logo ppid

mn

[New Delhi, India] International Symposium of Indonesian Students yang diselenggarakan oleh PPI Dunia atau juga dikenal dengan Overseas Indonesian Students Association Alliance (OISAA), tahun 2012 diselenggarakan di New Delhi sesuai dengan kesepakatan hasil dari Indonesian Students World Symposium (ISWS) 2012.

Agenda tahunan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) yang diadakan di Jawaharlal Nehru University (JNU) ini, dihadiri oleh 54 delegasi dari 23 Negara dan merupakan kelanjutan pertemuan pada bulan Februari 2012 di Kuala Lumpur, Malaysia. Pada event ini, PPI India menjadi tuan rumah pelaksanaan.

Ketua panitia SI 2012 Didi Rahmadi mengatakan, “Pertemuan yang diadakan di India ini, bertujuan untuk memperkuat kembali komitmen para pelajar Indonesia untuk mewujudkan kemandirian bangsa.”

Hal tersebut sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Koordinator PPI Dunia Zulham Effendi pada sambutannya dalam pembukaan SI PPI Dunia. Ia mengatakan, bahwa tujuan SI ini adalah untuk menyinergikan gerakan pelajar Indonesia seluruh dunia untuk memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara Indonesia. Selain itu, pertemuan ini nantinya akan mengukuhkan lembaga-lembaga semi otonom PPI Dunia serta rekomendasi untuk seluruh stakeholder PPI Dunia.

Menurut Ketua PPI India Stevan Chondro, event ini mengangkat tema “The Role of Students in Nation Making” dengan dasar pemikiran pentingnya peran mahasiswa untuk terlibat langsung dan secara nyata dalam pembangunan Indonesia. Dengan adanya acara ini, Stevan berharap para pelajar Indonesia akan termotivasi untuk lebih terlibat dalam proses pembangunan tanah air.

Sesuai dengan jadwal bahwa para peserta SI PPI Dunia ini akan bertatap muka langsung dengan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono di KBRI New Delhi pada tanggal 20 Desember 2012. Beliau memberikan Presidential Lecture dengan tema “The Role of Students on Nation Building”.

Acara ini berlangsung pada tanggal 18-22 Desember 2012. Seluruh delegasi berharap Simposium ini dapat menghasilkan sesuatu yang nyata untuk mereka bawa dan bagikan kepada para pelajar Indonesia di seluruh dunia. [Tania Alvina Nathania]

SI 2012 - Kuala Lumpur

ISWS 2012 merupakan kongres Persatuan Pelajar Indonesia Dunia yang dihadiri oleh perwakilan PPI dari berbagai negara di dunia. ISWS 2012 diselenggarakan oleh PPI Malaysia di Kuala Lumpur pada tanggal 16 -19 Februari 2012. ISWS 2012 diselenggarakan dengan tema ‘Think Global Act Nasional’. Acara Kongres PPI Dunia 2012 ini diikuti oleh 28 negara perwakilan PPI, yaitu: Malaysia, Singapura, Thailand, Philipina, Jepang, Inggris, Australia, Selandia Baru, Portugal, Austria, Arab Saudi, Sudan, Lebanon, Turki, Swedia, Jerman, Korea Selatan, Jordania, Maroko, Pakistan, Mesir, Yaman, Norwegia, Belanda, Rusia, India, Perancis dan Indonesia yang diwakili oleh beberapa BEM Airlangga, UGM, UNRI, Lancang Kuning, dan Trisakti.

Di sela-sela Kongres PPI Dunia 2012 yang dibuka Menteri Kordinator Perekonomian Hatta Rajasa, juga digelar seminar sehari. Seminar ini membincangkan berbagai permasalahan bangsa Indonesia yang dilihat dari aspek perekonomian, politik, hukum dan sosial budaya.

Sejumlah tokoh nasional hadir sebagai pembicara yang antara lain mantan Ketua DPR Akbar Tanjung, anggota Komisi I DPR Muhammad Najib, Vice President World Assembly Youth Ahmad Dolly Kurnia, Wakil Ketua Komisi III DPR Tjatur Sapto Edy, Direktur Analisa Strategis Kementerian Pertahanan Brig Jend. TNI Paryanto, mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli dan Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga Andi Mallarangeng.

Dalam kesempatan tersebut, PPI Malaysia terpilih sebagai koordinator PPI Dunia mengantikan PPI Australia, dan PPI India ditetapkan sebagai tuan rumah untuk pertemuan PPI Dunia yang berikutnya.

Beberapa hasil dari Kongres PPI Dunia 2012 di Kuala Lumpur adalah:

  1. Penyempurnaan AD/ART PPI Dunia dengan menambahkan bahwa anggota luar biasa adalah BEM yang telah mendaftarkan diri kepada PPI Dunia.
  2. PPI Dunia membentuk Lembaga Kajian Stratejik. Lembaga ini nantinya mengkaji segala permasalahan bangsa dan nantinya wadah ini juga dijadikan saran seluruh masyarakat Indonesia untuk mendapatkan solusi dari permasalahannya.
  3. PPI Dunia menetapkan jargon PPI Dunia ke depan yaitu PPI untuk Indonesia, PPI Dunia siap mengabdikan seluruh potensinya untuk bangsa Indonesia.

Hasil kongres berupa rekomendasi untuk PPI negara dan PPI dunia dapat diunduh: SK Hasil Rekomendasi Kongres

Sumber: PERMITHA - Thailand

[Sydney, Australia] Setelah melakukan konferensi selama dua hari, peserta Konferensi Internasional Pelajar Indonesia (KIPI) 2007 bersepakat untuk membuat jejaring PPI se-dunia melalui pembentukan media interaksi dan komunikasi, di antaranya dengan pembuatan situs (website) dan senarai surat elektronik (mailing list) dalam rangka membentuk Jejaring Organisasi Pelajar Indonesia di Luar Negeri (Overseas Indonesian Students Associations Alliance) yang terbuka untuk seluruh organisasi pelajar Indonesia di luar negeri.

Setelah mencermati kondisi bangsa Indonesia dalam membangun kemampuan dan daya saing, KIPI merekomendasikan kepada pemerintah Republik Indonesia hal-hal sebagai berikut:

  1. Memetakan dan mendayagunakan aset intelektual, profesional, dan komunitas Indonesia di luar negeri melalui pembentukan Global Networking Indonesia sebagaimana yang telah dilakukan oleh negara-negara berkembang lainnya seperti Cina dan India.
  2. Mengoptimalkan potensi tenaga professional, terdidik, dan terlatih Indonesia serta mempromosikannya pada pasar kerja luar negeri dengan cara bekerja sama dengan negara lain.
  3. Membebaskan fiskal bagi seluruh pelajar yang akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
  4. Menyediakan skema pinjaman lunak dan beasiswa untuk menunjang partisipasi mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan pendidikan baik di dalam maupun di luar negeri.
  5. Menjamin dan memfasilitasi penyediaan buku pendidikan yang berkualitas dengan harga yang terjangkau.
  6. Memperbesar alokasi dana riset dan pengembangan di perguruan tinggi dan instansi pemerintah secara kompetitif.
  7. Merealisasikan anggaran pendidikan 20% dari APBN melalui pengelolaan yang efektif dan metode perhitungan yang transparan.
  8. Mengintensifkan upaya diplomasi dan membuat kebijakan strategis untuk meningkatkan beasiswa dari negara-negara sahabat dan perusahaan-perusahaan swasta.
  9. Mempermudah proses akreditasi ijazah perguruan tinggi luar negeri yang diakui dengan mendelegasikan prosesnya kepada atase pendidikan atau pejabat yang berwenang di Kantor Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri.

Sumber: Website PPI Australia

Sumber foto: SINI

Sumber foto: Ivannanto

Brisbane (ANTARA News) - Konferensi Internasional Pelajar Indonesia (KIPI) 2007 bertema "Membangun Daya Saing Bangsa: Pulang Atau Mengabdi Dari Jauh" yang diikuti para utusan pengurus Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Australia dan 17 negara lainnya berlangsung di Sydney pada 7-9 September 2007.

"Sampai sejauh ini persiapan sudah berjalan baik, dan kami sudah menerima delapan makalah dari berbagai universitas di Australia serta tiga makalah dari Malaysia, India dan Italia," kata Anggota Panitia Pengarah KIPI 2007 Yopi Fetrian kepada ANTARA News yang menghubunginya dari Brisbane, Jumat.

Mahasiswa magister Universitas Nasional Australia (ANU) yang juga pengurus PPIA itu mengatakan, undangan resmi kepada para pengurus PPI di Indonesia, Amerika Serikat (AS), Mesir, Inggris, Kanada, Belanda, Jerman, Jepang, Italia, Yordania, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Selandia Baru, Saudi Arabia, Perancis, India, dan beberapa negara lain baru dikirim dalam dua hari ini kendati pendaftaran secara "online" sudah bisa dilakukan. Yopi mengatakan, KIPI 2007 akan mengeksplorasi berbagai gagasan tentang bagaimana para lulusan universitas di luar negeri dapat ikut membangun daya saing bangsa di tengah kenyataan bahwa pendidikan, pengalaman, kreativitas, dan imajinasi mereka yang selama belajar di luar negeri itu dapat saja "tumpul" seketika karena kemampuan mereka gagal termanfaatkan.

"Bukan cerita baru bahwa iklim di dunia tenaga kerja Indonesia dikeluhkan tidak memberi kesempatan pelibatan, pengembangan kapasitas diri, serta inisiatif bagi para alumni perguruan tinggi dari luar negeri yang seimbang dengan peluang-peluang yang mungkin mereka dapatkan jika bekerja di luar negeri," katanya. Kasus-kasus ini, lanjut Yopi, menjadi dilema tersendiri bagi pelajar yang masih studi di luar negeri, pulang ke Tanah Air sendiri atau bekerja di luar negeri.

Konferensi yang berlangsung di Kampus Universitas New South Wales (UNSW) dan diperkirakan dihadiri lebih dari 70 orang wakil PPI dari berbagai negara itu menghadirkan menteri pendidikan nasional dan menteri negara pemuda dan olahraga sebagai pembicara kunci.

Beberapa pembicara dalam forum KIPI 2007 itu adalah Anies Baswedan, Ariane Utomo (kandidat doktor ANU), pejabat Diknas dan Kementerian Pemuda dan Olahraga, Ivan Hanafi (Universiti Putra Malaysia), Pan M. Faiz (University of New Delhi), Hilmi Panigoro (PT Medco Energi Internasional Tbk), Sandiaga Saifullah Uno (HIPMI), Berly Martawardaya (Universitas Siena), Yopi Fetrian (ANU) dan Wawan D.(Universitas Monash). (*)

Sumber: Antara News

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920