logo ppid

“Anti kekerasan tidak sesederhana lawan kata dari kekerasan. Anti kekerasan memiliki makna lebih, yaitu bagaimana cara agar semua manusia hidup dalam kedamaian, menghindari konflik, atau mampu mengatasi konflik tanpa melakukan sesuatu yang dapat membahayakan maupun merugikan orang lain,” sebuah ujaran serentak disuarakan dari dua mahasiswa Indonesia dalam tema diskusi International Day of Non-violence bersama RRI Voice of Indonesia pada hari Senin (03/10/16) pukul 10.30 dan 11.30 WIB.

Hari International Day of Non-Violence ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 2007 untuk diperingati setiap tanggal 2 Oktober. Berbicara tentang sejarah singkat, hari International Day of Non-Violence sebenarnya diambil dari hari ulang tahun Mahatma Gandhi yang telah secara sukses mengantarkan India menuju hari kemerdekaannya dengan menjunjung tinggi nilai damai, toleransi, dan anti kekerasan.

Shirin Ebadi, wanita asal Iran yang juga sebagai aktivis HAM, mengajukan agar diperingatinya hari anti kekerasan. Respon ini menarik perhatian dari Partai Kongres di India (Ahimsa) dan menginspirasi PBB untuk menetapkan hari International Day of Non-Violence pada tanggal 2 Oktober. Tujuan dari peringatan hari tersebut adalah sebagai pengingat yang sangat penting dalam anti kekerasan terutama dalam bidang politik dengan tidak melupakan aspek kehidupan lainnya.

Dalam siaran Youth Forum bersama RRI Voice of Indonesia, Citra Aryanti berkata , “Budaya anti kekerasan bukan hanya untuk menciptakan dunia yang bebas perang, tetapi memiliki makna lebih komprehensif seperti menumbuhkan rasa kemanusiaan, kebersamaan, dan menghormati martabat sesama manusia. Dengan hal ini, dunia tanpa kekerasan akan membuat makna baru bagi kehidupan seluruh manusia.”

“Seluruh masyarakat harus paham bahwa kehidupan manusia tidak dibagi menjadi politik, sosial, agama, tetapi semua aspek itu harus dipandang secara komprehensif untuk menumbuhkan semangat saling menghormati satu sama lain. Kata ‘terima kasih’ adalah esensi dasar untuk menumbuhkan nilai-nilai anti kekerasan lainnya,” lanjut mahasiswi yang sedang mempersiapkan ujian penyetaraan kedokteran di Amerika Serikat tersebut.

Citra menambahkan, ”Untuk mencapai skala global dari anti kekerasan, nilai-nilai anti kekerasan harus mulai diterapkan dari diri sendiri. Seseorang dapat mencapai nilai tersebut dengan beberapa hal, misal, lebih banyak mendengar daripada berbicara, membudayakan minta maaf dan memaafkan, dan kontrol emosi yang baik dengan menghindari ekspresi kemarahan. Selain itu, saya senang tema hari anti kekerasan tahun ini yang menempatkan fokus pada lingkungan di mana manusia harus memperlakukan lingkungan sebagaimana mestinya.”

Masih bersama RRI Voice of Indonesia dengan program siaran lain bertajuk KaMU, Adam Dwi Baskoru pun ikut ambil bicara soal hari International Day of Non-Violence ini. “Dalam Agama Islam, diajarkan untuk sebisa mungkin menghindari kekerasan. Konflik adalah sumber dari perilaku kekerasan. Bila ada suatu masalah, janganlah menggunakan emosi untuk menyelesaikannya. Cobalah untuk mengatasi konflik dengan kepala dingin atau tanpa tindak kekerasan,” terangnya. Perilaku anti kekerasan pemuda tidak hanya diaplikasikan dalam hari ini saja, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mahasiswa yang sedang menggeluti bidang Islamic Law di Universitas Al-Azhar Mesir itu menyerukan bahwa, “Mahatma Gandhi berhasil menyatukan masyarakat India dengan tanpa kekerasan. Ia bahkan tidak pernah marah saat dicela orang lain. Pemuda harus meniru apa yang telah dilakukan oleh Mahatma Gandhi, bisa juga dengan mencurahkan dalam bentuk tulisan atau media lainnya. Dengan ini, pemuda dapat menjadi tulang punggung suatu negara maupun dunia dalam menciptakan suasana anti kekerasan.“

Kedua narasumber diatas memiliki pandangan yang sama bahwa kekerasan bersumber dari konflik. Konflik dapat menjadi suatu perilaku yang membuat seseorang acting out dalam bentuk ekspresi kemarahan atau lebih ekstrimnya lagi melakukan tindak kekerasan fisik. Kondisi ini dapat mempengaruhi bahkan sampai skala global. Edukasi dapat menjadi kiat untuk kontrol diri, manajemen konflik dalam ruang lingkup anti kekerasan.

Menuju Indonesia yang lebih damai dan tanpa kekerasan secara berkelanjutan, sudah barang tentu menjadi harapan seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali oleh Adam dan Citra. Indonesia dapat menciptakan lebih banyak wadah bagi aktivis non kekerasan dalam satu hati, dan satu hari pada satu waktu dalam visi dan misi sama dalam menciptakan budaya anti kekerasan. Selain itu, program kesehatan hendaknya tidak hanya terfokus pada satu aspek seperti perawatan penyakit, tetapi perlu memperhatikan aspek psikologis karena aspek itulah yang mendalangi semua perilaku baik kekerasan maupun anti kekerasan. Kemudian, ciptakan perang terhadap narkoba karena ini menjadi suatu ketidakamanan yang sudah mengglobal.

“Sosial media dapat dijadikan wadah gerakan sosial dan revolusi di seluruh dunia. Banyak aktivis yang memanfaatkan media sosial untuk merangkul aktivis lain dalam tujuan meningkatkan pesan anti kekerasan dalam isu-isu kontroversial yang kemudian tidak disangka dapat mempengaruhi politik dan kehidupan sosial,” terang kedua mahasiswa tersebut mengakhiri sesi diskusi dengan RRI Voice of Indonesia. (Red CA, Ed AASN)

 

2 Oktober adalah hari peringatan internasional dari gerakan non-kekerasan atau yang akrab dengan sebutan "International Day of Non Violence". Peringatan hari ini dinisbatkan kepada hari lahir Mahatma Gandhi, pemimpin gerakan kemerdekaan India dengan mempelopori filsafat dan strategi non-kekerasan.

Peringatan hari ini memberikan kesempatan untuk menyebarkan pesan non-kekerasan, termasuk melalui pendidikan dan kesadaran kepada masyarakat. Resolusi itu menegaskan kembali "prinsip non-kekerasan universal" untuk mengamalkan budaya damai dan saling toleransi.

Kali ini PPI Dunia bersama dengan RRI Voice of Indonesia menjadi lidah untuk menyampaikan berita dan pesan hangat tersebut. Media Wahyusi Askar dari PPI UK dan Adam Dwi Baskoro dari PPMI Mesir siap menemani anda dalam siaran kali ini. So, focus and stay tuned!

img-20160927-wa0010

Liputan Jakarta, Perwakilan PPI Dunia ikut berkontribusi dalam sebuah konferensi kebijakan internasional berjudul "Conference on Indonesian Foreign Policy 2016: Finding Indonesia's Place in The Brave New World", pada Sabtu lalu (17/9). Acara yang bertempat di The Kasablanka Hall, lantai 3 Mal Kota Kasablanka, Tebet, Jakarta Selatan ini diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) besutan Dr. Dino Patti Djalal, Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Ke-5.

"Saya berharap, setelah mengikuti CIFP 2016, semoga kita semakin sadar bahwa bangsa Indonesia akan semakin maju dan kuat jika kita terus menjaga sikap nasionalisme yang disertai pula dengan semangat internasionalisme," ungkap Dino Patti Djalal dalam sambutannya.

Konferensi ini membahas pengaruh globalisasi terhadap dinamika perkembangan dan percepatan interaksi negara-negara di dunia sehingga berimplikasi terhadap persaingan internasional. Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB ini berisikan 20 sesi paralel dalam ruangan yang berbeda dengan menghadirkan 70 pembicara ternama baik dari dalam maupun luar negeri. Sesi yang digelar membahas kebijakan luar negeri Indonesia dalam berbagai aspek: geopolitik, maritim, perdagangan, keamanan, diaspora, pendidikan, teknologi, dan lain-lain.

Pembicara pada sesi "Connecting Indonesia's Development Needs with Global Resources". Diantaranya, Koordinator PPI Dunia Intan Irani (bangku kedua dari kiri). Sumber: Adam Dwi Baskoro

Di antara pembicaranya adalah Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden Republik Indonesia ke-6), Xanana Gusmao (Presiden Timor Leste), Jend. (Purn.) Luhut Binsar Panjaitan (Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI ke-5), Ir. Airlangga Hartanto (Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia 2005-2014), dan Rudiantara (Menteri Komunikasi dan Informatika). Prof. H. Nasarudin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal juga turut menjadi pembicara dalam pembahasan keagamaan. Sedangkan dalam sektor usaha yang duduk menjadi pembicara diantaranya adalah Sandiaga Uno, Shunamek (Garuda Food), Erik Meijer (Telkom/Telstra), Wishnutama (Net Mediatama), Noni Purnomo (Blue Bird Group), Nadiem Makarim (Gojek Indonesia). Para diplomat dari USA, EU, Korea Selatan, Polandia, Hungaria, RRC, dan Australia juga dilibatkan untuk menyampaikan materi politik dan hubungan internasional.

Intan Irani, Koordinator Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia menjadi salah satu pembicara pada sesi yang bertemakan "Connecting Indonesia's Development Needs with Global Resources: The World of FDI, Creative economy, Education, Technology, and Innovation". Sesi ini membahas perlunya koneksi antara pengembangan ekonomi, pendidikan, teknologi, dan inovasi Indonesia lewat globalisasi.

Ia mengungkapkan bahwa PPI Dunia merupakan sebuah perhimpunan yang menaungi 51 PPI Negara dengan visi untuk meningkatkan kualitas dan potensi diri yang berguna seutuhnya bagi Indonesia. PPI Dunia bergerak dalam tiga bidang utama: pertama, Creative Economy dengan meningkatkan human capital sebagai aset bangsa; kedua, Tourism yang mendidik duta bangsa agar bangga untuk mempromosikan dan memperkenalkan seni dan budaya Indonesia kepada dunia internasional; ketiga, Innovation and Technology yang bergerak di era informasi digital berupa online meeting, web based-seminar, dan e-education. "PPI Dunia melibatkan seluruh basis edukasi pelajar Indonesia yang tersebar di tiap negara," tegas Intan.

Perwakilan PPI Dunia yang hadir dalam kenferensi tersebut adalah koordinator PPI Dunia Intan Irani dari PPI Italia, anggota Biro Pers Adam Dwi Baskoro dari PPMI Mesir, dan alumni Permira Rusia, Subahagia Rendy. (AD/AA)

 

Galeri Kegiatan:

Presiden Republik Indonesia ke-5 Susilo Bambang Yudhoyono menjadi pembicara saat penutupan kegiatan konferensi.

Presiden Republik Indonesia ke-5 Susilo Bambang Yudhoyono menjadi pembicara saat penutupan kegiatan konferensi.

Koordinator PPI Dunia Intan Irani bersama pembicara konferensi.

Koordinator PPI Dunia Intan Irani bersama pembicara konferensi lainnya.

Perwakilan PPI Dunia yang menghadiri Konferensi Kebijakan Luar Negeri Indonesia 2016

Perwakilan PPI Dunia yang menghadiri Konferensi Kebijakan Luar Negeri Indonesia 2016.

Peserta Konferensi.

Peserta Konferensi saat pembukaan kegiatan.

Peserta konferensi pada sesi "Connecting Indonesia's Development Needs with Global Resources", salah satu pembicaranya adalah Intan Irani, Koordinator PPI Dunia.

Peserta konferensi pada sesi "Connecting Indonesia's Development Needs with Global Resources", salah satu pembicaranya adalah Intan Irani, Koordinator PPI Dunia.

Sumber gambar: Adam Dwi Baskoro

Liputan Bogor, Ini merupakan kali ke dua PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika menyelenggarakan kegiatan orientasi Perguruan Tinggi di pesantren yang ada di Indonesia. Orientasi perdana yang mengusung tema "Orientasi Perguruan Tinggi Arab Saudi, Tunisia dan Timur Tengah" ini diselenggarakan di Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining, 9 Dzulhijjah 1437 H/10 September 2016.

Acara dimulai dengan pembukaan dan sambutan oleh Kepala Biro Sumber Daya Manusia Pesantren Darunnajah 2 Cipining, Al-Ustadz Mustafa Zahir, Lc, yang kemudian dilanjutkan dengan pemaparan tentang tema diatas oleh kedua narasumber yang telah diundang yaitu Muammar Kadafi, Lc, PPI Tunisia dan Imam Khairul Annas, PPMI Arab Saudi. Peserta dan para tamu undangan dalam acara ini adalah santriwan dan santriwati kelas 4, 5, 6 TMI (kelas 10, 11, 12) beserta guru pengabdian tahun pertama dan tahun kedua, dengan jumlah keseluruhan peserta orientasi mencapai 700 orang.

 

Pemberian materi

Pemberian materi

Pada kesempatan tersebut, ketua umum PPMI Arab Saudi 2015/2016, Imam Khairul Annas bertindak sebagai narasumber pertama mempresentasikan tentang perkuliahan di Arab Saudi dan sistem perkuliahan di beberapa negara yang ada di kawasan Timur Tengah dan Afrika.

"PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika ini sendiri terdiri dari 14 PPI Negara yaitu PPMI Pakistan, IPI Iran, PPI Uni Emirat Arab, PPMI Arab Saudi, PPI Yaman, HPMI Yordania, PPI Lebanon, PPI Damaskus, PPMI Mesir, PPI Sudan, KKMI Libya, PPI Tunisia, PPI Maroko dan PPI Afrika Selatan. Masing-masing PPI memberikan informasi tentang sistem perkuliahan, beasiswa yang tersedia, dan kegiatan mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam PPI melalui website dan media sosialnya masing-masing" papar Imam.

"Sedangkan beberapa keuntungan melanjutkan studi di Arab Saudi sendiri adalah tersedianya beasiswa penuh bagi beberapa mahasiswa asing dan lokal, situasi yang aman dan kondusif serta kesempatan untuk menunaikan ibadah haji dan umrah", ujar Imam yang saat ini sedang melanjutkan studinya di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi.

Selain itu Imam yang telah menyelesaikan tugasnya sebagai Koordinator PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika pada Juli lalu juga menambahkan bahwasannya belajar di kawasan Timur Tengah dan Afrika memiliki tradisi yang unik di masing-masing negara. Sebagai contoh adalah Pakistan yang terkenal akan Bahasa Urdunya yang kental. Sehingga jika mahasiswa asing belajar di Pakistan maka mereka juga diharuskan belajar Bahasa Urdu selain Bahasa Inggris.

Peserta Seminar

Peserta Seminar

Selanjutnya seminar kedua dilanjutkan oleh Muammar Kadafi, Lc, Ketua PPI Tunisia 2015/2016. Muammar menjelaskan tentang tiga point penting ketika belajar di Tunisia, yaitu Cara, Tantangan, dan Keuntungan. Cara mendaftar menjadi mahasiswa baru di Tunisia sendiri tidak jauh berbeda dengan negara-negara lain pada umumnya. Di Tunisia sendiri juga memiliki standard nilai minimum yang harus dipenuhi oleh masing-masing calon mahasiswa beserta beberapa dokumen penting yang harus dilengkapi untuk dapat diproses di bagian admission.

"Seperti halnya mendaftarkan ke universitas pada umumnya berkas yang dibutuhkan juga tidak jauh berbeda, dan adik-adik bisa langsung membaca panduan studi di Tunisia yang sudah tersedia dalam website kami www.ppitunisia.org," ungkapnya mengawali point pertama.

Berlanjut ke point kedua, Muammar menjelaskan tentang beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh mahasiswa asing di Tunisia serta solusi menghadapinya. Disesi ini, banyak sekali hal-hal teknis yang tidak terdapat dalam buku panduan kuliah di Luar Negeri. Sehingga sesi ini merupakan sesi yang paling penting kaitannya dengan tantangan dan rintangan selama belajar di negeri orang.

Kemudian point ketiga, Muammar juga menjelaskan tentang beberapa keuntungan kuliah di Tunisia. Salah satunya adalah bahasa. "Bahasa adalah keuntungan yang pertama, selain adik-adik bisa mempraktekkan bahasa Arab yang sudah lebih dahulu dipelajari di pesantren, juga bisa menambah satu bahasa lain yaitu Bahasa Perancis jika memang memiliki kecintaan dalam bahasa," tuturnya dengan lugas.

Ia juga menambahkan bahwa Bahasa adalah signal pertama bagi seseorang itu berilmu pengetahuan yang tinggi dan merupakan salah satu ilmu para Nabi. "Keuntungan yang kedua adalah bisa melihat langsung Sejarah Peradaban Islam yang ada di Tunisia, seperti halnya Jami' Uqbah ibn Nafi', Jami' Az-Zaytunah, jejak sejarah Pakar Sosiolog ternama Ibnu Khaldun dll," ucap Kadafi.

Sedangkan keuntungan yang ketiga yaitu dapat merasakan sistem pendidikan yang sangat baik, muai dari metodologi penulisan, penelitian, dan lingkungan yang mendukung untuk belajar.

Setelah sekian jam pemaparan dari kedua nara sumber diatas maka acara pun dilanjutkan dengan sesi tanya jawab baik dari para peserta dan tamu undangan. Pada akhir acara tersebut, cindera mata diberikan kepada narasumber dan diakhiri dengan foto bersama. (Red, Muammar&Imam/Ed, Amir)

Liputan Jakarta, Perwakilan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) berpartisipasi dalam Diplomatic Forum: The Role of Media in Creating Peaceful World (Peran Media Menciptakan Dunia yang Damai) yang diadakan oleh Radio Republic Indonesia (RRI) World Service of Indonesia pada tanggal 7 September 2016. Acara yang membahas isu internasional tersebut bertempat di salah satu ruangan gedung RRI Jakarta, yaitu di Auditorium Yusuf Ronodipuro LPP RRI.

Perwakilan PPI Dunia yang turut hadir adalah Intan Irani Puspita Santi yang merupakan koordinator PPI Dunia. Selain itu juga hadir perwakilan mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri yaitu Muammar Kadafi dari Tunisia, Adam Dwi Baskoro dari Mesir, dan Imam Khairul Annas dari Saudi Arabia.

Talk Show berbahasa Inggris ini membahas mengenai banyaknya konflik di luar maupun dalam negeri dan melibatkan kalangan diplomat, pemerintah, lembaga masyarakat serta berbagai kalangan terkait. Berdasarkan laporan Indeks Perdamaian Dunia 2016, diketahui bahwa perdamaian dunia memburuk selama satu dekade belakangan. Penyebab utamanya ialah meningkatnya terorisme dan tingkat ketidakstabilan politik yang tinggi.

20160906_125714RRI World Service of Indonesia selaku lembaga penyiaran publik mengangkat tema bahwa peran media sangat penting dalam menciptakan perdamaian dunia. Kepala Stasiun Siaran Luar Negeri LPP RRI Eddy Sukmana menjelaskan bahwa menyuarakan perdamaian ke seluruh pelosok dunia merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan media penyiaran untuk menekan terjadinya konflik. “Media penyiaran juga bertanggung jawab untuk menjadi jembatan penengah dan mengakhiri konflik terjadi,” jelas Eddy Sukmana.

Acara yang berlangsung dari jam 11.00-13.30 WIB ini dihadir oleh pembicara dari berbagai kalangan khususnya diplomat dan penyiaran. Diantaranya Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin, Pemred Harian Republika Irfan Junaidi, Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia Mayong Suryo Laksono, Ketua Federasi Jurnalis ASEAN Bob Iskandar.

Setelah acara selesai, perwakilan PPI Dunia melakukan pertemuan dengan pihak RRI. Selama ini PPI Dunia memiliki kerjasama dengan RRI di bidang siaran, yaitu siaran Youth Forum oleh RRI Voice of Indonesia dan siaran Kampung Halaman oleh RRI Pro3. Pertemuan kali ini membahas mengenai tema, teknis siaran, komunikasi, serta publikasi. "Kami harap RRI dapat menjadi wadah bagi PPI Dunia untuk memublikasikan kegiatan serta prestasi pelajar Indonesia yang berada di luar negara," kata Intan. (Red, adam / Ed, pw)

FullSizeRender

Jakarta, Minggu 26/6/16 lalu PPI Dunia sukses menggelar acara silaturahmi dan buka puasa di kantor Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta. Acara ini dihadiri oleh mantan koordinator PPI Dunia Ahmad Almaududy Amri periode 2014 - 2015, Ketua PPI rkrki, Ketua PPMI Saudi Arabia, Ketua PPI Italia, Koordinator Biro Pers PPI Dunia, Alumni PPI dunia dari berbagai kawasan dan Perwakilan BEM di Indonesia.

Acara Silaturahmi ini diawali dengan kata sambutan yang disampaikan oleh Koordinator Biro Pers PPI Dunia 2015 - 2016 Dewi Anggrayni. Menurutnya, acara ini digelar bertujuan untuk menguatkan silahturahmi PPI Dunia dengan PPI Negara, alumni dan juga Dewan Presidium yang selama ini melakukan komunikasi dan koordinasi melalui media sosial saja.

"Silaturahmi ini bertujuan untuk menguatkan hubungan PPI Dunia dengan PPI negara, alumni dan juga Dewan Presidium. Selama ini komunikasi dan koordinasi dilakukan by online dan saat inilah moment yang pas untuk berkumpul untuk lebih mengenal satu sama lain, dan kenapa di RRI, karena RRI telah menjadi mitra selama beberapa tahun terakhir memublikasikan aktifitas PPI Negara anggota PPI Dunia," ucap Dewi.

Rangkaian kegiatan silahturahmi dimulai dengan sosialisasi simposium internasional yang akan berlangsung juli mendatang oleh perwakilan panitia SI Cairo, Ahmad Bayhaki.

"Pertemuan yang sangat bermanfaat dan mendambah ilmu. Acara seperti ini dipertahankan dan lebih diaktifkan lagi forum diskusinya," Ucap Bayhaki.

Live ON AIR

Acara buka puasa ini juga disiarkan langsung melalui siaran Kampung Halaman RRI yang diisi oleh perwakilan Dewan Presidum periode 2015-2016 Imam Khairul Annas dan Dewi Anggrayni, Dhafi Iskandar Alumni PPI Dunia dan perwakilan PPI Negara Intan Irani PPI Italia, Padma Nabhan PPI India, Ahmad Bayhaqi Maskum PPMI Mesir.

Selanjutnya perwakilan alumni mengisi acara dengan bedah buku yang berjudul “Dari Kami untuk Negeri”. Buku karya Dewan Presidium PPI Dunia periode 2014 - 2015 ini dipaparkan singkat oleh Ahmad AlMaududy Amri.

"Buku ini berawal dari simposium di Jepang pada tahun 2014, kami dari perwakilan PPI Dunia berinisiatif untuk menuliskan kisah kami selama berkuliah di luar negeri sebagai kontribusi untuk bangsa untuk menyemangati teman-teman di Indonesia yang ingin berkuliah di luar negeri," jelas Dudy.

Dudy juga memaparkan dengan singkat isi dari buku "Dari Kami untuk Negeri" yang mengisahkan pengalaman mahasiswa Indonesia yang berkuliah di luar negeri dan juga berorganisasi di waktu yang bersamaan.

"Kami mengisahkan pengalaman organisasi, tantangan kehidupan di luar, kejadian-kejadian mahasiwa indonesia di luar negeri juga tantangan perkuliahan," tutur Dudy.

Setelah pemaparan singkat oleh Dudy, acara dilanjutkan dengan bedah buku dari salah satu teman alumni PPI Dunia yang berjudul “Merangkul Beruang Merah.”

Buku Merangkul Beruang Merah mengisahkan perjalanan hidup penulis, Ade Irma Elvira tentang proses perkuliahan beliau di Rusia dimulai dari memohon restu orang tua hingga tantangan ekonomi juga akademiknya di Rusia.

"Buku ini menceritakan tentang pengalaman saya selama di Rusia, di kota Moskow yang penuh tantangan. Harapannya semoga buku ini nantinya bisa di-film kan agar dapat memotivasi dan menyemangati pemuda Indonesia untuk melanjutkan studinya," jelas Ade.

Penulis juga menambahkan kata mutiara yang ia sampaikan untuk pembaca

"Halangan dan rintangan bukanlah hal yang membatasi diri kita untuk maju"

1

Acara dilanjutkan dengan tausiah dari perwakilan PPMI Saudi Arabia , Abudzar Mandaili hingga azdan Maghrib berkumandang. Kemudian, perkenalan dari setiap peserta dan diskusi mengenai situasi terkini di Turki pasca ledakan bom di Turki. Azwir juga menggambarkan situasi singkat kehidupan mahasiswa Indonesia di Turki. Azwir, ketua PPI turki menyampaikan harapannya mengenai situasi yang sedang terjadi di sana.

"Kami memohon doa kepada teman-teman PPI Dunia, agar situasi Turki tetap stabil dan aman. Juga teman kita yang tempo hari ditangkap cepat selesai proses hukumnya," jelas Azwir.

Acara ini ditutup dengan pembahasan singkat Simposium Internasional yang akan dilaksanakan di Cairo pada tanggal 24 – 28 Juli mendatang. Besar harapan peserta juga agar acara seperti ini dapat terus dilaksanakan. (Red, Nazla, Editor, dw/df)

*Siaran tersebut bisa langsung didengarkan melalui media player di bawah ini:

⁠⁠⁠⁠

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920