Categories
Travel & Kuliner

Menelusuri Salah Satu Teluk Terindah di Dunia – Penghu, Taiwan.

Taiwan, ialah sebuah negara kepulauan yang cukup kecil yang berada di sebelah utara filipina dan di sebelah timur selatan dari China. Disebut-sebut sebagai “Heart of Asia”, karena sangat unggul pada bidang transportasi dan pariwisata. Salah satu tempat wisata yang masuk dalam “The Most Beautiful Bays in the World Club” (MBBWC), adalah Penghu County.

Penghu merupakan kepulauan yang letaknya satu jam perjalanan ke barat dari Kota Chiayi, salah satu kota yang terletak di Taiwan. Selain menggunakan kapal ferry, kita juga bisa menggunakan pesawat kurang lebih 30 menit dari Taipei atau Kaohsiung untuk mencapai Penghu. Sesampainya di Penghu, kita bisa menggunakan banyak moda transportasi mulai dari bus,  taksi, rental sepeda motor atau rental mobil.

Keeksotisan pulau ini terlihat dari pantainya yang berpasir putih, struktur unik geologis dengan tebing basal, yang menjadikan pulau ini memiliki kesan tersendiri di hati para turis yang berkunjung. Terdapat beberapa destinasi yang tentunya harus disinggahi di sini.

Destinasi pertama adalah Kuieibishan Geo Park.  Hal penting yang harus diperhatikan di tempat wisata ini adalah kita harus datang sebelum jam 09.30 pagi. Sebab, pada waktu tersebut, ada peristiwa alam yang seolah seperti kita kembali ke zaman Nabi Musa,  yaitu terbelahnya lautan dan munculnya jalan untuk menyeberang ke pulau kecil lainnya. Secara ilmiah ini terjadi karena surutnya air laut pada saat itu. Namun, terlihat seperti keajaiban jika anda kali pertama menyeberangi laut tersebut. Tempat ini juga menjadi tempat yang pas untuk berfoto ria, dengan pemandangan pantai , pembangkit listrik tenaga angin, dan ilalang yang bisa menambah efek “kece” pada foto yang kita ambil.

Foto penulis di pantai Kueibisan setelah lautan terbelah setelah jam 10 pagi (dok:pribadi)

Bagi teman-teman yang tertarik dengan geologi, melewatkan Penghu saat berkunjung ke Taiwan merupakan sebuah penyesalan yang besar. Karena Penghu memiliki 5 dari 6 jenis formasi basal yang ada di seluruh dunia. Konfigurasi tebing basal Penghu terbentuk dari magma vulkanik yang membeku, kemudian seiring dengan berjalannya waktu dan kondisi yang berbeda, memunculkan bentuk-bentuk berupa pilar, lipatan maupun patahan. Sebagai contoh adalah tebing kolom basal Daguoye. Tebing ini berbentuk susunan pilar basal hexagonal pada bagian tepi dengan sudut yang terlihat sangat jelas dan tajam, membuatnya terlihat sangat menakjubkan.

Pemerintah setempat juga membangun museum geologi di Penghu yang letaknya berada di dekat Whale Cave, salah satu landmark di Penghu.  Informasi mengenai bagaimana sejarah terjadinya Kepulauan Penghu dipaparkan di museum ini. Selain tempat-tempat di atas, masih banyak tempat wisata lainnya seperti Penghu Banyan Tree, Penghu Great Bridge, Penghu Er Kan Village, Da Yi Temple, West Fortress dan Love Shape of Stone Fish Traps.

Foto Yayat dengan latar tebing kolom basal Daguoye (dok:pribadi)

Selain keindahan alamnya, peradaban masyarakat Penghu dan beberapa festival tahunannya juga tidak kalah menarik. Kawasan kota Magong menjadi inti pusat perkotaan. Kota “Seven Streets”, begitu julukannya,  menjadi lokasi terfavorit bagi wisatawan saat berkunjung ke sana.  Selain hasil tangkapan laut yang banyak, Penghu juga memiliki festival kembang api yang sudah memasuki tahun ke-15 pada tahun 2018 ini. Festival dimulai dengan suguhan tarian tradisional setempat yang atraktif selama kurang lebih 1 jam. Kemudian, setelah semua orang berkumpul di pantai Magong, pertunjukan kembang api dimulai. Setelah kembang api pertama muncul, semua mata pengjunjung yang datang akan dimanjakan dengan keindahan kembang api yang disertai oleh iringan musik yang indah. Jika Jepang memiliki festival kembang api yang disebut hanabi, di Penghu juga mempunyai festival kembang api yang tak kalah besar dan dengan durasi yang cukup lama yaitu 20 menit.

Foto saat festival kembang api Penghu berlangsung (dok:pribadi)

Sebagai pelajar yang menempuh studi di Taiwan, saya sangat kagum oleh Penghu dan berharap bisa mencontoh atau bahkan bisa membuat lebih baik lagi dari Penghu di Indonesia kelak di masa yang akan datang.

(Penulis  : Hanas Subakti- PPI Taiwan)

Categories
Asia dan Oseania Berita PPI Negara

Diakreditasi DIKNAS RI, PKBM PPI Taiwan Siap Tingkatkan Kualitas Pendidikan bagi PMI

Tahap kedua visitasi akreditasi PKBM PPI Taiwan di KDEI Taipei [Dok: Humas PPI Taiwan]
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) PPI Taiwan adalah lembaga yang memfasilitasi Program Kejar Paket Program Paket A, Program Paket B, Program Paket C serta Kelompok Belajar atau Kejar. Lembaga ini merupakan lembaga pendidikan nonformal yang difasilitasi oleh Pemerintah Indonesia untuk siswa yang ingin menempuh pendidikan, namun tidak melalui jalur sekolah di Taiwan.

Proses ini dimulai dengan persiapan borang akreditasi dengan mengikuti standar Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Non Formal (BAN PAUD PNF) selama dua hari pada tanggal 13-14 Oktober 2018. Selanjutnya, PKBM PPI Taiwan menjalani proses visitasi, baik secara dokumen maupun observasi lapangan oleh asesor BAN PAUD PNF.

Dua asesor, Dr. Firman dan Bahrudin, melaksanakan proses visitasi melalui dua tahap yaitu pemeriksaan dokumen dengan meneliti seluruh butir-butir instrumen akreditasi PKBM dan bukti fisiknya serta melakukan wawancara dengan pimpinan, dan staff manajemen.

Tahap kedua yang dilaksanakan ditempat belajar-mengajar, yaitu di Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei. Asesor melakukan obsevarsi terhadap proses belajar-menjagar siswa, wawancara guru dan siswa, serta diskusi dengan pihak pimpinan KDEI yang memfasilitasi proses belajar-mengajar PKBM PPI Taiwan.

Menurut Ketua BP PKBM PPI Taiwan, Rekyan Regasari Mardi Putri, S.T., M.T., ada 8 standar yang dinilai dalam proses akreditasi ini. Dia berharap dari proses akreditasi pertama ini, PKBM PPI Taiwan mampu mendapatkan hasil terbaik. Dia juga menyampaikan bahwa seluruh elemen yayasan dan BP PKBM telah menyiapkan yang terbaik, dan apa yang telah dilakukan selama ini oleh PKBM PPI telah tercantum dalam dokumen akreditasi.

Di lain pihak, ketua yayasan pendidikan PPI Taiwan, Hasan Ismail, S.Pd., M.Sc., mengatakan bahwa ada harapan besar agar proses akreditasi ini menjadi momentum untuk perbaikan secara berkelanjutan dari seluruh proses dan manajemen PKBM PPI. Dengan senantiasa menjadikan standar-standar yang ada di borang sebagai acuan manajemen dan proses belajar mengajar maka PKBM PPI akan memiliki kepastian dalam jaminan mutu lulusan dan kredibilitas lembaga.

Ketua PPI Taiwan, Sutarsis, yang selama dua hari proses visitasi senantiasa mendampingi, mengatakan bahwa walaupun PKBM PPI Taiwan adalah pengabdian masyarakat bagi mahasiswa indonesia yang studi di Taiwan, namun pengabdian ini harus tetap mengikuti standar pendidikan Kementrian Pendidikan RI, agar PPI dapat menjamin kualitas pengabdiannya kepada Pekerja Migran Indonesia di Taiwan (PMI). Serta juga mengajak seluruh PMI di Taiwan memanfaatkan layanan pendidikan PPI Taiwan ini demi kehidupan yang lebih baik. [Humas PPI Taiwan]

Badan Pengurus PKBM PPI Taiwan setelah selesai proses akreditasi [Dok. Humas PPI Taiwan]

Categories
Berita

Indonesian Week 2017 Mengguncang Taiwan Selatan

Indonesia itu bangsa yang besar, banyak kebudayaan dan juga hal-hal menarik yang dapat dieksplorasi serta diperkenalkan kepada dunia. Jadi adakah alasan untuk berhenti bangga menjadi Indonesia?

Pagi ini (09/12) publik Taiwan kembali dimanjakan oleh sajian budaya Indonesia. Bertempat di National Sun Yat Sen University (NSYSU) Kaohsiung, Perhimpunan Pelajar Indonesia menggelar event terbesarnya di kepengurusan 2017/2018 yang bertajuk INDONESIAN WEEK 2017 “DIVERSITY IS OUR STRENGTH”.

“Kami sangat senang, pelajar Indonesia yang ada di Taiwan sangat aktif dalam menggencarkan upaya promosi kebudayaan Indonesia lewat acara-acara semacam ini. Dan sungguh, kami – Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei – bangga ketika melihat insan-insan muda yang telah memilih untuk jauh-jauh meninggalkan tanah air untuk menuntut ilmu, tapi masih rela meluangkan waktu untuk menjadi pioneer dalam pengenalan budaya dan pariwisata Indonesia di kancah dunia,” ujar Siswadi, Wakil Kepala KDEI di Taipei saat pidato pembukaan acara.

Para tamu undangan beserta ketua PPI Taiwan memainkan melodi angklung saat pembukaan Indonesian Week 2017 oleh PPI Taiwan

Salah satu keunikan dari Indonesian Week 2017 ini ada di letak pelaksanaannya. Seperti yang disampaikan oleh Ketua PPI Taiwan, L. Tri Wijaya N. Kusuma, saat membuka Indonesian Week 2017 bahwa pada kepengurusan ini PPI Taiwan berusaha menjalankan semboyan yang dijiwai dari sila ke-5 Pancasila, yaitu “Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat PPI Taiwan”. Yang bermakna bahwa sudah saatnya kegiatan-kegiatan dan poros-poros pergerakan mahasiswa di Taiwan tidak hanya terpusat pada wilayah utara (Taipei, Taoyuan, dan sekitarnya) saja, melainkan harus ada upaya untuk memeratakan perhatian PPI Taiwan ke seluruh wilayah yang dinaunginya.

“Itulah alasan utama mengapa kami menggeser pelaksanaan event terbesar kami kali ini ke Kaohsiung,” imbuh L. Tri Wijaya N. Kusuma.

Lewat kerjasama dan hubungan komunikasi harmonis dengan PPI Kaohsiung yang diketuai oleh Angger Baskoro, PPI Taiwan berhasil menempatkan lokasi acara ini di sebuah kampus indah dengan pemandangan tak biasa berlatarkan gunung, serta berbatasan langsung dengan laut, NSYSU.

Makanan ringan (camilan) tradisional pun tak luput dari sasaran para pengunjung booth Indonesian Week 2017

Banyak sekali sponsor yang turut meramaikan acara ini, diantaranya adalah Kementerian Pariwisata lewat tagline Wonderful Indonesia-nya yang diwakili oleh kehadiran ibu Soufie dan ibu Nining, Indomie (Indofood), Bank Rakyat Indonesia, Bank Negara Indonesia, INDEX, Telkom Indonesia di Taiwan, dan masih banyak lagi. Tak lupa PPI Taiwan juga menggandeng Radio PPI Dunia, Garuda Formosa TV, dan Radio Taiwan International, sebagai media partner resmi dalam acara Indonesian Week kali ini.

Pemberian souvenir Wonderful Indonesia kepada pengunjung booth

“Hari pertama dibuka dengan pengadaan booth pameran dan kuliner khas Indonesia, yang terbagi atas beberapa kategori pulau-pulau besar seperti Sumatera, Celebes, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua, dsb,” kata Julian Fikri, ketua panitia Indonesian Week 2017.

Tak hanya itu, bahkan hari pertama ini ternyata juga diramaikan dengan perlombaan dan pengadaan space untuk permainan tradisional dan penampilan melodi dari angklung sebagai awalan. Yang gong besarnya akan ditabuh pada keesokan harinya (10/12) yaitu dengan penampilan-penampilan sendra tari, choir lagu-lagu tradisional, serta permainan alat musik tradisional khas Indonesia di atas panggung auditorium NSYSU.

Nah bagaimana, menarik bukan? Karena sebagai bangsa yang besar tak bisa hanya mengandalkan label kebesaran saja untuk dijadikan tameng identitas, melainkan juga perlu adanya upaya serius untuk mempertahankan kebesaran yang dimiliki. Salah satunya adalah dengan pengenalan kebudayaan dan potensi pariwisata yang dimiliki. Dan para pelajar di Taiwan telah membuktikan upaya konkret mereka dalam hal ini.

 

Oleh: Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha

Categories
Berita Festival Luar Negeri PPI Dunia

PPI Fair 2017: Kiat, Sharing, dan Motivasi Belajar di Luar Negeri

 

PPI Fair 2017 merupakan acara kolaborasi antara BEM ITS dengan PPI Dunia. PPI atau perhimpunan pelajar Indonesia adalah perkumpulan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri. Acara ini dilaksanakan di Teater A, kampus ITS Sukolilo. Acara ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 30 September 2017 sejak pukul 09.00 sampai 15.00 WIB. Acara ini dihadiri oleh 110 mahasiswa dari berbagai universitas di Surabaya. PPI Fair 2017 berisikan seminar dan pembukaan stand beberapa negara, yaitu Polandia, Malaysia, Portugal, dan Sudan. Pembicara yang turut memeriahkan acara ini adalah M. Ubaidillah dari PPI UAE, Fathan Asadudin dari PPI China, dan Yoga Dwi dari PPI Taiwan. Materi yang dibawakan oleh ketiga pembicara tersebut seputar pengalaman, beasiswa, dan motivasi melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Mahasiswa terlihat antusias dalam mengikuti seminar, banyak mahasiswa yang sengaja bertanya kepada pembicara mengenai apa saja hal-hal yang perlu disiapkan untuk studi di luar negeri, serta rintangan yang sering dihadapi. Selain itu, mahasiswa juga antusias melihat workshop di stand-stand PPI yang tersedia. Terlebih lagi, kedatangan media partner PPI Dunia, INSPIRA, yang turut memeriahkan stand di PPI Dunia 2017. Buku-buku yang dijual oleh INSPIRA meliputi kiat-kiat mendapatkan beasiswa serta buku latihan TOEFL, TOEIC, dan TOEFL iBT yang ramai diburu oleh mahasiswa.

“Bukan masalah luar negerinya, namun ada urgensi kompetensi SDM yang harus dipenuhi. Kalau kita stay di dalam negeri, kita tidak bisa merasakan persaingan yang sebenarnya”, ujar Fathan Asadudin menjawab pertanyaan pentingnya studi di luar negeri. Selain itu Yoga Dwi menimpali, “Saya prefer melaksanakan studi di luar negeri karena banyak hal baru yang bisa dieksplorasi dan dipelajari terutama di bidang budaya dan komunikasi”. M. Ubaidillah juga menjawab pertanyaan ini dengan membahas tentang pentingnya networking, “Ketika belajar di luar negeri kita bertemu dengan masyarakat internasional, ilmu yang diberikan juga semakin beragam dari berbagai background dengan basic concern yang berbeda”, ujarnya menutup seminar PPI Fair 2017.

(dok.PPID/nurjaeni)

Categories
Upcoming Event

Voice of Indonesia: “Hari Kebangkitan Teknologi Nasional”

Voice of Indonesia: PPI Dunia bersama Radio Republik Indonesia Proudly present:

“Hari Kebangkkitan Teknologi Nasional”

Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, disingkat Hakteknas merupakan salah satu hari bersejarah nasional yang diperingati setiap tanggal 10 Agustus. Hakteknas merupakan tonggak sejarah kebangkitan teknologi di Indonesia, yang diawali dengan penerbangan perdana  pesawat terbang  N-250 Gatotkaca pada tanggal 10 Agustus 1995 di Bandung. Ingin tahu lebih lanjut apa itu Hari Kebangkitan Teknologi Nasional?

Simak perbincangan menarik ini bersama perwakilan PPI Dunia di Voice of Indonesia:

Hari/ Tanggal      : Senin, 7 Agustus 2017

Narasumber 1      : Rahmandhika Firdauzha

University             : Material Science and Engineering, National Central University Taiwan

Tema                      : Youth Forum (English Based)

Pukul                     : 10.30 WIB (3.30 UTC)

 

Narasumber 2      : Farah Adrienne

University             : Water Conser and Hydro-power Engineering, Zhengzhou University

Tema                      : KAMU (Kami Yang Muda) (Bahasa Indonesia Based)

Pukul                     : 11.30 WIB (4.30 UTC)

Hari Kebangkitan Teknologi Nasional

Red: Citra/ Ed: Amir

Categories
Berita Eropa dan Amerika PPI Dunia

Simposium PPI Amerika-Eropa 2017 (Hari 1) – PPI AMEROP Fokus Bahas Ekonomi Digital

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) se Amerika-Eropa (AMEROP) menggelar pembukaan simposium tahunan pada hari Jumat (19/5) bertempat di KBRI Washington D.C., Amerika Serikat. Berlatar belakang regulasi dan perkembangan dunia ekonomi digital Indonesia yang belum stabil, maka tema yang diangkat kali ini adalah “Kekuatan bangsa: Ekonomi Digital sebagai keunggulan bersaing Indonesia”.

Acara yang akan berlangsung hingga hari Minggu (21/5) ini dihadiri oleh Koordinator PPI Dunia Intan Irani, Koordinator PPI AMEROP 2016-2017 Kreeshna Siagian, Sekretaris Jendral PERMIAS Nasional Nadi Guna Khairi, dan Ketua Panitia Simposium PPI AMEROP Andre Yahya. Dalam sambutannya, Koordinator PPI Dunia Intan Irani mengatakan dirinya merasa bangga karena akhirnya bisa datang ke salah satu simposium kawasan di PPI Dunia. ’’Saya yakin bahwa kita bisa menjadi generasi masa depan yang membawa perubahan positif dan kreatifitas efektif demi Indonesia yang lebih baik,’’ papar Intan.

Kata sambutan oleh Bapak Ismunandar, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Washington, D.C.

Rentetan kegiatan simposium kawasan telah dimulai sejak Maret lalu yang dimulai di Taiwan untuk Simposium kawasan Asia-Oseania, lalu di Madinah untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika, dan kini Washington, D.C. untuk kawasan Amerika-Eropa. Satu lagi yang menjadi puncak dari kepengurusan Intan nanti adalah Simposium Internasional PPI Dunia yang akan digelar di University of Warwick, United Kingdom Juli mendatang. PPI AMEROP sendiri, terdiri dari sekitar 16.000 anggota pelajar yang tersebar 25 negara. Namun untuk simposium kali ini dihadiri oleh 26 anggota delegasi dari 15 perwakilan PPI Negara.

Koordinator PPI Amerop 2016-2017 Kreeshna Siagian juga merasa sangat optimis dengan masa depan Indonesia di tangan para pemuda yang sekarang. ’’Kalau Soekarno bilang beri aku 10 pemuda untuk mengguncang dunia, di sini sudah lebih dari 10 pemuda, maka kita benar-benar bisa mengubah dunia,’’ papar pria yang juga Ketua PPI Belgia tersebut.

Setelah selesai dengan kata sambutan, acara dilanjutkan dengan Focus Group Discussion. Para delegasi yang datang dibagi dalam 4 komisi yang berbeda, yaitu komisi Ekonomi, Sains dan Tekonlogi, Sosial dan Budaya, dan Politik dan Hukum. Dalam sesi ini, para delegasi dari tiap komisi membahas rancangan program kerja dan rekomendasi sesuai dengan tema simposium kali ini, yaitu Ekonomi Digital. Pembahasan pada hari pertama ini akan dilanjutkan pada hari ketiga yang selanjutnya akan disahkan menjadi program kerja PPI AMEROP periode selanjutnya.

Gala Dinner

Setelah pembukaan secara simbolis yang ditandai dengan pemukulan gong oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Washington, D.C., Bapak Ismunandar, dan Koordinator Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya KBRI Washington, D.C., Bapak Siuaji Raja, acara dilanjutkan dengan Gala Dinner bersama dengan panitia, anggota delegasi, dan staf KBRI Washington, D.C.

(Dinda / NZ)

 

Delegasi dan Panitia Simposium PPI Amerika-Eropa 2017

 

 

 

Categories
Berita

Simposium Asiania – Taipei 2017 Hari Kedua, 24 Maret 2017

Pada hari kedua simposium Taipei ini berlangsung Simposium Asia-oceania. Simposium hari kedua dibuka oleh Ketua PPI Taiwan, Pitut Pramudji; Ketua PPI Asia-Oceania, Bagus Ari Hayanto dari PPI Tiongkok dan wakil Ketua KDEI Taipei, Siswandi T.Sibero.

 

Simposim hari ini menghadirkan Keynote Speech dari Yu-Chen Chiu dari Kementrian Pendidikan Republik China. Yu-Chen Chiu menyampaikan perihal pentingnya kerjasama antara Indonesia dan Taiwan di bidang pendidikan, sehingga diharapkan ada semakin banyak lagi pelajar Indonesia yang akan menimba ilmu di Taiwan.

 

Pada panel 1, dengan tema Pemetaan Permasalah Sektor Pendidikan di Indonesia, hadir pembicara , Ferdiansyah, SE, M.M, Wakil Ketua Komisi X DPR-RI, Arief Suditomo, S.H, M.A, Anggota Komisi VIII DPR RI, dan Dr.Ir. Erry Ricardo Nurzal, M.T, M.PA, Kepala Biro Perencanaan Kemenristekdikti.

 

Narasumber pertama, Ferdiansyah menekankan bahwa ada tiga permasalahan utama dalam pendidikan di Indonesia, yaitu pemerataan akses, mutu dan relevansi, serta akuntabilitas dan tata kelola pendidikan.

 

Sementara itu, Arief Suditomo lebih memfokuskan pada cara pandang dalam menghadapi permasalahan pendidikan di Indonesia. Arief juga menyampaikan bahwa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi bagian penting dari pendidikan di Indonesia dan bisa menjadi solusi untuk permasalahan pendidikan di Indonesia.

 

Pada panel 2 dengan tema tantangan global dan regional dalam menyiapkan tenaga kerja yang berdaya saing, hadir beberapa pembicara, yaitu  Maria Indira Aryani (pemenang call for paper), Imdadun Rahmat, Ketua Komisi Nasional HAM Republik Indonesia, Akhyari Hananto-pendiri Good News From Indonesia (GNFI), dan Paramitaningrum, alumnus pelajar Indonesia di Taiwan yang mengajar di Universitas Bina Nusantara.

 

Maria menyampaikan pentingnya pengalaman internasional bagi para pelajar untuk meningkatkan daya saing bangsa Indonesia.

 

Akhyari Hananto menyebutkan bahwa untuk meningkatkan daya saing Indonesia, pemuda perlu memiliki sikap kritis, percaya diri, dan optimis. Dilatarbelakangi fakta banyaknya berita-berita negatif di media Indonesia, Akhyari menyadari bahwa hal ini berdampak pada pesimisme bangsa Indonesia.

 

“Maka GNFI hadir untuk menyebarkan informasi-informasi yang membanggakan dari Indonesia,” papar Akhyari.

 

Pada panel ketiga, topik Kontribusi diaspora Indonesia menjadi bahan diskusi panel yang menghadirkan narasumber Gilang Mukti Rukmana (pemenang Call for Paper), Nangkula Utaberta Ph.D, Presiden WARIS, dan Haris Kusworo, M.Si. yang merupakan peneliti dari Parameter Nusantara.

 

Prof. Nangkula, pengasuh Warisan Alam Budaya dan Reka Bentuk Islam (WARIS) research goup menekankan budaya riset bersama. “Agar anggota lebih mudah menyelesaikan riset karena banyak ide kreatif” papar arsitek yang menyelesaikan gelar Master nya dalam waktu 6 bulan ini.

 

Simposium ini didukung oleh Bank Mayapada, Taiwan Economic and Trade Office (TETO), Institute of International Relation (IIR) NCCU, dan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei.

Categories
Berita

Simposium Asiania – Taipei 2017 Hari Pertama

Hari ini, 23 Maret 2017, telah berlangsung Simposium Taipei 2017 hari pertama. Simposium hari ini dibuka oleh Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei Bapak Robert James Bintaryo, didampingi Prof. Lin Tso Yu Dean Office of General Affairs National Chengchi University (NCCU), dan Pitut Pramuji, Ketua PPI Taiwan.

Acara simposium yang diselenggarakan oleh PPI Taiwan dan PPI Asia-Oseania ini dihadiri oleh delegasi PPI dari beberapa negara, yaitu Tiongkok, Thailand, Filipina, Malaysia, Australia, India, dan Korea, serta perwakilan PPI kampus di Taiwan.

Mengusung tema “Transformasi Hubungan Bilateral Indonesia-Taiwan di Bawah New South Bound Policy: Retrospeksi dan Prospek Kerjasama di Masa Mendatang,” simposium hari ini menghadirkan keynote speaker Prof. Bruce Chih- Yu Chien Negotiator Trade of Negotiations Executive Yuan,  dan Prof. Makarim Wibisono, Duta Besar RI di PBB 2004-2007 yang saat ini menjabat Koordinator Europalia.

Prof. Bruce membawakan keynote speech “The New South Bound Policy” dan Prof. Makarim membawakan keynote speech “One China Policy Conundrum: What Working Practices Can and Can Not Be Done Among Indonesia and Taiwan Relation.”

Simposium dibagi dalam tiga panel. Panel pertama membahas tentang hal yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh fungsionaris Indonesia dan Taiwan dalam lingkungan kerja. Hadir sebagai narasumber panel 1 Anggota Komisi 8 DPR RI Arief Suditomo, Prof. Ching-Lung Tsay, Professor Bidang Asia Study Tamkang University, dan Abdul Rosyid, Pemenang Call for Paper.

Panel kedua membahas tentang peluang dan tantangan di bidang investasi, menghadirkan Yanuar Fajari, Asisten Senior Bidang Investasi KDEI, Muhamad Lutfi Aljufri, Pemenang Call for Paper, serta Founder dan CEO Out of The Box Consultancy, Dr. Mignone Man-Jung Chan.

Panel ketiga membahas tentang perwakilan bidang pendidikan untuk memaksimalkan manfaat bagi kedua negara. Dalam panel ini hadir sebagai narasumber Julian Aldrin Pasha, Kepala Depatemen Ilmu Politik Universitas Indonesia yang merupakan mantan Juru Bicara Kepresidenan, Wilson Gustiawan, Pemenang Call for Paper, Haryanto Gunawan, Konsultan Senior Elite Study of Taiwan, dan Paramitha Ningrum, Dosen Hubungan Internasional Binus University.

 

Simposium ini didukung oleh Bank Mayapada, Taiwan Economic and Trade Office (TETO), Institute of International Relation (IIR) NCCU, dan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei.

Categories
Asia dan Oseania Berita PPI Dunia

Simposium Taipei 2017 Bahas Hubungan Bilateral Indonesia-Taiwan dan Revolusi Mental di Sektor Pendidikan Indonesia

Pada tanggal 23-25 Maret mendatang, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di kawasan Asia-Oseania akan berkumpul di Taiwan dalam acara Simposium Taipei 2017. Simposium di Taipei ini akan dibagi menjadi tiga agenda, yaitu simposium PPI Taiwan, simposium PPI Asia-Oseania dan rapat besar PPI Asia-Oseania.

Simposium Internasional PPI yang digelar di National Cheng Chi University (NCCU), Taiwan ini akan membahas hubungan bilateral Indonesia-Taiwan (Simposium PPI Taiwan) dan pengembangan sektor pendidikan di Indonesia (Simposium PPI Asia-Oseania).

Pada hari pertama Simposium Taipei 2017, akan digelar Simposium PPI Taiwan dengan tema Transformasi Hubungan Bilateral Indonesia-Taiwan: “Retrospeksi dan Prospek Kerjasama di Masa Mendatang.” Pemilihan tema ini dilatarbelakangi adanya kebijakan baru pemerintah Taiwan, yaitu New South Bound Policy.

Pada tahun 2016, pemerintahan baru Taiwan yang dipegang oleh Presiden Tsai Ing-Wen dan Wakil President Chen Chien-Jen mengeluarkan Kebijakan Baru ke Arah Selatan (New South Bound Policy). Taiwan New South Bound Policy merupakan kebijakan yang fokus pada pengembangan sumber daya manusia dan mendorong interaksi atau kerjasama bilateral dalam bidang industri, investasi, pendidikan, kebudayaan, pariwisata dan pertanian antara Taiwan dengan negara-negara ASEAN, Asia Selatan, Australia dan Selandia Baru. Kebijakan ini menjadi peluang dan tantangan bagi Indonesia, yang didiskusikan dalam diskusi panel Simposium PPI Taiwan.

Para peserta akan berdiskusi dalam tiga panel diskusi bersama pembicara yang kompeten di bidangnya. Panel pertama mendiskusikan tentang One China Policy Conundrum: Hal yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh fungsionaris Indonesia dan Taiwan dalam lingkungan kerja. Panel kedua adalah mengenai Trade and Investment Affairs: Ide untuk mendukung hubungan ekonomi Indonesia-Taiwan? Blue print untuk mengakselerasikan kerja sama di masa mendatang. Panel ketiga mendiskusikan tentang Education Diplomacy: mengembangkan program yang saling menguntungkan guna memaksimalkan manfaat bagi kedua belah pihak.

Pada hari kedua Simposium Taipei 2017, akan digelar Simposium PPI Asia-Oseania dengan tema “Tantangan Meningkatkan ‘Revolusi Mental’ di Sektor Pendidikan Indonesia pada Abad ke-21.” Adapun topik diskusi panel pada simposium ini adalah Masalah Pemetaan Sektor Pendidikan di Indonesia, Tantangan Global dan Regional: Peran Pendidikan dalam Meningkatkan Daya Saing SDM di Indonesia, serta Kontribusi Diaspora Indonesia terhadap pembangunan Indonesia.

Sebagai informasi, jumlah pelajar Indonesia di Taiwan saat ini berkisar 4.394 orang. Sementara itu, Indonesia belum memiliki perwakilan yang mengurusi bidang kerjasama pendidikan di Taiwan. Oleh karena itu, PPI Taiwan berharap melalui diskusi dalam simposium ini, bisa mendorong terbentuknya perwakilan Indonesia yang mengurusi bidang pendidikan Indonesia di Taiwan.

Beberapa narasumber yang berpengalaman di bidangnya akan hadir untuk mengisi acara ini yaitu: M. Imdadun Rahmat (Ketua Komnas HAM), Julian Aldrin Pasha (Ketua Departemen Politik Universitas Indonesia), Makarim Wibisono (Duta Besar RI di PBB 2004-2007), Arief Suditomo (Komisi 8 DPR RI), Tirto Soeseno (Pengamat Politik UI), Dr. Ir. Erry Ricardo Nurzal, M.T., M.P.A  (Kepala Biro Perencanaan- Kemenristekdikti), Ferdiansyah (Wakil Ketua Komisi X DPR RI), Akhyari Hananto (Founder Good News from Indonesia), Haris Kusworo (Peneliti Parameter Nusantara), Nangkula Utaberta (Arsitek, Dosen, Penulis) serta para pemenang karya tulis ilmiah mengenai hubungan bilateral Indonesia-Taiwan dan pengembangan sektor Pendidikan di Indonesia yang telah diadakan.

Ardila Putri, Ketua Panitia acara ini berharap simposium ini nantinya akan membangun jaringan antar mahasiswa Indonesia serta memberikan kontribusi positif bagi pembanguanan bangsa Indonesia.
“Semoga pertemuan akademik ini memberikan manfaat bagi mahasiswa Indonesia, baik di Taiwan maupun Asia-Oseania,” ungkap mahasiswi International Master’s Program in Asia-Pacific Studies NCCU ini.

Koordinator PPI Asia-Oseania, Bagus Ari Haryo Anugrah, menjelaskan latarbelakang pemilihan tema yang diangkat dalam Simposium PPI Asia-Oseania. “Tema Tantangan Meningkatkan Revolusi Mental di Sektor Pendidikan Indonesia: di Abad ke-21 ini merupakan hasil diskusi ketua PPI-PPI negara di kawasan Asia-Oseania. Tema ini dinilai sejalan dengan revolusi mental yang di terapkan oleh pemerintah Presiden Joko Widodo sekarang. Semoga melalui simposium tersebut akan lahir para pemimpin2 handal & para generasi penerus bangsa yang akan melanjutkan estafet kepemimpian di masa yang akan datang. jaya terus Indonesia, saatnya yang muda berkarya dan berkontribusi,” ungkap mahasiswa International School Of Capital Medical University, China ini.

Acara ini didukung oleh Bank Mayapada, Taiwan Economic and Trade Office (TETO), Institute of International Relation (IIR) NCCU, dan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, serta sponsor dan donator yang lain.

Categories
PPI Dunia Upcoming Event

Siaran Eksklusif RRI: Road to Simposium PPI Asia-Oseania

Halo teman-teman semua!

Tanggal 23-24 Maret 2017 mendatang, akan diadakab Simposium PPI Asia-Oseania 2017 di Taipei, Taiwan!

Penasaran ingin tahu lebih lanjut tentang acara ini? Jangan lewatkan siaran eksklusifnya hanya di RRI Voice of Indonesia, Senin, 20 Maret 2017, pukul 11.00 WIB!
Live Streaming di: indonesia.rriworldservice.com

Page 1 of 3
1 2 3