logo ppid

Selasa 24 Oktober 2017, Kesatuan Keluarga Mahasiswa Indonesia (KKMI) Libya mendapat penghargaan dari International Islamic Call College (IICC), Tripoli, sebagai organsasi kenegaraan yang teraktif, kreatif dan inovatif. Penghargaan tersebut langsung diterima oleh Presiden KKMI Libya, Alvan Satria Shidiq. Penghargaan itu diberikan di Auditorium kampus IICC, pada acara wisuda angkatan ke 40 lulusan IICC.

“Penghargaan ini kami dapatkan dari perjuangan teman-teman mahasiswa Indonesia di Libya. Dengan segala keterbatasan dan berbagai kesulitan di negara Oemar Mohktar ini, pasca jatuhnya Muammar Kaddafi 2011 lalu yang hingga saat ini masih meninggalkan bekas nan tak kunjung sembuh. Walaupun demikian, kami mahasiswa Indonesia di sini tak ingin ikut terpuruk dalam kegalauan yang melanda negeri Libya. Ibarat lilin, kami ingin menjadi penerang untuk mahasiswa lain yang berasal dari berbagai negara di kampus ini. Kami buktikan bahwa kami bisa berbuat walapun terhimpit kesulitan. Terbukti pada Febuari tahun ini, kami sukses mengadakan acara Pengenalan Budaya Indonesia yang dihadiri oleh mahasiswa dari 30 negara berbeda, pada akhirnya mendapatkan sanjungan dan pujian yang luar biasa”, demikian ungkap Alvan. “Selain itu, penghargaan ini kami dapatkan tak lepas dari dukungan dan sokongan dari Duta Besar Indonesia untuk Libya, Bapak Raudin Anwar beserta para staf KBRI yang lainnya. Peran KBRI Tripoli di sini sangat penting, sebagai orang tua kami di Libya memberi nasehat dan arahan tentang kuliah di Libya”, tambah pemuda Minang ini.

Selain mendapatkan penghargaan untuk organisasi, beberapa orang mahasiswa yang merupakan anggota KKMI Libya juga mendapatkan apresiasi atas prestasi mereka di bidang akademik, diantaranya Okky Afrianto, mahasiswa tahun tiga kuliyah, jurusan Bahasa Arab dan Chairul Amin Mubarak, mahasiswa tahun tiga kuliyah, jurusan Syariah, kedua-duanya mendapatkan penghargaan atas pencapaian mereka dengan nilai tertinggi di kelas masing-masing, keduanya mendapatkan nilai mumtaz.

Bapak Untung, salah seorang staf KBRI yang turut hadir menyaksikan acara wisuda dan pemberian penghargaan ini pun, merasa bangga atas apa yang telah diraih mahasiswa Indonesia di Libya. Beliau mengatakan, “semoga kedepannya prestasi mahasiswa Indonesia di Libya dapat ditingkatkan lagi”.

Hanif Ma’asy Rachman, salah seorang anggota KKMI Libya yang juga merupakan Menteri Olahraga di kepengurusan BEM kampus IICC mengatakan, “Alhamdulillah Indonesia disanjung-sanjung oleh para tamu yang hadir pada acara ini”, ungkapnya dengan senyuman lebar. “Harapan kami semoga ke depannya KKMI Libya bisa lebih eksis lagi, bukan hanya skala kampus tapi bisa mngenalkan Indonesia lebih luas lagi kepada masyarakat Libya”, tambahnya.

Wisuda ini dimulai pukul 10.00 pagi waktu Tripoli, acaranya berjalan lancar hingga selesai pada pukul 14.00 waktu Tripoli. Selain dihadiri oleh mahasiswa, para perwakilan dari kedutaan berbagai negara pun turut hadir, di antaranya perwakilan dari kedutaan Indonesia, Filipina, Sudan, Bangladesh, Turki dan beberapa negara lain dari benua Afrika.

Setelah acara ini selesai, di luar gedung sudah disambut oleh para penunggang kuda, dengan pakaian tradisional Libya. Ada tiga kuda beserta para jokinya masing-masing. Hal ini menambah semarak kegiatan wisuda kampus International Islamic Call College (IICC) tahun ini.

Penulis:Riyadi S. Harun

 

 

 

 

 

Wisuda merupakan saat bersejarah bagi mahasiswa bahkan pelajar sekalipun, tak terkecuali bagi para punggawa-punggawa Indonesia yang menuntut ilmu di Tripoli, Libya. Lembaga pendidikan bernama International Islamic Call College (IICC) atau Kulliyah Dakwah Islamiyah Al A’lamiyah yang didirikan sejak tahun 1974 ini merupakan tempat para mahasiswa Indonesia dan mahasiswa asing lainnya belajar ilmu agama Islam serta bahasa Arab. Lembaga ini didirikan secara khusus untuk mendidik para calon dai dari berbagai belahan dunia agar bisa menyebarkan agama Islam yang rahmatan lil 'alamin.

Di tengah berbagai kemelut yang terjadi di Libya sejak 2011 lalu tak menjadikan penghalang bagi lembaga ini untuk tetap eksis menjalankan misinya dalam rangka menyebarkan agama Islam yang moderat. Hal ini dibenarkan oleh Rektor IICC DR. Solah Salim dalam sambutannya ketika acara wisuda angakatan 40 , selasa 24 -10-2017. beliau menceritakan perjalanannya ke Paris sekitar sebulan yang lalu untuk menghadiri sebuah pertemuan tentang isu keIslaman dan ketika itu ada orang yang bertanya : “apakah di Libya ada orang yang belajar, dan bagaimana proses belajar bisa berlangsung, serta adakah mahasiswa yang belajar disana ? dengan semangat membara beliau berkata: ”Kami sampai detik ini masih berkhidmat untuk menjalankan tugas ini dan alhamdulillah sampai saat ada sekitar 3000 mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai negara yang belajar di bawah naungan lembaga baik itu yang terdapat di pusat (Tripoli) maupun di berbagai cabang seperti Benin, Chad, Senegal, Libanon dan Inggris". Hal ini sontak saja membuat si penanya terkejut dan terharu seketika itu dan tak luput pula rasa bangga ini menyelimuti para hadirin yang mendengar cerita sang Rektor dengan standing applause yang meriah serta diselingi gema takbir.

Acara wisuda kali ini dihadiri oleh para staf yayasan, para dosen, tamu undangan dari berbagai kedutaan termasuk perwakilan dari Kedutaan RI di Libya serta mahasiswa IICC. Acara berlangsung lancar dan khidmat. Para wisudawan terlihat sangat khusyu’ mendengarkan wejangan dan nasihat yang disampaikan Rektor sebagai bekal terakhir untuk para mahasiswa yang nantinya akan kembali ke negara masing-masing. Kemudian acara dilanjutkan dengan pembagian Syahadah/Ijasah kepada masing-masing wisudawan serta pemberian berbagai penghargaan untuk para karyawan terbaik serta para juara kelas dari berbagai jurusan yang ada. Selain itu ada kebanggaan tersendiri bagi Kesatuan Keluarga Mahasiswa Indonesia (KKMI) Libya yang berhasil menyabet penghargaan sebagai organisasi atau perhimpunan kenegaraan yang paling aktif, kreatif dan inovatif di lingkungan kampus IICC. Alvan Satria Siddiq selaku Presiden KKMI mengatakan: ”Kami merasa senang atas pencapaian ini dan tentunya sangat berterima kasih kepada kawan-kawan KKMI atas kerjasamanya serta pihak KBRI yang tak luput memberikan bantuan dan sokongannya”.

Untuk tahun ini mahasiswa Indonesia yang lulus berjumlah 5 orang namun yang berkesempatan diwisuda berjumlah tiga orang dari berbagai jurusan yaitu : Agus Mujib (Bahasa dan Sastra Arab), Hafidz Mustofa (Bahasa dan Sastra Arab), Arif Damanhuri (Syariah). Dua orang lainnya Gusri dan Aziz Abdul Gofar langsung menuju tanah air tercinta setelah melaksanakan tugas sebagai Tenaga Musim Haji (TEMUSH) di Arab Saudi. Luapan rasa syukur dan bahagia tentunya dirasakan oleh para wisudawan, tak terkecuali bagi Agus Mujib salah satu mahasiswa Indonesia yang berasal dari Cirebon, Jawa barat . Ia menuturkan: “Pencapaian ini saya apresiasikan untuk orang tua saya yang selalu mendoakan dan memberi dukungan penuh selama proses belajar berlangsung walaupun jarak yang jauh membentang dan juga kepada kawan-kawan yang telah menemani saya dalam suka maupun duka agar kita sama-sama mampu bertahan melewati proses belajar yang tidak mudah untuk dilewati namun akhrinya kita mampu berjalan sampai akhir. Selain itu, yang terpenting adalah mudah-mudahan keadaan Libya berangsur normal sehingga mempermudah akses untuk mendapatkan kesempatan belajar di kampus IICC dan universitas lainnya di Libya, aamiin.”

Penulis: Agus Mujib, mahasiswa S1 jurusan Bahasa dan Sastra Arab International Islamic Call College Tripoli, Libya.

Bertempat di Hotel Lu'lu'ah 'Aziziyah, Makkah al-Mukarramah pada hari Kamis, 7 September 2017, seperti di tahun-tahun sebelumnya, PPMI Arab Saudi menjamu para tenaga musiman haji (TEMUSH) dari perwakilan PPI Negara di kawasan Timur Tengah & Afrika. Total ada 9 negara yang mendapatkan kuota TEMUSH di musim haji 1438 H/2017 M, yakni Lebanon (2 orang), Libya (2 orang), Mesir (45 orang), Maroko (5 orang), Sudan (12 orang), Syria (5 orang), Tunisia (2 orang), Yaman (8 orang), Yordania (4 orang).

Di pertemuan silaturrahmi tersebut, dibuka dengan sambutan dari tuan rumah, PPMI Arab Saudi, yang langsung diberikan oleh Ketua Umum PPMI Arab Saudi periode 2017-2019, Sdr. Byan Aqila Ramadhan. Selanjutnya, perwakilan masing-masing PPI negara memperkenalkan diri dan menceritakan kondisi negara tempat studi, disertai dengan diskusi tanya jawab singkat. Acara disambung dengan sharing singkat dari perwakilan PPI Dunia oleh Sdr. Rama Rizana, penjelasan tentang Aliansi Keputrian Timur Tengah & Afrika (AKTA) oleh Sdri. Rahmah Rasyidah, dan acara ditutup dengan sesi foto bersama, serta makan bareng. Sebelum sesi foto bersama, SekJend PPMI Arab Saudi 2015-2017 Sdr. Prabasworo Jihwakir, menyampaikan beberapa pesan pengingat, di antaranya mengenai wacana penambahan kuota TEMUSH Timur Tengah & Afrika dari Komisi VIII DPR RI yang perlu dikawal.

Liputan Tripoli - Malam itu menjadi malam yang panjang dan melelahkan namun sekaligus membahagiakan bagi keluarga besar KKMI Libya. Berkat kerja keras anggota KKMI Libya yang dikoordinatori oleh Departemen Kesenian dan Kebudayaan, acara “Malam Kebudayaan Indonesia” yang diadakan pada tanggal 20 Februari 2017 telah sukses digelar. Acara yang diadakan di kampus Kuliyah Dakwah Islamiyah Al’alamiyah (International Of Islamic Call College) ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai Negara di belahan Benua seperti Amerika, Afrika, Asia dan Eropa serta dihadiri oleh Rektor Kuliyah Dakwah Islamiyah Al’Alamiyah Dr. Solah Salim.

Acara-acara seperti ini memang sering dilaksanakan oleh KKMI sebelum Revolusi 2011 yang menggulingkan Presiden Kadafi. setelah revolusi tersebut belum pernah lagi diadakan acara seperti ini karena sedikitnya mahasiswa yang bertahan. Agus mujib (Presiden KKMI Libya) mengatakan, "Dengan bermodalkan semangat dan dukungan dari KBRI secara moril maupun materil akhirnya kami memberanikan diri untuk membuat acara ini dengan tujuan untuk mengenalkan Budaya Indonesia di hadapan para mahasiswa asing lainnya dan Alhamdulillah acara ini bisa dihadiri langsung oleh Rektor beserta keluarganya." Selain itu, respon dari teman-teman mahasiswa asing lainnya sangat antusias dan mereka sangat terhibur, juga menambah wawasan serta ajang promosi wisata Indonesia.

Salah seorang mahasiswa senior dari Burkina Faso yang bertanggung jawab meliput setiap acara di kampus mengatakan, "Setelah 2011 sampai saat ini belum pernah ada acara semeriah dan semenarik malam ini. Hal ini merupakan rekor tersendiri yang dipecahkan oleh mahasiswa Indonesia, kehadiran para mahasiswa mencapai 90% hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya."

Acara seperti ini nampaknya sudah biasa diselenggarakan pada umumnya oleh mahasiswa Indonesia di berbagai negara namun dengan keadaan yang tak biasa seperti sekarang ini, benar-benar memberikan warna berbeda dan kesan tersendiri bagi mahasiswa Indonesia di Libya. Selain itu juga acara ini merupakan langkah awal untuk menjadikan KKMI lebih maju dan terus berkembang menjadi lebih baik lagi.

Penampilan-penampilan yang menarik, seperti Silat, tari Indang dan tari Saman menjadikan euforia tersendiri bagi para penonton. Drama tentang Suriah menjadi penutup panggung “Malam Kebudayaan Indonesia”. Loncatan pertama telah digapai. Anggota KKMI Libya berharap acara ini bisa dikembangkan lebih luas lagi dengan ruang lingkup Libya, tentunya hal ini akan terwujud beriringan dengan doa para pembaca sekalian. (Red, agus mujib / Ed, pw)

Galeri Foto:

Liputan Libya - Tepat di awal tahun 2017 Kesatuan Keluarga Mahasiswa Indonesia (KKMI) Libya, mengadakan “Turnamen Tennis Meja” di Tripoli, Libya. Turnamen ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai negara. Ada yang dari Asia di ataranya Thailand, Vietnam, Kamboja, Malaysia, Indonesia, China, Afghanistan, Pakistan dan negara-negara Asia lainnya. Selain itu juga diikuti oleh mahasiswa dari Eropa seperti Serbia dan Kosovo, dari benua Afrika pun tak mau kalah; Senegal, Mali, dan Rwanda. Beberapa negara ini pun mengutus pemain terbaiknya. Tepatnya ada 17 negara yang ikut serta dalam turnamen ini.

Turnamen ini bertujuan untuk meningkatkan rasa sportivitas dan pesaudaran antarmahasiswa yang ada di International Of Isalmic Call College (IICC), Tripoli, Libya. Turnamen ini dibagi menjadi dua cabang; single dan double. Untuk Indonesia sendiri mengutus dua orang pemain single, Indonesia A yaitu Agus Mujib dan Indonesia B adalah Ahmad Zahabi, sementara untuk double Indonesia juga mengutus dua tim. Tim A ada Zaky Imamuddin dan Chairil Amin Mubaarak, sedangkan Tim B ada Habiburrahman dan Hambali.

Turnamen ini berlansung selama satu minggu yang diadakan di aula mahasiswa IICC. Turnamen tersebut berlansung cukup sengit, masing-masing mahasiswa dari berbagai negara itu memang sudah cukup terlatih untuk permainan tenis meja. Tepat dimulai pada 7 Januari 2017 pertandingan pertama double Indonesia B melawan Thailand. Dengan permainan yang menantang dan tegang karena kedua tim saling menunjukan perlawanan. Sayang pada akhir pertandingan Indonesia B harus menerima kekalahan dan membiarkan Thailand maju ke babak selanjutnya. Untuk single Indonesia A melawan Rwanda di sambut baik dengan kemenangan Indonesia, begitupun dengan Indonesia B juga menang melawan China.

Setelah mengikuti berbagai seleksi pertandingan akhirnya masuk pada babak perempat Final single Indonesia A vs Thailand B dan Malaysia vs Thailand A. Hasil akhir dijuarai oleh Thailand A menyusul Malaysia dan Thailand B, sedangkan untuk double yang masuk pada perempat final adalah Indonesia A vs Afghanistan dan Malaysia vs Thailand. Hasil akhir di juarai oleh Indonesia A diikuti oleh Malaysia dan Thailand.

(Alvan Satria Shidiq/F)

PPIDUNIA.ORG, Tunisia - Tubuh NKRI kini sedang diuji dengan wabah perpecahan dan kebencian. Berbagai masalah timbul membakar api perpecahan. Isu SARA yang paling dominan menjadi sumbernya. Alwi Shihab, seorang cendekiawan senior, politisi yang namanya sudah tak asing lagi mencoba mengalirkan hawa sejuk di tengah tugas negaranya ke Tunisia. Beliau diutus oleh Presiden Joko Widodo untuk menjalin kerjasama dengan negara-negara di Timur-Tengah. Kedatangan beliau ke Tunisia adalah dalam rangka menghadiri sebuah konferensi Internasional dalam bidang ekonomi.

Di tengah kesibukan beliau, PPI Tunisia berhasil mendapatkan kesempatan mewawancarainya pada Rabu (30/11) di Ruang Nusantara, KBRI Tunisia. Dalam wawancara ini beliau banyak membahas masalah kebangsaan, masalah keberagaman kita sebagai bangsa dan juga peran mahasiswa yang ada di Timteng yang nantinya akan berada di garda terdepan dalam mengawal NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Bagaimana pandangan bapak terkait isu SARA yang saat ini sedang kuat di tanah air?

Saya kira isu sara ini sangat berbahaya kalau tidak bisa diredam, karena dia bisa berkembang menjadi suatu isu yang merugikan kita semua, karena kita sebagai negara pancasila sudah bertekad untuk menjadi suatu negara yang menjadikan sara itu sebagai sesuatu yang tabu. Karena sebagai negara yang pluralis, kita harus bisa menempatkan diri sebagai bangsa yang menghormati perbedaan-perbedaan. Apakah itu perbedaan agama, perbedaan etnik perbedaan suku dsb.

whatsapp-image-2016-11-30-at-15-11-29-1

Wawancara Ekslusif PPI Tunisia dengan Bapak Alwi Shihab

Itu sudah kita lebur semuanya menjadi suatu bangsa yang satu dengan bahasa yang satu yaitu bangsa Indonesia yang tidak melihat dia suku mana.

Apa yang terjadi di negara timur tengah antara lain kesukuan yang kuat itu menjadikan negara itu tercabik-cabik. Tetangga Tunis ini Libya, suatu contoh yang sangat tepat dianalogikan bagaimana kesukuan itu menjadikan bangsa Libya yang tadinya bersatu, sekarang berbeda pandangan disebabkan karena kekuatan kesukuan. Ini yang founding father kita itu menghindari hal tersebut, karena menyadari bahwa Indonesia ini terbagi beragam suku, beragam agama. Dan kita harus menonjolkan kebangsaan bahwa kita ini adalah bangsa Indonesia sebelum kita menganggap bahwa diri kita ini adalah suku ini suku itu, agama ini agama itu. Kita bangsa Indonesia yang masing-masing memiliki cirinya yang khas, tetapi kita sebagai bangsa adalah satu. Jadi isu sara ini berbahaya kalau tidak diredam dan tidak dijelaskan kepada masyarakat luas bahwa ini tidak boleh menjadi suatu isu yang bisa mempengaruhi jalan pikiran kita apalagi politisi, apalagi ulama, apalagi tokoh.

Kita tidak bisa membedakan antara suku Batak, suku Jawa, kalau seandainya saya sebagai duta besar di sini seorang Jawa. Apakah saya harus pilih staff saya juga orang Jawa karna ke-Jawa-an?. Tidak,

yang penting itu adalah Indonesia. Jadi isu sara itu berbahaya kalau dipupuk. Ini harus diredam, karena pada saat founding father mendeklarasikan Indonesia, sebelumnya itu sumpah pemuda diteruskan dengan pembentukan NKRI, sara itu sudah menjadi suatu hal yang tidak boleh kita singgung sehingga ada UU-nya di Indonesia soal sara, jadi sangat mengancam. Itu yang generasi muda harus tetap menjaga warisan yang diberikan oleh pendiri republik ini, untuk kita jaga terus. Nah, isu-isu yang berkembang sekarang ini mudah-mudahan sudah bisa diredam dan sudah bisa diatasi sehingga tidak berkembang kemana-mana.

Apa yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat Indonesia yang ada di wilayah Timur Tengah dan Afrika melihat isu-isu yang berkembang di Indonesia, khususnya dalam menyikapi pemberitaan di media sosial yang kerap menjadi tempat perdebatan?

Nah, ini memang pengaruh media sosial yang sekarang banyak sekali orang menyadari bahwa sebenarnya betul ini suatu teknologi yang bagus kalau dimanfaatkan. Tapi pada saat yang sama, ini bisa menciptakan keretakan di antara keluarga besar bangsa bahkan di kalangan tertentu umat islam juga bisa terancam oleh cara-cara provokasi dan fitnah. Kita juga melihat di media sosial seorang tokoh dicaci maki. Kejadian Gus Mus yang kita ikuti bersama sehingga mereka yang merasa bersalah akhirnya datang minta maaf dan banyak orang yang diperlakukan seperti itu, sebagai tokoh yang seharusnya dihormati justru dicaci maki karna adanya media sosial yang bebas untuk berbicara.

Karena itu saya kira pemerintah sekarang memikirkan bagaimana membatasi anjuran kebencian ini untuk bisa dikurangi dengan cara-cara perundangan atau ketentuan ketentuan sehingga tidak seenaknya saja hal ini bisa memprovokasi emosi masyarakat. Apa yang terjadi sebenarnya akhir-akhir ini terhadap Ahok dimulai dengan media sosial yang meng-quote secara keliru apa yang disampaikan sehingga untuk memperbaiki quote itu sudah tidak bisa mengatasi emosi yang sudah meluap dimana-mana.

Sulit membendung disebabkan karena sosial media. Jadi kita harus berhati-hati dan saya kira memang bagus seandainya ketentuan pemerintah sekarang itu untuk mengejar siapa yang dengan sengaja menciptakan hal-hal yang menjadikan kegaduhan di antara masyarakat dan bahkan bisa menciptakan perpecahan.

Dalam kasus kali ini apakah memang sebagian besar masyarakat Indonesia kurang edukasi tentang bagaimana menjaring berita yang masuk, kemudian bagaimana cara pemerintah untuk menanggulangi masalah ini?

Ya, sekarang pemerintah menyadari bahwa hal ini bisa menciptakan kegaduhan. Dan kegaduhan itu bisa mengakibatkan instabilitas. Instabilitas bisa menciptakan suatu keadaan dimana investor itu ragu untuk masuk ke Indonesia jadi dampaknya ada ujungnya yaitu kesejahteraan masyarakat itu terganggu karena tidak adanya investasi atau kurangnya turis. Apa yang terjadi di Mesir kita tidak mau hal itu terjadi di Indonesia. Itu juga dimulai dengan sosial media yang tidak bertanggung jawab.

Baik pak, sebelumnya kami menghimpun berita-berita yang sedang hangat di Indonesia antara lain kurang lebih ada 169 negara asing yang bebas visa masuk ke Indonesia kemudian pihak asing bisa menguasai perusahaan-perusahaan di Indonesia 100%, bagaimana bapak melihat ini semua?

Yaa sebenarnya begini, kalau umpamanya kita melihat Dubai, Dubai itu lebih progresif dari apa yang sekarang di Indonesia. Di Dubai itu, Asing bisa menguasai, bisa membeli apa saja yang dia mau. Kalau di Indonesia belum se-liberal itu. Orang asing boleh membeli rumah tetapi dia ada batasan-batasannya dan tidak sebebas yang kita dapati di Dubai umpamanya. Nah, kalau bebas visa memang, kalau dibandingkan dengan negara lain memang bukan kita yang pertama. Di Malaysia juga bebas visa tentu bukan semua negara, negara-negara yang oleh pemerintah dianggap masih rawan, itu tetap masih belum bebas visa. Nah, di sini banyak pembicaraan bahwa bebas visa mengakibatkan ada bangsa tertentu yang lalu tidak kembali.

Nah, itu jangan disalahkan bangsa yang masuk itu. Disalahkan pejabat kita karena itu semuanya kan ada record nya. Kalau anda masuk suatu negara kan ada record nya. Kalau anda tidak keluar dari record nya kan berarti kan bisa dicari. Dimana-mana begitu. Jadi jangan salahkan pemerintah tetapi salahkan oknum di pemerintah yang bertanggung jawab terhadap itu, imigrasi umpamanya. Dia tahu waktu si A masuk ke Indonesia dia tahu visa nya sampai kapan berakhir. Begitu sudah berakhir dan dia tidak pulang, dia bisa dicari kan yaa. Kadang-kadang dia menghilang kemana. Tapi RT/RW dan sebagainya kalau ada orang asing di suatu daerah kan bisa dilaporkan. Jadi jangan hanya melihat bahwa ini pemerintah menciptakan suasana sehingga orang asing berbondong bondong masuk. Nah, buktinya dari kementrian tenaga kerja kan juga pada waktu yang lalu kan mentri nya sendiri menangkap beberapa orang yang datang tapi tidak mempunyai izin untuk bekerja. Jadi kita harus introspeksi. Jadi imigrasi, kepolisian itu semuanya bertanggung jawab. Kalau sudah over stay yaa sudah. Kenapa kalau orang masuk ke Amerika over stay kemudian bisa diketahui jadi dia bisa di-black list. Kalau sekali dia over stay untuk yang akan datang dia tidak masuk lagi. Yaa jadi sistem kita juga harus diperbaiki jangan hanya melihat dari satu aspek saja.

Kedatangan bapak ke Tunis sebagai Special Envoy for the Middle East and the Organization of Islamic Cooperation (OIC) yang sebelumnya berkunjung ke Arab Saudi kemudian Yordania pada Februari lalu, sebenarnya apa pesan Presiden untuk negara-negara Timur Tengah dan anggota OKI?

Yaa sebenarnya pesan presiden itu, saya memegang jabatan ini sejak presiden SBY yang oleh pak Jokowi dianggap bahwa kelihatannya posisi ini masih -atau tanggung jawab ini masih- perlu untuk dilanjutkan karena Indonesia menginginkan adanya kerjasama dengan negara-negara timur tengah dan anggota OKI yang perlu berkesinambungan dan juga perlu ditingkatkan. Kita ketahui bahwa tidak semua negara di timur tengah ini mempunyai potensi untuk investasi. Tentu ada beberapa negara yang dianggap perlu untuk saya kunjungi dan saya ajak untuk meningkatkan hubungan ekonomi. Saya tidak ditugaskan oleh presiden untuk hal-hal yang sifatnya hubungan politik, yaa karna itu tugas Menlu dan saya lebih banyak ditugaskan yang sifatnya meningkatkan hubungan ekonomi kecuali kalau ada tugas-tugas khusus dari presiden.

Nah, anda bisa mendengar bahwa saya sering ke Saudi, Emirate, Oman kalau Afrika Utara ini tidak terlalu sering, mungkin Tunis termasuk yang 2-3 kali saya datangi karna di sini juga ada potensi untuk peningkatan kerja sama ekonomi yang lebih baik dari negara-negara lain. Sebenarnya Mesir ada tetapi keadaan di Mesir kita tahu sendiri bahwa sekarang belum kondusif, Libya juga ada tapi juga belum kondusif.

Nah, sekarang di Tunis ini yang di antara negara-negara Afrika khususnya Afrika Utara ini yang termasuk menjanjikan karna alasan pertamanya adalah banyak persamaan dengan Tunis ini satu hal. Mahasiswa tentu tahu bagaimana pandangan pemahaman islam di Tunis ini sejalan dengan pemahaman islam kita di Indonesia yaitu versi yang moderat. Yang artinya menghargai perbedaan pandangan, tidak memaksakan kehendak kelompok tertentu untuk menjadikan kelompok yang berbeda itu masuk ke dalam kelompok itu. Kita di Indonesia ada Muhammadiyah, ada NU, ada Wasliyah ini yang saya lihat ada kesamaan dengan Indonesia di samping dari itu kita menggalakkan -kalau perlu- lebih banyak lagi mahasiswa yang datang ke Tunis. Kita bersyukur punya Dubes yang aktif di sini. Kita lihat kemajuan, berapa banyak mahasiswa sebelum beliau sampai di sini. Sekarang berlipat ganda. Berapa banyak hubungan-hubungan ekonomi yang tadinya tidak digarap namun berkat beliau sekarang mulai cenderung untuk berkembang. Di sini ada Medco dan juga ada rencana untuk pengembangan Universitas dengan Universitas. Itu semuanya kan tidak terlepas dari usaha KBRI.

Karena KBRI yaa sebagai, tempat atau wakil pemerintah yang mengetahui kedua belah pihak sehingga dia bisa mencari titik temu dari keduanya untuk bisa dikembangkan hubungan kerja sama.

Mengemban amanah ini sejak zaman Pak SBY hingga Pak Jokowi, seberapa antusias kah negara-negara timur tengah untuk investasi ke Indonesia?

Yaa jadi kita harus selalu juga mengingat bahwa timur tengah itu, selama ini melihat Indonesia tidak begitu serius khususnya pada masa Pak Harto. Pada masa Pak Harto kita tahu persis bahwa banyak sekali penitik beratan kepada barat sehingga timur tengah tidak terlalu difikirkan. Begitu masuk masa Gus Dur mulai ada pemikiran di timur tengah, dilanjutkan dengan SBY.

Nah, ada peningkatan-peningkatan. Pak Jokowi ini sewaktu saya diminta untuk melanjutkan, pesannya begini: “Pemerintah kita tidak boleh hanya mengandalkan barat dan timur dalam pengertian China, Jepang. Dan tugas utusan khusus untuk timur tengah untuk melibatkan proyek-proyek yang ada di Indonesia ini juga timur tengah harus mengambil bagian”.

Muammar Kadafi sedang sedang mewawancarai Bapak Alwi Shihab

Muammar Kadafi sedang sedang mewawancarai Bapak Alwi Shihab

Nah, dari itu juga berkat dubes-dubes yang ada di timur tengah juga anjuran presiden sehingga keliatan mulai ada perkembangan. Satu contoh umpamanya dengan Saudi Arabia yang sepuluh tahun ini pembicaraan soal refinery itu tidak selesai-selesai. Hanya pada masa Pak Jokowi ini ada perjanjian yang sudah ditanda tangani dan proyek refinery sudah mulai akan dikerjakan oleh Saudi Arabia. Juga kita lihat dari Qatar ada komitmen 1 miliar dolar untuk proyek infrastruktur yang sekarang sedang dicarikan proyek nya. Qatar juga sudah membuka QNB (Qatar National Bank) di Indonesia. Dubai juga sudah membuka Dubai Islamic Bank kerja sama dengan pihak Indonesia. Iran juga sekarang sudah mulai di bidang power plan. Sudah mulai di Medan dan dia akan terus, baru-baru ini menyatakan bahwa ingin juga menggarap proyek refinery dengan negara-negara. Oman juga ada pemikiran ke arah oil dan gas demikian pula Kuwait.

Nah, itu semuanya harus diimbangi keinginan dari pihak timur tengah dengan kesediaan kita untuk mencari titik temu untuk kita implementasikan.

Jadi Pak Jokowi ini menginginkan timur tengah terlibat dalam proyek-proyek sehingga jangan dianggap bahwa timur tengah ini adalah sesuatu kekuatan finansial ekonomi yang tidak diperhatikan oleh Indonesia sebagaimana masa-masa yang lalu.

Baik pak, pertanyaan terakhir yaitu pesan kepada mahasiswa Indonesia yang berada di Luar Negeri pada umumnya, khususnya Tunisia serta negara-negara timur tengah dan Afrika, apa yang seharusnya wajib kami persiapkan ketika kembali ke Indonesia?

Itu penting sekali, di Indonesia ada usaha untuk membelokkan pemahaman islam ini ke arah yang tidak selama ini menjadi bagian dari pengertian atau pemahaman kita. Kan kita itu yang direpresentasikan oleh NU dan Muhammadiyah itu sebagai mayoritas ada usaha-usaha untuk apa namanya men-Introduce, memperkenalkan pemahaman pemahaman baru. Saya kira mahasiswa tahu. Nah mahasiswa yang dari timteng ini -apakah dia dari Mesir apakah dia dari Tunis. Kenapa saya tekankan Tunis dan Mesir? karena ini ada persamaan dalam pemahaman keislaman Mesir dan Tunis ini, dan Indonesia yaitu pemahaman keislaman yang moderat tidak memaksakan kehendak dan tidak mendiskreditkan golongan yang lain. Dan saya yakin di Tunis dan di Mesir, semua aliran, semua mazhab diajarkan dan tidak pernah mengkafirkan satu mazhab, tidak pernah mendiskreditkan mazhab lain sampai kepada mazhab syiah juga diajarkan. Artinya apa? itu yang cocok dengan negara kita yang plural. Kita terbuka dan sekarang tuh tidak bisa anda mengatakan anda harus ikut imam syafii anda tidak boleh mengikuti syiah dan sebagainya.

Kita sebagai suatu masyarakat yang terbuka apalagi demokratis. Kita berhak untuk memilih apa yang kita inginkan selama prinsip-prinsip dasar yang sudah kita sepakati tidak kita lewati atau kita tidak mengingkari. Nah jadi mahasiswa yang ada di LN (luar negeri) ini -apalagi dari Tunis- ini diharapkan menjadi pelopor pemahaman islam yang plural, pemahman islam yang moderat. Dan itu kita bersyukur bahwa ada peningkatan pengiriman mahasiswa ke mari. Dan ini harus berlanjut dan ditambah lagi pengiriman mahasiswa ke Tunis.

Jadi pemikiran yang berbeda kita tetap menghormati, jangan kita bilang islam anda itu sesat dan selama mereka itu meyakini prinsip dasar islam (Ushul al-Din): Syahadat, Sholat, Puasa, selama itu dipertahankan, Quran-nya satu, kiblat-nya satu, syahadat-nya sama, lalu pemahaman-pemahaman lain umpama syiah punya imamnya begini itu jangan menjadi sebab untuk kita menyesatkan mereka.

Yaa anda berbeda dari kami tapi kita bersatu di dalam haji kita sama. Nah pemahaman semacam ini dan orientasi semacam ini yang kita harapkan dari Timteng. Jangan justru saat dia pulang ke indonesia menyuburkan perbedaan tapi justru dia harus meredam perbedaan itu khususnya dari Tunis ini, karena di Tunis kan sama sebenarnya sama al azhar yaa. Dan ini yang harus menjadi pelopor dan waktu saya ke Iran pun saya bertemu dengan mahasiswa. Saya juga katakan bahwa kita tahu bahwa syiah itu ada yang ekstrem ada pula yang moderat. Yang ekstrem itu yang memaki sahabat. Itu tidak laku di Indonesia. Tidak ada orang yang mau menerima itu. Anda harus pilih pengajaran syiah yang moderat. Yang moderat itu apa? dia menghormati sahabat nabi apalagi sekarang kan mereka juga mengoreksi pandangan-pandangan yang mendiskreditkan sahabat. Hanya itu saja sebenarnya yang menjadi masalah syiah. Jangan dibesar-besarkan. Itu justru dari Tunis dari Mesir mengajak bekerja sama. Mahasiswa ini kan pemimpin masa depan. Kalau pemimpinnya sudah memprovokasi perbedaan, masyarakat kita itu kasian, nggak tau. Jadi kalau sudah ustadznya bilang begini dia akan ikut. Nah mahasiswa yang di LN ini harus bisa bersatu untuk melestarikan ajaran Islam, pemahaman islam yang sudah turun temurun.

Orang-orang di desa itu kan umpama dilarang mauludan dia bingung, loh kenapa? sudah ikuti apalagi hal itu kan tidak bertentangan dengan prinsip dasar. Orang yang tidak mau mauludan yaa silakan tapi jangan menyatakan dia sesat. Dia berbeda dengan kita tidak berarti kalau dia bukan islam kecuali kalau perbedaan itu fundamental, yaa itu kita bisa tahu.

Kan ada OKI, OKI juga kan sebagai kumpulan negara-negara muslim juga menyatakan -umpamanya- Ahmadiyah tidak diterima nah itu ada dasarnya tapi syiah diterima karna juga ada dasarnya. Jadi ini mahasiswa penting sekali karena kita-kita yang tua ini kan akan digantikan oleh para mahasiswa.

Foto bersama seusai wawancara. Dari kiri-kanan (Muamar Kadafi, Bapak Alwi Shihab, A. Jauhari Umar, Dubes LBBP RI Tunisia Bapak Rony P. Yuliantoro)

Foto bersama seusai wawancara. Dari kiri-kanan (Muamar Kadafi, Bapak Alwi Shihab, A. Jauhari Umar, Dubes LBBP RI Tunisia Bapak Rony P. Yuliantoro) di Ruang Nusantara, KBRI Tunisia.

Para mahasiswa kalau dia membawa negara kita ini ke arah yang tidak menghormati perbedaan, kita dalam islam sendiri harus pandai-pandai, belum lagi kita menghadapi kelompok lain, sama kristen kenapa kita harus memusuhi kristen? kenapa kita jadi pengikut ISIS yang membunuh orang yang tidak sejalan dengan dia?. Itu bukan islam yang benar. Nah ini yang harus kita kembangkan. Mahasiswa ini harus jeli. Jangan dia hanya cari panggung untuk maki sana, maki sini tetapi mengorbankan kebersamaan kita sebagai bangsa.

Jadi saya datang ini supaya ingat bahwa presiden ini kan memperhatikan timur tengah. Ada konferensi penting di sini. Presiden menghendaki ada pejabat tinggi setingkat mentri yang hadir untuk menunjukkan bahwa presiden itu sama Timteng selalu menginginkan ada kerja sama, jadi saya dating. Saya bisa ketemu Menlu besok ketemu mentri perdagangan. Menghadiri konferensi ini dalam rangka -pesan awal pak Jokowi- agar Timteng selalu dilibatkan dan apa yang bisa ditingkatkan kita tingkatkan. Nah itu tugas negara.(Dafi/AJU)

 

PPI Yaman – Ketua PPI Yaman M. Abdul Muhith resmi meluncurkan Antologi Inspiratif “Risalah Negeri Saba” di Qastil Fales kota Sewun. Antologi ini merupakan kumpulan 50 naskah terbaik hasil Sayembara Cerita Mini (SCM) se-Timur Tengah dan Afrika yang diadakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia di Yaman dari tanggal 15 April sampai 15 Juni lalu. Sayembara ini diiukit oleh 7 negara Timur Tengah diantaranya: Yaman, Mesir, Yordania, Maroko, Lebanon, Libya dan Turki. “Memperteguh Moralitas Bangsa Melalui Sastra” adalah tema yang diangkat pada sayembara ini dengan Pipiet Senja yang didaulat sebagai dewan juri.

Konflik yang ada di negara Timur Tengah & Afrika (Arab Spring) khususnya Yaman, tidak dapat menyusutkan semangat para pelajar untuk menulis. Antologi Inspiratif ini merupakan salah satu kontribusi dalam dunia literasi dan sastra. Antologi ini diharapkan mampu melecutkan inspirasi anak bangsa yang kini mengalami degradasi oleh perkembangan globlal.

“Hadirnya antologi “Risalah Negeri Saba” bak oase segar di tengah-tengah dahaga gurun pasir yang mana setiap harinya dijejali berita politik, konflik, kekerasan, dan berbagai macam kriminalitas serta berita yang tidak mendidik lainnya. Risalah Negeri Saba’ juga akan kita sebarluaskan ke PPI sedunia dengan harapan besar bisa menjadi inspirasi mereka yang masih belum berkarya,” tutur Ketua PPI Yaman.

Acara peluncuran ini merupakan rentetan dari kegiatan rihlah ilmiah yang digawangi oleh Departemen Seni dan Budaya PPI Hadhramaut dengan destinasi terakhir adalah Kastil Fales. Setelah sebelumnya sekitar 60 peserta rihlah diajak berpetualang ke Istana al-Katiri dan Qubah al-Habsy pengarang maulid Simtud Durar. (A-PPIY/AA)

 

Galeri:

dsc_1045-lebar-max-2400-tinggi-max-1800-1 dsc_1002-lebar-max-2400-tinggi-max-1800 dsc_0982-lebar-max-2400-tinggi-max-1800 1-1-lebar-max-2400-tinggi-max-1800

Liputan Yordania, pada 7 Oktober 2016 telah diterbitkan Surat Keputusan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia kawasan Timur Tengah dan Afrika tentang pembentukan dan penugasan Aliansi Keputrian Timur Tengah dan Afrika (AKTA) periode 2016-2017.

Pergerakan AKTA bermula sejak tanggal 6 Mei 2016 dengan dibentuknya grup whatsapp beranggotakan perwakilan mahasiswi dari 12 negara di Timur Tengah dan Afrika, diantaranya, Afrika Selatan, Arab Saudi, Iran, Libya, Maroko, Mesir, Pakistan, Suriah, Sudan, Tunisia, Yaman dan Yordania.

Pada dasarnya, pergerakan ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi antarsesama mahasiswi kawasan Timur Tengah dan Afrika yang memiliki kultur khas serta mayoritas pendidikan berbasis agama Islam.

Tujuan ini kemudian berkembang menjadi keinginan untuk memberi kontribusi nyata bagi kemajuan para muslimah di Indonesia maupun di dunia melalui berbagai agenda yang akan bekerja sama dengan PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika serta PPI Dunia.

Inisiatif peresmian aliansi ini disampaikan saat rapat kawasan dalam rentetan agenda LPJ PPI Dunia 2015-2016, pada tanggal 27 Juli 2016 di ruang Bhinneka, KBRI Kairo dan disetujui oleh semua pihak yang turut hadir. Saat ini, anggota AKTA tersisa di sebelas negara (kecuali Libya, Lebanon, dan Uni Emirat Arab) dengan jumlah mencapai 1500 pelajar putri dan mahasiswi Indonesia.

Sebuah kesyukuran atas hadirnya AKTA di tengah maraknya problematika wanita yang terjadi baik di Indonesia maupun di dunia.

“Kami berharap, semoga AKTA dapat mengoptimalkan peran mahasiswi Indonesia di Timur Tengah dan Afrika sebagai duta bangsa untuk menjawab problematika tersebut serta memberi kontribusi nyata untuk agama, bangsa dan dunia. Kami turut haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada PPI Kawasan Timteng dan Afrika serta PPI Dunia atas dukungan dan arahannya hingga AKTA resmi menjadi bagian dari pergerakan PPI Dunia,” ujar pengurus AKTA.

(Rahmah Rasyidah/F)

Madinah - ppmisaudi.org / Bertempat di RM Sanabel Al Madinah, PPMI Arab Saudi mengadakan Silaturrahmi Rutin Tahunan PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika yang sedang bertugas sebagai Tenaga Musiman Haji (TEMUSH).

Pertemuan ini berlangsung pada hari Sabtu, 8 Oktober 2016, dan dihadiri oleh Imam Khairul Annas selaku Ketua Umum PPMI Arab Saudi 2015-2017 serta beberapa perwakilan dari PPMI Arab Saudi. Selain itu turut hadir juga Agus Mujib selaku Ketua KKMI Libya 2016-2017, Rama Rizana selaku Koordinator Divisi Pendidikan, Politik, Ekonomi, Kebudayaan dan Agama (P2EKA) Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia), Abdul Gofur Mahmudin selaku Presiden PPMI Mesir 2015-2016, Choiriah Ikrima Sofyan yang merupakan Sekretaris PPI Kawasan Timteng & Afrika 2014-2015, Zakiah Rahmah yang pernah menjadi Sekretaris PPI Kawasan Timteng & Afrika 2015-2016, Izuddin selaku Ketua MPA PPI Hadhramaut 2015-2016, Rahmat Ilahi Siregar dari PPI Lebanon, Kamal dan Nuraeni dari PPI Sudan, Irhamni Rofiun dari PPI Tunisia, serta Armi dari PPI Maroko.

Acara diawali dengan makan malam, dilanjutkan dengan taaruf (perkenalan) para peserta silaturrahmi dan pemaparan PPI Negara masing-masing. Selanjutnya, sambutan dan ucapan selamat datang dari Ketua Umum PPMI Arab Saudi, yang juga membacakan sambutan dari Koordinator PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika, Kiagus Ahmad Firdaus.

"Silaturrahim ini adalah kegiatan tahunan, tahun lalu diadakan di Madinah, dan 2 tahun lalu diadakan di Jeddah," ujar Imam yang sedang menyelesaikan studi di Universitas Islam Madinah.

"Kami PPMI Arab Saudi mengucapkan apresiasi kepada PPMI Mesir yang telah sukses menyelenggarakan Simposium Internasional PPI Dunia tahun 2016, dan kami memohon doa dan dukungan kawan-kawan semoga kami bisa menyelenggarakan Simposium Kawasan dengan baik dan lancar," lanjut Imam.

Setelah itu, sambutan dari Koordinator Divisi P2EKA PPI Dunia 2016-2017, Rama Rizana, yang juga menyampaikan Program Kerja dari Divisi baru yang ada di PPI Dunia periode ini. "Sekilas tentang Divisi P2EKA, berawal dari Simposium di Kairo kemarin, yang mengadakan 4 Sidang Komisi (Politik, Pendidikan, Ekonomi dan Agama) dan menghasilkan 7 rencana aksi. 7 rencana aksi ini dikerjakan oleh 4 komisi tadi, dan dikawal oleh Divisi P2EKA. 2 rencana aksi yang berasal dari Komisi Agama adalah Pembentukan Tim Kajian Radikalisme Agama serta Tim Media Kerohanian," terang Rama yang juga merupakan Anggota Dewan Syura dan sekaligus Kepala Departemen Pendidikan PPMI Arab Saudi.

Rama juga mengusulkan agar para mahasiswa Timur Tengah yang menjadi TEMUSH untuk membuat sebuah buku yang menceritakan pengalaman-pengalamannya selama bertugas di Tanah Suci. Ide ini disambut baik oleh para peserta silaturrahim. "Saya sangat setuju, ini akan sangat bermanfaat terutama untuk para petugas di tahun-tahun yang akan datang," ujar Abdul Gofur.

Turut hadir dalam kegiatan ini, Azri Alhaq selaku Sekretaris PPMI Arab Saudi; Habli Robbi Waliyya selaku Anggota Badan Otonom Pusat Kajian Strategis PPMI Arab Saudi; Fahmy Husnul Fasya selaku Anggota Departemen Teknologi Informasi PPMI Arab Saudi; Sufyan Tsauri Muhammad Ilyas selaku Anggota Dewan Syura PPMI Arab Saudi; Muhammad Sobri selaku Bendahara PPMI Madinah 2015-2016; dan Asep Sunandar selaku Anggota PPMI Arab Saudi.

Semoga kegiatan ini dapat mendukung program kerja PPI Dunia setahun ke depan serta bisa diselenggarakan kembali di tahun-tahun yang akan datang. (Red, im / Ed, pw)

img-20161010-wa0002

Liputan Bogor, Ini merupakan kali ke dua PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika menyelenggarakan kegiatan orientasi Perguruan Tinggi di pesantren yang ada di Indonesia. Orientasi perdana yang mengusung tema "Orientasi Perguruan Tinggi Arab Saudi, Tunisia dan Timur Tengah" ini diselenggarakan di Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining, 9 Dzulhijjah 1437 H/10 September 2016.

Acara dimulai dengan pembukaan dan sambutan oleh Kepala Biro Sumber Daya Manusia Pesantren Darunnajah 2 Cipining, Al-Ustadz Mustafa Zahir, Lc, yang kemudian dilanjutkan dengan pemaparan tentang tema diatas oleh kedua narasumber yang telah diundang yaitu Muammar Kadafi, Lc, PPI Tunisia dan Imam Khairul Annas, PPMI Arab Saudi. Peserta dan para tamu undangan dalam acara ini adalah santriwan dan santriwati kelas 4, 5, 6 TMI (kelas 10, 11, 12) beserta guru pengabdian tahun pertama dan tahun kedua, dengan jumlah keseluruhan peserta orientasi mencapai 700 orang.

 

Pemberian materi

Pemberian materi

Pada kesempatan tersebut, ketua umum PPMI Arab Saudi 2015/2016, Imam Khairul Annas bertindak sebagai narasumber pertama mempresentasikan tentang perkuliahan di Arab Saudi dan sistem perkuliahan di beberapa negara yang ada di kawasan Timur Tengah dan Afrika.

"PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika ini sendiri terdiri dari 14 PPI Negara yaitu PPMI Pakistan, IPI Iran, PPI Uni Emirat Arab, PPMI Arab Saudi, PPI Yaman, HPMI Yordania, PPI Lebanon, PPI Damaskus, PPMI Mesir, PPI Sudan, KKMI Libya, PPI Tunisia, PPI Maroko dan PPI Afrika Selatan. Masing-masing PPI memberikan informasi tentang sistem perkuliahan, beasiswa yang tersedia, dan kegiatan mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam PPI melalui website dan media sosialnya masing-masing" papar Imam.

"Sedangkan beberapa keuntungan melanjutkan studi di Arab Saudi sendiri adalah tersedianya beasiswa penuh bagi beberapa mahasiswa asing dan lokal, situasi yang aman dan kondusif serta kesempatan untuk menunaikan ibadah haji dan umrah", ujar Imam yang saat ini sedang melanjutkan studinya di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi.

Selain itu Imam yang telah menyelesaikan tugasnya sebagai Koordinator PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika pada Juli lalu juga menambahkan bahwasannya belajar di kawasan Timur Tengah dan Afrika memiliki tradisi yang unik di masing-masing negara. Sebagai contoh adalah Pakistan yang terkenal akan Bahasa Urdunya yang kental. Sehingga jika mahasiswa asing belajar di Pakistan maka mereka juga diharuskan belajar Bahasa Urdu selain Bahasa Inggris.

Peserta Seminar

Peserta Seminar

Selanjutnya seminar kedua dilanjutkan oleh Muammar Kadafi, Lc, Ketua PPI Tunisia 2015/2016. Muammar menjelaskan tentang tiga point penting ketika belajar di Tunisia, yaitu Cara, Tantangan, dan Keuntungan. Cara mendaftar menjadi mahasiswa baru di Tunisia sendiri tidak jauh berbeda dengan negara-negara lain pada umumnya. Di Tunisia sendiri juga memiliki standard nilai minimum yang harus dipenuhi oleh masing-masing calon mahasiswa beserta beberapa dokumen penting yang harus dilengkapi untuk dapat diproses di bagian admission.

"Seperti halnya mendaftarkan ke universitas pada umumnya berkas yang dibutuhkan juga tidak jauh berbeda, dan adik-adik bisa langsung membaca panduan studi di Tunisia yang sudah tersedia dalam website kami www.ppitunisia.org," ungkapnya mengawali point pertama.

Berlanjut ke point kedua, Muammar menjelaskan tentang beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh mahasiswa asing di Tunisia serta solusi menghadapinya. Disesi ini, banyak sekali hal-hal teknis yang tidak terdapat dalam buku panduan kuliah di Luar Negeri. Sehingga sesi ini merupakan sesi yang paling penting kaitannya dengan tantangan dan rintangan selama belajar di negeri orang.

Kemudian point ketiga, Muammar juga menjelaskan tentang beberapa keuntungan kuliah di Tunisia. Salah satunya adalah bahasa. "Bahasa adalah keuntungan yang pertama, selain adik-adik bisa mempraktekkan bahasa Arab yang sudah lebih dahulu dipelajari di pesantren, juga bisa menambah satu bahasa lain yaitu Bahasa Perancis jika memang memiliki kecintaan dalam bahasa," tuturnya dengan lugas.

Ia juga menambahkan bahwa Bahasa adalah signal pertama bagi seseorang itu berilmu pengetahuan yang tinggi dan merupakan salah satu ilmu para Nabi. "Keuntungan yang kedua adalah bisa melihat langsung Sejarah Peradaban Islam yang ada di Tunisia, seperti halnya Jami' Uqbah ibn Nafi', Jami' Az-Zaytunah, jejak sejarah Pakar Sosiolog ternama Ibnu Khaldun dll," ucap Kadafi.

Sedangkan keuntungan yang ketiga yaitu dapat merasakan sistem pendidikan yang sangat baik, muai dari metodologi penulisan, penelitian, dan lingkungan yang mendukung untuk belajar.

Setelah sekian jam pemaparan dari kedua nara sumber diatas maka acara pun dilanjutkan dengan sesi tanya jawab baik dari para peserta dan tamu undangan. Pada akhir acara tersebut, cindera mata diberikan kepada narasumber dan diakhiri dengan foto bersama. (Red, Muammar&Imam/Ed, Amir)

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920