logo ppid

Berkenaan dengan adanya wacana dan usulan dari mahasiswa Indonesia di luar negeri mengenai pentingnya penyetaraan nilai akademik dari perguruan tinggi di luar negeri terhadap sistem penilaian akademik di dalam neger, PPI Dunia membentuk tim Ad Hoc Konversi Nilai yang bertujuan untuk melakukan kajian, koordinasi, sosialisasi, dan tindak lanjut hasil kajian akademis dan rekomendasinya. Masa kerja tim Ad Hoc ini adalah 2 Mei 2014 hingga 31 Agustus 2014. Adapun keanggotaan dari Tim Ad Hoc ini adalah PPI Belanda, PPI Tunisia, dan PPI Malaysia.

Setelah dikeluarkannya Surat Keputusan Dewan Presidium Perhimpunan Pelajar Indonesia Se-Dunia Nomor 03/SK/Presidium/PPI-Dunia/V/2014, tim ad hoc segera melakukan koordinasi internal dengan menunjuk anggota individu dari masing-masing PPI Anggota tim ad hoc. Adapun nama-namanya sebagai berikut:

  1. Willy Sakareza (PPI Belanda)
  2. M. Luthfi Nurfakhri (PPI Belanda)
  3. Arip Muttaqien (PPI Belanda)
  4. Dwi Yuliantoro (PERMIAS)
  5. Gushairi (PPI Malaysia)
  6. Stevadi Zaki Halim (PPI Malaysia)
  7. Ardi Pramana (PPI Tunisia)
  8. Mukhlis Lubis (PPI Tunisia)
  9. Sugianto Amir (PPI Tunisia)

Koordinasi internal dilakukan selama 3 pekan, dan pada 25 Mei 2014 dilakukan rapat perdana melalui skype. Hasil sementara dari rapat perdana tersebut adalah adanya rapat kedua agar dapat berkoordinasi dengan kehadiran anggota dalam jumlah lebih banyak dan rencana pengadministrasian data-data yang diperoleh selama kajian melalui dropbox. Selain itu juga disepakati bahwa setiap anggota tim akan menjadi koordinator pendataan sistem penilaian akademik di masing-masing kawasan tempat anggota tim berlokasi.

Selanjutnya, selain data sistem penilaian di masing-masing negara, tim ad hoc berupaya untuk berkomunikasi dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai salah satu pemangku kepentingan dalam proses penyetaraan nilai akademik.

Hingga pada tanggal 5 Agustus 2014, Tim Ad Hoc yang diwakili oleh PPI Belanda dan didampingi oleh Koordinator Kawasan Amerika & Eropa, mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Bapak Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi dan Ibu Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen DIKTI di ruang rapat Dirjen DIKTI. Dari pertemuan tersebut diperoleh informasi sebagai berikut:

  1. Dirjen DIKTI memiliki harapan agar sistem penilaian akademik di Indonesia pun dapat diakui secara internasional dan sistem penilaian akademik di luar negeri juga dapat menyesuaikan dengan sistem penilaian akademik di Indonesia;
  2. DIKTI tidak memiliki kewenangan untuk melakukan standarisasi dan/atau penyetaraan nilai akademik. Hal ini diperkuat dengan adanya sistem penilaian akademik yang juga berbeda di antara perguruan tinggi di dalam negeri;
  3. DIKTI mengarahkan agar penyetaraan dan/atau standarisasi kompetensi lulusan perguruan tinggi di dalam dan luar negeri yang menjadi topik atau tujuan utama;
  4. DIKTI membuka diri untuk menerima rubrik atau kriteria dari masing-masing negara atau universitas di luar negeri dalam melakukan penilaian. Hal ini dikarenakan sistem penilaian di masing-masing negara dan di masing-masing universitas di satu negara, juga berbeda;
  5. Mengenai adanya keluhan atau kejadian dimana nilai akademik dari perguruan tinggi di luar negeri disetarakan secara tidak resmi dalam hal aplikasi karir di institusi pemerintah atau perguruan tinggi negeri, DIKTI menyarankan untuk berkomunikasi dengan Badan Kepegawaian Negara atau Panitia Penerimaan di masing-masing institusi.
  6. DIKTI telah menyarankan kepada institusi-institusi terkait untuk tidak lagi menggunakan syarat nilai akhir akademik sebagai acuan utama dalam proses seleksi kerja melainkan menggunakan tes kompetensi.

Dalam rangka memperingati lahirnya Pancasila tanggal 1 Juni, Jogja Leadership Forum (JLF) bekerjasama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) mempersembahkan dialog kepemimpinan interaktif lewat Google Hangout. Dialog ini dilaksanakan pada:

Hari, tanggal : Minggu, 1 Juni 2014
Waktu : 10.00 – 14.00 WIB
Tema : Dari Dunia untuk Indonesia

Dengan menghadirkan 11 Pembicara dari Perwakilan PPI di 10 Negara (Australia, India, Jepang, Jerman, Korea Selatan, Malaysia, Pakistan, Taiwan, Tiongkok dan Tunisia)

Moderator: I Made Andi Arsana

Topik Diskusi: Pendidikan, Kesehatan, Perempuan dan anak, Demografi, Ketenagakerjaan, Politik, Pluralisme, Perekonomian, Perkembangan Teknologi Informasi, dan Kawasan Perdagangan Bebas

Dewan Presidium PPI Dunia (Periode Tahun 2012 – 2013)

 

mn

[New Delhi, India] International Symposium of Indonesian Students yang diselenggarakan oleh PPI Dunia atau juga dikenal dengan Overseas Indonesian Students Association Alliance (OISAA), tahun 2012 diselenggarakan di New Delhi sesuai dengan kesepakatan hasil dari Indonesian Students World Symposium (ISWS) 2012.

Agenda tahunan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) yang diadakan di Jawaharlal Nehru University (JNU) ini, dihadiri oleh 54 delegasi dari 23 Negara dan merupakan kelanjutan pertemuan pada bulan Februari 2012 di Kuala Lumpur, Malaysia. Pada event ini, PPI India menjadi tuan rumah pelaksanaan.

Ketua panitia SI 2012 Didi Rahmadi mengatakan, “Pertemuan yang diadakan di India ini, bertujuan untuk memperkuat kembali komitmen para pelajar Indonesia untuk mewujudkan kemandirian bangsa.”

Hal tersebut sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Koordinator PPI Dunia Zulham Effendi pada sambutannya dalam pembukaan SI PPI Dunia. Ia mengatakan, bahwa tujuan SI ini adalah untuk menyinergikan gerakan pelajar Indonesia seluruh dunia untuk memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara Indonesia. Selain itu, pertemuan ini nantinya akan mengukuhkan lembaga-lembaga semi otonom PPI Dunia serta rekomendasi untuk seluruh stakeholder PPI Dunia.

Menurut Ketua PPI India Stevan Chondro, event ini mengangkat tema “The Role of Students in Nation Making” dengan dasar pemikiran pentingnya peran mahasiswa untuk terlibat langsung dan secara nyata dalam pembangunan Indonesia. Dengan adanya acara ini, Stevan berharap para pelajar Indonesia akan termotivasi untuk lebih terlibat dalam proses pembangunan tanah air.

Sesuai dengan jadwal bahwa para peserta SI PPI Dunia ini akan bertatap muka langsung dengan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono di KBRI New Delhi pada tanggal 20 Desember 2012. Beliau memberikan Presidential Lecture dengan tema “The Role of Students on Nation Building”.

Acara ini berlangsung pada tanggal 18-22 Desember 2012. Seluruh delegasi berharap Simposium ini dapat menghasilkan sesuatu yang nyata untuk mereka bawa dan bagikan kepada para pelajar Indonesia di seluruh dunia. [Tania Alvina Nathania]

SI 2012 - Kuala Lumpur

ISWS 2012 merupakan kongres Persatuan Pelajar Indonesia Dunia yang dihadiri oleh perwakilan PPI dari berbagai negara di dunia. ISWS 2012 diselenggarakan oleh PPI Malaysia di Kuala Lumpur pada tanggal 16 -19 Februari 2012. ISWS 2012 diselenggarakan dengan tema ‘Think Global Act Nasional’. Acara Kongres PPI Dunia 2012 ini diikuti oleh 28 negara perwakilan PPI, yaitu: Malaysia, Singapura, Thailand, Philipina, Jepang, Inggris, Australia, Selandia Baru, Portugal, Austria, Arab Saudi, Sudan, Lebanon, Turki, Swedia, Jerman, Korea Selatan, Jordania, Maroko, Pakistan, Mesir, Yaman, Norwegia, Belanda, Rusia, India, Perancis dan Indonesia yang diwakili oleh beberapa BEM Airlangga, UGM, UNRI, Lancang Kuning, dan Trisakti.

Di sela-sela Kongres PPI Dunia 2012 yang dibuka Menteri Kordinator Perekonomian Hatta Rajasa, juga digelar seminar sehari. Seminar ini membincangkan berbagai permasalahan bangsa Indonesia yang dilihat dari aspek perekonomian, politik, hukum dan sosial budaya.

Sejumlah tokoh nasional hadir sebagai pembicara yang antara lain mantan Ketua DPR Akbar Tanjung, anggota Komisi I DPR Muhammad Najib, Vice President World Assembly Youth Ahmad Dolly Kurnia, Wakil Ketua Komisi III DPR Tjatur Sapto Edy, Direktur Analisa Strategis Kementerian Pertahanan Brig Jend. TNI Paryanto, mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli dan Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga Andi Mallarangeng.

Dalam kesempatan tersebut, PPI Malaysia terpilih sebagai koordinator PPI Dunia mengantikan PPI Australia, dan PPI India ditetapkan sebagai tuan rumah untuk pertemuan PPI Dunia yang berikutnya.

Beberapa hasil dari Kongres PPI Dunia 2012 di Kuala Lumpur adalah:

  1. Penyempurnaan AD/ART PPI Dunia dengan menambahkan bahwa anggota luar biasa adalah BEM yang telah mendaftarkan diri kepada PPI Dunia.
  2. PPI Dunia membentuk Lembaga Kajian Stratejik. Lembaga ini nantinya mengkaji segala permasalahan bangsa dan nantinya wadah ini juga dijadikan saran seluruh masyarakat Indonesia untuk mendapatkan solusi dari permasalahannya.
  3. PPI Dunia menetapkan jargon PPI Dunia ke depan yaitu PPI untuk Indonesia, PPI Dunia siap mengabdikan seluruh potensinya untuk bangsa Indonesia.

Hasil kongres berupa rekomendasi untuk PPI negara dan PPI dunia dapat diunduh: SK Hasil Rekomendasi Kongres

Sumber: PERMITHA - Thailand

Sumber foto: SINI

Sumber foto: Ivannanto

Brisbane (ANTARA News) - Konferensi Internasional Pelajar Indonesia (KIPI) 2007 bertema "Membangun Daya Saing Bangsa: Pulang Atau Mengabdi Dari Jauh" yang diikuti para utusan pengurus Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Australia dan 17 negara lainnya berlangsung di Sydney pada 7-9 September 2007.

"Sampai sejauh ini persiapan sudah berjalan baik, dan kami sudah menerima delapan makalah dari berbagai universitas di Australia serta tiga makalah dari Malaysia, India dan Italia," kata Anggota Panitia Pengarah KIPI 2007 Yopi Fetrian kepada ANTARA News yang menghubunginya dari Brisbane, Jumat.

Mahasiswa magister Universitas Nasional Australia (ANU) yang juga pengurus PPIA itu mengatakan, undangan resmi kepada para pengurus PPI di Indonesia, Amerika Serikat (AS), Mesir, Inggris, Kanada, Belanda, Jerman, Jepang, Italia, Yordania, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Selandia Baru, Saudi Arabia, Perancis, India, dan beberapa negara lain baru dikirim dalam dua hari ini kendati pendaftaran secara "online" sudah bisa dilakukan. Yopi mengatakan, KIPI 2007 akan mengeksplorasi berbagai gagasan tentang bagaimana para lulusan universitas di luar negeri dapat ikut membangun daya saing bangsa di tengah kenyataan bahwa pendidikan, pengalaman, kreativitas, dan imajinasi mereka yang selama belajar di luar negeri itu dapat saja "tumpul" seketika karena kemampuan mereka gagal termanfaatkan.

"Bukan cerita baru bahwa iklim di dunia tenaga kerja Indonesia dikeluhkan tidak memberi kesempatan pelibatan, pengembangan kapasitas diri, serta inisiatif bagi para alumni perguruan tinggi dari luar negeri yang seimbang dengan peluang-peluang yang mungkin mereka dapatkan jika bekerja di luar negeri," katanya. Kasus-kasus ini, lanjut Yopi, menjadi dilema tersendiri bagi pelajar yang masih studi di luar negeri, pulang ke Tanah Air sendiri atau bekerja di luar negeri.

Konferensi yang berlangsung di Kampus Universitas New South Wales (UNSW) dan diperkirakan dihadiri lebih dari 70 orang wakil PPI dari berbagai negara itu menghadirkan menteri pendidikan nasional dan menteri negara pemuda dan olahraga sebagai pembicara kunci.

Beberapa pembicara dalam forum KIPI 2007 itu adalah Anies Baswedan, Ariane Utomo (kandidat doktor ANU), pejabat Diknas dan Kementerian Pemuda dan Olahraga, Ivan Hanafi (Universiti Putra Malaysia), Pan M. Faiz (University of New Delhi), Hilmi Panigoro (PT Medco Energi Internasional Tbk), Sandiaga Saifullah Uno (HIPMI), Berly Martawardaya (Universitas Siena), Yopi Fetrian (ANU) dan Wawan D.(Universitas Monash). (*)

Sumber: Antara News

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920