Categories
Asia dan Oseania Berita PPI Negara

The 6th Asian Academic Society International Conference (AASIC): Kontribusi Permitha untuk Dunia

Para Pembicara The 6th AASIC dan Perwakilan PPI & KBRI

Perhimpunan mahasiswa Indonesia di Thailand (Permitha), kembali menggelar konferensi internasional tahunannya yang dikenal dengan AASIC. Konferensi tahun ini diadakan di salah satu universitas di utara Thailand, Mae Fah Luang University, universitas yang asri berlokasi di Provinsi Chiang Rai pada tanggal 8-10 November 2018.

AASIC sudah diadakan sejak tahun 2012, dimulai dari Prince of Songkla University di Provinsi Songkla, Thailand Selatan, kemudian berpindah ke Kasetsart University dan Chulalongkorn University di tahun 2013 dan 2015 yang keduanya merupakan universitas di provinsi Bangkok. Tahun 2016 berpindah ke Mahidol University yang lokasinya di Provinsi Nakhom Pathon, dan 2017 di Khon Kaen University, provinsi yang berlokasi di timur laut Thailand.

Untuk tahun 2018, jumlah peserta AASIC meningkat menjadi 200 peserta yang berasal dari 11 negara yaitu: Indonesia, Thailand, Malaysia, Vietnam, Myanmar, Laos, Filipina, India, Bangladesh, Amerika serikat, dan Australia. Para akademisi yang tergabung dalam konferensi ini membahas tema besar tentang transformasi masyarakat Asia dalam dinamisasi, inovasi dan globalisasi dengan key-note speaker Prof. Alberto Gomes yang merupakan pakar sosiologi dan antropologi La Trobe University, Australia. Kemudian, acara dilanjutkan dengan plenary lecture dengan pembicara yang berasal dari 4 kluster keilmuan: Dr. Wasana (Chulalongkorn University) dari sosial sains, Prof. Dr Yunardi (Universitas Syiah Kuala) dari sains-teknologi, Prof. Dr. Nopadol dari kesehatan dan Dr. Chachaya dari ekonomi.

Fadjar Mulya, Ketua Permitha sekaligus Koordinator PPI Dunia saat memberikan sambutan

Artikel ilmiah peserta AASIC akan dipublikasikan dalam bentuk prosiding AASIC yang dapat di akses di http://aasic.org/proc/aasic/issue/archive dan beberapa jurnal yang bekerjasama dengan AASIC yaitu: Mahasarakham University, Journal of Education, Indonesian Journal of Nursing Practices, AEI Insights, International Journal of Asia-Europe Relations – University of Malaya, The Journal of Human Rights and Peace Studies, Mahidol university, Journal of Accounting and Business Dynamics dan Constitutional Review (CONSREV).

Categories
Asia dan Oseania PPI Negara

Yuk baca Buletin PPI Thailand Exelencia: Menstrukturkan yang Kultural!

Seiring berjalannya waktu, globalitas akan terus menggerus lokalitas dan modernitas akan menggilas identitas. Bagaimanapun juga kita tidak akan mampu menahan laju globalitas dan modernitas, kitalah yang harus menjaga lokalitas dan identitas.

Buletin Excelencia hadir kembali dengan tema dan tampilan yang lebih menarik. Tema budaya diambil untuk merefleksikan kembali tentang siapa diri kita. Tanpa mengetahui tentang jati diri kita, bagaimana bisa mengerti tolak ukur untuk memahami rasa?

Selamat membaca buletin excelencia Vol. 6, semoga bermanfaat.
Link buletin excelencia bisa diakses di sini:
https://ppi.id/wp-content/uploads/2018/11/Buletin-Thailand-vol-6.pdf

Categories
Pojok Opini Suara Anak Bangsa

Mengimplementasikan Semangat Sumpah Pemuda dengan Berkontribusi di Perhimpunan Pelajar Indonesia

Sumpah Pemuda
(Sumber Gambar : https://jalandamai.org/wp-content/uploads/2015/10/jogdas_20150807064813-600×330.jpg)

Salah satu yang patut disyukuri oleh bangsa Indonesia adalah memiliki pemuda yang bersemangat untuk bersatu. Sejarah telah mencatat bahwasanya kemerdekaan Indonesia lahir salah satunya dari gerakan pemuda, di mana juga turut mengambil peran besar pemuda (mahasiswa) Indonesia yang sedang studi di luar negeri seperti Bung Hatta, Bung Sjahrir, Tan Malaka dkk.

Mahasiswa Indonesia yang studi di luar negeri tersebut membuat gerakan bukan hanya bertujuan untuk mencapai kemerdekaan. Namun, gerakan tersebut juga menjadi gerakan yang mengisi kemerdekaan yang sudah diperoleh negara tercinta. Sosok presiden ketiga Republik Indonesia yaitu Bapak BJ. Habibie juga menorehkan tinta emas dalam sejarah melalui gerakan yang dibangunnya saat menjadi mahasiswa di Jerman 50 tahun yang lalu. Bersama kawan-kawannya, beliau menggagas seminar pembangunan yang menjadi forum berkumpulnya kawan-kawan mahasiswa Indonesia di luar negeri seperti Jerman, Ceko dan beberapa negara di Eropa.

Bung Hatta, Bung Sjahrir, Habibie muda dan beberapa mahasiswa Indonesia yang pernah mencicipi studi di luar negeri dan konsisten untuk terus berkontribusi menjadi inspirasi bagi anak bangsa untuk ikut berkontribusi mengisi kemerdekaan.

Tanpa terasa, waktu telah berjalan hingga awal abad ke-2. Negara kita telah berkembang. Pada hari ini banyak sekali anak muda Indonesia melanjutkan studi di luar negeri. Hari ini, studi di luar negeri bukan lagi sesuatu yang istimewa, karena banyak sekali beasiswa yang ditawarkan untuk studi di negara-negara tertentu. Mahasiswa yang ada di luar negeri, berkumpul dan bersatu dibawah payung Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI). Hingga saat ini ada 56 PPI yang tergabung dalam aliansi PPI se-Dunia.

PPI tidak hanya menjadi tempat untuk berkumpul dan bersilaturahim, lebih dari itu PPI menjadi motor gerakan, baik itu gerakan politik, sosial, dan juga sosial-budaya. PPI ikut memberikan gagasan dan rekomendasi kepada pemerintah untuk pembangunan Indonesia yang lebih baik. PPI juga pernah terlibat mengawal transisi kepemimpinan nasional. Gerakan sosial juga dibangun seperti aksi kemanusiaan, gerakan donasi sosial, serta gerakan sosial-budaya, yaitu bagaimana PPI hadir mengenalkan kekayaan budaya Indonesia dan objek wisata untuk menarik wisatawan asing berkunjung ke Indonesia.

Tentunya karakter yang melekat utamanya dari PPI adalah karakter intelektual. Yaitu bagaimana teman-teman PPI ini mampu memberikan gagasan yang mendalam baik berupa gagasan kebijakan ataupun gagasan ilmiah yang didapat dari riset. Selain itu teman-teman yang tergabung di PPI juga membuat gerakan bantu guru melihat dunia. Pada gerakan ini, PPI memberikan kesempatan untuk guru-guru terpilih untuk belajar ke beberapa negara yang memiliki kualitas pendidikan yang lebih baik daripada Indonesia. Sehingga, diharapkan hal-hal baik di negara tersebut dapat dicontoh dan diaplikasikan di sekolah tempat guru tersebut mengajar. Gerakan ini juga sebagai bentuk ucapan terima kasih rekan-rekan PPI, karena berkat peran guru  kita dapat mengenyam pendidikan di luar negeri. Melalui program ini, ada semangat untuk membuat guru-guru kita merasakan juga apa yang kita rasakan, yaitu belajar di luar negeri.

Program-program sosial tentunya banyak juga dilakukan kawan-kawan PPI. Sebagai contoh, kawan-kawan Perpika Korea dengan program beasiswa untuk adik-adik SD, SMP, dan SMA di tanah air. Kemudian kawan-kawan Permitha Thailand yang mencoba konsisten berkontribusi dengan gerakan 1000 sepatu, yaitu gerakan yang bekerjasama dengan pengrajin sepatu lokal dimana sepatu tersebut didistribusikan untuk pelajar yatim dan dhuafa. Juga teman-teman di Taiwan, Singapura, Malaysia dan beberapa negara lain yang memiliki program belajar mengajar bersama pekerja migran Indonesia (PMI).

Semangat tokoh bangsa yang dulu banyak memberikan kontribusi lewat PPI, hari ini masih diteruskan oleh kawan-kawan mahasiswa Indonesia yang sedang studi di luar negeri juga lewat PPI. Harapannya, peran dan kontribusi ini terus berlanjut sehingga memberikan dampak yang lebih besar dan lebih luas. Kita memang sedang tidak di tanah air, tapi semangat kita, pikiran kita, dan kontribusi kita masih tetap untuk tanah air. Sehingga, media untuk menyalurkan itu semua adalah melalui PPI.

Selamat Hari Sumpah Pemuda! Ingatlah, bahwa karakter utama dari seorang pemuda adalah tingginya semangat berkontribusi untuk Indonesia.

Fadjar Mulya

Permitha Thailand.

Categories
Asia dan Oseania Berita PPI Negara RRI Voice Upcoming Event

ASEAN Student Summit 2017

ASEAN Student Summit 2017 akan diadakan di Bangkok, Thailand tahun ini. Penasaran mengenai acaranya? Simak siaran mengenai acara ini di RRI Voice of Indonesia, besok pukul 10.00 WIB!

Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

HPMI Yordania Ikuti Diskusi “ASEAN and Middle East: Future Relation” 

JORDAN – Perwakilan Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (HPMI) Jordan mendapat kesempatan untuk hadir dalam Kuliah Umum ASEAN bertajuk “ASEAN and The Middle East: Trajectories for future relations” yang digelar oleh The Committee of The Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), Jordan Institute of Diplomacy (JID) dan Kementerian Luar Negeri Jordan pada Selasa (21/10/2017). Acara yang diadakan di Jordan Institute of Diplomacy, Amman itu dihadiri oleh ratusan peserta dari kalangan para diplomat, pejabat pemerintahan, pebisnis, praktisi dan pelajar.

Acara dibuka dengan sambutan dari Andy Rachmianto selaku Duta Besar RI untuk Yordania dan Palestina. Kuliah umum yang disampaikan oleh eksekutif direktur Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta dan pakar politik dari Indonesia, Dr. Philip Jusario Vermonte itu dimulai pada pukul 10.00 waktu setempat dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dimoderatori oleh Lina Arafat, Direktur Jordan Institute of Diplomacy.

Dalam paparannya, Philip menekankan tiga hal yaitu: politik dan keamanan; ekonomi dan perdagangan; dan hubungan persahabatan. Ia mengawali dengan memaparkan berbagai modal kesamaan yang dimiliki antara regional Asia Tenggara (ASEAN) dan Timur Tengah (Middle East). Pertama, sama-sama beranggotakan negara-negara berkembang yang punya orientasi untuk memajukan negaranya. Kedua, persamaan agama sehingga bisa saling tukar pikiran dalam pengelolaan hubungan antar umat beragama. Ketiga, kebutuhan akan keamanan dalam negeri dan regional dalam menciptakan kedamaian dan dalam menghadapi radikalisme yang sedang berkembang di wilayah regional masing-masing. Terakhir, pertukaran budaya dan perdagangan yang seharusnya memudahkan interaksi antar individu di kedua regional untuk penguatan hubungan persahabatan.

Dalam aspek politik dan keamanan, beberapa hal menjadi poin utama kesamaan antara ASEAN dengan Timur Tengah. Salah satunya ialah penerapan sistem demokrasi dalam pemerintahan negara. Selain itu, telah terbentuk kerjasama bidang industri pertahanan dan keamanan dalam pengadaan alat-alat perlengkapan dan perbaikan kecanggihannya di antara anggota ASEAN dengan negara-negara Timur Tengah. Yang berikutnya perang melawan terorisme, telah terjalin kerjasama dalam bidang pemberantasan terorisme yang dilakukan antar dua negara. Singapura dengan Yordania, Malaysia dengan Turki berkolaborasi dalam perlawanan terhadap terorisme, sementara Indonesia dengan Yordania dalam hal tukar-menukar informasi intelijen dan program deradikalisasi.

“It is known that countries in both regions have established a various of cooperations related to security and the fight against terrorism,” kata Philip ketika memaparkan kerjasama antar region dalam bidang keamanan politik. “Such as the exchange of defence equipment and expertise, information and intelligence sharing, interfaith dialogues, and many more,” tambahnya.

Di sisi ekonomi, Philip menerangkan bahwa tercatat telah lama terbentuk beberapa kerjasama dan perdagangan yang berlangsung antar ASEAN dengan Gulf Cooperation Council dan ASEAN dengan Liga Arab dalam berbagai komoditi perdagangan dan paling utama terkait minyak bumi. Selain itu, tercatat di tahun 2015, negara Timur Tengah yang melakukan hubungan perdagangan dengan ASEAN paling banyak adalah UAE, Saudi Arabia, Qatar, Turki dan Kuwait. Sedangkan untuk ASEAN dengan Jordan, Indoesia yang paling besar, kemudian Thailand, Malaysia dan Singapura.

Dalam segi persahabatan antar regional, bisa saling bertukar pikiran dan budaya antar pemuda atau mahasiswa dengan mengadakan program tukar pelajar. Dalam hal ini, Indoensia salah satu negara ASEAN yang beberapa tahun ke depan akan mendapatkan bonus demografi. Usia produktif (antara 16–45 tahun) lebih banyak dari jumlah populasi penduduk Indonesia dan saat ini sedang mempersiapkan untuk menuju Kebangkitan Indonesia. Duta Besar Andy Rachmianto tidak lupa menyebutkan bahwa Indonesia sebagai bagian dari ASEAN terus membersamai Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Sebagai tambahan, Andy juga menjelaskan genosida yang terjadi di Rohingya sebagai isu penting ASEAN yang masih terus membutuhkan perhatian dan bantuan kemanusiaan dari berbagai negara. Tercatat di tahun 2015, Jordan membawa angin segar dalam persahabatan antara Jordan dengan ASEAN dan menugaskan duta besarnya untuk negara-negara ASEAN. Mesir dan Maroko juga telah melakukan kerjasama dan menjalin hubungan persahabatan dengan negara-negara anggota ASEAN dan selalu mempromosikan hubungan persahabatan dan kerjasama yang penuh kedamaian selamanya.

 

Pelajaran dari ASEAN untuk Timur Tengah

Dalam masalah blok regional, negara-negara Timur Tengah cenderung untuk menerapkan model regionalisasi seperti Uni Eropa, jika telah berkembang secara signifikan. Model tersebut terutama GCC yang telah tercapai kesepakatan besar pada tingkat kesatuan budaya yang diimplementasikan sejak 2015. Kerja sama ASEAN telah dipandu oleh prinsip kesetaraan dan tidak mengintervensi, kooperatif dalam keamanan dan tidak menggunakan kekerasan. ASEAN sering menekankan pencegahan konflik dan bukan mengedepankan militer, sehingga menghasilkan lingkungan yang damai. Piagam ASEAN pada tahun 2008 memproklamasikan “People Oriented” karena pendekatan itu untuk mengejar dan memperdalam regionalisme di Asia Tenggara. Visi ASEAN 2025 membangun sebuah dasar untuk tujuan akhir dalam menciptakan masyarakat ASEAN yang berpusat pada komunitas masyarakat ASEAN (ASEAN Community). ASEAN memiliki masyarakat sipil yang berbasis di setiap negara-negara anggota dengan bangga menggunakan simbol negara “ASEAN”. Ada semakin banyak acara dan aktivitas publik yang mengutip status  tersebut, misalnya forum pemuda ASEAN.

Pada pukul 12.00, acara ditutup setelah sesi tanya jawab selesai kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dan menyantap sajian khas Asia Tenggara dari Indonesia, Malaysia, Thailand dan Filipina.**

 

Pengirim: Miftah Nafid Firdaus

MA Candidate in Islamic Economic and Banking

Yarmouk University, Jordan

 

Editor: Kartika Restu Susilo

Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

HPMI Yordania Ikuti Diskusi "ASEAN and Middle East: Future Relation" 

JORDAN – Perwakilan Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (HPMI) Jordan mendapat kesempatan untuk hadir dalam Kuliah Umum ASEAN bertajuk “ASEAN and The Middle East: Trajectories for future relations” yang digelar oleh The Committee of The Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), Jordan Institute of Diplomacy (JID) dan Kementerian Luar Negeri Jordan pada Selasa (21/10/2017). Acara yang diadakan di Jordan Institute of Diplomacy, Amman itu dihadiri oleh ratusan peserta dari kalangan para diplomat, pejabat pemerintahan, pebisnis, praktisi dan pelajar.

Acara dibuka dengan sambutan dari Andy Rachmianto selaku Duta Besar RI untuk Yordania dan Palestina. Kuliah umum yang disampaikan oleh eksekutif direktur Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta dan pakar politik dari Indonesia, Dr. Philip Jusario Vermonte itu dimulai pada pukul 10.00 waktu setempat dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dimoderatori oleh Lina Arafat, Direktur Jordan Institute of Diplomacy.

Dalam paparannya, Philip menekankan tiga hal yaitu: politik dan keamanan; ekonomi dan perdagangan; dan hubungan persahabatan. Ia mengawali dengan memaparkan berbagai modal kesamaan yang dimiliki antara regional Asia Tenggara (ASEAN) dan Timur Tengah (Middle East). Pertama, sama-sama beranggotakan negara-negara berkembang yang punya orientasi untuk memajukan negaranya. Kedua, persamaan agama sehingga bisa saling tukar pikiran dalam pengelolaan hubungan antar umat beragama. Ketiga, kebutuhan akan keamanan dalam negeri dan regional dalam menciptakan kedamaian dan dalam menghadapi radikalisme yang sedang berkembang di wilayah regional masing-masing. Terakhir, pertukaran budaya dan perdagangan yang seharusnya memudahkan interaksi antar individu di kedua regional untuk penguatan hubungan persahabatan.

Dalam aspek politik dan keamanan, beberapa hal menjadi poin utama kesamaan antara ASEAN dengan Timur Tengah. Salah satunya ialah penerapan sistem demokrasi dalam pemerintahan negara. Selain itu, telah terbentuk kerjasama bidang industri pertahanan dan keamanan dalam pengadaan alat-alat perlengkapan dan perbaikan kecanggihannya di antara anggota ASEAN dengan negara-negara Timur Tengah. Yang berikutnya perang melawan terorisme, telah terjalin kerjasama dalam bidang pemberantasan terorisme yang dilakukan antar dua negara. Singapura dengan Yordania, Malaysia dengan Turki berkolaborasi dalam perlawanan terhadap terorisme, sementara Indonesia dengan Yordania dalam hal tukar-menukar informasi intelijen dan program deradikalisasi.

“It is known that countries in both regions have established a various of cooperations related to security and the fight against terrorism,” kata Philip ketika memaparkan kerjasama antar region dalam bidang keamanan politik. “Such as the exchange of defence equipment and expertise, information and intelligence sharing, interfaith dialogues, and many more,” tambahnya.

Di sisi ekonomi, Philip menerangkan bahwa tercatat telah lama terbentuk beberapa kerjasama dan perdagangan yang berlangsung antar ASEAN dengan Gulf Cooperation Council dan ASEAN dengan Liga Arab dalam berbagai komoditi perdagangan dan paling utama terkait minyak bumi. Selain itu, tercatat di tahun 2015, negara Timur Tengah yang melakukan hubungan perdagangan dengan ASEAN paling banyak adalah UAE, Saudi Arabia, Qatar, Turki dan Kuwait. Sedangkan untuk ASEAN dengan Jordan, Indoesia yang paling besar, kemudian Thailand, Malaysia dan Singapura.

Dalam segi persahabatan antar regional, bisa saling bertukar pikiran dan budaya antar pemuda atau mahasiswa dengan mengadakan program tukar pelajar. Dalam hal ini, Indoensia salah satu negara ASEAN yang beberapa tahun ke depan akan mendapatkan bonus demografi. Usia produktif (antara 16–45 tahun) lebih banyak dari jumlah populasi penduduk Indonesia dan saat ini sedang mempersiapkan untuk menuju Kebangkitan Indonesia. Duta Besar Andy Rachmianto tidak lupa menyebutkan bahwa Indonesia sebagai bagian dari ASEAN terus membersamai Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Sebagai tambahan, Andy juga menjelaskan genosida yang terjadi di Rohingya sebagai isu penting ASEAN yang masih terus membutuhkan perhatian dan bantuan kemanusiaan dari berbagai negara. Tercatat di tahun 2015, Jordan membawa angin segar dalam persahabatan antara Jordan dengan ASEAN dan menugaskan duta besarnya untuk negara-negara ASEAN. Mesir dan Maroko juga telah melakukan kerjasama dan menjalin hubungan persahabatan dengan negara-negara anggota ASEAN dan selalu mempromosikan hubungan persahabatan dan kerjasama yang penuh kedamaian selamanya.

 

Pelajaran dari ASEAN untuk Timur Tengah

Dalam masalah blok regional, negara-negara Timur Tengah cenderung untuk menerapkan model regionalisasi seperti Uni Eropa, jika telah berkembang secara signifikan. Model tersebut terutama GCC yang telah tercapai kesepakatan besar pada tingkat kesatuan budaya yang diimplementasikan sejak 2015. Kerja sama ASEAN telah dipandu oleh prinsip kesetaraan dan tidak mengintervensi, kooperatif dalam keamanan dan tidak menggunakan kekerasan. ASEAN sering menekankan pencegahan konflik dan bukan mengedepankan militer, sehingga menghasilkan lingkungan yang damai. Piagam ASEAN pada tahun 2008 memproklamasikan “People Oriented” karena pendekatan itu untuk mengejar dan memperdalam regionalisme di Asia Tenggara. Visi ASEAN 2025 membangun sebuah dasar untuk tujuan akhir dalam menciptakan masyarakat ASEAN yang berpusat pada komunitas masyarakat ASEAN (ASEAN Community). ASEAN memiliki masyarakat sipil yang berbasis di setiap negara-negara anggota dengan bangga menggunakan simbol negara “ASEAN”. Ada semakin banyak acara dan aktivitas publik yang mengutip status  tersebut, misalnya forum pemuda ASEAN.

Pada pukul 12.00, acara ditutup setelah sesi tanya jawab selesai kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dan menyantap sajian khas Asia Tenggara dari Indonesia, Malaysia, Thailand dan Filipina.**

 

Pengirim: Miftah Nafid Firdaus

MA Candidate in Islamic Economic and Banking

Yarmouk University, Jordan

 

Editor: Kartika Restu Susilo

Categories
Asia dan Oseania PPI Negara Travel & Kuliner Wawasan Dunia

Loy Krathong: Ritual dan Pariwisata Thailand

Bagi masyarakat Thailand, ritual-ritual keagamaan menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan mereka. Berbagai acara tersebut dilaksanakan secara rutin yang tidak hanya melibatkan masyarakat Thailand, tetapi juga para pengunjung dari luar negeri. Salah satu festival yang baru-baru ini di laksanakan di Thailand adalah Loy Krathong. Loi bermakna melarung/mengapung, sedangkan Krathong bermakna wadah yang terbuat dari daun yang bisa mengapung di atas air. Loy Krathong adalah ritual melarung bunga yang diletakkan dalam wadah terapung, dilengkapi dengan lilin, dupa serta bunga-bunga di sekitar danau, sungai atau kanal. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan mereka kepada dewa air.

Krathong yang siap dilarungkan di air

Selain sebagai bentuk penghormatan kepada dewa, beberapa percaya bahwa “krathong” merupakan simbol untuk membuang segala bentuk kemarahan dan dendam serta berbagai sisi gelap yang selama ini menguasai manusia. Selain melarung ke air, Loy Krathong juga diisi dengan pelepasan lentera ke udara. Sejenak langit-langit Thailand akan terang benderang oleh cahaya ribuan lentera yang diterbangkan bersama-sama.

Loy Krathong sendiri umumnya dilaksanakan setiap bulan November, saat bulan purnama. Untuk memeriahkan acara tersebut, pemerintah Thailand memusatkan acara ini di beberapa wilayah seperti di sungai Chao Phraya Bangkok, Chiang Mai, Sukhothai, Phuket, Samui dan berbagai destinasi wisata lainnya. Tahun ini pemerintah menargetkan 300.000-an pengunjung dalam dan luar negeri terlibat dalam acara tersebut. Jumlah tersebut diprediksi akan mendatangkan pemasukan sebesar kurang lebih 10 juta baht.

Namun, di tengah meriahnya acara Loy Krathong, sesungguhnya terdapat persoalan yang cukup mengkhawatirkan, yakni banyaknya sampah yang disebabkan oleh festival tersebut. Salah satu sumber menyebutkan, pada tahun 2008 terdapat 929.329 krathong yang dikumpulkan dengan 811.332  (87%) terbuat dari tangkai atau daun pisang atau bahan alami lainnya, sementara 117.997  (13%) terbuat dari bahan yang berbahaya bagi alam seperti polystyrene.

Proses pelarungan Krathong oleh masyarakat Thailand

Pemerintah Thailand kemudian gencar melakukan sosialisasi sehingga jumlah tersebut jauh berkurang. Data tahun 2016 menyebutkan bahwa dari 661.935 krathong yang dilarung, 617.901 (93.7%) adalah bahan alami yang aman bagi lingkungan, dan hanya 44.034 (6.7%) yang menggunakan polyester.

Selain itu, pelepasan lentera ke udara dianggap sangat berbahaya bagi penerbangan. Mengingat lentera ini akan melayang ke udara sehingga bisa jadi menghalangi jalur penerbangan yang beresiko terjadinya kecelakaan di udara. Otoritas penerbangan Thailand bahkan harus membatalkan 76 penerbangan menuju provinsi Chiang Mai, salah satu wilayah yang menjadi pusat kegiatan pelepasan lentera ke udara. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah Thailand mengeluarkan kebijakan tentang lokasi-lokasi yang diperbolehkan untuk pelepasan lentera.

Pelaksanaan Loy Krathong dan bagaimana pemerintah Thailand mendesain kebijakan yang mengakomodir semua pihak patut diapresiasi. Sehingga kepentingan suksesnya program pariwisata melalui Loy Krathong tidak harus menimbulkan efek negatif baik bagi lingkungan maupun bagi keselamatan pengguna transportasi udara.

Krathong yang dilarungkan di danau atau sungai sebagai simbol penghormatan kepada dewa atau pelepasan emosi negatif manusia

Thailand sebagai negara tujuan destinasi wisata dunia, cukup sadar dengan kebutuhan-kebutuhan para pengunjung. Menurut salah satu informasi, hampir setiap minggu pemerintah Thailand mengadakan festival untuk menarik pengunjung ke negaranya. Selain itu, berbagai sarana transportasi disiapkan untuk memastikan bahwa semua destinasi wisata yang ada bisa terakses dengan baik, misalnya BTS, MRT, Bis AC hingga yang gratis, taksi, ojek dan Canal transportation (transportasi sungai).

Fasilitas-fasilitas pendukung lainnya adalah tersedianya Tourism Information Center di berbagai titik keramaian, sehingga kita bisa bertanya kepada staf yang cukup lancar berbahasa inggris. Ada juga tourism police, untuk membantu menjaga keamanan para pengunjung serta ingin melaporkan apabila pengunjung kehilangan dokumen-dokumen penting.

Untuk belanja, kita dapat menemukan banyak pusat belanja dengan harga terjangkau. Ada juga floating market atau weekend market, pasar yang dibuka hanya pada hari Sabtu dan Minggu dan menjual produk-produk industri kreatif masyarakat Thailand. Untuk memperkuat branding pariwisata dengan industri kreatifnya, otoritas pariwisata Thailand mencanangkan program One Tambon One Produk (OTOP), satu desa satu produk. Jadi, jangan khawatir dengan berapa banyak oleh-oleh yang kita bawa pulang apabila isi kantong kita tidak cukup tebal.

Bagi para sahabat yang ingin berkunjung ke negara Thailand, terutama Bangkok, juga tidak perlu khawatir soal di mana harus menginap. Penginapan mulai harga eksklusif hingga harga backpacker tersedia di sini. Kita bisa akses website-website yang menawarkan informasi tentang penginapan di Thailand.  Untuk yang murah, banyak terdapat hostel di daerah Pratunam, atau Pertchburi Road dengan harga 300-450 baht per malam (sekitar 120k-175k rupiah). Sedangkan bagi wisatawan muslim, hampir di setiap pusat-pusat keramaian terdapat spot makanan halal yang bisa diakses dengan mudah.

Pelajar Indonesia saat mengikuti festival Loy Krathong

Untuk informasi seputar Thailand, bisa diakses di www.tatnews.org, www.twitter.com/richardbarrow, www.twitter.com/thailandfanclub, www.tourismthailand.org. Untuk keamanan bisa diakses di www.thailandtouristpolice.com, dan  www.kemenlu.go.id/bangkok/id/kontak-kami.aspx. Akhirnya, berwisata ke Thailand telah memberikan jaminan kemanan, kenyamanan dan ketenangan bagi para pengunjungnya.

 

 

 

 

 

 

 

Profil penulis:

Irwan Rahadi adalah seorang mahasiswa Master Applied Mathematics di Mahidol University, yang juga merupakan Presiden Permitha periode 2017-2018

Categories
Asia dan Oseania Berita Festival Luar Negeri PPI Negara Seni & Olahraga

Melihat Meriahnya Pameran Budaya Indonesia di Harbin, China

PPI Tiongkong, Harbin (9/17) – Perhimpunan Mahasiswa Indonesia Tiongkok (PPIT) Harbin kembali ikut serta dalam acara mahasiswa yang bertajuk Festival Budaya Internasional. Pagelaran itu diselenggarakan di kampus Harbin Engineering University (HEU), Harbin, China.

Sejak pagi panitia sudah mempersiapkan materi yang akan ditampilkan saat acara, mulai dari properti, bahan makan, kain hingga snack khas Indonesia yang siap disuguhkan kepada pengunjung yang hadir.

Acara yang dimulai sekitar pukul 10.00 pagi (waktu Harbin) itu mendapat sambutan yang sangat meriah dari pengunjung yang hadir. Begitu pula dengan stand negara Indonesia yang sangat ramai dikunjungi. Sejak stand baru dibuka, para pengunjung antusias mencoba makanan khas Indonesia, bermain alat musik seperti angklung dan bertanya mengenai Indonesia.

Pada acara itu, setiap negara seperti Indonesia, Inggris, US, Korea, Jepang, Thailand, Vietnam, Mongolia, Rusia dan beberapa negara lainnya diberikan kesempatan untuk menyuguhkan tarian khas negaranya diiringi alunan musik yang menambah kemeriahan festival tahun ini.

Acara Festival Budaya Internasional dihadiri lebih dari 1.000 pengunjung yang datang sejak pagi hingga selesai acara.  Ini merupakan salah satu kegiatan yang diikuti PPIT Harbin yang secara rutin diadakan di beberapa kampus besar Harbin. Hal ini menjadi wadah yang bagus untuk mengenalkan seni dan budaya Indonesia kepada masyarakat di luar negeri, sekaligus promosi pariwisata Indonesia di mata masyarakat internasional.

Selain itu juga, melalui kepanitiaan,  kegiatan itu juga sebagai wadah untuk merekatkan solidaritas mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Harbin.

 

Penulis : Putra Wanda (Pengurus Pusat PPI Tiongkok)

Mahasiswa Doctoral di HUST, Harbin, China

 

Editor: Kartika Restu Susilo

 

 

 

 

Categories
Asia dan Oseania Berita PPI Negara

“Building Competitiveness in a Globalized World”

Today, we are in ASEAN Economic Community (AEC) which requires every ASEAN country to prepare itself for global competition, such as improving the quality of its human resources, improving the quality of infrastructure and others. Indonesian Student Association in Thailand (Permitha) with more than twenty branches and nearly four hundred students, is a home where Indonesian student gather and implement many kinds of programs. Permitha as a part of the academic society studying in Thailand have responsibility in supporting the preparation of the human resources for ASEAN Economic Community. Permitha, a few times ago, organized an international seminar on “Building Competitiveness in a Globalized World” in collaboration with Indonesia Diaspora Network in Thailand, Indonesian Embassy and Mahidol University. It was a pleasure to be the organizer and also proud to meet some 200 promising future leaders from 10 countries. This seminar was held in Mahidol University, Salaya.

The main objectives of this activities were:
1. To discuss how we can build competitiveness as future leaders
2. Enhance cooperation between Indonesian students and the Indonesia Diaspora Network in Thailand through sharing knowledge and experiences
3. Help to prepare ASEAN students to become future competitive leaders.

Participants
1. Indonesian Students in Mahidol University
2. International Students in Mahidol University

Place
Graduate Studies Building, 4th floor, Mahidol University

Speakers
1. Yurdi Yasmi, Coordinator at FAO Regional Office for Asia and the Pacific
2. Ramdani Sirait, senior journalist, writer and corporate manager
3. Captain Priyo Sampurnadi, Flight Instructor in Thai Lion Air

Next, this program will be done continuously within several Thailand’s universities. Hopefully, these seminars will give valuable lessons for many international students in Thailand, in order to improve the quality of human resources.

Moreover, in next two months, Permitha will conduct the ASEAN Youth Summit 2017. The keynote speakers will be from Indonesian Ambassador, The Kingdom of Thailand, experts from ASEAN regional, and also representatives from ASEAN student organizations. There will be some performances of ASEAN cultures as well.

(dok.PPID/nurjaeni)

Categories
Berita PPI Dunia

Hasil Rekomendasi Simposium Internasional ke-9 PPI Dunia

Simposium Internasional Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia tahun ini dihelat di University of Warwick, United Kingdom. Simposium tahunan PPI Dunia tersebut berlangsung dari tanggal 24 Juli hingga 26 Juli 2017. Simposium kali ini mengusung sebuah tema “Accelerating Indonesia’s National Potential Towards 2030”.

 

Pembukaan

Perhelatan ini dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan sambutan dari Prof. Christine Ennew, Alanda Kariza sebagai Ketua PPI UK, dan Intan Irani sebagai Koordinator PPI Dunia 2016/2017. Acara kemudian dilanjutkan dengan Keynote Speech oleh Richard Graham MP (UK Trade Envoy to Indonesia and Chairman of Indonesia All Party Parliamentary Group) yang dapat dibaca lebih lanjut di sini. Setelah pembukaan dan kata sambutan, acara dilanjutkan dengan diskusi panel.

 

Diskusi Panel

Pada hari pertama terdapat tiga sesi panel diskusi yang diawali oleh panel diskusi utama  dengan tema “How can Indonesia’s budding creative industry & entrepreneurship solidify Indonesia’s creative economy?” Panel diskusi ini dibawakan oleh Prof. Dr. T.A Fauzi Soleiman, Didiet Maulana, dan Dian Pelangi.

Kemudian dilanjutkan dengan 3 panel diskusi secara paralel, yaitu mengenai:

  1. Entrepreneurship oleh Handry Satriago, Kusumo Martanto, dan Nancy Margried
  2. Development oleh Tri Rismaharini, Hiramsyah S. Thaib, dan Budiman Sudjatmiko
  3. Literature & Publishing oleh Andrea Hirata, Khairani Barokka, dan Dewi Laila

Terakhir adalah 4 panel diskusi secara paralel yang membahas mengenai:

  1. Fashion oleh Dian Pelangi, Ria Miranda, dan Elidawati
  2. Government & Politics oleh Yanuar Nugroho, Adam Tyson, dan Arief Zulkifli
  3. Education oleh Eka Simanjuntak, George Saa, Najelaa Shihab, dan Analisa Widyaningrum
  4. Financial Services oleh Endy Dwi Tjahjono, Destry Damayanti, dan Professor Mohammed Abdel-Haq

Seminar Indonesian Scholar International Convention (ISIC)

Seluruh peserta menghadiri seminar yang dibawakan oleh public figure serta pemerintah Indonesia. Sudirman Said  yang merupakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyampaikan topik “Indonesia’s Demographic Boost in 2030.” Kemudian acara dilanjutkan dengan panel diskusi utama dengan topik “How to best prepare Indonesia’s Young Generation for 2030 Demographic Boost?” yang dibawakan oleh Handry Satriago (CEO daari GE Indonesia), Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, M.A (Gubernur Nusa Tenggara Barat), Dr. David Johnson (Reader in Comparative and International Education University of Oxford).

Rapat Tahunan PPI Dunia

Sebagai permusyawaratan tertinggi PPI Dunia, Simposium Internasional ini tidak hanya menjadi wadah berkumpulnya anggota delegasi dari berbagai PPI Negara untuk bersilaturahmi dan menghadiri diskusi-diskusi panel. Tetapi juga merupakan tempat untuk mahasiswa-mahasiswi Indonesia tersebut bertukar pikiran dan mengkontribusikan pengetahuan mereka untuk menghasilkan butir-butir rekomendasi Simposium Internasional PPI Dunia.

Sidang internal yang merupakan agenda utama Simposium Internasional PPI Dunia berlangsung pada tanggal 25 hingga 26 Juli 2017. Sidang yang dilaksanakan pada pukul 09.30 – 00.00 ini dihadiri oleh 27 PPI Negara. Sidang ini dibagi menjadi 8 pleno dan dipimpin oleh 3 orang pimpinan sidang, yaitu Nazlatan Ukhra Kasuba (PPI Malaysia), Muhammad Iksan Kiat (PERMIRA Rusia), dan Bahesty Zahra (PPI Iran).

Dalam sidang tersebut, telah dilakukan pengesahan amandemen AD/ART PPI Dunia yang selama ini dirancang oleh Tim Ad Hoc AD/ART PPI Dunia. Laporan Pertanggungjawaban Dewan Presidium PPI Dunia 2016/2017 juga diterima oleh para delegasi PPI Negara tanpa syarat. Setelah itu, sidang dilanjutkan dengan pembahasan rekomendasi program kerja untuk kepengurusan PPI Dunia periode selanjutnya. Para anggota delegasi PPI Negara dibagi menjadi 4 komisi dan melakukan diskusi per kelompok. Komisi-komisi tersebut adalah:

  1. Komisi Pendidikan, dipimpin oleh Pandu Utama Manggala (PPI Jepang);
  2. Komisi Sosial dan budaya, dipimpin oleh Muhammad Dhafi Iskandar (PPI Perancis);
  3. Komisi Ekonomi, dipimpin oleh Dianna Priscyla Kusuma Dewi (PPI Swiss); dan
  4. Komisi Teknologi Digital, dipimpin oleh Masduki Khamdan Muchamad (PPI Malaysia).

Setelah selesai dengan diskusi komisi, sidang pada tanggal 25 Juli 2017 tersebut ditutup. Sidang kemudian dilanjutkan pada hari selanjutnya yang membahas tentang pemilihan Dewan Presidium PPI Dunia untuk periode selanjutnya, 2017/2018. Setelah diskusi yang intens, akhirnya terpilih susunan Dewan Presidium 2017/2018 sebagai berikut:

  • Koordinator PPI Dunia 2017/2018: Pandu Utama Manggala (PPI Jepang)
  • Koordinator kawasan Amerika Eropa 2017/2018: Muhammad Iksan Kiat (PERMIRA)
  • Sekretaris kawasan Amerika Eropa 2017/2018 : Muhammad Syukron (PPI Polandia)
  • Koordinator kawasan Asia-Oceania 2017/2018 : Zulfadli (PPI Malaysia)
  • Sekretaris kawasan Asia-Oceania 2017/2018 : Ester Liana (PPI Tiongkok)
  • Koordinator kawasan Timur Tengah dan Afrika 2017/2018 : Ikhwan Ramputi (PPI Mesir)
  • Sekretaris kawasan Timur Tengah dan Afrika 2017/2018 : Bahesty Zahra (PPI Iran)

 

Dan Tuan Rumah Penyelenggara Simposium PPI Dunia Periode 2017/2018 sebagai berikut:

  • Simposium Internasional PPI Dunia 2018: PERMIRA Rusia
  • Simposium kawasan Amerika-Eropa 2018: PPI Jerman
  • Simposium kawasan Asia-Oceania 2018: PERMITHA Thailand
  • Simposium kawasan Timur Tengah-Afrika 2018: PPI Pakistan

Terakhir, sidang diakhiri dengan pengesahan hasil diskusi komisi yang dilakukan pada hari sebelumnya. PPI Dunia melahirkan gagasan untuk Indonesia.

Diskusi per komisi tersebut menghasilkan Rekomendasi Simposium Internasional PPI Dunia sebagai berikut:

 

KOMISI PENDIDIKAN

  1. Memfokuskan pada kajian isu perbaikan kualitas dan profesionalisme guru serta manajemen tata kelola pendidikan.
  2. Program konkret yang dapat dilakukan Antara lain adalah dengan mengadakan kegiatan studi banding dan pelatihan guru serta kepala sekolah dari daerah di Indonesia ke luar negeri. Mitra utama yang dapat dirangkul untuk program ini antara lain adalah Cerdas Digital, Ruang Guru dan dapat menggunakan platform Pesta Pendidikan.

 

KOMISI SOSIAL BUDAYA

  1. Mendukung program pengembangan destinasi wisata dari Kementrian Pariwisata RI, dan bekerjasama dengan sebaik-baiknya untuk memperkenalkan destinasi pariwisata di daerah-daerah Indonesia.
  2. Bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata RI dalam penyediaan konten, jaringan promosi, serta hal-hal lainnya untuk meningkatkan kualitas acara-acara budaya yang akan dilaksanakan oleh masing-masing PPI Kota, Negara dan/atau kawasan.
  3. Bersinergi dengan komunitas lokal untuk mengadakan kegiatan budaya yang menonjolkan karakteristik dan kearifan budaya setempat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjangkau komunitas lokal tersebut adalah dengan menyebarkan angket dan sayembara. PPI Dunia berkomitmen untuk menjadi mentor bagi para komunitas lokal ini mengembangkan keterampilannya.
  4. Membuat kajian advokasi isu kemanusiaan baik di tanah air maupun isu HAM di luar negeri seperti Palestina dan negara lain yang dianggap perlu, dengan merangkul berbagai kalangan dan pakar.

 

KOMISI EKONOMI

  1. Rencana aksi yang bersifat internal
    • PPI Dunia menjadi Duta pariwisata Indonesia di masing masing Negara.
    • PPI Dunia menjadi Duta ekonomi kreatif di masing masing Negara
    • PPI Dunia berusaha membangun kerjasama multidisiplin untuk mengembangkan perekonomian kreatif Indonesia
  1. Rencana aksi yang bersifat eksternal
    • Pengembangan ekonomi pariwisata di Indonesia
    • Pengembangan ekonomi syariah di Indonesia
    • Kajian terkait pembangkit listrik dan pengembangan energi terbarukan
    • Kajian terkait diversifikasi industri agar Indonesia tidak terlalu tergantung kepada ekspor sumber daya alam
    • Peningkatan kapasitas SDM Indonesia sebagai salah satu upaya optimalisasi penggunaan minyak, gas dan hasil tambang nasional

 

KOMISI TEKNOLOGI DAN DIGITAL

  1. Mengkaji kebijakan pemerintah dan komparasi studi dengan negara lain yang lebih unggul dalam pengguaan fintech, kajian ini akan dikaji dalam beberapa sub topik:
    • Regulasi E-Commerce: Kajian regulasi e-commerce sehingga dapat membangun lingkungan yang kondusif bagi para pemuda penggiat start up.
    • Security: Kajian mengenai cyber security sangat penting, terutama bagaimana cara meningkatkan kesadaran diri akan pentingnya privacy dan information security
    • Digital Currency: Penggunaan mata uang digital (bitcoin) akan semakin masif, sehingga dibutuhkan kajian untuk dapat membangun lingkungan yang sesuai dengan karakteristiknya sekaligus mencegah penyalahgunaannya.

 

Page 1 of 4
1 2 3 4