Categories
Berita Inspirasi Dunia PPI Dunia Prestasi Anak Bangsa Suara Anak Bangsa Wawasan Dunia

Kuliah di Luar Negeri Memang Tidak Mudah, Tetapi Kata Menyerah Bukan Jalan Keluarnya

Menuntut ilmu di luar negeri merupakan keinginan banyak orang, berbagai macam alasan dan tujuan menjadi motivasi para pelajar Indonesia untuk menuntut ilmu di negeri orang. Hal tersebut bukanlah tidak mungkin, buktinya saja terdapat sekitar 86.420 mahasiswa Indonesia yang tersebar di 53 negara. Dengan jumlah yang sangat banyak ini, lima peringkat negara dengan jumlah terbanyak pelajar Indonesia adalah Australia, Tiongkok, Kanada, Malaysia, dan Britania Raya. Perjalanan yang ditempuh oleh para mahasiswa yang merantau di negara orang tentu tidak mudah, berbagai macam jenis kegagalan juga dihadapi, dan semua itu mereka ceritakan dalam satu buku.

Buku bertajuk 20 Kisah Perantau Ilmu yang ditulis oleh tim Perhimpunan Pelajar Indonesia di seluruh dunia menyajikan 20 kisah inspiratif pilihan dari para mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di berbagai negara. Beragam kisah dan perjuangan yang dikemas dengan menarik dapat menjadi referensi serta panduan bagi para mahasiswa dan pelajar yang bercita-cita untuk melanjutkan studi di luar negeri.

Setelah perilisan buku 20 Kisah Perantau Ilmu pada 2 Oktober 2017 yang lalu, peluncuran buku secara resmi baru dilaksanakan pada 20 Oktober 2017 di Gramedia Depok. Acara ini mendatangkan 4 narasumber yang merupakan penulis buku ini dan perwakilan BPH PPI Dunia, yaitu Ali Abdillah, Zakiyah Eke, Adi Hersuni, dan Ulfa Ryn. Hatta Bagus Himawan menjadi moderator acara tersebut.

Acara dibuka dengan kata sambutan dari Elexmedia selaku penerbit buku 20 Kisah Perantau Ilmu, lalu Adi Hersuni sebagai perwakilan BPH PPI Dunia, kemudian dilanjutkan oleh Ali Abdillah selaku perwakilan dari 20 penulis. Aninta, Adi dan Ali sepakat bahwa buku ini memberikan perspektif baru bagi pemburu kuliah ke luar negeri yang selalu menghadapi hambatan saat memperjuangkan mimpinya untuk kuliah di luar negeri. Selama ini, buku yang berada di pasaran cenderung lebih menonjolkan kisah sukses kuliah di luar negeri. Sebaliknya buku ini lebih menyoroti bagaimana kegagalan-kegagalan yang dihadapi oleh para penulis saat berburu kuliah ke luar negeri dan proses menjalaninya. Mereka juga menyampaikan bahwa kegagalan bukanlah hal yang luar biasa, untuk bisa kuliah ke luar negeri membutuhkan kerja keras, disiplin dan pantang menyerah dalam menghadapi masalah yang ada. Bahkan pada satu titik, kegagalan adalah kawan baik mereka. Mereka juga menambahkan, saat setelah lulus nanti jangan pernah lupakan negara Indonesia yang telah membesarkan kita.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan talkshow dan tanya jawab. Disini moderator, Hatta, memberikan beberapa pertanyaan kepada narasumber seputar proses mendapatkan beasiswa dan sekolah di luar negeri, dan proses menjalaninya. Beragam cerita disampaikan oleh para narasumber. Sebagai contoh Zakiyah Eke atau biasa dipanggil Eke, untuk dapat bisa meraih mimpinya Eke harus melalui jalan terjal dan berliku. Penolakan-penolakan dan kegagalan sudah menjadi makanan ia selama 3 tahun memperjuangkan mimpinya. Saat itu, Eke juga sedang bekerja saat proses mendaftar beasiswa sekolah ke luar negeri, sehingga ia harus putar otak dan membagi waktu untuk belajar dan mempersiapkan persyaratan kuliah di luar negeri seperti IELTS dan surat-surat lainnya. Khusus untuk
IELTS, Eke menyiapkan waktu tersendiri. Eke sengaja datang ke kantor 2 jam sebelum jam masuk kantor agar bisa belajar IELTS dan juga sepulang kerja Eke meluangkan waktu untuk belajar minimal 2 jam. Tetapi, ternyata kedisiplinan belajar tidaklah cukup, butuh dedikasi dan di sinilah kekuatan mimpi diuji. Tidak serta-merta Eke mendapatkan nilai IELTS yang cukup memenuhi syarat untuk mendaftarkan diri pada beasiswa atau sekolah yang diinginkan. Eke harus mengalami kegagalan 5 kali tes IELTS hingga tes ke 6 dapat membawanya kuliah ke luar negeri dengan beasiswa penuh dari pemerintah Belanda.

Lain lagi cerita dari Adi Hersuni, Adi harus menerima bahwa IPK S1 dia dibawah 3 (tiga). Tetapi hal tersebut belumlah cukup untuk memaksa Adi mengatakan kata menyerah dan mengubur asa kuliah di luar negeri. Adi berjuang dengan berbagai cara hingga harus menyiapkan waktu khusus setiap hari menyiapkan persyaratan ke luar negeri. Adi bercerita, setiap rehat kerja, dia selalu membuka buku persiapan IELTS bahkan tidak jarang Adi pergi ke mushola untuk bisa fokus belajar. Bahkan di tengah proses itu, Adi harus menghadapi kenyataan anak yang masih di dalam kandungan istrinya meninggal dunia. Tetapi lagi-lagi, hal itu tidaklah cukup kuat memendam asa Adi untuk dapat kuliah di luar negeri. Di akhir cerita, Birmingham University menjadi saksi perjuangan Adi yang tanpa kenal kata menyerah. Dan tahun ini, Adi telah pulang dari perantauan di tanah Britania Raya dengan membawa ijazah master-nya.

Kisah selanjutnya adalah tentang Ulfa, yang dihadapi Ulfa berbeda dengan yang lainnya. Izin orang tua yang menjadi kendala utamanya. Tetapi Ulfa bukanlah orang yang gampang mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Seribu satu cara telah difikirkan matang-matang olehnya. Alhasil summer course, conference dan exchange program telah membawanya menjejakkan kaki di universitas-universitas di luar eropa tanpa harus melanggar janji terhadap orang tua-nya.

Kisah terakhir dari Ali Abdillah, untuk menggapai mimpinya Ali harus menghadapi kenyaatan bahwa dialah sekarang yang menjadi kepala keluarga setelah ayahnya meninggalkan ia dan keluarganya 2 tahun sebelumnya. Praktis urusan pemasukan rumah tangga berada di pundak Ali. Disini mimpi Ali diuji dalam merealisasikan mimpi ayahnya untuk kuliah di luar negeri. Masalah boleh datang tapi ikhtiar tidak akan pernah bisa mengkhianati orang yang telah berusaha mati-matian. Sekarang, dia telah membuktikan diri, Leiden University telah ditaklukkannnya dan tentu mimpi-mimpi selanjutnya siap untuk ditaklukkannya.

Di akhir sesi, para narasumber berpesan bahwa saat kita sudah di luar negeri nanti dan sudah meraih mimpi kita nanti, jangan lupakan negeri ini. Banyak hal yang butuh diperbaiki. Memang negeri orang lain akan menawarkan beribu janji untuk perbaikan kehidupan. Tetapi, negeri sendiri selalu layak untuk diperjuangkan.

Narasumber :

– Ali Abdillah (Master – European Union law at Leiden Law School (Belanda), Sekjen PPI Belanda 2015, Ketua BEM UI 2013, Ketua BEM FHUI 2012).

– Zakiyah Eke (Master – Nutrition Epidemiology at Wageningen University & Research (Belanda), Ketua Divisi Humas PPI Belanda 2015).

– Adi Hersuni (Master – Materials Science & Engineering at University of Birmingham (Inggris), Ketua Kantor Komunikasi PPI Dunia 2017, Ketua BEM FTUI 2008, Ketua Ikatan Mahasiswa Metalurgi & Material FTUI 2007).

– Ulfa Ryn (Mobility- Software Engineering, UTeM (Malaysia)).

Moderator
Hatta Bagus Himawan (Master – Innovation management at TU Eindhoven (Belanda))

 

 

Categories
Berita Kajian Nuklir Komisi Energi PPI Dunia

Kunjungan PPI Dunia Ke Reaktor Nuklir Batan di Serpong Banten

Tim Kajian Nuklir PPI Dunia

Kami dari PPI Dunia membentuk tim khusus yang bertugas untuk mengkaji teknologi nuklir. Tim tersebut beranggotakan 32 orang yang terdiri dari pelajar dan alumni PPI Dunia dari berbagai latar belakang negara studi. Tim ini bertugas untuk menggali pemahaman yang utuh terkait bahaya dan potensi teknologi nuklir berdasarkan perkembangan iptek global terkini. Dalam rangka memperoleh pemahaman yang utuh seputar teknologi nuklir, tim kajian nuklir PPI Dunia menggali sedalam mungkin perkembangan dan pemanfaatan luas teknologi nuklir di berbagai negara lain tempat kami masing-masing menempuh studi. Hasil informasi yang kami peroleh kemudian kami kaji bersama dengan dibandingkan pada perkembangan dan pemanfaatan teknologi nuklir nasional.

Menurut kajian yang telah kami lakukan, berbagai kendala yang berkembang dalam perkembangan nuklir nasional banyak disebabkan karena kekurangakuratan informasi seputar nuklir yang beredar di masyarakat luas dibandingkan dengan perkembangan iptek pernukliran global terkini. Ketidaktahuan secara utuh terkait nuklir diduga menjadikan teknologi ini terhambat penerimaannya oleh masyarakat luas di tanah air.

Di sisi lain, harapan atas potensi pemanfaatan nuklir oleh para pelajar Indonesia di luar negeri cukuplah besar. Berdasarkan survey kami atas 566 pelajar Indonesia yang tersebar di 48 negara, diketahui bahwa hanya 4,5% dari responden kami yang menyatakan sama sekali tidak berminat terhadap potensi aplikasi nuklir di bidang apapun. Sementara 28.5% responden menyatakan tertarik pada teknologi nuklir di bidang energi dan 67% responden menyatakan tertarik pada pemanfaatan teknologi nuklir di bidang-bidang non-energi. Seperti pada bidang medis (radio farmaka, radio terapi), bidang lingkungan, bidang industri, bidang pertanian, infrastruktur dan bidang industry manufaktur. Dari survey tersebut juga diketahui bahwa mayoritas responden (66%) beranggapan bahwa energi nuklir paling efisien dibanding energi alternatif lain yang tersedia. Lebih jauh, 57% dari responden kami menyatakan setuju bahwa Indonesia perlu mempertimbangkan penggunaan teknologi nuklir dalam pemenuhan kebutuhan energi nasional (pembangkit listrik tenaga nuklir).

Dialog dan Kunjungan Tim Kajian Nuklir PPI Dunia Ke Instalasi Nuklir Nasional

Demi untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh atas perkembangan teknologi nuklir nasional, pada hari rabu, 23 Agustus 2017 dari jam 09.00 hingga pukul 12.30 perwakilan tim kajian nuklir PPI Dunia beserta rombongan mengadakan kegiatan kunjungan kerja ke reaktor nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) yang berlokasi di Serpong, Banten. Peserta dikhususkan bagi para pelajar yang tengah menempuh studi di luar negeri maupun baru saja lulus. Selain itu dibuka juga beberapa kuota undangan terbatas untuk pelajar di dalam negeri melalui jalur rekomendasi dan pihak pers mitra PPI Dunia untuk keperluan peliputan kegiatan ini. Dalam kegiatan ini hadir rekan-rekan kami para mahasiswa maupun alumni dari Belanda, Rusia, China, Iran, Italia, Romania, LIPI, pihak pers, komunitas muda nuklir nasional dan rekan-rekan dari Universitas Pertahanan. Total jumlah peserta sebanyak 25 orang dipimpin oleh Dwi Rahayu dari PEMIRA Rusia yang pada kesempatan ini sekaligus berperan sebagai ketua tim kajian nuklir PPI Dunia.

Acara ini terdiri dari dialog interaktif dengan ahli nuklir BATAN, penjabaran mengenai hasil produk penelitaian nuklir dari BATAN yang sudah ada, kunjungan langsung ke reaktor  (laboratorium) nuklir serpong serta diskusi tentang pemanfaatan teknologi nuklir yang sudah dilakukan di negara lain dan yang tengah dilakukan di Indonesia.

Kunjungan kami disambut oleh Adipurwa sebagai Kepala Subbid Edukasi Publik BATAN serta tim petugas layanan informasi BATAN. Pada pertemuan tersebut disajikan sejarah perkembangan nuklir nasional. Adipurwa menjelaskan bahwa titik awal perkembangan ketenaganukliran nasional telah ada semenjak era presiden pertama Indonesia, presiden Soekarno di tahun 1954. Pada tahun tersebut presiden Soekarno membentuk Panitia Negara yang bertugas melakukan penyelidikan adanya kemungkinan sisa zat radioaktif di wilayah NKRI akibat uji coba persenjataan. Panitia Negara inilah yang kemudian menjadi cikal bakal BATAN. Perkembangan teknologi nuklir nasional terus mengalami pasang surut seiring dinamika politik yang ada. Pada kesempatan tersebut turut dijelaskan juga standar keamanan berlapis yang diterapkan di seluruh fasilitas nuklir nasional. Demi menjamin tingkat keamanannya, sistem keamanan ini distandardisasi menurut standar internasional yang rutin diinspeksi berkala oleh Badan Atom Internasional (IAEA).

Melalui kunjungan ini kami mengetahui bahwa teknologi nuklir memiliki potensi besar dalam pemenuhan kebutuhan energi nasional maupun secara strategis mendukung program-program pembangunan nasional sektor non-energi. Sebagai informasi Reaktor G.A. Siwabessy di serpong memiliki kapasitas maksimal sebesar 30 megawatt yang difungsikan sebagai reaktor riset untuk berbagai keperluan penelitian. Sampai dengan saat ini, BATAN telah mampu menghasilkan beberapa produk terkait teknologi nuklir bernilai ekonomi tinggi yang aman dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Turut dipaparkan juga bagaimana teknologi tersebut sudah dimanfaatkan secara luas oleh negara-negara lain seperti di Vietnam, Jepang, Pakistan, India dan Amerika dalam mendukung sektor pertanian, industri pangan dan industri kesehatan mereka.

Pemanfaatan Teknologi Nuklir Nasional Kini dan Potensi Masa Depannya

Saat ini BATAN mengelola tiga buah reaktor nuklir riset di Indonesia. Yaitu instalasi reaktor nuklir Kartini di Jogjakarta, Instalasi reaktor nuklir Triga di Bandung dan Instalasi reaktor nuklir G.A. Siwabessy di Serpong. Sebagai catatan, reaktor G.A. Siwabessy ini sendiri merupakan salah satu reaktor  nuklir riset terbesar yang ada di Asia.

Turut diuraikan juga oleh pihak BATAN potensi pemanfaatan nuklir di masa depan dari fasilitas-fasilitas nuklir yang telah dimiliki BATAN saat ini. Untuk dapat menyebarluaskan manfaat teknologi nuklir nasional yang sudah berkembang ini, maka didirikanlah PT. INUKI. PT INUKI adalah BUMN mitra usaha BATAN yang memproduksi teknologi nuklir secara komersial untuk dapat dimanfaatkan masyarakat luas.

Beberapa teknologi nuklir yang sudah terbukti dapat dimanfaatkan masyarakat Indonesia dalam bidang berikut:

  1. Riset dan studi tapak sumber energi terbarukan;
  2. Pemuliaan benih unggul tanaman pertanian;
  3. Pembuatan isotop untuk produk obat-obatan;
  4. Irradiasi gamma untuk pengawetan bahan makanan;
  5. Irradiasi untuk mendukung pembangunan infrastruktur, dll.

Menganalisa potensi besar yang dimiliki teknologi nuklir nasional, pemanfaatan luas teknologi ini di tanah air kami nilai belum cukup maksimal. Kepemimpinan nasional yang kuat dan penyebaran informasi yang utuh seputar teknologi ini ke masyarakat luas dapat menjadi solusi dari situasi ini. Program edukasi nuklir yang transparan dan mudah dipahami oleh generasi muda bangsa dapat menjadi solusi agar pemanfaatan potensi teknologi nuklir yang sudah ada tidak ditakuti secara berlebihan ataupun disalahpahami oleh masyarakat luas.

Dengan perkembangan teknologi global terbaru dan kemampuan para ilmuwan BATAN yang ada sekarang, keamanan dan potensi instalasi nuklir nasional yang ada sudah semakin baik. Perkembangan teknologi global kini juga turut menjadikan teknologi nuklir memiliki manfaat yang semakin beragam dan strategis untuk kemajuan suatu bangsa. Atas pertimbangan itu kami Tim Kajian Nuklir PPI Dunia menilai Indonesia sudah bisa mulai melirik serta mengambil manfaat nyata dari teknologi nuklir yang ada dalam konteks sektor energi maupun bidang non-energi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

Ke depan, kami dari pihak tim kajian nuklir PPI Dunia akan terus mendalami perkembangan potensi teknologi nuklir nasional dan global terkini serta pemanfaatannya untuk kesejahteraan luas masyarakat bangsa Indonesia. Kami tim kajian nuklir PPI Dunia mendukung agar potensi nuklir nasional di berbagai bidang dapat terus digali dan secara terukur dapat disebarluaskan pemanfaatannya sebagai bagian dari pembangunan kualitas hidup masyarakat Indonesia.

Jakarta, 30 Agustus 2017

Tim Kajian Nuklir PPI Dunia

Press release lengkap bisa diunduh dalam link berikut

Categories
Berita

Pernyataan Tanggapan Dewan Presidium PPI Dunia 2017/2018

Salam Perhimpunan,

Merujuk Pernyataan Sikap PPI Belanda No. 059/P/e/PPIBelanda/SekretarisVIII/2017 tanggal 2 Agustus 2017, bersama ini Dewan Presidium PPI Dunia 2017/2018 menyatakan hal sebagai berikut:

  1. Kami menghargai dan menghormati Pernyataan Sikap yang dikeluarkan PPI Belanda atas dasar keprihatinan yang mendalam terkait beberapa hal yang terjadi dalam pelaksanaan Simposium Internasional (SI) PPI Dunia 2017. Kami memahami sikap PPI Belanda telah melalui pertimbangan yang matang secara organisasi demi perbaikan tata kelola PPI Dunia ke depan.
  2. Kami berkomitmen untuk melakukan berbagai pembenahan baik dalam kelembagaan PPI Dunia maupun yang menjadi ruh gerakan intelektual mahasiswa sehingga ke depan tidak terjadi lagi berbagai isu yang menjadi perhatian bersama sebagaimana yang terjadi pada kepengurusan 2016/2017.
  3. Kami mengajak segenap PPI Negara yang tergabung dalam aliansi PPI Dunia untuk terus merapatkan barisan demi terwujudnya kolaborasi untuk menghadirkan kontribusi nyata untuk Indonesia yang kita cintai bersama.

Demikian surat Pernyataan Tanggapan ini kami buat. Kami berharap kita semua tidak larut dalam dinamika organisasi yang terjadi dan mulai menatap ke depan demi menghadirkan perbaikan dan pembenahan yang lebih positif di dalam gerakan intelektual pelajar Indonesia di luar negeri. Sekali lagi kami menghargai sikap dan keputusan PPI Belanda sebagai bagian dari matangnya kita berdemokrasi dalam organisasi. Ke depan, kami berharap kolaborasi dan kerja sama yang baik dapat terus terjalin untuk memberikan kontribusi konstruktif pada bangsa dan negara.

Hormat Kami,
Dewan Presidium PPI Dunia 2017/2018

Surat tanggapan dapat diunduh pada link berikut

Categories
Inspirasi Dunia Suara Anak Bangsa

Master di tanah Britania: membuka mata, membuka wawasan, demi negeri

Tanah Britania, sejak April 2014 menjadi tujuan saya sebagai rumah kedua. Saya menyebut kuliah di Inggris itu paket lengkap. Lengkap dari segi kualitas pendidikan, pilihan jurusan, fasilitas, dan hiburannya. Perguruan tinggi tertua di dunia banyak didominasi oleh negara ini. Dipastikan saya ingin menimba ilmu langsung dari sumurnya atau sumbernya. Ketika itu, saya menemukan kesulitan mencari program studi yang sesuai dengan spesifik minat saya, namun untungnya saya menemukan di salah satu Universitas di Inggris yang memiliki profesor di bidang minat tersebut. Itulah alasan paling utama saya bersedia tidak pulang 1 tahun dan membiayai kuliah dari kantong sendiri. Pelajar setelah tahun 2012 memang jauh lebih beruntung dengan adanya beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang memberikan kesempatan lebih untuk teman-teman. Pada kesempatan ini saya ingin berbagi kepada teman-teman yang sudah memiliki rencana namun belum ada bayangan mengenai pengalaman hidup, pengalaman studi, serta pengalaman lainnya selama berada di sana. Mudah-mudahan dapat memberikan gambaran.

Saya menikmati banyaknya komunitas orang Indonesia di Inggris. Awalnya saya hanya tahu satu orang teman SMA yang sedang berkuliah di Manchester saat saya masih menyiapkan keberangkatan. Melalui dia saya mendapat banyak sekali informasi. Selain itu keberadaan PPI UK sangat membantu proses belajar. Di minggu awal saya sampai di Manchester sangat jarang berpapasan dengan orang Indonesia sewaktu itu. Akan tetapi setelah mengikuti acara yang diselenggarakan PPI Greater Manchester (GM), perasaan kangen seketika berkurang. Ternyata orang Indonesia di kota Manchester tidaklah sedikit. Disambut dengan ‘bahasa rumah’ (Bahasa Indonesia), kehangatan wajah Indonesia, dan makanan khas Indonesia pada pertemuan PPI GM sangat mengobati homesick.

Setelah sebulan proses adaptasi sudah terlewati dan melewati fase homesick awal, saya mulai penasaran untuk lebih banyak bermain dengan teman-teman lokal dan internasional. Pertama dengan teman satu flat yang terdiri atas multi bangsa, Cina, Inggris dan Jamaika. Meskipun dikarenakan kesibukan masing-masing yang mengharuskan kami hanya bisa mengobrol saat bertemu di dapur, saya sempatkan untuk mengobrol dan belajar masak dari masing-masing sesuai menu negara asal mereka. Saya pun mengusulkan agar kita saling berbagi informasi mengenai diri masing-masing agar bisa lebih mengenal, dari hal yang ditakuti sampai kesukaan sehingga suasana mulai cair dan bisa saling bertoleransi. Kami pun saling bekerja sama dalam membersihkan dapur sehingga saya banyak belajar dengan teman yang sangat higienis dalam bersih-bersih. Terbiasa dalam kultur rumah tangga Indonesia yang memiliki asisten rumah tangga saya kagum dengan Romana (anak lokal) yang sudah cekatan mengerjakan pekerjaan rumah. Dengan biaya asisten rumah tangga yang sangat mahal, anak lokal sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah termasuk memasak.

Selain itu, didorong oleh rasa kangen dengan masakan Indonesia, kebanyakan pelajar memang mendadak jadi koki. Mulai berani mencoba beragam resep nusantara lalu menjadikan teman satu flat sebagai tester. Oleh karenanya, selain menjadi tambah mandiri mengatur diri sendiri, bekal yang saya dapat setelah sekolah ke luar negeri adalah mendadak bisa masak lho, percaya deh 😉
Di samping kaya akan pengalaman tinggal sendiri yang berwarna-warni, saya merasakan pengalaman belajar yang seru dan menantang. Standar kualitas fasilitas pendidikan yang modern, saya merasakan fasilitas perpustakaan dan ruang belajar yang nyaman, khas arsitektur Inggris. Pengajar pun professional dan terlatih mengajar mahasiswa internasional. Kesempatan kerja kelompok dengan teman dari negara yang berbeda memberikan tantangan tersendiri. Hasil kesimpulan saya setelah mencoba dengan teman dari kultur berbeda, kultur negara terkadang mempengaruhi perilaku seseorang. Tetapi secara keseluruhan perilaku seseorang ditentukan oleh watak orang tersebut sendiri. Memang kita terkadang bisa menggunakan stereotype bahwa teman dari Jerman lebih tepat waktu dari teman negara lain, tetapi semaunya tergantung orangnya. Ada teman yang rajin dan tidak sedikit yang kurang rajin. Ada yang enak buat kerjasama kelompok ada yang kurang. Semua tergantung motivasi masing-masing.

Selain soal tinggal mandiri dan belajar, ada hal yang paling jadi incaran pelajar internasioanal di Inggris yaitu jalan-jalan dan nonton bola. Waktu jalan-jalan memang harus diatur dengan sangat cepat dan bijak. Baru sehari di sana, saya dari Manchester langsung ke London untuk jalan-jalan dan mengurus surat lapor di keduataan. Kemudian ke Liverpool dan yang jelas stadium di Manchester sendiri. Kebetulan saya suka bola.

Setelah itu, kita bisa menjadwalkan liburan setiap akhir pekan. Dengan adanya libur panjang satu bulan di bulan Desember untuk Natal dan Paskah di akhir bulan April hingga Mei, pelajar di Inggris bisa lebih lega jadwal jalan-jalannya dibanding pelajar di Eropa daratan lainnya. Saya menyempatkan untuk ‘menyeberang’ ke Eropa Daratan yakni Belanda, Jerman, dan Berlin menemui teman lama yang sedang sekolah di sana. Kebetulan perjalanan saya adalah single trip. Saya terbang sendirian dari Manchester ke Amsterdam dan dijemput teman di sana. Saya sekali-kali ingin merasakan serunya jalan-jalan sendiri mumpung masih single. Setelah selesai pengumpulan disertasi saya memanfaatkan waktu untuk ke utara Inggris ke Scotlandia dan jalan-jalan hingga ujung utara. Dikarenakan sudah homesick berat saya memutuskan pulang dan membatalkan beberapa perjalanan ke Eropa daratan dengan teman-teman. Saran saya jika ingin jalan-jalan ke suatu tempat segera lakukan, karena terkadang kita bisa tidak sempat lagi. Tapi saat itu tempat-tempat prioritas yang ingin saya kunjungi sudah terpenuhi semua 

Di ujung perjalanan, saat kuliah keluar kita dengan mudah akrab dengan teman-teman baru. Dikarenakan sama-sama merantau dan jauh dari keluarga, saya merasakan sangat sedih ketika harus berpisah dengan teman satu flat dan teman seprogram studi. Satu tahun terkadang terasa lambat saat kita terjangkit homesick, sebaliknya terasa sangat cepat ketika sudah tiba-tiba farewell dengan teman-teman di sana. Kami saling berpelukan dan berharap bisa bertemu lagi di belahan dunia lain. Saling mengajak satu sama lain datang ke negara masing-masing dan siap menjadi pemandu wisata.

Saya menyempatkan pulang sebentar pasca pengumpulan disertasi (tesis S2) di akhir September 2013, kemudian kembali lagi untuk menghadiri wisuda di bulan Desember 2013. Setelah menyelesaikan seluruh agenda, saya pulang kembali ke Indonesia dengan sebuah harapan. Ilmu yang telah saya dapatkan dapat bermanfaat untuk teman-teman sekitar dan bangsa nantinya. Saya berharap semakin banyak teman-teman yang berkesempatan merasakan pendidikan yang lebih tinggi dan pengalaman hidup yang lebih berwarna serta merasakan indahnya ciptaan Tuhan YME di belahan dunia lain. Kelebihan dari bersekolah di luar negeri memang membuka wawasan seluas-luasnya dengan menjadikan kita mandiri, lebih dewasa, lebih berani, dan lebih toleransi terhadap budaya atau kepercayaan lain. Kita jauh lebih paham budaya negara lain secara global. Berkunjung ke negara lain membuat saya bisa membandingkan negeri sendiri dengan negara maju lain. Saya semakin sadar potensi negara kita, baik dari segi potensi alam dan budaya. Kita tidak kalah, dan saya yakin dengan bertambahnya pelajar kita per tahun menuntut ilmu ke luar semakin banyak lulusan master dan doktor. Semakin banyak transfer ilmu ke pelajar Indonesia yang dapat meningkatkan kompetensi pemuda kita sehingga mudah-mudahan bangsa kita bisa semakin maju dan semakin besar, demi Indonesia Raya…

Larastri Kumaralalita
Master of Science (Msc) in Management and Information Systems,
Institute for Development Policy and Management (IDPM)
University of Manchester, Manchester, UK

sumber : http://ppiuk.org/master-di-tanah-britania-membuka-mata-membuka-wawasan-demi-negeri/

Categories
Inspirasi Dunia Suara Anak Bangsa

Lanjut Studi di UK dengan Beasiswa LPDP? Why Not!

Oleh. Hanif Azhar

HanifKabar gembira untuk kita semua! LPDP, sudah buka portalnya!!

Studi lanjut bukan sekedar asa! Cetak SDM untuk Indonesia!!!

Yeay! Akhirnya beasiswa LPDP resmi dibuka lagi! Sebuah kesempatan emas bagi para pemburu beasiswa untuk melanjutkan studi. Kabar buruknya, proses seleksi LPDP 2017 bakal jadi super ketat. Bahkan Pak Eko Prasetyo, Dirut LPDP, memperkirakan pendaftar LPDP tahun ini akan mencapai lima kali lipat dari tahun sebelumnya (Detik Finance). Hal ini dipicu oleh pamor LPDP yang semakin semakin prestis dan kesempatan pendaftaran hanya dibuka dua kali dalam setahun, masing-masing sekali untuk pelamar dalam negeri dan luar negeri (sebelumnya empat kali dalam setahun). Tahun ini LPDP berencana memberikan 5000 beasiswa dengan pendaftar lebih dari 300.000 orang (FYI, pendaftar tahun 2016 sudah mencapai 60.000 orang). Kuota keluar negeri juga dibatasi sekitar 40%. Jadi, peluang yang ingin melanjutkan studi abroad adalah 0.006. Semakin tertantang kan? Oleh sebab itu, bagi kalian yang akan mendaftar beasiswa sejuta umat ini, hendaknya mempersiapkan diri dengan matang. Bagi saya, ada beberapa point utama yang perlu diperhatikan selama proses pendaftaran!

1.Kalibrasi Niat

Niat merupakan sepertiga dari usaha, begitu kata pepatah. Bagi teman-teman yang ingin mendaftar beasiswa LPDP, coba refleksi dulu; cek niat kita, berdialoglah dalam hening, jujurlah pada hati sanubari. Sudah luruskah niat kita? Jangan sampai kita mendaftar LPDP hanya supaya terlihat keren, apalagi korban gaya hudup ala lagu parodinya Awkarin Feat. Young Lex, Kuliah pun gue tetap OK! Lulusan cumlaude dari ITB! Lanjut ambil MBA di UK! Pakai beasiswa LPDP! (Istighfar berjamaah).

Please! Beasiswa ini dari uang rakyat! bukan sebagai pemuas nafsu gaya hidup pemuda kekinian sesaat. Coba kita cek kembali visi besar LPDP, Menjadi lembaga pengelola dana terbaik di tingkat regional untuk mempersiapkan pemimpin masa depan serta mendorong inovasi bagi Indonesia yang sejahtera, demokratis, dan berkeadilan. berat kan? Menyiapkan pemimpin Indonesia masa depan bro! Sudah siapkah kita mengabdi buat ibu pertiwi? Melanjutkan studi tidak hanya sekedar hura-hura, selfie pamer petualangan ke berbagai negeri. Ini merupakan tugas mulia belajar, menggali ilmu sebanyak mungkin untuk diaplikasikan di Indonesia di masa depan. Sebagaimana pesan Ibu Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan RI dalam acara Welcoming Alumni LPDP 2017, “…it’s time for you membayar kembali, tidak dalam bentuk rupiah, tapi mengembangkan diri, mengambil level pendidikan di atas rata-rata dan universitas terbaik di dunia adalah suatu kenikmatan langka”.

2. IQRO’! Bacalah!

Tahap pertama sebelum kita mendaftar, mohon, bacalah! Semua informasi dasar terkait pendaftaran LPDP sudah lengkap di website resminya. Mulai dari persyaratan, alur proses seleksi, sampai daftar kampus tujuan, sudah dijadikan buku panduan digital yang siap untuk diunduh dan dibaca kapan saja.

Budaya literasi kita memang belum tinggi. Kebanyakan orang lebih suka langsung bertanya tanpa berusaha mencari informasi dulu. Bahkan, tidak sedikit yang masih bertanya, “Kak, persyaratan LPDP itu apa saja?” “Kak, cara daftar LPDP itu bagaimana?” “Kak, TOEFL saya belum sampai persyaratan, bias tetap daftar tidak?” dan pertanyaan-pertanyaan konyol lain yang notabenenya sudah tersedia lengkap di situs resmi LPDP! Kalau tidak percaya, silahkan cek komentar-komentar konyol di fanpage facebook LPDP.

Harapannya, kita semua proaktif berusaha mencari informasi dasar beasiswa LPDP. Apabila ada hal lain yang belum jelas, para awardee sampai customer service LPDP sangan siap untuk menjawab semua pertanyaan kok. Banyak juga tulisan-tulisan di blog dan berbagai social media tentang pengalaman mengejar beasiswa ini. Jadi tenang saja, kita tidak akan pernah kekurangan sumber informasi selama kita mau berusaha. Selain itu, kita juga harus proaktif membuat observasi pribadi terkait persyaratan-persyaratannya, misal Letter of Acceptance dari universitas tujuan. Silahkan kepoin website resminya; cari persyaratan pendaftaran programnya, temukan timeline yang dibutuhkan selama studi, berapa lama durasi perkuliahan, berapa skor TOEFL iBT atau IELTS yang dibutuhkan, apakah diperlukan GRE/GMAT, bagaimana kondisi geografi dan social budaya tempatnya, dan lain sebagainya. Setelah membuat daftar tersebut, silahkan membuat tabel lain untuk kampus alternatif kalian. Cermati programnya, bandingkan kualitasnya, lihat peringkatnya, dan silahkan diprioritaskan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita.

Mengapa saya menekankan untuk proaktif dalam mencari informasi? Silahkan teman-teman bayangkan, untuk melanjutkan studi pasca sarjana baik di tingkat master maupun doctor itu kita dituntut untuk proaktif dan berfikir super kritis. Sekedar berbagi cerita pengalaman kuliah master di Britania Raya saja, setiap minggu kita dituntut untuk membaca minimal tiga jurnal internasional setiap pertemuan. Apabila dalam seminggu kita lima mata kuliah, berarti kita harus membaca 12 jurnal dan beberapa chapter buku bacaan. Oia, kita tidak hanya dituntut untuk membaca dan memahami saja, namun juga mengkritisinya. Belum lagi tugas-tugas essai lainnya. Masih ogah-ogahan untuk membaca? Yuk mulai dari sekarang kita pupuk budaya literasinya.

3. Atur Strategi

Kata Om Alexander Graham bell “Before anything else, preparation is the key of success”. Persiapan adalah segalanya. Tidak ada istilah keberuntungan. Karena sejatinya, keburuntungan adalah kerja keras (persiapan) yang bertemu kesempatan. Oleh sebab itu, Ketika niat kita sudah lurus, informasi yang dikumpulkan cukup mumpuni, yuk segera AKSI dan MENGATUR STRATEGI!

Sekedar cerita, awal tahun baru 2016, saya bersilaturahmi ke rumah sahabat saya awardee LPDP yang sedang libur musim dingin dari Belanda. Dia memaparkan pengalamannya mengejar cita untuk studi di Belanda yang penuh dengan keringat dan air mata. Selama dua tahun, sudah tak terhitung tetes air mata yang keluar, mempersiapkan Bahasa Inggris sampai tes IELTS berkali-kali, dan masih gagal. Belum lagi perjuangan untuk memenuhi persyaratan LPDP lainnya. “Pejuang sejati tak kan pernah menyerah” begitulah mottonya. Itulah yang membakar semangat saya untuk segera mematangkan strategi LPDP untuk melanjutkan studi ke UK September 2016. Supaya lebih jelas, berikut saya contohkan timeline saya.

Rencana di atas adalah proposal saya kepada Tuhan untuk tahun 2016. Alhamdulillah, hasil tak pernah mengkhianati usaha. Doa dan usaha saya diijabah oleh Allah. Walaupun, saya juga sudah menyiapkan beberapa alternative pilihan rencana seandainya, kemungkinan terburuk, saya gagal. Begitupun teman-teman, silahkan membuat timeline dan alternative sesuai kebutuhan. Apabila gagal, silahkan coba lagi, karena LPDP memberi dua kali jatah gagal tahap tes substansial. Kalaupun tetap gagal, itu bukan akhir dunia kok, jadi jangan sampai gelap mata sampai menghalalkan segala cara, memalsukan sertifikat Bahasa asing misalnya. Kita harus ingat bahwa LPDP itu dikelola oleh para professional di bidangnya. Jangan sampai kita menyesal dimasukkan daftar hitam karena kecurangan sesaat. Pernah membaca artikel-artikel tentang perjuangan para pengejar beasiswa kan? Ada yang 7 kali gagall tes IELTS, 10 kali ditolak beasiswa, dan berbagai macam drama lainnya. itu kisah nyata, sebagai pemicu semangat kita. Amin!

4. Konsep 3A: Appearance, Achievement, Attitude

“I’m intrigued by the way in which physical appearance can often direct a person’s life; things happen differently for a beautiful woman than for a plain one.” — Penelope Lively

Appearance: Kata pepatah sih kita tidak boleh menghakimi sebuah buku dari sampulnya. Namun, menjaga penampilan itu tetaplah sesuatu yang penting. Dalam proses seleksi LPDP misalnya. Coba bayangkan kita sebagai interviewer menghadapi pendaftar dengan pakaian yang tidak rapi, rambut acak-acakan, celana jins robek-eobek, dan bau apek keringat. Bagaimana asumsi kita? Okay poinnya adalah konsep adil dalam berpenampilan, kemampuan menjaga penampilan menyesuaikan situasi. Mengetahui waktunya dress up maupun dress down. FYI, Smart appearance bukan berarti harus memakai semua barang branded seperti mall berjalan lho ya!

Achievement: Untuk mendaftar LPDP, kita harus punya achievement, baik yang sudah dicapai, yang sedang dilakukan, dan yang mau dicapai di masa depan. Itu semua akan terbaca dalam essay kita dan akan direkonfirmasi oleh interviewer. “Kak, tapi saya ga punya penghargaan? lomba lari kelereng aja ga pernah menang, apalagi lomba kejar gebetan?” Satu hal yang perlu teman-teman ketahui, tidak selamanya pencapaian itu berupa piagam penghargaan atau piala emas bersilauan. Achievement dapat berwujud aksi nyata. Bagi pelaku organisasi dan komunitas kepemudaan, optimalkan prestasi dengan membuat perubahan nyata. Bagi peneliti, buatlah riset yang bermanfaat dan aplikatif! Bagi pecinta kegiatan kerelawananan, silahkan optimalkan aksi sosialmu! Tidak hanya berlaga seperti pahlawan di social media doang. Intinya, definisi achievement setiap orang berbeda. Manfaatkan passionmu disana!

Attitude: Kecerdasan dalam bersikap dan menunjukkan moral yang baik merupakan kuncinya. Sepintar apapun kita kalau attitude NOL, maka bukanlah apa-apa. LPDP akan berinvestasi kepada pemimpin Indonesia masa depan yang punya attitude baik. Karena tidak semua orang dengan tingkat pendidikan tinggi berbanding lurus dengan tingkat moral. Sebagaimana kata pepatah, “two things define you: Your patience when you have nothing, and your attitude when you have everything”.

5. Ikhlas & Doa

Bab ikhlas merupakan bagian paling sulit. Setelah kita melaksanakan semua poin di atas, hal terakhir adalah ikhlas, menerima apapun hasilnya. Ikhas memang mudah diucapkan, namun sangat sulit diaplikasikan. Tidak sedikit kisah depresi dan kecewa yang mendalam karena kegagalan dalam mengejar beasiswa. Usaha terakhir yang dapat kita lakukan tinggal doa. Orang tua, bapak ibu guru, dosen, pemuka agama, minta maaflah atas kesalahan baik sengaja maupun tidak, dan mintalah mereka ikut mendoakan hasil terbaik untuk kita. Karena kita tidak tahu, dari mulut siapa doa kita dikabulkanl! Perbanyak amal jariyah, shodaqoh, dan berbagi kepada orang yang membutuhkan. Dekatkan diri pada Sang Pencipta. Pendekatan yang terakhir memang lebih ke arah spiritual dan emosional.

Jaga semangat untuk teman-teman yang sedang berjuang mengejar mimpi. Apabila butuh diskusi dan feedback, silahkan mengirimkan pesan ke hanifazhar@live.com. Semoga tulisannya bermanfaat. Jabat erat dari Glasgow, UK

Timeline Hanif

**) penulis merupakan mahasiswa S2 jurusan Creative Industry & Cultural Policy di University of Glasgow

 

sumber : http://ppiuk.org/lanjut-studi-di-uk-dengan-beasiswa-lpdp-why-not/

Categories
Inspirasi Dunia Suara Anak Bangsa

Staying abroad mom, Cerita Laskar Emak-Emak di Belanda

“Ibu, tanganmu yang mengepal adalah kepak sayap burung-burung. Yang membawa benih dan menebarkannya di belantara matahari”

Kalimat di atas adalah kalimat pembuka buku “La Tahzan for working mothers” (2008), yang merupakan kumpulan tulisan dari ibu-ibu muda yang memilih untuk berkarya di luar rumah. Working mom, istilah kekinian masa itu. Saya turut menulis di sana. Menceritakan salah 1 episode menarik dalam hidup, yaitu ketika harus dinas jauh beberapa waktu meninggalkan bayi kecil. Saat-saat ketika seorang working mom dihadapkan pada konsekuensi logis atas sebuah pilihan hidup yang dibuat dengan penuh kesadaran. Tanggung jawab professional sebagai pegawai yang disiplin. Tanggung jawab keilmuan sebagai seorang penjelajah oase ilmu pengetahuan. Dan tanggung jawab sebagai seorang ibu kesayangan. Semuanya berkejar-kejaran seiring berlarinya sang waktu. Setiap kita punya kisah yang unik, bukan? Kebetulan kisah seru saya di antaranya adalah menyiapkan ASIP di perjalanan, termasuk di pesawat dan di sudut ruang-ruang rapat nun jauh di belahan bumi yang lain.

Siapa sangka 6 tahun kemudian saya kembali dihadapkan pada situasi yang mirip, walau dengan tingkat kerumitan yang jauh lebih melilit. Dua koper besar yang sudah dipenuhi dengan peralatan tempur 2 bocah yang hendak ikut berpetualang membuka wawasan di negeri yang asing, mendadak hanya bisa teronggok membisu. Seiring sebuah peristiwa fenomenal yang membuat suami saya tidak bisa ikut ke Negeri yang Oren. Setiap kita punya kisah yang unik, bukan? Kebetulan kisah unik saya di antaranya adalah berusaha membesarkan hati saat mengantarkan kedua cahaya mata ke ranah minang.

Maka kemudian saat rindu melanda, saat sibuk menghitung ratusan hari menuju perjumpaan berikutnya, saya sampaikan gumam mesra melalui angin.

Bergembiralah Nak, terus bergembira. Semoga kaki, tangan dan badanmu semakin kuat.

Pun hati dan jiwamu.

Cerialah Nak, terus ceria. Semoga do’a-do’a kami sanggup membuka pintu-pintu langit, memohonkan penjagaaan kepada Yang Maha Menjaga.

Tersenyumlah Nak, terus tersenyum. Mulai belajarlah riang menapaki mushola-mushola ranah minang, mengikuti pemuda-pemuda Surau kampung halaman. Sebuah kemewahan yang jarang ada di kota-kota besar. Salam rindu emak.

Staying abroad mom

Jadi mana bagian dari tulisan ini yang menyangkut tema Laskar Van Holland?  Pada dasarnya ini adalah tulisan mengenai Laskar pencari ilmu di segmen tertentu, yang mungkin jarang dibahas karena dianggap tabu (mungkin). Yaitu para ibu yang kebetulan dihadapkan pada kondisi harus berpisah dengan sang buah hati. Sebutlah studying abroad mom. Tidak hanya di Belanda. Saya mungkin termasuk yang bawel dan lebay, karena setiap saat sibuk sekali membuat puisi dan prosa menceritakan kerinduan kepada anak-anak. Namun saya yakin ada banyak sekali kaum ibu yang bahkan tidak kuasa menuliskan kerinduan itu. Ada banyak sekali para ibu yang bahkan harus setiap saat menyibukkan diri di kampus menepis rindu. Ada banyak sekali para ibu penuntut ilmu yang diam-diam menangis di kesendiriannya setiap mengingat kesayangan. Ada banyak sekali para ibu-ibu penuntut ilmu itu yang tertegun kelu setiap mengunyah makanan lezat sambil berfikir “andai bisa kubagi ini dengan anakku”.

Tulisan ini saya persembahkan khusus buat ibu-ibu ini. Tapi tolong. Tolong jangan tanya mereka mengapa tega meninggalkan Ananda jauh di mata. Percayalah, setiap orang punya kisah yang unik. Sungguh, ada banyak kisah. Dunia tidaklah putih dan hitam saja dengan garis batas yang tegas antara keduanya. Ada banyak warna. Cukup kaum-kaum tertentu yang sibuk berpolemik working mom vs staying at home mom. Cukup kaum-kaum tertentu yang meragukan dan mempertanyakan kesohihan naluri keibuan jutaan wanita yang meninggalkan anaknya > 8 jam sehari. Tulisan ini juga tak hendak membela diri. Tidak, tidak perlu. “Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu” (Ali bin Abi Thalib).

Satu tahun saya ditakdirkan untuk berpisah dengan anak-anak. TarbiyahNya untuk kami luar biasa. Kaki dan tangan mereka yang biasa lemah karena jarang berinteraksi dengan alam, dalam setahun menjadi jauh lebih kuat karena sehari-hari bermain-main di belukar mengejar belalang, jalan kaki jauh ke sekolah, bahkan buat mereka nyemplung dan nyungsep di sawah itu keren abis. Mereka yang awalnya hanya mengerti hewan ternak dari buku-buku, jadi paham sekali segala jenis hewan ternak, bahkan gembira bermain dengan cacing dan ulat.  Akan halnya saya, tentunya harus mengisi hari dengan kegiatan belajar. Tak dapat saya pungkiri bahwa saya senang sekali kembali ke nuansa akademis. Berenang-renang di lautan ilmu pengetahuan yang rasanya seperti tak bertepi. Di balik beratnya perkuliahan, senantiasa merasa takjub setiap menemukan fenomena keilmuan yang baru. Sungguh, bagi penuntut ilmu rasanya pertanyaan-pertanyaan di kepala itu tak ada habisnya. Dan jawaban akan setiap misteri akademis seolah berisi lapisan-lapisan yang selalu menunggu untuk dipahami.

Dibanding mahasiswa lain, saya termasuk yang paling tua. Atau mungkin memang yang paling tua. Rata-rata beda usia dengan teman sekelas mencapai 7 – 11 tahun. Tertekan gak? Wah sempat banget. Takut banget otak yang tua dan lelah ini bakal tertinggal habis-habisan bersaing dengan usia-usia muda yang imut dan cemerlang. Namun kemudian saya teringat tempaan budaya kiasu selama 5,5 tahun kuliah dan kerja di Singapura. Sekuat tenaga saya panggil kembali ruh kiasu yang mestinya bersemayam di sebuah persembunyian di aliran darah ;-). Dan untuk melecut diri, saya berusaha mengingat bahwa saya punya tanggung jawab besar terhadap instansi yang menyekolahkan saya ke Belanda. Setiap orang punya kisah yang unik bukan? Kebetulan kisah saya adalah sebuah tekad untuk menyandingkan hasrat menjadi mahasiswa yang cemerlang, dengan tetap memegang impian menjadi ibu tersayang.

Academic culture

4 tahun kuliah di Singapura dan hampir 2 tahun kuliah di Belanda, mau gak mau alam bawah sadar melakukan perbandingan. Perbedaan yang paling terasa adalah student culture. Aura kiasu sangat kental di Singapura. Suasana mulai mencekam 1 bulan menjelang ujian. Iya, 1 bulan. 30 hari. Saat di mana segala sudut perpustakaan penuh, tutorial room fully booked, segala bench dipenuhi manusia, kantin-kantin tumpah ruah dari sore sampai pagi, bahkan bawa bantal segala. Wajah-wajah ngantuk hilir mudik di kampus. Kampus seolah 24 jam hidup. Mesin-mesin kopi berisik. Asrama mahasiswa heboh, di dapur, di selasar, di taman. Tampang-tampang jutek lelah belajar menggurita. Membuat jantung kadang tertekan, merasa diri  onggokan kuah rendang yang lupa ditaburi rengginang. Rengginangnya bahkan gak ada!

Sebaliknya, mahasiswa di Belanda itu ramah banget, dan tidak terasa aura persaingan yang mencekam. Setiap orang sharing bahan-bahan ujian, summary, atau alat bantu belajar lainnya. Persaingan kita adalah bertempur melawan kemalasan diri dengan alasan segala ke-unyu-an cuaca. Terhadap nilai-pun mereka cenderung ‘santai’. Mungkin saya salah, tapi persepsi yang saya tangkap adalah mereka sangat menikmati hidup dan jarang sekali membicarakan stress-nya kuliah. Mereka kadang bingung menghadapi kita (saya?) yang kadang tak puas dengan nilai ujian dan sibuk membahas ‘mestinya saya bisa lebih baik’. Pernah ada yang nyeletuk ‘bukannya yang penting kamu sudah lulus ya, abis itu liburan, have fun-lah’. Mungkin di dalam hati mereka “stress amat sih emak-emak satu ini”…. pantes gemuk. ~_~

Saya pernah kerja kelompok dengan 4 orang students selama 2 minggu. Dan selama 2 minggu itu pula mereka ber-4 gantian liburan ke luar negeri. Hal yang gak akan bisa dijumpai kalau sekelompok kerja dengan Sporean. Can not lah. Namun demikian, mereka rata-rata sangat bertanggung jawab. Selama liburan bergilir itu senantiasa hadir online meeting untuk rapat harian. Dan rapat dilaksanakan dengan serius dan efektif. Selesai rapat ya mereka liburan lagi, sementara fikiran kiasu saya rasanya susah diajak se-asyik itu. Setelah nilai keluar, kalau bagus ya mereka senang.  Kalau hasilnya kurang bagus juga cuma pundung sejenak, lalu abis itu ketawa-ketawa lagi. Terus, tahu-tahu pasang status facebook udah berjemur di benua mana. Beda banget dengan saya yang kalau nilai ujian gak sesuai harapan bisa karokean lagu minang sendirian non-stop 2 hari 2 malam mengobati sedih. Di sana lah saya kemudian berkesimpulan bahwa mereka menganut prinsip play hard party hard. Di sisi yang ini saya takjub.

Falsafah kuah rendang

Tentang dosen juga menarik. Dosen-dosen di NTU-Singapura akan nyaris selalu ada kapanpun kita perlukan. Kalau ada pelajaran yang gak ngerti? Tinggal email atau datangi aja ruangannya. Jarang sekali ada kejadian susah nyari dosen. Makanya tak jarang di saat-saat tertentu kita berbondong-bondong antri di ruang dosen untuk minta penjelasan tentang pelajaran. Ditambah pula dengan budaya ‘tak mau kalah’, nunggu giliran bertanya sambil menyimak yang ditanyakan teman ;-).

Di sisi lain, dosen Belanda punya jadwal yang sangat sangat disiplin. Kalau gak email dulu, jangan GR bisa ketemu kapan saja. Jangan kaget juga di saat-saat tertentu mereka ada agenda liburan yang gak bisa kita ganggu gugat. Maka bagi mahasiswa thesis seperti saya, masa-masa yang sangat menegangkan  adalah ketika mencari jadwal kick off meeting, green light meeting (rapat yang menentukan kelulusan), dan jadwal sidang akhir. Susah! Sebab perlu menyatukan jadwal 3 dosen yang mazhab liburanya beragam. O iya, tambahan lagi, dosen Belanda cenderung ketat soal nilai, maka siap-siapin mental aja ya, saat sudah GR membayangkan 3 kg rendang, namun yang diterima hanyalah kuah-kuah gulai nangka di ujung nasi putih rumah makan Padang. Namun dampaknya adalah kitapun jadi berusaha keras menjadi pribadi yang disiplin dan berusaha mencapai target, agar segala kesempatan yang ketat itu bisa membuahkan hasil maksimal. Ingat, rendang yang enak itu adalah yang warnanya menghitam legam karena lama bertempur di dalam kuali menghadapi bara api. Itu falsafahnya!

Jadi kesimpulannya? Memang gak untuk disimpulkan. Hanya deskriptif. Masing-masing punya daya pikat yang khas. Yang jelas saya bersyukur pernah mengalami keduanya, dan masing-masing academic culture punya kontribusi signifikan dalam menempa ketangguhan jati diri kita. Tinggal kita mau memilih untuk ditempa atau tidak? Sebenarnya mau kuliah di manapun akan kembali lagi ke tekad individu. Ya, gak sih?

Belajar sejarah di PPI Leiden

Kenapa memilih Belanda? Salah 1 alasannya adalah saya penasaran seperti apa sebuah negeri yang begitu lama mendiami nusantara. Apa sih yang membuat bangsa yang relatif kecil secara geografis mampu begitu lama mendiami negeri lain yang jauh lebih besar, bahkan mendirikan kekuasaan segala. Maka gembira sekali rasanya ketika ada kesempatan mengikuti acara keren by PPI Leiden. HistoRun.

Oleh-oleh acara ini gak sekedar keindahan kota serta sejarah berdirinya universitas Leiden. Atau “semata” deskripsi napak tilas tentang tautan sejarah Indonesia di kota yang cantik itu. Leiden. Tidak “sekedar” mengetahui lokasi-lokasi yang menjadi sejarah perjuangan bapak-bapak bangsa. Acara itu berhasil menjadi trigger untuk memaknasi kembali catatan-catatan historis bangsa dan meninjau kembali tujuan perjalanan kita. Kita jadi memaksa diri untuk menyelami  konsep memori kolektif sebuah bangsa dan imbasnya terhadap sikap mental masa kini. Kita juga jadi merenungkan kembali bagaimana sebaiknya menempatkan diri kita terhadap semua sejarah panjang masa lalu. Juga pada pemikiran bahwa leverage sebuah bangsa akan terjadi ketika ada orang-orang yang tidak hanya memikirkan diri sendiri, tapi memikirkan diri sebagai suatu kesatuan bangsa, suatu peradaban, yang mempengaruhi konsep berfikir secara kolektif. Menanggalkan sejenak identitas mikro.

Sampai juga pada sebuah pertanyaan menarik “Sepulang dari sini, apa sih yang mau kamu sumbangkan kepada tanah air? Selain ijazah dan foto-foto cantik?”

Maka kemudian saya mendapati diri saya sering sekali menceritakan tentang Histo-run kepada 2 bocah kecil di rumah. Sampai-sampai dalam imajinasi saya, belasan tahun ke depan ketika hendak masuk universitas, anak-anak mengatakan ingin kuliah ke Belanda, lalu ketika ditanya alasannya mereka akan jawab “ingin ikut Histo-run PPI Leiden”. Persis emaknya puluhan tahun sebelumnya ketika ditanya kenapa ingin kuliah S1 di ITB, jawabnya “ingin ikut Unit Kesenian Minangkabau, ITB”. Somehow, saya percaya bahwa tujuan ‘sampingan’ yang menyenangkan, akan menambah semangat belajar. Ini sungguh cara special saya mengungkapkan pujian kepada acara tahunannya PPI Leiden yang bagi saya sangat berkesan.

Epilog

Sebelum tulisan ini menjelma menjadi novel saking panjangnya, maka saya tutup dengan persembahan kembali untuk staying abroad mom. Semangatlah bunda, teruslah semangat. Semoga segala perih perpisahan itu kelak akan menjadi kisah yang manis ketika kita menengok ke belakang saat semuanya lewat. Sepemahaman saya, tak ada ibu yang berbesar hati berpisah jauh dengan anak-anaknya. Tak ada. Namun tak semuanya perlu dijelaskan, sebab kita bukanlah seporsi kapsalon pasca ujian, yang pasti disambut perut-perut lelah dengan suka cita. Lagian tetap lebih enak lontong sayur… *eh*. InsyaAllah semua penantian perjumpaan dengan buah hati akan membuahkan hasil yang manis.

Saya kemudian teringat perjumpaan kembali dengan anak-anak setelah ratusan hari tak bertemu. Kalimat pertama mereka “kenapa kok Bunda nangis?”Gak bisa jawab. Bisu beberapa menit. Jumpa lagi setelah ratusan hari gak ketemu, malah kehabisan kata-kata. Manusia memang aneh. Kemudian saat mereka terlelap malam harinya, saya tuliskan buat mereka ungkapan hati.

“Dalam sekejap, duniaku yang sunyi kembali hingar bingar. Tiba-tiba ada remah-remah biskuit di karpet, tumpahan yoghurt di bawah meja, papan tulis penuh gambar, alat tulis di 8 penjuru angin, wajah cemong-cemong yang cengar cengir, posisi benda-benda berubah-ubah, ada jeritan-jeritan, kejar-kejaran. Heboh. Mendadak ada banyak pembagian peran. Gak lagi sekedar masak bareng, atau gotong royong bersihin rumah. Di dalam dunia khayal mereka, diriku menjelma menjadi dinosaurus, monster lumpur yg gemuk, penyihir besar atau pohon raksasa (entah kenapa perannya harus big size semua ~_~)”

Menjadi ibu. Bukan lagi ibu jarak jauh. Tapi ibu yang bisa memegang tangan anaknya.

.. yang berkesempatan mendengarkan cerita2 dan gelak tawa mereka, tanpa masalah gangguan sinyal.

.. yang berkesempatan memastikan mereka menjemput malam dalam keadaan tersenyum dan bahagia.

Percayalah, staying abroad mom, saat itu akan tiba.

-Reni uNisA-

catatan: Gambar diambil dari Google

Categories
Berita

PPI Lebanon selenggarakan peringatan Isra dan Mi’raj

Perhimpunan Pelajar Indonesia di Lebanon ( PPIL ) bekerja sama dengan KBRI Beirut telah sukses menyelenggarakan acara peringatan Isra dan miraj Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wa Sallam. Acara ini berlangsung pada hari Jumat, 28 April 2017 di gedung KBRI Beirut.

Acara diawali dengan pembacaan ayat ayat suci Al-quran, dilanjutkan dengan sambutan sambutan yang disampaikan oleh ketua panitia Ahmad Mushfi, ketua PPIL H. Muhammad Ainur Rohim MA dan Bapak Meugah Suriyan Sanggamara sebagai perwakilan dari Duta Besar yang berhalangan untuk hadir . Ahmad Mushfi selaku ketua panitia dalam sambutannya menyampaikan bahwa peringatan seperti ini adalah hal penting yang mengandung nilai positif meskipun tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah.

Selain mahasiswa, turut hadir dalam acara tersebut para pejabat KBRI Beirut, anggota Darmawanita dan juga masyarakat Indonesia yang berdomisili di Beirut. Untuk memeriahkan acara , panitia menghadirkan grup nasyid religi dari Lebanon yang bernama “Fariq an nasyid Al islamy li at turats.”

Acara yang bertajuk “mukjizat Agung dan bukti kenabian” ini ditutup dengan rangkaian acara lainnya, yaitu pelatihan jurnalistik dan sosialisasi hasil simposium internasional di Madinah ( 2-4 April 2017) dan konferensi internasional PCINU di Belanda ( 27-29 Maret 2017 ).

H. Muhammad Ainur Rohim MA, selaku narasumber dalam pelatihan jurnalistik, memotivasi para mahasiswa untuk terus mengembangkan dunia tulis menulis di kalangan para siswa dan memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan kebaikan dan menekan berita hoax.

Adapun forum sosialisai simposium internasional Madinah disampaikan oleh Lukmanul Hakim Lc, selaku delegasi mewakili PPI Lebanon. Dalam laporannya, mahasiswa pasca sarjana ini menyampaikan tentang prestasi yang diraih oleh PPI Lebanon dalam perhelatan internasional itu. Salah satu nya adalah terpilih menjadi salah satu penulis paper terbaik dengan judul “Islam dan perannya dalam menjaga kemajemukan bangsa “. Dalam forum tersebut para anggota PPI Lebanon juga membahas tentang kesiapan mengikuti simposium internasional PPI Dunia di London.
Acara ditutup dengan doa dan makan malam bersama.

 
(Medikom(PPIL)/AASN)

Categories
Berita PPI Dunia PPI Negara Timur Tengah dan Afrika

Liputan Hari Kedua Simposium Timtengka Madinah 2017

Madinah – Selasa 4 April 2017. Pagi hari, diskusi Panel Ketiga Simposium Kawasan PPI Timur Tengah – Afrika yang berjudul “Menyongsong Generasi Emas Indonesia Dalam Mempersiakan Generasi Emas 100 Tahun” resmi dimulai.

Dimoderatori oleh Ahmad Faisal, mahasiswa prodi Arab fakultas ilmu pengetahuan dan budaya Universitas Indonesia. Narasumber pertama adalah beliau Bapak Prof. Dr. Mohammad Nuh DEA, dengan membawakan materi berjudul “Menyiapkan Generasi Millenial Menuju Kejayaan Indonesia 2045”.

Beliau memulai dengan prolog bercerita tentang pengalaman dirinya dulu sebagai mahasiswa di negeri asing, dan beliau berpesan , “student today leader tomorrow”. Kemudian tak lupa juga beliau memberi ucapan selamat kepada panitia penyelenggara simposium, “berikan tepuk tangan bagi mereka yang telah menyiapkan dan menyelenggarakan acara yang luar biasa ini”.

Kemudian mengawali kuliahnya dengan ucapan, “Dunia tidak ada artinya tanpa Indonesia, Indonesia tidak ada artinya tanpa penduduk, dan penduduk tidak ada artinya tanpa PPI Timur Tengah Afrika”, ujar beliau membuka pemaparannya terkait Indonesia dan posisi geografisnya.

Kemudian beliau membahas tentang generasi millennial, mereka yang lahir antara 80-95, 22-36 tahun. Karena zaman membentuk karakter dan kepribadian. Karakter mereka suka jalan pintas dan tak ingin lama. Mereka lebih suka menggunakan modul-modul daripada teori yang berkepanjangan. Mereka juga segera beradaptasi dengan setiap teknologi yang muncul, tanpa berfikir tentang bagaimana benda tersebut bekerja, mereka juga mencintai mobilitas yang tinggi, modern nomadic, bukan hanya sekedar antar hutan bahkan antar negara.

Kita juga perlu memahami future trend karena kita akan berjalan ke depan, agar kita dapat menyiapkan diri. Kita tidak dapat menghilangkan persoalan, namun dengan persiapan kita dapat menyelesaikan persoalan itu, mirip filosofi payung. Tanpa mengetahui masa depan kita hanya akan menjadi expired generation.

Kemampuan pengambilan keputusan juga harus terus diasah, karena tingkat kompleksitas permasalahan dan kecepatan waktu yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan harus lebih baik. Dalam bukunya “age of discovey” Ian Goldin menyebutkan bahwa social complexity akan melaju lebih banyak dibandingkan dengan cognitive capacity. Trendi grafiknya bahwa kelompok kreatif bertambah naik, jika kita tidak kreatif maka kita akan termarjinalkan.

Lalu apa yg harus kita siapkan menghadapi masalah ini? Tentunya yang pertama adalah ilmu, amal dan amal salih. Kemudian selain itu adalah higher order thinking. Yaitu analyzing, evaluating, dan creating. Maka untuk itu dibutuhkan sikap kritis agar menjadi kreatif.

Tahun 2045 di akhir seabad Indonesia kita perlu untuk investasi SDM yang besar-besaran dan berkeadilan. Agar berkah demografis dan trendi pergerakan ekonomi dunia menjadi bonus bukan bencana. Dan itu, dinilai dari 2010 hingga 2040, ketika kita sedang dan masih memiliki bonus demografi.

Setelah kita tahu tantangannya, kita memilki empat agenda utama; kemiskinan, ketidaktahuan, keterbelakangan peradaban, dan ketidakadilan. Maka beliau berpesan, “Jadi pemimpin itu bukan sekedar memegang prinsip kebenaran, namun juga kebaikan dan keindahan, (logika, etika, estetika), oleh karenanya dinamakan kebijakan. Maka kelak kalau anak-anak PPI menjadi pemimpin, bijak dan santunlah terhadap kaum dhuafa”. Dengan 87% jumlah penduduk muslim hanya 1 orang yang menduduki peringkat 10 terkaya dunia. Sebab seperti kata beliau, “Pendidikan adalah sitem rekayasa sosial terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan, keharkatan, dan kemartabatan”

Dan yang terpenting adalah menaikkan pendekatan kita dari hindsight menuju insight menuju foresight. Descriptive analytics, diagnostic analytics, predictive analytics, prescriptive analytics. Karena yang kita butuhkan adalah menyiapkan leader, manager, dan entrepreneur. Untuk itu beliau berpesan khusus kepada para delegasi simposium, “PPI Timur Tengah dan Afrika haruslah menjadi generasi pemungkin (enabler)”.

Pembicara kedua adalah Bapak Prof. Dr. Gumilar Rusliwa Somantri. Beliau membacakan sebuah narasi tentang kondisi Indonesia kini dan masa depan. Membaca masa depan di tahun 2045, terdapat tiga skenario yang sering dikemukakan;  optimistik, pesimistik, dan realistik. Namun kita tentu berharap kepada skenario optimistik. Meskipun di sana-sini terdapat banyak problematika yang merisaukan dan dikhawatirkan menjadi mimpi buruk demografis di masa mendatang. Terlebih selain masalah di dalam negeri, Indonesia juga jamak menjadi incaran kepentingan-kepentingan asing, sudah barang tentu tindakan mereka akan dirasakan melalui aksi politik, pendidikan dan budaya. Terlebih dengan perubahan kutub kekuatan dunia, dan kemajuan beberapa negara Asia dalam mencuri start menghadapi masa depan, terkhusus China dan Jepang. Negara-negara Asean juga semakin kompetitif meskipun masih dilanda beberapa masalah budaya dan sosial.

Strategi yang tak kalah penting untuk menghadapi ini, adalah merubah paradigma pembangunan yang berbasis SDA menjadi basis SDM. Dan juga menabuh genderang perang menghadapi radikalisme kiri dan kanan, memperkuat pondasi ekonomi, menghadapi upaya perusakan generasi baru, dan yang terpenting adalah mempersiapkan diri menghadapi era energi kinetis dan era digital.

Sebelum sesi tanya-jawab, Pak Mahfud MD pembicara pada panel pertama, sempat ikut memberikan pesan dan nasehatnya sebagai konklusi akhir dari seluruh materi yang telah disampaikan oleh para narasumber, beliau berpesan, “intinya adalah optimis dan tidak takut gagal”.

Acara  selanjutnya adalah presentasi paper yang ditulis oleh para delegasi.  Yaitu pemaparan 15 paper yang telah dibuat oleh para delegasi, Presentasi dibagi dalam empat panel. Panel Sosial dan Budaya dimoderasi oleh Muhammad Herika Taki, mahasiswa S3 King Abdulaziz University-Jeddah. Panel Politik dimoderasi oleh Farichatus Sholichah, mahasiswi Sastra Arab, fakultas Ilmu Budaya UGM-Yogyakarta. Panel Agama dimoderasi oleh Muhammad Usman Ilyas, mahasiswa UNISULA-Semarang. Dan terakhir Panel Ekonomi yang dimoderasi oleh Sifak Nikmatul Fitri, mahasiswi profesi ilmu Kedokteran UGM-Yogyakarta.

Selepas istirahat siang, dimulailah acara sidang komisi Simposium PPI Timtengka, dipimpin oleh Steering Committee, yang disi oleh Saleh Al-Djufri delegasi PPI Sudan sebagai ketua sidang satu, Muhammad Prabasworo Jihwakir delegasi PPMI Arab Saudi sebagai ketua sidang dua, dan Ahmad Syauqi delegasi Indonesia sebagai ketua sidang tiga. Dalam sidang ini diawali dengan perumusan Deklarasi Madinah, sebagai hasil seruan dan simpulan para peserta Simposium Kawasan PPI Timur Tengah dan Afrika. “Deklarasi ini adalah penentuan sikap kami para anggota peserta simposium” ujar Saleh Al Jufri ketua satu. Sementara pembacaan Draf Deklarasi Madinah disampaikan oleh Ahmad Syauqi sebagai ketua tiga. Kemudian sidang dibuka dengan ketukan palu oleh pemimpin sidang Saleh Al Jufri.

Kemudian sesi perumusan dan pengesahan dilalui dengan pembacaan setiap paragraf dan poin-poin naskah deklarasi oleh Muhammad Prabasworo Jihwakir ketua dua, dan menerima masukan serta pandangan dari para peserta Simposium per bagian naskah Draf Deklarasi.

Terjadi beberapa perubahan dalam muatan draf naskah deklarasi, meskipun secara umum hanya perubahan redaksional bukan substansial. Namun tetap saja membutuhkan banyak waktu karena banyaknya peserta yang melakukan interupsi dan memberikan masukan, bahkan membutuhkan beberapa kali penambahan waktu.

Acara dilanjutkan dengan penyampaian prakata dan laporan pertanggungjawaban Ketua PPI Timur Tengah dan Afrika, yang disampaikan oleh Saleh Al-Djufri delegasi PPMI Sudan, mewakili Ketua yang berhalangan hadir Kiagus Ahmad Firdaus. Selanjutnya adalah pembacaan Deklarasi Madinah yang dibacakan oleh Sekjen PPMI Arab Saudi sekaligus Ketua Sidang, yang diaminkan dan dikumandangkan ulang oleh seluruh peserta simposium, ikut bersama mereka juga Dubes LBBP untuk KSA dan OKI, Bapak Drs. Agus Maftuh Abegebriel beserta jajarannya, diantaranya Bapak Basuni Imamuddin Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Riyadh, dan Bapak Muhibuddin M Thaib Atase Hukum dan HAM KBRI Riyadh. Kemudian diakhiri dengan penandatangan Deklarasi Madinah oleh seluruh Ketua PPI Negara anggota PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika, tanda disahkannya Deklarasi Madinah tersebut.

Acara Simposium selanjutnya ditutup secara seremonial oleh Dubes LBBP untuk KSA dan OKI, Bapak Drs. Agus Maftuh Abegabriel. Beliau menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya atas terselenggaranya Simposium ini, bahkan beliau rela mempersingkat kunjungan kerjanya di Belanda dan Belgia, yang seharusnya baru berakhir hari ini, namun beliau justru memilih untuk menghadiri dan membuka Simposium ini dan menutupnya. Beliau mengatakan tentang para mahasiswa peserta Simposium ini, “kalian semua ini adalah generasi-genarsi yang akan memimpin Indonesia”. Beliau juga berkomentar tentang Deklarasi Madinah, “ini adalah deklarasi yang luar biasa, terlebih ketika ia ditandatangani di Kota Rasulullah, dan dari sini lah pesan-pesan ini akan menjadi ‘aalamiyyah alias mengglobal”. Dan terakhir beliau menutup prakatanya dengan pesan, “from here we start and change”.

Dengan ini, acara secara resmi ditutup, dan hanya menyisakan sesi sidang perumusan rekomendasi empat komisi, komisi agama, komisi pendidikan dan kebudayaan, komisi politik dan hukum, dan komisi ekonomi. Tepat dengan masuknya waktu salat magrib, acara sidang komisi juga ikut selesai. Dan berakhirlah sudah acara inti Simposium Kawasan PPI Timur Tengah – Afrika 2017 di Kota Madinah. (Red: Izzy, Ed: Adam)

Galeri Foto: (Sumber: sie. Media Simposium Timtengka Madinah 2017)

 

 

Categories
Pojok Opini Suara Anak Bangsa

Diskusi Hari Penyiaran Nasional dengan RRI Voice of Indonesia

Dengan banyaknya media penyiaran yang tersebar di seluruh Indonesia, perlu sudut pandang kritis dari para pendengar untuk menyaring informasi yang dipaparkan. Dalam kesempatan ini, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) menghadirkan, Nadhira Zhafirany (Koordinator Biro Pers PPI Dunia 2016/2017) dan Aprilia Sasmar Putri (Radio PPI Dunia), masing-masing dalam program RRI Voice of Indonesia Youth Forum dan Kami Yang Muda pada tanggal 3 April 2017 masing-masing pada pukul 10.30 WIB dan 11.30 WIB.

Dalam program Youth Forum, Nadhira  mengatakan, “berbagai media penyiaran tersebar di Indonesia seperti televisi, radio, dan bahkan internet untuk memperoleh berita dengan tercepat. Media Indonesia sedang dalam perkembangan pesat dengan beragamnya berita yang disajikan menuju ke arah yang positif.”

“Media diharapkan lebih teliti dan netral dalam menyajikan seluruh informasi yang diterima, dengan mengesampingkan berita yang tidak benar atau hoax. Penerima berita sendiri juga harus lebih kritis dalam menanggapi berita yang masuk dengan banyaknya media yang menyiarkan berita,” lanjut mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan di Belgia tersebut.

Dalam program Kami Yang Muda, April berkata bahwa, “radio lebih bersifat auditori dan televisi bersifat visual. Yang paling menarik adalah internet, seperti menggabungkan media visual dan auditori. Di Indonesia, konten sudah bervariasi hanya saja perlu pembenahan beberapa konten agar tidak terlalu bersifat marketing atau pro ke satu sisi.”

“Pendengar harus bersifat proaktif dan memberikan kritik atau saran bila ada siaran yang perlu pembenahan. Penyiar juga diharapkan menganalisis secara cermat dan menyajikan konten dengan tepat,”ujar mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan di Belanda tersebut.

Menurut Nadhira dan April, harapan ke depan adalah media lebih positif dan netral dalam menyajikan berita. Tidak lupa apresiasi juga kepada para wartawan atau tim penyiaran yang telah memberikan penyajian berita yang berkualitas. Tetap maju media penyiaran Indonesia!

 

(Red CA, Ed F)

Categories
Inspirasi Dunia Pojok Opini Suara Anak Bangsa

Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri: Apakah hanya sebagai organisasi sosial (dan pesta dansa) ?

Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri atau lebih dikenal dengan nama Perhimpunan Indonesia (PI) pertama kali didirikan di Belanda. PI inilah cikal bakal dari PPI. Awal didirikannya PI hanya sekedar untuk menyelenggarakan pesta dansa dan berbagai aktivitas sosial lain bagi diaspora Indonesia. Pelan namun pasti, Tjipto Mangoenkoesumo dan Soewardi Soerjaningrat mulai bisa menanamkan kesadaran akan pentingnya nasionalisme ke dalam organisasi. Haluan PI benar-benar berubah di awal tahun 1920-an terjadi tren gelombang kedatangan pelajar tanah air yang menuntut ilmu di Belanda. Beberapa diantaranya adalah Iwa Koesoemasoemantri, Achmad Soebardjo, Mohammad Hatta, dan Ali Sastroamidjojo. Kelak, mereka semua mempunyai peran penting bagi republik yang baru terbentuk. Mahasiswa-mahasiswa berusia 19-22 tahun yang sebagian besar mengandalkan kiriman uang dari keluarganya itu, mengambil sikap berani. Selain merumuskan prinsip-prinsip dasar organisasi yang terang-terangan menuntut kemerdekaan, buletin PPI “Indonesia Merdeka” diubah menjadi corong pemikiran golongan terpelajar dalam menentang kolonialisme.

“Indonesia Merdeka” merupakan kumpulan gagasan mahasiswa-mahasiswa Indonesia di luar negeri, yang bertujuan mengedukasi rakyat Indonesia. Di masa itu, metode semacam ini adalah cara perjuangan yang baru di tanah air. Selama ini, perjuangan yang dikenal adalah dengan pengerahan massa, dimana pergerakan terlalu bergantung pada figur pemimpin kharismatik, seperti Imam Bonjol, Hasanuddin, atau Diponegoro. Cara lama tersebut terbukti kurang berhasil.

Alih-alih mengandalkan satu orang Diponegoro, PI percaya bahwa akan lebih baik jika menyiapkan anggota-anggotanya untuk menjadi banyak Diponegoro dengan kualitas intelektual dan kepemimpinan yang setara. Tidak hanya di dalam negeri, PI juga berusaha membuka mata internasional tentang kejamnya kolonialisme di Hindia Belanda. Usaha tersebut dilakukan lewat pengiriman delegasi ke konferensi-konferensi yang diselenggarakan oleh Liga Melawan Imperialisme di berbagai negara di Eropa saat itu.

Berbagai macam upaya PI membuahkan hasil. Buktinya, Pemerintah Kolonial mulai waspada. Tulisan Hatta dan para aktivis PI rupanya dianggap lebih tajam dari pedang Diponegoro. Kalau Diponegoro gugur, perang akan usai. Tetapi, gagasan Hatta bakal tetap menjadi bahan perjuangan walaupun penulisnya sudah tiada. Tahun 1927, Hatta yang saat itu menjabat sebagai ketua, dan beberapa koleganya petinggi PI, dijebloskan ke Penjara Rotterdam. Di persidangan, Hatta membacakan pembelaannya yang berjudul “Indonesie Vrij”. Kelak pemikiran Hatta ini menjadi semacam bahan bacaan wajib bagi para aktivis di masa persiapan kemerdekaan.

Kembali ke organisasi sosial

Hampir satu abad kemudian, PI telah berubah nama menjadi PPI dan beranak-pinak di lebih dari 20 negara. Ditambah dengan organisasi serupa di kota-kota, jumlahnya mencapai ratusan. Masifnya perkembangan PPI disebabkan oleh tren yang sama dengan di jaman Hatta dulu, yaitu gelombang kedatangan pelajar Indonesia ke luar negeri. Tidak hanya mahasiswa pascasarjana yang menggunakan beasiswa, mahasiswa sarjana yang studi di luar negeri dengan dana pribadi pun jumlahnya cukup signifikan.

Setelah melewati berbagai proses, PPI telah berevolusi. Gagasan progresif menjadi barang langka di PPI belakangan ini. Sebaliknya, PPI telah bergeser perannya dan berputar kembali ke masa awal berdirinya dulu, yaitu sebagai organisasi sosial (dan pesta dansa).

PPI yang sekarang bisa dibilang adalah kepanjangan tangan dari KBRI/Konjen untuk melayani diaspora Indonesia. Berbagai informasi dan bantuan untuk pelajar Indonesia disediakan dengan baik. Begitu pula berbagai macam aktivitas untuk membuat pelajar betah di perantauan diselenggarakan, misalnya olahraga dan silaturahmi. Selain itu, beberapa PPI cukup giat untuk memperkenalkan budaya Indonesia bagi warga internasional.

Sudah barang tentu PPI harus mendapatkan apresiasi atas berbagai usaha yang telah mereka lakukan selama ini, karena acara-acara tersebut turut menjadi promosi tentang Indonesia bagi mata dunia. Namun, keengganan PPI untuk secara progresif memberikan gagasan untuk Indonesia seperti para pendahulunya patut disayangkan. Padahal, secara sumber daya PPI jelas mampu. Banyak mahasiswa pascasarjana berasal dari kalangan akademisi dan birokrat pemerintah, mestinya pemahaman mereka terhadap kondisi Indonesia cukup mendalam. Sedangkan mahasiswa jenjang sarjana, secara intelektualitas jelas mereka adalah orang-orang yang terpilih.

Sebetulnya segala macam bentuk aktivitas yang dipilih oleh PPI ataupun setiap individu diaspora Indonesia adalah hak masing-masing. Dulu pun di jaman Hatta, ada anggota PPI yang terang-terangan tidak ingin terlibat aktif, dengan berbagai alasan; fokus studi, beda prinsip, dan terlebih adalah keselamatan. Orang-orang semacam ini, walaupun mendapatkan stigma negatif, tetap sah untuk menjalankan pilihannya. Tetapi seperti yang Hatta bilang, jika bisa menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk negara, itu lebih bermanfaat.

Kita merindukan gagasan-gagasan yang  seperti dituangkan dalam majalah “Indonesia Merdeka” seperti di zaman bung Hatta. Gagasan-gagasan yang dikaji dengan serius dan mendalam untuk mengedukasi rakyat Indonesia. Penjajahan dan kolonialisme memang sudah tiada di tanah air. Namun seperti yang kita tahu, masih banyak sekali permasalahan yang terjadi di Indonesia, mulai dari hukum, ekonomi, teknologi, maupun manajemen pendidikan tinggi. Salah satu bentuk moral adalah perhatian PPI terhadap permasalahan-permasalahan nasional tersebut. Perhatian itu disampaikan dalam bentuk kritik dan gagasan bagi pemerintah dan pihak-pihak yang bisa menentukan haluan kebijakan tanah air. Tentu saja kritik-kritik tersebut bukanlah dimaksudkan untuk mengumbar kebencian atau argumen tanpa dasar. Justru itu adalah wujud dari kecintaan seorang yang melek ilmu akan kemajuan bangsanya.

Memang, saat ini banyak PPI telah menyelenggarakan diskusi-diskusi ilmiah. Meskipun bagus, misinya belum terlalu jelas dalam kaitannya dengan politik moral. Selain itu, materi yang disampaikan dalam diskusi tersebut biasanya adalah seputar topik penelitian dari mahasiswa, sehingga tidak terlalu membumi untuk bisa dicerna oleh semua khalayak di tanah air. Terlebih lagi, media penyampaiannya masih berupa diskusi atau seminar. Padahal, cara penyampaian yang paling bisa bertahan lama adalah dalam bentuk opini/gagasan yang dituangkan dalam media tulisan yang bisa dipelajari, disanggah, atau didiskusikan.

Usaha semacam ini mungkin sekarang memang tidak populer. Tetapi untuk membawa bangsa Indonesia menuju gerbang kemakmuran, kaum terpelajar memang tidak cukup hanya dengan berpangku tangan.

Ditulis Oleh Rully Tri Cahyono & Hatta Bagus Himawan

Page 1 of 4
1 2 3 4