logo ppid

PPI Dunia Mendukung Teman Difabel Untuk Bisa Terus Berkarya dan Meraih Prestasi

Posted By 
Asyraf Muntazhar
 On 
February 18, 2022

Rendahnya penyerapan masyarakat difabel dalam dunia kerja, terutama yang bekerja di sektor formal seperti karyawan sebuah perusahaan swasta, menjadi salah satu tantangan yang sampai sekarang masih belum terselesaikan di Indonesia.

Padahal Undang-Undang Negara Indonesia sebenarnya sudah bersifat inklusif, yang mana isu-isu terkait kewajiban penyedia kerja seperti perusahaan untuk memberikan kuota khusus masyarakat difabel tertulis disana. Namun, kurangnya paparan informasi tentang peraturan tersebut pada masyarakat penyandang difabel juga penyedia kerja menyebabkan masih rendahnya serapan masyarakat difabel di pasar tenaga kerja.

Karena permasalahan tersebut, Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia (PPI Dunia) melalui Direktorat Pergerakan dan Pengabdian Masyarakat (Direktorat PPM) mengadakan kegiatan webinar berjudul “Career Counselling Teman Difabel (CC Teman Difabel): Maximize Your Potential: A Promising Future for Difabel” pada hari Sabtu, 12 Februari 2022.

Acara ini memiliki tujuan yang baik untuk masyarakat difabel karena memberikan informasi seputar dunia pekerjaan, mulai dari potensi sampai kepada hal spesifik seperti cara mendapatkan pekerjaan. Selain itu juga menyediakan ruang dialog dan konseling, sebagai sarana meningkatkan rasa percaya diri untuk masyarakat difabel, dan lain sebagainya.

“PPI Dunia ingin menunjukan kepada dunia bahwa dengan keterbatasan fisik tidak akan menghalangi kita semua untuk dapat berkarya dan meraih prestasi,” ungkap Faruq, Koordinator PPI Dunia dalam sambutannya.

“Saya percaya bahwa penyandang disabilitas dapat hidup secara mandiri dan memiliki hak serta kesempatan yang sama dengan masyarakat pada umumnya seperti kita semua,” sambungnya.

Ken Khansa Iftikhar selaku ketua CC Teman Difabel dalam sambutannya mengatakan “Saya berharap dengan adanya acara Career Counselling Teman Disabel ini akan membantu para teman difabel untuk lebih percaya diri dalam mencari pekerjaan dan tidak ada perbedaan antara para teman disabilitas dengan teman-teman lainnya dalam bekerja”.

Narasumber pertama yang dihadirkan dalam webinar ini adalah Putri Santoso selaku founder dari Kopi Tuli yang juga merupakan teman difabel penyandang tuli sejak lahir. Dalam kesempatannya bicara, ia berkomunikasi menggunakan Bahasa Isyarat yang di terjemahkan oleh juru Bahasa Isyarat.

Dalam pemaparannya, ia menjelaskan awal mula berdirinya Kopi Tuli hingga varian menunya dan pekerja yang didominasi oleh teman difabel. Selain menjual minuman, Kopi Tuli juga mengajarkan cara menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) agar masyarakat bukan hanya bisa menikmati kopi buatan orang tuli tapi juga bisa lebih meningkatkan komunikasi dengan orang-orang tuli.

Putri juga berharap agar masyarakat lain di Indonesia bisa memberikan pekerjaan yang layak kepada teman difabel. Karena teman difabel juga bisa melakukan kegiatan produktif seperti orang lainnya.

“Harus diingat, kami penyandang tuli juga memiliki kebutuhan yang sama yaitu kebutuhan untuk bekerja. Fokusnya itu bukan kepada kekurangan yang kami miliki, tetapi kepada apa kemampuan yang kami miliki,” ujar Putri.

Narasumber berikutnya menghadirkan founder dari PT. Disabilitas Indonesia, yaitu Hasnita Taslim Arifin. Ia merupakan penyandang disabilitas sejak ia berusia 22 tahun karena kecelakaan kendaraan bermotor.

Pengalamannya saat pertama kali transisi dari hidup normal menjadi disabilitas memiliki banyak sekali cobaan. “Ternyata support system dari masyarakat itu tidak seperti yang kita harapkan,” katanya.

Hasnita memiliki pendapat bahwa alasan penyandang disabilitas diremehkan oleh masyarakat adalah karena masyarakat tidak terbiasa melihat mereka. Ia memiliki impian agar penyandang disabilitas juga menjadi kelompok masyarakat yang produktif, seperti aktif menggunakan transportasi umum, bisa bekerja, dan melakukan banyak kegiatan lain seperti masyarakat umum lainnya.

“Saya memiliki cita-cita melihat penyandang disabilitas itu equal. Sehingga kalo kita sudah equal, kita financially independent, kita become a productive member of society, perlahan-lahan stigma dalam masyarakat itu berubah dengan sendirinya,” jelas Hasnita.

Acara ini diadakan untuk membuka mata setiap orang, bahwasanya setiap orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama bagaimanapun keadaan itu. Semoga kedepannya masyarakat kita bisa menerima dan memberikan perlakuan yang sama dengan masyarakat lain tanpa melihat status serta kekuarangannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920