logo ppid

Yuk, saksikan siaran Kampung Halaman dengan tema "Europalia Indonesia" bersama Kreeshna Siagian, mahasiswa jurusan Political Strategy and Communication, University of Kent, Brussels. Pada Minggu, 16 Oktober 2016, pukul 21:20 WIB, hanya di RRI Pro3 88,8 FM. Jangan sampai ketinggalan ya..

Europalia Indonesia

Europalia Indonesia

 

“Komunikasi dan edukasi adalah dua kunci utama dari upaya penanggulangan bencana,” pandangan yang sama dari dua mahasiswa Indonesia dalam tema diskusi International Day of Disaster Reduction dengan RRI Voice of Indonesia pada Senin (10/10/16) pukul 10.30 dan 11.30 WIB.

Hari International Day of Disaster Reduction ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 1989 untuk diperingati setiap tanggal 13 Oktober sebagai suatu simbolis untuk meningkatkan kesadaran terhadap resiko dan bahaya dari bencana.

Dalam Youth Forum, Giri Fidelis Salim berkata, “komunikasi adalah aspek terpenting dalam penanggulangan bencana. Komunikasi adalah kunci dari bagaimana peringatan bencana disampaikan dan bagaimana penanggulangan bencana dapat tersalurkan dengan baik. Seperti kesuksesan upaya penanganan terhadap kecelakaan yang terjadi di Christmas Island Australia tidak luput dari lancarnya komunikasi.”

“Edukasi kesiapsiagaan bencana dengan basis role play adalah salah satu cara yang dapat dilakukan, sebagai suatu cara yang efektif dan menarik dalam menurunkan fatalitas dari suatu bencana kelak. Baik organisasi maupun pemerintah dapat memfasilitasi suatu simulasi seperti gempa bumi dan mengajarkan solusi bagaimana atau tindakan apa yang harus dilakukan saat itu, misal keluar dari gedung segera atau dengan bersembunyi di bawah meja,” ujar mahasiswa yang berkuliah di University of Melbourne tersebut.

“Generasi muda adalah sasaran utama dalam program kesiapsiagaan bencana ini. Mereka akan menjadi bibit baru dalam internalisasi dan eksternalisasi dalam aplikasi pengetahuan ini,” lanjut mahasiswa yang menggeluti bidang Bachelor of Science.

Dalam sesi Kami Yang Muda (KaMu), dari Fathan Asadudin Sembiring, Sekretaris Jendral PPI Tiongkok Tahun 2013-2014, berkata,”International Day of Disaster Reduction penting untuk diperingati sebagai satu memorial kewaspadaan bencana alam. Di Tiongkok, hari ini diperingati setiap tanggal 12 Mei mengikuti bencana besar di Sze Chuan pada tanggal tersebut sebelumnya.”

“Seperti kita ketahui bahwa Indonesia dan Tiongkok cukup rawan dengan bencana, sistem penanggulangan bencana harus dikelola dengan baik. Tiongkok yang cukup baik dalam kewaspadaan dan penanggulangan bencana dapat dijadikan contoh oleh Indonesia, terutama di bidang informasi dan komunikasi. Sumber detektor bencana seperti BMKG harus sedemikian rupa memastikan agar pesan waspada terhadap bencana diketahui oleh masyarakat,” ujar Fathan yang sekarang sedang meniti karir di Beijing.

“Mitigasi bencana di Indonesia masih kurang terutama dalam segi struktural dibandingkan dengan Tiongkok. Koordinasi harus ditingkatkan karena seperti yang kita lihat pada bencana di Garut, seharusnya dapat ditanggulangi lebih baik bila ada tatanan rapi dalam sistem struktural,” lanjutnya.

“Di Tiongkok, edukasi kesiapsiagaan bencana bahkan telah dimulai sejak sekolah dasar. Mereka menerapkan semacam standar operasional atau silabus yang terstruktur. Untuk pemuda, seharusnya mereka sudah mendapat edukasi yang cukup, sehingga harus siap dalam porsi sebagai sukarelawan,” ujar alumni Master Bisnis Internasional di University of International Business and Economics di Beijing, Tiongkok.

Menurut Fathan dan Giri, Indonesia telah cukup baik dalam upaya penanggulangan bencana setelah tsunami besar yang terjadi di Sumatera lebih dari satu dekade yang lalu.

Menurut kedua mahasiswa tersebut, ada beberapa aspek pengembangan penanggulangan bencana di Indonesia yang masih perlu ditingkatkan, seperti edukasi emergency preparedness sejak dini, pembangunan infrastruktur yang lebih baik lagi dalam menanggulangi bencana dalam membuat warning system, dan sistem informasi yang lebih baik lagi mengenai peringatan bencana melalui media massa seperti website dan sosial media. Terlepas dari hal tersebut, mereka tetap menekankan pada upaya promotif dan pencegahan bencana yang dapat dicegah seperti banjir. Mulailah dari diri sendiri seperti janganlah membuang sampah sembarangan dan mengotori gunung.

(Red, CA/Ed, F)

Kata 'makanan' tentu sangat akrab di telinga kita. Mendengar kata ini, mungkin pikiran kita akan terbawa pada sesuatu yang lezat yang kita konsumsi paling tidak tiga kali setiap harinya. Tanpa asupan makanan, perut akan terasa lapar dan badan kita pun menjadi lemas.

Namun, tahukah Anda bagaimana kondisi pangan dunia sekarang ini? Atau, apa saja isu-isu dalam bidang kuliner yang sedang trend akhir-akhir ini? Kalau penasaran, simak siaran PPI Dunia bersama RRI bertajuk "World Food Day" pada hari Senin, 17 Oktober 2016, bersama Renzky Kurniawan (PPI Italia) dalam program Youth Forum dan oleh Rajiansyah (PPI Polandia) dalam program KAMU (Kami yang Muda). Akan ada berbagai pengetahuan menarik yang dapat sobat-sobat PPI Dunia dapatkan. Jangan sampai terlewat!

kakaotalk_20161010_073936770

“Anti kekerasan tidak sesederhana lawan kata dari kekerasan. Anti kekerasan memiliki makna lebih, yaitu bagaimana cara agar semua manusia hidup dalam kedamaian, menghindari konflik, atau mampu mengatasi konflik tanpa melakukan sesuatu yang dapat membahayakan maupun merugikan orang lain,” sebuah ujaran serentak disuarakan dari dua mahasiswa Indonesia dalam tema diskusi International Day of Non-violence bersama RRI Voice of Indonesia pada hari Senin (03/10/16) pukul 10.30 dan 11.30 WIB.

Hari International Day of Non-Violence ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 2007 untuk diperingati setiap tanggal 2 Oktober. Berbicara tentang sejarah singkat, hari International Day of Non-Violence sebenarnya diambil dari hari ulang tahun Mahatma Gandhi yang telah secara sukses mengantarkan India menuju hari kemerdekaannya dengan menjunjung tinggi nilai damai, toleransi, dan anti kekerasan.

Shirin Ebadi, wanita asal Iran yang juga sebagai aktivis HAM, mengajukan agar diperingatinya hari anti kekerasan. Respon ini menarik perhatian dari Partai Kongres di India (Ahimsa) dan menginspirasi PBB untuk menetapkan hari International Day of Non-Violence pada tanggal 2 Oktober. Tujuan dari peringatan hari tersebut adalah sebagai pengingat yang sangat penting dalam anti kekerasan terutama dalam bidang politik dengan tidak melupakan aspek kehidupan lainnya.

Dalam siaran Youth Forum bersama RRI Voice of Indonesia, Citra Aryanti berkata , “Budaya anti kekerasan bukan hanya untuk menciptakan dunia yang bebas perang, tetapi memiliki makna lebih komprehensif seperti menumbuhkan rasa kemanusiaan, kebersamaan, dan menghormati martabat sesama manusia. Dengan hal ini, dunia tanpa kekerasan akan membuat makna baru bagi kehidupan seluruh manusia.”

“Seluruh masyarakat harus paham bahwa kehidupan manusia tidak dibagi menjadi politik, sosial, agama, tetapi semua aspek itu harus dipandang secara komprehensif untuk menumbuhkan semangat saling menghormati satu sama lain. Kata ‘terima kasih’ adalah esensi dasar untuk menumbuhkan nilai-nilai anti kekerasan lainnya,” lanjut mahasiswi yang sedang mempersiapkan ujian penyetaraan kedokteran di Amerika Serikat tersebut.

Citra menambahkan, ”Untuk mencapai skala global dari anti kekerasan, nilai-nilai anti kekerasan harus mulai diterapkan dari diri sendiri. Seseorang dapat mencapai nilai tersebut dengan beberapa hal, misal, lebih banyak mendengar daripada berbicara, membudayakan minta maaf dan memaafkan, dan kontrol emosi yang baik dengan menghindari ekspresi kemarahan. Selain itu, saya senang tema hari anti kekerasan tahun ini yang menempatkan fokus pada lingkungan di mana manusia harus memperlakukan lingkungan sebagaimana mestinya.”

Masih bersama RRI Voice of Indonesia dengan program siaran lain bertajuk KaMU, Adam Dwi Baskoru pun ikut ambil bicara soal hari International Day of Non-Violence ini. “Dalam Agama Islam, diajarkan untuk sebisa mungkin menghindari kekerasan. Konflik adalah sumber dari perilaku kekerasan. Bila ada suatu masalah, janganlah menggunakan emosi untuk menyelesaikannya. Cobalah untuk mengatasi konflik dengan kepala dingin atau tanpa tindak kekerasan,” terangnya. Perilaku anti kekerasan pemuda tidak hanya diaplikasikan dalam hari ini saja, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mahasiswa yang sedang menggeluti bidang Islamic Law di Universitas Al-Azhar Mesir itu menyerukan bahwa, “Mahatma Gandhi berhasil menyatukan masyarakat India dengan tanpa kekerasan. Ia bahkan tidak pernah marah saat dicela orang lain. Pemuda harus meniru apa yang telah dilakukan oleh Mahatma Gandhi, bisa juga dengan mencurahkan dalam bentuk tulisan atau media lainnya. Dengan ini, pemuda dapat menjadi tulang punggung suatu negara maupun dunia dalam menciptakan suasana anti kekerasan.“

Kedua narasumber diatas memiliki pandangan yang sama bahwa kekerasan bersumber dari konflik. Konflik dapat menjadi suatu perilaku yang membuat seseorang acting out dalam bentuk ekspresi kemarahan atau lebih ekstrimnya lagi melakukan tindak kekerasan fisik. Kondisi ini dapat mempengaruhi bahkan sampai skala global. Edukasi dapat menjadi kiat untuk kontrol diri, manajemen konflik dalam ruang lingkup anti kekerasan.

Menuju Indonesia yang lebih damai dan tanpa kekerasan secara berkelanjutan, sudah barang tentu menjadi harapan seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali oleh Adam dan Citra. Indonesia dapat menciptakan lebih banyak wadah bagi aktivis non kekerasan dalam satu hati, dan satu hari pada satu waktu dalam visi dan misi sama dalam menciptakan budaya anti kekerasan. Selain itu, program kesehatan hendaknya tidak hanya terfokus pada satu aspek seperti perawatan penyakit, tetapi perlu memperhatikan aspek psikologis karena aspek itulah yang mendalangi semua perilaku baik kekerasan maupun anti kekerasan. Kemudian, ciptakan perang terhadap narkoba karena ini menjadi suatu ketidakamanan yang sudah mengglobal.

“Sosial media dapat dijadikan wadah gerakan sosial dan revolusi di seluruh dunia. Banyak aktivis yang memanfaatkan media sosial untuk merangkul aktivis lain dalam tujuan meningkatkan pesan anti kekerasan dalam isu-isu kontroversial yang kemudian tidak disangka dapat mempengaruhi politik dan kehidupan sosial,” terang kedua mahasiswa tersebut mengakhiri sesi diskusi dengan RRI Voice of Indonesia. (Red CA, Ed AASN)

 

"Apa yang menarik dari batik bagi orang sana?" tanya penyiar RRI. "Motifnya. Sehingga tidak hanya dibuat pakaian saja tapi bisa berbentuk souvenir, seperti: gantungan kunci, hiasan dinding, dan lainnya," santai Amelia Putri.

Sebuah bincang santai pada siaran Kampung Halaman "Aloen-aloen 2016; Pesta Rakyat Ala Indonesia di Montreal, Kanada" oleh Amelia Putri di RRI Pro3 88.8 FM, Minggu (25/9) pukul 21.20 WIB berlangsung sukses.

Event budaya tahunan yang digalakkan oleh Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Kanada (Permika), khususnya Montreal dengan menyuguhkan segala sesuatu tentang Indonesia. Tidak salah lagi, Etnik Indonesia benar-benar sangat unik, apalagi dapat dipamerkan di salah satu kota di Kanada ini. "Masyarakat Kanada khususnya Montreal termasuk orang-orang yang menjunjung tinggi yang namanya culture," papar Amelia yang biasa disapa Amey.

Mahasiswi Master of Air and Space Law, McGill Universty ini sangat gembira melihat antusias masyarakat Kanada dalam memeriahkan festival Indonesia tersebut. Festival yang bertujuan untuk ajang promosi budaya Indonesia ini, sekaligus juga menjadi tempat silaturahmi dan meeting point antara WNI dan masyarakat Kanada.

Event ini bukan hanya sekadar menayangkan kebudayaan saja, melainkan juga menyajikan makanan dan jajanan khas Indonesia. Adapun pertunjukkan budayanya, seperti: tarian daerah, keroncong, dangdut, workshop wayang kulit, dan tersedia pula bazar merchandise batik, topeng, perhiasan dan lain-lain.

Tempe yang menjadi makanan asli Indonesia pun tak terlewatkan menjadi bahan pertanyaan oleh RRI, "Di sini untuk tempe susah, adanya ibu-ibu Indonesia yang membuat nasi kuning, sate, risol, dll. Kawan-kawan Permika juga turut memasak," jawab Amelia soal tempe tadi. Menurut Amelia, ia mengharapkan kegiatan ini dapat menunjukkan eksistensi masyarakat Indonesia, terutama para pelajarnya yang sedang menuntut ilmu di Kanada; bahwa ia dan kawan-kawannya tidak lupa terhadap tanah air dan budaya bangsa ibunya.

Selain itu mereka berharap agar masyarakat asing dapat mengenal lebih dekat tentang Indonesia, tidak hanya melihat keindahan pariwisatanya, tetapi juga mencicipi langsung kuliner khasnya dan merasakan interaksi langsung dengan masyarakat Indonesia di Kanada. (ADB/AA)

img-20161002-wa0007

Kita selalu bertanya-tanya kenapa banyak pengusaha besar di daerah kita adalah orang Tiongkok. Kita juga terheran-heran kenapa mereka mampu menguasai banyak sektor usaha, bahkan kita dibuat akrab dengan segala peralatan yang lagi-lagi buatan Tiongkok.

(more…)

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920