Interdisciplinary Discussion dan Sokongan Untuk Indonesia 2030

Published by nurjaeni on

Dunia perkuliahan merupakan wadah bagi mahasiswa untukss mengeksploitasi segala potensinya diberbagai interdisciplinary ilmu. Tuntutan sebagai mahasiswa yang dipredikatkan dapat menjadi agent of change dan generasi yang mempunyai peranan penting dalam proses maju dan berkembangnya suatu negara. Dari sinilah mahasiswa dituntut untuk berdiskusi dan berfikir secara kritis. Faedah dari hal tersebut adalah bagaimana mahasiswa memperoleh pengetahuan, memperbaiki teori serta memperkuat argument. Dilanjutkan dengan mengemukakan dan merumuskan pertanyaan dengan jelas serta menafsirkan informasi secara efektif dan selektif. Menurut Ennis (1962) berfikir kritis adalah kemampuan untuk berfikir jernih dan rasional yang meliputi kemampuan untuk berfikir reflektif dan independen.

Sebagai Putra-Putri Bangsa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Negeri tetangga (Malaysia) tidak lantas membuat kami apatis akan isu yang terjadi di Indonesia. Hari Kamis 12 April tepat pukul 8.30m P.M, Persatuan Pelajar Indonesia di International Islamic University Malaysia yang diketua oleh Rif’at Abdillah, melaksanakan aktifitas akademik yang sekiranya bisa membantu Indonesia dalam sumbangsih pemikiran demi kemajuan Indonesia dengan sebuah diskusi yaitu Interdisciplinary Discussion yang disampaikan oleh delapan Mahasiswa diberbagai disiplin ilmu, dimulai dari bidang Ekonomi, Politik, Hukum, Pendidikan, Komunikasi Media Massa, Teknologi, Pandangan Islam dan Psikologi.

Mengambil tema “ 2030, Indonesia Apa Kabar ” yang digadangkan didua sisi, maju dengan sistem ekonomi paling stabil di dunia atau malah collapse seperti yang dituliskan oleh P.W Singer, seorang politisi dalam novel berjudul Ghost Fleet. Sebuah prediksi dari penggambaran skenario perang Amerika dan China 2030. Walaupun kehancuran Indonesia bukan plot utama di Novel ini, akan tetapi pengaruh kutipan tersebut di Indonesia sangat menjadi menjadi viral menggingat jaman era digital berita di berbagai media sangat mudah untuk di akses.

Salah satu disiplin ilmu adalah sisi ekonomi, Saudara Ali Chamani Al Anshory memaparkan bagaimana kondisi ekonomi kita di era krisis moneter pada tahun 1997 yang dimulai dari krisis keuangan pada pemerintah Thailand dan penularan efeknya sampai ke negara-negara Asia yang lain. Indonesia adalah negara yang paling terpukul karena krisis ini tidak hanya berdampak terhadap ekonomi tetapi juga berdampak signifikan dan menyeluruh terhadap sistem politik dan keadaan sosial di Indonesia. Prediksinya lebih ke tahun 2050 oleh PWC bahwa ekonomi Indonesia akan menjadi terbesar ke 4 setelah Cina, India dan Amerika. Saudara Ali juga menambahkan bahwa itu akan terjadi kalau pertumbuhan ekonomi kita konsisten 5 % keatas continuously, dan tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan seperti perang dan krisis.

Lebih dari itu masing-masing pembicara menyampaikan sikap optimis Indonesia di 2030 dapat menjadi negara kuat dari bidang politik di sistem pertahanan dan keamanaan, teknologi dengan bonus demografi dan industry revolusi 4.0, pendidikan dengan sokongan pemerintah agar menjadikan pendidikan di Indonesia unggul sesuai dengan undang-undang nomor 20 tahun 2003 menjunjung tinggi nilai hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai budaya, dan kemajemukan bangsa dengan satu kesatuan yang sistemis dengan sistem terbuka dan multimakna. Dari sisi keagamaan, ada sifat optimis atau ta’aful yang Rasulullah SAW ajarkan kepada kita agar melihat suatu hal dengan postif. Optimisme agar masyarakat Indonesia bisa aplikasikan hubbul wathan. Bagaimana institusi islam dapat membantu dan berintegrasi dalam membangun Indonesia yang lebih sinergi contohnya dengan pengembangan Komite Nasional Keuangan Syari’ah yang diketuai oleh Presiden Joko Widiod, dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi nasional pun dengan dibarengi ilmu komunikasi bagaimana masyarakat Indonesia mampu memilih informasi yang mempunyai kredibilitas tinggi.

Berbagai manifestasi yang kami tawarkan mendapat respon dari dua Dosen yang sangat positif dengan catatan agar acara seperti ini dapat dikembangkan menjadi Forum Group Discussion dengan waktu yang kurang lebih 3 jam serta pembahasan lebih konkrit dan mendiskusikan hal-hal yang kompleks .

Penulis: Afifah Dinar, International Islamic University Malaysia, PPI Malaysia


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.