logo ppid

LEBANON, 10 November 2017 – Di sela-sela kunjungan kerja di Lebanon, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi mengisi acara Diskusi Kebangsaan bersama Mahasiswa Indonesia (PPI Lebanon) untuk memperingati Hari Pahlawan 10 November 2017.

Kunjungan itu dalam rangka menjalin hubungan dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Lebanon terkait Kepemudaan dan Olahraga. Bertempat di KBRI Beirut, acara itu dihadiri para Staf KBRI Beirut dan rombongan dari Kementerian Agama yang sedang melakukan penelitian tentang Syi'ah dan Hizbut Tahrir di Lebanon.

Acara dimulai pada pukul 19.30 EET dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an. Kemudian sambutan oleh Duta Besar LBBP RI untuk Lebanon, H. Achmad Chozin Chumaidy. Dalam sambutannya beliau berpesan kepada seluruh WNI di Lebanon agar selalu berhati-hati dan waspada dikarenakan situasi politik di Lebanon semakin memanas pasca pengunduran diri PM Lebanon, Sa'ad Hariri.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan oleh Menpora. Dalam kesempatan itu beliau menceritakan tentang pengalamannya dari menjadi santri, kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya, hingga masuk ke ranah politik menjadi politisi dan akhirnya menjadi menteri termuda dalam jajaran kabinet Jokowi-JK.

"Ketulusan dan keikhlasan adalah kunci dari kesuksesan hidup. Tanpa keikhlasan para pahlawan mengorbankan harta bahkan nyawa, maka bangsa ini tak kan dapat merasakan manisnya buah kemerdekaan. Jika tanpa keikhlasan dan ketulusan orang tua tercinta dan para guru, maka seorang Imam Nahrawi tidak akan dapat menjadi yang sekarang ini (menteri-red)," ujar Imam Nahrawi.

Setelah pemaparan tersebut, moderator mempersilahkan mahasiswa untuk melontarkan beberapa pertanyaan, di antaranya terkait Sea Games dan Asian Games. "Kemarin Sea Games di Malaysia, hasil Indonesia belum maksimal karena beberapa faktor. Salah satunya karena aturan di Sea Games, tuan rumah boleh menentukan cabang olahraga, artinya tuan rumah bisa memasang cabang olahraga andalan yang lebih kuat dibanding negara lain. Sedangkan di Asian Games berbeda. Tuan rumah tidak diberikan otoritas untuk menentukan cabang olahraga, tetapi sudah ditentukan oleh Olympic Commitee pada semua cabang olahraga yang akan dipertandingkan. Tuan rumah hanya dapat mengusulkan tiga cabang olahraga unggulannya,” kata Menpora.

Dalam diskusi itu, Pak Menteri selalu menyamangati dan memberi dukungan penuh kepada PPI Lebanon baik dukungan moral maupun secara dana dan administrasi.

Acara ditutup dengan foto bersama para mahasiswa dan staf KBRI Beirut. Usai acara, Menpora menyempatkan diri untuk bertanding tenis meja dengan para mahasiswa. Beliau terlihat begitu handal bermain, beberapa kali pukulan smash beliau perlihatkan.

Mahasiswa Lebanon begitu bersyukur dan terkesan atas kehadiran Menpora Imam Nahrawi di tengah-tengah mereka, para Pemuda PPI Lebanon. Semoga pengalaman dan nasehat beliau dapat diterapkan dalam kehidupan. Amiin.**

 

Penulis: PPI Lebanon

Editor: Kartika Restu Susilo

PPI Lebanon sebagai salah satu delegasi Simposium PPI Timur Tengah - Afrika 2017 di Madinah menunjukkan partisipasinya melalui sebuah karya tulis ilmiah

Karya tulis ini disusun dalam rangka memenuhi “ Call for paper“ yang diselenggarakan oleh panitia Simposium PPI Timur Tengah - Afrika di Madinah, Arab Saudi 3-4 april 2017 dengan tema “Revitalisasi Simpul Kebangsaan di tengah Kemajemukan“.

Karya yang ditulis oleh mahasiwa pascasarjana di Global University of Beirut, Lukmanul Hakim, ini terdiri dari 22 halaman yang berisi tentang islam dan perannya dalam menjaga kemajemukan bangsa Indonesia.

Pesan yang ingin disampaikan dalam paper ini adalah bahwa keragaman merupakan sunatullah yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan bangsa indonesia, bangsa yang kaya akan ras, budaya, bahasa, suku, dan agama. Karena itu, bangsa Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi prototype bangsa majemuk yang mampu mengelola keragaman dan memelihara keharmonisan, bila semuanya dapat ditangani dengan tepat. Kiranya cita-cita inilah yang senantiasa dipelihara dan dikembangkan dari semua elemen bangsa Indonesia.

Untuk membaca karya tulis ini, silahkan klik di sini

Satu agenda penting Perhimpunan Pelajar Indonesia di Lebanon periode 2016-2017 kembali terlaksana. Kegiatan tersebut adalah kegiatan diskusi mahasiswa dan presentasi paper untuk memenuhi Call for Paper dalam rangka persiapan menghadapi simposium PPI kawasan Timur tengah dan Afrika pada awal April 2017 mendatang di Madinah, KSA. Acara ini berlangsung pada Ahad, 19 Maret 2017 dan diawali dengan pelaksanaan sholat ghoib berjamaah dan pembacaan surat Yasin dan tahlil untuk almarhum bapak KH. Ahmad Hasyim Muzadi. Dalam kegiatan tersebut ketua PPI Lebanon, Ustadz H. Muhammad Ainur Rohim, bertindak sebagai imam sholat yang sekaligus menjadi moderator pada saat diskusi.

Pemaparan materi diskusi

Diskusi PPI Lebanon

Sholat Ghoib PPI Lebanon

Respon positif begitu tampak dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Lebanon, karena acara ini juga dihadiri langsung oleh bapak Duta Besar RI untuk Lebanon Bapak H. Ahmad Chozin Chumaidy dan bapak Imad Yousri selaku pelaksana fungsi Pensosbud dan beberapa pegawai kedutaan lainnya. Diskusi kali ini berjalan cukup baik, banyak masukan hingga saran dari para peserta diskusi yang kemudian ditanggapi oleh pemateri dengan sangat baik juga dan disimpulkan oleh moderator. Alhamdulillah kegiatan ini berjalan dengan cukup lancar walaupun terdapat beberapa kendala teknis dalam waktu pelaksanaannya di lapangan.

(Red: PPI Lebanon/ Ed: Amir)

Liputan Lebanon - Berada di negeri yang rentan konflik tidak menjadikan mahasiswa Indonesia di Lebanon berhenti berkarya. Justru keadaan yang tidak biasa ini memacu para mahasiswa untuk berinovasi dan berkreatifitas. Untuk menutup tahun 2016 PPIL melalui divisi media dan komunikasi berhasil menerbitkan jurnal yang berjudul "Spiritualitas Para Panglima Perang."
"Momennya tepat, di samping untuk menutup tahun 2016, jurnal ini juga bisa dijadikan referensi tentang keberadaan UNIFIL di Lebanon ditinjau dari sisi yang mungkin belum diketahui banyak orang,” kata Lukmanul Hakim, penulis jurnal yang juga mahasiswa di Global University of Beirut program magister ini.
Keberadaan penulis sebagai salah satu mahasiswa Indonesia di Lebanon memberikan keuntungan tersendiri. Karena hal itu memberikan kemudahan untuk melakukan observasi lingkungan, yaitu melihat secara langsung aktivitas para pasukan perdamaian dunia (UNIFIL) yang jarang diketahui oleh khalayak umum.
Selain itu juga dilakukan wawancara dengan perwira dan staf pembinaan rohani agama Islam di setiap pangkalan pasukan Garuda TNI UNIFIL juga menjadi instrumen penelitian yang sangat urgen dalam jurnal ini.
UNIFIL adalah akronim dari United Nations Interim Force in Lebanon, sebuah tahapan organisasi misi yang dibentuk oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, pada tanggal 19 Maret 1978 setelah pecah perang saudara di Lebanon dan konflik dengan Israel
PBB memberi mandat kepada 42 negara termasuk Indonesia untuk mengirimkan tentara terbaiknya dalam melaksanakan tugas misi perdamaian di Lebanon.

 

(Medikom PPIL/F)

Liputan Lebanon - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beirut bekerja sama dengan (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) BNPT telah menyelenggarakan seminar dan sosialisasi perlindungan warga negara Indonesia dari ancaman terorisme dan radikalisme dengan melibatkan seluruh anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Lebanon.

Acara yang diadakan di gedung KBRI Beirut pada 6 Desember 2016 dihadiri oleh Petrus Reinhard Golose, Deputi Kerja Sama Internasional di BNPT dan Yuniar Ludfi, Direktur Koordinasi dan Perangkat Hukum Internasional BNPT. Hadir juga dalam acara tersebut Duta Besar RI untuk Lebanon H. A. Chozin Chumaidi beserta istri dan seluruh pejabat KBRI.

"Terorisme adalah sebuah kata yang netral dan tidak terikat oleh agama atau kelompok tertentu ," kata Petrus dalam seminar tersebut.

Foto bersama saat seminar BNPT di Beirut, Lebanon.

Foto bersama saat seminar BNPT di Beirut, Lebanon.

Ia juga menambahkan, terorisme berawal dari paham takfiri, yaitu memvonis kafir terhadap orang di luar kelompok mereka sehingga hal itu memicu kekerasan fisik.

Para mahasiswa sangat antusias dalam mengikuti acara tersebut. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan serta saran yang ditujukan kepada narasumber yang akhirnya membuka diskusi. Acara ditutup dengan makam malam bersama dan ramah tamah.

 

(Lukmanul Hakim/Farhanah)

Liputan Lebanon – Perhimpunan Pelajar Indonesia di Lebanon (PPIL) sukses berpartisipasi dalam sebuah acara gathering yang diadakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beirut, Lebanon. Agenda tahunan ini diikuti oleh seluruh keluarga besar PPI Lebanon beserta para pegawai KBRI Beirut, tidak terkecuali Duta besar RI untuk Lebanon, H. A. Chozin Chumaidi beserta istri. Bertempat di Batroun Village Club. Acara berlangsung selama tiga hari dari tanggal 2-4 Desember 2016.

Tujuan diadakan kegiatan ini sebagaimana yang diharapkan oleh Dubes RI untuk Lebanon adalah agar mahasiswa Indonesia di Lebanon dapat menjadi tokoh-tokoh yang siap siaga menjaga keutuhan NKRI, utamanya dalam menghadapi Proxy War yang sedang melanda Indonesia saat ini, serta dapat menjadi ajang memupuk kebersamaan sesama mahasiswa Lebanon dan keluarga besar KBRI Beirut.

Ketua PPIL 16/17 H. M Ainur Rohim, MA., menambahkan, " dengan kegiatan seperti ini juga, kita akan selalu waspada dan sadar dengan gempuran dan serangan dari luar maupun dalam dengan berusaha senantiasa melestarikan dan memajukan warisan leluhur kita yang berkeringat darah merebut kemerdekaan. Sudah selayaknya kita bersungguh-sungguh membangun bangsa ."

Selain seminar tentang kebangsaan juga diadakan permainan outbound yang dipimpin langsung oleh lima instruktur dari Kapal Republik Indonesia (KRI) Bung Tomo 357. Hal ini dimaksudkan untuk mempererat tali persahabatan antara mahasiswa yang terbagi di tujuh universitas di seluruh Lebanon.

(Lukmanul Hakim/F)

Liputan Bogor, Ini merupakan kali ke dua PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika menyelenggarakan kegiatan orientasi Perguruan Tinggi di pesantren yang ada di Indonesia. Orientasi perdana yang mengusung tema "Orientasi Perguruan Tinggi Arab Saudi, Tunisia dan Timur Tengah" ini diselenggarakan di Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining, 9 Dzulhijjah 1437 H/10 September 2016.

Acara dimulai dengan pembukaan dan sambutan oleh Kepala Biro Sumber Daya Manusia Pesantren Darunnajah 2 Cipining, Al-Ustadz Mustafa Zahir, Lc, yang kemudian dilanjutkan dengan pemaparan tentang tema diatas oleh kedua narasumber yang telah diundang yaitu Muammar Kadafi, Lc, PPI Tunisia dan Imam Khairul Annas, PPMI Arab Saudi. Peserta dan para tamu undangan dalam acara ini adalah santriwan dan santriwati kelas 4, 5, 6 TMI (kelas 10, 11, 12) beserta guru pengabdian tahun pertama dan tahun kedua, dengan jumlah keseluruhan peserta orientasi mencapai 700 orang.

 

Pemberian materi

Pemberian materi

Pada kesempatan tersebut, ketua umum PPMI Arab Saudi 2015/2016, Imam Khairul Annas bertindak sebagai narasumber pertama mempresentasikan tentang perkuliahan di Arab Saudi dan sistem perkuliahan di beberapa negara yang ada di kawasan Timur Tengah dan Afrika.

"PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika ini sendiri terdiri dari 14 PPI Negara yaitu PPMI Pakistan, IPI Iran, PPI Uni Emirat Arab, PPMI Arab Saudi, PPI Yaman, HPMI Yordania, PPI Lebanon, PPI Damaskus, PPMI Mesir, PPI Sudan, KKMI Libya, PPI Tunisia, PPI Maroko dan PPI Afrika Selatan. Masing-masing PPI memberikan informasi tentang sistem perkuliahan, beasiswa yang tersedia, dan kegiatan mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam PPI melalui website dan media sosialnya masing-masing" papar Imam.

"Sedangkan beberapa keuntungan melanjutkan studi di Arab Saudi sendiri adalah tersedianya beasiswa penuh bagi beberapa mahasiswa asing dan lokal, situasi yang aman dan kondusif serta kesempatan untuk menunaikan ibadah haji dan umrah", ujar Imam yang saat ini sedang melanjutkan studinya di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi.

Selain itu Imam yang telah menyelesaikan tugasnya sebagai Koordinator PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika pada Juli lalu juga menambahkan bahwasannya belajar di kawasan Timur Tengah dan Afrika memiliki tradisi yang unik di masing-masing negara. Sebagai contoh adalah Pakistan yang terkenal akan Bahasa Urdunya yang kental. Sehingga jika mahasiswa asing belajar di Pakistan maka mereka juga diharuskan belajar Bahasa Urdu selain Bahasa Inggris.

Peserta Seminar

Peserta Seminar

Selanjutnya seminar kedua dilanjutkan oleh Muammar Kadafi, Lc, Ketua PPI Tunisia 2015/2016. Muammar menjelaskan tentang tiga point penting ketika belajar di Tunisia, yaitu Cara, Tantangan, dan Keuntungan. Cara mendaftar menjadi mahasiswa baru di Tunisia sendiri tidak jauh berbeda dengan negara-negara lain pada umumnya. Di Tunisia sendiri juga memiliki standard nilai minimum yang harus dipenuhi oleh masing-masing calon mahasiswa beserta beberapa dokumen penting yang harus dilengkapi untuk dapat diproses di bagian admission.

"Seperti halnya mendaftarkan ke universitas pada umumnya berkas yang dibutuhkan juga tidak jauh berbeda, dan adik-adik bisa langsung membaca panduan studi di Tunisia yang sudah tersedia dalam website kami www.ppitunisia.org," ungkapnya mengawali point pertama.

Berlanjut ke point kedua, Muammar menjelaskan tentang beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh mahasiswa asing di Tunisia serta solusi menghadapinya. Disesi ini, banyak sekali hal-hal teknis yang tidak terdapat dalam buku panduan kuliah di Luar Negeri. Sehingga sesi ini merupakan sesi yang paling penting kaitannya dengan tantangan dan rintangan selama belajar di negeri orang.

Kemudian point ketiga, Muammar juga menjelaskan tentang beberapa keuntungan kuliah di Tunisia. Salah satunya adalah bahasa. "Bahasa adalah keuntungan yang pertama, selain adik-adik bisa mempraktekkan bahasa Arab yang sudah lebih dahulu dipelajari di pesantren, juga bisa menambah satu bahasa lain yaitu Bahasa Perancis jika memang memiliki kecintaan dalam bahasa," tuturnya dengan lugas.

Ia juga menambahkan bahwa Bahasa adalah signal pertama bagi seseorang itu berilmu pengetahuan yang tinggi dan merupakan salah satu ilmu para Nabi. "Keuntungan yang kedua adalah bisa melihat langsung Sejarah Peradaban Islam yang ada di Tunisia, seperti halnya Jami' Uqbah ibn Nafi', Jami' Az-Zaytunah, jejak sejarah Pakar Sosiolog ternama Ibnu Khaldun dll," ucap Kadafi.

Sedangkan keuntungan yang ketiga yaitu dapat merasakan sistem pendidikan yang sangat baik, muai dari metodologi penulisan, penelitian, dan lingkungan yang mendukung untuk belajar.

Setelah sekian jam pemaparan dari kedua nara sumber diatas maka acara pun dilanjutkan dengan sesi tanya jawab baik dari para peserta dan tamu undangan. Pada akhir acara tersebut, cindera mata diberikan kepada narasumber dan diakhiri dengan foto bersama. (Red, Muammar&Imam/Ed, Amir)

Liputan Iran, Universitas Tehran menyelenggarakan Festival dan Pameran Internasional ke-6 yang berlangsung di Chamran Hall, Fakultas Seni kampus pusat Universitas Tehran, Iran Senin sampai Rabu kemarin (23-25/5). Acara yang bertujuan untuk mengenalkan budaya dari berbagai negara serta memberikan informasi baik mengenai pendidikan maupun pariwisata tersebut, pada tahun ini mengangkat tema "a Rainbow of the cultures".

Beberapa negara yang ikut serta pada festival ini, mulai dari Afganistan, Irak, Pakistan, Jepang, Tiongkok, Palestina, Indonesia, Nigeria, Lebanon, Tajikistan, Rusia, dan lain-lain. Selain stand pameran, para peserta yang merupakan mahasiswa Iran dan mahasiswa asing dari berbagai negara menampilkan pertunjukan seni pada upacara penutupan yang diselenggarakan di hari terakhir (25/5). Mahasiswa Indonesia menampilkan Angklung, menyanyikan lagu Iran dengan judul Sulthan e Qalbam dan lagu Indonesia Naik-naik ke puncak gunung.

IMG-20160528-WA006

Pada upacara penutupan yang dihadiri oleh Acting Rektor Universitas Tehran, Dr. Nili, Wakil Menteri Pendidikan Iran, Dr. Mujtaba Sadiqi, serta Pensosbud KBRI Tehran, Cahya Pamengku Aji, serta para diplomat dari berbagai negara yang ikut serta, Indonesia mendapatkan penghargaan sebagai stand terbaik tahun 2016.

"Alhamdulillah dengan adanya pameran ini kita mampu mengenalkan Indonesia ke seluruh dunia, Alhamdulillah juga semoga penghargaan yang kita dapat ini dapat mengharumkan indonesia di mata dunia, karena yang hadir pada acara ini bukan hanya orang Iran, tapi mahasiswa dari berbagai negara. Ini semua berkat kerjasama KBRI dengan IPI Iran, saya ucapkan terima kasih banyak kepada KBRI dan mahasiswa Indonesia di Iran, semoga tahun depan kita bisa tampilkan yang lebih baik lagi," ujar Syarif Hidayatullah, Ketua Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) di Iran.

IMG-20160528-WA002IMG-20160528-WA007

 

 

 

 

 

Selain itu, Pensosbud KBRI Tehran berharap agar sinergi ini terus dipertahankan untuk menguatkan kerjasama lintas komponen mahasiswa, masyarakat dan KBRI.

"Kesannya pameran Tehran University merupakan wujud adanya sinergi dan kerjasama lintas komponen mahasiswa, masyarakat dan KBRI sehingga berhasil meraih yang terbaik pada festival dimaksud. Harapannya sinergi ini dapat terus dipertahankan bahkan ditingkatkan," tutur Cahya Pamengku Aji, Pensosbud KBRI Teheran. (Red, SH, IKA)

TAHAP 1: Melalui Lembaga Kredibel suriah Hilal Ahmar. Konflik suriah terjadi pada tahun awal 2011 hingga sekarang, sehingga mengakibatkan banyak korban dari warganya, bahkan sebagian darinya mengungsi ke negara tetangga seperti Lebanon, Turkey, Yordania bahkan sampai eropa.

Hilal Ahmar {Bulan Sabit Merah} adalah salah satu organisasi kemanusian internasional independen yang tidak memihak kepada siapa pun dan jauh dari ranah politik, sehingga dapat diterima oleh semua golongan dalam menjalankan Misinya untuk kemanusiaan.

Misi yang dijalankan Syrian Arab Red Crescent (SARC) benar-benar penuh resiko, di mana mereka harus menjadi penengah antara pemerintah dan oposisi serta kelompok bersenjata lainnya. SARC bisa masuk ke wilayah-wilayah hot area yang dikuasai kelompok-kelompok bersenjata untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan baik melalui darat maupun udara.

Sejak lebih dari 5 (lima) tahun terjadinya konflik bersenjata, tercatat telah jatuh 65 korban jiwa dari pihak SARC (Relawan) yang berada di garis terdepan penyaluran bantuan kemanusiaan, hal tersebut diungkapkan Abdul Rahman Attar, President of The Syrian Arab Red Crescent (SARC) saat menerima kunjungan Pengurus PPI Damaskus-Suriah yang didampingi langsung oleh bapak Duta Besar Djoko Harjanto beserta beberapa staff-nya di kantor pusat Bulan Sabit Merah Suriah di Damaskus, baru-baru ini (rabu kemarin).

Perbincangan hangat dengan Dr. Abdurrahman Attar, President SARC

Perbincangan hangat dengan Dr. Abdurrahman Attar, President SARC

Pada kesempatan itu Dubes Djoko mengungkapkan rasa keprihatinannya yang mendalam atas krisis yang terjadi di Suriah dan berharap konflik di Suriah akan segera berakhir di masa yang akan datang.

Pada kesempatan itu Perhimpunan Pelajar Indonesia Damaskus-Suriah yang juga mewakili PPI Dunia untuk memberikan bantuan, memberikan pertanyaan yang diajukan oleh Ketua PPI Damaskus.
"Apakah ada yg menyalurkan Donasinya Ke Lembaga SARC ini ? seperti Perhimpunan pelajar asing timur tengah atau eropa," Tanya Mahrus ketua PPI Damaskus.

"Sampai sekarang ini belum ada satu pun Organisasi Pelajar Asing yg memberikan donasinya kepada kami, dan ini pertama kalinya dari Pelajar Indonesia di Damaskus." ungkap President SARC.

"Kira-kira dalam bentuk apa bantuan yang dibutuhkan untuk mereka?" Tanya Mahrus.

"Untuk saat ini, kami lebih membutuhkan medical supply, obat-obatan, vaksinasi, peralatan medis, ambulans, bahan makanan yang bergizi dan rumah sakit lapangan dan uang tunai untuk dibelikan susu yang saat ini sangat dibutuhkan oleh para balita dan anak-anak yang berada di penampungan di bawah pengawasan The Syrian Arab Red Crescent (SARC),” ujar Dr. Abdul Rahman Attar berterima kasih kepada para pelajar Indonesia.

 

suriah 2

Prosesi penyerahan bantuan berupa ratusan pakaian termasuk selimut yang berhasil PPI Damaskus kumpulkan.

yang diantaranya dari PPI Lebanon dan TNI yang berada di lebanon, diterima langsung oleh Para Staff Hilal Ahmar {SARC} di depan kantornya

Bantuan di antaranya dari PPI Lebanon dan TNI yang berada di lebanon, diterima langsung oleh Para Staff Hilal Ahmar {SARC} di depan kantornya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Karena bantuan PBB selama ini tidak pernah ada komponen susu untuk anak-anak yang sangat memerlukan, sementara itu Ketua SARC menyampaikan terima kasih atas kunjungan Dubes Djoko dan rombongan yang merupakan bukti solidaritas rakyat Indonesia dalam krisis yang dihadapi di Suriah. Beliau juga menyampaikan bahwa ia telah beberapa kali berkunjung ke Indonesia terutama ke Jakarta dan Bali, terkait dengan organisasi kemanusiaan.

Organisasi Bulan Sabit Merah Arab Suriah (Syrian Arab Red Crescent) memiliki 14 cabang di propinsi-propinsi Suriah dan 75 sub cabang hingga ke pelosok Suriah. SARC juga merupakan organisasi kemanusiaan independen yang merupakan anggota dari Konfederasi Bulan Sabit dan Palang Merah Internasional. Presiden SARC juga merupakan salah satu anggota presidium konfederasi yang dimaksud.

Setelah itu, ketua PPI Damaskus menyerahkan bantuan yang disampaikan secara simbolis yang berasal dari Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia yang dimediasi oleh KBRI Damaskus diberikan kepada SARC senilai 3.565.000 (Tiga juta lima ratus enam puluh lima Lira Suriah) atau sekitar US$7000 (Tujuh ribu USD) dan 6 (enam) kardus berisi pakaian dan kebutuhan anak-anak. Bantuan ini diberikan sebagai ungkapan solidaritas dan perhatian terhadap rakyat Suriah yang berada di penampungan di bawah pengawasan SARC. (red. Mahrus)

Liputan Lebanon, PPI Lebanon sukses menyelenggarakan kegiatan Talkshow dan Workshop yang bertemakan Membangun Karakter Muda Sukses dan Mulia ahad 27 maret 2016 yang bertempat di Aula KBRI Beirut.

Selaku ketua panitia, Ali Munajat mengatakan bahwa kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka membangkitkan rasa nasionalisme terhadap bangsa. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk mencetak generasi muda khususnya mahasiswa yang memiliki kecakapan Life Skill, Emosional, Intelligence dan Spiritual.

Kegiatan ini dibuka dengan kata sambutan Dubes RI untuk Lebanon Bpk. Achmad Chozin Chumaidy beliau mengatakan manusia itu tidak sempurna akan tetapi ketidak sempurnaan itu bisa kita tutupi dengan ilmu pengetahuan maka dari itu kegiatan ini perlu ditingkatkan selalu agar kedepannya para alumni Timur Tengah khususnya Lebanon tak hanya pandai di bidang keagamaan namun juga mampu menguasai berbagai bidang lainnya tentu kami sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan semacam ini.

Dimulai dengan presentasi oleh Kol. Jala Argananto selaku Ketua Kontingen Garuda TNI UNIFIL yang bertemakan Manajemen Diri, lalu dilanjutkan dengan pemaparan oleh dr. Sarah mengenai Manajemen Psikologi dan diakhiri dengan Manajemen Spiritual yang disampaikan oleh Ustadz H. Miftahuddin Ahimy, MA.

Kegiatan ini dihadiri oleh Mahasiswa, TNI UNIFIL, Lokal & Home Staff KBRI Lebanon serta WNI yang semuanya berjumlahkan 50 Orang

"Acara ini sungguh bermanfaat khususnya bagi saya pribadi yang baru dua bulan memulai hidup di Lebanon, salah satunya saya merasakan betapa pentingnya manajemen diri dalam kegiatan kampus dan asrama yang padat dari pagi hingga malam serta betapa pentingnya untuk memahami karakter orang-orang sekitar yang notabene nya sangat berbeda dengan kita orang Indonesia." Ujar Ahmad Zuhdi, Mahasiswa Dakwah University yang juga berpartisipasi dalam kegiatan ini

Sersan Didik Muktiyanto yang berpartisipasi dalam kegiatan ini mengatakan bahwa apa-apa yang dipaparkan oleh para pembicara sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, oleh karena itu kegiatan positif semacam ini harus terus dilanjutkan ( Red. Fitrah Alif Tama, Mahasiswa S1 University Tripoli of Lebanon)

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920