logo ppid

Kemeriahan Piala Dunia 2018 mendorong saya untuk berbagi pengalaman ‘football traveling’ di museum-museum sepak bola di Spanyol. Siapa tahu rekan-rekan sekalian berminat untuk berkunjung dan menikmati sejarah sepak bola di negeri Raja Felipe ini.

Salah satu klub sepak bola terkaya, tersukses, paling terkenal dan ter- ter- lainnya di dunia adalah FC Barcelona. Anda mungkin menikmati kota ini dengan mengunjungi Sagrada Familia, katedral mahakarya arsitek terkenal, Antoni Gaudi. Juga dengan menikmati berjalan-jalan di Passeig de Gracia atau Plaza Catalunya sekaligus berbelanja produk-produk bermerk ternama. Namun, Anda wajib berkunjung ke museum FC Barcelona meskipun tidak terlalu ngefans dengan sepak bola.

Pengunjung berfoto di sudut Camp Nou

Di museum Barcelona, yang paling membuat kagum adalah betapa pintarnya manajemen klub sepak bola Barcelona mengemas passion manusia terhadap sepak bola menjadi sebuah experience yang luar biasa. Begitu menjejakkan kaki di ruangan pertama museum, nuansa heroik para legenda hidup Barça sudah terasa. Ratusan trofi yang pernah dimenangi klub Catalan tersebut sejak tahun 1900-an tersimpan rapi di susunan rak-rak dengan pintu kaca. Enam trofi yang dimenangi sekaligus pada tahun 2009 disimpan terpisah, menandakan betapa spesialnya tahun tersebut karena merupakan prestasi monumental yang sukar diulangi oleh klub sepak bola mana pun.

Dengan tur berlabel ‘The Camp Nou Experience’ seharga 25 euro, Anda juga bisa melihat-lihat ke dalam ruang ganti Lionel Messi dan kawan-kawan, berfoto di pinggir hijaunya rumput lapangan atau bahkan duduk-duduk di tribun Camp Nou. Singkatnya, Anda bisa membayangkan sensasi berada di 90.000 ribu lebih penonton di stadion ini sendiri yang merupakan stadion dengan kapasitas terbanyak di Eropa.

Museum FC Barcelona bukan satu-satunya arena pertunjukan sepak bola akbar di Spanyol. Tentu saja kita tak boleh melupakan Real Madrid, klub penguasa Eropa dalam tiga tahun terakhir. Di Stadion Santiago Bernabéu, harga untuk tiket museum klub terbesar di dunia tersebut juga mirip-mirip dengan Barcelona, sekitar 20-25 euro.

Stadion Santiago Bernabéu di Madrid

Real Madrid dan Barcelona memang bersaing dalam urusan sport-tourism mereka. Museum Real Madrid juga merupakan tempat yang wajib dikunjungi oleh penggila sepak bola, terutama karena sejarah panjang klub sepak bola nomor satu Spanyol tersebut.

Selama berpuluh-puluh tahun, Real Madrid memenangi trofi demi trofi bergengsi dan menguasai dunia dengan para jugador zaman dulu mereka, seperti Alfredo di Stefano dan Ferenc Puskas.

Isi lemari Real Madrid sudah penuh sesak dengan gelar juara domestik plus 5 trofi Piala Champions yang mereka dominasi dari tahun 1956 sampai 1960. Maka, jika berkeliling di dalam museum Real Madrid, yang terlihat adalah parade kesuksesan selama bertahun-tahun. Piala dari tahun 1950-an sampai abad ke-21 menghiasi seluruh ruangan.

Real Madrid juga selalu menjadi salah satu pelaku utama gemerlapnya panggung sepak bola Eropa zaman modern dengan gelimang harta dan pemain-pemain kelas dunia yang seolah sangat gampangnya mereka gaet. Stadion Santiago Bernabéu selalu dipenuhi pemain-pemain sekaliber Ronaldo Luis Nazario da Lima, Luis Figo, Zinedine Zidane, David Beckham, Ruud Van Nistelrooy, hingga nama-nama beken masa kini seperti Cristiano Ronaldo, Kaka, dan Mesut Oezil.

Ruang ganti pemain di stadion Mestalla

Jika Anda bosan dengan dua klub tersebut, museum klub-klub seperti Atletico Madrid, Valencia dan Sevilla bisa menjadi alternatif. Saya cukup terkesan dengan museum di stadion Mestalla, Valencia dan Ramon Sanchez Pizjuan, Sevilla. Harga tiket masuknya pun tak semahal dua klub raksasa di atas. Harga tiket ‘Mestalla Forever’ hanya 11 euro, sangat murah untuk sebuah tur yang sudah tersertifikasi ‘recommended’ oleh Trip Advisor. Harga ini kurang lebih sama dengan tur stadion Ramon Sanchez Pizjuan milik Sevilla (10 Euro).

Stadion Ramon Sanchez Pizjuan di Sevilla

Sedangkan tur Atletico Madrid cukup berambisi bisa menyaingi pelayanan tur Real Madrid, klub sekotanya. Setelah diambil alih investor dari Cina, Wanda Group, derajat Atletico Madrid jauh terangkat jika melihat kandang baru mereka. Stadion berkapasitas 67 ribu penonton yang diberi nama Wanda Metropolitano ini telah memperoleh predikat bergengsi sebagai stadion berbintang empat UEFA. Predikat ini setara dengan beberapa stadion terkenal lain, seperti Allianz Arena di Muenchen dan Amsterdam Arena.

Singkat kata, berkunjung ke museum sepak bola di Spanyol adalah salah satu cara pas untuk memahami kultur masyarakat negara tersebut. Kapan-kapan, saya akan berbagi pengalaman menonton langsung laga sepak bola di negeri ini.

 

Profil Penulis:

Mahir Pradana adalah wakil ketua PPI Spanyol 2018/2019 yang juga penulis buku memoir sepak bola berjudul ‘Home & Away’ dan kolumnis di Football Tribe Indonesia. Mahir bisa disapa di akun Instagramnya @maheerprad.

Rombongan pelajar dan masyarakat Indonesia mengiringi kepulangan Ibu Yuli ke tanah air

 

SPANYOL – Energik, Egaliter dan Terbuka. Itulah kesan kami terhadap Ibu Yuli Mumpuni Widarso yang telah menyelesaikan masa baktinya sebagai Duta Besar Indonesia untuk Spanyol tahun ini. Beramai-ramai warga negara Indonesia di Madrid, mulai dari pegawai Kedutaan Besar Indonesia (KBRI), Duta Besar negara-negara ASEAN, tenaga kerja Indonesia, sampai pelajar Indonesia di Madrid ikut melepas kepergian beliau di Bandara Internasional Barajas – Madrid pada Kamis siang pukul 13.00 waktu setempat. Tangis haru dan syahdu tak lagi terbendung dan menyelimuti suasana perpisahan dengan beliau di area check in bernomor 155-160.

Sebelumnya, acara perpisahan juga diselenggarakan oleh Kuasa Usaha AD Interim Sementara, Bapak Adi Priyanto satu hari sebelum keberangkatan Ibu Yuli. di Ruang Satya Loka, KBRI Madrid. Pada acara tersebut, semua perwakilan menyampaikan pesan dan kesan kepada Ibu Yuli selama bertugas menjadi Duta Besar Indonesia di Madrid. Idham Badruzaman yang merupakan perwakilan dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Spanyol menyampaikan 3 pokok penting dalam sambutannya, yaitu PPI Bernaung, PPI Berkarya dan PPI Berjaya. Di awal kedatangan Ibu Yuli ke Madrid, dukungan luar biasa terus diberikan meskipun jumlah PPI tidak banyak. Hal itu memberikan dampak yang luar biasa terhadap keberlangsungan organisasi PPI dalam naungan beliau di Tanah Matador. Kemudian, dalam setiap kesempatan, PPI selalu dilibatkan sehingga tidak jarang Ibu Yuli memberikan inspirasi bagi pelajar Indonesia untuk berkarya dan berkontribusi untuk Indonesia di perantauan. PPI bisa berjaya terlepas dari keterbatasan dan kekurangan, di antaranya adalah: anggota PPI Spanyol turut aktif dalam organisasi induk PPI, yaitu PPI Amerika dan Eropa dan PPI Dunia. Selain itu, PPI Spanyol akan mencatat sejarah pada Maret 2018 dengan menyelenggarakan Konferensi Internasional pertama (setelah pendiriannya di tahun 2004) yang dihadiri oleh peserta dari lima benua dan ratusan institusi di dunia.

Pukul 13.15 waktu setempat, tampak lima Duta Besar negara-negara ASEAN telah lengkap berkumpul di bandara. Satu persatu menyalami dan memeluk Bu Yuli beberapa saat sebelum pesawat Saudi Arabia Airlines membawanya ke Jakarta. Kelima Duta Besar ini menjadi sangat dekat satu sama lain karena ASEAN Committee Madrid (ACM) di mana Ibu Yuli merupakan salah satu inisiatornya pada tahun 2014. Pasca ACM terbentuk, kelimanya sering kali mengadakan acara bersama untuk bahu-membahu mengenalkan ASEAN secara serentak. Ini barangkali satu dari banyak pencapaian Ibu Yuli sebagai Duta Besar di Spanyol.

Terkesan sangat energik, karena networking yang beliau bangun tidak hanya dalam lingkup ASEAN, mempersatukan negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim juga dilakukannya. Hal ini tentu senada dengan kebijakan pemerintah Indonesia secara umum, selain menjalin hubungan dengan negara-negara di Asia Tenggara dalam wadah ASEAN, Indonesia juga menjalin hubungan yang baik dengan negara-negara bermayoritas penduduk Muslim dalam wadah Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Sebagai seorang Duta Besar, beliau terkenal egaliter dan terbuka di mata masyarakat Indonesia di Spanyol. Tidak jarang warga negara Indonesia di Spanyol diundang dan dijamu baik di KBRI maupun di Wisma Duta Indonesia, rumah dinas beliau sebagai Duta Besar. Hal ini tentu memberikan dampak positif bagi warga negara Indonesia secara khusus, dan Keluarga Cinta Indonesia yang merupakan paguyuban warga negara Indonesia di Spanyol dapat berkembang dengan sangat baik dengan dukungan beliau.

Kami tidak berkata Adios (selamat jalan) karena kami yakin akan kembali bertemu dalam kesempatan berikutnya baik di Indonesia maupun di negara lain. Oleh karena itu, kami memilih berujar Hasta Luego (sampai jumpa lagi) Ibu Yuli. Pengabdianmu selama ini akan terus menginspirasi, memberikan manfaat dan dikenang. Hasta Luego, Ibu Yuli.**

 

Penulis:

Idham Badruzaman adalah mahasiswa doktoral bidang Hubungan Internasional di Universitat Autónoma de Madrid, Penerima Beasiswa LPDP dan ketua PPI Spanyol periode 2012-2014.

Editor: Kartika Restu Susilo


Bahwa keberhasilan dan kesuksesan itu hak semua orang
Kalian tidak usah berpikir dari mana asal kalian
Siapa orang tua kalian
Orang tua kalian tukang becak, orang tua kalian buruh cuci
Kalian berhak untuk berhasil, karena Tuhan itu adil…

BARCELONA, 15 November 2017 - Pemimpin yang satu itu dikenal dengan gayanya yang ceplas-ceplos, lugas dan bekerja keras. Saat menemukan ketidakberesan di lapangan, tidak jarang dia menunjukan ketegasannya dengan sikap yang emosional.

Hasil kerja kerasnya tidak sia-sia. Sudah tujuh tahun membereskan Surabaya, walikota perempuan pertama di Kota Pahlawan itu meraih banyak penghargaan, di antaranya menjadi walikota terbaik ketiga di dunia versi The World Mayor Prize pada Februari 2014, dua penghargaan tingkat Asia Pasifik pada ajang Future Government Award 2013, dan nominasi 10 wanita paling inspiratif versi majalah Forbes 2013. Lebih dari 50 penghargaan dan prestasi yang ia raih sebagai walikota, bahkan bulan Maret 2015 beliau mendapatkan gelar kehormatan Doctor Honoris Causa bidang manajemen pembangunan kota dari ITS Surabaya. Di balik sosoknya yang tegas dan berbagai pencapaian yang telah diraih,perempuan kelahiran Kediri tahun 1961 yang akrab disapa Bu Risma itu tetaplah figur yang sederhana.

Setelah ‘terciduk’ menghadiri SmartCity EXPO World Congress di Barcelona, sejumlah pelajar dan diaspora Indonesia di Barcelona meminta beliau untuk berbagi pengalaman dan berbagi ilmu pemerintahan selama satu jam. Beruntung, wanita idola kalangan remaja dan anak-anak itu dapat meluangkan waktu di antara jadwal super padatnya untuk berbincang dengan para pelajar dan diaspora Indonesia di Barcelona pada 15 November 2017, bertempat di Restoran Betawi, Barcelona, Spanyol. Acara yang dipandu oleh mas Abie, mahasiwa doktoral di Universitat de Barcelona bidang Drug Delivery System & Cáncer Nanomedicine itu membuat acara tampak riuh dengan gelegak tawa dan canda serta padatnya informasi yang diberikan oleh Bu Risma.

Acara berlangsung selama satu jam dilanjutkan santap makan malam. Beberapa pertanyaan timbul seputar kinerja Bu Risma yang mengagumkan di tengah kegersangan para pejabat publik yang justru menjadikan kursi politik untuk menimbun kekayaan pribadi. Sosok Bu Risma yang tidak tergoda bermain golf menjadi sesuatu yang unik. Tidak jarang dia pun naik ojek untuk mencapai suatu lokasi yang baginya sesuatu tidak perlu dibesar-besarkan karena itu semua tidak dibawa mati. Sosoknya yang menjadi ibu bagi semua anak dan remaja Surabaya menjadikan ia sangat dekat dengan warganya.

Ia bercerita tentang tantangan menjadi walikota Surabaya: pengubahan citra gang Dolly yang kini berubah menjadi titik wisata dengan menghadirkan pelbagai kerajinan produk rumah tangga, pangan dan wisata rekreasi di mana sebelumnya daerah itu terlihat suram dan hina.

Bu Risma juga menghimbau kepada para generasi muda untuk selalu bekerja secara profesional dan total dan jangan pernah meminta jabatan. Pasalnya sejatinya jabatan itu ialah sebuah tanggung jawab di mana sidangnya tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Sosok inspiratif itu juga mengagumi sosok Umar bin Khattab, Khulafaurrassyidin kedua yang sangat tegas tetapi lembut hati dan mementingkan kepentingan warganya.

Acara ditutup dengan foto bersama. Segenap pelajar dan diaspora Indonesia di Barcelona mengucapkan terima kasih karena Bu Risma telah menjadi sosok inspiratif, membagi kebahagiaan, dan menebar kebaikan di tengah kehausan akan figur pelayan publik yang melekat di hati rakyat.**

Penulis: Kurniawan
Mantan Ketua PPI Spanyol 1516

 

Editor: Kartika Restu Susilo

Hola! Hallo!

As ASEAN (Association of South East Asian Nations) marked its 50th anniversary this year in 2017 where many reflected on what ASEAN has achieved as the most successful regional group after European Union (EU), despite the fact that some of the EU members suffered greatly from global financial crisis and the BREXIT, Indonesian Student Association in Spain (PPI Spanyol) in collaboration with Embassy of Indonesia in Spain, Universidad Autónoma de Madrid and Universitas Muhammadiyah Yogyakarta organize an event called International Conference on ASEAN Studies (ICOAS).

The International Conference on ASEAN Studies (ICOAS) invites students, lecturers, researchers, NGOs and government officials to re-reading Southeast Asia in their perspectives. The word of ASEAN has two meanings in this conference:
1) Countries in the Southeast Asia; and
2) ASEAN as a regional organization in Southeast Asia.

This way, it will give more flexibility to the interested participants in joining the program. As a reflection of ASEAN in its 50th anniversary this year, and more youths of ASEAN who studying abroad and thinking about ASEAN, the conference will be a productive stage to evaluate and improve ASEAN (as countries and organization) in many angles and perspectives for better ASEAN in the near future.

Main-theme:
Re-reading Southeast Asia: Multi-perspective Approaches

Sub-themes of the conference are as follow:

However, the sub-themes are not limited, it shall be accepted as long as it addresses the main theme.

Important Dates

15 Sept 2017 : Call for abstract
30 Oct 2017 : Deadline of abstract submission
16 Nov 2017 : Abstract acceptance notification
1 Feb 2018 : Full paper submission deadline
20-24 Mar 2018 : International Conference

Those whose abstracts are accepted will present their paper on 20-24 March, 2018 in Madrid - Spain with the registration fee 100 EUR, and for those who wish to attend the conference as non-presenter shall pay the registration fee 75 EUR. The fee will cover the program, one gala dinner, two lunches, and publication (for presenters only).

For further information, please kindly visit the official website of the event at http://icoas.ppispanyol.org or contact us via email at info@icoas.ppispanyol.org or via WA +34 631 08 84 78 (Haris).

(dok.PPID/nurjaeni)

Berita baik datang dari wakil Indonesia di ajang Festival Film Pendek tingkat Pelajar Internasional yang pertama di Nabeul, Tunisia. Hadzari, sebuah film pendek berdurasi 2 menit 44 detik adalah sebuah karya pemikiran audiovisual dari sineas muda, Irhamni Rofiun, yang merupakan pelajar Indonesia yang sedang menyelesaikan studi pascasarjana di Universitas Ezzitouna. Film Hadzari, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Waspada’ berhasil menjadi yang terbaik dalam ajang tersebut, dan satu-satunya film yang diputar ketika malam penganugerahan, Minggu malam (9/7).

Film berbahasa Arab ini tidak hanya melibatkan mahasiswa Indonesia sebagai aktor utama, melainkan mengajak crew dan pemain asing dalam proses penggarapannya. Selain itu, Indonesia juga berhasil memborong banyak penghargaan, di antaranya Best Soundtrack dalam film Silat, Taufik Imron sebagai aktor favorit dalam film Hadzari, dan film Silat sebagai film favorit pilihan hadirin panitia dan peserta.

Penghargaan Film Pendek di Tunisia

Menurut pengakuan Irhamni Rofiun, yang juga menjadi sutradara dalam film Silat tersebut, ketika dirinya tiga kali maju untuk mengambil penghargaan di panggung utama, pemanggilan ketiga pemberian penghargaan sebagai sutradara dalam film Silat, ia sempat tidak percaya dan terharu sekaligus bangga karena nama Indonesia kembali harum. Sebab, menurut penuturannya, film Silat tersebut banyak melibatkan banyak orang dan pendukung, di antaranya tim dan pemain yang tergabung dalam organisasi induk PPI Tunisia, anak-anak dari staf KBRI dan Medco Energi, serta yang paling mendukung penuh adalah KBRI Tunis sebagai sponsor tunggal.

Kompetisi film pendek ini diikuti oleh 600 karya dari 125 negara dari 3 jenis kategori: Fiksi, dokumenter dan animasi. Kebanyakan mereka adalah para pelajar atau mahasiswa yang bergelut dalam dunia sinematografi dan perfilman, bahkan ada yang sudah biasa mengikuti festival film pendek di Cannes, Prancis, Toronto, USA, dll. Hanya 27 karya film pendek dari 20 negara di antaranya: Indonesia, Palestina, Turki, Syria, Aljazair, Jordania, Lebanon, Irak, Mesir, Iran, Malaysia, USA, Prancis, Italia, Spanyol, Jerman, Cina, Thailand, Norwegia dan tuan rumah Tunisia. Dan yang diundang khusus oleh panitia penyelenggara hanya 20 sineas muda dari 20 negara tersebut, mereka ditanggung sepenuhnya mulai dari akomodasi, transportasi, penginapan, makan, dll. Untuk mengikuti acara puncak di Nabeul, Tunisia sejak tanggal 6-9 Juli 2017. Kegiatan tersebut meliputi workshop film; writing scripts, shooting & directing, editing & mixing. Dan itu semua dimentori oleh para seniman dan para pakar dalam dunia sinematografi dan perfilman, serta acara hiburan lainnya.

Pengumuman Pemenang Festival Film Pendek se-Tunisia

Berikut daftar peraih penghargaan terbaik Festival Film Pendek Pelajar Internasional 2017 di Nabeul.

- The prize of the best image: Film Fino, disutradarai oleh: Estephan Khattar, Lebanon.
- The prize of the best soundtrack: Film Silat, disutradarai oleh: Irhamni Rofiun, Indonesia.
- The prize of the best editing: Film Day 79, disutradarai oleh: Wissem Al Jaafari, Palestina.
- The prize of Best Scenario: The End of The Good Days, disutradarai oleh: Bask Mehmet, Turki.
- The prize of Best Male Performance: Memood, Jerman.
- The prize of Best Female Performance: Raya Busslah, Film Red on White, Tunisia.
The prize for the best short film: Film Hadzari (Waspada), disutradarai oleh: Irhamni Rofiun, Indonesia.

Daftar di atas adalah pemenang pilihan dewan juri, adapun pilihan pemirsa (penonton: panitia, peserta) adalah:

- Film Pendek Favorit: Film Silat, disutradarai oleh Irhamni Rofiun, Indonesia.
- Aktor Favorit: Taufik Imron, Film Hadzari (Waspada), disutradarai oleh Irhamni Rofiun, Indonesia.

(Red: PPI Tunisia/ Ed: Amir)

SALAM PERHIMPUNAN!!

BEM UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG dan TIM FESTIVAL LUAR NEGERI PPI DUNIA akan bekerjasama untuk menyelenggarakan event Edufair
"Padjadjaran International Education Festival"

Hari, tanggal : Jumat, 26 Mei 2017
Waktu : 08:00 WIB - 16:00 WIB
Tempat : Bale Sawala Unpad Jatinangor

Perwakilan PPI Dunia akan menjadi keynote speakers dan meramaikan acara ini, mereka adalah:

Intan Irani Koordinator PPI Dunia 2016/2017 (PPI Italia)

Steven Guntur Koordinator PPI Dunia 2015/2016 (Permira Rusia)

Rizki Putri Hassan, Koordinator Divisi Pendanaan PPI Dunia (PPI UK)

Dan akan ada stand berbagai informasi studi dan hidup di luar negeri yang akan diramaikan oleh delegasi dari PPI Negara diantaranya:

1. PPI Polandia
2.PPI Hungaria
3.Perpika Korea Selatan
4.PPI Malaysia
5.PPI Swedia
6.PPI Spanyol
7.PPI Estonia
8.PPI Tiongkok
9.PPI Thailand
10.PPI Prancis
11.PPI Italy
12.PPI New Zealand
13.PPMI Saudi Arabia
14.PPI UK
15.PPMI Mesir
16.PPI Turki
17. PPI Jepang
18. PPI Jerman

Berita selengkapnya, follow:
IG: felarippidunia Facebook: felari ppi dunia
Web: www.ppidunia.org

Sebelumnya saya pernah melamar beberapa beasiswa semenjak duduk di bangku sekolah menengah kejuruan. Tercatat lebih dari 50 program beasiswa dan sejenisnya yang pernah saya lamar, namun hanya 6 diantaranya yang menerima aplikasi beasiswa saya. Enam program beasiswa tersebut diantaranya Beasiswa Toyota dan Astra 2012, Erasmus Mundus-Mover 2013 (Uni Eropa), Dataprint 2014, Dataprint 2015, Beasiswa Pemerintah China 2016, dan Ignacy Łukasiewicz Scholarship (Pemerintah Polandia) 2016.

Pada kesempatan ini saya akan menceritakan pengalaman Beasiswa Erasmus Mundus-Mover 2013 program srata1 selama 2 semester dengan jurusan Electrical Engineering and computer Science di Lublin University of Techology, Polandia. Beasiswa Erasmus Mundus (sekarang Erasmus+) merupakan beasiswa yang diberikan Uni Eropa untuk mahasiswa dari negara berkembang, baik mahasiswa yang sedang studi atau lulus, di universitas negeri atau swasta. Beasiswa ini bisa dilamar oleh semua mahasiswa di Indonesia meskipun universitas tempat kalian studi di Indonesia tidak mempunyai kerjasama dengan pihak Erasmus.

Beasiswa Erasmus Mundus ini merupakan kali ke dua beasiswa Uni Eropa yang saya dapatkan, setelah beasiswa Erasmus Mundus pada 2012 saya dibatalkan sepihak oleh penyedia beasiswa ketika terjadi krisis ekonomi yang melanda Eropa pada 2012. Perlu diketahui, beasiswa ini hanya menyeleksi aplikan melalui dokumen persyaratan tanpa ada psikotest dan wawancara. Jadi yang seharusnya dilakukan aplikan adalah memahami kriteria penilaian beasiswa dan memaksimalkan dokumen persyaratan. Menurut saya mengurus beasiswa ini gampang-gampang susah karena kita harus memaksimalkan dokumen yang tentunya memerlukan waktu dan tenaga yang banyak, seperti mengkonsultasikan motivation letter ke dosen yang mana waktunya tidak bisa kita tebak dan tentukan jika dosen yang bersangkutan mempunyai jadual yang full, belum lagi print dokumen dan meminta tanda tangan ke beberapa orang yang berbeda yang mengharuskan kita kesana kemari. Diperlukan niat, kesabaran, dan ketelitian yang besar memang, karena jika tidak kita bisa berhenti di tengah jalan. Hal ini pernah dialami beberapa teman yang akhirnya memilih mengundurkan diri. Belum cukup di situ, kami juga bersaing dengan aplikan di dalam dan di luar negeri karena terdapat kuota penerima beasiswa.

Terdapat beberapa persyaratan yang harus dipersiapkan, diantaranya KTM, CV (Format eropa), language certificate, letter of motivation, transkrip nilai, dokumen pendukung lain seperti sertifikat prestasi dan seminar, dll. Untuk CV bisa di download di website resminya. Saya mulai menyiapkan semuanya 6 bulan sebelum deadline. Waktu tersebut saya gunakan untuk mengurus persyaratan di dalam dan di luar kampus, berkonsultasi motivation letter ke beberapa dosen bahasa inggris, update informasi, dan lain-lain sehingga saya mempunyai waktu cukup.

Meskipun IPK saya pas-pasan, saya mencoba memaksimalkan dokumen lain sehingga untuk menarik penyeleksi, saya melampirkan keterangan prestasi yang pernah saya raih dan pengalaman organisasi. Perlu diketahui bahwa kriteria penilain beasiswa ini bukan hanya dilihat dari keaktifan di dalam kampus tapi juga di luar kampus. “Kebanyakan penerima beasiswa adalah para aktifis kampus”, tutur Bapak Soeparto, Kepala BKLN (Biro Kerjasama Luar Negeri) UMM dalam seminar sosialisasi Beasiswa Erasmus Mundus pada 2013.

Terdapat 2 tahap seleksi. Yang pertama seleksi antara penerima dengan cadangan dan yang ditolak. Yang kedua, seleksi antara penerima dan ditolak. Proses ini memakan waktu 1 sampai 2 bulan. Setelah sekian lama menunggu, alhamdulillah akhirnya saya diterima di urutan ke dua dari 63 penerima beasiswa se-Asia. Beberapa hari kemudian saya mendapatkan Letter of Acceptance yang menyatakan saya resmi diterima beasiswa. Pada tahap aman ini saya mulai mempersiapkan dokumen-dokumen sebelum pemberangkatan seperti tiket pesawat, visa, dan lain-lain.

Pada beasiswa ini, penerima mendapatkan studi gratis selama 9 bulan, tiket pesawat pulang-pergi, living cost 1000 euro perbulan (Rp 16 juta ketika itu), asuransi kesehatan, sertifikat penerima beasiswa, transkrip nilai, dan tentunya pengalaman yang tidak terlupakan. Di sini kami belajar bersama ratusan mahasiswa dari berbagai negara, seperti Amerika, Italia, Spanyol, Polandia, Turki, Kazakhstan, Tunisia, Ukraina, Aljazair, Kamboja, dan Filipina.

Proses pengajaran kami menggunakan bahasa inggris. Kami diberi kemudahan dan perhatian yang lebih dari para pengajar. Sebagai mahasiswa jurusan teknik informatika, saya merasakan sistem pengajaran ilmu terapan yang kami dapat jauh berbeda dari jurusan teknik informatika UMM. Perbedaannya, jika UMM menerapkan sistem 50% teori dan 50% praktek, maka di sini hanya 10% teori dan 90% praktek. Dalam hal tugas besar kebanyakan diberikan secara individu sehingga mahasiswa dituntut untuk lebih kreatif dan mandiri dalam mengerjakan tugas. Di Teknik informatika UMM kami tidak hanya diajarkan mata kuliah yang berbau IPA seperti pemrograman, namun juga diajarkan mata kuliyah yang berbau IPS seperti Pendidikan Kewarganegaraan, Kepribadian, dan Bahasa Inggris. Namun ketika itu, kami hanya diajarkan mata kuliyah yang hanya konsen dengan jurusan kami, yaitu IPA.

Di luar kelas reguler, itu kami diajar bahasa dan budaya Polandia serta Jerman selama 2 semester. Saya merasa mempelajari kedua hal ini sangat berguna terutama ketika kita berinteraksi dengan masyarakat sekitar dimana mayoritas masyarakat tidak mampu berbahasa inggris. Meskipun tidak terlalu menguasai bahasa Polandia, setidaknya saya menguasai kata-kata sehari-hari yang biasa dipakai. Saya merasakan hal ini sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari. Selain belajar bahasa Polandia di kelas, kami juga belajar sedikit tentang bahasa Turki, Arab, Spanyol, dan lain-lain dari mahasiswa yang berasal dari negara tersebut.

Selain kegiatan di kelas, kami mengikuti kegiatan di luar kelas yang di naungi oleh organisasi pemuda internasional ESN (Erasmus Student Network). Diantara kegiatannya adalah kegiatan sosial di panti asuhan dan olahraga di setiap senin. Pernah suatu ketika organisasi ini mengadakan kompetisi olahraga voli di akhir semester. Dan kami ambil bagian dengan mendirikan tim yang kami namai “Java United” yang berarti Persatuan Orang Jawa. Meskipun tim kami terdiri dari 2 orang jawa tapi kami juga merekrut anggota lain dari italia, Portugal, Kamboja, dan Turki. Kami masuk di babak final melawan anggota organisasi ESN. Diakhir babak alhamdulillah kami menjadi juara meskipun hanya runner up. Diakhir pertandingan kami mendapatkan penghargaan berupa sertifikat kejuaran di masing-masing tim.

Terdapat kebudayaan masyarakat Polandia yang berbeda dari kebudayaan kita. Seperti ketika seseorang ingin masuk ke kamar orang lain, setelah mengetuk pintu 3 kali seketika itu, dia bisa langsung masuk tanpa menunggu, selama pintunya tidak dikunci. Selain itu mereka menganggap bahwa tangan kanan sama seperti tangan kiri, sehingga kebiasaan memberikan sesuatu dengan menggunakan tangan kiri adalah hal yang biasa. Dalam hal perbedaan sistem transportasi, di negara ini menggunakan jalur kanan sebagai jalan kendaraan termasuk jalur kanan untuk para pejalan kaki. Transportasi umum lebih diminati daripada transportasi pribadi sehingga jarang terjadi kemacetan terlebih polusi udara, masyarakat mentaati peraturan lalu lintas, sistem “buang sampah pada tempatnya” juga berlaku di negara bekas komunis ini.

Ada beberapa pengalaman unik kami selama di Polandia. Salah satunya ketika kami bertemu masyarakat Polandia di jalan, mereka tidak jarang menyapa kami dengan sapaan Bahasa Jepang seperti “arigato”, “konichiwa”. Kejadian ini beberapa kali terulang pada waktu dan tempat yang berbeda. Mungkin masyarakat Polandia lebih mengenal Bangsa Jepang daripada Bangsa Indonesia. Ditambah lagi kami memiliki wajah Asia meskipun menurut kita berbeda. Pengalaman unik lain adalah ketika ada teman dari negara lain yang akan pulang ke negaranya selalu kami ajak foto bersama sambil membawa bendera negaranya dan bendera kami, Indonesia. Hal ini kami lakukan agar kita selalu saling mengingat.

Pengalaman menarik selama di Polandia adalah ketika winter atau musim salju. Pada musim ini segalanya menjadi indah. Tanah, bangunan, tanaman menjadi putih karena tertutup butiran salju. Kesempatan ini tidak kami lewatkan dengan mengabadikan gambar di beberapa tempat. Selain itu kami juga bermain skii beberapa kali. Meskipun hawa dingin menusuk tulang dan terkadang juga sampai membuat jari tangan tidak bisa bergerak, namun kami tetap menikmati suasana ini. Bagaimana tidak? Meskipun temperatur suhu minus 20 derajat cecius, kami masih asyik bermain skii hingga terkadang kami membayar harga penyewaan ekstra karena terlalu lama bermain .

Tentang makanan, setiap hari kami memasak di dapur asrama karena jarang terdapat restauran Asia. Jika adapun tentunya harganya tidak bisa dibilang murah untuk kantong mahasiswa. Makanan pokok masyarakat Polandia adalah kentang, sedangkan kita nasi, namun nasi juga dijual di sini. Setiap hari kami menanak atau menggoreng nasi dengan lauk pauk sesuai keinginan kita. Jangan harap lauk yang biasa terdapat di Indonesia seperti tempe dan bakwan ada di sini. Kita biasa makan lauk yang dijual di sini saja seperti telur, daging, ikan dan lauk umum lainnya. Dari sini kita dituntut lebih mandiri untuk melakukan apapun.

Selain Polandia kami juga menyempatkan berkunjung ke 12 negara Eropa lain. Negara tersebut adalah Jerman, Belanda, Perancis, Belgia, Spanyol, Hungaria, Czech Republic, Slovakia, Austria, Italia, Vatikan, dan Yunani. Di sini kami mendapatkan pengalaman yang tidak terlupakan. Kami berkunjung ke beberapa tempat terkenal seperti Tembok Berlin di Jerman, Kincir Angin di Belanda, Menara Eiffel di Paris, Gedung Parlemen Uni Eropa di Brussel-Belgia, Stadion Nou Camp di Barcelona-Spanyol, Gedung Parlemen Hungaria, dan Gedung Opera di Ceko. Menariknya, kami selalu membawa dan berfoto dengan bendera Indonesia, UMM, serta organisasi kami ke setiap negara tersebut. Hal ini kami lakukan agar masyarakat internasional mengetahui bahwa identitas nama baik kita berkibar dengan gagah di bumi eropa selain itu agar mahasiswa Indonesia lebih bersemangat untuk melakukan hal yang sama, kuliah di luar negeri. Dari kunjungan ini kami mendapatkan pengalaman yang tidak terlupakan. Selain keindahan artsitektur eropa kami juga bertemu beberapa masyarakat dengan berbagai macam latar belakang sosial, budaya, dan agama. Dari interaksi ini kami menemukan pengetahuan yang tidak kami pelajari di bangku perkuliahan. Pengalaman yang baik perlu kami tiru dan implementasikan nantinya.

Berkaitan dengan beasiswa, saya memiliki beberapa saran serta tips bagi calon pelamar, diantaranya :

  1. Diperlukan niat, kesabaran, dan usaha yang kuat. Sebagian teman yang awalnya mempunyai niat besar belajar di luar negeri merasa sibuk dengan urusannya masing-masing dan akhirnya memilih mengundurkan diri dari melamar beasiswa ini. Padahal mereka sudah melengkapi sebagian persyaratannya. Mereka merasa tidak sanggup karena mereka pikir persyaratannya terlalu rumit. Padahal kebanyakan beasiswa luar negeri yang ditawarkan memang seperti itu, membutuhkan banyak persyaratan yang harus disiapkan untuk mencari mahasiswa sesuai kriteria penyedia beasiswa, sehingga membutuhkan niat, kesabaran, serta usaha yang kuat dalam mengurusnya. Secara tidak langsung mereka menyeleksi dirinya untuk tidak diterima beasiswa. Padahal bagi penyedia beasiswa, persyaratan tersebut digunakan untuk referensi siapa diri anda, apakah Anda orang pilihan yang sesuai kriteria mereka? Untuk menjadi tidak biasa, kita harus menjadi luar biasa, luar biasa dalam niat, kesabaran, dan usaha;
  2. Bahasa Inggris adalah kebutuhan. Bahasa Inggris tentunya menjadi suatu kewajiban sebagai alat komunikasi dengan masyarakat antar negara. Kebanyakan beasiswa luar negeri mensyaratkan Bahasa Inggris sebagai bahasa yang dipakai dalam pembelajaran mata kuliah baik secara lisan maupun tulisan. Bahasa inggris lisan dipakai dalam percakapan antara dosen dan mahasiswa maupun antar mahasiswa, sedangkan tulisan biasa dipakai dalam literatur modul yang dosen berikan. Bagi Anda yang merasa Bahasa Inggrisnya masih pas-pasan, lebih baik belajar dari sekarang! Jika perlu ambil kursus! Dalam seleksi administrasi beasiswa, penyeleksi beasiswa melihat kemampuan Bahasa Inggris Anda dari sertifikat Bahasa Inggris, semisal TOEFL. Namun khusus di UMM bisa menggunakan sertifikat ESP (English for Specific Purpose) yang diterbitkan lembaga Language Center UMM, jika belum mempunyai sertifikat ESP bisa menggunakan transkrip ESP sementara;
  3. Pelajari persyaratan dan kriteria penilaian sedetail mungkin! Jika Anda mengetahui keduanya Anda akan mengetahui apa yang akan Anda lakukan. Terkadang ada informasi yang tidak Anda ketahui, seperti persyaratan passport bisa diganti dengan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) dan sertifikat TOEFL bisa diganti dengan transkrip ESP LC. Hal-hal tersebut memang tidak tertulis di website resminya. Maka jangan ragu untuk bertanya kepada BKLN (Biro Kerjasama Luar Negeri) maupun mahasiswa yang sudah mendapat beasiswa ini;
  4. Pergunakan waktu untuk mengurus dokumen persyaratan sebaik mungkin! Jangan mepet deadline! Penyedia tidak akan mentoleransi jika kita apply beasiswa melebihi deadline;
  5. Selalu update informasi dari BKLN dan penyedia beasiswa!;
  6. Jangan ragu untuk bertanya kepada mereka yang sudah mendapat pengalaman beasiswa!;
  7. Motivation Letter dan CV mempunyai kriteria penilaian yang besar. Penyedia beasiswa akan membaca siapa diri kita di Motivation Letter dan CV. Sebaiknya share Motivation Letter dengan dosen bahasa inggris apapun jurusan Anda, karena mereka berkecimpung dalam dunia bahasa inggris terutama grammar!;
  8. Sertakan nilai plus yang Anda miliki seperti prestasi, pengalaman organisasi, karya tulis dan lain lain karena itu akan sangat membantu dan membedakan diri kita dengan orang lain! Sertakan surat aktif organisasi dan sertifikat prestasi! Jika tulisan Anda pernah dimuat di koran, sertakan scangambar berita koran tersebut! Jika Anda pernah menerbitkan buku atau membuat PKM, lampirkan juga gambar karya tulis tersebut!;
  9. Tawakkal, berserah diri apapun hasilnya! Kita tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi. Yakinlah hal itu merupakan terbaik! Meskipun nantinya kita tidak diterima pada program ini, lebih baik kita interopeksi diri. Menginteropeksi kekurangan apa yang sudah kita miliki dalam melamar beasiswa. Hal ini akan membuat kita selalu semangat mencoba kesempatan beasiswa yang akan datang maupun beasiswa lain. Yakinlah jika kita mempunyai banyak kesempatan. Jika yang satu gagal masih bisa mencoba beasiswa-beasiswa lain yang sesuai kriteria kita. Dengan semakin baiknya interopeksi yang kita lakukan, akan membuka kesempatan lebih besar untuk mendapatkan peluang lain.

Sedikit cerita yang bisa saya sampaikan. Semoga sepenggal cerita ini bermanfaat bagi yang lain. Amin. “Man jadda wa jada” , “barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan mendapatkannya”. (Red: Syukron/ Ed: Amir)

Hey, my name is Stenly, Do you know Jet Lee? Do u know Bruce Lee. Yup I am Stenly. Saya pelajar dan pengajar, pagi saya diajar, malam saya gantian yang mengajar. Sekarang saya sedang proses akhir yang hampir tiap mahasiswa master tahu, thesis. Sedang tekun mendalami efek sosial media terhadap kepecayaan diri pengguna dalam berkomunikasi maupun berpublik relasi. Kenapa saya kok fokus dengan judul itu? Ya karena jurusan saya PR (Public Relation) dan promosi di Ege university-nya Turki yang katanya kayak UGM (Universitas Gadjah Mada) sama UI (Universitan Indonesia)-nya Indonesia. Jadinya saya harus fokus thesis dengan judul berbau komunikasi dan kehumasan.

Pagi saya diajar PR oke, terus saya ngajar apa dan siapa malamnya? saya mengajar masyarakat Turki untuk belajar komunikasi dengan bahasa Inggris dengan baik dan benar. biar kayak orang Indonesia, ngomong Inggrisnya cas cis cus. Kadang ya Perancis, kadang ya Spanyol, atau komunikasi umum.

Loh kak kok milih Turki? Gak takut bom? Jangan salah, saya juga punya bom, bom cinta untuk alam semesta hahahhaha. Ngene lho Rek! Semua takdir sudah digariskan, kalau emang kita ditakdirkan dipanggil cepat, bisa saja abis baca tulisan saya ini, kita dipanggil ke sisi-Nya? Jadı bom bukan masalah utama yang dıjadıkan bahan ketakutan, namun kurang produktıf ıtu yang buat saya jadı bahan ketakutan. Toh dı mana saja kıta berproduktıf, tetap dı tanah Tuhan kan?

S2 ini adalah program berat untuk memilih karena sebenarnya saya mendapat 3 beasiswa tahun 2014, Turki, Westminster dan Bournemouth. If you were me, you would grab the last two choices right, UK. sure, I did the same! But saya sholat, doa, dan merenung akhirnya memilih negeri Turki, Majapahitnya asia tengah. Turki buat saya adalah jembatan 3 benua, asia, eropa dan afrika. semakin banyak benua yang akan dijelajah, makin banyak pula kesempatan, ilmu, pengalaman, bahasa yang akan dikuasai. Dan alhamdulillah, saya dapat apa yang saya rencanakan.

Selama Saya menempuh S2 sudah melakukan apa saja? Yang pasti sesuai janji saya, belajar giat dan praktik ilmu yang ada tanpa organisasi karena cukup s1 organisasi.

"Gak cukup ta branch director Indonesia gawe Asia Pasific youth organisation? Belajar giat Nak dan banggakan nama keluarga, angkat nama keluarga dan kami percaya Eric Stenly pasti bisa." Itulah yang akhirnya membuat saya menolak halus tawaran yang datang ke saya, mulai dari ketua PPI kota maupun negara sampai pengawas pendidikan tingkat Asia Timur Tenggara serta koordinator internasional untuk couchsurfing dunia. Saya saat ini hanya ingin cuma satu, lulus dengan selempang pengalaman untuk diadaptasikan dengan kondisi negara kita, Indonesia.

Sekarang saya sedang apa? Saya sedang nesis, mengajar online maupun offline dengan relasi Europa dan Asia, melakukan penelitian dengan professor dan dekan dari kampus saya. Sebenarnya saya juga kurang percaya ketika ditawari professor plus dekan untuk berprojek bersama, karena saya baru belajar Turki, orang non Turki dan masih dibilang mahasiswa baru. Namun Tuhan berkata lain, semoga amanah ini bisa berjalan dengan sesuai rencana dan barokah, amin.

Saya juga kalau ditanya, apa sih rahasia kamu sten kok bisa sukses? So far saya cuma berdoa, berusaha, berusaha dan berusaha. Itu saja. Dengan doa dan usaha, mulai SMP hingga saat ini saya kuliah dengan beasiswa. Nol rupiah saja. Dengan doa dan usaha, saya dipercaya mewakili kampus untuk pertukaran Erasmus ke Spanyol semester lalu plus dapat 4 tawaran kerja di sana.

Dan berkat doa dan usaha, saya bisa mengajar hingga murid yang biasanya kita ajar komplain ketidaknyaman malah meminta saya menjadi dosen tetapnya ketika saya mengganti dosen mereka. Semua berkat doa dan usaha. Jika Allah dan saya percaya kekuatan doa dan usaha, kenapa dulur Cak dan Ning semuanya tidak percaya?

Penulis: Erik Stenly (mahasiswa Ege University, Turki)

Tanggal 19 Desember setiap tahunnya diperingati sebagai salah satu hari yang bersejarah, yaitu Hari Bela Negara. Tepat pada tanggal yang sama di tahun 1948, Indonesia berjuang lagi dengan membentuk Pemerintahan Darurat untuk melawan ancaman dari penjajah. Pada tahun ini, tugas berat yang harus diatasi bukanlah dari berperang melawan penjajah, tetapi berperang mengatasi kemiskinan. Sayangnya, hingga saat ini peringatan Hari Bela Negara tidak terlalu populer seperti hari-hari besar lainnya. Pemerintah diharapkan dapat berperan lebih dalam mempromosikan hari bersejarah ini, khususnya kepada pelajar sejak dari bangku sekolah dasar.

Pada hari Senin (19/12/16), PPI Dunia menghadirkan dua pelajar Indonesia dalam dua siaran RRI Voice of Indonesia mengenai Hari Bela Negara. Egtheasilva (Tessa) Artella (Master of Work, Organization, and Personnel Psychology di Universidad de Valencia, Spanyol) menjadi narasumber dalam program Youth Forum sedangkan Gustika Jusuf-Hatta (B.A. War Studies di King’s College London, UK) menjadi pembicara dalam program KAMU (KAmi yang Muda).

“Hari Bela Negara adalah suatu hari yang sangat penting untuk diperingati dan diaplikasikan dalam kehidupan sekarang. Makna bela negara tidak hanya berbicara mengenai militer, tetapi lebih daripada itu, khususnya bagi pemuda, dapat berkontribusi dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki,” terang Tessa, mahasiswi yang melanjutkan studinya di Spanyol tersebut.

whatsapp-image-2016-10-02-at-22-52-14

“Sebagai pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri, partisipasi terhadap penyelenggaran acara kultural Indonesia juga merupakan bentuk pertahanan negara. Begitu juga partisipasi sebagai mentor atau motivator dalam organisasi seperti PPI atau Sahabat Beasiswa. Selain itu, pengembangan aplikasi kuis mengenai pahlawan dan sejarah dapat menjadi salah satu bentuk unik dalam menyediakan pengetahuan terhadap generasi muda,” lanjut Tessa.

Sementara itu dalam program Kami yang Muda, Gustika memaparkan, “perjuangan di Hari Bela Negara memiliki nilai memorial yang sangat sakral bagi bangsa Indonesia. Tidak benar bahwa tidak ada semangat bela negara dalam hati setiap pemuda Indonesia, hanya saja perlu lebih digali lagi.”

Bela negara tidak hanya dapat dilakukan dengan berada di Indonesia. Walaupun menempuh studi di luar negeri, dengan menjadi representatif Indonesia di organisasi dunia juga merupakan suatu hal yang bernilai tinggi,” tambah mahasiswi yang sedang berkuliah di Inggris ini.

“Pemberlakuan wajib militer tentunya memiliki banyak sisi positif. Selain memberikan pengetahuan yang lebih mengenai sistem militer. Sistem ini lebih baik diberlakukan dengan sistem sukarela, bukan dalam konteks wajib. Diharapkan juga sukarela militer ini diperkenalkan secara dini sehingga maknanya dapat lebih dipahami,” lanjutnya.

Baik Tessa maupun Gustika menyatakan bahwa semangat bela negara dan nasionalisme harus dimulai dari diri sendiri. Sejarah dapat menjadi ilmu dalam mengembangkan Indonesia dari berbagai sisi ke arah yang lebih baik lagi.

(CA/Ed )

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia kembali melebarkan kerja sama dengan media. Kali ini adalah MNC Group yang berlangsung pada Kamis, 24 November 2016 lalu. PPI Dunia diwakili oleh Intan Irani Puspita Santi selaku Koordinator PPI Dunia, Estrella Advensia (Wakil Koordinator media komunikasi PPI Australia), Yogawira Prada Pasiaji (Wakil Ketua PPI Spanyol), Teja Sukma Cakraningrat (Koordinator HRD PPI Russia), Andika Setya Nugroho (Koordinator Departemen Ekonomi dan Wirausaha PPI Turki), Ayub Angga Direja (Koordinator Humas dan Media PPI Taiwan), Reja (Ikatan Alumni PPI Filipina dan PPI Dunia), Andre Mokalu (Humas PPI-MIB Birmingham), Ardhi Rahmani (Wakil Ketua PPI Ceko Demissioner), dan Rizki Putri Rezna Hassan (Koordinator Divisi Pendanaan PPI Dunia).

Rombongan PPI Dunia yang mengunjungi Gedung I News Centre lantai 10, Jakarta tersebut diterima oleh para perwakilan dari MNC Group, yaitu Direktur News MNC Group Arya Sinulingga, Pemred iNews TV Rizal Yusaac, Wapemred iNews TV Ariyo Ardi, Pemred Global TV Apreyvita Dyah Wulansari, Pemred MNC TV Yadi Hendriana, Pemred News Channel Herik Kurniawan, Pemred World News Tommy Tjokro, dan Manager News Gathering Reguler Feby Budi Prasetyo, dan Kadiv News Gathering Geong Rusdianto.

Foto bersama perwakilan PPI Dunia dengan MNC Group.

Foto bersama perwakilan PPI Dunia dengan MNC Group.

Intan Irani, Koordinator PPI Dunia sedang menyampaikan gagasannya.

Intan Irani, Koordinator PPI Dunia sedang menyampaikan gagasannya.

Audiensi pertama kali dibuka oleh Intan Irani dengan pengenalan mengenai PPI Dunia. Intan menjelaskan secara detail mengenai rencana aksi PPI Dunia yang merupakan hasil rekomendasi serta Sidang Komisi pada Simposium Internasional ke-8 PPI Dunia di Kairo pada 24 – 28 Juli 2016, ’’rencana aksi kami dibagi ke dalam empat komisi, yaitu Komisi Pendidikan, Komisi Ekonomi, Komisi Politik, dan Komisi Agama,’’ ucap Intan yang juga mantan Ketua PPI Italia tersebut.

Suasana rapat antara perwakilan PPI Dunia dengan MNC Group.

Suasana rapat antara perwakilan PPI Dunia dengan MNC Group.

Beberapa perwakilan MNC Group.

Tampak beberapa perwakilan MNC Group.

Selanjutnya, MNC Group memaparkan profil perusahaan mereka. Secara garis besar, pihak MNC Group menyambut secara positif kerja sama yang ditawarkan oleh PPI Dunia. MNC Group melihat potensi mahasiswa yang tersebar di seluruh dunia sebagai "perpanjangan" media pelajar Indonesia.

Intan Irani dan Arya Sinulingga, Direktur Pemberitaan MNC Group.

Intan Irani dan Arya Sinulingga, Direktur Pemberitaan MNC Group.

Dari hasil diskusi, PPI Dunia dan MNC Group menemukan beberapa bentuk gambaran kerja sama. Pertama, PPI Kontributor, jadi pelajar tidak hanya menjadi citizen journalist yang hanya melaporkan berita yang situasional saja. Namun, pelajar menjadi kontributor tetap dengan konten yang bisa disiapkan dari MNC Group. Materi yang disampaikan bisa berupa kehidupan personal mahasiswa yang menarik, negara di mana terdapat PPI Negara yang masih sedikit jumlah mahasiswanya, serta mengangkat tema pelajar dan diaspora masyarakat Indonesia. Apabila materi yang diberikan oleh PPI mencukupi secara kualitas dan kuantitas, MNC bersedia menyediakan satu segmen atau bahkan acara khusus mengenai PPI. ’’Selanjutnya antara PPI Dunia dan MNC Group akan terus mengkomunikasikan rencana kerja sama tersebut,’’ ucap Arya Sinulingga. Tak ketinggalan, Intan juga berharap kerja sama kali ini bisa memperluas kesempatan pelajar Indonesia memberikan inspirasi melalui pemberitaan media di Indonesia.

 

(Dinda Lisna Amilia/Farhanah)

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920