logo ppid

Liputan Islamabad - Berasal dari rumpun yang sama, membuat tali persaudaraan antar pelajar Indonesia dan pelajar Thailand di Pakistan menjadi sangat erat. Jalinanan persaudaraan ini sudah ada jauh ketika pelajar Indonesia dan Thailand pertama kali menginjakkan kaki di Pakistan. Ketika jumlah pelajar Indonesia di Pakistan mengalami krisis, pelajar Thailand lah yang membantu administrasi mahasiswi baru dari Indonesia. Begitu juga sebaliknya. Ketika pelajar Thailand masih sedikit, pelajar Indonesia banyak membantu mereka dalam masalah administrasi dan penyesuaian diri di negeri Ali Jinnah ini.

Jalinan persaudaraan ini terus dijaga salah satunya dengan membuat program-program kerjasama antar dua perkumpulan pelajar ini. Misalnya, antar mahasiswa Indonesia dan Thailand kerap kali diadakan pertandingan persahabatan di bidang futsal maupun sepak bola. Sedangakan di female campus, mahasiswi Indonesia dan Thailand memiliki program diskusi mingguan dan beberapa program-program isidentil lainnya.

Di bulan suci ini, Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia tidak menyianyiakan kesempatan untuk mempererat jalinan silahrturahmi dengan Thailand Student Association, yaitu dengan mengadakan acara Buka Puasa Bersama. Acara diadakan hari Selasa, tanggal 20 Juni 2017 yang bertepatan dengan tanggal 25 Ramadhan 1438 H. Acara diadakan di rumah salah satu home staff KBRI Islamabad yang berada di sektor F10/3.

Sekitar pukul enam petang seluruh mahasiswa dan mahasiswi bergegas menuju lokasi yang telah disepakati. Meski awan petang dan hujan mungkin akan segara turun, namun semangat untuk menghadiri buka bersama tidaklah pupus. Setengah jam sebelum adzan maghrib berkumandang, yaitu pukul 19.21 PKT, seluruh mahasiswa telah duduk rapi di tempat. Berbagai macam gorengan seperti bakwan dan martabak telur dilengkapi dengan sambalnya, berbagai macam minuman mulai dari es campur, teh hangat, minuman bersoda, maupun air putih sebagai hidangan tajil tersedia di depan mata kami. Menggoda iman di detik-detik terakhir menjelang maghrib.

Adzan maghrib berkumandang, diiringi dengan doa berbuka puasa, seluruh mahasiswa sigap mengambil takjil yang sedari tadi telah diincar. Dalam hitungan menit, takjil yang beraneka ragam ludes tak bersisa. Setelah berbuka, seluruh mahasiswa berbondong-bondong mengambil wudhu untuk kemudian menunaikan shalat berjama’ah. Usai shalat, mahasiswa mulai memakan makanan inti berupa nasi kotak. Ayam goreng besarta sambal, lalapan, sayur, dan tak lupa kerupuk yang merupakan isi dari nasi kotak, menambah selera makan mahasiswa yang telah berjuang berpuasa selama kurang lebih 16 jam di tengah cuaca terik 41 derajat.

Di akhir acara, tak lupa kami mengabadikan momen ini. Mahasiswi berbondon-bondong menaiki tangga menuju balkon lantai dua tempat banner acara di pasang. Para mahasiswa berbaris rapi di depan gerbang rumah. Dari bawah, fotgrafer memotret momen tersebut. Untuk kelak dikenang hingga generasi selanjutnya.

Inilah sebuah momen yang sederhana namun penuh arti. Siapa yang menyangka jika dari hubungan kecil yang kita jalin ini, akan menghasilkan sebuah kerja sama yang lebih besar lagi?

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu, dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. (QS.49:13)

Memasuki era pasar bebas dalam kawasan ASEAN, PPMI Pakistan mengadakan seminar kemahasiswaan bertajuk “Persiapan Mahasiswa Indonesia di luar negeri dalam mengahadapi Masyarakat Ekonomi Asean” yang bertempat di aula Budaya Nusantara KBRI Islamabad, bersama Duta Besar LBBP Republik Indonesia untuk Pakistan Iwan Suyudhie Amri dan juga Guntur Sugiyarto selaku Principle Economist, Asean Development Bank sebagai narasumber ahli dalam bidang ekonomi dan politik, Sabtu (29/4/2017).

Mengawali acara, bapak duta besar memberikan sambutan sekaligus memaparkan pengenalan masyarakat ekonomi asean secara umum. Beliau mengatakan Dengan populasi 620 juta orang, ASEAN merupakan pasar ke-3 terbesar di dunia dan juga ekonomi terbesar ke-7. Di Asia sendiri, ASEAN menempati urutan ke-3. Begitupula tingkat dan kesenjangan kemiskinan menunjukan angka penurunan dan masyarakat kelas menengah meningkat yang artinya ASEAN secara garis besar menunjukan suatu keberhasilan dalam koperasi ekonomi.

Selain itu, Bapak Guntur menambahkan bahwa Cina sekarang sudah tidak cukup lagi menampung rumah produksi. Diperkirakan, rumah produksi ini akan berpindah ke negara-negara ASEAN seperti Laos, Kamboja dan Myanmar. Indonesia yang memiliki tanah yang begitu luas dan sumberdaya yang melimpah memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan Gross Domestic Product dan perekonomian.

Akan tetapi, Indonesia masih tertinggal dengan negara-negara ASEAN lainnya dari tingkat pendidikan dan usia produktif kerja. Hal ini yang menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah untuk semakin meningkatkan sumber daya insaninya. Tentu masih ada harapan untuk tenaga kerja Indonesia meningkatkan skill mobility agar mampu bersaing dalam era globalisasi ini. Di akhir acara beberapa mahasiswa unjuk gigi dengan menampilkan beberapa lagu. Tak ingin ketinggalan, PCI NU Pakistan juga menampilkan tim rebana yang baru dibentuk.

(FAA/AASN)

Liputan Islamabad - Sebagai salah satu program dari Departemen Inventarisasi dan Unit Usaha, PPMI Pakistan mengadakan seminar hijamah yang dilaksanakan di KBRI Islamabad, sabtu pagi (11/3). Tidak hanya mahasiswa, seminar kali ini juga dihadiri oleh staff KBRI. Seminar kali ini menghadirkan Achmad Syarif, S.Thi. selaku pembicara dari tim hijamah.

Hijamah atau yang lebih dikenal bekam merupakan pelepasan darah kotor dengan cara melukai permukaan kulit dan melakukan penghisapan melalui gelas bekam untuk mengeluarkan darah kotor. Hijamah sendiri merupakan salah satu pengobatan tradisional dan sekaligus pengobatan ala nabi Muhammad SAW. Dewasa ini pengobatan hijamah semakin dikenal di Indonesia. Hal ini dikarenakan khasiatnya yang sangat mujarab dan minim efek samping. Selain itu terdapat sebanyak 275 hadits tentang anjuran berbekam.

Terkait sejarah hijamah sendiri, Syarif menuturkan, terdapat 4 fase sejarah bekam di Indonesia : tradisional, standarisasi, penyempurnaan dan sinergisasi. Pada tahun 2010, Indonesia sendiri sudah memasuki fase sinergisasi.

Ia juga menambahkan, tentang khasiat bekam yaitu memperbaiki sistem imunisasi, melancarkan peredaran darah, memulihkan fungsi tubuh. "Reaksi negatif bisa terjadi saat berlangsungnya bekam, yaitu pening/pusing, lapar, lemas. Hal ini banyak terjadi pada pasien yang memiliki darah rendah," jelas Achmad Syarif, S.Thi.

Tak hanya warga Indonesia, dalam perjalanannya memimpin tim hijamah, ia menemui minat yang cukup besar dari warga luar negeri khususnya Pakistan. Disamping penangan tim hijamah PPMI Pakistan lebih bersih dan rapi, masalah harga juga mempengaruhi. Hijamah di luar mematok tarif yang cukup tinggi, berbeda dengan tim hijamah yang cukup mematok harga mahasiswa.

Di akhir pembicaraan, ia juga menawarkan pelatihan hijamah bagi warga Indonesia yang berminat. Hasil dari pelatihan ini akan menjadi bekal yang sangat berharga bagi warga untuk dapat mempraktekannya secara langsung baik ketika ia masih di Pakistan ataupun ketika kembali ke tanah air. (Red, az / Ed, pw)

Liputan Islamabad — Departemen Keilmuan Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Pakistan (PPMI Pakistan) mengadakan teleconference bersama Ust. Shamsi Ali sebagai Imam Islamic Center di New York USA dengan tema "Dialog Interaktif: Tantangan Dakwah Islam di Amerika". Acara yang dihadiri oleh rekan-rekan mahasiswa Indonesia di Islamabad yang dilaksanakan di rumah Atase Pertahanan Sector F-6 Islamabad berjalan dengan lancar.

Kiprah Ust. Shamsi Ali di dunia dakwah yang cukup berpengalaman dan memulai kuliahnya di International Islamic Universiti Islamabad (IIUI) sangat luar biasa. Beliau menempuh pendidikan S1 dan S2 di Pakistan. Dilanjutkan dakwahnya beliau ke Jeddah hingga mengantarkan beliau ke New York USA dan melanjutkan PhD di Southern California University.

Seperti yang dilansir pada website PPMI Pakistan, beliau menyampaikan bahwa Islam di Amerika bukan lah hal yang baru, bahkan sebelum tersesatnya Columbus ke Amerika yang kala itu berniat untuk mencari pulau India yang pada saat itu suku pedalaman amerika disebut Indian karena Columbus menyangka ia telah tiba di India. Ust. Shamsi Ali memulai dakwahnya di Amerika sejak Desember 1996.

Banyak para politisi maupun penduduk yang anti-Islam berpendapat bahwa pasca tragedi 9/11 bahwa Amerika adalah kuburan bagi Islam yang artinya bahwa Islam tidak akan mungkin berkembang karena benar-benar sudah dianggap tersangka utama atas tragedi tersebut.

“Allah berfirman dalam Alquran wa makaruu wa makarallah wallahu khairul maakiriin. Setiap orang boleh punya rencana siapapun itu tetapi tetap bahwa Allah itu pembuat rencana terbaik. Persepsi yang beranggapan bahwa 11 September adalah kuburan bagi Islam ternyata berbalik, justru setelah kejadian tersebut adalah momentum dakwah islam yang tepat di Amerika,” tutur Ustadz asal Sulawesi Selatan tersebut.

Beliau menyampaikan bahwa implementasi dakwah dari yang sebagaimana Alquran katakan—QS 16:125—adalah kita harus memahami lapangan dimana kita berdakwah. Contoh menurut pengalaman beliau yang berdakwah di Amerika maka harus memahami Amerika itu apa, kondisi masyarakat, pandangan sosial serta kejiwaan dari berbagai sisi yang harus kita pahami.

Dengan memahami kondisi tersebut, maka kita akan paham dan akan menggunakan bi lisaani qoumihi yang bukan hanya dengan bahasa lisan saja meskipun sangat penting termasuk bahasa kultur, sosial politik, maupun ekonomi. Karena komunikasi yang salah akan membuat kebenaran menjadi tabu, dan akan sangat membahayakan esensi dakwah adalah mengajak dengan pendekatan persuasif. Bahkan karena komunikasi yang salah malah bukannya mengajak akan tetapi malah mengusir orang dengan mengutuk, menyalahkan, merendahkan, mengucilkan yang harus dirubah.

Di akhir sesi acara beliau menyampaikan bahwa dakwah yang paling penting pada saat ini adalah dengan menampilkan Islam. Dakwah itu bukan mengislamkan orang karena kita tidak akan mampu mengislamkan orang. Dakwah kita adalah menyampaikan Islam yang sesungguhnya dengan cara yang benar. Karena yang mengislamkan adalah Allah SWT. (Red, am / Ed, pw)

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920