Categories
Eropa dan Amerika Upcoming Event

Temp(e)tation: Workshop Tempe dari PPI Wageningen, Belanda

Liputan Belanda – Dalam rangka memperingati hari Pahlawan yang akan jatuh pada tanggal 10 November, PPI Wageningen akan menyelenggarakan Temp(e)tation, sebuah workshop yang mengusung tempe sebagai tema utamanya. Acara yang juga merupakan hasil kolaborasi dengan D+ dan PPI Belanda ini akan menghadirkan Wida Winarno, pendiri Indonesia Tempe Movement, M. J. Rob Nut, peneliti biofunctionality tempe, dan Herditya Harsono, pemenang Ecotrophelia 2016 yang membuat produk minuman berbahan dasar tempe sebagai pembicara.

Workshop yang juga bertujuan untuk lebih memperkenalkan tempe kepada masyarakat Belanda ini akan diselenggarakan di C214 Forum, Wageningen University pada 10 November 2016 mulai pukul 19.00-21.00 CET atau pukul 01.00-03.00 WIB dini hari tanggal 11 November. Bagi masyarakat Indonesia di luar Belanda pun dapat menyimak workshop melalui streaming pada link bit.ly/tempetation2016

final-2

 

Categories
Eropa dan Amerika Upcoming Event

Indonesian Palm Oil Symposium – PPI Wageningen (Belanda)

PPI Wageningen proudly presents Indonesian Palm Oil Symposium with topic: The Land Expansion. The symposium will be held at Hof van Wageningen hotel on Tuesday (11 October 2016).

Speakers:
– Agriculture attache of Indonesian embassy in Brussels
– Copernicus Institute for Sustainable Development (Utrecht)
– Head of Soil Museum
– Head of sustainability office (PT Sinarmas)
– WUR social and economic PhD researcher

Seats are limited! Register yourself: bit.ly/IPOS2016

Registration Deadline: 1 October 2016

ppiw

 

 

Categories
Berita PPI Negara Upcoming Event

International Conference on ASEAN Development 2016

Innovating ASEAN Economic Community: Looks to the EU for Lessons
Date : September 3rd and 4th, 2016
Venue : Clevering Zaal (C.131), Kamerlingh Onnes Building (KOG), Steenschuur 25: Leiden Law School, Netherlands

DAY 1: Politics and Law, and Economics Chambers.
Key-Note Speakers in Stadium General:
1. H.E AKP Mochtan (ASEAN Deputy Secretary General for Community and Corporate Affairs)
2. H. E. Federica Mogherini (EU High Representative of the Union for Foreign Affairs and Security Policy
3. Prof. Dr. Jimly Ashidique (Chief of Indonesian Honorary Council of Electoral Officer, DKPP-RI)

Speaker for Politics and Law:
Dr. Armin Cuyvers – Assistant professor of European Law at the Europa Instituut of Leiden University and Lecturer at Leiden University

Speaker for Economics:
Matthjis van den broek – Lecturer at Rotterdam Business School, Member of International Business Advisory Board and Managing Director of Further East Consult*

DAY 2: Tourism and Culture, and Technology Chambers.
Speakers for Tourism and Culture:
1. Dr. Sjoerd Gehrels, EdD, MSc, MBA, CHE – Course leader MA/MSc International Hospitality Service Management Stenden University Leeuwarden
2. Professor Conrad Lashley – Lecturer at Stenden University Leeuwarden

Speaker for Technology:
Dr. Desy Irawati Rutten FeRSA – the CEO and managing director of EduPRIME, a scientific writer and communicator for science diplomacy duties.

The detailed rundown will be informed soon and for registration please click https://goo.gl/forms/EOzVfKtHUc7L4Gkv2. Please register before SEPTEMBER 1st, 2016. The seats are limited!
Thank you for your attention and we are looking forward greeting and meeting you.

ICAD 2016 Organizer Committee Presented by PPI Belanda

PS: There would be interesting goodie bags for the first hundred registered participants! However, all the participants would receive a certificate and a delightful coffee break

Categories
Pojok Opini Suara Anak Bangsa

Hari Maritim Nasional, Sejauh mana Indonesia sudah berlayar ?

Perkembangan dunia kemaritiman di dunia saat ini berkembang cukup pesat, salah satu fokus dunia saat ini adalah sustainability technology dimana setiap negara berlomba-lomba untuk meminimalisir waste dari produk yang dihasilkan serta berupaya memaksimalkan hasil yang dapat diperoleh dari sistem atau produk tersebut. Saat ini, Port of Rotterdam menggunakan konsep fully automated vehicle dimana sistem itu mampu meminimalisir waste hingga menyentuh angka 0 dan meningkatkan produksi hingga 40%. Selain belanda, berbagai negara telah mengembangkan new and renewable energi dari sisi kemaritiman seperti penggunaan pembangkit listrik tenaga angin offshore, tenaga arus, tenaga gelombang, pasang surut dan potensi lainnya. Mengingat teknologi kemaritiman adalah hal yang cukup luas, maka tidak salah jika fokus dunia saat ini adalah sustainability

Di sektor perikanan, Salah satu pilar dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia adalah dengan mengenbangkan industri perikanan tangkap dan melihat betapa besarnya potensi laut kita jika didukung dengan perkembangan teknologi dan manajemen yang baik. Bukan tidak mungkin Indonesia akan berjaya sebagai negara penghasil ikan. Secara global, teknologi dalam pemanfaatan sumber daya perikanan telah banyak dikaji dan diterapkan. Sebagai contoh, di kapal dan alat penangkapan ikan, baik dari segi desain dan konstruksinya, banyak pengembangan ke arah yang lebih efisien, tentunya meminimalisir dampak lingkungan yang mungkin timbul. Kemudian berbagai teknologi untuk mengurangi waktu pencarian atau perburuan ikan, juga telah banyak diaplikasikan. Sebagai contoh, penggunaan alat pendeteksi ikan dan alat pengumpul ikan. Mengingat kesegaran ikan juga sangat penting, pengembangan teknologi dalam rantai pemasaran ikan juga terus dilakukan.

Lebih lanjut, perkembangan teknologi kemaritiman saat ini di Indonesia sudah cukup baik, namun masih ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan.  Salah satu masalah yang butuh perhatian serius adalah Indonesia saat ini belum memiliki badan atau program yang dapat mengkoordinir para researcher baik yang bersifat akademik maupun swasta untuk dapat mengintegrasikan hasil penelitian mereka ke dalam suatu sistem yang dapat menghasilkan suatu solusi nyata untuk Indonesia. Saat ini masing-masing researcher jalan sendiri-sendiri tanpa framework ataupun mekanisme yang dapat mengintegrasikan penelitian mereka. Padahal banyak penelitian-penelitian dari Indonesia yang sangat menarik untuk dikembangkan. Salah satu contohnya adalah DR. Ir. Wisnu Wardhana, beliau melakukan penelitian mengenai Crocodile-Hydrofoil (KPC-H) yang dimana kapal tersebut memiliki 3 mode yaitu katamaran hingga menjadi semi sub-marine tetapi sayangnya sampai saat ini belum ada informasi lebih lanjut mengenai project tersebut. Ada juga dari IPB yaitu aerovi yang merupakan remoted robot untuk di bawah air, lagi-lagi informasi terakhir yang didapat tahapan development nya hanya sampai tahap prototype. Oleh , Indonesia membutuhkan badan/program koordinator yang dapat mengintegrasikan hasil karya penelitian para researcher (baik yang bersifat akademik maupun swasta) menjadi suatu framework yang dapat menghasilkan karya nyata, selain itu produk tersebut dapat dikomersilkan sehingga bisa memberikan pride bagi bangsa dan negara dan mengukuhkan posisi Indonesia di dunia kemaritiman

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan Indonesia untuk menjadi pemenang di persaingan dunia kemaritiman dunia. Hal yang pertama adalah data. Indonesia harus memiliki pusat data yang aktual, komprehensif, dan accountable sebagai sumber penelitian.  Yang kedua adalah pendidikan, pendidikan diperlukan untuk melahirkan para ahli dari berbagai bidang untuk mendukung kesuksesan bidang kemaritiman Indonesia. Karena kemaritiman adalah bidang yang sangat multi disiplin sehingga kita tidak bisa  berpangkuh pada satu ahli saja, kita membutuhkan para ahli untuk saling bekerja sama satu sama lain dan diharapkan dapat menghasilkan produk yang sustainable. Dan faktor yang paling penting adalah dukungan seluruh warga Indonesia, khususnya para pemuda yang dimana memiliki tanggung jawab untuk membawa masa depan Indonesia di persaingan global dunia kemaritiman

Menurut data terakhir dari FAO menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua setelah China sebagai negara penghasil ikan terbesar di dunia. Namun, produktivitasnya tidak selaras dengan jumlah kapal yang kita miliki. Kalau diari segi per unit kapal, produktivitas kapal-kapal di Indonesia hanya mencapai 2,3 ton per kapal. Nilai ini jauh di bawah kapal-kapal yang dimiliki oleh negara-negara di Eropa dan Amerika Utara yang mencapai 20 ton per kapal. Permasalahan utamanya adalah persentase terbesar armada penangkapan ikan di Indonesia adalah kapal-kapal kecil dengan teknologi yang relatif sederhana. Sebagai gambaran, data tahun 2014 menyebutkan bahwa di Indonesia sebanyak 643 ribu kapal penangkapan ikan, 90% dari jumlah tersebut adalah kapal kecil yang berkapasitas kurang atau sama dengan 3 gross kubik. Dari keseluruhan kapal-kapal di Indonesia, 70%nya sudah menggunakan motor penggerak, namun karena kapasitasnya yang kecil, daya jelajahnya juga sangat terbatas. Selain itu, mesin yang digunakan adalah mesin darat yang dimodifikasi menjadi mesin laut, yang tentu saja performanya berbeda. Sementara itu dari sisi alat tangkap, banyak kapal yang masih menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, sebagai contoh alat tangkap yang tidak selektif, merusak ekosistem laut, serta menggunakan bahan peledak. Kemudian dari sisu pengawetan dan penyimpanan hasil penangkapan sebagian besar masih tergantung pada es balok dan garam, bahkan masih banyak yang tidak mengaplikasikan sistem pendingin sama sekali. Dengan kondisi seperti itu, kesegaran dan kualitas ikan tentu saja tidak terjamin, apalagi kapal beroperasi dalam jangka waktu yang lama.

Dengan sumber daya perikanan yang kita miliki saat ini, potensi untuk memanfaatkan sebesar-besarnya laut kita masih terbuka luas. Hanya saja, diperlukan beberapa langkah. Di antaranya adalah:

  1. Pengelolaan perikanan tangkap yang bertanggungjawab.
  2. Peningkatan teknologi penangkapan ikan, termasuk kualitas dan kapasitas armada penangkapan ikan
  3. Peningkatan SDM, termasuk pelaku usaha perikanan.

Beberapa usaha pemerintah yang telah dilakukan untuk mengembangkan industri perikanan tangkap di Indonesia adalah:

  1. Pemberantasan ilegal fishing, seperti yang kita lihat bagaimana keseriusan Kementerian Kelautan dan Perikanan mengatasi hal ini.
  2. Pengadaan armada penangkapan ikan yang lebih modern.

Sejak 2010 pemerintah telah membangun dan menghibahkan kapal-kapal berukuran 5-30 PT kepada kelompok-kelompok nelayan di seluruh Indonesia.

Beberapa teknologi telah dikenalkan melalui program ini. Di antaranya:

  1. Penggunaan fiber glass sebagai pengganti kayu untuk bahan kapal.
  2. Penggunaan alat pendeteksi ikan dan GPS.
  3. Penggunaan solar panel untuk kelistrikan di kapal.
  4. Penggunaan marine engine yang memang khusus untuk penggunaan di kapal.
  5. Serta yang masih dalam pengupayaan pengembangan saat ini adalah mengkonversi penggunaan solar atau bensin ke penggunaan LPG.

Semua langkah-langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas perikanan tangkap di Indonesia.

Keterlibatan SDM khususnya pelaku usaha perikanan, termasuk nelayan, dalam hal ini adalah sangat penting. Kesadaran mereka untuk menjaga keberlanjutan perikanan dan kemampuan mereka dalam mengadopsi teknologi yang dikenalkan, akan memuluskan langkah menuju perikanan tangkap yang berdaulat.

Momentum Hari Maritim Nasional ini hendaknya kita jadikan sebagai alat pengingat dan penyemangat kita sebagai bangsa maritim. Bahwa Tuhan telah menganugerahkan begitu besar kekayaan laut kepada kita,termasuk perikanan. Sekarang semuanya kembali kepada kita, bagaimana kita dapat memanfaatkan kekayaan tersebut sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat Indonesia demi kemajuan industri perikanan sebagai salah satu pilar maritim Indonesia.

Mari bersama-sama membangun Indonesia sebagai kekuatan maritim dunia karena laut adalah masa depan bangsa.


Selamat Hari Maritim Nasional, Jayalah terus Indonesia

Jalas Veva Jayamahe

 

Narasumber :

Vita Rumanti Kurniawati, Ph.D. Candidate (School of Marine Science and Technology; Newcastle University)

Andre Prakoso Djojokusumo, Master Candidate (Hydraulic Engineering, Ports and Waterways; TU Delft)

Categories
Berita

Diskusi Agama, Politik, dan Pendidikan Mengawali Rangkaian Acara Utama Simposium Internasional 2016 di Kairo, Mesir

Liputan Kairo, Simposium Internasional PPI Dunia ke-8 digelar di Kairo pada tanggal 24 sampai dengan 29 Juli 2016. Beberapa acara yang termasuk dalam rangkaian Simposium Internasional ini antara lain diskusi panel, sidang komisi, serta rapat tahunan. Pada hari pertama simposium pada tanggal 24 Juli 2016, terdapat tiga buah acara diskusi yang dibawakan oleh menteri dan pakar.

Diskusi pertama merupakan diskusi interaktif yang dibawakan oleh Bapak Lukman Hakim Saifuddin yang merupakan Menteri Agama. Beliau membahas mengenai demoralisasi bangsa Indonesia. Saat ini demoralisasi terjadi pada generasi muda sehingga perlu adanya penanganan yang tepat. Selain itu beliau juga membahas mengenai pemahaman agama yang kurang benar, contohnya tidak memanusiakan manusia sehingga berkurangnya rasa toleransi. Di sinilah tugas Menteri Agama untuk mengarahkan mereka ke pemahaman yang lebih baik. Bapak Lukman Hakim juga sangat menyayangkan rasa optimisme rakyat kepada Indonesia yang sudah memudar dikarenakan media yang mempublikasikan berita sensasional dan tidak wajar. “Banyak masyarakat yang pesimis dengan negara sendiri. Saya ingin bangkitkan rasa optimisme kembali, karena masih banyak hal-hal positif yang tidak terekspose di media,” harap Bapak Lukman Hakim.

Kemudian acara dilanjutkan dengan dua buah panel diskusi. Pada panel diskusi pertama yang dimoderatori oleh Ali Abdillah dibawakan oleh Prof. Dr. Moh. Mahfud MD., S.H yang membahas mengenai mengembalikan identitas bangsa. Selain itu diskusi selanjutnya dibawakan oleh Yudi Lathief dan Jay Kristiadi mengenai kedaulatan rakyat, kemajemukan, dan peran TNI.

_MG_0044Mantan ketua Mahkamah Konstitusi, Mahmud MD sangat menyayangkan identitas bangsa yang mulai hilang secara perlahan. Hal ini dikarenakan adanya permasalahan ekonomi, budaya, hukum, pendidikan, serta agama. Selain itu juga membahas mengenai hak asasi. “Hak asasi bersifat partikular, yaitu sesuai dengan kebutuhan budaya. Hal ini menjadi pro dan kontra dalam masyarakat,” jelas Mahmud MD.

Pakar Politik, Yudi Lathief memaparkan mengenai sejarah Kairo yang dulunya merupakan poros pendukung peradapan dunia. Beliau menyatakan bahwa Indonesia juga memiliki kaitan sejarah dengan Mesir, tidak hanya dengan Belanda. Selain itu beliau juga membahas pancasila yang merupakan common value, di mana nilai pancasila tersebut lahir jauh sebelum jaman Soekarno. Identitas bangsa Indonesia juga merupakan common value. “Setiap kebijakan harus turun dari pancasila, tetapi sayangnya banyak yang tidak melakukan itu,” sesal Yudi Lathief.

Jay Kristiadi yang merupakan pengamat politik menjelaskan bahwa mahasiswa yang berkuliah di luar negeri adalah menjadi social society. “Semua mahasiswa ini memiliki peran yang sangat penting di masyarakat,” jelas Jay Kristiadi.

Selanjutnya panel diskusi terakhir dibawakan oleh Prof. Dr. Amtsal Bachtiar, MA. Setelah itu dibawakan oleh Muhammad Danial Nafis.

Dirjen Diktis Dr. Amtsal Bachtiar, MA menjelaskan bahwa kemajuan bangsa tergantung pada tiga hal pokok utama, antara lain ilmu dan teknologi, ekonomi, dan militer. Ilmu dan teknologi harus maju. “Semua orang harus menuntut ilmu sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya supaya bisa menjadi orang yang excellent. Pendidikan sangat penting karena itu merupakan kunci utama menuju kesuksesan bangsa,” jelas Amtsal Bachtiar.

Muhammad Danial Nafis yang m_MG_0100erupakan CEO Aktual Media Negeri menjelaskan bahwa media juga berperan penting dalam memperteguh identitas bangsa. Pendidikan karakter bangsa bisa terbentuk karena media. “Media ikut berperan dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas dan berbudaya,” tegas Muhammad Dania. (Red. PW)

 

Categories
Berita Eropa dan Amerika

PPI Dunia Kawasan Amerika Eropa Gelar Simposium di Rijswijk, Belanda

Liputan Belanda, Simposium PPI Dunia Kawasan Amerika dan Eropa kembali digelar di Rijswijk, Belanda dari tanggal  24 April 2016 sampai dengan Selasa 26 April 2016. Simposium kali ini mengusung tema “Memaknai Kembali Identitas Bangsa dalam Rangka Menghadapi Komunitas Asean.” Pada Simposium ini juga telah dihasilkan Rekomendasi Rijswijk yang terdiri dari 7 point penting untuk Indonesia.

Acara ini dihadiri oleh para delegasi yang terdiri dari 27 orang representatif dari beberapa PPI di kawasan Amerika Eropa, yaitu PPI Belanda, PPI Belgia, PPI Hongaria, PPI Jerman, PPI Italia, PPI Polandia, PPI Britania Raya, PPI Ceko, PPI Turki, PPI Portugal, PPI Prancis, PPI Rusia, PPI Estonia dan PPI Swedia mengikuti serangkaian acara yang dirancang oleh PPI Belanda, sebagai tuan rumah pada tahun ini.

Untuk meresapi kembali identitas bangsa, pada hari pertama para delegasi menyusuri kembali sejarah perjuangan Indonesia dalam acara Napak Tilas di Kota Leiden. Di kota Leiden, beberapa pahlawan Indonesia menetap dan berkarya untuk bangsa, serta mengenyam pendidikan di Universitas Leiden, yaitu Ahmad Soebardjo dengan pendidikan master dan Hussein Djayadiningrat yang berhasil meraih gelar doctor dengan predikat cumlaude.

Menurut panitia Simposium PPI Amerika Eropa 2016, kegiatan ini bertujuan untuk memperkaya khazanah sejarah dan menumbuhkan rasa nasionalisme dalam diri peserta. Kota Leiden juga merupakan kota di mana Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) pertama pada tahun 1922 dibentuk.

Acara pada hari pertama kemudian dilanjutkan dengan pembukaan Simposium oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, yaitu H.E. I Gusti Agung Wesaka Puja. Dalam pidato nya beliau menyerukan semangat untuk bahu-membahu membuat Indonesia yang baru. “Mari bahu-membahu untuk membuat Indonesia baru, seperti pada kutipan lagu ASEAN, we dare to dream, we care to share.” ujarnya seraya membangkitkan semangat mahasiswa.

S AMEROP

Pada hari kedua, acara dilanjutkan dengan seminar untuk menggali secara dalam mengenai Identitas Bangsa. Menurut Ali Abdillah selaku ketua PPI Belanda, mengatakan bahwa identitas bangsa merupakan hal yang penting dan jangan sampai identitas bangsa harus dikorbankan.

Ary Adryansyah Samsura PhD sebagai salah satu keynote speaker menjelaskan kembali mengenai identitas bangsa. “Identitas bangsa yaitu perasaan atau pandangan subjektif tentang suatu bangsa yang dimiliki bersama oleh sekelompok orang yang terintegrasi secara kultural dan geographis.” Ucap Ary Adryansyah.

Untuk mempertahankan identitas bangsa, salah satu pembicara yaitu Ebed Litaay dari Indonesian Diaspora Network beliau mengatakan untuk tetap menjaga nilai-nilai yang ada di Indonesia, open minded dan buang jauh-jauh kebiasaan buruk.

Selain memandang dari segi identitas bangsa, seminar juga membahas tentang ASEAN, Globalisasi dan Masa depan Indonesia. Hengky Kurniawan, salah satu pembicara dalam tema ini berfokus pada Spatial Economics.

“Indonesia perlu melakukan agglomerasi, di mana perusahaan berkumpul dan cost akan berkurang.” ungkap Hengky.

Masyarakat Ekonomi Asean yang telah dimulai pada akhir tahun 2015 tersebut merupakan suatu kesempatan bagi Indonesia. Matthijs Van Den Broek selaku Managing Director Further East Consult berpendapat bahwa Indonesia memiliki kesempatan yang besar di era MEA ini.

“Kesempatan MEA bagi Indonesia yaitu adanya cross-border investment melalui perusahaan multi-nasional dan UKM, tech-savy entreuprener muda serta adanya cross border supply chain untuk perusahaan di Indonesia.” ujar Van Den Broek.

Di samping sisi globalisasi, Agung Wahyudi PhD Candidate mengemukakan bahwa untuk menghadapi ASEAN, Indonesia dapat berfokus pada pengembangan dan peningkatan infrastruktur, kesiapan terhadap teknologi serta inovasi.

Puput Cibro selaku Koordinator PPI kawasan Amerika dan Eropa menyatakan pemetaan di Indonesia sangat diperlukan untuk meningkatkan ekonomi di setiap daerah yang ada.

“Indonesia perlu melakukan pemetaan akan potensi ekonomi daerah dari setiap kota/kabupaten yang akan menjadi suatu keunggulan bersaing dari daerah tersebut.” ucap Puput.

Simposium PPI Dunia kawasan Amerika dan Eropa ini diakhiri oleh kegiatan diskusi dari para delegasi yang dibagi ke dalam empat komisi yaitu Politik & Hukum, Ekonomi, Sosial Budaya dan Teknologi. Hasil dari diskusi tersebut yaitu berupa Rekomendasi Rijswijk yang diresmikan pada tanggal 26 April 2016 pukul 16:49 ECT. Berikut point-point yang tertera dalam rekomendasi tersebut:

POLITIK DAN HUKUM

  1.       Mendorong peran Indonesia sebagai mediator dalam konflik Laut Tiongkok Selatan.

EKONOMI

  1.       Melakukan ‘integrated geographical socio-economic information system’ untuk mengidentifikasi potensi ekonomi kabupaten/kota dan regional.
  2.       Menguatkan kapasitas ekonomi domestik baik lokal, regional, maupun skala nasional dalam menghadapi pasar bebas ASEAN melalui ekosistem bisnis inklusif dengan prioritas di sektor pertanian dan pariwisata.

SOSIAL BUDAYA

  1.       Melakukan penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya sertifikasi keahlian profesi yang diadakan pemerintah pada lingkup terkecil dan terfokus secara berkala (min. Satu kali dalam tiga bulan) dan berkelanjutan.

TEKNOLOGI

  1.       Memastikan seluruh rumah tangga Indonesia mendapat akses listrik sebelum Juli 2019.
  2.       Merevisi PP No. 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional dengan memasukkan klausa nuklir sebagai salah satu opsi pembangkit listrik.
  3.       Merealisasikan pembangunan reaktor PLTN sebagai wujud optimalisasi bauran energi baru dan terbarukan di Indonesia. (Red. NL)

Categories
Berita Eropa dan Amerika

Pelajar Indonesia di Prancis Sukses Selenggarakan Eurolympique 2016

Liputan Paris, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Prancis Paris 9-10 April 2016 lalu di Université Paris Sud, sukses menyelenggarakan kompetisi olahraga terbesar di Benua Eropa.

Kegiatan ini diselenggarakan setiap dua tahun sekali untuk pelajar Indonesia di Benua Eropa dengan tajuk Eurolympique 2016. Ratusan pelajar Indonesia yang berlajar di sekitar benua Eropa ikut serta dalam berbagai pertandingan yang diselenggarakan pihak panitia.

Dewa Federika sebagai Ketua PPI Perancis menjelaskan tujuan utama penyelenggaraan acara Eurolympique adalah sebgai wadah bagi para pelajar Indonesia di Eropa untuk menyalurkan minat dan bakatnya dalam bidang olahraga, seni dan budaya.

Selain itu Dewa juga menjelaskan tujuan lainnya adalah untuk memupuk dan mempererat rasa persaudaraan, sportivitas, soliditas dan kreativitas antar pelajar Indonesia di Eropa.

Eurolympique 3

“Kompetisi ini diharapkan dapat menjadi ajang untuk meningkatkan konektivitas (networking) antar mahasiswa Indonesia di Eropa untuk kepentingan akademis maupun non akademis,” ungkapnya.

Terdapat beberapa cabang olahraga yang diperlombakan meliputi  satu team futsal Putera, dua team futsal Puteri, tiga team basket 3 on 3 putera, empat team  basket 3 on 3 puteri, lima team badminton tunggal putera, enam team badminton tunggal puteri, tujuh team badminton ganda putera, delapam team badminton ganda puteri, sembilan team lari estafet.

“Jumlah peserta kontingen yang hadir sebanyak lebih dari 300 pelajar Indonesia yang berasal dari beberapa kota di negara Prancis, Jerman, Belanda dan Turki,” jelas Dewa lebih lanjut.

Selain lomba olahraga, panitia acara juga menyelenggarakan lomba seni tari Saman yang diikuti oleh peserta dari PPI Paris, PPI Lyon, PPI Strasbourg, PPI Marseille PACA, PPI Alsace dan PPI Frankfurt.

Lomba tari saman ini diadakan bertujuan untuk melestarikan seni dan budaya Indonesia serta dalam rangka menyambut tahun kelima Tari Saman yang telah ditetapkan sebagai salah satu daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia oleh UNESCO.

Eurolympiqu 2

PPI Jerman ditetapkan sebagai juara umum Eurolympique 2016. Hal ini karena kontingen dari PPI Jerman memenangkan sejumlah pertandingan dengan menempati posisi juara satu dalam pertandingan tersebut dibandingkan kontingen dari negara lainnya yang ikut serta dalam pertandingan tersebut.

Acara ini dapat terselenggara berkat dukungan penuh KBRI Paris, khususnya Atase Pendidikan Republik Indonesia di KBRI Paris, Prof. Dr. Surya Rosa Putera, MS. Menurutnya, kegiatan ini merupakan salah satu wujud dari semangat kekeluargaan pelajar Indonesia yang ada di Eropa.

“Semoga saja dengan terselenggaranya kegiatan ini dapat memperkuat persaudaraan pelajar Indonesia yang ada di Eropa, dan tentunya rasa nasionalisme sebagai anak bangsa,” tuturnya.

PPI Perancis mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada berbagai pihak yang mendukung suksesnya kegiatan ini. Khususnya sponsor dan sejumlah donatur yang terlibat memberikan dukungan.

“Ungkapan terima kasih saya sampaikan juga kepada Atase Pertahanan Republik Indonesia di KBRI Paris, Delegasi Indonesia di UNESCO Paris, Université Paris Sud, PPI Dunia dan PPI Amerika – Eropa yang membantu acara ini sehingga bisa berjalan dengan lancar dan sukses,” tutup Dewa.( DW)

Categories
Berita Uncategorized

Diskusi Online Permira Rusia‏

wanda

Permira Rusia Sukses Selenggarakan Diskusi Online Feminisme

Liputan Rusia, Maret 2016 Departement Hubungan Internasional Permira Rusia melaksanakan Diskusi Online live streaming youtobe bersama PPI Belanda. Agenda bulanan Permira kali ini mengangkat tema Feminisme sebagai topik. Juniar L.Umagapi PPI Rusia (Permira) dan Hafida Famiasari PPI Belanda menjadi narasumber dalam kajian ini.

Moderator pada diskusi kali ini adalah Agnes Harvelian II, seorang Mahasiswi Master of Law di Far Eastern Federal University, Vladivostok, Rusia. Agnes memandu diskusi online dengan sangat baik, dari pantauan terkhir pengunjung youtube siaran diskusi online dikunjungi ratusan penonton.

“ Berharap diskusi online ini menjadi salah satu ruang untuk pelajar Indonesia menyampaikan suaranya ataupun prestasinya sehingga memberikan motvasi untuk banyak pihak dalam meningkatkan prestasi khususnya wanita Indonesia,” jelas Agnes.

Narasumber PPI Belanda Hafida Fahmiasari adalah mahasiswa Master of Science di Technische Universiteit Delft yang pernah menjalankan beberapa proyek dan berinteraksi dengan masyarakat di beberapa belahan dunia seperti di Kampala, Uganda, Negara Kawasan Baltik, Paris dan Belanda.

Hafida juga pernah memenangkan beberapa penghargaan bergengsi dan terakhir menjadi runner-up dalam Olympiad of Maritime Innovative Research di UNESCO, Paris. Saat ini Hafida menghabiskan waktunya sebagai Graduation Project Intern di Port of Rotterdam International.

Dalam diskusi online tersebut Hafida menekankan tentang situasi terkini di Indonesia yang masih sedikit memberikan ruang bagi wanita untuk terlibat dalam sekotor Engineer dengan berbagai alasan yang substansial.

Dari pengalaman Hafida selama bekerja sebagai Engineer di Indonesia mengaku adanya diskriminasi yang sangat jelas antara wanita dan pria. Kemampuan wanita sebagai Engineer masih diragukan oleh beberapa golongan. Meskipun secara praktek wanita tersebut mampu menjalankan tugasnya. Situasi ini sangat berbeda

dengan Belanda yang memberikan ruang sangat besar untuk wanita dapat secara praktek menjalankan profesinya sebagai Engineer.

“I did not become an engineer because I was a feminist, I became a feminist because I am an engineer, I didn’t start out interested in, or even aware of, the whole women in STEM” issue, I found it when I got her,” demikian salah satu kutipan diskusi online yang disampaikan Hafida.

Menurut Hafida, saat ini permasalah wanita Indoensia dibidang teknik terkendala usia, kurangnya panutan, kurangnya penagalaman dan norma sosial khususnya di easte world. Sebagian wanita Indonesia familiar dengan sebutan insinyur identik dengan pekerjaan pria.

Narasumber seterusnya adalah mahasiswa Master Political Analysis and Public Policy di National Research University HSE, Rusia. Ia juga sebagai Pemenang Runner-Up dalam Kompetisi Esai “The Impact of Women’s Representation in Politics and Society towards Cultural and Religion Perspective” yang diselenggarakan oleh Indonesian Scholars and Research Support Foundation Program.

Selain itu Juniar juga aktif mengurus website kampusnya di Moscow, Rusia. Ia juga aktif sebagai jurnalis Online Magazine untuk International Students www.readsquare.ru, dan menjadi volunteer aktif bagi anak-anak dengan gangguan Autisme di Rusia.

Pentingnya peranan wanita dalam dunia politik menurut Juniar sangat penting sebagai pembuat kebijakan persoalan wanita Indonesia yang sangat kompleks. Diantara Isu terkini yang masih hangat menjadi persoalan diantaranya adalah persoalan perdagangan manusia, kekerasan buruh dan tenaga kerja wanita di luar negeri, pelecehan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga hanyalah beberapa kasus yang menjerumuskan posisi wanita masih menjadi kelas kedua masyarakat.

Juniar mengindikasi budaya menjadi salah satu faktor penghalang untuk akses perempuan terhadap politik di Indonesia. Pandangan wanita Indonesia cenderung lebih memilih bekerja daripada terlibat dalam politik.

Politik membutuhkan seseorang yang memiliki semangat benar-benar kuat dan cukup pintar untuk mempengaruhi orang lain, dan banyak wanita merasa tempat itu tidak cocok untuk mereka.

“ Opini yang menganggap bahwa politik membuat orang berubah menjadi tidak bermoral dan lingkungan akan membuat mereka untuk melakukan tidak baik juga menjadi alasan wanita tidak mengambil kesempatan berpolitik, meskipun ruang tersebut sudah diberikan di Indonesia,” jelasnya wanita yang aktif dalam berbagai organisasi ini.

Lebih lanjut Juniar mengungkapkan bahwa demokrasi tanpa partisipasi perempuan bukanlah demokrasi yang sesungguhnya. Perempuan memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan masyarakat inilah yang menjadikan pentingnya pemberdaayan wanita berpolitik cerdas.

Namun demikian terdapat juga wanita hebat yang terlibat dalam dunia politik di Indonesia seperti mantan presiden Megawati Soekarno Putri, Tri Rismarini walikota Surabaya, Khofifah Indar Parawansa, Yeni Wahid, Sri Mulyani adalah contoh sedikit perempuan-perempuan hebat di politik.

Saat ini sudah banyak ruang untuk wanita Indonesia terlibat dipolitik, begitu juga dengan keterlibatan wanita Indoensia berkarya di dunia internasional seperti Dian Pelangi di dunia fashion dan atlet-atlet wanita berprestasi seperti baru-baru ini atlet bulu tangkis Debby Susanto yang menjuarai ganda campuran all-England.

“Tugas kita semua perempuan-perempuan hebat Indonesia untuk bisa di akui dengan kemampuan dan prestasi kita baik national maupu internasional,” tutup wanita asal Kendari ini.(Link Youtube: https://youtu.be/6gwpqApgzgY)

Categories
Berita

Diskusi Ilmiah PERMIRA Maret 2016

Bertolak dari perayaan 8 Maret Hari Wanita se-Dunia yang dirayakan dengan sangat spesial di Rusia, dan menjelang Hari Kartini yang dirayakan setiap tahunnya di Indonesia pada 21 April 2016, PERMIRA kembali mengadakan Diskusi Ilmiah bertemakan “Feminisme” dengan narasumber :

1. Juniar L.Umagapi
Mahasiswa Master Political Analysis and Public Policy di National Research University HSE, Rusia.
Selain aktif dalam berorganisasi, beliau tidak lama ini terpilih menjadi Pemenang Runner-Up dalam Kompetisi Esai “The Impact of Women’s Representation in Politics and Society towards Cultural and Religion Perspective” yang diselenggarakan oleh Indonesian Scholars and Research Support Foundation Program. Saat ini, beliau aktif mengurusi website kampusnya di Moscow, Rusia, terlibat secara aktif sebagai jurnalis Online Magazine untuk International Students www.readsquare.ru, dan menjadi volunteer aktif bagi anak-anak dengan gangguan Autisme di Rusia.

2. Hafida Fahmiasari
Mahasiswa Master of Science di Technische Universiteit Delft yang pernah menjalankan beberapa proyek dan berinteraksi dengan masyarakat di beberapa belahan dunia seperti di Kampala, Uganda, Negara Kawasan Baltik, Paris dan Belanda. Beliau juga pernah memenangkan beberapa penghargaan bergengsi dan terakhir menjadi runner-up dalam Olympiad of Maritime Innovative Research di UNESCO, Paris. Saat ini beliau banyak menghabiskan waktunya sebagai Graduation Project Intern di Port of Rotterdam International.

Diskusi akan diadakan pada tanggal 20 Maret 2016, Jam 16.00 (Waktu Moscow GMT +3).

Moderator pada diskusi kali ini adalah Agnes Harvelian II, seorang Mahasiswi Master of Law di Far Eastern Federal University, Vladivostok, Rusia, yang juga merupakan salah satu founder “GudLak_ID”.

Akhir kata, semoga diskusi ini bermanfaat bagi semua.

Link / tautan Streaming Online YouTube akan dibagi 30 menit sebelum diskusi dimulai di Facebook dan FanPage Permira Pusat.

Salam Permira!

Dept. Hubungan Internasional
Permira Pusat
2015/2016

Categories
Berita

PPI Dunia Perjuangkan Konversi Nilai Lulusan Luar Negeri ke Indonesia

11813430_1015468448493388_4501081213510816873_n

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia mengusulkan perlunya aturan baku mengenai standar konversi nilai mahasiswa lulusan luar negeri. Hal itu untuk mencegah kerugian bagi mahasiswa yang telah kembali ke Indonesia.

Upaya memperjuangkan lahirnya aturan dan pedoman tersebut dilakukan sembilan perwakilan PPI dari berbagai negara yang tergabung dalam PPI Dunia.

Mereka berasal dari PPI Australia, PPI Taiwan, PPI Belanda, PPI Malaysia, PPMI Arab Saudi, PPI Turki, PPI Filipina, PERMIRA Rusia, dan PPI Italia.

Pada Selasa (28/7/2015) mereka menemui Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Ristek dan DIKTI (Belmawa DIKTI) Intan Ahmad didampingi Direktur Pembelajaran Paristiyanti Nurwardani serta staf Belmawa DIKTI lainnya.

Salah seorang di antaranya adalah Ahmad Almaududy Amri, Koordinator PPI Dunia periode 2014-2015, yang juga merupakan Ketua PPI Australia di periode yang sama.

Menurut Dudy, panggilan Ahmad Almaududy Amri kepada wartawan ABC L. Sastra Wijaya, masalah konversi nilai penting dilakukan karena nilai ijazah yang didapatkan dari luar negeri disalahartikan oleh instansi-instansi pemerintah atau rekruter dalam melamar kerja.

Ini disebabkan karena sistem penilaian di berbagai negara sebagai tujuan tempat belajar mahasiswa asal Indonesia berbeda-beda.

“Sebagai contoh di Indonesia memakai sistem nilai 0 sampai 4,0, sedangkan di Belanda sistem 1-10, Malaysia dan Taiwan 0 – 100 dengan standar universitas yang berbeda-beda,” jelasnya.

“Bahkan di Turki ada 2 model penilaian 0-4 dan 0-100,” tambah Dudy yang sedang menempuh pendidikan doktoral di Universitas Wollongong.

11745740_1015468495160050_5180461512896696216_n

Standar nilai tidak dapat dikonversi secara linear matematis, katanya, karena standar nilai di masing-masing negara unik dan mempunyai formula serta kriteria masing-masing.

“Di beberapa negara, apabila nilai dikonversi secara linear matematis, maka mahasiswa dapat dinilai kurang kompeten di dalam negeri sendiri padahal sudah sangat kompeten di luar negeri tersebut,” tambah Dudy lagi.

Dudy menyampaikan bahwa SK Menteri Ristek dan DIKTI sangat diperlukan guna memberikan landasan hukum dalam mengeluarkan pedoman konversi nilai.

“Agar pedoman yang dikeluarkan oleh Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan efektif dan dapat dijadikan acuan oleh instansi lainnya, maka dibutuhkan sebuah endorsement dari pemerintah dalam hal ini melalui SK Menteri,” ujar Dudy.

PPI Dunia, katanya, berkeinginan menuntaskan isu ini pada tahun 2015. Mereka akan membahas isu ini pada Simposium PPI Dunia yang diharapkan bisa dihadiri perwakilan pemerintah.

Menurut Dudy, dalam kesempatan itu Dirjen Intan Ahmad menjelaskan bahwa pihaknya mengapresiasi langkah PPI Dunia tersebut.

“Pihak Belmawa menyambut baik rencana untuk mendukung upaya konversi nilai. Namun pemerintah harus berhati-hati akan masalah kewenangan dalam mengonversi nilai. Jangan sampai kewenangan mengonversi tersebut dilakukan secara tidak semestinya,” kata Dudy mengutip pernyataan Intan Ahmad.

Dirjen Intan menyarankan bahwa sebaiknya dibuatkan saja pedoman mengonversi nilai untuk umum maupun untuk instansi-instansi rekruter.

Sumber berita: Australia Plus, Radio Australia, TribunNews, VIVA, Metro TV News

Page 1 of 3
1 2 3