Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Pelajar Indonesia di Sudan Bagikan Ta’jil Gratis dan Adakan “Begal” Ramadhan

Pembagian Ta’jil oleh para pelajar di Sudan

Khartoum – Setelah sebelumnya sukses mengadakan kegiatan buka puasa bersama  mahasiswa/i Indonesia di Sudan, kali ini Biro  Keagamaan dan Sosial  PPI Sudan dan PPPI Sudan mengadakan kegiatan Takjil On The Road (TOTR) di sekitaran Pasar Induk kota Khartoum, Minggu (03/06/2018) pukul 17.15 waktu setempat.

Acara ini merupakan salah satu rangkaian dari program Semarak Ramadhan 1439 H dan merupakan program lanjutan dari tahun sebelumnya. Seperti takjil on the road yang ada di Indonesia, 20 menit menjelang waktu berbuka, panitia membagikan takjil gratis kepada para pejalan kaki dan para pengendara di sekitar jalan raya.

Pembagian Ta’jil kepada pengendara di jalan

Selain membagikan takjil, panitia pun menyediakan makanan khas Indonesia, berupa nasi kuning, opor dan rendang ayam serta mie goreng serta tak lupa berbagai makanan khas Sudan yang biasa disajikan saat berbuka puasa diantaranya Ashidah, Balilah, Balah, Ful, dan Mullah. Sajian ini bisa didapatkan apabila berbuka puasa di tikar-tikar yang digelar oleh panitia di sekitar lokasi kegiatan Takjil on The Road. Pada sesi “begal” Ramadhan kali ini pula, panitia ikut bergabung bersama Sudan Food Bank guna menyediakan hidangan berbuka puasa di pinggir jalan bagi masyarakat sekitar. Meniru kebiasaan masyarakat Sudan, sebelum azan magrib berkumandang, panitia “membegal” warga Sudan yang melintas agar berkenan berbuka di tikar yang disediakan panitia dengan menu khas Indonesia. Warga Sudan yang turut serta dalam kegiatan Takjil on The Road ini tampak sangat antusias, terlebih dengan hadirnya makanan khas Indonesia yang sangat sulit didapatkan di negara Sudan.

Gelaran tikar berbuka puasa di sekitar lokasi pembagian Ta’jil

Ketua dan Wakil PPI Sudan, yang turut ikut serta di lapangan sangat mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi oleh Panitia Semarak Ramadhan dan berharap kegiatan seperti ini akan menjadi agenda tahunan PPI Sudan kedepannya.

Selain itu,  Ketua dan Wakil PPI Sudan beserta seluruh Panitia Gebyar Ramadhan 1439 H menyampaikan terima kasih yang luar biasa kepada para donatur dan dermawan yang telah memberikan sumbangsih terbaiknya pada Program Semarak Ramadan tahun ini. “Tidak lupa kami pun berterima kasih kepada para donatur yang telah memberikan donasi terbaiknya guna melancarkan Program Semarak Ramadan tahun ini. Semoga Allah swt senantiasa membalas setiap kebaikan yang tercurah.”

Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Aksi Bersih-bersih dan Senam Bersama di Khartoum

Kegiatan bersih-bersih PPI Sudan

Pada Jumat (11/05) KBRI Khartoum bekerjasama dengan PPI Sudan beserta seluruh masyarakat Indonesia di Khartoum mengadakan kegiatan yang bertajuk “Aksi Bersih-Bersih dan Senam Bersama” di Green Yard atau lebih dikenal dengan Sahoh Hodro, kota Khartoum.

Acara yang dibuka untuk umum ini melibatkan baik warga negara Indonesia maupun masyarakat Sudan. Kegiatan ini adalah wujud nyata atas kepedulian masyarakat Indonesia akan kebersihan dan kesehatan jasmani.

Dibuka dengan pembacaan surat Al Fatihah, acara dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh Duta Besar RI untuk Sudan dan Eriteria, Drs Rossalis Rusman Adenan, M.B.A.. “Saya sangat senang dengan acara ini. Aksi ini selain sebagai wadah kepedulian kita dalam hal kebersihan, juga sebagai sarana penyemangat untuk para mahasiswa/i indonesia untuk belajar, dan silaturrahmi antar warga negara Indonesia di Sudan.” ucap beliau.

Acara pun kemudian dilanjutkan dengan senam bersama yang dipandu oleh saudara Faisal Syawie dan Hakim. Beragam lagu-lagu daerah dan senam khas Indonesia semakin menambah keasyikan senam pagi hari ini.

Setelah senam selesai, acara kemudian dilanjut dengan kegiatan bersih-bersih bersama dengan memungut sampah yang ada di Green Yard. Bapak Dubes secara langsung memberi arahan teknis dan menjelaskan akan pentingnya kebersihan untuk bersama serta memimpin secara langsung jalannya kegiatan bersih-bersih tersebut.

Para peserta yang mengikuti acara ini sangat bergembira karena diakhir acara panitia membagikan doorprise berupa uang tunai, voucher pulsa dan voucher makan gratis di Nusantara Resto. Acara diakhiri dengan sajian hidangan khas Indonesia. Acara makan-makan pun menjadi penutup acara pagi yang seru ini.

“Mungkin bagi peserta acara aksi bersih sudan bersih tadi pagi, membersihkan seluruh sudut green yard tidaklah mungkin, tapi setidaknya kami telah memberikan contoh bagaimana arti dari kebersihan yg sebenarnya lewat aksi tentunya” ucap salah satu peserta aksi pagi tadi.

 

Penulis: PPI Sudan

Editor: Nadhirariani

Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Kompetisi Futsal Mahasiswa di Sudan

Kegiatan Futsal Cup PPI Sudan

Khartoum – Pada hari Sabtu, 5 Mei 2018, Biro Olahraga dan Kesenian PPI Sudan mengadakan kompetisi Futsal dalam rangka meningkatkan skill olah raga mahasiswa di Sudan.

Kompetisi yang diselenggarakan di Lapangan Futsal Muntazah Riyadh ini dilaksanakan pukul 07.00 CAT. Delapan tim turut berpartisipasi dalam kompetisi ini,  yaitu Ghuroba FC, Tafsir FC, Mazid Club, Kahruba FC, Good End FC, Onga FC, Enqadz Prayboy FC, dan FBR Team.

Sebelum kompetisi dimulai, terlebih dahulu Ketua PPI Sudan, Muhammad Ruhiyat Haririe memberikan sambutan. Dalam sambutannya ia mengingatkan bahwa kompetisi ini ditujukan sebagai ajang silaturahmi dan refreshing dari kesibukan sehari-hari. “Ambisi dan emosi pasti ada dalam kompetisi, namun, di luar lapangan kita semua saudara”, serunya. Setelah sambutan dari ketua PPI, Faisal Maulidi selaku panitia memberikan arahan dan hal-hal lain yang perlu diperhatikan saat bertanding.

Kompetisi ini berlangsung sangat meriah. Final yang cukup sengit antara Onga FC dan Ghuroba FC menjadi penutup kegiatan Futsal Cup ini. Dalam final tersebut, Onga FC menang setelah menaklukkan Ghuroba FC dengan skor 3-1. Dari tiga pertandingan yang dijalani Onga FC, mereka hanya kebobolan satu gol di laga final.

Di akhir acara, Panitia memberikan hadiah senilai 2000 SDG kepada Onga FC yang diwakili oleh saudara Isman sebagai kapten. Dilanjut dengan pemberian hadiah senilai 1500 SDG kepada tim runner up, Ghuroba FC yang diwakili oleh saudara Wafiq. Tak lupa, penghargaan pemain terbaik juga diberikan kepada saudara Ahmad Musawwir dari tim Mazid Club.

Selamat kepada Onga FC!

Semoga kompetisi ini dapat mempererat ukhuwah dan silaturahmi mahasiswa di Sudan.

 

Penulis: PPI Sudan

Editor: Nadhirariani

Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Pelajar Indonesia di Sudan Bahas Rohingnya

Khartoum – Guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam melakukan berbagai analisis, Departemen Pendidikan PPI Sudan mengadakan kajian tematik dengan mengangkat topik terhangat yang tengah diperbincangkan pada saat ini terkait tragedi kemanusian yang menimpa komunitas muslim di Rohingya. Selasa (12/9), bertempat di Aula Indonesian Students Center (ISC), kajian tematik kali ini mengangkat tema “Mari bersama Rohingya; Analisis Latar Belakang dan Penyelesaian Krisis Kemanusiaan Rohingya” yang diselenggarakan atas kerjasama dengan Persatuan Pelajar Myanmar di Sudan.

Pada kesempatan ini PPI Sudan menghadirkan 2 narasumber. Narasumber pertama adalah ustadz Asyrof (mahasiswa asal Myanmar Rohingya yang sedang menempuh studi di Sudan). Ia merupakan salah satu saksi hidup atas tragedi kemanusiaan yang tak kunjung menemui titik penyelesaian hingga saat ini. Dalam paparan yang disampaikan, narasumber menjelaskan akar permasalahan dan sumbernya serta menerangkan betapa tidak berperi kemanusiannya penindasan yang menimpa masyarakat muslim Rohingya. Beliau juga sangat menyayangkan ketidak pedulian berbagai pihak dalam kasus ini. Beliau pun berkesempatan menunjukkan berbagai macam slide yang didapatkannya langsung dari sahabat maupun kerabat yang hingga kini masih terjebak di Myanmar. Beliau pun berpandangan bahwa langkah-langkah yang selama ini diambil oleh bangsa-bangsa dan Negara-negara lain terlalu lambat dan tidak efektif dalam menghentikan krisis kemanusiaan ini secara cepat. “Negara-negara di luar sana terlalu asyik berdebat, berdiskusi, dll tanpa ada aksi nyata bagi kami. Dalam kondisi krisis seperti ini, justru aksi nyatalah yang kami butuhkan untuk menghentikan krisis kemanusiaan ini secepatnya.”

Dalam statement penutup, narasumber turut mengapresiasi bangsa Indonesia sebagai salah satu bangsa yang peduli dan memperhatikan nasib kaum muslimin di Myanmar dengan melakukan berbagai langkah diplomatik maupun pengiriman bantuan hingga saat ini. “Kami sangat berterima kasih kepada kawan-kawan Indonesia di Sudan yang telah mau memprakarsai kegiatan kajian tentang muslim Rohingya yang untuk pertama kalinya ada di Sudan, serta kepada bangsa Indonesia yang tak henti-hentinya memberikan berbagai macam support kepada kami di berbagai bidang,” pungkasnya menutup pemaparan sesi pertama pada kajian tersebut.

Di sesi berikutnya, narasumber kedua, Ustadz Ribut Nur Huda, M.A (kandidat Doktor Univ. Alquranul Karim Omdurman) yang menyampaikan pandangannya terkait langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan umat muslim untuk menyelesaikan masalah tersebut. Beberapa diantaranya adalah melalui jalur diplomatik guna menekan pemerintah Myanmar agar segera menghentikan pembantaian tersebut. Di sisi lain beliau pun mendorong umat muslim agar berpegangan dengan erat guna menyelesaikan permasalahan ini secara bersama-sama dan tidak saling menyalahkan satu dengan yang lainnya. “Permasalahan Rohingya bukan hanya sekedar permasalahan satu ataupun dua suku, bangsa, dll. Ini adalah masalah kaum muslimin. Kitalah yang paling berkewajiban untuk membela mereka dalam keadaan seperti ini,” ujar narasumber. Beliau juga tak lupa mengajak segenap pihak untuk turut mendoakan agar konflik yang terjadi segera berangsur membaik dan menemui titik damai. “Berbagai upaya telah dilakukan oleh berbagai pihak, dan sekarang langkah paling nyata yang dapat kita lakukan adalah mendoakan mereka semua serta terus memberikan support baik moril maupun materil.”

Dalam diskusi yang berlangsung hangat ini turut hadir pula para ketua dan delegasi dari Persatuan Pelajar dari berbagai negara yang yang ada di Sudan ini. Kegiatan ini berhasil mendapat banyak apresiasi sebagai kegiatan pertama yang digagas oleh Persatuan Pelajar yang ada di Sudan sebagai wujud nyata kepedulian dan kepekaan sosial terkait isu kemanusiaan yang kini masih belum dapat dibendung. [] (PPI Sudan)

Categories
PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Discovery Menjelajahi Ramadhan di Timur Tengah dan Afrika

🌞 INVITATION 🌞

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
👋Hai sobat PPI, gimana kabarnya? Lancar kan puasanya? Semoga tetap kuat dan semangat 😊
Kami dari PPI Sudan bekerjasama dengan PPI Timteng dan Afrika mengajak teman-teman PPI di kawasan  Timteng dan Afrika untuk ikut berkolaborasi dalam menggarap e-book dengan judul “DISCOVERY” yang bertemakan “Menjelajahi Ramadhan di Timur Tengah & Afrika”. E-book ini akan menggambarkan kehidupan  Ramadhan di wilayah TimTeng dan Afrika.

➡Karena banyak dari teman-teman di Indonesia yang ingin tahu bagaimana menariknya berpuasa di Timur tengah dan Afrika, maka dengan hadirnya e-book ini semoga dapat menjawab rasa penasaran mereka semua. Jadi, ayo kita bantu teman-teman kita di Indonesia.

✍Adapun untuk konten/isi dari tulisan yang dibuat adalah sebagai berikut :

  1. Wawasan negara.
  2. Tradisi khas Ramadhan di setiap negara
  3. Suasana Lebaran di setiap negara
  4. Tambahan lain yang masih berkaitan dengan tema (Jika ada)
  5. Foto-foto yang berkaitan dengan tema ( Minimal 2 mb)

– Kirimkan karya sobat di: berbagiceritaramadhan@gmail.com
– Waktu pengumpulan 12 Juni-22 Juni
– Info lebih lanjut hubungi Yahya Ayyash ( +249111424468)

Demikian info dari kami.
Kami ucapkan terimakasih sebesar-besarnya untuk teman-teman PPI di kawasan TIMUR TENGAH & AFRIKA atas kerjasamanya. Semoga kita semua selalu dalam rahmat dan perlindunganNya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Categories
Travel & Kuliner Wawasan Dunia

Cerita ‘Begal Ramadan’ dari Negeri Dua Nil Sudan

Khartoum – Sudan merupakan salah satu negara yang terletak di benua Afrika. Jika dilihat seksama, letak Sudan tepat berada di jantung benua Afrika. Negara ini juga memiliki julukan ‘Negeri Dua Nil’, karena di negara inilah bertemunya dua Sungai Nil, yaitu Nil Biru dan Nil Putih.

Dari jumlah penduduknya, mayoritas masyarakat Sudan memeluk agama Islam. Suasana Islamnya mirip seperti Indonesia, namun memiliki beberapa perbedaan. Misalnya, jika di Indonesia masyarakatnya banyak bermazab Syafii, mayoritas masyarakat Sudan bermazab Maliki.

Ujian sesungguhnya hidup di Sudan ada ketika bulan Ramadan. Kita diharuskan berpuasa di atas suhu stabil 40° Celsius. Total lamanya berpuasa di Sudan sekitar 13 jam. Mulai azan Subuh pukul 05.00 hingga azan Magrib berkumandang kisaran pukul 19.30.

Suhu panas di Sudan memuncak ketika Ramadan. Hal unik yang terjadi, ketika salat Zuhur, masjid-masjid sangat dipenuhi oleh masyarakat Sudan. Di tengah suhu yang panas, mayoritas masjid di Sudan terdapat pendingin ruangan, seperti air conditioner (AC) dan cooler. Hal ini dimanfaatkan oleh masyarakat Sudan untuk tidur siang, sambil mengamankan diri sesaat dari panasnya Sudan. Kejadian unik ini selalu terjadi setiap harinya di bulan Ramadan ini.

Foto: ‘Begal Ramadan’ di Sudan, ‘membegal’ orang lewat untuk berbuka puasa (Landmark Sudan, Masjid Alnilin (Muhammad Faiz Alamsyah)

Namun, Sudan sangat ramah dalam menyambut datangnya bulan yang penuh berkah. Beberapa fenomena menarik banyak terjadi, dan hanya terjadi di bulan Ramadan. Beberapa fenomena yang jarang, atau bahkan kita tidak pernah lihat di Indonesia.

Di Sudan, ada satu kejadian yang paling menarik ketika Ramadan. Kami warga Indonesia yang menetap di Sudan menyebutnya dengan ‘begal ramadan’. Jika di Indonesia, orang membegal kendaraan, di Sudan orang membegal orang lain di jalanan untuk mau berbuka bersama mereka.

Foto: ‘Begal Ramadan’ di Sudan, ‘membegal’ orang lewat untuk berbuka puasa (Landmark Sudan, Masjid Alnilin (Muhammad Faiz Alamsyah)

Begal ini terjadi hampir di setiap sudut negeri Sudan. Di dekat tempat kami tinggal, ada sekitar 5 rumah yang menyediakan tempat untuk berbuka. Kami tinggal pilih saja, mau ‘dibegal’ oleh rumah yang mana.

Rumah-rumah ini menggelar tikar di depan rumah mereka, untuk orang lain datang berbuka. Mereka menyediakan aneka makanan dan minuman khas Sudan, dengan cuma-cuma. Hal ini mereka lakukan, di setiap hari selama Ramadan, sebulan penuh, mereka menyediakan hidangan berbuka itu.

Hebatnya efek ‘begal’ ini, banyak warga Sudan ‘berebut’ orang di jalan. Bahkan beberapa tahun lalu, seperti dilansir beberapa media cetak di Sudan, ada dua orang Sudan yang sampai terlibat baku hantam. Mereka pun dipolisikan. Alasannya sangat sederhana, hanya karena berebut orang di jalanan untuk berbuka puasa bersama mereka.

Cara berbuka puasa orang Sudan pun unik. Ketika azan berkumandang, mereka memilih untuk memakan kurma terlebih dahulu, berbeda dengan kita yang mayoritas memilih untuk minum teh hangat ketika azan. Teh hangat mereka sajikan justru setelah salat Magrib berjemaah. Yang lebih aneh lagi, tidak ada es teh di seluruh Sudan. Bukan kebiasaan mereka, mencampurkan teh dengan es batu.

Lalu bagaimana mengobati rindu dengan suasana berbuka di Indonesia? Alhamdulillah, pada hari Jumat dalam setiap minggunya, KBRI Khartoum selalu mengadakan buka puasa bersama dengan seluruh WNI di Sudan yang diadakan di Wisma Duta RI, tempat tinggal bapak Duta Besar RI untuk Sudan.

Foto: Buka puasa bersama di KBRI Khartoum Sudan (Tidur siang setelah salat Zuhur di masjid-masjid di Sudan (‘Begal Ramadan’ di Sudan, ‘membegal’ orang lewat untuk berbuka puasa (Landmark Sudan, Masjid Alnilin (Muhammad Faiz Alamsyah)

Ini cara kami mengobati kerinduan akan Ramadan di Indonesia. Tersaji takjil khas Indonesia, seperti kolak pisang, bakwan, es teh, brownies, dll. Setelah Isya pun diadakan tarawih bersama.

Mungkin ini sedikit gambaran bagaimana Ramadan di Sudan. Bagi yang penasaran akan cerita Ramadan lainnya di Sudan, Persatuan Pelajar Indonesia di Sudan (PPI Sudan) dan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Turki (PPI Turki) tahun lalu menerbitkan e-book yang berjudul “Diary Ramadhan”. “Diary Ramadhan” ini berisikan tentang cerita-cerita mahasiswa /i Indonesia saat Ramadhan di Turki dan Sudan. Info Diary Ramadhan selengkapnya terdapat di link ini.

Semoga kita semua diberikan kemudahan, dan senantiasa diberikan kesehatan, dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Penulis: Muhammad Faiz Alamsyah, Mahasiswa S1 University of Holy Quran and Islamic Sciences Sudan, ketua departemen media dan informasi PPI Sudan 2016-2017 dan anggota Biro Pers PPI Dunia 2016-2017

*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama antara Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) dan detikcom

Categories
Berita Timur Tengah dan Afrika

Peleburan BK-PPI Timteng dan Sekitarnya dengan PPI Kawasan Timteng dan Afrika

Liputan Makkah – Dalam rangkaian Simposium PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika 2017 yang berlangsung di Madinah pada 3-4 April 2017, Para Perwakilan PPI Negara di Kawasan Timur Tengah dan Afrika dan Fasilitator Sidang Komisi mengadakan Sidang Kawasan dan Finalisasi Sidang Komisi yang berlangsung di Hotel Grand Aseel, Makkah, pada hari Jum’at, 7 April 2017, Pukul 16.00 sampai pukul 19.00 Waktu Arab Saudi.

Sidang Kawasan dipimpin oleh Rama Rizana, Koordinator Divisi P2EKA (Pendidikan, Politik, Ekonomi, Kebudayaan & Pariwisata dan Agama) PPI Dunia, diawali tentang laporan program kerja yang telah dikerjakan PPI Kawasan selama 1 semester, kemudian membahas isu-isu terkini para pelajar Indonesia di kawasan. Diantara program kerja yang sudah berjalan antara lain Pendirian AKTA (Aliansi Keputrian Timur Tengah dan Afrika), Puskaji (Pusat Kajian Islami) kerjasama antara PPI Kawasan dengan Radio PPI Dunia, Tim Kajian Strategis dan Tim Media Kerohanian.

Adapun program kerja yang akan diadakan adalah Lomba Film Pendek se-Timur Tengah dan Afrika dengan PJ Khoiruddin dari HPMI Yordania. Pembahasan lainnya adalah penentuan Calon Koordinator PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika Periode 2017-2018 dan penentuan Calon Tuan Rumah Simposium PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika tahun 2018.

Kemudian, Pemaparan BK-PPI (Badan Kerjasama Persatuan Pelajar Indonesia) Timur Tengah dan Sekitarnya oleh Miftah Nafid Firdaus dari HPMI Yordania mengenai BK-PPI, sejarahnya dan program kerjanya. BK-PPI Timur Tengah dan Sekitarnya sendiri merupakan wadah organisasi antar PPI Negara di Kawasan Timur Tengah yang berdiri pada tahun 1964. BK-PPI memiliki sejarah dan perjuangan panjang, namun mengalami pasang surut organisasi.

8 PPI Negara yang hadir pada Sidang Kawasan ini sepakat untuk meleburkan BK-PPI Timur Tengah dan Sekitarnya dengan PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika tanpa melupakan sejarah dan perjalanan panjang BK-PPI. Semoga PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika kedepannya bisa memberikan kontribusi lebih khususnya bagi para pelajar Indonesia di Kawasan Timur Tengah dan Afrika, serta untuk Indonesia dan Dunia.

Berikut ini adalah Hasil Ketetapan Sidang:

Ketetapan Musyawarah Luar Biasa Badan Kerjasama Persatuan Pelajar Indonesia se-Timur Tengah dan Sekitarnya

tentang

Pembubaran BK-PPI se-Timur Tengah dan Sekitarnya

Bismillahirrahmanirrahim

Musyawarah Luar Biasa Badan Kerjasama Persatuan Pelajar Indonesia se-Timur Tengah dan Sekitarnya, dengan senantiasa mengharapkan rahmat dan ridho Allah subhanahu wa Ta’ala, setelah:

Menimbang:

  1. Untuk mencapai tujuan organisasi
  2. Untuk kemasalahatan anggota organisasi

Mengingat:

  1. Pasal 16 Anggaran Dasar BK-PPI se-Timur Tengah dan Sekitarnya
  2. Pasal 17 Anggaran Rumah Tangga BK-PPI se-Timur Tengah dan Sekitarnya

Memperhatikan:

Hasil Musyawarah Luar Biasa BK-PPI Timur Tengah dan Sekitarnya pada tanggal 7 April 2017 bertepatan dengan 11 Rajab 1438 H

Memutuskan:

Menetapkan:

  1. Pembubaran BK-PPI Timur Tengah dan Sekitarnya
  2. Peleburan BK-PPI Timur Tengah dan Sekitarnya dengan PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika
  3. Ketetapan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan

Bi-l-llahi-l-taufiq-wa-l-hidayah

Ditetapkan di  : Grand Aseel Hotel, Makkah, Arab Saudi

Pada tanggal    : 7 April 2017

11 Rajab 1438

Waktu             : Pukul18.00 KSA

Anggota BK-PPI Timur Tengah dan Sekitarnya

TTD

PPMI Arab Saudi

PPMI Mesir

PPI Sudan

HPMI Yordania

PPMI Pakistan

PPI Lebanon

PPI Maroko

PPI UEA

Categories
Berita PPI Dunia PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Liputan Hari Kedua Simposium Timtengka Madinah 2017

Madinah – Selasa 4 April 2017. Pagi hari, diskusi Panel Ketiga Simposium Kawasan PPI Timur Tengah – Afrika yang berjudul “Menyongsong Generasi Emas Indonesia Dalam Mempersiakan Generasi Emas 100 Tahun” resmi dimulai.

Dimoderatori oleh Ahmad Faisal, mahasiswa prodi Arab fakultas ilmu pengetahuan dan budaya Universitas Indonesia. Narasumber pertama adalah beliau Bapak Prof. Dr. Mohammad Nuh DEA, dengan membawakan materi berjudul “Menyiapkan Generasi Millenial Menuju Kejayaan Indonesia 2045”.

Beliau memulai dengan prolog bercerita tentang pengalaman dirinya dulu sebagai mahasiswa di negeri asing, dan beliau berpesan , “student today leader tomorrow”. Kemudian tak lupa juga beliau memberi ucapan selamat kepada panitia penyelenggara simposium, “berikan tepuk tangan bagi mereka yang telah menyiapkan dan menyelenggarakan acara yang luar biasa ini”.

Kemudian mengawali kuliahnya dengan ucapan, “Dunia tidak ada artinya tanpa Indonesia, Indonesia tidak ada artinya tanpa penduduk, dan penduduk tidak ada artinya tanpa PPI Timur Tengah Afrika”, ujar beliau membuka pemaparannya terkait Indonesia dan posisi geografisnya.

Kemudian beliau membahas tentang generasi millennial, mereka yang lahir antara 80-95, 22-36 tahun. Karena zaman membentuk karakter dan kepribadian. Karakter mereka suka jalan pintas dan tak ingin lama. Mereka lebih suka menggunakan modul-modul daripada teori yang berkepanjangan. Mereka juga segera beradaptasi dengan setiap teknologi yang muncul, tanpa berfikir tentang bagaimana benda tersebut bekerja, mereka juga mencintai mobilitas yang tinggi, modern nomadic, bukan hanya sekedar antar hutan bahkan antar negara.

Kita juga perlu memahami future trend karena kita akan berjalan ke depan, agar kita dapat menyiapkan diri. Kita tidak dapat menghilangkan persoalan, namun dengan persiapan kita dapat menyelesaikan persoalan itu, mirip filosofi payung. Tanpa mengetahui masa depan kita hanya akan menjadi expired generation.

Kemampuan pengambilan keputusan juga harus terus diasah, karena tingkat kompleksitas permasalahan dan kecepatan waktu yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan harus lebih baik. Dalam bukunya “age of discovey” Ian Goldin menyebutkan bahwa social complexity akan melaju lebih banyak dibandingkan dengan cognitive capacity. Trendi grafiknya bahwa kelompok kreatif bertambah naik, jika kita tidak kreatif maka kita akan termarjinalkan.

Lalu apa yg harus kita siapkan menghadapi masalah ini? Tentunya yang pertama adalah ilmu, amal dan amal salih. Kemudian selain itu adalah higher order thinking. Yaitu analyzing, evaluating, dan creating. Maka untuk itu dibutuhkan sikap kritis agar menjadi kreatif.

Tahun 2045 di akhir seabad Indonesia kita perlu untuk investasi SDM yang besar-besaran dan berkeadilan. Agar berkah demografis dan trendi pergerakan ekonomi dunia menjadi bonus bukan bencana. Dan itu, dinilai dari 2010 hingga 2040, ketika kita sedang dan masih memiliki bonus demografi.

Setelah kita tahu tantangannya, kita memilki empat agenda utama; kemiskinan, ketidaktahuan, keterbelakangan peradaban, dan ketidakadilan. Maka beliau berpesan, “Jadi pemimpin itu bukan sekedar memegang prinsip kebenaran, namun juga kebaikan dan keindahan, (logika, etika, estetika), oleh karenanya dinamakan kebijakan. Maka kelak kalau anak-anak PPI menjadi pemimpin, bijak dan santunlah terhadap kaum dhuafa”. Dengan 87% jumlah penduduk muslim hanya 1 orang yang menduduki peringkat 10 terkaya dunia. Sebab seperti kata beliau, “Pendidikan adalah sitem rekayasa sosial terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan, keharkatan, dan kemartabatan”

Dan yang terpenting adalah menaikkan pendekatan kita dari hindsight menuju insight menuju foresight. Descriptive analytics, diagnostic analytics, predictive analytics, prescriptive analytics. Karena yang kita butuhkan adalah menyiapkan leader, manager, dan entrepreneur. Untuk itu beliau berpesan khusus kepada para delegasi simposium, “PPI Timur Tengah dan Afrika haruslah menjadi generasi pemungkin (enabler)”.

Pembicara kedua adalah Bapak Prof. Dr. Gumilar Rusliwa Somantri. Beliau membacakan sebuah narasi tentang kondisi Indonesia kini dan masa depan. Membaca masa depan di tahun 2045, terdapat tiga skenario yang sering dikemukakan;  optimistik, pesimistik, dan realistik. Namun kita tentu berharap kepada skenario optimistik. Meskipun di sana-sini terdapat banyak problematika yang merisaukan dan dikhawatirkan menjadi mimpi buruk demografis di masa mendatang. Terlebih selain masalah di dalam negeri, Indonesia juga jamak menjadi incaran kepentingan-kepentingan asing, sudah barang tentu tindakan mereka akan dirasakan melalui aksi politik, pendidikan dan budaya. Terlebih dengan perubahan kutub kekuatan dunia, dan kemajuan beberapa negara Asia dalam mencuri start menghadapi masa depan, terkhusus China dan Jepang. Negara-negara Asean juga semakin kompetitif meskipun masih dilanda beberapa masalah budaya dan sosial.

Strategi yang tak kalah penting untuk menghadapi ini, adalah merubah paradigma pembangunan yang berbasis SDA menjadi basis SDM. Dan juga menabuh genderang perang menghadapi radikalisme kiri dan kanan, memperkuat pondasi ekonomi, menghadapi upaya perusakan generasi baru, dan yang terpenting adalah mempersiapkan diri menghadapi era energi kinetis dan era digital.

Sebelum sesi tanya-jawab, Pak Mahfud MD pembicara pada panel pertama, sempat ikut memberikan pesan dan nasehatnya sebagai konklusi akhir dari seluruh materi yang telah disampaikan oleh para narasumber, beliau berpesan, “intinya adalah optimis dan tidak takut gagal”.

Acara  selanjutnya adalah presentasi paper yang ditulis oleh para delegasi.  Yaitu pemaparan 15 paper yang telah dibuat oleh para delegasi, Presentasi dibagi dalam empat panel. Panel Sosial dan Budaya dimoderasi oleh Muhammad Herika Taki, mahasiswa S3 King Abdulaziz University-Jeddah. Panel Politik dimoderasi oleh Farichatus Sholichah, mahasiswi Sastra Arab, fakultas Ilmu Budaya UGM-Yogyakarta. Panel Agama dimoderasi oleh Muhammad Usman Ilyas, mahasiswa UNISULA-Semarang. Dan terakhir Panel Ekonomi yang dimoderasi oleh Sifak Nikmatul Fitri, mahasiswi profesi ilmu Kedokteran UGM-Yogyakarta.

Selepas istirahat siang, dimulailah acara sidang komisi Simposium PPI Timtengka, dipimpin oleh Steering Committee, yang disi oleh Saleh Al-Djufri delegasi PPI Sudan sebagai ketua sidang satu, Muhammad Prabasworo Jihwakir delegasi PPMI Arab Saudi sebagai ketua sidang dua, dan Ahmad Syauqi delegasi Indonesia sebagai ketua sidang tiga. Dalam sidang ini diawali dengan perumusan Deklarasi Madinah, sebagai hasil seruan dan simpulan para peserta Simposium Kawasan PPI Timur Tengah dan Afrika. “Deklarasi ini adalah penentuan sikap kami para anggota peserta simposium” ujar Saleh Al Jufri ketua satu. Sementara pembacaan Draf Deklarasi Madinah disampaikan oleh Ahmad Syauqi sebagai ketua tiga. Kemudian sidang dibuka dengan ketukan palu oleh pemimpin sidang Saleh Al Jufri.

Kemudian sesi perumusan dan pengesahan dilalui dengan pembacaan setiap paragraf dan poin-poin naskah deklarasi oleh Muhammad Prabasworo Jihwakir ketua dua, dan menerima masukan serta pandangan dari para peserta Simposium per bagian naskah Draf Deklarasi.

Terjadi beberapa perubahan dalam muatan draf naskah deklarasi, meskipun secara umum hanya perubahan redaksional bukan substansial. Namun tetap saja membutuhkan banyak waktu karena banyaknya peserta yang melakukan interupsi dan memberikan masukan, bahkan membutuhkan beberapa kali penambahan waktu.

Acara dilanjutkan dengan penyampaian prakata dan laporan pertanggungjawaban Ketua PPI Timur Tengah dan Afrika, yang disampaikan oleh Saleh Al-Djufri delegasi PPMI Sudan, mewakili Ketua yang berhalangan hadir Kiagus Ahmad Firdaus. Selanjutnya adalah pembacaan Deklarasi Madinah yang dibacakan oleh Sekjen PPMI Arab Saudi sekaligus Ketua Sidang, yang diaminkan dan dikumandangkan ulang oleh seluruh peserta simposium, ikut bersama mereka juga Dubes LBBP untuk KSA dan OKI, Bapak Drs. Agus Maftuh Abegebriel beserta jajarannya, diantaranya Bapak Basuni Imamuddin Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Riyadh, dan Bapak Muhibuddin M Thaib Atase Hukum dan HAM KBRI Riyadh. Kemudian diakhiri dengan penandatangan Deklarasi Madinah oleh seluruh Ketua PPI Negara anggota PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika, tanda disahkannya Deklarasi Madinah tersebut.

Acara Simposium selanjutnya ditutup secara seremonial oleh Dubes LBBP untuk KSA dan OKI, Bapak Drs. Agus Maftuh Abegabriel. Beliau menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya atas terselenggaranya Simposium ini, bahkan beliau rela mempersingkat kunjungan kerjanya di Belanda dan Belgia, yang seharusnya baru berakhir hari ini, namun beliau justru memilih untuk menghadiri dan membuka Simposium ini dan menutupnya. Beliau mengatakan tentang para mahasiswa peserta Simposium ini, “kalian semua ini adalah generasi-genarsi yang akan memimpin Indonesia”. Beliau juga berkomentar tentang Deklarasi Madinah, “ini adalah deklarasi yang luar biasa, terlebih ketika ia ditandatangani di Kota Rasulullah, dan dari sini lah pesan-pesan ini akan menjadi ‘aalamiyyah alias mengglobal”. Dan terakhir beliau menutup prakatanya dengan pesan, “from here we start and change”.

Dengan ini, acara secara resmi ditutup, dan hanya menyisakan sesi sidang perumusan rekomendasi empat komisi, komisi agama, komisi pendidikan dan kebudayaan, komisi politik dan hukum, dan komisi ekonomi. Tepat dengan masuknya waktu salat magrib, acara sidang komisi juga ikut selesai. Dan berakhirlah sudah acara inti Simposium Kawasan PPI Timur Tengah – Afrika 2017 di Kota Madinah. (Red: Izzy, Ed: Adam)

Galeri Foto: (Sumber: sie. Media Simposium Timtengka Madinah 2017)

 

 

Categories
PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Wujudkan Indonesia Peduli, Mahasiswa Indonesia Adakan Baksos di Sudan

Liputan Khartoum — Persatuan Pelajar Indonesia di Sudan (PPI Sudan) bekerja sama dengan Persatuan Pelajar Putri Indonesia di Sudan (PPPI Sudan) dan Munadzomah Darbussalam, mengadakan kegiatan Bakti Sosial (baksos) di perkampungan Rasyid, Jabal Aulia, Sudan (4/3).

Acara ini merupakan rangkaian acara Milad PPI Sudan ke-35 yang jatuh pada tanggal 15 Februari. Sebelumnya, PPI Sudan telah mengadakan acara Bekam gratis untuk para mahasiswa dan WNI (17/2), acara Donor Darah (19/2), dan kegiatan Bedah Buku “Ibunda Para Ulama” khusus mahasiswi. Ketiga acara tersebut diselenggarakan di sekretariat PPI Sudan, Khartoum.

Ketua pelakasana kegiatan bakti sosial kali ini, Aziz Dahlan mengatakan bahwa kegiatan baksos ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi dan hubungan baik dengan warga Sudan serta membantu masyarakat Sudan yang kurang mampu secara materi. Ia melihat bahwa pentingnya menumbuhkan jiwa sosial di kalangan WNI yang berada di Sudan.

“Kami telah mengumpulkan barang-barang untuk disalurkan sejak tanggal 6 Februari 2017 dari seluruh warga Indonesia yang berada di Sudan. Ada pakaian layak pakai, perlengkapan sekolah, Al-Qur’an, sembako, dan uang tunai,” jelas Aziz.

“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang turut berpartisipasi dalam acara ini. Alhamdulillah Total bantuan yang terkumpul sebanyak 12 karung pakaian layak pakai, serta uang sejumlah 32.980 SDG. Uang tersebut kami konversikan menjadi 2,4 ton bahan makanan yang kemudian kami salurkan kepada 330 penduduk Sudan yang membutuhkan.”

Sejak kedatangan, kendaraan yang berisikan rombongan dan barang baksos disambut dengan antusias oleh para warga di perkampungan rasyid. Acara dibuka dengan penyerahan secara simbolis 1 paket sembako persembahan Indomie, kepada salah satu warga. (Red, Faiz / Ed, pw)

Categories
PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Bedah Buku Misykat karya Dr. Hamid Fahmi Zarkasy oleh PPI Sudan

Liputan Khartoum – Persatuan Pelajar Indonesia di Sudan (PPI Sudan) bekerja sama dengan Ikatan Kekeluargaan Pondok Modern Gontor di Sudan (IKPM Sudan) mengadakan Bedah Buku “Misykat: Refleksi tentang Islam, Westernisasi, dan Liberalisasi” pada Kamis, 23 Februari 2017, di aula KBRI Khartoum, Sudan.

Buku yang terbit sejak tahun 2012 ini merupakan kumpulan artikel yang ditulis oleh Dr. Hamid Fahmi Zarkasy dalam Jurnal Islam Republika pada 2009–2012. Judul Misykat sendiri berasal dari Al-Qur’an yang berarti tempat berkumpulnya cahaya yang di dalamnya terdapat lampu atau lainnya yang memiliki cahaya.

Acara yang juga menghadirkan langsung penulis buku Misykat ini diadakan dalam rangka ulang tahun PPI Sudan yang ke 35. Total mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang hadir adalah sebanyak 160 orang.

Bedah buku Misykat dibuka dengan sambutan Bapak Duta Besar Republik Indonesia untuk Sudan dan Eritrea, Burhanuddin Badruzzaman. Dalam sambutannya, beliau mengatakan bahwa umat islam saat ini harus mampu mengenal bahaya-bahaya yang dapat mengancam kondisi muslim saat ini.

“Saya pikir perlu adanya pengenalan terhadap liberalisasi, westernisasi, dan lain-lain yang saya lihat ini dapat menjadi ancaman serius bagi ummat kedepannya,” pesan beliau.

Buku ini mengupas lengkap tentang sekularisme, liberalisme, pluralisme, dan istilah-istilah lainnya. Pemaparan tentang pluralisme sebagai sebuah paham/doktrin, pemahaman tentang toleransi dalam Islam, hingga toleransi tanpa pluralilsme, tentang sikap moderat, semua pemaparan di dalam buku ini akan semakin memperkaya pengetahuan pembaca tentang Islam dan keberadaannya bagi umat manusia di dunia.

“Setelah westernisasi, akan masuk ke dalam islamisasi, bagaimana mamahami Islam di era sekarang,” ujar beliau, yang saat ini juga menjabat sebagai wakil rektor Universitas Darussalam Gontor (UNIDA). Persiapan menghadapi liberalisme adalah memperkuat kemampuan argumentasi kita seperti dengan membiasakan diskusi, menulis, dan membaca. Karena ini adalah bagian dari yang disebut dengan Ghazwul Fikri (perang pemikiran).”

“Masing-masing organisasi masyarakat di Indonesia mengambil bagiannya dalam Islam,” tambah beliau. (Red, faiz / Ed, pw)

Page 1 of 4
1 2 3 4