logo ppid

MESIR, 18 November 2017 – Kreasi anak bangsa dalam kancah internasional memang tidak ada habisnya. Kali ini mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir menyelenggarakan perhelatan budaya akbar yang dinamakan Asian Culture Festival (ACF). Acara yang diselenggarakan pada Sabtu, 18 November 2017 di Gedung Sholah Kamil kota Kairo itu adalah hasil kerjasama organisasi mahasiswa dari 9 negara, yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Fhilipina, Pakistan, Afghanistan, Bangladesh dan Krygyztan.

Festival yang bertajuk Diversity in Spirit Unity itu dihadiri oleh pejabat Kedutaan besar dari beberapa negara, termasuk sejumlah petinggi Universitas Al Azhar. “Perbedaan adalah kekuatan bagi kita, sebagaimana dengan tema acara ini Diversity In Spirit Unity yang berarti keragaman adalah kekuatan bagi kita untuk bersatu. Kita Indonesia juga negara yang beragam, namun kita disatukan oleh keragaman tersebut, dibuktikan dengan semboyan kita Bhineka Tunggal Ika,” ujar Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Cairo Dr. Usman Syihab dalam acara pembukaan.

Acara yang berlangsung meriah dan dihadiri oleh mahasiswa internasional itu menampilkan berbagai kesenian dan budaya dari 9 negara di Asia. Penonton yang hadir tak jarang memberikan tepuk tangan atas penampilan unik dan menarik dari sejumlah negara. Mulai dari penampilan nasyid yang dibawakan oleh Malaysia, lalu tarian yang dibawakan oleh Afghanistan serta atraksi ekstrem Tapak Suci yang dipamerkan oleh mahasiswa Indonesia. Tidak ketinggalan beberapa delegasi pun memutarkan video sebagai perkenalan negara mereka.

 

Tak hanya itu, di luar gedung Sholah Kamil juga terdapat bazaar dan stand dari negara yang berpartisipasi. Para pengunjung memanfaatkan momen ini untuk berfoto dengan stand yang dipenuhi souvenir berbagai negara. Menariknya stand milik mahasiswa Krygyztan bersedia meminjamkan jubah dan topi khas negara mereka kepada para pengunjung agar bisa berfoto. Tak heran stand itu jadi rebutan banyak pengunjung.

Selain membawa pernak pernik khas negara, sebagian delegasi memanfaatkan momen ini untuk menjual berbagai souvenir dan makanan khas negara mereka seperti Indonesia, Malaysia, Singapura dan Afghanistan. Di antara makanan yang dijual, nasi Padang berhasil jadi makanan favorit bagi delegasi dan pengunjung. Terbukti, setelah 3 jam acara dimulai nasi Padang langsung ludes diserbu para pengunjung acara. Sementara stand mahasiswa Aghanistan menyediakan makanan khas negara mereka secara cuma-cuma, di antaranya makanan khas Afghanistan yang rasanya sama seperti bihun.

Selaku inisiator dan pelaksana acara Asian Culture Festival, PPMI Mesir dibanjiri pujian dari pejabat negara lain. Hal itu diakui oleh Pangeran Arsyad Ihsan Nulhaq selaku Presiden PPMI Mesir. “Insya Allah acara ini akan kita pertahankan setiap tahunnya, tidak hanya untuk mahasiswa Asia namun juga untuk Dunia,” tutur Pangeran, mahasiswa asal Jakarta yang berdarah Minang.

Acara ditutup dengan penampilan Parodi Bisu dari Mahasiswa Bangladesh yang sukse smembuat penonton tertawa. Setelah itu para delegasi bersalam salaman dan mengadakan sesi foto bareng sebelum meninggalkan lokasi acara.

Festival yang baru pertama kali diselenggarakan itu diharapkan dapat memperkuat hubungan silaturahmi Antar Mahasiswa Al Azhar yang berasal dari benua Asia termasuk ajang untuk saling mengenal satu sama lain. Ajang ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa Indonesia untuk berkenalan dengan saudara sesama muslim dari negara di benua Asia lain. Bukan tidak mungkin, di masa depan para mahasiswa ini akan menjadi pemimpin di negara masing-masing. Hubungan silaturrahmi yang mulai dipupuk dari sekarang akan membantu mereka untuk bekerja sama dalam berbagai bidang.**

 

Penulis : Tareq Albana

Islamic Theology, Universitas Al Azhar Kairo

PPMI Mesir

 

Editor: Kartika Restu Susilo

Selasa 24 Oktober 2017, Kesatuan Keluarga Mahasiswa Indonesia (KKMI) Libya mendapat penghargaan dari International Islamic Call College (IICC), Tripoli, sebagai organsasi kenegaraan yang teraktif, kreatif dan inovatif. Penghargaan tersebut langsung diterima oleh Presiden KKMI Libya, Alvan Satria Shidiq. Penghargaan itu diberikan di Auditorium kampus IICC, pada acara wisuda angkatan ke 40 lulusan IICC.

“Penghargaan ini kami dapatkan dari perjuangan teman-teman mahasiswa Indonesia di Libya. Dengan segala keterbatasan dan berbagai kesulitan di negara Oemar Mohktar ini, pasca jatuhnya Muammar Kaddafi 2011 lalu yang hingga saat ini masih meninggalkan bekas nan tak kunjung sembuh. Walaupun demikian, kami mahasiswa Indonesia di sini tak ingin ikut terpuruk dalam kegalauan yang melanda negeri Libya. Ibarat lilin, kami ingin menjadi penerang untuk mahasiswa lain yang berasal dari berbagai negara di kampus ini. Kami buktikan bahwa kami bisa berbuat walapun terhimpit kesulitan. Terbukti pada Febuari tahun ini, kami sukses mengadakan acara Pengenalan Budaya Indonesia yang dihadiri oleh mahasiswa dari 30 negara berbeda, pada akhirnya mendapatkan sanjungan dan pujian yang luar biasa”, demikian ungkap Alvan. “Selain itu, penghargaan ini kami dapatkan tak lepas dari dukungan dan sokongan dari Duta Besar Indonesia untuk Libya, Bapak Raudin Anwar beserta para staf KBRI yang lainnya. Peran KBRI Tripoli di sini sangat penting, sebagai orang tua kami di Libya memberi nasehat dan arahan tentang kuliah di Libya”, tambah pemuda Minang ini.

Selain mendapatkan penghargaan untuk organisasi, beberapa orang mahasiswa yang merupakan anggota KKMI Libya juga mendapatkan apresiasi atas prestasi mereka di bidang akademik, diantaranya Okky Afrianto, mahasiswa tahun tiga kuliyah, jurusan Bahasa Arab dan Chairul Amin Mubarak, mahasiswa tahun tiga kuliyah, jurusan Syariah, kedua-duanya mendapatkan penghargaan atas pencapaian mereka dengan nilai tertinggi di kelas masing-masing, keduanya mendapatkan nilai mumtaz.

Bapak Untung, salah seorang staf KBRI yang turut hadir menyaksikan acara wisuda dan pemberian penghargaan ini pun, merasa bangga atas apa yang telah diraih mahasiswa Indonesia di Libya. Beliau mengatakan, “semoga kedepannya prestasi mahasiswa Indonesia di Libya dapat ditingkatkan lagi”.

Hanif Ma’asy Rachman, salah seorang anggota KKMI Libya yang juga merupakan Menteri Olahraga di kepengurusan BEM kampus IICC mengatakan, “Alhamdulillah Indonesia disanjung-sanjung oleh para tamu yang hadir pada acara ini”, ungkapnya dengan senyuman lebar. “Harapan kami semoga ke depannya KKMI Libya bisa lebih eksis lagi, bukan hanya skala kampus tapi bisa mngenalkan Indonesia lebih luas lagi kepada masyarakat Libya”, tambahnya.

Wisuda ini dimulai pukul 10.00 pagi waktu Tripoli, acaranya berjalan lancar hingga selesai pada pukul 14.00 waktu Tripoli. Selain dihadiri oleh mahasiswa, para perwakilan dari kedutaan berbagai negara pun turut hadir, di antaranya perwakilan dari kedutaan Indonesia, Filipina, Sudan, Bangladesh, Turki dan beberapa negara lain dari benua Afrika.

Setelah acara ini selesai, di luar gedung sudah disambut oleh para penunggang kuda, dengan pakaian tradisional Libya. Ada tiga kuda beserta para jokinya masing-masing. Hal ini menambah semarak kegiatan wisuda kampus International Islamic Call College (IICC) tahun ini.

Penulis:Riyadi S. Harun

 

 

 

 

 

Sebuah teknologi yang bernama nuklir, sering dikenal orang sangat menakutkan karena mempunyai sejarah yang cukup kelam dalam perang dunia. Namun, sekarang ini teknologi nuklir tumbuh dewasa dengan menebarkan manfaat untuk kemaslahatan umat. Hal ini dibuktikan dengan beberapa temuan dan penelitian dalam berbagai bidang. Tidak hanya dalam bidang energi, teknologi nuklir juga dimanfaatkan dalam bidang non energi yang salah satunya ialah bidang pertanian. Salah satu pemanfaatan nuklir dalam bidang pertanian ialah digunakannya teknologi nuklir untuk membuat biofertilizer yang merupakan hasil kolaborasi dari Food Agriculture Organization (FAO) dengan International Atomic Energy Agency (IAEA). Kolaborasi ini menghasilkan teknologi nuklir untuk bidang pertanian, salah satunya ialah nuclear biofertilizer atau pupuk hayati dari hasil teknologi nuklir.

Kegunaan teknologi nuklir dalam pupuk hayati lebih mengarah pada cara mensterilisasi mikroba dalam bahan pembawa. Bahan pembawa sangat penting dalam memproduksi pupuk hayati karena mengandung mikroba bawaan dalam jumlah yang sangat banyak hingga 106 sel/gram bahan pembawa bahkan lebih (Enjelia, 2011). Sterilisasi dilakukan untuk mengurangi atau membunuh jumlah mikroba bawaan (indigenus). Karena itu lah sterilisasi mutlak harus dilakukan agar dapat menyortir bahan pembawa yang diinginkan. Mensterilisasi dengan iradiasi gamma dirasa lebih baik, lebih irit dan praktis dari pada dengan menggunakan autoklaf yang selama ini digunakan. Dengan menggunakan iradiasi gamma, prosesnya membuat hampir tidak ada perubahan sifat fisik dan kimia pada materialnya. Sedangkan sterilisasi menggunakan autoklaf, beberapa material dapat mengubah sifatnya sehingga berefek samping akan dapat menghasilkan zat beracun bagi strain bakteri (FNCA, 2005).

Penelitian tentang nuclear biofertilizer secara konsisten diteliti oleh banyak negara yang tergabung dalam Forum for Nuclear Cooperation Asia atau FNCA, yaitu Jepang, Australia, Bangladesh, China, Indonesia, Kazakhstan, Korea, Malaysia, Mongolia, Filipina, Thailand dan Vietnam. Pada tahun 2014, FNCA menginformasikan fakta-fakta positif atas penggunaan nuclear biofertilizer. Di China, pupuk hayati dari hasil teknologi nuklir berpengaruh pada peningkatan hasil panen. Pupuk hayati berpengaruh meningkatkan bobot segar dan bobot kering jagung hingga 91,8% dan 211,8% dibandingkan dengan kontrol. Di Mongolia, pengaruh pupuk hayati dari teknologi nuklir dengan memanfaatkan Aspergillus niger berpengaruh pada peningkatan hasil biji bunga matahari sebesar 59,8% bila dibandingkan dengan tanaman kontrol. Di provinsi Shandong, penggunaan pupuk hayati pada budidaya tomat dapat meningkatkan hasil hingga 35% dari tanaman control (FNCA, 2016).

Di Indonesia, penelitian tentang hal ini dikembangkan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional atau yang biasa disebut BATAN. BATAN telah meriset dan memperoleh mikroba yang membuat tanah lebih mampu menangkap nitrogen dan membuatnya menjadi subur. Mikroba itu bernama Azospirillum disterilisasi dengan radiasi sinar gamma dari Cobalt 60 yang kemudian akan menjadi suatu produk pupuk hayati dari nuklir. Hasil proyek ini dimulai sejak tahun 2001 dan sudah menghasilkan isolat unggul pupuk hayati. Pengaplikasian sudah digunakan pada berbagai komoditas pertanian seperti jagung, salada, bukis, brokoli, sawi, cabe dan keberhasilannya meningkatkan komoditas pertanian (Kompas, 2009).

Pemberian inokulan berbasis kompos teriradiasi dengan bioaktif berupa kombinasi isolat Azotobacter sp. (KDB2), Bacillus sp. (KLB5+BM5+KBN1) dan Trichoderma sp. (KLF6), dapat meningkatkan serapan hara N dan P. Penggunaan ini sebagai biofertilizer yang mampu meningkatkan tinggi tanaman sekitar 23,64%, bobot kering berangkasan tanaman 63,62%, bobot hingga 29,41%, dan produksi tongkol segar jagung manis hingga 29,35% (Mulyana dan Dadang, 2012).

Maka dari itu, peran teknologi nuklir dalam pupuk hayati ini perlu dikembangkan secara konsisten. Selain cukup efektif, metode ini juga dapat mendukung pertanian berkelanjutan, dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik yang merugikan lingkungan, serta dapat meningkatkan hasil produksi pertanian. Jika kombinasi riset antara bidang pertanian dengan bidang nuklir ini terus digalakkan, besar harapan kedepan akan muncul penemuan-penemuan yang lebih dari sekarang.

Hambatan yang terjadi selama ini tidak hanya dalam hal terbatasnya teknologi di Indonesia, namun juga dari segi sosial akan penerimaan nuklir di kalangan masyarakat Indonesia serta pengedukasian dikalangan petani terkait nuclear biofertilizer. Faktanya petani sampai saat ini masih menggunakan metode lama yang dianggap menguntungkan pada masa kini dan tidak untuk masa depan. Padahal cara-cara lama seperti menggunakan pupuk anorganik dapat berakibat buruk di masa yang akan datang. Penggunaan pupuk anorganik secara terus menerus dapat mengeraskan tanah, mengurangi kesuburan tanah, memperkuat pestisida, mencemari udara dan air, melepaskan gas rumah kaca sehingga dapat membahayakan kesehatan lingkungan dan manusia (Zaman et al., 2017).

Di sinilah peran pemanfaatan teknologi nuklir untuk pengembangan pupuk hayati menjadi penting. Adanya pupuk hayati dari hasil teknologi nuklir ini akan dapat memacu hasil produksi pertanian dan juga mampu mengurangi hal-hal buruk dari sector pertanian yang dapat terjadi di masa yang akan datang.

Daftar Pustaka

Enjelia. 2011. Penggunaan Sterilisasi Iradiasi Sinar Gamma Co-60 dan Mesin Berkas Elektron pada Viabilitas Inokulan dalam Bahan Pembawa (Kompos dan Gambut). Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Available at http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/46875/A11enj.pdf;jsessionid=E65EEBEC8E7DCC93645679147ECD1A70?sequence=1

FNCA. 2005. FNCA Biofertilizer Newsletter 6. Available at http://www.fnca.mext.go.jp/english/bf/news_img/nl06.pdf

FNCA. 2016. FNCA Biofertilizer Newsletter 14. Available at http://www.fnca.mext.go.jp/english/bf/news_img/nl14.pdf

Kompas. 2009. Pupuk Radiasi Nuklir Tingkatkan Produktivitas Pertanian. Available at http://sains.kompas.com/read/2009/02/23/1744399/pupuk.radiasi.nuklir.tingkatkan.produktivitas.pertanian

Mulyana, N dan Dadang Sudrajat. 2012. Formulasi Inokulan Konsorsia Mikroba Rhizosfer Berbasis Kompos Teriridiasi. Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi. BATAN. Available at http://digilib.batan.go.id/ppin/katalog/file/BP_12.pdf

Zaman, S. Prosenjit. P dan Abhijit Mitra. 2017. Chemical Fertlizer. Available at https://www.researchgate.net/profile/Abhijit_Mitra3/publication/265968789_CHEMICAL_FERTILIZER_By/links/54227bb60cf238c6ea67a7b4/CHEMICAL-FERTILIZER-By.pdf

 

Oleh : MUHAMAD SYAIFUDIN

Diperiksa oleh : Erwin Fajar, M. Mahfuzh, Dwi Rahayu

Tim Kajian Nuklir PPI Dunia – Divisi Non Energi

Shizuoka - Tradisi buka puasa bersama alias bukber sudah menjadi menu wajib di bulan Ramadan. Begitu pun bagi mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di luar negeri, ini tentunya menjadi hal yang sangat dirindukan.

Seperti yang dilakukan oleh mahasiswa Indonesia di Shizuoka University Jepang, buka puasa bersama atau ifthar menjadi momen penting untuk mengenalkan Ramadan di Jepang. Tak sedikit orang Jepang yang penasaran ingin tahu apa itu Ramadan dan mengapa umat Islam harus berpuasa sebulan penuh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto: Salah satu mahasiswa Indonesia menjelaskan tentang Ramadan dalam buka puasa bersama di Shizuoka University (Dina Istiqomah)

 

Acara yang digelar pada hari Jumat (2/6) lalu dihadiri oleh dosen, mahasiswa Jepang, Malaysia, Bangladesh dan Thailand. Rektor Shizuoka University, Kiyoshi Ishii, yang turut hadir mengaku sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Ketika dikonfirmasi oleh panitia, Ishii langsung menyatakan bersedia untuk hadir dan mendukung sepenuhnya. Dalam sambutannya, Ishii berharap momen tersebut menjadi ajang untuk mengenal Islam lebih dekat dan meningkatkan bentuk toleransi antar umat beragama.

 

Foto: Sambutan Rektor Shizuoka University, Kiyoshi Ishii saat acara buka bersama (Dina Istiqomah)

 

Selama acara berlangsung, semua yang hadir terkesan dengan persiapan dan pelayanan yang diberikan. Antusiasme terlihat ketika suara azan dikumandangkan, salat berjamaah dan penjelasan mengenai serba- serbi Islam khususnya tentang Ramadan.Acara yang digelar pada hari Jumat (2/6) lalu dihadiri oleh dosen, mahasiswa Jepang, Malaysia, Bangladesh dan Thailand. Rektor Shizuoka University, Kiyoshi Ishii, yang turut hadir mengaku sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Ketika dikonfirmasi oleh panitia, Ishii langsung menyatakan bersedia untuk hadir dan mendukung sepenuhnya. Dalam sambutannya, Ishii berharap momen tersebut menjadi ajang untuk mengenal Islam lebih dekat dan meningkatkan bentuk toleransi antar umat beragama.

Tak ketinggalan, soto ayam menjadi menu utama dalam acara tersebut, dan palu butung sebagai hidangan pembuka. Bahkan hampir semua yang hadir rela mencicipi sambal cabe hijau dan sambal tomat yang turut serta dihidangkan, bagi mereka itu satu hal yang menantang.

Foto: Soto ayam jadi menu utama buka puasa yang digelar mahasiswa Indonesia di Shizuoka University (Dina Istiqomah)

 

Jumlah mahasiswa muslim yang semakin meningkat di Jepang menjadi perhatian oleh pihak Universitas untuk menyediakan pelayanan yang memadai, seperti ketersediaan makanan halal di kafetaria dan tempat ibadah. Diungkapkan oleh Wakil Rektor Shizuoka University, Reiko Motohashi, dirinya akan terus membantu mewujudkan "halal food" dan musala yang strategis letaknya, sehingga mahasiswa muslim dapat melakukan ibadah, sebagai kewajibannya, dengan nyaman.

Foto: Mahasiswa Jepang tak segan mencicip sambal cabe hijau yang sangat pedas (Dina Istiqomah)

 

Berpuasa di negeri orang memang sangat berbeda jika dibandingkan dengan puasa di negri sendiri. Jika di dalam negeri sekarang hanya sekitar 13 jam, di Jepang harus menunggu 3 jam lebih lama dan mencoba bertahan dengan kondisi lingkungan yang mulai panas kering menjelang summer alias musim panas.

Untuk waktu Shizuoka, waktu Subuh untuk saat ini sekitar pukul 02.48 dan matahari terbit sekitar 04.32. Sedangkan waktu Magrib di Shizuoka untuk saat ini pada pukul 18.58 dan akan terus bertambah lama hingga akhir Ramadan, mengingat pada bulan Juni matahari berada pas di posisi belahan utara.Berpuasa di negeri orang memang sangat berbeda jika dibandingkan dengan puasa di negri sendiri. Jika di dalam negeri sekarang hanya sekitar 13 jam, di Jepang harus menunggu 3 jam lebih lama dan mencoba bertahan dengan kondisi lingkungan yang mulai panas kering menjelang summer alias musim panas.Jumlah mahasiswa muslim yang semakin meningkat di Jepang menjadi perhatian oleh pihak Universitas untuk menyediakan pelayanan yang memadai, seperti ketersediaan makanan halal di kafetaria dan tempat ibadah. Diungkapkan oleh Wakil Rektor Shizuoka University, Reiko Motohashi, dirinya akan terus membantu mewujudkan "halal food" dan musala yang strategis letaknya, sehingga mahasiswa muslim dapat melakukan ibadah, sebagai kewajibannya, dengan nyaman.

Ditambah lagi ketersediaan makanan halal yang masih cukup langka di sini mengharuskan mahasiswa muslim memasak sendiri di apartemen masing- masing. Beruntungnya sebagian besar jumlah mahasiswa Indonesia di Shizuoka University menempati asrama mahasiswa yang difasilitasi oleh kampus. Sehingga, mahasiswa yang berpuasa bisa saling berbagi makanan dan bergantian untuk saling memasak dalan skala besar.

Begitu pun dengan salat tarawih berjemaah, mahasiswa menggunakan hall asrama sebagai tempat salat berjemaah. Salat tarawih di hall asrama dijadwalkan setiap pukul 21.00 waktu Shizuoka. Namun, banyaknya mahasiswa yang pulang malam karena masih melakukan riset di kampus dan acapkali ada beberapa mahasiswa yang bekerja paruh waktu, sehingga seringkali mundur waktunya untuk menunggu jumlah jemaah cukup banyak.

Foto: Salat Magrib berjemaah di Shizuoka University (Dina Istiqomah)

 

Bersyukur salah satu di antara mahasiswa ada salah seorang lulusan pesantren yang fasih dan mengetahui banyak soal agama. Adalah M Nurrohman Sidiq, mahasiswa S2 Kimia (alumni UGM) yang merupakan lulusan pesantren Krapyak Yogyakarta. Ia dengan senang hati membimbing teman- teman lainnya untuk meningkatkan ibadah selama bulan Ramadan dan menjadi imam setiap salat tarawih.Sebetulnya di Shizuoka terdapat musala yang berada di tengah kota. Namun karena kapasitas yang kurang memadai untuk menampung semua jemaah salat tarawih, sehingga mahasiswa yang menempati asrama memilih untuk melakukan salat tarawih berjamaah di hall asrama.

Bagi orang Jepang, puasa merupakan hal yang sangat mustahil dilakukan, karena mereka berpikir setiap waktu manusia memerlukan asupan makanan. Tak sedikit yang merespons "No..I will die".

Tapi bagi seorang muslim, bulan Ramadan adalah bulan yang paling ditunggu- tunggu di antara 11 bulan lainnya. Haus dan lapar tidak dirasakan meskipun masih berkutat dengan riset dan kegiatan kampus yang menguras tenaga & pikiran. Itulah yang membuat orang Jepang sangat takjub dengan puasa Ramadan.

Namun setidaknya, kami mahasiswa Muslim di Jepang khususnya Shizuoka merasa bersyukur untuk mengalami berpuasa hanya dalam 16 jam, berbeda dengan mahasiswa muslim di Eropa bagian utara yang harus bertahan lebih lama.

*) Dina Istiqomah adalah Mahasiswa Doktoral United Graduate School of Agricultural Science, Gifu University- Participated Univ: Shizuoka University ; Anggota Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang.
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama dan partisipasi Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).

***

Tokyo - Alhamdulillah, bagi warga muslim Indonesia di Tokyo dan sekitarnya, Ramadan kali ini menjadi semakin hangat dan istimewa. Hal itu dikarenakan keberadaan hasil perjuangan 18 tahun pembangunan Masjid Indonesia pertama di Tokyo berbuah manis.

Tepatnya 26 Mei 2017, Jumat sore hari jelang memasuki Ramadan, masjid Indonesia Tokyo diresmikan oleh Duta Besar Indonesia untuk Jepang Bapak Arifin Tasrif. Akhirnya, kami di sini dapat melaksanakan ibadah salat fardhu dan iktikaf di Masjid Indonesia Tokyo. Suasana haru pun dirasakan saat itu, tak luput dari kami hingga ada yang berurai air mata hingga pekikan takbir berucap syukur.

Dengan adanya Masjid Indonesia, kehangatan diantara warga muslim Indonesia kian terasa. Ada tempat berkumpul dalam beribadah, ada wadah untuk menyapa sesama muslim Indonesia yang berjumlah sekitar 5.000 orang di Tokyo dan sekitarnya. Tak hanya itu, fungsi Masjid Indonesia ini pun dirasakan oleh muslim lainnya seperti dari Bangladesh, Pakistan, Turki, Malaysia dan warga muslim Jepang itu sendiri.

Buka puasa bersama di Masjid Indonesia Tokyo (Arif Aditiya)

Ramadan di Jepang tentu berbeda dengan Indonesia. Subuhnya berkisar pukul 02.39 dan waktu Magribnya mendekati pukul 19.00 malam. Sekitar 17 jam lamanya warga muslim di Jepang melaksanakan puasa di musim panas kali ini.

Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII) Jepang yang merupakan wadah berupa organisasi dakwah Islam di Jepang yang dimotori oleh masyarakat Islam Indonesia yang tinggal di Tokyo dan sekitarnya menyelenggarakan rangkaian kegiatan untuk mengisi Ramadan 1438 H. Kegiatan itu seperti buka puasa bersama, salat dan kajian Tarawih, workshop tematik,

Tabligh Akbar tiap Ahad, iktikaf, Pesantren Kilat, Ramadhan Ceria for Kids, A Day : Islamic Culture Festival for Japanese, hingga rangkaian Salat Idul Fitri dan gelaran Open House oleh KBRI Tokyo.

Tak lupa, Panitia Ramadan juga menerima zakat fitrah dan mal dan menyalurkannya kepada yang berhak menerimanya. Kegiatan Tabligh Akbar setiap Ahad, menjadi istimewa yang dinanti setiap pekannya. Di tengah rutinitas harian, kegiatan ini laksana oase di padang pasir.

Tabligh Akbar yang diadakan KMII di Tokyo selama Ramadan di Masjid Indonesia Tokyo yang baru dibuka pada Mei 2017 lalu (Arif Aditiya)

Selain tema beragam yang menarik, momen yang ditunggu yakni pada saat berbuka bersama teman, kerabat atau keluarga menjadi sangat spesial, apalagi menu takjil dan hidangan serba spesial ala Indonesia tersaji apik oleh ibu-ibu Kemuslimahan KMII Jepang. Jumlah yang hadir bisa mencapai 500 orang. Mereka datang dari Tokyo dan luar Tokyo, bahkan ada yang bermalam sebelumnya untuk menghadiri acara ini. Indahnya kebersamaan ini sangat dirasakan.

Kegiatan Ramadan merupakan kegiatan tahunan KMII Jepang yang didukung oleh seluruh komunitas warga muslim Indonesia di Jepang baik para pekerja, pelajar, pekerja magang, dan perawat. Hal ini dapat terlihat dari narasumber yang tidak hanya mengisi di Tokyo, namun juga mengisi ke berbagai daerah di sekitar Tokyo dan luar Tokyo seperti Chiba, Gunma, dan bahkan Fukuoka.

Ramadhan 1438 Hijriyah mempunyai tema "Meniti Surga bersama Keluarga" menghadirkan 4 (empat) narasumber dari Indonesia yaitu ustaz Adi Hidayat, ustaz Maman Surahman, ustaz Hepi Andi Bastoni, dan ustaz Irfan Syauqi. Selain mengisi kajian harian dan Tabligh Akbar, para ustaz juga mengisi workshop tematik dengan tema yang berkaitan dengan keluarga seperti workshop pranikah, cara Nabi mendidik anak dalam keluarga hingga bagaimana mengelola keuangan keluarga.

Ustaz Adi Hidayat mengisi Tabligh Akbar di Masjid Indonesia Tokyo (Arif Aditiya)

Pada pekan pertama lalu, narasumber kami ustaz Adi Hidayat -yang juga pada Ramadan kali ini sebagai narasumber di kolom #TanyaUstazAdi detikRamadan- sempat berkunjung ke beberapa Islamic Center di Tokyo seperti Islamic Arabic Institute, Yuai Islamic International School, serta bertemu dengan anggota Dewan Syariah Islam Tokyo. Hal ini menegaskan bahwa KMII Jepang terus menjembatani dakwah Islam di negeri Sakura kepada seluruh muslim tidak hanya bagi muslim

Indonesia.

Pada Ahad 4 Juni lalu, Wakil Presiden Jusuf Kalla di tengah kunjungan kerjanya di Tokyo menyempatkan untuk dapat salat Tarawih bersama kami di Masjid Indonesia Tokyo. Dalam kesempatan itu, Pak Jusuf Kalla memberikan tausiahnya dan harapannya agar Masjid Indonesia ke depannya dapat menjadi sarana membangun kemampuan umat yang positif. Kami berharap rangkaian kegiatan Ramadan ini menjadikan semakin istimewa bagi segenap masyarakat muslim Indonesia di Jepang.

Wapres Jusuf Kalla yang mampir ke Masjid Indonesia Tokyo yang baru dibuka (Arif Aditiya)

Secara umum, Ramadan di Jepang sangat dirasakan, terlebih jika kita berada di Tokyo, hampir semua masjid yang menyediakan berbuka puasa dan menu halal tersedia di beberapa restoran .

Penulis: Arif Aditiya, Ketua Panitia Ramadhan 1438 H - KMII Jepang, Mahasiswa S2 Civil Engineering The University of Tokyo dan Anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang

*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama antara Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) dan detikcom

 

Setiap bulan Maret, masyarakat India baik yang berada di India ataupun di luar India merayakan Festival Holi. Festival yang menandakan berakhirnya musim dingin dan dimulainya musim semi ini mampu menarik minat masyarakat luas untuk merayakannya. Turis pun ramai berdatangan ke kota-kota yang berhubungan dengan Dewa Krishna seperti Mathura, Vrindavan.

Selain di India, masyarakat Nepal, Bangladesh bahkan Indonesia juga ikut merayakan. Konjen India di Denpasar Bali setiap tahunnya juga ikut mengundang masyarakat untuk merasakan serunya ditaburi bubuk warna-warni. Nah, sebagai mahasiswa Indonesia di India apakah kami ikut merayakan? Tentu saja, meskipun ada dramanya hehe…

Holi kali ini bertepatan dengan ujian, jadi kami tidak bisa merayakan tepat di hari H. Setelah bolak-balik rapat dengan kakak kelas dan adik kelas, akhirnya kami putuskan untuk merayakan Holi di hari terakhir ujian. Kami korbankan kakak kelas untuk minta ijin ke kepala sekolah juga bapak ibu asrama.

Seperti biasanya kami hanya main tabur-tabur bubuk warna, tanpa semprotan air juga api unggun. Hemat air kakak, nanti air habis nggak bisa mandi bagaimana. Acara dimulai jam 6 sore, dipusatkan di lapangan kampus dan tentu saja dilaksanakan terpisah antara mahasiswa dan mahasiswi. Seru? Banget. Lebih seru lagi waktu antri mandi dan bersihkan warna yang masih menempel di wajah.

Sebagai pemain Holi kawakan, saya punya beberapa tips merayakan Holi secara baik dan benar yang bisa dilihat dibawah ini. Jadi semua senang dan acara perayaan Holi bisa lancar.

  1. Jangan ugal – ugalan dalam melempar warna, meskiupun nggak ada yang marah kalau kalian melempar warna tapi sebaiknya berhati-hati kalau ada anak kecil atau orang tua yang ikut main. Jangan sampai mereka kelilipan atau malah sesak nafas. Re to the pot urusannya. Dan tolong jangan oleskan bubuk warna itu ke hewan seperti anjing, kucing atau sapi yang kebetulan melintas.
  2. Save water! Meskipun memang seru kalo kita semprot air warna atau bikin teman kita basah kuyup setelah itu diolesin warna-warna mending jangan pakai air deh. Bukannya sok-sokan hemat air, tapi kalau pakai air warna yang nempel di kulit kita susah hilangnya. Trus muka kita bukannya jadi warna-warni malah jadi hitam legam. Nggak kece kan?
  3. Pakai kacamata. Lindungi mata anda, karena sesungguhnya kelilipan bubuk warna itu perihnya tiada dua. Terutama yang rawan alergi.
  4. Pakai baju putih atau warna terang lainnya. Kenapa? Baju warna putih dan warna terang lainnya bikin warnanya makin kelihatan, jadi bagus difotonya. Hehe. Dan jangan buang bajunya, cuci trus pakai lagi deh tahun depan (mak irit)
  5. Tahan nafas waktu mereka lempar atau oles bubuk warnanya. Jadi nggak bakalan batuk – batuk kena bubuknya
  6. Ambil plastik bungkus bubuk warnanya dan buang ke tempat sampah. Kebersihan adalah sebagian dari Iman bukan? Bersih pangkal sehat toh?
  7. Selesai main cepat mandi dan keramas, kalau warnanya masih nempel di kulit oleskan baby oil atau minyak kelapa. Jangan malah digosok-gosok dengan sabun, nanti iritasi.

Jadi sudah siap main Holi tahun depan?

Penulis:
Adhihayu Arcci Maharddhika, S.Pd
Bachelor of Ayurvedic Medicine and Surgery (BAMS)
Aroor Laxmi Narayana Rao Memorial Ayurvedic Medical College. Koppa.

 

Liputan Dhahran – Rabu, 1 Maret 2017, KFUPM (King Fahd University of Petroleum and Minerals), Dhahran, Arab Saudi menyelenggarakan Cultural Day yang diikuti oleh Indonesia, Bosnia Herzegovina, Bangladesh, India, Sudan, Suriah, Mesir, Nigeria, Kamerun, Maladewa, Palestina dan Yaman. Ini adalah kali kedua Indonesia ikut serta dalam kegiatan KFUPM Cultural Day.

Pada acara tersebut, mahasiswa Indonesia membawa tema tentang perayaan tujuh belasan di Indonesia, juga menampilkan video infografis Indonesia serta menampilkan atraksi berupa permainan tradisional yang menarik sepertu enggrang dan bakiak. Perlombaan tersebut diikuti opleh peserta dengan antusias karena adanya interaksi dan partisipasi yang luar biasa dari para penonton selama kegiatan berlangsung.

Cultural Day 2017

Acara kemudian dilanjutkan di stand masing-masing Negara yangs udah disediakan oleh para panitia. Pada boiot session, para peserta stand berkesmpatan untuk mengenalkan kebudayaan mereka masing-masing seperti makanan tradisional dan pakaian tradisional. Kali ini Indonesia berhasil memperkenalkan beberapa makanan tradisional ala Indonesia seperti pecel, tumpeng, bubur kacang hijau, berbagai macam gorengan, kue kukus, sambal kacang serta dadar gulung. Para pengunjung pun sangat antusias sekali mencoba satu persatu makanan yang disediakan di dalam stand.

PPMI Dhahran sebagai wadah organisasi mahasiswa Indonesia di KFUPM menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung untuk mensukseskan acara ini, juga terima kasih kepada KBRI Riyadh, PPMI Qassim, serta semua pihak yang telah datang mengunjungi stand Indonesia pada acara kali ini. (Red: PPMI Dhahran/ Ed: Amir)

Liputan Dhahran – Pada Rabu, 1 Maret 2017, King Fahd University of Petroleum and Minerals (KFUPM), Dhahran, Arab Saudi menyelenggarakan Cultural Day yang diikuti oleh beberapa negara, yakni Indonesia, Bosnia Herzegovina, Bangladesh, India, Sudan, Suriah, Mesir, Nigeria, Kamerun, Maladewa, Palestina dan Yaman. Ini adalah kali kedua Indonesia ikut serta dalam kegiatan KFUPM Cultural Day.

Pada acara tersebut, mahasiswa Indonesia membawa tema tentang perayaan tujuh belasan di Indonesia, juga menampilkan video infografis tentang Indonesia serta menampilkan atraksi berupa permainan seru, yaitu enggrang serta bakiak. Pada setiap permainan, tidak lupa untuk terus berinteraksi dengan para penonton yang hadir dengan cara membuat sebuah perlombaan pada setiap atraksi.

Kemudian acara dilanjutkan di stan masing-masing negara. Kali ini saatnya mengenalkan beberapa makanan serta jajanan khas Indonesia, di antaranya pecel, tumpeng, bubur kacang hijau, macam-macam gorengan, kue kukus, sambal kacang serta dadar gulung. Para pengunjung sangat antusias sekali mencoba satu per satu makanan yang disediakan.

Perhimpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dhahran sebagai wadah organisasi mahasiswa Indonesia di KFUPM menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung untuk mensukseskan acara tersebut, juga terima kasih kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh, PPMI Qassim, serta semua pihak yang telah datang mengunjungi stan Indonesia pada acara kali ini.

(Red, PPMI Dhahran/Ed, F)

Liputan India - Kamis, 26 Januari 2017, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) India Komisariat New Delhi perkenalkan kuliner khas Indonesia dalam food festival yang diselenggarakan oleh International Students Association (ISA) Jawaharlal Nehru University di Gedung School of International Studies. Acara yang berlangsung dari pukul 18.00 IST sampai 23.00 IST sukses menarik banyak pengunjung meski sempat terkendala hujan dan mendung.

Dalam festival ini, PPI New Delhi menyajikan lima kuliner khas Indonesia, yaitu sate ayam, cenil, bala-bala, martabak, dan wedang bajigur. Stall (stan) PPI New Delhi yang memasang tagline “Emerald of Equator; Indonesia” ini ramai dibanjiri pengunjung yang penasaran ingin merasakan kuliner khas Indonesia. Kuliner dari berbagai negara seperti Armenia, Jepang, Korea Selatan, Thailand, Jerman, Afganistan, Uzbekistan, Ethiopia, Bangladesh, Suriah, Nepal, Tibet, Rusia, Mauritius, Kazakhstan, Turki, dan Turkmenistan juga disajikan dalam festival tahunan ini.

Nur Sa’adah, Ketua PPI Komisariat New Delhi, mengatakan, partisipasi mereka dalam ajang JNU Food Festival tahun ini merupakan pengalaman yang luar biasa dan membanggakan. “ JNU Food Festival tahun ini menjadi pengalaman yang sangat berharga dan membanggakan bagi saya pribadi dan juga PPI New Delhi. Kami menampilkan kuliner yang berbeda dari tahun kemarin yaitu cenil dan martabak. Acara ini juga mengasah kretifitas kami dalam hal memasak. Kami benar-benar mempersiapkannya sebaik mungkin, kami lakukan uji coba memasak berulang kali agar bisa menghidangkan menu Indonesia yang nikmat bagi pengunjung dari berbagai negara,“ jelas Sa’adah.

Sementara M. Rusdy Namsa, Wakil Ketua PPI India, mengomentari bahwa acara ini sangat bagus untul melatih jiwa kewirausahaan bagi teman-teman PPI New Delhi. "Acara ini sangat menarik karena selain mampu mempererat ikatan persaudaraan antarbangsa melalui promosi kuliner, juga sangat bagus untuk melatih jiwa kewirausahaan teman-teman PPI. Alhamdulillah tahun ini acara berjalan lancar atas kerja keras teman-teman ISA JNU. Stall kami juga laris diserbu pengunjung. Perjuangan dari teman-teman PPI New Delhi dan juga dukungan dari Atase Pendidikan KBRI New Delhi yang tentunya membuat semua ini terwujud," paparnya.

Acara food festival ini adalah agenda tahunan ISA yang mengakomodir perwakilan berbagai negara untuk memperkenalkan kuliner khas masing-masing sekaligus sebagai ajang mempererat persahabatan antarnegara. Tahun ini, JNU Food Festival diselenggarakan tepat pada peringatan Republic day India.

(FR/F)

Dalam rangka International Culture Festival 2016 di Madinah, Islamic University in Madinah menyelenggarakan Mini World Cup

Sabtu, 19 Maret

- Malawi vs Burundi (ashar)
- Nigeria vs Mozambique (maghrib)
- Cambodia vs Ghana (isya1)
- Mali vs Bosnia (isya2)

Ahad, 20 Maret

- Chad vs Mauritania (ashar)
- Indonesia vs Gambia (maghrib)
- Madagascar vs Pantai Gading (isya1)
- Senegal vs Albania (isya2)

Senin, 21 Maret

- Malaysia vs Guinea (ashar)
- Afsel vs Bangladesh (maghrib)
- Mauritius vs Maroko (isya1)
- Comoros vs Thailand (isya2)

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920