Categories
Berita PPI Negara Prestasi Anak Bangsa Timur Tengah dan Afrika

KKMI Libya Mendapatkan Penghargaan Sebagai Organisasi Kenegaraan Teraktif, Inovatif dan Kreatif

Selasa 24 Oktober 2017, Kesatuan Keluarga Mahasiswa Indonesia (KKMI) Libya mendapat penghargaan dari International Islamic Call College (IICC), Tripoli, sebagai organsasi kenegaraan yang teraktif, kreatif dan inovatif. Penghargaan tersebut langsung diterima oleh Presiden KKMI Libya, Alvan Satria Shidiq. Penghargaan itu diberikan di Auditorium kampus IICC, pada acara wisuda angkatan ke 40 lulusan IICC.

“Penghargaan ini kami dapatkan dari perjuangan teman-teman mahasiswa Indonesia di Libya. Dengan segala keterbatasan dan berbagai kesulitan di negara Oemar Mohktar ini, pasca jatuhnya Muammar Kaddafi 2011 lalu yang hingga saat ini masih meninggalkan bekas nan tak kunjung sembuh. Walaupun demikian, kami mahasiswa Indonesia di sini tak ingin ikut terpuruk dalam kegalauan yang melanda negeri Libya. Ibarat lilin, kami ingin menjadi penerang untuk mahasiswa lain yang berasal dari berbagai negara di kampus ini. Kami buktikan bahwa kami bisa berbuat walapun terhimpit kesulitan. Terbukti pada Febuari tahun ini, kami sukses mengadakan acara Pengenalan Budaya Indonesia yang dihadiri oleh mahasiswa dari 30 negara berbeda, pada akhirnya mendapatkan sanjungan dan pujian yang luar biasa”, demikian ungkap Alvan. “Selain itu, penghargaan ini kami dapatkan tak lepas dari dukungan dan sokongan dari Duta Besar Indonesia untuk Libya, Bapak Raudin Anwar beserta para staf KBRI yang lainnya. Peran KBRI Tripoli di sini sangat penting,  sebagai orang tua kami di Libya memberi nasehat dan arahan tentang kuliah di Libya”, tambah pemuda Minang ini.

Selain mendapatkan penghargaan untuk organisasi, beberapa orang mahasiswa yang  merupakan anggota KKMI Libya juga mendapatkan apresiasi atas prestasi mereka di bidang akademik, diantaranya Okky Afrianto, mahasiswa tahun tiga kuliyah, jurusan Bahasa Arab dan Chairul Amin Mubarak, mahasiswa tahun tiga kuliyah, jurusan Syariah, kedua-duanya mendapatkan penghargaan atas pencapaian mereka dengan nilai tertinggi di kelas masing-masing, keduanya mendapatkan nilai mumtaz.

Bapak Untung, salah seorang staf KBRI yang turut hadir menyaksikan acara wisuda dan pemberian penghargaan ini pun, merasa bangga atas apa yang telah diraih mahasiswa Indonesia di Libya. Beliau mengatakan, “semoga kedepannya prestasi mahasiswa Indonesia di Libya dapat ditingkatkan lagi”.

Hanif Ma’asy Rachman, salah seorang anggota KKMI Libya yang juga merupakan Menteri Olahraga di kepengurusan BEM kampus IICC mengatakan, “Alhamdulillah Indonesia disanjung-sanjung oleh para tamu yang hadir pada acara ini”, ungkapnya dengan senyuman lebar. “Harapan kami semoga ke depannya KKMI Libya bisa lebih eksis lagi, bukan hanya skala kampus tapi bisa mngenalkan Indonesia lebih luas lagi kepada masyarakat Libya”, tambahnya.

Wisuda ini dimulai pukul 10.00 pagi waktu Tripoli, acaranya berjalan lancar hingga selesai pada pukul 14.00 waktu Tripoli. Selain dihadiri oleh mahasiswa, para perwakilan dari kedutaan berbagai negara pun turut hadir, di antaranya perwakilan dari kedutaan Indonesia, Filipina, Sudan, Bangladesh, Turki dan beberapa negara lain dari benua Afrika.

Setelah acara ini selesai, di luar gedung sudah disambut oleh para penunggang kuda, dengan pakaian tradisional Libya. Ada tiga kuda beserta para jokinya masing-masing. Hal ini menambah semarak kegiatan wisuda kampus International Islamic Call College (IICC) tahun ini.

Penulis:Riyadi S. Harun

 

 

 

 

 

Categories
Berita Festival Luar Negeri PPI Dunia

PPI Fair 2017: Kiat, Sharing, dan Motivasi Belajar di Luar Negeri

 

PPI Fair 2017 merupakan acara kolaborasi antara BEM ITS dengan PPI Dunia. PPI atau perhimpunan pelajar Indonesia adalah perkumpulan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri. Acara ini dilaksanakan di Teater A, kampus ITS Sukolilo. Acara ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 30 September 2017 sejak pukul 09.00 sampai 15.00 WIB. Acara ini dihadiri oleh 110 mahasiswa dari berbagai universitas di Surabaya. PPI Fair 2017 berisikan seminar dan pembukaan stand beberapa negara, yaitu Polandia, Malaysia, Portugal, dan Sudan. Pembicara yang turut memeriahkan acara ini adalah M. Ubaidillah dari PPI UAE, Fathan Asadudin dari PPI China, dan Yoga Dwi dari PPI Taiwan. Materi yang dibawakan oleh ketiga pembicara tersebut seputar pengalaman, beasiswa, dan motivasi melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Mahasiswa terlihat antusias dalam mengikuti seminar, banyak mahasiswa yang sengaja bertanya kepada pembicara mengenai apa saja hal-hal yang perlu disiapkan untuk studi di luar negeri, serta rintangan yang sering dihadapi. Selain itu, mahasiswa juga antusias melihat workshop di stand-stand PPI yang tersedia. Terlebih lagi, kedatangan media partner PPI Dunia, INSPIRA, yang turut memeriahkan stand di PPI Dunia 2017. Buku-buku yang dijual oleh INSPIRA meliputi kiat-kiat mendapatkan beasiswa serta buku latihan TOEFL, TOEIC, dan TOEFL iBT yang ramai diburu oleh mahasiswa.

“Bukan masalah luar negerinya, namun ada urgensi kompetensi SDM yang harus dipenuhi. Kalau kita stay di dalam negeri, kita tidak bisa merasakan persaingan yang sebenarnya”, ujar Fathan Asadudin menjawab pertanyaan pentingnya studi di luar negeri. Selain itu Yoga Dwi menimpali, “Saya prefer melaksanakan studi di luar negeri karena banyak hal baru yang bisa dieksplorasi dan dipelajari terutama di bidang budaya dan komunikasi”. M. Ubaidillah juga menjawab pertanyaan ini dengan membahas tentang pentingnya networking, “Ketika belajar di luar negeri kita bertemu dengan masyarakat internasional, ilmu yang diberikan juga semakin beragam dari berbagai background dengan basic concern yang berbeda”, ujarnya menutup seminar PPI Fair 2017.

(dok.PPID/nurjaeni)

Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Pelajar Indonesia di Sudan Bahas Rohingnya

Khartoum – Guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam melakukan berbagai analisis, Departemen Pendidikan PPI Sudan mengadakan kajian tematik dengan mengangkat topik terhangat yang tengah diperbincangkan pada saat ini terkait tragedi kemanusian yang menimpa komunitas muslim di Rohingya. Selasa (12/9), bertempat di Aula Indonesian Students Center (ISC), kajian tematik kali ini mengangkat tema “Mari bersama Rohingya; Analisis Latar Belakang dan Penyelesaian Krisis Kemanusiaan Rohingya” yang diselenggarakan atas kerjasama dengan Persatuan Pelajar Myanmar di Sudan.

Pada kesempatan ini PPI Sudan menghadirkan 2 narasumber. Narasumber pertama adalah ustadz Asyrof (mahasiswa asal Myanmar Rohingya yang sedang menempuh studi di Sudan). Ia merupakan salah satu saksi hidup atas tragedi kemanusiaan yang tak kunjung menemui titik penyelesaian hingga saat ini. Dalam paparan yang disampaikan, narasumber menjelaskan akar permasalahan dan sumbernya serta menerangkan betapa tidak berperi kemanusiannya penindasan yang menimpa masyarakat muslim Rohingya. Beliau juga sangat menyayangkan ketidak pedulian berbagai pihak dalam kasus ini. Beliau pun berkesempatan menunjukkan berbagai macam slide yang didapatkannya langsung dari sahabat maupun kerabat yang hingga kini masih terjebak di Myanmar. Beliau pun berpandangan bahwa langkah-langkah yang selama ini diambil oleh bangsa-bangsa dan Negara-negara lain terlalu lambat dan tidak efektif dalam menghentikan krisis kemanusiaan ini secara cepat. “Negara-negara di luar sana terlalu asyik berdebat, berdiskusi, dll tanpa ada aksi nyata bagi kami. Dalam kondisi krisis seperti ini, justru aksi nyatalah yang kami butuhkan untuk menghentikan krisis kemanusiaan ini secepatnya.”

Dalam statement penutup, narasumber turut mengapresiasi bangsa Indonesia sebagai salah satu bangsa yang peduli dan memperhatikan nasib kaum muslimin di Myanmar dengan melakukan berbagai langkah diplomatik maupun pengiriman bantuan hingga saat ini. “Kami sangat berterima kasih kepada kawan-kawan Indonesia di Sudan yang telah mau memprakarsai kegiatan kajian tentang muslim Rohingya yang untuk pertama kalinya ada di Sudan, serta kepada bangsa Indonesia yang tak henti-hentinya memberikan berbagai macam support kepada kami di berbagai bidang,” pungkasnya menutup pemaparan sesi pertama pada kajian tersebut.

Di sesi berikutnya, narasumber kedua, Ustadz Ribut Nur Huda, M.A (kandidat Doktor Univ. Alquranul Karim Omdurman) yang menyampaikan pandangannya terkait langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan umat muslim untuk menyelesaikan masalah tersebut. Beberapa diantaranya adalah melalui jalur diplomatik guna menekan pemerintah Myanmar agar segera menghentikan pembantaian tersebut. Di sisi lain beliau pun mendorong umat muslim agar berpegangan dengan erat guna menyelesaikan permasalahan ini secara bersama-sama dan tidak saling menyalahkan satu dengan yang lainnya. “Permasalahan Rohingya bukan hanya sekedar permasalahan satu ataupun dua suku, bangsa, dll. Ini adalah masalah kaum muslimin. Kitalah yang paling berkewajiban untuk membela mereka dalam keadaan seperti ini,” ujar narasumber. Beliau juga tak lupa mengajak segenap pihak untuk turut mendoakan agar konflik yang terjadi segera berangsur membaik dan menemui titik damai. “Berbagai upaya telah dilakukan oleh berbagai pihak, dan sekarang langkah paling nyata yang dapat kita lakukan adalah mendoakan mereka semua serta terus memberikan support baik moril maupun materil.”

Dalam diskusi yang berlangsung hangat ini turut hadir pula para ketua dan delegasi dari Persatuan Pelajar dari berbagai negara yang yang ada di Sudan ini. Kegiatan ini berhasil mendapat banyak apresiasi sebagai kegiatan pertama yang digagas oleh Persatuan Pelajar yang ada di Sudan sebagai wujud nyata kepedulian dan kepekaan sosial terkait isu kemanusiaan yang kini masih belum dapat dibendung. [] (PPI Sudan)

Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Puluhan Temus dari Sembilan Negara Berkumpul di Makkah

Bertempat di Hotel Lu’lu’ah ‘Aziziyah, Makkah al-Mukarramah pada hari Kamis, 7 September 2017, seperti di tahun-tahun sebelumnya, PPMI Arab Saudi menjamu para tenaga musiman haji (TEMUSH) dari perwakilan PPI Negara di kawasan Timur Tengah & Afrika. Total ada 9 negara yang mendapatkan kuota TEMUSH di musim haji 1438 H/2017 M, yakni Lebanon (2 orang), Libya (2 orang), Mesir (45 orang), Maroko (5 orang), Sudan (12 orang), Syria (5 orang), Tunisia (2 orang), Yaman (8 orang), Yordania (4 orang).

Di pertemuan silaturrahmi tersebut, dibuka dengan sambutan dari tuan rumah, PPMI Arab Saudi, yang langsung diberikan oleh Ketua Umum PPMI Arab Saudi periode 2017-2019, Sdr. Byan Aqila Ramadhan. Selanjutnya, perwakilan masing-masing PPI negara memperkenalkan diri dan menceritakan kondisi negara tempat studi, disertai dengan diskusi tanya jawab singkat. Acara disambung dengan sharing singkat dari perwakilan PPI Dunia oleh Sdr. Rama Rizana, penjelasan tentang Aliansi Keputrian Timur Tengah & Afrika (AKTA) oleh Sdri. Rahmah Rasyidah, dan acara ditutup dengan sesi foto bersama, serta makan bareng. Sebelum sesi foto bersama, SekJend PPMI Arab Saudi 2015-2017 Sdr. Prabasworo Jihwakir, menyampaikan beberapa pesan pengingat, di antaranya mengenai wacana penambahan kuota TEMUSH Timur Tengah & Afrika dari Komisi VIII DPR RI yang perlu dikawal.

Categories
PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Discovery Menjelajahi Ramadhan di Timur Tengah dan Afrika

🌞 INVITATION 🌞

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
👋Hai sobat PPI, gimana kabarnya? Lancar kan puasanya? Semoga tetap kuat dan semangat 😊
Kami dari PPI Sudan bekerjasama dengan PPI Timteng dan Afrika mengajak teman-teman PPI di kawasan  Timteng dan Afrika untuk ikut berkolaborasi dalam menggarap e-book dengan judul “DISCOVERY” yang bertemakan “Menjelajahi Ramadhan di Timur Tengah & Afrika”. E-book ini akan menggambarkan kehidupan  Ramadhan di wilayah TimTeng dan Afrika.

➡Karena banyak dari teman-teman di Indonesia yang ingin tahu bagaimana menariknya berpuasa di Timur tengah dan Afrika, maka dengan hadirnya e-book ini semoga dapat menjawab rasa penasaran mereka semua. Jadi, ayo kita bantu teman-teman kita di Indonesia.

✍Adapun untuk konten/isi dari tulisan yang dibuat adalah sebagai berikut :

  1. Wawasan negara.
  2. Tradisi khas Ramadhan di setiap negara
  3. Suasana Lebaran di setiap negara
  4. Tambahan lain yang masih berkaitan dengan tema (Jika ada)
  5. Foto-foto yang berkaitan dengan tema ( Minimal 2 mb)

– Kirimkan karya sobat di: berbagiceritaramadhan@gmail.com
– Waktu pengumpulan 12 Juni-22 Juni
– Info lebih lanjut hubungi Yahya Ayyash ( +249111424468)

Demikian info dari kami.
Kami ucapkan terimakasih sebesar-besarnya untuk teman-teman PPI di kawasan TIMUR TENGAH & AFRIKA atas kerjasamanya. Semoga kita semua selalu dalam rahmat dan perlindunganNya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Categories
Travel & Kuliner Wawasan Dunia

Cerita ‘Begal Ramadan’ dari Negeri Dua Nil Sudan

Khartoum – Sudan merupakan salah satu negara yang terletak di benua Afrika. Jika dilihat seksama, letak Sudan tepat berada di jantung benua Afrika. Negara ini juga memiliki julukan ‘Negeri Dua Nil’, karena di negara inilah bertemunya dua Sungai Nil, yaitu Nil Biru dan Nil Putih.

Dari jumlah penduduknya, mayoritas masyarakat Sudan memeluk agama Islam. Suasana Islamnya mirip seperti Indonesia, namun memiliki beberapa perbedaan. Misalnya, jika di Indonesia masyarakatnya banyak bermazab Syafii, mayoritas masyarakat Sudan bermazab Maliki.

Ujian sesungguhnya hidup di Sudan ada ketika bulan Ramadan. Kita diharuskan berpuasa di atas suhu stabil 40° Celsius. Total lamanya berpuasa di Sudan sekitar 13 jam. Mulai azan Subuh pukul 05.00 hingga azan Magrib berkumandang kisaran pukul 19.30.

Suhu panas di Sudan memuncak ketika Ramadan. Hal unik yang terjadi, ketika salat Zuhur, masjid-masjid sangat dipenuhi oleh masyarakat Sudan. Di tengah suhu yang panas, mayoritas masjid di Sudan terdapat pendingin ruangan, seperti air conditioner (AC) dan cooler. Hal ini dimanfaatkan oleh masyarakat Sudan untuk tidur siang, sambil mengamankan diri sesaat dari panasnya Sudan. Kejadian unik ini selalu terjadi setiap harinya di bulan Ramadan ini.

Foto: ‘Begal Ramadan’ di Sudan, ‘membegal’ orang lewat untuk berbuka puasa (Landmark Sudan, Masjid Alnilin (Muhammad Faiz Alamsyah)

Namun, Sudan sangat ramah dalam menyambut datangnya bulan yang penuh berkah. Beberapa fenomena menarik banyak terjadi, dan hanya terjadi di bulan Ramadan. Beberapa fenomena yang jarang, atau bahkan kita tidak pernah lihat di Indonesia.

Di Sudan, ada satu kejadian yang paling menarik ketika Ramadan. Kami warga Indonesia yang menetap di Sudan menyebutnya dengan ‘begal ramadan’. Jika di Indonesia, orang membegal kendaraan, di Sudan orang membegal orang lain di jalanan untuk mau berbuka bersama mereka.

Foto: ‘Begal Ramadan’ di Sudan, ‘membegal’ orang lewat untuk berbuka puasa (Landmark Sudan, Masjid Alnilin (Muhammad Faiz Alamsyah)

Begal ini terjadi hampir di setiap sudut negeri Sudan. Di dekat tempat kami tinggal, ada sekitar 5 rumah yang menyediakan tempat untuk berbuka. Kami tinggal pilih saja, mau ‘dibegal’ oleh rumah yang mana.

Rumah-rumah ini menggelar tikar di depan rumah mereka, untuk orang lain datang berbuka. Mereka menyediakan aneka makanan dan minuman khas Sudan, dengan cuma-cuma. Hal ini mereka lakukan, di setiap hari selama Ramadan, sebulan penuh, mereka menyediakan hidangan berbuka itu.

Hebatnya efek ‘begal’ ini, banyak warga Sudan ‘berebut’ orang di jalan. Bahkan beberapa tahun lalu, seperti dilansir beberapa media cetak di Sudan, ada dua orang Sudan yang sampai terlibat baku hantam. Mereka pun dipolisikan. Alasannya sangat sederhana, hanya karena berebut orang di jalanan untuk berbuka puasa bersama mereka.

Cara berbuka puasa orang Sudan pun unik. Ketika azan berkumandang, mereka memilih untuk memakan kurma terlebih dahulu, berbeda dengan kita yang mayoritas memilih untuk minum teh hangat ketika azan. Teh hangat mereka sajikan justru setelah salat Magrib berjemaah. Yang lebih aneh lagi, tidak ada es teh di seluruh Sudan. Bukan kebiasaan mereka, mencampurkan teh dengan es batu.

Lalu bagaimana mengobati rindu dengan suasana berbuka di Indonesia? Alhamdulillah, pada hari Jumat dalam setiap minggunya, KBRI Khartoum selalu mengadakan buka puasa bersama dengan seluruh WNI di Sudan yang diadakan di Wisma Duta RI, tempat tinggal bapak Duta Besar RI untuk Sudan.

Foto: Buka puasa bersama di KBRI Khartoum Sudan (Tidur siang setelah salat Zuhur di masjid-masjid di Sudan (‘Begal Ramadan’ di Sudan, ‘membegal’ orang lewat untuk berbuka puasa (Landmark Sudan, Masjid Alnilin (Muhammad Faiz Alamsyah)

Ini cara kami mengobati kerinduan akan Ramadan di Indonesia. Tersaji takjil khas Indonesia, seperti kolak pisang, bakwan, es teh, brownies, dll. Setelah Isya pun diadakan tarawih bersama.

Mungkin ini sedikit gambaran bagaimana Ramadan di Sudan. Bagi yang penasaran akan cerita Ramadan lainnya di Sudan, Persatuan Pelajar Indonesia di Sudan (PPI Sudan) dan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Turki (PPI Turki) tahun lalu menerbitkan e-book yang berjudul “Diary Ramadhan”. “Diary Ramadhan” ini berisikan tentang cerita-cerita mahasiswa /i Indonesia saat Ramadhan di Turki dan Sudan. Info Diary Ramadhan selengkapnya terdapat di link ini.

Semoga kita semua diberikan kemudahan, dan senantiasa diberikan kesehatan, dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Penulis: Muhammad Faiz Alamsyah, Mahasiswa S1 University of Holy Quran and Islamic Sciences Sudan, ketua departemen media dan informasi PPI Sudan 2016-2017 dan anggota Biro Pers PPI Dunia 2016-2017

*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama antara Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) dan detikcom

Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Kuota TEMUS Dipangkas; PPMI Mesir, PPI Timteng, dan PPI Dunia Rapatkan Barisan

CAIRO- Kuota Tenaga Musiman (TEMUS) haji bagi Mahasiswa Timur Tengah untuk tahun ini resmi dipangkas. Kuota yang pada pada tahun lalu berjumlah 125, setelah dikurangi akibat pengurangan kuota Jamaah Haji Indonesia, tahun ini kembali dipangkas menjadi 85 kuota saja. Ketetapan ini sudah disahkan oleh komisi 8 DPR RI.
KJRI Jeddah akan mengirim surat resmi terkait jumlah kuota TEMUS per Negara kepada seluruh KBRI terkait dalam waktu dekat ini. Ahmad Dumyati Bashori selaku ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi ketika ditemui langsung oleh beberapa perwakilan mahasiswa Timur-Tengah Senin (10/4) di wisma haji, Mekkah, Arab Saudi mengatakan bahwa alasan utama pemangkasan besar-besaran kuota TEMUS Mahasiswa timur tengah adalah penambahan kloter jamaah haji di Indonesia seiring dengan bertambahnya kuota jamaah haji Indonesia. Hal ini berdampak besar pada penambahan jumlah petugas pada sektor pendampingan jamaah haji di tiap kloter yang akhirnya mengambil 40 kuota Mahasiswa timur-tengah.
Menyikapi hal ini, Dewan Presidium PPI Dunia dan PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika dijadwalkan akan bertemu dengan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Direktur Jenderal Penyelenggara Haji dan Umroh  pada tanggal 19 April di kota Madinah untuk menyampaikan surat permohonan resmi dari PPI Dunia guna melakukan peninjauan kembali terkait keputusan yang telah ditetapkan, yang bertepatan dengan kunjungan kerja pihak kemenag ke Arab Saudi.
“Kita akan berusaha bergerak, mengusahakan yang terbaik untuk mahasiswa timur tengah melalui jalur Duta Besar di negara kawasan timur tengah (timteng) masing-masing, kita akan menyampaikan dan mengusulkan kepada bapak Duta Besar untuk megirimkan surat resmi ke Komisi 8 DPR RI agar dapat meninjau kembali keputusan ini. Untuk perwakilan PPI kawasan timteng dan Dewan Presidium PPI Dunia juga akan mengambil langkah dengan langsung menemui pihak Kemenag dan melayangkan surat secara langsung ke Komisi 8 DPR RI. Selain itu, Intan Irani selaku Koordinator PPI Dunia saat ini juga akan langsung bertemu dengan pihak Komisi 8 DPR RI di Jakarta, semoga dengan usaha ini permasalahan tentang kuota haji  bisa kembali stabil demi kemaslahatan Mahasiswa timur tengah umumnya, dan Masisir pada khususnya.” tutur Ahmad Baihaqi Maskum, Presiden PPMI Mesir periode 2016/2017.
Mahasiswa yang sedang studi di Negara-negara wilayah Timur Tengah dan Afrika seperti Arab Saudi, Mesir, Sudan, Yaman, Yordania, Lebanon, dan Maroko tiap tahunnya selalu mengirimkan tenaga musiman untuk membantu jamaah haji Indonesia. “Peran mahasiswa Timur-tengah sangat penting dalam memberikan pelayanan kepada jamaah haji Indonesia. Karena  selain sebagian besar TEMUS Mahasiswa Timteng langsung terjun kelapangan dan berhadapan dengan jamaah secara langsung, mahasiswa timteng juga punya nilai plus sendiri. Pertama, mereka menguasai bahasa Arab, baik lisan maupun tulisan. Kedua, mereka sudah terbiasa berinteraksi dengan orang-orang Arab yang memiliki karakteristik berbeda dengan orang Indonesia. Ketiga, dan yang pasti mereka masih muda dan energik. Dan perlu diketahui bahwa menjadi TEMUS dalam pelayanan ibadah haji dibutuhkan kondisi prima dan kuat. Keempat, mahasiswa adalah kaum berpendidikan yang pastinya bekerja dengan diikuti akhlak dan sifat yang baik,” tutur Abdul Ghofur Mahmudin, Presiden PPMI Mesir periode 2015-2016.
Abdul Ghofur Mahmudin juga menambahkan bahwa 4 tahun terakhir ini kuota TEMUS untuk Mahasiswa Timur-tengah cenderung selalu menurun, akan tetapi penurunan itu tidak terlalu signifikan. ”Contoh Kuota Mahasiswa Indonesia di Mesir pada tahun 2012 masih sekitar 102 orang. Tahun 2013 menurun menjadi 96 orang, dan sampai tahun kemarin menjadi 68 orang. Hal ini masih dirasa logis karena alasan berkurangnya adalah pengurangan kuota jamaah haji Indonesia. Sedangkan untuk tahun ini akan berbeda jika kuota mahasiwa timur tengah dikurangi sangat signifikan. Itu karena pertama kuota haji Indonesia normal kembali, kedua pengurangannya sangat signifikan. Bahkan hemat saya, dari yang awalnya Kuota temus Mahasiswa Tim-teng 125 menjadi 85 itu bukan pengurangan, tapi pemangkasan. Dan itu tidak logis!” sambung Abdul Ghofur Mahmudin dalam wawancaranya dengan kru Suara PPMI.
“Hubungan TEMUS mahasiswa dengan PPIH terjalin sangat baik dan harmonis. Saling membantu dan bahu membahu dalam bekerja, baik di lapangan maupun di sekretariat. Sebagai contoh, sampai saat ini saya sendiri dengan TEMUS Mahasiswa Timteng 2013 masih berkomunikasi dengan baik ke PPIH Jakarta di grup whatsapp. Begitu juga dengan TEMUS 2016 PPIH Jakarta. Itu menandakan bahwa tidak ada masalah antara TEMUS mahasiswa dengan PPIH Jakarta maupun dengan bapak-bapak di Kantor Urusan Haji (KUH) Jeddah. Dan saya berharap semoga ada jalan keluar dan solusi terbaik untuk TEMUS mahasiswa timur tengah dan khususnya Masisir (Mahasiswa Indonesia Mesir),” tutur mahasiswa asal Banten ini ketika ditanya tentang hubungan PPIH dengan TEMUS mahasiswa Timur-tengah.
Wakil Presiden PPMI Mesir, Ikhwan Hakim Rangkuti, yang menjadi perwakilan PPMI Mesir dan Mahasiswa Timur-tengah pada saat pertemuan langsung dengan ketua PPIH Arab Saudi menegaskan, bahwa selain berkhidmat membantu Jamaah Haji Indonesia dan mengimplementasikan ilmu yang didapat selama belajar di Timur-Tengah, momentum TEMUS juga memberikan manfaat tersendiri bagi Mahasiswa Timur-Tengah. “Banyak sekali dampak positif yang dirasakan oleh mahasiswa Timur-Tengah dengan adanya TEMUS ini. Pertama, dengan adanya TEMUS, mahasiswa Indonesia di Timur-Tengah sangat terbantu dalam melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi seperti S2 dan S3, melihat akses beasiswa dari pemerintah Indonesia untuk mahasiswa Timur-Tengah sangat minim bahkan bisa dibilang nihil. Hal ini terbukti dari kebijakan pemerintah yang memotong akses penerimaan beasiswa LPDP untuk mahasiswa Timur-Tengah. Kedua, keberadaan TEMUS menjadi faktor penggerak roda organisasi mahasiswa Indonesia di Timur-Tengah, karena sudah menjadi kearifan lokal bagi siapapun yang berangkat menjadi petugas Haji dari mahasiswa Timur-Tengah untuk membayar iuran kepada organisasi-organisasi terkait seperti PPMI Mesir, atau PPI Tim-Teng lainnya guna menopang pendanaan organisasi tersebut.”

Ikhwan menambahkan bahwa bagaimanapun juga permasalahan ini harus diselesaikan secara bijak, adil, dan transparan. ”Saya berharap Menteri agama beserta jajaran bisa meninjau kembali keputusan yang telah ditetapkan dan bisa menambah kuota TEMUS dari yang sebelumnya berjumlah 125 (tahun 2016) ke angka yang lebih banyak lagi atau minimal bertahan pada angka 125, karena sangat tidak bijak ketika mengurangi kuota menjadi 85 di saat bertambahnya kuota jamaah haji dari angka 168.800 menjadi 221.000. Poin penting yang menjadi perhatian dan catatan kami agar ke depannya pihak kementerian agama melibatkan perwakilan PPI Dunia dalam merumuskan suatu kebajikan baru, khususnya dalam penetapan kuota TEMUS untuk mahasiswa Tim-teng agar keputusan yang diambil tidak terkesan bersifat politis dan sepihak,” jelas Wakil Presiden PPMI Mesir yang berasal dari Jakarta ini.

(Kamal Ihsan/NZ)

Categories
Berita Timur Tengah dan Afrika

Peleburan BK-PPI Timteng dan Sekitarnya dengan PPI Kawasan Timteng dan Afrika

Liputan Makkah – Dalam rangkaian Simposium PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika 2017 yang berlangsung di Madinah pada 3-4 April 2017, Para Perwakilan PPI Negara di Kawasan Timur Tengah dan Afrika dan Fasilitator Sidang Komisi mengadakan Sidang Kawasan dan Finalisasi Sidang Komisi yang berlangsung di Hotel Grand Aseel, Makkah, pada hari Jum’at, 7 April 2017, Pukul 16.00 sampai pukul 19.00 Waktu Arab Saudi.

Sidang Kawasan dipimpin oleh Rama Rizana, Koordinator Divisi P2EKA (Pendidikan, Politik, Ekonomi, Kebudayaan & Pariwisata dan Agama) PPI Dunia, diawali tentang laporan program kerja yang telah dikerjakan PPI Kawasan selama 1 semester, kemudian membahas isu-isu terkini para pelajar Indonesia di kawasan. Diantara program kerja yang sudah berjalan antara lain Pendirian AKTA (Aliansi Keputrian Timur Tengah dan Afrika), Puskaji (Pusat Kajian Islami) kerjasama antara PPI Kawasan dengan Radio PPI Dunia, Tim Kajian Strategis dan Tim Media Kerohanian.

Adapun program kerja yang akan diadakan adalah Lomba Film Pendek se-Timur Tengah dan Afrika dengan PJ Khoiruddin dari HPMI Yordania. Pembahasan lainnya adalah penentuan Calon Koordinator PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika Periode 2017-2018 dan penentuan Calon Tuan Rumah Simposium PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika tahun 2018.

Kemudian, Pemaparan BK-PPI (Badan Kerjasama Persatuan Pelajar Indonesia) Timur Tengah dan Sekitarnya oleh Miftah Nafid Firdaus dari HPMI Yordania mengenai BK-PPI, sejarahnya dan program kerjanya. BK-PPI Timur Tengah dan Sekitarnya sendiri merupakan wadah organisasi antar PPI Negara di Kawasan Timur Tengah yang berdiri pada tahun 1964. BK-PPI memiliki sejarah dan perjuangan panjang, namun mengalami pasang surut organisasi.

8 PPI Negara yang hadir pada Sidang Kawasan ini sepakat untuk meleburkan BK-PPI Timur Tengah dan Sekitarnya dengan PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika tanpa melupakan sejarah dan perjalanan panjang BK-PPI. Semoga PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika kedepannya bisa memberikan kontribusi lebih khususnya bagi para pelajar Indonesia di Kawasan Timur Tengah dan Afrika, serta untuk Indonesia dan Dunia.

Berikut ini adalah Hasil Ketetapan Sidang:

Ketetapan Musyawarah Luar Biasa Badan Kerjasama Persatuan Pelajar Indonesia se-Timur Tengah dan Sekitarnya

tentang

Pembubaran BK-PPI se-Timur Tengah dan Sekitarnya

Bismillahirrahmanirrahim

Musyawarah Luar Biasa Badan Kerjasama Persatuan Pelajar Indonesia se-Timur Tengah dan Sekitarnya, dengan senantiasa mengharapkan rahmat dan ridho Allah subhanahu wa Ta’ala, setelah:

Menimbang:

  1. Untuk mencapai tujuan organisasi
  2. Untuk kemasalahatan anggota organisasi

Mengingat:

  1. Pasal 16 Anggaran Dasar BK-PPI se-Timur Tengah dan Sekitarnya
  2. Pasal 17 Anggaran Rumah Tangga BK-PPI se-Timur Tengah dan Sekitarnya

Memperhatikan:

Hasil Musyawarah Luar Biasa BK-PPI Timur Tengah dan Sekitarnya pada tanggal 7 April 2017 bertepatan dengan 11 Rajab 1438 H

Memutuskan:

Menetapkan:

  1. Pembubaran BK-PPI Timur Tengah dan Sekitarnya
  2. Peleburan BK-PPI Timur Tengah dan Sekitarnya dengan PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika
  3. Ketetapan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan

Bi-l-llahi-l-taufiq-wa-l-hidayah

Ditetapkan di  : Grand Aseel Hotel, Makkah, Arab Saudi

Pada tanggal    : 7 April 2017

11 Rajab 1438

Waktu             : Pukul18.00 KSA

Anggota BK-PPI Timur Tengah dan Sekitarnya

TTD

PPMI Arab Saudi

PPMI Mesir

PPI Sudan

HPMI Yordania

PPMI Pakistan

PPI Lebanon

PPI Maroko

PPI UEA

Categories
Berita PPI Dunia PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Liputan Hari Kedua Simposium Timtengka Madinah 2017

Madinah – Selasa 4 April 2017. Pagi hari, diskusi Panel Ketiga Simposium Kawasan PPI Timur Tengah – Afrika yang berjudul “Menyongsong Generasi Emas Indonesia Dalam Mempersiakan Generasi Emas 100 Tahun” resmi dimulai.

Dimoderatori oleh Ahmad Faisal, mahasiswa prodi Arab fakultas ilmu pengetahuan dan budaya Universitas Indonesia. Narasumber pertama adalah beliau Bapak Prof. Dr. Mohammad Nuh DEA, dengan membawakan materi berjudul “Menyiapkan Generasi Millenial Menuju Kejayaan Indonesia 2045”.

Beliau memulai dengan prolog bercerita tentang pengalaman dirinya dulu sebagai mahasiswa di negeri asing, dan beliau berpesan , “student today leader tomorrow”. Kemudian tak lupa juga beliau memberi ucapan selamat kepada panitia penyelenggara simposium, “berikan tepuk tangan bagi mereka yang telah menyiapkan dan menyelenggarakan acara yang luar biasa ini”.

Kemudian mengawali kuliahnya dengan ucapan, “Dunia tidak ada artinya tanpa Indonesia, Indonesia tidak ada artinya tanpa penduduk, dan penduduk tidak ada artinya tanpa PPI Timur Tengah Afrika”, ujar beliau membuka pemaparannya terkait Indonesia dan posisi geografisnya.

Kemudian beliau membahas tentang generasi millennial, mereka yang lahir antara 80-95, 22-36 tahun. Karena zaman membentuk karakter dan kepribadian. Karakter mereka suka jalan pintas dan tak ingin lama. Mereka lebih suka menggunakan modul-modul daripada teori yang berkepanjangan. Mereka juga segera beradaptasi dengan setiap teknologi yang muncul, tanpa berfikir tentang bagaimana benda tersebut bekerja, mereka juga mencintai mobilitas yang tinggi, modern nomadic, bukan hanya sekedar antar hutan bahkan antar negara.

Kita juga perlu memahami future trend karena kita akan berjalan ke depan, agar kita dapat menyiapkan diri. Kita tidak dapat menghilangkan persoalan, namun dengan persiapan kita dapat menyelesaikan persoalan itu, mirip filosofi payung. Tanpa mengetahui masa depan kita hanya akan menjadi expired generation.

Kemampuan pengambilan keputusan juga harus terus diasah, karena tingkat kompleksitas permasalahan dan kecepatan waktu yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan harus lebih baik. Dalam bukunya “age of discovey” Ian Goldin menyebutkan bahwa social complexity akan melaju lebih banyak dibandingkan dengan cognitive capacity. Trendi grafiknya bahwa kelompok kreatif bertambah naik, jika kita tidak kreatif maka kita akan termarjinalkan.

Lalu apa yg harus kita siapkan menghadapi masalah ini? Tentunya yang pertama adalah ilmu, amal dan amal salih. Kemudian selain itu adalah higher order thinking. Yaitu analyzing, evaluating, dan creating. Maka untuk itu dibutuhkan sikap kritis agar menjadi kreatif.

Tahun 2045 di akhir seabad Indonesia kita perlu untuk investasi SDM yang besar-besaran dan berkeadilan. Agar berkah demografis dan trendi pergerakan ekonomi dunia menjadi bonus bukan bencana. Dan itu, dinilai dari 2010 hingga 2040, ketika kita sedang dan masih memiliki bonus demografi.

Setelah kita tahu tantangannya, kita memilki empat agenda utama; kemiskinan, ketidaktahuan, keterbelakangan peradaban, dan ketidakadilan. Maka beliau berpesan, “Jadi pemimpin itu bukan sekedar memegang prinsip kebenaran, namun juga kebaikan dan keindahan, (logika, etika, estetika), oleh karenanya dinamakan kebijakan. Maka kelak kalau anak-anak PPI menjadi pemimpin, bijak dan santunlah terhadap kaum dhuafa”. Dengan 87% jumlah penduduk muslim hanya 1 orang yang menduduki peringkat 10 terkaya dunia. Sebab seperti kata beliau, “Pendidikan adalah sitem rekayasa sosial terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan, keharkatan, dan kemartabatan”

Dan yang terpenting adalah menaikkan pendekatan kita dari hindsight menuju insight menuju foresight. Descriptive analytics, diagnostic analytics, predictive analytics, prescriptive analytics. Karena yang kita butuhkan adalah menyiapkan leader, manager, dan entrepreneur. Untuk itu beliau berpesan khusus kepada para delegasi simposium, “PPI Timur Tengah dan Afrika haruslah menjadi generasi pemungkin (enabler)”.

Pembicara kedua adalah Bapak Prof. Dr. Gumilar Rusliwa Somantri. Beliau membacakan sebuah narasi tentang kondisi Indonesia kini dan masa depan. Membaca masa depan di tahun 2045, terdapat tiga skenario yang sering dikemukakan;  optimistik, pesimistik, dan realistik. Namun kita tentu berharap kepada skenario optimistik. Meskipun di sana-sini terdapat banyak problematika yang merisaukan dan dikhawatirkan menjadi mimpi buruk demografis di masa mendatang. Terlebih selain masalah di dalam negeri, Indonesia juga jamak menjadi incaran kepentingan-kepentingan asing, sudah barang tentu tindakan mereka akan dirasakan melalui aksi politik, pendidikan dan budaya. Terlebih dengan perubahan kutub kekuatan dunia, dan kemajuan beberapa negara Asia dalam mencuri start menghadapi masa depan, terkhusus China dan Jepang. Negara-negara Asean juga semakin kompetitif meskipun masih dilanda beberapa masalah budaya dan sosial.

Strategi yang tak kalah penting untuk menghadapi ini, adalah merubah paradigma pembangunan yang berbasis SDA menjadi basis SDM. Dan juga menabuh genderang perang menghadapi radikalisme kiri dan kanan, memperkuat pondasi ekonomi, menghadapi upaya perusakan generasi baru, dan yang terpenting adalah mempersiapkan diri menghadapi era energi kinetis dan era digital.

Sebelum sesi tanya-jawab, Pak Mahfud MD pembicara pada panel pertama, sempat ikut memberikan pesan dan nasehatnya sebagai konklusi akhir dari seluruh materi yang telah disampaikan oleh para narasumber, beliau berpesan, “intinya adalah optimis dan tidak takut gagal”.

Acara  selanjutnya adalah presentasi paper yang ditulis oleh para delegasi.  Yaitu pemaparan 15 paper yang telah dibuat oleh para delegasi, Presentasi dibagi dalam empat panel. Panel Sosial dan Budaya dimoderasi oleh Muhammad Herika Taki, mahasiswa S3 King Abdulaziz University-Jeddah. Panel Politik dimoderasi oleh Farichatus Sholichah, mahasiswi Sastra Arab, fakultas Ilmu Budaya UGM-Yogyakarta. Panel Agama dimoderasi oleh Muhammad Usman Ilyas, mahasiswa UNISULA-Semarang. Dan terakhir Panel Ekonomi yang dimoderasi oleh Sifak Nikmatul Fitri, mahasiswi profesi ilmu Kedokteran UGM-Yogyakarta.

Selepas istirahat siang, dimulailah acara sidang komisi Simposium PPI Timtengka, dipimpin oleh Steering Committee, yang disi oleh Saleh Al-Djufri delegasi PPI Sudan sebagai ketua sidang satu, Muhammad Prabasworo Jihwakir delegasi PPMI Arab Saudi sebagai ketua sidang dua, dan Ahmad Syauqi delegasi Indonesia sebagai ketua sidang tiga. Dalam sidang ini diawali dengan perumusan Deklarasi Madinah, sebagai hasil seruan dan simpulan para peserta Simposium Kawasan PPI Timur Tengah dan Afrika. “Deklarasi ini adalah penentuan sikap kami para anggota peserta simposium” ujar Saleh Al Jufri ketua satu. Sementara pembacaan Draf Deklarasi Madinah disampaikan oleh Ahmad Syauqi sebagai ketua tiga. Kemudian sidang dibuka dengan ketukan palu oleh pemimpin sidang Saleh Al Jufri.

Kemudian sesi perumusan dan pengesahan dilalui dengan pembacaan setiap paragraf dan poin-poin naskah deklarasi oleh Muhammad Prabasworo Jihwakir ketua dua, dan menerima masukan serta pandangan dari para peserta Simposium per bagian naskah Draf Deklarasi.

Terjadi beberapa perubahan dalam muatan draf naskah deklarasi, meskipun secara umum hanya perubahan redaksional bukan substansial. Namun tetap saja membutuhkan banyak waktu karena banyaknya peserta yang melakukan interupsi dan memberikan masukan, bahkan membutuhkan beberapa kali penambahan waktu.

Acara dilanjutkan dengan penyampaian prakata dan laporan pertanggungjawaban Ketua PPI Timur Tengah dan Afrika, yang disampaikan oleh Saleh Al-Djufri delegasi PPMI Sudan, mewakili Ketua yang berhalangan hadir Kiagus Ahmad Firdaus. Selanjutnya adalah pembacaan Deklarasi Madinah yang dibacakan oleh Sekjen PPMI Arab Saudi sekaligus Ketua Sidang, yang diaminkan dan dikumandangkan ulang oleh seluruh peserta simposium, ikut bersama mereka juga Dubes LBBP untuk KSA dan OKI, Bapak Drs. Agus Maftuh Abegebriel beserta jajarannya, diantaranya Bapak Basuni Imamuddin Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Riyadh, dan Bapak Muhibuddin M Thaib Atase Hukum dan HAM KBRI Riyadh. Kemudian diakhiri dengan penandatangan Deklarasi Madinah oleh seluruh Ketua PPI Negara anggota PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika, tanda disahkannya Deklarasi Madinah tersebut.

Acara Simposium selanjutnya ditutup secara seremonial oleh Dubes LBBP untuk KSA dan OKI, Bapak Drs. Agus Maftuh Abegabriel. Beliau menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya atas terselenggaranya Simposium ini, bahkan beliau rela mempersingkat kunjungan kerjanya di Belanda dan Belgia, yang seharusnya baru berakhir hari ini, namun beliau justru memilih untuk menghadiri dan membuka Simposium ini dan menutupnya. Beliau mengatakan tentang para mahasiswa peserta Simposium ini, “kalian semua ini adalah generasi-genarsi yang akan memimpin Indonesia”. Beliau juga berkomentar tentang Deklarasi Madinah, “ini adalah deklarasi yang luar biasa, terlebih ketika ia ditandatangani di Kota Rasulullah, dan dari sini lah pesan-pesan ini akan menjadi ‘aalamiyyah alias mengglobal”. Dan terakhir beliau menutup prakatanya dengan pesan, “from here we start and change”.

Dengan ini, acara secara resmi ditutup, dan hanya menyisakan sesi sidang perumusan rekomendasi empat komisi, komisi agama, komisi pendidikan dan kebudayaan, komisi politik dan hukum, dan komisi ekonomi. Tepat dengan masuknya waktu salat magrib, acara sidang komisi juga ikut selesai. Dan berakhirlah sudah acara inti Simposium Kawasan PPI Timur Tengah – Afrika 2017 di Kota Madinah. (Red: Izzy, Ed: Adam)

Galeri Foto: (Sumber: sie. Media Simposium Timtengka Madinah 2017)

 

 

Categories
Timur Tengah dan Afrika

Mahasiswa Indonesia Ikut Serta dalam KFUPM Cultural Day 2017

Liputan Dhahran – Rabu, 1 Maret 2017, KFUPM (King Fahd University of Petroleum and Minerals), Dhahran, Arab Saudi menyelenggarakan Cultural Day yang diikuti oleh Indonesia, Bosnia Herzegovina, Bangladesh, India, Sudan, Suriah, Mesir, Nigeria, Kamerun, Maladewa, Palestina dan Yaman. Ini adalah kali kedua Indonesia ikut serta dalam kegiatan KFUPM Cultural Day.

Pada acara tersebut, mahasiswa Indonesia membawa tema tentang perayaan tujuh belasan di Indonesia, juga menampilkan video infografis Indonesia serta menampilkan atraksi berupa permainan tradisional yang menarik sepertu enggrang dan bakiak. Perlombaan tersebut diikuti opleh peserta dengan antusias karena adanya interaksi dan partisipasi yang luar biasa dari para penonton selama kegiatan berlangsung.

Cultural Day 2017

Acara kemudian dilanjutkan di stand masing-masing Negara yangs udah disediakan oleh para panitia. Pada boiot session, para peserta stand berkesmpatan untuk mengenalkan kebudayaan mereka masing-masing seperti makanan  tradisional dan pakaian tradisional. Kali ini Indonesia berhasil memperkenalkan beberapa makanan tradisional ala Indonesia seperti pecel, tumpeng, bubur kacang hijau,  berbagai macam gorengan, kue kukus, sambal kacang serta dadar gulung. Para pengunjung pun sangat antusias sekali mencoba satu persatu makanan yang disediakan di dalam stand.

PPMI Dhahran sebagai wadah organisasi mahasiswa Indonesia di KFUPM menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung untuk mensukseskan acara ini, juga terima kasih kepada KBRI Riyadh, PPMI Qassim, serta semua pihak yang telah datang mengunjungi stand Indonesia pada acara kali ini. (Red: PPMI Dhahran/ Ed: Amir)

Page 1 of 3
1 2 3