Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Anggota DPR RI Mengunjungi Riyadh

 RIYADH – Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), melakukan kunjungan kerja ke Riyadh, Arab Saudi. Kunjungan itu diwakili oleh Fahri Hamzah (Wakil Ketua DPR RI), Henry Yosodiningrat (F-PDIP), M Safrudin Nurhasan Zaidi (F-PKS), Taufiqulhadi (F-Nasdem), dan Lukman Edy (F-PKB).

Setibanya di Bandara King Khalid, Selasa (19/12), rombongan delegasi DPR RI langsung disambut oleh Duta Besar RI untuk Kerajaan Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebril. Adapun agenda selama di Riyadh di antaranya pertemuan dengan Majelis Syuro (Parlemen) Arab Saudi, KBRI, pekerja migran, mahasiswa, dan masyarakat Indonesia.

Pertemuan dengan Pekerja Migran Indonesia di Ruhama (Rumah Harapan Mandiri) dan silaturrahim bersama masyarakat Indonesia di KBRI Riyadh menjadi agenda mereka pada Rabu (20/12). Fahri Hamzah menjelaskan bahwa kedatangannya ke Riyadh, Arab Saudi, guna menyosialisasikan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia yang baru saja disahkan oleh DPR RI pada Oktober 2017 melalui Rapat Paripurna DPR RI. Menurut Fahri, Undang-undang itu sebagai bagian dari perjuangan negara dalam memberikan perlindungan dan kepastian Buruh Migran Indonesia ketika ditempatkan di luar negeri.

 

Kamis (21/12), Fahri Hamzah beserta rombongan melakukan pertemuan dengan Wakil Ketua Parlemen (Majelis Syuro) Kerajaan Arab Saudi di Kompleks Istana Yamamah, Riyadh. Pertemuan itu merupakan kunjungan balasan setelah sebelumnya Ketua Parlemen Arab Saudi melakukan kunjungan resmi ke Parlemen Indonesia, beberapa saat sebelum Raja Salman tiba, Maret 2017.

Malam harinya, Delegasi DPR RI melakukan silaturrahim dengan mahasiswa Indonesia di asrama King Saud University. Fahri Hamzah memberikan beberapa wejangan kepada mahasiswa, di antaranya untuk tidak memikirkan persoalan-persoalan provokatif, tetapi sebaiknya fokus sebagai pelajar yaitu menekuni apa yang sedang dipelajarinya secara mendalam. Byan Aqila Ramadhan sebagai Ketua PPMI Arab Saudi pun tidak mau ketinggalan mengambil kesempatan diskusi itu untuk menyampaikan aspirasi teman-teman dari PPI Timur Tengah mengenai Tenaga Musiman (Temus) Haji yang koutanya dikurangi untuk kalangan mahasiswa.

Diskusi itu diakhiri dengan sesi foto bersama. Sebelum berpamitan, para anggota dewan meminta doa agar Negara Indonesia terus menjadi lebih baik dan bisa menjadi guru bagi negara-negara lain di dunia. Pertemuan dengan mahasiswa menjadi agenda terakhir mereka di Riyadh, sebelum keeseokan harinya melakukan perjalanan ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah umroh dan pulang ke Indonesia dari Jeddah.**

Penulis: Ridho Sastrawijaya 

                  Departemen Media PPMI Riyadh
Editor: Kartika Restu Susilo

Categories
Berita Eropa dan Amerika PPI Negara

Hasta Luego, Ibu Yuli Mumpuni Widarso, Dubes Indonesia Untuk Spanyol (2014-2017)

Rombongan pelajar dan masyarakat Indonesia mengiringi kepulangan Ibu Yuli ke tanah air

 

SPANYOL – Energik, Egaliter dan Terbuka. Itulah kesan kami terhadap Ibu Yuli Mumpuni Widarso yang telah menyelesaikan masa baktinya sebagai Duta Besar Indonesia untuk Spanyol tahun ini. Beramai-ramai warga negara Indonesia di Madrid, mulai dari pegawai Kedutaan Besar Indonesia (KBRI), Duta Besar negara-negara ASEAN, tenaga kerja Indonesia, sampai pelajar Indonesia di Madrid ikut melepas kepergian beliau di Bandara Internasional Barajas – Madrid pada Kamis siang pukul 13.00 waktu setempat. Tangis haru dan syahdu tak lagi terbendung dan menyelimuti suasana perpisahan dengan beliau di area check in bernomor 155-160.

Sebelumnya, acara perpisahan juga diselenggarakan oleh Kuasa Usaha AD Interim Sementara, Bapak Adi Priyanto satu hari sebelum keberangkatan Ibu Yuli.  di Ruang Satya Loka, KBRI Madrid. Pada acara tersebut, semua perwakilan menyampaikan pesan dan kesan kepada Ibu Yuli selama bertugas menjadi Duta Besar Indonesia di Madrid. Idham Badruzaman yang merupakan perwakilan dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Spanyol menyampaikan 3 pokok penting dalam sambutannya, yaitu PPI Bernaung, PPI Berkarya dan PPI Berjaya. Di awal kedatangan Ibu Yuli ke Madrid, dukungan luar biasa terus diberikan meskipun jumlah PPI tidak banyak. Hal itu memberikan dampak yang luar biasa terhadap keberlangsungan organisasi PPI dalam naungan beliau di Tanah Matador. Kemudian, dalam setiap kesempatan, PPI selalu dilibatkan sehingga tidak jarang Ibu Yuli memberikan inspirasi bagi pelajar Indonesia untuk berkarya dan berkontribusi untuk Indonesia di perantauan. PPI bisa berjaya terlepas dari keterbatasan dan kekurangan, di antaranya adalah: anggota PPI Spanyol turut aktif dalam organisasi induk PPI, yaitu PPI Amerika dan Eropa dan PPI Dunia. Selain itu, PPI Spanyol akan mencatat sejarah pada Maret 2018 dengan menyelenggarakan Konferensi Internasional pertama (setelah pendiriannya di tahun 2004) yang dihadiri oleh peserta dari lima benua dan ratusan institusi di dunia.

Pukul 13.15 waktu setempat, tampak lima Duta Besar negara-negara ASEAN telah lengkap berkumpul di bandara. Satu persatu menyalami dan memeluk Bu Yuli beberapa saat sebelum pesawat Saudi Arabia Airlines membawanya ke Jakarta. Kelima Duta Besar ini menjadi sangat dekat satu sama lain karena ASEAN Committee Madrid (ACM) di mana Ibu Yuli merupakan salah satu inisiatornya pada tahun 2014. Pasca ACM terbentuk, kelimanya sering kali mengadakan acara bersama untuk bahu-membahu mengenalkan ASEAN secara serentak. Ini barangkali satu dari banyak pencapaian Ibu Yuli sebagai Duta Besar di Spanyol.

Terkesan sangat energik, karena networking yang beliau bangun tidak hanya dalam lingkup ASEAN, mempersatukan negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim juga dilakukannya. Hal ini tentu senada dengan kebijakan pemerintah Indonesia secara umum, selain menjalin hubungan dengan negara-negara di Asia Tenggara dalam wadah ASEAN, Indonesia juga menjalin hubungan yang baik dengan negara-negara bermayoritas penduduk Muslim dalam wadah Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Sebagai seorang Duta Besar, beliau terkenal egaliter dan terbuka di mata masyarakat Indonesia di Spanyol. Tidak jarang warga negara Indonesia di Spanyol diundang dan dijamu baik di KBRI maupun di Wisma Duta Indonesia, rumah dinas beliau sebagai Duta Besar. Hal ini tentu memberikan dampak positif bagi warga negara Indonesia secara khusus, dan Keluarga Cinta Indonesia yang merupakan paguyuban warga negara Indonesia di Spanyol dapat berkembang dengan sangat baik dengan dukungan beliau.

Kami tidak berkata Adios (selamat jalan) karena kami yakin akan kembali bertemu dalam kesempatan berikutnya baik di Indonesia maupun di negara lain. Oleh karena itu, kami memilih berujar Hasta Luego (sampai jumpa lagi) Ibu Yuli. Pengabdianmu selama ini akan terus menginspirasi, memberikan manfaat dan dikenang. Hasta Luego, Ibu Yuli.**

 

Penulis: 

Idham Badruzaman adalah mahasiswa doktoral bidang Hubungan Internasional di Universitat Autónoma de Madrid, Penerima Beasiswa LPDP dan ketua PPI Spanyol periode 2012-2014.

Editor: Kartika Restu Susilo

Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Bekerjasama Dengan PPMI Madinah, KJRI Jeddah Gelar Temu Mahasiswa

Suasana pertemuan KJRI Jeddah dengan PPMI Madinah

MADINAH – Berlangsung di Villa Ar-Rafif Madinah, KJRI Jeddah dan PPMI mengadakan Temu Mahasiswa dengan pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Islam Madinahpada 16 Oktober 2017. Bertemakan “Diseminasi Keimigrasian dan Kekonsuleran”, acara yang dipandu oleh Mumuh Mukhtarudin itu dihadiri sekitar 300 mahasiswa dari berbagai jenjang dan fakultas. Hadir pula beberapa pejabat KJRI Jeddah. Acara itu bertujuan untuk mengenalkan keimigrasian dan kekonsuleran kepada mahasiswa baru, Selain itu, juga menjadi ajang silaturahmi antara KJRI Jeddah dengan para mahasiswa di Universitas Islam Madinah.

Acara dibuka dengan bacaan ayat suci al-qur’an yang dilantunkan Muh. Sulthon Nashira. Dilanjutkan dengan sambutan ketua PPMI Madinah, M. Sidqi Abdurrohman dan Konsul Jendral RI Jeddah, M. Hery Saripudin. Konjen Hery Saripudin mengingatkan mahasiswa bahwa yang menggerakan Indonesia selama ini merupakan kaum muda. Ia berkeyakinan bahwa seluruh mahasiswa yang ada akan memikul tampuk kekuasaan 15-20 tahun mendatang.

  

Setelah itu, agenda selanjutnya ialah penyerahan data mahasiswa baru kepada KJRI, yang dari Adam Nur Fikri selaku Ketua Penyambutan Mahasiswa Baru kepada Konjen Hery Saripudin. Pada Temu Mahasiswa kali ini, ada pula presentasi tesis ustadz Ariful Bahri, MA., dan presentasi disertasi ustadz DR. Abdullah Roy, MA. Keduanya baru saja menyelesaikan program pendidikan masing-masing di tahun 2017. Tak kalah penting adalah sosialisasi kekonsuleran dan keimigrasian yang disampaikan langsung oleh Ketua Teknis Keimigrasian KJRI Jeddah, Ibnu Ismoyo.

Acara diakhiri dengan makan malam bersama dengan ayam goreng Albaik, menu khas restoran Albaik Arab Saudi.**

 

Penulis: Hamzah

Editor: Kartika Restu Susilo

Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

HPMI Yordania Ikuti Diskusi “ASEAN and Middle East: Future Relation” 

JORDAN – Perwakilan Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (HPMI) Jordan mendapat kesempatan untuk hadir dalam Kuliah Umum ASEAN bertajuk “ASEAN and The Middle East: Trajectories for future relations” yang digelar oleh The Committee of The Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), Jordan Institute of Diplomacy (JID) dan Kementerian Luar Negeri Jordan pada Selasa (21/10/2017). Acara yang diadakan di Jordan Institute of Diplomacy, Amman itu dihadiri oleh ratusan peserta dari kalangan para diplomat, pejabat pemerintahan, pebisnis, praktisi dan pelajar.

Acara dibuka dengan sambutan dari Andy Rachmianto selaku Duta Besar RI untuk Yordania dan Palestina. Kuliah umum yang disampaikan oleh eksekutif direktur Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta dan pakar politik dari Indonesia, Dr. Philip Jusario Vermonte itu dimulai pada pukul 10.00 waktu setempat dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dimoderatori oleh Lina Arafat, Direktur Jordan Institute of Diplomacy.

Dalam paparannya, Philip menekankan tiga hal yaitu: politik dan keamanan; ekonomi dan perdagangan; dan hubungan persahabatan. Ia mengawali dengan memaparkan berbagai modal kesamaan yang dimiliki antara regional Asia Tenggara (ASEAN) dan Timur Tengah (Middle East). Pertama, sama-sama beranggotakan negara-negara berkembang yang punya orientasi untuk memajukan negaranya. Kedua, persamaan agama sehingga bisa saling tukar pikiran dalam pengelolaan hubungan antar umat beragama. Ketiga, kebutuhan akan keamanan dalam negeri dan regional dalam menciptakan kedamaian dan dalam menghadapi radikalisme yang sedang berkembang di wilayah regional masing-masing. Terakhir, pertukaran budaya dan perdagangan yang seharusnya memudahkan interaksi antar individu di kedua regional untuk penguatan hubungan persahabatan.

Dalam aspek politik dan keamanan, beberapa hal menjadi poin utama kesamaan antara ASEAN dengan Timur Tengah. Salah satunya ialah penerapan sistem demokrasi dalam pemerintahan negara. Selain itu, telah terbentuk kerjasama bidang industri pertahanan dan keamanan dalam pengadaan alat-alat perlengkapan dan perbaikan kecanggihannya di antara anggota ASEAN dengan negara-negara Timur Tengah. Yang berikutnya perang melawan terorisme, telah terjalin kerjasama dalam bidang pemberantasan terorisme yang dilakukan antar dua negara. Singapura dengan Yordania, Malaysia dengan Turki berkolaborasi dalam perlawanan terhadap terorisme, sementara Indonesia dengan Yordania dalam hal tukar-menukar informasi intelijen dan program deradikalisasi.

“It is known that countries in both regions have established a various of cooperations related to security and the fight against terrorism,” kata Philip ketika memaparkan kerjasama antar region dalam bidang keamanan politik. “Such as the exchange of defence equipment and expertise, information and intelligence sharing, interfaith dialogues, and many more,” tambahnya.

Di sisi ekonomi, Philip menerangkan bahwa tercatat telah lama terbentuk beberapa kerjasama dan perdagangan yang berlangsung antar ASEAN dengan Gulf Cooperation Council dan ASEAN dengan Liga Arab dalam berbagai komoditi perdagangan dan paling utama terkait minyak bumi. Selain itu, tercatat di tahun 2015, negara Timur Tengah yang melakukan hubungan perdagangan dengan ASEAN paling banyak adalah UAE, Saudi Arabia, Qatar, Turki dan Kuwait. Sedangkan untuk ASEAN dengan Jordan, Indoesia yang paling besar, kemudian Thailand, Malaysia dan Singapura.

Dalam segi persahabatan antar regional, bisa saling bertukar pikiran dan budaya antar pemuda atau mahasiswa dengan mengadakan program tukar pelajar. Dalam hal ini, Indoensia salah satu negara ASEAN yang beberapa tahun ke depan akan mendapatkan bonus demografi. Usia produktif (antara 16–45 tahun) lebih banyak dari jumlah populasi penduduk Indonesia dan saat ini sedang mempersiapkan untuk menuju Kebangkitan Indonesia. Duta Besar Andy Rachmianto tidak lupa menyebutkan bahwa Indonesia sebagai bagian dari ASEAN terus membersamai Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Sebagai tambahan, Andy juga menjelaskan genosida yang terjadi di Rohingya sebagai isu penting ASEAN yang masih terus membutuhkan perhatian dan bantuan kemanusiaan dari berbagai negara. Tercatat di tahun 2015, Jordan membawa angin segar dalam persahabatan antara Jordan dengan ASEAN dan menugaskan duta besarnya untuk negara-negara ASEAN. Mesir dan Maroko juga telah melakukan kerjasama dan menjalin hubungan persahabatan dengan negara-negara anggota ASEAN dan selalu mempromosikan hubungan persahabatan dan kerjasama yang penuh kedamaian selamanya.

 

Pelajaran dari ASEAN untuk Timur Tengah

Dalam masalah blok regional, negara-negara Timur Tengah cenderung untuk menerapkan model regionalisasi seperti Uni Eropa, jika telah berkembang secara signifikan. Model tersebut terutama GCC yang telah tercapai kesepakatan besar pada tingkat kesatuan budaya yang diimplementasikan sejak 2015. Kerja sama ASEAN telah dipandu oleh prinsip kesetaraan dan tidak mengintervensi, kooperatif dalam keamanan dan tidak menggunakan kekerasan. ASEAN sering menekankan pencegahan konflik dan bukan mengedepankan militer, sehingga menghasilkan lingkungan yang damai. Piagam ASEAN pada tahun 2008 memproklamasikan “People Oriented” karena pendekatan itu untuk mengejar dan memperdalam regionalisme di Asia Tenggara. Visi ASEAN 2025 membangun sebuah dasar untuk tujuan akhir dalam menciptakan masyarakat ASEAN yang berpusat pada komunitas masyarakat ASEAN (ASEAN Community). ASEAN memiliki masyarakat sipil yang berbasis di setiap negara-negara anggota dengan bangga menggunakan simbol negara “ASEAN”. Ada semakin banyak acara dan aktivitas publik yang mengutip status  tersebut, misalnya forum pemuda ASEAN.

Pada pukul 12.00, acara ditutup setelah sesi tanya jawab selesai kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dan menyantap sajian khas Asia Tenggara dari Indonesia, Malaysia, Thailand dan Filipina.**

 

Pengirim: Miftah Nafid Firdaus

MA Candidate in Islamic Economic and Banking

Yarmouk University, Jordan

 

Editor: Kartika Restu Susilo

Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

HPMI Yordania Ikuti Diskusi "ASEAN and Middle East: Future Relation" 

JORDAN – Perwakilan Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (HPMI) Jordan mendapat kesempatan untuk hadir dalam Kuliah Umum ASEAN bertajuk “ASEAN and The Middle East: Trajectories for future relations” yang digelar oleh The Committee of The Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), Jordan Institute of Diplomacy (JID) dan Kementerian Luar Negeri Jordan pada Selasa (21/10/2017). Acara yang diadakan di Jordan Institute of Diplomacy, Amman itu dihadiri oleh ratusan peserta dari kalangan para diplomat, pejabat pemerintahan, pebisnis, praktisi dan pelajar.

Acara dibuka dengan sambutan dari Andy Rachmianto selaku Duta Besar RI untuk Yordania dan Palestina. Kuliah umum yang disampaikan oleh eksekutif direktur Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta dan pakar politik dari Indonesia, Dr. Philip Jusario Vermonte itu dimulai pada pukul 10.00 waktu setempat dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dimoderatori oleh Lina Arafat, Direktur Jordan Institute of Diplomacy.

Dalam paparannya, Philip menekankan tiga hal yaitu: politik dan keamanan; ekonomi dan perdagangan; dan hubungan persahabatan. Ia mengawali dengan memaparkan berbagai modal kesamaan yang dimiliki antara regional Asia Tenggara (ASEAN) dan Timur Tengah (Middle East). Pertama, sama-sama beranggotakan negara-negara berkembang yang punya orientasi untuk memajukan negaranya. Kedua, persamaan agama sehingga bisa saling tukar pikiran dalam pengelolaan hubungan antar umat beragama. Ketiga, kebutuhan akan keamanan dalam negeri dan regional dalam menciptakan kedamaian dan dalam menghadapi radikalisme yang sedang berkembang di wilayah regional masing-masing. Terakhir, pertukaran budaya dan perdagangan yang seharusnya memudahkan interaksi antar individu di kedua regional untuk penguatan hubungan persahabatan.

Dalam aspek politik dan keamanan, beberapa hal menjadi poin utama kesamaan antara ASEAN dengan Timur Tengah. Salah satunya ialah penerapan sistem demokrasi dalam pemerintahan negara. Selain itu, telah terbentuk kerjasama bidang industri pertahanan dan keamanan dalam pengadaan alat-alat perlengkapan dan perbaikan kecanggihannya di antara anggota ASEAN dengan negara-negara Timur Tengah. Yang berikutnya perang melawan terorisme, telah terjalin kerjasama dalam bidang pemberantasan terorisme yang dilakukan antar dua negara. Singapura dengan Yordania, Malaysia dengan Turki berkolaborasi dalam perlawanan terhadap terorisme, sementara Indonesia dengan Yordania dalam hal tukar-menukar informasi intelijen dan program deradikalisasi.

“It is known that countries in both regions have established a various of cooperations related to security and the fight against terrorism,” kata Philip ketika memaparkan kerjasama antar region dalam bidang keamanan politik. “Such as the exchange of defence equipment and expertise, information and intelligence sharing, interfaith dialogues, and many more,” tambahnya.

Di sisi ekonomi, Philip menerangkan bahwa tercatat telah lama terbentuk beberapa kerjasama dan perdagangan yang berlangsung antar ASEAN dengan Gulf Cooperation Council dan ASEAN dengan Liga Arab dalam berbagai komoditi perdagangan dan paling utama terkait minyak bumi. Selain itu, tercatat di tahun 2015, negara Timur Tengah yang melakukan hubungan perdagangan dengan ASEAN paling banyak adalah UAE, Saudi Arabia, Qatar, Turki dan Kuwait. Sedangkan untuk ASEAN dengan Jordan, Indoesia yang paling besar, kemudian Thailand, Malaysia dan Singapura.

Dalam segi persahabatan antar regional, bisa saling bertukar pikiran dan budaya antar pemuda atau mahasiswa dengan mengadakan program tukar pelajar. Dalam hal ini, Indoensia salah satu negara ASEAN yang beberapa tahun ke depan akan mendapatkan bonus demografi. Usia produktif (antara 16–45 tahun) lebih banyak dari jumlah populasi penduduk Indonesia dan saat ini sedang mempersiapkan untuk menuju Kebangkitan Indonesia. Duta Besar Andy Rachmianto tidak lupa menyebutkan bahwa Indonesia sebagai bagian dari ASEAN terus membersamai Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Sebagai tambahan, Andy juga menjelaskan genosida yang terjadi di Rohingya sebagai isu penting ASEAN yang masih terus membutuhkan perhatian dan bantuan kemanusiaan dari berbagai negara. Tercatat di tahun 2015, Jordan membawa angin segar dalam persahabatan antara Jordan dengan ASEAN dan menugaskan duta besarnya untuk negara-negara ASEAN. Mesir dan Maroko juga telah melakukan kerjasama dan menjalin hubungan persahabatan dengan negara-negara anggota ASEAN dan selalu mempromosikan hubungan persahabatan dan kerjasama yang penuh kedamaian selamanya.

 

Pelajaran dari ASEAN untuk Timur Tengah

Dalam masalah blok regional, negara-negara Timur Tengah cenderung untuk menerapkan model regionalisasi seperti Uni Eropa, jika telah berkembang secara signifikan. Model tersebut terutama GCC yang telah tercapai kesepakatan besar pada tingkat kesatuan budaya yang diimplementasikan sejak 2015. Kerja sama ASEAN telah dipandu oleh prinsip kesetaraan dan tidak mengintervensi, kooperatif dalam keamanan dan tidak menggunakan kekerasan. ASEAN sering menekankan pencegahan konflik dan bukan mengedepankan militer, sehingga menghasilkan lingkungan yang damai. Piagam ASEAN pada tahun 2008 memproklamasikan “People Oriented” karena pendekatan itu untuk mengejar dan memperdalam regionalisme di Asia Tenggara. Visi ASEAN 2025 membangun sebuah dasar untuk tujuan akhir dalam menciptakan masyarakat ASEAN yang berpusat pada komunitas masyarakat ASEAN (ASEAN Community). ASEAN memiliki masyarakat sipil yang berbasis di setiap negara-negara anggota dengan bangga menggunakan simbol negara “ASEAN”. Ada semakin banyak acara dan aktivitas publik yang mengutip status  tersebut, misalnya forum pemuda ASEAN.

Pada pukul 12.00, acara ditutup setelah sesi tanya jawab selesai kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dan menyantap sajian khas Asia Tenggara dari Indonesia, Malaysia, Thailand dan Filipina.**

 

Pengirim: Miftah Nafid Firdaus

MA Candidate in Islamic Economic and Banking

Yarmouk University, Jordan

 

Editor: Kartika Restu Susilo

Categories
Berita Timur Tengah dan Afrika

Jaga Warisan dan Peradaban, Universitas Islam Madinah Bangun Museum Sejarah

MADINAH – Dalam rangka merawat warisan dan peradaban Arab Saudi secara umum, khususnya kota suci Madinah dan Universitas Islam Madinah, Rektor Universitas Islam Madinah Dr. Hatim bin Hamzah al-Marzuqi memberikan arahan untuk membangun Museum Sejarah serta menunjuk komite pembangunan Museum pada tanggal 11 Safar 1439 H/31 Oktober 2017 M. Pembangunan itu sejalan dengan Visi Saudi 2030 dalam memperkuat semangat nasional dan menjaga identitas nasional.

“Pembangunan museum ini bertujuan untuk memberikan kontribusi dalam menguatkan identitas budaya, meningkatkan kesadaran atas nilai budaya, mengembangkan budaya museum, di mana museum merupakan salah satu
penanda yang mencatat peradaban di negeri yang berkah ini, juga mencatat sejarah Universitas Islam Madinah yang berusia lebih dari setengah abad, serta mencatat prestasi besar yang telah ditorehkan oleh civitas akademika yang menjadi ulama dan tokoh dunia baik di bidang pendidikan maupun di bidang birokrasi,” ujar al-Marzuqi yang dikutip dari media Sabq.

Dr. Hatim membentuk Komite Museum Sejarah yang diketuai oleh Dr. Abdullah bin Muhammad al-‘Utaibi, dengan anggota Dr. Umar bin Abdul Aziz as-Salumi, Dr. Sulaiman bin Muhammad al-‘Athani, Dr. Saud bin Abdul Aziz as-Salumi dan Dr. Raja’ bin ‘Atiq al-Mu’aili. Komite ini ditugaskan untuk memberikan pandangan mengenai bentuk, tema, konten, penggunaan teknologi tinggi untuk Museum Sejarah, klasifikasi dan pengindeksan, serta pemilihan lokasi yang sesuai bagi museum tersebut.**

 

Penulis: Imam Khairul Annas

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Universitas Islam Madinah

 

Editor: Kartika Restu Susilo

Categories
Berita PPI Negara Prestasi Anak Bangsa Suara Anak Bangsa Timur Tengah dan Afrika

Universitas Islam Madinah Cetak Ahli Ushul Fiqh Untuk Indonesia

SAUDI ARABIA, 21 OKTOBER 2017 – Kamis, 12 Oktober 2017 menjadi hari istimewa bagi Musyaffa’. Bagaimana tidak, kandidat doktor ushul fiqh Universitas Islam Madinah pertama dari Indonesia bahkan Asia Tenggara ini berhasil menamatkan studi doktoralnya dengan predikat summa cum laude.

Disertasinya yang berjudul “Metodologi Ulama Syafi’iyah dalam Mengklasifikan Dalil, dan Cara Mentarjih Dalil-Dalil Yang Bertentangan” -studi teori dan penerapannya- berhasil ia pertahankan pada sidang yang berlangsung di Auditorium Munaqosyah Fakultas Hadist UIM.

“Setelah melaksanakan sidang yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga pukul 11.30 siang. Lajnah Munaqosyah memutuskan untuk menerima disertasi yang diajukan serta memberikannya gelar doktor dengan predikat mumtaz ma’a martabati syarofil ‘ula (summa cum laude),” ujar Syaikh Prof. Dr. Tarhib Ad-Duwaisiry.

Musyaffa’ atau yang lebih dikenal dengan nama Musyaffa’ Ad-Dariny, pria kelahiran Jepara, 29 Juni 1982 itu menamatkan SMA-nya di tahun 2000. Setamat SMA ia melanjutkan studinya di UNISMA Malang, hanya bertahan dua semester di sana karena namanya masuk ke dalam daftar mahasisawa yang diterima di Universitas Islam Madinah.

Mahasiswa asal Jepara, Jawa Tengah ini memulai studinya di Universitas Islam Madinah dari jenjang persiapan bahasa selama dua semester. Selanjutnya ia memilih kuliah Syariah di jenjang S-1nya. Dan di S-2 ia masuk di jurusan ushul fiqh fakultas syariah UIM. Gelar magister ia dapatkan dengan predikat summa cum laude. Sedangkan untuk S-3, bapak 4 anak itu memilih untuk tetap mengambil jurusan yang sama.

Dan hari ini, Musyaffa’ resmi menyandang gelar doktor di depan namanya. Semoga ilmunya bermanfaat bagi kaum muslimin terkhusus di Bumi Pertiwi.**

 

Penulis: Hemzaa

       PPMI Madinah

 

Editor: Kartika Restu Susilo

Categories
Asia dan Oseania Eropa dan Amerika Festival Luar Negeri PPI Dunia PPI Negara Timur Tengah dan Afrika Upcoming Event

Upcoming Event: Kerjasama BEM Universitas Padjadjaran Bandung dan Tim Festival Luar Negeri PPI Dunia PPI Dunia menyelenggarakan event Edufair “Padjadjaran International Education Festival” 2017

SALAM PERHIMPUNAN!!

BEM UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG dan TIM FESTIVAL LUAR NEGERI PPI DUNIA akan bekerjasama untuk menyelenggarakan event Edufair
“Padjadjaran International Education Festival”

Hari, tanggal : Jumat, 26 Mei 2017
Waktu : 08:00 WIB – 16:00 WIB
Tempat : Bale Sawala Unpad Jatinangor

Perwakilan PPI Dunia akan menjadi keynote speakers dan meramaikan acara ini, mereka adalah:

Intan Irani Koordinator PPI Dunia 2016/2017 (PPI Italia)

Steven Guntur Koordinator PPI Dunia 2015/2016 (Permira Rusia)

Rizki Putri Hassan, Koordinator Divisi Pendanaan PPI Dunia (PPI UK)

Dan akan ada stand berbagai informasi studi dan hidup di luar negeri yang akan diramaikan oleh delegasi dari PPI Negara diantaranya:

1. PPI Polandia
2.PPI Hungaria
3.Perpika Korea Selatan
4.PPI Malaysia
5.PPI Swedia
6.PPI Spanyol
7.PPI Estonia
8.PPI Tiongkok
9.PPI Thailand
10.PPI Prancis
11.PPI Italy
12.PPI New Zealand
13.PPMI Saudi Arabia
14.PPI UK
15.PPMI Mesir
16.PPI Turki
17. PPI Jepang
18. PPI Jerman

Berita selengkapnya, follow:
IG: felarippidunia                                                                                                                                                                   Facebook: felari ppi dunia
Web: www.ppidunia.org

Categories
Berita PPI Dunia PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Liputan Hari Pertama Simposium Timtengka Madinah 2017

Liputan Madinah – Senin 3 April 2017 pukul 09.00 waktu setempat acara Simposium PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika resmi dibuka dan dimulai.

Sesi seremonial dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qu’ran surat Al-Imron ayat 102-108, yang dilantunkan oleh Abdurrahim Syamsuri, mahasiswa Universitas Islam Madinah. Kemudian setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersamaan dengan khidmat, acara pembukaan ini dilanjutkan dengan kata sambutan ketua panitia Fahmi Aufar Asyraf, mahasiswa Fakultas Psikologi King Saud University-Riyaadh. Dan selanjutnya disusul sambutan Ketua Divisi P2EKA (Pendidikan Politik Ekonomi dan Agama) PPI Dunia mewakili Koordinator PPI Dunia, Rama Rizana mahasiswa pascasarjana King Fahd University of Petroleum and Minerals-Dhahran. Berikutnya adalah keynote speaker yang disampaikan oleh special guest Dekan Fakultas Adab King Saud University, Prof. Dr. Ali Al Mayouf.

Prof. Dr. Ali Al Mayouf berbicara mengenai pengalamannya selama bertahun-tahun menjadi pengajar dan mentor bahasa dan satra Arab. Beliau selama ini juga menjadi konsultan King Abdullah Bin Abdulaziz International Center for The Arabic Language. Dalam tugasnya sebagai konsultan itulah ia berkeliling dunia guna berbagi pengalaman dan mengajarkan bahasa Arab, diantaranya adalah Indonesia. Beliau telah berkelilling di banyak kota di Indonesia, bekerjasama dengan banyak kampus dan universitas, beliau telah menjalani 11 kali kunjungan kerja.

Beliau banyak mengambil manfaat dan faedah dari beragam kunjungan dan persinggungannya dengan bangsa Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa masyarakat Indonesia memiliki sifat-sifat baik yang membuatnya pantas disebut sebagai pembawa risalah Islam. Diantaranya adalah hikmah, merendah, dan dermawan. Sifat-sifat inilah yang membuat masyarakat Indonesia dapat bersatu dan bermasyarakat dengan baik dan beradab.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Arab Saudi dan OKI, Bapak Drs. Agus Maftuh Abegebriel, M.Ag. Beliau banyak menyampaikan tentang aksi beliau selama setahun menjadi Dubes di Riyadh. Diantaranya adalah poros Saunesia (Saudi Arabia – Indonesia) yang digagas oleh beliau sejak awal pelantikannya. Poros ini menjadi semangat baru diplomasi yang diusungnya. Diplomasi yang setara antara dua Negara, dan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Diantara keberhasilan beliau adalah berhasil menyukseskan kunjungan kenegaraan Raja Salman ke Indonesia, setelah untuk terakhir kalinya kunjungan raja Faishal pada tahun 70an di era Presiden Soeharto.

Beliau sebagai representasi pemerintah Indonesia bersama pemerintah Arab Saudi bekerjasama menggaungkan konsep Islam yang Moderat di dunia. Yaitu sebuah konsep islam yang telah diajarkan oleh pemuka dan alim ulama islam sepanjang masa yang lampau. Islam moderat yang toleran dan ramah. Beliau juga mengatakan supaya simposium ini menegaskan kembali semangat Asia-Afrika yang dulunya diinisiasi oleh Indonesia. Mengingat bahwa peserta dan pelaksana simposium ini adalah Perhimpunan Pelajar Indonesia di Negara-negara yang terletak di Asia dan Afrika.

Acara selanjutnya disusul dengan pemukulan gong sebanyak lima kali, oleh Bapak Drs. Agus Maftuh Abegebriel, M.Ag. tanda dimulainya secara resmi kegiatan Simposium Kawasan PPI Timur Tengah dan Afrika 2017.

Diskusi panel pertama dengan judul “Merajut Tenun Kebangsaan di Tengah Kemajemukan” dimulai dengan pemaparan materi oleh Bapak Mochammad Ridwan Kamil, S.T., M.U.D. Beliau menyampaikan bahwa Indonesia sekarang sedang berjalan dalam laju yang positif, menuju harapan Indonesia sebagai Negara terkuat dan termaju ketiga di dunia nanti pada tahun 2045, dan 2030 sebagai Negara ketujuh dunia. Syaratnya, adalah Negara dengan kondisi sosial dan politik yang stabil, yaitu bilamana angka pertumbuhan kita selalu berada di angka 5, dan tidak ada konflik maupun perselisihan yang menyedot energi bangsa untuk mengurusnya.

Beliau banyak menyampaikan statement yang penting dan faktual. Diantaranya adalah, “toleransi bagi saya adalah kita melindungi kaum minoritas, dan juga kaum minoritas memahami kaum mayoritas. Keadilan itu tidak berarti selalu sama, namun proporsional, yaitu memberikan sesuatu sesuai yang dibutuhkannya”. “Baldatun thoyyibatun wa robbun ghoffur itu artinya keseimbangan antara dunia dan akhirat”. “Orang Indonesia itu tidak suka baca dan terlalu suka ngobrol, akibatnya tidak ada tulisan. Akibatnya banyak berita fitnah dan bohong, serta minimnya penjelasan dan literasi ilmiah”. “Tinggikan argumentasinya, bukan tinggikan suaranya”. “Para mahasiswa tolong bantu kami dengan mengembangkan konten positif. Anak muda di Indonesia bisa menghabiskan waktu tiga jam hanya untuk menikmati medsos”. “Kalau kita susah untuk mengedepankan ukhuwah islamiah, maka kedepankanlah ukhuwah wathoniyah, dan jikalau tetap saja susah maka kedepankanlah ukhuwah insaniyah. Bila anda tersesat di hutan, dan bertemu orang untuk meminta pertolongan, anda tentu tak akan bertanya dulu, agamamu apa? Negaramu apa?”. “Kepimimpinan terbaik adalah kepemimpinn dengan keteladanan, dan dakwah terbaik adalah dakwah dengan akhlak”. “Dakwahlah di jalan yang sulit, jangan hanya dakwah di jalan yang mudah”.

Pembicara kedua adalah Bapak Prof. Dr. Mahfud MD. Beliau berbicara tentang cara merajut tenun kebangsaan dan bagaimana cara mengelola kebersamaan. Kita menjaga pluralisme dengan kesatuan hukum yang sah dan berlaku di depan publik. Beliau juga optimis bahwa Indonesia tidak sedang dalam kondisi yang kritis, menurut studi Mc Kensey, Indonesia saat ini adalah Negara ekonomi ke enam belas, dan pada tahun 2030 akan menjadi Negara ekonomi ketujuh. Indonesia sekarang telah tumbuh menjadi lebih baik bila dibanding dulu. Baik secara ekonomi, politik maupun sosial.

Indonesia dapat menjadi Negara pluralis yang berhasil, meski memiliki unsur heterogen yang terbanyak, itu terjadi karena beberapa hal mendasar yang dimilikinya, yang pertama adalah dikarenakan terdorong kemauan dari bawah, dan bukan paksaan dari atas, yang kedua adalah pada saat perjuangan mencapai cita-cita kemerdekaan yang sama, mereka sepakat untuk mengikat itu semua dalam bingkai Pancasila dan Bhinneka tunggal ika, yang ketiga adalah adanya kesepakatan untuk menyelenggarakan sistem demokrasi (kedaulatan rakyat) yang nomokrasi (kedaulatan hukum), dan yang keempat adalah dituangkannya itu semua dalam bentuk UUD 1945, dan dikawal dalam UU Pemerintahan.

Pembicara ketiga adalah Bapak Prof. Dr. Din Syamsudin. beliau menyambung apa yang telah disampaikan oleh pembicara-pembicara sebelumnya, diantaranya pak Mahfud MD. Beliau juga tidak sepakat bila Indonesia disebut kritis disintegrasi dan intoleransi. Bahkan Indonesia secara umum sangatlah bagus. Beliau juga tak mempercayai statistik dan survey yang menunjukkan hal sebaliknya. Bahkan integrasi dan toleransi tersebut sangat didukung oleh faktor Islam. Ketika Islam tidak bersanding dengan kesukuan dan perkotakan lainnya. Para tokoh islam dalam sejarah rela melepaskan tujuh kata yang dipersoalkan dalam piagam Jakarta agar menjadi seperti Pancasila yang kita kenal. Terlebih lagi ajaran hikmah dan rahmat yang diajarkan dalam Islam dan juga telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Ke depannya Indonesia akan tetap menghadapi masalah, terlebih seteah berakhirnya perang dingin, di mana banyak kepentingan-kepentingan yang saling tarik menarik. Di sanalah dibutuhkan kekuatan Negara yang bisa menyatukan segala pandangan dengan baik.

Beliau berpesan, “orang-orang yang ekskuslif hanya akan gagal, oleh karenanya kita menawarkan inklusifme”. “Pancasila adalah dasar Negara yang telah final”. “Kita membutuhkan dialog dan ngobrol, bukan dialektika yang intinya adalah pokoknya. Namun Negara haruslah hadir sebagai penengah dan pemutus”. “Umat islam Indonesia haruslah mengedepankan praksisme keagamaan bukan justru populisme keagamaan”. Dan beliau menutup seminarnya dengan ucapan, “Ringkasnya, rajutan ini haruslah didialogkan”.

Sesi panel kedua yang berjudul “Wawasan Politik Hukum Indonesia dan Kerangka Diplomasi dengan negara-negara Timur Tengah”, diawali dengan ceramah Bapak Masykuri Abdillah dengan membawakan tema “Islam Dalam Konteks Negara Demokrasi”. Beliau berbicara dengan menitikberatkan pada hubungan antara agama dan Negara. Sebuah persoalan yang mencakup Negara-negara timur tengah dan Indonesia sekaligus sebagai Negara muslim yang menganut faham demokrasi.

Konsep kontra sekulerisme pada dasarnya bukan hanya dianut oleh negara-negara muslim saja. Bahkan beberapa negara Barat secara eksplisit memasukkan agama dalam Negara, seperti Negara-negara Balkan. Norwegia, adapun beberapa Negara yang tidak memasukkan agama dalam konstitusi ataupun pemerintahan, mereka juga masih mengurusi agama, seperti adanya partai politik yang berbasis agama dan menggunakan isu-isu agama, pajak gereja, pendidikan agama dalam sekolah yang dibiayai oleh pemerintah, dan sebagainya. Bahkan tidak ada sama sekali Negara barat yang murni sekuler selain Prancis. Sebagaimana juga tidak ada Negara muslim yang murni sebagai sekuler selain Turki.

Oleh karenanya, tidak bisa mengharuskan Indonesia menjadi negara sekuler murni. Memang dia tidak mencampur adukkan agama dengan Negara, namun dia tetap mengurusi agama dalam tatanan Negara pemerintahan.

Berbicara mengenai demokrasi di Negara muslim, hanya Indonesia dan Tunisia yang benar-benar demokratis. Dan itu ditandai dengan adanya al-hiwar al-wathoni atau dialog nasional ketika terjadi perselisihan maupun konflik antar golongan. Bahkan turki sekalipun saat ini tidak bisa disebut sebagai negara demokratis, semenjak pertama kalinya kudeta militer, dan terus bertambah parah hingga saat ini di era Erdogan.

Indonesia adalah contoh negara demokrasi yang terbaik, terutama dalam bilangan-bilangan negara islam. Indonesia tidak pernah memiliki kristophobia sebagaimana yang terjadi di negara-negara barat dengan islamphobia-nya. Indonesia juga tidak pernah ada penghinaan maupun kezaliman dari pemeluk agama mayoritas kepada agama lainnya. Yang ada hanya kejadian-kejadian lokal yang menyangkut oknum bukan komunitas secara menyeluruh.

Problemnya adalah Indonesia sudah terlanjur dicap memiliki kesan yang buruk dalam mengelola demokratisme dan kebebasan beragama dan pemikiran. Konflik-konflik kecil ini haruslah dijaga dengan baik, karena hal seperti ini selalu menjadi konsumsi opini dan publik di Negara-negara asing, yang berakibat adanya distorsi tentang toleransi secara keseluruhan dalam ranah implementatifnya di Indonesia.

Diantara solusi yang beliau sampaikan adalah menyebarkan Indonesia yang Islam rahmatan lil ‘alamin ke dunia luar. Beliau juga menyampaikan gagasannya, “LPDP hendaknya memberikan juga beasiswa ke mahasiswa asing, agar mereka juga bisa menjadi juru bicara bagi Indonesia dan islam yang rahmatan lil ‘alamin di negeri mereka”. Beliau juga berpesan kepada para delegasi terkait solusi ini, “para mahasiswa juga bisa menjadi diplomat bagi Indonesia di negeri tempat ia menetap, diplomasi people to people”.

Selanjutnya pembicara kedua dan terakhir adalah Bapak Drs. Hery Saripudin, M.A., Konjen RI di Jeddah-Saudi Arabia. Beliau membahas tentang “Kerangka Diplomasi dengan Negara-Negara Timur Tengah”. Kerangka diplomasi Indonesia adalah bagaimana meperjuangkan kepentingan Indonesia di luar negeri. Selain offisial diplomat terdapat juga diplomat non formal.

Berbicara tentang diplomasi luar negeri haruslah merujuk kepada Pancasila ataupun UUD 1945, dan itu tertuang jelas dalam alinea keempat UUD 1945. Berupa perlindungan dan kedaulatan, kesejahteraan, kemajuan, dan peran internasional. Semua era pemerintahan indonseia selalu berkisar seputar hal-hal ini, hanya saja karena diplomasi luar negeri itu dalam tataran praktis bersifat luwes dan fleksibel sehingga berbeda-beda formulanya.

Presiden jokowi sebagai contoh menitikberatkan pada perlindungan kedaulatan NKRI, perlindungan WNI di Negara asing, promosi wisata indonesia, dan penunjukan peran Indonesia di kancah dunia. Itu semua tidak lepas dari kerangka yang telah digariskan dalam UUD 1945 tersebut.

Kerangka diplomasi Indonesia untuk Negara-negara timur tengah berasas pada; peaceful, phosperous, democratic, bebas senjata nuklir dan pemusnah massal, serta dukungan perjuangan Palestina.

Terkhusus untuk kerangka diplomasi indomesia untuk Arab Saudi. Beliau menegaskan asas equality, hal ini tampak berhasil ketika Raja Salman melakukan kunjungannya ke Indonesia beberapa waktu lalu, setelah sebelumnya Indonesia cenderung memiliki stigma di mata masyarakat Arab Saudi sebagai pihak yang membutuhkan pekerjaan non formal atau tanpa skil, dan juga sebagai pihak yang butuh untuk bepergian menunaikan ibadah di tanah suci, tak lebih dari itu.

Beliau juga menyinggung tentang peran pelajar dan mahasiswa Indonesia di timur tengah dan afrika utara (MENA / Middle East and North Africa). Bahwa mereka semua memiliki modal diplomasi berupa; kemampuan berbahasa arab, pemahaman budaya dan adat istiadat, jaringan dan relasi selama studi, penguasaan ilmu pengetahuan dan kapabilitas keilmuan.

Adapun mahasiswa Haromain alias Dua Tanah Suci; Madinah dan Mekkah, mereka punya satu keunggulan yang tidak terdapat di tempat lain, yaitu nila-nilai spritual. Yang mana nantinya pada tahun 2045, mereka semua akan menjadi agen perubahan, dan diharapkan membawa Negara kearah yang lebih baik, termasuk dalam kebijakan dan politik luar negeri. Mereka dapat mengingatkan kesalahan-kesalahan moral, hukum dan spiritual yang mungkin terjadi dari unsur bangsa lainnya. Terakhir beliau berpesan kepada seluruh delegasi peserta simposium, “You are the agent of change”. (Red: Izzy, Ed: Adam)

Galeri Foto: (Sumber sie. Media Simposium Kawasan PPI Timtengka Madinah 2017)

 



Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Pelajar Indonesia di Arab Saudi Menjadi Duta Pariwisata dan Budaya Indonesia

PPIDUNIA.ORG, Saudi Arabia – Pekan kedua semester genap di Qassim University disambut dengan perhelatan Akbar Festival Kebudayaan Bangsa-bangsa Ke-III atau dalam bahasa arab disebut sebagai “Maharajan Turats As-Syu’ub”.

Perhelatan tahunan ini diikuti oleh mahasiswa dari 18 negara, salah satunya adalah mahasiswa asal Indonesia, selain sebagai pelajar mereka juga berperan sebagai duta Indonesia dalam memperkenalkan kekayaan budaya dan alam Nusantara.

Pada festival kali ini, stan Indonesia dibagi dalam dua bagian. Ada bagian untuk berbagai makanan khas, sementara lain untuk pameran kerajinan dan pakaian adat. Tampak juga layar LCD menghias bagian depan stan yang berfungsi untuk menayangkan slide tentang keindahan alam Indonesia dan keanekaragaman budayanya.

Pelajar Indonesia di Arab Saudi Menjadi Duta Pariwisata dan Budaya Indonesia

Rumah adat Tongkonan khas Toraja menjadi ikon paling menonjol yang berdiri kokoh sebagai atap stan, pun dinding-dinding bagian dalam dihiasi dengan foto-foto alam dan ragam kesenian, budaya daerah yang dibingkai dengan apik, serta berbagai kerajinan dipajang dan dihias di almari-almari pameran.

Kegiatan yang digelar pada (14-16/02) ini juga dimeriahkan dengan berbagai penampilan kesenian daerah. Salah satu yang paling menjadi pemikat pengunjung adalah pencak silatnya. Selain itu juga digelar beberapa lomba di antaranya; lomba balap bakiak, balap karung, lomba lari kelereng khas acara 17-an, yang semuanya diikuti oleh peserta dari berbagai negara dan bangsa.

Permainan lain yang ditampilkan mahasiswa Indonesia adalah permainan egrang. Ketika melalui depan stan Indonesia para pengunjung antusias untuk memainkannya. Ada yang hanya sekedar coba-coba dan ada yang serius mempelajarinya hingga pandai dua atau tiga langkah.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Riyadh pada festival ini juga ikut berpartisipasi dalam bentuk sumbangan beberapa merchandise, tabloid khusus tentang wisata Indonesia dan pinjaman beberapa pakaian adat nusantara.

PT. Indofood cabang Qassim juga turut membantu dengan menyumbang 40 dos Indomie lengkap dengan pemanas air, sehingga stan selalu ramai dikerumuni para pengunjung. Penganan khas juga siap sedia di antaranya: pisang ijo, jagung marning, kacang telor hingga martabak manis yang dipanggang di tempat sehingga masih hangat untuk dicicipi.

Pada tahun lalu mahasiswa Indonesia menempati juara ke dua dalam festival budaya ini. “Harapan kami tahun ini hanyalah untuk membuka mata dunia bahwa Indonesia dengan keanekaragaman budaya, suku dan agamanya tetap hidup rukun dalam bingkai toleransi dan kebersamaan antar penduduknya, pun kalau bisa juara satu merupakan hadiah tambahan” ujar Ketua Panitia Stan Indonesia Arif Ahmadi Yusuf.

Keikutsertaan stan Indonesia dalam kegiatan ini sepenuhnya dikoordinir oleh para mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Qassim University. Jumlah mahasiswa Indonesia yang kuliah di kampus ini telah mencapai 49 orang dari jenjang sarjana dan magister.[MB/AJU]

Page 1 of 2
1 2