logo ppid

Mysore - Tahun ini, menjadi pengalaman saya berpuasa sendirian jauh dari keluarga dan Tanah Air. Sejak akhir Juli 2016 saya harus berangkat ke India, tepatnya Kota Mysore, India Selatan, untuk menempuh S2 jurusan Mass Communication and Journalism di University of Mysore, atas sponsor pemerintah India.

Kota tempat saya tinggal sama saja dengan kota-kota di India lainnya, di mana muslim menjadi minoritas. Tentu tidak hanya muslim, karena India mengakui semua agama. Kita bisa menemui orang-orang dengan keyakinan yang tidak kita temui di Indonesia. Misalnya Baha'i, Zoroaster, hingga Yahudi.

Karena Islam menjadi minoritas, saya tidak boleh berekspektasi lebih selama menjalani Ramadan di sini. Ekspektasi dalam arti suasana yang biasa kita dapatkan di Indonesia saat bulan Ramadan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untungnya, rumah tempat saya tinggal cukup dekat dengan masjid, sekitar 3 kilometer. Jadi saya masih kedengaran suara azan.

Eits.. meskipun masjid, tapi saya tidak bisa pergi ke sana. Di India, masjid hanya diperkenankan untuk lelaki. Sedangkan perempuan beribadah di rumah saja.

Berdasarkan keterangan teman-teman muslim di sini sih, hal itu terkait dengan budaya masyarakat Islam di India. "Perempuan lebih baik salat di rumah karena lebih aman". Itulah mayoritas jawaban yang saya himpun dari teman-teman muslim di sini.

Namun setelah saya telisik lebih jauh, itu karena muslim sunni India berkiblat pada mazhab Imam Hanafi. Singkatnya yang saya pahami, dalam mazhab Imam Hanafi, banyak yang lurus berpatok pada hadis yang memang salah satu isinya mengatakan perempuan hukumnya sunah untuk salat jemaah di masjid.

Rupanya itu yang menggiring pada keadaan budaya muslim di sini, di mana jarang sekali bisa menemukan perempuan salat di masjid. Bahkan pada perayaan hari-hari besar Islam.

Selain perempuan yang tidak diperkenankan salat di masjid, perempuan muslim di India selalu menggunakan abaya berwarna hitam, dengan hijab yang dililitkan di kepala. Ada yang sangat ditata dengan sangat syar'i, menggunakan burqa, hingga dililitkan apa adanya. Yang penting warnanya hitam.

Nah, kalau yang ini memang murni karena budaya. Entah apa yang mendasari perempuan muslim di sini mengenakan abaya berwarna hitam terus sehari-hari. Tapi ada juga sih yang moderat, busananya bisa warna-wani, walau jarang sekali kita bisa menemukan yang seperti itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Salah satu teman saya termasuk moderat. Lucunya, perjalanan ke kampus dia tetap mengenakan abaya hitam. Sesampainya di kampus, dia menggantinya dengan busana muslim berwarna-warni. Tidak hanya teman saya, saya amati beberapa pelajar muslimah lainnya juga mereka melakukan hal yang sama. Haha..

Yang penting bagaimana cara kita beribadah masih sama. Teman-teman muslim yang saya kenal, puasa dengan baik. For your information, di sini puasa hanya lebih lama satu jam dari Indonesia. Azan Magribnya sekitar pukul 19.00 waktu setempat, seiring dengan tenggelamnya matahari di India.

Dan selama Ramadan ini, saya disibukkan dengan persiapan final exam. Hal ini cukup membuat pikiran saya terdistraksi, lupa pentingnya membuat takjil, lupa memikirkan makanan enak apa untuk berbuka. Bahkan selama Ramadan ini semua masakan yang saya masak rasanya hambar (ya iyalah, masaknya pas puasa). Yang penting, puasa dan ujian lancar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bila rindu suasana Ramadan, saya ajak teman Indonesia ke lokasi muslim membeli samosa buat takjil. Asal tahu saja, filling samosa di India itu kalau hari-hari biasa cuma kentang dan bawang merah. Tahu kan ya, orang India mostly vegetarian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di kota saya, beli daging sapi pun harus blusukan dulu. Menurut teman Indonesia yang sudah lebih dulu di sini, snack seperti samosa isi daging menjadi panganan wajib yang harus diburu saat puasa. Daging apa? Macam-macam, ada filling ayam, ikan, kambing, sapi, dan salah satu yang ekstrem misalnya otak kambing, haha. Enak kok, saya sudah pernah coba.

*) Dinda Lisna Amilia adalah mahasiswa S2 jurusan Mass Communication and Journalism, University of Mysore, India; anggota Biro Pers PPI Dunia dan Divisi Humas dan Publikasi PPI India.

Singapura - Singapura bukanlah negara yang penduduknya mayoritas Muslim, namun bukan berarti Singapura tidak ramah Muslim. Dan tahun ini adalah kali kedua saya menghabiskan Ramadan di Singapura untuk menemani suami saya yang bekerja di sini.

Selebihnya saya berdomisili di Malaysia untuk studi master saya. Sebagai pasangan suami-istri 'baru' setahun dan belum memiliki anak, kami leluasa untuk pergi ke masjid manapun yang ada di Singapura. Biasa saya janjian untuk bertemu suami di stasiun MRT tertentu untuk sama-sama berbuka di masjid yang akan di kunjungi.

Biasanya suami saya baru pulang kantor pukul 18.00 waktu setempat dan langsung ke lokasi janjian, dan saya berangkat dari rumah membawakan baju ganti ke lokasi yang sama.

Alhamdulillah, di Singapura, masjid pun tidak kalah modern dan bersih. Setiap masjid yang kami kunjungi selalu membuat kami takjub terlebih para pengurus masjid, terutama imam masjidnya, adalah kaum muda dengan kualitas yang luar biasa.

Masjid Go Green

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saking seriusnya, suami saya menceritakan bahwa masjid yang biasa ia kunjungi untuk salat jumat memutar video khusus kepada jemaahnya untuk menggalakkan programnya. Saya juga seringkali mendapati stiker khusus besar di depan pintu masuk masjid untuk mengajak jemaahnya mengamalkan program "Go Green" dengan berhemat air wudu.

Salah satu contohnya gambar di atas, di Masjid Sultan (Masjid Terbesar di Singapura) pipa air wudunya diberi stiker untuk mengingatkan dan dipasang nozzle khusus agar airnya tidak meluncur deras. Dan yang paling saya gemari adalah setelah berwudu di sediakan layar untuk memberi poin pelayanan mereka.

Masjid Ramah Anak dan Orangtua

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Masjid Raudhah adalah masjid yang paling sering kami kunjungi karena lokasinya yang relatif dekat dengan rumah kami. Jadi, kalau suami agak telat pulang kantor, untuk mendapatkan waktu berbuka di masjid kami langsung menuju ke masjid ini.

Hari pertama tarawih, setiap jemaah diberi sekotak kurma dari donatur. Untuk anak-anak mendapat bonus suvenir untuk menambah semangat mereka berpuasa, bahkan tahun lalu mereka mendapatkan balon-balon bertemakan Ramadan sehingga mereka ramai datang ke masjid.

Bahkan banyak saya jumpai ibu-ibu yang turut membawa bayi mereka untuk salat berjamaah dan menggendongnya saat salat, pemandangan yang masih sangat jarang saya jumpai di Indonesia. Terlebih bagi orangtua atau ibu-ibu atau bahkan anak muda yang memiliki penyakit tertentu sehingga tidak bisa salat dengan berdiri, kursi telah disediakan khusus di belakang bagi mereka agar tetap bisa salat berjemaah.

Saat saya berbuka di Masjid Mujahidin yang berlokasi dekat dengan kantor suami, saya berkenalan dengan istri rekan kerja suami yang berasal dari Jakarta. Ia mengajak keempat anaknya termasuk bayi berusia satu bulan berbuka puasa bersama di masjid. Ia merasa aman dan nyaman mengajak mereka semua karena memang Singapura terkenal aman dari penculikan ataupun kejahatan lainnya.

Menu Buka Tak Biasa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penduduk Singapura yang beraneka bangsa mempengaruhi menu buka puasa yang ada. Tapi yang jelas, masjid-masjid di Singapura menyediakan makanan pembuka dan makanan berat.

Makanan pembuka yang pasti ada adalah kurma dan buah manis, teh dan sirup serta bubur. Dan makanan beratnya beraneka macam seperti nasi putih atau briyani dan terkadang juga roti.

Makanan berat disajikan dalam sebuah nampan untuk empat orang jemaah. Untuk orang tua bahkan disediakan meja khusus agar mereka tidak kesulitan duduk.

Jadi apabila Anda ingin merasakan suasana Ramadan lebih bermakna bersama saudara sesama muslim dibanding berbuka sendiri di rumah, sebaiknya datang lebih awal ke masjid agar Anda mendapat pelayanan prima dari para panitia.

Mereka dengan senang hati mengarahkan dan menjamu kita di sana. Selain mendapat teman baru, menu berbuka kita akan lebih bervariasi. Sebab itu datang lebih awal lebih baik karena muslim lainnya juga berbondong-bondong mendapat berkah Ramadan di masjid. Jangan sampai anda kehabisan tempat atau tertinggal masa berbuka bersama.

Meski demikian, apabila ada jemaah yang telat, masih mendapat menu berbuka meskipun sedikit mengganggu jemaah yang lain yang khusyuk berbuka. Namun seringkali kami masih bisa membawa semangkuk bubur yang diberikan panitia karena berlebih.

Menu Indonesia Mudah Ditemui

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Orang Indonesia yang merindukan menu Indonesia di Singapura tidak terlalu kesulitan untuk mendapatkannya karena banyak juga rumah makan khas Indonesia seperti Rumah Makan Cak Ndut di daerah Orchard. Selain itu, saat Ramadan juga terdapat bazar besar di daerah Geylang, yang memang telah dihias sedemikian rupa sehingga kita bisa merasakan betul suasana Ramadan di sana. Meskipun tidak 100 persen sama dengan bazar di Indonesia.

Dan jangan khawatir, apabila menu berbuka kurang sesuai dengan selera Anda, tepat di sekitar bangunan masjid telah disediakan stand makanan khusus menjelang berbuka. Jadi sekalian berwisata kuliner di sana.

*) Rita Fatimah adalah Master Candidate of Islamic Revealed Knowledge and Human Science International Islamic University Malaysia (IIUM), anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) IIUM.

 

 

 

 

Shizuoka - Tradisi buka puasa bersama alias bukber sudah menjadi menu wajib di bulan Ramadan. Begitu pun bagi mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di luar negeri, ini tentunya menjadi hal yang sangat dirindukan.

Seperti yang dilakukan oleh mahasiswa Indonesia di Shizuoka University Jepang, buka puasa bersama atau ifthar menjadi momen penting untuk mengenalkan Ramadan di Jepang. Tak sedikit orang Jepang yang penasaran ingin tahu apa itu Ramadan dan mengapa umat Islam harus berpuasa sebulan penuh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto: Salah satu mahasiswa Indonesia menjelaskan tentang Ramadan dalam buka puasa bersama di Shizuoka University (Dina Istiqomah)

 

Acara yang digelar pada hari Jumat (2/6) lalu dihadiri oleh dosen, mahasiswa Jepang, Malaysia, Bangladesh dan Thailand. Rektor Shizuoka University, Kiyoshi Ishii, yang turut hadir mengaku sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Ketika dikonfirmasi oleh panitia, Ishii langsung menyatakan bersedia untuk hadir dan mendukung sepenuhnya. Dalam sambutannya, Ishii berharap momen tersebut menjadi ajang untuk mengenal Islam lebih dekat dan meningkatkan bentuk toleransi antar umat beragama.

 

Foto: Sambutan Rektor Shizuoka University, Kiyoshi Ishii saat acara buka bersama (Dina Istiqomah)

 

Selama acara berlangsung, semua yang hadir terkesan dengan persiapan dan pelayanan yang diberikan. Antusiasme terlihat ketika suara azan dikumandangkan, salat berjamaah dan penjelasan mengenai serba- serbi Islam khususnya tentang Ramadan.Acara yang digelar pada hari Jumat (2/6) lalu dihadiri oleh dosen, mahasiswa Jepang, Malaysia, Bangladesh dan Thailand. Rektor Shizuoka University, Kiyoshi Ishii, yang turut hadir mengaku sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Ketika dikonfirmasi oleh panitia, Ishii langsung menyatakan bersedia untuk hadir dan mendukung sepenuhnya. Dalam sambutannya, Ishii berharap momen tersebut menjadi ajang untuk mengenal Islam lebih dekat dan meningkatkan bentuk toleransi antar umat beragama.

Tak ketinggalan, soto ayam menjadi menu utama dalam acara tersebut, dan palu butung sebagai hidangan pembuka. Bahkan hampir semua yang hadir rela mencicipi sambal cabe hijau dan sambal tomat yang turut serta dihidangkan, bagi mereka itu satu hal yang menantang.

Foto: Soto ayam jadi menu utama buka puasa yang digelar mahasiswa Indonesia di Shizuoka University (Dina Istiqomah)

 

Jumlah mahasiswa muslim yang semakin meningkat di Jepang menjadi perhatian oleh pihak Universitas untuk menyediakan pelayanan yang memadai, seperti ketersediaan makanan halal di kafetaria dan tempat ibadah. Diungkapkan oleh Wakil Rektor Shizuoka University, Reiko Motohashi, dirinya akan terus membantu mewujudkan "halal food" dan musala yang strategis letaknya, sehingga mahasiswa muslim dapat melakukan ibadah, sebagai kewajibannya, dengan nyaman.

Foto: Mahasiswa Jepang tak segan mencicip sambal cabe hijau yang sangat pedas (Dina Istiqomah)

 

Berpuasa di negeri orang memang sangat berbeda jika dibandingkan dengan puasa di negri sendiri. Jika di dalam negeri sekarang hanya sekitar 13 jam, di Jepang harus menunggu 3 jam lebih lama dan mencoba bertahan dengan kondisi lingkungan yang mulai panas kering menjelang summer alias musim panas.

Untuk waktu Shizuoka, waktu Subuh untuk saat ini sekitar pukul 02.48 dan matahari terbit sekitar 04.32. Sedangkan waktu Magrib di Shizuoka untuk saat ini pada pukul 18.58 dan akan terus bertambah lama hingga akhir Ramadan, mengingat pada bulan Juni matahari berada pas di posisi belahan utara.Berpuasa di negeri orang memang sangat berbeda jika dibandingkan dengan puasa di negri sendiri. Jika di dalam negeri sekarang hanya sekitar 13 jam, di Jepang harus menunggu 3 jam lebih lama dan mencoba bertahan dengan kondisi lingkungan yang mulai panas kering menjelang summer alias musim panas.Jumlah mahasiswa muslim yang semakin meningkat di Jepang menjadi perhatian oleh pihak Universitas untuk menyediakan pelayanan yang memadai, seperti ketersediaan makanan halal di kafetaria dan tempat ibadah. Diungkapkan oleh Wakil Rektor Shizuoka University, Reiko Motohashi, dirinya akan terus membantu mewujudkan "halal food" dan musala yang strategis letaknya, sehingga mahasiswa muslim dapat melakukan ibadah, sebagai kewajibannya, dengan nyaman.

Ditambah lagi ketersediaan makanan halal yang masih cukup langka di sini mengharuskan mahasiswa muslim memasak sendiri di apartemen masing- masing. Beruntungnya sebagian besar jumlah mahasiswa Indonesia di Shizuoka University menempati asrama mahasiswa yang difasilitasi oleh kampus. Sehingga, mahasiswa yang berpuasa bisa saling berbagi makanan dan bergantian untuk saling memasak dalan skala besar.

Begitu pun dengan salat tarawih berjemaah, mahasiswa menggunakan hall asrama sebagai tempat salat berjemaah. Salat tarawih di hall asrama dijadwalkan setiap pukul 21.00 waktu Shizuoka. Namun, banyaknya mahasiswa yang pulang malam karena masih melakukan riset di kampus dan acapkali ada beberapa mahasiswa yang bekerja paruh waktu, sehingga seringkali mundur waktunya untuk menunggu jumlah jemaah cukup banyak.

Foto: Salat Magrib berjemaah di Shizuoka University (Dina Istiqomah)

 

Bersyukur salah satu di antara mahasiswa ada salah seorang lulusan pesantren yang fasih dan mengetahui banyak soal agama. Adalah M Nurrohman Sidiq, mahasiswa S2 Kimia (alumni UGM) yang merupakan lulusan pesantren Krapyak Yogyakarta. Ia dengan senang hati membimbing teman- teman lainnya untuk meningkatkan ibadah selama bulan Ramadan dan menjadi imam setiap salat tarawih.Sebetulnya di Shizuoka terdapat musala yang berada di tengah kota. Namun karena kapasitas yang kurang memadai untuk menampung semua jemaah salat tarawih, sehingga mahasiswa yang menempati asrama memilih untuk melakukan salat tarawih berjamaah di hall asrama.

Bagi orang Jepang, puasa merupakan hal yang sangat mustahil dilakukan, karena mereka berpikir setiap waktu manusia memerlukan asupan makanan. Tak sedikit yang merespons "No..I will die".

Tapi bagi seorang muslim, bulan Ramadan adalah bulan yang paling ditunggu- tunggu di antara 11 bulan lainnya. Haus dan lapar tidak dirasakan meskipun masih berkutat dengan riset dan kegiatan kampus yang menguras tenaga & pikiran. Itulah yang membuat orang Jepang sangat takjub dengan puasa Ramadan.

Namun setidaknya, kami mahasiswa Muslim di Jepang khususnya Shizuoka merasa bersyukur untuk mengalami berpuasa hanya dalam 16 jam, berbeda dengan mahasiswa muslim di Eropa bagian utara yang harus bertahan lebih lama.

*) Dina Istiqomah adalah Mahasiswa Doktoral United Graduate School of Agricultural Science, Gifu University- Participated Univ: Shizuoka University ; Anggota Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang.
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama dan partisipasi Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).

***

Tokyo - Alhamdulillah, bagi warga muslim Indonesia di Tokyo dan sekitarnya, Ramadan kali ini menjadi semakin hangat dan istimewa. Hal itu dikarenakan keberadaan hasil perjuangan 18 tahun pembangunan Masjid Indonesia pertama di Tokyo berbuah manis.

Tepatnya 26 Mei 2017, Jumat sore hari jelang memasuki Ramadan, masjid Indonesia Tokyo diresmikan oleh Duta Besar Indonesia untuk Jepang Bapak Arifin Tasrif. Akhirnya, kami di sini dapat melaksanakan ibadah salat fardhu dan iktikaf di Masjid Indonesia Tokyo. Suasana haru pun dirasakan saat itu, tak luput dari kami hingga ada yang berurai air mata hingga pekikan takbir berucap syukur.

Dengan adanya Masjid Indonesia, kehangatan diantara warga muslim Indonesia kian terasa. Ada tempat berkumpul dalam beribadah, ada wadah untuk menyapa sesama muslim Indonesia yang berjumlah sekitar 5.000 orang di Tokyo dan sekitarnya. Tak hanya itu, fungsi Masjid Indonesia ini pun dirasakan oleh muslim lainnya seperti dari Bangladesh, Pakistan, Turki, Malaysia dan warga muslim Jepang itu sendiri.

Buka puasa bersama di Masjid Indonesia Tokyo (Arif Aditiya)

Ramadan di Jepang tentu berbeda dengan Indonesia. Subuhnya berkisar pukul 02.39 dan waktu Magribnya mendekati pukul 19.00 malam. Sekitar 17 jam lamanya warga muslim di Jepang melaksanakan puasa di musim panas kali ini.

Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII) Jepang yang merupakan wadah berupa organisasi dakwah Islam di Jepang yang dimotori oleh masyarakat Islam Indonesia yang tinggal di Tokyo dan sekitarnya menyelenggarakan rangkaian kegiatan untuk mengisi Ramadan 1438 H. Kegiatan itu seperti buka puasa bersama, salat dan kajian Tarawih, workshop tematik,

Tabligh Akbar tiap Ahad, iktikaf, Pesantren Kilat, Ramadhan Ceria for Kids, A Day : Islamic Culture Festival for Japanese, hingga rangkaian Salat Idul Fitri dan gelaran Open House oleh KBRI Tokyo.

Tak lupa, Panitia Ramadan juga menerima zakat fitrah dan mal dan menyalurkannya kepada yang berhak menerimanya. Kegiatan Tabligh Akbar setiap Ahad, menjadi istimewa yang dinanti setiap pekannya. Di tengah rutinitas harian, kegiatan ini laksana oase di padang pasir.

Tabligh Akbar yang diadakan KMII di Tokyo selama Ramadan di Masjid Indonesia Tokyo yang baru dibuka pada Mei 2017 lalu (Arif Aditiya)

Selain tema beragam yang menarik, momen yang ditunggu yakni pada saat berbuka bersama teman, kerabat atau keluarga menjadi sangat spesial, apalagi menu takjil dan hidangan serba spesial ala Indonesia tersaji apik oleh ibu-ibu Kemuslimahan KMII Jepang. Jumlah yang hadir bisa mencapai 500 orang. Mereka datang dari Tokyo dan luar Tokyo, bahkan ada yang bermalam sebelumnya untuk menghadiri acara ini. Indahnya kebersamaan ini sangat dirasakan.

Kegiatan Ramadan merupakan kegiatan tahunan KMII Jepang yang didukung oleh seluruh komunitas warga muslim Indonesia di Jepang baik para pekerja, pelajar, pekerja magang, dan perawat. Hal ini dapat terlihat dari narasumber yang tidak hanya mengisi di Tokyo, namun juga mengisi ke berbagai daerah di sekitar Tokyo dan luar Tokyo seperti Chiba, Gunma, dan bahkan Fukuoka.

Ramadhan 1438 Hijriyah mempunyai tema "Meniti Surga bersama Keluarga" menghadirkan 4 (empat) narasumber dari Indonesia yaitu ustaz Adi Hidayat, ustaz Maman Surahman, ustaz Hepi Andi Bastoni, dan ustaz Irfan Syauqi. Selain mengisi kajian harian dan Tabligh Akbar, para ustaz juga mengisi workshop tematik dengan tema yang berkaitan dengan keluarga seperti workshop pranikah, cara Nabi mendidik anak dalam keluarga hingga bagaimana mengelola keuangan keluarga.

Ustaz Adi Hidayat mengisi Tabligh Akbar di Masjid Indonesia Tokyo (Arif Aditiya)

Pada pekan pertama lalu, narasumber kami ustaz Adi Hidayat -yang juga pada Ramadan kali ini sebagai narasumber di kolom #TanyaUstazAdi detikRamadan- sempat berkunjung ke beberapa Islamic Center di Tokyo seperti Islamic Arabic Institute, Yuai Islamic International School, serta bertemu dengan anggota Dewan Syariah Islam Tokyo. Hal ini menegaskan bahwa KMII Jepang terus menjembatani dakwah Islam di negeri Sakura kepada seluruh muslim tidak hanya bagi muslim

Indonesia.

Pada Ahad 4 Juni lalu, Wakil Presiden Jusuf Kalla di tengah kunjungan kerjanya di Tokyo menyempatkan untuk dapat salat Tarawih bersama kami di Masjid Indonesia Tokyo. Dalam kesempatan itu, Pak Jusuf Kalla memberikan tausiahnya dan harapannya agar Masjid Indonesia ke depannya dapat menjadi sarana membangun kemampuan umat yang positif. Kami berharap rangkaian kegiatan Ramadan ini menjadikan semakin istimewa bagi segenap masyarakat muslim Indonesia di Jepang.

Wapres Jusuf Kalla yang mampir ke Masjid Indonesia Tokyo yang baru dibuka (Arif Aditiya)

Secara umum, Ramadan di Jepang sangat dirasakan, terlebih jika kita berada di Tokyo, hampir semua masjid yang menyediakan berbuka puasa dan menu halal tersedia di beberapa restoran .

Penulis: Arif Aditiya, Ketua Panitia Ramadhan 1438 H - KMII Jepang, Mahasiswa S2 Civil Engineering The University of Tokyo dan Anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang

*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama antara Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) dan detikcom

 

Lancaster - Tak terasa bulan Ramadan telah memasuki minggu kedua. Menjalankan ibadah puasa sambil menempuh pendidikan di United Kingdom merupakan pengalaman yang luar biasa. Selain karena di United Kingdom bulan puasa jatuh pada musim panas yang mana waktu siangnya lebih panjang daripada malam (waktu siang = 18 jam).

Kalender akademik di United Kingdom pun menjadi tantangan tambahan bagi para pelajar muslim dalam menjalani ibadah puasa, karena di term ini, kami sedang menjalani exam, project company, penelitian laboratorium, dan disertasi. Pengerjaan project company dan disertasi pun ada yang memerlukan travelling ke luar kota atau bahkan luar negeri untuk pencarian data.

Waktu malam yang relatif singkat juga membuat kami belajar mengatur waktu secara efisien. Pasalnya waktu Magrib di sini jatuh pada pukul 21.40, lalu Isya pada pukul 22.57, dilanjutkan dengan tarawih yang selesai pada pukul 00.00, kemudian Subuh jatuh pada pukul 02.45.

Buka bersama PPI Lancaster (Marsya Mutmainah Handayani)

Untuk mengakali hal ini kami berusaha untuk tidak terlelap di antara waktu setelah tarawih sampai Subuh dan mengakali waktu tidur kami. Tak jarang pula kami melanjutkan belajar di perpustakaan yang buka selama 24 jam sembari menunggu waktu sahur sampai Subuh tiba. Jarak prayer room yang notabene lebih dekat ke perpustakaan daripada ke rumah pun juga menjadi alasan.

Alhamdulillah, kampus kami (Lancaster University) memiliki prayer room/musala bagi perempuan dan laki-laki, yang memberikan iftar secara gratis setiap hari dan memfasilitasi salat Magrib – Isya – tarawih - Subuh berjemaah. Hal ini merupakan suatu keistimewaan tersendiri bagi muslimah di Lancaster karena belum tentu muslimah di kota lain dapat menikmati salat berjemaah di prayer room/musala/masjid. Muslimah yang pergi sendiri ke masjid bukanlah hal yang biasa di sini.

Selain itu, berbuka bersama teman-teman Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) juga dapat mengobati rindu nuansa berpuasa di Indonesia dengan hidangan khas Indonesia tentunya. Ditambah lagi, udara di United Kingdom terbilang sejuk saat musim panas sekitar 16-20oC dengan semilir angin. Teman-teman non-muslim juga menghormati dan menyemangati kami yang berpuasa.

Buka bersama PPI Lancaster (Marsya Mutmainah Handayani)

Namun demikian, tak ada yang mengalahkan rindunya berbuka puasa bersama atau sahur bersama keluarga dengan hidangan favorit masakan ibu di rumah. Perbedaan waktu antara United Kingdom dan Indonesia yang seharusnya hanya 6 jam pun jadi terasa 12 jam karena perbedaan pergerakan matahari. Ketika di sini (United Kingdom) berbuka puasa, keluarga di Indonesia sedang sahur.

Lebih jauh lagi, pelajar muslim di United Kingdom harus waspada karena sejak kejadian bom di konser Ariana Grande di Manchester dan aksi terorisme di London beberapa waktu lalu, status kewaspadaan United Kingdom meningkat menjadi level tertinggi, 'critical'. Terakhir dikabarkan Sabtu pekan lalu, terjadi serangan teror kembali di London. Sampai Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) memberikan imbauan untuk selalu berhati-hati.

Hal ini juga berdampak pada peningkatan terjadinya kasus hate crime terhadap muslim, mengingat pelaku teror adalah muslim. Seorang teman ada yang pernah diteriaki dan ada pula yang menjadi takut untuk keluar rumah. Merupakan suatu ironi ketika mendengar atau membaca berita bahwa di Indonesia justru terjadi hal-hal sebaliknya bahwa sedang banyak terjadi hate crime kepada saudara-saudara non-muslim atau bahkan perpecahan di antara muslim itu sendiri.

Bulan Ramadan sejatinya menjadi momen refleksi untuk memperbaiki diri, mempererat persaudaran dengan saling berbagi dan memaafkan. Semoga kita semua dapat meraih kemenangan dan kembali kepada fitrah pada tahun ini.

Penulis: Marsya Mutmainah Handayani, mahasiswa LLM Environment and Law di Lancaster University, United Kingdom. Penulis tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Lancaster.

) Artikel ini terselenggara atas kerja sama antara Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) dan detikcom.

Khartoum - Sudan merupakan salah satu negara yang terletak di benua Afrika. Jika dilihat seksama, letak Sudan tepat berada di jantung benua Afrika. Negara ini juga memiliki julukan 'Negeri Dua Nil', karena di negara inilah bertemunya dua Sungai Nil, yaitu Nil Biru dan Nil Putih.

Dari jumlah penduduknya, mayoritas masyarakat Sudan memeluk agama Islam. Suasana Islamnya mirip seperti Indonesia, namun memiliki beberapa perbedaan. Misalnya, jika di Indonesia masyarakatnya banyak bermazab Syafii, mayoritas masyarakat Sudan bermazab Maliki.

Ujian sesungguhnya hidup di Sudan ada ketika bulan Ramadan. Kita diharuskan berpuasa di atas suhu stabil 40° Celsius. Total lamanya berpuasa di Sudan sekitar 13 jam. Mulai azan Subuh pukul 05.00 hingga azan Magrib berkumandang kisaran pukul 19.30.

Suhu panas di Sudan memuncak ketika Ramadan. Hal unik yang terjadi, ketika salat Zuhur, masjid-masjid sangat dipenuhi oleh masyarakat Sudan. Di tengah suhu yang panas, mayoritas masjid di Sudan terdapat pendingin ruangan, seperti air conditioner (AC) dan cooler. Hal ini dimanfaatkan oleh masyarakat Sudan untuk tidur siang, sambil mengamankan diri sesaat dari panasnya Sudan. Kejadian unik ini selalu terjadi setiap harinya di bulan Ramadan ini.

Foto: 'Begal Ramadan' di Sudan, 'membegal' orang lewat untuk berbuka puasa (Landmark Sudan, Masjid Alnilin (Muhammad Faiz Alamsyah)

Namun, Sudan sangat ramah dalam menyambut datangnya bulan yang penuh berkah. Beberapa fenomena menarik banyak terjadi, dan hanya terjadi di bulan Ramadan. Beberapa fenomena yang jarang, atau bahkan kita tidak pernah lihat di Indonesia.

Di Sudan, ada satu kejadian yang paling menarik ketika Ramadan. Kami warga Indonesia yang menetap di Sudan menyebutnya dengan 'begal ramadan'. Jika di Indonesia, orang membegal kendaraan, di Sudan orang membegal orang lain di jalanan untuk mau berbuka bersama mereka.

Foto: 'Begal Ramadan' di Sudan, 'membegal' orang lewat untuk berbuka puasa (Landmark Sudan, Masjid Alnilin (Muhammad Faiz Alamsyah)

Begal ini terjadi hampir di setiap sudut negeri Sudan. Di dekat tempat kami tinggal, ada sekitar 5 rumah yang menyediakan tempat untuk berbuka. Kami tinggal pilih saja, mau 'dibegal' oleh rumah yang mana.

Rumah-rumah ini menggelar tikar di depan rumah mereka, untuk orang lain datang berbuka. Mereka menyediakan aneka makanan dan minuman khas Sudan, dengan cuma-cuma. Hal ini mereka lakukan, di setiap hari selama Ramadan, sebulan penuh, mereka menyediakan hidangan berbuka itu.

Hebatnya efek 'begal' ini, banyak warga Sudan 'berebut' orang di jalan. Bahkan beberapa tahun lalu, seperti dilansir beberapa media cetak di Sudan, ada dua orang Sudan yang sampai terlibat baku hantam. Mereka pun dipolisikan. Alasannya sangat sederhana, hanya karena berebut orang di jalanan untuk berbuka puasa bersama mereka.

Cara berbuka puasa orang Sudan pun unik. Ketika azan berkumandang, mereka memilih untuk memakan kurma terlebih dahulu, berbeda dengan kita yang mayoritas memilih untuk minum teh hangat ketika azan. Teh hangat mereka sajikan justru setelah salat Magrib berjemaah. Yang lebih aneh lagi, tidak ada es teh di seluruh Sudan. Bukan kebiasaan mereka, mencampurkan teh dengan es batu.

Lalu bagaimana mengobati rindu dengan suasana berbuka di Indonesia? Alhamdulillah, pada hari Jumat dalam setiap minggunya, KBRI Khartoum selalu mengadakan buka puasa bersama dengan seluruh WNI di Sudan yang diadakan di Wisma Duta RI, tempat tinggal bapak Duta Besar RI untuk Sudan.

Foto: Buka puasa bersama di KBRI Khartoum Sudan (Tidur siang setelah salat Zuhur di masjid-masjid di Sudan ('Begal Ramadan' di Sudan, 'membegal' orang lewat untuk berbuka puasa (Landmark Sudan, Masjid Alnilin (Muhammad Faiz Alamsyah)

Ini cara kami mengobati kerinduan akan Ramadan di Indonesia. Tersaji takjil khas Indonesia, seperti kolak pisang, bakwan, es teh, brownies, dll. Setelah Isya pun diadakan tarawih bersama.

Mungkin ini sedikit gambaran bagaimana Ramadan di Sudan. Bagi yang penasaran akan cerita Ramadan lainnya di Sudan, Persatuan Pelajar Indonesia di Sudan (PPI Sudan) dan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Turki (PPI Turki) tahun lalu menerbitkan e-book yang berjudul "Diary Ramadhan". "Diary Ramadhan" ini berisikan tentang cerita-cerita mahasiswa /i Indonesia saat Ramadhan di Turki dan Sudan. Info Diary Ramadhan selengkapnya terdapat di link ini.

Semoga kita semua diberikan kemudahan, dan senantiasa diberikan kesehatan, dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Penulis: Muhammad Faiz Alamsyah, Mahasiswa S1 University of Holy Quran and Islamic Sciences Sudan, ketua departemen media dan informasi PPI Sudan 2016-2017 dan anggota Biro Pers PPI Dunia 2016-2017

*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama antara Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) dan detikcom

Kairo - Mungkin ini adalah tahun pertama saya merasakan bulan suci Ramadan di Kota Kairo, Mesir. Biasanya saya menjalani dan menikmatinya di kampung halaman. Tentu dengan tradisi dan corak yang sangat berbeda.

Baik senang maupun susah silih berganti dirasakan. Senang karena mendapatkan pengalaman baru, tradisi baru, terlebih bisa lebih khusyuk beribadah dengan kurangnya godaan di negeri para nabi ini, ya di bumi para nabi. Terasa sedih karena jauh dari orang tua dan keluarga yang biasa menemani setiap Ramadan.

Kairo memiliki tradisi tersendiri dalam menyambut bulan suci Ramadan. Masyarakat Mesir terlebih yang berdomisili di Kairo sangat antusias menyambut bulan yang hanya hadir satu tahun sekali ini.

Di antaranya mereka membeli fanus, yaitu semacam lampu Aladin ala Timur Tengah, dengan berbagai macam warna untuk dipasang di jalan-jalan agar terlihat lebih indah, terlebih malam hari. Masjid pun tak kalah dihias dengan fanus sehingga keindahannya sungguh luar biasa pada malam hari.

Tradisi lain yang menarik adalah orang-orang kaya di Mesir dan negara Arab pada umumnya menyediakan makanan untuk berbuka puasa bagi masyarakat dan orang-orang secara gratis, baik dengan skala kecil maupun besar. Kami biasa menyebutnya disini sebagai maidatur rahman.

Memilih maidatur rahman menjadi perhatian khusus mahasiswa di sini karena menu makanan yang disediakan di setiap tempat antara satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Jadi kita memilih kebebasan sesuai menu makanan yang disuka.

Semua orang mampu di Mesir berlomba berderma menyediakan hidangan berbuka alias maidatur rahman (Foto: dok. Haidar Masyhur Fadhil)

Mulai menu makanan Asia, seperti ayam, ikan, daging yang cocok dengan lidah dan cita rasa kami, mahasiswa asal Indonesia, maupun makanan asli Mesir seperti isyy, yaitu semacam roti yang terbuat dari tepung dan gandum, atau fuul semacam kacang yang dicampur dengan minyak goreng dan sebagainya.

Rasa toleransi masyarakat di Mesir sangat tinggi, hal ini terbukti mayoritas toko atau warung tutup hingga menjelang waktu berbuka tiba. Dan ditutup kembali jika waktu azan isya dan salat tarawih tiba hingga kembali dibuka setelah salat tarawih hingga menjelang waktu sahur.

Toko-toko di Kairo tutup saat siang, buka menjelang waktu berbuka. Tutup lagi saat azan isya, buka usai tarawih hingga sahur. (Foto: dok. Haidar Masyhur Fadhil)

Ramadan di Mesir sangat terasa kehadirannya. Hal ini terbukti dengan masjid yang selalu penuh dengan banyaknya warga asli Mesir maupun warga negara asing seperti kami yang beribadah di dalamnya. Terlebih malam hari hingga menjelang subuh karena sangat ingin sekali memanfaatkan waktu yang sangat berharga yang hanya datang satu tahun sekali ini.

Salat tarawih di Kairo (Foto: dok. Haidar Masyhur Fadhil)

Dan perlu diketahui, waktu berpuasa di Mesir sedikit lebih lama dibanding di Indonesia. Waktu puasa di Mesir sekarang sekitar 16 jam. Jadi kami melakukan ibadah puasa dimulai dengan sahur pukul 02.30 pagi dan berbuka pukul 19.00. Maka tak jarang kami tidur dalam waktu yang sangat singkat atau diganti dengan belajar dan ibadah-ibadah yang lain.

Terlebih bulan puasa kali ini di Mesir sedang memasuki musim panas yang suhunya masih berubah-ubah dan belum mencapai puncaknya. Suhu panas tertinggi disini bisa mencapai 40 derajat Celsius. Maka dibutuhkan kesabaran dan tenaga ekstra untuk bertahan di cuaca yang sangat panas.

Penulis: Haidar Masyhur Fadhil, mahasiswa Fakultas Ushuludin Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Anggota Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir.

*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama antara Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) dan detikcom

If you talk to a man in a language he understands, that goes to his head. If you talk to him in his own language, that goes to his heart. ‒Nelson Mandela

Tulisan kali ini dibuka dengan sebuah kata-kata dari seorang Nelson Mandela tentang bagaimana maksud seseorang bisa sampai ke hati orang lain. Bahasa adalah salah satu bentuk budaya manusia yang dengannya manusia bisa saling memahami atau malah saling salah paham. Saat mempelajari sebuah bahasa baru, manusia tidak hanya mempelajari kata-kata ataupun tata bahasa semata. Tetapi, dengan mempelajari bahasa, manusia dapat memahami kebiasaan, adat istiadat bahkan mungkin jalan pikir lawan bicaranya.

Bulan ini, di tengah musim dingin yang cukup menggigil, PPI Osaka-Nara bersama Jurusan Bahasa Indonesia Osaka University mengadakan acara 交流会 (Kouryu-kai) atau Bincang Bersama dengan mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia di Osaka University, Toyonaka Campus. Acara kali ini mengangkat tema 'Perayaan Tahun Baru di Jepang' dan karena itulah makanan khas Jepang 'mochi' pun menjadi primadona. Saat tim liputan PPI Osaka-Nara tiba di lokasi, teman-teman Jepang sudah mulai menghidangkan zouni, yaitu sup miso dengan isi mochi dan sayuran yang biasa disajikan saat perayaan tahun baru. Hangat sekali disantap di tengah menggigilnya musim dingin kali ini.

Bahasa Baku vs. Bahasa Gaul

Sambil makan sup mochi yang hangat, kami mulai masuk ke lingkaran teman-teman yang sedang mengobrol dan mendengarkan obrolan mereka. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa tingkat dua dan tingkat tiga. Bahasa Indonesia mereka sangat bagus, walaupun logat Jepang masih sangat kental terdengar. Kata-kata “Eeto,” atau “Anoo,” masih terucap sesekali. Bahasa Indonesia yang mereka gunakan pun sangat formal. Kalau kita biasa berkata, “Aku gak ngerti,” maka mereka akan bilang, “Saya tidak mengerti.” Terdengar kaku memang, tetapi sangat menarik untuk didengar.

Selain obrolan dalam bahasa Indonesia, obrolan dalam bahasa Jepang pun juga dapat terdengar. Teman-teman Indonesia yang antusias untuk melatih bahasa Jepangnya, terdengar bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa Jepang. Tentunya dibalas dengan bahasa Jepang pula oleh teman-teman Jepang. Dan kali ini, tim liputan tidak mendengar bahasa Inggris sedikit pun walaupun kami adalah orang asing di tanah yang asing. Menarik, bukan?

Satu hal yang kami sadari kali ini adalah, teman-teman jurusan bahasa Indonesia ini masih awam dengan bahasa sehari-hari, atau sebut saja bahasa gaul. Mereka belum tahu yang namanya “nongkrong” atau “banget”. Jadilah kami ajari mereka bahasa-bahasa “aneh” ini sambil berharap semoga kami tidak ditegur oleh profesor mereka yang tengah sibuk menyajikan makanan 🙂

Mochitsuki

Saat beberapa orang sedang nikmat menyantap zouni, beberapa mahasiswa Jepang mengeluarkan sebuah palu dan mortar besar yang terbuat dari kayu. Mereka memasukkan nasi yang sudah masak dan lengket (seperti sejenis ketan) ke dalam mortar, lalu mengajak teman-teman Indonesia bergantian untuk memukuli ketan tersebut. Ya, inilah yang disebut dengan mochitsuki. Teman-teman Indonesia sangat antusias melakukan aksi pukul-memukul ini. Suara “Yossha! Yossha!” dari teman-teman Jepang mengiringi setiap pukulan yang dilayangkan ke adonan ketan tersebut.

Keceriaan teman-teman Indonesia dan Jepang saat melakukan aksi Mochitsuki

Mochi yang sudah jadi diambil sedikit dan dibentuk bundar, lalu disajikan dengan kinako (tepung yang terbuat dari kedelai dan rasanya manis), atau dicelup ke dalam shoyu (kecap Jepang) dan dilapisi dengan nori (lembaran rumput laut). Rasanya? Gurih dan enak!

Mochi yang sudah jadi dicelup ke shoyu dan dibalut dengan nori. Enak!

Ayo bicara bahasa Indonesia!

Sebelum acara berakhir, salah seorang mahasiswa Jepang memberikan sedikit presentasi tentang perbedaan bentuk mochi di beberapa kawasan di Jepang. Daerah Kansai (termasuk Osaka tempat saya berada sekarang) memiliki bentuk mochi yang bundar. Namun, di daerah Kanto, kebanyakan mochi berbentuk persegi. Mereka bercerita, bahwa di zaman Edo, saat populasi tumbuh pesat, membuat mochi berbentuk bulat lebih sulit dan merepotkan. Karena itu, mereka mulai membuat adonan yang lebih panjang dan memotong adonan tersebut sehingga menjadi persegi. Itulah mengapa di Kanto mochi persegi lebih populer. Dan yang mengagumkan adalah, mahasiswa ini menjelaskannya dalam bahasa Indonesia! Niatan untuk melaksanakan acara ini sebulan sekali pun disampaikan oleh pihak Jurusan Bahasa Indonesia Osaka University, dengan tujuan melatih teman-teman jurusan bahasa Indonesia bicara langsung dengan penutur asli.

Dan sebagaimana acara-acara lainnya yang diadakan di Tanah Sakura ini, acara ditutup dengan bersih-bersih!

Teman-teman PPI Osaka-Nara bersama teman-teman jurusan bahasa Indonesia Osaka University

Penutup

Mempelajari bahasa baru tentunya bukan hal yang mudah. Kami yakin banyak sekali teman-teman Indonesia yang kesulitan dalam mempelajari bahasa Jepang agar bisa survive di tanah orang. Tetapi, melihat bagaimana teman-teman Jepang yang juga sama-sama belajar mempelajari bahasa Indonesia, kami sadar bahwa mempelajari bahasa dengan situasi yang menyenangkan akan sangat membantu. Bertukar cerita, membicarakan hal-hal yang menyenangkan, berusaha mengenal kultur dan adat bangsa lain sambil mempelajari bahasanya tentu akan menjadi pengalaman yang berharga untuk siapapun yang ingin menulis catatan baru dalam buku hidupnya. Semoga acara-acara seperti ini terus dapat dilaksanakan oleh PPI Osaka-Nara dan semua PPI di seluruh penjuru dunia. Semoga bahasa tidak lagi menjadi benteng dalam mewujudkan dunia ini menjadi tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali. (Ed: Pijar&Oktavianus/ Ed: Amir)

Spanyol sudah sejak lama menjadi salah satu tujuan wisata di Eropa. Berbagai atraksi negeri matador ini menjadi daya tarik tersendiri yang susah ditolak wisatawan mancanegara, termasuk dari Indonesia. Kebutuhan akan buku panduan pun menjadi hal yang sangat diperlukan.

Berkenaan dengan hal tersebut, Divisi Budaya PPI Spanyol telah merilis panduan wisata di Spanyol dalam bentuk buku elektronik. E-book ini pun dapat diunduh secara gratis di laman website PPI Spanyol atau melalui link https://ppispanyol.wordpress.com/panduan-wisata-di-spanyol/. Panduan wisata ini pun diharap dapat mempermudah warga Indonesia yang sedang berwisata di Spanyol.

buku-panduan-wisata-spanyol

Hari Pangan Dunia: Teknologi dan pendidikan pangan

Hari Pangan Dunia atau World Food Day dirayakan setiap tahunnya pada 16 Oktober, bertepatan dengan tanggal berdirinya Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO). Hari tersebut dirayakan serentak oleh banyak organisasi yang terkait dengan ketahanan pangan. Hari Pangan Dunia tahun ini datang dengan tema "Iklim berubah, begitu juga harusnya makanan dan pertanian.”

Pada hari Senin (17/10/16), PPI Dunia menghadirkan dua mahasiswa Indonesia masing-masing dalam diskusi dua siaran RRI Voice of Indonesia mengenai World Food Day. Dalam program KAMU (KAmi yang Muda), Rajiansyah mahasiswa S2 Jurusan Computer Science and Management di Wroclaw University of Technology Polandia,menjadi narasumber kita. Sedangkan dalam program Youth Forum, Renzky Kurniawan, mahasiswa S1 Jurusan Culinary Management Majoring in Italian Cuisine di KDU University College dan ALMA La Scuola Internazionale,Cucina Italiana, juga bergabung menjadi narasumber kali ini.

Dalam program KaMU, Raji memaparkan bahwa hari Pangan Sedunia adalah simbolis kepedulian dan penyetaraan untuk menciptakan kondisi ketersediaan pangan yang cukup tanpa adanya kelaparan. “Seperti tema yang diusung tahun ini, makanan dan agrikultur harus beradaptasi dan tetap berkembang seperti adanya perubahan iklim,”terang Rajiansyah

“Indonesia sebenarnya adalah surga pangan. Iklim tropis membuat seluruh tanaman dan buah dapat tumbuh dengan baik. Masalah yang ada hanya pada sistem pengelolaan dan teknologi pangan. Selain itu, masyarakat harus cukup cermat dalam memilih bahan pangan untuk mencegah kondisi kekurangan pangan. Misal, bagi warga Indonesia masih menganggap bawha jika tidak makan nasi berarti ‘tidak makan.’ Padahal sumber karbohidrat bisa ditukar dengan kentang, roti, dan sebagainya. Seperti di Polandia, sumber karbohidrat bisa berbeda-beda dari gandum untuk sarapan, kentang untuk makan siang, dan roti untuk makan malam,”papar mahasiswa yang mengenyam pendidikan di Polandia.

Dalam Youth Forum, Renzky menyatakan bahwa pangan tentunya dalam bentuk makanan adalah salah satu bidang yang tidak dapat terpisah dari kehidupan manusia. “Mempelajari bidang kuliner tidak hanya belajar memasak, tetapi juga mempelajari gastronomi dari makanan itu sendiri. Saya memiliki ketertarikan dalam mempelajari kuliner Italia untuk memperkaya pengetahuan selain kuliner Indonesia. Makanan Indonesia memiliki lebih banyak bumbu dan rempah yang lebih banyak dibandingkan makanan dari Italia,” terang mahasiswa tingkat akhir di bidang kuliner tersebut.

“Dalam pengembangan kuliner di Indonesia, perlu adanya kursus atau pendidikan khusus mengenai kuliner Indonesia. Walaupun begitu, masalah utama dalam pengembangan kuliner Indonesia adalah tidak seluruh kaum muda menyukai kultur, lebih spesifik lagi ke kuliner Indonesia. Padahal, kuliner Indonesia sudah cukup dikenal di dunia luas,”ungkap Renzky yang juga menjabat sebagai Chief Deputy of Education Indonesian Chef Association Kalimantan Timur. “ Seperti kuliner dari Kalimantan Timur, rasa atau bumbu unik makanannya dapat menjadi sesuatu yang dapat dikenalkan di tingkat dunia. Misal, nasi kuning dan gami bawis (ikan gabus yang dimasak dengan saus manis pedas).”

Baik Rajiansyah dan Renzky menyatakan bahwa pangan atau kuliner Indonesia masih harus tetap dikembangkan. Perlu pengembangan pendidikan dan teknologi pangan atau kuliner yang lebih lanjut untuk mendukung sistem ketahanan pangan dan tentunya membawa kuliner Indonesia lebih dikenal lagi di dunia internasional.

(CA/AASN )

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920