logo ppid

Berita baik datang dari wakil Indonesia di ajang Festival Film Pendek tingkat Pelajar Internasional yang pertama di Nabeul, Tunisia. Hadzari, sebuah film pendek berdurasi 2 menit 44 detik adalah sebuah karya pemikiran audiovisual dari sineas muda, Irhamni Rofiun, yang merupakan pelajar Indonesia yang sedang menyelesaikan studi pascasarjana di Universitas Ezzitouna. Film Hadzari, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Waspada’ berhasil menjadi yang terbaik dalam ajang tersebut, dan satu-satunya film yang diputar ketika malam penganugerahan, Minggu malam (9/7).

Film berbahasa Arab ini tidak hanya melibatkan mahasiswa Indonesia sebagai aktor utama, melainkan mengajak crew dan pemain asing dalam proses penggarapannya. Selain itu, Indonesia juga berhasil memborong banyak penghargaan, di antaranya Best Soundtrack dalam film Silat, Taufik Imron sebagai aktor favorit dalam film Hadzari, dan film Silat sebagai film favorit pilihan hadirin panitia dan peserta.

Penghargaan Film Pendek di Tunisia

Menurut pengakuan Irhamni Rofiun, yang juga menjadi sutradara dalam film Silat tersebut, ketika dirinya tiga kali maju untuk mengambil penghargaan di panggung utama, pemanggilan ketiga pemberian penghargaan sebagai sutradara dalam film Silat, ia sempat tidak percaya dan terharu sekaligus bangga karena nama Indonesia kembali harum. Sebab, menurut penuturannya, film Silat tersebut banyak melibatkan banyak orang dan pendukung, di antaranya tim dan pemain yang tergabung dalam organisasi induk PPI Tunisia, anak-anak dari staf KBRI dan Medco Energi, serta yang paling mendukung penuh adalah KBRI Tunis sebagai sponsor tunggal.

Kompetisi film pendek ini diikuti oleh 600 karya dari 125 negara dari 3 jenis kategori: Fiksi, dokumenter dan animasi. Kebanyakan mereka adalah para pelajar atau mahasiswa yang bergelut dalam dunia sinematografi dan perfilman, bahkan ada yang sudah biasa mengikuti festival film pendek di Cannes, Prancis, Toronto, USA, dll. Hanya 27 karya film pendek dari 20 negara di antaranya: Indonesia, Palestina, Turki, Syria, Aljazair, Jordania, Lebanon, Irak, Mesir, Iran, Malaysia, USA, Prancis, Italia, Spanyol, Jerman, Cina, Thailand, Norwegia dan tuan rumah Tunisia. Dan yang diundang khusus oleh panitia penyelenggara hanya 20 sineas muda dari 20 negara tersebut, mereka ditanggung sepenuhnya mulai dari akomodasi, transportasi, penginapan, makan, dll. Untuk mengikuti acara puncak di Nabeul, Tunisia sejak tanggal 6-9 Juli 2017. Kegiatan tersebut meliputi workshop film; writing scripts, shooting & directing, editing & mixing. Dan itu semua dimentori oleh para seniman dan para pakar dalam dunia sinematografi dan perfilman, serta acara hiburan lainnya.

Pengumuman Pemenang Festival Film Pendek se-Tunisia

Berikut daftar peraih penghargaan terbaik Festival Film Pendek Pelajar Internasional 2017 di Nabeul.

- The prize of the best image: Film Fino, disutradarai oleh: Estephan Khattar, Lebanon.
- The prize of the best soundtrack: Film Silat, disutradarai oleh: Irhamni Rofiun, Indonesia.
- The prize of the best editing: Film Day 79, disutradarai oleh: Wissem Al Jaafari, Palestina.
- The prize of Best Scenario: The End of The Good Days, disutradarai oleh: Bask Mehmet, Turki.
- The prize of Best Male Performance: Memood, Jerman.
- The prize of Best Female Performance: Raya Busslah, Film Red on White, Tunisia.
The prize for the best short film: Film Hadzari (Waspada), disutradarai oleh: Irhamni Rofiun, Indonesia.

Daftar di atas adalah pemenang pilihan dewan juri, adapun pilihan pemirsa (penonton: panitia, peserta) adalah:

- Film Pendek Favorit: Film Silat, disutradarai oleh Irhamni Rofiun, Indonesia.
- Aktor Favorit: Taufik Imron, Film Hadzari (Waspada), disutradarai oleh Irhamni Rofiun, Indonesia.

(Red: PPI Tunisia/ Ed: Amir)

Kairo - Mungkin ini adalah tahun pertama saya merasakan bulan suci Ramadan di Kota Kairo, Mesir. Biasanya saya menjalani dan menikmatinya di kampung halaman. Tentu dengan tradisi dan corak yang sangat berbeda.

Baik senang maupun susah silih berganti dirasakan. Senang karena mendapatkan pengalaman baru, tradisi baru, terlebih bisa lebih khusyuk beribadah dengan kurangnya godaan di negeri para nabi ini, ya di bumi para nabi. Terasa sedih karena jauh dari orang tua dan keluarga yang biasa menemani setiap Ramadan.

Kairo memiliki tradisi tersendiri dalam menyambut bulan suci Ramadan. Masyarakat Mesir terlebih yang berdomisili di Kairo sangat antusias menyambut bulan yang hanya hadir satu tahun sekali ini.

Di antaranya mereka membeli fanus, yaitu semacam lampu Aladin ala Timur Tengah, dengan berbagai macam warna untuk dipasang di jalan-jalan agar terlihat lebih indah, terlebih malam hari. Masjid pun tak kalah dihias dengan fanus sehingga keindahannya sungguh luar biasa pada malam hari.

Tradisi lain yang menarik adalah orang-orang kaya di Mesir dan negara Arab pada umumnya menyediakan makanan untuk berbuka puasa bagi masyarakat dan orang-orang secara gratis, baik dengan skala kecil maupun besar. Kami biasa menyebutnya disini sebagai maidatur rahman.

Memilih maidatur rahman menjadi perhatian khusus mahasiswa di sini karena menu makanan yang disediakan di setiap tempat antara satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Jadi kita memilih kebebasan sesuai menu makanan yang disuka.

Semua orang mampu di Mesir berlomba berderma menyediakan hidangan berbuka alias maidatur rahman (Foto: dok. Haidar Masyhur Fadhil)

Mulai menu makanan Asia, seperti ayam, ikan, daging yang cocok dengan lidah dan cita rasa kami, mahasiswa asal Indonesia, maupun makanan asli Mesir seperti isyy, yaitu semacam roti yang terbuat dari tepung dan gandum, atau fuul semacam kacang yang dicampur dengan minyak goreng dan sebagainya.

Rasa toleransi masyarakat di Mesir sangat tinggi, hal ini terbukti mayoritas toko atau warung tutup hingga menjelang waktu berbuka tiba. Dan ditutup kembali jika waktu azan isya dan salat tarawih tiba hingga kembali dibuka setelah salat tarawih hingga menjelang waktu sahur.

Toko-toko di Kairo tutup saat siang, buka menjelang waktu berbuka. Tutup lagi saat azan isya, buka usai tarawih hingga sahur. (Foto: dok. Haidar Masyhur Fadhil)

Ramadan di Mesir sangat terasa kehadirannya. Hal ini terbukti dengan masjid yang selalu penuh dengan banyaknya warga asli Mesir maupun warga negara asing seperti kami yang beribadah di dalamnya. Terlebih malam hari hingga menjelang subuh karena sangat ingin sekali memanfaatkan waktu yang sangat berharga yang hanya datang satu tahun sekali ini.

Salat tarawih di Kairo (Foto: dok. Haidar Masyhur Fadhil)

Dan perlu diketahui, waktu berpuasa di Mesir sedikit lebih lama dibanding di Indonesia. Waktu puasa di Mesir sekarang sekitar 16 jam. Jadi kami melakukan ibadah puasa dimulai dengan sahur pukul 02.30 pagi dan berbuka pukul 19.00. Maka tak jarang kami tidur dalam waktu yang sangat singkat atau diganti dengan belajar dan ibadah-ibadah yang lain.

Terlebih bulan puasa kali ini di Mesir sedang memasuki musim panas yang suhunya masih berubah-ubah dan belum mencapai puncaknya. Suhu panas tertinggi disini bisa mencapai 40 derajat Celsius. Maka dibutuhkan kesabaran dan tenaga ekstra untuk bertahan di cuaca yang sangat panas.

Penulis: Haidar Masyhur Fadhil, mahasiswa Fakultas Ushuludin Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Anggota Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir.

*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama antara Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) dan detikcom

SALAM PERHIMPUNAN!!

BEM UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG dan TIM FESTIVAL LUAR NEGERI PPI DUNIA akan bekerjasama untuk menyelenggarakan event Edufair
"Padjadjaran International Education Festival"

Hari, tanggal : Jumat, 26 Mei 2017
Waktu : 08:00 WIB - 16:00 WIB
Tempat : Bale Sawala Unpad Jatinangor

Perwakilan PPI Dunia akan menjadi keynote speakers dan meramaikan acara ini, mereka adalah:

Intan Irani Koordinator PPI Dunia 2016/2017 (PPI Italia)

Steven Guntur Koordinator PPI Dunia 2015/2016 (Permira Rusia)

Rizki Putri Hassan, Koordinator Divisi Pendanaan PPI Dunia (PPI UK)

Dan akan ada stand berbagai informasi studi dan hidup di luar negeri yang akan diramaikan oleh delegasi dari PPI Negara diantaranya:

1. PPI Polandia
2.PPI Hungaria
3.Perpika Korea Selatan
4.PPI Malaysia
5.PPI Swedia
6.PPI Spanyol
7.PPI Estonia
8.PPI Tiongkok
9.PPI Thailand
10.PPI Prancis
11.PPI Italy
12.PPI New Zealand
13.PPMI Saudi Arabia
14.PPI UK
15.PPMI Mesir
16.PPI Turki
17. PPI Jepang
18. PPI Jerman

Berita selengkapnya, follow:
IG: felarippidunia Facebook: felari ppi dunia
Web: www.ppidunia.org

CAIRO- Kuota Tenaga Musiman (TEMUS) haji bagi Mahasiswa Timur Tengah untuk tahun ini resmi dipangkas. Kuota yang pada pada tahun lalu berjumlah 125, setelah dikurangi akibat pengurangan kuota Jamaah Haji Indonesia, tahun ini kembali dipangkas menjadi 85 kuota saja. Ketetapan ini sudah disahkan oleh komisi 8 DPR RI.
KJRI Jeddah akan mengirim surat resmi terkait jumlah kuota TEMUS per Negara kepada seluruh KBRI terkait dalam waktu dekat ini. Ahmad Dumyati Bashori selaku ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi ketika ditemui langsung oleh beberapa perwakilan mahasiswa Timur-Tengah Senin (10/4) di wisma haji, Mekkah, Arab Saudi mengatakan bahwa alasan utama pemangkasan besar-besaran kuota TEMUS Mahasiswa timur tengah adalah penambahan kloter jamaah haji di Indonesia seiring dengan bertambahnya kuota jamaah haji Indonesia. Hal ini berdampak besar pada penambahan jumlah petugas pada sektor pendampingan jamaah haji di tiap kloter yang akhirnya mengambil 40 kuota Mahasiswa timur-tengah.
Menyikapi hal ini, Dewan Presidium PPI Dunia dan PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika dijadwalkan akan bertemu dengan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Direktur Jenderal Penyelenggara Haji dan Umroh pada tanggal 19 April di kota Madinah untuk menyampaikan surat permohonan resmi dari PPI Dunia guna melakukan peninjauan kembali terkait keputusan yang telah ditetapkan, yang bertepatan dengan kunjungan kerja pihak kemenag ke Arab Saudi.
“Kita akan berusaha bergerak, mengusahakan yang terbaik untuk mahasiswa timur tengah melalui jalur Duta Besar di negara kawasan timur tengah (timteng) masing-masing, kita akan menyampaikan dan mengusulkan kepada bapak Duta Besar untuk megirimkan surat resmi ke Komisi 8 DPR RI agar dapat meninjau kembali keputusan ini. Untuk perwakilan PPI kawasan timteng dan Dewan Presidium PPI Dunia juga akan mengambil langkah dengan langsung menemui pihak Kemenag dan melayangkan surat secara langsung ke Komisi 8 DPR RI. Selain itu, Intan Irani selaku Koordinator PPI Dunia saat ini juga akan langsung bertemu dengan pihak Komisi 8 DPR RI di Jakarta, semoga dengan usaha ini permasalahan tentang kuota haji bisa kembali stabil demi kemaslahatan Mahasiswa timur tengah umumnya, dan Masisir pada khususnya.” tutur Ahmad Baihaqi Maskum, Presiden PPMI Mesir periode 2016/2017.
Mahasiswa yang sedang studi di Negara-negara wilayah Timur Tengah dan Afrika seperti Arab Saudi, Mesir, Sudan, Yaman, Yordania, Lebanon, dan Maroko tiap tahunnya selalu mengirimkan tenaga musiman untuk membantu jamaah haji Indonesia. “Peran mahasiswa Timur-tengah sangat penting dalam memberikan pelayanan kepada jamaah haji Indonesia. Karena selain sebagian besar TEMUS Mahasiswa Timteng langsung terjun kelapangan dan berhadapan dengan jamaah secara langsung, mahasiswa timteng juga punya nilai plus sendiri. Pertama, mereka menguasai bahasa Arab, baik lisan maupun tulisan. Kedua, mereka sudah terbiasa berinteraksi dengan orang-orang Arab yang memiliki karakteristik berbeda dengan orang Indonesia. Ketiga, dan yang pasti mereka masih muda dan energik. Dan perlu diketahui bahwa menjadi TEMUS dalam pelayanan ibadah haji dibutuhkan kondisi prima dan kuat. Keempat, mahasiswa adalah kaum berpendidikan yang pastinya bekerja dengan diikuti akhlak dan sifat yang baik,” tutur Abdul Ghofur Mahmudin, Presiden PPMI Mesir periode 2015-2016.
Abdul Ghofur Mahmudin juga menambahkan bahwa 4 tahun terakhir ini kuota TEMUS untuk Mahasiswa Timur-tengah cenderung selalu menurun, akan tetapi penurunan itu tidak terlalu signifikan. ”Contoh Kuota Mahasiswa Indonesia di Mesir pada tahun 2012 masih sekitar 102 orang. Tahun 2013 menurun menjadi 96 orang, dan sampai tahun kemarin menjadi 68 orang. Hal ini masih dirasa logis karena alasan berkurangnya adalah pengurangan kuota jamaah haji Indonesia. Sedangkan untuk tahun ini akan berbeda jika kuota mahasiwa timur tengah dikurangi sangat signifikan. Itu karena pertama kuota haji Indonesia normal kembali, kedua pengurangannya sangat signifikan. Bahkan hemat saya, dari yang awalnya Kuota temus Mahasiswa Tim-teng 125 menjadi 85 itu bukan pengurangan, tapi pemangkasan. Dan itu tidak logis!” sambung Abdul Ghofur Mahmudin dalam wawancaranya dengan kru Suara PPMI.
“Hubungan TEMUS mahasiswa dengan PPIH terjalin sangat baik dan harmonis. Saling membantu dan bahu membahu dalam bekerja, baik di lapangan maupun di sekretariat. Sebagai contoh, sampai saat ini saya sendiri dengan TEMUS Mahasiswa Timteng 2013 masih berkomunikasi dengan baik ke PPIH Jakarta di grup whatsapp. Begitu juga dengan TEMUS 2016 PPIH Jakarta. Itu menandakan bahwa tidak ada masalah antara TEMUS mahasiswa dengan PPIH Jakarta maupun dengan bapak-bapak di Kantor Urusan Haji (KUH) Jeddah. Dan saya berharap semoga ada jalan keluar dan solusi terbaik untuk TEMUS mahasiswa timur tengah dan khususnya Masisir (Mahasiswa Indonesia Mesir),” tutur mahasiswa asal Banten ini ketika ditanya tentang hubungan PPIH dengan TEMUS mahasiswa Timur-tengah.
Wakil Presiden PPMI Mesir, Ikhwan Hakim Rangkuti, yang menjadi perwakilan PPMI Mesir dan Mahasiswa Timur-tengah pada saat pertemuan langsung dengan ketua PPIH Arab Saudi menegaskan, bahwa selain berkhidmat membantu Jamaah Haji Indonesia dan mengimplementasikan ilmu yang didapat selama belajar di Timur-Tengah, momentum TEMUS juga memberikan manfaat tersendiri bagi Mahasiswa Timur-Tengah. "Banyak sekali dampak positif yang dirasakan oleh mahasiswa Timur-Tengah dengan adanya TEMUS ini. Pertama, dengan adanya TEMUS, mahasiswa Indonesia di Timur-Tengah sangat terbantu dalam melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi seperti S2 dan S3, melihat akses beasiswa dari pemerintah Indonesia untuk mahasiswa Timur-Tengah sangat minim bahkan bisa dibilang nihil. Hal ini terbukti dari kebijakan pemerintah yang memotong akses penerimaan beasiswa LPDP untuk mahasiswa Timur-Tengah. Kedua, keberadaan TEMUS menjadi faktor penggerak roda organisasi mahasiswa Indonesia di Timur-Tengah, karena sudah menjadi kearifan lokal bagi siapapun yang berangkat menjadi petugas Haji dari mahasiswa Timur-Tengah untuk membayar iuran kepada organisasi-organisasi terkait seperti PPMI Mesir, atau PPI Tim-Teng lainnya guna menopang pendanaan organisasi tersebut."

Ikhwan menambahkan bahwa bagaimanapun juga permasalahan ini harus diselesaikan secara bijak, adil, dan transparan. ”Saya berharap Menteri agama beserta jajaran bisa meninjau kembali keputusan yang telah ditetapkan dan bisa menambah kuota TEMUS dari yang sebelumnya berjumlah 125 (tahun 2016) ke angka yang lebih banyak lagi atau minimal bertahan pada angka 125, karena sangat tidak bijak ketika mengurangi kuota menjadi 85 di saat bertambahnya kuota jamaah haji dari angka 168.800 menjadi 221.000. Poin penting yang menjadi perhatian dan catatan kami agar ke depannya pihak kementerian agama melibatkan perwakilan PPI Dunia dalam merumuskan suatu kebajikan baru, khususnya dalam penetapan kuota TEMUS untuk mahasiswa Tim-teng agar keputusan yang diambil tidak terkesan bersifat politis dan sepihak,” jelas Wakil Presiden PPMI Mesir yang berasal dari Jakarta ini.

(Kamal Ihsan/NZ)

Liputan Makkah – Dalam rangkaian Simposium PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika 2017 yang berlangsung di Madinah pada 3-4 April 2017, Para Perwakilan PPI Negara di Kawasan Timur Tengah dan Afrika dan Fasilitator Sidang Komisi mengadakan Sidang Kawasan dan Finalisasi Sidang Komisi yang berlangsung di Hotel Grand Aseel, Makkah, pada hari Jum’at, 7 April 2017, Pukul 16.00 sampai pukul 19.00 Waktu Arab Saudi.

Sidang Kawasan dipimpin oleh Rama Rizana, Koordinator Divisi P2EKA (Pendidikan, Politik, Ekonomi, Kebudayaan & Pariwisata dan Agama) PPI Dunia, diawali tentang laporan program kerja yang telah dikerjakan PPI Kawasan selama 1 semester, kemudian membahas isu-isu terkini para pelajar Indonesia di kawasan. Diantara program kerja yang sudah berjalan antara lain Pendirian AKTA (Aliansi Keputrian Timur Tengah dan Afrika), Puskaji (Pusat Kajian Islami) kerjasama antara PPI Kawasan dengan Radio PPI Dunia, Tim Kajian Strategis dan Tim Media Kerohanian.

Adapun program kerja yang akan diadakan adalah Lomba Film Pendek se-Timur Tengah dan Afrika dengan PJ Khoiruddin dari HPMI Yordania. Pembahasan lainnya adalah penentuan Calon Koordinator PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika Periode 2017-2018 dan penentuan Calon Tuan Rumah Simposium PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika tahun 2018.

Kemudian, Pemaparan BK-PPI (Badan Kerjasama Persatuan Pelajar Indonesia) Timur Tengah dan Sekitarnya oleh Miftah Nafid Firdaus dari HPMI Yordania mengenai BK-PPI, sejarahnya dan program kerjanya. BK-PPI Timur Tengah dan Sekitarnya sendiri merupakan wadah organisasi antar PPI Negara di Kawasan Timur Tengah yang berdiri pada tahun 1964. BK-PPI memiliki sejarah dan perjuangan panjang, namun mengalami pasang surut organisasi.

8 PPI Negara yang hadir pada Sidang Kawasan ini sepakat untuk meleburkan BK-PPI Timur Tengah dan Sekitarnya dengan PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika tanpa melupakan sejarah dan perjalanan panjang BK-PPI. Semoga PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika kedepannya bisa memberikan kontribusi lebih khususnya bagi para pelajar Indonesia di Kawasan Timur Tengah dan Afrika, serta untuk Indonesia dan Dunia.

Berikut ini adalah Hasil Ketetapan Sidang:

Ketetapan Musyawarah Luar Biasa Badan Kerjasama Persatuan Pelajar Indonesia se-Timur Tengah dan Sekitarnya

tentang

Pembubaran BK-PPI se-Timur Tengah dan Sekitarnya

Bismillahirrahmanirrahim

Musyawarah Luar Biasa Badan Kerjasama Persatuan Pelajar Indonesia se-Timur Tengah dan Sekitarnya, dengan senantiasa mengharapkan rahmat dan ridho Allah subhanahu wa Ta’ala, setelah:

Menimbang:

  1. Untuk mencapai tujuan organisasi
  2. Untuk kemasalahatan anggota organisasi

Mengingat:

  1. Pasal 16 Anggaran Dasar BK-PPI se-Timur Tengah dan Sekitarnya
  2. Pasal 17 Anggaran Rumah Tangga BK-PPI se-Timur Tengah dan Sekitarnya

Memperhatikan:

Hasil Musyawarah Luar Biasa BK-PPI Timur Tengah dan Sekitarnya pada tanggal 7 April 2017 bertepatan dengan 11 Rajab 1438 H

Memutuskan:

Menetapkan:

  1. Pembubaran BK-PPI Timur Tengah dan Sekitarnya
  2. Peleburan BK-PPI Timur Tengah dan Sekitarnya dengan PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika
  3. Ketetapan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan

Bi-l-llahi-l-taufiq-wa-l-hidayah

Ditetapkan di : Grand Aseel Hotel, Makkah, Arab Saudi

Pada tanggal : 7 April 2017

11 Rajab 1438

Waktu : Pukul18.00 KSA

Anggota BK-PPI Timur Tengah dan Sekitarnya

TTD

PPMI Arab Saudi

PPMI Mesir

PPI Sudan

HPMI Yordania

PPMI Pakistan

PPI Lebanon

PPI Maroko

PPI UEA

Liputan Dhahran – Rabu, 1 Maret 2017, KFUPM (King Fahd University of Petroleum and Minerals), Dhahran, Arab Saudi menyelenggarakan Cultural Day yang diikuti oleh Indonesia, Bosnia Herzegovina, Bangladesh, India, Sudan, Suriah, Mesir, Nigeria, Kamerun, Maladewa, Palestina dan Yaman. Ini adalah kali kedua Indonesia ikut serta dalam kegiatan KFUPM Cultural Day.

Pada acara tersebut, mahasiswa Indonesia membawa tema tentang perayaan tujuh belasan di Indonesia, juga menampilkan video infografis Indonesia serta menampilkan atraksi berupa permainan tradisional yang menarik sepertu enggrang dan bakiak. Perlombaan tersebut diikuti opleh peserta dengan antusias karena adanya interaksi dan partisipasi yang luar biasa dari para penonton selama kegiatan berlangsung.

Cultural Day 2017

Acara kemudian dilanjutkan di stand masing-masing Negara yangs udah disediakan oleh para panitia. Pada boiot session, para peserta stand berkesmpatan untuk mengenalkan kebudayaan mereka masing-masing seperti makanan tradisional dan pakaian tradisional. Kali ini Indonesia berhasil memperkenalkan beberapa makanan tradisional ala Indonesia seperti pecel, tumpeng, bubur kacang hijau, berbagai macam gorengan, kue kukus, sambal kacang serta dadar gulung. Para pengunjung pun sangat antusias sekali mencoba satu persatu makanan yang disediakan di dalam stand.

PPMI Dhahran sebagai wadah organisasi mahasiswa Indonesia di KFUPM menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung untuk mensukseskan acara ini, juga terima kasih kepada KBRI Riyadh, PPMI Qassim, serta semua pihak yang telah datang mengunjungi stand Indonesia pada acara kali ini. (Red: PPMI Dhahran/ Ed: Amir)

Liputan Dhahran – Pada Rabu, 1 Maret 2017, King Fahd University of Petroleum and Minerals (KFUPM), Dhahran, Arab Saudi menyelenggarakan Cultural Day yang diikuti oleh beberapa negara, yakni Indonesia, Bosnia Herzegovina, Bangladesh, India, Sudan, Suriah, Mesir, Nigeria, Kamerun, Maladewa, Palestina dan Yaman. Ini adalah kali kedua Indonesia ikut serta dalam kegiatan KFUPM Cultural Day.

Pada acara tersebut, mahasiswa Indonesia membawa tema tentang perayaan tujuh belasan di Indonesia, juga menampilkan video infografis tentang Indonesia serta menampilkan atraksi berupa permainan seru, yaitu enggrang serta bakiak. Pada setiap permainan, tidak lupa untuk terus berinteraksi dengan para penonton yang hadir dengan cara membuat sebuah perlombaan pada setiap atraksi.

Kemudian acara dilanjutkan di stan masing-masing negara. Kali ini saatnya mengenalkan beberapa makanan serta jajanan khas Indonesia, di antaranya pecel, tumpeng, bubur kacang hijau, macam-macam gorengan, kue kukus, sambal kacang serta dadar gulung. Para pengunjung sangat antusias sekali mencoba satu per satu makanan yang disediakan.

Perhimpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dhahran sebagai wadah organisasi mahasiswa Indonesia di KFUPM menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung untuk mensukseskan acara tersebut, juga terima kasih kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh, PPMI Qassim, serta semua pihak yang telah datang mengunjungi stan Indonesia pada acara kali ini.

(Red, PPMI Dhahran/Ed, F)

Liputan Madinah – Bertempat di Wisma Haji Indonesia Madinah, 5 Februari 2017, PPMI Arab Saudi yang diwakili oleh Imam Khairul Annas (Ketua Umum PPMI Arab Saudi 2015-2017), Arif Usman Anugraha (Ketua PPMI Madinah 2016-2017) dan Dinar Zul Akbar (Koordinator Departemen Kegiatan PPMI Madinah 2016-2017), pihak KJRI Jeddah yang diwakili Bpk. Tubagus Ade Fathullah (Staf Tata usaha KJRI Jeddah) dan Bpk. Sujud Hosis (Pelaksana Fungsi Pensosbud KJRI Jeddah), berkesempatan menerima rombongan dosen dan konsultan dari berbagai Universitas di Indonesia.

Rombongan terdiri dari Bpk. Dr. Abu Sufyan dari Universitas Padjajaran, Bpk. Masruhi, Bpk. Iwan Saliman dan Bpk. Soegeng Kalimanto dari Universitas Gadjah Mada, serta Bpk. Habib Mun Rohib dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dr. Abu Sufyan sebagai Pimpinan Rombongan menyampaikan sejumlah kerjasama antara perguruan tinggi di Indonesia dengan perguruan tinggi di Timur Tengah, diantaranya adalah Sandwich Program yang diadakan atas kerjasama sejumlah Universitas di Indonesia dengan Universitas Canal Suez, Mesir. Selain itu, pendirian PSI (Pusat Studi Indonesia) pada tahun 2013 di Universitas Canal Suez, yang akan berlanjut dengan pembukaan Jurusan Bahasa Indonesia di Universitas Canal Suez dan Universitas Banha, Mesir.

Pihak PPMI Arab Saudi menyampaikan statistik mahasiswa Indonesia di Arab Saudi secara umum, khususnya di Universitas Islam Madinah, berikut fakultas dan jurusan yang ada. Dimana saat ini, mahasiswa Indonesia tersebar di 15 Universitas di Arab Saudi pada berbagai jurusan dan jenjang. Selain itu juga menyampaikan berbagai kegiatan dan kerjasama antara universitas di Arab Saudi dengan universitas dan lembaga pendidikan di Indonesia, diantaranya Konferensi Internasional tentang Dialog Antaragama kerjasama antara Universitas Islam Madinah dengan Universitas Islam Indonesia Yogyakarta yang diadakan di Jakarta, kemudian Konferensi Internasional di Malang kerjasama antara Universitas Islam Madinah dengan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Setiap tahunnya, Universitas Islam Madinah mengadakan Dauroh (Pelatihan) Bahasa Arab dan Muqabalah (Ujian Penerimaan) yang diadakan di beberapa tempat di Indonesia, dan setiap tahun berpindah-pindah, diantaranya pernah diadakan di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, Universitas Negeri Makassar, UIN Maulana Malik Ibrahim, Pondok Pesantren Nurul Hakim Lombok NTB, Pondok Pesantren ar-Raudhatul Hasanah Medan, Pondok Pesantren Raudhatul Ulum Sakatiga Sumatera Selatan dan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan Kalimantan Timur.

Kerjasama lainnya adalah kegiatan Dauroh Bahasa Arab untuk Guru Bahasa Arab yang diadakan di Universitas Umm al-Qura Makkah serta Dauroh Bahasa dan Budaya Arab untuk Tokoh Pendidikan yang diadakan di Universitas Islam Madinah. Pada sharing kali ini, mahasiswa dan rombongan dosen berhadap kedepannya sandwich program juga dapat diadakan di salah satu universitas di Arab Saudi, serta kerjasama bidang pendidikan tinggi antara Indonesia dengan Timur Tengah semakin baik. "Terima kasih kepada KJRI Jeddah yang telah menfasilitasi kami sehingga dapat bertemu dengan perwakilan mahasiswa." ungkap Dr. Abu Sufyan.

(Red, imam / Ed, pw)


Padang ( 11/03) Setelah sukses menyelenggarakan ALS ( AKTA Lintas Sekolah)online melalui video call di pondok Ummul Qura pada 21 Desember 2016 kemarin. Kini ALS kembali hadir di Padang-Sumatera Barat.

Acara ini diadakan di dua sekolah yaitu Perguruan Thawalib Putri Padang Panjang yang diikuti oleh siswi menengah pertama dan atas serta MAPK Kotobaru Padang Panjang yang diikuti oleh siswi menengah atas.
Dengan pemateri ketua AKTA sendiri yaitu Rahmah Rasyidah, Lc memaparkan tentang AKTA dan PPI DUNIA, serta program-program yang sedang dijalankan. Selain itu pemateri memberikan pengarahan mengenai serba-serbi perkuliahan di Timur Tengah dan Afrika dari mulai biaya hidup, budaya hingga jalur beasiswa yang ada disana.

"Adik- adik di Perguruan Thawalib Putri dan MAPK Kotobaru, mereka semua luar biasa! Sangat antusias! Dari mata mereka terlihat binar harapan yang sangat tinggi untuk melanjutkan kuliah keluar negeri. Saya sangat senang sekali dapat saling berbagi dan memotivasi mereka. Saya akan menanti kedatangan mereka di Timur Tengah khususnya Mesir, insyaAllah!"
Ucap ketua AKTA Rahmah Rasyidah
setelah mengadakan acara ALS ini.

PPIDUNIA.ORG - Di era globalisasi dewasa ini, manusia dihadapkan pada suatu fenomena keterbukaan dan transparansi yang luar biasa. Arus informasi yang cepat beredar dan media sosial menjadi faktor utama fenomena ini. Salah satu konsekuensi yang muncul darinya adalah fenomena yang dianggap sebagai kebebasan setiap individu –siapapun itu- untuk mengekspresikan pendapatnya.

Dari fenomena ini, sangat diperlukan suatu norma yang berperan mengatur agar tidak terjadi benturan kebebasan ini. Salah satunya adalah apa yang disebut dengan toleransi. Dalam “Oxford Dictionary” kata tolerate dimaknai dengan mengizinkan suatu eksistensi, kejadian, atau praktik yang tidak disukai atau disetujui tanpa intervensi.

Dari makna yang ditinjau secara etimologis di atas jelas bahwa toleransi lawan dari setiap pemaksaan kehendak. Masalahnya, dewasa ini dalam beberapa peristiwa tercium pengaburan makna kata toleransi untuk memuluskan kepentingan golongan tertentu, memutarbalikkan makna dengan pemberitaan yang berulang-ulang agar menjadi terbiasa di telinga masyarakat luas.

Atas dasar ini, setiap muslim perlu mengetahui hakikat toleransi, batasan-batasannya, dan bagaimana islam memandangnya. Sehingga ia memiliki pondasi kuat dan tidak terbawa arus pengaburan makna kata toleransi. Dengan demikian ia juga sudah meletakkan setiap istilah sesuai tempatnya yang tepat, adil, dan tidak menyelisihi akidah.

Menelusuri Kata Toleransi

Kata toleransi merupakan hasil dari proses absorpsi bahasa dari kata berbahasa Inggris, toleration atau tolerance. Dalam “Oxford Dictionary” kisaran makna kata ini adalah mengizinkan suatu eksistensi, kejadian, atau praktik yang tidak disukai atau disetujui tanpa intervensi. Dalam bukunya “How The Idea of Religious Toleration Came to The West”, sejarawan Amerika Perez Zagorin mengartikan kata toleransi sebagai suatu praktek sengaja membiarkan dan mengizinkan hal yang tidak disetujui. Dari sini dapat disimpulkan bahwa makna kata toleransi ditinjau dari sumber bahasanya adalah praktik membiarkan dan menghormati sesuatu yang berbeda.

Adapun dalam bahasa Arab, kata toleransi diidentikkan dengan kata samâhah. Asal kata ini terdiri dari tiga huruf sa-ma-ha yang bermakna a’thâ (memberikan), adzina (mengizinkan), dan ajâza (membolehkan). Samâhah juga dimaknai dengan musâhalah (saling memudahkan) dan lîn (kelembutan). Sebagaimana perkataan Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam “Fathul Bâri” ketika mengartikan sabda Rasulullah SAW:

أحب الدين إلى الله الحنيفية السمحة
“ Makna dari as Samhah [dalam hadist] yaitu as sahlah (Mudah), artinya bahwa agama ini terbangun di atas kemudahan.”

Jelas, arti kata toleransi ditinjau dari akar bahasanya memuat perilaku yang perlu dikedepankan–selama tidak melanggar aturan dan norma yang lebih tinggi- dalam interaksi antar individu dengan latar belakang yang berbeda. Dan ini sejalan dengan nilai-nilai yang dibawa oleh islam.

Diskursus mengenai toleransi selalu dilekatkan dengan agama. Ini dikarenakan manusia dengan fitrahnya mempercayai suatu agama yang diyakini kebenarannya. Olehnya, dalam bukunya “Toleranzdiskurse”, Joachim Vahland mengutarakan bahwa secara historis kata toleransi dipakai dalam tulisan-tulisan yang menerangkan hubungan status minoritas dengan agama yang dominan di suatu negara. Di sinilah peran toleransi menjadi urgen agar tidak terjadi bentrokan klaim kebenaran yang berujung kekacauan antar pemeluk agama. Toleransi beragama yang dimaknai menghormati agama lain yang berbeda menjadi solusi konkret untuk mengatur hubungan antar umat beragama. Pemaknaan seperti ini juga mempertahankan kemurnian akidah agama yang diyakini seseorang.

Masalah mulai timbul ketika kata ini direduksi -atau bahkan didistorsi- maknanya untuk kepentingan golongan tertentu. Hal ini diakui oleh sejarawan non-muslim Australia Alexandra Walsham dalam bukunya, “Charitable Hatred: Tolerance and Intolerance in England,” ia mengatakan bahwa pemahaman toleransi saat ini boleh jadi sangat berbeda dengan makna historisnya. Lebih lanjut ia berujar bahwa toleransi dalam istilah modern telah dianalisis sebagai komponen tak terpisahkan dari pandangan liberal terhadap hak asasi manusia.

Secara sederhana, Hamid Fahmi Zarkasyi dalam kolom “Misykat” di koran harian Republika memaparkan pandangan liberal di atas, “… Menghormati agama lain kini tidak memenuhi syarat toleransi, toleransi kini ditambah maknanya menjadi menghormati dan mengimani kebenaran agama lain.” Lebih lanjut, menurutnya bahwa biang keladi dari distorsi makna ini adalah ideologi humanis sekuler yang ateis dan pluralisme agama yang bersumber dari pandangan liberal.

Pemahaman di atas jelas berbeda dengan asal-usulnya. Pandangan tersebut juga sangat bertentangan dengan akidah umat beragama secara umum, terlebih akidah agama islam yang dijaga otentitasnya oleh Allah SWT. Mustahil seseorang mengimani dua pandangan yang berbeda secara bersamaan. Iman seseorang terhadap suatu agama berkonsekuensi mengingkari agama lain.

Hal ini diakui sendiri oleh ahli teologi dan filsafat kekristenan, Kenneth R. Samples. Dalam jurnal penelitian agama Kristen yang berjudul “The Challenge of Religious Pluralism,” ia mengatakan, “ Ini penghinaan terhadap klaim kebenaran Kristen.”

Islam Memandang Toleransi

Seorang muslim yang yakin dengan keislamannya akan spontan menjawab bahwa pandangan pluralisme terhadap kata toleransi adalah keliru dan utopis. Atas dasar ini, sangat diperlukan meletakkan kata ini sesuai makna asalnya yang tidak mencederai akidah. Dari sinilah terlihat pentingnya mendudukkan kata ini secara adil dan sesuai tempatnya.

Seorang muslim pasti meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW datang sebagai rahmat bagi seluruh alam dengan agama islam yang dibawa (Al Anbiya’: 107). Oleh sebab universalitas risalah islam ini, ia tidak akan melepas begitu saja aturan yang berkaitan dengan interaksi antar umat beragama. Salah satu nilai yang dibawa untuk mengatur hal ini adalah samâhah yang semakna dengan toleransi.

Samâhah atau samhah menjadi ciri khas agama islam. Hal ini tercermin dari sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dalam “Shahîh”-nya,

أحب الدين إلى الله الحنيفية السمحة

“ Agama yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah yang lurus lagi toleran.”
Dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam “Al Musnad”,

إني أرسلت بحنيفية سمحة

“ Sesungguhnya aku diutus dengan (agama) yang lurus lagi toleran.”

Toleransi yang tercantum dalam sabda Rasulullah SAW ini bukan sebagai klaim belaka. Sejarah panjang umat islam membuktikan keabsahan hal itu. Rasulullah SAW sendirilah yang mengawali dan mencontohkan kepada umatnya. Ketika mendapati umat Yahudi yang telah lama tinggal di Madinah, ia pun membuat perjanjian untuk mengatur interaksi umat yang berbeda keyakinan ini. Perjanijian ini dikenal dengan sebutan Piagam Madinah. Inilah piagam pertama di dunia yang berfungsi mengatur hubungan antar umat beragama.

Menyinggung hal ini, cendekiawan muslim Mesir, Muhammad Imarah, dalam bukunya “As Samâhah al Islâmiyah” menegaskan, “Demikianlah Rasulullah SAW merumuskan piagam ini dengan persamaan dan keadilan yang sempurna dalam mengatur hak dan kewajiban warga Negara, tidak pernah ada yang menyerupainya di luar Islam baik sebelum atau sesudahnya.”

Harus diakui bahwa sejarah umat Islam diwarnai peperangan dan penaklukan negara-negara lainnya. Akan tetapi peperangan dan penaklukan yang terjadi selalu disertai dengan adab yang tinggi. Seseorang yang menilai secara adil dan objektif peperangan yang terjadi di dunia ini lalu membandingkan antara peperangan umat Islam dengan umat atau peradaban lainnya, niscaya ia akan mengakui kemuliaan adab umat Islam.

Praktik seperti ini terus berlanjut dalam rentang sejarah Islam yang begitu panjang. Pernyataan ini tidak berlebih-lebihan karena fakta sejarah berbicara demikian. Penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh khulafaurrasyidin juga khalifah ataupun sultan setelahnya seperti Muawiyah bin Abi Sufyan, Shalahudin Al Ayyubi, Abdurrahman ad Dakhil, Alp Arslan, Nuruddin Zanki, hingga Muhammad Al Fatih, semuanya tidak lepas dari adab mulia yang diajarkan oleh Sang Pemimpin umat, Rasulullah SAW.

Kemuliaan ini tercermin dari perlakuan islam terhadap eksistensi lain yang mana islam senantiasa mengakui adanya agama lain di luarnya. Fakta ini diakui oleh salah satu sejarawan non-muslim, Karen Armstrong ketika mengomentari penaklukan Al Quds oleh Umar bin Khatthab , “Ia memimpin penaklukan yang sangat damai dan tanpa tetesan darah, yang mana kota itu belum pernah menyaksikannya sepanjang sejarah karena penuh dengan kisah tragis.” (Karen Armstrong, A History of Jerussalem: One city, Three Faiths).

Seorang orientalis Jerman, Zigred Hanke dalam bukunya yang telah diterjemahkan dalam bahasa Arab dengan judul “Allah Laisa Kadzâlik,” memaparkan dengan jujur realita sebenarnya dalam penyebaran Islam. “Arab telah memainkan peran toleransi yang besar dalam penyebaran ajaran Islam, hal ini sangat bertentangan dengan apa yang selama ini dikatakan bahwa ia tersebar dengan api dan pedang.”

Redefinisi Toleransi

Dari uraian singkat ini tampak adanya pengaburan makna toleransi yang sebenarnya. Ia yang seharusnya menjadi payung bagi perbedaan yang ada dengan saling menghormati, kini memaksa semuanya melebur menjadi satu hingga akidah pun tergadaikan. Bisa jadi terdapat pemeluk agama tertentu yang menerima, tapi bagi Islam yang terjaga keasliannya, ini adalah bentuk pencederaan akidah.

Kerapkali, ketika ditinjau dari keyakinan ini umat Islam dianggap eksklusif dan intoleran sehingga sering terdengar statement- statement yang mendiskreditkannya. Akan tetapi fakta sejarah dan realita saat ini menjadi saksi bahwa yang dituduhkan sama sekali tidak benar. Sebaliknya, pihak penuduhlah yang mencoba mengaburkan kata toleransi dengan cara mendistorsi maknanya. Wallahu a’lam bish shawab.

**Tulisan ini merupakan tulisan kedua dari Tim Kajian Strategis Komisi Agama PPI Dunia yang terbentuk saat Simposium Internasional PPI Dunia 2016 di Kairo. Tim kajian ini fokus terhadap isu-isu radikalisme agama di Indonesia.

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920