logo ppid

Dalam memperingati hari penerbangan indonesia, PPI menghadirkan Gery Maulana Muhammad (PPI Polandia) dalam program RRI Voice of Indonesia Youth Forum pada tanggal 10 April 2017 pukul 10.30 WIB.

Dalam program Youth Forum, Gery berkata bahwa, “Penerbangan Indonesia semakin berkembang, baik teknologi maupun keamanan yang dijanjikan. Seperti yang saya lihat saat menghardiri peringatan Hari penerbangan kemarin di Bandara Halim Perdanakusuma, Indonesia.”

“Penerbangan memang bukan transportasi yang murah, tetapi pesawat terbang memberikan kesempatan bagi kalangan yang membutuhkan efisiensi waktu atau waktu yang singkat untuk mencapai tempat yang jauh,” lanjut mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Polandia tersebut.

Menurut Gery, harapan ke depan adalah penerbangan Indonesia dapat berkembang dalam waktu yang cepat. Keamanan harus menjadi prioritas utama dalam industri penerbangan.

(Red, CA / Ed, pw)

Dengan banyaknya media penyiaran yang tersebar di seluruh Indonesia, perlu sudut pandang kritis dari para pendengar untuk menyaring informasi yang dipaparkan. Dalam kesempatan ini, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) menghadirkan, Nadhira Zhafirany (Koordinator Biro Pers PPI Dunia 2016/2017) dan Aprilia Sasmar Putri (Radio PPI Dunia), masing-masing dalam program RRI Voice of Indonesia Youth Forum dan Kami Yang Muda pada tanggal 3 April 2017 masing-masing pada pukul 10.30 WIB dan 11.30 WIB.

Dalam program Youth Forum, Nadhira mengatakan, “berbagai media penyiaran tersebar di Indonesia seperti televisi, radio, dan bahkan internet untuk memperoleh berita dengan tercepat. Media Indonesia sedang dalam perkembangan pesat dengan beragamnya berita yang disajikan menuju ke arah yang positif.”

“Media diharapkan lebih teliti dan netral dalam menyajikan seluruh informasi yang diterima, dengan mengesampingkan berita yang tidak benar atau hoax. Penerima berita sendiri juga harus lebih kritis dalam menanggapi berita yang masuk dengan banyaknya media yang menyiarkan berita,” lanjut mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan di Belgia tersebut.

Dalam program Kami Yang Muda, April berkata bahwa, “radio lebih bersifat auditori dan televisi bersifat visual. Yang paling menarik adalah internet, seperti menggabungkan media visual dan auditori. Di Indonesia, konten sudah bervariasi hanya saja perlu pembenahan beberapa konten agar tidak terlalu bersifat marketing atau pro ke satu sisi.”

“Pendengar harus bersifat proaktif dan memberikan kritik atau saran bila ada siaran yang perlu pembenahan. Penyiar juga diharapkan menganalisis secara cermat dan menyajikan konten dengan tepat,”ujar mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan di Belanda tersebut.

Menurut Nadhira dan April, harapan ke depan adalah media lebih positif dan netral dalam menyajikan berita. Tidak lupa apresiasi juga kepada para wartawan atau tim penyiaran yang telah memberikan penyajian berita yang berkualitas. Tetap maju media penyiaran Indonesia!

 

(Red CA, Ed F)

Hari Penyiaran Nasional diperingati setiap 1 April bertepatan terbentuknya stasiun radio di Indonesia yang berhasil membangkitkan solidaritas pemuda memperjuangkan kemerdekaan. Sekarang, ketersediaan media penyiaran sudah makin beragam, begitu juga dengan konten yang disajikan. Simak perbincangan menarik mengenai hal ini hanya di RRI VOI Senin 3 April 2017!

Film Indonesia telah menunjukkan kebangkitan dan pertumbuhan jumlah produksi yang menggembirakan. Dalam kesempatan ini, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) menghadirkan, Antonius (PPI Singapura) dan Merry Ajeng (PPI Jerman), masing-masing dalam program RRI Voice of Indonesia Youth Forum dan Kami Yang Muda pada tanggal 27 Maret 2017 masing-masing pada pukul 10.30 WIB dan 11.30 WIB.

Dalam program Youth Forum, Antonius mengatakan, “film Indonesia akhir-akhir ini sudah mulai berkembang, khususnya pada film laga yang bahkan diterima di mata internasional. Kelebihan dari Film Indonesia adalah pembuat film dapat mengenalkan budaya Indonesia yang kental dan kesan moral yang ditonjolkan. Tetap perlu ada perkembangan kualitas teknik penggarapan film dan kualitas akting. Sebagai penonton Indonesia, juga perlu lebih menghargai karya film dalam negeri yang disajikan.”

“Kebijakan sensor film seperti sensor kekerasan sebenarnya masih kontroversial. Penonton perlu mengerti mengenai perkembangan film bahkan anak-anak, di sinilah peran orang tua penting dalam membuat anak-anak mengerti makna dari tontonan yang disajikan,” lanjut mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Singapura tersebut.

Dalam program Kami Yang Muda, Merry berkata bahwa, “salah satu film Indonesia, The Raid, telah berhasil menjadi pembuka infiltrasi film Indonesia ke dunia internasional. Di Jerman, ada setidaknya 2 film Indonesia yang ditayangkan setiap tahunnya.”

“Dukungan pemerintah terhadap film Indonesia sudah sangat baik dengan hadirnya beberapa tokoh politik dalam premier beberapa film di Indonesia. Untuk para pemuda diharapkan ke depannya lebih berani mengeksplor keindahan alam Indonesia dalam film,” ujar mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan di Jerman tersebut.

Menurut Antonius dan Merry, harapan ke depan adalah Indonesia dapat lebih meningkatkan kualitas film yang disajikan, baik itu film layar lebar, sinetron, atau film pendek. Insan perfilman Indonesia diharapkan lebih berani dengan kreativitas mereka untuk membuat gebrakan baru dalam dunia film. Untuk para penonton, diharapkan lebih menghargai dan mencintai hasil karya film orisinal, terutama film dalam negeri. Maju terus perfilman Indonesia!

 

(Red CA, Ed F)

Tahun 1950 menjadi tahun pertama Indonesia berhasil menerbitkan Film. Belakangan ini, minat menonton Film Indonesia semakin bertambah dengan keberagaman tema yang disuguhkan. Jangan lewatkan bincang-bincang menarik mengenai Film Indonesia hanya di RRI VOI Senin, 27 Maret 2017!

Hutan Indonesia memiliki peran strategis sebagi sistem penopang kehidupan baik dalam skala nasional maupun internasional. Namun, hal ini tidak terlalu disadari bagi sebagian kalangan. Jangan lewatkan bincang-bincang menarik mengenai Hutan untuk Kehidupan hanya di RRI VOI yang dilaksanakan pada:

Hari/ Tanggal : Senin, 20 Maret 2017

Narasumber 1 : Ida Bagus Mandhara Brasika

University : Imperial College London

Tema : Youth Forum (English Based)

Pukul : 10.30 WIB (3.30 UTC)

Narasumber 2 : Puspita Ayuningtyas Prawesti

University : The National Graduate Institute for Policies Studies Japan

Tema : KAMU (Kami Yang Muda) (Bahasa Indonesia Based)

Pukul : 11.30 WIB (4.30 UTC)

 

Musik tentu sudah tidak asing di telinga kita. Salah satu produk kebudayaan ini dapat dijumpai dengan mudah setiap harinya. Tak hanya itu, musik pun dapat menjadi identitas suatu organisasi, suku, bahkan bangsa, tak terkecuali Indonesia. Namun, seperti apakah musik nasional Indonesia itu? Apa pula yang dimaksud dengan musik nasional? Simak siaran RRI bersama PPI Dunia hari Senin, 6 Maret 2017 yang berjudul "Musik Nasional" dalam program Youth Forum bersama Yaza Azzahara Ulyana (PPI Malaysia) pada pukul 10.30 WIB dan dalam program KAMU (Kami yang Muda) bersama Dionisius E. Trihastama (Permira) pada pukul 11.30 WIB.

(more…)

Hari Pekerja Indonesia mulai diperingati setiap tanggal 20 Februari dengan dikeluarkannya Keppres Nomor 9 Tahun 1991 tentang Hari Pekerja Indonesia. Dalam kesempatan ini, PPI menghadirkan, Juniar Laraswanda Umagapi (MA Political Analysis and Public Policy di National Research University Higher School of Economics, Russia) dan Rio Augusto Gunawan (ELP di Cascadia College, USA), masing-masing dalam program RRI Voice of Indonesia Youth Forum dan Kami Yang Muda pada tanggal 20 Februari 2017.

Dalam program Youth Forum, Juniar berkata bahwa “hari pekerja biasanya erat kaitannya dengan demonstrasi yang dilakukan. Memang kesenjangan antara penghasilan seorang buruh kerap kali tidak dapat memenuhi tingginya harga barang yang terdapat di pasaran. Salah satu hal yang diperhatikan adalah dana pensiun dan kesehatan. Hendaknya perusahaan mengikutkan pekerja dalam program kesehatan, seperti BPJS, tanpa mengurangi gaji yang mereka terima.”

“Pekerja wanita menjadi salah satu sorotan dalam jaminan kesejahteraannya. Mereka berhak mendapat cuti pada kehamilan seperti 3 bulan dan seharusnya mendapat gaji yang penuh. Untuk cuti menstruasi, memang masih kontroversial karena tidak terlalu penting,” lanjut mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan di Rusia tersebut.

Dalam program Kami Yang Muda, Rio mengatakan, “gaji adalah masalah utama yang menjadi sorotan bahasan antara para pekerja, terutama dalam Hari Pekerja. Batasan gaji minimum masih kurang dan tidak dapat mengimbangi inflasi harga sandang dan pangan yang terus naik.”

“Juga perlu diperhatikan mengenai nasib pekerja Indonesia yang berada di luar negeri. Mereka kerap kali kurang diperhatikan oleh pemerintah dalam hal kesejahteraannya,” ujar mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Amerika Serikat tersebut.

Menurut Wanda dan Rio, harapan ke depan adalah perusahaan lebih memperhatikan hak yang seharusnya diterima oleh para pekerja. Pemerintah diharapkan juga lebih memperhatikan kelayakan dalam pembayaran dan hak pekerja. Pemuda diharapkan lebih berani dalam memulai usaha baru dan menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih luas.

 

(CA/F)

Pilkada 2017 di beberapa daerah di Indonesia akan digelar secara serentak pada hari Rabu, 15 Februari 2017. Pada tahun ini, terdapat lebih dari seratus pilkada yang diberlangsungkan dan seperti setiap tahunnya Pilkada DKI Jakarta menjadi benchmark Pilkada yang berlandung. Dalam kesempatan ini, PPI menghadirkan, Adhi Priamarizki (International Relations di Ritsumeikan University Kyoto) dan Marthella RR Sirait (MA Policy into Practice di University of Birmingham), masing-masing dalam program RRI Voice of Indonesia Youth Forum dan Kami Yang Muda pada tanggal 13 Februari 2017.

Dalam Youth Forum, Adhi berkata bahwa, “Pilkada langsung memberikan kesempatan masyarakat, khususnya pemuda, untuk menentukan nasib daerah kedepan sekaligus memberikan masyarakat suatu makna bahwa tempat mereka tinggal adalah dari, oleh, dan untuk rakyat.”

“Proses pilkada yang berlangsung sebenarnya memberikan banyak sisi positif, misal dari ide program dan pembangunan yang disampaikan oleh setiap calon pemimpin. Diharapkan pemuda Indonesia dapat secara bijak mengambil sisi positif dari proses ini dan berkontribusi lebih banyak lagi untuk negara,” lanjut mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan doktoral di Jepang tersebut.

Dalam Kami Yang Muda, Marthella berkata bahwa, “Pilkada secara langsung lebih jauh dapat diartikan ‘kemenangan’ rakyat dari kontroversi di mana pemilihan kepala daerah oleh DPRD. Terlebih, pilkada yang serentak akan meningkatkan euforia masyarakat untuk berpartisipasi dalam memilih dan mengamati jalannya pilkada.”

“Menurut saya, program tepat untuk mengatasi solusi dan cara mengeksekusi program tersebut adalah dua hal penting dalam menjatuhkan pilihan pada salah seorang calon pemimpin,” ujar mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan magister di Britania Raya tersebut.

Adhi dan Marthella berharap agar ke depannya ada peningkatan partisipasi warga khususnya pemuda dalam pilkada dalam penggunaan hak suaranya. Pemuda harus membuang stigma negatif mengenai politik karena partisipasi pemuda dalam politik sangat diperhitungkan dalam membangun Indonesia yang lebih baik kedepannya.

(Red CA, Ed pw)

World Cancer Day, diperingati setiap tanggal 4 Februari, dengan tujuan meningkatkan kesadaran semua khalayak untuk berperang melawan kanker. Simak perbincangan menarik mengenai topik ini hanya di RRI Voice of Indonesia (Senin, 30/1)!

(CA/F)

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920