Categories
Travel & Kuliner

Jalan-Jalan Hemat dan Sehat di Brisbane

City Hall Brisbane

Ketika mendengar kata Australia, kota apakah yang ingin kalian kunjungi? Sebagian besar mungkin akan menjawab Sydney atau Melbourne. Selain dua kota besar tersebut, Australia juga memiliki kota terbesar ketiga, Brisbane, yang terletak di daerah tenggara negara bagian Queensland. Brisbane memiliki banyak tempat yang menarik untuk dikunjungi, mulai dari wisata alam, galeri seni, hingga museum dan koala sanctuary. Selain itu, Brisbane memiliki sistem transportasi umum yang lengkap dan nyaman mulai dari bus, kereta, hingga kapal feri.

Seandainya nanti kalian mengunjungi Brisbane, siapkan waktu lebih dari sehari untuk menjelajahi sekitaran pusat kota karena terdapat banyak tempat menarik dan instagramable yang sayang untuk dilewatkan. Salah satu ikon dari Brisbane adalah city hall-nya, di mana kita dapat melihat interior city hall yang indah sekaligus mengikuti Clock Tower tour selama 15 menit. Jangan lewatkan juga berbagai workshops dan exhibitions di Museum of Brisbane yang terletak di dalam city hall tersebut. Kalian dapat mengikuti Clock Tower tour dan memasuki Museum of Brisbane tanpa dipungut biaya.

Tidak jauh dari Brisbane City Hall, ada South Bank Parkland yang merupakan tempat favorit warga Brisbane untuk bersantai di tepian Brisbane River. Di sepanjang South Bank, kalian akan menemukan banyak spot menarik seperti Nepal Peace Pagoda dan South Bank Arbour. Kalian juga dapat menikmati pemandangan indah South Bank dengan menaiki Wheel of Brisbane yang dibuka mulai jam 10 pagi atau menyusuri Brisbane River dengan menaiki CityHopper (kapal feri gratis) yang beroperasi mulai jam 6 pagi. Belum cukup? Tenang. South Bank Parklands juga dilengkapi dengan Streets Beach, yang merupakan satu-satunya artificial beach dalam kota yang ada di Australia. South Bank juga menjadi tempat berbagai event spesial seperti Brisbane Riverfire dan perayaan tahun baru.

Enoggera Dam

Selain menjadi tempat tujuan bersantai di tepian Brisbane River, South Bank menjadi destinasi wajib bagi para penikmat seni dan koleksi budaya. Kalian dapat memulai perjalanan dari Queensland Museum yang menyimpan berbagai koleksi sejarah dan budaya, terutama dari suku Aborigin dan penduduk asli Torres Strait Islands. Setelah itu, lanjutkan perjalanan ke QAGOMA (Queensland Art Gallery and Gallery of Modern Art), yang merupakan galeri seni modern dan kontemporer terbesar di Australia. Tidak hanya koleksi seni dari Australia, QAGOMA juga memiliki banyak koleksi dari Asia, Kepulauan Pasifik, dan berbagai negara lainnya. Yang penting lagi adalah ribuan koleksi QAGOMA ini dapat dinikmati secara gratis setiap hari mulai jam 10 pagi hingga jam 5 sore. Di dekat QAGOMA dan Queensland Museum ini, kalian juga akan menemukan Queensland Performing Arts Centre (QPAC) dan State Library of Queensland (SLQ).

Mount Coot-tha

Setelah puas mengelilingipusat kota Brisbane, kalian dapat berpiknik di Roma Street Parkland atau City Botanic Gardens yang hanya berjarak sekitar 1 km dari Brisbane City Hall dan 450 m dari kampus Queensland University of Technology. Brisbane juga memiliki satu kebun raya lainnya, yaitu Mount Coot-tha Botanic Gardens, yang lokasinya sekitar 6 km dari kampus University of Queensland. Di tempat ini, selain melihat berbagai jenis tanaman tropis dan subtropis, kalian juga dapat mengunjungi Sir Thomas Brisbane Planetarium. Tetapi sangat disarankan untuk melakukan reservasi karena planetarium ini seringkali ramai pengunjung terutama saat liburan sekolah. Bila kalian sudah sampai di Mount Coot-tha, spot wajib lainnya yang harus dikunjungi adalah Mount Coot-tha Lookout. Dari lookout ini, kalian dapat melihat pemandangan kota Brisbane hingga ke Moreton Bay. Bus nomor 471 akan mengantarkan kalian kembali ke pusat kota setelah selesai menjelajahi Mount Coot-tha, namun kalian juga dapat menggunakan taksi atau mobil pribadi.

Bila kalian ingin menikmati pemandangan sambil berolahraga, tidak ada salahnya mencoba tiga aktivitas ini. Pertama, bersepeda menuju Kangaroo Point. Rute bersepeda dapat dimulai dari Dockside Ferry Terminal dan kalian akan menyaksikan Story Bridge, salah satu jembatan iconic di Brisbane yang menghubungkan suburb di bagian utara dan selatan. Sesampainya di Kangaroo Point, kalian dapat bersantai sambil menunggu sunset yang indah di tepi Brisbane River. Kangaroo Point Cliffs juga menjadi tempat climbing favorit bagi warga Brisbane karena letaknya yang tidak jauh dari pusat kota. Namun bila kalian ingin sedikit menjauh dari kota, tidak ada salahnya mencoba olahraga yang ketiga: kayaking. Salah satu suburb di Brisbane, Enoggera, menjadi tempat kayaking yang sayang untuk dilewatkan. Enoggera Reservoir sebenarnya adalah dam yang sudah berfungsi sejak tahun 1866, namun tempat ini juga memiliki pemandangan yang sangat indah. Selain untuk kayaking, tempat ini juga menjadi favorit keluarga dan anak-anak untuk berenang atau sekedar piknik di akhir pekan.

Pemandangan dari Mount Coot-tha lookout

Terakhir, saatnya kalian bertemu dengan hewan asli Australia di Lone Pine Koala Sanctuary: koala dan kanguru. Berjarak sekitar 12 km dari pusat kota, Lone Pine Koala Sanctuary memberikan kesempatan pada pengunjung untuk berfoto bersama koala dan memberi makan kanguru secara langsung. Di koala sanctuary tertua dan terbesar di Australia ini, kalian juga dapat menemukan hewan asli Australia lainnya seperti wombat, platypus, dan Tasmanian devil. Harga tiket untuk orang dewasa adalah $38 atau $24 untuk mahasiswa, tetapi kalian akan mendapatkan diskon 10% bila membeli tiket secara online.

Cukup lengkap dan menarik bukan tempat travelling-nya? So, prepare yourself and see ya in Brissie!

Ditulis oleh : Hesti R.B. Arini, PPI Australia, The University of Queensland, Master of Public Health (@hesti.arini.31)

Categories
Pojok Opini PPI Dunia Upcoming Event Wawasan Dunia

Mengintip Pendidikan di Australia dalam Keberagaman

State Library Victoria, Melbourne, Australia

Perbandingan, adalah kata yang sering muncul bagi mahasiswa Indonesia di luar negeri. Mulai dari membandingkan aspek sosial, budaya, politik, pertumbuhan ekonomi, sampai membandingkan harga sepiring makanan dan sebotol air mineral. Mulai dari perbandingan secara informal dalam percakapan sehari-hari, sampai dengan perbandingan secara formal untuk paper kuliah dengan puluhan referensi peer reviewed journal article. Terlepas dari apa bentuk perbandingannya, yang terpenting adalah perbandingan tersebut bisa dikerucutkan menjadi menjadi hal yang lebih bermanfaat. Contohnya, menjadi sebuah rekomendasi, menjadi sebuah fondasi gerakan perubahan di negeri sendiri, ataupun berbagi ide dan pemikiran melalui cara-cara sederhana.

Menjalani tahun kedua menempuh studi Master of Education (in digital learning) di Monash University, Australia, saya pun mengalami hal sama. Perbandingan adalah jadi sebuah kata yang sering muncul dalam kehidupan akademik maupun sehari-hari, formal maupun informal. Khususnya di bidang pendidikan. Selama tahun pertama menjalani pendidikan di sini, saya berkesempatan menjadi salah satu sukarelawan di beberapa sekolah untuk menjadi tutor homework club.  Ide mengenai homework club adalah sebuah ide yang menarik. Mungkin saya akan sangat senang jika dulu waktu masih bersekolah, ada orang yang dengan senang hati datang ke sekolah untuk membimbing siswa-siswa untuk mengerjakan pekerjaan rumah dengan gratis. Selain itu, ketertarikan saya untuk menjadi sukarelawan di sekolah lokal tak terlepas dari keingintahuan saya, seperti apa kondisi nyata persekolahan di sini.

Menjadi sukarelawan yang berinteraksi dengan anak-anak ternyata membutuhkan izin khusus. Prosedur working with children check yang disyaratkan oleh pemerintah setempat harus dijalani sebagai bukti bahwa tidak pernah terlibat dalam kasus kriminal yang berhubungan dengan anak. Bahwa kita adalah individu yang aman dan layak untuk berinteraksi dengan anak. Program homework club terbuka untuk siswa-siswa yang tertarik, tetapi ternyata didesain khusus diperuntukkan untuk siswa dengan latar belakang yang kurang beruntung (disadvantaged background). Tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga sosial-budaya. Contohnya, siswa-siswa dari keluarga pengungsi yang datang ke Australia dengan keterbatasan bahasa, perbedaan budaya serta sistem pendidikan. Sebuah tantangan bagi mereka untuk bisa belajar dan memahami konsep dalam bahasa yang mereka tidak terlalu kuasai. Tidak jarang saya menemui siswa yang pada dasarnya pandai, akan tetapi mereka hanya butuh dibantu untuk memahami kalimat instruksi dari tugas yang diberikan ataupun kalimat sederhana dalam buku.

Suasana kehidupan masyarakat Australia (Flinders Street, Melbourne)

Menjadi sukarelawan dalam waktu beberapa bulan, sedikit banyak ada beberapa hal menarik dari lingkungan pendidikan di sekolah menengah yang saya saksikan. Saya tidak akan membicarakan perbandingan peringkat PISA negara-negara OECD atau masuk ke dalam perbandingan konsep kurikulum. Akan tetapi realitas sehari-hari siswa sebagai individu yang menjalani proses pendidikan. Hal yang menarik tersebut saya temui, pertama, dari sisi kepekaan multikultural. Seperti Indonesia, ternyata Australia memiliki perbedaan budaya yang cukup besar. Dari hasil sensus penduduk di Australia pada tahun 2016, hampir setengah dari penduduk Australia (49%) tidak dilahirkan di Australia atau setidaknya salah satu dari orang tuanya tidak dilahirkan di Australia. Hal tersebut mengindikasikan bahwa ragam budaya yang berbeda sangat besar dan tentunya rawan potensi intoleransi. Akan tetapi, yang menarik adalah, dalam praktik kehidupan sehari-hari, siswa-siswa tersebut sudah memiliki pemahaman multikultural dan kepekaan terhadap keberagaman. Contohnya, ketika saya menanyakan restoran terdekat, saya tidak langsung mendapatkan jawaban, akan tetapi sebuah pertanyaan, “apakah kamu punya pantangan makanan tertentu? seperti harus makanan halal, atau tidak makan daging”. Dalam benak saya, bagaimana sistem yang mendidik mereka sehingga memiliki kepekaan perbedaan budaya yang cukup tinggi.

Hal kedua yang menarik yang saya temukan adalah siswa diminta dan diarahkan untuk bisa memahami setiap pelajaran dengan lebih mendalam dan tidak sungkan untuk mengkritisi, tidak belajar untuk menghafal. Siswa tidak dididik untuk sekedar menerima pelajaran, akan tetapi bersama-sama mengkaji pelajaran tersebut, baik individu maupun kelompok, dengan berbagai pendekatan. Seperti penugasan berbasis projek penelitian sederhana. Saya yakin, bahwa di Indonesia di beberapa daerah juga sudah melakukan hal yang serupa, sesuai dengan tuntunan pada Kurikulum 2013 yang saat ini berlaku. Akan tetapi, seperti apa praktik yang sesungguhnya?

Hal yang ketiga, pemberdayaan sekolah sebagai satu organisasi yang bertujuan sebagai tempat siswa bertumbuh. Contohnya, Bimbingan Konseling (BK) di sekolah didesain sebagai tempat berkonsultasi bagi siswa ataupun guru yang memiliki kendala dalam lingkungan sekolah.  BK tidak diposisikan sebagai badan yang mengamankan siswa yang melanggar peraturan. Akan tetapi, BK diposisikan sebagai tempat yang bertanggung jawab untuk membuat siswa menjadi nyaman untuk bertumbuh baik dari sisi akademik, fisik, emosional, sosial dan spiritual (student wellbeing). Siswa juga merupakan individu yang rentan permasalahan, seperti keluarga, identifikasi kesulitan kognitif, ataupun interaksi sosial. Karena siswa yang bermasalah, bukan hanya siswa ‘nakal’, akan tetapi siswa yang memiliki ambisi yang tinggi juga memiliki permasalahannya sendiri. Seperti rasa khawatir yang berlebihan jika tidak bisa menjadi yang terbaik yang juga berpengaruh pada banyak hal. Konsep penerapan BK seperti ini mungkin sudah bukan hal asing di Indonesia, akan tetapi bagaimana dalam penerapan yang nyata?

Pengamatan informal selama saya menjadi sukarelawan di sekolah-sekolah ataupun dari sumber-sumber bacaan perkuliahan di Australia memberikan pengalaman yang membuka mata. Ditambah lagi, saya juga merasa antusias ketika mengetahui bahwa Australia menjadi salah satu negara (bersama dengan empat negara lain: Jepang, Singapura, Tiongkok, dan Malaysia) yang akan menjadi tuan rumah program Bantu Guru Melihat Dunia yang diinisiasi oleh PPI Dunia di tahun 2018 ini. Guru-guru yang terpilih akan mendapatkan pengalaman luar biasa dengan melakukan perbandingan antara praktik di sekolah sendiri dan di sini yang memiliki sistem yang berbeda. Pengalaman yang akan didapat oleh guru-guru yang diberangkatkan tentu akan jauh lebih besar dari pada pengamatan informal yang saya miliki, karena program BGMD sudah didesain untuk menyasar aspek spesifik pada praktik di sekolah. Besar harapan bahwa guru-guru yang berangkat akan menjadi penggerak di ekosistem pendidikan di daerah masing-masing untuk melakukan peningkatan kualitas. Semoga program perbandingan yang akan dilakukan oleh guru-guru kita nanti bisa menjadi inisiatif untuk memperkuat pengembangan beberapa lini dan aspek pendidikan di tanah air.

 

Penulis: Dona Niagara, Tim BGMD PPI Dunia (PPI Australia)

Editor: Nadhirariani

Categories
Asia dan Oseania PPI Dunia PPI Negara Travel & Kuliner Wawasan Dunia

Australian Day: Perayaan yang Selalu dalam Perdebatan

Australian Day merupakan perayaan yang terkait dengan identitas negara Australia. Secara umum perayaan ini mirip dengan perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus di Indonesia. Perayaan ini didasarkan pada kedatangan pertama kali koloni Inggris di daratan Australia pada tanggal 26 Januari 1788. Hal yang membuat hari raya ini cukup memicu perdebatan karena menurut sebagian warga negara Australia, terutama dari ras Aborigin, merayakan hari tersebut sama dengan perayaan terhadap kolonialisasi sebuah negara. Tetapi, pada kenyataannya, perayaan ini tetap dilakukan setiap tahunnya.

Australian Day biasa dilakukan dengan berbagai perayaan meriah seperti berbagai perlombaan, konser musik, dan parade di seluruh Australia. Acara seperti lomba melempar sepatu boot, perlombaan footies yang merupakan khas Australia, serta perlombaan seperti balap lari dipraktikan di seluruh negara bagian Australia. Untuk meramaikan acara ini, biasanya warga berkumpul di pusat kota dan pantai dengan membawa makanan serta spanduk-spanduk yang terkait dengan Australia. Di samping itu tentunya perayaan dengan kembang api dan penampilan dari artis lokal juga dilakukan untuk menghibur warga.

Keseruan parade di Melbourne

Di samping aksi perayaan, terdapat pula aksi protes yang dilakukan berbarengan dengan perayaan tersebut. Aksi protes terhadap Australian Day biasanya dilakukan di pusat kota dengan mambawa atribut dan bendera Aborigin diikuti dengan spanduk dan kata-kata protes oleh pesertanya. Para pengunjuk rasa biasanya juga meyuarakan pendapat mereka satu persatu terkait dengan penolakan terhadap Australian Day yang dianggap sebagai perayaan terhadap invasi yang dilakukan oleh Koloni Inggris. Mareka beranggapan bahwa tidak selayaknya sebuah kejahatan itu dirayakan, mengingat penderitaan yang ditimbulkan oleh invasi tersebut masih dirasakan oleh suku Aborigin hingga saat ini. Pada kenyataannya, suku Aborigin masih mendapat banyak diskriminasi, kesulitan mengakses pendidikan dan kesehatan, serta banyak perilaku buruk yang mereka terima.

Terlepas dari perdebatan masing-masing pihak, secara resmi Pemerintah Australia tetap merayakan Australian Day sebagai hari raya resmi secara keseluruhan di seluruh negara bagian sejak tahun 1994. Di masing-masing kota perayaannya disesuaikan dengan kondisi dari negara bagian. Di tempat yang cenderung sepi seperti Adelaide dan Canberra, perayaan lebih banyak dilakukan secara santai dengan berpiknik sekeluarga di taman-taman kota dengan menggunakan atribut Australia. Di kota yang terkenal dengan pantainya seperti Gold Coast, perayaan meriah dipusatkan di pantai dan Surfers Paradise dengan mengadakan berbagai pertunjukan dan perlombaan. 

Bagi kalian yang ingin menyaksikan dan berpartisipasi secara langsung dalam acara Australian Day, mengetahui informasi jenis perayaan pilihan di tiap-tiap negara bagian merupakan keharusan. Pilihan akomodasi dengan haga terjangkau dapat ditemukan secara mudah menggunakan booking.com, airbnb.com, dan lain-lain.  Akses jalan selama perayaan Australian Day akan menjadi terbatas karena terjadi penutupan di beberapa daerah dan perubahan rute dan jadwal transportasi umum. Jadi, pastikan perjalanan kalian terencana dengan baik ketika mengunjungi Australia saat perayaan Australian Day.

Di Melbourne sendiri, tempat saya tinggal, kegiatan lebih difokuskan di Federation Square dan sekitaran Melbourne Central Station. Perayaan lebih difokuskan pada parade keliling kota dengan memakai dan membagikan atribut terkait dengan Australia. Selain itu juga ada beberapa pertunjukan musik yang disertai panggung dilakukan untuk memeriahkan parade tersebut. Beberapa arus jalan dan kendaraan umum ditutup untuk mendukung perayaan tersebut. Berbagai pakaian kedinasan dan atribut terkait Australia bermunculan di seluruh kota. Selain itu juga ada pidato resmi dari pemerintah kota terkait dengan perayaan Australian Day yang diharapkan dapat meningkatkan rasa persatuan negara Australia yang menjunjung tinggi demokrasi dan penghargaan terhadap perbedaan. Sungguh pengalaman yang menarik jika melihat perayaan Australian Day yang di satu sisi mengagungkan Australia sebagai sebuah bangsa dan di sisi lain memprotes invasi Inggris yang dulu dilakukan di Australia. Dua hal tersebut dilakukan pada hari dan tempat yang sama, namun tetap dilakukan secara damai dan saling menghormati. Semoga bisa menjadi pelajaran juga bagi bangsa Indonesia untuk mengerti pentingnya saling menghargai walaupun berbeda.

 

 

Profil Penulis:

Randy Taufik (Master of Laws in the University of Melbourne & Director of External Relations PPI Australia).

Categories
PPI Dunia Travel & Kuliner Wawasan Dunia

Melihat Dunia dan Memaknai Perjalanan Melalui Soul Travellers

Apa jadinya jika 39 penulis muda berkebangsaan Indonesia berkolaborasi menceritakan pengalaman mereka bertualang ke seluruh penjuru dunia? Jadilah sebuah antologi berjudul Soul Travellers: Turning Miles Into Memories yang sejak Agustus lalu sudah diterbitkan oleh Penerbit Grasindo!

Yang membedakan Soul Travellers dengan antologi traveling lainnya adalah setiap kontributor punya cara mereka sendiri untuk mengekspresikan makna di balik perjalanan mereka. Bukan hanya sebagai bagian cerita dari  sebuah pelesiran, namun juga pengalaman mereka saat melakukan business trip, menghadiri conference, ataupun potongan kisah saat tinggal di luar negeri. Maklum, hampir semua penulis Soul Travellers adalah anak muda Indonesia yang berkesempatan mengenyam pendidikan di luar negeri, beberapa di antaranya bahkan adalah peraih beasiswa seperti LPDP, Erasmus, maupun AAS Australia.

Adalah Andre Mokalu, awardee beasiswa Spirit Kemenkeu Bappenas yang memprakarsai penerbitan antologi ini. Andre yang juga aktif di PPI Birmingham awalnya mengajak lima temannya, sebelum akhirnya terkumpullah 39 kontributor dari berbagai latar belakang dan domisili berbeda-beda di seluruh dunia. “Pembuatan kompilasi esai ini bertujuan untuk berbagi semangat dan inspirasi kepada generasi muda Indonesia untuk travelling abroad dan finding the meaning of life sebagai proses pendewasaan”, demikian yang menjadi tujuan Andre di balik pembuatan Soul Travellers. Diakuinya juga, tantangan terbesar adalah mengakali komunikasi jarak jauh kepada teman-teman kontributor yang saat ini masih tersebar tinggalnya, mulai dari Australia yang dekat dengan Indonesia hingga Islandia yang jauh di utara sana.

Stand Soul Travellers di 4th Congress of Indonesian Diaspora 2017

Banyak teman-teman PPI Dunia yang juga menuangkan kisahnya di Soul Travellers. Sebut saja Intan Irani, Koordinator PPI Dunia 2016-2017 yang menceritakan pengalamannya mencari kedamaian bathin di India. Atau petualangan mewujudkan khayalan masa kecil mengunjungi kastil Dracula di Rumania yang dilakukan Steven Guntur yang juga Koordinator PPI Dunia 2015-2016. “Traveling adalah sebuah cara untuk mengakui kebesaran Tuhan. Bukan sekedar mengagumi ciptaan-Nya, tapi juga menyerahkan semua hal yang sudah direncanakan selama perjalanan di tangan-Nya”, kata Jeanne, koordinator travel contributor PPI Dunia yang dalam Soul Travellers menceritakan kisahnya bertemu tukang becak yang menyentuh hati di Myanmar.

Sudah dua bulan sejak penerbitannya dan Soul Travellers sudah terjual lebih dari 2000 eksemplar, lho! Hal ini membawanya menjadi nominasi untuk kategori Sampul Buku Non Fiksi Terfavorit di ajang Anugerah Pembaca Indonesia 2017 yang diselenggarakan oleh Goodreads Indonesia. Filosofi ‘Turning Miles Into Memories’ dituangkan Muhammad Fithrah, alumni STAN yang saat ini melanjutkan masternya di Universitas Brawijaya, ke dalam desain cover berbentuk otak yang terbuat dari jalan raya, menarik bukan?

Soft Launching Soul Travellers di Gramedia Central Park Jakarta, September 2017

Prof. Dr. Mardiasmo, MBA., Akt. selaku Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia juga ikut menuangkan testimoni untuk buku ini “Lakukan perjalanan terbaikmu untuk kembali ke negerimu, turut membangun bangsa ini dengan berbagai pengalamanmu untuk rumahmu, Indonesia”.

Soul Travellers dapat ditemukan di toko buku seluruh Indonesia serta melalui toko buku online. Seluruh hasil profit penjualan buku ini akan disumbangkan untuk Yayasan Kanker Indonesia. Bocorannya nih, bakal ada buku kedua yang berisi kisah makanan dari seluruh dunia yang rencananya akan rilis 14 Februari 2018 tahun depan. Stay tuned di Instagram @soultravellersid untuk info terbarunya ya!

Categories
Berita Inspirasi Dunia PPI Dunia Prestasi Anak Bangsa Suara Anak Bangsa Wawasan Dunia

Kuliah di Luar Negeri Memang Tidak Mudah, Tetapi Kata Menyerah Bukan Jalan Keluarnya

Menuntut ilmu di luar negeri merupakan keinginan banyak orang, berbagai macam alasan dan tujuan menjadi motivasi para pelajar Indonesia untuk menuntut ilmu di negeri orang. Hal tersebut bukanlah tidak mungkin, buktinya saja terdapat sekitar 86.420 mahasiswa Indonesia yang tersebar di 53 negara. Dengan jumlah yang sangat banyak ini, lima peringkat negara dengan jumlah terbanyak pelajar Indonesia adalah Australia, Tiongkok, Kanada, Malaysia, dan Britania Raya. Perjalanan yang ditempuh oleh para mahasiswa yang merantau di negara orang tentu tidak mudah, berbagai macam jenis kegagalan juga dihadapi, dan semua itu mereka ceritakan dalam satu buku.

Buku bertajuk 20 Kisah Perantau Ilmu yang ditulis oleh tim Perhimpunan Pelajar Indonesia di seluruh dunia menyajikan 20 kisah inspiratif pilihan dari para mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di berbagai negara. Beragam kisah dan perjuangan yang dikemas dengan menarik dapat menjadi referensi serta panduan bagi para mahasiswa dan pelajar yang bercita-cita untuk melanjutkan studi di luar negeri.

Setelah perilisan buku 20 Kisah Perantau Ilmu pada 2 Oktober 2017 yang lalu, peluncuran buku secara resmi baru dilaksanakan pada 20 Oktober 2017 di Gramedia Depok. Acara ini mendatangkan 4 narasumber yang merupakan penulis buku ini dan perwakilan BPH PPI Dunia, yaitu Ali Abdillah, Zakiyah Eke, Adi Hersuni, dan Ulfa Ryn. Hatta Bagus Himawan menjadi moderator acara tersebut.

Acara dibuka dengan kata sambutan dari Elexmedia selaku penerbit buku 20 Kisah Perantau Ilmu, lalu Adi Hersuni sebagai perwakilan BPH PPI Dunia, kemudian dilanjutkan oleh Ali Abdillah selaku perwakilan dari 20 penulis. Aninta, Adi dan Ali sepakat bahwa buku ini memberikan perspektif baru bagi pemburu kuliah ke luar negeri yang selalu menghadapi hambatan saat memperjuangkan mimpinya untuk kuliah di luar negeri. Selama ini, buku yang berada di pasaran cenderung lebih menonjolkan kisah sukses kuliah di luar negeri. Sebaliknya buku ini lebih menyoroti bagaimana kegagalan-kegagalan yang dihadapi oleh para penulis saat berburu kuliah ke luar negeri dan proses menjalaninya. Mereka juga menyampaikan bahwa kegagalan bukanlah hal yang luar biasa, untuk bisa kuliah ke luar negeri membutuhkan kerja keras, disiplin dan pantang menyerah dalam menghadapi masalah yang ada. Bahkan pada satu titik, kegagalan adalah kawan baik mereka. Mereka juga menambahkan, saat setelah lulus nanti jangan pernah lupakan negara Indonesia yang telah membesarkan kita.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan talkshow dan tanya jawab. Disini moderator, Hatta, memberikan beberapa pertanyaan kepada narasumber seputar proses mendapatkan beasiswa dan sekolah di luar negeri, dan proses menjalaninya. Beragam cerita disampaikan oleh para narasumber. Sebagai contoh Zakiyah Eke atau biasa dipanggil Eke, untuk dapat bisa meraih mimpinya Eke harus melalui jalan terjal dan berliku. Penolakan-penolakan dan kegagalan sudah menjadi makanan ia selama 3 tahun memperjuangkan mimpinya. Saat itu, Eke juga sedang bekerja saat proses mendaftar beasiswa sekolah ke luar negeri, sehingga ia harus putar otak dan membagi waktu untuk belajar dan mempersiapkan persyaratan kuliah di luar negeri seperti IELTS dan surat-surat lainnya. Khusus untuk
IELTS, Eke menyiapkan waktu tersendiri. Eke sengaja datang ke kantor 2 jam sebelum jam masuk kantor agar bisa belajar IELTS dan juga sepulang kerja Eke meluangkan waktu untuk belajar minimal 2 jam. Tetapi, ternyata kedisiplinan belajar tidaklah cukup, butuh dedikasi dan di sinilah kekuatan mimpi diuji. Tidak serta-merta Eke mendapatkan nilai IELTS yang cukup memenuhi syarat untuk mendaftarkan diri pada beasiswa atau sekolah yang diinginkan. Eke harus mengalami kegagalan 5 kali tes IELTS hingga tes ke 6 dapat membawanya kuliah ke luar negeri dengan beasiswa penuh dari pemerintah Belanda.

Lain lagi cerita dari Adi Hersuni, Adi harus menerima bahwa IPK S1 dia dibawah 3 (tiga). Tetapi hal tersebut belumlah cukup untuk memaksa Adi mengatakan kata menyerah dan mengubur asa kuliah di luar negeri. Adi berjuang dengan berbagai cara hingga harus menyiapkan waktu khusus setiap hari menyiapkan persyaratan ke luar negeri. Adi bercerita, setiap rehat kerja, dia selalu membuka buku persiapan IELTS bahkan tidak jarang Adi pergi ke mushola untuk bisa fokus belajar. Bahkan di tengah proses itu, Adi harus menghadapi kenyataan anak yang masih di dalam kandungan istrinya meninggal dunia. Tetapi lagi-lagi, hal itu tidaklah cukup kuat memendam asa Adi untuk dapat kuliah di luar negeri. Di akhir cerita, Birmingham University menjadi saksi perjuangan Adi yang tanpa kenal kata menyerah. Dan tahun ini, Adi telah pulang dari perantauan di tanah Britania Raya dengan membawa ijazah master-nya.

Kisah selanjutnya adalah tentang Ulfa, yang dihadapi Ulfa berbeda dengan yang lainnya. Izin orang tua yang menjadi kendala utamanya. Tetapi Ulfa bukanlah orang yang gampang mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Seribu satu cara telah difikirkan matang-matang olehnya. Alhasil summer course, conference dan exchange program telah membawanya menjejakkan kaki di universitas-universitas di luar eropa tanpa harus melanggar janji terhadap orang tua-nya.

Kisah terakhir dari Ali Abdillah, untuk menggapai mimpinya Ali harus menghadapi kenyaatan bahwa dialah sekarang yang menjadi kepala keluarga setelah ayahnya meninggalkan ia dan keluarganya 2 tahun sebelumnya. Praktis urusan pemasukan rumah tangga berada di pundak Ali. Disini mimpi Ali diuji dalam merealisasikan mimpi ayahnya untuk kuliah di luar negeri. Masalah boleh datang tapi ikhtiar tidak akan pernah bisa mengkhianati orang yang telah berusaha mati-matian. Sekarang, dia telah membuktikan diri, Leiden University telah ditaklukkannnya dan tentu mimpi-mimpi selanjutnya siap untuk ditaklukkannya.

Di akhir sesi, para narasumber berpesan bahwa saat kita sudah di luar negeri nanti dan sudah meraih mimpi kita nanti, jangan lupakan negeri ini. Banyak hal yang butuh diperbaiki. Memang negeri orang lain akan menawarkan beribu janji untuk perbaikan kehidupan. Tetapi, negeri sendiri selalu layak untuk diperjuangkan.

Narasumber :

– Ali Abdillah (Master – European Union law at Leiden Law School (Belanda), Sekjen PPI Belanda 2015, Ketua BEM UI 2013, Ketua BEM FHUI 2012).

– Zakiyah Eke (Master – Nutrition Epidemiology at Wageningen University & Research (Belanda), Ketua Divisi Humas PPI Belanda 2015).

– Adi Hersuni (Master – Materials Science & Engineering at University of Birmingham (Inggris), Ketua Kantor Komunikasi PPI Dunia 2017, Ketua BEM FTUI 2008, Ketua Ikatan Mahasiswa Metalurgi & Material FTUI 2007).

– Ulfa Ryn (Mobility- Software Engineering, UTeM (Malaysia)).

Moderator
Hatta Bagus Himawan (Master – Innovation management at TU Eindhoven (Belanda))

 

 

Categories
Pojok Opini PPI Dunia

Hari Guru Sedunia: Refleksi Pendidikan Indonesia dan Kesukarelawanan

Hari ini, 5 Oktober 2017, adalah Hari Guru Sedunia atau World Teacher’s Day yang sudah diperingati sejak tahun 1994. UNESCO menginisiasi Hari Guru Sedunia dengan tujuan utama untuk memberikan dukungan kepada guru-guru sedunia dan menekankan bahwa keberlangsungan masa depan ada di tangan mereka untuk mendidik generasi penerus.

Hari Guru Sedunia digagas secara global dengan dasar bahwa setiap guru di setiap negara adalah agen pendidikan bagi warga dunia. Oleh karena itu, dinilai penting untuk membuat satu hari khusus untuk merefleksi, mengapresiasi, dan mendorong peningkatan kualitas guru di dunia.

Categories
Berita Kajian Nuklir Komisi Energi

PEMANFAATAN TEKNOLOGI NUKLIR UNTUK PENGEMBANGAN PUPUK HAYATI

Sebuah teknologi yang bernama nuklir, sering dikenal orang sangat menakutkan karena mempunyai sejarah yang cukup kelam dalam perang dunia. Namun, sekarang ini teknologi nuklir tumbuh dewasa dengan menebarkan manfaat untuk kemaslahatan umat. Hal ini dibuktikan dengan beberapa temuan dan penelitian dalam berbagai bidang. Tidak hanya dalam bidang energi, teknologi nuklir juga dimanfaatkan dalam bidang non energi yang salah satunya ialah bidang pertanian. Salah satu pemanfaatan nuklir dalam bidang pertanian ialah digunakannya teknologi nuklir untuk membuat biofertilizer yang merupakan hasil kolaborasi dari Food Agriculture Organization (FAO) dengan International Atomic Energy Agency (IAEA). Kolaborasi ini menghasilkan teknologi nuklir untuk bidang pertanian, salah satunya ialah nuclear biofertilizer atau pupuk hayati dari hasil teknologi nuklir.

Kegunaan teknologi nuklir dalam pupuk hayati lebih mengarah pada cara mensterilisasi mikroba dalam bahan pembawa. Bahan pembawa sangat penting dalam memproduksi pupuk hayati karena mengandung mikroba bawaan dalam jumlah yang sangat banyak hingga 106 sel/gram bahan pembawa bahkan lebih (Enjelia, 2011). Sterilisasi dilakukan untuk mengurangi atau membunuh jumlah mikroba bawaan (indigenus). Karena itu lah sterilisasi mutlak harus dilakukan agar dapat menyortir bahan pembawa yang diinginkan. Mensterilisasi dengan iradiasi gamma dirasa lebih baik, lebih irit dan praktis dari pada dengan menggunakan autoklaf yang selama ini digunakan. Dengan menggunakan iradiasi gamma, prosesnya membuat hampir tidak ada perubahan sifat fisik dan kimia pada materialnya. Sedangkan sterilisasi menggunakan autoklaf, beberapa material dapat mengubah sifatnya sehingga berefek samping akan dapat menghasilkan zat beracun bagi strain bakteri (FNCA, 2005).

Penelitian tentang nuclear biofertilizer secara konsisten diteliti oleh banyak negara yang tergabung dalam Forum for Nuclear Cooperation Asia atau FNCA, yaitu Jepang, Australia, Bangladesh, China, Indonesia, Kazakhstan, Korea, Malaysia, Mongolia, Filipina, Thailand dan Vietnam. Pada tahun 2014, FNCA menginformasikan fakta-fakta positif atas penggunaan nuclear biofertilizer. Di China, pupuk hayati dari hasil teknologi nuklir berpengaruh pada peningkatan hasil panen. Pupuk hayati berpengaruh meningkatkan bobot segar dan bobot kering jagung hingga 91,8% dan 211,8% dibandingkan dengan kontrol. Di Mongolia, pengaruh pupuk hayati dari teknologi nuklir dengan memanfaatkan Aspergillus niger berpengaruh pada peningkatan hasil biji bunga matahari sebesar 59,8% bila dibandingkan dengan tanaman kontrol. Di provinsi Shandong, penggunaan pupuk hayati pada budidaya tomat dapat meningkatkan hasil hingga 35% dari tanaman control (FNCA, 2016).

Di Indonesia, penelitian tentang hal ini dikembangkan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional atau yang biasa disebut BATAN. BATAN telah meriset dan memperoleh mikroba yang membuat tanah lebih mampu menangkap nitrogen dan membuatnya menjadi subur. Mikroba itu bernama Azospirillum disterilisasi dengan radiasi sinar gamma dari Cobalt 60 yang kemudian akan menjadi suatu produk pupuk hayati dari nuklir. Hasil proyek ini dimulai sejak tahun 2001 dan sudah menghasilkan isolat unggul pupuk hayati. Pengaplikasian sudah digunakan pada berbagai komoditas pertanian seperti jagung, salada, bukis, brokoli, sawi, cabe dan keberhasilannya meningkatkan komoditas pertanian (Kompas, 2009).

Pemberian inokulan berbasis kompos teriradiasi dengan bioaktif berupa kombinasi isolat Azotobacter sp. (KDB2), Bacillus sp. (KLB5+BM5+KBN1) dan Trichoderma sp. (KLF6), dapat meningkatkan serapan hara N dan P. Penggunaan ini sebagai biofertilizer yang mampu meningkatkan tinggi tanaman sekitar 23,64%, bobot kering berangkasan tanaman 63,62%, bobot hingga 29,41%, dan produksi tongkol segar jagung manis hingga 29,35% (Mulyana dan Dadang, 2012).

Maka dari itu, peran teknologi nuklir dalam pupuk hayati ini perlu dikembangkan secara konsisten. Selain cukup efektif, metode ini juga dapat mendukung pertanian berkelanjutan, dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik yang merugikan lingkungan, serta dapat meningkatkan hasil produksi pertanian. Jika kombinasi riset antara bidang pertanian dengan bidang nuklir ini terus digalakkan, besar harapan kedepan akan muncul penemuan-penemuan yang lebih dari sekarang.

Hambatan yang terjadi selama ini tidak hanya dalam hal terbatasnya teknologi di Indonesia, namun juga dari segi sosial akan penerimaan nuklir di kalangan masyarakat Indonesia serta pengedukasian dikalangan petani terkait nuclear biofertilizer. Faktanya petani sampai saat ini masih menggunakan metode lama yang dianggap menguntungkan pada masa kini dan tidak untuk masa depan. Padahal cara-cara lama seperti menggunakan pupuk anorganik dapat berakibat buruk di masa yang akan datang. Penggunaan pupuk anorganik secara terus menerus dapat mengeraskan tanah, mengurangi kesuburan tanah, memperkuat pestisida, mencemari udara dan air, melepaskan gas rumah kaca sehingga dapat membahayakan kesehatan lingkungan dan manusia (Zaman et al., 2017).

Di sinilah peran pemanfaatan teknologi nuklir untuk pengembangan pupuk hayati menjadi penting. Adanya pupuk hayati dari hasil teknologi nuklir ini akan dapat memacu hasil produksi pertanian dan juga mampu mengurangi hal-hal buruk dari sector pertanian yang dapat terjadi di masa yang akan datang.

Daftar Pustaka

Enjelia. 2011. Penggunaan Sterilisasi Iradiasi Sinar Gamma Co-60 dan Mesin Berkas Elektron pada Viabilitas Inokulan dalam Bahan Pembawa (Kompos dan Gambut). Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Available at http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/46875/A11enj.pdf;jsessionid=E65EEBEC8E7DCC93645679147ECD1A70?sequence=1

FNCA. 2005. FNCA Biofertilizer Newsletter 6. Available at http://www.fnca.mext.go.jp/english/bf/news_img/nl06.pdf

FNCA. 2016. FNCA Biofertilizer Newsletter 14. Available at http://www.fnca.mext.go.jp/english/bf/news_img/nl14.pdf

Kompas. 2009. Pupuk Radiasi Nuklir Tingkatkan Produktivitas Pertanian. Available at http://sains.kompas.com/read/2009/02/23/1744399/pupuk.radiasi.nuklir.tingkatkan.produktivitas.pertanian

Mulyana, N dan Dadang Sudrajat. 2012. Formulasi Inokulan Konsorsia Mikroba Rhizosfer Berbasis Kompos Teriridiasi. Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi. BATAN. Available at http://digilib.batan.go.id/ppin/katalog/file/BP_12.pdf

Zaman, S. Prosenjit. P dan Abhijit Mitra. 2017. Chemical Fertlizer. Available at https://www.researchgate.net/profile/Abhijit_Mitra3/publication/265968789_CHEMICAL_FERTILIZER_By/links/54227bb60cf238c6ea67a7b4/CHEMICAL-FERTILIZER-By.pdf

 

Oleh : MUHAMAD SYAIFUDIN

Diperiksa oleh : Erwin Fajar, M. Mahfuzh, Dwi Rahayu

Tim Kajian Nuklir PPI Dunia – Divisi Non Energi

Categories
Berita Kajian Nuklir Komisi Energi

Teknik Fingerprinting Tracer dengan menggunakan Fallout Radionuklir untuk Prediksi Erosi (khususnya 137Cs)

Pendahuluan 

Mendengar kata Nuklir merupakan momok tersendiri bagi masyarakat. Namun jangan salah, nuklir rupanya dapat kita manfaatkan menjadi sesuatu hal yang baik dan berguna. Bukan hanya di bidang energi, kesehatan dan pertanian, nuklir juga dapat kita manfaatkan keberadaannya untuk menanggulangi masalah-masalah lingkungan, salah satunya untuk penanggunangan akan konservasi tanah akibat erosi. Unsur nuklir atau radioaktif yang dapat kita manfaatkan adalah unsur yang mempunyai bilangan radio isotop.

Isotop adalah sebuah unsur dimana keadaan inti atom (nucleus) menjadi tidak stabil karena kehilangan atau kelebihan neutron (muatan negatif), sedangkan jumlah protonnya (muatan positif) sama. Contohnya adalah unsur Oksigen (16-O), pada kondisi yang stabil, Oksigen mempunyai jumlah proton dan neutron masing-masing 8. Namun, pada keadaan yang tidak stabil akibat sesuatu hal seperti reaksi nuklir, jumlah neutron pada Oksigen dapat berkurang atau bertambah menjadi 12-O (jumlah proton 8 dan neutron 4) atau 24-O (jumlah proton 8 dan neutron 16). Disebut radioisotop karena unsur-unsur tersebut bersifat radioaktif. Pada kenyataannya, oksigen mempunyai sifat radioaktif pada bilangan 13-O dan 15-O.

Gambar 1. Isotop dari Oksigen Sumber: https://sites.google.com/site/ellesmerealevelchemistry/module-2-foundations-in-chemistry/2-1-atoms-and-reactions/2-1-1-atomic-structure-and-isotopes/2-1-1-a-isotopes

Beberapa radioisotop yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan penelitian dalam studi lingkungan salah satunya adalah unsur Caesium-137 (137-Cs). Pada dasarnya, Caesium merupakan unsur logam berat yang berwujud cair pada suhu ruangan dan merupakan salah satu unsur toksik berbahaya. Namun disisi lain, 137-Cs radioisotop banyak dimanfaatkan untuk keperluan penelitian di belahan bumi utara, yang mana daerah utara merupakan daerah yang banyak terdapat sumber radioisotop seperti di Chernobyl, Ukraina dan juga Fukushima, Jepang. Namun, 137-Cs juga terdeteksi di belahan bumi selatan seperti Australia dan Asia Tenggara. (Lougran, 1993; Martinez et al., 2009; Furuichi and Wasson, 2013). Dengan konsentrasi rendah dan data terbatas, 137-Cs hasil inventarisasi di belahan bumi selatan menunjukkan bahwa konsentrasi 137-Cs rupanya mencapai di atas batas bawah konsentrasi yang dapat digunakan untuk prediksi laju erosi. Selain 137-Cs, unsur lain yang banyak digunakan untuk prediksi laju erosi tanah adalah timbal-210 (210-Pb) dan berilium-7 (7-Be). Unsur-unsur tersebut bukan berasal dari kondisi reaksi fisika biasa yang terjadi pada kehidupan sehari-hari, khususnya pada timbal-210. 210-Pb tidak berasal dari pembakaran asap kendaraan bermotor seperti yang sering diduga oleh banyak masyarakat awam. Unsur-unsur radioisotop tersebut, terutama 137-Cs tercipta dan tersebar akibat dari peristiwa yang dinamakan Fallout Radio Nuclear (FRN). Peristiwa fallout atau kejatuhan radionuklir dimulai pada tahun 1954, dimana negara-negara barat memulai percobaan aktifitas nuklir. Kemudian mencapai puncaknya pada tahun 1960an setelah dilakukannya banyak pengujian bom nuklir hingga pada tahun 1963 disepakati penandatangan Perjanjian Pelarangan Uji Coba Nuklir.

210-Pb adalah produk alami dari peluruhan Uranium-238 (238-U) yang berasal dari peluruhan gas Radon-222 (222-Rn), yaitu anakan dari unsur Radium-226 (226-Ra). 210-Pb dapat ditemukan secara alami di tanah dan batu yang mengalami peluruhan. Sedangkan 7-Be adalah radionuklida kosmogenik alami yang diproduksi di stratosfer dan troposfer sebagai akibat dari reaksi spallation dari nitrogen dan oksigen yang kemudian kemudian mengendap dan jatuh ke bumi. Waktu paruh 137-Cs, 210-Pb dan 7-Be masing-masing adalah 30,1 tahun; 22,3 tahun dan 53,12 hari. Oleh karena waktu paruhnya yang lama, juga ketersediaannya di tanah, 137-Cs dan 210-Pb adalah unsur-unsur yang paling banyak dimanfaatkan untuk pelacak jejak dan prediksi laju erosi (Guzman et.al., 2013). Akibat dari peristiwa tersebut, unsur radioaktif secara mikroskopis terbang dan tersebar ke udara dan terbawa angin menyebar dan jatuh ke seluruh belahan bumi. Namun, unsur-unsur radioaktif mempunyai waktu paruh yang akan membuatnya rusak dan menghilang. Pada tahun 1980an, hampir semua unsur radioisotop yang jatuh ke permukaan bumi hampir mengalami kerusakan hingga ke konsentrasi nol. Namun, akibat dari persitwa meledaknya pembangkit nuklir di Chernobyl pada tahun 1986, jumlah konsentrasi unsur radioaktif yang tersebar meningkat kembali (Zapata ed., 2010). Karena setiap unsur radioisotop mempunyai waktu paruh, maka pada prinsipnya unsur-unsur tersebut dapat menjadi acuan perbandingan konsentrasi pada aktivitas erosi. Inilah yang menjadi prinsip dasar metode prediksi laju erosi dengan memanfaatkan unsur radioisotop. Radioisotop ini telah digunakan di berbagai lingkungan pengendapan untuk menentukan tingkat erosi dan sedimentasi untuk skala menengah (puluhan tahun) di berbagai skala spasial (daerah berbukit, padang rumput, tanah datar dll).

 

Penggunaan Teknik Fingerprinting untuk Prediksi Erosi

Seperti disebutkan sebelumnya, prinsip dasar penggunaan FRN adalah dengan membandingkan persediaan FRN di daerah terkikis dan daerah yang tidak terkikis, begitu juga dengan teknik fingerprinting menggunakan 137-Cs. (Zapata, 2010). Daerah tidak terkikis didefinisikan sebagai lokasi pembanding yang mana tanahnya tidak mempunyai catatan sejarah erosi baik pengikisan atau pun deposisi. Daerah terkikis didefinisikan sebagai daerah dengan erosi, baik itu terkikis atau pun mengalami pengendapan, utamanya terjadi setelah fallout nuklir pertama (akhir tahun 1960-an) sampai saat ini. Gambar 2 menunjukkan pola distribusi vertikal 137-Cs pada profil tanah yang dikembangkan dari bahan induk yang berbeda pada dua jenis penggunaan lahan.

Walling (1991) pada Zapata (2010) menentukan penggunaan lahan menjadi dua jenis besar, tanah tidak terganggu dan tanah terganggu, yang terkadang didefinisikan juga sebagai tanah bebas dan tanah pertanian. Tanah terganggu adalah lahan dengan banyak tujuan pengembangan, misalkan pertanian, pelatihan militer, industri, pengolahan sampah kota dll. (Bhattarai et al., 2011). Tanah tidak terganggu didefinisikan sebagai tanah tanpa bebas, contohnya padang rumput, sabana, stepa dll. (Walling, 1991; Zapata, 2010). Beberapa peneliti masih sulit untuk membedakan lokasi pembanding dengan tanah terganggu dan tanah tergarap karena tidak ada penjelasan yang cukup jelas mengenai hal tersebut. Namun, Tang et al. (2006) pada Gambar 2 menekankan bahwa tanah yang digunakan sebagai pembanding, atau yang disebut dengan lokasi pembanding, dapat berasal dari tanah terganggu dan tanah tidak terganggu selama tidak ada bukti catatan erosi.

Gambar. 2 ketersediaan 137-Cs pada lokasi pembanding di atas bahan induk yang berbeda, termasuk Kuarter tanah liat merah (QRC), batu pasir merah (RSS), argillaceous shale (ARS) dan granit (GRA) pada penggunaan lahan yang berbeda, termasuk uncultivated crest (U1) dan sawah (P1). a -d: QRC-U1, RSS-U1, ARS-U1, dan GRA-U1. e -h: QRC-P1, RSS-P1, ARS-P1, GRA-P1 (Tang et al., 2006).

Ada perbedaan besar antara persediaan konsentrasi 137-Cs di lahan tidak terganggu dan lahan terganggu pada Gambar 2. Gambar 3 mendukung penjelasan Gambar 2 a-d dimana tanah yang tidak terganggu memiliki pola yang mana lapisan permukaan tanahnya mengandung konsentrasi 137-Cs yang tinggi. Konsentrasi tersebut akan berangsur-angsur menurun seiring dengan kedalaman tanah. Semakin dalam tanah, semakin rendah konsentrasinya. Hal ini berhubungan dengan sifat tanah dimana semakin dalam tanah, semakin rendah kandungan tanah liat (clay)-nya. Persediaan pada lokasi pembanding ini mewakili akumulasi 137-Cs dari dampak pertama sampai hari pengambilan sampel.

Gambar 3. Ketersediaan 137-Cs diambil dari lokasi pembanding lahan tidak terganggu, di DAS Kaleya, Zambia (Collins et al., 2001).

Gambar 4 dan 5 menunjukkan daerah yang diamati baik pengikisan maupun pengendapan. Grafik kiri menunjukkan pengikisan dan di sebelah kanan adalah pengendapan. Dengan melihat jumlah total konsentrasi, jenis erosi bisa ditentukan apakah itu pengikisan ataukah pengendapan. Pengikisan terjadi apabila total persediaan 137-Cs di daerah pengamatan lebih rendah dari total persediaan di lokasi pembanding. Sebaliknya, pengendapan terjadi bila persediaan di daerah pengamatan lebih tinggi dari pada lokasi pembanding. Perbedaan antara lahan yang tidak terganggu (Gambar 4) dan lahan yang terganggu (Gambar 5) dapat dilihat dari pola persediaan dan juga ditunjukkan pada Gambar 2.

Pola pada gambar 2 a-d serta Gambar 4 secara bertahap menurun dari permukaan ke batuan tempat tidur. Kedalaman. Gambar 4 (kanan), dari 0-14 cm mewakili bagian pengendapan. Inventaris 137-Cs akan selalu lebih tinggi pada lapisan permukaan (0-5 cm) karena proses kejatuhan mencapai lapisan permukaan sebelum diangkut secara vertikal ke lapisan yang lebih dalam. Kemudian lahan yang terganggu ditunjukkan pada Gambar 2 e-h, serta Gambar 5, memiliki pola serupa. Persediaan per kedalaman hampir serupa membentuk garis vertikal. Itu adalah hasil aktivitas yang dilakukan oleh manusia seperti pembajakan tanah dan budidaya tanaman. Kedalaman pengolahan tanah (Gambar 5) mengacu pada kegiatan pengolahan tanah sampai kedalaman 18 cm; hal ini membuat persediaan 137-Cs tercampur.

Gambar 4. ketersediaan 137-Cs yang diambil dari lahan tidak terganggu berupa padang rumput dengan aktivitas penggembalaan, bertempat di DAS Kaleya, Zambia (Collins et al., 2001).Keuntungan dan Kelemahan Penggunaan Teknik Fingerprinting

Gambar. 5 ketersediaan 137-Cs yang diambil dari lahan terganggu yang berupa lahan budidaya tanaman komersil, bertempat di DAS Kaleya, Zambia (Collins et al., 2001). Catatan: kiri: pengikisan, kanan: pengendapan

Kelebihan penggunaan teknik fingerprinting adalah mudah dilakukannya pengambilan sampel dan hemat biaya serta efisien waktu. Pengambilan sampel hanya dibutuhkan satu kali pengambilan sampel tanpa harus dilakukan berulang kali. Selain itu, dengan teknik fingerprinting ini, kita dapat mengetahui pola perpindahan tanah dalam jangka waktu selama waktu paruh unsur yang digunakan dalam analisa (Mabit et al., 2008). Teknik ini juga dapat diterapkan di daerah tangkapan air dari skala kecil hingga skala luas (Theocaropaulos et al., 2003). Unsur radionuklir tersebut diserap ke dalam partikel tanah tanpa membuat perubahan pada sifat fisik dan biologis. Namun, proses perpindahannya sangat didominasi oleh proses fisika tanah (Ritchie dan Henry, 1990). Dengan metode ini pula, kita dapat mengintegrasikan data perpindahan tanah dengan pembuatan peta, sehingga dapat di dapat peta sejarah perpindahan tanah seumur dengan waktu paruh unsur yang digunakan.

Menilik dari penambahan konsentrasi radionuklir dari peristiwa ledakan di Chernobyl dan Fukushima, ketersediaan radionuklir dapat berubah. Namun, hingga saat ini, tidak ada cukup bukti untuk memperkuat hipotesis tersebut. Hal ini menjadi sulit untuk dilakukan analisis, terlebih tentang bagaimana pergerakan pola fallout seiring waktu tanpa adanya penelitian secara terus menerus pada titik pengambilan sampel yang sama. Sebagian besar peneliti telah melakukan prediksi berdasarkan teknologi simulasi komputer (Yasunari et al., 2011). Sayangnya, pergerakan yang terjadi sesungguhnya tidak dapat diprediksi dengan 100% akurat. Penelitian yang berkesinambungan untuk area tertentu mungkin diperlukan untuk memahami karakteristik lengkap dari ketersediaan FRN mengenai sumber fallout tambahan.

Di sisi lain, Collins et al., (2001) menyatakan bahwa jumlah total laju erosi tanah per waktu yang diukur berdasarkan pada sampel yang dilakukan di penampang lintang lahan terpilih. Dengan kata lain, kelemahannya adalah bahwa sampel yang didapat belum dapat mewakili daerah tangkapan air secara keseluruhan. Namun, hal inijustru akan menjadi kesempatan bagus untuk mengembangkan metode ini untuk mendapatkan validasi penggunaan metode fingerprinting yang dapat mencakup daerah tangkapan air secara keseluruhan. Metode fingerprinting ini berjalan sukses di Eropa. Namun, beberapa negara , khususnya Asia, memerlukan penelitian lebih lanjut untuk menemukan metode dan unsur yang sesuai dengan daerahnya masing-masing dalam menentukan tingkat erosi tanah.

Parson dan Foster (2011) berpendapat bahwa masih terlalu sulit untuk menentukan hasil akhirnya, yaitu laju erosi per tahunnya. Banyak asumsi yang digunakan dalam metode ini, seperti dampak pertama yang diperkirakan terjadi pada tahun 1960, tidak ada sejarah erosi untuk lokasi pembanding terpilih, dan lain-lain. Dengan demikian, tampaknya tidak cukup meyakinkan untuk menindaklanjuti langkah selanjutnya, yaitu konservasi tanah. Sedangkan, metode konservasi sangat bergantung pada tingkat erosi. Namun, Mabit et al., (2013) menepis argumen tersebut dengan menekankan bahwa metode ini harus diterapkan dengan terampil dan dalam perencanaan dan pengetahuan ahli yang cermat. Selain itu, metode ini dapat digunakan untuk memprediksi besarnya erosi, bukan untuk menentukan tingkat bahaya erosi secara mutlak. Selain itu, metode ini dapat diterapkan di daerah yang sulit untuk diakses dan daerah yang sulit untuk dilakukan pengambilan sampel dengan metode pengukuran erosi yang konvensional.

 

Oleh : Diana Hapsari dan Siti Horiah – Tim Kajian Nuklir PPI Dunia

 

(AASN)

Categories
Berita

Simposium Asiania – Taipei 2017 Hari Pertama

Hari ini, 23 Maret 2017, telah berlangsung Simposium Taipei 2017 hari pertama. Simposium hari ini dibuka oleh Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei Bapak Robert James Bintaryo, didampingi Prof. Lin Tso Yu Dean Office of General Affairs National Chengchi University (NCCU), dan Pitut Pramuji, Ketua PPI Taiwan.

Acara simposium yang diselenggarakan oleh PPI Taiwan dan PPI Asia-Oseania ini dihadiri oleh delegasi PPI dari beberapa negara, yaitu Tiongkok, Thailand, Filipina, Malaysia, Australia, India, dan Korea, serta perwakilan PPI kampus di Taiwan.

Mengusung tema “Transformasi Hubungan Bilateral Indonesia-Taiwan di Bawah New South Bound Policy: Retrospeksi dan Prospek Kerjasama di Masa Mendatang,” simposium hari ini menghadirkan keynote speaker Prof. Bruce Chih- Yu Chien Negotiator Trade of Negotiations Executive Yuan,  dan Prof. Makarim Wibisono, Duta Besar RI di PBB 2004-2007 yang saat ini menjabat Koordinator Europalia.

Prof. Bruce membawakan keynote speech “The New South Bound Policy” dan Prof. Makarim membawakan keynote speech “One China Policy Conundrum: What Working Practices Can and Can Not Be Done Among Indonesia and Taiwan Relation.”

Simposium dibagi dalam tiga panel. Panel pertama membahas tentang hal yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh fungsionaris Indonesia dan Taiwan dalam lingkungan kerja. Hadir sebagai narasumber panel 1 Anggota Komisi 8 DPR RI Arief Suditomo, Prof. Ching-Lung Tsay, Professor Bidang Asia Study Tamkang University, dan Abdul Rosyid, Pemenang Call for Paper.

Panel kedua membahas tentang peluang dan tantangan di bidang investasi, menghadirkan Yanuar Fajari, Asisten Senior Bidang Investasi KDEI, Muhamad Lutfi Aljufri, Pemenang Call for Paper, serta Founder dan CEO Out of The Box Consultancy, Dr. Mignone Man-Jung Chan.

Panel ketiga membahas tentang perwakilan bidang pendidikan untuk memaksimalkan manfaat bagi kedua negara. Dalam panel ini hadir sebagai narasumber Julian Aldrin Pasha, Kepala Depatemen Ilmu Politik Universitas Indonesia yang merupakan mantan Juru Bicara Kepresidenan, Wilson Gustiawan, Pemenang Call for Paper, Haryanto Gunawan, Konsultan Senior Elite Study of Taiwan, dan Paramitha Ningrum, Dosen Hubungan Internasional Binus University.

 

Simposium ini didukung oleh Bank Mayapada, Taiwan Economic and Trade Office (TETO), Institute of International Relation (IIR) NCCU, dan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei.

Categories
Asia dan Oseania Berita PPI Dunia

Simposium Taipei 2017 Bahas Hubungan Bilateral Indonesia-Taiwan dan Revolusi Mental di Sektor Pendidikan Indonesia

Pada tanggal 23-25 Maret mendatang, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di kawasan Asia-Oseania akan berkumpul di Taiwan dalam acara Simposium Taipei 2017. Simposium di Taipei ini akan dibagi menjadi tiga agenda, yaitu simposium PPI Taiwan, simposium PPI Asia-Oseania dan rapat besar PPI Asia-Oseania.

Simposium Internasional PPI yang digelar di National Cheng Chi University (NCCU), Taiwan ini akan membahas hubungan bilateral Indonesia-Taiwan (Simposium PPI Taiwan) dan pengembangan sektor pendidikan di Indonesia (Simposium PPI Asia-Oseania).

Pada hari pertama Simposium Taipei 2017, akan digelar Simposium PPI Taiwan dengan tema Transformasi Hubungan Bilateral Indonesia-Taiwan: “Retrospeksi dan Prospek Kerjasama di Masa Mendatang.” Pemilihan tema ini dilatarbelakangi adanya kebijakan baru pemerintah Taiwan, yaitu New South Bound Policy.

Pada tahun 2016, pemerintahan baru Taiwan yang dipegang oleh Presiden Tsai Ing-Wen dan Wakil President Chen Chien-Jen mengeluarkan Kebijakan Baru ke Arah Selatan (New South Bound Policy). Taiwan New South Bound Policy merupakan kebijakan yang fokus pada pengembangan sumber daya manusia dan mendorong interaksi atau kerjasama bilateral dalam bidang industri, investasi, pendidikan, kebudayaan, pariwisata dan pertanian antara Taiwan dengan negara-negara ASEAN, Asia Selatan, Australia dan Selandia Baru. Kebijakan ini menjadi peluang dan tantangan bagi Indonesia, yang didiskusikan dalam diskusi panel Simposium PPI Taiwan.

Para peserta akan berdiskusi dalam tiga panel diskusi bersama pembicara yang kompeten di bidangnya. Panel pertama mendiskusikan tentang One China Policy Conundrum: Hal yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh fungsionaris Indonesia dan Taiwan dalam lingkungan kerja. Panel kedua adalah mengenai Trade and Investment Affairs: Ide untuk mendukung hubungan ekonomi Indonesia-Taiwan? Blue print untuk mengakselerasikan kerja sama di masa mendatang. Panel ketiga mendiskusikan tentang Education Diplomacy: mengembangkan program yang saling menguntungkan guna memaksimalkan manfaat bagi kedua belah pihak.

Pada hari kedua Simposium Taipei 2017, akan digelar Simposium PPI Asia-Oseania dengan tema “Tantangan Meningkatkan ‘Revolusi Mental’ di Sektor Pendidikan Indonesia pada Abad ke-21.” Adapun topik diskusi panel pada simposium ini adalah Masalah Pemetaan Sektor Pendidikan di Indonesia, Tantangan Global dan Regional: Peran Pendidikan dalam Meningkatkan Daya Saing SDM di Indonesia, serta Kontribusi Diaspora Indonesia terhadap pembangunan Indonesia.

Sebagai informasi, jumlah pelajar Indonesia di Taiwan saat ini berkisar 4.394 orang. Sementara itu, Indonesia belum memiliki perwakilan yang mengurusi bidang kerjasama pendidikan di Taiwan. Oleh karena itu, PPI Taiwan berharap melalui diskusi dalam simposium ini, bisa mendorong terbentuknya perwakilan Indonesia yang mengurusi bidang pendidikan Indonesia di Taiwan.

Beberapa narasumber yang berpengalaman di bidangnya akan hadir untuk mengisi acara ini yaitu: M. Imdadun Rahmat (Ketua Komnas HAM), Julian Aldrin Pasha (Ketua Departemen Politik Universitas Indonesia), Makarim Wibisono (Duta Besar RI di PBB 2004-2007), Arief Suditomo (Komisi 8 DPR RI), Tirto Soeseno (Pengamat Politik UI), Dr. Ir. Erry Ricardo Nurzal, M.T., M.P.A  (Kepala Biro Perencanaan- Kemenristekdikti), Ferdiansyah (Wakil Ketua Komisi X DPR RI), Akhyari Hananto (Founder Good News from Indonesia), Haris Kusworo (Peneliti Parameter Nusantara), Nangkula Utaberta (Arsitek, Dosen, Penulis) serta para pemenang karya tulis ilmiah mengenai hubungan bilateral Indonesia-Taiwan dan pengembangan sektor Pendidikan di Indonesia yang telah diadakan.

Ardila Putri, Ketua Panitia acara ini berharap simposium ini nantinya akan membangun jaringan antar mahasiswa Indonesia serta memberikan kontribusi positif bagi pembanguanan bangsa Indonesia.
“Semoga pertemuan akademik ini memberikan manfaat bagi mahasiswa Indonesia, baik di Taiwan maupun Asia-Oseania,” ungkap mahasiswi International Master’s Program in Asia-Pacific Studies NCCU ini.

Koordinator PPI Asia-Oseania, Bagus Ari Haryo Anugrah, menjelaskan latarbelakang pemilihan tema yang diangkat dalam Simposium PPI Asia-Oseania. “Tema Tantangan Meningkatkan Revolusi Mental di Sektor Pendidikan Indonesia: di Abad ke-21 ini merupakan hasil diskusi ketua PPI-PPI negara di kawasan Asia-Oseania. Tema ini dinilai sejalan dengan revolusi mental yang di terapkan oleh pemerintah Presiden Joko Widodo sekarang. Semoga melalui simposium tersebut akan lahir para pemimpin2 handal & para generasi penerus bangsa yang akan melanjutkan estafet kepemimpian di masa yang akan datang. jaya terus Indonesia, saatnya yang muda berkarya dan berkontribusi,” ungkap mahasiswa International School Of Capital Medical University, China ini.

Acara ini didukung oleh Bank Mayapada, Taiwan Economic and Trade Office (TETO), Institute of International Relation (IIR) NCCU, dan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, serta sponsor dan donator yang lain.

Page 1 of 3
1 2 3