logo ppid

Delegasi ACYF 2018 (Dokumentasi Panitia)

The 3rd ASEAN-China Youth Forum 2018 diselenggarakan pada Senin 24 April 2018 di Jinan, Shandong, Tiongkok. Turut hadir dalam kegiatan tersebut mahasiswa dan mahasiswi asal ASEAN-Tiongkok dan tentunya asal Indonesia yang sedang berkuliah di negeri tirai bambu. Pembahasan dalam forum pemuda kali ini bertema inovasi dan teknologi. Pertukaran ide antara pemuda se-regional Asia Tenggara ini membangun harapan positif di tahun inovasi dan teknologi.

Shandong, sebuah provinsi tempat lahirnya banyak filsuf oriental dan sejarah peradaban, menjadi pilihan lokasi penyelenggaraan The 3rd ASEAN-China Youth Forum 2018. Kegiatan ini diharapkan menjadi ajang pertukaran ide dan kontribusi untuk dunia global. Nita Ongko, wakil dari Mahasiswa ASEAN, dalam forum ini menyatakan bahwa pemuda di Negara ASEAN tak hanya bisa berkontribusi untuk negaranya sendiri, tapi juga bisa berkontribusi dan bertanggung jawab untuk negara di berbagai belahan dunia. “One vision, one idea, one community for the whole word”, tutur mahasiswa asal Shandong University ini dalam pidato pembukaan ACYF 2018.

Acara yang berlangsung selama tiga hari ini dihadiri oleh sekitar 150 delegasi. Pemuda Indonesia dari berbagai Universitas di Tiongkok seperti dari Shandong University, Beijing Jiaotong University, Harbin University, Anhui University, dan lainnya pun turut berpartisipasi dalam forum ini.

Pembahasan dalam forum kali ini terpusat pada tiga topik topik utama, yaitu terkait Innovation and Sustainable Development, Innovation and Regional Collaboration, dan Innovation and Quality of Life. Setelah pemaparan penutupan yang disampaikan oleh Prof. Xing Jiangpin menyoal ide dan inovasi, presentasi dan tanya jawab dipersilahkan.

Delegasi Indonesia pada ASEAN-China Youth Forum

Adanya forum pertukaran ide dan diskusi seperti ini, khususnya bagi para pemuda, dinilai dapat membuka pola pikir mereka dengan menghadirkan berbagai perspektif dari bidang studi yang berbeda. “Pemuda, khususnya mahasiswa Indonesia perlu terlibat aktif dalam setiap inovasi global yang ada, karena kan dari berbagai pendidikan yang berbeda bisa saling tukar ide, informasi, dan relasi" ujar Chisilia Mayangsari, Ketua PPIT (Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok) cabang Shandong 2017/2018.

Rangkaian kegiatan ACYF diakhiri oleh festival budaya. Setelah presentasi dan diskusi terkait Teknologi dan Inovasi dilaksanakan, pada sorenya semua pemuda dan peserta menikmati kegiatan Shandong University International Cultural Festival Gala. Kegiatan ini merupakan ajang penampilan budaya dari berbagai negara serta ajang networking dan sosialisasi antar peserta.

 

 

Indonesia dan Tahun Inovasi dan Teknologi

Tahun 2018 ditetapkan sebagai tahun teknologi dan Inovasi. Agenda ini memberikan motivasi tersendiri bagi akademisi, peneliti dan teknopreneur ASEAN, khususnya Indonesia. China-ASEAN Innovation Forum yang belum lama ini diadakan di Beijing dan dihadiri oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan tinggi (Menristeik), Bapak Prof. Mohamad Nasir, menjadi agenda utama keseluruhan tahun Inotek, yang mana ACYF menjadi bagian yang dikhusukan untuk pemuda dalam dalam membahas isu inovasi dan teknologi.

Penulis, Annisa Dewanti Putri

Indonesia, sebagai salah satu anggota ASEAN mengambil peran yang penting sebagai Negara dalam pemanfaatan Inovasi teknologi. Salah seorang Mahasiswa asal Harbin University of Science and Technology, Putra Wanda, menyampaikan presentasinya mengenai Teknologi Inovasi untuk meningkatkan kerjasama regional. Mahasiswa doktoral jurusan Sains Komputer yang murah senyum itu menyoal pentingnya kerjasama dalam teknologi dan pengembangan ekonomi untuk meningkatkan kerjasama mutual, yaitu dengan pemanfaatan sains dan teknologi untuk mengoptimalisasikan sektor trasnportasi, energi, manufaktur, teknik informatika, dan pelayanan.

 

Penulis: Annisa Dewanti Putri (IG: @a_dewanti_p)

Mahasiswa Master of Civil Engineering, Beijing Jiaotong University, Beijing, Tiongkok. Komisi Pendidikan, PPI Dunia.

 

Editor: Nadhirariani

JORDAN – Perwakilan Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (HPMI) Jordan mendapat kesempatan untuk hadir dalam Kuliah Umum ASEAN bertajuk “ASEAN and The Middle East: Trajectories for future relations” yang digelar oleh The Committee of The Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), Jordan Institute of Diplomacy (JID) dan Kementerian Luar Negeri Jordan pada Selasa (21/10/2017). Acara yang diadakan di Jordan Institute of Diplomacy, Amman itu dihadiri oleh ratusan peserta dari kalangan para diplomat, pejabat pemerintahan, pebisnis, praktisi dan pelajar.

Acara dibuka dengan sambutan dari Andy Rachmianto selaku Duta Besar RI untuk Yordania dan Palestina. Kuliah umum yang disampaikan oleh eksekutif direktur Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta dan pakar politik dari Indonesia, Dr. Philip Jusario Vermonte itu dimulai pada pukul 10.00 waktu setempat dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dimoderatori oleh Lina Arafat, Direktur Jordan Institute of Diplomacy.

Dalam paparannya, Philip menekankan tiga hal yaitu: politik dan keamanan; ekonomi dan perdagangan; dan hubungan persahabatan. Ia mengawali dengan memaparkan berbagai modal kesamaan yang dimiliki antara regional Asia Tenggara (ASEAN) dan Timur Tengah (Middle East). Pertama, sama-sama beranggotakan negara-negara berkembang yang punya orientasi untuk memajukan negaranya. Kedua, persamaan agama sehingga bisa saling tukar pikiran dalam pengelolaan hubungan antar umat beragama. Ketiga, kebutuhan akan keamanan dalam negeri dan regional dalam menciptakan kedamaian dan dalam menghadapi radikalisme yang sedang berkembang di wilayah regional masing-masing. Terakhir, pertukaran budaya dan perdagangan yang seharusnya memudahkan interaksi antar individu di kedua regional untuk penguatan hubungan persahabatan.

Dalam aspek politik dan keamanan, beberapa hal menjadi poin utama kesamaan antara ASEAN dengan Timur Tengah. Salah satunya ialah penerapan sistem demokrasi dalam pemerintahan negara. Selain itu, telah terbentuk kerjasama bidang industri pertahanan dan keamanan dalam pengadaan alat-alat perlengkapan dan perbaikan kecanggihannya di antara anggota ASEAN dengan negara-negara Timur Tengah. Yang berikutnya perang melawan terorisme, telah terjalin kerjasama dalam bidang pemberantasan terorisme yang dilakukan antar dua negara. Singapura dengan Yordania, Malaysia dengan Turki berkolaborasi dalam perlawanan terhadap terorisme, sementara Indonesia dengan Yordania dalam hal tukar-menukar informasi intelijen dan program deradikalisasi.

"It is known that countries in both regions have established a various of cooperations related to security and the fight against terrorism," kata Philip ketika memaparkan kerjasama antar region dalam bidang keamanan politik. "Such as the exchange of defence equipment and expertise, information and intelligence sharing, interfaith dialogues, and many more," tambahnya.

Di sisi ekonomi, Philip menerangkan bahwa tercatat telah lama terbentuk beberapa kerjasama dan perdagangan yang berlangsung antar ASEAN dengan Gulf Cooperation Council dan ASEAN dengan Liga Arab dalam berbagai komoditi perdagangan dan paling utama terkait minyak bumi. Selain itu, tercatat di tahun 2015, negara Timur Tengah yang melakukan hubungan perdagangan dengan ASEAN paling banyak adalah UAE, Saudi Arabia, Qatar, Turki dan Kuwait. Sedangkan untuk ASEAN dengan Jordan, Indoesia yang paling besar, kemudian Thailand, Malaysia dan Singapura.

Dalam segi persahabatan antar regional, bisa saling bertukar pikiran dan budaya antar pemuda atau mahasiswa dengan mengadakan program tukar pelajar. Dalam hal ini, Indoensia salah satu negara ASEAN yang beberapa tahun ke depan akan mendapatkan bonus demografi. Usia produktif (antara 16–45 tahun) lebih banyak dari jumlah populasi penduduk Indonesia dan saat ini sedang mempersiapkan untuk menuju Kebangkitan Indonesia. Duta Besar Andy Rachmianto tidak lupa menyebutkan bahwa Indonesia sebagai bagian dari ASEAN terus membersamai Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Sebagai tambahan, Andy juga menjelaskan genosida yang terjadi di Rohingya sebagai isu penting ASEAN yang masih terus membutuhkan perhatian dan bantuan kemanusiaan dari berbagai negara. Tercatat di tahun 2015, Jordan membawa angin segar dalam persahabatan antara Jordan dengan ASEAN dan menugaskan duta besarnya untuk negara-negara ASEAN. Mesir dan Maroko juga telah melakukan kerjasama dan menjalin hubungan persahabatan dengan negara-negara anggota ASEAN dan selalu mempromosikan hubungan persahabatan dan kerjasama yang penuh kedamaian selamanya.

 

Pelajaran dari ASEAN untuk Timur Tengah

Dalam masalah blok regional, negara-negara Timur Tengah cenderung untuk menerapkan model regionalisasi seperti Uni Eropa, jika telah berkembang secara signifikan. Model tersebut terutama GCC yang telah tercapai kesepakatan besar pada tingkat kesatuan budaya yang diimplementasikan sejak 2015. Kerja sama ASEAN telah dipandu oleh prinsip kesetaraan dan tidak mengintervensi, kooperatif dalam keamanan dan tidak menggunakan kekerasan. ASEAN sering menekankan pencegahan konflik dan bukan mengedepankan militer, sehingga menghasilkan lingkungan yang damai. Piagam ASEAN pada tahun 2008 memproklamasikan "People Oriented" karena pendekatan itu untuk mengejar dan memperdalam regionalisme di Asia Tenggara. Visi ASEAN 2025 membangun sebuah dasar untuk tujuan akhir dalam menciptakan masyarakat ASEAN yang berpusat pada komunitas masyarakat ASEAN (ASEAN Community). ASEAN memiliki masyarakat sipil yang berbasis di setiap negara-negara anggota dengan bangga menggunakan simbol negara “ASEAN”. Ada semakin banyak acara dan aktivitas publik yang mengutip status tersebut, misalnya forum pemuda ASEAN.

Pada pukul 12.00, acara ditutup setelah sesi tanya jawab selesai kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dan menyantap sajian khas Asia Tenggara dari Indonesia, Malaysia, Thailand dan Filipina.**

 

Pengirim: Miftah Nafid Firdaus

MA Candidate in Islamic Economic and Banking

Yarmouk University, Jordan

 

Editor: Kartika Restu Susilo

JORDAN – Perwakilan Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (HPMI) Jordan mendapat kesempatan untuk hadir dalam Kuliah Umum ASEAN bertajuk “ASEAN and The Middle East: Trajectories for future relations” yang digelar oleh The Committee of The Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), Jordan Institute of Diplomacy (JID) dan Kementerian Luar Negeri Jordan pada Selasa (21/10/2017). Acara yang diadakan di Jordan Institute of Diplomacy, Amman itu dihadiri oleh ratusan peserta dari kalangan para diplomat, pejabat pemerintahan, pebisnis, praktisi dan pelajar.

Acara dibuka dengan sambutan dari Andy Rachmianto selaku Duta Besar RI untuk Yordania dan Palestina. Kuliah umum yang disampaikan oleh eksekutif direktur Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta dan pakar politik dari Indonesia, Dr. Philip Jusario Vermonte itu dimulai pada pukul 10.00 waktu setempat dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dimoderatori oleh Lina Arafat, Direktur Jordan Institute of Diplomacy.

Dalam paparannya, Philip menekankan tiga hal yaitu: politik dan keamanan; ekonomi dan perdagangan; dan hubungan persahabatan. Ia mengawali dengan memaparkan berbagai modal kesamaan yang dimiliki antara regional Asia Tenggara (ASEAN) dan Timur Tengah (Middle East). Pertama, sama-sama beranggotakan negara-negara berkembang yang punya orientasi untuk memajukan negaranya. Kedua, persamaan agama sehingga bisa saling tukar pikiran dalam pengelolaan hubungan antar umat beragama. Ketiga, kebutuhan akan keamanan dalam negeri dan regional dalam menciptakan kedamaian dan dalam menghadapi radikalisme yang sedang berkembang di wilayah regional masing-masing. Terakhir, pertukaran budaya dan perdagangan yang seharusnya memudahkan interaksi antar individu di kedua regional untuk penguatan hubungan persahabatan.

Dalam aspek politik dan keamanan, beberapa hal menjadi poin utama kesamaan antara ASEAN dengan Timur Tengah. Salah satunya ialah penerapan sistem demokrasi dalam pemerintahan negara. Selain itu, telah terbentuk kerjasama bidang industri pertahanan dan keamanan dalam pengadaan alat-alat perlengkapan dan perbaikan kecanggihannya di antara anggota ASEAN dengan negara-negara Timur Tengah. Yang berikutnya perang melawan terorisme, telah terjalin kerjasama dalam bidang pemberantasan terorisme yang dilakukan antar dua negara. Singapura dengan Yordania, Malaysia dengan Turki berkolaborasi dalam perlawanan terhadap terorisme, sementara Indonesia dengan Yordania dalam hal tukar-menukar informasi intelijen dan program deradikalisasi.

"It is known that countries in both regions have established a various of cooperations related to security and the fight against terrorism," kata Philip ketika memaparkan kerjasama antar region dalam bidang keamanan politik. "Such as the exchange of defence equipment and expertise, information and intelligence sharing, interfaith dialogues, and many more," tambahnya.

Di sisi ekonomi, Philip menerangkan bahwa tercatat telah lama terbentuk beberapa kerjasama dan perdagangan yang berlangsung antar ASEAN dengan Gulf Cooperation Council dan ASEAN dengan Liga Arab dalam berbagai komoditi perdagangan dan paling utama terkait minyak bumi. Selain itu, tercatat di tahun 2015, negara Timur Tengah yang melakukan hubungan perdagangan dengan ASEAN paling banyak adalah UAE, Saudi Arabia, Qatar, Turki dan Kuwait. Sedangkan untuk ASEAN dengan Jordan, Indoesia yang paling besar, kemudian Thailand, Malaysia dan Singapura.

Dalam segi persahabatan antar regional, bisa saling bertukar pikiran dan budaya antar pemuda atau mahasiswa dengan mengadakan program tukar pelajar. Dalam hal ini, Indoensia salah satu negara ASEAN yang beberapa tahun ke depan akan mendapatkan bonus demografi. Usia produktif (antara 16–45 tahun) lebih banyak dari jumlah populasi penduduk Indonesia dan saat ini sedang mempersiapkan untuk menuju Kebangkitan Indonesia. Duta Besar Andy Rachmianto tidak lupa menyebutkan bahwa Indonesia sebagai bagian dari ASEAN terus membersamai Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Sebagai tambahan, Andy juga menjelaskan genosida yang terjadi di Rohingya sebagai isu penting ASEAN yang masih terus membutuhkan perhatian dan bantuan kemanusiaan dari berbagai negara. Tercatat di tahun 2015, Jordan membawa angin segar dalam persahabatan antara Jordan dengan ASEAN dan menugaskan duta besarnya untuk negara-negara ASEAN. Mesir dan Maroko juga telah melakukan kerjasama dan menjalin hubungan persahabatan dengan negara-negara anggota ASEAN dan selalu mempromosikan hubungan persahabatan dan kerjasama yang penuh kedamaian selamanya.

 

Pelajaran dari ASEAN untuk Timur Tengah

Dalam masalah blok regional, negara-negara Timur Tengah cenderung untuk menerapkan model regionalisasi seperti Uni Eropa, jika telah berkembang secara signifikan. Model tersebut terutama GCC yang telah tercapai kesepakatan besar pada tingkat kesatuan budaya yang diimplementasikan sejak 2015. Kerja sama ASEAN telah dipandu oleh prinsip kesetaraan dan tidak mengintervensi, kooperatif dalam keamanan dan tidak menggunakan kekerasan. ASEAN sering menekankan pencegahan konflik dan bukan mengedepankan militer, sehingga menghasilkan lingkungan yang damai. Piagam ASEAN pada tahun 2008 memproklamasikan "People Oriented" karena pendekatan itu untuk mengejar dan memperdalam regionalisme di Asia Tenggara. Visi ASEAN 2025 membangun sebuah dasar untuk tujuan akhir dalam menciptakan masyarakat ASEAN yang berpusat pada komunitas masyarakat ASEAN (ASEAN Community). ASEAN memiliki masyarakat sipil yang berbasis di setiap negara-negara anggota dengan bangga menggunakan simbol negara “ASEAN”. Ada semakin banyak acara dan aktivitas publik yang mengutip status tersebut, misalnya forum pemuda ASEAN.

Pada pukul 12.00, acara ditutup setelah sesi tanya jawab selesai kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dan menyantap sajian khas Asia Tenggara dari Indonesia, Malaysia, Thailand dan Filipina.**

 

Pengirim: Miftah Nafid Firdaus

MA Candidate in Islamic Economic and Banking

Yarmouk University, Jordan

 

Editor: Kartika Restu Susilo

Memasuki era pasar bebas dalam kawasan ASEAN, PPMI Pakistan mengadakan seminar kemahasiswaan bertajuk “Persiapan Mahasiswa Indonesia di luar negeri dalam mengahadapi Masyarakat Ekonomi Asean” yang bertempat di aula Budaya Nusantara KBRI Islamabad, bersama Duta Besar LBBP Republik Indonesia untuk Pakistan Iwan Suyudhie Amri dan juga Guntur Sugiyarto selaku Principle Economist, Asean Development Bank sebagai narasumber ahli dalam bidang ekonomi dan politik, Sabtu (29/4/2017).

Mengawali acara, bapak duta besar memberikan sambutan sekaligus memaparkan pengenalan masyarakat ekonomi asean secara umum. Beliau mengatakan Dengan populasi 620 juta orang, ASEAN merupakan pasar ke-3 terbesar di dunia dan juga ekonomi terbesar ke-7. Di Asia sendiri, ASEAN menempati urutan ke-3. Begitupula tingkat dan kesenjangan kemiskinan menunjukan angka penurunan dan masyarakat kelas menengah meningkat yang artinya ASEAN secara garis besar menunjukan suatu keberhasilan dalam koperasi ekonomi.

Selain itu, Bapak Guntur menambahkan bahwa Cina sekarang sudah tidak cukup lagi menampung rumah produksi. Diperkirakan, rumah produksi ini akan berpindah ke negara-negara ASEAN seperti Laos, Kamboja dan Myanmar. Indonesia yang memiliki tanah yang begitu luas dan sumberdaya yang melimpah memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan Gross Domestic Product dan perekonomian.

Akan tetapi, Indonesia masih tertinggal dengan negara-negara ASEAN lainnya dari tingkat pendidikan dan usia produktif kerja. Hal ini yang menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah untuk semakin meningkatkan sumber daya insaninya. Tentu masih ada harapan untuk tenaga kerja Indonesia meningkatkan skill mobility agar mampu bersaing dalam era globalisasi ini. Di akhir acara beberapa mahasiswa unjuk gigi dengan menampilkan beberapa lagu. Tak ingin ketinggalan, PCI NU Pakistan juga menampilkan tim rebana yang baru dibentuk.

(FAA/AASN)

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920