Bahasa Inggris tentunya menjadi suatu kewajiban sebagai alat komunikasi dengan masyarakat antar negara. Kebanyakan beasiswa luar negeri mensyaratkan Bahasa Inggris sebagai bahasa yang dipakai dalam pembelajaran mata kuliah baik secara lisan maupun tulisan. Bahasa inggris lisan dipakai dalam percakapan antara dosen dan mahasiswa maupun antar mahasiswa, sedangkan tulisan biasa dipakai dalam literatur modul yang dosen berikan. Bagi Anda yang merasa Bahasa Inggrisnya masih pas-pasan, lebih baik belajar dari sekarang! Jika perlu ambil kursus! Dalam seleksi administrasi beasiswa, penyeleksi beasiswa melihat kemampuan Bahasa Inggris Anda dari sertifikat Bahasa Inggris, semisal TOEFL. Namun khusus di UMM bisa menggunakan sertifikat ESP (English for Specific Purpose) yang diterbitkan lembaga Language Center UMM, jika belum mempunyai sertifikat ESP bisa menggunakan transkrip ESP sementara;
  3. Pelajari persyaratan dan kriteria penilaian sedetail mungkin! Jika Anda mengetahui keduanya Anda akan mengetahui apa yang akan Anda lakukan. Terkadang ada informasi yang tidak Anda ketahui, seperti persyaratan passport bisa diganti dengan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) dan sertifikat TOEFL bisa diganti dengan transkrip ESP LC. Hal-hal tersebut memang tidak tertulis di website resminya. Maka jangan ragu untuk bertanya kepada BKLN (Biro Kerjasama Luar Negeri) maupun mahasiswa yang sudah mendapat beasiswa ini;
  4. Pergunakan waktu untuk mengurus dokumen persyaratan sebaik mungkin! Jangan mepet deadline! Penyedia tidak akan mentoleransi jika kita apply beasiswa melebihi deadline;
  5. Selalu update informasi dari BKLN dan penyedia beasiswa!;
  6. Jangan ragu untuk bertanya kepada mereka yang sudah mendapat pengalaman beasiswa!;
  7. Motivation Letter dan CV mempunyai kriteria penilaian yang  besar. Penyedia beasiswa akan membaca siapa diri kita di Motivation Letter dan CV. Sebaiknya share Motivation Letter dengan dosen bahasa inggris apapun jurusan Anda, karena mereka berkecimpung dalam dunia bahasa inggris terutama grammar!;
  8. Sertakan nilai plus yang Anda miliki seperti prestasi, pengalaman organisasi, karya tulis dan lain lain karena itu akan sangat membantu dan membedakan diri kita dengan orang lain! Sertakan surat aktif organisasi dan sertifikat prestasi! Jika tulisan Anda pernah dimuat di koran, sertakan scangambar berita koran tersebut! Jika Anda pernah menerbitkan buku atau membuat PKM, lampirkan juga gambar karya tulis tersebut!;
  9. Tawakkal, berserah diri apapun hasilnya! Kita tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi. Yakinlah hal itu merupakan terbaik! Meskipun nantinya kita tidak diterima pada program ini, lebih baik kita interopeksi diri. Menginteropeksi kekurangan apa yang sudah kita miliki dalam melamar beasiswa. Hal ini akan membuat kita selalu semangat mencoba kesempatan beasiswa yang akan datang maupun beasiswa lain. Yakinlah jika kita mempunyai banyak kesempatan. Jika yang satu gagal masih bisa mencoba beasiswa-beasiswa lain yang sesuai kriteria kita. Dengan semakin baiknya interopeksi yang kita lakukan, akan membuka kesempatan lebih besar untuk mendapatkan peluang lain.

Sedikit cerita yang bisa saya sampaikan. Semoga sepenggal cerita ini bermanfaat bagi yang lain. Amin. “Man jadda wa jada” , “barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan mendapatkannya”. (Red: Syukron/ Ed: Amir)

Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

PPI Tunisia; Rayakan Tahun Baru dengan Diskusi Kebangsaan “Merawat Kebhinekaan”

PPIDUNIA.ORG, Tunisia – Jika penutupan agenda ahir tahun yang biasanya diisi dengan pesta-pesta meriah maka PPI Tunisia mengisinya dengan agenda Diskusi Kebangsaan. Jumat (30/12) PPI Tunisia bekerja sama dengan KBRI Tunisia berhasil mengadakan Diskusi Kebangsaan sebagai refleksi ahir tahun dengan tema “ Merawat Kebhinekaan” di Emerald Hall, Golden Tulip Hotel Tunis.

Tema ini dipilih lantaran melihat aksi-aksi intoleransi yang mencederai keberagaman kita sebagai Bangsa. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Labib El Muna selaku ketua panitia diskusi kebangsaan dalam pesan whatsapp-nya kepada Biropers PPI Dunia, “ Acara ini adalah inisiatif dari rekan-rekan senior PPI (Tunisia) untuk mengup-grade acara pergantian Tahun Baru yang rutin diadakan pihak KBRI menjadi lebih berkesan dan berbekas. Pemilihan tema pun tidak tergesa-gesa namun melihat beberapa aspek di Negeri kita dan realitas di tempat kita belajar bahwa kita datang dari beragam daerah dan suku, juga beragam latar belakang sosial dan ekonomi maka kami merasa Refleksi Akhir Tahun dengan tema Merawat Ke-Bhinekaan menjadi tema yang pas kali ini.”

whatsapp-image-2016-12-31-at-13-15-27
Meja Paling Depan; dari kiri Ketua PPI Tunisa (M. Ariandi), Dubes LBBP RI Tunisia (Bapak Ronny Prasetya Yuliantoro), HOC KBRI Tunisia (Bapak George Junior).

Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya serempak diskusi kebangsaan pun dimulai. Ada tiga panelis yang akan memberikan pengantar diskusi senja itu. Sebagai keynote speaker Bapak Ronny Prasetya Yuliantoro selaku Dubes LBBP RI untuk Tunisia, lalu Dede A. Permana dosen tetap IAIN Banten yang juga mahasiswa doktoral Universitas Ezzitouna dan terahir Budi Juliandi dosen tetap IAIN Langsa.

Panelis pertama, Pak Ronny -sapaan akrabnya- berbicara masalah kebhinekaan secara umum. Dimulai dari  ajakan beliau untuk menghidupkan ruh kebhinekaan yang sudah mengakar dalam ruh, jiwa kita hingga mengingatkan betapa pentingnya sebuah kebhinekaan dalam ranah kebangsaan ini. “ Kebhinekaan itu sudah mengakar dalam rasa dan kehidupan Bangsa Indonesia sejak nenek moyang kita dulu melalui Empu Tantular misalnya. Maka jangan cari perbedaan kita sebagi bangsa cari lah kesamaan kita. Masak kita hidup tidak ada persamannya. Jangan terus diperuncing perbedaan itu. Mari bersatu, jangan sampai kita bersatu ketika mati saja (menghadap kiblat;baca)”, pesan Pak Ronny tegas.

Diskusi semakin hangat meski suhu di luar muali menurun. Tak terasa aula hotel itu semakin sesak dipenuhi peserata. Dimulai dari mahasiswa hingga masyarakat Indonesia di Tunisia secara umum.

Adapun panelis kedua, Dede A. Permana lebih mengutamakan pesan untuk saling menjaga kerukunan antarumat beragama setelah Kang Dede -sapaan akrabnya- membuka peta konflik antarumat beragama yang cukup tinggi akhir-akhir ini. Kita sebagai bangsa harus saling bahu-membahu menjaga kerukunan ini. Seperti dalam pesan Kang Dede yang disampaikan senja itu, “ Kerukunan umat beragama merupakan kebutuhan bersama. Karena itu, pemeliharaan kerukunan umat beragama menjadi tanggungjawab semua pihak, terutama pemerintah, pemuka agama dan tokoh masyarakat”.

Selanjutnya panelis terakhir, Budi Juliandi yang tengah mengadakan riset desertasinya tentang “Hukum Keluarga di Tunisia” ini lebih mengingatkan kepada peserta betapa Islam Indonesia yang oleh Martin Van Bruinessen, peneliti asal Belanda, diidentikkan dengan the smiling face of Indonesian Islam kini telah berubah menjadi “wajah menyeramkan” lantaran hadirnya para muslim konservatif yang kini tengah mendominasi peta pergerakan di negeri kita ini dengan menunggangi kepentingan-kepentingan politik sesaat.

Pak Budi mencoba memaparkannya dengan mengambil pelajaran dari peristiwa pembuangan seorang aktivis muda, Tahir el Hadad oleh beberapa Masyayikh dan Kyai Jami’ Ezzitouna. “ Peristiwa sejarah di Tunisia paling tidak dapat menggambarkan kepada Bangsa Indonesia, betapa sebenarnya politik itu sangat mungkin sekali menunggangi konservatisme Muslim Indonesia. Membersihkan politik untuk tidak menunggangi konservatisme Islam bukanlah persoalan mudah. Namun, jika itu dapat dilakukan, tak tertutup kemungkinan kerinduan kita dan mereka para penstudi Islam Indonesia untuk dapat melihat kembali wajah Islam Indonesia yang sejatinya dari dulu memang penuh dengan senyum dan keramahan “the smiling face” dapat terwujud. Semoga. Wallahu a’lam bi al-shawab. Selamat Tahun Baru 2017. Fi kulli ‘am wa antum bi-khair”, papar Dosen Muda asal Medan.

Acara dilanjutkan dengan diskusi kebangsaan. Berbagai elemen masyarakat Indonesia di Tunisia, dimulai dari mahasiswa hingga para staff KBRI Tunisia dan masyrakat Indonesia secara umum ikut memberikan kontribusi ide dan komentarnya atas tema kebhinekaan ini.

Sugianto Amir, sebagai moderator diskusi kebangsaan senja itu juga turut menggelitik rasa penasaran para peserta hingga tak terasa dialog mengalir begitu saja. Apalagi diskusi yang cukup menguras otak dan pikiran ini dikemas oleh panitia cukup menarik dengan diselingi dengan musikalisasi puisi, lagu-lagu kebangsaan dan hingga stand up commedy yang membuat para peserta menjadi lebih rileks dan menikmati suasanya. Hal ini dilakukan agar acara bisa berjalan sehangat mungkin namun juga tak meninggalkan esensi dari diskusi itu sendiri yang penuh ketegangan dan perbedaan pendapat. Bahkan di luar dugaan peserta diskusi, Dubes LBBP RI untuk Tunisia, Bapak Ronny P. Yuliantoro juga ikut menyumbang sebuah lagu di depan peserta diskusi. Seperti yang dikatakan oleh ketua panitia yang saat ini sedang menempuh studi masternya; Labib el Muna. “Acara kami buat lebih meriah dengan pentas kesenian dari beragam elemen masyarakat Indonesia di Tunisia. Dan dalam diskusi dan penampilan ikut berpartisipasi mulai dari staff KBRI sampai ke mahasiswa. Hal ini (agar) menguatkan tali persaudaraan sebagai keluarga di tanah rantau. Selain (pemilihan) tema juga yang (umum) agar semua orang bisa ikut serta”.

whatsapp-image-2016-12-31-at-13-17-57
Keluarga Besar Masyarakat Indonesia di Tunisia

Acara yang berjalan selama kurang lebih lima jam itu lancar dan meriah. Bahkan Pensosbud KBRI Tunisia, Ibu Merita Yenni memberikan apresias yang luar biasa kepada tim panitia. “ Acaranya bagus, sukses, seminarnya mantap, yang hadir banyak dan semuanya aktif. Lalu hiburannya juga mantap dan yang lebih-lebih, makanannya juga enak”, tanggap Ibu Merrita yang juga menampilkan puisi “Perempuan-perempuan Perkasa” karya Hartoyo Andangjaya.

Acara berakhir tepat pukul 20.00 CET yang ditutup dengan ramah tamah dengan menu khas Nusantara hasil karya teman-teman PPI Tunisia. [AJU]

Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Wawancara Ekslusif PPI Tunisia dengan Alwi Shihab: Isu SARA semakin Berbahaya Bila Dipupuk

PPIDUNIA.ORG, Tunisia – Tubuh NKRI kini sedang diuji dengan wabah perpecahan dan kebencian. Berbagai masalah timbul membakar api perpecahan. Isu SARA yang paling dominan menjadi sumbernya. Alwi Shihab, seorang cendekiawan senior, politisi yang namanya sudah tak asing lagi mencoba mengalirkan hawa sejuk di tengah tugas negaranya ke Tunisia. Beliau diutus oleh Presiden Joko Widodo untuk menjalin kerjasama dengan negara-negara di Timur-Tengah. Kedatangan beliau ke Tunisia adalah dalam rangka menghadiri sebuah konferensi Internasional dalam bidang ekonomi.

Di tengah kesibukan beliau, PPI Tunisia berhasil mendapatkan kesempatan mewawancarainya pada Rabu (30/11) di Ruang Nusantara, KBRI Tunisia. Dalam wawancara ini beliau banyak membahas masalah kebangsaan, masalah keberagaman kita sebagai bangsa dan juga peran mahasiswa yang ada di Timteng yang nantinya akan berada di garda terdepan dalam mengawal NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Bagaimana pandangan bapak terkait isu SARA yang saat ini sedang kuat di tanah air?

Saya kira isu sara ini sangat berbahaya kalau tidak bisa diredam, karena dia bisa berkembang menjadi suatu isu yang merugikan kita semua, karena kita sebagai negara pancasila sudah bertekad untuk menjadi suatu negara yang menjadikan sara itu sebagai sesuatu yang tabu. Karena sebagai negara yang pluralis, kita harus bisa menempatkan diri sebagai bangsa yang menghormati perbedaan-perbedaan. Apakah itu perbedaan agama, perbedaan etnik perbedaan suku dsb.

whatsapp-image-2016-11-30-at-15-11-29-1
Wawancara Ekslusif PPI Tunisia dengan Bapak Alwi Shihab

Itu sudah kita lebur semuanya menjadi suatu bangsa yang satu dengan bahasa yang satu yaitu bangsa Indonesia yang tidak melihat dia suku mana.

Apa yang terjadi di negara timur tengah antara lain kesukuan yang kuat itu menjadikan negara itu tercabik-cabik. Tetangga Tunis ini Libya, suatu contoh yang sangat tepat dianalogikan bagaimana kesukuan itu menjadikan bangsa Libya yang tadinya bersatu, sekarang berbeda pandangan disebabkan karena kekuatan kesukuan. Ini yang founding father kita itu menghindari hal tersebut, karena menyadari bahwa Indonesia ini terbagi beragam suku, beragam agama. Dan kita harus menonjolkan kebangsaan bahwa kita ini adalah bangsa Indonesia sebelum kita menganggap bahwa diri kita ini adalah suku ini suku itu, agama ini agama itu. Kita bangsa Indonesia yang masing-masing memiliki cirinya yang khas, tetapi kita sebagai bangsa adalah satu. Jadi isu sara ini berbahaya kalau tidak diredam dan tidak dijelaskan kepada masyarakat luas bahwa ini tidak boleh menjadi suatu isu yang bisa mempengaruhi jalan pikiran kita apalagi politisi, apalagi ulama, apalagi tokoh.

Kita tidak bisa membedakan antara suku Batak, suku Jawa, kalau seandainya saya sebagai duta besar di sini seorang Jawa. Apakah saya harus pilih staff saya juga orang Jawa karna ke-Jawa-an?. Tidak,

yang penting itu adalah Indonesia. Jadi isu sara itu berbahaya kalau dipupuk. Ini harus diredam, karena pada saat founding father mendeklarasikan Indonesia, sebelumnya itu sumpah pemuda diteruskan dengan pembentukan NKRI, sara itu sudah menjadi suatu hal yang tidak boleh kita singgung sehingga ada UU-nya di Indonesia soal sara, jadi sangat mengancam. Itu yang generasi muda harus tetap menjaga warisan yang diberikan oleh pendiri republik ini, untuk kita jaga terus. Nah, isu-isu yang berkembang sekarang ini mudah-mudahan sudah bisa diredam dan sudah bisa diatasi sehingga tidak berkembang kemana-mana.

Apa yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat Indonesia yang ada di wilayah Timur Tengah dan Afrika melihat isu-isu yang berkembang di Indonesia, khususnya dalam menyikapi pemberitaan di media sosial yang kerap menjadi tempat perdebatan?

Nah, ini memang pengaruh media sosial yang sekarang banyak sekali orang menyadari bahwa sebenarnya betul ini suatu teknologi yang bagus kalau dimanfaatkan. Tapi pada saat yang sama, ini bisa menciptakan keretakan di antara keluarga besar bangsa bahkan di kalangan tertentu umat islam juga bisa terancam oleh cara-cara provokasi dan fitnah. Kita juga melihat di media sosial seorang tokoh dicaci maki. Kejadian Gus Mus yang kita ikuti bersama sehingga mereka yang merasa bersalah akhirnya datang minta maaf dan banyak orang yang diperlakukan seperti itu, sebagai tokoh yang seharusnya dihormati justru dicaci maki karna adanya media sosial yang bebas untuk berbicara.

Karena itu saya kira pemerintah sekarang memikirkan bagaimana membatasi anjuran kebencian ini untuk bisa dikurangi dengan cara-cara perundangan atau ketentuan ketentuan sehingga tidak seenaknya saja hal ini bisa memprovokasi emosi masyarakat. Apa yang terjadi sebenarnya akhir-akhir ini terhadap Ahok dimulai dengan media sosial yang meng-quote secara keliru apa yang disampaikan sehingga untuk memperbaiki quote itu sudah tidak bisa mengatasi emosi yang sudah meluap dimana-mana.

Sulit membendung disebabkan karena sosial media. Jadi kita harus berhati-hati dan saya kira memang bagus seandainya ketentuan pemerintah sekarang itu untuk mengejar siapa yang dengan sengaja menciptakan hal-hal yang menjadikan kegaduhan di antara masyarakat dan bahkan bisa menciptakan perpecahan.

Dalam kasus kali ini apakah memang sebagian besar masyarakat Indonesia kurang edukasi tentang bagaimana menjaring berita yang masuk, kemudian bagaimana cara pemerintah untuk menanggulangi masalah ini?

Ya, sekarang pemerintah menyadari bahwa hal ini bisa menciptakan kegaduhan. Dan kegaduhan itu bisa mengakibatkan instabilitas. Instabilitas bisa menciptakan suatu keadaan dimana investor itu ragu untuk masuk ke Indonesia jadi dampaknya ada ujungnya yaitu kesejahteraan masyarakat itu terganggu karena tidak adanya investasi atau kurangnya turis. Apa yang terjadi di Mesir kita tidak mau hal itu terjadi di Indonesia. Itu juga dimulai dengan sosial media yang tidak bertanggung jawab.

Baik pak, sebelumnya kami menghimpun berita-berita yang sedang hangat di Indonesia antara lain kurang lebih ada 169 negara asing yang bebas visa masuk ke Indonesia kemudian pihak asing bisa menguasai perusahaan-perusahaan di Indonesia 100%, bagaimana bapak melihat ini semua?

Yaa sebenarnya begini, kalau umpamanya kita melihat Dubai, Dubai itu lebih progresif dari apa yang sekarang di Indonesia. Di Dubai itu, Asing bisa menguasai, bisa membeli apa saja yang dia mau. Kalau di Indonesia belum se-liberal itu. Orang asing boleh membeli rumah tetapi dia ada batasan-batasannya dan tidak sebebas yang kita dapati di Dubai umpamanya. Nah, kalau bebas visa memang, kalau dibandingkan dengan negara lain memang bukan kita yang pertama. Di Malaysia juga bebas visa tentu bukan semua negara, negara-negara yang oleh pemerintah dianggap masih rawan, itu tetap masih belum bebas visa. Nah, di sini banyak pembicaraan bahwa bebas visa mengakibatkan ada bangsa tertentu yang lalu tidak kembali.

Nah, itu jangan disalahkan bangsa yang masuk itu. Disalahkan pejabat kita karena itu semuanya kan ada record nya. Kalau anda masuk suatu negara kan ada record nya. Kalau anda tidak keluar dari record nya kan berarti kan bisa dicari. Dimana-mana begitu. Jadi jangan salahkan pemerintah tetapi salahkan oknum di pemerintah yang bertanggung jawab terhadap itu, imigrasi umpamanya. Dia tahu waktu si A masuk ke Indonesia dia tahu visa nya sampai kapan berakhir. Begitu sudah berakhir dan dia tidak pulang, dia bisa dicari kan yaa. Kadang-kadang dia menghilang kemana. Tapi RT/RW dan sebagainya kalau ada orang asing di suatu daerah kan bisa dilaporkan. Jadi jangan hanya melihat bahwa ini pemerintah menciptakan suasana sehingga orang asing berbondong bondong masuk. Nah, buktinya dari kementrian tenaga kerja kan juga pada waktu yang lalu kan mentri nya sendiri menangkap beberapa orang yang datang tapi tidak mempunyai izin untuk bekerja. Jadi kita harus introspeksi. Jadi imigrasi, kepolisian itu semuanya bertanggung jawab. Kalau sudah over stay yaa sudah. Kenapa kalau orang masuk ke Amerika over stay kemudian bisa diketahui jadi dia bisa di-black list. Kalau sekali dia over stay untuk yang akan datang dia tidak masuk lagi. Yaa jadi sistem kita juga harus diperbaiki jangan hanya melihat dari satu aspek saja.

Kedatangan bapak ke Tunis sebagai Special Envoy for the Middle East and the Organization of Islamic Cooperation (OIC) yang sebelumnya berkunjung ke Arab Saudi kemudian Yordania pada Februari lalu, sebenarnya apa pesan Presiden untuk negara-negara Timur Tengah dan anggota OKI?

Yaa sebenarnya pesan presiden itu, saya memegang jabatan ini sejak presiden SBY yang oleh pak Jokowi dianggap bahwa kelihatannya posisi ini masih -atau tanggung jawab ini masih- perlu untuk dilanjutkan karena Indonesia menginginkan adanya kerjasama dengan negara-negara timur tengah dan anggota OKI yang perlu berkesinambungan dan juga perlu ditingkatkan. Kita ketahui bahwa tidak semua negara di timur tengah ini mempunyai potensi untuk investasi. Tentu ada beberapa negara yang dianggap perlu untuk saya kunjungi dan saya ajak untuk meningkatkan hubungan ekonomi. Saya tidak ditugaskan oleh presiden untuk hal-hal yang sifatnya hubungan politik, yaa karna itu tugas Menlu dan saya lebih banyak ditugaskan yang sifatnya meningkatkan hubungan ekonomi kecuali kalau ada tugas-tugas khusus dari presiden.

Nah, anda bisa mendengar bahwa saya sering ke Saudi, Emirate, Oman kalau Afrika Utara ini tidak terlalu sering, mungkin Tunis termasuk yang 2-3 kali saya datangi karna di sini juga ada potensi untuk peningkatan kerja sama ekonomi yang lebih baik dari negara-negara lain. Sebenarnya Mesir ada tetapi keadaan di Mesir kita tahu sendiri bahwa sekarang belum kondusif, Libya juga ada tapi juga belum kondusif.

Nah, sekarang di Tunis ini yang di antara negara-negara Afrika khususnya Afrika Utara ini yang termasuk menjanjikan karna alasan pertamanya adalah banyak persamaan dengan Tunis ini satu hal. Mahasiswa tentu tahu bagaimana pandangan pemahaman islam di Tunis ini sejalan dengan pemahaman islam kita di Indonesia yaitu versi yang moderat. Yang artinya menghargai perbedaan pandangan, tidak memaksakan kehendak kelompok tertentu untuk menjadikan kelompok yang berbeda itu masuk ke dalam kelompok itu. Kita di Indonesia ada Muhammadiyah, ada NU, ada Wasliyah ini yang saya lihat ada kesamaan dengan Indonesia di samping dari itu kita menggalakkan -kalau perlu- lebih banyak lagi mahasiswa yang datang ke Tunis. Kita bersyukur punya Dubes yang aktif di sini. Kita lihat kemajuan, berapa banyak mahasiswa sebelum beliau sampai di sini. Sekarang berlipat ganda. Berapa banyak hubungan-hubungan ekonomi yang tadinya tidak digarap namun berkat beliau sekarang mulai cenderung untuk berkembang. Di sini ada Medco dan juga ada rencana untuk pengembangan Universitas dengan Universitas. Itu semuanya kan tidak terlepas dari usaha KBRI.

Karena KBRI yaa sebagai, tempat atau wakil pemerintah yang mengetahui kedua belah pihak sehingga dia bisa mencari titik temu dari keduanya untuk bisa dikembangkan hubungan kerja sama.

Mengemban amanah ini sejak zaman Pak SBY hingga Pak Jokowi, seberapa antusias kah negara-negara timur tengah untuk investasi ke Indonesia?

Yaa jadi kita harus selalu juga mengingat bahwa timur tengah itu, selama ini melihat Indonesia tidak begitu serius khususnya pada masa Pak Harto. Pada masa Pak Harto kita tahu persis bahwa banyak sekali penitik beratan kepada barat sehingga timur tengah tidak terlalu difikirkan. Begitu masuk masa Gus Dur mulai ada pemikiran di timur tengah, dilanjutkan dengan SBY.

Nah, ada peningkatan-peningkatan. Pak Jokowi ini sewaktu saya diminta untuk melanjutkan, pesannya begini: “Pemerintah kita tidak boleh hanya mengandalkan barat dan timur dalam pengertian China, Jepang. Dan tugas utusan khusus untuk timur tengah untuk melibatkan proyek-proyek yang ada di Indonesia ini juga timur tengah harus mengambil bagian”.

Muammar Kadafi sedang sedang mewawancarai Bapak Alwi Shihab
Muammar Kadafi sedang sedang mewawancarai Bapak Alwi Shihab

Nah, dari itu juga berkat dubes-dubes yang ada di timur tengah juga anjuran presiden sehingga keliatan mulai ada perkembangan. Satu contoh umpamanya dengan Saudi Arabia yang sepuluh tahun ini pembicaraan soal refinery itu tidak selesai-selesai. Hanya pada masa Pak Jokowi ini ada perjanjian yang sudah ditanda tangani dan proyek refinery sudah mulai akan dikerjakan oleh Saudi Arabia. Juga kita lihat dari Qatar ada komitmen 1 miliar dolar untuk proyek infrastruktur yang sekarang sedang dicarikan proyek nya. Qatar juga sudah membuka QNB (Qatar National Bank) di Indonesia. Dubai juga sudah membuka Dubai Islamic Bank kerja sama dengan pihak Indonesia. Iran juga sekarang sudah mulai di bidang power plan. Sudah mulai di Medan dan dia akan terus, baru-baru ini menyatakan bahwa ingin juga menggarap proyek refinery dengan negara-negara. Oman juga ada pemikiran ke arah oil dan gas demikian pula Kuwait.

Nah, itu semuanya harus diimbangi keinginan dari pihak timur tengah dengan kesediaan kita untuk mencari titik temu untuk kita implementasikan.

Jadi Pak Jokowi ini menginginkan timur tengah terlibat dalam proyek-proyek sehingga jangan dianggap bahwa timur tengah ini adalah sesuatu kekuatan finansial ekonomi yang tidak diperhatikan oleh Indonesia sebagaimana masa-masa yang lalu.

Baik pak, pertanyaan terakhir yaitu pesan kepada mahasiswa Indonesia yang berada di Luar Negeri pada umumnya, khususnya Tunisia serta negara-negara timur tengah dan Afrika, apa yang seharusnya wajib kami persiapkan ketika kembali ke Indonesia?

Itu penting sekali, di Indonesia ada usaha untuk membelokkan pemahaman islam ini ke arah yang tidak selama ini menjadi bagian dari pengertian atau pemahaman kita. Kan kita itu yang direpresentasikan oleh NU dan Muhammadiyah itu sebagai mayoritas ada usaha-usaha untuk apa namanya men-Introduce, memperkenalkan pemahaman pemahaman baru. Saya kira mahasiswa tahu. Nah mahasiswa yang dari timteng ini -apakah dia dari Mesir apakah dia dari Tunis. Kenapa saya tekankan Tunis dan Mesir? karena ini ada persamaan dalam pemahaman keislaman Mesir dan Tunis ini, dan Indonesia yaitu pemahaman keislaman yang moderat tidak memaksakan kehendak dan tidak mendiskreditkan golongan yang lain. Dan saya yakin di Tunis dan di Mesir, semua aliran, semua mazhab diajarkan dan tidak pernah mengkafirkan satu mazhab, tidak pernah mendiskreditkan mazhab lain sampai kepada mazhab syiah juga diajarkan. Artinya apa? itu yang cocok dengan negara kita yang plural. Kita terbuka dan sekarang tuh tidak bisa anda mengatakan anda harus ikut imam syafii anda tidak boleh mengikuti syiah dan sebagainya.

Kita sebagai suatu masyarakat yang terbuka apalagi demokratis. Kita berhak untuk memilih apa yang kita inginkan selama prinsip-prinsip dasar yang sudah kita sepakati tidak kita lewati atau kita tidak mengingkari. Nah jadi mahasiswa yang ada di LN (luar negeri) ini -apalagi dari Tunis- ini diharapkan menjadi pelopor pemahaman islam yang plural, pemahman islam yang moderat. Dan itu kita bersyukur bahwa ada peningkatan pengiriman mahasiswa ke mari. Dan ini harus berlanjut dan ditambah lagi pengiriman mahasiswa ke Tunis.

Jadi pemikiran yang berbeda kita tetap menghormati, jangan kita bilang islam anda itu sesat dan selama mereka itu meyakini prinsip dasar islam (Ushul al-Din): Syahadat, Sholat, Puasa, selama itu dipertahankan, Quran-nya satu, kiblat-nya satu, syahadat-nya sama, lalu pemahaman-pemahaman lain umpama syiah punya imamnya begini itu jangan menjadi sebab untuk kita menyesatkan mereka.

Yaa anda berbeda dari kami tapi kita bersatu di dalam haji kita sama. Nah pemahaman semacam ini dan orientasi semacam ini yang kita harapkan dari Timteng. Jangan justru saat dia pulang ke indonesia menyuburkan perbedaan tapi justru dia harus meredam perbedaan itu khususnya dari Tunis ini, karena di Tunis kan sama sebenarnya sama al azhar yaa. Dan ini yang harus menjadi pelopor dan waktu saya ke Iran pun saya bertemu dengan mahasiswa. Saya juga katakan bahwa kita tahu bahwa syiah itu ada yang ekstrem ada pula yang moderat. Yang ekstrem itu yang memaki sahabat. Itu tidak laku di Indonesia. Tidak ada orang yang mau menerima itu. Anda harus pilih pengajaran syiah yang moderat. Yang moderat itu apa? dia menghormati sahabat nabi apalagi sekarang kan mereka juga mengoreksi pandangan-pandangan yang mendiskreditkan sahabat. Hanya itu saja sebenarnya yang menjadi masalah syiah. Jangan dibesar-besarkan. Itu justru dari Tunis dari Mesir mengajak bekerja sama. Mahasiswa ini kan pemimpin masa depan. Kalau pemimpinnya sudah memprovokasi perbedaan, masyarakat kita itu kasian, nggak tau. Jadi kalau sudah ustadznya bilang begini dia akan ikut. Nah mahasiswa yang di LN ini harus bisa bersatu untuk melestarikan ajaran Islam, pemahaman islam yang sudah turun temurun.

Orang-orang di desa itu kan umpama dilarang mauludan dia bingung, loh kenapa? sudah ikuti apalagi hal itu kan tidak bertentangan dengan prinsip dasar. Orang yang tidak mau mauludan yaa silakan tapi jangan menyatakan dia sesat. Dia berbeda dengan kita tidak berarti kalau dia bukan islam kecuali kalau perbedaan itu fundamental, yaa itu kita bisa tahu.

Kan ada OKI, OKI juga kan sebagai kumpulan negara-negara muslim juga menyatakan -umpamanya- Ahmadiyah tidak diterima nah itu ada dasarnya tapi syiah diterima karna juga ada dasarnya. Jadi ini mahasiswa penting sekali karena kita-kita yang tua ini kan akan digantikan oleh para mahasiswa.

Foto bersama seusai wawancara. Dari kiri-kanan (Muamar Kadafi, Bapak Alwi Shihab, A. Jauhari Umar, Dubes LBBP RI Tunisia Bapak Rony P. Yuliantoro)
Foto bersama seusai wawancara. Dari kiri-kanan (Muamar Kadafi, Bapak Alwi Shihab, A. Jauhari Umar, Dubes LBBP RI Tunisia Bapak Rony P. Yuliantoro) di Ruang Nusantara, KBRI Tunisia. 

Para mahasiswa kalau dia membawa negara kita ini ke arah yang tidak menghormati perbedaan, kita dalam islam sendiri harus pandai-pandai, belum lagi kita menghadapi kelompok lain, sama kristen kenapa kita harus memusuhi kristen? kenapa kita jadi pengikut ISIS yang membunuh orang yang tidak sejalan dengan dia?. Itu bukan islam yang benar. Nah ini yang harus kita kembangkan. Mahasiswa ini harus jeli. Jangan dia hanya cari panggung untuk maki sana, maki sini tetapi mengorbankan kebersamaan kita sebagai bangsa.

Jadi saya datang ini supaya ingat bahwa presiden ini kan memperhatikan timur tengah. Ada konferensi penting di sini. Presiden menghendaki ada pejabat tinggi setingkat mentri yang hadir untuk menunjukkan bahwa presiden itu sama Timteng selalu menginginkan ada kerja sama, jadi saya dating. Saya bisa ketemu Menlu besok ketemu mentri perdagangan. Menghadiri konferensi ini dalam rangka -pesan awal pak Jokowi- agar Timteng selalu dilibatkan dan apa yang bisa ditingkatkan kita tingkatkan. Nah itu tugas negara.(Dafi/AJU)

 

Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Wawancara Ekslusif: Berjihad Karena Ingin Menghadiahi Ibu Surga

PPIDUNIA.ORG, Tunisia – Radikalisme dan terorisme menjadi sorotan utama para pemerhati perdamaian di dunia. Berbagai seminar dan kampanye perdamaian rutin digalakkan, salah satunya di Tunisia pada Senin (14-15/11). Seminar itu diadakan oleh Family Against Terrorism and Extremism di Gammarth, Tunis.

Institusi tersebut adalah bentuk aksi solidaritas para orang tua yang anak-anaknya menjadi korban perekrutan ISIS atau gerakan radikalisme agama yang laiinya. Mereka berpusat di London. Seminar kali ini adalah yang kedua kalinya. Sebelumnya seminar dengan tajuk yang sama pernah diadakkan di Prancis pada tahun 2015.

Anggotanya terdiri dari beberapa negara. Baik dari Eropa, Amerika, Afrika dan juga Asia. Nah dari Asia Tenggara yang mewakilinya adalah Indonesia dan Malaysia. Dari Indonesia Yayasan Prasasti Perdamaian yang hadir dalam kesempatan itu. Lalu ada juga dari UIN Sunan Ampel, Surabaya.

PPI Tunisia berhasil mewawancarai tim Prasasti Perdamaian yang diwakili oleh Alijah Dete, Dewirini Anggraeni Subijanto, Naila Fitria. Melalui Ibu Dete kami mencoba menimba pengalaman-pengalaman beliau dalam gerakannya menanggulangi aksi terorisme dan ekstrimisme.

Seperti yang saya ketahui berdasarkan keterangan yang ibu sampaikan kemarin saat pembukaan film ‘Jihad Selfie’ di Wisma Dubes kemarin bahwa tujuan kedatangan ibu bersama tim di sini adalah untuk mensosialisasikan film ‘Jihad Selfie’. Apakah ada agenda lain selain sosialisasi film tersebut?

Jadi kebalik mas sebenernya. Sayang di Tunisia menghadiri International Second Summit. Itu tentang Family Against Terrorism and Extremism. Nah, kebetulan kami di sini dan kami juga ingin mempromosikan film ‘Jihad Selfie’. Jadi kenapa? Karena kita berpikir bahwa film ini sebagai media kampanye kita untuk preventif , mencegah supaya anak-anak muda kita tidak terprovokasi dan terekrut oleh ISIS. Ya kan? Nah terutama di wilayah-wilayah midle east karena Tunisia masuk wilayah midle east kan? Karena kita khawatir banyak mahasiswa kita di wilayah midle east yang sebenarnya sudah direkrut. Pertama, di Kairo kan? Jadi gimana caranya film jihad selfie ini menjadi media kita untuk mencoba membentengi anak-anak muda kita supaya tidak mudah diprovokasi. Nah, jadi itu sebenarnya kita gunakan momen diklat saya kesini.

Nah, tadi Ibu mengatakan dari organisasi Yayasan Prasasti Perdamaian. Bisa dijelaskan secara singkat itu organisasi apa?

Yayasan Prasasti Perdamaian ini adalah yayasan non-profit organization (NGO) yang fokus berkecimpung dalam membangun perdamaian. Tapi isisnya lebih spesifik karena perdamaian kan luas ya. Nah jadi kita spesifik untuk isu terorisme dan ekstrimisme. Jadi kita fokus bekerja dalam bidang itu dengan lebih fokus pada rehabilitasi dan reintegrasi. Jadi kita berusaha memberikan kesempatan kedua untuk orang-orang yang pernah dikategorikan atau mendapat label teroris. Jadi kita memberi ruang pada mereka supaya mereka bisa kembali lagi ke masyarakat dan kemudian supaya mereka tidak kembali melakukan aksi-aksi lagi. Karena kalau tidak dirangkul, mereka kan biasanya -ternyata setelah saya pelajari, orang yang baru lepas dari penjara itu dia mengalami masa transisi dan itu masa rawan. Mentalnya masih labil. Nah rawannya  itu biasanya dia bisa ditarik ke dalam kelompok mana saja, kelompok apa saja.  Nah itu bisa membuat orang tersebut saat bingung sedangkan dia tidak punya pekerjaan, tidak punya teman. Dan pastinya dia tidak mau berteman dengan siapa saja karena dilabeli sebagai teroris, nah itu potensi dia untuk direkrut ke dalam kelompok-kelompok tersebut cukup tinggi. Nah jadi kita mencoba menyiapkan lingkungan dimana orang ini merasa nyaman dan tidak ingin kembali.

Adakah beberapa sampel dari hasil yang ibu tangani?

Jadi kita sebenarnya sudah mendampingi 35 orang mantan teroris dari sejak kita berdiri tahun 2008 ya. Mendampingi dalam arti membantu mereka dalam modal usaha. Kalau di luar modal usaha si banyak yang kita temui. Ketika dia keluar dari penjara, dia kan gak punya pekerjaan. Salah satu opsi yang bisa mereka lakukan adalah bikin usaha sendiri. Nah untuk membuat usaha sendiri kan butuh biaya. Nah itu, mereka datang ke kita meminta dukungan dana ada yang dikasih grant. Dulu awalnya kita kasih grand, bukan pinjaman. Tapi ternyata gitu ya, tanggung jawabnya ya. Dikasih lupa, hehe.  Dia bilang mau bikin bisnis. Duitnya mana, tapi bisnisnya gak jalan. Nah gitu, ahirnya kita ganti strategi. Kita gak mau lagi ngasih gratis tapi kita kasih dia dalam bentuk pinjaman. Jadi kita ikat dia supaya bertanggung jawab.

Berarti nanti ada semacam timbal baliknya ya?

Jadi kita selalu bilang, uangnya pp ini gak banyak karena memang itu kan gaji kita yang dipotong. Jadi sumber dananya dari gaji. Karena mereka tidak mau menerima uang dari negara dan karena mereka gak mau menerima uang dari donor. Jadi dia mau uang kita sendiri. Nah uang kita sendiri dari mana? Ya sudah akhirnya kita sepakat potong gaji.

Alasannya kenapa Bu, mereka gak mau menerima?

Karena mereka tidak mau dikooptasi negara. Dan donor itu kan dianggap kafir.

Oh, berarti pemikiran mereka masih menganggap pemerintah itu bughot masih ada ya?

Oh banyak.

img_1170-3

Nah itu gimana bu, supaya mereka berubah?

Nah kita coba pelan-pelan. Jadi pendampingan kita itu bukan sekedar pendampingan ekonomi ya, karena bukan itu tujuan kita. Pendampingan ekonomi itu hanya sarana, tapi yang terpenting adalah bagaimana kita merubah cara berpikirnya. Nah itu kita pelan-pelan. Gak bisa itu cepet. Untuk ideolog-ideolog dalam dunia terorisme ini kan ada tiga level. Ada pengikut, ada simpatisan, ada timtek ya: ideolognya. Nah merubah ideolog itu panjang prosesnya. Kalau merubah dua level di bawah ini agak lumayan. Nah itu kita mencoba merubah dia. Kita kasih wacana-wacana baru, kita kasih lingkungan baru, kita kasih temen-temen baru. Pelan-pelan kita coba tarik mereka.

Dan itu bisa dikatakan berhasil atau bagaimana?

Ada yang berhasil dan ada yang tidak. Itu, dari 35 orang yang kita dampingi, lima orang ternyata kembali ke kelompok garis keras lagi. Tapi yang 30 lainnya masih bertahan.

Kira-kira faktor apa yang menyebabkan mereka kembali lagi, padahal sudah diadakan berbagai usaha seperti pendampingan dll?

Sebenarnya ada banyak faktor. Jadi gini, kelompok ini kan merasa bahwa mereka masih punya banyak tanggung jawab terhadap islam: membela islam dan mengislamkan Indonesia. Jadi mereka merasa masih punya tanggung jawab itu dan juga mimpi untuk mewujudkan itu. Nah mereka juga merasa bahwa mereka adalah bagian dari dunia. Dalam artian apa yang terjadi di dunia islam sana mereka harus membantu, mereka merasa terpanggil. Jadi dari yang lima ini kembali lagi. Baik di tingkat lokal maupun tingkat internasional. Jadi misalnya ada kegiatan-kegiatan terorisme -aksi-aksi yang menggunakan kekerasan- mereka ikut lagi karena mereka merasa terpanggil bahwa ini tanggung jawab dia untuk membela islam. Nah kalu yang di luar adalah tanggung jawab dia sebagai sesama muslim terhadap saudaranya.

Gerakan terorisme di Indonesia begitu masif ya Bu. Apakah tidak ada tindakan dari pemerintah atau aparat sampai ada pesantren besar di Lamongan: Al Islam itu. Mereka mempelajari granat dan berbagai senjata api?

Pemerintah kecolongan ini. Tapi setelah kasus Amrozi cs dihukum mati kayaknya pesantren ini jera ya. Jadi Al Islam sekarang sudah tidak ngajarin lagi tetapi masih ada pesantren-pesantren lain yang mengajarkan. Nah pemerintah kitu itu kan tidak bisa melarang karena ada kebebasan yang merupakan ciri dari demokrasi. Terkadang demokrasi juga salah jalan, hehe. Senjata makan tuan. Nah pemerintah kita merasa, satu: kalau mereka belum terbukti melanggar hukum baik itu hukum pidana, kan gak bisa ditangkep. Meskipun ada tanda-tanda yang mengarah kesitu. Pemerintah menunggu mereka beraksi dulu, karena kalu ditangkep pemerintah dianggap melanggar HAM. Saya juga pernah nanya, “ Pak, FPI itu kan sudah jelas-jelas. Kenapa tidak ditangkep, kenapa tidak dibubarin?”. “Lha terus gimana Bu, belum ada bukti kuat?”. Nah jadi gitu, ada sisi positif tetapi juga ada sisi negatif juga ya. Jadi mereka ahirnya menyalah gunakan kebebasan itu kan.

Kemarin Ibu kan menghadiri seminar terorisme itu ya. Kira-kira bisa dishare kah?

Nah jadi seminar ini digagas oleh Family Against Terrorism and Extremism. Jadi ada sebuah kelompok di London. Nah mereka ini suatu kelompok yang concern  terhadap keluarga yang anak-anaknya ini direkrut oleh ISIS, Jabal Nushro. Pokoknya organisasi-organisasi yang melakukan kekerasan atas nama agama. Nah mereka ini para orang tua yang sudah kehilangan anak-anaknya. Ada yang meninggal dan ada juga yang gak meninggal. Mereka mencoba membangun solidaritas. Ayo kita bergabung bersama-sama dan kita suarakan untuk against terrorism and ekstremism. Sekitar 100-an orang hadir tapi itu belum mencakup seluruh dunia. Karena dari Asia Tenggara saja yang hadir cuman Indonesia dan Malaysia. Jadi ini respresentatif saja. Dari Amerika Utara ada, dari Eropa ada, dari Afrika ada, dari Asia ada. Ini perwakilan sekitar 100 orang. Dan mereka mengajak kita untuk bergabung untuk menyuarakan hal yang sama. Agendanya kemarin itu kita mendengarkan curhatan dan kesedihan para ibu-ibu yang kehilangan anak-anaknya karena korban perekrutan. Ada juga agenda berupa bertukar informasi tentang dialektika: Apa sih yang menyebabkan orang ini terekrut? Harusnya kan kayak gini. Ini kan perdebatan konteks agama, konteks politik. Maka ini harus dishare lah dari beberapa narasumber. Terus juga yang terahir mereka sharing hasil riset mereka . JAdi mereka melakukan riset terhadap perempuan; peran orang tua. Mereka melihat: Kira-kira keluarga punya peran gak sih dalam Konkret Ekstremism and Terrorism?

Ternyata mereka mengadakan riset dan riset mereka menunjukkan bahwa orang tua punya peran yang besar dalam memerangi terrorism and ekstremism yang mana dalam riset saya, saya menumakn hal yang terbalik. Ndak..ndak. Saya menemukan itu juga, tapi ada factor lain juga, ada peran lainnya juga yang dimainkan oleh orang tua. Jadi saya share kemarin bahwa tidak semua orang tua punya rule positif. Karena di Indonesia saya temukan ada rule negative. Rule negatifnya justru orang tua yang menjadikan anaknya supaya menjadi jihadis. Seperti yang saya ceritakan dalam film ‘Jihad Selfie’ itu. Ada Anshori dan Syafi’i. Dia pingin kan anak-anaknya menjadi jihadis? Nah itu yang sempat kita capture kan. Yang tidak dimuat dalam film kami juga ada.

Lalu apa reaksi dari teman-teman saat ibu memaparkan hasil riset tersebut?

Oh iya, benar juga ya. Nah untuk orang tua yang memerankan peran seperti ini kita musti gimana? Kalau dengan orang tua yang punya peran positif, oke. Kan harus mendampingi, merangkul. Nah itu bener. TApi kalua orang tua yang perannya justru negative, kan kita musti gimana menghadpinya? Kan itu jutru susah kan? Kita malah dianggap berlawanan kan dengan tujuan dia. Nah ini saya sendiri sedang berpikir; Gimana caranya menghadapi orang tua-orang tua yang kayak gitu? Strategi apa yang harus kita pakai?

Saat ini Ibu dkk sudah punya gamabaran kah?

Nah ini kita sedang diskusi; gimana caranya ya? Nah samapai saat ini kami baru terpikirkan bahwa salah satu caranya adalah kita melakukan semacam life in gitu. Karena merubah itu gak gampang kan. Harus tinggal bersama. Jadi saya mulai berpikir; strateginya apa pakai ekonomi ya? Saya lagi berpikir begitu. Nanti kita bikin usaha. Cuman itu usahanya, lagi-lagi sebagai pintu masuk. Tapi target kita; bagaimana merubah pikiran para ibu ini? Ini masih cara klasik. Karena saya belum nemu cara yang lain, hehe.

Saya tertarik dengan obrolan ibu kemarin. Ternyata motif orang-orang yang bergabung dalam kelompok radikal itu berbeda-beda. Bisa diceritakan lebih detailnya, Bu?

Motivasi orang-orang yang berangkat jihad itu bermacam-macam. Motivasi membela islam itu sudah pasti. Tapi ternyata ada motivasi ekonomi. Saya ajak diskusi salah satunya. Dia bilang begini : ‘’Mba kan enak. Wong kita dibayar. Coba kalau kita gak gabung ISIS, siapa yang mau kasih makan? Kita dijamin kok. Anak-anak saya dijamin pendidikannya, istri saya pun terjamin kehidupannya (mendapat rumah)”. Terus saya bilang: “Itu berarti  Karena motif duit juga ya? “.

“Iya lah. Kita gak munafik juga”.

Terus ada yang menarik juga ini. Anak-anak muda ini ada faktor ingin membahagiakan orang tuanya (membeli surga). Jadi ada kasus diamana anak-anak yang rela melakukan jihad itu hanya untuk memberikan surga kepada ibunya. Itu yang membuat saya jadi ‘trenyuh’ ya. Itu kayak kasus Wildan dan Solih yang kayak di film. Sama satu lagi kasus. Itu belum ada di film kita. Saya lupa namanya. Dia orang Solo. Motifnya dia ingin memberikan surga kepada Ibunya. Jadi suasana di rumahnya dia itu ‘panas’. Dia sering melihat ayah-ibunya bertengkar. Dan dia melihat ibunya itu sering tertekan karena bapaknya yang lebih dominan. Jadi dia ingin memberikan hadiah yang nilainya tidak bisa didapatkan dengan materi. Nah surga kan mahal. Hadiah surga siapa yang bisa ngasih? Nah dia ingin memberikan hadiah surga kepada ibunya dengan cara jihad itu. Maka jihad lah dia. Ahirnya ia menjadi korban perekrutan.  Kalau yang satu itu awalnya ia berangkat studi ke luar negeri kemudian ia bergabung dengan organisasi kemanusiaan. Namun kemudian di tengah jalan ia bergabung dengan kelompok ISIS. Sebelum dia berjihad -dia kayaknya sudah mempunyai firasat bakal meninggal- dia menelpon ibunya. Dia bilang: “ Tolong ikhlaskan saya karena ini adalah satu-satunya yang bisa saya lakukan untuk membahagiakan ibu. Saya ingin memberi surga.” Sempat dia menelpon ibunya dan memberikan itu. Makanya kalau kita ketemu ibunya. Ibunya kan cerita sama saya, sampai dia bilang: “ Saya ini gak pantes mendapat surga sebenernya karena saya itu masih kotor.” Saya nanya: “Ibu bangga ndak anaknya jadi jihadis dan bisa ngasih surga?”. Dia jawab: “Saya itu masih ingat ya dia lari-lari sana, tidur sama saya, main-main.” Nah jadi ibu itu tu melihatnya bukan dia sebagai jihadis tapi masa kecil anak ini. Dan itu yang membuat kita sedih juga.

Terus kalau yang Wildan Mukholad itu kan dia juga dari keluarga broken home . Nah dia pingin begitu. Dia ingin membahagiakan ibunya.

Korban perekrutan Di Indonesia itu kan cukup banyak ya Bu. Sekitar 500-an. Apakah ada motif lain atau agenda khusus yang menyebabkan mereka sangat semangta merekrut anak-anak Indonesia?

Saya melihatnya begini. Merekrut orang dengan gratis kan susah. Dan orang-orang yang dipilih ini sebenarnya juga yang dilihat skillfull ya. Bukan orang-orang yang kosong. Mereka orang-orang yang mempunyai kemampuan. Kayak teman saya itu, dia ditawari berkali-kali. Karena teman saya ini sudah pernah latihan militer saat dia sekolah di Pesantren Al Islam.  Nah dia itu kayak snipper juga. Dia itu dicoba ditarik berkali-kali tapi dia menolak terus. Nah kalau saya si melihat begini, mereka itu butuh personel/tentara yang gak perlu dilatih lagi, tetapi siap mati.

Terahir Bu. Apa pesan ibu untuk kami mahasiswa yang di midle east agar tidak menjadi korban perekrutan gerakan-gerakan radikal semacam ISIS itu?

Pertama gini. Belajar yang baik. Dalam artian jangan menelan mentah-mentah informasi-informasi yang berkaitan dengan konflik di Timur-Tengah. Kalian kan di Timur-Tengah ini. Tapi pahami motif konflik-konflik itu apa si sebenernya? Seperti contohnya, kasus Syiria. Dikabarkan tentang perang Sunni-Syiah tapi ternyata bukan seperti itu. Motifnya ekonomi dan politik. Perebutan jalur minyak.

Saya ketemu orang Palestina waktu saya kuliah di Korea datang dua orang Palestina ke kampus saya. Ternyata motifnya bukan perang Yahudi vs HAMAS, tetapi lebih ke morif ekonomi. Jalur juga. Kepentingan-kepentingan Yahudi, kayak gitu. Jadi itu motifnya ekonomi banget, motifnya politik banget. Jadi bukan motif orang-orang Islam yang dibunuh sama orang-orang non-muslim ya. Nah itu tolong dipahami.

Seperti saat saya ke Afghanistan juga. Saat saya di Afghanistan, saya mempelajari. Ternyata motif perang di Afghanistan itu bukan seperti motif perang yang dipahami oleh teman-teman Mujahidin kita di Indonesia. Ternyata motif perangnya lain. Oh iya, benar juga ya. Dan bahkan orang Afghanistannya bilang begini: “ Kami sudah capek perang terus. Negara kami gak pernah damai”. Nah keberadaan kita justru semakin memperpanjang perang ini. Nah itu kan kasian juga mereka. Jadi jangan cuman memandang dari ‘kacamata’ kita tapi kita harus memandang dari ‘kacamata’ orang lain, terutama masyarakat setempat. Jadi sebagai mahasiswa kalian harus berpiki kritis. Jangan hanya melihat suatu perkara dengan ‘kacamata kuda’ namun harus bisa melihatnya dari berbagai sisi. Pelajari lah konflik itu. Ketika anda direkrut kepentinga dia merekrut apa si sebenarnya?. Kita harus kritis. Jangan menelan mentah-mentah karena kalau kita menelan mentah-mentah kita akan menjadi korban. Nah, jadi sebagai mahasiswa kritislah dalam berpikir.

Terima kasih banyak Bu. Semoga bisa bermanfaat dan semoga kita bisa bertemu lagi dalam kesempatan yang lain.[AJU]

Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Penayangan Film “Jihad Selfie” di Tunisia – Gerakan ISIS di Indonesia

PPIDUNIA.ORG, Tunisia – PPI Tunisia menghadiri undangan dari KBRI Tunisia pada Minggu (13/11), dalam acara nonton bersama film “Jihad Selfie” di Wisma Nusantara, Les Berges du Lac. Acara tersebut dihadiri langsung oleh Produser, Dede Aliah bersama timnya.

Acara diawali dengan sambutan Duta Besar LBBP RI Tunisia, Roni Prasetyo Yuliantoro. Dalam sambutannya, Duta Besar  sangat mengapresiasi film ini, karena menurutnya film adalah media terbaik dalam menyampaikan pesan.

whatsapp-image-2016-11-14-at-04-38-28

Di acara ini juga Produser, Dede Aliah berterimakasih atas sambutan hangat masyarakat Indonesia di Tunisia. “Pembuatan film dokumenter ini, berawal dari kekhawatiran terhadap generasi terbaik bangsa yang banyak terpengaruh oleh gerakan radikal, khususnya ISIS. Media punya pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan kepribadian dan psikoligi seseorang. Seperti salah satu tokoh film tersebut, Akbar”, terang Dede dalam kalimat pembukanya di Wisma Dubes. Dikabarkan bahwa ada 500 WNI yang terdekteksi dalam gerakan radikal ini. Para alumni gerakan ini, menurut Ibu Dede berpotensi ketika pulang dari Syiria akan memanfaatkan momen demokrasi demi tujuan merusak keutuhan NKRI.

Lanjutnya, propaganda yang masif dan cepat ini harus dibalas dengan reaksi yang lebih terorganisir dalam penanaman pengetahuan dan pencegahan agar tidak terjadi lost generation.

Film dokumenter ini menampilkan beberapa narasumber yang berkaitan dengan ISIS. Seperti Akbar, siswa Sekolah Khatib dan Imam Mustafa Girmil di kota Kayseri, Turki. Ia terpengaruh oleh rekannya untuk masuk gerakan ini melalui media sosial. Wildan, mahasiswa cerdas asal Jogjakarta yang melancarkan aksi bom bunuh diri di Irak, hingga Yusuf mantan narapidana terorisme yang menceritakan kisahnya kembali ke kehidupan normal dan mendirikan sebuah rumah makan.

Film ini diprakarsi oleh Yayasan Prasasti Perdamaian yang didirikan oleh Noor Huda Ismail melalui sayap organisasinya Prasasti Production. Film ini telah ditayangkan dibeberapa KBRI seperti Korea Selatan, Singapura, Malaysia, Australia, Filipina dan Belanda. Kabarnya film ini juga akan ditayangkan di Kairo, Mesir. [Elmuna/AJU]

Page 1 of 2
1 2