Categories
Asia dan Oseania Berita PPI Negara

Menteri Keuangan Sri Mulyani Sempatkan Bertemu WNI Di Tokyo

Tokyo, 8 Oktober 2017. Sebelum menuju Amerika Serikat, Sri Mulyani mengunjungi KBRI Tokyo untuk bertegur sapa dengan para WNI di Jepang. Malam itu lobby KBRI Tokyo dipadati warga yang ingin bertemu Menteri Keuangan tersebut.

            Menghadiri temu sapa sebenarnya bukanlah agenda utama Sri Mulyani. Di tengah perjalanannya menuju Amerika Serikat, Menteri yang akrab disapa Bu Ani tersebut singgah di Tokyo untuk transit terlebih dahulu. Namun karena ada waktu yang cukup, maka dapat terselenggaralah pertemuan pada hari tersebut. Meski harus melanjutkan penerbangan keesokan paginya, Bu Ani tetap semangat dan antusias menyapa para hadirin.

Sebagai Menteri Keuangan, tidak bosan-bosannya Bu Ani membahas mengenai pajak pada masyarakat. Pajak sendiri diatur dalam pasal 23A UUD 1945 yang berbunyi ”Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang”. Sebagai warga negara, membayar pajak adalah sebuah keniscayaan. Hal ini sejalan dengan pemikiran salah seorang filusuf ternama asal Inggris, Thomas Hobbes. Pada salah satu bukunya, Leviathan yang terbit tahun 1651, Hobbes menjelaskan hubungan antara pemerintah dan rakyatnya. Hubungan ini seperti sebuah kontrak yang bersifat mutualisme. Pemerintah berperan sebagai pelindung dan penyedia, sementara masyarakat harus mendukung pemerintah dengan cara membayar pajak. Uang hasil pajak inilah yang nantinya dikelola pemerintah untuk membangun rumah sakit, menyediakan lapangan kerja, dan lain-lain yang bernilai bagi rakyat. Hal seperti inilah yang disebut kontrak antar pemerintah dan rakyat, dan hal ini berlaku di manapun.

Sayangnya hal ini mungkin belum dipahami semua orang. Sri Mulyani sendiri mengakuinya bahwa penerimaan pajak masih rendah. Warga yang mengikuti progam tax amnesty saja tidak sampai satu juta. Lalu, terdapat sekitar 32-juta warga yang terdaftar sebagai pembayar pajak, namun yang benar-benar membayar pajak dan memiliki SPP tidak lebih dari 12-juta warga. Indonesia sempat dihebohkan juga belum lama ini oleh kabar nasabah asal Indonesia yang mentransfer dana sebesar Rp18,9-triliun ke bank Standard Chartered di Singapura. Demi menghindari hal ini, Bu Ani menyatakan sudah memberlakukan perjanjian perpajakan internasional sehingga aliran dana dalam jumlah tidak masuk akal dapat terlacak.

Sempat disinggung juga tentang hutang Indonesia yang beberapa bulan lalu panas dibahas. Dibandingkan Jepang, hutang Indonesia masih terdapat dalam kategori sehat. Hutang Jepang sendiri memang sudah terlampau besar, yakni sekitar 200% dari GDP (Gross Domestic Product). Sedangkan Indonesia masih berkisar di angka 27% GDP. Jadi, memang Indonesia tidak sedang dalam keadaan darurat hutang. Ini adalah salah satu tugas Kementerian Keuangan untuk mengatur perekonomian Indonesia agar dapat terus berkembang namun juga dengan menjaga kestabilan. Tidak boleh ada pengeluaran atau peminjaman yang berlebihan, uang yang mengalir haruslah efisien dan digunakan semaksimal mungkin.

Pada sesi tanya jawab, salah seorang hadirin menanyakan hal yang menarik untuk dibahas. “Dengan sumber daya yang melimpah, dapatkah Indonesia bergantung padanya dan menghapuskan pajak?” tanya sang hadirin. Sebenarnya bisa saja, namun negara akan terjangkit Dutch Disease jika hal ini dilaksanakan. Dutch Disease merupakan istilah ekonomi yang merujuk pada ketergantungan berlebih suatu negara, biasanya terhadap sumber daya alam, sehingga menyebabkan berkurangnya daya saing negara tersebut. Mengambil contoh dari Norwegia yang kaya akan sumber daya alam, tetapi mereka tetap mematok pajak yang tinggi bagi warganya. Dari pajak yang tinggi ini, Norwegia membangun dirinya menjadi negara yang maju, dan yang paling penting, meningkatkan daya saing manusianya. Indonesia bisa saja menggantungkan diri pada sumber daya alam. Namun jika demikian, manusianya tidak akan bertumbuh secara daya saing dan pada suatu titik, akan runtuh karena kalah bersaing.

“Presiden Jokowi sangat terbuka dengan persaingan karena hal tersebut membawa manfaat,” ujar Sri Mulyani. Di zaman yang telah berubah ini, kita juga harus fleksibel mengikuti perubahan. Salah satunya adalah dengan menempa diri demi menjadi pribadi yang lebih kompeten, karena sekarang adalah eranya persaingan. Jangan lupa juga untuk mengambil pelajaran dari negara seperti Jepang dan negara maju lainnya. Banyak hal yang dapat dipelajari agar suatu hari nanti dapat dibawa pulang dan digunakan demi kepentingan bersama.

Penulis: Theodorus Alvin

Editor: Kartika Restu Susilo

Categories
Pojok Opini PPI Dunia

Hari Guru Sedunia: Refleksi Pendidikan Indonesia dan Kesukarelawanan

Hari ini, 5 Oktober 2017, adalah Hari Guru Sedunia atau World Teacher’s Day yang sudah diperingati sejak tahun 1994. UNESCO menginisiasi Hari Guru Sedunia dengan tujuan utama untuk memberikan dukungan kepada guru-guru sedunia dan menekankan bahwa keberlangsungan masa depan ada di tangan mereka untuk mendidik generasi penerus.

Hari Guru Sedunia digagas secara global dengan dasar bahwa setiap guru di setiap negara adalah agen pendidikan bagi warga dunia. Oleh karena itu, dinilai penting untuk membuat satu hari khusus untuk merefleksi, mengapresiasi, dan mendorong peningkatan kualitas guru di dunia.

Categories
Berita Eropa dan Amerika PPI Dunia

Simposium PPI Amerika-Eropa 2017 (Hari 1) – PPI AMEROP Fokus Bahas Ekonomi Digital

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) se Amerika-Eropa (AMEROP) menggelar pembukaan simposium tahunan pada hari Jumat (19/5) bertempat di KBRI Washington D.C., Amerika Serikat. Berlatar belakang regulasi dan perkembangan dunia ekonomi digital Indonesia yang belum stabil, maka tema yang diangkat kali ini adalah “Kekuatan bangsa: Ekonomi Digital sebagai keunggulan bersaing Indonesia”.

Acara yang akan berlangsung hingga hari Minggu (21/5) ini dihadiri oleh Koordinator PPI Dunia Intan Irani, Koordinator PPI AMEROP 2016-2017 Kreeshna Siagian, Sekretaris Jendral PERMIAS Nasional Nadi Guna Khairi, dan Ketua Panitia Simposium PPI AMEROP Andre Yahya. Dalam sambutannya, Koordinator PPI Dunia Intan Irani mengatakan dirinya merasa bangga karena akhirnya bisa datang ke salah satu simposium kawasan di PPI Dunia. ’’Saya yakin bahwa kita bisa menjadi generasi masa depan yang membawa perubahan positif dan kreatifitas efektif demi Indonesia yang lebih baik,’’ papar Intan.

Kata sambutan oleh Bapak Ismunandar, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Washington, D.C.

Rentetan kegiatan simposium kawasan telah dimulai sejak Maret lalu yang dimulai di Taiwan untuk Simposium kawasan Asia-Oseania, lalu di Madinah untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika, dan kini Washington, D.C. untuk kawasan Amerika-Eropa. Satu lagi yang menjadi puncak dari kepengurusan Intan nanti adalah Simposium Internasional PPI Dunia yang akan digelar di University of Warwick, United Kingdom Juli mendatang. PPI AMEROP sendiri, terdiri dari sekitar 16.000 anggota pelajar yang tersebar 25 negara. Namun untuk simposium kali ini dihadiri oleh 26 anggota delegasi dari 15 perwakilan PPI Negara.

Koordinator PPI Amerop 2016-2017 Kreeshna Siagian juga merasa sangat optimis dengan masa depan Indonesia di tangan para pemuda yang sekarang. ’’Kalau Soekarno bilang beri aku 10 pemuda untuk mengguncang dunia, di sini sudah lebih dari 10 pemuda, maka kita benar-benar bisa mengubah dunia,’’ papar pria yang juga Ketua PPI Belgia tersebut.

Setelah selesai dengan kata sambutan, acara dilanjutkan dengan Focus Group Discussion. Para delegasi yang datang dibagi dalam 4 komisi yang berbeda, yaitu komisi Ekonomi, Sains dan Tekonlogi, Sosial dan Budaya, dan Politik dan Hukum. Dalam sesi ini, para delegasi dari tiap komisi membahas rancangan program kerja dan rekomendasi sesuai dengan tema simposium kali ini, yaitu Ekonomi Digital. Pembahasan pada hari pertama ini akan dilanjutkan pada hari ketiga yang selanjutnya akan disahkan menjadi program kerja PPI AMEROP periode selanjutnya.

Gala Dinner

Setelah pembukaan secara simbolis yang ditandai dengan pemukulan gong oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Washington, D.C., Bapak Ismunandar, dan Koordinator Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya KBRI Washington, D.C., Bapak Siuaji Raja, acara dilanjutkan dengan Gala Dinner bersama dengan panitia, anggota delegasi, dan staf KBRI Washington, D.C.

(Dinda / NZ)

 

Delegasi dan Panitia Simposium PPI Amerika-Eropa 2017

 

 

 

Categories
Berita Kajian Nuklir Komisi Energi

Kecelakaan Nuklir di Three Mile Island

Berbicara tentang kecelakaan nuklir, publik pasti masih ingat dengan peristiwa kecelakaan nuklir di Fukushima tahun 2011. Sebagai peristiwa kecelakaan nuklir terbaru di awal abad 21, gempa bumi dan Tsunami yang menyertai peristiwa tersebut tentu menjadi bumbu pekat yang cukup mengidentikkan nuklir dengan peristiwa Fukushima di alam bawah sadar masyarakat. Peristiwa tersebut mendapatkan perhatian masyarakat milenial seperti pula kecelakaan nuklir Chernobyl (Uni Soviet) di era perang dingin ataupun bom Hiroshima-Nagasaki (Jepang) di era perang dunia kedua. Di Amerika Serikat sendiri, ada 1 peristiwa kecelakaan nuklir yang jarang dibahas, khususnya oleh masyarakat Indonesia: kecelakaan nuklir di Three Mile Island.

Dalam konteks klasifikasi kecelakaan nuklir dan radiologis, lembaga International Atomic Energy Agency (IAEA) mempunyai skala dalam yang dinamakan International Nuclear and Radiological Event Scale (INES). Skala ini adalah alat yang digunakan secara konsisten dalam komunikasi publik dalam membahas signifikansi sebuah kejadian radiologis atau terkait nuklir terhadap keselamatan masyarakat. Pada Gambar 1, dapat dilihat bahwa kejadian nuklir dan radiologis dapat diklasifikasi dari level 0-7, dengan memperhitungkan dampak terhadap 3 area: 1. Dosis

radiasi terhadap masyarakat sekitar fasilitas, serta pelepasan material radioaktif yang tidak direncanakan/diinginkan dari fasilitas. 2. Perisai dan kontrol radiologis yang mampu menahan penyebaran material radioaktif dan radiasi level tinggi terkurung hanya di dalam fasilitas, serta tidak menimbulkan efek langsung ke masyarakat dan lingkungan. 3. Pertahanan berlapis yang dapat mencegah efek langsung kecelakaan nuklir ke masyarakat dan lingkungan, hanya saja fungsi-fungsi sistem penanganan tidak berfungsi sebagaimana mestinya untuk mencegah kecelakaan nuklir.

Gambar 1. International Nuclear and Radiological Event Scale (INES)

Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Three Mile Island (TMI) adalah fasilitas nuklir dengan 2 unit reaktor nuklir yang terletak di Harrisburg, ibukota negara bagian Pennsylvannia, Amerika Serikat. Kedua unit reaktor tersebut menggunakan teknologi air bertekanan sebagai media pendingin reaktor (Pressurized Water Reactor = PWR), yang didesain oleh perusahaan Babcock & Wilcox. Kedua reaktor tersebut dibangun dan mulai beroperasi di tahun 1970-an dan menghasilkan daya 800 MWe untuk unit 1 dan 906 MWe untuk unit 2. Pada 28 Maret 1979 dini hari, terjadi kecelakaan nuklir pada reaktor unit 2. Kegagalan fungsional pompa pendingin sekunder berujung pada kerusakan parah pada bagian inti reaktor nuklir, yang mana sebagian pelet bahan bakar nuklir meleleh karena suhu yang terlampau tinggi. Terdapat pula pelepasan sejumlah kecil gas radioaktif dari gedung pendukung (auxiliary building) yang menampung sistem pendinginan reaktor darurat. Kecelakaan nuklir ini masuk dalam kategori level 5 pada skala INES. Sebagai perbandingan, kecelakaan Chernobyl dan Fukushima masuk dalam kategori level 7.

Gambar 2. Diagram Reaktor Unit 2 Three Mile Island

Gambar 2, memberikan gambaran mengenai perangkat dan skema pembangkitan listrik reaktor nuklir unit 2 TMI. Di dalam bangunan reaktor, terdapat sistem pendinginan primer, dimana panas yang dihasilkan reaksi nuklir di inti/teras reaktor (reactor core), diambil dan dibawa oleh air bertekenan ke perangkat pembangkit uap (steam generator). Di perangkat tersebut, terjadi transfer panas dari sistem pendingin primer ke sistem pendinginan sekunder. Air sistem pendingin sekunder didorong masuk oleh pompa utama (main feedwater pump) sistem pendingin sekunder, berubah menjadi uap di perangkat pembangkit uap, kemudian memutar turbin generator untuk menghasilkan listrik. Kecelakaan nuklir ini bermula dari sebuah kegagalan fungsional (tidak diketahui apakah kegagalan mekanik atau elektrik) dari pompa utama (main feedwater pump) sistem pendingin sekunder. Tidak adanya pendingin sekunder dalam sekejap meningkatkan suhu di sistem pendingin primer. Dalam waktu 1 detik, sistem keselamatan sukses memadamkan reaktor.

Walaupun telah padam, inti/teras reaktor tetap menghasilkan panas residu, panas yang dihasilkan dari peluruhan produk fisi inti/teras reaktor, dengan besaran daya sekitar 5% dari daya total reaktor. Suhu dan tekanan reaktor meningkat. Untuk mengendalikan tekanan reaktor, katup pelepasan kendali jarak jauh (PORV) yang berada di atas bejana tekan (pressurizer) terbuka, dan mengalirkan uap dan air pendingin sistem primer keluar dari sistem pendingin menuju ke tangki (pressurized relief tank) yang berada di dasar bangunan. Katup ini akan tertutup kembali setelah tekanan reaktor kembali turun ke level tekanan normal. Sayangnya, hal itu tidak terjadi. Katup tersebut macet dalam kondisi terbuka, namun lampu instrumen di ruang operator memberikan indikasi yang membuat operator menyimpulkan bahwa katup telah tertutup. Air sistem pendingin primer terus mengalir keluar melalui katup tersebut menyebabkan kondisi Loss of Coolant Accident (LOCA).

Saat reaktor padam, pompa sistem pendinginan darurat menyala menggantikan sistem pendingin sekunder. Namun, katup saluran pada 2 dari 3 sistem pendingin darurat tersebut berada dalam keadaan tertutup, dan tidak segera disadari oleh operator reaktor. Pada kondisi seperti ini, pembangkit uap terus mendidih menyebabkan pendingin primer berekspansi sementara tekanan terus menurun karena LOCA. Operator tidak mendeteksi terjadinya LOCA dan hanya menyimpulkan bahwa inti/teras reaktor mendapatkan cukup air pendingin dari level air di bejana tekan (pressurizer). Padahal pada kenyataanya, level air di bejana tekan (pressurizer) ditopang oleh ekspansi dan pembentukan gelembung uap karena kurangnya pendinginan. Saat tekanan makin rendah dan level air di bejana tekan semakin tinggi, sesuai dengan standar operasi saat pelatihan, operator mematikan pompa pendingin primer untuk mencegah kerusakan vibrasi serta mematikan pompa pendinginan darurat untuk mencegah bejana tekan terlalu penuh dengan air dan tak terkendali. Namun ternyata tindakan tersebut menyebabkan semakin minimnya pendinginan inti reaktor, menjadi terlalu panas hingga akhirnya pelet bahan bakar rusak dan melepaskan sejumlah material radioaktif ke air pendingin primer.

Air dan uap pendingin primer yang mengalir keluar melalui katup (PORV) terkumpul di tangki di dasar bangunan. Seiring bertambahnya volume air dan uap, bertambah pula panas dan tekanan di dalam tangki tersebut hingga akhirnya pecah dan menimbulkan kebocoran tangki. Tumpahan pendingin primer yang mengandung material radioaktif tersebut mengalir dan tertampung dalam sebuah ruang tampung cairan (sump) hingga akhirnya dipompa oleh sistem ke bangunan pendukung (auxiliary building). Tangki penampung di bangunan pendukung tersebut tidak mampu menampung semua pendingin primer tersebut, sehingga tumpah di dalam bangunan tersebut.

Material radioaktif yang terlarut dalam air pendingin primer tersebut kemudian berubah menjadi gas-gas di atmosfer bangunan pendukung (auxiliary building). Sistem sirkulasi dan filtrasi di bangunan tersebut mampu menyaring sebagian besar material radioaktif seperti cesium, strontium, iodine, dan pemancar partikel alpha lainnya. Hanya saja, sistem tersebut tidak didesain untuk menahan gas mulia seperti krypton dan xenon. Karena hal itulah terdapat sejumlah kecil gas radioaktif, termasuk krypton dan xenon yang terlepas ke lingkungan di sekitar fasilitas nuklir. Gambar 3 memberikan data mengenai material radioaktif yang terlepas ke lingkungan selama terjadinya kecelakaan tersebut yang dipublikasikan oleh GPU Nuclear Corporation, perusahaan pemilik fasilitas nuklir tersebut. Gambar 3. Radioaktivitas yang terlepas ke lingkungan selama kecelakaan Three Mile Island

Sekitar waktu tengah hari, sistem pendingin dapat kembali diaktifkan, reaktor kembali stabil, dan fasilitas dalam keadaan terkendali. Tidak terjadi ledakan reaksi kimia yang menyebabkan rusaknya gedung pengungkung hingga menyebabkan penyebaran material radioaktif lebih lanjut. Namun, warga sekitar fasilitas, terutama anak-anak dan wanita, dievakuasi hingga radius 5 mil dari fasilitas.

Setelah kejadian tersebut, berbagai lembaga pemerintah seperti Nuclear Regulatory Commision (NRC), Environmental Protection Agency, Department of Health, Education and Welfare, Department of Energy, Commonwealth of Pennsylvania serta beberapa lembaga independen dan universitas melakukan studi dan investigasi mendetail mengenai konsekuensi radiologis dari kecelakaan tersebut. Kurang lebih 2 juta orang di sekitar fasilitas terpapar dosis radiasi rerata sebesar 1 milirem dari batas maksimal 100 milirem di atas paparan latar normal. Sebagai komparasi, paparan radiasi X-Ray di bagian dada akan memberikan dosis radiasi 6 milirem, dan total paparan radiasi natural di sekaitar fasilitas adalah 100-125 milirem per tahun. Dari situ, dapat disimpulkan bahwa walaupun terdapat kerusakan parah pada bahan bakar reaktor, pelepasan radioaktif tidak memberikan dampak yang berarti pada kesehatan fisik masyarakat ataupun lingkungan. Pantauan badan kesehatan Pennsylvania selama 18 tahun terhadap masyarakat juga menunjukkan tidak adanya bukti penyimpangan kesehatan di area tersebut.

Dari hasil investigasi, dapat disimpulkan bahwa penyebab kecelakaan adalah kombinasi antara kegagalan perangkat, masalah desain sistem reaktor, serta eror karyawan. Berangkat dari kejadian ini, NRC meningkatkan standar desain dan persyaratan perangkat yang tinggi dan ketat. Dibentuk pula lembaga pendidikan dan pelatihan untuk operator reaktor nuklir. Hasilnya, jumlah kejadian signfikan reaktor menurun dari 2.38 per reaktor di tahun 1986 menjadi 0.1 per reaktor di akhir tahun 1997. Kecelakaan ini menjadi pelajaran bagi regulasi keselamatan nuklir di Amerika Serikat.

Teknologi PLTN generasi pertama dan kedua sudah tidak dikembangkan lagi di dunia. Beberapa kejadian di fasilitas nuklir pada masa lalu menjadi pelajaran sangat berharga untuk masyarakat dunia, khususnya para ilmuwan nuklir yang terus berinovasi menciptakan teknologi PLTN yang aman dan dan dapat diandalkan. Sebagai contoh saat ini yang sedang dikembangkan dan dibangun di berbagai Negara adalah PLTN generasi III+ yang memiliki sistem keselamatan pasif. Sistem ini berfungsi untuk memastikan kondisi PLTN tetap aman meski dalam kondisi darurat tanpa adanya tindakan operator maupun sumber daya selama rentang waktu tertentu.

Oleh : Yanuar Ady Setiawan dan Ilham Variansyah – Tim Kajuan Nuklir PPI Dunia

(AASN)

Categories
Eropa dan Amerika PPI Negara Suara Anak Bangsa Timur Tengah dan Afrika

Konsumen Cerdas Paham Hak Perlindungan Konsumen

Hak Konsumen di zaman kini makin disadari walaupun ada beberapa konsumen yang masih kurang paham mengenai hal ini. Dalam kesempatan ini, PPI menghadirkan, Andrew Sugiharto (Bisnis di Diablo Valley College, USA) dan Agus G. Ahmad (Studi Islam di Sidi Mohammed ben Abdellah Fes University, Maroko), masing-masing dalam program RRI Voice of Indonesia Youth Forum dan Kami Yang Muda pada tanggal 13 Maret 2017 masing-masing pada pukul 10.30 WIB dan 11.30 WIB.

Dalam program Youth Forum, Andrew berkata bahwa, “Sekarang, hak konsumen sudah lebih dihargai dengan adanya customer service yang melayani komplain dari barang yang telah dibeli. Untuk belanja online, pembeli harus memperhatikan review dan memastikan adanya fasilitas refund sebagai proteksi agar tidak dikecewakan nantinya. Di tingkat lebih tinggi lagi, pemerintah diharapkan mengeluarkan regulasi khusus dalam pendirian website jual-beli dan proteksi data konsumen.”

“Baik pembeli maupun penjual harus saling mengerti. Setiap pembeli tentunya memiliki karakteristik yang bervariasi. Untuk menghindari ekspektasi yang tidak tercapai dari suatu barang, setidaknya pembeli sudah melakukan riset dan memilih tempat yang tepat untuk membeli suatu barang. Demikian pula penjual harus peka terhadap apa yang diinginkan oleh setiap pembeli secara personal. Satisfikasi konsumer adalah hal paling utama yang harus dijamin oleh para penjual,” lanjut mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Amerika Serikat tersebut.

Dalam program Kami Yang Muda, Agus berkata bahwa, “Seperti yang diketahui bahwa produsen melakukan berbagai promosi untuk menjual barang dagangannya seperti iming-iming hadiah atau undian bila konsumen membeli produknya. Dalam hal ini, konsumen diharapkan lebih jeli dan lebih cerdas dalam membeli, jangan hanya karena hadiah tersebut.”

“Produk makanan adalah salah satu dari berbagai produk yang harus diperhatikan oleh konsumen. Paling sederhana dari tanggal kadaluarsa, label dari BPOM, dan kandungan gizi, layaknya harus diperhatikan. Sayangnya untuk masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri, hanya ada beberapa pilihan makanan Indonesia yang tersedia, sehingga konsumen tidak dapat memilih variasi produk,” ujar mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Maroko tersebut.

Menurut Andrew dan Agus, harapan ke depan adalah konsumen harus mengetahui bahwa dia memiliki hak untuk kritis dalam transaksi pembelian barang. Selain itu, konsumen juga harus lebih cerdas untuk memilih variasi barang yang akan ia beli. Bila ekspektasinya tercapai dengan baik, jangan lupa juga mengucapkan terima kasih kepada penjual.

(Red, CA / Ed, pw)

Categories
Berita Eropa dan Amerika PPI Negara

PPI UK & PPI MIB: Nonton Bareng All England di Birmingham

Birmingham, Minggu (12/3) – Mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia di United Kingdom (PPI UK) mendukung langsung perjuangan Marcus Gideon dan Kevin Sanjaya di Barclaycard Arena, Birmingham, tempat berlangsungnya All England Super Series.

Ada sekitar lebih dari 150 mahasiswa Indonesia yang hadir langsung dan tanpa henti berteriak memberikan dukungan kepada Marcus dan Kevin.

Kepala Departemen Komunikasi dan Informasi PPI UK, John Tampi, mengatakan bahwa supporter Indonesia mendapatkan apresiasi tersendiri dari penikmat bulu tangkis di Inggris terutama di Birmingham. “Ada di antara teman-teman mahasiswa yang diajak foto bareng usai laga semi final kemarin. Sepertinya banyak yang kagum dengan usaha keras teman-teman yang terus memberikan dukungan sepanjang laga.”

Selain meneriakkan yel-yel khas supporter Indonesia seperti “Ayo Indonesia”, para mahasiswa juga mengenakan atribut merah untuk menunjukkan dukungan mereka kepada Marcus Gideon dan Kevin Sanjaya.

Mahasiswa yang hadir dan mendukung langsung perjuangan Marcus dan Kevin bukan hanya mereka yang sedang mengemban ilmu di kota Birmingham saja. Mahasiswa dari kota-kota lain di Inggris Raya yang relatif jauh dari Birmingham juga datang dan berteriak memeberikan semangat kepada ganda putera terbaik Indonesia saat ini.

Aga, mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di University of Glasgow di kota Glasgow, Skotlandia, sengaja datang ke Birmingham untuk melihat langsung dan mendukung perjuangan Marcus dan Kevin. “Saya datang menggunakan kereta dari Glasgow. Total perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam dan harga tiket kereta dan nonton final All England lumayan mahal untuk kantong mahasiswa, tapi itu semua terbayar tuntas dengan menilhat langsung perjuangan ganda putera Indonesia,” kata Aga.

Dijelaskan oleh Ketua PPI UK, Alanda Kariza, bahwa animo mahasiswa Indonesia terhadap kejuaraan bulutangkis All England Super Series amatlah tinggi. “Setiap tahunnya, melalui program kerja yang terencana dari divisi minat dan bakat, PPI UK selalu hadir dan mengakomodir keinginan mahasiswa dan warga negara Indonesia di Inggris Raya yang ingin menonton dan memberikan dukungan secara langsung di ajang tahunan All England,” kata Alanda Kariza.

Tahun 2017 ini, ada lebih dari 2000 mahasiswa Indonesia yang menuntut Ilmu di berbagai kota di Inggris Raya. Jumlah tersebut merupakan yang terbanyak dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Hampir 80% mahasiswa Indonesia tersebut mengenyam pendidikan pada level magister.

Selain mahasiswa Indonesia di Inggris, ada juga masyarakat Indonesia yang datang dari Amerika Serikat dan Indonesia untuk mendukung langsung perjuangan Marcus dan Kevin di arena tempat berlangsungnya partai puncak All England.

Pasangan Putra Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon baru saja dinobatkan sebagai juara setelah memenangkan final All England 2017, mengalahkan wakil dari China Li Junhui dan Liu Yuchen. Kedua atlit kebanggaan Indonesia ini memenangkan pertandingan hanya dalam 2 set dengan durasi 35 menit.

Usai pertandingan, Kevin Sanjaya sempat menuturkan kepada pemandu acara pertandingan bahwa dukungan fans bulu tangkis Indonesia yang hadir di Birmingham amat luar biasa. “Dukungan fans luar biasa. Rasanya kami seperti bertanding di Indonesia”.

Pertandingan sempat berlangsung sengit namun Kevin dan Marcuse berhasil mendominasi sisa pertandingan. Kemenangan ini merupakan kemenangan pertama Kevin dan Marcus atas pasangan Li Junhui dan Li Yuchen dari dua kali pertemuan.

 

Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi:

John Tampi

Kepala Departemen Komunikasi dan Informasi PPI-UK

+447477417026 | Email: contact@ppiuk.org

Categories
Wawasan Dunia

PERMIAS Nasional: Buku Panduan Belajar di Amerika

Ingin sekolah ke Amerika Serikat tapi tidak tahu bagaimana caranya? Atau kamu telah berada di Amerika Serikat dan bingung menghadapi masalah tentang imigrasi, tempat tinggal, atau mencari Perwakilan Indonesia terdekat?

Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (PERMIAS Nasional) telah menerbitkan Buku Panduan Belajar di Amerika Serikat! Buku ini bisa dibaca di https://issuu.com/permiasnasional/docs/final_version_-_buku_panduan_mahasi atau diunduh di sini

Categories
Prestasi Anak Bangsa Suara Anak Bangsa

Prestasi: Mahasiswa Indonesia Mewakili Harvard Kennedy School di World Government Summit

[Cambridge, USA, February 2017]. Belajar di Harvard University dan mewakili kampus bergengsi di ajang bertaraf dunia, World Government Summit di Dubai, menjadi pencapaian yang luar biasa bagi salah satu pelajar terbaik Indonesia, Andhyta Firselly Utami atau yang akrab disapa Afu. Mahasiswa candidate master of Public Policy ini juga berhasil menjadi juara dalam kompetisi Global Universities Challenge yang menjadi salah satu rangkaian dari acara tersebut. Pada kesempatan lalu tim PPI Dunia berhasil mengajak wawancara mahasiswa cantik berkacamata ini dengan berbagai ulasan menraik berikut hasil wawancaranya.

  1. Tolong ceritakan sedikit tentang World Government Summit 2017?

World Government Summit diadakan oleh kantor Perdana Menteri UAE. Kegiatannya selama kurang lebih 4 hari, dengan tema utama membahas tentang ‘Masa Depan Pemerintahan’ atau The Future of Government. Sepanjang acara, berbagai pemimpin kelas dunia seperti Sekretaris Jendral PBB, Presiden Bank Dunia, Sekretaris Eksekutif UNFCCC, dan beberapa Perdana Menteri seperti dari Jepang dan Bhutan hadir untuk memberikan perspektif mereka misalnya sehubungan dengan ekonomi, pendidikan, dan perubahan iklim. Saya sebagai peserta di sana untuk mendengarkan dan terlibat dalam diskusi-diskusi di dalamnya, dan yang terpenting mewakili HKS untuk mengikuti kompetisi Global Universities Challenge.

  1. Bagaimana bisa menjadi delegasi?

Saya terpilih sebagai 1 dari sekitar 20 orang mahasiswa HKS yang berangkat ke World GovernmentSummit lewat seleksi tertulis (esai), tapi untuk mengikuti kompetisi Global Universities Challenge-nya sendiri dipilih lagi 10 orang saja.

  1. Ceritakan proses kompetisinya?

HKS datang dengan ide ‘cit-coin’ atau ‘citizencoin’ yang berfungsi semacam ‘universal basicincome’, tapi didesain sedemikian rupa untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan sipil. Di masa depan dengan banyak automasi, pekerjaan yang kita punya sekarang akan digantikan oleh artificial intelligence atau robot, sehingga manusia berisiko kehilangan senseofpurposedan senseofbelongingterhadap negara. Dengan menggunakan cit-coin, pemerintah bisa memberikan insentif bagi warga negara untuk tetap terlibat. Kami menjadi juara 1, juara 2-nya adalah Stanford University dan juara 3-nya adalah IESE.

Afu (Kanan) sedang menghadiri World Government Summit 2017 di Dubai, UAE
  1. Gimana bisa kuliah di Harvard?

Ada 4 elemen aplikasi: tes (GRE & TOEFL), resume, tiga esai, dan tiga surat rekomendasi, yang semuanya dinilai secara keseluruhan (tidak ada batas minimum yang ‘strict’). Secara umum, HKS mencari mahasiswa yang memiliki komitmen di pelayanan publik dan memiliki track record kepemimpinan. Kalau mau tahu lebih lanjut, bisa periksa website HKS. Selain itu, organisasi ‘Indonesia Club at Harvard’ juga memiliki channel YouTube yang membahas lebih lanjut tentang proses aplikasi ini.

  1. Kenapa Harvard Kennedy School?

Saya pilih HKS karena program yang ditawarkan sangat cocok untuk yang berpola pikir generalis, bukan spesialis. Di hari pertama orientasi, ini semakin diperjelas bahwa mahasiswa HKS diharapkan untuk memiliki wawasan yang luas dalam berbagai isu (bukan hanya satu), namun didasari oleh keterampilan yang kuat dalam kerangka analisis yang berbasis teori ekonomi dan statistik, kepemimpinan dan manajemen, serta komunikasi dan negosiasi.

Lokasinya di Cambridge, kota yang tidak terlalu ‘bising’ seperti New York atau kota besar lainnya hehehe.

  1. Beasiswa atau dana pribadi?

Sepenuhnya ditanggung beasiswa pendidikan LPDP. Kalau bayar sendiri, nggak mampu :))

  1. Apa prodi yang sekarang diambil relevan dengan S1 kamu?

Saya S1 Hubungan Internasional di Universitas Indonesia. Secara umum, jurusan saya sekarang memungkinkan untuk ‘menyelami isu kebijakan publik’ pada level yang lebih dalam, yaitu nasional atau lokal. HIUI juga memberikan saya kerangka berpikir yang analitis. Dari sisi ini, jurusan MPP dan Hubungan Internasional bisa ‘berhubungan’.

  1. Jadwal perkuliahan di sana sepadat apa?

Tiap semester mahasiswa dianjurkan untuk ambil 20 SKS, atau sama dengan sekitar 5 kelas (@4 SKS) sampai 10 modul (@2 SKS). Semester ini saya ambil 3 kelas dan 4 modul, dengan jadwal kelas Senin-Kamis dari jam 10 sampai 4 sore. Beberapa modul ada yang sampai malam hari. Tapi yang paling memakan waktu sebenarnya tugas reading—penting untuk mahasiswa sudah memiliki pemahaman sebelum berdiskusi di kelas—dan problem set untuk kelas yang lebih kuantitatif. Di luar kelas, saya juga terlibat di beberapa kegiatan mahasiswa seperti klub Energi & Lingkungan, Climate Justice, Indonesia Club at Harvard, dan mulai semester depan saya akan menjadi Managing Editor di The Citizen (koran mahasiswa HKS). Biasanya kegiatan ini berlangsung di antara atau setelah kelas.

  1. Bagaimana perasaan Afu sekarang menjadi mahasiswa Harvard?

Sebagai mahasiswa Harvard, biasa saja, tidak ada yang beda, tapi sebagai mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump, saya merasa sangat sadar dengan identitasku yang sebelum sekolah di sini tidak terlalu kuperhatikan. Baru-baru ini saya juga menulis tentang pengalamanku sebagai minoritas dan bagaimana di kelas identitasku menjadi hal yang sangat berpengaruh dalam interaksi sehari-hari di kelas maupun di luar kelas.

  1. Ada berapa mahasiswa Indonesia yang tersebar di Harvard?

Kurang lebih ada 20-30 orang, tersebar di berbagai jurusan mulai dari Kebijakan Publik, Bisnis, Arsitektur/Desain, Teori Islam (!), Pendidikan, dsb.

  1. Pesan Afu untuk anak muda Indonesia yang ingin kuliah di Harvard?

Jangan pernah masuk Harvard hanya untuk namanya saja, karena kalau jurusannya tidak sesuai dengan apa yang teman-teman sebenarnya inginkan, nanti kuliahnya bisa tertekan dan dua tahun bukan waktu yang singkat. Kalau sudah cukup memiliki informasi tentang kecocokan visi hidup teman-teman dengan Harvard, mulai riset online secara mendalam, dan jangan tsayat untuk mengontak alumni atau teman yang memiliki pengalaman dengan sistem aplikasi universitas di Amerika Serikat untuk memberikan masukan. Goodluck!

(Red: Dinda/ Ed: Amir)

Categories
Pojok Opini Suara Anak Bangsa

Kesejahteraan Pekerja Indonesia Harus ditingkatkan

Hari Pekerja Indonesia mulai diperingati setiap tanggal 20 Februari dengan dikeluarkannya Keppres Nomor 9 Tahun 1991 tentang Hari Pekerja Indonesia. Dalam kesempatan ini, PPI menghadirkan, Juniar Laraswanda Umagapi (MA Political Analysis and Public Policy di National Research University Higher School of Economics, Russia) dan Rio Augusto Gunawan (ELP di Cascadia College, USA), masing-masing dalam program RRI Voice of Indonesia Youth Forum dan Kami Yang Muda pada tanggal 20 Februari 2017.

Dalam program Youth Forum, Juniar berkata bahwa “hari pekerja biasanya erat kaitannya dengan demonstrasi yang dilakukan. Memang kesenjangan antara penghasilan seorang buruh kerap kali tidak dapat memenuhi tingginya harga barang yang terdapat di pasaran. Salah satu hal yang diperhatikan adalah dana pensiun dan kesehatan. Hendaknya perusahaan mengikutkan pekerja dalam program kesehatan, seperti BPJS, tanpa mengurangi gaji yang mereka terima.”

“Pekerja wanita menjadi salah satu sorotan dalam jaminan kesejahteraannya. Mereka berhak mendapat cuti pada kehamilan seperti 3 bulan dan seharusnya mendapat gaji yang penuh. Untuk cuti menstruasi, memang masih kontroversial karena tidak terlalu penting,” lanjut mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan di Rusia tersebut.

Dalam program Kami Yang Muda, Rio mengatakan, “gaji adalah masalah utama yang menjadi sorotan bahasan antara para pekerja, terutama dalam Hari Pekerja. Batasan gaji minimum masih kurang dan tidak dapat mengimbangi inflasi harga sandang dan pangan yang terus naik.”

“Juga perlu diperhatikan mengenai nasib pekerja Indonesia yang berada di luar negeri. Mereka kerap kali kurang diperhatikan oleh pemerintah dalam hal kesejahteraannya,” ujar mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Amerika Serikat tersebut.

Menurut Wanda dan Rio, harapan ke depan adalah perusahaan lebih memperhatikan hak yang seharusnya diterima oleh para pekerja. Pemerintah diharapkan juga lebih memperhatikan kelayakan dalam pembayaran dan hak pekerja. Pemuda diharapkan lebih berani dalam memulai usaha baru dan menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih luas.

 

(CA/F)

Categories
Kajian Nuklir Komisi Energi Pojok Opini Suara Anak Bangsa

Nuklir, Opsi Energi Reliabel dan Murah

Dewasa ini, hal terakhir yang diharapkan oleh para pengguna listrik adalah suplai listrik yang byar-pet. Kurang konsistennya suplai listrik di tanah air semakin terasa ketika kebutuhan suplai listrik semakin besar diimbangi dengan kemajuan teknologi serta masukan daya. Kecenderungan pasokan listrik yang “sebentar nyala, sebentar mati” merisaukan sebagian besar masyarakat Indonesia. Kadang-kadang menyala hanya 8 jam sehari, sisanya tidak ada daya. Ini khususnya sering terjadi di daerah-daerah luar Jawa yang belum tereksplorasi secara penuh, dengan kapasitas listrik terbatas dan sangat minimnya fasilitas infrastruktur (pembangkit listrik daya kecil dan menengah). Utamanya, karena komponen sistem pembangkit yang sudah termakan usia sehingga mengalami derating, kurang handal dan efisiensi yang kurang signifikan.

Di dunia pendidikan, terputusnya listrik dapat sangat mengganggu proses belajar-mengajar dan berlangsungnya proses penelitian. Kala ini, banyak tenaga pendidik yang menggunakan alat bantu mengajar dalam bentuk digital, baik itu presentasi powerpoint ataupun laser projector. Pada kasus lainnya, pada fasilitas umum seperti rumah sakit dan bandara, sebagian besar peralatan bantu yang digunakan harus tersambung dengan suplai listrik dengan asupan daya yang cukup besar dan stabil.

Begitu pula di sektor industri. Bayangkan kerugian yang diperoleh ketika proses produksi harus terhenti sejenak karena fluktuasi atau terputusnya asupan daya listrik atau proses transisi ketika penggunaan generator pada sebuah industri. Masalah ini menjadi perhatian utama, mengingat segala hal bisa terkait dengan resiko kematian. Oleh karena itu, wajarlah jikalau masyarakat membutuhkan suplai listrik yang reliabel dan minim sekali byar-pet.

Kenaikan tarif listrik sendiri setiap periodenya menjadi isu keresahan utama, baru-baru ini dengan diberhentikannya subsidi untuk pengguna dengan daya 900 VA. Mahalnya tarif listrik semakin memberatkan masyarakat yang sudah memiliki permasalahannya sendiri, belum lagi listrik merupakan bahan dasar utama dalam kehidupan pada era sekarang. Ada beberapa faktor yang menyebabkan tarif listrik mahal, salah satu yang paling mendasar adalah pemilihan moda pembangkit listrik yang kurang efisien dan reliabel, baik dalam bentuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) maupun Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).

Kemudian beberapa faktor tersebut mendasari pertimbangan dari beberapa kalangan ahli dan pemerintah; “Adakah alternatif pembangkit listrik yang sebisa mungkin sangat reliabel dan juga murah?” Jawabannya, ada, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), jika mengacu dari kemajuan teknologi nuklir di dunia saat ini. Selanjutnya, pembahasan dalam artikel ini akan mengungkap kehandalan dan efisiensi energi nuklir dari segi operasional.

Reliabilitas pembangkit listrik umumnya dapat diartikan dalam faktor kapasitas. Secara sederhana, faktor kapasitas merupakan definisi dari berapa energi yang dibangkitkan dalam setahun dibandingkan dengan energi yang bisa dibangkitkan dalam kondisi full power selama setahun. Faktor kapasitas sendiri bisa dikaitkan dengan definisi dari efisiensi terhadap daya pakai dalam periode tertentu (satu tahun). Sebagai contoh, dalam suatu pembangkit listrik secara teoretis bisa membangkitkan listrik sebesar 876.000 kWh per tahun. Namun nyatanya, dalam setahun pembangkit listrik itu hanya mampu menghasilkan listrik sebesar 750.000 kWh. Artinya, pembangkit listrik ini memiliki faktor kapasitas sebesar (750.000/876.000)*100% = 85,6% (dalam persentase).

Selisih antara pembangkitan listrik teoretis dengan kenyataannya disebabkan oleh beberapa faktor yang disebut kerugian-kerugian (losses). Salah satu kerugian yang sangat signifikan adalah proses downtime. Waktu yang terhabiskan ketika pembangkit listrik dimatikan untuk melakukan perawatan, perbaikan atau penggantian bahan bakar. Pada kasus energi terbarukan, downtime ini disebabkan tidak adanya sumber energi kinetik (angin) atau panas (surya) yang dapat dikonversi untuk menghasilkan energi listrik.

Dibandingkan pembangkit listrik lain, PLTN memiliki faktor kapasitas yang jauh lebih tinggi. Sebagai contoh, pada gambar 1 ditujukkan nilai faktor kapasitas rerata dari berbagai pembangkit listrik di Amerika Serikat pada tahun 2015.

Gambar 1. Faktor kapasitas berbagai moda pembangkit listrik di Amerika Serikat pada tahun 2015 (diolah dari data US Energy Information Administration)

Dikonversi dalam jam, maka jam operasi tahunan masing-masing pembangkit daya tersebut adalah sebagai berikut:

(diolah dari data US Energy Information Administration)

Semakin lama jam operasi, semakin banyak listrik yang bisa dihasilkan dan semakin minim listrik byar-pet. Menurut data di atas, PLTN tetap menjadi pembangkit listrik yang paling reliabel dibandingkan dengan sistem pembangkit lainnya.

Dalam hal ini, faktor kapasitas PLTN tiap negara memang bisa berbeda-beda, tergantung seberapa baik manajemen, kondisi geografis dan fakor internal lainnya. Namun, tetap saja PLTN masih dapat diunggulkan dalam segi stabilitas asupan daya dan kehandalannya daripada pembangkit listrik lainnya, seperti yang diungkapkan oleh World Nuclear Association. Faktor kapasitas realistis PLTN antara 70-90%, dengan rerata dunia berkisar 80%. Performa ini jauh peningkatannya dari era 1980-an yang hanya berkisar 50-60%, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. Hal ini membuktikan kemajuan teknologi nuklir sangat menjamin hasil dan operasional yang maksimal. Belum lagi jika hal ini dikaitkan dengan isu global warming yang sangat menjadi perhatian dunia saat ini, ketika PLTN dinyatakan sebagai pembangkit listrik dengan zero carbon emission.

Gambar 2. Rerata faktor kapasitas PLTN di seluruh dunia dari tahun 1980-2015. Jepang tidak dimasukkan pasca 2011. (sumber: World Nuclear Association)

PLTU dan PLTG membutuhkan proses downtime yang cukup lama dalam hal perawatan. Bahkan untuk pembangkit yang sudah tua, waktu kosong operasinya seringkali memakan waktu lebih lama. PLTU batubara sendiri memiliki faktor kapasitas antara 55-65%, sementara PLTG diantara 40-60%. Menurut data Kementerian ESDM, performa PLTG di Indonesia malah lebih buruk, hanya mampu mencapai faktor kapasitas pada angka kisaran 33%.

Dalam kasus ini kenapa PLTN mampu beroperasi dengan faktor kapasitas tinggi? PLTN itu sendiri memiliki rekam jejak yang relatif minim gangguan (seperti sirkulasi bahan bakar) dan hanya membutuhkan waktu perawatan lebih sedikit. Untuk penggantian bahan bakar, PLTN tipe Light Water Reactor (LWR) hanya perlu mematikan reaktor dalam periode 18 bulan sekali. Bahkan tipe Canadian Deuterium Uranium (CANDU) tidak perlu mematikan reaktor sama sekali, karena pengisian ulang bahan bakar dapat dilakukan ketika reaktor beroperasi. Begitu pula pada PLTN generasi terbaru (Generasi IV) yang diusulkan seperti Molten Salt Reactor (MSR). Sehingga, faktor kapasitas MSR secara teoretis bisa mencapai 95%!

Lebih dari itu, faktor kapasitas PLTN hampir tidak terkait dengan usia reaktor, mengingat PLTN baru ataupun lama (>30 tahun) memiliki performa yang relatif stabil, seperti ditampilkan pada Gambar 3.

Gambar 3. Rerata faktor kapasitas PLTN berdasarkan usia, antara tahun 2006-2015. (sumber: World Nuclear Association)

Pada PLTN, pengalaman operasional menjadi catatan atau rekam jejak pada siklus penggantian bahan bakar berikutnya, sehingga proses ini bisa mengadaptasi untuk dilakukan secara lebih efisien dan mengurangi proses downtime. Dampak yang terlihat ialah semakin lama performa operasi justru semakin baik. Buktinya, PLTN di Amerika Serikat rerata sudah berusia lebih dari 30 tahun, tapi tiap tahun konsisten mencapai faktor kapasitas sangat tinggi.

Oleh karena itulah, PLTN memiliki usia pakai yang sangat lama, bisa mencapai 60 tahun. Bahkan di Amerika Serikat ada perencanaan untuk memberi lisensi hingga 80 tahun! Bandingkan dengan waktu keekonomisan rerata PLTU batubara dan PLTG yang hanya ± 30 tahun, maksimal 40 tahun.

Pada unit-unit PLTN baru, vendor-vendor reaktor nuklir memberi proyeksi faktor kapasitas hingga 90% dengan usia pakai mencapai 60 tahun. Bersamaan dengan manajemen yang baik, angka ini bukanlah hal mustahil, bahkan bisa saja meningkat hingga 95%, sehingga pasokan listrik yang dibangkitkan bertambah dan listrik byar pet bisa diminimalisir sampai sekecil mungkin.

Reliabilitas ini juga terkait dengan biaya listrik. Di berbagai negara, biaya pembangkitan listrik dari PLTN lebih murah daripada PLTU dan PLTG. Sudah hukum alam bahwa, semakin banyak listrik yang dihasilkan dalam periode tertentu, semakin murah biaya pembangkitan totalnya.

Selain itu, murahnya tarif listrik pada PLTN disebabkan sangat rendahnya biaya bahan bakar nuklir, yang merupakan imbas dari energi spesifik uranium yang sangat tinggi. Satu kilogram uranium alam mampu menghasilkan energi 28 ribu kali lipat lebih tinggi daripada batubara dalam jumlah yang sama! Biaya bahan bakar hanya mencakup 14% dari biaya produksi total. Bandingkan dengan PLTU dan PLTG yang biaya bahan bakarnya mencakup 78-89% dari biaya total. Sekalipun biaya investasi untuk PLTN lebih mahal dari keduanya, tetapi hal tersebut dapat terkompensasi dengan sangat rendahnya biaya bahan bakar pada keberlangsungan operasi. Sehingga, secara kalkulasi, tarif listrik dari PLTN tetap terjaga pada kisaran yang rendah.

Pertanyaan berikutnya, seberapa murah tarif listrik dari sokongan PLTN tersebut? Analisis dari Pusat Pengembangan Energi Nuklir-Badan Tenaga Nuklir Nasional (PPEN-BATAN) tahun 2011 memberikan proyeksi biaya pembangkitan listrik PLTN di Indonesia sebesar US$ 4,8 sen/kWh, atau sekitar Rp. 624/kWh (asumsi kurs Rupiah terhadap Dollar AS = 13.000). Penelitian lain di tahun 2013 memberikan proyeksi US$ 5,56 sen/kWh atau Rp. 728/kWh. Salah satu vendor PLTN Generasi IV, ThorCon, memberi proyeksi bahwa biaya produksi listriknya ada pada kisaran US$ 3,3 sen/kWh atau Rp. 429/kWh. Sebagai perbandingan, pada analisis yang sama, PPEN-BATAN menunjukkan bahwa PLTU batubara menghasilkan listrik dengan biaya US$ 6,125 sen/kWh atau sekitar Rp. 796/kWh. Artinya, biaya listrik yang dihasilkan PLTU hampir 1,5 kali lipat lebih tinggi dari biaya listrik PLTN.

Sebagai contoh, satu unit PLTN tipe APR-1400 berdaya 1,4 gigawatt, dengan konsumsi listrik penduduk Indonesia saat ini sebesar 911 kWh/kapita, mampu menghasilkan listrik untuk lebih dari 12 juta orang dengan tingkat byar-pet yang sangat rendah dan biaya produksi listrik kurang lebih Rp. 600/kWh. Ketika konsumsi energi listrik meningkat menjadi 2000 kWh/kapita, suplai listrik yang dihasilkannya masih cukup untuk dikonsumsi oleh sekitar 5,5 juta orang. PLTN tipe ThorCon berdaya 1 gigawatt mampu menghasilkan listrik untuk 8,6 juta orang dengan konsumsi 911 kWh/kapita dan 3,9 juta orang untuk konsumsi 2000 kWh/kapita, dengan biaya pembangkitan listrik Rp. 429/kWh.

Pada era kemajuan teknologi ini, adalah tidak berlebihan jika menganggap bahwa PLTN merupakan opsi pembangkitan listrik paling reliabel dan murah yang pernah ada. PLTN mampu menyuplai listrik dalam jumlah besar, murah dan reliabilitas tinggi. Menilik krisis listrik yang seringkali menimpa banyak daerah, khususnya luar Jawa, serta mahalnya biaya listrik yang harus ditanggung warga, sudah selayaknya PLTN diimplementasikan untuk mengatasi persoalan-persoalan listrik tersebut.

Referensi:

  1. Jack Devanney dkk. 2015. ThorConTM The Do-able Molten Salt Reactor: Executive Summary. Tavernier: Martingale Inc.
  2. Kementerian ESDM. 2014. Sektor Pasokan Energi Pembangkit Berbahan Bakar Fosil: Indonesia 2050 Pathway Calculator.
  3. Mochamad Nasrullah. 2011. Analisis Komparasi Ekonomi PLTN dan PLTU Batubara Untuk Bangka Belitung. Jakarta: Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Energi Nuklir IV PPEN-BATAN.
  4. Mochamad Nasrullah, Nuryanti. 2013. Studi Perbandingan Biaya Pembangkitan Listrik Teraras Pada Pembangkit Energi Terbarukan dan PLTN. Bandung: Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Nuklir PTNBR – BATAN.
  5. Perusahaan Listrik Negara. 2014. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik – Perusahaan Listrik Negara 2015-2024. Jakarta: PLN.
  6. US EIA. Electric Power Monthly Capacity Factors for Utility Scale Generators Not Primarily Using Fossil Fuels, January 2013-October 2016. https://www.eia.gov/electricity/monthly/epm_table_grapher.cfm?t=epmt_6_07_b
  7. US EIA. Electric Power Monthly: Capacity Factors for Utility Scale Generators Primarily Using Fossil Fuels, January 2013-October 2016. Diakses dari https://www.eia.gov/electricity/monthly/epm_table_grapher.cfm?t=epmt_6_07_a
  8. World Nuclear Association. The Economics of Nuclear Power. Diakses dari http://www.world-nuclear.org/information-library/economic-aspects/economics-of-nuclear-power.aspx
  9. World Nuclear Association. 2016. World Nuclear Performance Report 2016. London: WNA.

 

Ditulis Oleh: R. Andika Putra Dwijayanto,

Rando Tungga Dewa, Dwi Rahayu, Nugroho Adi S.

Tim Kajian Nuklir – PPI  Dunia

Page 1 of 2
1 2