Categories
Travel & Kuliner

Small Town Called “IPOH”

Salah Satu Objek Wisata di Ipoh : Kelli’es Castle [Dok : Penulis]
Apa bayangan kalian saat mendengar negara Malaysia? apakah hanya kota Kuala Lumpur dengan bangunan menara kembarnya? atau surga belanja yang bisa dikunjungi di Bukit Bintang? Banyak orang yang belum tau, kalau Malaysia memiliki banyak sekali destinasi liburan selain kota besar Kuala Lumpur yang dipenuhi oleh concrete jungle dan lampu besar. Kuala Lumpur memang menjadi destinasi utama para turis, tapi banyak juga turis yang datang ke Malaysia untuk mencari keindahan alamnya, bukan kota besarnya. Namun, terkadang akses untuk pergi ke destinasi alam sedikit jauh dari ibu kota dan harus menempuh waktu yang lama. Ada beberapa alternatif untuk destinasi liburan di Malaysia selain Kuala Lumpur atau destinasi alamnya, salah satunya adalah mengunjungi kota-kota kecilnya.

Karena jarang terekspos dan hanya sedikit orang yang ingin tahu, sebenarnya Malaysia memiliki banyak sekali kota-kota kecil yang bisa dibilang sangat authentic dan masih terasa sekali keaslian atmosfir kota kecil tersebut yang jauh ada didalam wadah karateristik kota-kota modern. Destinasi kota kecil justru jauh lebih menyenangkan dan jauh dari kata membosankan. Alih-alih melihat gedung tinggi dan mall-mall yang tersebar, traveling ke kota-kota kecil di Malaysia justru menjadi kesempatan yang bagus loh untuk mempelajari sejarah-sejarah yang ada pada kota tersebut. Salah satu destinasi yang recommended untuk dikunjungi adalah kota Ipoh.

Ipoh adalah ibu kota negara bagian Perak yang terletak sekitar 205 kilometer dari Kuala Lumpur, jarak tempuh yang dibutuhkan sekitar 2 jam dalam perjalanan darat menggunakan mobil. Tidak terlalu jauh dari Kuala Lumpur dan sangat accessible karena bisa ditempuh menggunakan kereta juga dari Kuala Lumpur, bermula dari stasiun KL Sentral. Meski Ipoh adalah kota kecil dan jauh dari kata modern seperti Kuala Lumpur, Ipoh tetap memiliki hotel untuk para turis yang berkunjung, namun hotel-hotel yang tersebar biasanya adalah budget hotel tetapi cukup bagus dan nyaman untuk beristirahat selama beberapa hari. Berbagai spot unik juga akan bisa ditemukan di Ipoh, seperti street arts yang tersebar luas di berbagai dinding kedai dan gang kecilnya, kuil-kuil dan gua. Kuliner di Ipoh juga sangat beragam dan wajib dikunjungi loh! Kuliner Ipoh memiliki cita rasa yang sangat khas dan unik dan lumayan jarang ditemukan di kota-kota lain.

White Coffee di Nam Heong [Dok : Penulis]
Ipoh terkenal sekali dengan kopi khas nya yang dijual di salah satu kedai tua dan ini tempat wajib para turis yang datang. Kopi yang wajib dicoba ini dijual di kedai bernama Nam Heong. Kopi yang dijual adalah white coffee dan harga secangkir kopi tersebut juga sangat terjangkau. Kopi ini di sajikan dengan gaya old-school berwadah cangkir kopitiam khas Malaysia. Kalau makanan, Ipoh bisa dibilang kota 1000 kuliner karena makanan khas kota tersebut banyak sekali, salah satunya yang paling khas adalah Ipoh Chicken Rice, lengkap dengan side dish nya. Hidangan ini sangat mudah ditemukan di Ipoh. Aroma ayam mereka dan bumbu-bumbu yang digunakan dalam hidangan tersebut sangat memikat para pengunjung, dan jarang sekali ditemukan di tempat lain. Selain Ipoh Chicken Rice, hidangan yang terkenal dan sangat khas adalah Ipoh Hor Fun, yaitu hidangan mie dengan kuah khas disajikan dengan udang dan sawi. Rasa kuah pada hidangan ini sangat kuat akan rempah-rempah khas Malaysia.

Ipoh Mural Art Rail [Dok : Penulis]
Destinasi turis lainnya yang wajib dikunjungi adalah kuil-kuil yang ada di Ipoh, seperti kuil Guan Yi, salah satu kuil Cina. Kastil di Ipoh pun tidak kalah menarik juga, kastil yang paling menarik perhatian adalah Kellie’s Castle. Kastil tersebut memiliki gaya bangunan yang sangat kuno dan menarik untuk dipelajari sejarahnya. Dan yang terakhir adalah, art museum khas Ipoh yang cocok untuk dijadikan sebagai spot foto untuk para pengunjung. Art museum favorite yang ada di Ipoh adalah Ipoh Mural Art Trail. Disini para pengunjung akan disajikan oleh berbagai lukisan dan karya seni lainnya yang menggambarkan keragaman kota Ipoh.

Jadi, travelling ke Malaysia tidak harus ke kota modern, kan?

Jessica Ramadhani
Jurnalis PPI Malaysia.

Categories
Upcoming Event

Voice of Indonesia : Hari Media Sosial

Voice of Indonesia: PPI Dunia bersama Radio Republik Indonesia Proudly present:

“Hari Media Sosial”

Pernahkah sobat PPI mendengar Hari Media Social? Bagaimana peran media sosial di kehidupan sosial masyarakat sekarang? Simak perbincangan seru perwakilan PPI Dunia di RRI tentang “Hari Media Sosial” . Perbincangan menarik ini akan diadakan pada:

Hari/ Tanggal      : Senin, 12 Juni 2017

Narasumber 1      : M Amir Syarifuddin

University             : Financial Economics, International Islamic University Malaysia, Malaysia

Tema                      : Youth Forum (English Based)

Pukul                     : 10.30 WIB (3.30 UTC)

 

Narasumber 2      : Muhamad Andrian

University             : Business Management, Politechnika Wroclawaska, Poland

Tema                      : KAMU (Kami Yang Muda) (Bahasa Indonesia Based)

Pukul                     : 11.30 WIB (4.30 UTC)

RRI : Hari Media Social

(Red:Citra/Ed: Amir)

Categories
PPI Dunia Upcoming Event

Musik Nasional – Siaran RRI bersama PPI Dunia

Musik tentu sudah tidak asing di telinga kita. Salah satu produk kebudayaan ini dapat dijumpai dengan mudah setiap harinya. Tak hanya itu, musik pun dapat menjadi identitas suatu organisasi, suku, bahkan bangsa, tak terkecuali Indonesia. Namun, seperti apakah musik nasional Indonesia itu? Apa pula yang dimaksud dengan musik nasional? Simak siaran RRI bersama PPI Dunia hari Senin, 6 Maret 2017 yang berjudul “Musik Nasional” dalam program Youth Forum bersama Yaza Azzahara Ulyana (PPI Malaysia) pada pukul 10.30 WIB dan dalam program KAMU (Kami yang Muda) bersama Dionisius E. Trihastama (Permira) pada pukul 11.30 WIB.

Categories
Asia dan Oseania Eropa dan Amerika Upcoming Event

Siaran RRI: Memperingati Hari AIDS Sedunia

Voice of Indonesia: Hari AIDS sedunia yang selalu diperingati pada tanggal 1 Desember setiap tahunnya ini bertujuan untuk menumbuhkan kesdaran terhadap wabah AIDS diseluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV. Simak perbincangan seru perwakilan PPI Dunia di RRI Radio PPI Dunia tentang “Hari AIDS Sedunia” . Perbincangan menarik ini akan dilaksanakan pada:

Hari/ Tanggal      : Senin, 5 Desember 2016

Narasumber 1      : Yessika Adelwin Natalia

University             : Master of Epidemiology di University of Antwerp, Belgia

Tema                      : Youth Forum (English Based)

Pukul                     : 10.30 WIB (3.30 UTC)

 

Narasumber 2      : M Amir Syarifuddin

University             : Bachelor of Economics (Hons), International Islamic University Malaysia, Malaysia

Tema                      : KAMU (Kami Yang Muda) (Bahasa Indonesia Based)

Pukul                     : 11.30 WIB (4.30 UTC)

Hari AIDS Se-Dunia
Hari AIDS Se-Dunia

(Red/Ed: Amir)

Categories
Asia dan Oseania Berita

Berita Acara forum Pemuda Bicara PPIUM

Kuala Lumpur-  Persatuan Pelajar Indonesia di Universiti Malaya (PPI-UM) kembali mengadakan forum Pemuda Bicara pada hari Jumat (18/11/2016) dimulai pukul 16:00 – 18.30 waktu Malaysia. Pemuda Bicara kali ini membahas tentang “Kursi Jakarta 1: Tensi Tinggi Kehidupan Berdemokrasi”  bersama 3 orang panel pembicara: Bapak Lalu Nurul Yaqin (Koordinator LPDP Awardee Malaysia, Mahasiswa Program Doktoral UM), Bapak Ahmad Maulidizen (Mahasiswa Program Doktoral UM), Bapak Zulfadli (Ketua Umum Persatuan Pelajar Indonesia se-Malaysia) serta Muhammad Fathi Rayyan (Mahasiswa S1 UM) sebagai moderator.

 

Diskusi ini diawalai oleh para panelis yang membahas tentang tahap kematangan demokrasi di Indonesia, kekurangan serta kelebihannya. Demokrasi di Indonesia diharapkan kedepannya lebih bermakna dan bermanfaat bagi masayarakat Indonesia dan dapat menjadi wadah penyalur ide dan gagasan masyarakat Indonesia. Salah satu panelis dalam diskusi tersebut, Pak Nurul Yaqin juga berbicara tentang peran mahasiswa dalam kehidupan berdemokrasi juga posisi mahasiswa yang berada ditengah tengah kurva, berada diantara pemerintah – kalangan elit (kurva atas) dan mayarakat umum (kurva bawah). Forum Pemuda Bicara sesi ini dihadiri oleh mahasiswa Indonesia di UM, mahasiswa Indonesia yang sedang melakukan pertukaran pelajar ke UM dan beberapa kampus lain di Malaysia, serta beberapa mahasiswa Malaysia yang sedang belajar di UM.

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan tayangan cuplikan video-video kampanye tiap tiap calon gubernur yang kemudian diikuti dengan tanggapan dari penelis. Diskusi juga membahas bagaimana kita menanggapi isu SARA serta bagaimana isu tersebut bisa memacu perpecahan NKRI. Pak Maulidizen juga sempat memberikan pendapat beliau tentang kasus dugaan penistaan agama dan reaksi masyarakat, serta bagaimana kita menyikapi hal tersebut.

Pada sesi tanya jawab, diskusi membahas seputar bagaimana kita menanggapi media & informasi yang negatif. Pak Zulfadli menyarankan untuk tidak mengindahkan hal tersebut dan lebih fokus ke informasi yang positif dan bermanfaat. Sesi tanya jawab ini juga melihat pembahasan tentang taktik pembunuhan karakter yang dilakukan oleh oknum oknum tertentu. Di akhir sesi tanya jawab, sekali lagi ditekankan akan pentingnya untuk menjaga persatuan dan kesatuan NKRI.

Dalam pernyataan penutup, ditekankan kembali akan pentingnya peran yang dimainkan setiap orang, khususnya mahasiswa dalam mematangkan demokrasi dan menjaga kesatuan bangsa. Merefleksi perjuangan meraih kemerdekaan dilakukan dengan cara yang beragam dan oleh berbagai golongan. Begitu juga dalam mejaga kemerdekaan dan mempertahankan keutuhan NKRI dan menaikkan kualitas demokrasi di Indonesia. Diharapkan, Pemuda Bicara kali ini dapat menambah wawasan dan menginspirasi para hadirin untuk terus berbakti dan berkontribusi terhadap bangsa. (Red: Kominfo/ Ed: Amir)

Categories
Pojok Opini Suara Anak Bangsa

Hasil Diskusi “Hari Pahlawan” bersama RRI Voice of Indonesia

Hari Pahlawan adalah hari paling bersejarah bagi Indonesia yang diperingati setiap tanggal 10 November setiap tahunnya untuk menghormati jasa-jasa para pahlawan nasional dan arek-arek Surabaya dalam Pertempuran berdarah Surabaya yang terjadi pada tahun 1945. Pertempuran revolusi yang berlangsung dari tanggal 27 Oktober sampai 20 November 1945 itu dianggap sebagai aksi heroik paling bersejarah karena pertempuran tersebut merupakan pertempuran dalam pembelaan mempertahankan kehormatan serta martabat Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang telah memproklamirkan kemerdekaannya sejak tanggal 17 agustus 1945.

Untuk memperingati hari bersejarah tersebut, pada hari Senin (7/11/16), PPI Dunia menghadirkan Martino Anrifin dalam diskusi siaran RRI Voice of Indonesia mengenai Hari Pahlawan dalam Youth Forum.

“Pahlawan adalah seseorang yang memiliki keberanian dalam membela kebenaran,” terang Martino dalam Youth Forum. “Bagi saya, orang tua adalah pahlawan utama saya dan teman-teman yang mendukung saya sampai sekarang adalah pahlawan lain bagi saya,” jelas Mahasiswa S1 jurusan Teknik Kimia di UCSI University, Malaysia tersebut.

“Pada zaman dahulu, pahlawan dikenal sebagai para pejuang dalam peperangan melawan penjajah untuk mencapai kemerdekaan. Sedangkan, pada zaman sekarang, pahlawan dipandang sebagai pejuang dalam melawan kemiskinan dan korupsi,” lanjut Martino.

Menurut Martino, seluruh perjuangan harus dilakukan secara bersama-sama. Seperti para pahlawan, mereka tidak bisa bertindak sendiri, tetapi harus berjuang dalam bentuk kelompok. Pahlawan seperti Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, dan Bung Tomo, terus berupaya menggalang massa dalam pemberontakan melawan penjajah.

(Red: CA/Ed: Amir )

Categories
Berita Upcoming Event

RRI : Hari Pahlawan

10 November menjadi salah satu hari yang paling bersejarah bagi Indonesia. Hari ini lah di mana para pahlawan kemerdekaan Indonesia berjuang di peperangan melawan penjajah dalam Pertempuran Surabaya. Perjuangan para pahlawan bangsa tentunya tidak diragukan lagi. Jangan lewatkan diskusi menarik antara PPI Dunia dan RRI VOI dalam topik ‘Hari Pahlawan’, Senin, 7 Desember 2016 pukul 10.30 WIB dan 11.30 WIB. [citra]whatsapp-image-2016-11-04-at-21-22-31

Categories
Asia dan Oseania

Kongres PPI Malaysia Ke-18

Kongres PPI Malaysia Ke-18 Telah Sukses Diselenggarakan di Sarawak. Sebanyak 13 Universitas diseluruh Malaysia mengirimkan delegasinya untuk menghadiri Kongres Persatuan Pelajar Indonesia se-Malaysia yang diselenggarakan di Universiti Malaysia Serawak (Unimas). Kongres tersebut dibuka langsung oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur, Prof Ari Purbayanto, Sabtu (29/10) malam dengan PPI Sarawak menjadi tuan rumah digelarnya Kongres PPIM ke-XVIII.

“Sebagai pelajar yang belajar di luar Tanah Air sudah menjadi tugasnya menjalankan visi misi kebangsaan dengan baik. PPI mewakili pelajar Indonesia di Malaysia harus mampu menjadi duta bangsa guna menjalankan misi ini,” ujar Prof Ari yang didampingi oleh Konsul Jendral RI Serawak Jahar Gultom dan Prof Mohd Fadzil Abdurrahman sebagai Naib Counselor Hal Ehwal Pelajar Unimas.

Prof. Ari juga meminta kepada para pelajar Indonesia di Malaysia agar dapat bersatu membangun solidaritas yang kuat guna menghasilkan kekuatan yang besar dalam memberikan kontribusi yang lebih baik dan lebih berarti untuk bangsa.

“Pelajar Indonesia ribuan jumlahnya. Dengan bersatu diharapkan pelajar dapat memberikan kontribusi yang lebih untuk bangsa Indonesia,” kata Atdikbud dalam sambutannya. Konjen Jahar Gultom juga meminta kepada para pemuda Indonesia di Malaysia yang tergabung dalam PPI dapat menguatkan kembali semangat Sumpah Pemuda yang telah di deklarasikan sebelum Indonesia merdeka pada 28 Oktober 1928 silam.

“Semangat kebangsaan harus terus dijaga, sebagaimana yang telah diperjuangkan Ki Hajar Dewantara,” ujar Konjen.

Sementara itu Ketua PPI Malaysia 2015-2016, Akita Arum Verselita, berharap dengan diselenggarakannya kongres ini dapat melahirkan hasil-hasil musyawarah yang berarti untuk melanjutkan tongkat estafet perjuangan organisasi PPI Malaysia kedepannya.

“Berharap dengan semangat persatuan akan terbangun solidaritas yang kuat untuk PPIM yang lebih baik lagi ke depannya,” ungkap Akita dalam sambutannya.

Di malam harinya, acara tersebut dilanjutkan dengan Gala Dinner dan malam solidaritas yang dihadiri langsung oleh Bapak Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Kerajaan Malaysia, Marsekal TNI (Purn) Herman Prayitno yang juga menyampaikan sambutannya.

Dubes KBRI Kuala Lumpur Marsekal TNI Herman Prayitno dalam sambutannya mengatakan bahwa sudah seharusnya bagi pelajar Indonesia untuk terus menguatkan semangat kebangsaan guna melahirkan generasi muda Indonesia yang lebih siap untuk melanjutkan pembangunan bangsa.

“Sebagai duta bangsa di Malaysia, pelajar memiliki tugas penting untuk meraih prestasi akademik dan non akademik yang baik untuk bekal melanjutkan pembangunan Indonesia dimasa yang akan datang,” ujar Herman.

Di hari kedua Kongres PPI Malaysia, acara diawali dengan seminar mengenai bahaya Narkoba yang diisi oleh Atase POLRI, Atase Riset, Atase Hukum KBRI Kuala Lumpur dan Agensi Anti Narkoba Malaysia.

Atase Polisi KBRI Kuala Lumpur, Kombes Pol Abi Nursetyanto, SIK mengatakan, “angka penyalahgunaan narkoba selama dua tahun terakhir mencapai lima juta Jiwa di Indonesia.”

Abi mengatakan fakta ini sangat mengancam nasib generasi penerus bangsa pada masa depan karena peran pemuda sangat penting dalam pembangunan bangsa dan negara dengan berbekal prestasi akademis dan non-akademis yang baik.

“Pelajar adalah generasi penerus bangsa, penanaman rasa kebangsaan yang tinggi diharapkan akan menghasilkan generasi yang lebih siap membangun bangsa ini,” ujar Abi di Universiti Malaysia Serawak ( UNIMAS).

Sementara itu Atase Pendidikan dan Kebudayaan ( Atdikbud) KBRI KL Prof. Ari Purbayanto meminta agar pelajar Indonesia di Malaysia dapat bersatu membangun solidaritas yang kuat guna menghasilkan kekuatan yang besar dalam memberikan kontribusi yang lebih berarti untuk bangsa.

Di akhir sidang pleno, kongres PPI se-Malaysia ini mengadakan pemilihan Ketua Umum PPI Malaysia dari dua kandidat calon ketua umum terpilih yaitu Sdr. Zulfadli dan Sdr. Rizki Amrillah. Berdasarkan hasil keputusan siding pleno tersebut, maka Sdr. Zulfadli pun terpilih menjadi Ketua Umum PPI Malaysia 2016-2017 menggantikan Sdri. Akita Arum Verselita yang telah demisioner.

 

Selamat kepada Sdr. Zulfadli yang telah berhasil menjadi ketua PPI Malaysia 2016-2017. Selamat menjalankan tugas dan kewajibanmu.

Semoga sukses

(Red: Akita/ Ed: Amir)

Categories
Asia dan Oseania Berita PPI Negara

ICE 2016: Memperkenalkan Indonesia Lewat Budaya

Liputan Kuala Lumpur, 10 Oktober 2016, Persatuan Pelajar Indonesia se-Malaysia (PPIM) kembali mengibarkan bendera merah putih, di tengah sendu suasana harmoni sekian banyak mahasiswa Indonesia yang berada di Malaysia melalui ICE (Indonesian Culture Expo) 2016. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan ragam budaya Indonesia kepada dunia sesuai dengan slogan PPIM yaitu “Mengindonesiakan jiwa, menduniakan Indonesia.”

ICE adalah kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh PPIM dan telah berjalan selama 2 tahun. Setiap tahunnya ICE selalu menyajikan banyak ragam budaya Indonesia yang berbeda dan unik. Mulai dari tarian daerah, seni musik, pakaian adat dan seni rupa. Tidak tanggung-tanggung, ICE ini selalu menuai perhatian dari masyarakat luar Indonesia yang memang ingin mengetahui keanekaragaman budaya Indonesia, walaupun acara ini diselenggarakan justru bukan di negara Indonesia sendiri.

Salah satu pertunjukan yang ditampilkan saat ICE 2016 di Malaysia.
Salah satu pertunjukan yang ditampilkan saat ICE 2016 di Malaysia.

ICE 2016 diselenggarakan pada 8 oktober 2016 bertempat di kampus Management and Science University (MSU) Shah Alam, Selangor Darul Ehsan. Dengan mengambil tema “From Indonesia to The World” kepanitiaan ini sendiri dibentuk dan dipersiapkan sejak empat bulan sebelum acara dilaksanakan. Dengan semangat dan kerja keras para panitia yang memang berbeda latar belakang namun tetap satu nasionalisme ini, juga dibantu oleh beberapa pihak BPH (Badan Pengurus Harian) dari PPIM dan juga staff SCD MSU, program tahunan PPIM ini bisa terlaksana dengan baik.

Pemotongan tumpeng, saat ICE 2016 di Management and Science University (MSU) Shah Alam, Selangor Darul Ehsan, Malaysia.
Pemotongan tumpeng, saat ICE 2016 di Management and Science University (MSU) Shah Alam, Selangor Darul Ehsan, Malaysia.

Acara ICE tahun ini juga mendapat respon yang sangat luar biasa dari berbagai pihak yang memang memiliki kewenangan besar, baik dari KBRI ataupun pihak MSU sendiri. Meskipun sangat disayangkan karena Marsekal (Purn TNI) Herman Prayitno selaku Duta Besar  Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur tidak bisa hadir, acara ini tetap berjalan meriah dengan dukungan penuh dari pihak KBRI sendiri.

Sebagaimana pesan Herman Prayitno yang disampaikan oleh Trigustono Supriyanto (Minister Counselor Pensosbud KBRI), “Kedutaan Besar Republik Indonesia akan selalu mendukung penuh pelaksanaan acara Indonesian Culture Expo di setiap tahunnya.”

Selain dihadiri oleh Trigustono , acara ICE 2016 ini juga  dihadiri oleh beberapa tokoh dari pihak MSU diantaranya Dato Rosli Yusof (Vice President Corporate International and Communication), Prof Dr eddy Yusof (Director International Centre for Halal Study), Associate Prof dr Syed Helmy Syed Abu Bakar (Director Student and Career Development) dan juga Dra. Effiati (Dosen SPA Indonesia).

Dalam sambutannya Dato Rosli Yusof juga memberikan respon yang sangat baik atas terlaksananya acara ICE 2016 di MSU ini. Beliau menyebutkan bahwa di MSU sendiri banyak sekali mahasiswa internasional yang memang memiliki keanekaragaman budaya masing-masing seperti Vietnam, Filipina, Thailand, dan masih banyak yang lainnya akan tetapi yang paling beraneka ragam adalah Indonesia, “but the most diverse are Indonesia,” kata Rosli dalam sambutannya yang kemudian disambut dengan tepuk tangan bangga oleh semua audien yang hadir dihadapannya saat itu.

Peragaan busana yang dirancang oleh desainer asal Indonesia, Dra. Effiati.
Peragaan busana yang dirancang oleh desainer asal Indonesia, Dra. Effiati.

Beberapa ragam budaya yang ditampilkan dalam acara ICE 2016, diantaranya adalah Tarian Nusantara, Pementasan Busana yang didesain oleh desainer asal Indonesia Dra. Effiati, beberapa penampilan band, seperti Riverside Band (UIA), Mukalangka Band (Jakarta), dan Bhinneka Band (Sunway University).

Yang tak kalah meriahnya acara ICE 2016 ini juga dihibur oleh dua guest star, yaitu Natasha Sass dan Calvin Jeremy. Sontak kegembiraan para audien pun tidak dapat terbendung hingga ketika kedua bintang tamu tersebut tampil di atas panggung. Sampai-sampai audien yang tadinya duduk manis di tempat yang telah disediakan oleh panitia akhirnya maju ke depan dan berebut demi mendapatkan salam tangan dan foto selfie dengan Natasha Sass dan Calvin Jeremy.

Tidak dapat dipungkiri lagi, melalui acara ICE 2016, selain memang bertujuan menyebarluaskan budaya Indonesia sebagaimana tema “From Indonesia to The World”, PPIM juga kembali membangkitkan jiwa nasionalisme para Warga Negara Indonesia (WNI), khususnya di kalangan mahasiswa Indonesia sendiri, yang memang sedang terpisah jauh dari keluarga demi menggali ilmu di luar negeri untuk kemudian diterapkan segala apa yang telah digalinya di tanah air tercinta.

(MT,B/F)

Categories
Asia dan Oseania Berita

ASIANIA BANGUN POROS MARITIM INDONESIA UNTUK DUNIA

“Indonesia berada tepat ditengah-tengah proses perubahan strategis itu, baik secara geografis, geopolitik, maupun geo-ekonomi. Oleh karena itu kami menegaskan diri sebagai poros maritim dunia, sebagai kekuatan yang berada di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Posisi sebagai poros maritim dunia membuka peluang bagi Indonesia untuk membangun kerjasama regional dan internasional bagi kemakmuran rakyat,” – Joko Widodo (Presiden RI)

Hal ini lah yang menjadi landasan dan pondasi kuat bagi mahasiswa Indonesia di kawasan Asia dan Oceania untuk menyelenggarakan Simposium Asiania 2016 di Hongkong 8-10 April 2016 mendatang. Adapun Tema yang diangkat adalah “Membangun Poros Maritim Indonesia”.

“Harus kita sadari, lautlah yang mempersatukan nusantara Indonesia, sehingga wajar jika Jalesveva Jayamahe dikenal sebagai semboyan Angkatan Laut Indonesia,” Ungkap Gregorius Rionugroho, Koordinator PPI Asiania yang mengumpamakan pentingnya menjaga sumber daya laut Indonesia menjadi lebih baik.

Sementara itu, sejumlah delegasi PPI Negara yang memberikan dukungan penuh dalam agenda Simposium PPI Asia Oseania adalah PPI Thailand (Permitha), PPI Malaysia, PPI Australia, PPI Korea, PPI Jepang, PPI Singapura, PPI Filipina, PPI Srilanka, PPI New Zealand, PPI Taiwan, PPI Tiongkok, dan PPI India.

Indonesia tidak hanya daratan, tetapi juga lautan. Inilah yang menjadi simbol dari kalimat tanah air, sehingga kemaritiman yang berdaulat dalam wilayah dan pengelolaan sumber daya perlu diwujudkan.

Ungkapan tersebut disampaikan Bayu dan Candra, perwakilan dari Permitha dan PPI Jepang sebagai bentuk dukungan wujudnya Simposium PPI Asia Oseania dalam upaya kepedulian pelajar Indonesia terhadap persoalan kemaritiman Indonesia. Hal senada disampaikan PPI Korea, Taiwan, Hongkong dan Filipina, Indonesia perlu bersatu untuk dapat mengoptimalkan potensi laut yang ada sehingga menjadi armada niaga yang hebat. Sudah saatnya kemaritiman Indonesia bangkit dari tidurnya yang panjang.
Indonesia sebagai bangsa pelaut harus unggul dalam teknologi kelautan dan mampu mengelola seluruh potensi kelautan dan tentunya dengan sumberdaya manusia yang memadai, terutama armada militer untuk menjaga ketahanan wilayah laut Indonesia yang sangat luas.

“Simposium PPI Asia Oseania wujud dalam upaya kepedulian pelajar Indonesia terhadap kepulauan Indonesia yang luas. Bangsa yang kuat adalah yang jaya mengurus sumber daya lautnya. Karena laut jaya, Indonesia jaya,” ungkap Reza dan Clara sebagai perwakilan pelajar Indonesia di India dan New Zealand.
Fafan, Perwakilan PPI Sri Lanka mengungkapkan fakta bahwa 70% atau 2/3 wilayah Indonesia adalah laut, menjadikan Indonesia sebagai negara maritim terbesar sedunia. Seharusnya ini adalah potensi besar untuk menjadikan laut sebagai sumber kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Akita PPI Malaysia mengumpamakan menghitung kekayaan laut Indonesia bagaikan menghitung jumlah bintang di langit, tak terbatas. Kekayaan dan keberagaman hayati bukan untuk diekploitasi tapi juga untuk terus dijaga dan dikelola ditangan yang tepat.
“Jangan jadikan luasnya laut Indonesia sebagai celah untuk dicurangi tetapi untuk memperkokoh ketahanan dan kekuatan Indonesia di setiap jengkalnya,” jelas Akita.

Marcel PPI Singapura dan Mutia PPI Australia juga menjelaskan, meskipun negara Indonesia terpisah antara pulau-pulau, lautlah yang menyatukannya menjadi Negara Kesatuan. Majapahit di masa lalu juga berjaya dalam kekuatan kemaritimannya. Sudah sepantasnya bangsa Indonesia yang hidup di negara kepulauan menjadi ahli-ahli handal kelautan internasional.
“Masih banyak yang belum sadar akan potensi kelautan di negara kita. Wujudnya Simposium PPI Asia Oseania dengan tema Membangun Poros Maritim Indonesia adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan kita bangkit dan menguatkan potensi maritim Indonesia kedepannya,” ungkap Mutia.

Akhirnya, tuan rumah Simposium PPI Asia Oseania diwakili ketua PPI Tiongkok Grace Fiona Alethea berharap Simposium PPI Asia Oseania dapat menjadi salah satu langkah yang akan melahirkan sebuah kontribusi besar untuk pembangunan maritim Indonesia menjadi lebih baik kedepannya. Sudah saatnya kemaritiman Indonesia bangkit dari tidurnya yang panjang.

Menurut Professor Ari Purbayanto, pakar maritim dari IPB yang nantinya menjadi panel pada April mendatang turut mendukung terlaksananya Kegiatan Simposium Asiania. Ia menyatakan setidaknya pelajar dan mahasiswa sudah tumbuh kesadaran dan semangatnya untuk turut berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Prof Ari berharap agar rumusan hasil simposium april mendatang dapat disampaikan ke Presiden dan menteri terkait, untuk kemudian dijadikan acuan terhadap percepatan pembangunan poros maritim Indonesia kedepannya.

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Asiania sendiri adalah bagian dari kawasan PPI Dunia yang terdiri dari 14 negara di kawasan Asia dan Oseania yang beranggotakan sebanyak 49.292 orang pelajar Indonesia dengan berbagai latar belakang ilmu yang berbeda. Pada Periode kepengurusan 2015/2016, Gregorius Rionugroho Harvianto, pelajar PhD dari Yeungnam University Korea ditunjuk sebagai koordinator kawasan Asiania dalam Simposium PPI Dunia di Singapura Agustus 2015 lalu

Page 1 of 4
1 2 3 4