Lima Belas Purnama di Negeri Seribu Cahaya

Published by admppi on

Oleh: Ach Fuad Fahmi

Mahasiswa S2 di International Islamic University of Islamabad, Pakistan

Time flies so fast, hingga pada moment kali ini tepat lima belas purnama mengais ilmu, memungut hikmat di tanah perantauan. Sepertinya baru kemarin saya berangkat dari kampung halaman dengan diantar kedua orang tua di Stasiun Jember menuju Jakarta. Bukan hal yang mudah, melepas mereka di stasiun jember saat itu karena notobene anak semata wayang macam saya ini. Tapi karena sudah mendapat restu dari mereka untuk melanjutkan studi di negeri Ali Jinnah, akhirnya saya putuskan untuk segera flight ke Islamabad.

Saat kereta yang saya tumpangi menuju jakarta sudah beranjak, satu pesan yang saya ingat dari Kyai Hasan “Nilai Akademik itu penting, tapi itu tidak cukup, imbangi dengan terjun ke organisasi, karaktermu akan terbentuk di situ”. Cukup terngiang di pikiran saya sampai saat ini, karena bukan hanya tutur kata dari kyai namun juga do’a.

Selain itu, Beliau juga menuturkan “Jangan lupa untuk memperbanyak baca di perpustakaan, jangan hanya diam tanpa target”. Pesan yang terakhir menyiratkan bahwa sebagai seorang akademisi tidak boleh lepas dari membaca, karena peradaban Islam dan masa kejayaanya dimulai dari membaca (iqra) atau tidak luput dari dunia literasi.

Sejak Februari lalu (2020) saya menginjakkan kaki di Islamabad, saya melihat suasana kampus yang megah dengan arsitektur khas Pakistan yang tak lepas dengan nilai arsitekur khas Peradaban Persia. Dengan berbagai disiplin ilmu yang dimilikinya tidak kalah dengan kampus di Timur Tengah yang lain. Meski bagiku, secara administrasi masih belum cukup memuaskan, tapi masih banyak dimensi dan nilai positif yang saya dapat dari kampus ini; Sisi keilmuwan, dosen yang mumpuni, dan berbagai mahasiswa asing yang lain seperti Afrika, Arab saudi, Cina, Turki, dan lain sebagainya yang bisa saya ajak sharing dan komunikasi untuk meningkatkan kualitas bahasa, khususnya Arab dan Inggris.

Kurang lebih dari 3 bulan, pesan Kyai saya berwujud menjadi kenyataan, saya diberi kesempatan untuk mengemban amanah di salah satu organisasi afiliatif yaitu Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM). Saya tergolong mahasiswa baru saat itu, namun dengan sistem musyawarah dan mufakatnya di salah satu pertemuan, saya direkomenadikan untuk menjadi ketua.

Padahal secara fakta, keilmuwan saya tentang Muhammadiyah masih amat sangat jauh, tapi saya berpikir bahwa ini adalah sebuah proses untuk belajar, karena tidak ada pemimpin yang sempurna. lagi-lagi, saya berfirasat bahwa ini wujud do’a dan restu Kyai sebelum saya merantau ke tempat ini. Anyway, apapun doa’ yang diucapkan oleh orang yang kita jumpai, lambat laun akan menjadi buah, yang kelak nantinya akan kita petik.

Seiring berjalannya waktu, saya banyak menemukan berbagai pelajaran dan pengalaman di sini; belajar berorganisasi serta dapat berbagai pengalaman dari orang-orang hebat. Pengalaman berorganisasi di pondok dulu, menurut saya masih kurang, perlu dimatangkan lagi dengan berbagai ide, aspirasi dan kreatifitas yang dibangun dalam organisasi tersebut.

Kompetensi memang penting dalam terjun di suatu organisasi namun mencari orang yang siap berkorban dan berjuang dengan ikhlas. Karena di dalam organisasi sejatinya kita tidak mencari penghidupan namun mencari ladang amal dan pahala, iya tabungan pahala di akhirat kelak. But overall, ini adalah proses memantaskan diri yang harus kita syukuri.

Selain organasasi, kuliah juga tak kalah pentingnya bahkan menjadi prioritas untuk mendorong jiwa spritual dan intelektual. Di awal, mungkin saya merasa kesulitan terutama dalam membagi tugas kuliah, organisasi, dll. Namun seiring berjalannya waktu, justru saya merasa terdidik dengan adanya tugas baik di bangku kuliah maupun di organisasi. Rencananya saya juga tidak mau berlama-lama tinggal di negeri orang, hehe. Targetnya sih, cepet selesai cepet pulang dan berbagai ilmu dan pengalaman.

Saya selalu menulis beberapa target, supaya jadi anak rantaunya bisa memberi banyak kontribusi dan manfaat, baik untuk diri sendiri dan orang lain. Bahkan, sebelum berangkat ke Pakistan, ada salah teman saya yang satu almamater di PKU Gontor mengatakan seperti ini “Ad, aku tunggu tulisannya dari Pakistan”. Artinya ketika sedang merantau kita telah menapaki jejak-jekak sejarah yang ada di negara yang kita tinggali, perlu untuk diteliti, ditulis, dan dibukukan agar orang bisa membaca kisah perjuangan dan pengorbanan kita selama menimba ilmu di negeri seberang.

Oleh karena itu, kita belajar di luar negeri belum pantas dikatakan sukses. Justru dalam masa-masa menimba ilmu kita sedang melewati jalan menuju kesuksesan. Because Succes is a Journey not Destination. Pahit manisnya harus dijalani dengan seceria mungkin. Karena bisa jadi kesibukan kita saat ini dimimpikan banyak orang di luar sana. Salam Anak Rantau

Categories: Uncategorized

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.