logo ppid

Diskusi PPI Dunia tentang Blockchain dan Potensinya bagi Kehidupan

Posted By 
Asyraf Muntazhar
 On 
April 14, 2022

Blockchain merupakan teknologi yang belakangan ini kian populer dan memiliki peluang untuk dikembangkan di berbagai bidang seperti medis, pertanian, properti, telekomunikasi, dan lain-lain. Namun, fenomena terkini menunjukkan bahwa masyarakat hanya memahami teknologi blockchain sebagai sebuah cryptocurrency. Padahal cryptocurrency adalah berbeda dari blockchain dan hanya merupakan salah satu perwujudan dari penggunaan blockchain di sektor keuangan.

Oleh karena itu, Direktorat Penelitian dan Kajian (Ditlika) Komisi Teknologi dari Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia (PPI Dunia) mengadakan webinar bartajuk “Teknologi Blockchain sebagai government transformation pasca Covid-19” pada hari Sabtu, 9 April 2022.

Webinar ini ditujukan sebagai sarana untuk memberikan pemahaman dan edukasi terhadap masyarakat umum dan kaum intelektual seperti mahasiswa dan akademisi agar memahami apa itu blockchain, bagaimana potensi yang mereka miliki, dan bagaimana teknologi ini mampu mentransformasi kehidupan bermasyarakat yang lebih baik. Ditambah dengan situasi pandemi yang mengancam maka titik ini dapat menjadi peluang bagi kita untuk memanfaatkan teknologi ini.

Narasumber yang dihadirkan dalam webinar ini merupakan para expert di bidang informasi dan teknologi (IT). Diantaranya adalah Prof. Dr. Henri Subiakto, Drs, S.H., M.A yang merupakan Dosen dan Guru Besar Universitas Airlangga, Herman Tolle, Dr. Eng. Ir., S.T., M.T. Dosen dan Wakil Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya, lalu Reza Primasatya, Head of Technology Tokocrypto.

“Ada sesuatu yang perlu kita bahas dan diskusikan seperti, apa sih (kegunaan) teknologi blockchain kedepannya pasca covid19? terkhusus dalam aktifitas-aktifitas transformasi government.” Ujar Fajar Ibnul Haqi, koordinator PPI Dunia dalam sambutannya.

Narasumber pertama adalah Henri Subiakto yang memulai pembicaraannya dengan membahas perkembangan era teknologi. Setelah melewati era komputer, internet, dan digital, saat ini kita sudah masuk ke era teknologi blockchain.

Lebih dalam lagi, ia memaparkan tentang apa itu blockchain serta bagaimana cara memaksimalkan potensi yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, teknologi blockchain ini memiliki potensi yang sangat besar untuk mentransformasi sistem yang ada sekarang agar menjadi lebih baik.

“Blockchain bisa dipakai teknologinya untuk membangun sebuah ekosistem, yang sistemnya lebih terpercaya, lebih aman dan bisa dipakai untuk mendorong publik lebih produktif dan pemerintah menjadi lebih efektif. Bahkan di berbagai aspek kehidupan.” Ujar Henri.

Ia menjelaskan tentang social mining yang berguna untuk mendapatkan keuntungan dari berselancar di media sosial. Semua jenis aktifitas di media sosial seperti suka, komentar, dan bagikan akan mendapatkan poin. Jika poin sudah terkumpul banyak, pemilik poin tersebut akan mendapatkan reward yang nantinya bisa ditukarkan dengan berbagai macam barang dan jasa.

Profesor dari Unair ini juga menerangkan fungsi blockchain di bidang pendidikan. Teknologi ini bisa menjadi pemantau pendidikan yang lebih efektif. Kita bisa memantau dan membandingkan keaktifan satu mahasiswa dengan mahasiswa lainnya karena semua data terkait kegiatan suatu individu bisa tersimpan di teknologi blockchain. Mulai dari keaktifan bertanya di kelas, absensi kehadiran, buku yang dibaca, halaman website yang dibuka dan lain sebagainya.

Hal ini juga pastinya akan berhubungan dengan bidang pekerjaan. Nantinya HRD akan lebih mudah dalam mencari pekerja sesuai dengan spesifikasi yang dicari. Pelamar juga akan lebih mudah dalam menjelaskan apa yang disukai, kelebihan dan kekurangan, serta hal yang lebih spesifik lainnya hanya dengan menyertakan tautan riwayat saat melamar kerja.

Namun begitu, Henri merasakan bahwa meskipun cara membangun sistem dari teknologi ini terbilang rumit, yang lebih susah lagi adalah merubah culture, mindset, dan behavior yang sudah terbentuk dalam masyarakat.

Narasumber berikutnya adalah Herman Tolle. Dalam kesempatannya berbicara, ia menjelaskan tentang blockchain secara rinci. Mulai dari sejarahnya, prinsip kerja, karakteristik, hingga penerapan inovasi berbasis blockchain untuk transformasi layanan di Indonesia.

Salah satu inovasi yang bisa digunakan dari teknologi blockchain adalah untuk sertifikat. Teknologi blockchain yang memiliki sistem keamanan terpercaya bisa memudahkan kita dalam urusan pembuatan sertifikat.

“Dengan adanya blockchain, ketika sertifikat sudah di-generate maka sertifikat itu akan dinyatakan aman, tidak bisa diubah orang sembarangan. Kita akan tahu sertifikat ini atas nama siapa, lokasinya dimana, tanggal belinya kapan, dan seterusnya.” Kata Herman.

Selain itu transformasi lain yang bisa dimaksimalkan layanannya dengan teknologi ini adalah Distribusi pangan. Konsumen bisa mengetahui makanan yang akan dikonsumsi itu terdiri dari bahan apa saja, bagaimana cara pengelolaannya, bahkan sampai memantau pergerakan makanan tersebut hingga ke tangan konsumen. Ini juga bisa menjadi solusi untuk mencegah penimbunan stok bahan makanan yang berlebih, karena pemerintah maupun masyarakat bisa langsung melacak pendistribusiannya jika mengalami tersendat.

Inovasi lainnya yang sangat berguna untuk masyarakat dan pemerintah yaitu sistem crowdsourcing platform dan juga e-voting. Crowdsourcing platform adalah sebuah sistem yang memberikan kita transparansi data dan bisa digunakan untuk layanan zakat dan pajak. Kita bisa memantau kemana dan untuk apa aliran dana yang sudah kita berikan itu digunakan. Sedangkan e-voting bisa berfungsi untuk mengantisipasi kecurangan dalam pemilu dan mengurangi dana pengeluaran pemilu yang jumlahnya besar.

Giliran berikutnya adalah Reza Primasatya. Ia memberikan pemaparan yang mendalam tentang cara kerja blockchain. Secara sederhana, Reza menjelaskan bahwa blockchain itu dimulai ketika sebuah blok menyimpan data baru. Sistemnya terdiri dari dua buah jenis record, yakni transaksi dan blok.

Yang unik dari teknologi ini adalah setiap blok akan berisi hash kriptografi sehingga membentuk jaringan. Fungsi dari hash kriptografi adalah untuk mengambil data-data dari blok asal dan mengubahnya menjadi compact string. String digunakan sebagai alarm pendeteksi apabila ditemukan potensi sabotase.

Sifatnya yang terdesentralisasi membuat teknologi ini tidak memiliki satupun otoritas dengan kendali penuh, melainkan terpecah ke setiap komputer yang sudah diinstal perangkat lunak atau software khusus.

Selain memiliki sistem transaksi yang transparan, teknologi blockchain juga memiliki proteksi data yang baik. Terdapat sistem verifikasi oleh para miner sebelum dieksekusi di banyak komputer. Struktur database tersebut bersifat append only atau hanya bisa menambahkan dan tidak memiliki akses perintah edit.

Di dalam blockchain sendiri terdapat sistem yang dinamakan private chain dan juga public chain. “Seluruh sirkel yang ikut di ekosistem private chain atau orang yang diundang akan mendapat info yang berasal dari chain tersebut” kata Reza.

“Sedangkan public chain, semua orang yang gak ter-invite itu bisa melihat” sambung Reza, menjelaskan perbedaan antara private chain dan public chain.

Reza juga menjelaskan tentang potensi yang bisa dimaksimalkan oleh teknologi blockchain di bidang kesehatan. Kedepannya dunia pengobatan akan lebih efisien karena para dokter dan tenaga medis bisa dengan mudah mendapatkan riwayat kesehatan pasien.

Redaktur: Bayu Adji Nugraha, Nanda Aulia Putri, Fitria Wulandari.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920