Categories
Berita Eropa dan Amerika PPI Dunia

ICONIC dan Simposium PPI Amerop 2018 di Jerman

Suasana Pembukaan ICONIC 2018

Pada 26-29 April 2018 lalu, PPI Jerman bersama dengan PPI Amerika-Eropa menyelenggarakan dua acara secara beriringan, yaitu The International Conference of Integrated Intellectual Community (ICONIC) 2018 dan OISAA America-European Regional Symposium (Simposium PPI Amerop). Kegiatan yang diselenggarakan di Leibniz Universität Hannover dan DJH Braunschweig, Jerman ini merupakan wadah bagi para pelajar, akademisi, dan praktisi untuk berdiskusi. Sebagai hasil dari rangkaian kegiatan ini, para delegasi PPI Amerika-Eropa menerbitkan surat rekomendasi yang diharapkan dapat menjadi wujud sumbangsih bagi pembangunan negeri.

Dalam rangkaian kegiatan ini, ICONIC 2018 mengusung tema “Science and Technology for Sustainable Development”, sedangkan kegiatan OISAA America-European Regional Symposium (Simposium PPI Amerop) 2018 mengusung tema “Securing Indonesia’s Energy Sovereignty: The Security – Economy – Sustainability Nexus”. Kedua kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama dengan beberapa pihak, yaitu Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Berlin, serta KJRI Hamburg sebagai Supporting Partner. Selain itu, kegiatan juga terselenggara atas dukungan dari Bank Mandiri, Telkom Indonesia, ITPC Hamburg, Techniker Krankenkasse, Tectona Teak, Tehbotol Sosro, Printhies, Turkish Airlines dan Khayangan Resort & Resto sebagai Sponsor, serta Radio PPI Dunia, RRI, Good News from Indonesia, Kompas, dan PPI Dunia sebagai Media Partner. Pihak panitia acara juga menjalin kerjasama dengan Social Science Research Network (SSRN), yang menjadi publishing platform dari karya ilmiah yang lolos seleksi dan dipresentasikan di konferensi ini.

Suasana Sidang PPI Amerika-Eropa 2018
Foto bersama setelah pembukaan Sidang PPI Amerika Eropa 2018

Kegiatan diawali pada hari Kamis, 26 April 2018 di DJH Braunschweig dengan rangkaian acara Simposium di Jugendherberge Braunschweig yang diikuti oleh 32 delegasi dari 17 negara di benua Amerika dan Eropa. Dalam kesempatan ini, banyak sekali yang dibahas oleh para peserta Simposium seperti pembahasan Laporan Pertanggungjawaban Pengurus, memilih Host Simposium tahun 2019, Pemilu Koordinator PPI Amerika-Eropa periode 2018/2019, serta Focus Group Discussion. Simposium PPI Amerika Eropa 2018 kali ini menghasilkan beberapa rekomendasi mengenai pembangunan bangsa di bidang energi, yang tertuang dalam  SK Dewan Presidium PPI Dunia 22/SK/Presidium/PPI-Dunia/IV/2018. Pada intinya rekomendasi ini mencakup 3 sub-pokok bahasan, yaitu bidang ekonomi energi, kebijakan dan ketahanan energi, serta teknologi energi dan mencakup kurang lebih 30 butir pasal rekomendasi.

Prof. Juliana Sutanto menyampaikan keynote beliau mengenai smart parks
Bpk. Sandhy Widyasthana menyampaikan keynote beliau mengenai situasi start up di Indonesia

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan acara konferensi ICONIC yang dimulai pada hari Sabtu, 28 April 2018 di Audimax Leibniz Universität Hannover. Terdapat kurang lebih 250 peserta secara keseluruhan, dengan 49 karya ilmiah yang lolos seleksi dari 300 abstrak yang diterima. Konfrensi ICONIC kali ini dibuka dengan sambutan dari Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Federal Jerman, Arif Havas Oegroseno LL. M dan disemarakkan oleh beberapa narasumber diantara lain: Dr. Muhammad Dimyati, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti; Dipl.-Ing. Toto Suharto, Managing Director PT BOSCH Indonesia; Dr. Siswo Pramono, Kepala Badan Pengembangan dan Kebijakan Kementrian Luar Negeri; Prof. Ir. Tutuka Ariadji M.Sc. Ph.D., Ketua Ikatan Ahli Teknik Minyak Indonesia; Dr. rer. biol. bum. Boya Nugraha, Peneliti di Medisichine Hochschule Hannover; Prof. Dr.-Ing. Azhar Zam, Peneliti University of Basel; Prof. Juliana Sutanto, Profesor dari University of Lancaster; serta Sandhy Widyasthana, Portfolio Director MDI Venture Indonesia.

Berbagai informasi penting disampaikan oleh narasumber, mulai dari pentingnya sumbangsih ilmuwan Indonesia untuk proyek-proyek pembangunan berkelanjutan di tanah air, peran penelitian dan pengembangan dalam bidang energi dalam mendukung revolusi industry 4.0, tantangan dan peluang Industri di era 4.0 di Indonesia utamanya bidang manufaktur, diplomasi kelapa sawit indonesia, public health, teknologi robotik dalam pengobatan, smart parks, ekosistem start up Indonesia, serta kebijakan energi di Indonesia.

Peserta Simposium PPI Amerika-Eropa dengan Prof. Ir. Tutuka Ariadji M.Sc. Ph.D.

Kegiatan ditutup pada hari Sabtu, 28 April 2018 dengan pembacaan surat rekomendasi yang disusun oleh para delegasi PPI Amerika-Eropa sebagai produk akhir simposium, pengumuman Doorprize, serta penyeharan penghargaan karya-karya ilmiah terbaik di ICONIC 2018 (dimana mencakup Best Paper, Best Presentation, dan Most Innovative Idea), serta foto bersama. Karya tulis terbaik dalam ICONIC 2018 diantaranya adalah: (1) “Inappropriate Detailing Impact Towards Ductility of High Rise Reinforced Concrete Moment Frames Building in High Seismicity Area” karya Dennisa S.D. Purba, (2) “The Role of Islamic Financial Technology (FinTech) Start-up in Improving Financial Inclusion in Indonesia Case : Angsur” karya Hafiz B. Hermansyah, serta (3) “Smart Wet Injection Phantom Using Electrolyte Switch and Capacitive Sensor System for Dental Local Anesthesia Training” karya Eltrin Khotimah, Swastiana Eka Yunita, dan Adien Gumilang.

Penganugerahan pemenang kepada para penulis paper terbaik

Kegiatan ini telah sukses memberikan wadah untuk berdiskusi dan membangun koneksi bagi mahasiswa, peneliti, akademisi, maupun praktisi di Jerman. Kedepannya, diharapkan kegiatan ini dapat menjadi awal dari sumbangsih besar bagi perkembangan dan pembangunan Indonesia.

 

 

Categories
Berita Eropa dan Amerika PPI Negara

Act of Bhineka, Einheit in Viefalt di Jerman

Penampilan gamelan dan tari Legong dari mahasiswa Universität Leipzig

Mahasiswa Indonesia di Leipzig, Jerman (PPIJ Leipzig) mengadakan kegiatan “Act of Bhinneka, Einheit in Vielfalt” pada Minggu, 29 April lalu. Acara ini merupakan sebuah acara bertajuk seni, budaya dan kuliner Indonesia. Arti dari Act of Bhinneka, Einheit in Vielfalt yaitu kesatuan dalam keberagaman, seperti dalam moto atau semboyan bangsa Indonesia: “Bhinneka Tunggal Ika”.

Setelah  8 tahun diadakannya “Malam Indonesia” di Leipzig oleh Deutsch-Indonesische Gesellschaft e.V., Perhimpunan Pelajar Indonesia di Jerman cabang Leipzig (PPIJ Leipzig) berkeinginan untuk mengadakan kembali acara budaya dan kuliner yang dibuat oleh pelajar-pelajar Indonesia di Leipzig. Keinginan mereka pun terwujud dengan berhasilnya terselenggara kegiatan Act of Bhinneka, Einheit in Vielfalt. Bertempat di Werk II Leipzig, kegiatan ini juga didukung oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin, Bank Jabar, Techniker Krankenkasse, Studentenwerk Leipzig, STURA (Der Student_innenRat der Universität Leipzig) dan Deutsch—Indonesische Gesellschaft e.V.

Keseruan para tamu dan penonton acara Act of Bhineka, Einheit in Viefalt

Di acara ini terdapat booth Pemilu untuk pendataan ulang peserta pemilu presiden 2019, ditujukan kepada orang Indonesia yang beralamat di Leipzig dan sekitarnya. Selain itu, beberapa barang seperti dekorasi dan baju adat Indonesia bisa didapatkan dengan mudah melalui bantuan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia dan Rumah Budaya Indonesia di Berlin. Berbagai macam benda-benda seni seperti Kuda Lumping, kain Batik, juga berbagai macam Wayang Kulit dan Gunungan, Angklung, dan Keris mempercantik dekorasi Culture Corner, juga disediakan baju adat jawa tengah yang bisa digunakan oleh para tamu agar bisa berfoto bersama.

Pada saat pintu masuk dibuka, tamu mendapatkan camilan khas Indonesia seperti Klepon dan Pastel. Beberapa merchandise seperti topi trucker, pembatas buku Wayang, buku “Journey to Indonesia”, T-Shirt dari Wonderful Indonesia juga diberikan sesaat sebelum acara dimulai. Ditambah, para tamu dapat melihat pameran kecil berupa foto-foto Indonesia yang dipotret oleh bapak Gatot Margianto, seorang Fotografer Indonesia yang saat ini sedang tinggal dan bekerja di Leipzig. Tidak lupa juga, panitia menjual berbagai macam Batik dan Kebaya.

Tari Pa’Gellu

Acara dibuka dengan animasi serta tarian asal Aceh, Tari Saman. Selain itu, terdapat juga beberapa penampilan tarian nusantara lain seperti tari Pa’Gellu dari Sulawesi, tari Nandak dan Topeng Jentrak Jentrik dari Jakarta, tari Merak dan tari Jaipong dari Jawa Barat. Tarian-tarian ini diisi oleh para pelajar Indonesia dari berbagai kota di Jerman.

Di sela-sela acara, diputar juga film pendek berjudul “Sedeng Sang” dari Youth International Film. Diceritakan mengenai situasi tentang salah seorang ayah dari suku Dayak Wehea, Kalimantan Timur yang terpaksa harus menjual tanahnya demi masa depan keluarga. Kemudian spesial Doorprize juga diberikan untuk tamu yang bisa menjawab beberapa pertanyaan mengenai Budaya Indonesia.

Penampilan dari mahasiswa kelas bahasa Indonesia

Menariknya, di Act of Bhinneka bukan hanya warga Indonesia saja yang menjadi pengisi acara, melainkan juga warga lokal Jerman di Leipzig pun turut ikut serta. Contohnya, penampilan paduan suara dari mahasiswa kelas Bahasa Indonesia yang dipimpin langsung oleh ibu Esie Hanstein, M.A. dari Universität Leipzig. Penampilan ansambel gamelan “Suara Nakal” dan tarian Legong Kraton Condong dari Institut für Musikwissenschaft (Musikologi) der Universität Leipzig yang terdiri dari 21 mahasiswa Jerman dan diarahkan oleh dosen Dr. Gilbert Stöck.

Fashion show pakaian daerah

Acara juga dimeriahkan dengan Fashion Show yang diperagakan oleh para pelajar Indonesia di Leipzig dengan menampilkan berbagai macam baju adat dari beberapa provisi di Indonesia seperti baju adat Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, Ambon, NTT, Sulawesi Tenggara, dan masih banyak lagi.

Penampilan band BonnIndo

Di penghujung acara, Act of Bhinneka mempersembahkan penampilan istimewa dari Band bernama “BonnIndo” yang menyanyikan musik bergenre “Dangdut”, yaitu musik khas asli Indonesia. Mereka melantunkan lagu-lagu seperti Kopi Dangdut, Wakuncar, dll. Tak hanya itu, pada saat puncak acara, penyanyi dari BonnIndo dan beberapa panitia lainnya mengajak para tamu untuk menyanyi dan menari bersama.

Para tamu mencicipi hidangan khas Indonesia

Sebagai penutup kegiatan, makanan khas Indonesia seperti Ayam Serundeng dan Gado-Gado dihidangkan untuk para tamu dengan sistem Buffet.

Dengan diadakannya acara Act of Bhinneka, panitia beserta PPIJ Leipzig berharap agar seni dan budaya Indonesia bisa lebih dikenal oleh masyarakat lokal di Leipzig maupun di Jerman, tetapi juga kedepannya dimata dunia.

 

 

Categories
Eropa dan Amerika PPI Dunia PPI Negara Travel & Kuliner Wawasan Dunia

Travel Guide Hannover

Pada tahun 2018 ini, PPI Jerman mendapatkan kehormatan untuk menjadi tuan rumah Simposium Amerika-Eropa yang diselenggarakan berbarengan dengan International Conference of Integrated Intellectual Community (ICONIC) 2018. Kedua acara ini dilaksanakan pada tanggal 27-29 April 2018 di Hannover, Jerman. Untuk menyambut para tamu, panitia ICONIC-SAE bersama PPI Hannover mengeluarkan booklet panduan wisata bagi kawan-kawan yang ingin berkeliling tempat-tempat menarik di Hannover.

Booklet panduan wisata Hannover dapat diunduh di bawah ini.

 

 

Profil Penulis:

Booklet oleh Panitia ICONIC-SAE bersama PPI Hannover

 

Categories
Eropa dan Amerika PPI Negara Travel & Kuliner Wawasan Dunia

OKTOBERFEST: Festival Rakyat Terbesar di Dunia

Suasana Oktoberfest

Oktoberfest, atau yang dalam bahasa lokal disebut Wiesn, merupakan festival rakyat tahunan yang orisinilnya diadakan di kota Munich, atau München (bahas Jerman) atau Minga (bahasa Bavaria). Sekarang, banyak kota lain di dunia, bukan Jerman saja, yang mengadakan acara serupa, tapi tidak sebesar dan semeriah acara aslinya. Lebih dari enam juta orang dari seluruh dunia setiap tahunnya menyambangi festival yang sudah diadakan untuk ke-184 kalinya tahun ini. Omong-omong, walaupun namanya Oktoberfest, festival yang dikunjungi sekitar lima juta pengunjung tiap tahunnya ini sebenarnya dimulai dari kisaran pertengahan September sampai awal Oktober. Jadi, kalau mau berkunjung, jangan salah tanggal ya..

 

Sejarah festival ini bermula dari pesta pernikahan pangeran Bavaria Ludwig dan putri Theresia pada tahun 1810, raja pun mengundang seluruh rakyat di Munich untuk merayakan pesta pernikahan mereka di sebuah padang rumput luas yang diberi nama seperti sang permaisuri Thereseienwiese (padang rumput Theresia). Dari situ lah kata Wiesn berasal. Sampai sekarang, festival ini masih diadakan di lokasi tersebut. Jadi, bukan seluruh kota Munich.

 

Tipikal dari Oktoberfest adalah banyak tenda bir lokal, dimana pengunjung bisa menikmati makanan khas Bavaria (Schweinhaxe, Kaiserschmarrn, Schweinebraten, dll.) dan juga bir Bavaria yang terkenal, atau disebut Helles. Berhubungan tentang bir, harga bir di Oktoberfest itu biasanya lebih mahal dari bir di bar-bar lokal, kisaran 12€ atau seratus delapan puluh ribu rupiah untuk satu liter, dan biasanya bir di Oktoberfest sedikit lebih keras dari biasanya.

 

Terus, kenapa kalau lebih mahal, orang-orang masih ke Oktoberfest dibanding ke bar-bar lokal? Karena atmosfir di dalam tenda bir itu yang unik. Suasana yang seperti itu cuma ada waktu Oktoberfest. Orang-orang dari berbagai negara bisa bernyanyi dan menari, ada band lokal yang memainkan lagu lokal atau tradisional Bavaria, para pengunjung menggunakan pakaian daerah Lederhose (celana kulit untuk pria dan wanita) atau Dirndl (gaun tradisional untuk wanita). Tapi untuk bisa merasakan itu semua, pengunjung harus rela mengantri super pagi atau berharap ada tempat kosong di tenda, karena festival ini super penuh. Menurut para pekerja disana, para pengunjung yang datang pagi-pagi ini mau mengikuti ’Oktoberfest Marathon’, alias berlari-lari mengejar bir.

Pakaian tradisional Bavaria

Kalau di dalam tenda tidak ada tempat, pengunjung bisa ke Biergarten dari lokal yang bersangkutan. Itu merupakan tempat terbuka, tidak harus taman, dimana orang juga bisa duduk-duduk santai sambil ngobrol dan minum bir. Alternatif dari itu, ada namanya Oide Wiesn. Itu merupakan suatu daerah kecil di dalam Oktoberfest, yang biasanya tidak seramai daerah lain. Harga bir juga lebih murah, tapi pengunjung butuh tiket khusus untuk masuk ke Oide Wiesn.

 

Selain minum bir bersama teman-teman dan pengunjung lain, banyak jajanan khas, serta wahana permainan yang bisa dicoba. Ada merry-go-round, Ferris wheel, roller coaster, dll. Ada kios-kios yang menjual snack ringan, kue, boneka, souvenir, dan pakaian khas tradisional Bavaria. Kalau teman-teman tertarik membeli, harganya bervariasi dari puluhan hingga ratusan Euro.

Suasana malam Oktoberfest

Festival yang lamanya dua minggu ini punya tema tiap harinya. Tergantung hari, pengunjung bisa dapat korting harga, konser, perarakan, atraksi, dll. Omong‑omong kalau kalian berpikir, semuanya harus tentang bir sewaktu Oktoberfest, semua pengunjung sebenarnya juga bisa memesan minuman non-alkohol di setiap tenda seperti softdrink, jus, dll. Jadi, kalau pergi ke Oktoberfest, tidak berart harus pulang dalam keadaan mabuk.

 

Berminat untuk mengunjungi Oktoberfest? Ada beberapa informasi penting yang harus kalian perhatikan. Yang pertama, bagaimana cara pergi ke Munich? Karena Munich adalah salah satu kota besar di Jerman dan juga jadi tujuan banyak turis, transportasi menuju ke Munich sangat gampang. Pertama, bagi kalian yang berasal dari luar Jerman atau luar Eropa, pakai pesawat adalah solusinya. Via laman pencari tiket termurah ke Munich bisa langsung kalian genggam. Kedua, bagi kalian yang berasal dari dalam Jerman atau negara dekat Jerman seperti Austria, Italia, Ceko, Polandia, Swiss dan sekitarnya, bis dan kereta bisa jadi pilihan. Kunjungi laman penyedia jasa bus seperti flixbus.com atau goeuro.com dan laman penyedia jasa kereta seperti bahn.de atau ltur.de untuk mendapatkan tiket menuju ke Munich dengan harga lebih terjangkau daripada sang burung besi. Terakhir, sebuah moda transportasi yang jarang dilirik ataupun diketahui kawan di luar Jerman, mitfahren (nebeng). Melalui laman blablacar.de kita bisa menemukan orang yang menuju ke Munich pada tanggal tertentu dengan tarif tertentu lalu tinggal kontak orang tersebut untuk nebeng. Opsi ini akan sangat baik untuk kalian yang ingin merasakan sensasi lewat Autobahn tanpa batas kecepatan dan kesempatan ngobrol langsung dengan orang lokal, walau kebanyakan harus berbahasa Jerman.

 

Setelah sampai Munich, bingung mau tinggal di mana? Jangan takut, hostel maupun hotel bertebaran di Munich, mulai dari kelas melati sampai bintang lima semua ada sesuai budget kalian. Kunjungi laman aohostels.com dan jugendherberge.de untuk menemukan penawaran tempat tinggal murah di Munich, atau hubungi kawan kawan di Munich siapa tahu bisa memberikan penginapan secara murah.

 

Sudah sampai Munich, sudah dapat tempat tinggal tapi sekarang lapar? Banyak restoran dengan berbagai jenis masakan serta harga di Munich, sesuai dengan selera kalian. Mau makanan khas Bavaria lengkap dengan birnya? Kunjungi Lowenbräukeller di Stiglmaierplatz. Mau makanan halal? Kunjungi Antep Sofrasi atau Sara Restaurant di sekitaran Hauptbahnhof. Sayang Munich tidak punya kebab yang bisa dibanggakan seperti Berlin, tapi kami punya Currywurst halal di PommesFreunde, tersedia di Karlsplatz dan Pasing, cukup bilang saja mau Wurst halal, mereka pasti mengerti. Sudah kenyang? Waktunya keliling Munich dan menikmati perjalanan menggunakan sistem transportasi umum terbaik se-Jerman. Jangan lupa, rencanakan keberangkatan sedari jauh-jauh hari karena masa Oktoberfest merupakan masa paling susah mencari tiket ke dan penginapan di Munich. Tilik laman muenchen.de untuk informasi lebih lanjut tentang Munich, dan apabila ada pertanyaan bisa kontak PPI München di facebook.com/PPI.Muenchen.

Teman-teman PPI München di event Oktoberfest

Profil Penulis:
Rifki Surya adalah seorang mahasiswa Master Chemical Engineering di TU München, yang menjadi Ketua Divisi Hubungan Masyarakat PPI München periode 2017.

Zulfikar Adlan Nadzir adalah seorang mahasiswa Master ESPACE di TU München, sedang menjadi Ketua PPI München periode 2017.

Categories
Pojok Opini Suara Anak Bangsa

Diskusi Film Indonesia dengan RRI Voice of Indonesia

Film Indonesia telah menunjukkan kebangkitan dan pertumbuhan jumlah produksi yang menggembirakan. Dalam kesempatan ini, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) menghadirkan, Antonius (PPI Singapura) dan Merry Ajeng (PPI Jerman), masing-masing dalam program RRI Voice of Indonesia Youth Forum dan Kami Yang Muda pada tanggal 27 Maret 2017 masing-masing pada pukul 10.30 WIB dan 11.30 WIB.

Dalam program Youth Forum, Antonius mengatakan, “film Indonesia akhir-akhir ini sudah mulai berkembang, khususnya pada film laga yang bahkan diterima di mata internasional. Kelebihan dari Film Indonesia adalah pembuat film dapat mengenalkan budaya Indonesia yang kental dan kesan moral yang ditonjolkan. Tetap perlu ada perkembangan kualitas teknik penggarapan film dan kualitas akting. Sebagai penonton Indonesia, juga perlu lebih menghargai karya film dalam negeri yang disajikan.”

“Kebijakan sensor film seperti sensor kekerasan sebenarnya masih kontroversial. Penonton perlu mengerti mengenai perkembangan film bahkan anak-anak, di sinilah peran orang tua penting dalam membuat anak-anak mengerti makna dari tontonan yang disajikan,” lanjut mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Singapura tersebut.

Dalam program Kami Yang Muda, Merry berkata bahwa, “salah satu film Indonesia, The Raid, telah berhasil menjadi pembuka infiltrasi film Indonesia ke dunia internasional. Di Jerman, ada setidaknya 2 film Indonesia yang ditayangkan setiap tahunnya.”

“Dukungan pemerintah terhadap film Indonesia sudah sangat baik dengan hadirnya beberapa tokoh politik dalam premier beberapa film di Indonesia. Untuk para pemuda diharapkan ke depannya lebih berani mengeksplor keindahan alam Indonesia dalam film,” ujar mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan di Jerman tersebut.

Menurut Antonius dan Merry, harapan ke depan adalah Indonesia dapat lebih meningkatkan kualitas film yang disajikan, baik itu film layar lebar, sinetron, atau film pendek. Insan perfilman Indonesia diharapkan lebih berani dengan kreativitas mereka untuk membuat gebrakan baru dalam dunia film. Untuk para penonton, diharapkan lebih menghargai dan mencintai hasil karya film orisinal, terutama film dalam negeri. Maju terus perfilman Indonesia!

 

(Red CA, Ed F)

Categories
PPI Dunia Upcoming Event

Film Indonesia – Siaran RRI Bersama PPI Dunia

Tahun 1950 menjadi tahun pertama Indonesia berhasil menerbitkan Film. Belakangan ini, minat menonton Film Indonesia semakin bertambah dengan keberagaman tema yang disuguhkan. Jangan lewatkan bincang-bincang menarik mengenai Film Indonesia hanya di RRI VOI Senin, 27 Maret 2017!

Categories
Eropa dan Amerika PPI Dunia PPI Negara

Meriahnya Das Kultural Festival oleh PPI Stuttgart Jerman

Liputan Jerman – PPI Stuttgart Jerman sukses menggelar Das Kulturfestival, sebuah acara festival budaya  Indonesia di Stuttgart, pada Sabtu, pada  hari Sabtu, 3 Desember 2016 yang lalu di Bürgerhaus Möhringen,  Stuttgart dari  pukul 16.00-21.30 waktu setempat. Diselenggarakan setiap dua tahun sekali, Das Kulturfestival tidak hanya menampilkan tarian-tarian  budaya, film pendek, musik  tradisional dan teater  bayangan, tetapi juga menyuguhkan bazar kuliner tradisional  dan pameran orangutan. Kehadiran sekitar delapan ratus orang pengunjung pun menjadikan acara ini sukses menyedot perhatian warga sekitar. 

whatsapp-image-2016-12-14-at-00-04-40Teater bayangan pada Das Kulturfestival 2016

whatsapp-image-2016-12-14-at-00-04-05
Bazar makanan khas Indonesia

Acara di panggung utama menghadirkan dramaturgi yang  merupakan kombinasi dari film- film pendek yang berhubungan  dengan penampilan di panggung  atau tema yang akan diangkat.  Semua pertunjukan tidak  menitikberatkan pada budaya yang  ditampilkan, melainkan lebih menonjolkan aspek manusia yang menampilkan  budaya tersebut. Sementara itu, pameran  orangutan diselenggarakan secara bersamaan di ruangan yang berbeda. Pameran ini sendiri terdiri  dari pameran foto, film  pendek, serta berbagai  informasi terkait kondisi orangutan di Kalimantan saat  ini, seperti pengaruh kebakaran hutan,  pengaruh ladang sawit, upaya  penyelamatan orangutan dan habitatnya, serta hubungan di antara berbagai elemen tersebut.  Pada penghujung acara ditampilkan film dokumenter pendek mengenai manusia  Indonesia, seperti  kepercayaan, cara  hidup, arti kebahagiaan, dan sebagainya. Acara kemudian ditutup para  performer dengan bernyanyi “ Indonesia Pusaka” bersama-sama.

whatsapp-image-2016-12-14-at-00-04-04-1
Pertunjukan budaya Indonesia

Das Kulturfestival kali ini mengangkat ‘Manusia Indonesia’ sebagai tema utama. Hal ini dimaknai dengan manusia sebagai pemeran aktif dari perkembangan dan pelestarian  budaya mereka sendiri, yang  terlahir sebagai ekspresi  dari cara hidup, kepercayaan,  pengalaman, dan lain  sebagainya. Interaksi antar manusia Indonesia dengan  alamnya yang sangat beragam  tercermin melalui keragaman kebudayaan. Akan tetapi, perbedaan suku, budaya,  bahasa, kepercayaan, bahkan  status sosial dan ekonomi  bukanlah alasan untuk hidup  terpisah-pisah. Sebaliknya,  semua itu merupakan alasan  untuk hidup bersatu dalam perbedaan.

whatsapp-image-2016-12-14-at-00-04-03
‘Manusia Indonesia’, tema utama Das Kulturfestival 2016

Melalui acara ini pula semangat “Bhinekka Tunggal  Ika” diperkenalkan dan ditunjukkan langsung kepada publik  Jerman serta publik  internasional lainnya. Salah satu alasannya adalah karena budaya manusia Indonesia yang  bersatu dalam perbedaan patut  untuk dijadikan contoh,  terutama di era globalisasi seperti sekarang ini. Hal ini juga selaras dengan pesan utama yang ingin  disampaikan dalam acara ini, yaitu bahwa terlepas dari  berbagai perbedaan, semua  manusia pada hakikatnya adalah sama. Selain itu, dengan diadakannya acara festival budaya Indonesia ini, diharapkan dapat memperkenalkan keanekaragaman budaya Indonesia kepada masyarakat Jerman, mempererat tali persaudaraan sesama masyarakat Indonesia, melestarikan budaya Indonesia, menghargai  keberadaan para leluhur, dan tak ketinggalan sebagai ajang untuk bergembira bersama. 

Categories
Eropa dan Amerika PPI Negara Suara Anak Bangsa Upcoming Event

BERBURU BEASISWA ke JERMAN

Halo teman-teman semua! Hari Minggu, 18 Desember 2016 pukul 21:00-24:00 WIB, Radio PPI Dunia akan live bersama narasumber kita Novi Andryani Teguh, mahasiswi Master of Water Resources Engineering and Management di Universität Stuggart Jerman. Mba Novi sendiri adalah penerima beasiswa DAAD Jerman. Pasti pada bertanya-tanya dong apa itu beasiswa DAAD? Kalau kepo, jangan sampai ketinggalan siaran kali ini ya guys bersama host Radio PPI Dunia SS Astari (Jepang). Cocok banget untuk kalian semua para pemburu beasiswa khususnya ke Jerman.

Info lebih lanjut dibawah ini :

unknown

Ed(AASN)

Categories
Upcoming Event

“World TV Day: Konten dan Peran TV”

Halo sobat PPI Dunia dimanapun berada!

Dalam rangka perayaan WORLD TV DAY, PPI Dunia bekerjasama dengan RRI Voice of Indonesia akan melangsungkan siaran lagi nih besok Senin, 21 November 2016.

Dalam segmen youth forum, akan hadir bersama kita Rikza Azriyan, mahasiswa Master of Computer Engineering di Jerman, yang merupakan Founder dan CEO dari PPI TV.

Dan dalam segment KAMU, akan ditemani oleh narasumber kita, Muhammad Ainul Yaqin, mahasiswa S1 Computer Science of Multimedia Design di Taiwan.
Jangan sampai kelewatan ya teman-teman, catat waktunya! 🙂

Info selengakpnya dibawah ini.

 

s__93683759

Categories
Berita Eropa dan Amerika PPI Dunia PPI Negara

Prof. BJ Habibie membuka ICONIC 2016 di Jerman

Liputan Jerman – Prof. BJ Habibie membuka ICONIC 2016 yang diselenggarakan oleh PPI Jerman pada tanggal 29-30 Oktober 2016 lalu di Hamburg, Jerman. Acara ini memiliki tema Industrial Revival yang bertujuan untuk memacu pertumbuhan industri di Indonesia. Enam puluh (60) buah makalah mahasiswa Indonesia dalam berbagai bidang dipresentasikan selama dua hari secara paralel.

Dalam sambutannya, Prof. BJ Habibie menekankan untuk bekerja sama yang saling mendukung dan menguntungkan serta menanamkan cinta dalam setiap segi kehidupan. “Kunci kehidupan adalah cinta dalam arti yang luas, baik cinta kepada Tuhan YME, cinta kepada sesama manusia, sesama karya manusia, keluarga, pekerjaan, serta cinta kepada tugas yang diberikan,” papar beliau.

Sekretaris Direktorat Jenderal ILMATE, Ir. Hasbi Assidiq, juga turut hadir dan memberikan paparan singkat mengenai perkembangan perindustrian di Indonesia pada tahun 2016. Hari pertama kemudian ditutup dengan diskusi pararel oleh para pelajar yang sudah mengumpulkan paper masing-masing.

Pada hari kedua, Ketua Dewan Riset Nasional, Dr. Ir. Bambang Setiadi memberikan paparan mengenai peningkatan riset dan inovasi. Kemudian dilanjutkan oleh pakar ekonomi Faisal Basri, MA yang membahas mengenai akselerasi industrialisasi. Tidak ketinggalan pula Dr.rer.nat. Ahmad Saufi, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Berlin, yang turut memberikan penjelasan mengenai peranan mahasiswa Indonesia di Jerman.

Seperti yang dilansir dalam reportase PPI TV oleh Galih Bangga, konferensi ilmiah ini bertujuan untuk mempertemukan para pelajar Indonesia di seluruh dunia. Anastasya Shierly Apriliani, salah satu peserta ICONIC 2016 dari Jakarta ini menegaskan bahwa ICONIC sangat penting bagi mahasiswa karena merupakan wadah dalam menerapkan teknologi. “Ilmu yang dipelajari di universitas perlu dikembangkan, terlebih lagi dalam sektor industri,” papar Anastasya.

Selain itu, peserta dari Stuttgart, Novi Andriany, menyatakan bahwa paper yang ditampilkan menunjukkan bahwa prestasi dan kualitas mahasiswa Indonesia tidak perlu diragukan. “Keynote speaker yang hadir membuat kita aware karena kita semua bisa tahu apa yang sedang terjadi di Indonesia meskipun saat ini sedang menempuh studi di luar Indonesia,” jelas Novi.

“Semoga acara ini dapat menjadi penyemangat pemuda pemudi di Indonesia untuk berkarya dan menciptakan hal-hal yang baru,” tutup Rikza Azriyan dalam reportase PPI TV. (Red, pw)

 

Page 1 of 3
1 2 3