logo ppid

Berita baik datang dari wakil Indonesia di ajang Festival Film Pendek tingkat Pelajar Internasional yang pertama di Nabeul, Tunisia. Hadzari, sebuah film pendek berdurasi 2 menit 44 detik adalah sebuah karya pemikiran audiovisual dari sineas muda, Irhamni Rofiun, yang merupakan pelajar Indonesia yang sedang menyelesaikan studi pascasarjana di Universitas Ezzitouna. Film Hadzari, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Waspada’ berhasil menjadi yang terbaik dalam ajang tersebut, dan satu-satunya film yang diputar ketika malam penganugerahan, Minggu malam (9/7).

Film berbahasa Arab ini tidak hanya melibatkan mahasiswa Indonesia sebagai aktor utama, melainkan mengajak crew dan pemain asing dalam proses penggarapannya. Selain itu, Indonesia juga berhasil memborong banyak penghargaan, di antaranya Best Soundtrack dalam film Silat, Taufik Imron sebagai aktor favorit dalam film Hadzari, dan film Silat sebagai film favorit pilihan hadirin panitia dan peserta.

Penghargaan Film Pendek di Tunisia

Menurut pengakuan Irhamni Rofiun, yang juga menjadi sutradara dalam film Silat tersebut, ketika dirinya tiga kali maju untuk mengambil penghargaan di panggung utama, pemanggilan ketiga pemberian penghargaan sebagai sutradara dalam film Silat, ia sempat tidak percaya dan terharu sekaligus bangga karena nama Indonesia kembali harum. Sebab, menurut penuturannya, film Silat tersebut banyak melibatkan banyak orang dan pendukung, di antaranya tim dan pemain yang tergabung dalam organisasi induk PPI Tunisia, anak-anak dari staf KBRI dan Medco Energi, serta yang paling mendukung penuh adalah KBRI Tunis sebagai sponsor tunggal.

Kompetisi film pendek ini diikuti oleh 600 karya dari 125 negara dari 3 jenis kategori: Fiksi, dokumenter dan animasi. Kebanyakan mereka adalah para pelajar atau mahasiswa yang bergelut dalam dunia sinematografi dan perfilman, bahkan ada yang sudah biasa mengikuti festival film pendek di Cannes, Prancis, Toronto, USA, dll. Hanya 27 karya film pendek dari 20 negara di antaranya: Indonesia, Palestina, Turki, Syria, Aljazair, Jordania, Lebanon, Irak, Mesir, Iran, Malaysia, USA, Prancis, Italia, Spanyol, Jerman, Cina, Thailand, Norwegia dan tuan rumah Tunisia. Dan yang diundang khusus oleh panitia penyelenggara hanya 20 sineas muda dari 20 negara tersebut, mereka ditanggung sepenuhnya mulai dari akomodasi, transportasi, penginapan, makan, dll. Untuk mengikuti acara puncak di Nabeul, Tunisia sejak tanggal 6-9 Juli 2017. Kegiatan tersebut meliputi workshop film; writing scripts, shooting & directing, editing & mixing. Dan itu semua dimentori oleh para seniman dan para pakar dalam dunia sinematografi dan perfilman, serta acara hiburan lainnya.

Pengumuman Pemenang Festival Film Pendek se-Tunisia

Berikut daftar peraih penghargaan terbaik Festival Film Pendek Pelajar Internasional 2017 di Nabeul.

- The prize of the best image: Film Fino, disutradarai oleh: Estephan Khattar, Lebanon.
- The prize of the best soundtrack: Film Silat, disutradarai oleh: Irhamni Rofiun, Indonesia.
- The prize of the best editing: Film Day 79, disutradarai oleh: Wissem Al Jaafari, Palestina.
- The prize of Best Scenario: The End of The Good Days, disutradarai oleh: Bask Mehmet, Turki.
- The prize of Best Male Performance: Memood, Jerman.
- The prize of Best Female Performance: Raya Busslah, Film Red on White, Tunisia.
The prize for the best short film: Film Hadzari (Waspada), disutradarai oleh: Irhamni Rofiun, Indonesia.

Daftar di atas adalah pemenang pilihan dewan juri, adapun pilihan pemirsa (penonton: panitia, peserta) adalah:

- Film Pendek Favorit: Film Silat, disutradarai oleh Irhamni Rofiun, Indonesia.
- Aktor Favorit: Taufik Imron, Film Hadzari (Waspada), disutradarai oleh Irhamni Rofiun, Indonesia.

(Red: PPI Tunisia/ Ed: Amir)

Wisuda merupakan hal yang lumrah dirayakan di Indonesia bagi seluruh mahasiswa S1 yang telah menyelesaikan skripsinya, mahasiswa S2 yang telah menyelesaikan tesisnya, dan mahasiswa S3 yang telah menyelesaikan disertasinya. Namun, di International Islamic University Islamabad (IIUI), acara wisuda hanya diadakan setiap lima tahun sekali. Hal ini tentu saja sangat disayangkan bagi mahasiswa asing yang berkuliah di IIUI dan tidak bisa menghadiri pagelaran wisuda. Tidak ada penyerahan plakat, medali, atau foto bersama para pembesar universitas yang menjadi salah satu bukti jerih payah usaha menuntut ilmu selama di universitas. Hanya selembar ijasah lah yang bisa membuktikan jika kita benar-benar telah menyelesaikan study kita.

Kelulusan Mahasiswa IIUI, Pakistan

Maka dari itu, banyak asosiasi pelajar asing yang mengadakan acara wisuda sendiri dengan menghadirkan beberapa pembesar kampus, guru-guru, serta mengundang beberapa mahasiswaa lainnya. Seperti halnya asosiasi pelajar Cina dan Thailand yang mengadakan acara wisuda bagi pelajar mereka yang telah menyelesaikan studynya di IIUI sebelum ujian akhir menjelang. Karena tahun ini banyak mahasiswa Indonesia yang juga telah menyelesaikan studynya di jenjang S1 maupun S2, para para calon wisudawan berinisiatif untung menggelar acara wisuda. Ini merupakan hal yang baru dan belum pernah dilakukan sepanjang sejarah mahasiswa Indonesia di Pakistan.

Sebagai seorang pioneer tentu banyak hal yang harus dipersiapkan. Dana, tempat, regulasi acara, dekorasi, undangan, dan berbagai macam hal lainnya termasuk medali dan plakat serta perlengkapan busana para wisudawan. Perkumpulan dilakukan berkali-kali di sela-sela padatnya acara mahasiswa Indonesia. Dari konsep acara yang sebelumnya kurang matang, pengajuan proposal ke KBRI, hingga akhirnya perkumpulan final panitia acara wisuda.

Penyerahan plakat kelulusan

 

Kemarin, hari Jum’at tanggal 7 Juli 2017 seluruh panitia dan para calon wisudawan berkumpul untuk terakhir kalinya untuk acara gladi bersih serta merapikan seluruh atribut dekorasi. Sejak pukul dua siang seluruh panitia dan calon wisudawan berkumpul bahu membahu melengkapi seluruh keperluan yang ada. Tanpa terasa matahari telah tenggelam dan malam menjemput. Seluruh panitia dan calon wisudawan mengakhiri seluruh pekerjaan dengan harapan di dalam hati acara esok akan sukses besar.

Lalu bagaimanakah acara wisuda hari ini? Acara yang baru pertama kali diadakan mahasiswa Indonesia di Islamabad bisa dibilang sukses besar. Alhamdulillah. Acara diawali dengan tabuhan marawis dari teman-teman PCI-NU Pakistan. Setelah itu para wisudawan masuk dengan sangat apik diringi dengan instrumen yang diperdengarkan di seluruh aula. Pembawaan MC yang sangat profesional menambah nilai plus acara. Saat wisudawan dipanggil satu per satu ke atas panggung, menerima medali, sertifikat, serta plakat, seluruh hadirin tenggelam dalam rasa haru. Mewanti-wanti diri mereka bahwa kelak merekalah yang akan berada di atas panggung. Tersenyum dengan bangga atas jerih payah selama ini.

Acara besar ini dihadiri oleh wakil president kampus IIUI, Prof. Dr. Bashir Khan dan jajaran KBRI seperti bagian sosial budaya, Bapak Budiarto Kurniawan beserta istri; Istri Duta Besar dan ketua DWP, Ibu Rita Amrie; Atase pertahanan, Bapak Kolonel Putut Witjaksono Hadi beserta istri; asisten Atase Pertahanan Bapak Mayor Deden Ganjar Maulana beserta istri; bagian Politik, bapak Acik Munasik istri; serta beberapa diplomat lainnya. Acara ini juga dihadiri oleh mahasiswa Indonesia serta beberapa mahasiswa baik mahasiswa asing maupun lokal yang turut memeriahkan jalannya acara.

Suksesnya acara juga dilengkapi dengan dekorasi yang terbilang luar biasa. Paper floral yang sedang hit sebagai dekorasi di Indonesia maupun di negara barat lainnya berhasil diaplikasin oleh tim dekorasi. Tidak hanya itu, tim dekorasi juga menyediakan photobooth yang apik dari coretan-coretan kapur di atas papan dan tentunya tidak lupa dilengkapi dengan clip art lucu yang sesuai dengan tema wisuda. Dan yang terakhir tentu saja banner resmi yang telah disediakan oleh tim desaign untuk sesi foto resmi.

Prosesi wisuda mahasiswa Indonesia di IIUI

Memang kami berada sangat jauh dari kampung halaman kami. Kami tidak pernah mengharapkan kehadiran orang tua kami di acara berhaga yang mungkin menjadi yang terakhir bagi kami di negeri Ali Jinnah ini. Namun kami sangat bersyukur kami memiliki sahabat-sahabat yang siap siaga bahu membahu membantu mewujudkan keinginan kami. Sahabat yang melengkapi dalam suka duka dan menemani kami melangkah di jalan yang tidak bisa dibilang mulus ini. Tidak lengkap rasanya acara wisuda tanpa kehadiran mereka yang tersayang, namun kami cukup puas dengan kehadiran kalian yang selalu ada di sini.

Ini adalah acara yang pertama kali, dan semoga kelak bisa menjadi panutan untuk dikemudian hari meski tidak bisa dipungkiri ada cacat di sana-sini. Hari ini, Sabtu 8 Juli 2017, kamilah yang berdiri di sini dengan senyum merekah menyonsong masa depan. Percayalah, berapa tahun pun yang akan kalian habiskan, kelak kalian yang akan berdiri di sini, merasakan betapa hebatnya hari ini.

Terima kasih atas segalanya, teman-teman kami, negara Pakistan, serta IIUI tempat kami menuntut ilmu. Do’akan kami semoga ilmu yang kami dapat bisa bermanfaat bagi nusa, bangsa, dan agama yang kelak dapat menciptakan bibit-bibit unggul penerus bangsa. (Red: DPP Pakistan/ Ed: Amir)

Sebuah teknologi yang bernama nuklir, sering dikenal orang sangat menakutkan karena mempunyai sejarah yang cukup kelam dalam perang dunia. Namun, sekarang ini teknologi nuklir tumbuh dewasa dengan menebarkan manfaat untuk kemaslahatan umat. Hal ini dibuktikan dengan beberapa temuan dan penelitian dalam berbagai bidang. Tidak hanya dalam bidang energi, teknologi nuklir juga dimanfaatkan dalam bidang non energi yang salah satunya ialah bidang pertanian. Salah satu pemanfaatan nuklir dalam bidang pertanian ialah digunakannya teknologi nuklir untuk membuat biofertilizer yang merupakan hasil kolaborasi dari Food Agriculture Organization (FAO) dengan International Atomic Energy Agency (IAEA). Kolaborasi ini menghasilkan teknologi nuklir untuk bidang pertanian, salah satunya ialah nuclear biofertilizer atau pupuk hayati dari hasil teknologi nuklir.

Kegunaan teknologi nuklir dalam pupuk hayati lebih mengarah pada cara mensterilisasi mikroba dalam bahan pembawa. Bahan pembawa sangat penting dalam memproduksi pupuk hayati karena mengandung mikroba bawaan dalam jumlah yang sangat banyak hingga 106 sel/gram bahan pembawa bahkan lebih (Enjelia, 2011). Sterilisasi dilakukan untuk mengurangi atau membunuh jumlah mikroba bawaan (indigenus). Karena itu lah sterilisasi mutlak harus dilakukan agar dapat menyortir bahan pembawa yang diinginkan. Mensterilisasi dengan iradiasi gamma dirasa lebih baik, lebih irit dan praktis dari pada dengan menggunakan autoklaf yang selama ini digunakan. Dengan menggunakan iradiasi gamma, prosesnya membuat hampir tidak ada perubahan sifat fisik dan kimia pada materialnya. Sedangkan sterilisasi menggunakan autoklaf, beberapa material dapat mengubah sifatnya sehingga berefek samping akan dapat menghasilkan zat beracun bagi strain bakteri (FNCA, 2005).

Penelitian tentang nuclear biofertilizer secara konsisten diteliti oleh banyak negara yang tergabung dalam Forum for Nuclear Cooperation Asia atau FNCA, yaitu Jepang, Australia, Bangladesh, China, Indonesia, Kazakhstan, Korea, Malaysia, Mongolia, Filipina, Thailand dan Vietnam. Pada tahun 2014, FNCA menginformasikan fakta-fakta positif atas penggunaan nuclear biofertilizer. Di China, pupuk hayati dari hasil teknologi nuklir berpengaruh pada peningkatan hasil panen. Pupuk hayati berpengaruh meningkatkan bobot segar dan bobot kering jagung hingga 91,8% dan 211,8% dibandingkan dengan kontrol. Di Mongolia, pengaruh pupuk hayati dari teknologi nuklir dengan memanfaatkan Aspergillus niger berpengaruh pada peningkatan hasil biji bunga matahari sebesar 59,8% bila dibandingkan dengan tanaman kontrol. Di provinsi Shandong, penggunaan pupuk hayati pada budidaya tomat dapat meningkatkan hasil hingga 35% dari tanaman control (FNCA, 2016).

Di Indonesia, penelitian tentang hal ini dikembangkan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional atau yang biasa disebut BATAN. BATAN telah meriset dan memperoleh mikroba yang membuat tanah lebih mampu menangkap nitrogen dan membuatnya menjadi subur. Mikroba itu bernama Azospirillum disterilisasi dengan radiasi sinar gamma dari Cobalt 60 yang kemudian akan menjadi suatu produk pupuk hayati dari nuklir. Hasil proyek ini dimulai sejak tahun 2001 dan sudah menghasilkan isolat unggul pupuk hayati. Pengaplikasian sudah digunakan pada berbagai komoditas pertanian seperti jagung, salada, bukis, brokoli, sawi, cabe dan keberhasilannya meningkatkan komoditas pertanian (Kompas, 2009).

Pemberian inokulan berbasis kompos teriradiasi dengan bioaktif berupa kombinasi isolat Azotobacter sp. (KDB2), Bacillus sp. (KLB5+BM5+KBN1) dan Trichoderma sp. (KLF6), dapat meningkatkan serapan hara N dan P. Penggunaan ini sebagai biofertilizer yang mampu meningkatkan tinggi tanaman sekitar 23,64%, bobot kering berangkasan tanaman 63,62%, bobot hingga 29,41%, dan produksi tongkol segar jagung manis hingga 29,35% (Mulyana dan Dadang, 2012).

Maka dari itu, peran teknologi nuklir dalam pupuk hayati ini perlu dikembangkan secara konsisten. Selain cukup efektif, metode ini juga dapat mendukung pertanian berkelanjutan, dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik yang merugikan lingkungan, serta dapat meningkatkan hasil produksi pertanian. Jika kombinasi riset antara bidang pertanian dengan bidang nuklir ini terus digalakkan, besar harapan kedepan akan muncul penemuan-penemuan yang lebih dari sekarang.

Hambatan yang terjadi selama ini tidak hanya dalam hal terbatasnya teknologi di Indonesia, namun juga dari segi sosial akan penerimaan nuklir di kalangan masyarakat Indonesia serta pengedukasian dikalangan petani terkait nuclear biofertilizer. Faktanya petani sampai saat ini masih menggunakan metode lama yang dianggap menguntungkan pada masa kini dan tidak untuk masa depan. Padahal cara-cara lama seperti menggunakan pupuk anorganik dapat berakibat buruk di masa yang akan datang. Penggunaan pupuk anorganik secara terus menerus dapat mengeraskan tanah, mengurangi kesuburan tanah, memperkuat pestisida, mencemari udara dan air, melepaskan gas rumah kaca sehingga dapat membahayakan kesehatan lingkungan dan manusia (Zaman et al., 2017).

Di sinilah peran pemanfaatan teknologi nuklir untuk pengembangan pupuk hayati menjadi penting. Adanya pupuk hayati dari hasil teknologi nuklir ini akan dapat memacu hasil produksi pertanian dan juga mampu mengurangi hal-hal buruk dari sector pertanian yang dapat terjadi di masa yang akan datang.

Daftar Pustaka

Enjelia. 2011. Penggunaan Sterilisasi Iradiasi Sinar Gamma Co-60 dan Mesin Berkas Elektron pada Viabilitas Inokulan dalam Bahan Pembawa (Kompos dan Gambut). Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Available at http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/46875/A11enj.pdf;jsessionid=E65EEBEC8E7DCC93645679147ECD1A70?sequence=1

FNCA. 2005. FNCA Biofertilizer Newsletter 6. Available at http://www.fnca.mext.go.jp/english/bf/news_img/nl06.pdf

FNCA. 2016. FNCA Biofertilizer Newsletter 14. Available at http://www.fnca.mext.go.jp/english/bf/news_img/nl14.pdf

Kompas. 2009. Pupuk Radiasi Nuklir Tingkatkan Produktivitas Pertanian. Available at http://sains.kompas.com/read/2009/02/23/1744399/pupuk.radiasi.nuklir.tingkatkan.produktivitas.pertanian

Mulyana, N dan Dadang Sudrajat. 2012. Formulasi Inokulan Konsorsia Mikroba Rhizosfer Berbasis Kompos Teriridiasi. Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi. BATAN. Available at http://digilib.batan.go.id/ppin/katalog/file/BP_12.pdf

Zaman, S. Prosenjit. P dan Abhijit Mitra. 2017. Chemical Fertlizer. Available at https://www.researchgate.net/profile/Abhijit_Mitra3/publication/265968789_CHEMICAL_FERTILIZER_By/links/54227bb60cf238c6ea67a7b4/CHEMICAL-FERTILIZER-By.pdf

 

Oleh : MUHAMAD SYAIFUDIN

Diperiksa oleh : Erwin Fajar, M. Mahfuzh, Dwi Rahayu

Tim Kajian Nuklir PPI Dunia – Divisi Non Energi

(20/17) Harbin, China - Beberapa waktu yang lalu PPI Tiongkok (Harbin) turut serta pada acara Festival Budaya International yang diikuti oleh berbagai negara di dunia. Acara yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa lokal dan internasional tersebut dijadikan ajang untuk mempromosikan Seni dan Pariwisata Indonesia di China.

Acara diadakan untuk memperkenalkan budaya dan tradisi suatu negara yang dibawakan oleh setiap pelajar internasional. Acara ini diikuti oleh berbagai pelajar mancanegara seperti Rusia, Korea, Vietnam, Pakistan, Afghanistan, Ukraina, Thailand, Vietnam dan juga Indonesia yang berada di Harbin.

Acara dilaksanakan di HUST bagian selatan dan dimulai pada pukul 13.00 waktu setempat, pengenalan budaya ini dimulai dengan membawakan sebuah presentasi berisi budaya daerah dari negara tersebut, seperti baju tradisional, makanan daerah, dan juga kebiasaan negara mereka. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan pentas seni dari tiap negara.

Dari pelajar Indonesia, presentasi publik Indonesia dibawakan oleh Natalinda Nainggolan. Presentasi ini berisi lokasi geografis Indonesia, dan juga ragam budaya yang dimiliki Indonesia, keragaman satwa liar, pariwisata, dan hubungan bilateral antara Indonesia dan Tiongkok. Banyak audiens yang terpukau melihat kekayaan seni, budaya dan alam Indonesia, banyak diantara mereka sangat tertarik untuk berkunjung ke Indonesia di masa yang akan datang.

Pada pentas budaya antar negara, pelajar Indonesia membawakan lagu daerah, seperti Manuk Dadali, Ampar-Ampar Pisang, dan Yamko Rambe Yamko. Pentas ini dibawakan oleh Clara Tabitha, Jeremia William Chandra, dan Albert Witopo. Ratusan peserta yang hadir di Hall Acara memberikan sambutan yang meriah pada saat lagu ini dinyanyikan.

Acara ini membuat kita saling mengenal budaya negara luar yang dibawakan dengan cara menarik, sehingga kita menjadi lebih tertarik untuk mengetahui budaya negara lain, tidak hanya budaya Tiongkok dan Indonesia.

Acara yang mengusung konsep “Wonderful Indonesia Campaign” ini telah berhasil mendekatkan Indonesia di kalangan mahasiswa China dan Internasional ujar Putra Wanda selaku Koordinator Acara bagi Indonesia.

(Red, hengky / Ed pw)

Galeri Foto:

Liputan Islamabad - Berasal dari rumpun yang sama, membuat tali persaudaraan antar pelajar Indonesia dan pelajar Thailand di Pakistan menjadi sangat erat. Jalinanan persaudaraan ini sudah ada jauh ketika pelajar Indonesia dan Thailand pertama kali menginjakkan kaki di Pakistan. Ketika jumlah pelajar Indonesia di Pakistan mengalami krisis, pelajar Thailand lah yang membantu administrasi mahasiswi baru dari Indonesia. Begitu juga sebaliknya. Ketika pelajar Thailand masih sedikit, pelajar Indonesia banyak membantu mereka dalam masalah administrasi dan penyesuaian diri di negeri Ali Jinnah ini.

Jalinan persaudaraan ini terus dijaga salah satunya dengan membuat program-program kerjasama antar dua perkumpulan pelajar ini. Misalnya, antar mahasiswa Indonesia dan Thailand kerap kali diadakan pertandingan persahabatan di bidang futsal maupun sepak bola. Sedangakan di female campus, mahasiswi Indonesia dan Thailand memiliki program diskusi mingguan dan beberapa program-program isidentil lainnya.

Di bulan suci ini, Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia tidak menyianyiakan kesempatan untuk mempererat jalinan silahrturahmi dengan Thailand Student Association, yaitu dengan mengadakan acara Buka Puasa Bersama. Acara diadakan hari Selasa, tanggal 20 Juni 2017 yang bertepatan dengan tanggal 25 Ramadhan 1438 H. Acara diadakan di rumah salah satu home staff KBRI Islamabad yang berada di sektor F10/3.

Sekitar pukul enam petang seluruh mahasiswa dan mahasiswi bergegas menuju lokasi yang telah disepakati. Meski awan petang dan hujan mungkin akan segara turun, namun semangat untuk menghadiri buka bersama tidaklah pupus. Setengah jam sebelum adzan maghrib berkumandang, yaitu pukul 19.21 PKT, seluruh mahasiswa telah duduk rapi di tempat. Berbagai macam gorengan seperti bakwan dan martabak telur dilengkapi dengan sambalnya, berbagai macam minuman mulai dari es campur, teh hangat, minuman bersoda, maupun air putih sebagai hidangan tajil tersedia di depan mata kami. Menggoda iman di detik-detik terakhir menjelang maghrib.

Adzan maghrib berkumandang, diiringi dengan doa berbuka puasa, seluruh mahasiswa sigap mengambil takjil yang sedari tadi telah diincar. Dalam hitungan menit, takjil yang beraneka ragam ludes tak bersisa. Setelah berbuka, seluruh mahasiswa berbondong-bondong mengambil wudhu untuk kemudian menunaikan shalat berjama’ah. Usai shalat, mahasiswa mulai memakan makanan inti berupa nasi kotak. Ayam goreng besarta sambal, lalapan, sayur, dan tak lupa kerupuk yang merupakan isi dari nasi kotak, menambah selera makan mahasiswa yang telah berjuang berpuasa selama kurang lebih 16 jam di tengah cuaca terik 41 derajat.

Di akhir acara, tak lupa kami mengabadikan momen ini. Mahasiswi berbondon-bondong menaiki tangga menuju balkon lantai dua tempat banner acara di pasang. Para mahasiswa berbaris rapi di depan gerbang rumah. Dari bawah, fotgrafer memotret momen tersebut. Untuk kelak dikenang hingga generasi selanjutnya.

Inilah sebuah momen yang sederhana namun penuh arti. Siapa yang menyangka jika dari hubungan kecil yang kita jalin ini, akan menghasilkan sebuah kerja sama yang lebih besar lagi?

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu, dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. (QS.49:13)

Shizuoka - Tradisi buka puasa bersama alias bukber sudah menjadi menu wajib di bulan Ramadan. Begitu pun bagi mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di luar negeri, ini tentunya menjadi hal yang sangat dirindukan.

Seperti yang dilakukan oleh mahasiswa Indonesia di Shizuoka University Jepang, buka puasa bersama atau ifthar menjadi momen penting untuk mengenalkan Ramadan di Jepang. Tak sedikit orang Jepang yang penasaran ingin tahu apa itu Ramadan dan mengapa umat Islam harus berpuasa sebulan penuh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto: Salah satu mahasiswa Indonesia menjelaskan tentang Ramadan dalam buka puasa bersama di Shizuoka University (Dina Istiqomah)

 

Acara yang digelar pada hari Jumat (2/6) lalu dihadiri oleh dosen, mahasiswa Jepang, Malaysia, Bangladesh dan Thailand. Rektor Shizuoka University, Kiyoshi Ishii, yang turut hadir mengaku sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Ketika dikonfirmasi oleh panitia, Ishii langsung menyatakan bersedia untuk hadir dan mendukung sepenuhnya. Dalam sambutannya, Ishii berharap momen tersebut menjadi ajang untuk mengenal Islam lebih dekat dan meningkatkan bentuk toleransi antar umat beragama.

 

Foto: Sambutan Rektor Shizuoka University, Kiyoshi Ishii saat acara buka bersama (Dina Istiqomah)

 

Selama acara berlangsung, semua yang hadir terkesan dengan persiapan dan pelayanan yang diberikan. Antusiasme terlihat ketika suara azan dikumandangkan, salat berjamaah dan penjelasan mengenai serba- serbi Islam khususnya tentang Ramadan.Acara yang digelar pada hari Jumat (2/6) lalu dihadiri oleh dosen, mahasiswa Jepang, Malaysia, Bangladesh dan Thailand. Rektor Shizuoka University, Kiyoshi Ishii, yang turut hadir mengaku sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Ketika dikonfirmasi oleh panitia, Ishii langsung menyatakan bersedia untuk hadir dan mendukung sepenuhnya. Dalam sambutannya, Ishii berharap momen tersebut menjadi ajang untuk mengenal Islam lebih dekat dan meningkatkan bentuk toleransi antar umat beragama.

Tak ketinggalan, soto ayam menjadi menu utama dalam acara tersebut, dan palu butung sebagai hidangan pembuka. Bahkan hampir semua yang hadir rela mencicipi sambal cabe hijau dan sambal tomat yang turut serta dihidangkan, bagi mereka itu satu hal yang menantang.

Foto: Soto ayam jadi menu utama buka puasa yang digelar mahasiswa Indonesia di Shizuoka University (Dina Istiqomah)

 

Jumlah mahasiswa muslim yang semakin meningkat di Jepang menjadi perhatian oleh pihak Universitas untuk menyediakan pelayanan yang memadai, seperti ketersediaan makanan halal di kafetaria dan tempat ibadah. Diungkapkan oleh Wakil Rektor Shizuoka University, Reiko Motohashi, dirinya akan terus membantu mewujudkan "halal food" dan musala yang strategis letaknya, sehingga mahasiswa muslim dapat melakukan ibadah, sebagai kewajibannya, dengan nyaman.

Foto: Mahasiswa Jepang tak segan mencicip sambal cabe hijau yang sangat pedas (Dina Istiqomah)

 

Berpuasa di negeri orang memang sangat berbeda jika dibandingkan dengan puasa di negri sendiri. Jika di dalam negeri sekarang hanya sekitar 13 jam, di Jepang harus menunggu 3 jam lebih lama dan mencoba bertahan dengan kondisi lingkungan yang mulai panas kering menjelang summer alias musim panas.

Untuk waktu Shizuoka, waktu Subuh untuk saat ini sekitar pukul 02.48 dan matahari terbit sekitar 04.32. Sedangkan waktu Magrib di Shizuoka untuk saat ini pada pukul 18.58 dan akan terus bertambah lama hingga akhir Ramadan, mengingat pada bulan Juni matahari berada pas di posisi belahan utara.Berpuasa di negeri orang memang sangat berbeda jika dibandingkan dengan puasa di negri sendiri. Jika di dalam negeri sekarang hanya sekitar 13 jam, di Jepang harus menunggu 3 jam lebih lama dan mencoba bertahan dengan kondisi lingkungan yang mulai panas kering menjelang summer alias musim panas.Jumlah mahasiswa muslim yang semakin meningkat di Jepang menjadi perhatian oleh pihak Universitas untuk menyediakan pelayanan yang memadai, seperti ketersediaan makanan halal di kafetaria dan tempat ibadah. Diungkapkan oleh Wakil Rektor Shizuoka University, Reiko Motohashi, dirinya akan terus membantu mewujudkan "halal food" dan musala yang strategis letaknya, sehingga mahasiswa muslim dapat melakukan ibadah, sebagai kewajibannya, dengan nyaman.

Ditambah lagi ketersediaan makanan halal yang masih cukup langka di sini mengharuskan mahasiswa muslim memasak sendiri di apartemen masing- masing. Beruntungnya sebagian besar jumlah mahasiswa Indonesia di Shizuoka University menempati asrama mahasiswa yang difasilitasi oleh kampus. Sehingga, mahasiswa yang berpuasa bisa saling berbagi makanan dan bergantian untuk saling memasak dalan skala besar.

Begitu pun dengan salat tarawih berjemaah, mahasiswa menggunakan hall asrama sebagai tempat salat berjemaah. Salat tarawih di hall asrama dijadwalkan setiap pukul 21.00 waktu Shizuoka. Namun, banyaknya mahasiswa yang pulang malam karena masih melakukan riset di kampus dan acapkali ada beberapa mahasiswa yang bekerja paruh waktu, sehingga seringkali mundur waktunya untuk menunggu jumlah jemaah cukup banyak.

Foto: Salat Magrib berjemaah di Shizuoka University (Dina Istiqomah)

 

Bersyukur salah satu di antara mahasiswa ada salah seorang lulusan pesantren yang fasih dan mengetahui banyak soal agama. Adalah M Nurrohman Sidiq, mahasiswa S2 Kimia (alumni UGM) yang merupakan lulusan pesantren Krapyak Yogyakarta. Ia dengan senang hati membimbing teman- teman lainnya untuk meningkatkan ibadah selama bulan Ramadan dan menjadi imam setiap salat tarawih.Sebetulnya di Shizuoka terdapat musala yang berada di tengah kota. Namun karena kapasitas yang kurang memadai untuk menampung semua jemaah salat tarawih, sehingga mahasiswa yang menempati asrama memilih untuk melakukan salat tarawih berjamaah di hall asrama.

Bagi orang Jepang, puasa merupakan hal yang sangat mustahil dilakukan, karena mereka berpikir setiap waktu manusia memerlukan asupan makanan. Tak sedikit yang merespons "No..I will die".

Tapi bagi seorang muslim, bulan Ramadan adalah bulan yang paling ditunggu- tunggu di antara 11 bulan lainnya. Haus dan lapar tidak dirasakan meskipun masih berkutat dengan riset dan kegiatan kampus yang menguras tenaga & pikiran. Itulah yang membuat orang Jepang sangat takjub dengan puasa Ramadan.

Namun setidaknya, kami mahasiswa Muslim di Jepang khususnya Shizuoka merasa bersyukur untuk mengalami berpuasa hanya dalam 16 jam, berbeda dengan mahasiswa muslim di Eropa bagian utara yang harus bertahan lebih lama.

*) Dina Istiqomah adalah Mahasiswa Doktoral United Graduate School of Agricultural Science, Gifu University- Participated Univ: Shizuoka University ; Anggota Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang.
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama dan partisipasi Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).

***

SALAM PERHIMPUNAN!!

BEM UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG dan TIM FESTIVAL LUAR NEGERI PPI DUNIA akan bekerjasama untuk menyelenggarakan event Edufair
"Padjadjaran International Education Festival"

Hari, tanggal : Jumat, 26 Mei 2017
Waktu : 08:00 WIB - 16:00 WIB
Tempat : Bale Sawala Unpad Jatinangor

Perwakilan PPI Dunia akan menjadi keynote speakers dan meramaikan acara ini, mereka adalah:

Intan Irani Koordinator PPI Dunia 2016/2017 (PPI Italia)

Steven Guntur Koordinator PPI Dunia 2015/2016 (Permira Rusia)

Rizki Putri Hassan, Koordinator Divisi Pendanaan PPI Dunia (PPI UK)

Dan akan ada stand berbagai informasi studi dan hidup di luar negeri yang akan diramaikan oleh delegasi dari PPI Negara diantaranya:

1. PPI Polandia
2.PPI Hungaria
3.Perpika Korea Selatan
4.PPI Malaysia
5.PPI Swedia
6.PPI Spanyol
7.PPI Estonia
8.PPI Tiongkok
9.PPI Thailand
10.PPI Prancis
11.PPI Italy
12.PPI New Zealand
13.PPMI Saudi Arabia
14.PPI UK
15.PPMI Mesir
16.PPI Turki
17. PPI Jepang
18. PPI Jerman

Berita selengkapnya, follow:
IG: felarippidunia Facebook: felari ppi dunia
Web: www.ppidunia.org

PPIT Harbin – Kelompok Mahasiswa Indonesia dan Internasional sukses menampilkan pertunjukan teater di Harin, China. Opera berdurasi selama 90 menit yang bertajuk “Ken-Arok, The Legend of Cursed Keris” ini tampil memukau sekitar 400 penonton yang memadati gedung Activity Center, Harbin Institute of Technology, China (20/5/17).

Pementasan Drama Ken Arok ini merupakan hasil karya mahasiswa-mahasiswa Indonesia dan dibantu mahasiswa asing yang berada di lingkungan Harbin, China. Sejak publikasi acara ini dilakukan, antusiasme penonton untuk menyaksikan opera ini terbilang sangat besar.

Para mahasiswa asal Indonesia dan mahasiswa asing (China, Rusia, dan Nigeria) berperan sebagai aktor berhasil memerankan setiap karakter yang dimainkan pada cerita kolosal ini. Alur cerita, koreografi, musik dan aktor berpadu menghasilkan pertujukan drama yang kontemporer dan elegan.

Seluruh aktor dan panitia acara berfoto bersama di atas panggung.

Persiapan acara sudah dilakukan sejak jauh hari sebelum pementasan diselenggarakan, seluruh panitia bekerja dari siang hingga malam selama persiapan akhir acara ini dilakukan. Hasilnya, kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik dari awal hingga akhir.

Setelah pementasan opera berakhir, seluruh aktor dan panitia acara berfoto di atas panggung pementasan untuk mengabadikan momen tersesbut.

Pementasan Drama Ken Arok ini merupakan hasil karya mahasiswa-mahasiswa Indonesia dan dibantu mahasiswa asing yang berada di Harbin, China.

Penonton yang menyaksikan acara pementasan opera ini memberikan kesan yang sangat baik terhadap para pemeran. Pada drama yang merupakan salah satu salah cerita rakyat di Nusantara ini.

Salah satu adegan di atas panggung.

"It’s really great!" ujar Linna (25 tahun) salah seorang penonton asal Thailand setelah festival ini. Bahkan, kelompok sosial asal China, mengaku sangat terinspirasi dengan penampilan malam itu.

Pada rangkaian Festival Budaya tahun ini, Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT) Harbin juga menyelenggarakan pameran produk, budaya dan seni Indonesia. Pasca acara teater, antuasiame penonton masih terus berlanjut ke ruang eksibisi untuk mengunjungi stan pakaian tradisional dan kuliner Nusantara.

Penyerahan cinderamata.

Joshua Mulyanto (Ketua PPIT Harbin) sekaligus sebagai salah satu aktor utama pada opera tersebut, mengaku amat bangga dengan sambutan yang diberikan oleh masyarakat internasional terhadap Festival Budaya Indonesia tahun ini.

“Saya bangga dengan semua teman-teman panitia yang sudah bekerja keras sehingga acara ini bisa terselenggara dengan baik, mulai dari tim drama, exhibition serta sie-sie lain yang mendukung berlangsungnya acara." Ketua PPIT berharap agar ke depan, kami semua bisa terus mempertahankan dan meningkatkan kualitas diri, kekompakan, kekeluargaan sehingga acara PPIT bisa lebih baik lagi.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh PPIT Harbin dan didukung Rumah Budaya, salah satu program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, KBRI Beijing, serta civitas akademika di Harbin.

Pada tahun lalu, para mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam PPIT cabang Harbin juga menggelar Opera Roro Jonggrang di tempat yang sama dan berlangsung sukses. Selain itu, suksesnya kegiatan ini juga didukung oleh Rumah Budaya, salah satu program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing, dan civitas akademika di Harbin.

Tahun depan, PPIT Harbin berharap bisa menyelenggarakan acara yang lebih bagus dan dahsyat dengan tema yang berbeda.

Bravo PPIT..

(Red, PPIT Harbin/Ed, F)

Hari ini, 23 Maret 2017, telah berlangsung Simposium Taipei 2017 hari pertama. Simposium hari ini dibuka oleh Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei Bapak Robert James Bintaryo, didampingi Prof. Lin Tso Yu Dean Office of General Affairs National Chengchi University (NCCU), dan Pitut Pramuji, Ketua PPI Taiwan.

Acara simposium yang diselenggarakan oleh PPI Taiwan dan PPI Asia-Oseania ini dihadiri oleh delegasi PPI dari beberapa negara, yaitu Tiongkok, Thailand, Filipina, Malaysia, Australia, India, dan Korea, serta perwakilan PPI kampus di Taiwan.

Mengusung tema “Transformasi Hubungan Bilateral Indonesia-Taiwan di Bawah New South Bound Policy: Retrospeksi dan Prospek Kerjasama di Masa Mendatang,” simposium hari ini menghadirkan keynote speaker Prof. Bruce Chih- Yu Chien Negotiator Trade of Negotiations Executive Yuan, dan Prof. Makarim Wibisono, Duta Besar RI di PBB 2004-2007 yang saat ini menjabat Koordinator Europalia.

Prof. Bruce membawakan keynote speech “The New South Bound Policy” dan Prof. Makarim membawakan keynote speech “One China Policy Conundrum: What Working Practices Can and Can Not Be Done Among Indonesia and Taiwan Relation.”

Simposium dibagi dalam tiga panel. Panel pertama membahas tentang hal yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh fungsionaris Indonesia dan Taiwan dalam lingkungan kerja. Hadir sebagai narasumber panel 1 Anggota Komisi 8 DPR RI Arief Suditomo, Prof. Ching-Lung Tsay, Professor Bidang Asia Study Tamkang University, dan Abdul Rosyid, Pemenang Call for Paper.

Panel kedua membahas tentang peluang dan tantangan di bidang investasi, menghadirkan Yanuar Fajari, Asisten Senior Bidang Investasi KDEI, Muhamad Lutfi Aljufri, Pemenang Call for Paper, serta Founder dan CEO Out of The Box Consultancy, Dr. Mignone Man-Jung Chan.

Panel ketiga membahas tentang perwakilan bidang pendidikan untuk memaksimalkan manfaat bagi kedua negara. Dalam panel ini hadir sebagai narasumber Julian Aldrin Pasha, Kepala Depatemen Ilmu Politik Universitas Indonesia yang merupakan mantan Juru Bicara Kepresidenan, Wilson Gustiawan, Pemenang Call for Paper, Haryanto Gunawan, Konsultan Senior Elite Study of Taiwan, dan Paramitha Ningrum, Dosen Hubungan Internasional Binus University.

 

Simposium ini didukung oleh Bank Mayapada, Taiwan Economic and Trade Office (TETO), Institute of International Relation (IIR) NCCU, dan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei.

The 5th ASIAN Academic Society International Conference (AASIC) is an international conference organized by the Indonesian Student Association in Thailand that provides you a way to contribute to the society through your scientific findings. This year, the conference will be held on July, 26-27, 2017 in Khon Kaen University, Thailand.
We would like to invite all of you to join our conference and contribute your knowledge and skills to the society. You will get an enjoyable experience and an opportunity to expand your network by joining this event.
What are you waiting for??
Early bird rate is still available now!!!
Please click the link below to find more information.
5thaasic.permithakhonkaen.org

 

The 5th AASIC(Red: Dian/ Ed: Amir)

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920