logo ppid

Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) telah mencatat setidaknya empat doktor termuda di Indonesia. Pada tahun 2015, Arief Setiawan memperoleh gelar doktor dalam bidang intelligent structures and mechanics systems engineering dari Universitas Tokushima di Jepang pada usia 25 tahun. Sedangkan pada tahun 2016, Elanda Fikri memperoleh gelar doktor bidang Ilmu Lingkungan di Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah saat berusia 25 tahun. Sementara pada tahun 2007, Cindy Priadi juga memperoleh gelar doktor bidang Ilmu Lingkungan dari Universitas Paris-Sud di Perancis pada usia 26 tahun. Awal tahun 2017 yang lalu, Meiryani dianugerahi gelar doktor di bidang Akuntansi di Universitas Padjadjaran Bandung, Jawa Barat, saat usianya 28 tahun.

Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) kembali mencatat rekor baru lulusan doktor termuda di Indonesia. Seorang mahasiswa program doktor jurusan Kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB) bernama Grandprix Thomryes Marth Kadja menjadi lulusan doktor termuda di Indonesia pada usia 24 tahun. Dia secara resmi memperoleh gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tanggal 22 September 2017. Prestasi Grandprix mengukir sebuah sejarah baru di dunia pendidikan Indonesia karena ia masuk dalam Indonesia World Records Museum sebagai lulusan doktor termuda di Indonesia. Grandprix yang berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) menerima predikat cum-laude dari para promotornya dengan disertasinya tentang zeolit sintetis yaitu mineral yang biasa digunakan sebagai katalis petrokimia. "Di masa depan, zeolit sintetis dapat digunakan tidak hanya sebagai katalis tetapi juga sebagai penyerap karbon dioksida dan untuk pemisahan molekul", ujar Grandprix.

Grandprix Thomryes Marth Kadja, 24 tahun, menjadi doktor termuda Indonesia setelah lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tanggal 22 September 2017. Foto: Okezone.com (Oris Riswan)

Grandprix memulai sekolah dasar pada usia 5 tahun. Grandprix melanjutkan jenjang pendidikan SMA-nya melalui sistem akselerasi di SMA Katolik Giovanni di kota Kupang. Setelah lulus SMA pada usia 16 tahun, ia kemudian melanjutkan pendidikan di jurusan Kimia di Universitas Indonesia (UI). Berkat program beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggulan (PMDSU) yang disponsori Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Grandprix melanjutkan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung, program studi (prodi) Kimia, yang ia sebut sebagai prodi yang paling menantang namun menarik. "Ada terlalu banyak perhitungan dalam ilmu Fisika, dalam ilmu Biologi kita harus menghafal banyak hal. Sedangkan ilmu Kimia memiliki keseimbangan di antara keduanya" ujarnya.

Sepanjang perjalanan akademisnya, Grandprix yang memperoleh gelar Sarjana-nya dari Universitas Indonesia pada usia 19 tahun, telah menerbitkan sembilan publikasi ilmiah di jurnal nasional dan internasional. "Jangan merasa inferior hanya karena kita masih muda, justru generasi muda yang harus menjadi contoh bagi orang lain" tuturnya. Grandprix juga mengakui bahwa rangkaian penelitiannya tidak selalu lancar. Prosesnya sulit dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Dia juga mengalami masalah ketika ada instrumen analitis yang tidak tersedia atau hasil penelitian yang tidak diharapkan. Meskipun demikian, cintanya pada bidangnya membuat dia dapat bertahan dalam setiap tantangan yang dihadapinya.

Mengenai prestasinya, Grandprix berharap dunia akademis Indonesia dapat didorong untuk memajukan penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para pemuda Indonesia. Ia juga mengharapkan program beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggulan (PMDSU) untuk terus berjalan dan berkembang untuk meningkatkan kualitas kompetensi dan daya saing internasional para pemuda Indonesia. Ayah Grandprix, Octovianus Kadja, 54 tahun, mengatakan bahwa dia bangga dengan prestasi anaknya dan berkata bahwa ini sebagian karena disiplin yang dia ajarkan pada Grandprix sejak usia dini. (dok.PPID/nurjaeni)

Simposium Internasional Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia tahun ini dihelat di University of Warwick, United Kingdom. Simposium tahunan PPI Dunia tersebut berlangsung dari tanggal 24 Juli hingga 26 Juli 2017. Simposium kali ini mengusung sebuah tema “Accelerating Indonesia’s National Potential Towards 2030”.

 

Pembukaan

Perhelatan ini dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan sambutan dari Prof. Christine Ennew, Alanda Kariza sebagai Ketua PPI UK, dan Intan Irani sebagai Koordinator PPI Dunia 2016/2017. Acara kemudian dilanjutkan dengan Keynote Speech oleh Richard Graham MP (UK Trade Envoy to Indonesia and Chairman of Indonesia All Party Parliamentary Group) yang dapat dibaca lebih lanjut di sini. Setelah pembukaan dan kata sambutan, acara dilanjutkan dengan diskusi panel.

 

Diskusi Panel

Pada hari pertama terdapat tiga sesi panel diskusi yang diawali oleh panel diskusi utama dengan tema “How can Indonesia's budding creative industry & entrepreneurship solidify Indonesia's creative economy?” Panel diskusi ini dibawakan oleh Prof. Dr. T.A Fauzi Soleiman, Didiet Maulana, dan Dian Pelangi.

Kemudian dilanjutkan dengan 3 panel diskusi secara paralel, yaitu mengenai:

  1. Entrepreneurship oleh Handry Satriago, Kusumo Martanto, dan Nancy Margried
  2. Development oleh Tri Rismaharini, Hiramsyah S. Thaib, dan Budiman Sudjatmiko
  3. Literature & Publishing oleh Andrea Hirata, Khairani Barokka, dan Dewi Laila

Terakhir adalah 4 panel diskusi secara paralel yang membahas mengenai:

  1. Fashion oleh Dian Pelangi, Ria Miranda, dan Elidawati
  2. Government & Politics oleh Yanuar Nugroho, Adam Tyson, dan Arief Zulkifli
  3. Education oleh Eka Simanjuntak, George Saa, Najelaa Shihab, dan Analisa Widyaningrum
  4. Financial Services oleh Endy Dwi Tjahjono, Destry Damayanti, dan Professor Mohammed Abdel-Haq

Seminar Indonesian Scholar International Convention (ISIC)

Seluruh peserta menghadiri seminar yang dibawakan oleh public figure serta pemerintah Indonesia. Sudirman Said yang merupakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyampaikan topik “Indonesia’s Demographic Boost in 2030.” Kemudian acara dilanjutkan dengan panel diskusi utama dengan topik “How to best prepare Indonesia’s Young Generation for 2030 Demographic Boost?” yang dibawakan oleh Handry Satriago (CEO daari GE Indonesia), Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, M.A (Gubernur Nusa Tenggara Barat), Dr. David Johnson (Reader in Comparative and International Education University of Oxford).

Rapat Tahunan PPI Dunia

Sebagai permusyawaratan tertinggi PPI Dunia, Simposium Internasional ini tidak hanya menjadi wadah berkumpulnya anggota delegasi dari berbagai PPI Negara untuk bersilaturahmi dan menghadiri diskusi-diskusi panel. Tetapi juga merupakan tempat untuk mahasiswa-mahasiswi Indonesia tersebut bertukar pikiran dan mengkontribusikan pengetahuan mereka untuk menghasilkan butir-butir rekomendasi Simposium Internasional PPI Dunia.

Sidang internal yang merupakan agenda utama Simposium Internasional PPI Dunia berlangsung pada tanggal 25 hingga 26 Juli 2017. Sidang yang dilaksanakan pada pukul 09.30 – 00.00 ini dihadiri oleh 27 PPI Negara. Sidang ini dibagi menjadi 8 pleno dan dipimpin oleh 3 orang pimpinan sidang, yaitu Nazlatan Ukhra Kasuba (PPI Malaysia), Muhammad Iksan Kiat (PERMIRA Rusia), dan Bahesty Zahra (PPI Iran).

Dalam sidang tersebut, telah dilakukan pengesahan amandemen AD/ART PPI Dunia yang selama ini dirancang oleh Tim Ad Hoc AD/ART PPI Dunia. Laporan Pertanggungjawaban Dewan Presidium PPI Dunia 2016/2017 juga diterima oleh para delegasi PPI Negara tanpa syarat. Setelah itu, sidang dilanjutkan dengan pembahasan rekomendasi program kerja untuk kepengurusan PPI Dunia periode selanjutnya. Para anggota delegasi PPI Negara dibagi menjadi 4 komisi dan melakukan diskusi per kelompok. Komisi-komisi tersebut adalah:

  1. Komisi Pendidikan, dipimpin oleh Pandu Utama Manggala (PPI Jepang);
  2. Komisi Sosial dan budaya, dipimpin oleh Muhammad Dhafi Iskandar (PPI Perancis);
  3. Komisi Ekonomi, dipimpin oleh Dianna Priscyla Kusuma Dewi (PPI Swiss); dan
  4. Komisi Teknologi Digital, dipimpin oleh Masduki Khamdan Muchamad (PPI Malaysia).

Setelah selesai dengan diskusi komisi, sidang pada tanggal 25 Juli 2017 tersebut ditutup. Sidang kemudian dilanjutkan pada hari selanjutnya yang membahas tentang pemilihan Dewan Presidium PPI Dunia untuk periode selanjutnya, 2017/2018. Setelah diskusi yang intens, akhirnya terpilih susunan Dewan Presidium 2017/2018 sebagai berikut:

 

Dan Tuan Rumah Penyelenggara Simposium PPI Dunia Periode 2017/2018 sebagai berikut:

Terakhir, sidang diakhiri dengan pengesahan hasil diskusi komisi yang dilakukan pada hari sebelumnya. PPI Dunia melahirkan gagasan untuk Indonesia.

Diskusi per komisi tersebut menghasilkan Rekomendasi Simposium Internasional PPI Dunia sebagai berikut:

 

KOMISI PENDIDIKAN

  1. Memfokuskan pada kajian isu perbaikan kualitas dan profesionalisme guru serta manajemen tata kelola pendidikan.
  2. Program konkret yang dapat dilakukan Antara lain adalah dengan mengadakan kegiatan studi banding dan pelatihan guru serta kepala sekolah dari daerah di Indonesia ke luar negeri. Mitra utama yang dapat dirangkul untuk program ini antara lain adalah Cerdas Digital, Ruang Guru dan dapat menggunakan platform Pesta Pendidikan.

KOMISI SOSIAL BUDAYA

  1. Mendukung program pengembangan destinasi wisata dari Kementrian Pariwisata RI, dan bekerjasama dengan sebaik-baiknya untuk memperkenalkan destinasi pariwisata di daerah-daerah Indonesia.
  2. Bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata RI dalam penyediaan konten, jaringan promosi, serta hal-hal lainnya untuk meningkatkan kualitas acara-acara budaya yang akan dilaksanakan oleh masing-masing PPI Kota, Negara dan/atau kawasan.
  3. Bersinergi dengan komunitas lokal untuk mengadakan kegiatan budaya yang menonjolkan karakteristik dan kearifan budaya setempat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjangkau komunitas lokal tersebut adalah dengan menyebarkan angket dan sayembara. PPI Dunia berkomitmen untuk menjadi mentor bagi para komunitas lokal ini mengembangkan keterampilannya.
  4. Membuat kajian advokasi isu kemanusiaan baik di tanah air maupun isu HAM di luar negeri seperti Palestina dan negara lain yang dianggap perlu, dengan merangkul berbagai kalangan dan pakar.

 

KOMISI EKONOMI

  1. Rencana aksi yang bersifat internal
    • PPI Dunia menjadi Duta pariwisata Indonesia di masing masing Negara.
    • PPI Dunia menjadi Duta ekonomi kreatif di masing masing Negara
    • PPI Dunia berusaha membangun kerjasama multidisiplin untuk mengembangkan perekonomian kreatif Indonesia
  1. Rencana aksi yang bersifat eksternal
    • Pengembangan ekonomi pariwisata di Indonesia
    • Pengembangan ekonomi syariah di Indonesia
    • Kajian terkait pembangkit listrik dan pengembangan energi terbarukan
    • Kajian terkait diversifikasi industri agar Indonesia tidak terlalu tergantung kepada ekspor sumber daya alam
    • Peningkatan kapasitas SDM Indonesia sebagai salah satu upaya optimalisasi penggunaan minyak, gas dan hasil tambang nasional

 

KOMISI TEKNOLOGI DAN DIGITAL

  1. Mengkaji kebijakan pemerintah dan komparasi studi dengan negara lain yang lebih unggul dalam pengguaan fintech, kajian ini akan dikaji dalam beberapa sub topik:
    • Regulasi E-Commerce: Kajian regulasi e-commerce sehingga dapat membangun lingkungan yang kondusif bagi para pemuda penggiat start up.
    • Security: Kajian mengenai cyber security sangat penting, terutama bagaimana cara meningkatkan kesadaran diri akan pentingnya privacy dan information security
    • Digital Currency: Penggunaan mata uang digital (bitcoin) akan semakin masif, sehingga dibutuhkan kajian untuk dapat membangun lingkungan yang sesuai dengan karakteristiknya sekaligus mencegah penyalahgunaannya.

 

Sebelumnya saya pernah melamar beberapa beasiswa semenjak duduk di bangku sekolah menengah kejuruan. Tercatat lebih dari 50 program beasiswa dan sejenisnya yang pernah saya lamar, namun hanya 6 diantaranya yang menerima aplikasi beasiswa saya. Enam program beasiswa tersebut diantaranya Beasiswa Toyota dan Astra 2012, Erasmus Mundus-Mover 2013 (Uni Eropa), Dataprint 2014, Dataprint 2015, Beasiswa Pemerintah China 2016, dan Ignacy Łukasiewicz Scholarship (Pemerintah Polandia) 2016.

Pada kesempatan ini saya akan menceritakan pengalaman Beasiswa Erasmus Mundus-Mover 2013 program srata1 selama 2 semester dengan jurusan Electrical Engineering and computer Science di Lublin University of Techology, Polandia. Beasiswa Erasmus Mundus (sekarang Erasmus+) merupakan beasiswa yang diberikan Uni Eropa untuk mahasiswa dari negara berkembang, baik mahasiswa yang sedang studi atau lulus, di universitas negeri atau swasta. Beasiswa ini bisa dilamar oleh semua mahasiswa di Indonesia meskipun universitas tempat kalian studi di Indonesia tidak mempunyai kerjasama dengan pihak Erasmus.

Beasiswa Erasmus Mundus ini merupakan kali ke dua beasiswa Uni Eropa yang saya dapatkan, setelah beasiswa Erasmus Mundus pada 2012 saya dibatalkan sepihak oleh penyedia beasiswa ketika terjadi krisis ekonomi yang melanda Eropa pada 2012. Perlu diketahui, beasiswa ini hanya menyeleksi aplikan melalui dokumen persyaratan tanpa ada psikotest dan wawancara. Jadi yang seharusnya dilakukan aplikan adalah memahami kriteria penilaian beasiswa dan memaksimalkan dokumen persyaratan. Menurut saya mengurus beasiswa ini gampang-gampang susah karena kita harus memaksimalkan dokumen yang tentunya memerlukan waktu dan tenaga yang banyak, seperti mengkonsultasikan motivation letter ke dosen yang mana waktunya tidak bisa kita tebak dan tentukan jika dosen yang bersangkutan mempunyai jadual yang full, belum lagi print dokumen dan meminta tanda tangan ke beberapa orang yang berbeda yang mengharuskan kita kesana kemari. Diperlukan niat, kesabaran, dan ketelitian yang besar memang, karena jika tidak kita bisa berhenti di tengah jalan. Hal ini pernah dialami beberapa teman yang akhirnya memilih mengundurkan diri. Belum cukup di situ, kami juga bersaing dengan aplikan di dalam dan di luar negeri karena terdapat kuota penerima beasiswa.

Terdapat beberapa persyaratan yang harus dipersiapkan, diantaranya KTM, CV (Format eropa), language certificate, letter of motivation, transkrip nilai, dokumen pendukung lain seperti sertifikat prestasi dan seminar, dll. Untuk CV bisa di download di website resminya. Saya mulai menyiapkan semuanya 6 bulan sebelum deadline. Waktu tersebut saya gunakan untuk mengurus persyaratan di dalam dan di luar kampus, berkonsultasi motivation letter ke beberapa dosen bahasa inggris, update informasi, dan lain-lain sehingga saya mempunyai waktu cukup.

Meskipun IPK saya pas-pasan, saya mencoba memaksimalkan dokumen lain sehingga untuk menarik penyeleksi, saya melampirkan keterangan prestasi yang pernah saya raih dan pengalaman organisasi. Perlu diketahui bahwa kriteria penilain beasiswa ini bukan hanya dilihat dari keaktifan di dalam kampus tapi juga di luar kampus. “Kebanyakan penerima beasiswa adalah para aktifis kampus”, tutur Bapak Soeparto, Kepala BKLN (Biro Kerjasama Luar Negeri) UMM dalam seminar sosialisasi Beasiswa Erasmus Mundus pada 2013.

Terdapat 2 tahap seleksi. Yang pertama seleksi antara penerima dengan cadangan dan yang ditolak. Yang kedua, seleksi antara penerima dan ditolak. Proses ini memakan waktu 1 sampai 2 bulan. Setelah sekian lama menunggu, alhamdulillah akhirnya saya diterima di urutan ke dua dari 63 penerima beasiswa se-Asia. Beberapa hari kemudian saya mendapatkan Letter of Acceptance yang menyatakan saya resmi diterima beasiswa. Pada tahap aman ini saya mulai mempersiapkan dokumen-dokumen sebelum pemberangkatan seperti tiket pesawat, visa, dan lain-lain.

Pada beasiswa ini, penerima mendapatkan studi gratis selama 9 bulan, tiket pesawat pulang-pergi, living cost 1000 euro perbulan (Rp 16 juta ketika itu), asuransi kesehatan, sertifikat penerima beasiswa, transkrip nilai, dan tentunya pengalaman yang tidak terlupakan. Di sini kami belajar bersama ratusan mahasiswa dari berbagai negara, seperti Amerika, Italia, Spanyol, Polandia, Turki, Kazakhstan, Tunisia, Ukraina, Aljazair, Kamboja, dan Filipina.

Proses pengajaran kami menggunakan bahasa inggris. Kami diberi kemudahan dan perhatian yang lebih dari para pengajar. Sebagai mahasiswa jurusan teknik informatika, saya merasakan sistem pengajaran ilmu terapan yang kami dapat jauh berbeda dari jurusan teknik informatika UMM. Perbedaannya, jika UMM menerapkan sistem 50% teori dan 50% praktek, maka di sini hanya 10% teori dan 90% praktek. Dalam hal tugas besar kebanyakan diberikan secara individu sehingga mahasiswa dituntut untuk lebih kreatif dan mandiri dalam mengerjakan tugas. Di Teknik informatika UMM kami tidak hanya diajarkan mata kuliah yang berbau IPA seperti pemrograman, namun juga diajarkan mata kuliyah yang berbau IPS seperti Pendidikan Kewarganegaraan, Kepribadian, dan Bahasa Inggris. Namun ketika itu, kami hanya diajarkan mata kuliyah yang hanya konsen dengan jurusan kami, yaitu IPA.

Di luar kelas reguler, itu kami diajar bahasa dan budaya Polandia serta Jerman selama 2 semester. Saya merasa mempelajari kedua hal ini sangat berguna terutama ketika kita berinteraksi dengan masyarakat sekitar dimana mayoritas masyarakat tidak mampu berbahasa inggris. Meskipun tidak terlalu menguasai bahasa Polandia, setidaknya saya menguasai kata-kata sehari-hari yang biasa dipakai. Saya merasakan hal ini sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari. Selain belajar bahasa Polandia di kelas, kami juga belajar sedikit tentang bahasa Turki, Arab, Spanyol, dan lain-lain dari mahasiswa yang berasal dari negara tersebut.

Selain kegiatan di kelas, kami mengikuti kegiatan di luar kelas yang di naungi oleh organisasi pemuda internasional ESN (Erasmus Student Network). Diantara kegiatannya adalah kegiatan sosial di panti asuhan dan olahraga di setiap senin. Pernah suatu ketika organisasi ini mengadakan kompetisi olahraga voli di akhir semester. Dan kami ambil bagian dengan mendirikan tim yang kami namai “Java United” yang berarti Persatuan Orang Jawa. Meskipun tim kami terdiri dari 2 orang jawa tapi kami juga merekrut anggota lain dari italia, Portugal, Kamboja, dan Turki. Kami masuk di babak final melawan anggota organisasi ESN. Diakhir babak alhamdulillah kami menjadi juara meskipun hanya runner up. Diakhir pertandingan kami mendapatkan penghargaan berupa sertifikat kejuaran di masing-masing tim.

Terdapat kebudayaan masyarakat Polandia yang berbeda dari kebudayaan kita. Seperti ketika seseorang ingin masuk ke kamar orang lain, setelah mengetuk pintu 3 kali seketika itu, dia bisa langsung masuk tanpa menunggu, selama pintunya tidak dikunci. Selain itu mereka menganggap bahwa tangan kanan sama seperti tangan kiri, sehingga kebiasaan memberikan sesuatu dengan menggunakan tangan kiri adalah hal yang biasa. Dalam hal perbedaan sistem transportasi, di negara ini menggunakan jalur kanan sebagai jalan kendaraan termasuk jalur kanan untuk para pejalan kaki. Transportasi umum lebih diminati daripada transportasi pribadi sehingga jarang terjadi kemacetan terlebih polusi udara, masyarakat mentaati peraturan lalu lintas, sistem “buang sampah pada tempatnya” juga berlaku di negara bekas komunis ini.

Ada beberapa pengalaman unik kami selama di Polandia. Salah satunya ketika kami bertemu masyarakat Polandia di jalan, mereka tidak jarang menyapa kami dengan sapaan Bahasa Jepang seperti “arigato”, “konichiwa”. Kejadian ini beberapa kali terulang pada waktu dan tempat yang berbeda. Mungkin masyarakat Polandia lebih mengenal Bangsa Jepang daripada Bangsa Indonesia. Ditambah lagi kami memiliki wajah Asia meskipun menurut kita berbeda. Pengalaman unik lain adalah ketika ada teman dari negara lain yang akan pulang ke negaranya selalu kami ajak foto bersama sambil membawa bendera negaranya dan bendera kami, Indonesia. Hal ini kami lakukan agar kita selalu saling mengingat.

Pengalaman menarik selama di Polandia adalah ketika winter atau musim salju. Pada musim ini segalanya menjadi indah. Tanah, bangunan, tanaman menjadi putih karena tertutup butiran salju. Kesempatan ini tidak kami lewatkan dengan mengabadikan gambar di beberapa tempat. Selain itu kami juga bermain skii beberapa kali. Meskipun hawa dingin menusuk tulang dan terkadang juga sampai membuat jari tangan tidak bisa bergerak, namun kami tetap menikmati suasana ini. Bagaimana tidak? Meskipun temperatur suhu minus 20 derajat cecius, kami masih asyik bermain skii hingga terkadang kami membayar harga penyewaan ekstra karena terlalu lama bermain .

Tentang makanan, setiap hari kami memasak di dapur asrama karena jarang terdapat restauran Asia. Jika adapun tentunya harganya tidak bisa dibilang murah untuk kantong mahasiswa. Makanan pokok masyarakat Polandia adalah kentang, sedangkan kita nasi, namun nasi juga dijual di sini. Setiap hari kami menanak atau menggoreng nasi dengan lauk pauk sesuai keinginan kita. Jangan harap lauk yang biasa terdapat di Indonesia seperti tempe dan bakwan ada di sini. Kita biasa makan lauk yang dijual di sini saja seperti telur, daging, ikan dan lauk umum lainnya. Dari sini kita dituntut lebih mandiri untuk melakukan apapun.

Selain Polandia kami juga menyempatkan berkunjung ke 12 negara Eropa lain. Negara tersebut adalah Jerman, Belanda, Perancis, Belgia, Spanyol, Hungaria, Czech Republic, Slovakia, Austria, Italia, Vatikan, dan Yunani. Di sini kami mendapatkan pengalaman yang tidak terlupakan. Kami berkunjung ke beberapa tempat terkenal seperti Tembok Berlin di Jerman, Kincir Angin di Belanda, Menara Eiffel di Paris, Gedung Parlemen Uni Eropa di Brussel-Belgia, Stadion Nou Camp di Barcelona-Spanyol, Gedung Parlemen Hungaria, dan Gedung Opera di Ceko. Menariknya, kami selalu membawa dan berfoto dengan bendera Indonesia, UMM, serta organisasi kami ke setiap negara tersebut. Hal ini kami lakukan agar masyarakat internasional mengetahui bahwa identitas nama baik kita berkibar dengan gagah di bumi eropa selain itu agar mahasiswa Indonesia lebih bersemangat untuk melakukan hal yang sama, kuliah di luar negeri. Dari kunjungan ini kami mendapatkan pengalaman yang tidak terlupakan. Selain keindahan artsitektur eropa kami juga bertemu beberapa masyarakat dengan berbagai macam latar belakang sosial, budaya, dan agama. Dari interaksi ini kami menemukan pengetahuan yang tidak kami pelajari di bangku perkuliahan. Pengalaman yang baik perlu kami tiru dan implementasikan nantinya.

Berkaitan dengan beasiswa, saya memiliki beberapa saran serta tips bagi calon pelamar, diantaranya :

  1. Diperlukan niat, kesabaran, dan usaha yang kuat. Sebagian teman yang awalnya mempunyai niat besar belajar di luar negeri merasa sibuk dengan urusannya masing-masing dan akhirnya memilih mengundurkan diri dari melamar beasiswa ini. Padahal mereka sudah melengkapi sebagian persyaratannya. Mereka merasa tidak sanggup karena mereka pikir persyaratannya terlalu rumit. Padahal kebanyakan beasiswa luar negeri yang ditawarkan memang seperti itu, membutuhkan banyak persyaratan yang harus disiapkan untuk mencari mahasiswa sesuai kriteria penyedia beasiswa, sehingga membutuhkan niat, kesabaran, serta usaha yang kuat dalam mengurusnya. Secara tidak langsung mereka menyeleksi dirinya untuk tidak diterima beasiswa. Padahal bagi penyedia beasiswa, persyaratan tersebut digunakan untuk referensi siapa diri anda, apakah Anda orang pilihan yang sesuai kriteria mereka? Untuk menjadi tidak biasa, kita harus menjadi luar biasa, luar biasa dalam niat, kesabaran, dan usaha;
  2. Bahasa Inggris adalah kebutuhan. Bahasa Inggris tentunya menjadi suatu kewajiban sebagai alat komunikasi dengan masyarakat antar negara. Kebanyakan beasiswa luar negeri mensyaratkan Bahasa Inggris sebagai bahasa yang dipakai dalam pembelajaran mata kuliah baik secara lisan maupun tulisan. Bahasa inggris lisan dipakai dalam percakapan antara dosen dan mahasiswa maupun antar mahasiswa, sedangkan tulisan biasa dipakai dalam literatur modul yang dosen berikan. Bagi Anda yang merasa Bahasa Inggrisnya masih pas-pasan, lebih baik belajar dari sekarang! Jika perlu ambil kursus! Dalam seleksi administrasi beasiswa, penyeleksi beasiswa melihat kemampuan Bahasa Inggris Anda dari sertifikat Bahasa Inggris, semisal TOEFL. Namun khusus di UMM bisa menggunakan sertifikat ESP (English for Specific Purpose) yang diterbitkan lembaga Language Center UMM, jika belum mempunyai sertifikat ESP bisa menggunakan transkrip ESP sementara;
  3. Pelajari persyaratan dan kriteria penilaian sedetail mungkin! Jika Anda mengetahui keduanya Anda akan mengetahui apa yang akan Anda lakukan. Terkadang ada informasi yang tidak Anda ketahui, seperti persyaratan passport bisa diganti dengan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) dan sertifikat TOEFL bisa diganti dengan transkrip ESP LC. Hal-hal tersebut memang tidak tertulis di website resminya. Maka jangan ragu untuk bertanya kepada BKLN (Biro Kerjasama Luar Negeri) maupun mahasiswa yang sudah mendapat beasiswa ini;
  4. Pergunakan waktu untuk mengurus dokumen persyaratan sebaik mungkin! Jangan mepet deadline! Penyedia tidak akan mentoleransi jika kita apply beasiswa melebihi deadline;
  5. Selalu update informasi dari BKLN dan penyedia beasiswa!;
  6. Jangan ragu untuk bertanya kepada mereka yang sudah mendapat pengalaman beasiswa!;
  7. Motivation Letter dan CV mempunyai kriteria penilaian yang besar. Penyedia beasiswa akan membaca siapa diri kita di Motivation Letter dan CV. Sebaiknya share Motivation Letter dengan dosen bahasa inggris apapun jurusan Anda, karena mereka berkecimpung dalam dunia bahasa inggris terutama grammar!;
  8. Sertakan nilai plus yang Anda miliki seperti prestasi, pengalaman organisasi, karya tulis dan lain lain karena itu akan sangat membantu dan membedakan diri kita dengan orang lain! Sertakan surat aktif organisasi dan sertifikat prestasi! Jika tulisan Anda pernah dimuat di koran, sertakan scangambar berita koran tersebut! Jika Anda pernah menerbitkan buku atau membuat PKM, lampirkan juga gambar karya tulis tersebut!;
  9. Tawakkal, berserah diri apapun hasilnya! Kita tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi. Yakinlah hal itu merupakan terbaik! Meskipun nantinya kita tidak diterima pada program ini, lebih baik kita interopeksi diri. Menginteropeksi kekurangan apa yang sudah kita miliki dalam melamar beasiswa. Hal ini akan membuat kita selalu semangat mencoba kesempatan beasiswa yang akan datang maupun beasiswa lain. Yakinlah jika kita mempunyai banyak kesempatan. Jika yang satu gagal masih bisa mencoba beasiswa-beasiswa lain yang sesuai kriteria kita. Dengan semakin baiknya interopeksi yang kita lakukan, akan membuka kesempatan lebih besar untuk mendapatkan peluang lain.

Sedikit cerita yang bisa saya sampaikan. Semoga sepenggal cerita ini bermanfaat bagi yang lain. Amin. “Man jadda wa jada” , “barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan mendapatkannya”. (Red: Syukron/ Ed: Amir)

24 Agustus 2015, adalah awal saya pergi ke Belanda, tepatnya Groningen, untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi, yaitu master di jurusan Social Psychology and Its Applications di Rijksuniversiteit Groningen. Meskipun sudah punya pengalaman pergi jauh dari orang tua di Semarang untuk kuliah di Universitas Indonesia, Depok, selama 4 tahun, saya tetap merasa takut ketika akan pergi ke negeri kincir angin ini. Banyak pikiran-pikiran buruk yang berkecamuk di otak saya. Seperti misalnya, bagaimana kalau nanti saya tidak lancar berbicara bahasa Inggris dan orang-orang tidak mengerti maksud saya, bagaimana kalau saya tidak bisa mengerti pelajarannya, bagaimana kalau saya tidak betah, bagaimana kalau saya tidak punya teman selama di sini, bagaimana kalau saya merasa rindu rumah dan tidak bisa pulang dalam waktu dekat, dan bagaimana-bagaimana lainnya. Bahkan setelah sampai di Groningen, disambut angin kencang perubahan dari musim panas ke musim gugur, saya masih merasa khawatir. Satu atau dua minggu pertama saya masih bertanya pada diri sendiri, untuk apa saya melanjutkan kuliah lagi? Padahal saya punya pekerjaan yang masih harus diselesaikan saat itu (walaupun hanya magang), dan teman-teman saya lebih banyak ada di Indonesia. Namun di penghujung masa studi saya di sini sekarang ini, saya baru merasa bahwa ini mungkin yang dimaksud dengan rencana Tuhan agar saya dapat memiliki banyak pengalaman berharga selama setahun ini.

Terlalu banyak pengalaman menyenangkan yang dapat dibagikan kepada orang lain, yang mungkin tidak cukup dituliskan dalam satu esai yang hanya dapat memuat maksimal dua ribu lima ratus kata. Di sini saya akan membagikan pengalaman saya yang mungkin tidak begitu menyenangkan dan mungkin hampir semua orang yang sedang merantau mengalaminya. Ya, homesick. Kalau Anda sudah pergi selama hampir setahun seperti saya dan belum merasakan homesick, Anda hebat! Saya sendiri mengalaminya pada sekitar bulan November 2015 sampai kira-kira bulan Januari 2016. Hanya tiga bulan setelah berangkat dan saya sudah rindu dengan orang-orang terdekat yang ada di Indonesia.

Ketika pada awalnya saya merasakan homesickness, perasaan sedih karena tidak bisa bertemu dengan keluarga dalam waktu dekat terobati karena Ibu datang berkunjung. Kami menghabiskan sekitar satu minggu bersama-sama. Setelah Ibu pulang, perasaan homesick juga sedikit berkurang lagi karena kemudian saya menghabiskan waktu bersama dengan keluarga Tante saya di Munich, Jerman. Puncak rindu rumah terasa pada bulan Januari, saat musim dingin mencapai titik terdinginnya.

Homesick semakin parah karena keadaan cuaca yang sangat ekstrim di Groningen pada saat itu. Musim dingin tahun kemarin cukup membuat jalanan di Groningen membeku, sehingga anak-anak bisa mengeluarkan sepatu ice skating-nya dan bermain ice skating di sepanjang jalan. Cukup dingin untuk bisa membuat pemerintah setempat mengeluarkan kode merah, warga tidak diperbolehkan untuk berkegiatan di luar rumah karena jalanan yang sangat licin. Bagaimana tidak, meskipun saat itu suhu berada di sekitar minus 7 derajat Celcius, suhu sebenarnya yang dirasakan adalah minus tujuh belas derajat Celcius. Seperti hidup di dalam kulkas. (Kalau kata anak-anak Instagram zaman sekarang mungkin #kulkaslyfe).

Saat itu adalah ttik terendah saya selama kuliah di Belanda. Motivasi kuliah hilang entah ke mana, semangat untuk belajar juga pergi secepat matahari terbenam pada musim dingin itu. Saya sering menelepon orang tua saya di rumah, bercerita bahwa sudah tidak betah di Belanda dan ingin segera pulang. Tapi saat itu Ibu terus menguatkan saya bahwa sebentar lagi kuliah saya akan selesai sehingga saya bisa pulang ke Indonesia. Beliau berkata, mungkin saya hanya terkena winter blues syndrome, yaitu perubahan mood yang terjadi karena adanya perubahan suhu yang signifikan ketika musim dingin dan jumlah sinar matahari yang jauh lebih sedikit dari musim-musim yang lain. Saya menuruti nasihat Ibu saya, hingga akhirnya terbukti sampai saat ini saya masih bisa bertahan di tengah cuaca tak menentu negara Belanda.

Perlahan-lahan motivasi dan semangat belajar saya pun bangkit seiring dengan lebih lamanya matahari menampakkan diri di siang hari. Di awal blok kedua (atau semester dua), perasaan homesick sudah jauh lebih berkurang. Mungkin karena pada saat itu saya bertemu dengan teman-teman sekelompok yang berasal dari negara yang berbeda-beda. Saya merasa bersyukur karena pada akhirnya saya dihadapkan pada satu situasi yang mengharuskan saya untuk berhadapan dengan orang-orang dari berbagai macam negara. Jujur, pada semester pertama saya lebih sering menghabiskan waktu dengan teman-teman yang sama-sama berasal dari Indonesia. Hanya di kelas saja saya berinteraksi dengan teman-teman yang berasal dari Belanda, Jerman, dan Perancis. Sisanya lebih banyak bertemu dengan teman-teman sesama pelajar Indonesia. Bahkan saya sempat sering menyendiri di kamar sambil membaca novel dan mendengarkan musik.

Kebetulan, atau mungkin dipengaruhi pikiran bawah sadar, saya memilih topik tesis mengenai homesickness. Saya mulai membaca literatur-literatur yang berhubungan dengan homesickness, kemudian menemukan beberapa tips untuk pencegahan dan penanganan homesickness yang sesuai dengan keadaan saya saat itu.

Berikut tips pencegahan dan penanganan homesickness yang saya rangkum dari literatur yang saya baca (Thurber & Walton, 2002):

  1. Bangun hubungan baik dengan siswa internasional yang berasal dari negara lain, selain dengan teman-teman yang berasal dari Indonesia. Pertemanan ini akan memberikan dukungan sosial untuk kita menjalani kehidupan perkuliahan di luar negeri. Saya sendiri mempunyai beberapa teman dari Belanda dan Jerman. Tidak sebanyak teman-teman dari Indonesia, namun mereka cukup membantu saya menghadapi tantangan-tantangan di perkuliahan. Yang membuat saya senang berteman dengan orang-orang dari negara lain adalah mereka suka sekali dengan makanan Indonesia, khususnya Indomie dan tempe goreng. Selain mudah membuatnya, makanan tersebut juga lumayan mengobati kerinduan akan makanan khas Indonesia
  2. Tetap menjalin hubungan jarak jauh dengan orang-orang terdekat yang berada di Indonesia. Teknologi masa kini memungkinkan kita untuk berkomunikasi secara langsung dengan keluarga di benua yang berbeda. Skype, LINE video call, atau sekedar WhatsApp sudah sangat membantu kita mengetahui kabar keluarga di rumah.
  3. Menerapkan gaya hidup sehat. Selain makan makanan yang bergizi dan sehat (kalau sedang beruntung kadang banyak buah yang dijual dengan harga murah di pasar), menyempatkan diri untuk berolahraga juga dapat memberikan pengaruh yang positif untuk pikiran.
  4. Melakukan kegiatan-kegiatan di luar perkuliahan, seperti ikut serta dalam organisasi siswa internasional atau Perhimpunan Pelajar Indonesia di kota masing-masing. Bergabung dengan organisasi-organisasi seperti itu membuat kita mempunyai banyak koneksi dan juga mendapat banyak informasi mengenai kegiatan yang dapat mengurangi perasaan homesick. Seperti misalnya mengikuti festival kuliner dari berbagai negara. Mencicipi berbagai macam jenis masakan dari negara lain cukup ampuh untuk mengobati kerinduan akan rendang, nasi uduk, bakwan jagung, pempek... (walaupun tetap lebih enak masakan Indonesia...)
  5. Yang terpenting adalah bagaimana kita membatasi pikiran kita untuk tidak terus-menerus memikirkan tentang rumah dan keluarga yang berada jauh di Indonesia. Dan mulai untuk membuat sebuah makna “keluarga” yang tidak jauh berbeda dari keluarga sesungguhnya. Setelah sekitar enam bulan merantau di Belanda, baru saya bisa menemukan makna “home-away-from-home” saat berkumpul dengan sahabat-sahabat yang sama-sama menjalani kehidupan perkuliahan di Groningen. Mempunyai kesamaan nasib harus menghabiskan banyak waktu di perpustakaan demi bisa menyelesaikan kuliah dengan baik membuat kami sering menghabiskan waktu bersama. Kami juga sering berkumpul untuk masak dan makan bersama hanya karena kami rindu dengan makanan Indonesia. Tak jarang pula kami bertemu di salah satu rumah teman hanya untuk sekedar mengobrol dan nonton film bersama. Menciptakan “keluarga” baru yang nyaman untuk berbagi suka dan duka selama merantau.

Yang saya pelajari selama menyelesaikan tesis saya, dan berdasarkan pengalaman pribadi, sebenarnya yang terpenting untuk menghadapi perasaan homesick adalah pikiran yang datang dari dalam diri sendiri. Selama kita bisa mengontrol diri dari pikiran-pikiran negatif yang setiap saat bisa hinggap di kepala, niscaya perasaan akan rindu rumah juga akan berkurang. Kita juga akan lebih bahagia menghadapi kehidupan yang terlihat jauh lebih susah selama merantau. Mengutip Stroebe, Schut, dan Nauta (2015) “Look at the bright side, positively”. Karena banyak sekali pengalaman berharga yang dapat diambil kalau kita melihat segala sesuatu dengan lebih positif.

“ Some people grumble that roses have thorns; I am grateful that thorns have roses.” - Alphonse Karr

Referensi:

Stroebe, M., Schut, H., & Nauta, M. H. (2015). Is Homesickness a Mini-Grief? Development of a Dual Process Model. Clinical Psychological Science, 4(2), 344-358.

Thurber, C. A., & Walton, E. A. (2012). Homesickness and 415-419adjustment in university students. Journal of American college health, 60(5),.

 

Ditulis oleh: Caecilia Pradnya Pradipta

Hey, my name is Stenly, Do you know Jet Lee? Do u know Bruce Lee. Yup I am Stenly. Saya pelajar dan pengajar, pagi saya diajar, malam saya gantian yang mengajar. Sekarang saya sedang proses akhir yang hampir tiap mahasiswa master tahu, thesis. Sedang tekun mendalami efek sosial media terhadap kepecayaan diri pengguna dalam berkomunikasi maupun berpublik relasi. Kenapa saya kok fokus dengan judul itu? Ya karena jurusan saya PR (Public Relation) dan promosi di Ege university-nya Turki yang katanya kayak UGM (Universitas Gadjah Mada) sama UI (Universitan Indonesia)-nya Indonesia. Jadinya saya harus fokus thesis dengan judul berbau komunikasi dan kehumasan.

Pagi saya diajar PR oke, terus saya ngajar apa dan siapa malamnya? saya mengajar masyarakat Turki untuk belajar komunikasi dengan bahasa Inggris dengan baik dan benar. biar kayak orang Indonesia, ngomong Inggrisnya cas cis cus. Kadang ya Perancis, kadang ya Spanyol, atau komunikasi umum.

Loh kak kok milih Turki? Gak takut bom? Jangan salah, saya juga punya bom, bom cinta untuk alam semesta hahahhaha. Ngene lho Rek! Semua takdir sudah digariskan, kalau emang kita ditakdirkan dipanggil cepat, bisa saja abis baca tulisan saya ini, kita dipanggil ke sisi-Nya? Jadı bom bukan masalah utama yang dıjadıkan bahan ketakutan, namun kurang produktıf ıtu yang buat saya jadı bahan ketakutan. Toh dı mana saja kıta berproduktıf, tetap dı tanah Tuhan kan?

S2 ini adalah program berat untuk memilih karena sebenarnya saya mendapat 3 beasiswa tahun 2014, Turki, Westminster dan Bournemouth. If you were me, you would grab the last two choices right, UK. sure, I did the same! But saya sholat, doa, dan merenung akhirnya memilih negeri Turki, Majapahitnya asia tengah. Turki buat saya adalah jembatan 3 benua, asia, eropa dan afrika. semakin banyak benua yang akan dijelajah, makin banyak pula kesempatan, ilmu, pengalaman, bahasa yang akan dikuasai. Dan alhamdulillah, saya dapat apa yang saya rencanakan.

Selama Saya menempuh S2 sudah melakukan apa saja? Yang pasti sesuai janji saya, belajar giat dan praktik ilmu yang ada tanpa organisasi karena cukup s1 organisasi.

"Gak cukup ta branch director Indonesia gawe Asia Pasific youth organisation? Belajar giat Nak dan banggakan nama keluarga, angkat nama keluarga dan kami percaya Eric Stenly pasti bisa." Itulah yang akhirnya membuat saya menolak halus tawaran yang datang ke saya, mulai dari ketua PPI kota maupun negara sampai pengawas pendidikan tingkat Asia Timur Tenggara serta koordinator internasional untuk couchsurfing dunia. Saya saat ini hanya ingin cuma satu, lulus dengan selempang pengalaman untuk diadaptasikan dengan kondisi negara kita, Indonesia.

Sekarang saya sedang apa? Saya sedang nesis, mengajar online maupun offline dengan relasi Europa dan Asia, melakukan penelitian dengan professor dan dekan dari kampus saya. Sebenarnya saya juga kurang percaya ketika ditawari professor plus dekan untuk berprojek bersama, karena saya baru belajar Turki, orang non Turki dan masih dibilang mahasiswa baru. Namun Tuhan berkata lain, semoga amanah ini bisa berjalan dengan sesuai rencana dan barokah, amin.

Saya juga kalau ditanya, apa sih rahasia kamu sten kok bisa sukses? So far saya cuma berdoa, berusaha, berusaha dan berusaha. Itu saja. Dengan doa dan usaha, mulai SMP hingga saat ini saya kuliah dengan beasiswa. Nol rupiah saja. Dengan doa dan usaha, saya dipercaya mewakili kampus untuk pertukaran Erasmus ke Spanyol semester lalu plus dapat 4 tawaran kerja di sana.

Dan berkat doa dan usaha, saya bisa mengajar hingga murid yang biasanya kita ajar komplain ketidaknyaman malah meminta saya menjadi dosen tetapnya ketika saya mengganti dosen mereka. Semua berkat doa dan usaha. Jika Allah dan saya percaya kekuatan doa dan usaha, kenapa dulur Cak dan Ning semuanya tidak percaya?

Penulis: Erik Stenly (mahasiswa Ege University, Turki)

Pada hari Sabtu, 19 November 2016, Atrium Mall Pejanten Village, Jakarta Selatan diramaikan oleh para peserta talkshow Study Abroad: Jurus Kuliah ke Luar Negeri. Acara berkualitas ini diselenggarakan oleh penerbit buku Inspira Book, toko buku Gramedia, PPI Dunia dan didukung berkuliah.com. Empat puluh peserta berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan inspiratif ini.

 

Rangkaian acara Festival Luar Negeri PPI Dunia (FLN PPI Dunia) terus berlangsung. Kali ini, Jakarta selatan menjadi lokasi berbagi inspirasi kepada masyarakat Indonesia yang tertarik untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Acara berbentuk talkshow ini dihadiri 40 peserta. Perwakilan PPI dunia yang diutus untuk menghadiri acara kali ini adalah Indah Tridiyanti, ketua PPI Perancis 2015.

ppidunia1

Sharing langsung bersama perwakilan FLN PPI Dunia diacara talkshow study abroad, 19 November 2016 lalu

Selain merupakan ketua PPI Perancis 2015, Indah Tridiyanti atau biasa dipanggil Indah juga merupakan salah seorang kontributor dalam buku berjudul "Dari Kami Untuk Negeri". Dalam acara talskhow, Indah memaparkan pengalamannya sewaktu kuliah di Perancis. Mencari informasi adalah hal yang paling ditekankan dalam pemaparannya saat mengawali kisahnya.

Dikutip dari panitia penyelenggara talkshow, Indah mengakhiri sesi sharing dengan memberikan kiat-kiat khusus supaya lolos beasiswa luar negeri. "Belajar bahasa asing dengan sungguh-sungguh, cobalah mulai menulis essay dan motivation letter dalam bahasa Inggris, dan nantinya kamu jika sudah saatnya mendaftar sudah siap," ujar Indah.

ppidunia2

Talkshow study abroad yang bertemakan "Jurus Kuliah ke Luar Negeri" yang dihadiri oleh Indah Tridayanti

Rizky Akbar Syah, salah satu panitia penyelenggara berkata "mba Indah sangat bagus dalam meberikan materinya, waktu 3 jam tidak cukup ternyata. Peserta juga banyak yang bertanya. Saya pribadi sangat terkesan dengan mba Indah dalam memberikan materinya. Totalitas dan detail. kelihatan banget beliau sungguh-sungguh ingin memberikan ilmu dan pengalamannya ke peserta".

 

-Teruslah menginspirasi dan membumi.-

Panitia Festival Luar Negeri PPI Dunia

 

 

Galeri Kegiatan :

Pada hari sabtu, 29 Oktober 2016 yang lalu, KBRI New Delhi sukses menyelenggarakan festival Namaste Wonderful Indonesia di Nehru Park. Acara yang diselenggarakan ditengah hiruk pikuk perayaan Diwali ini, sukses menarik perhatian banyak pengunjung. Dengan mengajak serta PPI India dan diaspora Indonesia di India, KBRI New Delhi berhasil membuat acara yang diadakan setahun sekali ini menjadi meriah dan penuh antusias dari seluruh peserta dan undangan yang ada.

Dalam sambutannya, Rizali Wilmar Indrakesuma, Duta Besar RI untuk India ini mengatakan bahwa acara ini diselenggarakan untuk meningkatkan rasa kebersamaan Warga Indonesia dan Pelajar Indonesia di India serta untuk memperkenalkan seni, budaya, pariwisata dan kuliner Indonesia di mata dunia. Ditemui di tempat lain, Rizali mengatakan bahwa acara yang baru diselenggarakan untuk pertama kalinya ini terbilang cukup sukses. “ Acara ini terbilang cukup sukses, saya berharap kedepannya acara seperti ini bisa lebih dipersiapkan lagi. Mengingat event atau acara seperti ini sangat strategis untuk merangkul masyarakat Indonesia di India serta memperkenalkan budaya kita kepada dunia”, tegasnya.

Meriahnya Namaste Wonderful Indonesia

Meriahnya Namaste Wonderful Indonesia

Acara yang meriah ini dibuka dengan tari Ranup Lampuan dan tari Indang Badinding yang dibawakan oleh PPI Komisariat Aligarh. Kemudian, dilanjutkan dengan tari Sekar Jagat dan tari Legong Keraton yang diiringi alunan musik gamelan merdu oleh PPI Komisariat Hyderabad. Penampilan yang luar biasa ini pun mengundang decak kagum para penonton dan berhasil mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari pengunjung. Grup band PPI India pun juga tak mau kalah dengan para penampil lainnya. Meraka juga turut memperkenalkan lagu-lagu tradisional Indonesia seperti Ayam den lapeh, apuse, rek ayo rek dan beberapa lagu daerah lainnya. Selain itu, tak kalah ketinggalan, musik pop Indonesia pun juga ditampilkan dengan apiknya seperti lagu-lagu Iwan Fals dan grup band Wali dari PPI India.

Di sisi lain, di stand kuliner, PPI India juga menyajikan menu-menu khas Indonesia yang begitu menggoda para pengunjung hingga habis diborong oleh pengunjung yang datang saat itu.  Menurut Putri, divisi wirausaha PPI India, makanan yang paling banyak peminatnya adalah sate ayam dan gado-gado. Hal ini terbukti dengan cepat habisnya sate ayam dan gado-gado itu sesaat setelah stand kuliner dibuka. Selain produk kuliner, produk kreatif khas Indonesia pun juga di pamerkan dalam stand tersebut, seperti baju batik dan gelang biji jentri yang menjadi daya tarik tersendiri di stand PPI India.

unnamed

Sambutan Dubes RI untuk New Delhi, India

Berdasarkan beberapa survey dari pengunjung acara tersebut, mereka cukup puas dengan acara yang meriah ini dan sangat menikmati penampilan serta makanan yang ada di stand PPI India. Crystal, warga Negara Perancis mengatakan, acara ini sangat menarik dan banyak memberikan wawasan tentang Indonesia. Sementara Amy, salah satu Tourism Researcher dari India mengatakan bahwa acara seperti ini seharusnya bisa lebih sering diadakan. “Acara ini sangat bagus dan efektif untuk meningkatkan daya wisata masyarakat asing ke Indonesia. Harus sering diadakan dengan konsep yang lebih matang, misalnya tourism stall diperbanyak dan kita disuguhi miniatur maupun gambar-gambar tempat wisata di Indonesia”, imbuhnya.

Hervina, vokalis band PPI India, mengatakan bahwa kesempatan ini sangat bagus untuk memperkenalkan seni dan budaya Indonesia kepada dunia. “Saya pribadi sangat bangga bisa memperkenalkan lagu daerah dari Indonesia”, kata mahasiswi Jawaharlal Nahru University asal Padang ini.

Sementara itu, menurut Ketua PPI India, Brenny Novriansyah Ibrahim, acara serupa harus lebih sering di adakan tidak hanya di New Delhi saja tetapi juga di state lain yang berpotensi menarik para pelancong untuk datang ke Indonesia. Melalui kegiatan ini, para pelajar yang merupakan agen perubahan dapat berperan sebagai promotor berbagai potensi Indonesia terutama bidang pariwisata dan ekspor hasil bumi, sektor pertanian dan perkebunan kita demi meningkatkan kesejahteraan para petani. Selain itu, hal ini juga dapat membantu pemerintah dalam mensukseskan program One Village One Product melalui promosi penjualan produk desa di mancanegara, sehingga kesejahteraan desa bisa terwujud. "PPI sebagai pemuda yg berada di mancanegara pun juga dapat berperan dalam meningkatkan perekonomian desa dengan menjadi promotor produk di luar negeri", tegas Brenny.

Acara Namaste Wonderful Indonesia itu pun ditutup dengan ajakan langsung dari ibu-ibu Dharma Wanita KBRI New Delhi kepada para pengunjung untuk menari dan menyanyi bersama. (Red: FR/ Ed: Amir)

Kehadiran Tim FLN PPI Dunia dalam Latihan Dasar Kepemimpinan SMA 93 Jakarta memberikan warna baru. Acara yang berlangsung pada hari Jumat, pukul 16.00 s/d 21.00 di Aula SMAN 93 Jakarta ini dihadiri sekitar 250 Mahasiswa.

Kepemimpinan adalah hal dasar yang harus dimiliki oleh segenap manusia. Hal ini terucap berdasarkan fakta bahwa, terpaksa atau tidak terpaksa, manusia diciptakan untuk menjadi pemimpin baik itu untuk memimpin dirinya sendiri ataupun orang lain. Berbicara tentang kepemimpinan, cara alamiah untuk melatih mental kepemimpinan adalah dengan langsung melakukan praktek. Hal inilah yang dilakukan oleh siswa - siswi SMA 93 Jakarta dalam Latihan Dasar Kepemimpinan (LDKS).

Mengusung Tema "Character Building"

Jumat, 21 Oktober 2016 SMAN 93 Jakarta mengadakan sebuah Latihan Dasar Kepemimpinan bersama Tim FLN PPI Dunia. Dengan mengusung tema "Character Building", acara ini dilakukan di Aula SMAN 93 Jakarta. Tujuan dari acara ini diantaranya adalah untuk meningkatkan pola pikir yang positif dan kreatif serta membangun kualitas diri yang efektif. Perlu diketahui, jumlah siswa yang mengikuti kegiatan ini berkisar 250 orang. Jumlah yang tidak sedikit, bukan?

Berbagi cerita tentang pengalaman di Luar Negeri.

Pada acara ini, Tim FLN PPI Dunia yang diwakili oleh Kak Dhafi Iskandar dan Kak Ade Irma Elvira memberikan sebuah ilmu dan pengalaman mereka selama menempuh pendidikan di luar negeri. Ade Irma, sebagai pemateri pertama, menceritakan tentang pengalaman beliau ketika berada di Rusia. Kisah Ade Irma ini pun dituliskan dalam sebuah buku yang berjudul Beruang Merah. Tak kalah menarik dengan materi pertama, Dhafi Iskandar sebagai pemateri kedua yang merupakan mantan ketua PPI Perancis ini memberikan motivasi bagaimana pemuda-pemudi Indonesia harus bersikap terhadap bangsanya dengan memiliki karakter yang kuat.

Kesan Peserta dan Penyelenggara

“Terima kasih buat kakak mentor semua yang telah memberikan materi, kami jadi tahu tips kuliah di luar negeri dan bagaiamana pengalaman kuliah di luar negeri” ucap peserta LDKS. Senada dengan para peserta LDKS, Wakil Kepala Sekolah SMAN 93 Jakarta Bapak Sono Aji mengucapkan banyak terima kasih kepada Alumni PPI Dunia, PPI Dunia, dan pembicara lainnya yang telah membuka wawasan yang lebih luas kepada para peserta LDKS di SMA 93 Jakarta. “Harapan sekolah adalah supaya siswa-siswa SMAN 93 Jakarta memiliki semangat menuntut ilmu dan memiliki bekal kepemimpinan untuk membangun masa depan Indonesia”.

Latihan Dasar Kepemimpinan SMA 93 Jakarta dan Tim FLN PPI Dunia

Latihan Dasar Kepemimpinan SMA 93 Jakarta dan Tim FLN PPI Dunia

Mari bangun Indonesia, dengan menjadi Pemuda yang selalu bergerak menuju arah yang lebih baik. Sebarkan semangat positif dan jangan pernah menyerah!

 

Tim Festival Luar Negeri PPI Dunia

Ayo, ikuti kabar mengenai tim FLN PPI Dunia di:

Facebook

Instagram

Liputan Purwokerto, 9 Oktober 2016. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (BEM UNSOED) yang bekerja sama dengan PPI Dunia mengadakan acara Festival of Study Abroad (FOSA) di Graha Widyatama, Purwokerto, Jawa Tengah. Acara yang bertajuk “Reinforcing Brighter Future with Study Abroad” ini bertujuan untuk memberikan informasi perihal sekolah lanjut di luar negeri dengan beberapa informan seperti delegasi dari PPI Negara, pihak beasiswa yaitu LPDP serta diskusi mengenai studi di luar negeri dengan para alumnus dan Kementrian Luar Negeri yaitu Isman Pasha.

Acara yang berlangsung selama dua hari ini diisi oleh delapan belas delegasi negara dari PPI Italia, PPI Taiwan, PPI Perancis, PPMI Pakistan, PPI Jerman, PPI Hongaria, PPI Yaman, PPMI Mesir, PPI Britania Raya, PERMIRA Rusia, PPI Brunei Darussalam, PPI Sudan, PPI Polandia, PPI Filipina, HPMI Jordania, PERMITHA Thailand, PPI Finlandia dan PPI Estonia. Setiap peserta dari delegasi memberikan presentasi selama 15 menit mengenai negara asal mereka belajar, tips dan trik kuliah di negara asal dan mengenai beasiswa di negara tersebut. Selain itu, setiap delegasi negara mendapatkan booth untuk memperkenalkan dan memberikan informasi lebih lanjut mengenai kuliah di luar negri.

Ketua panitia dari FOSA, Putri Bilqis Oktaviani mengharapkan, peserta dari acara ini, yaitu mahasiswa dan berbagai kalangan lainnya dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari informasi tentang beasiswa terkait secara gratis. Beliau juga berharap agar peserta tidak malu bertanya untuk mendapatkan informasi mengenai kuliah di luar negeri, serta mereka dapat mempersiapkan segala kebutuhan dari jauh hari.

Peserta dari acara ini tampak antusias untuk mencari informasi mengenai kuliah di luar negeri. Ajang ini juga memperkenalkan mereka tentang negara yang tidak familiar dengan mereka namun memiliki beberapa potensi beasiswa untuk mahasiswa Indonesia melanjutkan studi baik jenjang magister ataupun doktoral.

(FA,NL/F)

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920