logo ppid

Sakura (桜;さくら), yang mana dalam Bahasa Inggris biasa disebut Cherry Blossom, merupakan bunga dari pohon berjenis Prunus serrulata. Jenis pohon ini tumbuh di beberapa negara di belahan bumi utara seperti Jepang, Korea, Taiwan, Iran dan bahkan di Afganistan. Jepang yang merupakan negara dengan julukan “Negeri Sakura” ini adalah negara yang di setiap kotanya selalu dipenuhi oleh bunga Sakura di musim semi. Nyaris tidak ada satu tempat pun di Jepang yang tidak ditumbuhi bunga Sakura setelah berakhirnya musim dingin. Mungkin inilah yang menyebabkan mengapa Jepang dijuluki sebagai Negeri Sakura. Sakura yang identik dengan bunga berwarna merah muda ini ternyata memiliki banyak jenis, dan yang paling populer adalah White Cherry Blossoms atau dalam Bahasa Jepang disebut Somei Yoshino.

Bunga Sakura sendiri merupakan bunga yang tidak bertahan lama dalam kondisi cuaca yang tidak stabil. Oleh karena itu, mekarnya bunga Sakura selalu menjadi sorotan penting masyarakat Jepang pada umumnya. Saat tiba musim semi, tayangan berita di Jepang berbondong-bondong memberikan penjelasan serta prediksi mekarnya bunga tersebut di setiap sudut negara Jepang lengkap dengan tanggal kemungkinan bunga ini mekar. Sekitar kurang lebih satu minggu Sakura hanya bisa bertahan. Setelah angin yang cukup kencang atau hujan lebat, bunga cantik ini akan gugur secara cepat. Hmm, cantik sih tapi tidak kuat diterpa hujan dan angin ya.

Mekarnya Sakura disambut sangat hangat oleh masyarakat Jepang dengan adanya Hanami. Mungkin bagi kalian yang mengagumi negara Jepang, tidak asing lagi mendengar kata Hanami. Ya, Hanami merupakan tradisi duduk makan bersama di bawah pohon Sakura sembari menikmati bunga yang mekar di musim semi ini. Hanami (花見;はなみ) berasal dari kata Hana (花;はな) yang berarti bunga dan Mi (見;み) berasal dari kata Mimasu yang artinya melihat. Tradisi ini sudah dijalani dari sejak periode Nara (710-794) yang mana sejak periode tersebut bunga yang pertama kali di lihat adalah Ume atau bunga dari pohon Plum. Awal mula periode Heian (794-1185), barulah masyarakat Jepang menaruh perhatian terhadap bunga Sakura.

Sejarah Hanami sendiri hingga saat ini masih banyak bersimpangan dan belum diketahui pastinya. Salah satu stasiun TV di Jepang pernah mengatakan bahwa tradisi makan dan menikmati Sakura di bawah pohonnya ada sejak zaman dimana salah seorang Raja terdahulu yang sedang melakukan perjalanan, kagum melihat bunga Sakura, dan membuatnya ingin berhenti untuk menikmati keindahan Sakura berlama-lama. Di tahun berikutnya, Raja tersebut kembali untuk melakukan Hanami. Kebiasaan tersebut hingga saat ini diikuti oleh masyarakat Jepang setiap musim semi tiba. Yang menjadi alasan masyarakat Jepang melakukan Hanami adalah karena zaman dulu mereka ingin berekreasi setelah sepanjang musim dingin mereka harus berdiam di rumah. Oleh karena itu, mereka sangat menyambut musim semi yang dianggap menjanjikan kehangatan dan keceriaan bagi masyarakat Jepang.

 

Kapan Puncak Bunga Sakura Mekar?

Bagi kalian yang ingin menikmati Sakura, tentunya kalian tidak ingin melewati mekarnya bunga tersebut ketika datang ke Jepang. Hal ini dirasakan oleh semua turis asing yang datang ke Jepang saat musim semi. Mereka berharap Sakura menjadi hal yang bisa mereka temui dan nikmati. Pada dasarnya Sakura mekar pada pertengahan April selama kurang lebih satu minggu. Tapi, untuk kalian yang datang ke Jepang lebih awal, kalian bisa mencari bunga tersebut di daerah Okinawa yang suhunya lebih hangat dari kota lain di Jepang. Selain Sakura, di Okinawa sendiri terkenal pantai yang menyediakan keindahan bagi siapapun yang menikmatinya. Nah sebaliknya, bagi kalian yang datang diantara bulan Mei-Juni, masih ada kesempatan melihat Sakura yaitu di daerah Hokkaido yang suhunya lebih dingin dari kota atau provinsi lainnnya. Tahun ini sendiri, Sakura mekar lebih awal yaitu pada akhir Maret untuk daerah Kinki (Osaka, Kyoto, Kobe, Nara, Wakayama) dan sekitarnya. Mungkin perubahan suhu bumi yang tidak seperti biasanya menjadi penyebab hal tersebut.

Cara Travelling Murah di Musim Sakura

Sakura merupakan satu hal yang dinanti banyak orang yang berkunjung ke Jepang. Tak heran, kalau musim semi merupakan puncak dimana banyak orang dari berbagai negara menghabiskan waktu di Jepang. Ini membuat Jepang harus kewalahan menerima turis asing sehingga hotel-hotel harus menaikkan harga penginapan dan rata-rata full terisi oleh para turis menjelang musim bunga Sakura. Selain hotel, tiket pesawat pun biasanya melonjak tinggi berkali-kali lipat. Untuk menghindari itu semua, ada beberapa hal yang bisa kalian lakukan diantaranya:

  1. Pesan tiket pesawat jauh-jauh hari sebelum keberangkatan. Hal ini sangat penting, karena kalian tidak akan bisa mendapat tiket dengan harga normal ketika musim semi tiba. Bila memang sudah bulat untuk melihat bunga Sakura, khusus pada musim ini, ada baiknya membeli tiket pesawat satu tahun sebelum kerberangkatan.
  2. Cari penginapan selain hotel dan Ryoukan (penginapan dengan gaya Jepang). Keduanya merupakan hal yang harus dihindari ketika trip pada musim Bunga Sakura, karena harganya akan melonjak tinggi apalagi untuk Ryoukan yang banyak digemari oleh para turis di setiap musimnya.
  3. Gunakan jasa perusahaan tour. Menggunakan jasa perusahaan tour terkadang bisa membuat kita harus lebih banyak mengeluarkan biaya perjalanan. Namun, untuk musim Sakura ini, terkadang banyak perusahaan tour yang menawarkan promo-promo musim Sakura. Mungkin bisa lebih murah karena mereka memesan semuanya jauh-jauh hari untuk kemudian paketnya dijual kepada wisatawan. Di sini, kalian harus memperhitungkan secara detail pengeluaran apabila seluruh perjalanan diurus sendiri dan saat menggunakan perusahaan tour.
  4. Gunakan Japan Rail (JR) Pass. Apa itu JR Pass? JR Pass merupakan tiket transportasi Jepang yang bisa kalian beli di perusahaan-perusahaan tour. Harganya variatif tergantung berapa lama kalian akan menggunakannya selama di Jepang. JR Pass ini bisa dipakai untuk semua transportasi JR (tidak untuk Subway dan perusahaan selain JR) termasuk Shinkansen. Bagi kalian yang ingin menikmati kereta dengan kecepatan 320km/h, kalian bisa gunakan Shinkansen sepuasnya menjelajahi Jepang dengan JR Pass dan pastinya ini lebih murah. Karena, jika kalian tidak menggunakan JR Pass, satu kali perjalanan bisa memakan biaya sekitar 14.450 Yen atau sekitar 1,8 juta Rupiah. Sementara harga JR Pass sendiri sekitar 29.110 Yen atau 3,7 juta Rupiah untuk tujuh hari dan bisa dipakai sepuasnya. Lebih murah bukan?

 

Spots terbaik yang wajib dikunjungi saat Hanami

Ada beberapa tempat wisata yang wajib dikunjungi untuk menikmati bunga Sakura di Jepang. Akan tetapi, tempat-tempat ini akan sangat ramai dikunjungi dari pagi sampai sore hari. Maka dari itu, bagi kalian yang ingin merasakan Hanami sembari menikmati bento (makanan bekal Jepang) di bawah pohon Sakura, kalian bisa datang pagi membawa tikar atau alas lainnya. Sambil bercanda ria bersama sahabat, bernyanyi dan bermain games. Berikut adalah tempat yang menjadi rekomendasi untuk melihat bunga Sakura:

  1. Osaka Castle (Osaka)

Osaka Castle merupakan tempat yang menjadi tujuan para wisatawan lokal maupun asing untuk menikmati Bunga Sakura dengan berbagai macam jenis. Tempat ini juga merupakan tempat yang paling banyak digunakan untuk Hanami dibawah pohon Sakura. Untuk bisa sampai di Osaka Castle, kalian bisa menempuh perjalanan sekitar sebelas menit dari Stasiun Osaka.

 

 

 

  1. Sakuranomiya (Osaka)

Dari namanya saja sudah terdengar “Sakura”. Sakuranomiya merupakan salah satu tempat di Osaka yang dapat ditempuh menggunakan kereta sekitar empat menit dari stasiun Osaka dimana dipenuhi oleh Bunga Sakura berwarna merah muda yang berderet di pinggir sungai. Bersepeda dipinggir sungai sambil menikmati Bunga Sakura di sini merupakan salah satu pilihan terbaik.

  1. Maruyama Park (Kyoto)

Sakura tidak hanya bisa dinikmati ketika pagi dan siang hari saja, tetap juga malam hari. Maruyama Park ini menyajikan pertunjukkan light up pohon Sakura dimalam hari. Bisa menjadi pemandangan atau foto unik bagi kalian yang tertarik. Perjalanan menuju Maruyama Park bisa ditempuh sekitar lima belas menit dari Bus Stop di Stasiun Kyoto menggunakan bus nomor 206.

  1. Ueno Onshi Park (Tokyo)

Bagi kalian yang sedang berada di Tokyo, Ueno Onshi Park menjadi pilihan yang tepat untuk melakukan Hanami bersama keluarga atau kawan-kawan. Perjalanan menuju Ueno Onshi Park bisa ditempuh sekitar delapan menit dari stasiun Tokyo.

 

Para pencinta travelling, ada baiknya kalian mencoba berwisata Hanami ini. Selain menjadi pengalaman yang menyenangkan dan unik, kalian juga bisa merasakan kehangatan dan kegembiraan di musim semi dengan ditemani bunga-bunga Sakura yang bermekaran. Dijamin deh disetiap sudut kota di Jepang akan sangat indah untuk dipandang ataupun difoto pada musim semi. Juga jangan lupa perhitungan yang tepat dalam budget. Selamat menikmati Hanami!

 

 

Profil Penulis:

Imawati Harun Ruhyana merupakan mahasiswi tingkat akhir di Osaka University of Economics and Law jurusan Global Business dan merupakan Koordinator Kantor Komunikasi Kawasan Asia-Oseania PPI Dunia. Tidak ada blog khusus yang dapat dikunjungi, tetapi kalian bisa menikmati foto-foto di Jepang melalui instagram penulis @imawatihruhyana atau @tinggaldijepang untuk segala hal berkenaan dengan Negeri Sakura mulai dari makanan, alam dan lainnya. Serta facebook di Imawati H. Ruhyana.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menemui masyarakat Indonesia di Jepang

TOKYO, 28 November 2017 – Dalam rangka kunjungan selama dua hari ke Jepang, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyempatkan diri menyapa masyarakat Indonesia yang diadakan Selasa malam di Balai Indonesia Sekolah Republik Indonesia Tokyo.

Diawali makan malam pukul 18:30 waktu setempat, ramah tamah dengan Menteri Enggartiasto dimulai satu jam kemudian. Ikut mendampingi Mendag, hadir jugaDubes Indonesia untuk Jepang, Arifin Tasrif; Utusan Khusus Presiden untuk Jepang, Rachmat Gobel; serta Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Arlinda.

Sebelum hadirin diberi waktu untuk mengajukan pertanyaan, terlebih dahulu Mendag memberikan kata sambutan serta kabar terkini dari Indonesia.Kunjungan Mendag kali ini bertujuan untuk memperkuat kerjasama perdagangan dengan Jepang, serta meningkatkan potensi ekspor Indonesia ke Jepang. Maka agenda Mendag di Negeri Sakura ialah melakukan pertemuan dengan perusahaan ternama Jepang semisal Toyota dan Aeon. Kemudian ada juga acara forum bisnis yang diperantai oleh JETRO (Japan External Trade Organization). Pada forum itu ada sekitar 20 perusahaan Indonesia yang mencari peluang ekspor dengan perusahaan-perusahaan Jepang. Mendag juga akan hadir pada forum bisnis itu sebagai pembicara.

 

Pertumbuhan Ekonomi

Melihat angka-angka pertumbuhan Indonesia, terjadi perbaikan yang berarti pada triwulan pertama tahun 2017. Terdapat peningkatan dari 4,9% (triwulan akhir 2016) menjadi 5,0%, dan diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai angka 5,3% pada tahun 2018. Peningkatan itu sesuai dengan visi pemerintahan yang terus-menerus memperbaiki lingkungan penanaman modal asing, menjaga inflasi tetap rendah, dan menguatkan daya beli masyarakat. Pemerintah memang berupaya menahan laju inflasi agar daya beli masyarakat tidak menurun. Target pemerintah adalah menahan angka inflasi agar dapat berada di bawah 3,5%.

Bonus demografi Indonesia juga tidak boleh dilupakan. Di saat negara-negara seperti Jepang mendapat ancaman kekurangan penduduk yang produktif, Indonesia masih memiliki jumlah penduduk yang mumpuni untuk bersaing. Tentunya apabila tidak dibarengi dengan perbaikan, tidak akan tercapai tujuan untuk meningkatkan daya saing masyarakat.

Cara-cara yang saat ini digalakkan pemerintah antara lain pembangunan jalan dan BBM satu harga. Seperti yang diketahui, belum lama ini presiden Joko Widodo memberlakukan BBM satu harga dari ujung timur hingga ujung barat. Dikarenakan ketergantungan yang tinggi pada BBM, mahalnya harga BBM juga akan mempengaruhi hal-hal lain semisal harga barang, ongkos transportasi. Dengan BBM satu harga, diharapkan harga-harga kebutuhan masyarakat dapat ditekan agar lebih terjangkau. Sementara pembangunan jalan juga akan memudahkan masyarakat untuk berpindah dan mempercepat arus perubahan. Tidak hanya di pulau Jawa, jalan-jalan negara juga akan dikebut di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, hingga Papua.

 

Impor Bumbu

Hal menarik disampaikan Mendag mengenai tarif khusus bumbu Indonesia yang akan diimpor ke Jepang. Sebelumnya Dubes Arifin Tasrif memang pernah berdiskusi dengan Mendag mengenai hal ini, agar para pemilik restoran atau toko bisa memperoleh bumbu dengan harga lebih murah sehingga bisa dijual dengan harga terjangkau kepada masyarakat Indonesia di Jepang.

Skemanya memang belum dibicarakan lebih jelas. Namun, “mungkin kita akan minta Garuda Indonesia kalua bisa memberikan tarif khusus bagi bumbu Indonesia yang mau impor ke Jepang,” ujar Mendag. Tentunya apabila benar-benar terjadi, itu adalah kabar baik bagi seluruh masyarakat Indonesia di Jepang yang ingin melepas rasa kangen dengan harga yang lebih terjangkau.

 

Potensi Ekspor

Beberapa pertanyaan dari para hadirin sempat menyinggung tentang peluang Indonesia sebagai eksportir makanan halal di Jepang. Menurut Mendag, makanan halal adalah makanan sehat, dan makanan sehat sedang menjadi primadona di kalangan masyarakat saat ini. Oleh karena itu, peluang Indonesia menjadi eksportir makanan halal masih terbuka.

Bagi masyarakat muslim di Jepang tentunya paham sulitnya mencari makanan halal untuk dikonsumsi. Mendag berupaya untuk memperbanyak jumlah restoran bersertifikasi halal di Jepang dibantu oleh Dubes Arifin Tasrif. Mendag yakin bahwa restoran bersertifikasi halal akan ramai dikunjungi, tidak hanya oleh masyarakat muslim, tapi juga orang-orang yang mencari makanan yang nikmat namun juga aman bagi kesehatan dan bergizi.

Kopi Indonesia juga berpeluang menjadi primadona di Jepang. Saat ini memang tren konsumsi kopi sebagai gaya hidup sedang melanda banyak negara, tidak terkecuali Indonesia dan Jepang. Dengan menjamurnya café-café artisan, beragam teknik menyeduh kopi, bahkan hingga film “Filosofi Kopi” yang diangkat dari novel berjudul sama karya Dewi Lestari, gelombang dari tren ini dapat disebut luar biasa besar. Kini kopi tidak lagi dipandang sebagai minuman orang tua, tetapi juga dipandang sebagai minuman anak muda. Di Jepang, kopi dapat dengan mudah didapat; dari kedai kopi ataupun dari mesin penjual otomatis. Bahkan konsumsi teh hijau, yang menjadi produk kenamaan terus menurun tergerus kopi. Mendag melihat ini sebagai peluang, dan berharap kopi Indonesia dapat menjadi sorotan bagi penikmat kopi di Jepang.**

 

Penulis: Theodorus Alvin

Editor: Kartika Restu Susilo

Dalam rangka mempersiapkan bahan white paper pembangunan pendidikan Indonesia, Divisi Kajian Komisi Pendidikan PPI Dunia menyelenggarakan Web Seminar (webinar) dengan tema “Mengenal Pendidikan Literasi di Asia Timur” pada:

Hari/ Tanggal : Minggu, 5 November 2017
Waktu : Pukul 18:00 WIB

Pembicara:
* Pembicara Utama: Andy Bangkit Setiawan, Ph.D, Associate Professor (designated) Graduate School of Education and Human Development Nagoya University;
* Pembicara Pertama: Eka Koesuma Wardhany, S.S, Mahasiswi Master of Disability Science, Department of Human Comprehensive Science, University of Tsukuba, Jepang;
* Pembicara Kedua: Yudil Chatim, M.Ed, Pegawai Direktorat Jenderal PAUD dan Dikmas, Kemendikbud RI; Mahasiswa Doktoral, Department of Education di Huanzhong Normal University, Wuhan - Tiongkok.

Moderator: Tracey Yani Harjatanaya, M.Sc
* Kepala Divisi Kajian Komisi Pendidikan PPI Dunia Periode 2017-2018; Mahasiswi Doktoral, Department of Education, University of Oxford.

 

Saksikan secara live di Channel YouTube PPI TV @ppitvchannel atau tinggal klik link live streaming berikut ini:

 

 

• Jika ingin memberikan pertanyaan bisa disampaikan lewat:
✅ Kolom komentar di bawah ini
✅ Kontak moderator @traceyyani
✅ Live chat saat webinar berlangsung

Salam perhimpunan!

Andy Sirait (keempat dari kiri), Prof. Josaphat (keenam dari kiri), Almira Shinantya (ketujuh dari kiri), Daniel Surya (kedelapan dari kiri)

 

TOKYO, 28 Oktober 2017 - Bertemakan “Memilih yang Terbaik”, KMKI selaku penyelenggara acara mengundang empat orang narasumber untuk membagikan ilmu dan pengalaman masing-masing.

Acara yang dimulai pada pukul 12:30 waktu setempat itu menghadirkan empat orang narasumber: Andy Laver Sirait; Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo; Daniel Surya; dan Almira Shinantya. Menelisik biodata dari masing-masing narasumber, Andy Sirait saat ini bekerja di perusahaan yang didirikannya, Asia Strategic Human Capital sebagai headhunter yang bermarkas di Jakarta dan Tokyo. Sementara itu, nama Prof. Josaphat pastinya sudah tidak asing lagi di telinga para akademisi. Beliau adalah professor tetap di Chiba University yang berkonsentrasi pada bidang Remote Sensing. Lalu, Daniel Surya adalah CEO dari WIR Group, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang creative technology. Sedangkan Almira Shinantya adalah managing director dari DM ID, sebuah firma konsultan yang bergerak pada perencanaan pemasaran.

Sebagai pembicara pertama, Andy Laver Sirait menekankan suatu poin penting mengenai perencanaan. Dihadapan para hadirin beliau berkata “Those who fail to plan, plan to fail”. Sebegitu pentingnyalah perencanaan bagi tiap individu, sehingga harus dipikirkan matang-matang sedari jauh hari. Hal itu juga merupakan sebuah permasalahan bagi anak-anak Indonesia. Pada kesempatan terpisah, Andy mengakui bahwa keadaan di Indonesia kurang mendukung anak-anak untuk membuat rencana yang matang. Misalnya dalam banyak hal di Jepang, sudah direncanakan dengan tepat seperti jadwal ketibaan kereta/bus, jadwal janji temu, atau jadwal acara. Di Indonesia yang lebih fleksibel, sangat sulit untuk membuat perencanaan matang karena terganjal oleh berbagai faktor yang dapat menyebabkan pergeseran. Di luar semua itu, Andy juga menegaskan pentingnya arah dibandingkan jarak. Meskipun untuk menuntaskan sesuatu memakan banyak waktu, tetaplah fokus pada tujuan karena pada akhirnya, ke sanalah tercapainya impian Anda.

 

Teknologi mutakhir

Berselang lima menit, sesi berikutnya dilanjutkan oleh Prof. Josaphat. Pendiri dari Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL) dengan teknologi paling mutakhir itu bercerita masa-masa awal saat menginjakan kaki di Jepang. Kala itu beliau menerima beasiswa Science and Technology Manpower Development Program (STMDP) II pada masa mantan presiden Habibie menjabat sebagai Menristek. Selepas kelulusannya dari Kanazawa University dan memperoleh gelar pasca sarjana, Prof. Josaphat melanjutkan pendidikan doktoral ke Chiba University. Dari sanalah perjalanannya hingga menjadi profesor tetap seperti sekarang berawal.

Prof. Josaphat saat menyampaikan materi

Salah satu terobosan yang dibuat Prof. Josaphat di JMRSL adalah Synthetic Aperture Radar yang sampai saat ini hanya dapat diproduksi oleh Mitsubishi, NEC, dan JMRSL miliknya sendiri di Jepang. Kelebihan SAR ini adalah bobot minim tetapi kemampuan sepadan dengan yang sudah ada, bahkan lebih. Kegunaan utama SAR sebenarnya untuk pemetaan lahan, namun banyak juga manfaat lain. Misalnya dengan pemetaan lahan, kita dapat mengukur ketebalan tanah untuk perencanaan penanggulangan banjir di Jakarta atau penyelesaian masalah lahan gambut di Riau. Selain itu kita juga dapat melihat retakan atau pergeseran tanah, yang dapat digunakan untuk menilai aman atau tidaknya suatu bangunan. Namun, mungkin yang tidak terpikirkan, dengan melihat pergeseran tanah, kita dapat memprediksi gempa, sehingga dapat diantisipasi lebih awal. “Misalnya sebuah bangunan bergeser sebesar 1 cm saja di Surabaya, dengan radar ini saya dapat mengetahuinya langsung dari Jakarta," kata Prof. Josaphat menggambarkan betapa besar manfaat teknologi ciptaannya.

Ada juga karya-karya lain Prof. Josaphat. Contohnya JX-1, sebuah UAV (Unmanned Aerial Vehicle) yang memiliki rentang sayap sepanjang enam meter. Ada pula satelit berbobot 150 kg yang diprediksi dapat menggantikan satelit konvensional dengan massa hingga sekian ton. Meskipun kini bermukim dan bekerja di Jepang, Prof. Josaphat tetap berkontribusi pada Indonesia, dan bahkan dunia. Radar tersebut merupakan impian beliau semenjak tumbuh berkembang di lingkungan AU. Kini, beliau telah berhasil mengubah mimpinya jadi nyata. Radar itu adalah janjinya pada sang ayah, dan juga sebuah karya untuk dimanfaatkan bagi kebaikan orang banyak.

Pembicara terakhir adalah duo Daniel Surya dan Almira Shinantya. Daniel khusus memimpin perusahaan di bidang teknologi kreatif. Salah satu teknologi yang digelutinya adalah Augmented Reality (AR). Perusahaan yang dinamainya WIR (We Indonesians Rule) Group itu pernah bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan terkemuka dunia semisal Caltex, Danone, Dutch Lady, dan Otsuka. Bahkan Daniel pernah diminta memasukkan teknologi AR ke merk pakaian milik Pharrell Williams, Billionaire Boys Club. Salah satu karyanya juga pernah memenangkan penghargaan bergengsi Auggie Awards untuk kategori Best Campaign pada Augmented World Expo tahun 2016.

Di sisi lain sebuah bisnis, satu hal yang tidak boleh terlupakan adalah pemasaran. Selain memperhatian sistem yang berjalan, perlu juga promosi agar khalayak luas tertarik pada apa yang dijual. Inilah bidang yang diurus oleh Almira selaku managing director DM ID, anak perusahaan WIR Group. Pada dasarnya, merek ada agar konsumen lebih mudah menentukan pilihan. Namun, Almira menjabarkan lebih jauh lagi. Ada empat tujuan yang harus dicapai suatu merek, yakni: menciptakan gambaran, menimbulkan hubungan emosional; membangun rasa percaya terlepas logika; serta mendorong bisnis dan penjualan. Jika empat tujuan itu tercapai, maka dapat dikatakan bahwa maksud sang pembuat merek tersampaikan dengan baik.

Banyak ilmu yang dapat dipetik dari seminar di hari Minggu sore tersebut. Diharapkan para hadirin dapat mendapat pencerahan dan bekal pengetahuan untuk menjalani hidup.

 

Penulis: Theodorus Alvin

 

Editor: Kartika Restu Susilo

TOKYO, 15 Oktober 2017. Perwakilan dari Kementerian Pertahanan berkunjung ke Tokyo dan mengadakan pembinaan tentang konsep bela negara kepada WNI di Tokyo. Mayoritas hadirin adalah murid-murid Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), meski ada juga mahasiswa dan orang dewasa.

Inti dari acara pada hari Minggu pagi disampaikan oleh Laksma TNI Dr. M. Faisal, S.E, M.M, selaku Direktur Bela Negara Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan. Konsep bela negara sendiri sebenarnya tertuang dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Disebutkan pada pasal 9 ayat 1, bahwa “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya bela negara yang diwujudkan dalam penyelenggaraan pertahanan negara”. Lalu dalam ayat 2 dilanjutkan dengan “Keikutsertaan warga negara dalam upaya bela negara, sebagaimana disebut dalam ayat (1) diselenggarakan melalui: a. pendidikan kewarganegaraan; b. pelatihan dasar kemiliteran secara wajib; c. pengabdian sebagai Tentara Nasional Indonesia secara sukarela atau secara wajib; d. pengabdian sesuai dengan profesi”.

Sebagai bangsa Indonesia, terdapat empat pilar penyokong yang dirumuskan oleh para pendiri. Empat pilar tersebut adalah: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Segala tindak laku serta pemikiran kita sebagai bangsa haruslah merujuk kepada empat asas tersebut. Keempat asas ini kemudian diterapkan lebih jauh lagi ke dalam konsep yang disebut wawasan kebangsaan. Pengertian dari konsep wawasan kebangsaan singkatnya adalah, kesadaran seseorang akan jati dirinya sebagai bagian dari sebuah bangsa yang berkelanjutan ke dalam tingkah lakunya serta cara pandangnya yang sesuai dengan falsafah suatu bangsa. Sebagai bangsa yang majemuk, sudah sepatutnya kita berperilaku adil dan terbuka dalam menerima perbedaan. Ini sesuai dengan pengertian Bhinneka Tunggal Ika yang bermakna berbeda-beda namun tetap satu jua. Menerima perbedaan hanyalah satu hal yang diinginkan oleh para pendiri bangsa ini, tentunya banyak hal yang harus kita perbaiki untuk menjadi bangsa yang dewasa.

Penyerahan Plakat oleh Dubes Arifin Tasrif

Dari pemikiran suatu bangsa, lama-kelamaan muncul suatu negara. Dimulai dari bangkitnya organisasi pemuda Budi Utomo pada 1908, lalu Sumpah Pemuda tahun 1928, hingga proklamasi kemerdekaan pada 1945 adalah beberapa proses terciptanya Republik Indonesia seperti sekarang ini. Laksma M. Faisal menyampaikan bahwa, negara sendiri layaknya suatu entitas; negara adalah makhluk hidup yang harus dirawat. Misalnya, sebagai bangsa yang bernegara, kita harus membela kedaulatan negara, membela keutuhan wilayah, serta menjaga keselamatan bangsa. Seandainya terdapat ancaman kepada Indonesia, terdapat hal yang disebut Sistem Pertahanan Semesta. Dengan sistem ini, semua sumber daya nasional haruslah dikerahkan. Tentunya kita tidak harus menunggu ancaman terlebih dahulu jika ingin bergerak. Ketika menghadapi suatu permasalahan, kita harus bertindak dengan tepat dan cepat demi meredamnya. Pendidikan bela negara ini tidaklah selalu tentang berperang melawan musuh, tetapi lebih kepada pengembangan karakter seseorang sesuai dengan empat pilar kebangsaan.

Tidak harus menjadi tentara untuk mengabdi kepada negara. Sebagai pelajar, belajar dengan serius juga sudah cukup untuk mengabdi. Sebagai pekerja, dengan berkonsentrasi terhadap pekerjaan dan memberikan hasil terbaik juga sudah cukup. Pada dasarnya, apapun yang sedang kita kerjakan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh agar kelak dapat memberi hasil yang memuaskan serta hal tersebut juga dapat mengangkat jati diri Indonesia lebih tinggi lagi. Apabila seluruh warga negara dapat berpikir demikian dan juga benar-benar dapat bertindak semestinya, pastinya Indonesia akan menjadi lebih hebat lagi dari saat ini. Jadi, pastikan untuk selalu bersungguh-sungguh dalam bidang apapun yang sedang digeluti.

Penulis: Theodorus Alvin

Editor: Kartika Restu Susilo

TOKYO, 14 Oktober 2017 - Di malam pertama Indonesia-Japan Friendship Festival yang diadakan di Taman Yoyogi, Tulus menyuguhkan penampilan memukau di depan warga Indonesia dan juga Jepang. Penampilan tersebut adalah puncak hari pertama dari perayaan persahabatan antara Indonesia dan Jepang.

Pada Sabtu malam, Taman Yoyogi yang terletak di Shibuya, Tokyo menjadi lebih ramai dari biasanya. Di malam minggu itu, sedang diselenggarakan Indonesia-Japan Friendship Festival yang berlangsung selama dua hari (Sabtu dan Minggu). Selain bilik-bilik perusahaan maupun individu yang menjual berbagai macam produk, hadir pula pagelaran musik untuk memeriahkan suasana.

Namun yang menjadi primadona pada hari sabtu malam adalah konser Tulus. Konser yang berlangsung selama dua jam tersebut juga menampilkan Hiroaki Kato sebagai musisi pembuka. Meskipun Sabtu itu hujan gerimis dan cuaca tiba-tiba menjadi terlalu dingin untuk musim gugur, tetap tidak menyurutkan niat Teman Tulus untuk menyapa idolanya.

Hiroaki Kato resmi membuka konser pada pukul enam sore waktu setempat. Penampilannya disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin yang sudah tak sabar menunggu suara merdu dari panggung. Hiro, begitu biasanya ia dipanggil, membawakan bermacam lagu dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia. Ada beberapa lagu yang familiar di telinga pendengar seperti “Ruang Rindu” dari band Letto dan juga “Laskar Pelangi” dari band Nidji yang dibawakan oleh Hiro dalambBahasa Jepang dan versi aslinya pada malam itu. Selain penonton Indonesia yang senantiasa bersenandung mengikuti iringan musik, masyarakat Jepang yang hadir juga terlihat sangat menikmati lagu-lagu terjemahan Hiro. Di akhir penampilan pembukanya, Hiro menanyikan salah satu lagu dari album pertamanya yang berjudul “Terima Kasih” sebagai ungkapan atas ramainya antusiasme penonton malam itu.

Sukses menghangatkan suasana malam itu, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun muncul. Penampilan Tulus langsung dimulai dengan teriakan tanda tak sabar. Penampilan tersebut adalah pertama kalinya Tulus tampil di Tokyo. Meskipun bukan konser dengan skala besar, riuhnya keadaan tetap tidak kalah dari konser besar. Membawakan lagu-lagu yang pastinya telah diketahui khalayak umum, konser berlangsung begitu seru hingga waktu terlupakan. “Teman Pesta”, “Baru”, “Jangan Cintai Aku Apa Adanya”, “Sewindu” dibawakan langsung oleh Tulus secara energik. Tak ketinggalan, lagu-lagu baru dari album ketiga, “Monokrom” juga dibawakan pada malam itu. Salah satu lagu yang paling menyita perhatian adalah “Sepatu” yang juga memiliki versi bahasa Jepang. Pada malam itu Tulus berduet menyanyikannya bersama Hiro, yang menerjemahkan lagu tersebut. Meskipun mengaku tidak dapat berbahasa Jepang, Tulus tetap menyuguhkan penampilan yang tanpa cela.

Duet Tulus dan Hiroaki Kato

Hal yang paling mengejutkan adalah lagu “Bengawan Solo” juga dibawakan oleh Tulus. Lagu yang ditulis pada kisaran tahun 1940 oleh Gesang tersebut memang pernah populer dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Jepang pada era 90-an. Lagu bernuansa asli keroncong tersebut dibawakan dengan gaya yang berbeda oleh Tulus, namun tetap mempertahankan kehangatan dan nostalgia yang terkandung daripadanya.

Meskipun singkat, malam itu berlalu dengan kebahagiaan dari alunan suara merdu Tulus dan Hiro, serta rasa rindu yang terlegakan dari para hadirin yang tetap bersemangat di tengah cuaca dingin.

***
Tim Kominfo PPI Jepang mendapat akses khusus untuk memwawancara Tulus dari belakang panggung. Tunggu tanggal mainnya di channel Youtube kami!

 

Penulis: Theodorus Alvin

Editor: Kartika Restu Susilo

PPI Tiongkong, Harbin (9/17) - Perhimpunan Mahasiswa Indonesia Tiongkok (PPIT) Harbin kembali ikut serta dalam acara mahasiswa yang bertajuk Festival Budaya Internasional. Pagelaran itu diselenggarakan di kampus Harbin Engineering University (HEU), Harbin, China.

Sejak pagi panitia sudah mempersiapkan materi yang akan ditampilkan saat acara, mulai dari properti, bahan makan, kain hingga snack khas Indonesia yang siap disuguhkan kepada pengunjung yang hadir.

Acara yang dimulai sekitar pukul 10.00 pagi (waktu Harbin) itu mendapat sambutan yang sangat meriah dari pengunjung yang hadir. Begitu pula dengan stand negara Indonesia yang sangat ramai dikunjungi. Sejak stand baru dibuka, para pengunjung antusias mencoba makanan khas Indonesia, bermain alat musik seperti angklung dan bertanya mengenai Indonesia.

Pada acara itu, setiap negara seperti Indonesia, Inggris, US, Korea, Jepang, Thailand, Vietnam, Mongolia, Rusia dan beberapa negara lainnya diberikan kesempatan untuk menyuguhkan tarian khas negaranya diiringi alunan musik yang menambah kemeriahan festival tahun ini.

Acara Festival Budaya Internasional dihadiri lebih dari 1.000 pengunjung yang datang sejak pagi hingga selesai acara. Ini merupakan salah satu kegiatan yang diikuti PPIT Harbin yang secara rutin diadakan di beberapa kampus besar Harbin. Hal ini menjadi wadah yang bagus untuk mengenalkan seni dan budaya Indonesia kepada masyarakat di luar negeri, sekaligus promosi pariwisata Indonesia di mata masyarakat internasional.

Selain itu juga, melalui kepanitiaan, kegiatan itu juga sebagai wadah untuk merekatkan solidaritas mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Harbin.

 

Penulis : Putra Wanda (Pengurus Pusat PPI Tiongkok)

Mahasiswa Doctoral di HUST, Harbin, China

 

Editor: Kartika Restu Susilo

 

 

 

 

Tokyo, 8 Oktober 2017. Sebelum menuju Amerika Serikat, Sri Mulyani mengunjungi KBRI Tokyo untuk bertegur sapa dengan para WNI di Jepang. Malam itu lobby KBRI Tokyo dipadati warga yang ingin bertemu Menteri Keuangan tersebut.

Menghadiri temu sapa sebenarnya bukanlah agenda utama Sri Mulyani. Di tengah perjalanannya menuju Amerika Serikat, Menteri yang akrab disapa Bu Ani tersebut singgah di Tokyo untuk transit terlebih dahulu. Namun karena ada waktu yang cukup, maka dapat terselenggaralah pertemuan pada hari tersebut. Meski harus melanjutkan penerbangan keesokan paginya, Bu Ani tetap semangat dan antusias menyapa para hadirin.

Sebagai Menteri Keuangan, tidak bosan-bosannya Bu Ani membahas mengenai pajak pada masyarakat. Pajak sendiri diatur dalam pasal 23A UUD 1945 yang berbunyi ”Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang”. Sebagai warga negara, membayar pajak adalah sebuah keniscayaan. Hal ini sejalan dengan pemikiran salah seorang filusuf ternama asal Inggris, Thomas Hobbes. Pada salah satu bukunya, Leviathan yang terbit tahun 1651, Hobbes menjelaskan hubungan antara pemerintah dan rakyatnya. Hubungan ini seperti sebuah kontrak yang bersifat mutualisme. Pemerintah berperan sebagai pelindung dan penyedia, sementara masyarakat harus mendukung pemerintah dengan cara membayar pajak. Uang hasil pajak inilah yang nantinya dikelola pemerintah untuk membangun rumah sakit, menyediakan lapangan kerja, dan lain-lain yang bernilai bagi rakyat. Hal seperti inilah yang disebut kontrak antar pemerintah dan rakyat, dan hal ini berlaku di manapun.

Sayangnya hal ini mungkin belum dipahami semua orang. Sri Mulyani sendiri mengakuinya bahwa penerimaan pajak masih rendah. Warga yang mengikuti progam tax amnesty saja tidak sampai satu juta. Lalu, terdapat sekitar 32-juta warga yang terdaftar sebagai pembayar pajak, namun yang benar-benar membayar pajak dan memiliki SPP tidak lebih dari 12-juta warga. Indonesia sempat dihebohkan juga belum lama ini oleh kabar nasabah asal Indonesia yang mentransfer dana sebesar Rp18,9-triliun ke bank Standard Chartered di Singapura. Demi menghindari hal ini, Bu Ani menyatakan sudah memberlakukan perjanjian perpajakan internasional sehingga aliran dana dalam jumlah tidak masuk akal dapat terlacak.

Sempat disinggung juga tentang hutang Indonesia yang beberapa bulan lalu panas dibahas. Dibandingkan Jepang, hutang Indonesia masih terdapat dalam kategori sehat. Hutang Jepang sendiri memang sudah terlampau besar, yakni sekitar 200% dari GDP (Gross Domestic Product). Sedangkan Indonesia masih berkisar di angka 27% GDP. Jadi, memang Indonesia tidak sedang dalam keadaan darurat hutang. Ini adalah salah satu tugas Kementerian Keuangan untuk mengatur perekonomian Indonesia agar dapat terus berkembang namun juga dengan menjaga kestabilan. Tidak boleh ada pengeluaran atau peminjaman yang berlebihan, uang yang mengalir haruslah efisien dan digunakan semaksimal mungkin.

Pada sesi tanya jawab, salah seorang hadirin menanyakan hal yang menarik untuk dibahas. “Dengan sumber daya yang melimpah, dapatkah Indonesia bergantung padanya dan menghapuskan pajak?” tanya sang hadirin. Sebenarnya bisa saja, namun negara akan terjangkit Dutch Disease jika hal ini dilaksanakan. Dutch Disease merupakan istilah ekonomi yang merujuk pada ketergantungan berlebih suatu negara, biasanya terhadap sumber daya alam, sehingga menyebabkan berkurangnya daya saing negara tersebut. Mengambil contoh dari Norwegia yang kaya akan sumber daya alam, tetapi mereka tetap mematok pajak yang tinggi bagi warganya. Dari pajak yang tinggi ini, Norwegia membangun dirinya menjadi negara yang maju, dan yang paling penting, meningkatkan daya saing manusianya. Indonesia bisa saja menggantungkan diri pada sumber daya alam. Namun jika demikian, manusianya tidak akan bertumbuh secara daya saing dan pada suatu titik, akan runtuh karena kalah bersaing.

“Presiden Jokowi sangat terbuka dengan persaingan karena hal tersebut membawa manfaat,” ujar Sri Mulyani. Di zaman yang telah berubah ini, kita juga harus fleksibel mengikuti perubahan. Salah satunya adalah dengan menempa diri demi menjadi pribadi yang lebih kompeten, karena sekarang adalah eranya persaingan. Jangan lupa juga untuk mengambil pelajaran dari negara seperti Jepang dan negara maju lainnya. Banyak hal yang dapat dipelajari agar suatu hari nanti dapat dibawa pulang dan digunakan demi kepentingan bersama.

Penulis: Theodorus Alvin

Editor: Kartika Restu Susilo

Karya pemenang sayembara batik, Morinta Rosandini

Kanazawa, 30 September 2017, PPI Jepang, PPI Hokuriku, dan PPI Ishikawa mengadakan sayembara yang bertujuan untuk promosi batik di Jepang. Tidak hanya sayembara, diadakan juga bincang-bincang yang dihadiri para ahli batik. Diharapkan kesadaran akan berharganya batik dapat tersampaikan bagi para hadirin.

Bertempat di Ishikawa International House, sayembara dan bincang-bincang dihadiri oleh tiga narasumber: Ibu Alinda F.M. Zain, selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Tokyo; Ibu Rodia Syamwil, selaku Dewan Batik Nasional; dan Prof. Haruya Kagami dari Kanazawa University yang pernah melakukan riset di Bali pada 1981.

Imam Tahyudin selaku Ketua Komsat Ishikawa menyampaikan sepatah kata sebagai pembuka acara tersebut. Sejak awal terselenggaranya acara ini, sayembara batik merupakan salah satu program kerja unggulan PPI Ishikawa yang pernah memenangkan penghargaan dari PPI Dunia karena dianggap sukses mempromosikan Indonesia di muka dunia. Selanjutnya, Ibu Alinda juga memberikan kata sambutan. Menurut beliau, batik sebagai salah satu contoh kekayaan warisan budaya Indonesia, tentunya harus kita lestarikan. Namun, sebagai WNI di luar negeri, kita juga harus melakukan sosialisasi agar batik dapat dikenal oleh masyarakat dunia.

Memasuki sesi bincang-bincang, kembali Ibu Alinda menekankan pentingnya pelestarian batik. Mungkin pernah terbesit di benak tentang peristiwa reog Ponorogo yang sempat diklaim oleh Malaysia tahun 2007. Demi mencegah hal seperti ini terulang kembali, sosialisasi batik sudah dilakukan oleh pemerintah seperti menerapkan hari batik setiap Jumat. Langkah seperti ini diambil untuk menanamkan pentingnya batik sebagai bagian dari identitas bangsa. Sayembara batik kali ini juga merupakan perwujudan nyata dari para pelajar Indonesia dalam menguatkan batik sebagai identitas.

Meskipun batik lekat dengan sesuatu yang resmi, pengunaannya tidak harus selalu demikian. Memang kerap kali batik dikenakan untuk acara kenegaraan ataupun acara-acara lain yang mempertemukan kita dengan tamu penting. Padahal batik dapat juga dikenakan untuk sehari-hari. Misalnya mengabungkan kemeja batik dan celana jins dapat memberikan kesan yang lebih santai tetapi tetap rapi dan sopan. Langkah-langkah seperti ini dapat kita lakukan dalam keseharian, sekaligus promosi batik kepada lingkungan sekitar kita.

Batik pertama kali diperkenalkan lewat sidang PBB tahun 2009. Ibu Rodia menjelaskan bahwa batik sebenarnya tidak hanya terdapat di Indonesia, tetapi juga di India, Jepang, bahkan di Slovakia yang berada di bagian timur Eropa. Batik juga melewati berbagai perkembangan zaman hingga menjadi seperti hari ini. Batik di zaman kerajaan Hindu tentunya berbeda dengan kerajaan Islam, pun berbeda pula dengan yang ditemukan di Kesultanan Yogyakarta. Hal yang paling mencolok adalah perbedaan motif.

Prof. Haruya menjelaskan pentingnya motif batik dan juga filsafat yang terkandung daripadanya. Mengambil contoh batik yang terdapat di Jepang, Prof. Haruya menjelaskan makna dari beberapa motif batik. Misalnya motif Gunung Fuji menggambarkan tempat bersemayam para dewa, tempat yang tiada duanya. Ada juga motif bahan makanan mentah yang bermakna hasil alam berlimpah. Motif yang tertuang pada kain menggambarkan keadaan dan harapan sang penggambar, serta memberikan identitas pada batik, menjadikannya sesuatu yang spesial.

Di akhir sayembara ini, para narasumber mengumumkan pemenang desain batik. Sayembara tahun ini dimenangkan oleh Morinta Rosandini, dosen Telkom University dengan judul “Kanaka Batik”. Hadiah berupa sertifikat dan uang pelatihan diserahkan langsung oleh para narasumber. Tidak lupa, pada kesempatan itu PPI Ishikawa juga meluncurkan buku “Bunga Rampai Achantus: Sejuta Cerita Dari Kanazawa”. Buku ini berisi kumpulan cerita mahasiswa yang saat ini berdomisili di Kanawawa. Harapannya buku ini dapat menjadi panduan bagi teman-teman yang berencana ke Jepang dan juga penyemangat bagi para pelajar di Jepang.

Mari kita sama-sama melestarikan batik dalam keseharian dan tidak melupakan pentingnya warisan kebudayaan Indonesia!

Penulis: Theodorus Alvin

Tokai University (Undergraduate), School of Information Science, Dept. of Human and Information Science

 

Editor: Kartika Restu Susilo

Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) telah mencatat setidaknya empat doktor termuda di Indonesia. Pada tahun 2015, Arief Setiawan memperoleh gelar doktor dalam bidang intelligent structures and mechanics systems engineering dari Universitas Tokushima di Jepang pada usia 25 tahun. Sedangkan pada tahun 2016, Elanda Fikri memperoleh gelar doktor bidang Ilmu Lingkungan di Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah saat berusia 25 tahun. Sementara pada tahun 2007, Cindy Priadi juga memperoleh gelar doktor bidang Ilmu Lingkungan dari Universitas Paris-Sud di Perancis pada usia 26 tahun. Awal tahun 2017 yang lalu, Meiryani dianugerahi gelar doktor di bidang Akuntansi di Universitas Padjadjaran Bandung, Jawa Barat, saat usianya 28 tahun.

Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) kembali mencatat rekor baru lulusan doktor termuda di Indonesia. Seorang mahasiswa program doktor jurusan Kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB) bernama Grandprix Thomryes Marth Kadja menjadi lulusan doktor termuda di Indonesia pada usia 24 tahun. Dia secara resmi memperoleh gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tanggal 22 September 2017. Prestasi Grandprix mengukir sebuah sejarah baru di dunia pendidikan Indonesia karena ia masuk dalam Indonesia World Records Museum sebagai lulusan doktor termuda di Indonesia. Grandprix yang berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) menerima predikat cum-laude dari para promotornya dengan disertasinya tentang zeolit sintetis yaitu mineral yang biasa digunakan sebagai katalis petrokimia. "Di masa depan, zeolit sintetis dapat digunakan tidak hanya sebagai katalis tetapi juga sebagai penyerap karbon dioksida dan untuk pemisahan molekul", ujar Grandprix.

Grandprix Thomryes Marth Kadja, 24 tahun, menjadi doktor termuda Indonesia setelah lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tanggal 22 September 2017. Foto: Okezone.com (Oris Riswan)

Grandprix memulai sekolah dasar pada usia 5 tahun. Grandprix melanjutkan jenjang pendidikan SMA-nya melalui sistem akselerasi di SMA Katolik Giovanni di kota Kupang. Setelah lulus SMA pada usia 16 tahun, ia kemudian melanjutkan pendidikan di jurusan Kimia di Universitas Indonesia (UI). Berkat program beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggulan (PMDSU) yang disponsori Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Grandprix melanjutkan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung, program studi (prodi) Kimia, yang ia sebut sebagai prodi yang paling menantang namun menarik. "Ada terlalu banyak perhitungan dalam ilmu Fisika, dalam ilmu Biologi kita harus menghafal banyak hal. Sedangkan ilmu Kimia memiliki keseimbangan di antara keduanya" ujarnya.

Sepanjang perjalanan akademisnya, Grandprix yang memperoleh gelar Sarjana-nya dari Universitas Indonesia pada usia 19 tahun, telah menerbitkan sembilan publikasi ilmiah di jurnal nasional dan internasional. "Jangan merasa inferior hanya karena kita masih muda, justru generasi muda yang harus menjadi contoh bagi orang lain" tuturnya. Grandprix juga mengakui bahwa rangkaian penelitiannya tidak selalu lancar. Prosesnya sulit dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Dia juga mengalami masalah ketika ada instrumen analitis yang tidak tersedia atau hasil penelitian yang tidak diharapkan. Meskipun demikian, cintanya pada bidangnya membuat dia dapat bertahan dalam setiap tantangan yang dihadapinya.

Mengenai prestasinya, Grandprix berharap dunia akademis Indonesia dapat didorong untuk memajukan penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para pemuda Indonesia. Ia juga mengharapkan program beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggulan (PMDSU) untuk terus berjalan dan berkembang untuk meningkatkan kualitas kompetensi dan daya saing internasional para pemuda Indonesia. Ayah Grandprix, Octovianus Kadja, 54 tahun, mengatakan bahwa dia bangga dengan prestasi anaknya dan berkata bahwa ini sebagian karena disiplin yang dia ajarkan pada Grandprix sejak usia dini. (dok.PPID/nurjaeni)

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920