logo ppid

“What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.”

- William Shakespeare, Romeo and Juliet

 

Adalah Verona, suatu kota di utara Italia, tepatnya di Region Venneto. Satu kota kecil nan cantik yang menyimpan cerita cinta dari abad pertengahan yang di tuliskan kembali dalam bentuk tragedi teatrikal oleh William Shakespeare dengan judul Romeo and Juliet atau Romeo e Giulietta dalam bahasa Italia.

Verona dari atas bukit

Kisah cinta dua remaja yang berasal dari dua keluarga yang bertikai di Verona pada zamannya harus berakhir tragis karena keduanya tewas dengan meminum racun. Dari cerita cinta klasik yang di-endorse oleh Shakespeare inilah kota Verona didatangi banyak pengunjung. Seandainya kejadian yang sama terjadi saat ini di Italia mungkin akan langsung dilakukan penyelidikan dugaan keterlibatan keluarga mafia. Sementara kalau kejadian itu terjadi di Jakarta pada saat ini, paling–paling hanya akan masuk koran Poskota atau Lampu Hijau lengkap dengan jenis racunnya, apakah itu insektisida jenis obat nyamuk, cairan pembersih lantai ataupun cukrik.

Untuk mendatangi kota asal cerita Romeo dan Julliete ini bisa di tempuh dari Milan ataupun Bologna dengan menggunakan kereta regional (semacam kereta KRL) dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 20 menit, tiket dan jadwal kereta bisa dilihat di sini www.trenitalia.com, pilih tujuan Verona Porta Nuova. Teman-teman tidak perlu membeli tiket bus lagi untuk berkeliling kota, siapkan saja kaki yang kuat dan koyo untuk mengobati kaki pegal atau kram setelah keliling kota.

Arena

Masuk ke kota Verona akan di sambut oleh Arena, sebuah amphitheater yang dibangun zaman Romawi dan masih digunakan sampai sekarang untuk pertunjukan opera dan musik dengan harga tiket opera mulai dari 25 EUR. Seperti halnya kota-kota Italia dengan tata kota berbentuk lingkaran dengan alun-alun sebagai pusat kota (centro), maka Verona juga demikian. Pusat kotanya ada di Piazza Delle Erbe yang biasanya ada macam-macam festival dan pasar dadakan tergantung musimnya. Di Piazza Delle Erbe ini ada Torre Dei Lamberti, sebuah menara yang terbuat dari bata merah yang di atasnya terdapat jam dinding ukuran raksasa.

Di Piazza delle Erbe ini banyak terdapat restoran, pizzeria dan kafe. Ada pula toilet umum yang cukup besar dan bersih. Mungkin karena banyaknya turis pemerintah setempat berinisiatif membangun fasilitas toilet umum. Dari Piazza delle Erbe ini sudah terlihat tanda-tanda petunjuk arah untuk menuju ke rumahnya Juliet (Casa di Giulieta) dan rumahnya Romeo (Casa di Romeo).

Rumah Juliet

Di rumah Juliet akan ditemui dinding yang penuh coretan nama–nama pasangan, selain coretan ada juga yang menempelkan stiker dan post-it note. Di sebelah dinding coretan ada pagar dengan gembok warna–warni yang tertulis nama-nama pasangan, ceritanya biar cintanya abadi, layaknya cinta Romeo dan Juliet.

Atraksi utama dari rumah Juliete adalah patung Juliet yang terletak di halaman. Entah mengadopsi kepercayaan pagan dari mana, tradisi pengunjung yang ke sini adalah foto sambil memegang payudara patung Juliet. Sungguh bukan objek wisata yg baik untuk anak-anak di bawah umur.

Kalau ada duit berlebih bisalah masuk ke dalam rumah Juliet dengan membayar sekitar 6 EUR. Di dalam rumah Juliet bisa masuk ke kamar tidur Juliet sambil foto-foto di balkon biar lebih menghayati romansa cinta mereka, karenanya banyak pasangan yang foto–foto di balkon ini. Jadi untuk para jomblo atau yang habis di tinggal pacar, saya sarankan jangan masuk ke rumah Juliet, berat kamu tidak akan sanggup, daripada memancing huru–hara karena hati yang merana lebih baik cari spot-spot foto yang instagramable saja di seantero Verona.

Patung Juliet

Tidak sampai 500 meter dari rumah Juliete ada rumah Romeo. Ternyata si Romeo dan Juliet hidup satu RT, tidak heran mereka bisa bertemu dan saling jatuh cinta, satu kegiatan karang taruna ternyata dulunya. Rumahnya Romeo tidak sedramatis rumah Juliet, hanya sebuah gedung ala medieval yang terbuat dari batu bata dan tidak ada patung Romeo juga. Suatu bukti bahwa wanita lebih laris untuk dikomersilkan daripada laki-laki.

Kalau mau lebih menghayati cerita Romeo dan Juliet perjalanan bisa di lanjutkan ke makamnya Juliete (Tomba di Giulieta) yang berjarak satu kilometer lebih dari rumah Romeo, mungkin teman-teman ada yang ingin ziarah kubur ke makamnya Juliete dan mendoakan agar arwah almarhumah diterima di sisi Tuhan.

Untuk mendapatkan foto–foto yang Instagramable bisa melipir ke Castelvechio (jembatan tua) dan menyeberangi sungai menyusuri bagian kota yang lain lalu foto–foto di atas bukit atau pinggiran sungai. Datanglah saat musim semi, saat bunga-bunga mawar bermekaran maka akan terasa romantisme medieval-nya.

Sebelum ke Verona jangan lupa cek ramalan cuaca dulu, karena sewaktu saya ke Verona ternyata hujan seharian, foto-fotonya jadi kurang maksimal. Terakhir saya sarankan dandan yang cakep karena orang–orang di Verona banyak yang good looking dengan gaya fesyen yang clean, elegan dan tidak flashy. Siapa tahu pas lagi jalan bisa kenalan sama yang good looking di Verona, mungkin seseorang dari keturunan keluarga Capulete atau dari keluarga Montague.

 

Profil Penulis:

Primaditya Riesta, atau Ita adalah MBA candidate di Bologna Business School. Anggota PPI Emilia Romagna. Tulisannya terdapat di Kompasiana dan juga blog pribadinya itaitay.blogspot.it. Berniat jadi entrepreneur dan penulis full-time. Bisa disapa di Instagram @ita_itay.

Hari Hak Asasi Manusia: Hargailah perbedaan pendapat

Hari Hak Asasi Manusia (HAM) diperingati setiap tanggal 12 Desember sebagai bentuk penghormatan terhadap proklamasi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pada 10 Desember 1948 oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Di Indonesia, pengaduan paling banyak adalah mengenai hak atas kesejahteraan, seperti sengketa kepemilikan tanah dan kepegawaian.

Pada hari Senin (12/12/16), PPI Dunia menghadirkan dua pelajar Indonesia masing-masing dalam diskusi dua siaran RRI Voice of Indonesia mengenai Hari Hak Asasi Manusia. Dua mahasiswa tersebut adalah Leroy Christian Purnama, mahasiswa International Business di Universitas Haaga-Helia, Finlandia, dalam program Youth Forum dan Patricia Iriana, mahasiswi Political & Social Cooperation and Development di Universitas Della Calabria, Italia dalam program KAMU (KAmi yang Muda).

“Edukasi adalah sesuatu kesempatan yang sangat berharga yang harus dimanfaatkan seoptimal mungkin. Tidak ada alasan untuk meninggalkan sekolah apalagi karena bully atau perkara lainnya. Bullying di sekolah sudah merupakan pepatah lama yang termasuk kasus pelanggaran HAM. Peran guru sangat penting dalam meminimalisir hal ini untuk menciptkan lingkungan sekolah yang nyaman dan kondusif,” terang Leroy,mahasiswa yang sedang melanjutkan studinya di Finlandia tersebut.

“Sebagai seorang pemuda, kita harus paham mengenai makna dan cara menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia. Pertama kita harus tahu bagaimana cara menghargai diri sendiri dan kemudian yang paling mendasar adalah menghargai orang lain, misalnya menghargai teman yang memiliki pendapat berbeda dalam suatu hal,” tegas Leroy dalam program Youth Forum.

“Perbedaan sistem penghormatan pemerintah terhadap Hak Asasi Manusia memang lebih baik di Italia dalam konteks lebih memberikan kesempatan untuk aktualisasi diri,” lanjut Patricia, mahasiswi yang sedang melanjutkan studinya di Italia tersebut.

“Hendaknya seorang harus selalu memperhatikan toleransi terhadap hak orang lain ketika mengutarakan pendapat. Teruslah membangun dari pribadi sendiri untuk membentuk karakter yang lebih baik dan positif. Dalam bentuk pendapat berupa demonstrasi, itu lazim tetapi harus tetap didasari dengan rasa tanggung jawab dengan tidak melanggar hak asasi orang lain, dan tetap dalam satu rasa persatuan NKRI,” terang Patricia dalam program Kami yang Muda.

Baik Leroy maupun Patricia menyatakan bahwa, perkembangan dunia maya tidak terbendung dalam memberikan pengaruh positif maupun negatif terhadap hal positif dan negatif dalam cara HAM. Solusi yang paling tepat adalah edukasi agar seseorang secara individual tidak terpengaruh dengan hal-hal negatif yang disodorkan. Peran keluarga juga penting dalam menanamkan hal-hal positif dan cara menyikapi sesuatu.

Dengan ini, akan membentuk masyarakat yang bersikap cerdas dalam beropini di dunia maya.

(CA/AASN)

Hari Pangan Dunia: Teknologi dan pendidikan pangan

Hari Pangan Dunia atau World Food Day dirayakan setiap tahunnya pada 16 Oktober, bertepatan dengan tanggal berdirinya Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO). Hari tersebut dirayakan serentak oleh banyak organisasi yang terkait dengan ketahanan pangan. Hari Pangan Dunia tahun ini datang dengan tema "Iklim berubah, begitu juga harusnya makanan dan pertanian.”

Pada hari Senin (17/10/16), PPI Dunia menghadirkan dua mahasiswa Indonesia masing-masing dalam diskusi dua siaran RRI Voice of Indonesia mengenai World Food Day. Dalam program KAMU (KAmi yang Muda), Rajiansyah mahasiswa S2 Jurusan Computer Science and Management di Wroclaw University of Technology Polandia,menjadi narasumber kita. Sedangkan dalam program Youth Forum, Renzky Kurniawan, mahasiswa S1 Jurusan Culinary Management Majoring in Italian Cuisine di KDU University College dan ALMA La Scuola Internazionale,Cucina Italiana, juga bergabung menjadi narasumber kali ini.

Dalam program KaMU, Raji memaparkan bahwa hari Pangan Sedunia adalah simbolis kepedulian dan penyetaraan untuk menciptakan kondisi ketersediaan pangan yang cukup tanpa adanya kelaparan. “Seperti tema yang diusung tahun ini, makanan dan agrikultur harus beradaptasi dan tetap berkembang seperti adanya perubahan iklim,”terang Rajiansyah

“Indonesia sebenarnya adalah surga pangan. Iklim tropis membuat seluruh tanaman dan buah dapat tumbuh dengan baik. Masalah yang ada hanya pada sistem pengelolaan dan teknologi pangan. Selain itu, masyarakat harus cukup cermat dalam memilih bahan pangan untuk mencegah kondisi kekurangan pangan. Misal, bagi warga Indonesia masih menganggap bawha jika tidak makan nasi berarti ‘tidak makan.’ Padahal sumber karbohidrat bisa ditukar dengan kentang, roti, dan sebagainya. Seperti di Polandia, sumber karbohidrat bisa berbeda-beda dari gandum untuk sarapan, kentang untuk makan siang, dan roti untuk makan malam,”papar mahasiswa yang mengenyam pendidikan di Polandia.

Dalam Youth Forum, Renzky menyatakan bahwa pangan tentunya dalam bentuk makanan adalah salah satu bidang yang tidak dapat terpisah dari kehidupan manusia. “Mempelajari bidang kuliner tidak hanya belajar memasak, tetapi juga mempelajari gastronomi dari makanan itu sendiri. Saya memiliki ketertarikan dalam mempelajari kuliner Italia untuk memperkaya pengetahuan selain kuliner Indonesia. Makanan Indonesia memiliki lebih banyak bumbu dan rempah yang lebih banyak dibandingkan makanan dari Italia,” terang mahasiswa tingkat akhir di bidang kuliner tersebut.

“Dalam pengembangan kuliner di Indonesia, perlu adanya kursus atau pendidikan khusus mengenai kuliner Indonesia. Walaupun begitu, masalah utama dalam pengembangan kuliner Indonesia adalah tidak seluruh kaum muda menyukai kultur, lebih spesifik lagi ke kuliner Indonesia. Padahal, kuliner Indonesia sudah cukup dikenal di dunia luas,”ungkap Renzky yang juga menjabat sebagai Chief Deputy of Education Indonesian Chef Association Kalimantan Timur. “ Seperti kuliner dari Kalimantan Timur, rasa atau bumbu unik makanannya dapat menjadi sesuatu yang dapat dikenalkan di tingkat dunia. Misal, nasi kuning dan gami bawis (ikan gabus yang dimasak dengan saus manis pedas).”

Baik Rajiansyah dan Renzky menyatakan bahwa pangan atau kuliner Indonesia masih harus tetap dikembangkan. Perlu pengembangan pendidikan dan teknologi pangan atau kuliner yang lebih lanjut untuk mendukung sistem ketahanan pangan dan tentunya membawa kuliner Indonesia lebih dikenal lagi di dunia internasional.

(CA/AASN )

Kata 'makanan' tentu sangat akrab di telinga kita. Mendengar kata ini, mungkin pikiran kita akan terbawa pada sesuatu yang lezat yang kita konsumsi paling tidak tiga kali setiap harinya. Tanpa asupan makanan, perut akan terasa lapar dan badan kita pun menjadi lemas.

Namun, tahukah Anda bagaimana kondisi pangan dunia sekarang ini? Atau, apa saja isu-isu dalam bidang kuliner yang sedang trend akhir-akhir ini? Kalau penasaran, simak siaran PPI Dunia bersama RRI bertajuk "World Food Day" pada hari Senin, 17 Oktober 2016, bersama Renzky Kurniawan (PPI Italia) dalam program Youth Forum dan oleh Rajiansyah (PPI Polandia) dalam program KAMU (Kami yang Muda). Akan ada berbagai pengetahuan menarik yang dapat sobat-sobat PPI Dunia dapatkan. Jangan sampai terlewat!

kakaotalk_20161010_073936770

WhatsApp Image 2016-08-25 at 15.41.45Liputan Jakarta, Perwakilan Perhimpunan Pelajar Indonesia Sedunia (PPI Dunia) mendatangi kantor NET TV pada hari Rabu 24 Agustus 2016 lalu. Para pelajar Indonesia yang datang dari berbagai negara ini mengadakan pertemuan ekslusif dengan pihak NET TV dengan tujuan mempererat hubungan antara PPI Dunia dengan NET TV.

Acara yang berlangsung selama 4.5 jam ini dihadiri oleh dua puluh satu pelajar PPI dari 10 perwakilan PPI Negara yaitu Italia, Russia, Jerman, Sudan, Maroko, Yordania, Saudi Arabia, Turki, Pakistan, Tunisia. NET TV manghadirkan dua belas personilnya yang tergabung dalam tim NET CJ (Citizen Journalist) beserta CEO dari pihak NET TV sendiri yaitu bapak Wishnutama.
WhatsApp Image 2016-08-25 at 18.10.49

Harapan dari diskusi kali ini adalah supaya PPI Negara ikut berkontribusi untuk memajukan PPI Dunia, turut membantu
dalam hal apapun untuk kemajuan negara serta memberikan semangat yang positif sebagai pelajar Indonesia yang belajar di luar negeri.
Dalam pertemuan yang penting ini para pelajar tersebut juga mendapatkan beberapa masukan dari Bapak Wishnutama. "Pelajar Indonesia harus menjadi pribadi yang selalu terbuka dan menghormati budaya di negara orang agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ke depannya," tegas Bapak Wishnutama.

WhatsApp Image 2016-08-25 at 18.10.33NET TV akan selalu mensupport PPI Dunia dalam bidang siaran dan video. PPI Negara dapat memanfaatkan siaran dan video sebagai platform untuk publikasi. Selain itu PPI Negara juga dapat menyampaikan aspirasinya melalui platform tersebut. "Pelajar Indonesia harus memanfaatkan hubungan yang baik ini melalui PPI Dunia karena akan berguna untuk masa depan," jelas bapak Wishnutama. (Red, Wanda, Ed, PW)

 

Jakarta, Minggu 26/6/16 lalu PPI Dunia sukses menggelar acara silaturahmi dan buka puasa di kantor Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta. Acara ini dihadiri oleh mantan koordinator PPI Dunia Ahmad Almaududy Amri periode 2014 - 2015, Ketua PPI rkrki, Ketua PPMI Saudi Arabia, Ketua PPI Italia, Koordinator Biro Pers PPI Dunia, Alumni PPI dunia dari berbagai kawasan dan Perwakilan BEM di Indonesia.

Acara Silaturahmi ini diawali dengan kata sambutan yang disampaikan oleh Koordinator Biro Pers PPI Dunia 2015 - 2016 Dewi Anggrayni. Menurutnya, acara ini digelar bertujuan untuk menguatkan silahturahmi PPI Dunia dengan PPI Negara, alumni dan juga Dewan Presidium yang selama ini melakukan komunikasi dan koordinasi melalui media sosial saja.

"Silaturahmi ini bertujuan untuk menguatkan hubungan PPI Dunia dengan PPI negara, alumni dan juga Dewan Presidium. Selama ini komunikasi dan koordinasi dilakukan by online dan saat inilah moment yang pas untuk berkumpul untuk lebih mengenal satu sama lain, dan kenapa di RRI, karena RRI telah menjadi mitra selama beberapa tahun terakhir memublikasikan aktifitas PPI Negara anggota PPI Dunia," ucap Dewi.

Rangkaian kegiatan silahturahmi dimulai dengan sosialisasi simposium internasional yang akan berlangsung juli mendatang oleh perwakilan panitia SI Cairo, Ahmad Bayhaki.

"Pertemuan yang sangat bermanfaat dan mendambah ilmu. Acara seperti ini dipertahankan dan lebih diaktifkan lagi forum diskusinya," Ucap Bayhaki.

Live ON AIR

Acara buka puasa ini juga disiarkan langsung melalui siaran Kampung Halaman RRI yang diisi oleh perwakilan Dewan Presidum periode 2015-2016 Imam Khairul Annas dan Dewi Anggrayni, Dhafi Iskandar Alumni PPI Dunia dan perwakilan PPI Negara Intan Irani PPI Italia, Padma Nabhan PPI India, Ahmad Bayhaqi Maskum PPMI Mesir.

Selanjutnya perwakilan alumni mengisi acara dengan bedah buku yang berjudul “Dari Kami untuk Negeri”. Buku karya Dewan Presidium PPI Dunia periode 2014 - 2015 ini dipaparkan singkat oleh Ahmad AlMaududy Amri.

"Buku ini berawal dari simposium di Jepang pada tahun 2014, kami dari perwakilan PPI Dunia berinisiatif untuk menuliskan kisah kami selama berkuliah di luar negeri sebagai kontribusi untuk bangsa untuk menyemangati teman-teman di Indonesia yang ingin berkuliah di luar negeri," jelas Dudy.

Dudy juga memaparkan dengan singkat isi dari buku "Dari Kami untuk Negeri" yang mengisahkan pengalaman mahasiswa Indonesia yang berkuliah di luar negeri dan juga berorganisasi di waktu yang bersamaan.

"Kami mengisahkan pengalaman organisasi, tantangan kehidupan di luar, kejadian-kejadian mahasiwa indonesia di luar negeri juga tantangan perkuliahan," tutur Dudy.

Setelah pemaparan singkat oleh Dudy, acara dilanjutkan dengan bedah buku dari salah satu teman alumni PPI Dunia yang berjudul “Merangkul Beruang Merah.”

Buku Merangkul Beruang Merah mengisahkan perjalanan hidup penulis, Ade Irma Elvira tentang proses perkuliahan beliau di Rusia dimulai dari memohon restu orang tua hingga tantangan ekonomi juga akademiknya di Rusia.

"Buku ini menceritakan tentang pengalaman saya selama di Rusia, di kota Moskow yang penuh tantangan. Harapannya semoga buku ini nantinya bisa di-film kan agar dapat memotivasi dan menyemangati pemuda Indonesia untuk melanjutkan studinya," jelas Ade.

Penulis juga menambahkan kata mutiara yang ia sampaikan untuk pembaca

"Halangan dan rintangan bukanlah hal yang membatasi diri kita untuk maju"

1

Acara dilanjutkan dengan tausiah dari perwakilan PPMI Saudi Arabia , Abudzar Mandaili hingga azdan Maghrib berkumandang. Kemudian, perkenalan dari setiap peserta dan diskusi mengenai situasi terkini di Turki pasca ledakan bom di Turki. Azwir juga menggambarkan situasi singkat kehidupan mahasiswa Indonesia di Turki. Azwir, ketua PPI turki menyampaikan harapannya mengenai situasi yang sedang terjadi di sana.

"Kami memohon doa kepada teman-teman PPI Dunia, agar situasi Turki tetap stabil dan aman. Juga teman kita yang tempo hari ditangkap cepat selesai proses hukumnya," jelas Azwir.

Acara ini ditutup dengan pembahasan singkat Simposium Internasional yang akan dilaksanakan di Cairo pada tanggal 24 – 28 Juli mendatang. Besar harapan peserta juga agar acara seperti ini dapat terus dilaksanakan. (Red, Nazla, Editor, dw/df)

*Siaran tersebut bisa langsung didengarkan melalui media player di bawah ini:

⁠⁠⁠⁠

Liputan Italia, Venice Biennale adalah salah satu organisasi budaya paling bergengsi semenjak 1895. Venice Biennale selalu terdepan dalam penelitian, pengembangan, dan penyebaran tren kesenian kontemporer terbaru dengan mengadakan berbagai pameran dan penelitian di berbagai bidang yang spesifik, seperti : Arts, Architecture, Cinema, Dance, Music, dan Theatre.

Menurut Intan Irani Ketua PPI Italia, tahun ini menyambut 15th International Architecture Exhibition Venice Biennale, sebanyak 23 orang arsitek Indonesia ikut ambil bagian dalam event ini.

“Tema Venice Biennale kali ini adalah Reporting From The Front dan dikepalai oleh Alejandro Aravena yang merupakan arsitek Chile, pemenang Pritzker Price 2016. Pritzker Prize sering disebut-sebut sebagai ekuivalen Nobel Prize dalam dunia arsitektur,” ujar Intan.

Arsitek asal Indonesia Budi Pradono yang merupakan leader Arsitek Indonesia dalam event ini menjelaskan, proyek ini mengangkat tema Fortress of Light. Tema ini mengilustrasikan isu pengungsi di Eropa. Karena ketidakstabilan negara asalnya, banyak pengungsi yang berjuang untuk memasuki perbatasan-perbatasan Eropa walaupun harus menantang maut.

Budi menjelaskan bahwa pendekatan design ini menghasilkan solusi organik yang dapat mengakomodasi para pengungsi dengan berbagai kebutuhan uniknya tanpa mengabaikan keteraturan dan peraturan dari sebuah design instalasi.

“ Tema inilah yang digunakan dalam setiap element instalasi arsitektur secara visual dalam event ini, untuk itu pihak kami perlu melibatkan PPI Italia khususnya pelajar Indonesia yang belajar arsitek untuk suksesnya event besar ini,” ungkap Budi.

Sementara itu Intan Irani, Ketua PPI Italia membenarkan keterlibatan PPI Italia dalam event besar yang melibatkan 23 arsitek asal Indonesia ini.

Menurutnya keterlibatan pelajar Indonesia dalam event ini lebih kepada suport secara teknikal saja. Bagaimanapun ada satu kebanggaan ketika arsitek Indonesia ambil bagian dalam event besar ini.

WhatsApp-Image-20160607 (2)

“PPI Italia dilibatkan 17-28 Mei saja, dan sejumlah pelajar Indonesia terlibat langsung secara pembuatan instalasi-nya dilapangan, mulai dari persiapan di Milan sampai turut dibawa oleh 4 pelajar Indonesia dalam rangka membantu Budi Pradono secara langsung di Venice” jelas Intan yang juga merupakan pelajar Master Arsitektur di Politecnico di Milano.

Lebih lanjut Intan menjelaskan, seluruh perakitan instalasi dikerjakan di Politecnico Milano, setelah proses perakitan selesai barulah hasil instalasi dipasang di venice Biennale.

Dua minggu sebelum event berlangsung di Venice, Florian Grossmayer, seorang pelajar Indonesia dari Wina, Austria datang sebagai person in charge untuk pelajar Indonesia yang terlibat sebagai volunteer, keseluruhan instalasi dan penanggung jawab kontak dengan pihak Budi Pradono.

Sementara itu, Apriani Sarashayu sebagai person in charge dari pihak pelajar menjelaskan, pengerjaan instalasi Pavilion Indonesia di Milan bertugas untuk persiapan material dan pemotongan material EPS (expanded polysterene).

Empat pelajar Indonesia di Italia yang bertugas sebagai volunteer berupaya untuk mendapatkan supplier yang mampu mengakomodasi kebutuhan material dengan cepat.

FullSizeRender

“Dari sekian banyak supplier akhirnya ditemukan satu supplier yang menyanggupi pesanan dengan waktu yang singkat. Setelah bahan baku didapat, dilakukan pemotongan modul bahan baku sesuai dengan blueprint dari pihak Budi Pradono,” ungkap Apriani.

Apriani menambahkan, pemotongan bahan baku dan pengemasan modul dilakukan selama tiga hari saja. Dengan bermodalkan tiga wire cutter dan kemampuan memotong yang presisi dan mumpuni, akhirnya modul-modul terkumpul semua dan siap untuk diboyong ke Venezia pada hari ke empat.

Pengerjaan Pavilion Indonesia di Venice fokus pada pembangunan instalasi. Dua pelajar Indonesia yang berasal dari kota Rimini; Eko Saputra dan Della Prita Nuary juga terlibat sebagai Volunteer. Mereka melakukan pengukuran terhadap ruang Pavilion Indonesia dengan menggunakan benang untuk persiapan pemasangan modul-modul EPS.

4 pelajar Indonesia di Italia akhirnya berhasil membantu menyelesaikan pembangunan instalasi dengan mengatur modul-modul EPS.

Pada pembukaan 28 Mei 2016 Pavilion Indonesia Fortress of Light di Palazzo Mora, Venice berdiri dengan anggunnya. Tamu-tamu undangan berdatangan ramai silih berganti untuk mengagumi pavilion nusantara ini dengan instalasi dan karya-karya yang di pamerkan. Pavilion Indonesia Fortress of Light dapat dikunjungi di Palazzo Mora, Venezia hingga 27 November 2016 mendatang. (Red.Dina, Editor. Dewi)

WhatsApp-Image-20160605

Liputan Italia, Cosenza, 11 Mei 2016 – Indonesia patut berbangga karna putra putri terbaiknya mampu bersaing dalam kompetisi musik Filadelfia tahun ini. Indonesia diwakili oleh 6 mahasiswa yang keseluruhannya berpartisipasi dalam kategori gitar klasik.

Mereka adalah Roby Handoyo, Adi Suprayogi, Vaizal Andrians, dan Gita Puspita Asri, tergabung dalam kelompok gitar kuartet “Nocturnal”, sedangkan kelompok berikutnya, “Duo Poeticos”, terdiri dari dua mahasiswa Indonesia lain, yakni Birul Walidaini dan Bagus Mardian, yang saat ini sedang menyelesaikan studinya di Università della Calabria (UNICAL) Italia.

Dari keenam partisipan yang ikut serta dalam kompetisi yang diikuti oleh 27 negara ini, Indonesia berhasil menguasai perlombaan di kelas Chamber Music kategori D dengan membawa dua prestasi membanggakan. Juara pertama kategori ini diraih tim guitar kuartet “Nocturnal" asal Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), sedangkan peringkat ketiga, di kategori yang sama, juga berhasil diperoleh duet “Due Poeticos”. Tambahan pencapaian tim Indonesia juga disempurnakan oleh Roby Handoyo yang turun di kelas Classical Guitar kategori Solo, dengan menyabet peringkat kedua di kategori tersebut.

CALABRIA 4

Septian Hadi, selaku perwakilan delegasi, mengaku sangat puas dengan pencapaian tim Indonesia secara keseluruhan. “Dengan kondisi bahwa seluruh anggota tim hanya terdiri dari mahasiswa, dan fasilitas serta instrumen peserta dari negara lain yang jauh lebih mumpuni, prestasi delegasi tahun ini kami dapat katakan melebihi harapan. Apresiasi atas keikutsertaan dan prestasi tim Indonesia datang dari pengunjung serta para peserta lainnya. Sebagai satu – satunya tim dari Asia Tenggara, Indonesia telah menunjukkan kepiawaian dan potensinya di kancah musik klasik mancanegara,” terang koordinator hubungan eksternal & internasional Perhimpunan Pelajar Indonesia di Calabria (PPI Calabria), tersebut.

Concorso Musicale Europeo tahun ini merupakan kompetisi kali kedelapan yang diselenggarakan oleh Associazione Musicale Melody bekerja sama pemerintah Città di Filadelfia. Selain Indonesia dan Italia sebagai tuan rumah, delegasi dari Meksiko, Finlandia, Polandia, Rusia, Amerika Serikat, Serbia, Bosnia, Lituania, Latvia, Spanyol. Belanda, Prancis, Jerman, Swiss, Belgia, Jepang, Korea Selatan, Republik Rakyat Tiongkok, Ukraina, Belarusia, Yunani, Norwegia, Estonia, Kroasia, dan Slovakia juga turut ikut berpartisipasi dalam kejuaraan ini.

CALABRIA 6

Keikutsertaan Indonesia di kompetisi musik dunia selanjutnya diharapkan akan semakin serius dengan persiapan yang lebih matang. Berikut penjelasan salah seorang peserta dalam format tanya-jawab yang telah kami rangkum beserta hasil lengkap dari keikutsertaan tim Indonesia dalam Concorso Musicale Europeo 2016 :

Bagaimana kamu bisa mengikuti perlombaan ini?

Pada dasarnya kami sudah mengikuti kompetisi ini pada tahun 2013 bersama Quartet Guitar “Sforzando,” dan meraih juara yang sama yaitu juara 3 kategori Chamber Musica “Stanislao Giacomantonio” di Cosenza, Italia

Sebagai pelajar Indonesia di Italia bisa menang pertandingan internasional seperti ini bagaimana perasaan kamu?

Kami senang sekali, di sela-sela padatnya jadwal perkuliahan, kami bisa menyempatkan waktu untuk berlatih bersama. Pada hari pelaksanaan kompetisi dengan persiapan yang ada, kami dapat menyelesaikan dan mendapatkan juara 3 kategori D Chamber Music, sesuatu hal yang menurut kami "di luar ekspektasi" mengingat peserta dari berbagai negara memiliki kapasitas yang luar biasa. Kami menyambut Ini adalah "hadiah" dari jerih payah kami, karena tidak ada kata-kata yang bisa mewakili seberapa besar rasa puas dan kegembiraan kita saat itu.

Apa rencana kamu selanjutnya setelah kemenangan ini?

Kami akan tetap berlatih untuk lebih mematangkan materi dan repertoar kami, untuk lebih baik kedepannya.

Di Indonesia asal dari mana dan sudah berapa lama belajar musik di Italia? Beasiswa atau biaya sendiri? Di kampus mana?

Saat ini kami mengambil dua gelar master pada 2 institusi, yaitu :

Birul Walidaini, asal Kediri Jawa Timur. Mahasiswa tahun kedua magistrale di Universita della Calabria jurusan "History of Art" (beasiswa), selain itu juga tercatat sebagai mahasiswa tahun kedua magistrale di conservatorio di musica "Stanislao Giacomantonio" di Cosenza, Italia Jurusan Classical guitar performance (non beasiswa).

Mardian Bagus Prakosa, asal Temanggung Jawa Tengah. Mahasiswa tahun pertama magistrale di Universita della Calabria jurusan "History of Art" (Beasiswa), selain itu juga tercatat sebagai mahasiswa tahun pertama magistrale di conservatorio di musica "Stanislao Giacomantonio" di Cosenza, Italia Jurusan Classical guitar performance (non beasiswa).

Pertanyaan Panitia

1. Dari mana ide pertandingan ini muncul? apakah sudah sering di Italia membuat event pertandingan musik internasional?

Kompetisi ini adalah kali ketujuh yang rutin diadakan setiap tahun dengan dukungan dari komisi eropa. Sebagai parameter perkembangan musik klasik di dunia.

2. Ada berapa peserta yang ikut dan background peserta apakah ada yg non mahasiswa?

Tahun ini tercatat 26 negara. Tidak hanya mahasiswa musik, Melainkan juga dosen dan profesor musik.

3. Bagaimana pandangan anda tentang pelajar Indonesia di Italia khususnya palajar musik?

Luar biasa, kami kagum orang asia bisa membawakan musik eropa dengan baik dan maksimal.

CALABRIA

Hasil lengkap dari keikutsertaan tim Indonesia dalam Concorso Musicale Europeo 2016:

1. Nocturnal Guitar Quartet (UNY) - Roby Handoyo, Adi Suprayogi, Vaizal Andrians, dan Gita Puspita Asri: Juara 1 kelas Chamber Music kategori D.

2. Due Poeticos (UNICAL) – Birul Walidaini dan Bagus Mardian: Peringkat 3 kelas Chamber Music kategori D.

3. Roby Handoyo (UNY) – Peringkat 2 kelas Classical Guitar kategori Solo. (Red. IMA, Editor. Dafi)

Liputan Belanda, Simposium PPI Dunia Kawasan Amerika dan Eropa kembali digelar di Rijswijk, Belanda dari tanggal 24 April 2016 sampai dengan Selasa 26 April 2016. Simposium kali ini mengusung tema “Memaknai Kembali Identitas Bangsa dalam Rangka Menghadapi Komunitas Asean.” Pada Simposium ini juga telah dihasilkan Rekomendasi Rijswijk yang terdiri dari 7 point penting untuk Indonesia.

Acara ini dihadiri oleh para delegasi yang terdiri dari 27 orang representatif dari beberapa PPI di kawasan Amerika Eropa, yaitu PPI Belanda, PPI Belgia, PPI Hongaria, PPI Jerman, PPI Italia, PPI Polandia, PPI Britania Raya, PPI Ceko, PPI Turki, PPI Portugal, PPI Prancis, PPI Rusia, PPI Estonia dan PPI Swedia mengikuti serangkaian acara yang dirancang oleh PPI Belanda, sebagai tuan rumah pada tahun ini.

Untuk meresapi kembali identitas bangsa, pada hari pertama para delegasi menyusuri kembali sejarah perjuangan Indonesia dalam acara Napak Tilas di Kota Leiden. Di kota Leiden, beberapa pahlawan Indonesia menetap dan berkarya untuk bangsa, serta mengenyam pendidikan di Universitas Leiden, yaitu Ahmad Soebardjo dengan pendidikan master dan Hussein Djayadiningrat yang berhasil meraih gelar doctor dengan predikat cumlaude.

Menurut panitia Simposium PPI Amerika Eropa 2016, kegiatan ini bertujuan untuk memperkaya khazanah sejarah dan menumbuhkan rasa nasionalisme dalam diri peserta. Kota Leiden juga merupakan kota di mana Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) pertama pada tahun 1922 dibentuk.

Acara pada hari pertama kemudian dilanjutkan dengan pembukaan Simposium oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, yaitu H.E. I Gusti Agung Wesaka Puja. Dalam pidato nya beliau menyerukan semangat untuk bahu-membahu membuat Indonesia yang baru. “Mari bahu-membahu untuk membuat Indonesia baru, seperti pada kutipan lagu ASEAN, we dare to dream, we care to share.” ujarnya seraya membangkitkan semangat mahasiswa.

S AMEROP

Pada hari kedua, acara dilanjutkan dengan seminar untuk menggali secara dalam mengenai Identitas Bangsa. Menurut Ali Abdillah selaku ketua PPI Belanda, mengatakan bahwa identitas bangsa merupakan hal yang penting dan jangan sampai identitas bangsa harus dikorbankan.

Ary Adryansyah Samsura PhD sebagai salah satu keynote speaker menjelaskan kembali mengenai identitas bangsa. “Identitas bangsa yaitu perasaan atau pandangan subjektif tentang suatu bangsa yang dimiliki bersama oleh sekelompok orang yang terintegrasi secara kultural dan geographis.” Ucap Ary Adryansyah.

Untuk mempertahankan identitas bangsa, salah satu pembicara yaitu Ebed Litaay dari Indonesian Diaspora Network beliau mengatakan untuk tetap menjaga nilai-nilai yang ada di Indonesia, open minded dan buang jauh-jauh kebiasaan buruk.

Selain memandang dari segi identitas bangsa, seminar juga membahas tentang ASEAN, Globalisasi dan Masa depan Indonesia. Hengky Kurniawan, salah satu pembicara dalam tema ini berfokus pada Spatial Economics.

“Indonesia perlu melakukan agglomerasi, di mana perusahaan berkumpul dan cost akan berkurang.” ungkap Hengky.

Masyarakat Ekonomi Asean yang telah dimulai pada akhir tahun 2015 tersebut merupakan suatu kesempatan bagi Indonesia. Matthijs Van Den Broek selaku Managing Director Further East Consult berpendapat bahwa Indonesia memiliki kesempatan yang besar di era MEA ini.

“Kesempatan MEA bagi Indonesia yaitu adanya cross-border investment melalui perusahaan multi-nasional dan UKM, tech-savy entreuprener muda serta adanya cross border supply chain untuk perusahaan di Indonesia.” ujar Van Den Broek.

Di samping sisi globalisasi, Agung Wahyudi PhD Candidate mengemukakan bahwa untuk menghadapi ASEAN, Indonesia dapat berfokus pada pengembangan dan peningkatan infrastruktur, kesiapan terhadap teknologi serta inovasi.

Puput Cibro selaku Koordinator PPI kawasan Amerika dan Eropa menyatakan pemetaan di Indonesia sangat diperlukan untuk meningkatkan ekonomi di setiap daerah yang ada.

“Indonesia perlu melakukan pemetaan akan potensi ekonomi daerah dari setiap kota/kabupaten yang akan menjadi suatu keunggulan bersaing dari daerah tersebut.” ucap Puput.

Simposium PPI Dunia kawasan Amerika dan Eropa ini diakhiri oleh kegiatan diskusi dari para delegasi yang dibagi ke dalam empat komisi yaitu Politik & Hukum, Ekonomi, Sosial Budaya dan Teknologi. Hasil dari diskusi tersebut yaitu berupa Rekomendasi Rijswijk yang diresmikan pada tanggal 26 April 2016 pukul 16:49 ECT. Berikut point-point yang tertera dalam rekomendasi tersebut:

POLITIK DAN HUKUM

  1. Mendorong peran Indonesia sebagai mediator dalam konflik Laut Tiongkok Selatan.

EKONOMI

  1. Melakukan ‘integrated geographical socio-economic information system’ untuk mengidentifikasi potensi ekonomi kabupaten/kota dan regional.
  2. Menguatkan kapasitas ekonomi domestik baik lokal, regional, maupun skala nasional dalam menghadapi pasar bebas ASEAN melalui ekosistem bisnis inklusif dengan prioritas di sektor pertanian dan pariwisata.

SOSIAL BUDAYA

  1. Melakukan penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya sertifikasi keahlian profesi yang diadakan pemerintah pada lingkup terkecil dan terfokus secara berkala (min. Satu kali dalam tiga bulan) dan berkelanjutan.

TEKNOLOGI

  1. Memastikan seluruh rumah tangga Indonesia mendapat akses listrik sebelum Juli 2019.
  2. Merevisi PP No. 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional dengan memasukkan klausa nuklir sebagai salah satu opsi pembangkit listrik.
  3. Merealisasikan pembangunan reaktor PLTN sebagai wujud optimalisasi bauran energi baru dan terbarukan di Indonesia. (Red. NL)

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920