logo ppid

Islamabad, Dalam rangka memperingati hari pahlawan, KBRI Islamabad bekerjasama dengan Perhimpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Pakistan menggelar acara seminar kebangsaan pada sabtu (12/11) kemarin. Seminar yang dihelat terbuka di taman wisma duta besar RI KBRI Islamabad tersebut bertemakan “Meneguhkan Islam Rahmatan Lil Alamin dalam Pluralitas Kehidupan.”

Dalam sambutannya, Duta Besar Indonesia untuk Pakistan Iwan Suyudhi Amrie yang turut hadir dalam seminar tersebut menyampaikan harapannya agar seminar ini dapat menjadi salah satu upaya umat islam mendapatkan pedoman tata cara bergaul, berpikir, bersikap yang berlandaskan rahmatan lil alamin dimanapun bumi dipijak.

“Saya berharap agar seluruh masyarakat paham Ruh Islam yang lebih komprehensif, dan bisa menjadi teladan yang baik bagi masyarakat lainnya. Berharap dari hasil seminar ini dapat dibentuk tim perumus yang membuat pokok pikiran yang muncul dari diskusi sebagai pertanggung jawaban dari pemikiran yang dimunculkan,” ungkap Dubes.

Hadir sebagai pemateri, empat mahasiswa master Islamic studies yaitu Adnin Zahir Dari, Ikmal Toha Kamaluzzaman, Taufik Akbaruddin, dan Syamsul Hadi, Mereka merupakan mahasiswa pascasarjana Internasional Islamic University Islamabad.

Firman, salah seorang narasumber yang sedang menyelesaikan program master jurusan Islamic Jurisprudence menambahkan, memahami konteks pluralitas keagamaan sebagai sebuah kemajemukan memiliki arti la ikrooha fiddin dalam Alquran yang bermakna tidak ada paksaan dalam beragama.

“Kalimat ini menekankan agar Muslim dilarang keras memaksa orang lain masuk Islam, namun Islam tetap memerintahkan untuk mendakwahi orang lain, mengajak dengan baik, bahkan mendoakan agar mendapat hidayah masuk Islam. Muslim di Indonesia sudah sangat menjunjung tinggi nilai pluralitas di tanah air, sebagai masyarakat dengan jumlah dominan, muslim tidak melarang penganut agama lain mendirikan rumah ibadah, beribadah, dan merayakan hari besarnya, bahkan melakukan transaksi bersama muslim, berbisnis dan lain-lain yang memang dihalalkan oleh agama,” ungkap Firman.

Pemaparan para narasumber membuat antusias para hadirin, banyak yang bertanya bahkan ada yang menambahkan poin untuk dijadikan highlight dalam tema penting ini seperti bapak Muladi Mughni dan saudara Firman Arif.

“Sebaiknya kita kembali membaca fiqih siroh, terutama mahasiswa sehingga memahami formulasi dari konsep islam rahmatan lil alamin lebih baik lagi. Akademisi Islam sebaiknya tidak hanya berpegang kepada fikih saja sebagai landasan berhukum, tapi juga menekankan korelasinya pada siroh dan tarikh agar lebih bijak dalam bertindak,” komentar Muladi pada saat sesi diskusi berlangsung.

Muhammad Taufiq sebagai ketua PPMI menyambut baik kegiatan ini sebagai upaya untuk meningkatkan ranah keilmuan teman-teman mahasiswa dengan latar belakang keilmuwan yang berbeda-beda dan juga kepada WNI dan diplomat tentang wawasan Islam yang bersahabat. (Red, dw / Ed, pw)

 

 

Liputan Yordania, pada 7 Oktober 2016 telah diterbitkan Surat Keputusan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia kawasan Timur Tengah dan Afrika tentang pembentukan dan penugasan Aliansi Keputrian Timur Tengah dan Afrika (AKTA) periode 2016-2017.

Pergerakan AKTA bermula sejak tanggal 6 Mei 2016 dengan dibentuknya grup whatsapp beranggotakan perwakilan mahasiswi dari 12 negara di Timur Tengah dan Afrika, diantaranya, Afrika Selatan, Arab Saudi, Iran, Libya, Maroko, Mesir, Pakistan, Suriah, Sudan, Tunisia, Yaman dan Yordania.

Pada dasarnya, pergerakan ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi antarsesama mahasiswi kawasan Timur Tengah dan Afrika yang memiliki kultur khas serta mayoritas pendidikan berbasis agama Islam.

Tujuan ini kemudian berkembang menjadi keinginan untuk memberi kontribusi nyata bagi kemajuan para muslimah di Indonesia maupun di dunia melalui berbagai agenda yang akan bekerja sama dengan PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika serta PPI Dunia.

Inisiatif peresmian aliansi ini disampaikan saat rapat kawasan dalam rentetan agenda LPJ PPI Dunia 2015-2016, pada tanggal 27 Juli 2016 di ruang Bhinneka, KBRI Kairo dan disetujui oleh semua pihak yang turut hadir. Saat ini, anggota AKTA tersisa di sebelas negara (kecuali Libya, Lebanon, dan Uni Emirat Arab) dengan jumlah mencapai 1500 pelajar putri dan mahasiswi Indonesia.

Sebuah kesyukuran atas hadirnya AKTA di tengah maraknya problematika wanita yang terjadi baik di Indonesia maupun di dunia.

“Kami berharap, semoga AKTA dapat mengoptimalkan peran mahasiswi Indonesia di Timur Tengah dan Afrika sebagai duta bangsa untuk menjawab problematika tersebut serta memberi kontribusi nyata untuk agama, bangsa dan dunia. Kami turut haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada PPI Kawasan Timteng dan Afrika serta PPI Dunia atas dukungan dan arahannya hingga AKTA resmi menjadi bagian dari pergerakan PPI Dunia,” ujar pengurus AKTA.

(Rahmah Rasyidah/F)

Liputan Jakarta, satu langkah baru yang dilakukan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) se-Dunia adalah berdiskusi dengan perwakilan Komisi X DPR RI pada Selasa, 11 Oktober 2016 lalu. Representasi PPI Dunia diwakili oleh Koordinator PPI Dunia Intan Irani, Aulia Rifada alumni PPI Pakistan, Devi Rizal alumni PPI Finlandia, Ary Bolu alumni PPI Jerman, Pitut Pramuji Ketua PPI Taiwan, dan Ayub Anggadireja PPI Taiwan.

Mereka diterima oleh Wakil Ketua Komisi X Ferdiansyah. Lingkup Komisi X sendiri meliputi bidang pendidikan, olahraga, dan sejarah dengan rekan kerja di enam kementerian, yaitu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaaan, Kementerian Pariwisata, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Perpustakaan Nasional, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Bidang Pendidikan Tinggi), serta Badan Ekonomi Kreatif. Intan sendiri menyampaikan rencana aksi PPI Dunia selama setahun ke depan. ’’Berdasarkan hasil diskusi sidang komisi pada simposium Internasional Kairo tahun ini, kami membaginya dalam tujuh rencana aksi PPI Dunia,’’ ujar Intan.

Suasana diskusi antara perwakilan PPI Dunia dengan Komisi X DPR RI.

Suasana diskusi antara perwakilan PPI Dunia dengan Komisi X DPR RI.

Tujuh aksi tersebut dibagi dalam empat komisi yang akan mengkoordinir berjalannya aksi itu. Pertama adalah Komisi Pendidikan yang di-breakdown dalam empat isu, yakni revitalisasi pembangunan 100 Sekolah Dasar (SD) di Indonesia akan bekerja sama dengan sebuah LSM di Indonesia, donasi pengumpulan koin dari seluruh PPI Dunia untuk guru di Indonesia, gerakan kelas inspirasi, dan gerakan literasi (perpustakaan) yang akan bekerja sama dengan Indonesia Mengajar (IM). Kedua dalam Komisi Ekonomi, programnya adalah peningkatan perekonomian masyarakat Indonesia di level grass root, wujudnya melalui Desa Binaan untuk petani. Saat ini masih tahap survei lokasi yang akan dijadikan desa binaan, dan nantinya akan mengajarkan e-commerce kepada para petani.

Ketiga adalah Komisi Politik yang bertahan dengan Tim kajian Papua Barat sejak 2015. ’’Proses rekrutmen anggota tambahan untuk Tim Kajian Papua Barat ini baru saja ditutup,’’ imbuhnya. Keempat adalah Komisi Agama yang menarget kajian strategis mengenai isu ekstrimisme dan radikalisme yang sedang marak terjadi di Indonesia dan juga pembentukkan tim media kerohanian dari para mahasiswa dari Timur Tengah dan Afrika Selatan. Intan juga menambahkan rencana simposium PPI Dunia setahun ke depan. ’’Ada empat simposium utama, yaitu di Taiwan untuk kawasan Asia dan Oseania, di Jeddah untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika Selatan, dan di Italia untuk kawasan Amerika Eropa,’’ ucap Intan.

Koordinator PPI Dunia, Intan Irani (tengah) sedang menyampaikan tanggapannya.

Koordinator PPI Dunia, Intan Irani (tengah) sedang menyampaikan tanggapannya.

Satu lagi yang menjadi puncak dari kepengurusannya nanti adalah Simposium Internasional PPI Dunia yang akan digelar di Inggris tahun depan. Dalam kesempatan face to face dengan perwakilan Komisi X DPR RI ini, PPI Dunia berharap pemerintah bisa mendukung rencana aksi PPI Dunia tersebut dan juga kerjasama dengan perwakilan diaspora yang tersebar di seluruh dunia. Sebab sejauh ini, PPI kerap mengalami kendala dalam bekerja sama dengan lembaga-lembaga pemerintah atau kementerian karena minimnya akses.

Foto bersama perwakilan PPI Dunia di gedung Nusantara III, DPR RI, pada tanggal 11 Oktober lalu.

Foto bersama perwakilan PPI Dunia di gedung Nusantara III, DPR RI, pada tanggal 11 Oktober lalu.

Ferdiansyah sendiri menyampaikan beberapa saran berkaitan dengan rencana aksi PPI Dunia. Misalnya, dalam simposium 2017 nanti PPI memasukkan unsur Asean Promotion agar mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata. Selain itu, untuk pembangunan 100 SD sebaiknya dijelaskan lebih detail mengenai peran PPI. “Nanti kita masukkan rencana aksi kalian dalam rapat POKSI dibantu Pak Bambang Sutrisno selaku sekretaris kelompok fraksi di FPG,” ujar Ferdiansyah.

(DLA/F)

Liputan Purwokerto, 9 Oktober 2016. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (BEM UNSOED) yang bekerja sama dengan PPI Dunia mengadakan acara Festival of Study Abroad (FOSA) di Graha Widyatama, Purwokerto, Jawa Tengah. Acara yang bertajuk “Reinforcing Brighter Future with Study Abroad” ini bertujuan untuk memberikan informasi perihal sekolah lanjut di luar negeri dengan beberapa informan seperti delegasi dari PPI Negara, pihak beasiswa yaitu LPDP serta diskusi mengenai studi di luar negeri dengan para alumnus dan Kementrian Luar Negeri yaitu Isman Pasha.

Acara yang berlangsung selama dua hari ini diisi oleh delapan belas delegasi negara dari PPI Italia, PPI Taiwan, PPI Perancis, PPMI Pakistan, PPI Jerman, PPI Hongaria, PPI Yaman, PPMI Mesir, PPI Britania Raya, PERMIRA Rusia, PPI Brunei Darussalam, PPI Sudan, PPI Polandia, PPI Filipina, HPMI Jordania, PERMITHA Thailand, PPI Finlandia dan PPI Estonia. Setiap peserta dari delegasi memberikan presentasi selama 15 menit mengenai negara asal mereka belajar, tips dan trik kuliah di negara asal dan mengenai beasiswa di negara tersebut. Selain itu, setiap delegasi negara mendapatkan booth untuk memperkenalkan dan memberikan informasi lebih lanjut mengenai kuliah di luar negri.

Ketua panitia dari FOSA, Putri Bilqis Oktaviani mengharapkan, peserta dari acara ini, yaitu mahasiswa dan berbagai kalangan lainnya dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari informasi tentang beasiswa terkait secara gratis. Beliau juga berharap agar peserta tidak malu bertanya untuk mendapatkan informasi mengenai kuliah di luar negeri, serta mereka dapat mempersiapkan segala kebutuhan dari jauh hari.

Peserta dari acara ini tampak antusias untuk mencari informasi mengenai kuliah di luar negeri. Ajang ini juga memperkenalkan mereka tentang negara yang tidak familiar dengan mereka namun memiliki beberapa potensi beasiswa untuk mahasiswa Indonesia melanjutkan studi baik jenjang magister ataupun doktoral.

(FA,NL/F)

Liputan Bogor, Ini merupakan kali ke dua PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika menyelenggarakan kegiatan orientasi Perguruan Tinggi di pesantren yang ada di Indonesia. Orientasi perdana yang mengusung tema "Orientasi Perguruan Tinggi Arab Saudi, Tunisia dan Timur Tengah" ini diselenggarakan di Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining, 9 Dzulhijjah 1437 H/10 September 2016.

Acara dimulai dengan pembukaan dan sambutan oleh Kepala Biro Sumber Daya Manusia Pesantren Darunnajah 2 Cipining, Al-Ustadz Mustafa Zahir, Lc, yang kemudian dilanjutkan dengan pemaparan tentang tema diatas oleh kedua narasumber yang telah diundang yaitu Muammar Kadafi, Lc, PPI Tunisia dan Imam Khairul Annas, PPMI Arab Saudi. Peserta dan para tamu undangan dalam acara ini adalah santriwan dan santriwati kelas 4, 5, 6 TMI (kelas 10, 11, 12) beserta guru pengabdian tahun pertama dan tahun kedua, dengan jumlah keseluruhan peserta orientasi mencapai 700 orang.

 

Pemberian materi

Pemberian materi

Pada kesempatan tersebut, ketua umum PPMI Arab Saudi 2015/2016, Imam Khairul Annas bertindak sebagai narasumber pertama mempresentasikan tentang perkuliahan di Arab Saudi dan sistem perkuliahan di beberapa negara yang ada di kawasan Timur Tengah dan Afrika.

"PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika ini sendiri terdiri dari 14 PPI Negara yaitu PPMI Pakistan, IPI Iran, PPI Uni Emirat Arab, PPMI Arab Saudi, PPI Yaman, HPMI Yordania, PPI Lebanon, PPI Damaskus, PPMI Mesir, PPI Sudan, KKMI Libya, PPI Tunisia, PPI Maroko dan PPI Afrika Selatan. Masing-masing PPI memberikan informasi tentang sistem perkuliahan, beasiswa yang tersedia, dan kegiatan mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam PPI melalui website dan media sosialnya masing-masing" papar Imam.

"Sedangkan beberapa keuntungan melanjutkan studi di Arab Saudi sendiri adalah tersedianya beasiswa penuh bagi beberapa mahasiswa asing dan lokal, situasi yang aman dan kondusif serta kesempatan untuk menunaikan ibadah haji dan umrah", ujar Imam yang saat ini sedang melanjutkan studinya di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi.

Selain itu Imam yang telah menyelesaikan tugasnya sebagai Koordinator PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika pada Juli lalu juga menambahkan bahwasannya belajar di kawasan Timur Tengah dan Afrika memiliki tradisi yang unik di masing-masing negara. Sebagai contoh adalah Pakistan yang terkenal akan Bahasa Urdunya yang kental. Sehingga jika mahasiswa asing belajar di Pakistan maka mereka juga diharuskan belajar Bahasa Urdu selain Bahasa Inggris.

Peserta Seminar

Peserta Seminar

Selanjutnya seminar kedua dilanjutkan oleh Muammar Kadafi, Lc, Ketua PPI Tunisia 2015/2016. Muammar menjelaskan tentang tiga point penting ketika belajar di Tunisia, yaitu Cara, Tantangan, dan Keuntungan. Cara mendaftar menjadi mahasiswa baru di Tunisia sendiri tidak jauh berbeda dengan negara-negara lain pada umumnya. Di Tunisia sendiri juga memiliki standard nilai minimum yang harus dipenuhi oleh masing-masing calon mahasiswa beserta beberapa dokumen penting yang harus dilengkapi untuk dapat diproses di bagian admission.

"Seperti halnya mendaftarkan ke universitas pada umumnya berkas yang dibutuhkan juga tidak jauh berbeda, dan adik-adik bisa langsung membaca panduan studi di Tunisia yang sudah tersedia dalam website kami www.ppitunisia.org," ungkapnya mengawali point pertama.

Berlanjut ke point kedua, Muammar menjelaskan tentang beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh mahasiswa asing di Tunisia serta solusi menghadapinya. Disesi ini, banyak sekali hal-hal teknis yang tidak terdapat dalam buku panduan kuliah di Luar Negeri. Sehingga sesi ini merupakan sesi yang paling penting kaitannya dengan tantangan dan rintangan selama belajar di negeri orang.

Kemudian point ketiga, Muammar juga menjelaskan tentang beberapa keuntungan kuliah di Tunisia. Salah satunya adalah bahasa. "Bahasa adalah keuntungan yang pertama, selain adik-adik bisa mempraktekkan bahasa Arab yang sudah lebih dahulu dipelajari di pesantren, juga bisa menambah satu bahasa lain yaitu Bahasa Perancis jika memang memiliki kecintaan dalam bahasa," tuturnya dengan lugas.

Ia juga menambahkan bahwa Bahasa adalah signal pertama bagi seseorang itu berilmu pengetahuan yang tinggi dan merupakan salah satu ilmu para Nabi. "Keuntungan yang kedua adalah bisa melihat langsung Sejarah Peradaban Islam yang ada di Tunisia, seperti halnya Jami' Uqbah ibn Nafi', Jami' Az-Zaytunah, jejak sejarah Pakar Sosiolog ternama Ibnu Khaldun dll," ucap Kadafi.

Sedangkan keuntungan yang ketiga yaitu dapat merasakan sistem pendidikan yang sangat baik, muai dari metodologi penulisan, penelitian, dan lingkungan yang mendukung untuk belajar.

Setelah sekian jam pemaparan dari kedua nara sumber diatas maka acara pun dilanjutkan dengan sesi tanya jawab baik dari para peserta dan tamu undangan. Pada akhir acara tersebut, cindera mata diberikan kepada narasumber dan diakhiri dengan foto bersama. (Red, Muammar&Imam/Ed, Amir)

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920