Categories
Eropa dan Amerika Pojok Opini PPI Negara Suara Anak Bangsa

Iftar, Empati dan Berdialog: Ramadhan Sebagai Jembatan Antar-Komunitas di Inggris Raya

Suasana dalam kegiatan ifthar

Ramadhan telah lewat, untuk kami para perantau di negara-negara belahan bumi utara, Ramadhan adalah sebuah tantangan yang memiliki pahit-manisnya tersendiri. Buat kami yang harus rela ber-budget makanan mati-matian sehari-harinya, ada yang menyambut Ramadhan dengan girang karena akhirnya tidak harus me-budget makanannya dengan alasan yang sia-sia. Tapi di satu sisi, hiruk-pikuk deadline and ujian di musim panas ini juga menguji kesabaran dan ketangguhan kita saat berpuasa selama 18 jam (waktu berbuka menjadi semakin lama juga seiringnya musim panas berjalan) di tanah rantau.

Di Britania Raya, persoalan menjadi seorang Muslim terkadang tidak sulit dikarenakan angka penduduk imigran atau keturunan imigran yang cukup meningkat. Tetapi tentu saja, umat Muslim masih dianggap sebagai minoritas dikarenakan hanya terhitung sebagai 4.8% dari total populasi Inggris dan Wales saja di sensus terakhir (Office for National Statistics, 2011).

2017 bukan lah tahun yang menyenangkan di media bagi umat Muslim di Inggris, hal ini diakibatkan beberapa aksi teror yang mengatasnamakan ‘Islam.’ Tetapi dalam semua kejadian itu, solidaritas terus ditenun oleh negara yang terkenal dengan Keep Calm & Carry On mereka saat menghadapi kesulitan. Dimulai dari kejadian di Wesminster tanggal 22 Maret kemarin, rakyat London paham kalau yang terakhir mereka ingin sampaikan kepada pihak yang berasalah adalah pesan yang berbau ketakutan dan ketidakpercayaan dengan satu sama lain.

Tujuan rantau saya di Inggris adalah kota kecil bernama Canterbury yang bisa ditempuhi dengan kereta dari London dalam waktu dua jam. Ramadhan di tanah rantau tidak hanya menjadi alat introspeksi diri tetapi juga dijadikan sarana introspeksi komunitas. Masjid kami adalah sebuah rumah sederhana yang masih berada di dalam lingkungan kampus dan telah berdiri selama 20 tahun. Tak hanya aktif sebagai wadah organisasi ISOC (Islamic Society) untuk mahasiswa, masjid juga digunakan sebagai wadah berdialog dengan masyarakat lokal di Canterbury.

Di saat maghrib tiba, masjid kami pernah mengundang orang-orang banyak, Muslim dan non-Muslim, untuk berbuka puasa bersama. Tujuannya adalah untuk menyebarkan ilmu dan membangun kesadaran masyarakat tentang apa ang umat Muslim lakukan selama Ramadhan. Namun, disaat adzhan maghrib berkumandang dan makanan pembuka (ingat, tidak ada takjil disini) disebarkan, kesempatan untuk belajar itu tidak hanya diberikan kepada mereka yang tidak melaksanakan ibadah puasa tetapi juga kepada kami yang turut belajar dari beragam celotehan pahit dan manisnya kehidupan mereka.

Bincang-bincang dalam kegiatan Ifthar

Setelah puas bermakan-makan dan berbagi cerita, kami berkumpul di satu area di dalam masjid dimana sang imam—yang selalu kita panggil Uncle Rashid—mengumpulkan saran dan opini dari orang-orang yang telah hadir di malam itu. Beliau beranggapan bahwa sebuah inisiatif yang bertujuan untuk merubah persepsi masyarakat itu mudah dimulai tetapi lebih sulit untuk dipertahankan. Beliau berharap inisiatif ini bisa dilanjutkan kedepannya dan satu-satunya cara untuk menarik minat masyarakat untuk terus datang bisa diraih dengan upaya perbaikan yang berkelanjutan—budaya continuous improvement dan lagi-lagi juga mengangkut topik introspeksi diri. Di saat puasa selalu menjadi highlight media massa saat mendeskripsikan Ramadhan, pengalaman ini membuka mata masyarakat. Mereka, dan kami tentunya yang melaksanakan ibadah puasa, juga bisa diajak untuk memahami bagaimana Ramadhan bisa ditafsirkan sebagai medium untuk melatih diri agar bisa berempati dengan satu sama lain.

 

Penulis:

Nibras Balqis Sakkir, BA in Social Anthropology, University of Kent

PPI United Kingdom

 

Sumber yang dikutip:

Office for National Statistics (2011). Religion in England and Wales 2011 [Online]. Available from: https://www.ons.gov.uk/peoplepopulationandcommunity/culturalidentity/religion/articles/religioninenglandandwales2011/2012-12-11 [02/06/2018]

Categories
Eropa dan Amerika PPI Dunia PPI Negara Travel & Kuliner Wawasan Dunia

Winter is Coming! Berkunjung ke Northern Ireland – Surga Penggemar Game of Thrones

Follow the three-eyed raven through Northern Ireland, where crumbling castles and ancient landscapes become key Seven Kingdoms filming locations in Game of Thrones. (ireland.com)

Untuk penggila serial Game of Thrones, Irlandia Utara akan menjadi salah satu ultimate bucket list for traveling destination. Bagaimana tidak? Sembilan puluh persen lokasi syuting GoT ada di negara ini. Tempat iconic seperti Winterfell, Riverrun, Iron island atau King’s Road yang hanya ada dalam cerita bisa dikunjungi dan kita bandingkan langsung. Sebagian besar filming GoT dilakukan di Studio Paint Hall – Belfast – Northern Ireland. Di sinilah set interior untuk beberapa lokasi seperti Red Keep, The Iron Throne atau Great Sept of Baelor dan lainnya digarap secara epik sehingga tampak megah seperti yang kita lihat dalam series. Selain itu, Belfast mempunyai pemandangan alam khas Irlandia yang luar biasa bagus. Tak heran hampir semua latar alam di series GoT berada di sini.

Berfoto ala Stark Family

Awalnya, author George Martin memilih Scotland – Edinburgh sebagai lokasi utama GoT, namun ketika itu pemerintah Edinburgh menolak dan meremehkan rencana sang penulis. Alhasil, tim memilih Irlandia Utara dikarenakan kemiripan alam yang dimiliki oleh Scotland, serta banyaknya spot peninggalan bersejarah yang cocok untuk penggambilan gambar dalam cerita. Kesuksesan Game of Thrones membawa Irlandia Utara menjadi salah satu negara dengan industri perfilman yang termaju di dunia dengan jumlah investasi sebanyak 110,7 juta poundsterling. Game of Thrones juga sukses menghidupkan sektor pariwisata Northern Ireland khususnya Belfast yang saat ini menjadi tujuan wisata dunia.

George Martin berhasil membuat Game of Thrones begitu hidup termasuk bagaimana ia menggambarkan pentingnya lokasi dan teritori dalam alur cerita GoT. Karena hal ini, penggemar sejati GoT akan merasakan excitement dan goosebumps ketika menginjakkan kaki di beberapa lokasi karena akan terbayang semua scene yang terjadi disana. Sebagai contoh, Tolleymore Forest Park Belfast yang merupakan The Haunted Forest dimana White Walkers pertama kali muncul di Season 1 akan memunculkan suasana angker dan mencekam. Beberapa latar hutan dalam GoT diambil di sini termasuk ditemukannya Baby Direwolves oleh Keluarga Stark. Sedikit ke utara Belfast, terdapat jalan dengan barisan Pohon Unik menyerupai tunnel panjang – The Dark Hedges yang merupakan lokasi King’s Road yang legendaris. Latar untuk Iron Islands – House of Greyjoy diambil di Murlogh Bay, Propinsi Antrim, menunjukkan pesisir pantai berbatu yang terisolir, persis seperti di dalam cerita. Atau jika ada yang ingat scene dimana Lady Melisandre melahirkan Shadow Baby di dalam sebuah gua, tempat itu juga nyata, tepatnya di daerah Cushendun, tidak jauh dari The Dark Hedges.

Tolleymore Forest Park Belfast yang merupakan The Haunted Forest

 

Which Stark Family member are you?

Training memanah ala Brandon Stark

GoT lovers, belum afdol ke Northern Ireland kalau belum ke Winterfell.  Lokasi ini dapat dijangkau hanya dengan 75 menit menggunakan mobil ke arah selatan Belfast dan merupakan atraksi utama kota Belfast. Meskipun sebagai besar gambar yang kita lihat di dalam series merupakan hasil komputerisasi (begitupun lokasi filming yang lain), hal ini tidak mengurangi excitement para turis ketika menginjakkan kaki di tempat ini. Kastil tua dengan pintu gerbang yang besar serta menara pengintai musuh yang tinggi secara tidak langsung membuat turis sepakat bahwa lokasi ini sangat tepat untuk merepresentasikan The North, tempat Stark Family tinggal. Castle Ward-Winterfell Tours ini dikelola dengan sangat menarik. Turis akan diberikan kesempatan menggunakan kostum Ksatria Castle Black dan diberikan training memanah layaknya Brandon Stark di Season 1. Castle Ward yang merupakan lokasi Winterfell ini memiliki kawasan yang luas dan beberapa area di sekitarnya juga dimanfaatkan sebagai lokasi pengambilan adegan-adegan penting seperti, pernikahan rahasia Rob Stark, pemberontakan Theon Greyjoy, sambutan kedatangan Robert Baratheon, The Twins (Red Wedding), dan lain sebagainya. Bagi yang hobi bersepeda, pengelola menyiadakan Bicycle Tour untuk mengeksplorasi semua lokasi di sekitar Castle Ward. Cukup membuat excited bukan?

Pemerintah Belfast memanfaatkan GoT dengan serius dan menggarap industri pariwisatanya sedemikian rupa. Banyaknya pilihan paket wisata yang bisa disesuaikan dengan budget dan berbagai preferesi lainnya seperti menggunakan bus ataupun kendaraan lain untuk akses transportasi ke lokasi akan sangat memudahkan turis. Untuk informasi paket wisata tersebut bisa didapatkan via online dengan melakukan searching di Google atau bahkan bisa datang langsung ke Belfast’s Tourism Center di City Center Belfast untuk memesan paket yang diinginkan. Kisaran harga untuk paket tour GoT adalah 30 hingga 50 poundsterling, tergantung jumlah tempat yang dikunjungi dan fasilitas perjalanan. Trust me, it’s really worth your money! Biasanya, paket tour GoT di-bundle dengan destinasi wisata lain khas Irlandia Utara. Well, sebenarnya tempat-tempat tersebut masih ada kaitannya dengan GoT karena beberapa adegan juga diambil disana. Bahkan dalam perjalanan, pemandu wisata akan memberikan informasi ketika bus akan melewati tempat- tertentu terkait lokasi syuting GoT. Ketika di lokasi, tak lupa tour guide tersebut menayangkan video cuplikan adegan dalam GoT supaya turis dapat mengingat kembali kejadian – kejadian di dalam cerita untuk memunculkan imajinasi terhadap lokasi yang sedang di kunjungi.

Bagi yang ingin berpergian secara mandiri tanpa menggunakan jasa tur, informasi mengenai lokasi perfilman maupun objek wisata yang lain sudah banyak tersedia. Hanya modal googling saja, itinerary 2-3 hari bisa langsung dibuat. Bagi traveler mandiri, untuk explorasi yang maksimal, disarankan untuk menyewa mobil karena beberapa lokasi tidak terjamah transportasi umum. Informasi mengenai rental mobil bisa didapatkan via online dengan harga 20-50 poundsterling/hari, sangat cocok untuk yang ingin berpergian secara grup beranggotakan 4-5 orang. Penyedia rental juga menyediakan meeting point di airport sehingga traveler yang baru tiba di bandara bisa langsung bertamasya ria.

Carick-a-Rede Rope Bridge

Bukan penggemar GoT? Tidak usah khawatir. Meskipun sebagian besar lokasi wisata erat kaitannya dengan GoT, alam Irlandia Utara sangatlah cantik untuk dinikmati. Masih banyak pilihan tur dengan destinasi unik seperti kunjungan ke pabrik bir terkenal Guinness, melihat isi kapal Titanic di Titanic Museum, memacu adrenalin dengan melewati dua pulau yang hanya dijembatani oleh susunan untaian tali (Carick-a-Rede Rope Bridge), atau ke Giant Causeway yang merupakan pantai dengan tatanan batu unik berbentuk heksagonal, hasil letusan gunung berapi di zaman purbakala. Lelah bertamasya mengunjungi tempat wisata alam, turis dapat menikmati suasana kota Belfast dengan mengelilingi city center yang pada Desember ini sedang ada Christmast Market, semacam ‘pasar kaget’ khas UK yang hanya ada dibulan November hingga Januari. Penginapan di Belfast cukup terjangkau asalkan booking jauh-jauh hari. Portal seperti booking.com, hostelworld.com atau airbnb.com dapat memberikan banyak pilihan dalam akomodasi. Transportasi dalam kota juga sangat mendukung. Turist dapat membeli one-day bus pass seharga 6,50 poundsterling walaupun sebenarnya tidak begitu diperlukan karena atraksi di dalam city center adalah within walking distance. Mencari tempat makan halal juga cukup mudah. Salah satu contohnya adalah Chopstix yang berada persis di kawasan city center atau beberapa restoran lain yang bertemakan Timur Tengah atau India.

Giant Causeaway

So, bagi pecinta series Game of Thrones yang ingin menginjakkan kaki di Westeros, datanglah ke Northern Ireland dan rasakan ambience Seven Kingdoms yang sebenarnya. Winter is Coming!!!!

 

Profil Penulis:

Krishna Nawacandra adalah mahasiswa program MSc of Engineering, Technology, and Business Management di University of Leeds yang juga merupakan anggota PPI Leeds. Krishna bisa disapa di Instagramnya @krishnanono.

Categories
Upcoming Event

RRI Voice of Indonesia: Hari Guru

Jangan lewatkan siaran RRI Voice of Indonesia, Senin, 27 November 2017 mengenai Hari Guru, bersama Rina Khairani pukul 10.30 di channel bahasa Inggris dan Robetmi Jumpakita Pinem pukul 11.30 di channel bahasa Indonesia!

Categories
PPI Negara Upcoming Event

RRI Voice of Indonesia: International Day of Person with Disabilities

Jangan lewatkan siaran RRI Voice of Indonesia, Senin, 4 Desember 2017 mengenai International Day of Person with Disabilities, bersama Antoni Tsaputra pukul 10.30 di channel bahasa Inggris dan Andi Astri Annisa pukul 11.30 di channel bahasa Indonesia!

Categories
Berita Festival Luar Negeri PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Festival Lomba dan Kreativitas Siswa SILN di Kerajaan Arab Saudi

RIYADH, 16–17 November 2017 – Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Riyadh menyelenggarakan Festival Lomba dan Kreativitas Siswa Sekolah Indonesia Luar Negeri (FLOKS SILN), Arab Saudi. Kegiatan itu dimaksudkan sebagai ajang untuk memfasilitasi dan memberikan motivasi, minat, prestasi dan daya kreativitas Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) yang berada di wilayah Arab Saudi.

Kegiatan FLOKS SILN 2017 itu diikuti oleh siswa-siswi Sekolah Indonesia di Arab Saudi yang terdiri dari tingkat SD, SMP, dan SMA dari Sekolah Indonesia Riyadh (SIR), Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ), Sekolah Indonesia Makkah (SIM), Indonesian Islamic Internasional School Jeddah serta Kelompok Kejar Paket A, B, dan C Madinah.

Adapun kategori yang dilombakan adalah Olimpiade Matematika dan IPA tingkat SD-SMA, Hafalan Qur’an tingkat SD-SMA, Cerdas-Cermat tingkat SD-SMA, Pidato Tiga Bahasa tingkat SD (Indonesia), SMP (Inggris), SMA (Arab), Story Telling tingkat SMP-SMA, Seni Tari Daerah, dan Menyanyi Solo tingkat SD-SMA.

Acara dibuka pada Jumat 17 November 2017 di dua tempat, yaitu Sekolah Indonesia Riyadh (SIR) dan KBRI Riyadh dan Festival Lomba dan Kreatifitas Siswa. Olimpiade matematika dan IPA, Hafalan Quran, Cerdas-Cermat, dan Lomba Pidato Tiga Bahasa, berlokasi di SIR. Sedangkan menari, menyanyi dan story telling, berlokasi di KBRI. Perlombaan serentak dimulai pada pukul 09.00 dan berakhir pada pukul 18.00.

Setelah semua perlombaan selesai dan didapatkan para pemenang, maka pada Sabtu, 18 November 2017, dilakukan penutupan FLOKS SILN Arab Saudi 2017 di KBRI Riyadh. Selain pembagian hadiah, pada penutupan itu juga diberikan kesempatan bagi para pemenang lomba menari, menyanyi dan story telling untuk menampilkan kreasinya.

Sekolah Indonesia Mekkah (SIM) berhasil menjadi Juara Umum setelah mendominasi hampir di semua kategori perlombaan. Pengumuman pemenang menutup Festival Lomba dan Kreativitas Siswa SILN Arab Saudi yang digelar untuk pertama kalinya. Semoga perlombaan itu terus berlanjut setiap tahunnya agar selalu terjalin kerja sama dan silaturahmi serta semakin meningkatkan mutu Sekolah Indonesia Indonesia Luar Negeri yang berada di Kerajaan Arab Saudi.**

 

Penulis: Ridho Sastrawijaya

Departemen Media PPMI Riyadh

 

Editor: Kartika Restu Susilo

Categories
Asia dan Oseania PPI Negara Travel & Kuliner Wawasan Dunia

Loy Krathong: Ritual dan Pariwisata Thailand

Bagi masyarakat Thailand, ritual-ritual keagamaan menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan mereka. Berbagai acara tersebut dilaksanakan secara rutin yang tidak hanya melibatkan masyarakat Thailand, tetapi juga para pengunjung dari luar negeri. Salah satu festival yang baru-baru ini di laksanakan di Thailand adalah Loy Krathong. Loi bermakna melarung/mengapung, sedangkan Krathong bermakna wadah yang terbuat dari daun yang bisa mengapung di atas air. Loy Krathong adalah ritual melarung bunga yang diletakkan dalam wadah terapung, dilengkapi dengan lilin, dupa serta bunga-bunga di sekitar danau, sungai atau kanal. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan mereka kepada dewa air.

Krathong yang siap dilarungkan di air

Selain sebagai bentuk penghormatan kepada dewa, beberapa percaya bahwa “krathong” merupakan simbol untuk membuang segala bentuk kemarahan dan dendam serta berbagai sisi gelap yang selama ini menguasai manusia. Selain melarung ke air, Loy Krathong juga diisi dengan pelepasan lentera ke udara. Sejenak langit-langit Thailand akan terang benderang oleh cahaya ribuan lentera yang diterbangkan bersama-sama.

Loy Krathong sendiri umumnya dilaksanakan setiap bulan November, saat bulan purnama. Untuk memeriahkan acara tersebut, pemerintah Thailand memusatkan acara ini di beberapa wilayah seperti di sungai Chao Phraya Bangkok, Chiang Mai, Sukhothai, Phuket, Samui dan berbagai destinasi wisata lainnya. Tahun ini pemerintah menargetkan 300.000-an pengunjung dalam dan luar negeri terlibat dalam acara tersebut. Jumlah tersebut diprediksi akan mendatangkan pemasukan sebesar kurang lebih 10 juta baht.

Namun, di tengah meriahnya acara Loy Krathong, sesungguhnya terdapat persoalan yang cukup mengkhawatirkan, yakni banyaknya sampah yang disebabkan oleh festival tersebut. Salah satu sumber menyebutkan, pada tahun 2008 terdapat 929.329 krathong yang dikumpulkan dengan 811.332  (87%) terbuat dari tangkai atau daun pisang atau bahan alami lainnya, sementara 117.997  (13%) terbuat dari bahan yang berbahaya bagi alam seperti polystyrene.

Proses pelarungan Krathong oleh masyarakat Thailand

Pemerintah Thailand kemudian gencar melakukan sosialisasi sehingga jumlah tersebut jauh berkurang. Data tahun 2016 menyebutkan bahwa dari 661.935 krathong yang dilarung, 617.901 (93.7%) adalah bahan alami yang aman bagi lingkungan, dan hanya 44.034 (6.7%) yang menggunakan polyester.

Selain itu, pelepasan lentera ke udara dianggap sangat berbahaya bagi penerbangan. Mengingat lentera ini akan melayang ke udara sehingga bisa jadi menghalangi jalur penerbangan yang beresiko terjadinya kecelakaan di udara. Otoritas penerbangan Thailand bahkan harus membatalkan 76 penerbangan menuju provinsi Chiang Mai, salah satu wilayah yang menjadi pusat kegiatan pelepasan lentera ke udara. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah Thailand mengeluarkan kebijakan tentang lokasi-lokasi yang diperbolehkan untuk pelepasan lentera.

Pelaksanaan Loy Krathong dan bagaimana pemerintah Thailand mendesain kebijakan yang mengakomodir semua pihak patut diapresiasi. Sehingga kepentingan suksesnya program pariwisata melalui Loy Krathong tidak harus menimbulkan efek negatif baik bagi lingkungan maupun bagi keselamatan pengguna transportasi udara.

Krathong yang dilarungkan di danau atau sungai sebagai simbol penghormatan kepada dewa atau pelepasan emosi negatif manusia

Thailand sebagai negara tujuan destinasi wisata dunia, cukup sadar dengan kebutuhan-kebutuhan para pengunjung. Menurut salah satu informasi, hampir setiap minggu pemerintah Thailand mengadakan festival untuk menarik pengunjung ke negaranya. Selain itu, berbagai sarana transportasi disiapkan untuk memastikan bahwa semua destinasi wisata yang ada bisa terakses dengan baik, misalnya BTS, MRT, Bis AC hingga yang gratis, taksi, ojek dan Canal transportation (transportasi sungai).

Fasilitas-fasilitas pendukung lainnya adalah tersedianya Tourism Information Center di berbagai titik keramaian, sehingga kita bisa bertanya kepada staf yang cukup lancar berbahasa inggris. Ada juga tourism police, untuk membantu menjaga keamanan para pengunjung serta ingin melaporkan apabila pengunjung kehilangan dokumen-dokumen penting.

Untuk belanja, kita dapat menemukan banyak pusat belanja dengan harga terjangkau. Ada juga floating market atau weekend market, pasar yang dibuka hanya pada hari Sabtu dan Minggu dan menjual produk-produk industri kreatif masyarakat Thailand. Untuk memperkuat branding pariwisata dengan industri kreatifnya, otoritas pariwisata Thailand mencanangkan program One Tambon One Produk (OTOP), satu desa satu produk. Jadi, jangan khawatir dengan berapa banyak oleh-oleh yang kita bawa pulang apabila isi kantong kita tidak cukup tebal.

Bagi para sahabat yang ingin berkunjung ke negara Thailand, terutama Bangkok, juga tidak perlu khawatir soal di mana harus menginap. Penginapan mulai harga eksklusif hingga harga backpacker tersedia di sini. Kita bisa akses website-website yang menawarkan informasi tentang penginapan di Thailand.  Untuk yang murah, banyak terdapat hostel di daerah Pratunam, atau Pertchburi Road dengan harga 300-450 baht per malam (sekitar 120k-175k rupiah). Sedangkan bagi wisatawan muslim, hampir di setiap pusat-pusat keramaian terdapat spot makanan halal yang bisa diakses dengan mudah.

Pelajar Indonesia saat mengikuti festival Loy Krathong

Untuk informasi seputar Thailand, bisa diakses di www.tatnews.org, www.twitter.com/richardbarrow, www.twitter.com/thailandfanclub, www.tourismthailand.org. Untuk keamanan bisa diakses di www.thailandtouristpolice.com, dan  www.kemenlu.go.id/bangkok/id/kontak-kami.aspx. Akhirnya, berwisata ke Thailand telah memberikan jaminan kemanan, kenyamanan dan ketenangan bagi para pengunjungnya.

 

 

 

 

 

 

 

Profil penulis:

Irwan Rahadi adalah seorang mahasiswa Master Applied Mathematics di Mahidol University, yang juga merupakan Presiden Permitha periode 2017-2018

Categories
Berita Timur Tengah dan Afrika

Wisuda di Kampus International Islamic Call College Tripoli, Libya

Wisuda merupakan saat bersejarah bagi mahasiswa bahkan pelajar sekalipun, tak terkecuali bagi para punggawa-punggawa Indonesia yang menuntut ilmu di Tripoli, Libya. Lembaga pendidikan bernama International Islamic Call College (IICC) atau Kulliyah Dakwah Islamiyah Al A’lamiyah yang didirikan sejak tahun 1974 ini merupakan tempat para mahasiswa Indonesia dan mahasiswa asing lainnya belajar ilmu agama Islam serta bahasa Arab. Lembaga ini didirikan secara khusus untuk mendidik para calon dai dari berbagai belahan dunia agar bisa menyebarkan agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Di tengah berbagai kemelut yang terjadi di Libya sejak 2011 lalu tak menjadikan penghalang bagi lembaga ini untuk tetap eksis menjalankan misinya dalam rangka menyebarkan agama Islam yang moderat. Hal ini dibenarkan oleh Rektor IICC DR. Solah Salim dalam sambutannya ketika acara wisuda angakatan 40 , selasa 24 -10-2017. beliau menceritakan perjalanannya ke Paris sekitar sebulan yang lalu untuk menghadiri sebuah pertemuan tentang isu keIslaman dan ketika itu ada orang yang bertanya : “apakah di Libya ada orang yang belajar, dan bagaimana proses belajar bisa berlangsung, serta adakah mahasiswa yang belajar disana ? dengan semangat membara beliau berkata: ”Kami sampai detik ini masih berkhidmat untuk menjalankan tugas ini dan alhamdulillah sampai saat ada sekitar 3000 mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai negara yang belajar di bawah naungan lembaga baik itu yang terdapat di pusat (Tripoli) maupun di berbagai cabang seperti Benin, Chad, Senegal, Libanon dan Inggris”. Hal ini sontak saja membuat si penanya terkejut dan terharu seketika itu dan tak luput pula rasa bangga ini menyelimuti para hadirin yang mendengar cerita sang Rektor dengan standing applause yang meriah serta diselingi gema takbir.

Acara wisuda kali ini dihadiri oleh para staf yayasan, para dosen, tamu undangan dari berbagai kedutaan termasuk perwakilan dari Kedutaan RI di Libya serta mahasiswa IICC. Acara berlangsung lancar dan khidmat. Para wisudawan terlihat sangat khusyu’ mendengarkan wejangan dan nasihat yang disampaikan Rektor sebagai bekal terakhir untuk para mahasiswa yang nantinya akan kembali ke negara masing-masing. Kemudian acara dilanjutkan dengan pembagian Syahadah/Ijasah kepada masing-masing wisudawan serta pemberian berbagai penghargaan untuk para karyawan terbaik serta para juara kelas dari berbagai jurusan yang ada. Selain itu ada kebanggaan tersendiri bagi Kesatuan Keluarga Mahasiswa Indonesia (KKMI) Libya yang berhasil menyabet penghargaan sebagai organisasi atau perhimpunan kenegaraan yang paling aktif, kreatif dan inovatif di lingkungan kampus IICC. Alvan Satria Siddiq selaku Presiden KKMI mengatakan: ”Kami merasa senang atas pencapaian ini dan tentunya sangat berterima kasih kepada kawan-kawan KKMI atas kerjasamanya serta pihak KBRI yang tak luput memberikan bantuan dan sokongannya”.

Untuk tahun ini mahasiswa Indonesia yang lulus berjumlah 5 orang namun yang berkesempatan diwisuda berjumlah tiga orang dari berbagai jurusan yaitu : Agus Mujib (Bahasa dan Sastra Arab), Hafidz Mustofa (Bahasa dan Sastra Arab), Arif Damanhuri (Syariah). Dua orang lainnya Gusri dan Aziz Abdul Gofar langsung menuju tanah air tercinta setelah melaksanakan tugas sebagai Tenaga Musim Haji (TEMUSH) di Arab Saudi. Luapan rasa syukur dan bahagia tentunya dirasakan oleh para wisudawan, tak terkecuali bagi Agus Mujib salah satu mahasiswa Indonesia yang berasal dari Cirebon, Jawa barat . Ia menuturkan: “Pencapaian ini saya apresiasikan untuk orang tua saya yang selalu mendoakan dan memberi dukungan penuh selama proses belajar berlangsung walaupun jarak yang jauh membentang dan juga kepada kawan-kawan yang telah menemani saya dalam suka maupun duka agar kita sama-sama mampu bertahan melewati proses belajar yang tidak mudah untuk dilewati namun akhrinya kita mampu berjalan sampai akhir. Selain itu, yang terpenting adalah mudah-mudahan keadaan Libya berangsur normal sehingga mempermudah akses untuk mendapatkan kesempatan belajar di kampus IICC dan universitas lainnya di Libya, aamiin.”

Penulis: Agus Mujib, mahasiswa S1 jurusan Bahasa dan Sastra Arab International Islamic Call College Tripoli, Libya.

Categories
Berita Inspirasi Dunia PPI Dunia Prestasi Anak Bangsa Suara Anak Bangsa Wawasan Dunia

Kuliah di Luar Negeri Memang Tidak Mudah, Tetapi Kata Menyerah Bukan Jalan Keluarnya

Menuntut ilmu di luar negeri merupakan keinginan banyak orang, berbagai macam alasan dan tujuan menjadi motivasi para pelajar Indonesia untuk menuntut ilmu di negeri orang. Hal tersebut bukanlah tidak mungkin, buktinya saja terdapat sekitar 86.420 mahasiswa Indonesia yang tersebar di 53 negara. Dengan jumlah yang sangat banyak ini, lima peringkat negara dengan jumlah terbanyak pelajar Indonesia adalah Australia, Tiongkok, Kanada, Malaysia, dan Britania Raya. Perjalanan yang ditempuh oleh para mahasiswa yang merantau di negara orang tentu tidak mudah, berbagai macam jenis kegagalan juga dihadapi, dan semua itu mereka ceritakan dalam satu buku.

Buku bertajuk 20 Kisah Perantau Ilmu yang ditulis oleh tim Perhimpunan Pelajar Indonesia di seluruh dunia menyajikan 20 kisah inspiratif pilihan dari para mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di berbagai negara. Beragam kisah dan perjuangan yang dikemas dengan menarik dapat menjadi referensi serta panduan bagi para mahasiswa dan pelajar yang bercita-cita untuk melanjutkan studi di luar negeri.

Setelah perilisan buku 20 Kisah Perantau Ilmu pada 2 Oktober 2017 yang lalu, peluncuran buku secara resmi baru dilaksanakan pada 20 Oktober 2017 di Gramedia Depok. Acara ini mendatangkan 4 narasumber yang merupakan penulis buku ini dan perwakilan BPH PPI Dunia, yaitu Ali Abdillah, Zakiyah Eke, Adi Hersuni, dan Ulfa Ryn. Hatta Bagus Himawan menjadi moderator acara tersebut.

Acara dibuka dengan kata sambutan dari Elexmedia selaku penerbit buku 20 Kisah Perantau Ilmu, lalu Adi Hersuni sebagai perwakilan BPH PPI Dunia, kemudian dilanjutkan oleh Ali Abdillah selaku perwakilan dari 20 penulis. Aninta, Adi dan Ali sepakat bahwa buku ini memberikan perspektif baru bagi pemburu kuliah ke luar negeri yang selalu menghadapi hambatan saat memperjuangkan mimpinya untuk kuliah di luar negeri. Selama ini, buku yang berada di pasaran cenderung lebih menonjolkan kisah sukses kuliah di luar negeri. Sebaliknya buku ini lebih menyoroti bagaimana kegagalan-kegagalan yang dihadapi oleh para penulis saat berburu kuliah ke luar negeri dan proses menjalaninya. Mereka juga menyampaikan bahwa kegagalan bukanlah hal yang luar biasa, untuk bisa kuliah ke luar negeri membutuhkan kerja keras, disiplin dan pantang menyerah dalam menghadapi masalah yang ada. Bahkan pada satu titik, kegagalan adalah kawan baik mereka. Mereka juga menambahkan, saat setelah lulus nanti jangan pernah lupakan negara Indonesia yang telah membesarkan kita.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan talkshow dan tanya jawab. Disini moderator, Hatta, memberikan beberapa pertanyaan kepada narasumber seputar proses mendapatkan beasiswa dan sekolah di luar negeri, dan proses menjalaninya. Beragam cerita disampaikan oleh para narasumber. Sebagai contoh Zakiyah Eke atau biasa dipanggil Eke, untuk dapat bisa meraih mimpinya Eke harus melalui jalan terjal dan berliku. Penolakan-penolakan dan kegagalan sudah menjadi makanan ia selama 3 tahun memperjuangkan mimpinya. Saat itu, Eke juga sedang bekerja saat proses mendaftar beasiswa sekolah ke luar negeri, sehingga ia harus putar otak dan membagi waktu untuk belajar dan mempersiapkan persyaratan kuliah di luar negeri seperti IELTS dan surat-surat lainnya. Khusus untuk
IELTS, Eke menyiapkan waktu tersendiri. Eke sengaja datang ke kantor 2 jam sebelum jam masuk kantor agar bisa belajar IELTS dan juga sepulang kerja Eke meluangkan waktu untuk belajar minimal 2 jam. Tetapi, ternyata kedisiplinan belajar tidaklah cukup, butuh dedikasi dan di sinilah kekuatan mimpi diuji. Tidak serta-merta Eke mendapatkan nilai IELTS yang cukup memenuhi syarat untuk mendaftarkan diri pada beasiswa atau sekolah yang diinginkan. Eke harus mengalami kegagalan 5 kali tes IELTS hingga tes ke 6 dapat membawanya kuliah ke luar negeri dengan beasiswa penuh dari pemerintah Belanda.

Lain lagi cerita dari Adi Hersuni, Adi harus menerima bahwa IPK S1 dia dibawah 3 (tiga). Tetapi hal tersebut belumlah cukup untuk memaksa Adi mengatakan kata menyerah dan mengubur asa kuliah di luar negeri. Adi berjuang dengan berbagai cara hingga harus menyiapkan waktu khusus setiap hari menyiapkan persyaratan ke luar negeri. Adi bercerita, setiap rehat kerja, dia selalu membuka buku persiapan IELTS bahkan tidak jarang Adi pergi ke mushola untuk bisa fokus belajar. Bahkan di tengah proses itu, Adi harus menghadapi kenyataan anak yang masih di dalam kandungan istrinya meninggal dunia. Tetapi lagi-lagi, hal itu tidaklah cukup kuat memendam asa Adi untuk dapat kuliah di luar negeri. Di akhir cerita, Birmingham University menjadi saksi perjuangan Adi yang tanpa kenal kata menyerah. Dan tahun ini, Adi telah pulang dari perantauan di tanah Britania Raya dengan membawa ijazah master-nya.

Kisah selanjutnya adalah tentang Ulfa, yang dihadapi Ulfa berbeda dengan yang lainnya. Izin orang tua yang menjadi kendala utamanya. Tetapi Ulfa bukanlah orang yang gampang mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Seribu satu cara telah difikirkan matang-matang olehnya. Alhasil summer course, conference dan exchange program telah membawanya menjejakkan kaki di universitas-universitas di luar eropa tanpa harus melanggar janji terhadap orang tua-nya.

Kisah terakhir dari Ali Abdillah, untuk menggapai mimpinya Ali harus menghadapi kenyaatan bahwa dialah sekarang yang menjadi kepala keluarga setelah ayahnya meninggalkan ia dan keluarganya 2 tahun sebelumnya. Praktis urusan pemasukan rumah tangga berada di pundak Ali. Disini mimpi Ali diuji dalam merealisasikan mimpi ayahnya untuk kuliah di luar negeri. Masalah boleh datang tapi ikhtiar tidak akan pernah bisa mengkhianati orang yang telah berusaha mati-matian. Sekarang, dia telah membuktikan diri, Leiden University telah ditaklukkannnya dan tentu mimpi-mimpi selanjutnya siap untuk ditaklukkannya.

Di akhir sesi, para narasumber berpesan bahwa saat kita sudah di luar negeri nanti dan sudah meraih mimpi kita nanti, jangan lupakan negeri ini. Banyak hal yang butuh diperbaiki. Memang negeri orang lain akan menawarkan beribu janji untuk perbaikan kehidupan. Tetapi, negeri sendiri selalu layak untuk diperjuangkan.

Narasumber :

– Ali Abdillah (Master – European Union law at Leiden Law School (Belanda), Sekjen PPI Belanda 2015, Ketua BEM UI 2013, Ketua BEM FHUI 2012).

– Zakiyah Eke (Master – Nutrition Epidemiology at Wageningen University & Research (Belanda), Ketua Divisi Humas PPI Belanda 2015).

– Adi Hersuni (Master – Materials Science & Engineering at University of Birmingham (Inggris), Ketua Kantor Komunikasi PPI Dunia 2017, Ketua BEM FTUI 2008, Ketua Ikatan Mahasiswa Metalurgi & Material FTUI 2007).

– Ulfa Ryn (Mobility- Software Engineering, UTeM (Malaysia)).

Moderator
Hatta Bagus Himawan (Master – Innovation management at TU Eindhoven (Belanda))

 

 

Categories
Asia dan Oseania Berita Festival Luar Negeri PPI Negara Seni & Olahraga

Melihat Meriahnya Pameran Budaya Indonesia di Harbin, China

PPI Tiongkong, Harbin (9/17) – Perhimpunan Mahasiswa Indonesia Tiongkok (PPIT) Harbin kembali ikut serta dalam acara mahasiswa yang bertajuk Festival Budaya Internasional. Pagelaran itu diselenggarakan di kampus Harbin Engineering University (HEU), Harbin, China.

Sejak pagi panitia sudah mempersiapkan materi yang akan ditampilkan saat acara, mulai dari properti, bahan makan, kain hingga snack khas Indonesia yang siap disuguhkan kepada pengunjung yang hadir.

Acara yang dimulai sekitar pukul 10.00 pagi (waktu Harbin) itu mendapat sambutan yang sangat meriah dari pengunjung yang hadir. Begitu pula dengan stand negara Indonesia yang sangat ramai dikunjungi. Sejak stand baru dibuka, para pengunjung antusias mencoba makanan khas Indonesia, bermain alat musik seperti angklung dan bertanya mengenai Indonesia.

Pada acara itu, setiap negara seperti Indonesia, Inggris, US, Korea, Jepang, Thailand, Vietnam, Mongolia, Rusia dan beberapa negara lainnya diberikan kesempatan untuk menyuguhkan tarian khas negaranya diiringi alunan musik yang menambah kemeriahan festival tahun ini.

Acara Festival Budaya Internasional dihadiri lebih dari 1.000 pengunjung yang datang sejak pagi hingga selesai acara.  Ini merupakan salah satu kegiatan yang diikuti PPIT Harbin yang secara rutin diadakan di beberapa kampus besar Harbin. Hal ini menjadi wadah yang bagus untuk mengenalkan seni dan budaya Indonesia kepada masyarakat di luar negeri, sekaligus promosi pariwisata Indonesia di mata masyarakat internasional.

Selain itu juga, melalui kepanitiaan,  kegiatan itu juga sebagai wadah untuk merekatkan solidaritas mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Harbin.

 

Penulis : Putra Wanda (Pengurus Pusat PPI Tiongkok)

Mahasiswa Doctoral di HUST, Harbin, China

 

Editor: Kartika Restu Susilo

 

 

 

 

Categories
Asia dan Oseania Berita PPI Negara

Menteri Keuangan Sri Mulyani Sempatkan Bertemu WNI Di Tokyo

Tokyo, 8 Oktober 2017. Sebelum menuju Amerika Serikat, Sri Mulyani mengunjungi KBRI Tokyo untuk bertegur sapa dengan para WNI di Jepang. Malam itu lobby KBRI Tokyo dipadati warga yang ingin bertemu Menteri Keuangan tersebut.

            Menghadiri temu sapa sebenarnya bukanlah agenda utama Sri Mulyani. Di tengah perjalanannya menuju Amerika Serikat, Menteri yang akrab disapa Bu Ani tersebut singgah di Tokyo untuk transit terlebih dahulu. Namun karena ada waktu yang cukup, maka dapat terselenggaralah pertemuan pada hari tersebut. Meski harus melanjutkan penerbangan keesokan paginya, Bu Ani tetap semangat dan antusias menyapa para hadirin.

Sebagai Menteri Keuangan, tidak bosan-bosannya Bu Ani membahas mengenai pajak pada masyarakat. Pajak sendiri diatur dalam pasal 23A UUD 1945 yang berbunyi ”Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang”. Sebagai warga negara, membayar pajak adalah sebuah keniscayaan. Hal ini sejalan dengan pemikiran salah seorang filusuf ternama asal Inggris, Thomas Hobbes. Pada salah satu bukunya, Leviathan yang terbit tahun 1651, Hobbes menjelaskan hubungan antara pemerintah dan rakyatnya. Hubungan ini seperti sebuah kontrak yang bersifat mutualisme. Pemerintah berperan sebagai pelindung dan penyedia, sementara masyarakat harus mendukung pemerintah dengan cara membayar pajak. Uang hasil pajak inilah yang nantinya dikelola pemerintah untuk membangun rumah sakit, menyediakan lapangan kerja, dan lain-lain yang bernilai bagi rakyat. Hal seperti inilah yang disebut kontrak antar pemerintah dan rakyat, dan hal ini berlaku di manapun.

Sayangnya hal ini mungkin belum dipahami semua orang. Sri Mulyani sendiri mengakuinya bahwa penerimaan pajak masih rendah. Warga yang mengikuti progam tax amnesty saja tidak sampai satu juta. Lalu, terdapat sekitar 32-juta warga yang terdaftar sebagai pembayar pajak, namun yang benar-benar membayar pajak dan memiliki SPP tidak lebih dari 12-juta warga. Indonesia sempat dihebohkan juga belum lama ini oleh kabar nasabah asal Indonesia yang mentransfer dana sebesar Rp18,9-triliun ke bank Standard Chartered di Singapura. Demi menghindari hal ini, Bu Ani menyatakan sudah memberlakukan perjanjian perpajakan internasional sehingga aliran dana dalam jumlah tidak masuk akal dapat terlacak.

Sempat disinggung juga tentang hutang Indonesia yang beberapa bulan lalu panas dibahas. Dibandingkan Jepang, hutang Indonesia masih terdapat dalam kategori sehat. Hutang Jepang sendiri memang sudah terlampau besar, yakni sekitar 200% dari GDP (Gross Domestic Product). Sedangkan Indonesia masih berkisar di angka 27% GDP. Jadi, memang Indonesia tidak sedang dalam keadaan darurat hutang. Ini adalah salah satu tugas Kementerian Keuangan untuk mengatur perekonomian Indonesia agar dapat terus berkembang namun juga dengan menjaga kestabilan. Tidak boleh ada pengeluaran atau peminjaman yang berlebihan, uang yang mengalir haruslah efisien dan digunakan semaksimal mungkin.

Pada sesi tanya jawab, salah seorang hadirin menanyakan hal yang menarik untuk dibahas. “Dengan sumber daya yang melimpah, dapatkah Indonesia bergantung padanya dan menghapuskan pajak?” tanya sang hadirin. Sebenarnya bisa saja, namun negara akan terjangkit Dutch Disease jika hal ini dilaksanakan. Dutch Disease merupakan istilah ekonomi yang merujuk pada ketergantungan berlebih suatu negara, biasanya terhadap sumber daya alam, sehingga menyebabkan berkurangnya daya saing negara tersebut. Mengambil contoh dari Norwegia yang kaya akan sumber daya alam, tetapi mereka tetap mematok pajak yang tinggi bagi warganya. Dari pajak yang tinggi ini, Norwegia membangun dirinya menjadi negara yang maju, dan yang paling penting, meningkatkan daya saing manusianya. Indonesia bisa saja menggantungkan diri pada sumber daya alam. Namun jika demikian, manusianya tidak akan bertumbuh secara daya saing dan pada suatu titik, akan runtuh karena kalah bersaing.

“Presiden Jokowi sangat terbuka dengan persaingan karena hal tersebut membawa manfaat,” ujar Sri Mulyani. Di zaman yang telah berubah ini, kita juga harus fleksibel mengikuti perubahan. Salah satunya adalah dengan menempa diri demi menjadi pribadi yang lebih kompeten, karena sekarang adalah eranya persaingan. Jangan lupa juga untuk mengambil pelajaran dari negara seperti Jepang dan negara maju lainnya. Banyak hal yang dapat dipelajari agar suatu hari nanti dapat dibawa pulang dan digunakan demi kepentingan bersama.

Penulis: Theodorus Alvin

Editor: Kartika Restu Susilo

Page 1 of 7
1 2 3 7