logo ppid

Tokyo, 8 Oktober 2017. Sebelum menuju Amerika Serikat, Sri Mulyani mengunjungi KBRI Tokyo untuk bertegur sapa dengan para WNI di Jepang. Malam itu lobby KBRI Tokyo dipadati warga yang ingin bertemu Menteri Keuangan tersebut.

Menghadiri temu sapa sebenarnya bukanlah agenda utama Sri Mulyani. Di tengah perjalanannya menuju Amerika Serikat, Menteri yang akrab disapa Bu Ani tersebut singgah di Tokyo untuk transit terlebih dahulu. Namun karena ada waktu yang cukup, maka dapat terselenggaralah pertemuan pada hari tersebut. Meski harus melanjutkan penerbangan keesokan paginya, Bu Ani tetap semangat dan antusias menyapa para hadirin.

Sebagai Menteri Keuangan, tidak bosan-bosannya Bu Ani membahas mengenai pajak pada masyarakat. Pajak sendiri diatur dalam pasal 23A UUD 1945 yang berbunyi ”Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang”. Sebagai warga negara, membayar pajak adalah sebuah keniscayaan. Hal ini sejalan dengan pemikiran salah seorang filusuf ternama asal Inggris, Thomas Hobbes. Pada salah satu bukunya, Leviathan yang terbit tahun 1651, Hobbes menjelaskan hubungan antara pemerintah dan rakyatnya. Hubungan ini seperti sebuah kontrak yang bersifat mutualisme. Pemerintah berperan sebagai pelindung dan penyedia, sementara masyarakat harus mendukung pemerintah dengan cara membayar pajak. Uang hasil pajak inilah yang nantinya dikelola pemerintah untuk membangun rumah sakit, menyediakan lapangan kerja, dan lain-lain yang bernilai bagi rakyat. Hal seperti inilah yang disebut kontrak antar pemerintah dan rakyat, dan hal ini berlaku di manapun.

Sayangnya hal ini mungkin belum dipahami semua orang. Sri Mulyani sendiri mengakuinya bahwa penerimaan pajak masih rendah. Warga yang mengikuti progam tax amnesty saja tidak sampai satu juta. Lalu, terdapat sekitar 32-juta warga yang terdaftar sebagai pembayar pajak, namun yang benar-benar membayar pajak dan memiliki SPP tidak lebih dari 12-juta warga. Indonesia sempat dihebohkan juga belum lama ini oleh kabar nasabah asal Indonesia yang mentransfer dana sebesar Rp18,9-triliun ke bank Standard Chartered di Singapura. Demi menghindari hal ini, Bu Ani menyatakan sudah memberlakukan perjanjian perpajakan internasional sehingga aliran dana dalam jumlah tidak masuk akal dapat terlacak.

Sempat disinggung juga tentang hutang Indonesia yang beberapa bulan lalu panas dibahas. Dibandingkan Jepang, hutang Indonesia masih terdapat dalam kategori sehat. Hutang Jepang sendiri memang sudah terlampau besar, yakni sekitar 200% dari GDP (Gross Domestic Product). Sedangkan Indonesia masih berkisar di angka 27% GDP. Jadi, memang Indonesia tidak sedang dalam keadaan darurat hutang. Ini adalah salah satu tugas Kementerian Keuangan untuk mengatur perekonomian Indonesia agar dapat terus berkembang namun juga dengan menjaga kestabilan. Tidak boleh ada pengeluaran atau peminjaman yang berlebihan, uang yang mengalir haruslah efisien dan digunakan semaksimal mungkin.

Pada sesi tanya jawab, salah seorang hadirin menanyakan hal yang menarik untuk dibahas. “Dengan sumber daya yang melimpah, dapatkah Indonesia bergantung padanya dan menghapuskan pajak?” tanya sang hadirin. Sebenarnya bisa saja, namun negara akan terjangkit Dutch Disease jika hal ini dilaksanakan. Dutch Disease merupakan istilah ekonomi yang merujuk pada ketergantungan berlebih suatu negara, biasanya terhadap sumber daya alam, sehingga menyebabkan berkurangnya daya saing negara tersebut. Mengambil contoh dari Norwegia yang kaya akan sumber daya alam, tetapi mereka tetap mematok pajak yang tinggi bagi warganya. Dari pajak yang tinggi ini, Norwegia membangun dirinya menjadi negara yang maju, dan yang paling penting, meningkatkan daya saing manusianya. Indonesia bisa saja menggantungkan diri pada sumber daya alam. Namun jika demikian, manusianya tidak akan bertumbuh secara daya saing dan pada suatu titik, akan runtuh karena kalah bersaing.

“Presiden Jokowi sangat terbuka dengan persaingan karena hal tersebut membawa manfaat,” ujar Sri Mulyani. Di zaman yang telah berubah ini, kita juga harus fleksibel mengikuti perubahan. Salah satunya adalah dengan menempa diri demi menjadi pribadi yang lebih kompeten, karena sekarang adalah eranya persaingan. Jangan lupa juga untuk mengambil pelajaran dari negara seperti Jepang dan negara maju lainnya. Banyak hal yang dapat dipelajari agar suatu hari nanti dapat dibawa pulang dan digunakan demi kepentingan bersama.

Penulis: Theodorus Alvin

Editor: Kartika Restu Susilo

Berita baik datang dari wakil Indonesia di ajang Festival Film Pendek tingkat Pelajar Internasional yang pertama di Nabeul, Tunisia. Hadzari, sebuah film pendek berdurasi 2 menit 44 detik adalah sebuah karya pemikiran audiovisual dari sineas muda, Irhamni Rofiun, yang merupakan pelajar Indonesia yang sedang menyelesaikan studi pascasarjana di Universitas Ezzitouna. Film Hadzari, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Waspada’ berhasil menjadi yang terbaik dalam ajang tersebut, dan satu-satunya film yang diputar ketika malam penganugerahan, Minggu malam (9/7).

Film berbahasa Arab ini tidak hanya melibatkan mahasiswa Indonesia sebagai aktor utama, melainkan mengajak crew dan pemain asing dalam proses penggarapannya. Selain itu, Indonesia juga berhasil memborong banyak penghargaan, di antaranya Best Soundtrack dalam film Silat, Taufik Imron sebagai aktor favorit dalam film Hadzari, dan film Silat sebagai film favorit pilihan hadirin panitia dan peserta.

Penghargaan Film Pendek di Tunisia

Menurut pengakuan Irhamni Rofiun, yang juga menjadi sutradara dalam film Silat tersebut, ketika dirinya tiga kali maju untuk mengambil penghargaan di panggung utama, pemanggilan ketiga pemberian penghargaan sebagai sutradara dalam film Silat, ia sempat tidak percaya dan terharu sekaligus bangga karena nama Indonesia kembali harum. Sebab, menurut penuturannya, film Silat tersebut banyak melibatkan banyak orang dan pendukung, di antaranya tim dan pemain yang tergabung dalam organisasi induk PPI Tunisia, anak-anak dari staf KBRI dan Medco Energi, serta yang paling mendukung penuh adalah KBRI Tunis sebagai sponsor tunggal.

Kompetisi film pendek ini diikuti oleh 600 karya dari 125 negara dari 3 jenis kategori: Fiksi, dokumenter dan animasi. Kebanyakan mereka adalah para pelajar atau mahasiswa yang bergelut dalam dunia sinematografi dan perfilman, bahkan ada yang sudah biasa mengikuti festival film pendek di Cannes, Prancis, Toronto, USA, dll. Hanya 27 karya film pendek dari 20 negara di antaranya: Indonesia, Palestina, Turki, Syria, Aljazair, Jordania, Lebanon, Irak, Mesir, Iran, Malaysia, USA, Prancis, Italia, Spanyol, Jerman, Cina, Thailand, Norwegia dan tuan rumah Tunisia. Dan yang diundang khusus oleh panitia penyelenggara hanya 20 sineas muda dari 20 negara tersebut, mereka ditanggung sepenuhnya mulai dari akomodasi, transportasi, penginapan, makan, dll. Untuk mengikuti acara puncak di Nabeul, Tunisia sejak tanggal 6-9 Juli 2017. Kegiatan tersebut meliputi workshop film; writing scripts, shooting & directing, editing & mixing. Dan itu semua dimentori oleh para seniman dan para pakar dalam dunia sinematografi dan perfilman, serta acara hiburan lainnya.

Pengumuman Pemenang Festival Film Pendek se-Tunisia

Berikut daftar peraih penghargaan terbaik Festival Film Pendek Pelajar Internasional 2017 di Nabeul.

- The prize of the best image: Film Fino, disutradarai oleh: Estephan Khattar, Lebanon.
- The prize of the best soundtrack: Film Silat, disutradarai oleh: Irhamni Rofiun, Indonesia.
- The prize of the best editing: Film Day 79, disutradarai oleh: Wissem Al Jaafari, Palestina.
- The prize of Best Scenario: The End of The Good Days, disutradarai oleh: Bask Mehmet, Turki.
- The prize of Best Male Performance: Memood, Jerman.
- The prize of Best Female Performance: Raya Busslah, Film Red on White, Tunisia.
The prize for the best short film: Film Hadzari (Waspada), disutradarai oleh: Irhamni Rofiun, Indonesia.

Daftar di atas adalah pemenang pilihan dewan juri, adapun pilihan pemirsa (penonton: panitia, peserta) adalah:

- Film Pendek Favorit: Film Silat, disutradarai oleh Irhamni Rofiun, Indonesia.
- Aktor Favorit: Taufik Imron, Film Hadzari (Waspada), disutradarai oleh Irhamni Rofiun, Indonesia.

(Red: PPI Tunisia/ Ed: Amir)

Liputan Madinah - Senin 3 April 2017 pukul 09.00 waktu setempat acara Simposium PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika resmi dibuka dan dimulai.

Sesi seremonial dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qu’ran surat Al-Imron ayat 102-108, yang dilantunkan oleh Abdurrahim Syamsuri, mahasiswa Universitas Islam Madinah. Kemudian setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersamaan dengan khidmat, acara pembukaan ini dilanjutkan dengan kata sambutan ketua panitia Fahmi Aufar Asyraf, mahasiswa Fakultas Psikologi King Saud University-Riyaadh. Dan selanjutnya disusul sambutan Ketua Divisi P2EKA (Pendidikan Politik Ekonomi dan Agama) PPI Dunia mewakili Koordinator PPI Dunia, Rama Rizana mahasiswa pascasarjana King Fahd University of Petroleum and Minerals-Dhahran. Berikutnya adalah keynote speaker yang disampaikan oleh special guest Dekan Fakultas Adab King Saud University, Prof. Dr. Ali Al Mayouf.

Prof. Dr. Ali Al Mayouf berbicara mengenai pengalamannya selama bertahun-tahun menjadi pengajar dan mentor bahasa dan satra Arab. Beliau selama ini juga menjadi konsultan King Abdullah Bin Abdulaziz International Center for The Arabic Language. Dalam tugasnya sebagai konsultan itulah ia berkeliling dunia guna berbagi pengalaman dan mengajarkan bahasa Arab, diantaranya adalah Indonesia. Beliau telah berkelilling di banyak kota di Indonesia, bekerjasama dengan banyak kampus dan universitas, beliau telah menjalani 11 kali kunjungan kerja.

Beliau banyak mengambil manfaat dan faedah dari beragam kunjungan dan persinggungannya dengan bangsa Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa masyarakat Indonesia memiliki sifat-sifat baik yang membuatnya pantas disebut sebagai pembawa risalah Islam. Diantaranya adalah hikmah, merendah, dan dermawan. Sifat-sifat inilah yang membuat masyarakat Indonesia dapat bersatu dan bermasyarakat dengan baik dan beradab.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Arab Saudi dan OKI, Bapak Drs. Agus Maftuh Abegebriel, M.Ag. Beliau banyak menyampaikan tentang aksi beliau selama setahun menjadi Dubes di Riyadh. Diantaranya adalah poros Saunesia (Saudi Arabia – Indonesia) yang digagas oleh beliau sejak awal pelantikannya. Poros ini menjadi semangat baru diplomasi yang diusungnya. Diplomasi yang setara antara dua Negara, dan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Diantara keberhasilan beliau adalah berhasil menyukseskan kunjungan kenegaraan Raja Salman ke Indonesia, setelah untuk terakhir kalinya kunjungan raja Faishal pada tahun 70an di era Presiden Soeharto.

Beliau sebagai representasi pemerintah Indonesia bersama pemerintah Arab Saudi bekerjasama menggaungkan konsep Islam yang Moderat di dunia. Yaitu sebuah konsep islam yang telah diajarkan oleh pemuka dan alim ulama islam sepanjang masa yang lampau. Islam moderat yang toleran dan ramah. Beliau juga mengatakan supaya simposium ini menegaskan kembali semangat Asia-Afrika yang dulunya diinisiasi oleh Indonesia. Mengingat bahwa peserta dan pelaksana simposium ini adalah Perhimpunan Pelajar Indonesia di Negara-negara yang terletak di Asia dan Afrika.

Acara selanjutnya disusul dengan pemukulan gong sebanyak lima kali, oleh Bapak Drs. Agus Maftuh Abegebriel, M.Ag. tanda dimulainya secara resmi kegiatan Simposium Kawasan PPI Timur Tengah dan Afrika 2017.

Diskusi panel pertama dengan judul “Merajut Tenun Kebangsaan di Tengah Kemajemukan” dimulai dengan pemaparan materi oleh Bapak Mochammad Ridwan Kamil, S.T., M.U.D. Beliau menyampaikan bahwa Indonesia sekarang sedang berjalan dalam laju yang positif, menuju harapan Indonesia sebagai Negara terkuat dan termaju ketiga di dunia nanti pada tahun 2045, dan 2030 sebagai Negara ketujuh dunia. Syaratnya, adalah Negara dengan kondisi sosial dan politik yang stabil, yaitu bilamana angka pertumbuhan kita selalu berada di angka 5, dan tidak ada konflik maupun perselisihan yang menyedot energi bangsa untuk mengurusnya.

Beliau banyak menyampaikan statement yang penting dan faktual. Diantaranya adalah, “toleransi bagi saya adalah kita melindungi kaum minoritas, dan juga kaum minoritas memahami kaum mayoritas. Keadilan itu tidak berarti selalu sama, namun proporsional, yaitu memberikan sesuatu sesuai yang dibutuhkannya”. “Baldatun thoyyibatun wa robbun ghoffur itu artinya keseimbangan antara dunia dan akhirat”. “Orang Indonesia itu tidak suka baca dan terlalu suka ngobrol, akibatnya tidak ada tulisan. Akibatnya banyak berita fitnah dan bohong, serta minimnya penjelasan dan literasi ilmiah”. “Tinggikan argumentasinya, bukan tinggikan suaranya”. “Para mahasiswa tolong bantu kami dengan mengembangkan konten positif. Anak muda di Indonesia bisa menghabiskan waktu tiga jam hanya untuk menikmati medsos”. “Kalau kita susah untuk mengedepankan ukhuwah islamiah, maka kedepankanlah ukhuwah wathoniyah, dan jikalau tetap saja susah maka kedepankanlah ukhuwah insaniyah. Bila anda tersesat di hutan, dan bertemu orang untuk meminta pertolongan, anda tentu tak akan bertanya dulu, agamamu apa? Negaramu apa?”. “Kepimimpinan terbaik adalah kepemimpinn dengan keteladanan, dan dakwah terbaik adalah dakwah dengan akhlak”. “Dakwahlah di jalan yang sulit, jangan hanya dakwah di jalan yang mudah”.

Pembicara kedua adalah Bapak Prof. Dr. Mahfud MD. Beliau berbicara tentang cara merajut tenun kebangsaan dan bagaimana cara mengelola kebersamaan. Kita menjaga pluralisme dengan kesatuan hukum yang sah dan berlaku di depan publik. Beliau juga optimis bahwa Indonesia tidak sedang dalam kondisi yang kritis, menurut studi Mc Kensey, Indonesia saat ini adalah Negara ekonomi ke enam belas, dan pada tahun 2030 akan menjadi Negara ekonomi ketujuh. Indonesia sekarang telah tumbuh menjadi lebih baik bila dibanding dulu. Baik secara ekonomi, politik maupun sosial.

Indonesia dapat menjadi Negara pluralis yang berhasil, meski memiliki unsur heterogen yang terbanyak, itu terjadi karena beberapa hal mendasar yang dimilikinya, yang pertama adalah dikarenakan terdorong kemauan dari bawah, dan bukan paksaan dari atas, yang kedua adalah pada saat perjuangan mencapai cita-cita kemerdekaan yang sama, mereka sepakat untuk mengikat itu semua dalam bingkai Pancasila dan Bhinneka tunggal ika, yang ketiga adalah adanya kesepakatan untuk menyelenggarakan sistem demokrasi (kedaulatan rakyat) yang nomokrasi (kedaulatan hukum), dan yang keempat adalah dituangkannya itu semua dalam bentuk UUD 1945, dan dikawal dalam UU Pemerintahan.

Pembicara ketiga adalah Bapak Prof. Dr. Din Syamsudin. beliau menyambung apa yang telah disampaikan oleh pembicara-pembicara sebelumnya, diantaranya pak Mahfud MD. Beliau juga tidak sepakat bila Indonesia disebut kritis disintegrasi dan intoleransi. Bahkan Indonesia secara umum sangatlah bagus. Beliau juga tak mempercayai statistik dan survey yang menunjukkan hal sebaliknya. Bahkan integrasi dan toleransi tersebut sangat didukung oleh faktor Islam. Ketika Islam tidak bersanding dengan kesukuan dan perkotakan lainnya. Para tokoh islam dalam sejarah rela melepaskan tujuh kata yang dipersoalkan dalam piagam Jakarta agar menjadi seperti Pancasila yang kita kenal. Terlebih lagi ajaran hikmah dan rahmat yang diajarkan dalam Islam dan juga telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Ke depannya Indonesia akan tetap menghadapi masalah, terlebih seteah berakhirnya perang dingin, di mana banyak kepentingan-kepentingan yang saling tarik menarik. Di sanalah dibutuhkan kekuatan Negara yang bisa menyatukan segala pandangan dengan baik.

Beliau berpesan, “orang-orang yang ekskuslif hanya akan gagal, oleh karenanya kita menawarkan inklusifme”. “Pancasila adalah dasar Negara yang telah final”. “Kita membutuhkan dialog dan ngobrol, bukan dialektika yang intinya adalah pokoknya. Namun Negara haruslah hadir sebagai penengah dan pemutus”. “Umat islam Indonesia haruslah mengedepankan praksisme keagamaan bukan justru populisme keagamaan”. Dan beliau menutup seminarnya dengan ucapan, “Ringkasnya, rajutan ini haruslah didialogkan”.

Sesi panel kedua yang berjudul “Wawasan Politik Hukum Indonesia dan Kerangka Diplomasi dengan negara-negara Timur Tengah”, diawali dengan ceramah Bapak Masykuri Abdillah dengan membawakan tema “Islam Dalam Konteks Negara Demokrasi”. Beliau berbicara dengan menitikberatkan pada hubungan antara agama dan Negara. Sebuah persoalan yang mencakup Negara-negara timur tengah dan Indonesia sekaligus sebagai Negara muslim yang menganut faham demokrasi.

Konsep kontra sekulerisme pada dasarnya bukan hanya dianut oleh negara-negara muslim saja. Bahkan beberapa negara Barat secara eksplisit memasukkan agama dalam Negara, seperti Negara-negara Balkan. Norwegia, adapun beberapa Negara yang tidak memasukkan agama dalam konstitusi ataupun pemerintahan, mereka juga masih mengurusi agama, seperti adanya partai politik yang berbasis agama dan menggunakan isu-isu agama, pajak gereja, pendidikan agama dalam sekolah yang dibiayai oleh pemerintah, dan sebagainya. Bahkan tidak ada sama sekali Negara barat yang murni sekuler selain Prancis. Sebagaimana juga tidak ada Negara muslim yang murni sebagai sekuler selain Turki.

Oleh karenanya, tidak bisa mengharuskan Indonesia menjadi negara sekuler murni. Memang dia tidak mencampur adukkan agama dengan Negara, namun dia tetap mengurusi agama dalam tatanan Negara pemerintahan.

Berbicara mengenai demokrasi di Negara muslim, hanya Indonesia dan Tunisia yang benar-benar demokratis. Dan itu ditandai dengan adanya al-hiwar al-wathoni atau dialog nasional ketika terjadi perselisihan maupun konflik antar golongan. Bahkan turki sekalipun saat ini tidak bisa disebut sebagai negara demokratis, semenjak pertama kalinya kudeta militer, dan terus bertambah parah hingga saat ini di era Erdogan.

Indonesia adalah contoh negara demokrasi yang terbaik, terutama dalam bilangan-bilangan negara islam. Indonesia tidak pernah memiliki kristophobia sebagaimana yang terjadi di negara-negara barat dengan islamphobia-nya. Indonesia juga tidak pernah ada penghinaan maupun kezaliman dari pemeluk agama mayoritas kepada agama lainnya. Yang ada hanya kejadian-kejadian lokal yang menyangkut oknum bukan komunitas secara menyeluruh.

Problemnya adalah Indonesia sudah terlanjur dicap memiliki kesan yang buruk dalam mengelola demokratisme dan kebebasan beragama dan pemikiran. Konflik-konflik kecil ini haruslah dijaga dengan baik, karena hal seperti ini selalu menjadi konsumsi opini dan publik di Negara-negara asing, yang berakibat adanya distorsi tentang toleransi secara keseluruhan dalam ranah implementatifnya di Indonesia.

Diantara solusi yang beliau sampaikan adalah menyebarkan Indonesia yang Islam rahmatan lil ‘alamin ke dunia luar. Beliau juga menyampaikan gagasannya, “LPDP hendaknya memberikan juga beasiswa ke mahasiswa asing, agar mereka juga bisa menjadi juru bicara bagi Indonesia dan islam yang rahmatan lil ‘alamin di negeri mereka”. Beliau juga berpesan kepada para delegasi terkait solusi ini, “para mahasiswa juga bisa menjadi diplomat bagi Indonesia di negeri tempat ia menetap, diplomasi people to people”.

Selanjutnya pembicara kedua dan terakhir adalah Bapak Drs. Hery Saripudin, M.A., Konjen RI di Jeddah-Saudi Arabia. Beliau membahas tentang “Kerangka Diplomasi dengan Negara-Negara Timur Tengah”. Kerangka diplomasi Indonesia adalah bagaimana meperjuangkan kepentingan Indonesia di luar negeri. Selain offisial diplomat terdapat juga diplomat non formal.

Berbicara tentang diplomasi luar negeri haruslah merujuk kepada Pancasila ataupun UUD 1945, dan itu tertuang jelas dalam alinea keempat UUD 1945. Berupa perlindungan dan kedaulatan, kesejahteraan, kemajuan, dan peran internasional. Semua era pemerintahan indonseia selalu berkisar seputar hal-hal ini, hanya saja karena diplomasi luar negeri itu dalam tataran praktis bersifat luwes dan fleksibel sehingga berbeda-beda formulanya.

Presiden jokowi sebagai contoh menitikberatkan pada perlindungan kedaulatan NKRI, perlindungan WNI di Negara asing, promosi wisata indonesia, dan penunjukan peran Indonesia di kancah dunia. Itu semua tidak lepas dari kerangka yang telah digariskan dalam UUD 1945 tersebut.

Kerangka diplomasi Indonesia untuk Negara-negara timur tengah berasas pada; peaceful, phosperous, democratic, bebas senjata nuklir dan pemusnah massal, serta dukungan perjuangan Palestina.

Terkhusus untuk kerangka diplomasi indomesia untuk Arab Saudi. Beliau menegaskan asas equality, hal ini tampak berhasil ketika Raja Salman melakukan kunjungannya ke Indonesia beberapa waktu lalu, setelah sebelumnya Indonesia cenderung memiliki stigma di mata masyarakat Arab Saudi sebagai pihak yang membutuhkan pekerjaan non formal atau tanpa skil, dan juga sebagai pihak yang butuh untuk bepergian menunaikan ibadah di tanah suci, tak lebih dari itu.

Beliau juga menyinggung tentang peran pelajar dan mahasiswa Indonesia di timur tengah dan afrika utara (MENA / Middle East and North Africa). Bahwa mereka semua memiliki modal diplomasi berupa; kemampuan berbahasa arab, pemahaman budaya dan adat istiadat, jaringan dan relasi selama studi, penguasaan ilmu pengetahuan dan kapabilitas keilmuan.

Adapun mahasiswa Haromain alias Dua Tanah Suci; Madinah dan Mekkah, mereka punya satu keunggulan yang tidak terdapat di tempat lain, yaitu nila-nilai spritual. Yang mana nantinya pada tahun 2045, mereka semua akan menjadi agen perubahan, dan diharapkan membawa Negara kearah yang lebih baik, termasuk dalam kebijakan dan politik luar negeri. Mereka dapat mengingatkan kesalahan-kesalahan moral, hukum dan spiritual yang mungkin terjadi dari unsur bangsa lainnya. Terakhir beliau berpesan kepada seluruh delegasi peserta simposium, “You are the agent of change”. (Red: Izzy, Ed: Adam)

Galeri Foto: (Sumber sie. Media Simposium Kawasan PPI Timtengka Madinah 2017)

 



Nordic Baltic Indonesian Scholar Conference (NBISC) adalah acara konferensi tahunan yang digelar oleh Perhimpunan/Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) yang berada di wilayah Nordik dan Baltik yaitu PPI Finlandia, PPI Denmark, PPI Swedia, PPI Norwegia dan PPI Estonia. Konferensi yang akan dilaksanakan untuk ketiga kalinya ini akan diadakan di Helsinki selama dua hari, yaitu pada tanggal 12 dan 13 November 2016 (Sabtu dan Minggu). Secara umum, konferensi ini bertujuan sebagai ajang bertemu dan berdiskusi antar para akademisi, peneliti, dan pelajar Indonesia yang berada di wilayah Nordik dan Baltik.

Sejarah:
NBISC pertama dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober 2014 di Copenhagen oleh PPI Denmark dan diresmikan oleh Bapak Bomer Pasaribu, Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Denmark dan Lithuania pada masa tersebut. Secara resmi PPI Nordik Baltik terbentuk pada NBISC pertama ini.

Pada tanggal 5 Desember 2015, Nordic Baltic Indonesia Scholar Conference (NBISC) kedua digelar. Acara dibuka oleh duta besar republik Indonesia untuk Swedia, Bapak Dewa Made Juniarta Sastrawan.

Tujuan: Tujuan utama diadakannya NBISC adalah untuk memetakan sumber daya diaspora Indonesia khususnya para pelajar, akademisi, peneliti, dan profesional yang berdomisili di wilayah Nordik dan Baltik. Kegiatan ini juga menjadi ajang untuk bertemu, bersosialisasi, dan berdiskusi antar pelajar, akademisi, peneliti, dan profesional dari wilayah Nordik dan Baltik, sehingga mereka dapat bertukar pikiran dan memberikan saran untuk pembangunan Indonesia.
Sisi positif lain dari interaksi tersebut adalah memunculkan kerjasama dan memperkuat ikatan keilmuan antara akademisi Indonesia di wilayah Nordik dan Baltik yang topik penelitiannya berkaitan.

Tanggal dan Tempat:
12-13 November 2016

KBRI Helsinki

Kuusisaarentie 3 00340 Helsinki Finlandia

 

 

Untuk informasi lebih lanjut mengenai event ini, silahkan klik link di bawah ini

http://nbisc.com

Liputan Italia, Cosenza, 11 Mei 2016 – Indonesia patut berbangga karna putra putri terbaiknya mampu bersaing dalam kompetisi musik Filadelfia tahun ini. Indonesia diwakili oleh 6 mahasiswa yang keseluruhannya berpartisipasi dalam kategori gitar klasik.

Mereka adalah Roby Handoyo, Adi Suprayogi, Vaizal Andrians, dan Gita Puspita Asri, tergabung dalam kelompok gitar kuartet “Nocturnal”, sedangkan kelompok berikutnya, “Duo Poeticos”, terdiri dari dua mahasiswa Indonesia lain, yakni Birul Walidaini dan Bagus Mardian, yang saat ini sedang menyelesaikan studinya di Università della Calabria (UNICAL) Italia.

Dari keenam partisipan yang ikut serta dalam kompetisi yang diikuti oleh 27 negara ini, Indonesia berhasil menguasai perlombaan di kelas Chamber Music kategori D dengan membawa dua prestasi membanggakan. Juara pertama kategori ini diraih tim guitar kuartet “Nocturnal" asal Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), sedangkan peringkat ketiga, di kategori yang sama, juga berhasil diperoleh duet “Due Poeticos”. Tambahan pencapaian tim Indonesia juga disempurnakan oleh Roby Handoyo yang turun di kelas Classical Guitar kategori Solo, dengan menyabet peringkat kedua di kategori tersebut.

CALABRIA 4

Septian Hadi, selaku perwakilan delegasi, mengaku sangat puas dengan pencapaian tim Indonesia secara keseluruhan. “Dengan kondisi bahwa seluruh anggota tim hanya terdiri dari mahasiswa, dan fasilitas serta instrumen peserta dari negara lain yang jauh lebih mumpuni, prestasi delegasi tahun ini kami dapat katakan melebihi harapan. Apresiasi atas keikutsertaan dan prestasi tim Indonesia datang dari pengunjung serta para peserta lainnya. Sebagai satu – satunya tim dari Asia Tenggara, Indonesia telah menunjukkan kepiawaian dan potensinya di kancah musik klasik mancanegara,” terang koordinator hubungan eksternal & internasional Perhimpunan Pelajar Indonesia di Calabria (PPI Calabria), tersebut.

Concorso Musicale Europeo tahun ini merupakan kompetisi kali kedelapan yang diselenggarakan oleh Associazione Musicale Melody bekerja sama pemerintah Città di Filadelfia. Selain Indonesia dan Italia sebagai tuan rumah, delegasi dari Meksiko, Finlandia, Polandia, Rusia, Amerika Serikat, Serbia, Bosnia, Lituania, Latvia, Spanyol. Belanda, Prancis, Jerman, Swiss, Belgia, Jepang, Korea Selatan, Republik Rakyat Tiongkok, Ukraina, Belarusia, Yunani, Norwegia, Estonia, Kroasia, dan Slovakia juga turut ikut berpartisipasi dalam kejuaraan ini.

CALABRIA 6

Keikutsertaan Indonesia di kompetisi musik dunia selanjutnya diharapkan akan semakin serius dengan persiapan yang lebih matang. Berikut penjelasan salah seorang peserta dalam format tanya-jawab yang telah kami rangkum beserta hasil lengkap dari keikutsertaan tim Indonesia dalam Concorso Musicale Europeo 2016 :

Bagaimana kamu bisa mengikuti perlombaan ini?

Pada dasarnya kami sudah mengikuti kompetisi ini pada tahun 2013 bersama Quartet Guitar “Sforzando,” dan meraih juara yang sama yaitu juara 3 kategori Chamber Musica “Stanislao Giacomantonio” di Cosenza, Italia

Sebagai pelajar Indonesia di Italia bisa menang pertandingan internasional seperti ini bagaimana perasaan kamu?

Kami senang sekali, di sela-sela padatnya jadwal perkuliahan, kami bisa menyempatkan waktu untuk berlatih bersama. Pada hari pelaksanaan kompetisi dengan persiapan yang ada, kami dapat menyelesaikan dan mendapatkan juara 3 kategori D Chamber Music, sesuatu hal yang menurut kami "di luar ekspektasi" mengingat peserta dari berbagai negara memiliki kapasitas yang luar biasa. Kami menyambut Ini adalah "hadiah" dari jerih payah kami, karena tidak ada kata-kata yang bisa mewakili seberapa besar rasa puas dan kegembiraan kita saat itu.

Apa rencana kamu selanjutnya setelah kemenangan ini?

Kami akan tetap berlatih untuk lebih mematangkan materi dan repertoar kami, untuk lebih baik kedepannya.

Di Indonesia asal dari mana dan sudah berapa lama belajar musik di Italia? Beasiswa atau biaya sendiri? Di kampus mana?

Saat ini kami mengambil dua gelar master pada 2 institusi, yaitu :

Birul Walidaini, asal Kediri Jawa Timur. Mahasiswa tahun kedua magistrale di Universita della Calabria jurusan "History of Art" (beasiswa), selain itu juga tercatat sebagai mahasiswa tahun kedua magistrale di conservatorio di musica "Stanislao Giacomantonio" di Cosenza, Italia Jurusan Classical guitar performance (non beasiswa).

Mardian Bagus Prakosa, asal Temanggung Jawa Tengah. Mahasiswa tahun pertama magistrale di Universita della Calabria jurusan "History of Art" (Beasiswa), selain itu juga tercatat sebagai mahasiswa tahun pertama magistrale di conservatorio di musica "Stanislao Giacomantonio" di Cosenza, Italia Jurusan Classical guitar performance (non beasiswa).

Pertanyaan Panitia

1. Dari mana ide pertandingan ini muncul? apakah sudah sering di Italia membuat event pertandingan musik internasional?

Kompetisi ini adalah kali ketujuh yang rutin diadakan setiap tahun dengan dukungan dari komisi eropa. Sebagai parameter perkembangan musik klasik di dunia.

2. Ada berapa peserta yang ikut dan background peserta apakah ada yg non mahasiswa?

Tahun ini tercatat 26 negara. Tidak hanya mahasiswa musik, Melainkan juga dosen dan profesor musik.

3. Bagaimana pandangan anda tentang pelajar Indonesia di Italia khususnya palajar musik?

Luar biasa, kami kagum orang asia bisa membawakan musik eropa dengan baik dan maksimal.

CALABRIA

Hasil lengkap dari keikutsertaan tim Indonesia dalam Concorso Musicale Europeo 2016:

1. Nocturnal Guitar Quartet (UNY) - Roby Handoyo, Adi Suprayogi, Vaizal Andrians, dan Gita Puspita Asri: Juara 1 kelas Chamber Music kategori D.

2. Due Poeticos (UNICAL) – Birul Walidaini dan Bagus Mardian: Peringkat 3 kelas Chamber Music kategori D.

3. Roby Handoyo (UNY) – Peringkat 2 kelas Classical Guitar kategori Solo. (Red. IMA, Editor. Dafi)

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920