Categories
Festival Luar Negeri

Hebohnya Arek Malang dalam Parade Beasiswa 2018 Universitas Brawijaya

Salah satu kata kunci yang kerap digunakan mahasiswa dan calon mahasiswa ketika berselancar di dunia maya adalah “beasiswa”. Melanjutkan pendidikan tinggi dengan beasiswa merupakan impian sebagian besar mahasiswa dan calon mahasiswa saat ini. Semakin terbukanya informasi mengenai beasiswa tentunya akan diikuti pula oleh jumlah pendaftar beasiswa. Sebagai konsekuensinya, pemberi beasiswa juga semakin selektif dalam menyeleksi calon penerima beasiswa. Sehingga setiap mahasiswa yang ingin mencoba mendapatkan beasiswa harus memiliki strategi-strategi tertentu agar dapat dinyatakan lolos seleksi penerimaan beasiswa.

Kebutuhan informasi yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan mengenai beasiswa menjadi dasar diselenggarakannya Parade Beasiswa 2018 oleh Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya (EM UB). Parade Beasiswa 2018 diharapkan menjadi wadah kepada seluruh mahasiswa yang ada di Kota Malang dan sekitarnya, khususnya mahasiswa Universitas Brawijaya untuk mendapatkan informasi mengenai beasiswa dalam maupun luar negeri. Tema “Create A Better Future Through Scholarship” dipilih dengan tujuan memberikan informasi terkait beasiswa S1 dan S2 baik dalam negeri maupun luar negeri, mempermudah mahasiswa dalam mengakses prosedur beasiswa, dan melatih mahasiswa dalam ujian bahasa Inggris. Tidak seperti pameran beasiswa pada umumnya, kegiatan yang telah sukses diselenggarakan pada tanggal 24- 25 November 2018 ini juga dirangkai dengan kegiatan tes TOEFL secara langsung. Kegiatan yang diselenggarakan di GOR Pertamina Universitas Brawijaya ini telah sukses menarik minat 925 peserta dari sekitar 1000 pendaftar.

Sesi seminar pada Parade Beasiswa 2018, Universitas Brawijaya (doc. panitia)

Muhammad Rafid Zuhdi, panitia kegiatan Parade Beasiswa 2018 yang berhasil dihubungi tim Media Felari PPI Dunia menuturkan bahwa kegiatan Pameran Beasiswa 2018 dikemas dengan 3 rangkaian acara yang meliputi Tes TOEFL, Seminar Beasiswa dan Expo Beasiswa (S1 dan S2) baik dalam maupun luar negeri. Pemateri yang dihadirkan adalah Tasya Kamila selaku penerima beasiswa LPDP, dan Abdul Jabbar Jawwadurrahman alumni Universitas Brawijaya. Sementara delegasi PPI Dunia, Novi yang adalah anggota PPI Belanda. “Parade Beasiswa 2018 ini merupakan perdana ditahun 2018, dan kemungkinan besar akan terus berlanjut di tahun mendatang melihat antusiasme mahasiswa dalam meraih beasiswa sangatlah besar.” Kata Rafid. Masih menurut Rafid stand PPI Dunia yang dijaga oleh Novi sangat ramai diserbu peserta yang ingin tahu mengenai informasi beasiswa khususnya negara Belanda, dan kehidupan mahasiswa selama menempuh studi di luar negeri.

Novi, delegasi PPID menjawab antusiasme pengunjung di stand PPID (doc PPID)

“Secara keseluruhan kegiatan telah memenuhi target, dan panitia akan memperbaiki beberapa kekurangan untuk kegiatan mendatang”, Rafid menutup bincang-bincang dengan tim Media. Satu hal yang heboh di kegiatan ini adalah secara kebetulan pemateri Tasya Kamila berulang tahun pada hari tersebut sehingga dirayakan oleh peserta di atas panggung. Baiklah selamat berburu beasiswa untuk arek Malang dan selamat ulang tahun, Tasya!***

 

Ingin juga bekerja sama membuat Edufair atau mengikutsertakan delegasi narasumber dari PPI Dunia?

Informasi lebih lanjut dapat dilihat di http://bit.ly/dokumenpartnershipfelari1819 atau segera isi formulirnya di http://bit.ly/kerjabarengfelari.

Artikel ini ditulis oleh Margaretta Christita, Tim Media Divisi Festival Luar Negeri PPID 2018/2019 (felari@ppidunia.org)

Categories
Berita Eropa dan Amerika PPI Negara

Hasta Luego, Ibu Yuli Mumpuni Widarso, Dubes Indonesia Untuk Spanyol (2014-2017)

Rombongan pelajar dan masyarakat Indonesia mengiringi kepulangan Ibu Yuli ke tanah air

 

SPANYOL – Energik, Egaliter dan Terbuka. Itulah kesan kami terhadap Ibu Yuli Mumpuni Widarso yang telah menyelesaikan masa baktinya sebagai Duta Besar Indonesia untuk Spanyol tahun ini. Beramai-ramai warga negara Indonesia di Madrid, mulai dari pegawai Kedutaan Besar Indonesia (KBRI), Duta Besar negara-negara ASEAN, tenaga kerja Indonesia, sampai pelajar Indonesia di Madrid ikut melepas kepergian beliau di Bandara Internasional Barajas – Madrid pada Kamis siang pukul 13.00 waktu setempat. Tangis haru dan syahdu tak lagi terbendung dan menyelimuti suasana perpisahan dengan beliau di area check in bernomor 155-160.

Sebelumnya, acara perpisahan juga diselenggarakan oleh Kuasa Usaha AD Interim Sementara, Bapak Adi Priyanto satu hari sebelum keberangkatan Ibu Yuli.  di Ruang Satya Loka, KBRI Madrid. Pada acara tersebut, semua perwakilan menyampaikan pesan dan kesan kepada Ibu Yuli selama bertugas menjadi Duta Besar Indonesia di Madrid. Idham Badruzaman yang merupakan perwakilan dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Spanyol menyampaikan 3 pokok penting dalam sambutannya, yaitu PPI Bernaung, PPI Berkarya dan PPI Berjaya. Di awal kedatangan Ibu Yuli ke Madrid, dukungan luar biasa terus diberikan meskipun jumlah PPI tidak banyak. Hal itu memberikan dampak yang luar biasa terhadap keberlangsungan organisasi PPI dalam naungan beliau di Tanah Matador. Kemudian, dalam setiap kesempatan, PPI selalu dilibatkan sehingga tidak jarang Ibu Yuli memberikan inspirasi bagi pelajar Indonesia untuk berkarya dan berkontribusi untuk Indonesia di perantauan. PPI bisa berjaya terlepas dari keterbatasan dan kekurangan, di antaranya adalah: anggota PPI Spanyol turut aktif dalam organisasi induk PPI, yaitu PPI Amerika dan Eropa dan PPI Dunia. Selain itu, PPI Spanyol akan mencatat sejarah pada Maret 2018 dengan menyelenggarakan Konferensi Internasional pertama (setelah pendiriannya di tahun 2004) yang dihadiri oleh peserta dari lima benua dan ratusan institusi di dunia.

Pukul 13.15 waktu setempat, tampak lima Duta Besar negara-negara ASEAN telah lengkap berkumpul di bandara. Satu persatu menyalami dan memeluk Bu Yuli beberapa saat sebelum pesawat Saudi Arabia Airlines membawanya ke Jakarta. Kelima Duta Besar ini menjadi sangat dekat satu sama lain karena ASEAN Committee Madrid (ACM) di mana Ibu Yuli merupakan salah satu inisiatornya pada tahun 2014. Pasca ACM terbentuk, kelimanya sering kali mengadakan acara bersama untuk bahu-membahu mengenalkan ASEAN secara serentak. Ini barangkali satu dari banyak pencapaian Ibu Yuli sebagai Duta Besar di Spanyol.

Terkesan sangat energik, karena networking yang beliau bangun tidak hanya dalam lingkup ASEAN, mempersatukan negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim juga dilakukannya. Hal ini tentu senada dengan kebijakan pemerintah Indonesia secara umum, selain menjalin hubungan dengan negara-negara di Asia Tenggara dalam wadah ASEAN, Indonesia juga menjalin hubungan yang baik dengan negara-negara bermayoritas penduduk Muslim dalam wadah Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Sebagai seorang Duta Besar, beliau terkenal egaliter dan terbuka di mata masyarakat Indonesia di Spanyol. Tidak jarang warga negara Indonesia di Spanyol diundang dan dijamu baik di KBRI maupun di Wisma Duta Indonesia, rumah dinas beliau sebagai Duta Besar. Hal ini tentu memberikan dampak positif bagi warga negara Indonesia secara khusus, dan Keluarga Cinta Indonesia yang merupakan paguyuban warga negara Indonesia di Spanyol dapat berkembang dengan sangat baik dengan dukungan beliau.

Kami tidak berkata Adios (selamat jalan) karena kami yakin akan kembali bertemu dalam kesempatan berikutnya baik di Indonesia maupun di negara lain. Oleh karena itu, kami memilih berujar Hasta Luego (sampai jumpa lagi) Ibu Yuli. Pengabdianmu selama ini akan terus menginspirasi, memberikan manfaat dan dikenang. Hasta Luego, Ibu Yuli.**

 

Penulis: 

Idham Badruzaman adalah mahasiswa doktoral bidang Hubungan Internasional di Universitat Autónoma de Madrid, Penerima Beasiswa LPDP dan ketua PPI Spanyol periode 2012-2014.

Editor: Kartika Restu Susilo

Categories
PPI Dunia Travel & Kuliner Wawasan Dunia

Melihat Dunia dan Memaknai Perjalanan Melalui Soul Travellers

Apa jadinya jika 39 penulis muda berkebangsaan Indonesia berkolaborasi menceritakan pengalaman mereka bertualang ke seluruh penjuru dunia? Jadilah sebuah antologi berjudul Soul Travellers: Turning Miles Into Memories yang sejak Agustus lalu sudah diterbitkan oleh Penerbit Grasindo!

Yang membedakan Soul Travellers dengan antologi traveling lainnya adalah setiap kontributor punya cara mereka sendiri untuk mengekspresikan makna di balik perjalanan mereka. Bukan hanya sebagai bagian cerita dari  sebuah pelesiran, namun juga pengalaman mereka saat melakukan business trip, menghadiri conference, ataupun potongan kisah saat tinggal di luar negeri. Maklum, hampir semua penulis Soul Travellers adalah anak muda Indonesia yang berkesempatan mengenyam pendidikan di luar negeri, beberapa di antaranya bahkan adalah peraih beasiswa seperti LPDP, Erasmus, maupun AAS Australia.

Adalah Andre Mokalu, awardee beasiswa Spirit Kemenkeu Bappenas yang memprakarsai penerbitan antologi ini. Andre yang juga aktif di PPI Birmingham awalnya mengajak lima temannya, sebelum akhirnya terkumpullah 39 kontributor dari berbagai latar belakang dan domisili berbeda-beda di seluruh dunia. “Pembuatan kompilasi esai ini bertujuan untuk berbagi semangat dan inspirasi kepada generasi muda Indonesia untuk travelling abroad dan finding the meaning of life sebagai proses pendewasaan”, demikian yang menjadi tujuan Andre di balik pembuatan Soul Travellers. Diakuinya juga, tantangan terbesar adalah mengakali komunikasi jarak jauh kepada teman-teman kontributor yang saat ini masih tersebar tinggalnya, mulai dari Australia yang dekat dengan Indonesia hingga Islandia yang jauh di utara sana.

Stand Soul Travellers di 4th Congress of Indonesian Diaspora 2017

Banyak teman-teman PPI Dunia yang juga menuangkan kisahnya di Soul Travellers. Sebut saja Intan Irani, Koordinator PPI Dunia 2016-2017 yang menceritakan pengalamannya mencari kedamaian bathin di India. Atau petualangan mewujudkan khayalan masa kecil mengunjungi kastil Dracula di Rumania yang dilakukan Steven Guntur yang juga Koordinator PPI Dunia 2015-2016. “Traveling adalah sebuah cara untuk mengakui kebesaran Tuhan. Bukan sekedar mengagumi ciptaan-Nya, tapi juga menyerahkan semua hal yang sudah direncanakan selama perjalanan di tangan-Nya”, kata Jeanne, koordinator travel contributor PPI Dunia yang dalam Soul Travellers menceritakan kisahnya bertemu tukang becak yang menyentuh hati di Myanmar.

Sudah dua bulan sejak penerbitannya dan Soul Travellers sudah terjual lebih dari 2000 eksemplar, lho! Hal ini membawanya menjadi nominasi untuk kategori Sampul Buku Non Fiksi Terfavorit di ajang Anugerah Pembaca Indonesia 2017 yang diselenggarakan oleh Goodreads Indonesia. Filosofi ‘Turning Miles Into Memories’ dituangkan Muhammad Fithrah, alumni STAN yang saat ini melanjutkan masternya di Universitas Brawijaya, ke dalam desain cover berbentuk otak yang terbuat dari jalan raya, menarik bukan?

Soft Launching Soul Travellers di Gramedia Central Park Jakarta, September 2017

Prof. Dr. Mardiasmo, MBA., Akt. selaku Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia juga ikut menuangkan testimoni untuk buku ini “Lakukan perjalanan terbaikmu untuk kembali ke negerimu, turut membangun bangsa ini dengan berbagai pengalamanmu untuk rumahmu, Indonesia”.

Soul Travellers dapat ditemukan di toko buku seluruh Indonesia serta melalui toko buku online. Seluruh hasil profit penjualan buku ini akan disumbangkan untuk Yayasan Kanker Indonesia. Bocorannya nih, bakal ada buku kedua yang berisi kisah makanan dari seluruh dunia yang rencananya akan rilis 14 Februari 2018 tahun depan. Stay tuned di Instagram @soultravellersid untuk info terbarunya ya!

Categories
Asia dan Oseania Berita Inspirasi Dunia PPI Negara

Seminar “Memilih yang Terbaik” Diadakan Di SRIT

Andy Sirait (keempat dari kiri), Prof. Josaphat (keenam dari kiri), Almira Shinantya (ketujuh dari kiri), Daniel Surya (kedelapan dari kiri)

 

TOKYO, 28 Oktober 2017 – Bertemakan “Memilih yang Terbaik”, KMKI selaku penyelenggara acara mengundang empat orang narasumber untuk membagikan ilmu dan pengalaman masing-masing. 

            Acara yang dimulai pada pukul 12:30 waktu setempat itu menghadirkan empat orang narasumber: Andy Laver Sirait; Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo; Daniel Surya; dan Almira Shinantya. Menelisik biodata dari masing-masing narasumber, Andy Sirait saat ini bekerja di perusahaan yang didirikannya, Asia Strategic Human Capital sebagai headhunter yang bermarkas di Jakarta dan Tokyo. Sementara itu, nama Prof. Josaphat pastinya sudah tidak asing lagi di telinga para akademisi. Beliau adalah professor tetap di Chiba University yang berkonsentrasi pada bidang Remote Sensing. Lalu, Daniel Surya adalah CEO dari WIR Group, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang creative technology. Sedangkan Almira Shinantya adalah managing director dari DM ID, sebuah firma konsultan yang bergerak pada perencanaan pemasaran.

Sebagai pembicara pertama, Andy Laver Sirait menekankan suatu poin penting mengenai perencanaan. Dihadapan para hadirin beliau berkata “Those who fail to plan, plan to fail”. Sebegitu pentingnyalah perencanaan bagi tiap individu, sehingga harus dipikirkan matang-matang sedari jauh hari. Hal itu juga merupakan sebuah permasalahan bagi anak-anak Indonesia. Pada kesempatan terpisah, Andy mengakui bahwa keadaan di Indonesia kurang mendukung anak-anak untuk membuat rencana yang matang. Misalnya dalam banyak hal di Jepang, sudah direncanakan dengan tepat seperti jadwal ketibaan kereta/bus, jadwal janji temu, atau jadwal acara. Di Indonesia yang lebih fleksibel, sangat sulit untuk membuat perencanaan matang karena terganjal oleh berbagai faktor yang dapat menyebabkan pergeseran. Di luar semua itu, Andy juga menegaskan pentingnya arah dibandingkan jarak. Meskipun untuk menuntaskan sesuatu memakan banyak waktu, tetaplah fokus pada tujuan karena pada akhirnya, ke sanalah tercapainya impian Anda.

 

Teknologi mutakhir

Berselang lima menit, sesi berikutnya dilanjutkan oleh Prof. Josaphat. Pendiri dari Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL) dengan teknologi paling mutakhir itu bercerita masa-masa awal saat menginjakan kaki di Jepang. Kala itu beliau menerima beasiswa Science and Technology Manpower Development Program (STMDP) II pada masa mantan presiden Habibie menjabat sebagai Menristek. Selepas kelulusannya dari Kanazawa University dan memperoleh gelar pasca sarjana, Prof. Josaphat melanjutkan pendidikan doktoral ke Chiba University. Dari sanalah perjalanannya hingga menjadi profesor tetap seperti sekarang berawal.

Prof. Josaphat saat menyampaikan materi

Salah satu terobosan yang dibuat Prof. Josaphat  di JMRSL adalah Synthetic Aperture Radar yang sampai saat ini hanya dapat diproduksi oleh Mitsubishi, NEC, dan JMRSL miliknya sendiri di Jepang. Kelebihan SAR ini adalah bobot minim tetapi kemampuan sepadan dengan yang sudah ada, bahkan lebih. Kegunaan utama SAR sebenarnya untuk pemetaan lahan, namun banyak juga manfaat lain. Misalnya dengan pemetaan lahan, kita dapat mengukur ketebalan tanah untuk perencanaan penanggulangan banjir di Jakarta atau penyelesaian masalah lahan gambut di Riau. Selain itu kita juga dapat melihat retakan atau pergeseran tanah, yang dapat digunakan untuk menilai aman atau tidaknya suatu bangunan. Namun, mungkin yang tidak terpikirkan, dengan melihat pergeseran tanah, kita dapat memprediksi gempa, sehingga dapat diantisipasi lebih awal. “Misalnya sebuah bangunan bergeser sebesar 1 cm saja di Surabaya, dengan radar ini saya dapat mengetahuinya langsung dari Jakarta,” kata Prof. Josaphat menggambarkan betapa besar manfaat teknologi ciptaannya.

Ada juga karya-karya lain Prof. Josaphat. Contohnya JX-1, sebuah UAV (Unmanned Aerial Vehicle) yang memiliki rentang sayap sepanjang enam meter. Ada pula satelit berbobot 150 kg yang diprediksi dapat menggantikan satelit konvensional dengan massa hingga sekian ton. Meskipun kini bermukim dan bekerja di Jepang, Prof. Josaphat tetap berkontribusi pada Indonesia, dan bahkan dunia. Radar tersebut merupakan impian beliau semenjak tumbuh berkembang di lingkungan AU. Kini, beliau telah berhasil mengubah mimpinya jadi nyata. Radar itu adalah janjinya pada sang ayah, dan juga sebuah karya untuk dimanfaatkan bagi kebaikan orang banyak.

Pembicara terakhir adalah duo Daniel Surya dan Almira Shinantya. Daniel khusus memimpin perusahaan di bidang teknologi kreatif. Salah satu teknologi yang digelutinya adalah Augmented Reality (AR). Perusahaan yang dinamainya WIR (We Indonesians Rule) Group itu pernah bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan terkemuka dunia semisal Caltex, Danone, Dutch Lady, dan Otsuka. Bahkan Daniel pernah diminta memasukkan teknologi AR ke merk pakaian milik Pharrell Williams, Billionaire Boys Club. Salah satu karyanya juga pernah memenangkan penghargaan bergengsi Auggie Awards untuk kategori Best Campaign pada Augmented World Expo tahun 2016.

Di sisi lain sebuah bisnis, satu hal yang tidak boleh terlupakan adalah pemasaran. Selain memperhatian sistem yang berjalan, perlu juga promosi agar khalayak luas tertarik pada apa yang dijual. Inilah bidang yang diurus oleh Almira selaku managing director DM ID, anak perusahaan WIR Group. Pada dasarnya, merek ada agar konsumen lebih mudah menentukan pilihan. Namun, Almira menjabarkan lebih jauh lagi. Ada empat tujuan yang harus dicapai suatu merek, yakni: menciptakan gambaran, menimbulkan hubungan emosional; membangun rasa percaya terlepas logika; serta mendorong bisnis dan penjualan. Jika empat tujuan itu tercapai, maka dapat dikatakan bahwa maksud sang pembuat merek tersampaikan dengan baik.

Banyak ilmu yang dapat dipetik dari seminar di hari Minggu sore tersebut. Diharapkan para hadirin dapat mendapat pencerahan dan bekal pengetahuan untuk menjalani hidup.

 

Penulis: Theodorus Alvin

 

Editor: Kartika Restu Susilo

Categories
Berita Inspirasi Dunia PPI Dunia Prestasi Anak Bangsa Suara Anak Bangsa Wawasan Dunia

Kuliah di Luar Negeri Memang Tidak Mudah, Tetapi Kata Menyerah Bukan Jalan Keluarnya

Menuntut ilmu di luar negeri merupakan keinginan banyak orang, berbagai macam alasan dan tujuan menjadi motivasi para pelajar Indonesia untuk menuntut ilmu di negeri orang. Hal tersebut bukanlah tidak mungkin, buktinya saja terdapat sekitar 86.420 mahasiswa Indonesia yang tersebar di 53 negara. Dengan jumlah yang sangat banyak ini, lima peringkat negara dengan jumlah terbanyak pelajar Indonesia adalah Australia, Tiongkok, Kanada, Malaysia, dan Britania Raya. Perjalanan yang ditempuh oleh para mahasiswa yang merantau di negara orang tentu tidak mudah, berbagai macam jenis kegagalan juga dihadapi, dan semua itu mereka ceritakan dalam satu buku.

Buku bertajuk 20 Kisah Perantau Ilmu yang ditulis oleh tim Perhimpunan Pelajar Indonesia di seluruh dunia menyajikan 20 kisah inspiratif pilihan dari para mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di berbagai negara. Beragam kisah dan perjuangan yang dikemas dengan menarik dapat menjadi referensi serta panduan bagi para mahasiswa dan pelajar yang bercita-cita untuk melanjutkan studi di luar negeri.

Setelah perilisan buku 20 Kisah Perantau Ilmu pada 2 Oktober 2017 yang lalu, peluncuran buku secara resmi baru dilaksanakan pada 20 Oktober 2017 di Gramedia Depok. Acara ini mendatangkan 4 narasumber yang merupakan penulis buku ini dan perwakilan BPH PPI Dunia, yaitu Ali Abdillah, Zakiyah Eke, Adi Hersuni, dan Ulfa Ryn. Hatta Bagus Himawan menjadi moderator acara tersebut.

Acara dibuka dengan kata sambutan dari Elexmedia selaku penerbit buku 20 Kisah Perantau Ilmu, lalu Adi Hersuni sebagai perwakilan BPH PPI Dunia, kemudian dilanjutkan oleh Ali Abdillah selaku perwakilan dari 20 penulis. Aninta, Adi dan Ali sepakat bahwa buku ini memberikan perspektif baru bagi pemburu kuliah ke luar negeri yang selalu menghadapi hambatan saat memperjuangkan mimpinya untuk kuliah di luar negeri. Selama ini, buku yang berada di pasaran cenderung lebih menonjolkan kisah sukses kuliah di luar negeri. Sebaliknya buku ini lebih menyoroti bagaimana kegagalan-kegagalan yang dihadapi oleh para penulis saat berburu kuliah ke luar negeri dan proses menjalaninya. Mereka juga menyampaikan bahwa kegagalan bukanlah hal yang luar biasa, untuk bisa kuliah ke luar negeri membutuhkan kerja keras, disiplin dan pantang menyerah dalam menghadapi masalah yang ada. Bahkan pada satu titik, kegagalan adalah kawan baik mereka. Mereka juga menambahkan, saat setelah lulus nanti jangan pernah lupakan negara Indonesia yang telah membesarkan kita.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan talkshow dan tanya jawab. Disini moderator, Hatta, memberikan beberapa pertanyaan kepada narasumber seputar proses mendapatkan beasiswa dan sekolah di luar negeri, dan proses menjalaninya. Beragam cerita disampaikan oleh para narasumber. Sebagai contoh Zakiyah Eke atau biasa dipanggil Eke, untuk dapat bisa meraih mimpinya Eke harus melalui jalan terjal dan berliku. Penolakan-penolakan dan kegagalan sudah menjadi makanan ia selama 3 tahun memperjuangkan mimpinya. Saat itu, Eke juga sedang bekerja saat proses mendaftar beasiswa sekolah ke luar negeri, sehingga ia harus putar otak dan membagi waktu untuk belajar dan mempersiapkan persyaratan kuliah di luar negeri seperti IELTS dan surat-surat lainnya. Khusus untuk
IELTS, Eke menyiapkan waktu tersendiri. Eke sengaja datang ke kantor 2 jam sebelum jam masuk kantor agar bisa belajar IELTS dan juga sepulang kerja Eke meluangkan waktu untuk belajar minimal 2 jam. Tetapi, ternyata kedisiplinan belajar tidaklah cukup, butuh dedikasi dan di sinilah kekuatan mimpi diuji. Tidak serta-merta Eke mendapatkan nilai IELTS yang cukup memenuhi syarat untuk mendaftarkan diri pada beasiswa atau sekolah yang diinginkan. Eke harus mengalami kegagalan 5 kali tes IELTS hingga tes ke 6 dapat membawanya kuliah ke luar negeri dengan beasiswa penuh dari pemerintah Belanda.

Lain lagi cerita dari Adi Hersuni, Adi harus menerima bahwa IPK S1 dia dibawah 3 (tiga). Tetapi hal tersebut belumlah cukup untuk memaksa Adi mengatakan kata menyerah dan mengubur asa kuliah di luar negeri. Adi berjuang dengan berbagai cara hingga harus menyiapkan waktu khusus setiap hari menyiapkan persyaratan ke luar negeri. Adi bercerita, setiap rehat kerja, dia selalu membuka buku persiapan IELTS bahkan tidak jarang Adi pergi ke mushola untuk bisa fokus belajar. Bahkan di tengah proses itu, Adi harus menghadapi kenyataan anak yang masih di dalam kandungan istrinya meninggal dunia. Tetapi lagi-lagi, hal itu tidaklah cukup kuat memendam asa Adi untuk dapat kuliah di luar negeri. Di akhir cerita, Birmingham University menjadi saksi perjuangan Adi yang tanpa kenal kata menyerah. Dan tahun ini, Adi telah pulang dari perantauan di tanah Britania Raya dengan membawa ijazah master-nya.

Kisah selanjutnya adalah tentang Ulfa, yang dihadapi Ulfa berbeda dengan yang lainnya. Izin orang tua yang menjadi kendala utamanya. Tetapi Ulfa bukanlah orang yang gampang mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Seribu satu cara telah difikirkan matang-matang olehnya. Alhasil summer course, conference dan exchange program telah membawanya menjejakkan kaki di universitas-universitas di luar eropa tanpa harus melanggar janji terhadap orang tua-nya.

Kisah terakhir dari Ali Abdillah, untuk menggapai mimpinya Ali harus menghadapi kenyaatan bahwa dialah sekarang yang menjadi kepala keluarga setelah ayahnya meninggalkan ia dan keluarganya 2 tahun sebelumnya. Praktis urusan pemasukan rumah tangga berada di pundak Ali. Disini mimpi Ali diuji dalam merealisasikan mimpi ayahnya untuk kuliah di luar negeri. Masalah boleh datang tapi ikhtiar tidak akan pernah bisa mengkhianati orang yang telah berusaha mati-matian. Sekarang, dia telah membuktikan diri, Leiden University telah ditaklukkannnya dan tentu mimpi-mimpi selanjutnya siap untuk ditaklukkannya.

Di akhir sesi, para narasumber berpesan bahwa saat kita sudah di luar negeri nanti dan sudah meraih mimpi kita nanti, jangan lupakan negeri ini. Banyak hal yang butuh diperbaiki. Memang negeri orang lain akan menawarkan beribu janji untuk perbaikan kehidupan. Tetapi, negeri sendiri selalu layak untuk diperjuangkan.

Narasumber :

– Ali Abdillah (Master – European Union law at Leiden Law School (Belanda), Sekjen PPI Belanda 2015, Ketua BEM UI 2013, Ketua BEM FHUI 2012).

– Zakiyah Eke (Master – Nutrition Epidemiology at Wageningen University & Research (Belanda), Ketua Divisi Humas PPI Belanda 2015).

– Adi Hersuni (Master – Materials Science & Engineering at University of Birmingham (Inggris), Ketua Kantor Komunikasi PPI Dunia 2017, Ketua BEM FTUI 2008, Ketua Ikatan Mahasiswa Metalurgi & Material FTUI 2007).

– Ulfa Ryn (Mobility- Software Engineering, UTeM (Malaysia)).

Moderator
Hatta Bagus Himawan (Master – Innovation management at TU Eindhoven (Belanda))

 

 

Categories
Asia dan Oseania Berita

All About Academic Campaign “Menembus Batas untuk Menggapai Untaian Mimpi”

Berbicara tentang cara meraih beasiswa banyak sekali tips dan trik yang dapat dipelajari bagi para mahasiswa, baik beasiswa dalam negeri maupun luar negeri. Namun bagaimana usaha seseorang untuk meraihnya adalah suatu hal yang harus diperhatikan jika sungguh-sungguh ingin menjadi salah satu bagian dari mahasiswa yang beruntung untuk berkesempatan meraih beasiswa. Sabtu, 7 Oktober 2017 BEM FEB UNS telah melangsungkan salah satu agenda dari rangkaian acara ECONOMIC WEEKS 2017 yang selalu dinanti-nanti para mahasiswa UNS yaitu sebuah seminar yang menghadirkan para peraih beasiswa yang mengisnpirasi. All About Academic Campaign adalah salah satu program kerja Kementrian Dalam Negeri yang bertujuan mengedukasi dan memberikan informasi seputar dunia beasiswa. Seminar Beasiswa ini diselenggarakan di Aula FEB UNS yang juga turut dihadiri jajaran dekanat FEB UNS.

 

Seminar beasiswa kali ini mengusung tema “Menembus Batas untuk Menggapai Untaian Mimpi” yang mengupas tentang bagaimana sebagai seorang mahasiswa mengoptimalkan usaha mereka untuk menembus batas nyaman demi mencapai cita-cita sukses meraih beasiswa. Para peraih beasiswa yang diundang dalam seminar beasiswa ini adalah Muhammad Abdullah ‘Azzam ( Mawapress FEB UNS 2016, peraih Beasiswa Aktivis Nusatara Dompet Dhuafa, Beasiswa PPA, dan peraih Beasiswa Unggulan Supersemar), Putu Gede Oka Mahendra ( Mawapres FK 2014, penerima beasiswa PPA, dan Beasiswa EGC), dan M Imdad Azizy (Secretary General PPMI Mesir 2016 dan Leader of Symposium International PPI Dunia 2016) dengan dipandu oleh seorang moderator yang pernah menjabat sebagai Presiden BEM FEB UNS tahun 2015 yaitu Christina Indrawati, S.E.

 

Dalam rangkaian acara seminar beasiswa ini Muhammad Abdullah ‘Azzam menjelaskan bahwa jika ingin menjadi mahasiswa yang terbaik, harus menjadi kartu AS dengan arti harus memiliki IPK tinggi, aktif di berbagai kegiatan dan dapat diandalkan sehingga lebih mudah berusaha meraih beasiswa. Tak lupa para pembicara memaparkan berkas-berkas apa saja yang harus dipersiapkan para pemburu beasiswa untuk memenuhi persyaratan administrasi pengajuan beasiswa. Mereka juga mengingkatkan bahwa motivasi sangat diperlukan dalam meraih beasiswa. Putu Gede Oka Mahendra menjabarkan tentang pentingnya memiliki motivasi untuk mewujudkan segala mimpi yang selalu kita angan-angankan. Selain itu Imdad Aziz juga turut memberikan tips sukses meraih beasiswa luar negeri yaitu dengan mengubah mindset, traveling, dan memupuk nasionalisme. Karena jika beruntung mendapatkan beasiswa ke luar negeri maka kita akan dihadapkan pada atmosfer kehidupan yang berbeda dengan nagara asal kita. Maka dari itu memupuk rasa nasionalisme juga penting.

 

Seiring berjalannya seminar beasiswa turut dihadirkan pula stand-stand beasiswa yang dapat dikunjungi peserta seminar untuk mengetahui lebih lanjut tentang beasiswa yang dapat diikuti selama di perguruan tinggi dengan menghadirkan stand beasiswa Bank Indonesia, Beswan Djarum, Lazis, Bakti Nusa, dan PPI. Sampai berakhirnya acara seminar beasiswa kali ini, antusisame peserta sangat tinggi tampak dari berbagai pertanyaan yang diajukan dan euforia peserta seminar mengunjungi stand-stand beasiswa yang berdiri di halaman Aula FEB UNS. Dengan hadirnya All About Academic Campaign ini diharapkan mampu memberikan ilmu mengenai beasiswa beasiswa yang dapat diraih oleh mahasiswa UNS untuk menggapai cita-citanya.

 

Penulis: tim felari@ppidunia.org

Editor: Kartika Restu Susilo

Categories
Berita Festival Luar Negeri PPI Dunia

PPI Fair 2017: Kiat, Sharing, dan Motivasi Belajar di Luar Negeri

 

PPI Fair 2017 merupakan acara kolaborasi antara BEM ITS dengan PPI Dunia. PPI atau perhimpunan pelajar Indonesia adalah perkumpulan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri. Acara ini dilaksanakan di Teater A, kampus ITS Sukolilo. Acara ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 30 September 2017 sejak pukul 09.00 sampai 15.00 WIB. Acara ini dihadiri oleh 110 mahasiswa dari berbagai universitas di Surabaya. PPI Fair 2017 berisikan seminar dan pembukaan stand beberapa negara, yaitu Polandia, Malaysia, Portugal, dan Sudan. Pembicara yang turut memeriahkan acara ini adalah M. Ubaidillah dari PPI UAE, Fathan Asadudin dari PPI China, dan Yoga Dwi dari PPI Taiwan. Materi yang dibawakan oleh ketiga pembicara tersebut seputar pengalaman, beasiswa, dan motivasi melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Mahasiswa terlihat antusias dalam mengikuti seminar, banyak mahasiswa yang sengaja bertanya kepada pembicara mengenai apa saja hal-hal yang perlu disiapkan untuk studi di luar negeri, serta rintangan yang sering dihadapi. Selain itu, mahasiswa juga antusias melihat workshop di stand-stand PPI yang tersedia. Terlebih lagi, kedatangan media partner PPI Dunia, INSPIRA, yang turut memeriahkan stand di PPI Dunia 2017. Buku-buku yang dijual oleh INSPIRA meliputi kiat-kiat mendapatkan beasiswa serta buku latihan TOEFL, TOEIC, dan TOEFL iBT yang ramai diburu oleh mahasiswa.

“Bukan masalah luar negerinya, namun ada urgensi kompetensi SDM yang harus dipenuhi. Kalau kita stay di dalam negeri, kita tidak bisa merasakan persaingan yang sebenarnya”, ujar Fathan Asadudin menjawab pertanyaan pentingnya studi di luar negeri. Selain itu Yoga Dwi menimpali, “Saya prefer melaksanakan studi di luar negeri karena banyak hal baru yang bisa dieksplorasi dan dipelajari terutama di bidang budaya dan komunikasi”. M. Ubaidillah juga menjawab pertanyaan ini dengan membahas tentang pentingnya networking, “Ketika belajar di luar negeri kita bertemu dengan masyarakat internasional, ilmu yang diberikan juga semakin beragam dari berbagai background dengan basic concern yang berbeda”, ujarnya menutup seminar PPI Fair 2017.

(dok.PPID/nurjaeni)

Categories
Asia dan Oseania Berita Festival Luar Negeri PPI Negara Wawasan Dunia

Kabar Gembira: PPI Tiongkok Terbitkan Buku Panduan Kuliah di China

Untuk menjawab kegelisahan teman-teman pelajar Indonesia baik yang baru datang ke Tiongkok maupun yang baru akan memulai kuliah di Tiongkok, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok melalui Departemen Pendidikan dan Pengembangan Organisasi menerbitkan buku Panduan Kuliah di China. Hal ini untuk memudahkan mahasiswa baru untuk kuliah dan bertahan hidup di negeri Tirai Bambu ini.

Buku dengan 137 halaman ini berisi mengenai sistem pendidikan Tiongkok, tips dan trik kuliah di Tiongkok, daftar universitas di Tiongkok dan lain sebagainya. Nurul Juliati, koordinator penulisan buku, menyampaikan bahwa buku ini akan bermanfaat bagi mereka yang kuliah di Tiongkok maupun yang baru berencana untuk kuliah di Tiongkok. Buku ini dilengkapi juga dengan bagaimana kiat mendaftar beasiswa di Tiongkok.

Fadlan Muzakki, koordinator Tim Editor sekaligus Ketua Departemen Pendidikan dan Pengembangan Organisasi PPI Tiongkok menyampaikan bahwa semoga dengan adanya buku ini dapat menjadi jembatan bagi para mahasiswa baru dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok. Walaupun agak telat diterbitkan, namun diharapkan mahasiswa baru dapat merasakan kehadiran PPI Tiongkok saat mereka tiba di kampusnya, ungkap pria yang sedang menempuh S2 di Zhejiang University ini.

Ketua Umum PPI Tiongkok, Raynaldo Aprilio mengapresiasi penerbitan buku ini. Ray menyatakan bahwa walaupun masih banyak kekurangan dalam buku tersebut, tetapi hal ini sebagai sebuah terobosan yang akseleratif bagi organisasi PPIT, sehingga kita dapat menyamakan posisi kita dengan PPI negara lain yang juga telah menerbitkan buku panduan.

Buku panduan tersebut dapat diunduh melalui link sebagai berikut: Buku Panduan Kuliah di China

Bravo Pelajar Indonesia…

Penulis : Fadlan Muzakki (Koordinator Pengurus Pusat PPI Tiongkok )

 

(dok.PPID/nurjaeni)

Categories
Prestasi Anak Bangsa

Kisah Inspiratif Doktor Termuda Indonesia

Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) telah mencatat setidaknya empat doktor termuda di Indonesia. Pada tahun 2015, Arief Setiawan memperoleh gelar doktor dalam bidang intelligent structures and mechanics systems engineering dari Universitas Tokushima di Jepang pada usia 25 tahun. Sedangkan pada tahun 2016, Elanda Fikri memperoleh gelar doktor bidang Ilmu Lingkungan di Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah saat berusia 25 tahun. Sementara pada tahun 2007, Cindy Priadi juga memperoleh gelar doktor bidang Ilmu Lingkungan dari Universitas Paris-Sud di Perancis pada usia 26 tahun. Awal tahun 2017 yang lalu, Meiryani dianugerahi gelar doktor di bidang Akuntansi di Universitas Padjadjaran Bandung, Jawa Barat, saat usianya 28 tahun.

Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) kembali mencatat rekor baru lulusan doktor termuda di Indonesia. Seorang mahasiswa program doktor jurusan Kimia di  Institut Teknologi Bandung (ITB) bernama Grandprix Thomryes Marth Kadja menjadi lulusan doktor termuda di Indonesia pada usia 24 tahun. Dia secara resmi memperoleh gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tanggal 22 September 2017. Prestasi Grandprix mengukir sebuah sejarah baru di dunia pendidikan Indonesia karena ia masuk dalam Indonesia World Records Museum sebagai lulusan doktor termuda di Indonesia. Grandprix yang berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) menerima predikat cum-laude dari para promotornya dengan disertasinya tentang zeolit sintetis yaitu mineral yang biasa digunakan sebagai katalis petrokimia. “Di masa depan, zeolit sintetis dapat digunakan tidak hanya sebagai katalis tetapi juga sebagai penyerap karbon dioksida dan untuk pemisahan molekul”, ujar Grandprix.

Grandprix Thomryes Marth Kadja, 24 tahun, menjadi doktor termuda Indonesia setelah lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tanggal 22 September 2017. Foto: Okezone.com (Oris Riswan)

Grandprix memulai sekolah dasar pada usia 5 tahun. Grandprix melanjutkan jenjang pendidikan SMA-nya melalui sistem akselerasi di SMA Katolik Giovanni di kota Kupang. Setelah lulus SMA pada usia 16 tahun, ia kemudian melanjutkan pendidikan di jurusan Kimia di Universitas Indonesia (UI). Berkat program beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggulan (PMDSU) yang disponsori Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Grandprix melanjutkan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung, program studi (prodi) Kimia, yang ia sebut sebagai prodi yang paling menantang namun menarik. “Ada terlalu banyak perhitungan dalam ilmu Fisika, dalam ilmu Biologi kita harus menghafal banyak hal. Sedangkan ilmu Kimia memiliki keseimbangan di antara keduanya” ujarnya.

Sepanjang perjalanan akademisnya, Grandprix yang memperoleh gelar Sarjana-nya dari Universitas Indonesia pada usia 19 tahun, telah menerbitkan sembilan publikasi ilmiah di jurnal nasional dan internasional. “Jangan merasa inferior hanya karena kita masih muda, justru generasi muda yang harus menjadi contoh bagi orang lain” tuturnya. Grandprix juga mengakui bahwa rangkaian penelitiannya tidak selalu lancar. Prosesnya sulit dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Dia juga mengalami masalah ketika ada instrumen analitis yang tidak tersedia atau hasil penelitian yang tidak diharapkan. Meskipun demikian, cintanya pada bidangnya membuat dia dapat bertahan dalam setiap tantangan yang dihadapinya.

Mengenai prestasinya, Grandprix berharap dunia akademis Indonesia dapat didorong untuk memajukan penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para pemuda Indonesia. Ia juga mengharapkan program beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggulan (PMDSU) untuk terus berjalan dan berkembang untuk meningkatkan kualitas kompetensi dan daya saing internasional para pemuda Indonesia. Ayah Grandprix, Octovianus Kadja, 54 tahun, mengatakan bahwa dia bangga dengan prestasi anaknya dan berkata bahwa ini sebagian karena disiplin yang dia ajarkan pada Grandprix sejak usia dini. (dok.PPID/nurjaeni)

Categories
Berita PPI Dunia PPI Negara

Perginya Dua Putra Bangsa

Innalillahi wa innailaihi raajiun. Kabar duka datang dari belahan bumi Eropa. Telah meninggal dunia sahabat kita Syahrie Anggara pada usia 24 tahun. Mahasiswa pascasarjana University of Leicester, Inggris itu mengalami kecelakaan fatal di Courmayeur dalam perjalanannya menuju Mont Blanc, Italia pada 14 September 2017. Saat ditemukan oleh regu penyelamat, Syahrie mengalami hipotermia parah dengan suhu tubuh 24 °C. Almarhum menerima perawatan intensif di rumah sakit Molinette, Turin, Italia sebelum akhirnya meninggal dunia pada 22 September 2017. Rencananya, jenazah akan dikebumikan di tanah kelahirannya, Bengkulu.

Page 1 of 11
1 2 3 11