Categories
Travel & Kuliner

Small Town Called “IPOH”

Salah Satu Objek Wisata di Ipoh : Kelli’es Castle [Dok : Penulis]
Apa bayangan kalian saat mendengar negara Malaysia? apakah hanya kota Kuala Lumpur dengan bangunan menara kembarnya? atau surga belanja yang bisa dikunjungi di Bukit Bintang? Banyak orang yang belum tau, kalau Malaysia memiliki banyak sekali destinasi liburan selain kota besar Kuala Lumpur yang dipenuhi oleh concrete jungle dan lampu besar. Kuala Lumpur memang menjadi destinasi utama para turis, tapi banyak juga turis yang datang ke Malaysia untuk mencari keindahan alamnya, bukan kota besarnya. Namun, terkadang akses untuk pergi ke destinasi alam sedikit jauh dari ibu kota dan harus menempuh waktu yang lama. Ada beberapa alternatif untuk destinasi liburan di Malaysia selain Kuala Lumpur atau destinasi alamnya, salah satunya adalah mengunjungi kota-kota kecilnya.

Karena jarang terekspos dan hanya sedikit orang yang ingin tahu, sebenarnya Malaysia memiliki banyak sekali kota-kota kecil yang bisa dibilang sangat authentic dan masih terasa sekali keaslian atmosfir kota kecil tersebut yang jauh ada didalam wadah karateristik kota-kota modern. Destinasi kota kecil justru jauh lebih menyenangkan dan jauh dari kata membosankan. Alih-alih melihat gedung tinggi dan mall-mall yang tersebar, traveling ke kota-kota kecil di Malaysia justru menjadi kesempatan yang bagus loh untuk mempelajari sejarah-sejarah yang ada pada kota tersebut. Salah satu destinasi yang recommended untuk dikunjungi adalah kota Ipoh.

Ipoh adalah ibu kota negara bagian Perak yang terletak sekitar 205 kilometer dari Kuala Lumpur, jarak tempuh yang dibutuhkan sekitar 2 jam dalam perjalanan darat menggunakan mobil. Tidak terlalu jauh dari Kuala Lumpur dan sangat accessible karena bisa ditempuh menggunakan kereta juga dari Kuala Lumpur, bermula dari stasiun KL Sentral. Meski Ipoh adalah kota kecil dan jauh dari kata modern seperti Kuala Lumpur, Ipoh tetap memiliki hotel untuk para turis yang berkunjung, namun hotel-hotel yang tersebar biasanya adalah budget hotel tetapi cukup bagus dan nyaman untuk beristirahat selama beberapa hari. Berbagai spot unik juga akan bisa ditemukan di Ipoh, seperti street arts yang tersebar luas di berbagai dinding kedai dan gang kecilnya, kuil-kuil dan gua. Kuliner di Ipoh juga sangat beragam dan wajib dikunjungi loh! Kuliner Ipoh memiliki cita rasa yang sangat khas dan unik dan lumayan jarang ditemukan di kota-kota lain.

White Coffee di Nam Heong [Dok : Penulis]
Ipoh terkenal sekali dengan kopi khas nya yang dijual di salah satu kedai tua dan ini tempat wajib para turis yang datang. Kopi yang wajib dicoba ini dijual di kedai bernama Nam Heong. Kopi yang dijual adalah white coffee dan harga secangkir kopi tersebut juga sangat terjangkau. Kopi ini di sajikan dengan gaya old-school berwadah cangkir kopitiam khas Malaysia. Kalau makanan, Ipoh bisa dibilang kota 1000 kuliner karena makanan khas kota tersebut banyak sekali, salah satunya yang paling khas adalah Ipoh Chicken Rice, lengkap dengan side dish nya. Hidangan ini sangat mudah ditemukan di Ipoh. Aroma ayam mereka dan bumbu-bumbu yang digunakan dalam hidangan tersebut sangat memikat para pengunjung, dan jarang sekali ditemukan di tempat lain. Selain Ipoh Chicken Rice, hidangan yang terkenal dan sangat khas adalah Ipoh Hor Fun, yaitu hidangan mie dengan kuah khas disajikan dengan udang dan sawi. Rasa kuah pada hidangan ini sangat kuat akan rempah-rempah khas Malaysia.

Ipoh Mural Art Rail [Dok : Penulis]
Destinasi turis lainnya yang wajib dikunjungi adalah kuil-kuil yang ada di Ipoh, seperti kuil Guan Yi, salah satu kuil Cina. Kastil di Ipoh pun tidak kalah menarik juga, kastil yang paling menarik perhatian adalah Kellie’s Castle. Kastil tersebut memiliki gaya bangunan yang sangat kuno dan menarik untuk dipelajari sejarahnya. Dan yang terakhir adalah, art museum khas Ipoh yang cocok untuk dijadikan sebagai spot foto untuk para pengunjung. Art museum favorite yang ada di Ipoh adalah Ipoh Mural Art Trail. Disini para pengunjung akan disajikan oleh berbagai lukisan dan karya seni lainnya yang menggambarkan keragaman kota Ipoh.

Jadi, travelling ke Malaysia tidak harus ke kota modern, kan?

Jessica Ramadhani
Jurnalis PPI Malaysia.

Categories
Berita Festival Luar Negeri PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Mahasiswa Indonesia Sukses Selenggarakan Festival Budaya Se-Asia di Mesir

MESIR, 18 November 2017 – Kreasi anak bangsa dalam kancah internasional memang tidak ada habisnya. Kali ini mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir menyelenggarakan perhelatan budaya akbar yang dinamakan Asian Culture Festival (ACF). Acara yang diselenggarakan pada Sabtu, 18 November 2017 di Gedung Sholah Kamil kota Kairo itu adalah hasil kerjasama organisasi mahasiswa dari 9 negara, yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Fhilipina, Pakistan, Afghanistan, Bangladesh dan Krygyztan.

Festival yang bertajuk Diversity in Spirit Unity itu dihadiri oleh pejabat Kedutaan besar dari beberapa negara, termasuk sejumlah petinggi Universitas Al Azhar. “Perbedaan adalah kekuatan bagi kita, sebagaimana dengan tema acara ini Diversity In Spirit Unity yang berarti keragaman adalah kekuatan bagi kita untuk bersatu. Kita Indonesia juga negara yang beragam, namun kita disatukan oleh keragaman tersebut, dibuktikan dengan semboyan kita Bhineka Tunggal Ika,” ujar Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Cairo Dr. Usman Syihab dalam acara pembukaan.

Acara yang berlangsung meriah dan dihadiri oleh mahasiswa internasional itu menampilkan berbagai kesenian dan budaya dari 9 negara di Asia. Penonton yang hadir tak jarang memberikan tepuk tangan atas penampilan unik dan menarik dari sejumlah negara. Mulai dari penampilan nasyid yang dibawakan oleh Malaysia, lalu tarian yang dibawakan oleh Afghanistan serta atraksi ekstrem Tapak Suci yang dipamerkan oleh mahasiswa Indonesia. Tidak ketinggalan beberapa delegasi pun memutarkan video sebagai perkenalan negara mereka.

 

Tak hanya itu, di luar gedung Sholah Kamil juga terdapat bazaar dan stand dari negara yang berpartisipasi. Para pengunjung memanfaatkan momen ini untuk berfoto dengan stand yang dipenuhi souvenir berbagai negara. Menariknya stand milik mahasiswa Krygyztan bersedia meminjamkan jubah dan topi khas negara mereka kepada para pengunjung agar bisa berfoto. Tak heran stand itu jadi rebutan banyak pengunjung.

Selain membawa pernak pernik khas negara, sebagian delegasi memanfaatkan momen ini untuk menjual berbagai souvenir dan makanan khas negara mereka seperti Indonesia, Malaysia, Singapura dan Afghanistan. Di antara makanan yang dijual, nasi Padang berhasil jadi makanan favorit bagi delegasi dan pengunjung. Terbukti, setelah 3 jam acara dimulai nasi Padang langsung ludes diserbu para pengunjung acara. Sementara stand mahasiswa Aghanistan menyediakan makanan khas negara mereka secara cuma-cuma, di antaranya makanan khas Afghanistan yang rasanya sama seperti bihun.

Selaku inisiator dan pelaksana acara Asian Culture Festival, PPMI Mesir dibanjiri pujian dari pejabat negara lain. Hal itu diakui oleh Pangeran Arsyad Ihsan Nulhaq selaku Presiden PPMI Mesir. “Insya Allah acara ini akan kita pertahankan setiap tahunnya, tidak hanya untuk mahasiswa Asia namun juga untuk Dunia,” tutur Pangeran,  mahasiswa asal Jakarta yang berdarah Minang.

Acara ditutup dengan penampilan Parodi Bisu dari Mahasiswa Bangladesh yang sukse smembuat penonton tertawa. Setelah itu para delegasi bersalam salaman dan mengadakan sesi foto bareng sebelum meninggalkan lokasi acara.

Festival yang baru pertama kali diselenggarakan itu diharapkan dapat memperkuat hubungan silaturahmi Antar Mahasiswa Al Azhar yang berasal dari benua Asia termasuk ajang untuk saling mengenal satu sama lain. Ajang ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa Indonesia untuk berkenalan dengan saudara sesama muslim dari negara di benua Asia lain. Bukan tidak mungkin, di masa depan para mahasiswa ini akan menjadi pemimpin di negara masing-masing. Hubungan silaturrahmi yang mulai dipupuk dari sekarang akan membantu mereka untuk bekerja sama dalam berbagai bidang.**

 

Penulis : Tareq Albana

Islamic Theology, Universitas Al Azhar Kairo

PPMI Mesir

 

Editor: Kartika Restu Susilo

Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

HPMI Yordania Ikuti Diskusi “ASEAN and Middle East: Future Relation” 

JORDAN – Perwakilan Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (HPMI) Jordan mendapat kesempatan untuk hadir dalam Kuliah Umum ASEAN bertajuk “ASEAN and The Middle East: Trajectories for future relations” yang digelar oleh The Committee of The Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), Jordan Institute of Diplomacy (JID) dan Kementerian Luar Negeri Jordan pada Selasa (21/10/2017). Acara yang diadakan di Jordan Institute of Diplomacy, Amman itu dihadiri oleh ratusan peserta dari kalangan para diplomat, pejabat pemerintahan, pebisnis, praktisi dan pelajar.

Acara dibuka dengan sambutan dari Andy Rachmianto selaku Duta Besar RI untuk Yordania dan Palestina. Kuliah umum yang disampaikan oleh eksekutif direktur Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta dan pakar politik dari Indonesia, Dr. Philip Jusario Vermonte itu dimulai pada pukul 10.00 waktu setempat dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dimoderatori oleh Lina Arafat, Direktur Jordan Institute of Diplomacy.

Dalam paparannya, Philip menekankan tiga hal yaitu: politik dan keamanan; ekonomi dan perdagangan; dan hubungan persahabatan. Ia mengawali dengan memaparkan berbagai modal kesamaan yang dimiliki antara regional Asia Tenggara (ASEAN) dan Timur Tengah (Middle East). Pertama, sama-sama beranggotakan negara-negara berkembang yang punya orientasi untuk memajukan negaranya. Kedua, persamaan agama sehingga bisa saling tukar pikiran dalam pengelolaan hubungan antar umat beragama. Ketiga, kebutuhan akan keamanan dalam negeri dan regional dalam menciptakan kedamaian dan dalam menghadapi radikalisme yang sedang berkembang di wilayah regional masing-masing. Terakhir, pertukaran budaya dan perdagangan yang seharusnya memudahkan interaksi antar individu di kedua regional untuk penguatan hubungan persahabatan.

Dalam aspek politik dan keamanan, beberapa hal menjadi poin utama kesamaan antara ASEAN dengan Timur Tengah. Salah satunya ialah penerapan sistem demokrasi dalam pemerintahan negara. Selain itu, telah terbentuk kerjasama bidang industri pertahanan dan keamanan dalam pengadaan alat-alat perlengkapan dan perbaikan kecanggihannya di antara anggota ASEAN dengan negara-negara Timur Tengah. Yang berikutnya perang melawan terorisme, telah terjalin kerjasama dalam bidang pemberantasan terorisme yang dilakukan antar dua negara. Singapura dengan Yordania, Malaysia dengan Turki berkolaborasi dalam perlawanan terhadap terorisme, sementara Indonesia dengan Yordania dalam hal tukar-menukar informasi intelijen dan program deradikalisasi.

“It is known that countries in both regions have established a various of cooperations related to security and the fight against terrorism,” kata Philip ketika memaparkan kerjasama antar region dalam bidang keamanan politik. “Such as the exchange of defence equipment and expertise, information and intelligence sharing, interfaith dialogues, and many more,” tambahnya.

Di sisi ekonomi, Philip menerangkan bahwa tercatat telah lama terbentuk beberapa kerjasama dan perdagangan yang berlangsung antar ASEAN dengan Gulf Cooperation Council dan ASEAN dengan Liga Arab dalam berbagai komoditi perdagangan dan paling utama terkait minyak bumi. Selain itu, tercatat di tahun 2015, negara Timur Tengah yang melakukan hubungan perdagangan dengan ASEAN paling banyak adalah UAE, Saudi Arabia, Qatar, Turki dan Kuwait. Sedangkan untuk ASEAN dengan Jordan, Indoesia yang paling besar, kemudian Thailand, Malaysia dan Singapura.

Dalam segi persahabatan antar regional, bisa saling bertukar pikiran dan budaya antar pemuda atau mahasiswa dengan mengadakan program tukar pelajar. Dalam hal ini, Indoensia salah satu negara ASEAN yang beberapa tahun ke depan akan mendapatkan bonus demografi. Usia produktif (antara 16–45 tahun) lebih banyak dari jumlah populasi penduduk Indonesia dan saat ini sedang mempersiapkan untuk menuju Kebangkitan Indonesia. Duta Besar Andy Rachmianto tidak lupa menyebutkan bahwa Indonesia sebagai bagian dari ASEAN terus membersamai Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Sebagai tambahan, Andy juga menjelaskan genosida yang terjadi di Rohingya sebagai isu penting ASEAN yang masih terus membutuhkan perhatian dan bantuan kemanusiaan dari berbagai negara. Tercatat di tahun 2015, Jordan membawa angin segar dalam persahabatan antara Jordan dengan ASEAN dan menugaskan duta besarnya untuk negara-negara ASEAN. Mesir dan Maroko juga telah melakukan kerjasama dan menjalin hubungan persahabatan dengan negara-negara anggota ASEAN dan selalu mempromosikan hubungan persahabatan dan kerjasama yang penuh kedamaian selamanya.

 

Pelajaran dari ASEAN untuk Timur Tengah

Dalam masalah blok regional, negara-negara Timur Tengah cenderung untuk menerapkan model regionalisasi seperti Uni Eropa, jika telah berkembang secara signifikan. Model tersebut terutama GCC yang telah tercapai kesepakatan besar pada tingkat kesatuan budaya yang diimplementasikan sejak 2015. Kerja sama ASEAN telah dipandu oleh prinsip kesetaraan dan tidak mengintervensi, kooperatif dalam keamanan dan tidak menggunakan kekerasan. ASEAN sering menekankan pencegahan konflik dan bukan mengedepankan militer, sehingga menghasilkan lingkungan yang damai. Piagam ASEAN pada tahun 2008 memproklamasikan “People Oriented” karena pendekatan itu untuk mengejar dan memperdalam regionalisme di Asia Tenggara. Visi ASEAN 2025 membangun sebuah dasar untuk tujuan akhir dalam menciptakan masyarakat ASEAN yang berpusat pada komunitas masyarakat ASEAN (ASEAN Community). ASEAN memiliki masyarakat sipil yang berbasis di setiap negara-negara anggota dengan bangga menggunakan simbol negara “ASEAN”. Ada semakin banyak acara dan aktivitas publik yang mengutip status  tersebut, misalnya forum pemuda ASEAN.

Pada pukul 12.00, acara ditutup setelah sesi tanya jawab selesai kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dan menyantap sajian khas Asia Tenggara dari Indonesia, Malaysia, Thailand dan Filipina.**

 

Pengirim: Miftah Nafid Firdaus

MA Candidate in Islamic Economic and Banking

Yarmouk University, Jordan

 

Editor: Kartika Restu Susilo

Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

HPMI Yordania Ikuti Diskusi "ASEAN and Middle East: Future Relation" 

JORDAN – Perwakilan Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (HPMI) Jordan mendapat kesempatan untuk hadir dalam Kuliah Umum ASEAN bertajuk “ASEAN and The Middle East: Trajectories for future relations” yang digelar oleh The Committee of The Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), Jordan Institute of Diplomacy (JID) dan Kementerian Luar Negeri Jordan pada Selasa (21/10/2017). Acara yang diadakan di Jordan Institute of Diplomacy, Amman itu dihadiri oleh ratusan peserta dari kalangan para diplomat, pejabat pemerintahan, pebisnis, praktisi dan pelajar.

Acara dibuka dengan sambutan dari Andy Rachmianto selaku Duta Besar RI untuk Yordania dan Palestina. Kuliah umum yang disampaikan oleh eksekutif direktur Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta dan pakar politik dari Indonesia, Dr. Philip Jusario Vermonte itu dimulai pada pukul 10.00 waktu setempat dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dimoderatori oleh Lina Arafat, Direktur Jordan Institute of Diplomacy.

Dalam paparannya, Philip menekankan tiga hal yaitu: politik dan keamanan; ekonomi dan perdagangan; dan hubungan persahabatan. Ia mengawali dengan memaparkan berbagai modal kesamaan yang dimiliki antara regional Asia Tenggara (ASEAN) dan Timur Tengah (Middle East). Pertama, sama-sama beranggotakan negara-negara berkembang yang punya orientasi untuk memajukan negaranya. Kedua, persamaan agama sehingga bisa saling tukar pikiran dalam pengelolaan hubungan antar umat beragama. Ketiga, kebutuhan akan keamanan dalam negeri dan regional dalam menciptakan kedamaian dan dalam menghadapi radikalisme yang sedang berkembang di wilayah regional masing-masing. Terakhir, pertukaran budaya dan perdagangan yang seharusnya memudahkan interaksi antar individu di kedua regional untuk penguatan hubungan persahabatan.

Dalam aspek politik dan keamanan, beberapa hal menjadi poin utama kesamaan antara ASEAN dengan Timur Tengah. Salah satunya ialah penerapan sistem demokrasi dalam pemerintahan negara. Selain itu, telah terbentuk kerjasama bidang industri pertahanan dan keamanan dalam pengadaan alat-alat perlengkapan dan perbaikan kecanggihannya di antara anggota ASEAN dengan negara-negara Timur Tengah. Yang berikutnya perang melawan terorisme, telah terjalin kerjasama dalam bidang pemberantasan terorisme yang dilakukan antar dua negara. Singapura dengan Yordania, Malaysia dengan Turki berkolaborasi dalam perlawanan terhadap terorisme, sementara Indonesia dengan Yordania dalam hal tukar-menukar informasi intelijen dan program deradikalisasi.

“It is known that countries in both regions have established a various of cooperations related to security and the fight against terrorism,” kata Philip ketika memaparkan kerjasama antar region dalam bidang keamanan politik. “Such as the exchange of defence equipment and expertise, information and intelligence sharing, interfaith dialogues, and many more,” tambahnya.

Di sisi ekonomi, Philip menerangkan bahwa tercatat telah lama terbentuk beberapa kerjasama dan perdagangan yang berlangsung antar ASEAN dengan Gulf Cooperation Council dan ASEAN dengan Liga Arab dalam berbagai komoditi perdagangan dan paling utama terkait minyak bumi. Selain itu, tercatat di tahun 2015, negara Timur Tengah yang melakukan hubungan perdagangan dengan ASEAN paling banyak adalah UAE, Saudi Arabia, Qatar, Turki dan Kuwait. Sedangkan untuk ASEAN dengan Jordan, Indoesia yang paling besar, kemudian Thailand, Malaysia dan Singapura.

Dalam segi persahabatan antar regional, bisa saling bertukar pikiran dan budaya antar pemuda atau mahasiswa dengan mengadakan program tukar pelajar. Dalam hal ini, Indoensia salah satu negara ASEAN yang beberapa tahun ke depan akan mendapatkan bonus demografi. Usia produktif (antara 16–45 tahun) lebih banyak dari jumlah populasi penduduk Indonesia dan saat ini sedang mempersiapkan untuk menuju Kebangkitan Indonesia. Duta Besar Andy Rachmianto tidak lupa menyebutkan bahwa Indonesia sebagai bagian dari ASEAN terus membersamai Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Sebagai tambahan, Andy juga menjelaskan genosida yang terjadi di Rohingya sebagai isu penting ASEAN yang masih terus membutuhkan perhatian dan bantuan kemanusiaan dari berbagai negara. Tercatat di tahun 2015, Jordan membawa angin segar dalam persahabatan antara Jordan dengan ASEAN dan menugaskan duta besarnya untuk negara-negara ASEAN. Mesir dan Maroko juga telah melakukan kerjasama dan menjalin hubungan persahabatan dengan negara-negara anggota ASEAN dan selalu mempromosikan hubungan persahabatan dan kerjasama yang penuh kedamaian selamanya.

 

Pelajaran dari ASEAN untuk Timur Tengah

Dalam masalah blok regional, negara-negara Timur Tengah cenderung untuk menerapkan model regionalisasi seperti Uni Eropa, jika telah berkembang secara signifikan. Model tersebut terutama GCC yang telah tercapai kesepakatan besar pada tingkat kesatuan budaya yang diimplementasikan sejak 2015. Kerja sama ASEAN telah dipandu oleh prinsip kesetaraan dan tidak mengintervensi, kooperatif dalam keamanan dan tidak menggunakan kekerasan. ASEAN sering menekankan pencegahan konflik dan bukan mengedepankan militer, sehingga menghasilkan lingkungan yang damai. Piagam ASEAN pada tahun 2008 memproklamasikan “People Oriented” karena pendekatan itu untuk mengejar dan memperdalam regionalisme di Asia Tenggara. Visi ASEAN 2025 membangun sebuah dasar untuk tujuan akhir dalam menciptakan masyarakat ASEAN yang berpusat pada komunitas masyarakat ASEAN (ASEAN Community). ASEAN memiliki masyarakat sipil yang berbasis di setiap negara-negara anggota dengan bangga menggunakan simbol negara “ASEAN”. Ada semakin banyak acara dan aktivitas publik yang mengutip status  tersebut, misalnya forum pemuda ASEAN.

Pada pukul 12.00, acara ditutup setelah sesi tanya jawab selesai kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dan menyantap sajian khas Asia Tenggara dari Indonesia, Malaysia, Thailand dan Filipina.**

 

Pengirim: Miftah Nafid Firdaus

MA Candidate in Islamic Economic and Banking

Yarmouk University, Jordan

 

Editor: Kartika Restu Susilo

Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

PPI Lebanon Selenggarakan Diskusi Kebangsaan bersama Menpora

LEBANON, 10 November 2017 – Di sela-sela kunjungan kerja di Lebanon, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi mengisi acara Diskusi Kebangsaan bersama Mahasiswa Indonesia (PPI Lebanon) untuk memperingati Hari Pahlawan 10 November 2017.

Kunjungan itu dalam rangka menjalin hubungan dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Lebanon terkait Kepemudaan dan Olahraga. Bertempat di KBRI Beirut, acara itu dihadiri para Staf KBRI Beirut dan rombongan dari Kementerian Agama yang sedang melakukan penelitian tentang Syi’ah dan Hizbut Tahrir di Lebanon.

Acara dimulai pada pukul 19.30 EET dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Kemudian sambutan oleh Duta Besar LBBP RI untuk Lebanon, H. Achmad Chozin Chumaidy. Dalam sambutannya beliau berpesan kepada seluruh WNI di Lebanon agar selalu berhati-hati dan waspada dikarenakan situasi politik di Lebanon semakin memanas pasca pengunduran diri PM Lebanon, Sa’ad Hariri.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan oleh Menpora. Dalam kesempatan itu beliau menceritakan tentang pengalamannya dari menjadi santri, kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya, hingga masuk ke ranah politik menjadi politisi dan akhirnya menjadi menteri termuda dalam jajaran kabinet Jokowi-JK.

“Ketulusan dan keikhlasan adalah kunci dari kesuksesan hidup. Tanpa keikhlasan para pahlawan mengorbankan harta bahkan nyawa, maka bangsa ini tak kan dapat merasakan manisnya buah kemerdekaan. Jika tanpa keikhlasan dan ketulusan orang tua tercinta dan para guru, maka seorang Imam Nahrawi tidak akan dapat menjadi yang sekarang ini (menteri-red),” ujar Imam Nahrawi.

Setelah pemaparan tersebut, moderator mempersilahkan mahasiswa untuk melontarkan beberapa pertanyaan, di antaranya terkait Sea Games dan Asian Games. “Kemarin Sea Games di Malaysia, hasil Indonesia belum maksimal karena beberapa faktor. Salah satunya karena aturan di Sea Games, tuan rumah boleh menentukan cabang olahraga, artinya tuan rumah bisa memasang cabang olahraga andalan yang lebih kuat dibanding negara lain. Sedangkan di Asian Games berbeda. Tuan rumah tidak diberikan otoritas untuk menentukan cabang olahraga, tetapi sudah ditentukan oleh Olympic Commitee pada semua cabang olahraga yang akan dipertandingkan. Tuan rumah hanya dapat mengusulkan tiga cabang olahraga unggulannya,” kata Menpora.

Dalam diskusi itu, Pak Menteri selalu menyamangati dan memberi dukungan penuh kepada PPI Lebanon baik dukungan moral maupun secara dana dan administrasi.

Acara ditutup dengan foto bersama para mahasiswa dan staf KBRI Beirut. Usai acara, Menpora menyempatkan diri untuk bertanding tenis meja dengan para mahasiswa. Beliau terlihat begitu handal bermain, beberapa kali pukulan smash beliau perlihatkan.

Mahasiswa Lebanon begitu bersyukur dan terkesan atas kehadiran Menpora Imam Nahrawi di tengah-tengah mereka, para Pemuda PPI Lebanon. Semoga pengalaman dan nasehat beliau dapat diterapkan dalam kehidupan. Amiin.**

 

Penulis: PPI Lebanon

Editor: Kartika Restu Susilo

Categories
Berita Inspirasi Dunia PPI Dunia Prestasi Anak Bangsa Suara Anak Bangsa Wawasan Dunia

Kuliah di Luar Negeri Memang Tidak Mudah, Tetapi Kata Menyerah Bukan Jalan Keluarnya

Menuntut ilmu di luar negeri merupakan keinginan banyak orang, berbagai macam alasan dan tujuan menjadi motivasi para pelajar Indonesia untuk menuntut ilmu di negeri orang. Hal tersebut bukanlah tidak mungkin, buktinya saja terdapat sekitar 86.420 mahasiswa Indonesia yang tersebar di 53 negara. Dengan jumlah yang sangat banyak ini, lima peringkat negara dengan jumlah terbanyak pelajar Indonesia adalah Australia, Tiongkok, Kanada, Malaysia, dan Britania Raya. Perjalanan yang ditempuh oleh para mahasiswa yang merantau di negara orang tentu tidak mudah, berbagai macam jenis kegagalan juga dihadapi, dan semua itu mereka ceritakan dalam satu buku.

Buku bertajuk 20 Kisah Perantau Ilmu yang ditulis oleh tim Perhimpunan Pelajar Indonesia di seluruh dunia menyajikan 20 kisah inspiratif pilihan dari para mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di berbagai negara. Beragam kisah dan perjuangan yang dikemas dengan menarik dapat menjadi referensi serta panduan bagi para mahasiswa dan pelajar yang bercita-cita untuk melanjutkan studi di luar negeri.

Setelah perilisan buku 20 Kisah Perantau Ilmu pada 2 Oktober 2017 yang lalu, peluncuran buku secara resmi baru dilaksanakan pada 20 Oktober 2017 di Gramedia Depok. Acara ini mendatangkan 4 narasumber yang merupakan penulis buku ini dan perwakilan BPH PPI Dunia, yaitu Ali Abdillah, Zakiyah Eke, Adi Hersuni, dan Ulfa Ryn. Hatta Bagus Himawan menjadi moderator acara tersebut.

Acara dibuka dengan kata sambutan dari Elexmedia selaku penerbit buku 20 Kisah Perantau Ilmu, lalu Adi Hersuni sebagai perwakilan BPH PPI Dunia, kemudian dilanjutkan oleh Ali Abdillah selaku perwakilan dari 20 penulis. Aninta, Adi dan Ali sepakat bahwa buku ini memberikan perspektif baru bagi pemburu kuliah ke luar negeri yang selalu menghadapi hambatan saat memperjuangkan mimpinya untuk kuliah di luar negeri. Selama ini, buku yang berada di pasaran cenderung lebih menonjolkan kisah sukses kuliah di luar negeri. Sebaliknya buku ini lebih menyoroti bagaimana kegagalan-kegagalan yang dihadapi oleh para penulis saat berburu kuliah ke luar negeri dan proses menjalaninya. Mereka juga menyampaikan bahwa kegagalan bukanlah hal yang luar biasa, untuk bisa kuliah ke luar negeri membutuhkan kerja keras, disiplin dan pantang menyerah dalam menghadapi masalah yang ada. Bahkan pada satu titik, kegagalan adalah kawan baik mereka. Mereka juga menambahkan, saat setelah lulus nanti jangan pernah lupakan negara Indonesia yang telah membesarkan kita.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan talkshow dan tanya jawab. Disini moderator, Hatta, memberikan beberapa pertanyaan kepada narasumber seputar proses mendapatkan beasiswa dan sekolah di luar negeri, dan proses menjalaninya. Beragam cerita disampaikan oleh para narasumber. Sebagai contoh Zakiyah Eke atau biasa dipanggil Eke, untuk dapat bisa meraih mimpinya Eke harus melalui jalan terjal dan berliku. Penolakan-penolakan dan kegagalan sudah menjadi makanan ia selama 3 tahun memperjuangkan mimpinya. Saat itu, Eke juga sedang bekerja saat proses mendaftar beasiswa sekolah ke luar negeri, sehingga ia harus putar otak dan membagi waktu untuk belajar dan mempersiapkan persyaratan kuliah di luar negeri seperti IELTS dan surat-surat lainnya. Khusus untuk
IELTS, Eke menyiapkan waktu tersendiri. Eke sengaja datang ke kantor 2 jam sebelum jam masuk kantor agar bisa belajar IELTS dan juga sepulang kerja Eke meluangkan waktu untuk belajar minimal 2 jam. Tetapi, ternyata kedisiplinan belajar tidaklah cukup, butuh dedikasi dan di sinilah kekuatan mimpi diuji. Tidak serta-merta Eke mendapatkan nilai IELTS yang cukup memenuhi syarat untuk mendaftarkan diri pada beasiswa atau sekolah yang diinginkan. Eke harus mengalami kegagalan 5 kali tes IELTS hingga tes ke 6 dapat membawanya kuliah ke luar negeri dengan beasiswa penuh dari pemerintah Belanda.

Lain lagi cerita dari Adi Hersuni, Adi harus menerima bahwa IPK S1 dia dibawah 3 (tiga). Tetapi hal tersebut belumlah cukup untuk memaksa Adi mengatakan kata menyerah dan mengubur asa kuliah di luar negeri. Adi berjuang dengan berbagai cara hingga harus menyiapkan waktu khusus setiap hari menyiapkan persyaratan ke luar negeri. Adi bercerita, setiap rehat kerja, dia selalu membuka buku persiapan IELTS bahkan tidak jarang Adi pergi ke mushola untuk bisa fokus belajar. Bahkan di tengah proses itu, Adi harus menghadapi kenyataan anak yang masih di dalam kandungan istrinya meninggal dunia. Tetapi lagi-lagi, hal itu tidaklah cukup kuat memendam asa Adi untuk dapat kuliah di luar negeri. Di akhir cerita, Birmingham University menjadi saksi perjuangan Adi yang tanpa kenal kata menyerah. Dan tahun ini, Adi telah pulang dari perantauan di tanah Britania Raya dengan membawa ijazah master-nya.

Kisah selanjutnya adalah tentang Ulfa, yang dihadapi Ulfa berbeda dengan yang lainnya. Izin orang tua yang menjadi kendala utamanya. Tetapi Ulfa bukanlah orang yang gampang mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Seribu satu cara telah difikirkan matang-matang olehnya. Alhasil summer course, conference dan exchange program telah membawanya menjejakkan kaki di universitas-universitas di luar eropa tanpa harus melanggar janji terhadap orang tua-nya.

Kisah terakhir dari Ali Abdillah, untuk menggapai mimpinya Ali harus menghadapi kenyaatan bahwa dialah sekarang yang menjadi kepala keluarga setelah ayahnya meninggalkan ia dan keluarganya 2 tahun sebelumnya. Praktis urusan pemasukan rumah tangga berada di pundak Ali. Disini mimpi Ali diuji dalam merealisasikan mimpi ayahnya untuk kuliah di luar negeri. Masalah boleh datang tapi ikhtiar tidak akan pernah bisa mengkhianati orang yang telah berusaha mati-matian. Sekarang, dia telah membuktikan diri, Leiden University telah ditaklukkannnya dan tentu mimpi-mimpi selanjutnya siap untuk ditaklukkannya.

Di akhir sesi, para narasumber berpesan bahwa saat kita sudah di luar negeri nanti dan sudah meraih mimpi kita nanti, jangan lupakan negeri ini. Banyak hal yang butuh diperbaiki. Memang negeri orang lain akan menawarkan beribu janji untuk perbaikan kehidupan. Tetapi, negeri sendiri selalu layak untuk diperjuangkan.

Narasumber :

– Ali Abdillah (Master – European Union law at Leiden Law School (Belanda), Sekjen PPI Belanda 2015, Ketua BEM UI 2013, Ketua BEM FHUI 2012).

– Zakiyah Eke (Master – Nutrition Epidemiology at Wageningen University & Research (Belanda), Ketua Divisi Humas PPI Belanda 2015).

– Adi Hersuni (Master – Materials Science & Engineering at University of Birmingham (Inggris), Ketua Kantor Komunikasi PPI Dunia 2017, Ketua BEM FTUI 2008, Ketua Ikatan Mahasiswa Metalurgi & Material FTUI 2007).

– Ulfa Ryn (Mobility- Software Engineering, UTeM (Malaysia)).

Moderator
Hatta Bagus Himawan (Master – Innovation management at TU Eindhoven (Belanda))

 

 

Categories
Berita Festival Luar Negeri PPI Dunia

PPI Fair 2017: Kiat, Sharing, dan Motivasi Belajar di Luar Negeri

 

PPI Fair 2017 merupakan acara kolaborasi antara BEM ITS dengan PPI Dunia. PPI atau perhimpunan pelajar Indonesia adalah perkumpulan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri. Acara ini dilaksanakan di Teater A, kampus ITS Sukolilo. Acara ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 30 September 2017 sejak pukul 09.00 sampai 15.00 WIB. Acara ini dihadiri oleh 110 mahasiswa dari berbagai universitas di Surabaya. PPI Fair 2017 berisikan seminar dan pembukaan stand beberapa negara, yaitu Polandia, Malaysia, Portugal, dan Sudan. Pembicara yang turut memeriahkan acara ini adalah M. Ubaidillah dari PPI UAE, Fathan Asadudin dari PPI China, dan Yoga Dwi dari PPI Taiwan. Materi yang dibawakan oleh ketiga pembicara tersebut seputar pengalaman, beasiswa, dan motivasi melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Mahasiswa terlihat antusias dalam mengikuti seminar, banyak mahasiswa yang sengaja bertanya kepada pembicara mengenai apa saja hal-hal yang perlu disiapkan untuk studi di luar negeri, serta rintangan yang sering dihadapi. Selain itu, mahasiswa juga antusias melihat workshop di stand-stand PPI yang tersedia. Terlebih lagi, kedatangan media partner PPI Dunia, INSPIRA, yang turut memeriahkan stand di PPI Dunia 2017. Buku-buku yang dijual oleh INSPIRA meliputi kiat-kiat mendapatkan beasiswa serta buku latihan TOEFL, TOEIC, dan TOEFL iBT yang ramai diburu oleh mahasiswa.

“Bukan masalah luar negerinya, namun ada urgensi kompetensi SDM yang harus dipenuhi. Kalau kita stay di dalam negeri, kita tidak bisa merasakan persaingan yang sebenarnya”, ujar Fathan Asadudin menjawab pertanyaan pentingnya studi di luar negeri. Selain itu Yoga Dwi menimpali, “Saya prefer melaksanakan studi di luar negeri karena banyak hal baru yang bisa dieksplorasi dan dipelajari terutama di bidang budaya dan komunikasi”. M. Ubaidillah juga menjawab pertanyaan ini dengan membahas tentang pentingnya networking, “Ketika belajar di luar negeri kita bertemu dengan masyarakat internasional, ilmu yang diberikan juga semakin beragam dari berbagai background dengan basic concern yang berbeda”, ujarnya menutup seminar PPI Fair 2017.

(dok.PPID/nurjaeni)

Categories
Asia dan Oseania Berita Fashion PPI Negara Wawasan Dunia

Sayembara Desain Batik dari Negeri Sakura

Karya pemenang sayembara batik, Morinta Rosandini

Kanazawa, 30 September 2017, PPI Jepang, PPI Hokuriku, dan PPI Ishikawa mengadakan sayembara yang bertujuan untuk promosi batik di Jepang. Tidak hanya sayembara, diadakan juga bincang-bincang yang dihadiri para ahli batik. Diharapkan kesadaran akan berharganya batik dapat tersampaikan bagi para hadirin.

            Bertempat di Ishikawa International House, sayembara dan bincang-bincang dihadiri oleh tiga narasumber: Ibu Alinda F.M. Zain, selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Tokyo; Ibu Rodia Syamwil, selaku Dewan Batik Nasional; dan  Prof. Haruya Kagami dari Kanazawa University yang pernah melakukan riset di Bali pada 1981.

Imam Tahyudin selaku Ketua Komsat Ishikawa menyampaikan sepatah kata sebagai pembuka acara tersebut. Sejak awal terselenggaranya acara ini, sayembara batik merupakan salah satu program kerja unggulan PPI Ishikawa yang pernah memenangkan penghargaan dari PPI Dunia karena dianggap sukses mempromosikan Indonesia di muka dunia. Selanjutnya, Ibu Alinda juga memberikan kata sambutan. Menurut beliau, batik sebagai salah satu contoh kekayaan warisan budaya Indonesia, tentunya harus kita lestarikan. Namun, sebagai WNI di luar negeri, kita juga harus melakukan sosialisasi agar batik dapat dikenal oleh masyarakat dunia.

Memasuki sesi bincang-bincang, kembali Ibu Alinda menekankan pentingnya pelestarian batik. Mungkin pernah terbesit di benak tentang peristiwa reog Ponorogo yang sempat diklaim oleh Malaysia tahun 2007. Demi mencegah hal seperti ini terulang kembali, sosialisasi batik sudah dilakukan oleh pemerintah seperti menerapkan hari batik setiap Jumat. Langkah seperti ini diambil untuk menanamkan pentingnya batik sebagai bagian dari identitas bangsa. Sayembara batik kali ini juga merupakan perwujudan nyata dari para pelajar Indonesia dalam menguatkan batik sebagai identitas.

Meskipun batik lekat dengan sesuatu yang resmi, pengunaannya tidak harus selalu demikian. Memang kerap kali batik dikenakan untuk acara kenegaraan ataupun acara-acara lain yang mempertemukan kita dengan tamu penting. Padahal batik dapat juga dikenakan untuk sehari-hari. Misalnya mengabungkan kemeja batik dan celana jins dapat memberikan kesan yang lebih santai tetapi tetap rapi dan sopan. Langkah-langkah seperti ini dapat kita lakukan dalam keseharian, sekaligus promosi batik kepada lingkungan sekitar kita.

Batik pertama kali diperkenalkan lewat sidang PBB tahun 2009.  Ibu Rodia menjelaskan bahwa batik sebenarnya tidak hanya terdapat di Indonesia, tetapi juga di India, Jepang, bahkan di Slovakia yang berada di bagian timur Eropa. Batik juga melewati berbagai perkembangan zaman hingga menjadi seperti  hari ini. Batik di zaman kerajaan Hindu tentunya berbeda dengan kerajaan Islam, pun berbeda pula dengan yang ditemukan di Kesultanan Yogyakarta. Hal yang paling mencolok adalah perbedaan motif.

Prof. Haruya menjelaskan pentingnya motif batik dan juga filsafat yang terkandung daripadanya. Mengambil contoh batik yang terdapat di Jepang, Prof. Haruya menjelaskan makna dari beberapa motif batik. Misalnya motif Gunung Fuji menggambarkan tempat bersemayam para dewa, tempat yang tiada duanya. Ada juga motif bahan makanan mentah yang bermakna hasil alam berlimpah. Motif yang tertuang pada kain menggambarkan keadaan dan harapan sang penggambar, serta memberikan identitas pada batik, menjadikannya sesuatu yang spesial.

Di akhir sayembara ini, para narasumber mengumumkan pemenang desain batik. Sayembara tahun ini dimenangkan oleh Morinta Rosandini, dosen Telkom University dengan judul “Kanaka Batik”. Hadiah berupa sertifikat dan uang pelatihan diserahkan langsung oleh para narasumber. Tidak lupa, pada kesempatan itu PPI Ishikawa juga meluncurkan buku “Bunga Rampai Achantus: Sejuta Cerita Dari Kanazawa”. Buku ini berisi kumpulan cerita mahasiswa yang saat ini berdomisili di Kanawawa. Harapannya buku ini dapat menjadi panduan bagi teman-teman yang berencana ke Jepang dan juga penyemangat bagi para pelajar di Jepang.

Mari kita sama-sama melestarikan batik dalam keseharian dan tidak melupakan pentingnya warisan kebudayaan Indonesia!

Penulis: Theodorus Alvin

Tokai University (Undergraduate), School of Information Science, Dept. of Human and Information Science

 

Editor: Kartika Restu Susilo

Categories
Berita PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Pelajar Indonesia di Afrika Selatan Taklukkan Drakensberg dan Table Mountain

Liputan Pretoria – Dalam mengisi liburan Idul Adha tahun ini, 3 hari setelah Idul Adha 5 pelajar di Darul Uloom Zakariya mengadakan penjelajahan ke pegunungan Drakensberg di Afrika Selatan, dari kelima pelajar tersebut, 2 dari Indonesia adalah Salman Farisi dan Erza Aulia Hafiz. Perjalanan menuju ke Drakensberg, dibutuhkan waktu sekitar 4-5 jam dari Johannesburg atau 2 jam dari Durban. Perlu kita ketahui, dalam bahasa Afrikaans Drakensberg memiliki arti “gunung naga”, pegunungan drakensberg ini terletak dekat dari negara Lesotho.

Salman dan Erza di Pegunungan Drakensberg

Hari pertama penjelajahan di drakensberg menghabiskan waktu 8 jam pendakian pulang pergi, adapun hari kedua menghabiskan waktu 7 jam. Ketika sampai di puncak, maka hamparan savanna terpanjang akan ada di depan mata. Tersedia permainan alam seperti berkuda dan hiking, di puncak drakensberg mereka membentangkan logo PPI Afrika Selatan. Hari ketiga mereka mengunjungi Durban, tepatnya Central North Beach dan Ushaka Resort Beach sekaligus bertemu dengan Bayu Tri Murti dan Athika Darumas Putri, pelajar Indonesia di Durban University of Technology. Bayu juga merupakan Ketua PPI Afrika Selatan atau Indonesian Students Association of South Africa (ISAAC).

Salman dan Erza bertemu dengan Bayu, Ketua PPI Afrika Selatan

Hari keempat, tim mengambil rute pendek, Sunday Falls yang memerlukan waktu 2 jam pendakian pulang pergi. Awalnya mereka ingin mendaki Tugela Falls, air terjun tertinggi kedua di dunia, namun karena tidak ada air dan jarak tempuhnya lumayan jauh (sekitar 8 jam pendakian), akhirnya mereka batalkan.

Jaket PPI Dunia di Puncak Table Mountain, Capetown

Drakensberg bukanlah pegunungan pertama yang mereka taklukkan, seminggu setelah Idul Fitri 2017 kemarin, mereka telah membentangkan logo PPI Afrika Selatan di Table Mountain, sebuah landmark kota Capetown, Afrika Selatan. Tim terdiri dari 15 orang, 3 dari Indonesia, 7 dari Malaysia dan 5 dari Capetown. Perjalanan diawali dengan menaiki kereta cepat Gautrain dari Pretoria ke Marlboro. Untuk ke puncak Table Mountain terdapat kereta gantung, namun tim lebih memilih dengan mendaki, karena dengan mendaki mereka bisa menikmati alam yang begitu indah serta angin yang sepoi-sepoi. [] (Imam Khairul Anas)

Puncak Table Mountain, Capetown
Pemandangan di Drakensberg
Pemandangan di Drakensberg 2
Howick Falls
Pemandangan yang terlihat dari Table Mountain, Capetown
Gunung Lion’s Head terlihat dari Puncak Table Mountain, Capetown

YM Duta Besar LBBP RI untuk Republik Afrika Selatan Merangkap Kerajaan Swaziland dan Kerajaan Lesotho, Bpk. Suprapto Martosetomo dengan PPI Afrika Selatan

Categories
Berita PPI Dunia

Hasil Rekomendasi Simposium Internasional ke-9 PPI Dunia

Simposium Internasional Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia tahun ini dihelat di University of Warwick, United Kingdom. Simposium tahunan PPI Dunia tersebut berlangsung dari tanggal 24 Juli hingga 26 Juli 2017. Simposium kali ini mengusung sebuah tema “Accelerating Indonesia’s National Potential Towards 2030”.

 

Pembukaan

Perhelatan ini dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan sambutan dari Prof. Christine Ennew, Alanda Kariza sebagai Ketua PPI UK, dan Intan Irani sebagai Koordinator PPI Dunia 2016/2017. Acara kemudian dilanjutkan dengan Keynote Speech oleh Richard Graham MP (UK Trade Envoy to Indonesia and Chairman of Indonesia All Party Parliamentary Group) yang dapat dibaca lebih lanjut di sini. Setelah pembukaan dan kata sambutan, acara dilanjutkan dengan diskusi panel.

 

Diskusi Panel

Pada hari pertama terdapat tiga sesi panel diskusi yang diawali oleh panel diskusi utama  dengan tema “How can Indonesia’s budding creative industry & entrepreneurship solidify Indonesia’s creative economy?” Panel diskusi ini dibawakan oleh Prof. Dr. T.A Fauzi Soleiman, Didiet Maulana, dan Dian Pelangi.

Kemudian dilanjutkan dengan 3 panel diskusi secara paralel, yaitu mengenai:

  1. Entrepreneurship oleh Handry Satriago, Kusumo Martanto, dan Nancy Margried
  2. Development oleh Tri Rismaharini, Hiramsyah S. Thaib, dan Budiman Sudjatmiko
  3. Literature & Publishing oleh Andrea Hirata, Khairani Barokka, dan Dewi Laila

Terakhir adalah 4 panel diskusi secara paralel yang membahas mengenai:

  1. Fashion oleh Dian Pelangi, Ria Miranda, dan Elidawati
  2. Government & Politics oleh Yanuar Nugroho, Adam Tyson, dan Arief Zulkifli
  3. Education oleh Eka Simanjuntak, George Saa, Najelaa Shihab, dan Analisa Widyaningrum
  4. Financial Services oleh Endy Dwi Tjahjono, Destry Damayanti, dan Professor Mohammed Abdel-Haq

Seminar Indonesian Scholar International Convention (ISIC)

Seluruh peserta menghadiri seminar yang dibawakan oleh public figure serta pemerintah Indonesia. Sudirman Said  yang merupakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyampaikan topik “Indonesia’s Demographic Boost in 2030.” Kemudian acara dilanjutkan dengan panel diskusi utama dengan topik “How to best prepare Indonesia’s Young Generation for 2030 Demographic Boost?” yang dibawakan oleh Handry Satriago (CEO daari GE Indonesia), Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, M.A (Gubernur Nusa Tenggara Barat), Dr. David Johnson (Reader in Comparative and International Education University of Oxford).

Rapat Tahunan PPI Dunia

Sebagai permusyawaratan tertinggi PPI Dunia, Simposium Internasional ini tidak hanya menjadi wadah berkumpulnya anggota delegasi dari berbagai PPI Negara untuk bersilaturahmi dan menghadiri diskusi-diskusi panel. Tetapi juga merupakan tempat untuk mahasiswa-mahasiswi Indonesia tersebut bertukar pikiran dan mengkontribusikan pengetahuan mereka untuk menghasilkan butir-butir rekomendasi Simposium Internasional PPI Dunia.

Sidang internal yang merupakan agenda utama Simposium Internasional PPI Dunia berlangsung pada tanggal 25 hingga 26 Juli 2017. Sidang yang dilaksanakan pada pukul 09.30 – 00.00 ini dihadiri oleh 27 PPI Negara. Sidang ini dibagi menjadi 8 pleno dan dipimpin oleh 3 orang pimpinan sidang, yaitu Nazlatan Ukhra Kasuba (PPI Malaysia), Muhammad Iksan Kiat (PERMIRA Rusia), dan Bahesty Zahra (PPI Iran).

Dalam sidang tersebut, telah dilakukan pengesahan amandemen AD/ART PPI Dunia yang selama ini dirancang oleh Tim Ad Hoc AD/ART PPI Dunia. Laporan Pertanggungjawaban Dewan Presidium PPI Dunia 2016/2017 juga diterima oleh para delegasi PPI Negara tanpa syarat. Setelah itu, sidang dilanjutkan dengan pembahasan rekomendasi program kerja untuk kepengurusan PPI Dunia periode selanjutnya. Para anggota delegasi PPI Negara dibagi menjadi 4 komisi dan melakukan diskusi per kelompok. Komisi-komisi tersebut adalah:

  1. Komisi Pendidikan, dipimpin oleh Pandu Utama Manggala (PPI Jepang);
  2. Komisi Sosial dan budaya, dipimpin oleh Muhammad Dhafi Iskandar (PPI Perancis);
  3. Komisi Ekonomi, dipimpin oleh Dianna Priscyla Kusuma Dewi (PPI Swiss); dan
  4. Komisi Teknologi Digital, dipimpin oleh Masduki Khamdan Muchamad (PPI Malaysia).

Setelah selesai dengan diskusi komisi, sidang pada tanggal 25 Juli 2017 tersebut ditutup. Sidang kemudian dilanjutkan pada hari selanjutnya yang membahas tentang pemilihan Dewan Presidium PPI Dunia untuk periode selanjutnya, 2017/2018. Setelah diskusi yang intens, akhirnya terpilih susunan Dewan Presidium 2017/2018 sebagai berikut:

  • Koordinator PPI Dunia 2017/2018: Pandu Utama Manggala (PPI Jepang)
  • Koordinator kawasan Amerika Eropa 2017/2018: Muhammad Iksan Kiat (PERMIRA)
  • Sekretaris kawasan Amerika Eropa 2017/2018 : Muhammad Syukron (PPI Polandia)
  • Koordinator kawasan Asia-Oceania 2017/2018 : Zulfadli (PPI Malaysia)
  • Sekretaris kawasan Asia-Oceania 2017/2018 : Ester Liana (PPI Tiongkok)
  • Koordinator kawasan Timur Tengah dan Afrika 2017/2018 : Ikhwan Ramputi (PPI Mesir)
  • Sekretaris kawasan Timur Tengah dan Afrika 2017/2018 : Bahesty Zahra (PPI Iran)

 

Dan Tuan Rumah Penyelenggara Simposium PPI Dunia Periode 2017/2018 sebagai berikut:

  • Simposium Internasional PPI Dunia 2018: PERMIRA Rusia
  • Simposium kawasan Amerika-Eropa 2018: PPI Jerman
  • Simposium kawasan Asia-Oceania 2018: PERMITHA Thailand
  • Simposium kawasan Timur Tengah-Afrika 2018: PPI Pakistan

Terakhir, sidang diakhiri dengan pengesahan hasil diskusi komisi yang dilakukan pada hari sebelumnya. PPI Dunia melahirkan gagasan untuk Indonesia.

Diskusi per komisi tersebut menghasilkan Rekomendasi Simposium Internasional PPI Dunia sebagai berikut:

 

KOMISI PENDIDIKAN

  1. Memfokuskan pada kajian isu perbaikan kualitas dan profesionalisme guru serta manajemen tata kelola pendidikan.
  2. Program konkret yang dapat dilakukan Antara lain adalah dengan mengadakan kegiatan studi banding dan pelatihan guru serta kepala sekolah dari daerah di Indonesia ke luar negeri. Mitra utama yang dapat dirangkul untuk program ini antara lain adalah Cerdas Digital, Ruang Guru dan dapat menggunakan platform Pesta Pendidikan.

 

KOMISI SOSIAL BUDAYA

  1. Mendukung program pengembangan destinasi wisata dari Kementrian Pariwisata RI, dan bekerjasama dengan sebaik-baiknya untuk memperkenalkan destinasi pariwisata di daerah-daerah Indonesia.
  2. Bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata RI dalam penyediaan konten, jaringan promosi, serta hal-hal lainnya untuk meningkatkan kualitas acara-acara budaya yang akan dilaksanakan oleh masing-masing PPI Kota, Negara dan/atau kawasan.
  3. Bersinergi dengan komunitas lokal untuk mengadakan kegiatan budaya yang menonjolkan karakteristik dan kearifan budaya setempat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjangkau komunitas lokal tersebut adalah dengan menyebarkan angket dan sayembara. PPI Dunia berkomitmen untuk menjadi mentor bagi para komunitas lokal ini mengembangkan keterampilannya.
  4. Membuat kajian advokasi isu kemanusiaan baik di tanah air maupun isu HAM di luar negeri seperti Palestina dan negara lain yang dianggap perlu, dengan merangkul berbagai kalangan dan pakar.

 

KOMISI EKONOMI

  1. Rencana aksi yang bersifat internal
    • PPI Dunia menjadi Duta pariwisata Indonesia di masing masing Negara.
    • PPI Dunia menjadi Duta ekonomi kreatif di masing masing Negara
    • PPI Dunia berusaha membangun kerjasama multidisiplin untuk mengembangkan perekonomian kreatif Indonesia
  1. Rencana aksi yang bersifat eksternal
    • Pengembangan ekonomi pariwisata di Indonesia
    • Pengembangan ekonomi syariah di Indonesia
    • Kajian terkait pembangkit listrik dan pengembangan energi terbarukan
    • Kajian terkait diversifikasi industri agar Indonesia tidak terlalu tergantung kepada ekspor sumber daya alam
    • Peningkatan kapasitas SDM Indonesia sebagai salah satu upaya optimalisasi penggunaan minyak, gas dan hasil tambang nasional

 

KOMISI TEKNOLOGI DAN DIGITAL

  1. Mengkaji kebijakan pemerintah dan komparasi studi dengan negara lain yang lebih unggul dalam pengguaan fintech, kajian ini akan dikaji dalam beberapa sub topik:
    • Regulasi E-Commerce: Kajian regulasi e-commerce sehingga dapat membangun lingkungan yang kondusif bagi para pemuda penggiat start up.
    • Security: Kajian mengenai cyber security sangat penting, terutama bagaimana cara meningkatkan kesadaran diri akan pentingnya privacy dan information security
    • Digital Currency: Penggunaan mata uang digital (bitcoin) akan semakin masif, sehingga dibutuhkan kajian untuk dapat membangun lingkungan yang sesuai dengan karakteristiknya sekaligus mencegah penyalahgunaannya.

 

Page 1 of 6
1 2 3 6