Categories
PPI Negara Seni & Olahraga Timur Tengah dan Afrika

PPI Tunisia sukses menggelar event tahunan bertajuk “Indonesian Day 2019” di SMU.

Tunis – Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia kembali menunjukkan eksistensinya untuk menyebarkan kebudayaan Indonesia di Tunisia dalam event tahunan yang bertajuk Indonesian Day 2019 pada 28 Februari lalu, acara ini didukung penuh oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tunisia. Muhammad Haidar selaku ketua panitia menjelaskan Indonesian Day sendiri merupakan bagian dari program “PPI Goes to Campus’’ yang diadakan setiap tahunnya untuk mempromosikan beberapa budaya Indonesia kepada masyarakat Tunisia khususnya di kalangan mahasiswa

Pada tahun ini, Indonesian Day  diselenggarakan di salah satu kampus swasta yang bekerja sama dengan Amerika Serikat yaitu South Mediterranean University (SMU) yang berlokasi di daerah lac 2. Acara ini berjalan sangat baik terbukti dengan antusias yang besar baik dari mahasiswa maupun dari pihak kampus.  Acara ini juga mendapat tanggapan yang sangat luar biasa dari berbagai pihak yang memang memiliki kewenangan besar, baik dari KBRI maupun pihak SMU sendiri.

Patricia Ceresani selaku Rektor SMU mengungkapkan kekaguman atas pagelaran acara yang disajikan pada even tersebut, karena baru kali pertama para mahasiswa melihat dan mengenal lebih dekat kebudayaan Indonesia yang selama ini hanya dinikmati lewat media digital. “Sangat bangga dan sangat dinamis sekali, benar-benar menakjubkan sekali bisa menghadirkan kalian disini. Dan saya yakin seluruh mahasiswa disini bisa ikut bersama saya menikmati acara dan memberikan tepuk yangan yang meriah” Ujar Patricia Ceresani selaku rektor South Mediterranean University dalam sambutannya.

Dubes RI untuk Tunisia dan beberapa staf nya  turut hadir dalam acara ini, menikmati seluruh rangkaian acara yang disajikan. “Saya sangat senang dan berterima kasih kepada teman-teman PPI di Tunisia yang telah bekerja sama dengan KBRI Tunis dan terus terang acaranya sangat berkesan dan menarik, yang menonton juga lebih banyak. Mudah-mudahan nanti kita bisa tampil lagi di Tunis National City, mungkin dengan situasi yang lebih ramai dan juga acaranya lebih di padatkan.” ujar Ikrar ketika ditemui selepas acara.

Tidak dapat dipungkiri lagi, melalui acara Indonesian Day 2019, selain memang ditujukan untuk menyebarluaskan tema budaya Indonesia, acara ini juga untuk mengenalkan semboyan yang dimiliki bangsa Indonesia yaitu Bhineka tunggal Ika. Dalam acara ini PPI berhasil menampilkan 3 tarian daerah diantaranya; tari lenggang nyai, tari piring, tari kinang kilaras lalu menampilkan lagu-lagu daerah dan alat musiknya berupa angklung, gendang, kulintang, marawis serta menampillkan beberapa baju adat yang dikemas dalam fashion show.

Di sela-sela acara pun para penonton dibagikan brosur dan hidangan tradisional Indonesia yang dibagikan secara gratis kepada penonton. Pertunjukan semakin meriah dengan adanya beberapa atraksi pencak silat yang cukup menegangkan penonton. Dan di akhir acara para pengunjung diajak untuk menari meumere bersama.

“Acaranya sangat menakjubkan terutama dengan uniknya aneka ragam budaya yang dimiliki Indonesia.” Ujar salah satu mahasiswi yang terpukau dengan penampilan di acara tersebut. Acara yang berlangsung sukses ini menyita perhatian ratusan mahasiswa yang datang silih berganti bahkan ada yang menonton dari awal hingga akhir acara. Kondisi cuaca yang cerah membantu para pengunjung menikmati suasana stand makanan dan souvernir khas Indonesia. Sehingga acara tetap ramai sejak dimulai pada pukul 12.00 dan baru berakhir pada pukul 15.00 waktu setempat.

Categories
Eropa dan Amerika PPI Dunia PPI Negara Seni & Olahraga Travel & Kuliner Wawasan Dunia

Menikmati Museum-Museum Sepak Bola di Spanyol

Kemeriahan Piala Dunia 2018 mendorong saya untuk berbagi pengalaman ‘football traveling’ di museum-museum sepak bola di Spanyol. Siapa tahu rekan-rekan sekalian berminat untuk berkunjung dan menikmati sejarah sepak bola di negeri Raja Felipe ini.

Salah satu klub sepak bola terkaya, tersukses, paling terkenal dan ter- ter- lainnya di dunia adalah FC Barcelona. Anda mungkin menikmati kota ini dengan mengunjungi Sagrada Familia, katedral mahakarya arsitek terkenal, Antoni Gaudi. Juga dengan menikmati berjalan-jalan di Passeig de Gracia atau Plaza Catalunya sekaligus berbelanja produk-produk bermerk ternama. Namun, Anda wajib berkunjung ke museum FC Barcelona meskipun tidak terlalu ngefans dengan sepak bola.

Pengunjung berfoto di sudut Camp Nou

Di museum Barcelona, yang paling membuat kagum adalah betapa pintarnya manajemen klub sepak bola Barcelona mengemas passion manusia terhadap sepak bola menjadi sebuah experience yang luar biasa. Begitu menjejakkan kaki di ruangan pertama museum, nuansa heroik para legenda hidup Barça sudah terasa. Ratusan trofi yang pernah dimenangi klub Catalan tersebut sejak tahun 1900-an tersimpan rapi di susunan rak-rak dengan pintu kaca. Enam trofi yang dimenangi sekaligus pada tahun 2009 disimpan terpisah, menandakan betapa spesialnya tahun tersebut karena merupakan prestasi monumental yang sukar diulangi oleh klub sepak bola mana pun.

Dengan tur berlabel ‘The Camp Nou Experience’ seharga 25 euro, Anda juga bisa melihat-lihat ke dalam ruang ganti Lionel Messi dan kawan-kawan, berfoto di pinggir hijaunya rumput lapangan atau bahkan duduk-duduk di tribun Camp Nou. Singkatnya, Anda bisa membayangkan sensasi berada di 90.000 ribu lebih penonton di stadion ini sendiri yang merupakan stadion dengan kapasitas terbanyak di Eropa.

Museum FC Barcelona bukan satu-satunya arena pertunjukan sepak bola akbar di Spanyol. Tentu saja kita tak boleh melupakan Real Madrid, klub penguasa Eropa dalam tiga tahun terakhir. Di Stadion Santiago Bernabéu, harga  untuk tiket museum klub terbesar di dunia tersebut juga mirip-mirip dengan Barcelona, sekitar 20-25 euro.

Stadion Santiago Bernabéu di Madrid

Real Madrid dan Barcelona memang bersaing dalam urusan sport-tourism mereka. Museum Real Madrid juga merupakan tempat yang wajib dikunjungi oleh penggila sepak bola, terutama karena sejarah panjang klub sepak bola nomor satu Spanyol tersebut.

Selama berpuluh-puluh tahun, Real Madrid memenangi trofi demi trofi bergengsi dan menguasai dunia dengan para jugador  zaman dulu mereka, seperti Alfredo di Stefano dan Ferenc Puskas.

Isi lemari Real Madrid sudah penuh sesak dengan gelar juara domestik plus 5 trofi Piala Champions yang mereka dominasi dari tahun 1956 sampai 1960. Maka, jika berkeliling di dalam museum Real Madrid, yang terlihat adalah parade kesuksesan selama bertahun-tahun. Piala dari tahun 1950-an sampai abad ke-21 menghiasi seluruh ruangan.

Real Madrid juga selalu menjadi salah satu pelaku utama gemerlapnya panggung sepak bola Eropa zaman modern dengan gelimang harta dan pemain-pemain kelas dunia yang seolah sangat gampangnya mereka gaet. Stadion Santiago Bernabéu selalu dipenuhi pemain-pemain sekaliber Ronaldo Luis Nazario da Lima, Luis Figo, Zinedine Zidane, David Beckham, Ruud Van Nistelrooy, hingga nama-nama beken masa kini seperti Cristiano Ronaldo, Kaka, dan Mesut Oezil.

Ruang ganti pemain di stadion Mestalla

Jika Anda bosan dengan dua klub tersebut, museum klub-klub seperti Atletico Madrid, Valencia dan Sevilla bisa menjadi alternatif. Saya cukup terkesan dengan museum di stadion Mestalla, Valencia dan Ramon Sanchez Pizjuan, Sevilla. Harga tiket masuknya pun tak semahal dua klub raksasa di atas. Harga tiket ‘Mestalla Forever’ hanya 11 euro, sangat murah untuk sebuah tur yang sudah tersertifikasi ‘recommended’ oleh Trip Advisor. Harga ini kurang lebih sama dengan tur stadion Ramon Sanchez Pizjuan milik Sevilla (10 Euro).

Stadion Ramon Sanchez Pizjuan di Sevilla

Sedangkan tur Atletico Madrid cukup berambisi bisa menyaingi pelayanan tur Real Madrid, klub sekotanya. Setelah diambil alih investor dari Cina, Wanda Group, derajat Atletico Madrid jauh terangkat jika melihat kandang baru mereka. Stadion berkapasitas 67 ribu penonton yang diberi nama Wanda Metropolitano ini telah memperoleh predikat bergengsi sebagai stadion berbintang empat UEFA. Predikat ini setara dengan beberapa stadion terkenal lain, seperti Allianz Arena di Muenchen dan Amsterdam Arena.

Singkat kata, berkunjung ke museum sepak bola di Spanyol adalah salah satu cara pas untuk memahami kultur masyarakat negara tersebut. Kapan-kapan, saya akan berbagi pengalaman menonton langsung laga sepak bola di negeri ini.

 

Profil Penulis:

Mahir Pradana adalah wakil ketua PPI Spanyol 2018/2019 yang juga penulis buku memoir sepak bola berjudul ‘Home & Away’ dan kolumnis di Football Tribe Indonesia. Mahir bisa disapa di akun Instagramnya @maheerprad.

Categories
Asia dan Oseania Berita PPI Negara Seni & Olahraga

Ratusan Penonton Takjub Menyaksikan Pentas ‘Majapahit’ di Harbin, China

Pertunjukan Drama Majapahit di Harbin

Harbin (27/5/18)– Kelompok Mahasiswa Indonesia dan Internasional berhasil menampilkan pertunjukan teater yang sangat menakjubkan. Opera berdurasi selama 90 menit yang bertajukMajapahit: The Golden Age of Archipelago ini berhasil memikat sekitar 500 penonton yang memadati gedung Activity Center, Harbin Institute of Technology, China.

Pementasan Drama Majapahit merupakan pertunjukan serial tiga para pelajar dari Indonesia di Harbin, China. Pertunjukan ini sejatinya merupakan hasil karya mahasiswa Indonesia dan dibantu mahasiswa asing yang berada di lingkungan Harbin. Sejak publikasi acara ini dilakukan, antusiasme penonton untuk menyaksikan pentas tahunan ini terbilang sangat besar.

Puluhan pelajar asal Indonesia dan pelajar asing (China, Korea Selatan, Rusia, Kazakhstan, India, Pakistan, Suriname, dan Bolivia.) terlibat di dalam pentas. Para aktor berhasil memerankan setiap karakter yang dimainkan pada cerita klosal ini dengan baik . Alur cerita, koreografi, musik dan tarian berpadu menghasilkan pertujukan drama yang kontemporer dan elegan.

Adegan dalam drama Majapahit

Tercatat dalam dua tahun berturut-turut, pelajar Indonesia yang tergabung dalam PPIT Harbin ini telah berhasil mementaskan lakon Rara Jonggrang (2016) dan Ken Arok (2017). “Ini merupakan pementasan ketiga para pelajar dari Indonesia di Harbin,” kata Samuel Gilbert, Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok Cabang Harbin.

Persiapan acara ini sudah dilakukan sejak beberapa bulan sebelumnya, seluruh panitia bekerja maraton siang hingga malam selama persiapan akhir acara ini. Hasilnya, pentas akbar yang diselengarakan di gedung teater HIT bisa berjalan dengan baik hingga mendapatkan standing ovation dari sekitar 500 penonon yang hadir pada saat acara.

Atase Pendidikan KBRI Beijing Priyanto Wibowo memberikan apresiasi kepada para pelajar Indonesia yang telah menampilkan pentas opera modern yang menunjukkan kekayaan seni dan budaya Nusantara selama tiga tahun berturut-turut. “Mudah-mudahan mereka bisa terus berkreasi untuk menyebarluaskan keanekaragaman budaya kita kepada dunia,” katanya.

Adegan dalam drama Majapahit

Penonton yang menyaksikan pementasan opera ini memberikan kesan sangat baik terhadap para pemeran pada drama Nusantara yang menceritakan sejarah Kerajaan Majapahit dan pengaruh besarnya atas lahirnya Indonesia.

“That’s really great performance” Ujar Machun (22) salah seorang penonton asal Kazakhstan setelah  festival ini. Bahkan, dia mengaku sangat terinspirasi dengan cerita pada malam itu.

Pada rangkaian Festival Seni kali ini, PPIT Harbin juga menyelenggarakan pameran Produk, Budaya dan Seni Indonesia. Sebelum dan pasca acara teater, antuasiame penonton terus berlanjut ke ruang eksibisi untuk mengunjungi lokasi pameran pakaian tradisional dan kuliner Nusantara.

Selain KBRI Beijing dan PPI Tiongkok, pementasan tersebut juga didukung oleh HIT, Kementerian Pariwisata RI, dan BLCI. Kegiatan ini merupakan media promosi pariwisata  untuk Indonesia khususnya di kawasan China, “Semoga setelah kegiatan ini, masyarakat semakin mengenal Nusantara dan semakin banyak yang berwisata ke Indonesia” Ujar Bapak Chandra, salah satu Pejabat Kementrian Pariwisata RI yang hadir pada kegiatan tersebut.

Foto bersama seluruh pemeran dan panitia

Setelah pementasan opera berakhir, seluruh aktor dan panitia melakukan sesi foto bersama di atas panggung drama untuk mengabadikan momen penting ini. Tahun depan, PPIT Harbin berharap bisa menyelenggarakan acara yang lebih bagus dan spektakuler dengan konsep dan tema yang berbeda. Bravo PPIT Harbin.

 

Penulis: Putra Wanda, Mahasiswa Ph.D asal Indonesia, Kota Harbin, China

Editor: Nadhirariani

Categories
Asia dan Oseania Berita PPI Negara Seni & Olahraga Wawasan Dunia

Duet Tulus – Hiroaki Kato Ramaikan Festival Indonesia Di Tokyo

TOKYO, 14 Oktober 2017 – Di malam pertama Indonesia-Japan Friendship Festival yang diadakan di Taman Yoyogi, Tulus menyuguhkan penampilan memukau di depan warga Indonesia dan juga Jepang. Penampilan tersebut adalah puncak hari pertama dari perayaan persahabatan antara Indonesia dan Jepang.

Pada Sabtu malam, Taman Yoyogi yang terletak di Shibuya, Tokyo menjadi lebih ramai dari biasanya. Di malam minggu itu, sedang diselenggarakan Indonesia-Japan Friendship Festival yang berlangsung selama dua hari (Sabtu dan Minggu). Selain bilik-bilik perusahaan maupun individu yang menjual berbagai macam produk, hadir pula pagelaran musik untuk memeriahkan suasana.

Namun yang menjadi primadona pada hari sabtu malam adalah konser Tulus. Konser yang berlangsung selama dua jam tersebut juga menampilkan Hiroaki Kato sebagai musisi pembuka. Meskipun Sabtu itu hujan gerimis dan cuaca tiba-tiba menjadi terlalu dingin untuk musim gugur, tetap tidak menyurutkan niat Teman Tulus untuk menyapa idolanya.

Hiroaki Kato resmi membuka konser pada pukul enam sore waktu setempat. Penampilannya disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin yang sudah tak sabar menunggu suara merdu dari panggung. Hiro, begitu biasanya ia dipanggil, membawakan bermacam lagu dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia. Ada beberapa lagu yang familiar di telinga pendengar seperti “Ruang Rindu” dari band Letto dan juga “Laskar Pelangi” dari band Nidji yang dibawakan oleh Hiro dalambBahasa Jepang dan versi aslinya pada malam itu. Selain penonton Indonesia yang senantiasa bersenandung mengikuti iringan musik, masyarakat Jepang yang hadir juga terlihat sangat menikmati lagu-lagu terjemahan Hiro. Di akhir penampilan pembukanya, Hiro menanyikan salah satu lagu dari album pertamanya yang berjudul “Terima Kasih” sebagai ungkapan atas ramainya antusiasme penonton malam itu.

Sukses menghangatkan suasana malam itu, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun muncul. Penampilan Tulus langsung dimulai dengan teriakan tanda tak sabar. Penampilan tersebut adalah pertama kalinya Tulus tampil di Tokyo. Meskipun bukan konser dengan skala besar, riuhnya keadaan tetap tidak kalah dari konser besar. Membawakan lagu-lagu yang pastinya telah diketahui khalayak umum, konser berlangsung begitu seru hingga waktu terlupakan. “Teman Pesta”, “Baru”, “Jangan Cintai Aku Apa Adanya”, “Sewindu” dibawakan langsung oleh Tulus secara energik. Tak ketinggalan, lagu-lagu baru dari album ketiga, “Monokrom” juga dibawakan pada malam itu. Salah satu lagu yang paling menyita perhatian adalah “Sepatu” yang juga memiliki versi bahasa Jepang. Pada malam itu Tulus berduet menyanyikannya bersama Hiro, yang menerjemahkan lagu tersebut. Meskipun mengaku tidak dapat berbahasa Jepang, Tulus tetap menyuguhkan penampilan yang tanpa cela.

Duet Tulus dan Hiroaki Kato

Hal yang paling mengejutkan adalah lagu “Bengawan Solo” juga dibawakan oleh Tulus. Lagu yang ditulis pada kisaran tahun 1940 oleh Gesang tersebut memang pernah populer dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Jepang pada era 90-an. Lagu bernuansa asli keroncong tersebut dibawakan dengan gaya yang berbeda oleh Tulus, namun tetap mempertahankan kehangatan dan nostalgia yang terkandung daripadanya.

Meskipun singkat, malam itu berlalu dengan kebahagiaan dari alunan suara merdu Tulus dan Hiro, serta rasa rindu yang terlegakan dari para hadirin yang tetap bersemangat di tengah cuaca dingin.

***
Tim Kominfo PPI Jepang mendapat akses khusus untuk memwawancara Tulus dari belakang panggung. Tunggu tanggal mainnya di channel Youtube kami!

 

Penulis: Theodorus Alvin

Editor: Kartika Restu Susilo

Categories
Asia dan Oseania Berita Festival Luar Negeri PPI Negara Seni & Olahraga

Melihat Meriahnya Pameran Budaya Indonesia di Harbin, China

PPI Tiongkong, Harbin (9/17) – Perhimpunan Mahasiswa Indonesia Tiongkok (PPIT) Harbin kembali ikut serta dalam acara mahasiswa yang bertajuk Festival Budaya Internasional. Pagelaran itu diselenggarakan di kampus Harbin Engineering University (HEU), Harbin, China.

Sejak pagi panitia sudah mempersiapkan materi yang akan ditampilkan saat acara, mulai dari properti, bahan makan, kain hingga snack khas Indonesia yang siap disuguhkan kepada pengunjung yang hadir.

Acara yang dimulai sekitar pukul 10.00 pagi (waktu Harbin) itu mendapat sambutan yang sangat meriah dari pengunjung yang hadir. Begitu pula dengan stand negara Indonesia yang sangat ramai dikunjungi. Sejak stand baru dibuka, para pengunjung antusias mencoba makanan khas Indonesia, bermain alat musik seperti angklung dan bertanya mengenai Indonesia.

Pada acara itu, setiap negara seperti Indonesia, Inggris, US, Korea, Jepang, Thailand, Vietnam, Mongolia, Rusia dan beberapa negara lainnya diberikan kesempatan untuk menyuguhkan tarian khas negaranya diiringi alunan musik yang menambah kemeriahan festival tahun ini.

Acara Festival Budaya Internasional dihadiri lebih dari 1.000 pengunjung yang datang sejak pagi hingga selesai acara.  Ini merupakan salah satu kegiatan yang diikuti PPIT Harbin yang secara rutin diadakan di beberapa kampus besar Harbin. Hal ini menjadi wadah yang bagus untuk mengenalkan seni dan budaya Indonesia kepada masyarakat di luar negeri, sekaligus promosi pariwisata Indonesia di mata masyarakat internasional.

Selain itu juga, melalui kepanitiaan,  kegiatan itu juga sebagai wadah untuk merekatkan solidaritas mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Harbin.

 

Penulis : Putra Wanda (Pengurus Pusat PPI Tiongkok)

Mahasiswa Doctoral di HUST, Harbin, China

 

Editor: Kartika Restu Susilo

 

 

 

 

Categories
Berita Fashion Seni & Olahraga Upcoming Event

RRI Voice of Indonesia: Hari Batik Nasional 2017

Jangan lewatkan siaran Hari Batik Nasional pada Hari Senin, 2 Oktober 2017, bersama Hillary Bakrie pukul 10.30 WIB dan Imawati Harun R pukul 11.30 WIB hanya di RRI Voice of Indonesia!

Categories
Asia dan Oseania Berita Seni & Olahraga

Asa Olahraga PORMAS Okayama

“Satu Semangat untuk Indonesia!!”

 

Yel-yel penuh gelora itu diteriakkan oleh Pandu Utama Manggala, Ketua PPI Jepang 2016/2017 saat membuka Pekan Olahraga Masyarakat (PORMAS) Kansai, Sabtu 8 April 2017.

 

Ya, pada tahun ini, perhelatan olahraga tahunan terbesar bagi masyarakat Indonesia di wilayah Kansai atau barat Jepang itu diadakan di Okayama University. Menurut Irfan Sugianto, ketua panitia PORMAS Kansai 2017, penyelenggaraan PORMAS Kansai  ini merupakan  kali pertama Okayama University didaulat sebagai tuan rumah. Beragam persiapan pun dilakukan sejak jauh hari, seperti arena yang digunakan untuk bertanding. “Kami mendapat dukungan luar biasa dari Okayama University. Pihak kampus memperbolehkan kami menggunakan 2 gymnasium, yakni gymnasium futsal dan tenis untuk pelaksanaan PORMAS Kansai 2017,” kata Irfan.

 

Dukungan yang tak kalah besar juga diberikan oleh KJRI Osaka. Menurut Irfan, KJRI mengucurkan sejumlah dana untuk mensupport ajang tahunan ini. Hal senada juga diungkapkan Pak Wisnu Edi Pratignyo, Konsul Jenderal Republik Indonesia. “Perwakilan di luar negeri setiap tahun ada kegiatan olahraga. Untuk itu kita support. Wajib kita support!” kata Pak Wisnu menegaskan. Sebelumnya, KJRI juga memberikan dukungan materiil pada pertandingan badminton Kansai Cup yang juga diselenggarakan di Okayama tahun lalu.

 

Pelepas stress

Menurut Irfan, tercatat 368 atlet yang berpartisipasi dalam PORMAS Kansai 2017. Mereka tergabung dalam 12 kontingen yang berada di wilayah Kansai, di antaranya KJRI Osaka, PPI Osaka-Nara, PPI Kobe, PPI Kyoto-Shiga, PPI Hiroshima, PPI Okayama, Kenshusei Osaka-NARA, Kenshusei Kobe, dan EPA Nurse.

 

PORMAS Kansai 2017 mempertandingkan 7 cabang olahraga. Pertandingan di masing-masing cabang olahraga berlangsung dengan meriah. Misalnya saja di final cabang olahraga tenis lapangan putera. Ketatnya alur pertandingan membuat cabang ini menghasilkan juara bersama: PPI Kyoto-Shiga dan PPI Kobe.

 

Melalui ajang PORMAS ini, diharapkan masyarakat Indonesia baik pelajar, perawat, maupun pekerja bisa lebih mempererat tali silaturahmi sebagai sesama perantau di Negeri Sakura. Arena gymnasium Okayama University juga menjadi wadah pelepas stress dari tekanan hidup yang dialami sehari-hari. Hal ini juga diamini Pandu yang merasakan semangat dan kehangatan yang luar biasa dalam PORMAS Kansai 2017.

 

Semoga ke depannya, PPI se-Jepang juga dapat terus mempererat kebersamaan yang sudah terjalin dan terus bersemangat dalam memberikan karya terbaik dari pelajar Indonesia di negeri sakura. Bersemangat para pelajar semua, untuk dapat menjadi bintang yang sinarnya ‘kan menyinari langit peradaban!.

 

Kartika Restu Susilo)

 

PEMENANG PORMAS KANSAI 2017

Cabang olahraga: Tenis Meja

Putera

Emas               : PPI Okayama 1

Perak              : Kenshusei Okayama 2

Perunggu        : PPI Hiroshima

Puteri

Emas               : KJRI

Perak              : PPI Kobe

Perunggu        : EPA Nurse

 

Cabang olahraga: Bulutangkis

Putera

Emas               : PPI Kobe

Perak              : PPI Osaka-Nara

Perunggu        : PPI Kyoto-Shiga

Puteri

Emas               : PPI Osaka-Nara

Perak              : PPI Okayama

Perunggu        : KJRI

 

Cabang olahraga: Basket

Putera

Emas               : PPI Osaka-Nara

Perak              : EPA Nurse

Perunggu        : PPI Kyoto-Shiga

 

Cabang olahraga: Volley

Putera

Emas               : Kenshusei Kyoto-Shiga

Perak              : Kenshusei Osaka-Nara

Perunggu        : Kenshusei Okayama

Cabang olahraga: Soft volley

Puteri

Emas               : PPI Osaka-Nara

Perak              : PPI Okayama

Perunggu        : PPI Kobe

 

Cabang olahraga: Tenis lapangan

Putera

Juara bersama            : PPI Kyoto-Shiga dan PPI Kobe

Perunggu                    : PPI Okayama

 

Cabang olahraga: Futsal

Putera

Emas               : Kenshusei Kyoto-Shiga

Perak              : Kenshusei Okayama

Perunggu        : EPA Nurse

 

foto-foto

Pormas 1: Pertandingan voli putera yang menegangkan

Pormas 2: Perebutan bola antara PPI Kyoto-Shiga dan PPI Hiroshima

Pormas 3: Irfan Sugianto, ketua panitia PORMAS Kansai 2017

Pormas 4: Bapak Konjen Wisnu Edi Pratignyo diapit pengurus PPI Jepang

Categories
Seni & Olahraga Timur Tengah dan Afrika

PPMI Madinah menyelenggarakan Pekan Kegiatan Ilmiah dan Olahraga (PEKILO) 2017

Liputan Madinah – PPMI Madinah yang diwakili oleh Mahasiswa Indonesia Angkatan 2015 di Universitas Islam Madinah menggelar acara PEKILO (Pekan Kegiatan Ilmiah dan Olahraga) 2017. Acara yang diadakan setahun sekali ini dilaksanakan pada liburan musim dingin selama 4 hari, dimulai sejak hari Jumat-Senin tanggal 27 Januari hingga 30 Januari2017.

Acara pembukaan PEKILO ini makin meriah dengan hadirnya Konsul Jenderal Republik Indonesia di Jeddah, Arab Saudi, Bapak Mohamad Hery Saripudin M.A beserta staff, Ketua PPMI Arab Saudi, Imam Khairul Annas, Ketua PPMI Madinah, Arif Utsman, dan segenap Mahasiswa Indonesia di Universitas Islam Madinah dari jenjang Ma’had Lughah hingga doktoral.

Pada sambutannya, Bapak Konsul Jenderal berpesan agar PEKILO ini menjadi ajang merekatkan persaudaraan yang dapat diterapkan di tanah air tercinta. Serta semoga 5 sampai 10 tahun ke depan Indonesia akan lebih baik dengan hadirnya para pemimpin-pemimpin bangsa lulusan Universitas Islam Madinah. Acara ini resmi dibuka secara simbolik oleh Bapak Konsul Jenderal dengan menendang bola ke arah gawang.

PPMI Madinah

Dengan mengusung motto “Junjung Sportivitas, Galang Solidaritas, Tingkatkan Kreativitas” PEKILO mempunyai beberapa cabang lomba ilmiah diantaranya; hafalan al-Qur’an, cerdas cermat, pidato, puisi, membaca kitab turats, karya tulis, dan broadcasting. Sedangkan dicabang olahraga diantaranya; sepakbola, bola voli, badminton, masak, balap sepeda, tenis meja, dan basket.

“Harapan kami selain untuk mengisi waktu liburan dengan hal yang positif, semoga dengan diadakannya PEKILO ini hubungan antara sesama mahasiswa Madinah yang kurang lebih berjumlah 800 orang ini bisa menjadi semakin erat dan lebih mengenal satu sama lain, apalagi sistem pembagian kelompok PEKILO tahun ini menggunakan sistem pengelompokan per daerah” ungkap Ketua PEKILO 2017, Azhar Adrian saat diwawancarai oleh tim redaksi. (Red: Abdul Rohman, Bahtiar/ Ed: Amir)

Categories
Asia dan Oseania Berita Fashion PPI Negara Seni & Olahraga Suara Anak Bangsa Travel & Kuliner Wawasan Dunia

PPI Wellington Selenggarakan Pergelaran Budaya Bertajuk Indonesia Night

Liputan Selandia Baru, Pergelaran Budaya bertajuk Indonesia Night diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Wellington (PPI Wellington), Rabu malam (21/9), di Universitas Victoria Wellington, Selandia Baru. Berbagai pertunjukan budaya dari Indonesia memanjakan ratusan warga Wellington yang hadir di Memorial Theater milik salah satu universitas tertua di Selandia Baru tersebut. 

Acara dimulai tepat pada pukul 18.00 itu diawali dengan nyanyian lagu Indonesia Raya. Wanton Saragih selaku Kepala Fungsi Pendidikan KBRI Wellington kemudian membuka acara ini dengan pemukulan gong.

Pertunjukan budaya kemudian silih berganti menghibur ratusan masyarakat Wellington yang hadir. Tari Genjring menjadi pertunjukan paling awal pada “Malam Indonesia” tersebut. Tari tersebut berhasil menarik perhatian hadirin dengan paduan gerakan-gerakan dari tari tradisional dan modern.

Pencak Silat menjadi pertunjukan selanjutnya yang ditampilkan oleh tiga pelajar Indonesia. Yang membuat pertunjukan ini berkesan adalah bukan hanya demo silat yang ditampilkan, tapi juga tutorial tentang bagaimana silat berguna untuk melindungi diri.

Di antara silat ini, Indonesia Night menampilkan dua sesi fashion show yang berbeda. Sesi pertama menunjukkan pakaian adat Indonesia dari bagian barat hingga timur. Sementara sesi kedua setelah silat adalah untuk baju batik dari berbagai daerah di Indonesia.

Pertunjukan diakhiri dengan permainan angklung oleh lebih dari 20 pelajar. Pertunjukan angklung ini diletakkan pada bagian akhir karena ini merupakan pertunjukkan paling unik. Biasanya, angklung dimainkan oleh masyarakat Indonesia saja. Namun dalam pertunjukan ini, dari semua pemain angklung, hampir setengahnya adalah pelajar internasional. Mereka adalah pelajar lokal Selandia Baru dan dari negara lainnya seperti Singapura, Tiongkok, Rusia dan Malaysia.

Lagu yang dibawakan juga tidak biasa. Dari tiga lagu yang ditampilkan, dua lagu pembuka merupakan lagu asli Selandia Baru. Dua lagu tersebut adalah God Defend New Zealand yang merupakan lagu kebangsaan negeri The Hobbit ini dan Pokarekare Ana yang merupakan lagu tradisional bangsa Maori. Sementara lagu Indonesia yang dibawakan adalah Yamko Rambe Yamko dari Papua.

Danang Abiyoga, Wakil Ketua PPI Wellington yang juga ketua acara mengatakan, kegiatan ini merupakan kegiatan budaya Indonesia pertama kali di Wellington yang diinisasi oleh pelajar. Mahasiswa S1 jurusan Bisnis Internasional Universitas Victoria Wellington ini menyatakan bahwa di tengah kesibukan mengerjakan tugas kuliah, pelajar Indonesia selalu punya semangat untuk mengenalkan identitas keindonesiaannya.

“Jadi Indonesia Night ini adalah kegiatan budaya pertama di ibu kota Selandia Baru yang diinisiasi dan dikerjakan sendiri oleh pelajar Indonesia. Saya bangga dengan teman-teman pelajar di kepanitiaan yang meski deadline tugas banyak sekali, tapi selalu bersemangat kenalkan Indonesia ke masyarakat di sini,” kata Danang.

Acara usai pada pukul 19.00 waktu setempat. Hadirin kemudian diarahkan ke bazar makanan tradisional Indonesia. Dengan harga yang terjangkau, PPI Wellington menyediakan berbagai pilihan seperti nasi uduk, siomay, nasi kuning dan nasi rendang. Beberapa makanan ringan khas Indonesia juga dijual seperti risoles, martabak dan onde-onde. Karena banyaknya masyarakat yang datang, hanya dalam satu jam, lebih dari 250 porsi makanan ludes terjual.

Bazar makanan khas Indonesia, hanya dalam waktu satu jam, 250 porsi makanan habis terjual.
Bazar makanan khas Indonesia, hanya dalam waktu satu jam, 250 porsi makanan habis terjual.

Ketua PPI Wellington, Muhamad Rosyid Jazuli menyatakan bahwa balas budi ke masyarakat Wellington adalah semangat dibalik terwujudnya kegiatan ini. Para pelajar Indonesia di Wellington merasa bahwa Selandia Baru telah banyak memberikan hal-hal berharga, seperti masyarakat yang ramah, kota-kota yang bersih dan sistem pendidikan yang berkualitas.

“Karena itu, ini semangatnya adalah giving back to communities. Jadi, ikhlas membalas kebaikan Selandia Baru dengan membagi kebaikan dan nilai-nilai keindonesiaan ke masyarakat Selandia Baru khususnya di Wellington,” papar Rosyid yang saat ini sedang menempuh studi master kebijakan publik di Universitas Victoria Wellington ini.

(Red, Danang Abiyoga/Ed, F)

Categories
Asia dan Oseania Berita PPI Negara Seni & Olahraga Suara Anak Bangsa Wawasan Dunia

Flash Mob Angklung di Wellington

Liputan Selandia Baru, Senin (19/9) pukul 12.30 waktu setempat, alat musik tradisional Indonesia dimainkan di Wellington, ibu kota Selandia Baru, tepatnya di The Hub, Victoria University of Wellington. Berbeda dengan permainan biasanya, angklung kali ini dimainkan dengan kemasan flash mob. Bukan hanya orang Indonesia, tetapi juga orang Selandia Baru dan dari berbagai negara lainnya. 

Diinisiasi oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Wellington (PPIW), flash mob angklung ini dilaksanakan sebagai wujud kebanggaan pada nilai-nilai keindonesiaan mereka. Angklung dipilih karena alat musik tersebut relatif mudah dimainkan. Namun, alat musik ini berbeda dengan alat musik biasanya. Perlu beberapa orang untuk memainkannya.

“Karena itu, kita berpikir bahwa angklung memberikan kita kesempatan untuk mengenalkan nilai Indonesia dengan mengajak pelajar Selandia Baru dan pelajar dari negara lain untuk bergabung memainkannya,” jelas Danang Abiyoga, wakil ketua PPIW yang juga merupakan koordinator flash mob angklung ini.

Sesuai namanya, flash mob angklung ini dikemas dengan kesan bahwa angklung dimainkan secara tiba-tiba. Tepat pada pukul 12.30, Sony Sultantiono, seorang pelajar Indonesia di Selandia Baru memulai memainkan keyboard-nya. Ia mengiringi lagu God Defend New Zealand yang dinyanyikan oleh Vera, seorang pelajar berkebangsaan Tiongkok.

Beberapa saat kemudian, lebih dari 20 pelajar secara tiba-tiba berkumpul, mendekati Sony dan Vera. Setengah dari mereka adalah pelajar asli Selandia Baru dan juga mahasiswa internasional lainnya seperti dari Malaysia, Myanmar dan Laos. Dengan angklung, mereka segera mengiringi musik dari keyboard. Lagu kebangsaan Selandia Baru tersebut dinyanyikan tiga kali bersama iring-iringan angklung.

Penampilan flash mob angklung dari mahasiswa Indonesia dan internasional di The Hub, Victoria University of Wellington.
Penampilan flash mob angklung dari mahasiswa Indonesia dan internasional di The Hub, Victoria University of Wellington.

Ratusan pelajar atau mahasiswa yang sedang rehat siang di The Hub itu pun menyaksikan flash mob angklung ini. Tak jarang dari mereka yang segera mengambil gawai mereka untuk merekam momen langka tersebut. The Hub sendiri dipilih karena tempat ini merupakan lokasi utama para mahasiswa dan civitas akademika kampus berkumpul.

Beberapa mahasiswa sedang menyaksikan flash mob angklung di The Hub, Victoria University of Wellington, saat makan siang.
Beberapa mahasiswa sedang menyaksikan flash mob angklung di The Hub, Victoria University of Wellington, saat makan siang.

Flash mob yang berlangsung sekitar 5 menit tersebut juga merupakan undangan kepada masyarakat Wellington untuk menghadiri kegiatan Indonesia Night (Rabu, 21/9). Muhamad Rosyid Jazuli, Ketua PPIW mengatakan, meskipun mahasiswa di Wellington sibuk dengan tugas-tugas, mereka tetap ingin mewujudkan kreativitas mereka dalam mengenalkan nilai-nilai dan budaya tanah airnya.

“Saya apresiasi kerja keras teman-teman pelajar di sini semua. Tugas kuliah kita sudah tentu banyak sekali. Tapi kita tetap ingin berkreasi menyampaikan nilai-nilai atau budaya-budaya Indonesia ke masyarakat Selandia Baru,” ujar Rosyid.

Di acara Indonesia Night, angklung akan kembali ditampilkan bersama penampilan tradisional lainnya. Tujuan dari rangkaian kegiatan ini selain mengenalkan budaya Indonesia ke masyarakat Selandia Baru, juga menguatkan keindonesiaan pelajar Indonesia yang sedang belajar di luar negeri. Karena itu, kegiatan ini pun didukung penuh oleh pihak kampus Victoria University of Wellington dan KBRI Wellington.

Berikut adalah video penampilan flash mob angklung dari Perhimpunan Pelajar Indonesia di Wellington bersama pelajar Selandia Baru dan pelajar internasional lainnya.

https://www.facebook.com/ppiwellington.nz/videos/1773508482928780/?ref=notif&notif_t=like&notif_id=1474274127798952

(Red, Danang Abiyoga/Ed, F)

Page 1 of 2
1 2