Categories
Asia dan Oseania Berita PPI Negara

Festival Budaya Wonderful Indonesia Pertama Digelar di Aligarh, India

Pertunjukan Tari Rampai

Aligarh, sebuah kota terbesar di Uttar Pradesh yang berjarak sekitar 145 km dari ibu kota nampak begitu meriah dengan adanya Festival Budaya Wonderful Indonesia untuk pertama kalinya diadakan di Aligarh. Acara tersebut di adakan pada tanggal 24-25 maret 2018 tepatnya di Aligarh Muslim University. Menariknya, tak hanya pelajar Indonesia saja yang berpartisipasi mensukseskan acara ini, banyak pelajar asing yang juga turut bergabung sebagai volunteer dan begitu antusias menjadi bagian dari sejarah pelajar Indonesia di India  dalam berkontribusi memperkenalkan Budaya Nusantara. Bahkan Perwakilan Pelajar Thailand juga menunjukan penampilan terbaiknya di atas panggung.

Dubes RI untuk India Sidharto Suryodipuro juga turut hadir dalam pembukaan acara ini. “KBRI senang sekali menjadi bagian dari upaya untuk mendukung kegiatan kawan-kawan mahasiswa. Walaupun yang pertaman, mudah-mudahan bukan yang terakhir”, tuturnya.

Attraksi Pencak Silat

Di hari pertama penonton disuguhkan dengan beberapa tarian nusantara dan pertunjukan yang mengagumkan seperti Ranup Lampuan, Rapai Atraction, Suloh, Saman, Gemu Famire, dan Pancak silat, dibawakan oleh PPI Komisariat Aligarh juga penari yang langsung didatangkan dari Sanggar Mirah Delima Universitas Almuslim – Bireun, Aceh. Ada juga pertunjukan musik. Gambang salah satu alat musik tradisional Indonesia yang dimainkan oleh Wildan Kodaris begitu menghipnotis para penonoton. Selain itu, isyarat angklung Interaktif yang juga dikonduktori oleh kang wildan sangat menarik minat para penonton, karena penonton dilibatkan dalam pertunjukan ini untuk memainkan angklung mengikuti isyarat sang konduktor untuk menghasilkan harmoni nada-nada yang Indah.

Pertunjukan tari Saman
Pertunjukan Gambang, alat musik tradisional Indonesia

Disisi lain, di Stand kuliner, PPI India dan teman-teman komisariat Aligarh juga menyajikan menu-menu khas Indonesia yang ramah di lidah masyarakat asing seperti Gado-gado, Ketupat sayur, Bakwan, Es buah, Sate, Omlet, Pisang goreng dan masih banyak lagi. “Aku tidak tahu kalo makanan Indonesia seenak ini, kalian seharusnya mengambil kesempatan ini untuk menjual makanan khas Indonesia di kantin kampus” Kata Mahwish salah satu mahasiswi di Aligarh Muslim University.

Di hari ke dua kegiatan, teman-teman dari komisariat Aligarh layaknya model professional memamerkan berbagai pakaian tradisional khas Indonesia seperti pakaian khas Bali, Melayu dan Jawa di atas panggung. Sorak kekaguman akan penampilan dari PPI komisariat membuncah di acara selanjutnya, dimana mereka menari khas Bollywood dengan sangat lincah. Selain itu, The raid sebagai salah satu film terbaik Indonesia juga di tayangkan di hari kedua.

Berbagai kegiatan dan keseruan lainnya

Pada penutupan kegiatan, Flashmob Gemu Famire adalah bagian yang terbaik dimana seluruh penonton ikut berjoget bersama. Kegiatan Festival Diakhiri dengan kemeriahan dan kebersamaan.

 

Foto bersama dalam acara Festifal Budaya Wonderful Indonesia

Categories
Asia dan Oseania PPI Negara

Warna-Warni Holi, Tanda Musim Semi Dimulai

Setiap bulan Maret, masyarakat India baik yang berada di India ataupun di luar India merayakan Festival Holi. Festival yang menandakan berakhirnya musim dingin dan dimulainya musim semi ini mampu menarik minat masyarakat luas untuk merayakannya. Turis pun ramai berdatangan ke kota-kota yang berhubungan dengan Dewa Krishna seperti Mathura, Vrindavan.

Selain di India, masyarakat Nepal, Bangladesh bahkan Indonesia juga ikut merayakan. Konjen India di Denpasar Bali setiap tahunnya juga ikut mengundang masyarakat untuk merasakan serunya ditaburi bubuk warna-warni. Nah, sebagai mahasiswa Indonesia di India apakah kami ikut merayakan? Tentu saja, meskipun ada dramanya hehe…

Holi kali ini bertepatan dengan ujian, jadi kami tidak bisa merayakan tepat di hari H. Setelah bolak-balik rapat dengan kakak kelas dan adik kelas, akhirnya kami putuskan untuk merayakan Holi di hari terakhir ujian. Kami korbankan kakak kelas untuk minta ijin ke kepala sekolah juga bapak ibu asrama.

Seperti biasanya kami hanya main tabur-tabur bubuk warna, tanpa semprotan air juga api unggun. Hemat air kakak, nanti air habis nggak bisa mandi bagaimana. Acara dimulai jam 6 sore, dipusatkan di lapangan kampus dan tentu saja dilaksanakan terpisah antara mahasiswa dan mahasiswi. Seru? Banget. Lebih seru lagi waktu antri mandi dan bersihkan warna yang masih menempel di wajah.

Sebagai pemain Holi kawakan, saya punya beberapa tips merayakan Holi secara baik dan benar yang bisa dilihat dibawah ini. Jadi semua senang dan acara perayaan Holi bisa lancar.

  1. Jangan ugal – ugalan dalam melempar warna, meskiupun nggak ada yang marah kalau kalian melempar warna tapi sebaiknya berhati-hati kalau ada anak kecil atau orang tua yang ikut main. Jangan sampai mereka kelilipan atau malah sesak nafas. Re to the pot urusannya. Dan tolong jangan oleskan bubuk warna itu ke hewan seperti anjing, kucing atau sapi yang kebetulan melintas.
  2. Save water! Meskipun memang seru kalo kita semprot air warna atau bikin teman kita basah kuyup setelah itu diolesin warna-warna mending jangan pakai air deh. Bukannya sok-sokan hemat air, tapi kalau pakai air warna yang nempel di kulit kita susah hilangnya. Trus muka kita bukannya jadi warna-warni malah jadi hitam legam. Nggak kece kan?
  3. Pakai kacamata. Lindungi mata anda, karena sesungguhnya kelilipan bubuk warna itu perihnya tiada dua. Terutama yang rawan alergi.
  4. Pakai baju putih atau warna terang lainnya. Kenapa? Baju warna putih dan warna terang lainnya bikin warnanya makin kelihatan, jadi bagus difotonya. Hehe. Dan jangan buang bajunya, cuci trus pakai lagi deh tahun depan (mak irit)
  5. Tahan nafas waktu mereka lempar atau oles bubuk warnanya. Jadi nggak bakalan batuk – batuk kena bubuknya
  6. Ambil plastik bungkus bubuk warnanya dan buang ke tempat sampah. Kebersihan adalah sebagian dari Iman bukan? Bersih pangkal sehat toh?
  7. Selesai main cepat mandi dan keramas, kalau warnanya masih nempel di kulit oleskan baby oil atau minyak kelapa. Jangan malah digosok-gosok dengan sabun, nanti iritasi.

Jadi sudah siap main Holi tahun depan?

Penulis:
Adhihayu Arcci Maharddhika, S.Pd
Bachelor of Ayurvedic Medicine and Surgery (BAMS)
Aroor Laxmi Narayana Rao Memorial Ayurvedic Medical College. Koppa.

 

Categories
Asia dan Oseania Berita PPI Negara

PPI New Delhi Kenalkan Kuliner Indonesia dalam JNU Food Festival

Liputan India – Kamis, 26 Januari 2017, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) India Komisariat New Delhi  perkenalkan kuliner khas Indonesia dalam food festival yang diselenggarakan oleh International Students Association (ISA) Jawaharlal Nehru University di Gedung School of International Studies. Acara yang berlangsung dari pukul 18.00 IST sampai 23.00 IST  sukses menarik banyak pengunjung meski sempat terkendala hujan dan mendung.

Dalam festival ini, PPI New Delhi menyajikan lima kuliner khas Indonesia, yaitu sate ayam, cenil, bala-bala, martabak, dan wedang bajigur. Stall (stan) PPI New Delhi yang memasang tagline “Emerald of Equator; Indonesia” ini ramai dibanjiri pengunjung yang penasaran ingin merasakan kuliner khas Indonesia. Kuliner dari berbagai negara seperti Armenia, Jepang, Korea Selatan, Thailand, Jerman, Afganistan, Uzbekistan, Ethiopia, Bangladesh, Suriah, Nepal, Tibet, Rusia, Mauritius, Kazakhstan, Turki, dan Turkmenistan juga  disajikan dalam festival tahunan ini.

Nur Sa’adah, Ketua PPI Komisariat New Delhi, mengatakan, partisipasi mereka dalam ajang JNU Food Festival tahun ini merupakan pengalaman yang luar biasa dan membanggakan. “ JNU Food Festival tahun ini menjadi pengalaman yang sangat berharga dan membanggakan bagi saya pribadi dan juga PPI New Delhi. Kami menampilkan kuliner yang berbeda dari tahun kemarin yaitu cenil dan martabak. Acara ini juga mengasah kretifitas kami dalam hal memasak. Kami benar-benar mempersiapkannya sebaik mungkin, kami lakukan uji coba memasak berulang kali agar bisa menghidangkan menu Indonesia yang nikmat bagi pengunjung dari berbagai negara,“ jelas Sa’adah.

Sementara M. Rusdy Namsa, Wakil Ketua PPI India, mengomentari bahwa acara ini sangat bagus untul melatih jiwa kewirausahaan bagi teman-teman PPI New Delhi.  “Acara ini sangat menarik karena selain mampu mempererat ikatan persaudaraan antarbangsa melalui promosi kuliner, juga sangat bagus untuk melatih jiwa kewirausahaan teman-teman PPI. Alhamdulillah tahun ini acara berjalan lancar atas kerja keras teman-teman ISA JNU. Stall kami juga laris diserbu pengunjung. Perjuangan dari teman-teman PPI New Delhi dan juga dukungan dari Atase Pendidikan KBRI New Delhi yang tentunya membuat semua ini terwujud,” paparnya.

Acara food festival ini adalah agenda tahunan ISA yang mengakomodir perwakilan berbagai negara untuk memperkenalkan kuliner khas masing-masing sekaligus sebagai ajang mempererat persahabatan antarnegara. Tahun ini, JNU Food Festival diselenggarakan tepat pada peringatan Republic day India.

(FR/F)

Categories
Pojok Opini Suara Anak Bangsa

(Kembali) Awal Peringatan Hari Ibu

Hari Ibu yang sekarang kita ilhami adalah peringatan peran Ibu dalam aspek domestik saja. Karena sebenarnya, apa yang membuat 22 Desember dirayakan sebagai Hari Ibu itu punya cerita yang luar biasa. Pada 22 sampai dengan 25 Desember 1928 adalah pelaksanaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama yang berlangsung di Yogyakarta. Kongres yang dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di pulau Jawa ini berlangsung berkelanjutan. Hingga pada kongres ketiga yang berlangsung pada 1938, tanggal 22 Desember itu disepakati sebagai Hari Ibu.

Tujuan peringatan Hari Ibu saat itu adalah untuk merayakan semangat perempuan Indonesia menuju pergerakan kemerdekaan Indonesia. Bisa dikatakan, Kongres Perempuan Indonesia merupakan salah satu embrio pergerakan nasional. Bahkan muncul di tahun yang sama dengan Sumpah Pemuda.

Tak heran, bila pada perayaan ulang tahun Kongres Perempuan Indonesia ke-25 yang jatuh pada 1953, Presiden Soekarno meresmikannya sebagai perayaan nasional di bawah legalitas Dekrit Presiden no 316 tahun 1953. Ada opini lain yang mengatakan bahwa Presiden Soekarno ingin perayaan Hari Ibu juga dikenal menjadi hari mengingat para pahlawan perempuan seperti Dewi Sartika, Maria Walanda Maramis, dan lainnya.

Jadi, peringatan Hari Ibu muncul supaya kita mengingat perjuangan perempuan era pergerakan nasional. Melihat latar belakang dibalik Hari Ibu yang terkesan heroik, bisa dibilang peran Ibu saat itu tidak pada ranah domestik saja, melainkan juga penyokong kemerdekaan Indonesia. Bisa dibayangkan, sejak 1928, bahkan mungkin sebelum itu, perempuan Indonesia sudah mengenal organisasi, dunia pergerakan, dan nasionalisme.

Ini bukan soal kesetaraan gender atau feminisme. Namun, perempuan Indonesia zaman itu sudah paham perannya di ranah domestik saja tidak cukup. Karena itu, mereka ikut turun langsung dengan membentuk organisasi, menghadiri kongres, memeras otak untuk menghasilkan butiran strategi untuk memajukan Indonesia. Karena itu juga, mereka menamainya Hari Ibu, bukan hari perempuan. Karena mereka, para penggerak kongres tersebut adalah para perempuan yang sudah menjadi “Ibu”.

Tapi apa mungkin karena namanya adalah Hari “Ibu”, menjadikan masyarakat kita lebih mudah memaknai sebagai hari untuk menghormati Ibu, orang yang membesarkan kita dengan segenap kasih sayang. Karena arti Ibu, dalam arti sempit hanya dimaknai sebagai perannya dalam ranah domestik saja. Sehingga dari waktu ke waktu, simbol perayaannya didominasi dengan hal yang sangat perempuan. Seperti lomba menulis surat cinta, lomba memasak, dan fashion show ibu anak.

Padahal, bila bicara mengenai peran Ibu dalam konteks Indonesia, simbolnya bisa lebih keras dari itu. Indonesia, sebagai negara demokrasi yang mengenal kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan. Dengan bangga, saya selalu bilang ke teman-teman saya dari negara lain mengenai hal ini. Sekarang, semakin mudah saja menemukan sepasang suami istri yang saling membantu dalam urusan ekonomi, bahkan juga domestik. Bahkan kalau kita lihat perempuan-perempuan seperti Sri Mulyani, Marie Elka Pangestu, dan beberapa guru besar perempuan di perguruan tinggi, apa pernah bertanya-tanya siapa suaminya? Hehe.

Karena belum banyak yang mempertanyakan sosok laki-laki dibalik perempuan hebat. Yang pasti, mereka adalah laki-laki yang lebih hebat. Karena merelakan perempuannya beraktualisasi. Toh juga bukan untuk keluarga saja, tapi untuk negara tercinta.

 

Kritik untuk Ibu

Sayangnya, di zaman –yang konon perempuan selalu benar– sekarang ini, masih ada perempuan yang berperan hanya untuk diri sendiri. Seperti apa itu? Contohnya ya, perempuan tidak bekerja yang hanya berpartisipasi menyumbang tingginya angka konsumerisme di Indonesia (Syahrini saja perlu show kanan kiri untuk membeli barang branded). Kedua adalah mereka yang menghalangi mimpi suami dan anak-anaknya untuk kepentingan pribadinya. Misalnya, ada ternyata seorang ibu yang tidak merestui anaknya sekolah ke luar negeri karena tidak membiarkan anaknya menempa diri sendiri. ’’Sekolah disini saja, Ibu nggak tega kamu hidup sendirian jauh-jauh.’’ Lalu, si anak tak kuasa menolak permintaan ibunya untuk meninggalkan beasiswa. Karena kalau ibu yang meminta, kita bisa apa?

Saya juga dilahirkan dari seorang ibu rumah tangga murni. Namun ibu saya berhati besar melepaskan anak-anaknya pergi sekolah setinggi-tingginya, ke manapun. Dengan begitu, dalam hemat saya, ibu saya tidak hanya menjalankan perannya di ranah domestik saja.

Dengan tidak membatasi aktualisasi sang anak saja (apapun gender si anak) seorang ibu sudah turut memperjuangkan cita-cita anak dan bangsa ini ke depannya. Sebab siapa tahu kelak si anak punya kontribusi untuk tanah air. Untuk para Ibu, calon Ibu, dan pendamping Ibu, yuk kembali menghayati nilai-nilai peringatan Hari Ibu lewat sejarahnya. Bahwa para Ibu Indonesia berkesempatan punya peran lebih untuk keluarga, dan bangsa!

 

 

Dinda Lisna Amilia

Mahasiswa S2 Mass Communication and Journalism

University of Mysore, India.

Categories
Asia dan Oseania

Meriahnya Namaste Wonderful Indonesia

Pada hari sabtu, 29 Oktober 2016 yang lalu, KBRI New Delhi sukses menyelenggarakan festival Namaste Wonderful Indonesia di Nehru Park. Acara yang diselenggarakan ditengah hiruk pikuk perayaan Diwali ini, sukses menarik perhatian banyak pengunjung. Dengan mengajak serta PPI India dan diaspora Indonesia di India, KBRI New Delhi berhasil membuat acara yang diadakan setahun sekali ini menjadi meriah dan penuh antusias dari seluruh peserta dan undangan yang ada.

Dalam sambutannya, Rizali Wilmar Indrakesuma, Duta Besar RI untuk India ini mengatakan bahwa acara ini diselenggarakan untuk meningkatkan rasa kebersamaan Warga Indonesia dan Pelajar Indonesia di India serta untuk memperkenalkan seni, budaya, pariwisata dan kuliner Indonesia di mata dunia. Ditemui di tempat lain, Rizali mengatakan bahwa acara yang baru diselenggarakan untuk pertama kalinya ini terbilang cukup sukses. “ Acara ini terbilang cukup sukses, saya berharap kedepannya acara seperti ini bisa lebih dipersiapkan lagi. Mengingat event atau acara seperti ini sangat strategis untuk merangkul masyarakat Indonesia di India serta memperkenalkan budaya kita kepada dunia”, tegasnya.

Meriahnya Namaste Wonderful Indonesia
Meriahnya Namaste Wonderful Indonesia

Acara yang meriah ini dibuka dengan tari Ranup Lampuan dan tari Indang Badinding yang dibawakan oleh PPI Komisariat Aligarh. Kemudian, dilanjutkan dengan tari Sekar Jagat dan tari Legong Keraton yang diiringi alunan musik gamelan merdu oleh PPI Komisariat Hyderabad. Penampilan yang luar biasa ini pun mengundang decak kagum para penonton dan berhasil mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari pengunjung. Grup band PPI India pun juga tak mau kalah dengan para penampil lainnya. Meraka juga turut memperkenalkan lagu-lagu tradisional Indonesia seperti Ayam den lapeh, apuse, rek ayo rek dan beberapa lagu daerah lainnya. Selain itu, tak kalah ketinggalan, musik pop Indonesia pun juga ditampilkan dengan apiknya seperti lagu-lagu Iwan Fals dan grup band Wali dari PPI India.

Di sisi lain, di stand kuliner, PPI India juga menyajikan menu-menu khas Indonesia yang begitu menggoda para pengunjung hingga habis diborong oleh pengunjung yang datang saat itu.  Menurut Putri, divisi wirausaha PPI India, makanan yang paling banyak peminatnya adalah sate ayam dan gado-gado. Hal ini terbukti dengan cepat habisnya sate ayam dan gado-gado itu sesaat setelah stand kuliner dibuka. Selain produk kuliner, produk kreatif khas Indonesia pun juga di pamerkan dalam stand tersebut, seperti baju batik dan gelang biji jentri yang menjadi daya tarik tersendiri di stand PPI India.

unnamed
Sambutan Dubes RI untuk New Delhi, India

Berdasarkan beberapa survey dari pengunjung acara tersebut, mereka cukup puas dengan acara yang meriah ini dan sangat menikmati penampilan serta makanan yang ada di stand PPI India. Crystal, warga Negara Perancis mengatakan, acara ini sangat menarik dan banyak memberikan wawasan tentang Indonesia. Sementara Amy, salah satu Tourism Researcher dari India mengatakan bahwa acara seperti ini seharusnya bisa lebih sering diadakan. “Acara ini sangat bagus dan efektif untuk meningkatkan daya wisata masyarakat asing ke Indonesia. Harus sering diadakan dengan konsep yang lebih matang, misalnya tourism stall diperbanyak dan kita disuguhi miniatur maupun gambar-gambar tempat wisata di Indonesia”, imbuhnya.

Hervina, vokalis band PPI India, mengatakan bahwa kesempatan ini sangat bagus untuk memperkenalkan seni dan budaya Indonesia kepada dunia. “Saya pribadi sangat bangga bisa memperkenalkan lagu daerah dari Indonesia”, kata mahasiswi Jawaharlal Nahru University asal Padang ini.

Sementara itu, menurut Ketua PPI India, Brenny Novriansyah Ibrahim, acara serupa harus lebih sering di adakan tidak hanya di New Delhi saja tetapi juga di state lain yang berpotensi menarik para pelancong untuk datang ke Indonesia. Melalui kegiatan ini, para pelajar yang merupakan agen perubahan dapat berperan sebagai promotor berbagai potensi Indonesia terutama bidang pariwisata dan ekspor hasil bumi, sektor pertanian dan perkebunan kita demi meningkatkan kesejahteraan para petani. Selain itu, hal ini juga dapat membantu pemerintah dalam mensukseskan program One Village One Product melalui promosi penjualan produk desa di mancanegara, sehingga kesejahteraan desa bisa terwujud. “PPI sebagai pemuda yg berada di mancanegara pun juga dapat berperan dalam meningkatkan perekonomian desa dengan menjadi promotor produk di luar negeri”, tegas Brenny.

Acara Namaste Wonderful Indonesia itu pun ditutup dengan ajakan langsung dari ibu-ibu Dharma Wanita KBRI New Delhi kepada para pengunjung untuk menari dan menyanyi bersama. (Red: FR/ Ed: Amir)

Categories
Pojok Opini Suara Anak Bangsa

Saya, Ayurveda Shishya di India

“Aayuhu kaamayamaanena dharmaarthasukhasaadhanam I Aayurvedopadeseshu vidhyeyaha paramaadaraha II” (Astanga Hrudaya Samhita, Sutrasthana 1:2)

Manusia yang mendambakan aayu (hidup sehat dan umur panjang) yang merupakan instrumen untuk mencapai dharma (kebaikan), artha (kesejahteraan), dan sukha (kebahagiaan) sebaiknya meletakkan kepercayaan penuhnya kepada Aayurveda dan melaksanakan ajarannya.

Di sinilah saya, di India, menempuh pendidikan ilmu kesehatan India yang bernama Aayurveda (selanjutnya akan ditulis dengan Ayurveda, untuk mempermudah penulisan)

Bachelor of Ayurvedic Medicine and Surgery, atau lebih dikenal masyarakat luas dengan nama B.A.M.S. Masih terasa asing di telinga? Yuk kita kupas lebih lanjut tentang jurusan kuliah yang menggabungkan ilmu kuno dan modern ini.

Apa Ayurveda itu? Ayurveda terdiri dari dua kata, aayu dan veda. Aayu atau hidup, dan veda yang berarti pengetahuan. Ayurveda, pengetahuan tentang hidup, merupakan sistem kesehatan suci dan tradisional yang berasal dari India yang sekarang sudah mengglobal dan dimodernisasi sesuai perkembangan zaman. Kalau membahas sejarahnya, Ayurveda dimulai dari periode Dewa Brahma sang pencipta dunia, rasanya terlalu panjang dan membingungkan untuk dipahami. Jadi sebaiknya subjeknya saja yang dibahas ya.

Kembali ke B.A.M.S, undergraduate degree yang akan didapat setelah menempuh dan lulus 5,5 tahun masa kuliah. Lama banget, cuma S1 saja lebih dari 5 tahun? Iya!

Kurikulum dan silabusnya dibuat sesuai dengan materi dasar Ayurveda dan kedokteran modern, di bawah naungan Central Council of Indian Medicine, Ministry of Ayush, Govt. of India.

Ooh jadi B.A.M.S ini kedokteran? Betul, kedokteran Ayurveda. Gelar yang didapat setelah lulus dokter kok, bukan tabib atau ahli pengobatan tradisional maupun pengobatan alternatif. Dan juga bukan dukun. Tolong dicatat itu ki sanak.

Apa bedanya dengan kedokteran umum? Banyak, kita kupas satu-satu ya dan teman-teman B.M.B.S (Bachelor of Medicine, Bachelor of Surgery) boleh kasih masukan soal persamaan dan perbedaannya juga loh.

Salah satu halaman yang memuat penjelasan tentang Ayurveda.
Salah satu halaman yang memuat penjelasan tentang Ayurveda.

Ayurveda punya Astanga Ayurveda, 8 cabang dari ilmu Ayurveda. Apa saja?

“ Kaayabaalagrahodhvaangashalyadamstraajaraavrushan I Astangaani tasyaahucikitsaa yeshu samsritaa II” (Astanga Hrudaya Samhita, Sutrasthana 1:5)

  1. Kaayacikitsa, pengobatan penyakit yang bersumber dari masalah pencernaan, atau Inner Medicine di modern.
  2. Baala cikitsa, Pediatrics, kesehatan anak.
  3. Graha cikitsa, pengobatan penyakit yang bersumber dari kekuatan jahat yang di luar nalar, mikro organisme dan lebih menekankan pada gangguan mental (Psychiatry)
  4. Urdvanga cikitsa, penyakit di kepala, termasuk mata (Ophtalmology), telinga (Otology), hidung (Rhinology), Throat (Larynology) dan gigi (Dentistry)
  5. Salya Cikitsa, atau Sastra cikitsa, pengobatan yang membutuhkan pisau atau alat tajam lainnya (Surgery)
  6. Damstra cikitsa, pengobatan terhadap penyakit yang disebabkan oleh racun (Toxicology)
  7. Jara cikitsa atau Rasayana cikitsa, pengobatan terhadap penyakit di usia lanjut (Geriatrics)
  8. Vrsha cikitsa, menekankan pada permasalahan seksual, bukan hanya impotensi, kemandulan tapi juga peningkatan kemampuan seksual

 

Pengajaran dalam kelas dilakukan dengan bahasa Inggris, tapi kita dituntut untuk bisa baca tulis dan paham bahasa Sansekerta, karena sebagian besar Samhita atau buku teksnya ditulis dengan huruf tersebut. Meskipun ada terjemahannya dalam bahasa Inggris, Hindi ataupun bahasa daerah di India, tapi kadang artinya bisa berbeda.

Kurikulum dan silabusnya dibagi ke dalam lima tingkatan dan durasinya berbeda-beda,

  1. 1st Year Prof. B.A.M.S selama 1 tahun
  2. 2nd Year Prof. B.A.M.S selama 1 tahun
  3. 3rd Year Prof. B.A.M.S selama 1 tahun
  4. 4th Year Prof. A.M.S selama 1, 5 tahun
  5. Internship selama 1 tahun

Yang unik di sini dan membedakan B.A.M.S dengan jurusan lainnya, meskipun sama-sama di bidang kesehatan adalah penggunaan bahasa Sansekerta di pengajarannya, juga sebagian besar pengajaran mengikuti metode guru shishya parampara. Di mana ilmu pengetahuannya diberikan dari sang guru kepada shishya muridnya, melalui hubungan yang didasarkan keikhlasan dan kesungguh-sungguhan guru juga rasa hormat, tanggung jawab, ketaatan dan kepatuhan sang murid. Loh kok tulisan gurunya dicetak miring? Kan bahasa Sansekerta, guru di sini artinya bukan hanya teacher, tapi juga pembimbing, orang yang ahli juga konselor. Mirip-mirip ya bahasa Indonesia sama Sansekerta, lumayan beberapa ada yang mirip. Jadi gampang dong belajarnya? Gak juga hehe.

Yang unik lagi dari penggunaan bahasa Sansekerta di kelas adalah shloka, in hate and love relationship deh saya sama shloka ini. Shloka apaan sih? Silahkan scroll ke atas di bagian pembukaan dan bagian Astanga Ayurveda, itulah shloka. Kalau dilihat arti katanya sih shloka artinya lagu, tapi di sini bisa diartikan sebagai syair dari kitab alias ayat. Dan inilah yang membedakan buku teks Ayurveda dengan buku teks kedokteran modern pada umumnya. Semua ayatnya ditulis dalam huruf Sansekerta, tentu saja karena zaman dahulu belum ada tulisan alphabet ya. Yaiyalah, wong Ashtanga Hrudaya Samhita aja ditulis oleh Vagbhata sekitar 7th century (AD 500).

Kenapa in hate and love relationship dengan shloka? Karena sebagai produk sekolah Indonesia dari TK sampai S1 saya susah sekali menghapal sementara di sini, semua shloka yang penting harus dihafalkan karena mempermudah pemahaman juga mendapat nilai waktu ujian. Gimana mau menghafal, kenal huruf Sansekerta saja waktu 1st Prof. membaca saja saya sulit bagaimana saya mau menghafal? Apalagi kalau shloka-nya lebih dari 10 baris? Di situ saya merasa sedih (Eh masih umum gak sih kalimat ini?)

Tapi jangan khawatir, seperti kata peribahasa “Alah bisa karena biasa” kadang saya jadi cinta sama si shloka, hehe. Lah kok kadang? Ya kalau shlokanya pendek dan nggak bikin bingung. Puitis sekali loh kata-katanya, kadang jadi inspirasi untuk nulis status di Facebook atau kirim pesan di WhatsApp. Gak percaya? Coba cek shloka berikut ini

“ Pushpam yathaa purvarupam phalamsyeha bhavisyataha I Tathaa linggamarishtaakhyam purvarupam maristhaha II” (Caraka Samhita, Indriyashthana 2:3)

Yang artinya, bagaikan kembang yang menjadi pertanda buah akan datang, begitu pula bau yang khas menjadi pertanda kematian akan tiba. Puitis ya, padahal membahas soal pertanda kematian, hehe.

Hmm, sebenarnya masih pengen nulis lebih banyak lagi soal Ayurveda, terutama kurikulum silabus dan keseruannya. Tapi sudah terlalu panjang, shloka saya juga sudah panggil-panggil. Kayanya lebih baik dibuat seri saja ya, biar saya ada alasan buat nulis lagi, kalau boleh sih. Tenang saja, serinya gak sepanjang serial Uttaran di stasiun televisi lokal Indonesia yang meskipun udah tamat tapi ternyata dibuat lagi sekuelnya.

Semoga berkenan dengan tulisan saya, terima kasih sudah mau baca, dapat salam sayang dari 11 baris shloka.

(AM/F)

Categories
Asia dan Oseania Berita Fashion PPI Negara Suara Anak Bangsa Wawasan Dunia

Kamis Batik Diaspora di India

Liputan India, Siapa sih orang Indonesia yang nggak bangga punya batik? Yes, bisa dipastikan semua Warga Negara Indonesia (WNI) yang sedang belajar atau bekerja di luar negeri, membawa batik. Tujuannya, bisa untuk sekadar fashion hingga menunjukkan identitas kekayaan Indonesia.

Bahkan, salah satu ide digagas oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di India tidak jauh-jauh dari batik, yaitu Kamis batik. Ketua PPI India, Brenny Novriansyah Ibrahim, menetapkan himbauan ini. Supaya semua pelajar dan WNI yang berada di India untuk mengenakan batik setiap hari Kamis, baik saat kuliah, bekerja, atau sekadar di luar rumah.

Tujuannya, untuk mempromosikan batik Indonesia sampai dengan meningkatkan nilai ekspor batik nusantara. Menurut Brenny, sudah saatnya pengusaha batik Indonesia berekspansi ke India, hingga negara lain.

Mau batik apa saja deh. Secara, kita sendiri tahu kan betapa banyaknya jenis batik di Indonesia. Rasa-rasanya, dari Sabang sampai Merauke, ada saja daerah penghasil batik. Dan tentunya, semua pattern-nya memikat hati. Percaya deh, saat kalian ke luar negeri dalam rangka apapun, mengenakan batik bisa menjadi daya tarik tersendiri (asal nggak salah kostum/saltum).

Beberapa pelajar Indonesia berpose  di depan Jawaharlal Nehru University, New Delhi, India.
Beberapa pelajar Indonesia berpose di depan Jawaharlal Nehru University, New Delhi, India.

Contohnya, untuk pelajar Indonesia di India, tanpa disuruh pun, saat berangkat ke tanah Gandhi mereka sudah membawa batik. Batik adalah simple happiness thing saat kalian menjadi diaspora. Awalnya, saya pikir batik tidak se-istimewa ini, namun setelah teman asli India saya merespon pakaian batik saya, rasanya jadi lebih bangga. Menurutnya, batik print punya daya tarik yang berbeda dengan semua motif tradisional yang dia temui.

Memang nggak salah deh, dengan mengenakan batik di luar negeri, kita akan memancing pertanyaan dari teman-teman foreigner (orang asing), kita akan mengenalkan salah satu kebudayaan kita yang priceless (tak ternilai) itu, kita akan tetap mengingat tanah air kita, dan yang terpenting, kita akan menyadari betapa bangganya kita menjadi orang Indonesia. Yang dikenal ramah, suka menolong, dan attitude (sikap) yang baik.

Gimana? Masih nggak pengen ngerasain nikmatnya mengenakan batik saat menjadi diaspora?

(Red,Dinda Lisna Amilia/Ed,F)

Categories
Asia dan Oseania Seni & Olahraga Travel & Kuliner Wawasan Dunia

Onam Ashamsakal

Liputan India, Namashkaram dari India. Apa kabar semuanya? Saya Arcci, sedang terdampar di selatan India, tepatnya negara bagian Karnataka dan sedang ikut merayakan festival Onam yang jatuh pada 14 September 2016.

Onam adalah salah satu festival terbesar orang Kerala, negara bagian di India yang dipanggil “Gods own country.” Festival panen ini berlangsung pada bulan Chingam sekitar Agustus sampai September tiap tahunnya dan menandakan kembalinya Raja Mahabali ke Kerala. Festival atau hari raya? Festival, karena ini acaranya semua orang Malayali, sukunya negara bagian Kerala yang ada di Kerala, negara bagian lain di India juga di seluruh dunia tanpa pandang agamanya apa.

Jadi, meskipun saya kuliahnya di negara bagian Karnataka, saya masih bisa ikut merayakan karena sebagian besar mahasiswa di kampus saya adalah orang Malayali.

Apa saja yang dilakukan kalau di perayaan Onam?

Membuat pookalam dari bunga–bunga yang didesain khusus di halaman rumah jadi tradisi keluarga. Selain itu, mereka akan buat patung dari tanah liat yang disebut onathappam untuk memuja Dewa Onam. Vallam Kali, pertandingan perahu tradisional Kerala yang dihias meriah sambil membunyikan genderang dan menyanyikan lagu tradisioanl Malayalam. Pulikali atau tarian macan di mana para pria mengecat tubuhnya mirip dengan corak macan dan menari dari kuil mengelilingi kampung, dan tentu saja para wanita juga gak mau kalah, mereka menari sepanjang malam di acara thumbi thullal, disambung dengan atthachamayam pertunjukan seni tari lagu dan folk art lainnya sebagai acara penutupan, dan masih banyak lainnya. Ini semua adalah hal yang biasa dilakukan di 10 hari perayaan Onam. Nulisnya aja capek dan belibet, kalau gitu kita bahas yang sering dilakukan di kampus dan hostel saya aja ya. Yuk mari.

Seminggu sebelum Onam, biasanya paket makanan dari Kerala berdatangan. Ya, karena bulan ini bulan final exam jadi teman-teman nggak bisa mudik ke Kerala, makanannya aja yang datang. Hehehe.

Setelah paket makanan datang, lah dibahas lagi hehe. Saatnya mahasiswa Malayali bagi tugas buat Pookalam. Pookalam ini bentuk hiasan lantai yang dibuat dari potongan bunga dalam berbagai desain. Karena ada 4 batches di kampus jadi selama 4 hari berturut-turut kami bergiliran buat desain yang berbeda. Di depan mess kami buat yang kecil, dan di hari Onam kami buat yang besar di depan kampus. Nggak hanya Malayali aja yang buat, tapi semuanya ikut bantu.

Sehari sebelum Onam, saatnya … coba Saree, hehe. Soal pilah pilih saree dan perhiasannya jadi masalah krusial buat cewek–cewek Malayali yang terkenal dengan perhiasan emasnya. Mau pakai apa, saree atau settu mundu? Mau pakai jhumka, anting yang bentuknya seperti bel besar atau anting biasa. Saya ikutan dong, pakai settu mundu. Settu mundu adalah bentuk lain dari saree, kalau saree adalah satu helai kain yang panjangnya dari 7 sampai 9 meter atau lebih. Settu Mundu ini terdiri dari 2 helai kain. Kerala saree ini berbeda dengan saree lainnya di India. Warna dasar krem, dengan border emas buat pemakainya makin elegan. Desainnya yang simpel, buat semua orang pasti cocok pakainya. Gak percaya? Tuh lihat fotonya hehe. Oh iya, kalau yang cowok pakai kemeja dan lunghi, kain sarung yang desainnya khas Kerala, sama kaya saree-nya.

Kerala saree dengan warna dasar krem dan pinggiran emas. (Dok. Adhihayu Arcci Maharddhika)
Kerala saree dengan warna dasar krem dan pinggiran emas. (Dok. Adhihayu Arcci Maharddhika)

Masalah kostum selesai, sekarang menuju hal menyangkut perut orang banyak. Masak. Di perayaan Onam, setelah datang sembahyang dari kuil, seluruh anggota keluarga akan berkumpul di meja makan dan makan sadhya. Kalau di hostel? Ya kumpul di salah satu kamar atau mejanya mess hehehe.

Sadhya, makanan utama di perayaan Onam, menunya 26 macam dan bisa lebih. Dialasi daun pisang, semua menu diletakkan dalam porsi kecil, makannya pakai tangan. Semua menunya vegetarian. Jangan kecewa dulu, enak kok. Kalau versi hostel, 5 menu udah lebih dari cukup, makannya pakai piring. Gak sanggup masak banyak–banyak, kalau nekat metik daun pisang di halaman kampus bisa kena hukum, hehe.

Sadhya, makanan utama di perayaan Onam yang dialasi daun pisang. (Dok. Adhihayu Arcci Maharddhika)
Sadhya, makanan utama di perayaan Onam yang dialasi daun pisang. (Dok. Adhihayu Arcci Maharddhika)

Apa saja menunya, saya tulis yang teman–teman biasa masak ya. Ada Upperi alias keripik pisang, Sharkara Varati atau pisang sale, Manga curry atau acar mangga pedas, Naranga curry atau lemon pickle, Parripu curry atau kari daal, Chor alias nasi merah, Sambhar atau sup sayur dengan kuah kental, Pappadam si kerupuk lebar, Avial yang terbuat dari kubis wortel dan parutan kelapa, Poovan pazham atau pisang yang kecil, dan juaranya ya Pazham atau manisan nasi.

Duh nulisnya aja jadi lapar, kayanya cukup disini dulu, sadhya saya sudah panggil-panggil nih. Makan dulu ya, selamat menikmati foto sadya-nya, daaaah.

*Onam ashamsakal: Selamat hari Onam

*Namashkaram: Hallo (Digunakan di India Selatan, penggunaan sama dengan Namaste di India Utara)

(Red, Adhihayu Arcci Maharddhika/Ed, F)

Categories
Asia dan Oseania Upcoming Event

Program Kerja PPI India bersama RRI Pro3

IMG-20160820-WA0000

Categories
Asia dan Oseania Berita Eropa dan Amerika Timur Tengah dan Afrika

PPI Dunia dan Alumni PPI Dunia Gelar Silaturahmi di Radio RRI Jakarta

Jakarta, Minggu 26/6/16 lalu PPI Dunia sukses menggelar acara silaturahmi dan buka puasa  di kantor Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta. Acara ini dihadiri oleh mantan koordinator PPI Dunia Ahmad Almaududy Amri periode 2014 – 2015, Ketua PPI rkrki, Ketua PPMI Saudi Arabia, Ketua PPI Italia, Koordinator Biro Pers PPI Dunia, Alumni PPI dunia dari berbagai kawasan dan Perwakilan BEM di Indonesia.

Acara Silaturahmi ini diawali dengan kata sambutan yang disampaikan oleh Koordinator Biro Pers PPI Dunia 2015 – 2016 Dewi Anggrayni. Menurutnya, acara ini digelar bertujuan untuk menguatkan silahturahmi  PPI Dunia dengan PPI Negara, alumni dan juga Dewan Presidium yang selama ini melakukan komunikasi dan koordinasi melalui media sosial saja.

“Silaturahmi ini bertujuan untuk menguatkan hubungan PPI Dunia dengan PPI negara, alumni dan juga Dewan Presidium. Selama ini komunikasi dan koordinasi dilakukan by online dan saat inilah moment yang pas untuk berkumpul untuk lebih mengenal satu sama lain, dan kenapa di RRI, karena RRI telah menjadi mitra selama beberapa tahun terakhir memublikasikan aktifitas PPI Negara anggota PPI Dunia,” ucap Dewi.

Rangkaian kegiatan silahturahmi dimulai dengan sosialisasi simposium internasional yang akan berlangsung juli mendatang oleh perwakilan panitia SI Cairo, Ahmad Bayhaki.

“Pertemuan yang sangat bermanfaat dan mendambah ilmu. Acara seperti ini dipertahankan dan lebih diaktifkan lagi forum diskusinya,” Ucap Bayhaki.

Live ON AIR

Acara buka puasa ini juga disiarkan langsung melalui siaran Kampung Halaman RRI yang diisi oleh perwakilan Dewan Presidum periode 2015-2016 Imam Khairul Annas dan Dewi Anggrayni, Dhafi Iskandar Alumni PPI Dunia dan perwakilan PPI Negara Intan Irani PPI Italia, Padma Nabhan PPI India, Ahmad Bayhaqi Maskum PPMI Mesir.

Selanjutnya perwakilan alumni mengisi acara dengan bedah buku yang berjudul “Dari Kami untuk Negeri”. Buku karya Dewan Presidium PPI Dunia periode 2014 – 2015 ini dipaparkan singkat oleh Ahmad AlMaududy Amri.

“Buku ini berawal dari simposium di Jepang pada tahun 2014, kami dari perwakilan PPI Dunia berinisiatif untuk menuliskan kisah kami selama berkuliah di luar negeri sebagai kontribusi untuk bangsa untuk menyemangati teman-teman di Indonesia yang ingin berkuliah di luar negeri,” jelas Dudy.

Dudy juga memaparkan dengan singkat isi dari buku “Dari Kami untuk Negeri” yang mengisahkan pengalaman mahasiswa Indonesia yang berkuliah di luar negeri dan juga berorganisasi di waktu yang bersamaan.

“Kami mengisahkan pengalaman organisasi, tantangan kehidupan di luar, kejadian-kejadian mahasiwa indonesia di luar negeri juga tantangan perkuliahan,” tutur Dudy.

Setelah pemaparan singkat oleh Dudy, acara dilanjutkan dengan bedah buku dari salah satu teman alumni PPI Dunia yang berjudul “Merangkul Beruang Merah.”

Buku Merangkul Beruang Merah mengisahkan perjalanan hidup penulis, Ade Irma Elvira tentang proses perkuliahan beliau di Rusia dimulai dari memohon restu orang tua hingga tantangan ekonomi juga akademiknya di Rusia.

“Buku ini menceritakan tentang pengalaman saya selama di Rusia, di kota Moskow yang penuh tantangan. Harapannya semoga buku ini nantinya bisa di-film kan agar dapat memotivasi dan menyemangati pemuda Indonesia untuk melanjutkan studinya,” jelas Ade.

Penulis juga menambahkan kata mutiara yang ia sampaikan untuk pembaca

“Halangan dan rintangan bukanlah hal yang membatasi diri kita untuk maju”

1

Acara dilanjutkan dengan tausiah dari perwakilan PPMI Saudi Arabia , Abudzar Mandaili hingga azdan Maghrib berkumandang. Kemudian, perkenalan dari setiap peserta dan diskusi mengenai situasi terkini di Turki pasca ledakan bom di Turki. Azwir juga menggambarkan situasi singkat kehidupan mahasiswa Indonesia di Turki. Azwir, ketua PPI turki menyampaikan harapannya mengenai situasi yang sedang terjadi di sana.

“Kami memohon doa kepada teman-teman PPI Dunia, agar situasi Turki tetap stabil dan aman. Juga teman kita yang tempo hari ditangkap cepat selesai proses hukumnya,” jelas Azwir.

Acara ini ditutup dengan pembahasan singkat Simposium Internasional  yang akan dilaksanakan di Cairo pada tanggal 24 – 28 Juli mendatang. Besar harapan peserta juga agar acara seperti ini dapat terus dilaksanakan. (Red, Nazla, Editor, dw/df)

*Siaran tersebut bisa langsung didengarkan melalui media player di bawah ini:

⁠⁠⁠⁠

Page 1 of 3
1 2 3