logo ppid

Liputan Lebanon – Perhimpunan Pelajar Indonesia di Lebanon (PPIL) sukses berpartisipasi dalam sebuah acara gathering yang diadakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beirut, Lebanon. Agenda tahunan ini diikuti oleh seluruh keluarga besar PPI Lebanon beserta para pegawai KBRI Beirut, tidak terkecuali Duta besar RI untuk Lebanon, H. A. Chozin Chumaidi beserta istri. Bertempat di Batroun Village Club. Acara berlangsung selama tiga hari dari tanggal 2-4 Desember 2016.

Tujuan diadakan kegiatan ini sebagaimana yang diharapkan oleh Dubes RI untuk Lebanon adalah agar mahasiswa Indonesia di Lebanon dapat menjadi tokoh-tokoh yang siap siaga menjaga keutuhan NKRI, utamanya dalam menghadapi Proxy War yang sedang melanda Indonesia saat ini, serta dapat menjadi ajang memupuk kebersamaan sesama mahasiswa Lebanon dan keluarga besar KBRI Beirut.

Ketua PPIL 16/17 H. M Ainur Rohim, MA., menambahkan, " dengan kegiatan seperti ini juga, kita akan selalu waspada dan sadar dengan gempuran dan serangan dari luar maupun dalam dengan berusaha senantiasa melestarikan dan memajukan warisan leluhur kita yang berkeringat darah merebut kemerdekaan. Sudah selayaknya kita bersungguh-sungguh membangun bangsa ."

Selain seminar tentang kebangsaan juga diadakan permainan outbound yang dipimpin langsung oleh lima instruktur dari Kapal Republik Indonesia (KRI) Bung Tomo 357. Hal ini dimaksudkan untuk mempererat tali persahabatan antara mahasiswa yang terbagi di tujuh universitas di seluruh Lebanon.

(Lukmanul Hakim/F)

Surabaya, 25 November 2016. Himpunan Mahasiswa Program Studi (HIMAPRO) Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Ampel Surabaya dan tim Festival Luar Negeri (FLN) PPI Dunia mengadakan seminar dan expo Beasiswa Timur Tengah dan Studi Islam di Gedung Auditorium UIN Sunan Ampel Surabaya. Empat ratus peserta dari berbagai sekolah dan kampus di Indonesia menghadiri acara yang bertemakan "Menggapai Impian di Negeri Sahara; How to Get Middle East and Islamic Studies Scholarship" ini.

Pada seminar ini, narasumber dari PPI Dunia diwakilkan oleh Muhammad Mubasysyir Munir, B.Ed., Dipl. TASOL. (alumni PPMII Arab saudi), Ovindra El Rachmalisa (PPI UK), dan Radyum Ikono (Founder Sahabat Beasiswa dan Alumni PPI Jepang). Tidak hanya seminar, dalam acara ini terdapat juga expo beasiswa yang diisi oleh Sahabat Beasiswa, LPDP, Inspira, UICCI Sulaimaniyah, Mumtaza Center, PPI Sudan, PPI Lebanon, PPI Pakistan, PPI Yaman, dan PPI Yordania.

 

dsc02598

Salah satu stand di acara seminar dan expo Beasiswa Timur Tengah dan Studi Islam di Gedung Auditorium UIN Sunan Ampel Surabaya

Ketika tim Festival Luar Negeri (FLN) PPI Dunia bertanya mengenai kesan yang dirasakan kepada salah satu narasumber, Muhammad Mubasysyir Munir, beliau mengatakan bahwa acara seminar seperti ini perlu diperbanyak. Karena hal ini merupakan salah satu wujud peduli PPI Dunia dalam pendidikan nasional.

Ketika ditanyakan hal yang paling berkesan dalam kegiatan ini, beliau menjawab:

"Kaget... karena masih banyak anak-anak yang bermimpi untuk bisa belajar lanjut ke luar negeri"

Pemuda yang pernah menjadi humas PPMI Riyadh periode 2013-2015 ini melanjutkan pernyataannya:

"Dalam kegiatan seminar ini, ada peserta yang menanyakan tentang kesibukan dunia kuliah di Arab Saudi. Saat itu saya menjawab bahwa kuliah di Arab saudi sama saja dengan di Indonesia, yang berbeda adalah lingkungan dan biaya kuliahnya yang jelas"

Tim FLN pun kembali bertanya, mengapa mahasiswa Indonesia lebih baik mencoba berkuliah di Arab Saudi?

Mubasysyir berkata, "Sebagai wahana untuk bertukar budaya, di sisi lain Indonesia memerlukan pakar dalam Islamic Science".

dsc_0568

Penyelenggara seminar dan expo Beasiswa Timur Tengah dan Studi Islam di Gedung Auditorium UIN Sunan Ampel Surabaya

 

Tim FLN PPI Dunia pun tak tertinggal untuk mewawancarai Radyum Ikono, atau akrab disapa sebagai Mas Ikono. Banyak hal yang menarik dari mas Ikono, salah satunya adalah tentang pilihan beliau untuk langsung kembali berkarir di Indonesia. Ketika tim FLN PPI Dunia menanyakan alasan pilihan untuk kembali ke Indonesia kepada Alumni PPI Jepang ini, beliau menjawab:

"Saya ingin melakukan kontribusi yang lebih berimpak langsung. Di luar negeri tentunya juga bisa, tapi biarlah saya ingin mencoba pilihan yang ini".

Lalu ketika ditanyakan mengapa tertarik dalam kegiatan seminar dan expo ini, beliau berkata:

"Saya tertarik untuk menjadi berbicara karena ingin berbagi dengan adik-adik. Kalau memang ada manfaatnya, alhamdulillah."

"Belajar yang giat dan networking seluas-luasnya," pesan mas Ikono untuk sahabat semuanya.

(dilla/NZ)

 

Tim Festival Luar Negeri PPI Dunia

#FLNNOVEMBER2015

Galeri Kegiatan:

PPI Yaman – Ketua PPI Yaman M. Abdul Muhith resmi meluncurkan Antologi Inspiratif “Risalah Negeri Saba” di Qastil Fales kota Sewun. Antologi ini merupakan kumpulan 50 naskah terbaik hasil Sayembara Cerita Mini (SCM) se-Timur Tengah dan Afrika yang diadakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia di Yaman dari tanggal 15 April sampai 15 Juni lalu. Sayembara ini diiukit oleh 7 negara Timur Tengah diantaranya: Yaman, Mesir, Yordania, Maroko, Lebanon, Libya dan Turki. “Memperteguh Moralitas Bangsa Melalui Sastra” adalah tema yang diangkat pada sayembara ini dengan Pipiet Senja yang didaulat sebagai dewan juri.

Konflik yang ada di negara Timur Tengah & Afrika (Arab Spring) khususnya Yaman, tidak dapat menyusutkan semangat para pelajar untuk menulis. Antologi Inspiratif ini merupakan salah satu kontribusi dalam dunia literasi dan sastra. Antologi ini diharapkan mampu melecutkan inspirasi anak bangsa yang kini mengalami degradasi oleh perkembangan globlal.

“Hadirnya antologi “Risalah Negeri Saba” bak oase segar di tengah-tengah dahaga gurun pasir yang mana setiap harinya dijejali berita politik, konflik, kekerasan, dan berbagai macam kriminalitas serta berita yang tidak mendidik lainnya. Risalah Negeri Saba’ juga akan kita sebarluaskan ke PPI sedunia dengan harapan besar bisa menjadi inspirasi mereka yang masih belum berkarya,” tutur Ketua PPI Yaman.

Acara peluncuran ini merupakan rentetan dari kegiatan rihlah ilmiah yang digawangi oleh Departemen Seni dan Budaya PPI Hadhramaut dengan destinasi terakhir adalah Kastil Fales. Setelah sebelumnya sekitar 60 peserta rihlah diajak berpetualang ke Istana al-Katiri dan Qubah al-Habsy pengarang maulid Simtud Durar. (A-PPIY/AA)

 

Galeri:

dsc_1045-lebar-max-2400-tinggi-max-1800-1 dsc_1002-lebar-max-2400-tinggi-max-1800 dsc_0982-lebar-max-2400-tinggi-max-1800 1-1-lebar-max-2400-tinggi-max-1800

Liputan Yordania, pada 7 Oktober 2016 telah diterbitkan Surat Keputusan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia kawasan Timur Tengah dan Afrika tentang pembentukan dan penugasan Aliansi Keputrian Timur Tengah dan Afrika (AKTA) periode 2016-2017.

Pergerakan AKTA bermula sejak tanggal 6 Mei 2016 dengan dibentuknya grup whatsapp beranggotakan perwakilan mahasiswi dari 12 negara di Timur Tengah dan Afrika, diantaranya, Afrika Selatan, Arab Saudi, Iran, Libya, Maroko, Mesir, Pakistan, Suriah, Sudan, Tunisia, Yaman dan Yordania.

Pada dasarnya, pergerakan ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi antarsesama mahasiswi kawasan Timur Tengah dan Afrika yang memiliki kultur khas serta mayoritas pendidikan berbasis agama Islam.

Tujuan ini kemudian berkembang menjadi keinginan untuk memberi kontribusi nyata bagi kemajuan para muslimah di Indonesia maupun di dunia melalui berbagai agenda yang akan bekerja sama dengan PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika serta PPI Dunia.

Inisiatif peresmian aliansi ini disampaikan saat rapat kawasan dalam rentetan agenda LPJ PPI Dunia 2015-2016, pada tanggal 27 Juli 2016 di ruang Bhinneka, KBRI Kairo dan disetujui oleh semua pihak yang turut hadir. Saat ini, anggota AKTA tersisa di sebelas negara (kecuali Libya, Lebanon, dan Uni Emirat Arab) dengan jumlah mencapai 1500 pelajar putri dan mahasiswi Indonesia.

Sebuah kesyukuran atas hadirnya AKTA di tengah maraknya problematika wanita yang terjadi baik di Indonesia maupun di dunia.

“Kami berharap, semoga AKTA dapat mengoptimalkan peran mahasiswi Indonesia di Timur Tengah dan Afrika sebagai duta bangsa untuk menjawab problematika tersebut serta memberi kontribusi nyata untuk agama, bangsa dan dunia. Kami turut haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada PPI Kawasan Timteng dan Afrika serta PPI Dunia atas dukungan dan arahannya hingga AKTA resmi menjadi bagian dari pergerakan PPI Dunia,” ujar pengurus AKTA.

(Rahmah Rasyidah/F)

Madinah - ppmisaudi.org / Bertempat di RM Sanabel Al Madinah, PPMI Arab Saudi mengadakan Silaturrahmi Rutin Tahunan PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika yang sedang bertugas sebagai Tenaga Musiman Haji (TEMUSH).

Pertemuan ini berlangsung pada hari Sabtu, 8 Oktober 2016, dan dihadiri oleh Imam Khairul Annas selaku Ketua Umum PPMI Arab Saudi 2015-2017 serta beberapa perwakilan dari PPMI Arab Saudi. Selain itu turut hadir juga Agus Mujib selaku Ketua KKMI Libya 2016-2017, Rama Rizana selaku Koordinator Divisi Pendidikan, Politik, Ekonomi, Kebudayaan dan Agama (P2EKA) Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia), Abdul Gofur Mahmudin selaku Presiden PPMI Mesir 2015-2016, Choiriah Ikrima Sofyan yang merupakan Sekretaris PPI Kawasan Timteng & Afrika 2014-2015, Zakiah Rahmah yang pernah menjadi Sekretaris PPI Kawasan Timteng & Afrika 2015-2016, Izuddin selaku Ketua MPA PPI Hadhramaut 2015-2016, Rahmat Ilahi Siregar dari PPI Lebanon, Kamal dan Nuraeni dari PPI Sudan, Irhamni Rofiun dari PPI Tunisia, serta Armi dari PPI Maroko.

Acara diawali dengan makan malam, dilanjutkan dengan taaruf (perkenalan) para peserta silaturrahmi dan pemaparan PPI Negara masing-masing. Selanjutnya, sambutan dan ucapan selamat datang dari Ketua Umum PPMI Arab Saudi, yang juga membacakan sambutan dari Koordinator PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika, Kiagus Ahmad Firdaus.

"Silaturrahim ini adalah kegiatan tahunan, tahun lalu diadakan di Madinah, dan 2 tahun lalu diadakan di Jeddah," ujar Imam yang sedang menyelesaikan studi di Universitas Islam Madinah.

"Kami PPMI Arab Saudi mengucapkan apresiasi kepada PPMI Mesir yang telah sukses menyelenggarakan Simposium Internasional PPI Dunia tahun 2016, dan kami memohon doa dan dukungan kawan-kawan semoga kami bisa menyelenggarakan Simposium Kawasan dengan baik dan lancar," lanjut Imam.

Setelah itu, sambutan dari Koordinator Divisi P2EKA PPI Dunia 2016-2017, Rama Rizana, yang juga menyampaikan Program Kerja dari Divisi baru yang ada di PPI Dunia periode ini. "Sekilas tentang Divisi P2EKA, berawal dari Simposium di Kairo kemarin, yang mengadakan 4 Sidang Komisi (Politik, Pendidikan, Ekonomi dan Agama) dan menghasilkan 7 rencana aksi. 7 rencana aksi ini dikerjakan oleh 4 komisi tadi, dan dikawal oleh Divisi P2EKA. 2 rencana aksi yang berasal dari Komisi Agama adalah Pembentukan Tim Kajian Radikalisme Agama serta Tim Media Kerohanian," terang Rama yang juga merupakan Anggota Dewan Syura dan sekaligus Kepala Departemen Pendidikan PPMI Arab Saudi.

Rama juga mengusulkan agar para mahasiswa Timur Tengah yang menjadi TEMUSH untuk membuat sebuah buku yang menceritakan pengalaman-pengalamannya selama bertugas di Tanah Suci. Ide ini disambut baik oleh para peserta silaturrahim. "Saya sangat setuju, ini akan sangat bermanfaat terutama untuk para petugas di tahun-tahun yang akan datang," ujar Abdul Gofur.

Turut hadir dalam kegiatan ini, Azri Alhaq selaku Sekretaris PPMI Arab Saudi; Habli Robbi Waliyya selaku Anggota Badan Otonom Pusat Kajian Strategis PPMI Arab Saudi; Fahmy Husnul Fasya selaku Anggota Departemen Teknologi Informasi PPMI Arab Saudi; Sufyan Tsauri Muhammad Ilyas selaku Anggota Dewan Syura PPMI Arab Saudi; Muhammad Sobri selaku Bendahara PPMI Madinah 2015-2016; dan Asep Sunandar selaku Anggota PPMI Arab Saudi.

Semoga kegiatan ini dapat mendukung program kerja PPI Dunia setahun ke depan serta bisa diselenggarakan kembali di tahun-tahun yang akan datang. (Red, im / Ed, pw)

img-20161010-wa0002

Liputan Bogor, Ini merupakan kali ke dua PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika menyelenggarakan kegiatan orientasi Perguruan Tinggi di pesantren yang ada di Indonesia. Orientasi perdana yang mengusung tema "Orientasi Perguruan Tinggi Arab Saudi, Tunisia dan Timur Tengah" ini diselenggarakan di Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining, 9 Dzulhijjah 1437 H/10 September 2016.

Acara dimulai dengan pembukaan dan sambutan oleh Kepala Biro Sumber Daya Manusia Pesantren Darunnajah 2 Cipining, Al-Ustadz Mustafa Zahir, Lc, yang kemudian dilanjutkan dengan pemaparan tentang tema diatas oleh kedua narasumber yang telah diundang yaitu Muammar Kadafi, Lc, PPI Tunisia dan Imam Khairul Annas, PPMI Arab Saudi. Peserta dan para tamu undangan dalam acara ini adalah santriwan dan santriwati kelas 4, 5, 6 TMI (kelas 10, 11, 12) beserta guru pengabdian tahun pertama dan tahun kedua, dengan jumlah keseluruhan peserta orientasi mencapai 700 orang.

 

Pemberian materi

Pemberian materi

Pada kesempatan tersebut, ketua umum PPMI Arab Saudi 2015/2016, Imam Khairul Annas bertindak sebagai narasumber pertama mempresentasikan tentang perkuliahan di Arab Saudi dan sistem perkuliahan di beberapa negara yang ada di kawasan Timur Tengah dan Afrika.

"PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika ini sendiri terdiri dari 14 PPI Negara yaitu PPMI Pakistan, IPI Iran, PPI Uni Emirat Arab, PPMI Arab Saudi, PPI Yaman, HPMI Yordania, PPI Lebanon, PPI Damaskus, PPMI Mesir, PPI Sudan, KKMI Libya, PPI Tunisia, PPI Maroko dan PPI Afrika Selatan. Masing-masing PPI memberikan informasi tentang sistem perkuliahan, beasiswa yang tersedia, dan kegiatan mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam PPI melalui website dan media sosialnya masing-masing" papar Imam.

"Sedangkan beberapa keuntungan melanjutkan studi di Arab Saudi sendiri adalah tersedianya beasiswa penuh bagi beberapa mahasiswa asing dan lokal, situasi yang aman dan kondusif serta kesempatan untuk menunaikan ibadah haji dan umrah", ujar Imam yang saat ini sedang melanjutkan studinya di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi.

Selain itu Imam yang telah menyelesaikan tugasnya sebagai Koordinator PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika pada Juli lalu juga menambahkan bahwasannya belajar di kawasan Timur Tengah dan Afrika memiliki tradisi yang unik di masing-masing negara. Sebagai contoh adalah Pakistan yang terkenal akan Bahasa Urdunya yang kental. Sehingga jika mahasiswa asing belajar di Pakistan maka mereka juga diharuskan belajar Bahasa Urdu selain Bahasa Inggris.

Peserta Seminar

Peserta Seminar

Selanjutnya seminar kedua dilanjutkan oleh Muammar Kadafi, Lc, Ketua PPI Tunisia 2015/2016. Muammar menjelaskan tentang tiga point penting ketika belajar di Tunisia, yaitu Cara, Tantangan, dan Keuntungan. Cara mendaftar menjadi mahasiswa baru di Tunisia sendiri tidak jauh berbeda dengan negara-negara lain pada umumnya. Di Tunisia sendiri juga memiliki standard nilai minimum yang harus dipenuhi oleh masing-masing calon mahasiswa beserta beberapa dokumen penting yang harus dilengkapi untuk dapat diproses di bagian admission.

"Seperti halnya mendaftarkan ke universitas pada umumnya berkas yang dibutuhkan juga tidak jauh berbeda, dan adik-adik bisa langsung membaca panduan studi di Tunisia yang sudah tersedia dalam website kami www.ppitunisia.org," ungkapnya mengawali point pertama.

Berlanjut ke point kedua, Muammar menjelaskan tentang beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh mahasiswa asing di Tunisia serta solusi menghadapinya. Disesi ini, banyak sekali hal-hal teknis yang tidak terdapat dalam buku panduan kuliah di Luar Negeri. Sehingga sesi ini merupakan sesi yang paling penting kaitannya dengan tantangan dan rintangan selama belajar di negeri orang.

Kemudian point ketiga, Muammar juga menjelaskan tentang beberapa keuntungan kuliah di Tunisia. Salah satunya adalah bahasa. "Bahasa adalah keuntungan yang pertama, selain adik-adik bisa mempraktekkan bahasa Arab yang sudah lebih dahulu dipelajari di pesantren, juga bisa menambah satu bahasa lain yaitu Bahasa Perancis jika memang memiliki kecintaan dalam bahasa," tuturnya dengan lugas.

Ia juga menambahkan bahwa Bahasa adalah signal pertama bagi seseorang itu berilmu pengetahuan yang tinggi dan merupakan salah satu ilmu para Nabi. "Keuntungan yang kedua adalah bisa melihat langsung Sejarah Peradaban Islam yang ada di Tunisia, seperti halnya Jami' Uqbah ibn Nafi', Jami' Az-Zaytunah, jejak sejarah Pakar Sosiolog ternama Ibnu Khaldun dll," ucap Kadafi.

Sedangkan keuntungan yang ketiga yaitu dapat merasakan sistem pendidikan yang sangat baik, muai dari metodologi penulisan, penelitian, dan lingkungan yang mendukung untuk belajar.

Setelah sekian jam pemaparan dari kedua nara sumber diatas maka acara pun dilanjutkan dengan sesi tanya jawab baik dari para peserta dan tamu undangan. Pada akhir acara tersebut, cindera mata diberikan kepada narasumber dan diakhiri dengan foto bersama. (Red, Muammar&Imam/Ed, Amir)

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920