Categories
Berita PPI Dunia

Surat Pernyataan Sikap & Kajian Akademis Pernyataan Sikap PPI Dunia terhadap UU CIPTA Kerja

Surat Pernyataan Sikap PPI Dunia atas Undang-Undang Cipta Kerja

Paska pandemi COVID-19 melanda Tanah Air pada Maret 2020 lalu, masyarakat yang berada di bahwa garis ekonomi menegah ke bawah dikabarkan kian terpuruk. Fenomena tersebut menjadi semakin kompleks paska lonjakan kasus COVID-19 dilaporkan nyaris di berbagai wilayah Indonesia. Hal itu berdampak pada keselamatan tenaga medis. Terlebih, banyak dari pahlawan medis telah berguguran akibat fenomena tersebut.

Dalam momentum bersaman, DPR RI kemudian mengesahkan RUU Cipta Kerja menjadi UU Cipta Kerja pada 5 Oktober 2020. RUU yang sudah direncanakan sejak akhir 2019 tersebut telah menjadi bagian dari prioritas dalam Program Legislasi Naisonal tahun 2020. Gagasan mengenai Omnibus Law atau Omnibus Legislation dianggap sebagai terobosan baru dalam bidang Hukum di Indonesia. Omnibus Law akan menjadi sarana dalam melakukan deregulasi serta debirokratisasi yang tujuan utamanya adalah menghadapi begitu banyaknya berbagai peraturan yang ada di Indonesia. Seperti dari yang dikutip dari sebuah jurnal penelitian yang berjudul “Urgensi dan Analisis Yuridis Pembentukan Omnibus Law Sektor Sumber Daya Air” oleh I Wayan Bhayu Eka Pratama, menurut Glen S. Krutz, Omnibus Legislation diartikan sebagai penyatuan berbagai undang-undang dalam satu undang-undang yang besar. Sehingga, implikasinya adalah Omnibus Law tersebut akan mengatur berbagai macam bidang kehidupan yang ada.

Namun demikian, pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja oleh DPR RI menimbulkan dinamika pada berbagai lapisan masyarakat. Salah satu alasan utama Pemerintah mendorong UU Cipta Kerja adalah untuk membuka peluang peningkatan ekonomi dengan memberikan kemudahan berusaha bagi berbagai pihak. Namun demikian, perlu disadari bahwa UU Cipta Kerja yang merupakan integrasi dari banyaknya undang-undang menimbulkan kompleksitas tersendiri bagi dari substansi, perspektif hukum, maupun dari melihat kepentingan masyarakat dan para pengusaha.

Merespon polemik atas disahkannya Undang-Undang (UU) Cipta Kerja, Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia (PPI Dunia) sebagai bagian dari civitas academica, membentuk tim khusus untuk melakukan kajian dan memulai menyusun kajian akademis sejak tanggal 6 Oktober 2020 atau setelah berita UU Cipta Kerja disahkan menyebar ke publik. Kajian akademis ini dibuat sebagai bentuk tanggung jawab moral PPI Dunia terhadap situasi yang berkembang serta untuk menjalankan fungsi PPI Dunia sebagaimana termaktub pada pasal 7 ayat (2) huruf c Anggaran Dasar PPI Dunia 2020 bahwa fungsi PPI Dunia meliputi fungsi penelitian dan kajian.

Selain melakukan kajian akademis, PPI Dunia juga melakukan diskusi publik dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan pada 14 Oktober 2020 dengan menghadirkan narasumber yang ahli untuk memberikan pendapatnya. Para narasumber tersebut yaitu:

1. Bahlil Lahadalia
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)
Tema: “Memahami lebih dalam dampak UU Cipta Kerja bagi kemudahan berusaha di Indonesia;
2. Anwar Sanusi, PhD
Sekretaris Jendral Kementerian Tenaga Kerja RI
Tema: “Memahami lebih dalam UU Cipta Kerja dibidang Ketenagakerjaan”
3. Prof. Dr. M. R. Andri Gunawan Wibisana, S.H., LL.M.
Guru Besar Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia
Tema: “Memahami lebih dalam dampak lingkungan hidup bagi lingkungan setelah pengesahan UU Cipta Kerja”
4. Faisal H. Basri, S.E., M.A
Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia
Tema: “Memahami lebih dalam dampak ekonomi setelah pengesahan UU Cipta Kerja”

Berbekal RUU Cipta Kerja yang kami terima dengan nama file “5 OKT 2020 RUU Cipta Kerja – Paripurna” (terdiri dari 905 halaman) serta hasil kajian akademis yang telah dilakukan, PPI Dunia dengan ini menyampaikan beberapa pernyataan sikap sebagai berikut (masukkan link Sp dan Kajian Akademis)
Pernyataan Sikap dan Kajian Akademis yang dilakukan PPI Dunia ini merupakan kewajiban akademis PPI dalam memberikan expert opinion sebagai sumbangsih PPI Dunia terhadap peningkatkan kualitas pelayanan public dan kebijakan pemerintah yang berbasis pada kesejahteraan masyarakat.
Kami berharap Surat Pernyataan Sikap ini tidak hanya menjadi ruang aspirasi bagi Diaspora Pelajar Indonesia di Luar Negeri namun juga dapat meningkatkan awareness untuk membersamai proses penyusunan berbagai Peraturan Pemerintah yang nantinya disusun sebagai aturan turunan dari UU Cipta Kerja.

Salam hangat,
Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia

01-Surat-Pernyataan-Sikap-PPI-Dunia

Kajian-Akademis-PPI-Dunia-atas-UU-Cipta-Kerja

Categories
Pusat Kajian & Gerakan

Kompilasi White Paper PPI Dunia 2020

White Paper Series ini adalah kumpulan kajian dan analisis lintas bidang yang diinisiasi oleh Pusat Kajian dan Gerakan tahun 2017/2018 dan berlanjut hingga kini yang disempurnakan pada setiap Simposium Internasional PPI Dunia.

Pada kumpulan White Paper periode 2019/2020, PPI Dunia menghadirkan 9 analisis yang mengulas 9 isu-isu kontemporer dan masalah yang berkaitan dengan pandemi COVID-19. Kesembilan judul analisis tersebut adalah; Pandemi COVID-19, Krisis Ekonomi 2020, dan Pemulihan Ekonomi Nasional oleh Komisi Ekonomi, Kebijakan dan Strategi Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular – Rekomendasi Terhadap Penurunan Faktor Risiko Bersama Terkait Kebiasaan Makanan Terhadap Penyakit Tidak Menular di Indonesia oleh Komisi Kesehatan, Dampak Pembelajaran Online dalam Sistem Pendidikan Indonesia Pasca Pandemi COVID-19 oleh Komisi Pendidikan, Indonesia Sebagai Poros Wisata Maritim Dunia: Studi Kasus Budaya Maritim Masyarakat Suku Mentawai oleh Komisi Sosial Budaya, Momentum Revitalisasi Pertanian Pada Masa Pandemi COVID-19 oleh Komisi Pangan, Teknologi Nano di Indonesia oleh Komisi Teknologi, Membangkitkan Sektor Perikanan Pasca Pandemi COVID-19 oleh Komisi Maritim dan Kelautan, Ketahanan, Kedaulatan, dan Kemandirian Energi Berbasis Potensi Lokal serta Gas Bumi untuk Masa Depan oleh Komisi Energi, Indonesia Terkucil? Safe Travel Corridor dan Ancaman Deglobalisasi Pasca Pandemi COVID-19 oleh Komisi Hukum, Pertahanan, dan Keamanan.

PPID-White-Paper-2020-Repaired

WP-Komisi-Kesehatan-No-2-2020

Categories
Pusat Kajian & Gerakan

Catatan Akhir Pusgerak

Demikian Catatan Akhir Pusat Kajian dan Gerakan PPI Dunia Periode 2019/2020 yang dapat disampaikan. Selama 1 tahun ini kami telah berupaya maksimal untuk menjalankan tanggung jawab sebaik mungkin. Namun tidak menutup kemungkinan masih banyak kekurangan yang kami lakukan. Mohon maaf bila selama 1 tahun periode ini banyak kekurangan dan ada hal yang tidak berkenan di hati rekan-rekan sekalian. Semoga kepengurusan PPI Dunia 2020/2021 akan membawa PPI Dunia lebih baik ke depannya.

Catatan-Akhir-Pusgerak-20-21

Categories
Berita PPI Dunia

Himbauan tentang COVID-19 Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia)

Jumlah korban akibat COVID-19 sudah semakin bertambah. Data terakhir menunjukkan 167.759 orang terinfeksi di setidaknya 157 negara dan teritori, termasuk Indonesia yang sudah mencapai 117 penderita (data dari worldometers.info dan CNN Indonesia, terhitung 16 Maret 2020, pukul 02.30 WIB). Oleh karena itu, kami Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) menyampaikan rasa duka serta prihatin dan doa kepada mereka yang terdampak.

Berdasarkan kajian terbaru dari para ahli, meskipun tingkat fatalitas penyakit akibat COVID-19 lebih rendah dari wabah serupa, seperti SARS dan MERS, transmisi atau penularan virus ini sangat cepat dan mudah dari manusia ke manusia. Saat ini, sudah ada upaya-upaya peningkatan imunitas tubuh yang berpotensi menyembuhkan dan terbukti sudah banyak yang sudah sehat. Namun, tingginya jumlah korban meninggal dunia juga menjadi hal yang perlu diwaspadai, terutama risiko tinggi pada lansia dan penderita dengan penyakit bawaan lainnya. Oleh karena itu, semua pihak atau pemangku kepentingan dihimbau agar tenang tapi tetap waspada.

Berikut kami lampirkan Himbauan tentang COVID-19 Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia)  dengan surat nomor: 630/KSK/PPID/III/2020: Himbauan tentang COVID-19 Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia)

Himbauan-Covid-19-PPI-Dunia

Categories
Pojok Opini

Sejauh Apa Perhimpunan Pelajar Indonesia Bisa Melangkah?

Sumber : https://cdn.yukepo.com/content-images/main-images/2017/09/28/main_image_12098.jpg

Perhimpunan Pelajar ditanam bibitnya sejak sekitar awal abad 20 oleh Mohammad Hatta. Tujuannya satu: menghidupkan diskursus dan pergerakan untuk kemerdekaan Indonesia. Narasi dan diskusi soal penentangan penjajahan di muka bumi, nilai-nilai kesetaraan, hak dan kemanusiaan, serta strategi agar kata ‘Merdeka’ berhak disandang oleh Indonesia saat itu terus diwacanakan. Alhasil, kurang dari setengah abad kemudian, masih dalam generasi yang sama, Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya yang salah satunya diwakili oleh sang pelopor, Mohammad Hatta.

Zaman terus berkembang. Jumlah pelajar Indonesia yang mendapatkan didikan serta referensi kebudayaan dan politik di luar bumi pertiwi pun kian bertambah. Diaspora Intelektual Indonesia kian menyebar di berbagai sektor dan negara. Bahkan mungkin, hampir di setiap kota besar di dunia setidaknya terdapat segelintir orang Indonesia yang belajar maupun berkarir. Hidup dalam tatanan masyarakat internasional. Seiring persebarannya yang meluas, maka kelompok-kelompok Indonesia pun mulai bermunculan. Baik berbentuk kelompok informal, komunitas dengan minat atau bidang tertentu hingga Perhimpunan Pelajar Indonesia yang digarap dengan cukup serius.

Saat ini, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) memiliki radius yang beragam: dunia, negara, kota, bahkan hingga level universitas. Tentu, ini bukanlah tingkatan yang menunjukkan bahwa satu bentuk PPI berada lebih tinggi posisinya daripada PPI lain. Misal, PPI Dunia tak bisa memberikan komando begitu saja kepada PPI sebuah negara, apalagi di sebuah kota, seberapa besar pun jumlahnya. Walau bagaimanapun, perbedaan cakupan ini bersifat koordinasi yang selayaknya saling dukung satu dengan lainnya.

Memang susah jika ditanya berapa tepatnya jumlah pelajar Indonesia, khususnya mahasiswa, yang tengah melanjutkan studi di luar Republik Indonesia. Pasalnya, tak semua orang berkenan untuk mengisi data di KBRI, maupun bergabung bersama PPI. Yang jelas, jumlahnya sangat banyak dan tak bisa dinafikkan bahwa ada potensi besar darinya yang belum digugah secara optimal.

Untuk memahami hal ini, mari mulai dengan membahas pembagian positioning dari tiap spektrum PPI. Di universitas, atau yang biasa disebut Indonesian society (indosoc) fokus besarnya berada di ranah penjaringan anggota karena relatif dekat dengan kehidupan keseharian pelajar. Hal ini pun bisa relatif mudah dilakukan secara bekerjasama dengan kampus dalam hal mengetahui jumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di universitas tersebut. Selangkah lebih jauh, hal lain seperti peminjaman ruang kampus hingga kegiatan atau kerjasama dengan society dari negara lain pun mungkin dilakukan. Untuk konteks yang lebih besar, PPI Kota pun tetap memiliki porsi besar dalam fungsi kekeluargaan mahasiswa Indonesia. Terlebih lagi, jika di suatu kota hanya terdapat satu universitas, atau mahasiswa Indonesia yang ada terfokus di satu universitas tertentu. Maka, peranan tersebut bisa disatukan dengan apa yang biasa dilakukan oleh indosoc. Uniknya, tak sedikit pula PPI Kota yang melebarkan langkah di luar pemenuhan fungsi kekeluargaan, melainkan dalam hal akademik seperti pelatihan penulisan academic writing, diskusi dan seminar dengan topik tertentu, hingga festival kebudayaan. Sehingga tak bisa disangkal bahwa PPI Kota, bersama indosoc, berada pada level akar rumput dalam menyentuh permasalahan dan menggali potensi dari diaspora intelektual muda Indonesia. Jika bicara soal duta bangsa, sesungguhnya organisasi pada level ini sangat memegang peran dalam menjaga performa mahasiswa Indonesia di luar negeri sebagai duta bangsa di kancah internasional.

Dalam ruang yang lebih luas, PPI Negara tentunya memiliki core business, core competency dan core value yang berbeda dari PPI Kota. Menjadi jembatan antar elemen mungkin adalah diksi yang sesuai bagi organisasi tersebut menjalankan tugasnya, baik antar PPI kota, kemudian PPI kota dengan PPI Negara, lantas bersama pihak KBRI, bahkan hingga urusan media coverage mengenai kegiatan PPI pun selayaknya dijalankan oleh PPI Negara. Idealnya, memang PPI Negara tidaklah menjadi PPI kota kesekian yang malah sibuk mengurus persoalan harian PPI kota atau bahkan indosoc. Dengan demikian, ekspektasi yang dibebankan pun lebih berat karena akan tercipta generalisir dari fungsi representasi bagi mahasiswa Indonesia yang berkuliah di suatu negara. Oleh karena itu, menjadi hal wajar jika PPI Negara memiliki gagasan yang lebih besar karena diamunisi oleh beragamnya elemen yang ada seperti PPI tiap kota, KBRI, media, komunitas Indonesia, dan sebagainya. Kegiatan konferensi sebagai media unjuk ide, penelitian dan solusi kebangsaan pun lumrah diadakan oleh PPI suatu negara. Selain itu, perwujudan dari kepedulian terhadap permasalahan sosial-masyarakat di Indonesia pun sering digalakan. Mulai dari penggalangan dana bencana, seminar pendidikan, pemberian bantuan materiil, pernyataan sikap terhadap suatu isu kebangsaan hingga beasiswa pun menjadi menu yang lumrah bagi bidang pengabdian masyarakat PPI Negara. Dalam hal manajemen organisasi pun sudah semestinya PPI Negara dituntut lebih profesional dalam membangun learning organization dan koordinasi yang solid serta tidak terjangkit pada politik praktis.

Selanjutnya, PPI Dunia sebagai wadah berbagi dan bekerjasama antar PPI Negara di planet bumi ini pun memiliki beban dan ekspektasi yang juga berlipat. Sesederhana bahwa pengurus PPI Dunia akan dicap sebagai wajah dari diaspora intelektual muda Indonesia. Kritisisme dalam menyikapi isu, ketrampilan dalam mengekskalasi gerakan, hingga profesionalisme dalam memanajemen organisasinya pun akan menjadi sorotan dari beragam pihak. Sayangnya, PPI Dunia sejatinya tidak sepenuhnya memiliki jangkar yang cukup dalam untuk menyentuh permukaan, alias urusan keseharian pelajar Indonesia di beragam negara, kecuali dalam urusan strategis seperti jika terjadi pelarangan terhadap segenap mahasiswa Indonesia untuk memasuki negara tujuan belajarnya. Oleh karena itu, PPI Dunia seyogyanya akan berputar pada tataran konsep strategis dan hipotesis besar dalam mendukung kemajuan Indonesia. Merangkai titik temu dan titik tuju bersama PPI Negara, pihak Pemerintah Indonesia, komunitas maupun organisasi Internasional, dan sebagainya menjadi PR besar bagi PPI Dunia. Untuk itulah, PPI Dunia membagi dirinya dalam beberapa PPI kawasan seperti amerika eropa, asia oseania serta timur tengah dan afrika. Terdapat pula komisi-komisi yang fokus mengurus kajian di berbagai topik strategis seperti energy, kesehatan, pendidikan, gerakan dan sebagainya. Memang, sebagai organisasi besar berbasiskan pada keilmuwan, bersandarkan pada kebenaran ilmiah, serta berlandaskan pada kolaborasi dan kontribusi bagi kemajuan Indonesia, maka PPI Dunia tak akan pernah bisa lepas dari dirkursus pemikiran, pengguliran wacana serta gerakan strategis untuk Indonesia.

Kesimpulan sementara, bahwa pergerakan Perhimpunan Pelajar Indonesia memiliki arah gerak serta lingkup yang berbeda di setiap masa serta stratanya. Tentunya, PPI tak bisa disalahkan begitu saja jika kondisi Indonesia belum maju dengan optimal, tidak seperti beberapa negara tempat sebagian pelajar Indonesia menempuh studi. Toh PPI Dunia, serta PPI di beberapa negara dan kota pun relatif baru dibangun serta masih membutuhkan banyak upaya penstabilan dalam memutar motor organisasinya secara efektif dan efisien. Meskipun demikian, kita sepakat bahwa potensi para diaspora intelektual muda Indonesia tak bisa dibiarkan tercecer terlalu lama. Oleh karena itu, PPI secara umum harus mampu menjadi salahsatu perangkai utama titik temu dan titik tuju bagi kemajuan Indonesia di masa depan melalui sinergisasi yang optimal dari level indosoc, PPI Kota, PPI Negara, hingga PPI Dunia. Mewujudkan perannya sebagai perkumpulan intelektual muda serta duta bangsa yang terus berkiprah bagi republik meski tak lagi menyandang gelar pelajar di institusi formal.

Penulis : Angga Fauzan
M.Sc Design & Digital Media candidate
The University of Edinburgh

Categories
Asia dan Oseania Berita PPI Negara

The 6th Asian Academic Society International Conference (AASIC): Kontribusi Permitha untuk Dunia

Para Pembicara The 6th AASIC dan Perwakilan PPI & KBRI

Perhimpunan mahasiswa Indonesia di Thailand (Permitha), kembali menggelar konferensi internasional tahunannya yang dikenal dengan AASIC. Konferensi tahun ini diadakan di salah satu universitas di utara Thailand, Mae Fah Luang University, universitas yang asri berlokasi di Provinsi Chiang Rai pada tanggal 8-10 November 2018.

AASIC sudah diadakan sejak tahun 2012, dimulai dari Prince of Songkla University di Provinsi Songkla, Thailand Selatan, kemudian berpindah ke Kasetsart University dan Chulalongkorn University di tahun 2013 dan 2015 yang keduanya merupakan universitas di provinsi Bangkok. Tahun 2016 berpindah ke Mahidol University yang lokasinya di Provinsi Nakhom Pathon, dan 2017 di Khon Kaen University, provinsi yang berlokasi di timur laut Thailand.

Untuk tahun 2018, jumlah peserta AASIC meningkat menjadi 200 peserta yang berasal dari 11 negara yaitu: Indonesia, Thailand, Malaysia, Vietnam, Myanmar, Laos, Filipina, India, Bangladesh, Amerika serikat, dan Australia. Para akademisi yang tergabung dalam konferensi ini membahas tema besar tentang transformasi masyarakat Asia dalam dinamisasi, inovasi dan globalisasi dengan key-note speaker Prof. Alberto Gomes yang merupakan pakar sosiologi dan antropologi La Trobe University, Australia. Kemudian, acara dilanjutkan dengan plenary lecture dengan pembicara yang berasal dari 4 kluster keilmuan: Dr. Wasana (Chulalongkorn University) dari sosial sains, Prof. Dr Yunardi (Universitas Syiah Kuala) dari sains-teknologi, Prof. Dr. Nopadol dari kesehatan dan Dr. Chachaya dari ekonomi.

Fadjar Mulya, Ketua Permitha sekaligus Koordinator PPI Dunia saat memberikan sambutan

Artikel ilmiah peserta AASIC akan dipublikasikan dalam bentuk prosiding AASIC yang dapat di akses di http://aasic.org/proc/aasic/issue/archive dan beberapa jurnal yang bekerjasama dengan AASIC yaitu: Mahasarakham University, Journal of Education, Indonesian Journal of Nursing Practices, AEI Insights, International Journal of Asia-Europe Relations – University of Malaya, The Journal of Human Rights and Peace Studies, Mahidol university, Journal of Accounting and Business Dynamics dan Constitutional Review (CONSREV).

Categories
Eropa dan Amerika PPI Dunia PPI Negara Travel & Kuliner Wawasan Dunia

Russia Travel Guide: Jelang Simposium Internasional PPI Dunia 2018

Dalam rangka memeriahkan Simposium Internasional PPI Dunia pada tanggal 22-27 Juli 2018 di Moskow, PERMIRA Rusia merilis booklet ‘Guideline Travel in Russia’ sebagai panduan saat mengunjungi negara yang menjadi tuan rumah event tersebut. Di booklet ini membahas banyak tempat wisata di kota Moskow dan Saint-Peterburg yang merupakan kota terbesar kedua di Rusia. Selain itu ada juga info kuliner khas Rusia serta tips penting lainnya.

 

Selengkapnya dapat diunduh di sini.

 

Categories
Eropa dan Amerika PPI Dunia PPI Negara Seni & Olahraga Travel & Kuliner Wawasan Dunia

Menikmati Museum-Museum Sepak Bola di Spanyol

Kemeriahan Piala Dunia 2018 mendorong saya untuk berbagi pengalaman ‘football traveling’ di museum-museum sepak bola di Spanyol. Siapa tahu rekan-rekan sekalian berminat untuk berkunjung dan menikmati sejarah sepak bola di negeri Raja Felipe ini.

Salah satu klub sepak bola terkaya, tersukses, paling terkenal dan ter- ter- lainnya di dunia adalah FC Barcelona. Anda mungkin menikmati kota ini dengan mengunjungi Sagrada Familia, katedral mahakarya arsitek terkenal, Antoni Gaudi. Juga dengan menikmati berjalan-jalan di Passeig de Gracia atau Plaza Catalunya sekaligus berbelanja produk-produk bermerk ternama. Namun, Anda wajib berkunjung ke museum FC Barcelona meskipun tidak terlalu ngefans dengan sepak bola.

Pengunjung berfoto di sudut Camp Nou

Di museum Barcelona, yang paling membuat kagum adalah betapa pintarnya manajemen klub sepak bola Barcelona mengemas passion manusia terhadap sepak bola menjadi sebuah experience yang luar biasa. Begitu menjejakkan kaki di ruangan pertama museum, nuansa heroik para legenda hidup Barça sudah terasa. Ratusan trofi yang pernah dimenangi klub Catalan tersebut sejak tahun 1900-an tersimpan rapi di susunan rak-rak dengan pintu kaca. Enam trofi yang dimenangi sekaligus pada tahun 2009 disimpan terpisah, menandakan betapa spesialnya tahun tersebut karena merupakan prestasi monumental yang sukar diulangi oleh klub sepak bola mana pun.

Dengan tur berlabel ‘The Camp Nou Experience’ seharga 25 euro, Anda juga bisa melihat-lihat ke dalam ruang ganti Lionel Messi dan kawan-kawan, berfoto di pinggir hijaunya rumput lapangan atau bahkan duduk-duduk di tribun Camp Nou. Singkatnya, Anda bisa membayangkan sensasi berada di 90.000 ribu lebih penonton di stadion ini sendiri yang merupakan stadion dengan kapasitas terbanyak di Eropa.

Museum FC Barcelona bukan satu-satunya arena pertunjukan sepak bola akbar di Spanyol. Tentu saja kita tak boleh melupakan Real Madrid, klub penguasa Eropa dalam tiga tahun terakhir. Di Stadion Santiago Bernabéu, harga  untuk tiket museum klub terbesar di dunia tersebut juga mirip-mirip dengan Barcelona, sekitar 20-25 euro.

Stadion Santiago Bernabéu di Madrid

Real Madrid dan Barcelona memang bersaing dalam urusan sport-tourism mereka. Museum Real Madrid juga merupakan tempat yang wajib dikunjungi oleh penggila sepak bola, terutama karena sejarah panjang klub sepak bola nomor satu Spanyol tersebut.

Selama berpuluh-puluh tahun, Real Madrid memenangi trofi demi trofi bergengsi dan menguasai dunia dengan para jugador  zaman dulu mereka, seperti Alfredo di Stefano dan Ferenc Puskas.

Isi lemari Real Madrid sudah penuh sesak dengan gelar juara domestik plus 5 trofi Piala Champions yang mereka dominasi dari tahun 1956 sampai 1960. Maka, jika berkeliling di dalam museum Real Madrid, yang terlihat adalah parade kesuksesan selama bertahun-tahun. Piala dari tahun 1950-an sampai abad ke-21 menghiasi seluruh ruangan.

Real Madrid juga selalu menjadi salah satu pelaku utama gemerlapnya panggung sepak bola Eropa zaman modern dengan gelimang harta dan pemain-pemain kelas dunia yang seolah sangat gampangnya mereka gaet. Stadion Santiago Bernabéu selalu dipenuhi pemain-pemain sekaliber Ronaldo Luis Nazario da Lima, Luis Figo, Zinedine Zidane, David Beckham, Ruud Van Nistelrooy, hingga nama-nama beken masa kini seperti Cristiano Ronaldo, Kaka, dan Mesut Oezil.

Ruang ganti pemain di stadion Mestalla

Jika Anda bosan dengan dua klub tersebut, museum klub-klub seperti Atletico Madrid, Valencia dan Sevilla bisa menjadi alternatif. Saya cukup terkesan dengan museum di stadion Mestalla, Valencia dan Ramon Sanchez Pizjuan, Sevilla. Harga tiket masuknya pun tak semahal dua klub raksasa di atas. Harga tiket ‘Mestalla Forever’ hanya 11 euro, sangat murah untuk sebuah tur yang sudah tersertifikasi ‘recommended’ oleh Trip Advisor. Harga ini kurang lebih sama dengan tur stadion Ramon Sanchez Pizjuan milik Sevilla (10 Euro).

Stadion Ramon Sanchez Pizjuan di Sevilla

Sedangkan tur Atletico Madrid cukup berambisi bisa menyaingi pelayanan tur Real Madrid, klub sekotanya. Setelah diambil alih investor dari Cina, Wanda Group, derajat Atletico Madrid jauh terangkat jika melihat kandang baru mereka. Stadion berkapasitas 67 ribu penonton yang diberi nama Wanda Metropolitano ini telah memperoleh predikat bergengsi sebagai stadion berbintang empat UEFA. Predikat ini setara dengan beberapa stadion terkenal lain, seperti Allianz Arena di Muenchen dan Amsterdam Arena.

Singkat kata, berkunjung ke museum sepak bola di Spanyol adalah salah satu cara pas untuk memahami kultur masyarakat negara tersebut. Kapan-kapan, saya akan berbagi pengalaman menonton langsung laga sepak bola di negeri ini.

 

Profil Penulis:

Mahir Pradana adalah wakil ketua PPI Spanyol 2018/2019 yang juga penulis buku memoir sepak bola berjudul ‘Home & Away’ dan kolumnis di Football Tribe Indonesia. Mahir bisa disapa di akun Instagramnya @maheerprad.

Categories
PPI Negara Timur Tengah dan Afrika Travel & Kuliner Wawasan Dunia

Berumrah dari Timur Arab Saudi

Sebagian besar (calon) mahasiswa yang berkeinginan untuk melanjutkan sekolah di Arab Saudi bisa dibilang mempunyai cita-cita yang sama, yakni bisa beribadah di dua kota suci umat Islam (Makkah & Madinah). Pun begitu dengan yang terjadi di sebuah kampus di Provinsi Timur (Eastern Province) yang bernama King Fahd University of Petroleum and Minerals (KFUPM). Terletak di bagian paling timur Arab Saudi, menjadi cerita tersendiri jika ingin menunaikan umrah. Prosesi pelaksanaan umrah dilakukan di Makkah yang terletak di bagian barat Arab Saudi. Kurang lebih 1300 km jarak yang membentang dari kota Dammam/Khobar yang menjadi titik keberangkatan mahasiswa KFUPM jika ingin melakukan umrah ke kota Makkah.

Untuk mencapai kota Makkah dalam hal ini untuk berumrah bisa ditempuh dengan beberapa cara. Pertama, yang sering digunakan adalah mengikuti jadwal travel umrah yang disebut hamla. Biasanya umrah dilakukan akhir pekan, berangkat Kamis sore (sekitar jam 5 sore) tiba di Makkah sekitar jam 8-9 pagi, dan berangkat kembali ke Khobar Sabtu siang, dengan biaya kisaran 100-150 riyal tergantung paket yang dipilih (Makkah saja atau dengan Madinah, dan dengan atau tanpa penginapan).

Kedua, adalah menggunakan bus, seperti SAPTCO, sebuah perusahaan transportasi antar kota dari pemerintah Arab Saudi. Jadwal bus dari Dammam ke kota Makkah adalah 3x sehari dengan waktu tempuh mencapai 20 jam. Keuntungan yang bisa digunakan oleh pelajar/mahasiswa di Arab Saudi ialah bisa mendapatkan potongan harga tiket, yakni sebesar 50%, jadi beli tiket pulang-pergi dengan harga tiket sekali berangkat, yakni untuk rute Dammam-Makkah sebesar 210 riyal, dengan cukup menunjukkan surat keterangan mahasiswa aktif dari kampus.

Sujud menghadap Kabah

Adapun cara ketiga adalah dengan menggunakan moda transportasi pesawat terbang yang lebih cepat waktu perjalanan ditempuh sekitar 2-2.5 jam dari King Fahd International Airport (KFIA), Dammam ke King Abdulaziz Internasional Airport (KAIA), Jeddah. Lalu dari Jeddah bisa menggunakan taksi ke terminal bus Makkah, atau bisa langsung naik taksi omprengan yang bisa mengantarkan langsung ke dekat Masjidil Haram. Biaya tiket pesawat biasanya berkisar antara 300-500 riyal, dan untuk taksi kisaran 50-100 riyal dan bus dari Jeddah ke Makkah 20 riyal, dengan waktu tempuh perjalanan 1-1.5 jam.

Untuk akomodasi sendiri bisa memilih banyak opsi, seperti yang lebih ramah di kantong mahasiswa adalah mencari penginapan yang digunakan untuk mandi, bertukar pakaian, dan menaruh barang sementara, dengan tarif 50-100 riyal yang bisa digunakan untuk 3-5 orang. Opsi lain yang bisa diambil jika bepergian dengan hamla, adalah dengan menaruh tas di dalam bagasi bis dan cukup membawa tas kecil berisi pakaian ganti, dan selebihnya menunggu di sekitaran area Masjidil Haram saja, sehingga tidak mengeluarkan biaya akomodasi.

Urusan makanan, tiap cari bepergian, tentu saja berbeda biaya yang harus dikeluarkan, karena bergantung lama waktu perjalanan. Jika menggunakan hamla atau bus, biasanya ada 2 kali pemberhentian, tergantung waktu keberangkatan yang dipilih (pagi/siang/sore/malam). Bus akan berhenti di setiap waktu sholat dan juga saat tiba di daerah miqat untuk melakukan ihram. Miqat dari arah Timur Arab Saudi adalah Qarnul Manazil atau As-Sail yang berjarak sekitar 85 km dari Masjidil Haram. Untuk biaya makan selama perjalanan maupun di Makkah, kisaran 15-25 riyal untuk porsi yang bisa dihabiskan oleh 2-4 orang.

Jadi, jika dikalkulasikan kisaran biaya yang dihabiskan dalam sekali perjalanan umrah dari Provinsi Timur Arab Saudi (dalam hal ini dengan menggunakan bus atau hamla) adalah 150-250 riyal atau setara dengan 550 ribu-900 ribu rupiah tergantung kebutuhan dan gaya hidup saat perjalanan (pilihan makanan, porsi makan).

 

Profil Penulis:

Rama Rizana adalah mahasiswa magister untuk konsentrasi Transportation Engineering King Fahd University of Petroleum and Minerals (KFUPM), Dhahran, Arab Saudi. Saat ini menjabat sebagai wakil koordinator Pusat Kajian Gerakan PPI Dunia periode 2017/2018. Rama dapat disapa di akun Instagramnya @ramarizana.

 

 

Categories
Asia dan Oseania PPI Dunia PPI Negara Travel & Kuliner Wawasan Dunia

Mengintip Megahnya Masjid SOAS, Ikon Brunei Darussalam

Negara Islam dengan Kesultanan sebagai ciri khasnya. Kedamaian dan ketentraman yang dijanjikan kepada masyarakatnya menjadikan negara ini sebagai inspirasi  bagi negara-negara lainnya dalam pembentukan masyarakat negara. Negara yang tidak luas namun besar kecintaannya pada sang Khalik ini mempunyai masjid-masjid yang dibangun megah nan indah dan  termasuk simbol utama negara ini, simbol umat muslim yang juga menjadi seni nyata dalam pembangunan Islam di zaman modern saat ini. Salah satu masjid tersebut adalah Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin.

Negara yang masih berumpun satu dengan negara Indonesia juga Malaysia ini mempunyai banyak kesamaan dengan negara-negara tetanggan kita yang mana masih bisa menemukan musim panas yang terik juga musim hujan yang terkadang membuat genangan air meluap.  Masyarakat yang ada juga tidak jauh berbeda dari segi rupa dan fisik dibanding  negara-negara Asia lainnya. Hanya saja mungkin terdapat beberapa perbedaan bahasa dan dialek yang digunakan. Dari segi budaya pun hampir sama. Hanya saja negara ini masih kental dan lekat dengan budaya-budaya lokal yang ada.

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin

Dikenal dengan nama Masjid SOAS (Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin), bertempat di pusat ibukota Brunei Darussalam, Bandar Seri Begawan. Masjid ini tidak pernah sepi dari pengunjung, baik dari orang Brunei sendiri  maupun orang luar negara, bahkan pengunjung non-muslim. Mereka berbondong-bondong datang dengan tujuan yang berbeda-beda. Baik itu untuk sekedar melihat pemandangan sekeliling masjid, berfoto bersama maupun sengaja datang untuk beri’tikaf. Terkhusus bagi mereka yang non-muslim, dikehendaki menutup pakaian mereka dengan pakaian yang telah disediakan didalam masjid.

Letaknya yang sangat strategis, dan adanya transportasi yang tidak sedikit juga berbagai jenis penginapan dan makanan khas negara-negara terkenal sudah tersedia di sekitarnya merupakan alasan terkuat bagi para wisatawan luar negara  yang dtang berkunjung.

Ditambah lagi dengan adanya halaman luas yang dihias dengan berbagai macam pepohonan juga bunga-bunga indah sekeliling masjid ini. Siapa yang tidak terpana dibuatnya, ketika kita dapat menikmati dua keindahan alam dalam satu waktu?! Bukan hanya itu, masjid yang namanya diambil dari nama Sultan ke-3 yang pernah memimpin ini juga dibuat dari lapisan emas asli pada kubah utamanya serta dikelilingi dengan menara-menara masjid yang  bahan bakunya tidak biasa, yaitu batu marmer asli. Di bagian belakang masjid juga dibangun jembatan yang bersambung langsung dengan Sungai Kampong Ayer yang ada di negara ini. Replika perahu (Barj Mahligai Sultan) yang bersambung dengan masjid tersebut juga merupakan keunikan sendiri bagi masjid ini. Dimana yang dahulu hanya bisa dinikmati keindahannya ketika dalam pementasan tilawah qur’an saja, saat ini setiap orang dalam keadan apapun bisa menikmatinya.

Ketua PPI Brunei berlatar Masjid SOAS.

Saya, sebagai pelajar Indonesia yang berada di negara ini dibuatnya tidak pernah merasa bosan untuk terus berkunjung ke masjid yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat dimana saya tinggal saat ini. Baik karena ingin sekedar datang untuk menikmati keindahan masjid ini, maupun karena tuntutan. Apakah tuntutan yang saya maksud disini? Apakah ini sesuatu yang negatif? Tidak tentunya. Tuntutan ini bermaksud sebagai tempat awal pengenalan orang-orang luar seperti saya tentang Negara ini, karena terkadang sayapun ikut mengajak orang-orang baru berkunjung kesana. Karena bagi saya, dia yang datang ke Negara ini belum sempurna rasanya jika ia belum  mengunjungi masjid ini dan Masjid Jami’ Asr’ Haji Hassanal Bolkiah. Dan tidak sedikit orang yang telah pergi bersama saya untuk menikmati keindahan Masjid Omar Ali Saifuddin ini bersama, baik orang itu merupakan pelajar baru Indonesia atau dari negara-negara lain juga wisatawan asing yang sengaja hendak berkunjung.

Salah satu proker PPI Brunei

Dari karenanya untuk mempermudah jalannya kunjungan daripada orang luar, dibentuk sebuah aktivitas kunjungan di bawah naungan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) yang saat ini langsung  di bawah tanggung jawab organisasi. Karena itu bagi siapa yang mungkin berminat untuk mengunjungi masjid ini juga tempat-tempat wisata lainnya bisa menghubungi langsung di Instagram @ppibruneidarussalam.

Profil Penulis:

Siti Bilqis Firdausy adalah mahasiswa tahun keempat jurusan Bahasa Arab di University Islam Sultan Syarif Ali. Bilqis juga aktif di PPI Brunei Darussalam sebagai Koordinator Departemen Pendidikan dan Keilmuan. Bilqis bisa disapa di akun Instagram @firdausy_bilqis

 

 

Page 1 of 54
1 2 3 54