logo ppid

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) se Amerika-Eropa (AMEROP) menggelar pembukaan simposium tahunan pada hari Jumat (19/5) bertempat di KBRI Washington D.C., Amerika Serikat. Berlatar belakang regulasi dan perkembangan dunia ekonomi digital Indonesia yang belum stabil, maka tema yang diangkat kali ini adalah “Kekuatan bangsa: Ekonomi Digital sebagai keunggulan bersaing Indonesia”.

Acara yang akan berlangsung hingga hari Minggu (21/5) ini dihadiri oleh Koordinator PPI Dunia Intan Irani, Koordinator PPI AMEROP 2016-2017 Kreeshna Siagian, Sekretaris Jendral PERMIAS Nasional Nadi Guna Khairi, dan Ketua Panitia Simposium PPI AMEROP Andre Yahya. Dalam sambutannya, Koordinator PPI Dunia Intan Irani mengatakan dirinya merasa bangga karena akhirnya bisa datang ke salah satu simposium kawasan di PPI Dunia. ’’Saya yakin bahwa kita bisa menjadi generasi masa depan yang membawa perubahan positif dan kreatifitas efektif demi Indonesia yang lebih baik,’’ papar Intan.

Kata sambutan oleh Bapak Ismunandar, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Washington, D.C.

Rentetan kegiatan simposium kawasan telah dimulai sejak Maret lalu yang dimulai di Taiwan untuk Simposium kawasan Asia-Oseania, lalu di Madinah untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika, dan kini Washington, D.C. untuk kawasan Amerika-Eropa. Satu lagi yang menjadi puncak dari kepengurusan Intan nanti adalah Simposium Internasional PPI Dunia yang akan digelar di University of Warwick, United Kingdom Juli mendatang. PPI AMEROP sendiri, terdiri dari sekitar 16.000 anggota pelajar yang tersebar 25 negara. Namun untuk simposium kali ini dihadiri oleh 26 anggota delegasi dari 15 perwakilan PPI Negara.

Koordinator PPI Amerop 2016-2017 Kreeshna Siagian juga merasa sangat optimis dengan masa depan Indonesia di tangan para pemuda yang sekarang. ’’Kalau Soekarno bilang beri aku 10 pemuda untuk mengguncang dunia, di sini sudah lebih dari 10 pemuda, maka kita benar-benar bisa mengubah dunia,’’ papar pria yang juga Ketua PPI Belgia tersebut.

Setelah selesai dengan kata sambutan, acara dilanjutkan dengan Focus Group Discussion. Para delegasi yang datang dibagi dalam 4 komisi yang berbeda, yaitu komisi Ekonomi, Sains dan Tekonlogi, Sosial dan Budaya, dan Politik dan Hukum. Dalam sesi ini, para delegasi dari tiap komisi membahas rancangan program kerja dan rekomendasi sesuai dengan tema simposium kali ini, yaitu Ekonomi Digital. Pembahasan pada hari pertama ini akan dilanjutkan pada hari ketiga yang selanjutnya akan disahkan menjadi program kerja PPI AMEROP periode selanjutnya.

Gala Dinner

Setelah pembukaan secara simbolis yang ditandai dengan pemukulan gong oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Washington, D.C., Bapak Ismunandar, dan Koordinator Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya KBRI Washington, D.C., Bapak Siuaji Raja, acara dilanjutkan dengan Gala Dinner bersama dengan panitia, anggota delegasi, dan staf KBRI Washington, D.C.

(Dinda / NZ)

 

Delegasi dan Panitia Simposium PPI Amerika-Eropa 2017

 

 

 

Madinah - Selasa 4 April 2017. Pagi hari, diskusi Panel Ketiga Simposium Kawasan PPI Timur Tengah – Afrika yang berjudul “Menyongsong Generasi Emas Indonesia Dalam Mempersiakan Generasi Emas 100 Tahun” resmi dimulai.

Dimoderatori oleh Ahmad Faisal, mahasiswa prodi Arab fakultas ilmu pengetahuan dan budaya Universitas Indonesia. Narasumber pertama adalah beliau Bapak Prof. Dr. Mohammad Nuh DEA, dengan membawakan materi berjudul “Menyiapkan Generasi Millenial Menuju Kejayaan Indonesia 2045”.

Beliau memulai dengan prolog bercerita tentang pengalaman dirinya dulu sebagai mahasiswa di negeri asing, dan beliau berpesan , “student today leader tomorrow”. Kemudian tak lupa juga beliau memberi ucapan selamat kepada panitia penyelenggara simposium, “berikan tepuk tangan bagi mereka yang telah menyiapkan dan menyelenggarakan acara yang luar biasa ini”.

Kemudian mengawali kuliahnya dengan ucapan, “Dunia tidak ada artinya tanpa Indonesia, Indonesia tidak ada artinya tanpa penduduk, dan penduduk tidak ada artinya tanpa PPI Timur Tengah Afrika”, ujar beliau membuka pemaparannya terkait Indonesia dan posisi geografisnya.

Kemudian beliau membahas tentang generasi millennial, mereka yang lahir antara 80-95, 22-36 tahun. Karena zaman membentuk karakter dan kepribadian. Karakter mereka suka jalan pintas dan tak ingin lama. Mereka lebih suka menggunakan modul-modul daripada teori yang berkepanjangan. Mereka juga segera beradaptasi dengan setiap teknologi yang muncul, tanpa berfikir tentang bagaimana benda tersebut bekerja, mereka juga mencintai mobilitas yang tinggi, modern nomadic, bukan hanya sekedar antar hutan bahkan antar negara.

Kita juga perlu memahami future trend karena kita akan berjalan ke depan, agar kita dapat menyiapkan diri. Kita tidak dapat menghilangkan persoalan, namun dengan persiapan kita dapat menyelesaikan persoalan itu, mirip filosofi payung. Tanpa mengetahui masa depan kita hanya akan menjadi expired generation.

Kemampuan pengambilan keputusan juga harus terus diasah, karena tingkat kompleksitas permasalahan dan kecepatan waktu yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan harus lebih baik. Dalam bukunya “age of discovey” Ian Goldin menyebutkan bahwa social complexity akan melaju lebih banyak dibandingkan dengan cognitive capacity. Trendi grafiknya bahwa kelompok kreatif bertambah naik, jika kita tidak kreatif maka kita akan termarjinalkan.

Lalu apa yg harus kita siapkan menghadapi masalah ini? Tentunya yang pertama adalah ilmu, amal dan amal salih. Kemudian selain itu adalah higher order thinking. Yaitu analyzing, evaluating, dan creating. Maka untuk itu dibutuhkan sikap kritis agar menjadi kreatif.

Tahun 2045 di akhir seabad Indonesia kita perlu untuk investasi SDM yang besar-besaran dan berkeadilan. Agar berkah demografis dan trendi pergerakan ekonomi dunia menjadi bonus bukan bencana. Dan itu, dinilai dari 2010 hingga 2040, ketika kita sedang dan masih memiliki bonus demografi.

Setelah kita tahu tantangannya, kita memilki empat agenda utama; kemiskinan, ketidaktahuan, keterbelakangan peradaban, dan ketidakadilan. Maka beliau berpesan, “Jadi pemimpin itu bukan sekedar memegang prinsip kebenaran, namun juga kebaikan dan keindahan, (logika, etika, estetika), oleh karenanya dinamakan kebijakan. Maka kelak kalau anak-anak PPI menjadi pemimpin, bijak dan santunlah terhadap kaum dhuafa”. Dengan 87% jumlah penduduk muslim hanya 1 orang yang menduduki peringkat 10 terkaya dunia. Sebab seperti kata beliau, “Pendidikan adalah sitem rekayasa sosial terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan, keharkatan, dan kemartabatan”

Dan yang terpenting adalah menaikkan pendekatan kita dari hindsight menuju insight menuju foresight. Descriptive analytics, diagnostic analytics, predictive analytics, prescriptive analytics. Karena yang kita butuhkan adalah menyiapkan leader, manager, dan entrepreneur. Untuk itu beliau berpesan khusus kepada para delegasi simposium, “PPI Timur Tengah dan Afrika haruslah menjadi generasi pemungkin (enabler)”.

Pembicara kedua adalah Bapak Prof. Dr. Gumilar Rusliwa Somantri. Beliau membacakan sebuah narasi tentang kondisi Indonesia kini dan masa depan. Membaca masa depan di tahun 2045, terdapat tiga skenario yang sering dikemukakan; optimistik, pesimistik, dan realistik. Namun kita tentu berharap kepada skenario optimistik. Meskipun di sana-sini terdapat banyak problematika yang merisaukan dan dikhawatirkan menjadi mimpi buruk demografis di masa mendatang. Terlebih selain masalah di dalam negeri, Indonesia juga jamak menjadi incaran kepentingan-kepentingan asing, sudah barang tentu tindakan mereka akan dirasakan melalui aksi politik, pendidikan dan budaya. Terlebih dengan perubahan kutub kekuatan dunia, dan kemajuan beberapa negara Asia dalam mencuri start menghadapi masa depan, terkhusus China dan Jepang. Negara-negara Asean juga semakin kompetitif meskipun masih dilanda beberapa masalah budaya dan sosial.

Strategi yang tak kalah penting untuk menghadapi ini, adalah merubah paradigma pembangunan yang berbasis SDA menjadi basis SDM. Dan juga menabuh genderang perang menghadapi radikalisme kiri dan kanan, memperkuat pondasi ekonomi, menghadapi upaya perusakan generasi baru, dan yang terpenting adalah mempersiapkan diri menghadapi era energi kinetis dan era digital.

Sebelum sesi tanya-jawab, Pak Mahfud MD pembicara pada panel pertama, sempat ikut memberikan pesan dan nasehatnya sebagai konklusi akhir dari seluruh materi yang telah disampaikan oleh para narasumber, beliau berpesan, “intinya adalah optimis dan tidak takut gagal”.

Acara selanjutnya adalah presentasi paper yang ditulis oleh para delegasi. Yaitu pemaparan 15 paper yang telah dibuat oleh para delegasi, Presentasi dibagi dalam empat panel. Panel Sosial dan Budaya dimoderasi oleh Muhammad Herika Taki, mahasiswa S3 King Abdulaziz University-Jeddah. Panel Politik dimoderasi oleh Farichatus Sholichah, mahasiswi Sastra Arab, fakultas Ilmu Budaya UGM-Yogyakarta. Panel Agama dimoderasi oleh Muhammad Usman Ilyas, mahasiswa UNISULA-Semarang. Dan terakhir Panel Ekonomi yang dimoderasi oleh Sifak Nikmatul Fitri, mahasiswi profesi ilmu Kedokteran UGM-Yogyakarta.

Selepas istirahat siang, dimulailah acara sidang komisi Simposium PPI Timtengka, dipimpin oleh Steering Committee, yang disi oleh Saleh Al-Djufri delegasi PPI Sudan sebagai ketua sidang satu, Muhammad Prabasworo Jihwakir delegasi PPMI Arab Saudi sebagai ketua sidang dua, dan Ahmad Syauqi delegasi Indonesia sebagai ketua sidang tiga. Dalam sidang ini diawali dengan perumusan Deklarasi Madinah, sebagai hasil seruan dan simpulan para peserta Simposium Kawasan PPI Timur Tengah dan Afrika. “Deklarasi ini adalah penentuan sikap kami para anggota peserta simposium” ujar Saleh Al Jufri ketua satu. Sementara pembacaan Draf Deklarasi Madinah disampaikan oleh Ahmad Syauqi sebagai ketua tiga. Kemudian sidang dibuka dengan ketukan palu oleh pemimpin sidang Saleh Al Jufri.

Kemudian sesi perumusan dan pengesahan dilalui dengan pembacaan setiap paragraf dan poin-poin naskah deklarasi oleh Muhammad Prabasworo Jihwakir ketua dua, dan menerima masukan serta pandangan dari para peserta Simposium per bagian naskah Draf Deklarasi.

Terjadi beberapa perubahan dalam muatan draf naskah deklarasi, meskipun secara umum hanya perubahan redaksional bukan substansial. Namun tetap saja membutuhkan banyak waktu karena banyaknya peserta yang melakukan interupsi dan memberikan masukan, bahkan membutuhkan beberapa kali penambahan waktu.

Acara dilanjutkan dengan penyampaian prakata dan laporan pertanggungjawaban Ketua PPI Timur Tengah dan Afrika, yang disampaikan oleh Saleh Al-Djufri delegasi PPMI Sudan, mewakili Ketua yang berhalangan hadir Kiagus Ahmad Firdaus. Selanjutnya adalah pembacaan Deklarasi Madinah yang dibacakan oleh Sekjen PPMI Arab Saudi sekaligus Ketua Sidang, yang diaminkan dan dikumandangkan ulang oleh seluruh peserta simposium, ikut bersama mereka juga Dubes LBBP untuk KSA dan OKI, Bapak Drs. Agus Maftuh Abegebriel beserta jajarannya, diantaranya Bapak Basuni Imamuddin Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Riyadh, dan Bapak Muhibuddin M Thaib Atase Hukum dan HAM KBRI Riyadh. Kemudian diakhiri dengan penandatangan Deklarasi Madinah oleh seluruh Ketua PPI Negara anggota PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika, tanda disahkannya Deklarasi Madinah tersebut.

Acara Simposium selanjutnya ditutup secara seremonial oleh Dubes LBBP untuk KSA dan OKI, Bapak Drs. Agus Maftuh Abegabriel. Beliau menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya atas terselenggaranya Simposium ini, bahkan beliau rela mempersingkat kunjungan kerjanya di Belanda dan Belgia, yang seharusnya baru berakhir hari ini, namun beliau justru memilih untuk menghadiri dan membuka Simposium ini dan menutupnya. Beliau mengatakan tentang para mahasiswa peserta Simposium ini, “kalian semua ini adalah generasi-genarsi yang akan memimpin Indonesia”. Beliau juga berkomentar tentang Deklarasi Madinah, “ini adalah deklarasi yang luar biasa, terlebih ketika ia ditandatangani di Kota Rasulullah, dan dari sini lah pesan-pesan ini akan menjadi ‘aalamiyyah alias mengglobal”. Dan terakhir beliau menutup prakatanya dengan pesan, “from here we start and change”.

Dengan ini, acara secara resmi ditutup, dan hanya menyisakan sesi sidang perumusan rekomendasi empat komisi, komisi agama, komisi pendidikan dan kebudayaan, komisi politik dan hukum, dan komisi ekonomi. Tepat dengan masuknya waktu salat magrib, acara sidang komisi juga ikut selesai. Dan berakhirlah sudah acara inti Simposium Kawasan PPI Timur Tengah – Afrika 2017 di Kota Madinah. (Red: Izzy, Ed: Adam)

Galeri Foto: (Sumber: sie. Media Simposium Timtengka Madinah 2017)

 

 

Dengan banyaknya media penyiaran yang tersebar di seluruh Indonesia, perlu sudut pandang kritis dari para pendengar untuk menyaring informasi yang dipaparkan. Dalam kesempatan ini, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) menghadirkan, Nadhira Zhafirany (Koordinator Biro Pers PPI Dunia 2016/2017) dan Aprilia Sasmar Putri (Radio PPI Dunia), masing-masing dalam program RRI Voice of Indonesia Youth Forum dan Kami Yang Muda pada tanggal 3 April 2017 masing-masing pada pukul 10.30 WIB dan 11.30 WIB.

Dalam program Youth Forum, Nadhira mengatakan, “berbagai media penyiaran tersebar di Indonesia seperti televisi, radio, dan bahkan internet untuk memperoleh berita dengan tercepat. Media Indonesia sedang dalam perkembangan pesat dengan beragamnya berita yang disajikan menuju ke arah yang positif.”

“Media diharapkan lebih teliti dan netral dalam menyajikan seluruh informasi yang diterima, dengan mengesampingkan berita yang tidak benar atau hoax. Penerima berita sendiri juga harus lebih kritis dalam menanggapi berita yang masuk dengan banyaknya media yang menyiarkan berita,” lanjut mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan di Belgia tersebut.

Dalam program Kami Yang Muda, April berkata bahwa, “radio lebih bersifat auditori dan televisi bersifat visual. Yang paling menarik adalah internet, seperti menggabungkan media visual dan auditori. Di Indonesia, konten sudah bervariasi hanya saja perlu pembenahan beberapa konten agar tidak terlalu bersifat marketing atau pro ke satu sisi.”

“Pendengar harus bersifat proaktif dan memberikan kritik atau saran bila ada siaran yang perlu pembenahan. Penyiar juga diharapkan menganalisis secara cermat dan menyajikan konten dengan tepat,”ujar mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan di Belanda tersebut.

Menurut Nadhira dan April, harapan ke depan adalah media lebih positif dan netral dalam menyajikan berita. Tidak lupa apresiasi juga kepada para wartawan atau tim penyiaran yang telah memberikan penyajian berita yang berkualitas. Tetap maju media penyiaran Indonesia!

 

(Red CA, Ed F)

Sebelumnya saya pernah melamar beberapa beasiswa semenjak duduk di bangku sekolah menengah kejuruan. Tercatat lebih dari 50 program beasiswa dan sejenisnya yang pernah saya lamar, namun hanya 6 diantaranya yang menerima aplikasi beasiswa saya. Enam program beasiswa tersebut diantaranya Beasiswa Toyota dan Astra 2012, Erasmus Mundus-Mover 2013 (Uni Eropa), Dataprint 2014, Dataprint 2015, Beasiswa Pemerintah China 2016, dan Ignacy Łukasiewicz Scholarship (Pemerintah Polandia) 2016.

Pada kesempatan ini saya akan menceritakan pengalaman Beasiswa Erasmus Mundus-Mover 2013 program srata1 selama 2 semester dengan jurusan Electrical Engineering and computer Science di Lublin University of Techology, Polandia. Beasiswa Erasmus Mundus (sekarang Erasmus+) merupakan beasiswa yang diberikan Uni Eropa untuk mahasiswa dari negara berkembang, baik mahasiswa yang sedang studi atau lulus, di universitas negeri atau swasta. Beasiswa ini bisa dilamar oleh semua mahasiswa di Indonesia meskipun universitas tempat kalian studi di Indonesia tidak mempunyai kerjasama dengan pihak Erasmus.

Beasiswa Erasmus Mundus ini merupakan kali ke dua beasiswa Uni Eropa yang saya dapatkan, setelah beasiswa Erasmus Mundus pada 2012 saya dibatalkan sepihak oleh penyedia beasiswa ketika terjadi krisis ekonomi yang melanda Eropa pada 2012. Perlu diketahui, beasiswa ini hanya menyeleksi aplikan melalui dokumen persyaratan tanpa ada psikotest dan wawancara. Jadi yang seharusnya dilakukan aplikan adalah memahami kriteria penilaian beasiswa dan memaksimalkan dokumen persyaratan. Menurut saya mengurus beasiswa ini gampang-gampang susah karena kita harus memaksimalkan dokumen yang tentunya memerlukan waktu dan tenaga yang banyak, seperti mengkonsultasikan motivation letter ke dosen yang mana waktunya tidak bisa kita tebak dan tentukan jika dosen yang bersangkutan mempunyai jadual yang full, belum lagi print dokumen dan meminta tanda tangan ke beberapa orang yang berbeda yang mengharuskan kita kesana kemari. Diperlukan niat, kesabaran, dan ketelitian yang besar memang, karena jika tidak kita bisa berhenti di tengah jalan. Hal ini pernah dialami beberapa teman yang akhirnya memilih mengundurkan diri. Belum cukup di situ, kami juga bersaing dengan aplikan di dalam dan di luar negeri karena terdapat kuota penerima beasiswa.

Terdapat beberapa persyaratan yang harus dipersiapkan, diantaranya KTM, CV (Format eropa), language certificate, letter of motivation, transkrip nilai, dokumen pendukung lain seperti sertifikat prestasi dan seminar, dll. Untuk CV bisa di download di website resminya. Saya mulai menyiapkan semuanya 6 bulan sebelum deadline. Waktu tersebut saya gunakan untuk mengurus persyaratan di dalam dan di luar kampus, berkonsultasi motivation letter ke beberapa dosen bahasa inggris, update informasi, dan lain-lain sehingga saya mempunyai waktu cukup.

Meskipun IPK saya pas-pasan, saya mencoba memaksimalkan dokumen lain sehingga untuk menarik penyeleksi, saya melampirkan keterangan prestasi yang pernah saya raih dan pengalaman organisasi. Perlu diketahui bahwa kriteria penilain beasiswa ini bukan hanya dilihat dari keaktifan di dalam kampus tapi juga di luar kampus. “Kebanyakan penerima beasiswa adalah para aktifis kampus”, tutur Bapak Soeparto, Kepala BKLN (Biro Kerjasama Luar Negeri) UMM dalam seminar sosialisasi Beasiswa Erasmus Mundus pada 2013.

Terdapat 2 tahap seleksi. Yang pertama seleksi antara penerima dengan cadangan dan yang ditolak. Yang kedua, seleksi antara penerima dan ditolak. Proses ini memakan waktu 1 sampai 2 bulan. Setelah sekian lama menunggu, alhamdulillah akhirnya saya diterima di urutan ke dua dari 63 penerima beasiswa se-Asia. Beberapa hari kemudian saya mendapatkan Letter of Acceptance yang menyatakan saya resmi diterima beasiswa. Pada tahap aman ini saya mulai mempersiapkan dokumen-dokumen sebelum pemberangkatan seperti tiket pesawat, visa, dan lain-lain.

Pada beasiswa ini, penerima mendapatkan studi gratis selama 9 bulan, tiket pesawat pulang-pergi, living cost 1000 euro perbulan (Rp 16 juta ketika itu), asuransi kesehatan, sertifikat penerima beasiswa, transkrip nilai, dan tentunya pengalaman yang tidak terlupakan. Di sini kami belajar bersama ratusan mahasiswa dari berbagai negara, seperti Amerika, Italia, Spanyol, Polandia, Turki, Kazakhstan, Tunisia, Ukraina, Aljazair, Kamboja, dan Filipina.

Proses pengajaran kami menggunakan bahasa inggris. Kami diberi kemudahan dan perhatian yang lebih dari para pengajar. Sebagai mahasiswa jurusan teknik informatika, saya merasakan sistem pengajaran ilmu terapan yang kami dapat jauh berbeda dari jurusan teknik informatika UMM. Perbedaannya, jika UMM menerapkan sistem 50% teori dan 50% praktek, maka di sini hanya 10% teori dan 90% praktek. Dalam hal tugas besar kebanyakan diberikan secara individu sehingga mahasiswa dituntut untuk lebih kreatif dan mandiri dalam mengerjakan tugas. Di Teknik informatika UMM kami tidak hanya diajarkan mata kuliah yang berbau IPA seperti pemrograman, namun juga diajarkan mata kuliyah yang berbau IPS seperti Pendidikan Kewarganegaraan, Kepribadian, dan Bahasa Inggris. Namun ketika itu, kami hanya diajarkan mata kuliyah yang hanya konsen dengan jurusan kami, yaitu IPA.

Di luar kelas reguler, itu kami diajar bahasa dan budaya Polandia serta Jerman selama 2 semester. Saya merasa mempelajari kedua hal ini sangat berguna terutama ketika kita berinteraksi dengan masyarakat sekitar dimana mayoritas masyarakat tidak mampu berbahasa inggris. Meskipun tidak terlalu menguasai bahasa Polandia, setidaknya saya menguasai kata-kata sehari-hari yang biasa dipakai. Saya merasakan hal ini sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari. Selain belajar bahasa Polandia di kelas, kami juga belajar sedikit tentang bahasa Turki, Arab, Spanyol, dan lain-lain dari mahasiswa yang berasal dari negara tersebut.

Selain kegiatan di kelas, kami mengikuti kegiatan di luar kelas yang di naungi oleh organisasi pemuda internasional ESN (Erasmus Student Network). Diantara kegiatannya adalah kegiatan sosial di panti asuhan dan olahraga di setiap senin. Pernah suatu ketika organisasi ini mengadakan kompetisi olahraga voli di akhir semester. Dan kami ambil bagian dengan mendirikan tim yang kami namai “Java United” yang berarti Persatuan Orang Jawa. Meskipun tim kami terdiri dari 2 orang jawa tapi kami juga merekrut anggota lain dari italia, Portugal, Kamboja, dan Turki. Kami masuk di babak final melawan anggota organisasi ESN. Diakhir babak alhamdulillah kami menjadi juara meskipun hanya runner up. Diakhir pertandingan kami mendapatkan penghargaan berupa sertifikat kejuaran di masing-masing tim.

Terdapat kebudayaan masyarakat Polandia yang berbeda dari kebudayaan kita. Seperti ketika seseorang ingin masuk ke kamar orang lain, setelah mengetuk pintu 3 kali seketika itu, dia bisa langsung masuk tanpa menunggu, selama pintunya tidak dikunci. Selain itu mereka menganggap bahwa tangan kanan sama seperti tangan kiri, sehingga kebiasaan memberikan sesuatu dengan menggunakan tangan kiri adalah hal yang biasa. Dalam hal perbedaan sistem transportasi, di negara ini menggunakan jalur kanan sebagai jalan kendaraan termasuk jalur kanan untuk para pejalan kaki. Transportasi umum lebih diminati daripada transportasi pribadi sehingga jarang terjadi kemacetan terlebih polusi udara, masyarakat mentaati peraturan lalu lintas, sistem “buang sampah pada tempatnya” juga berlaku di negara bekas komunis ini.

Ada beberapa pengalaman unik kami selama di Polandia. Salah satunya ketika kami bertemu masyarakat Polandia di jalan, mereka tidak jarang menyapa kami dengan sapaan Bahasa Jepang seperti “arigato”, “konichiwa”. Kejadian ini beberapa kali terulang pada waktu dan tempat yang berbeda. Mungkin masyarakat Polandia lebih mengenal Bangsa Jepang daripada Bangsa Indonesia. Ditambah lagi kami memiliki wajah Asia meskipun menurut kita berbeda. Pengalaman unik lain adalah ketika ada teman dari negara lain yang akan pulang ke negaranya selalu kami ajak foto bersama sambil membawa bendera negaranya dan bendera kami, Indonesia. Hal ini kami lakukan agar kita selalu saling mengingat.

Pengalaman menarik selama di Polandia adalah ketika winter atau musim salju. Pada musim ini segalanya menjadi indah. Tanah, bangunan, tanaman menjadi putih karena tertutup butiran salju. Kesempatan ini tidak kami lewatkan dengan mengabadikan gambar di beberapa tempat. Selain itu kami juga bermain skii beberapa kali. Meskipun hawa dingin menusuk tulang dan terkadang juga sampai membuat jari tangan tidak bisa bergerak, namun kami tetap menikmati suasana ini. Bagaimana tidak? Meskipun temperatur suhu minus 20 derajat cecius, kami masih asyik bermain skii hingga terkadang kami membayar harga penyewaan ekstra karena terlalu lama bermain .

Tentang makanan, setiap hari kami memasak di dapur asrama karena jarang terdapat restauran Asia. Jika adapun tentunya harganya tidak bisa dibilang murah untuk kantong mahasiswa. Makanan pokok masyarakat Polandia adalah kentang, sedangkan kita nasi, namun nasi juga dijual di sini. Setiap hari kami menanak atau menggoreng nasi dengan lauk pauk sesuai keinginan kita. Jangan harap lauk yang biasa terdapat di Indonesia seperti tempe dan bakwan ada di sini. Kita biasa makan lauk yang dijual di sini saja seperti telur, daging, ikan dan lauk umum lainnya. Dari sini kita dituntut lebih mandiri untuk melakukan apapun.

Selain Polandia kami juga menyempatkan berkunjung ke 12 negara Eropa lain. Negara tersebut adalah Jerman, Belanda, Perancis, Belgia, Spanyol, Hungaria, Czech Republic, Slovakia, Austria, Italia, Vatikan, dan Yunani. Di sini kami mendapatkan pengalaman yang tidak terlupakan. Kami berkunjung ke beberapa tempat terkenal seperti Tembok Berlin di Jerman, Kincir Angin di Belanda, Menara Eiffel di Paris, Gedung Parlemen Uni Eropa di Brussel-Belgia, Stadion Nou Camp di Barcelona-Spanyol, Gedung Parlemen Hungaria, dan Gedung Opera di Ceko. Menariknya, kami selalu membawa dan berfoto dengan bendera Indonesia, UMM, serta organisasi kami ke setiap negara tersebut. Hal ini kami lakukan agar masyarakat internasional mengetahui bahwa identitas nama baik kita berkibar dengan gagah di bumi eropa selain itu agar mahasiswa Indonesia lebih bersemangat untuk melakukan hal yang sama, kuliah di luar negeri. Dari kunjungan ini kami mendapatkan pengalaman yang tidak terlupakan. Selain keindahan artsitektur eropa kami juga bertemu beberapa masyarakat dengan berbagai macam latar belakang sosial, budaya, dan agama. Dari interaksi ini kami menemukan pengetahuan yang tidak kami pelajari di bangku perkuliahan. Pengalaman yang baik perlu kami tiru dan implementasikan nantinya.

Berkaitan dengan beasiswa, saya memiliki beberapa saran serta tips bagi calon pelamar, diantaranya :

  1. Diperlukan niat, kesabaran, dan usaha yang kuat. Sebagian teman yang awalnya mempunyai niat besar belajar di luar negeri merasa sibuk dengan urusannya masing-masing dan akhirnya memilih mengundurkan diri dari melamar beasiswa ini. Padahal mereka sudah melengkapi sebagian persyaratannya. Mereka merasa tidak sanggup karena mereka pikir persyaratannya terlalu rumit. Padahal kebanyakan beasiswa luar negeri yang ditawarkan memang seperti itu, membutuhkan banyak persyaratan yang harus disiapkan untuk mencari mahasiswa sesuai kriteria penyedia beasiswa, sehingga membutuhkan niat, kesabaran, serta usaha yang kuat dalam mengurusnya. Secara tidak langsung mereka menyeleksi dirinya untuk tidak diterima beasiswa. Padahal bagi penyedia beasiswa, persyaratan tersebut digunakan untuk referensi siapa diri anda, apakah Anda orang pilihan yang sesuai kriteria mereka? Untuk menjadi tidak biasa, kita harus menjadi luar biasa, luar biasa dalam niat, kesabaran, dan usaha;
  2. Bahasa Inggris adalah kebutuhan. Bahasa Inggris tentunya menjadi suatu kewajiban sebagai alat komunikasi dengan masyarakat antar negara. Kebanyakan beasiswa luar negeri mensyaratkan Bahasa Inggris sebagai bahasa yang dipakai dalam pembelajaran mata kuliah baik secara lisan maupun tulisan. Bahasa inggris lisan dipakai dalam percakapan antara dosen dan mahasiswa maupun antar mahasiswa, sedangkan tulisan biasa dipakai dalam literatur modul yang dosen berikan. Bagi Anda yang merasa Bahasa Inggrisnya masih pas-pasan, lebih baik belajar dari sekarang! Jika perlu ambil kursus! Dalam seleksi administrasi beasiswa, penyeleksi beasiswa melihat kemampuan Bahasa Inggris Anda dari sertifikat Bahasa Inggris, semisal TOEFL. Namun khusus di UMM bisa menggunakan sertifikat ESP (English for Specific Purpose) yang diterbitkan lembaga Language Center UMM, jika belum mempunyai sertifikat ESP bisa menggunakan transkrip ESP sementara;
  3. Pelajari persyaratan dan kriteria penilaian sedetail mungkin! Jika Anda mengetahui keduanya Anda akan mengetahui apa yang akan Anda lakukan. Terkadang ada informasi yang tidak Anda ketahui, seperti persyaratan passport bisa diganti dengan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) dan sertifikat TOEFL bisa diganti dengan transkrip ESP LC. Hal-hal tersebut memang tidak tertulis di website resminya. Maka jangan ragu untuk bertanya kepada BKLN (Biro Kerjasama Luar Negeri) maupun mahasiswa yang sudah mendapat beasiswa ini;
  4. Pergunakan waktu untuk mengurus dokumen persyaratan sebaik mungkin! Jangan mepet deadline! Penyedia tidak akan mentoleransi jika kita apply beasiswa melebihi deadline;
  5. Selalu update informasi dari BKLN dan penyedia beasiswa!;
  6. Jangan ragu untuk bertanya kepada mereka yang sudah mendapat pengalaman beasiswa!;
  7. Motivation Letter dan CV mempunyai kriteria penilaian yang besar. Penyedia beasiswa akan membaca siapa diri kita di Motivation Letter dan CV. Sebaiknya share Motivation Letter dengan dosen bahasa inggris apapun jurusan Anda, karena mereka berkecimpung dalam dunia bahasa inggris terutama grammar!;
  8. Sertakan nilai plus yang Anda miliki seperti prestasi, pengalaman organisasi, karya tulis dan lain lain karena itu akan sangat membantu dan membedakan diri kita dengan orang lain! Sertakan surat aktif organisasi dan sertifikat prestasi! Jika tulisan Anda pernah dimuat di koran, sertakan scangambar berita koran tersebut! Jika Anda pernah menerbitkan buku atau membuat PKM, lampirkan juga gambar karya tulis tersebut!;
  9. Tawakkal, berserah diri apapun hasilnya! Kita tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi. Yakinlah hal itu merupakan terbaik! Meskipun nantinya kita tidak diterima pada program ini, lebih baik kita interopeksi diri. Menginteropeksi kekurangan apa yang sudah kita miliki dalam melamar beasiswa. Hal ini akan membuat kita selalu semangat mencoba kesempatan beasiswa yang akan datang maupun beasiswa lain. Yakinlah jika kita mempunyai banyak kesempatan. Jika yang satu gagal masih bisa mencoba beasiswa-beasiswa lain yang sesuai kriteria kita. Dengan semakin baiknya interopeksi yang kita lakukan, akan membuka kesempatan lebih besar untuk mendapatkan peluang lain.

Sedikit cerita yang bisa saya sampaikan. Semoga sepenggal cerita ini bermanfaat bagi yang lain. Amin. “Man jadda wa jada” , “barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan mendapatkannya”. (Red: Syukron/ Ed: Amir)

Dewan Presidium (DePres) Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia. Satu kalimat yang awalnya membuat saya merinding. Terkesan lebay kalau menurut bahasa Generasi Y, tapi itulah yang terjadi. Bagi aktivis organisasi kemahasiswaan yang masih cetek seperti saya ini, tidak pernah terpikirkan bisa menjadi bagian dari DePres PPI Dunia. Bahkan, mendengar namanya saja belum pernah. Barulah pada ketika saya menjadi perwakilan PPI Belgia pada Simposium Internasional PPI Dunia 2016 di Kairo, saya mengetahui apa itu DePres PPI Dunia.

So, Dewan Presidium PPI Dunia terdiri dari: Koordinator PPI Dunia, Sekretaris, Bendahara, dan tiga Divisi: Divisi Biro Pers, Divisi P2EKA, dan Divisi Dana Usaha. Dewan Presidium juga terbagi menjadi tiga kawasan yaitu: Kawasan Amerika-Eropa, Kawasan Asia-Oseania, dan Kawasan Timur-Tengah Afrika. Kawasan Amerika-Eropa berisi 24 PPI Negara, Kawasan Asia-Oseania beranggotakan 14 PPI Negara, dan Kawasan Timur-Tengah Afrika berisi 14 PPI Negara. (more info: http://bit.ly/vidPPIDunia)

Ngeri rasanya membayangkan menjadi koordinator bagi seluruh mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di luar negeri. Terkagum-kagum rasanya melihat Steven Guntur, Koordinator PPI Dunia 2015/2016 memberikan pidato pada pembukaan simposium tersebut. Di depan Menteri Agama Republik Indonesia, Deputi Syekh Universitas Al-Azhar, Prof. Mahfud M.D, beliau dengan tegap dan yakin menyebut dirinya: “Saya selaku Koordinator PPI Dunia.” Bagaimana mungkin, saya yang berbicara saja seringkali terlalu cepat, bisa memberikan pidato seperti itu? Bagaimana ya kalau saya menjadi bagian dari DePres? Mimpi yang terlalu jauh pikir saya waktu itu. Kalau kata orang Batak, “banyak kali lah mimpimu, becak!”

Si Becak Nekat

Seperti yang sudah-sudah, Koordinator PPI Amerika-Eropa dipilih dalam Simposium PPI Amerika-Eropa yang nantinya akan disahkan dalam Simposium PPI Dunia. Turki, sebagai negara yang terpilih pada Simposium Amerika-Eropa di Rijkswijk, Belanda, pada tahun 2016, mengundurkan diri dikarenakan gejolak nasional yang terjadi. Walhasil, paniklah negara-negara anggota PPI Kawasan Amerika-Eropa kemarin. Semua bertanya: “Siapa nih yang sanggup jadi Koordinator?” Ditanya satu-satu, tidak ada perwakilan PPI Negara yang menyanggupi.

Homo proponit, sed Deus disponit. Manusia boleh berencana, namun Tuhan yang menentukan. Siapa yang sangka, si ‘becak’ itu akhirnya mempunyai jabatan di Dewan Presidium PPI Dunia? Kok bisa? Iya, dia nekat aja angkat tangan pas giliran PPI Belgia ditanya kesanggupannya. Nadhira, sebagai perwakilan lain dari PPI Belgia, bahkan sampai bingung dan bertanya “gila ya kamu? Kita PPI Belgia masih bocah, cuy, di PPI Dunia. Main iya-iya aja.” Si odong-odong itu cuma menjawab, “seloow”.

Dengan mengemban jabatan Koordinator PPI Amerika-Eropa terpilih pada waktu itu, saya hanya berpikir untuk memanfaatkan jabatan ini demi memajukan kualitas kawasan dengan anggota PPI Negara terbanyak (ada 24 negara dalam kawasan Amerika-Eropa). Selain itu, ini juga kesempatan emas untuk melambungkan nama PPI Belgia di kancah internesyenel. Akhirnya, pulang lah saya ke Belgia dan memulai kehidupan sebagai Koordinator PPI Amerika-Eropa. #lebaylagi

The Undercover Dewan Presidium

Sudah terbayang di benak saya bahwa saya harus menjaga wibawa ketika bercengkrama di WhatsApp Group Dewan Presidium. Mengeluarkan ide non-konvensional nan visioner tanpa bercanda sedikitpun juga sudah menjadi makanan sehari-hari dalam perbincangan kami di grup tersebut. “Waduh bakalan kaku dan boring banget ini grup nih kayaknya,” pikirku pada waktu bergabung dalam grup komunikasi tersebut. Ternyata oh ternyata…. Kenyataan berbanding terbalik dengan yang dipikirkan. Satu kesimpulan yang saya dapat sekarang: anggota Dewan Presidium PPI Dunia 2016/2017 rata-rata sengklek semua. Terutama yang namanya Marco Nainggolan, tak lain dan tak bukan, sekretaris saya sendiri.

Hanya bertahan sekitar dua bulan untuk saya memaksa diri agar terlihat berwibawa di grup itu. Sisanya? Gesrek. Mulai dari memanggil Cahyani, Sekretaris Kawasan Afrika Timur-Tengah dengan panggilan “IcaMiluv”; Hatta yang hobinya mancing-mancing di Facebook; video Skype-ing dengan Muhammad Ramadhan (biasa dipanggil Madhan) yang hobinya meluk boneka Pikachu; ketawa ngakak mendengar suara Rama Rizana (Koordinator P2EKA) yang kalau rapat lewat skype suaranya macam tikus kejepit; nelpon ketua PERMIAS, Nadi Guna Khairi, yang ganteng tapi dia cuma nanyabro dah boker belom bro?’; sampai pada membuat proposal bersama Marco sembari mendengarkan lagu rohani yang disambung dengan perbincangan 18 tahun ke atas. “Nggilani kowe!” kalau kata Rama.

 

Belum cukup sampai di WhatsApp Group. Kegilaan kami pun berlanjut di media sosial lainnya. Facebook terutama. Now let the pictures talk:

 

 

 

 

 

Sersan: Serius Tapi Santai

Yak. Serius tapi santai nampaknya menjadi motto kami dalam bekerja. Totalitas tanpa batas dilaksanakan bagai dua sisi mata uang. Ketika rapat, kami serius. Well, diselingin bercanda sedikit, sih. Tapi, saya sendiri juga heran dengan Dewan Presidium tahun ini. Bisa-bisanya orang-orang sableng ini tahan rapat sampai 4 jam lewat skype. Apalagi koordinatornya, Intan, bisa ikut rapat kayak minum obat. Sehari tiga kali. Tidak hanya itu, Dewan Presidium tahun ini juga mempunyai terobosan baru yang sangat berkualitas yaitu divisi P2EKA. Divisi yang memiliki fokus kajian bidang Politik, Pendidikan, Ekonomi, Kebudayaan, dan Keagamaan.

Untuk Kawasan Amerika-Eropa sendiri, bahkan tahun ini kami menjalankan program kerja yang pastinya berfaedah sekali bagi pelajar Indonesia di dua benua ini. Program tersebut antara lain adalah: Kamar Pelajar, Forum PhD, Simposium PPI Amerika-Eropa, dll. Lewat Kamar Pelajar, kami berusaha menyediakan akomodasi murah (lebih murah daripada harga hostel atau airbnb) bagi pelajar Indonesia. Coba lihat, mulia banget kan idenya? Kapan lagi brosis bisa ikut konferensi atau jalan-jalan ke luar negeri tanpa pusingin biaya penginapan? Udah harganya murah, syukur-syukur Kamar Pelajar bisa jadi Pelajar Sekamar nantinya. Lol.

Forum PhD. Ini bukan Pitsa Hats Delivery yang lagi nge-trend di Indonesia ya… Program ini bertujuan untuk membangun jaringan antara mahasiswa doktoral yang belajar di Amerika-Eropa. Terakhir, simposium Amerika-Eropa. Tahun ini akan diadakan di Washington D.C loh! Mana tau bisa sekalian jumpa Donald Trump, kan? :p

Enam Bulan Penuh Makna

Tak terasa kami sudah setengah perjalanan menuju akhir dari kepengurusan. Jujur, buat saya, enam bulan di Dewan Presidium PPI Dunia merupakan momen yang ajaib. Beberapa dari kami belum pernah bertatap muka, namun kedekatan kami layaknya tim yang sudah saling mengenal belasan tahun. Jarak ratusan bahkan ribuan kilometer pun tak jarang kami tempuh untuk menemui satu sama lain. Apalagi kalau diiming-imingi akan dikenalkan dengan lawan jenis yang ganteng/cantik. Lol

Sedih ketika mengingat kepengurusan kami akan berakhir pada Simposium Internasional 2017 di Inggris nanti. Ini sedih beneran. Sambil ngetik, saya bahkan memutar lagu Kemesraan (versi Broery Marantika, tentunya) di youtube. Yah… Untungnya masih ada enam bulan lagi. Satu semester penuh kecerian di WhatsApp Group, Facebook, dan Skype. Walau bayangan saya terhadap DePres yang kaku dan boring sudah hilang, namun tiada masa di mana saya tidak membuka grup komunikasi tersebut tanpa tersenyum…. (kecuali waktu hape kecemplung di WC. Gak ada hape selama seminggu, pas buka WhatsApp Group DePres, tau-tau sudah ada 1000-an chats. Senyum engga, pegel iya bacanya.)

Well, nampaknya keputusan si ‘becak’ di atas untuk mengangkat tangan di Kairo menjadi keputusan yang tepat. Senang sekali rasanya bisa berkontribusi untuk Indonesia dan dunia sambil tertawa dan bercanda. Untuk rekan DePres, semoga persahabatan kita ga sampai sini doang ya, guys. Tetap semangat membangun Indonesia lewat PPI Dunia selama enam bulan ke depan! Do the best and let God do the rest!

Oia, biar kayak buku cerita anak-anak tempo dulu…

Pesan Moral: “Jadi pemimpin jangan kebanyakan serius. Ntar ga asik!”

 

Salam Perhimpunan!

Kreeshna Siagian

Koordinator PPI Amerika-Eropa dan Ketua PPI Belgia

 

Footnote: Siapa saja sih Dewan Presidium PPI Dunia 2016/2017? https://ppi.id/dewan-presidium-20162017/

 

 

 

 

“Seberapa indah mimpi, jika tetap mimpi?”
(Seno Gumira Ajidarma, Kitab Omong Kosong)

Oleh : Jajang Nurjaman

Ketika pertama kalinya orang Indonesia pada tahun 1602 tiba di Zeeland dengan menumpang kapal Zeelandia dan Langhe Burcke, kurang lebih empat abad berikutnya tak menyangka saya bisa mengikuti jejak mereka, mengunjungi negeri Belanda. Ketika itu, utusan-utusan dari Aceh memenuhi undangan Pangeran Maurits untuk datang ke Belanda. Mereka tiba bulan Juli dan dijamu oleh Pangeran Maurits dengan begitu baiknya.
Perkenalkan, nama saya Jajang Nurjaman, nama yang cukup akrab di telinga orang Sunda. Sah-sah saja saya dipanggil akang atau sapaan sunda lainnya, yang pasti saya asli Betawi Depok. Kedua orang tua saya orang Betawi, kakek, nenek, dan semuanya betawi. Jika nama saya terdengar sunda, itu karena efek bapak saya yang ngefans Persib Bandung, dan kebetulan ketika saya lahir, pemain persib yang sekarang pelatih persib kata bapak saya mencetak gol, jadilah nama saya Jajang Nurjaman. Saya sekarang menjalani tahun kedua saya kuliah di Leiden University, program Master in History, specialization in Archival Studies.

Kilas Balik dan Sepenggal Kisah Masa Lalu
Rabu, 15 Agustus 2012, untuk kedua kaliya saya menginjakkan kaki di negeri kodok, negerinya van Oranje, Belanda. Pertama kalinya saya menginjakkan kaki saya di negeri ini sekitar tujuh tahun lalu. Saya mendapatkan beasiswa dari Nederlandse Taalunie untuk mengikuti Zomercursus (Summer Course) bahasa dan budaya Belanda di kota Hasselt, Belgia tahun 2007. Saat itu saya masih duduk di semester enam kuliah saya di program studi Belanda, Universitas Indonesia. Saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga selama di negeri kincir angin tersebut, dari mulai belajar bahasa dan budaya Belanda hingga bercengkerama dengan keluarga Indonesia di Belgia dan Belanda. Saat itu saya sempat mengalami sedikit musibah, kehilangan uang saku saya sekitar 100 euro dan pada saat itu saya sudah keluar dari asrama tempat saya tinggal selama kursus musim panas tersebut. Di saat facebook belum ada, beruntunglah ada socmed Friendster. Socmed ini saya gunakan untuk melacak keberadaan keluarga Indonesia atau mahasiswa Indonesia di Belgia ketika itu dan juga di Belanda (Maastricht). Akhirnya saya mendapatkan kenalan sebuah keluarga mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan doktoralnya di Belgia. Saya habiskan kurang lebih seminggu di kota Tongeren (tetanggaan dengan Maastricht) di kediaman keluarga tersebut. Selepas itu saya tinggal di Maastricht bersama rekan-rekan PPI Maastricht yang bersedia menampung saya selama disana. Sempat menginap di stasiun Den Haag, lalu saya menumpang di sebuah rumah keluarga Indonesia yang kebetulan mempunyai bisnis restoran di Den Haag. Di kota inilah saya terakhir tinggal dan kemudian pulang kembali ke Jakarta.
Anak kampung seperti saya, hanya berimajinasi lalu terlukiskan dalam mimpi kalau suatu saat saya bisa mengunjungi negerinya J.P. Coen yang saya hanya baca dari buku-buku sejarah dan buku-buku kuliah saya. Bali saja saya tidak pernah kunjungi, ini negeri yang jauhnya lebih dari 10ribu kilometer saya berkesempatan singgahi. Saya pernah mendapatkan tawaran beasiswa ke negri ini setelah saya lulus kuliah, hanya waktu itu tawaran saya tolak karena saya tidak mempunyai cukup uang untuk membeli tiket pesawat ke Belanda. Saya memutuskan untuk bekerja dahulu sebagai konsultan pendidikan di Jakarta. Di tempat ini saya kembali dihubungkan kembali dengan negeri Belanda . Saya harus melakukan tugas-tugas promosi, konsultasi untuk calon mahasiswa/i yang akan berangkat ke Belanda. Setahun lebih saya habiskan masa kerja saya di kantor ini, sebelumnya saya berpetualang menjadi wartawan, karyawan bank, tour guide dadakan, hingga guru les privat bahasa Belanda (profesi yang sampai sekarang masih saya tekuni) dan sambil mencari info beasiswa ke negeri Belanda. Tahun 2010, saya memulai karir yang baru. Ketika itu salah seorang senior saya mengirim pesan pendek yang memberi tahu bahwa Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sedang membuka lowongan. Iseng-iseng melamar dan atas permohonan ibu saya yang mendorong saya jadi pegawai negeri, akhirnya saya diterima di arsip nasional. Setelah hampir kurang lebih dua tahun saya mengabdi di ANRI, teman saya mengirimi pesan bergambar pengumuman seleksi untuk beasiswa ENCOMPASS dari Leiden University. Bermodal pesan ini, saya beranikan diri untuk mendaftar beasiswa ini dan ikut seleksi internal dari ANRI untuk kemudian mengikuti tahapan selanjutnya seleksi proposal dan wawancara bersama pelamar lain dari luar ANRI.

BEASISWA ENCOMPASS (COSMOPOLIS)
Encompass adalah kepanjangan dari Encountering a Common Past in Asia. Beasiswa ini menawarkan para pelamarnya untuk mendapatkan kesempatan belajar selama dua tahun, setahun untuk foundation year dan setahun lagi untuk program master. Encompass merupakan kelanjutan dari program TANAP (Towards a New Age of Partnership) yang menyediakan beasiswa untuk tingkat master dan doktor. TANAP berlangsung dari tahun 1999 sampai dengan 2006, lalu dilanjutkan dengan program beasiswa ENCOMPASS. Baik TANAP maupun ENCOMPASS, semuanya masih dalam satu wadah department of Colonial and Global History at the Institute for History of Leiden University. Program beasiswa ENCOMPASS berlangsung dari tahun 2006 sampai dengan 2012. Saat ini program ENCOMPASS diberi nama ENCOMPASS II atau juga disebut program COSMOPOLIS. Saya berada di jalur program COSMOPOLIS ini yang direncanakan berlangsung dari tahun 2012-2017.
Berbeda dengan dua pendahulunya, beasiswa COSMOPOLIS ditawarkan untuk mereka yang ingin mengikuti foundation year di jurusan sejarah Universitas Leiden. Program satu tahun ini menawarkan kesempatan untuk belajar bahasa Belanda dan ilmu sejarah. Mereka yang mengikuti program ini, diwajibkan juga menulis bachelor thesis alias skripsi. Jadi, kami yang lulus dari foundation year ini mendapatkan gelar BA in history. Di angkatan saya, beberapa orang yang akan melanjutkan ke jenjang PhD, juga mengikuti masa foundation year ini. Mereka juga menulis BA thesis seperti saya dan teman seangkatan lain yang akan melanjutkan ke tingkat master.

Perbedaan yang mencolok dari beasiswa Cosmopolis ini adalah, tidak semua orang yang ikut foundation year otomatis bisa melanjutkan ke jenjang master. Ada dua jatah beasiswa yang ditawarkan dari universitas untuk mereka yang nilainya paling tinggi di masa foundation year. Bagi mereka yang tidak mendapatkan beasiswa ini, mereka harus mencari skema pendanaan lain untuk melanjutkan ke jenjang master. Beruntung bagi saya, kantor saya (ANRI) memiliki kerjasama dengan Leiden University, jadi pembiayaan kuliah saya dibebankan 50% dari Leiden University dan 50% lagi dari ANRI. Saya akhirnya bisa lanjut ke tahun kedua, tentu saja nilai akademik juga jadi pertimbangan. Semua angkatan saya melanjutkan ke tingkat master dan PhD dengan skema beasiswa yang berbeda-beda.

Untuk dapat diterima di program COSMOPOLIS ini, kami harus daftar terlebih dahulu ke sekretariat yang berada di Jogjakarta (untuk peminat dari Indonesia mendaftar melalui sekretariat yang berada di UGM). Seleksi administratif ini hampir sama dengan beasiswa lainnya, mengisi formulir pendaftaran, lalu juga disertai dengan sertifikat kompetensi berbahasa Inggris (IBT TOEFL atau IELTS). Perbedaannya, kami diharuskan menulis juga proposal master thesis yang bertema sebagai berikut: Eurasian Middle ground, Eurasian Network, Eurasian Port-cities, dan Materials: Histories, Archives and Heritage. Tema-tema tersebut masih dalam lingkup sejarah dan ilmu kearsipan. Namun bukan berarti beasiswa ini hanya untuk jurusan sejarah saja, tapi terbuka untuk semua jurusan di bidang sosial. Setelah kami mendapat email pemberitahuan lulus seleksi administrasi, kami lalu diundang ke Jogjakarta untuk melakukan seleksi wawancara. Seleksi wawancara ini dilakukan oleh komite pemberi beasiswa yang berasal dari Leiden University dan juga dari Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan berdasarkan proposal master thesis yang kami kirimkan pada saat mendaftar. Selebihnya pertanyaan-pertanyaan umum yang berkisar motivasi dan lainnya. Beberapa hari setelah wawancara, saya diberitahu hasilnya dan mendapatkan surat penerimaan dari program ENCOMPASS (COSMOPOLIS). Sayangnya, jalan saya belum mulus karena score TOEFL saya masih belum mencukupi. Beberapa hari dikarantina di Bandung (dikursuskan IBT TOEFL dari kantor saya), akhirnya score TOEFL saya mencukupi untuk diterima di program ini. Saya pun bisa berangkat dengan tenang ke Belanda.

Kembali Jadi Mahasiswa
Saya sempat kaget di awal-awal saya menjadi mahasiswa lagi. Dari rutinitas kantor kembali ke lingkungan akademik membuat saya agak kaget menjalani hidup sebagai mahasiswa. Di awal-awal masa kuliah, saya masih mengalami adaptasi dengan mulai membaca lagi buku-buku akademik, mulai menulis lagi secara akademik dan juga menjadi lebih mandiri lagi. Menjadi mahasiswa, apalagi di negeri orang, berarti belajar lagi melihat diri sendiri.
Tahun pertama, saya dan teman-teman satu program, ditempatkan di sebuah student house di Leiden. Kami masing2 mendapatkan satu studio dengan diisi dua orang di tiap kamarnya. Student house ini menjadi saksi bisu bagaimana kami berjuang bersama di tahun pertama. Diskusi-diskusi akademik sering kami lakukan bergantian di studio-studio ini. Acara memasak bersama, lebaran bersama, natal bersama, tahun baru bersama juga kami adakan sekedar melepas keasikan dunia akademik sebentar. Saya dan beberapa mahasiswa Indonesia lainnya, turut aktif di keluarga besar PPI Leiden. Dengan bersosialisasi di PPI, kami bisa melebur dengan mahasiswa Indonesia dan masyarakat lainnya yang tinggal di kota Leiden ini.
Leiden bisa dibilang kota yang sangat cocok untuk mahasiswa. Universitas tertua di Belanda ini menyediakan hampir semua yang dibutuhkan untuk mahasiswanya. Fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan sebagai mahasiswa seperti koleksi perpustakaan yang hampir lengkap, banyak tempat makan yang terjangkau kantong mahasiswa, pasar dan supermarket yang menjual kebutuhan hidup sehari-hari serta atmosfir internasional yang begitu terasa. Leiden juga kota yang cantik, dikelilingi kanal-kanal yang nyaman untuk sekedar duduk di tepiannya sambil menunggu datangnya senja. Teman-teman yang nantinya akan datang ke kota ini, jangan melewatkan kesempatan untuk sekedar melihat kanalnya yang indah dan duduk di pinggirannya sambil melihat bebek yang berenang. Selama hampir dua tahun saya disini, kebiasaan inilah yang hampir selalu saya lakukan sekadar untuk merenung dan memberi makan bebek-bebek yang berenang. Leiden juga kota yang menyimpan banyak situs sejarah tentang Indonesia. Teman-teman akan dikejutkan dengan banyaknya para pendiri bangsa yang pernah menjadi alumni universitas ini.

Pemungkas
Chairil Anwar dalam sebuah puisinya pernah berujar, “…nasib adalah kesunyian masing-masing”. Kita yang membawa nasib kita masing-masing, kita juga yang bisa mengubahnya. Bapak dan Ibu saya tidak tamat sekolah dasar, tapi mereka ingin anaknya bisa sampai sekolah tinggi dan bisa hidup lebih dari mereka. Kedua orangtua sayalah yang membentuk saya seperti sekarang, bapak saya yang seorang pengojek motor dan ibu saya yang membantu mengurangi buta huruf Al Qur’an di kampung saya (alias guru ngaji), berhasil menanamkan sifat pantang menyerah dalam diri saya. Pernah Ibu saya menasihati agar saya tidak merasa minder dalam bergaul, dan ini yang saya tanamkan kuat dalam diri saya. Membuka diri seluas-luasnya juga menebarkan benih kebaikan untuk semua. Ada sebuah proverb latin yang mengatakan, Dum Spiro Spero, selama saya bernafas, saya berharap. Jangan pernah berhenti bermipi, dan jangan hanya bermimpi, kejar dan genggamlah mimpi itu! Bukankah Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya?
Leiden, 15 Feb 2014

Hari AIDS diperingati setiap tanggal 1 Desember untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV. Pada hari Senin (5/12/16), PPI Dunia menghadirkan dua mahasiswa Indonesia masing-masing dalam diskusi dua siaran RRI Voice of Indonesia mengenai Hari Pahlawan. Dua mahasiswa tersebut adalah Yesika Aldelwin Natalia (Master of Epidemiology di University of Antwerp Belgia) dalam program Youth Forum.

“Virus HIV menular melalui darah, cairan genital, dan air susu ibu. Hanya sedikit atau bahkan tidak terdapat virus pada air liur. Terlepas daripada itu, virus HIV hanya dapat masuk ke dalam tubuh bila di tubuh si penerima terdapat luka terbuka, suntikan langsung, atau dinding genital yang tipis,”jelas Yesika dalam Youth Forum.

Yesika menyatakan bahwa perlu metode skrining yang lebih baik lagi di Indonesia. Di Eropa, bahkan tengah dikembangkan skrining virus HIV secara dini dengan hanya menggunakan air liur. Mudah-mudahan di kemudian hari, Indonesia dapat menggunakan dan bahkan mengembangkan metode skrining yang lebih baik lagi untuk mendeteksi virus HIV secara dini.

(CA/Ed

Voice of Indonesia: Hari AIDS sedunia yang selalu diperingati pada tanggal 1 Desember setiap tahunnya ini bertujuan untuk menumbuhkan kesdaran terhadap wabah AIDS diseluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV. Simak perbincangan seru perwakilan PPI Dunia di RRI Radio PPI Dunia tentang "Hari AIDS Sedunia" . Perbincangan menarik ini akan dilaksanakan pada:

Hari/ Tanggal : Senin, 5 Desember 2016

Narasumber 1 : Yessika Adelwin Natalia

University : Master of Epidemiology di University of Antwerp, Belgia

Tema : Youth Forum (English Based)

Pukul : 10.30 WIB (3.30 UTC)

 

Narasumber 2 : M Amir Syarifuddin

University : Bachelor of Economics (Hons), International Islamic University Malaysia, Malaysia

Tema : KAMU (Kami Yang Muda) (Bahasa Indonesia Based)

Pukul : 11.30 WIB (4.30 UTC)

Hari AIDS Se-Dunia

Hari AIDS Se-Dunia

(Red/Ed: Amir)

Liputan Italia, Cosenza, 11 Mei 2016 – Indonesia patut berbangga karna putra putri terbaiknya mampu bersaing dalam kompetisi musik Filadelfia tahun ini. Indonesia diwakili oleh 6 mahasiswa yang keseluruhannya berpartisipasi dalam kategori gitar klasik.

Mereka adalah Roby Handoyo, Adi Suprayogi, Vaizal Andrians, dan Gita Puspita Asri, tergabung dalam kelompok gitar kuartet “Nocturnal”, sedangkan kelompok berikutnya, “Duo Poeticos”, terdiri dari dua mahasiswa Indonesia lain, yakni Birul Walidaini dan Bagus Mardian, yang saat ini sedang menyelesaikan studinya di Università della Calabria (UNICAL) Italia.

Dari keenam partisipan yang ikut serta dalam kompetisi yang diikuti oleh 27 negara ini, Indonesia berhasil menguasai perlombaan di kelas Chamber Music kategori D dengan membawa dua prestasi membanggakan. Juara pertama kategori ini diraih tim guitar kuartet “Nocturnal" asal Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), sedangkan peringkat ketiga, di kategori yang sama, juga berhasil diperoleh duet “Due Poeticos”. Tambahan pencapaian tim Indonesia juga disempurnakan oleh Roby Handoyo yang turun di kelas Classical Guitar kategori Solo, dengan menyabet peringkat kedua di kategori tersebut.

CALABRIA 4

Septian Hadi, selaku perwakilan delegasi, mengaku sangat puas dengan pencapaian tim Indonesia secara keseluruhan. “Dengan kondisi bahwa seluruh anggota tim hanya terdiri dari mahasiswa, dan fasilitas serta instrumen peserta dari negara lain yang jauh lebih mumpuni, prestasi delegasi tahun ini kami dapat katakan melebihi harapan. Apresiasi atas keikutsertaan dan prestasi tim Indonesia datang dari pengunjung serta para peserta lainnya. Sebagai satu – satunya tim dari Asia Tenggara, Indonesia telah menunjukkan kepiawaian dan potensinya di kancah musik klasik mancanegara,” terang koordinator hubungan eksternal & internasional Perhimpunan Pelajar Indonesia di Calabria (PPI Calabria), tersebut.

Concorso Musicale Europeo tahun ini merupakan kompetisi kali kedelapan yang diselenggarakan oleh Associazione Musicale Melody bekerja sama pemerintah Città di Filadelfia. Selain Indonesia dan Italia sebagai tuan rumah, delegasi dari Meksiko, Finlandia, Polandia, Rusia, Amerika Serikat, Serbia, Bosnia, Lituania, Latvia, Spanyol. Belanda, Prancis, Jerman, Swiss, Belgia, Jepang, Korea Selatan, Republik Rakyat Tiongkok, Ukraina, Belarusia, Yunani, Norwegia, Estonia, Kroasia, dan Slovakia juga turut ikut berpartisipasi dalam kejuaraan ini.

CALABRIA 6

Keikutsertaan Indonesia di kompetisi musik dunia selanjutnya diharapkan akan semakin serius dengan persiapan yang lebih matang. Berikut penjelasan salah seorang peserta dalam format tanya-jawab yang telah kami rangkum beserta hasil lengkap dari keikutsertaan tim Indonesia dalam Concorso Musicale Europeo 2016 :

Bagaimana kamu bisa mengikuti perlombaan ini?

Pada dasarnya kami sudah mengikuti kompetisi ini pada tahun 2013 bersama Quartet Guitar “Sforzando,” dan meraih juara yang sama yaitu juara 3 kategori Chamber Musica “Stanislao Giacomantonio” di Cosenza, Italia

Sebagai pelajar Indonesia di Italia bisa menang pertandingan internasional seperti ini bagaimana perasaan kamu?

Kami senang sekali, di sela-sela padatnya jadwal perkuliahan, kami bisa menyempatkan waktu untuk berlatih bersama. Pada hari pelaksanaan kompetisi dengan persiapan yang ada, kami dapat menyelesaikan dan mendapatkan juara 3 kategori D Chamber Music, sesuatu hal yang menurut kami "di luar ekspektasi" mengingat peserta dari berbagai negara memiliki kapasitas yang luar biasa. Kami menyambut Ini adalah "hadiah" dari jerih payah kami, karena tidak ada kata-kata yang bisa mewakili seberapa besar rasa puas dan kegembiraan kita saat itu.

Apa rencana kamu selanjutnya setelah kemenangan ini?

Kami akan tetap berlatih untuk lebih mematangkan materi dan repertoar kami, untuk lebih baik kedepannya.

Di Indonesia asal dari mana dan sudah berapa lama belajar musik di Italia? Beasiswa atau biaya sendiri? Di kampus mana?

Saat ini kami mengambil dua gelar master pada 2 institusi, yaitu :

Birul Walidaini, asal Kediri Jawa Timur. Mahasiswa tahun kedua magistrale di Universita della Calabria jurusan "History of Art" (beasiswa), selain itu juga tercatat sebagai mahasiswa tahun kedua magistrale di conservatorio di musica "Stanislao Giacomantonio" di Cosenza, Italia Jurusan Classical guitar performance (non beasiswa).

Mardian Bagus Prakosa, asal Temanggung Jawa Tengah. Mahasiswa tahun pertama magistrale di Universita della Calabria jurusan "History of Art" (Beasiswa), selain itu juga tercatat sebagai mahasiswa tahun pertama magistrale di conservatorio di musica "Stanislao Giacomantonio" di Cosenza, Italia Jurusan Classical guitar performance (non beasiswa).

Pertanyaan Panitia

1. Dari mana ide pertandingan ini muncul? apakah sudah sering di Italia membuat event pertandingan musik internasional?

Kompetisi ini adalah kali ketujuh yang rutin diadakan setiap tahun dengan dukungan dari komisi eropa. Sebagai parameter perkembangan musik klasik di dunia.

2. Ada berapa peserta yang ikut dan background peserta apakah ada yg non mahasiswa?

Tahun ini tercatat 26 negara. Tidak hanya mahasiswa musik, Melainkan juga dosen dan profesor musik.

3. Bagaimana pandangan anda tentang pelajar Indonesia di Italia khususnya palajar musik?

Luar biasa, kami kagum orang asia bisa membawakan musik eropa dengan baik dan maksimal.

CALABRIA

Hasil lengkap dari keikutsertaan tim Indonesia dalam Concorso Musicale Europeo 2016:

1. Nocturnal Guitar Quartet (UNY) - Roby Handoyo, Adi Suprayogi, Vaizal Andrians, dan Gita Puspita Asri: Juara 1 kelas Chamber Music kategori D.

2. Due Poeticos (UNICAL) – Birul Walidaini dan Bagus Mardian: Peringkat 3 kelas Chamber Music kategori D.

3. Roby Handoyo (UNY) – Peringkat 2 kelas Classical Guitar kategori Solo. (Red. IMA, Editor. Dafi)

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920