logo ppid

Menilik Potensi Pariwisata Indonesia Pasca Pandemi; PPI Dunia Mengadakan Webinar Tatanan Baru Pariwisata

Posted By 
Asyraf Muntazhar
 On 
January 17, 2022
Gusti Kanjeng Ratu Bendara (Ketua BPD AKU DIY/Pemateri I) dan Faris Apriyadi (PPI Malaysia/Moderator) dalam sesi foto bersama

Jakarta- Sektor pariwisata menjadi kekuatan roda ekonomi Indonesia, baik ekonomi berskala kecil maupun besar. Namun, jumlah wisatawan di Indonesia mengalami penurunan setelah pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Berangkat dari sana, PPI Dunia melalui Direktorat Festival Luar Negeri (FELARI) mengadakan webinar bertajuk “Revitalisasi Ekonomi Pasca Pandemi melalui Sektor Pariwisata di Indonesia” pada hari Sabtu (15/1/2022).

“Webinar ini bertujuan untuk melihat seberapa besar potensi Pariwisata Indonesia dalam merevitalisasi ekonomi pasca pandemi Covid-19, setelah adanya penurunan 50% dari jumlah wisatawan di sektor Pariwisata Indonesia.” ujar Faruq Ibnul Haqi dalam sambutannya.

Selain itu, ia pun menambahkan bahwa PPI Dunia berupaya untuk aktif membantu kebangkitan sektor ekonomi di Indonesia, “Inovasi, adaptasi dan kolaborasi adalah kunci utama dalam bertahan dan bangkit dari kondisi keterpurukan akibat covid-19. Maka bidang pariwisata juga perlu untuk ikut beradaptasi di bidang terkait,” tambah Faruq.

Selaku narasumber, Gusti Kanjeng Ratu Bendara, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (BPD DIY) menyampaikan, ekonomi dalam negeri, khususnya UMKM, mengalami penurunan drastis imbas turunnya angka wisatawan di sektor pariwisata.

“UMKM merupakan salah satu sektor yang mengalami dampak terbesar dari turunnya angka wisatawan. Jika sektor pariwisata mengalami penurunan sebanyak 50%, sektor UMKM mengalami penurunan sebesar 70%. Penguatan ekonomi di daerah oleh pemerintah, khususnya pada desa wisata merupakan salah satu kunci untuk terjadinya revitalisasi ekonomi di Indonesia pasca pandemi covid-19,” imbuh Ketua BPD DIY.

Ia menyebut, salah satu faktor terbesar dalam penurunan angka wisatawan adalah regulasi yang belum efektif dari pemerintah. Belum lagi, pemerintah belum mampu memberikan solusi yang sesuai dengan kondisi yang terjadi di daerah. “Regulasi yang diberlakukan dalam skala nasional masih melihat kondisi yang terjadi di Jakarta, padahal regulasi yang diberlakukan belum tentu sesuai dengan apa yang dibutuhkan untuk menangani masalah yang terjadi di daerah” jelas Ratu.

Kendati demikian, DIY sudah mengalami peningkatan sebanyak 60% dari jumlah wisatawan sebelum pandemi. Kenaikan ini karena adanya pelonggaran regulasi sehingga wisatawan domestik mulai berkunjung kembali ke Yogyakarta.

Pada sesi berikutnya, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB UNDIP) Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. bertindak sebagai narasumber kedua webinar ini. Ia menjelaskan bagaimana peran pariwisata dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Mencakup korelasi antara pariwisata dan perekonomian, ekonomi pariwisata dan efektifitasnya jika diterapkan di era pasca pandemi, dampak pandemi pada perekonomian di sektor pariwisata, dan revitalisasi ekonomi pasca pandemi dalam peninjauan dari sektor pariwisata.

“Ekonomi dan pariwisata itu membutuhkan pergerakan dan adaptasi. Selama ini, pemerintah telah menerapkan beberapa regulasi yang mulai menjadi kebiasaan baru selama pandemi. Namun, tetap harus terus melihat kondisi yang terjadi dalam negeri, khususnya dalam segi pariwisata. Kebijakan yang diterapkan pemerintah selain terus bergerak dan beradaptasi, tentu harus memperhatikan dan mengedepankan desain yang less-economy dan less-contact untuk mengurangi kemungkinan terburuk yang akan terjadi,” ujar Prof. Suharmono.

Setiap kebijakan pemerintah akan berdampak dalam perkembangan ekonomi, khususnya di sektor pariwisata. Menurut Prof. Suharmono, perubahan sektor pariwisata memerlukan peran pemerintah dalam menjaga dan memfasilitasi perubahan sektor pariwisata agar dapat bertahan. Dukungan tersebut berupa perbaikan infrastruktur pendukung dan kemudahan berusaha dalam bentuk insentif.

Berlanjut ke sesi ketiga. Wakil Presiden Indonesian Islamic Business Forum (IIBF), Sutrisno   membahas UMKM Pariwisata. Ia menjelaskan, UMKM adalah tulang punggung perekonomian Indonesia. “Pelaku UMKM di negara kita menyumbang 61,07% dari PDP Indonesia dan jumlahnya sangat besar, yaitu 64,2 juta atau 97% dari pelaku usaha yang ada di Indonesia.” ujar Sutrisno.

Sutrisno berharap pemerintah memberlakukan regulasi yang jelas dan berpihak kepada UMKM. Terlebih, dalam situasi pandemi sekarang ini, dengan regulasi ketat dan rumitnya prosedur untuk bepergian ke luar negeri, akan berimbas meningkatnya jumlah pengunjung domestik ke objek wisata tanah air. “Tentunya pariwisata dalam negeri akan terus tumbuh selama pemerintah terus berpihak kepada UMKM dan membuat aturan baku yang jelas.” terang Sutrisno.

Dalam kesempatan ini Sutrisno turut menyampaikan apresiasi kepada PPI Dunia, khususnya Direktorat FELARI yang berinisiatif mengadakan webinar ini. “Saya salut kepada teman-teman PPI Dunia yang mengadakan acara ini. Saya yakin melalui acara ini akan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dunia pariwisata Indonesia,” tutupnya. (Asyraf Muntazhar/BPMI PPID)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920