Categories
Komisi Sosial Budaya PPI Dunia Pusat Kajian & Gerakan Uncategorized

Indonesia sebagai Poros Wisata Maritim Dunia: Studi Kasus Budaya Maritim Masyarakat Suku Mentawai

WP Komisi Sosbud No. 4 Tahun 2020

Ketika mendengar kata Mentawai yang terlintas dalam pikiran kebanyakan masyarakat Indonesia adalah sebuah pulau yang jauh. Mentawai juga sempat terkenal karena pernah diterjang tsunami besar pada tahun 2010 lalu dengan korban hampir 445 jiwa. Budaya Mentawai adalah objek penelitian bagi para akademisi internasional, pun juga sebagai wisata kebudayaan. Berikut adalah kajian komisi sosial budaya oleh Khoirul Bakhri Basyarudin dan Ahmad Farhan mengenai studi kasus budaya maritim masyarakat suku Mentawai.

WP-Komisi-Sosial-Budaya-No.-4-tahun-2020

Categories
Berita Komisi Sosial Budaya Lembaga Sosial PPI Dunia PPI Dunia

PPI Mengajar: Berbagi, Berbakti untuk Negeri

Muhammad Ridho Sastrawijaya (Ketua Komisi Sosial dan Budaya PPI Dunia 2018/2019)

Dunia pendidikan merupakan dunianya para pelajar Indonesia, baik untuk yang berkuliah di dalam negeri maupun luar negeri. Mencari ilmu pun menjadi rutinitas keseharian mereka selama menjalani perkuliahannya. Namun tidak afdal rasanya jika ilmu yang dicari dan didapat tersebut hanya disimpan sendiri tanpa dibagikan kepada orang banyak. Beranjak dari hal itu, beberapa PPI Negara terinspirasi untuk berbagi dan memberikan ilmu yang mereka miliki kepada sesama. Mereka mengadakan program yang diberi nama PPI Mengajar.

PPI Mengajar menjadi Program Sosial Pendidikan beberapa PPI Negara sebagai wujud kontribusi dan kepedulian mereka terhadap masyarakat guna mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Adapun bentuk kegiatan mengajar yang mereka lakukan beraneka macam, seperti mengajar untuk anak-anak Sekolah Indonesia di negaranya masing-masing, mengajar para TKI (Tenaga Kerja Indonesia) atau ekspatriat, hingga mengajari warga lokal di negara mereka belajar, Bahasa Indonesia. Beberapa PPI Negara tersebut diantaranya:

  • PPI Malaysia

Salah satu negara dengan jumlah mahasiswa Indonesia terbanyak ini mempunyai dua fokus tempat untuk menjalankan program mengajarnya yaitu, SIKL (Sekolah Indonesia Kuala Lumpur) dan Sungai Buloh. Di SIKL relawan PPI Mengajar berbagi ilmu kepada para ekspatriat yang bekerja di Malaysia namun tetap haus akan ilmu. Sedangkan di Sungai Buloh mereka memberikan materi pelajaran-pelajaran dasar yang sangat dibutuhkan oleh  anak-anak TKI yang berusia 8 sampai 15 tahun, seperti matematika, sains, bahasa Inggris dan kerohanian. PPI Malaysia sendiri berencana untuk merutinkan kegiatan ini setiap minggunya.

Relawan PPI Mengajar berbagi ilmu dengan para ekspatriat yang bekerja di Malaysia
Para relawan bersama anak-anak di Sungai Buloh

  • Permitha Thailand

Dengan jumlah pelajar Indonesia berkisar 700-800 pelajar, Permitha Thailand ikut aktif memberikan kontribusi baik berupa kegiatan sosial budaya, olahraga dan juga pengabdian masyarakat. Salah satu kegiatan yang biasanya dilakukan di akhir pekan adalah mengajar bahasa Indonesia kepada masyarakat Thailand yang memiliki garis keturunan Indonesia, utamanya dari tanah jawa. Kegiatan ini diinisasi oleh IDN Thailand, guru-guru sekolah Indonesia Bangkok (SIB), kelompok pengajian dan beberapa pelajar Indonesia di Thailand. Selain menguatkan rasa kekeluargaan dan persaudaraan, kegiatan ini juga membuat teman-teman merasa nyaman hidup di Thailand. Kegiatan ini juga berlanjut dengan kegiatan-kegiatan kerohanian islam lainnya seperti peringatan maulid, semarak Ramadhan, pengajian dsb.

Kegiatan Mengajar Bahasa Indonesia Kepada Masyarakat Thailand yang meiliki garis keturunan Indonesia
  • PPI Taiwan

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat atau yang biasa disebut PKBM PPI Taiwan merupakan lembaga pendidikan non formal yang berdiri pada tahun 2013 dari inisiasi sejumlah mahasiswa Indonesia di Taiwan yang ingin memberikan sumbangsih dan pengabdian kepada masyarakat Indonesia di Taiwan agar dapat menikmati pendidikan dasar 9 tahun dan pendidikan menengah melalui Program Kejar Paket A, B dan C. PPI Taiwan dan masyarakat yang membantu terus mengembangkan lembaga ini hingga pada tahun 2018 lalu telah mendapatkan Akreditasi A dari BAN PAUD dan Pendidikan Nonformal. Mereka berharap seluruh WNI (Warga Negara Indonesia) di Taiwan dapat melanjutkan pendidikan yang sebelumnnya tertunda.

Kegiatan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di PKBM PPI Taiwan

  • Permira Rusia

Liburan semester menjadi suatu hal yang membahagiakan bagi mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri. Biasanya mereka memanfaatkannya dengan pulang ke Indonesia untuk berlibur dan jalan-jalan. Namun berbeda dengan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Rusia atau Permira Rusia. Mereka mengadakan program kunjungan ke sekolah-sekolah menengah atas untuk membagikan ilmu yang telah mereka dapat ketika belajar di Rusia, selain itu para mahasiswa ini juga memberikan motivasi kepada siswa-siswi agar semangat melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi di Rusia.

Salah satu mahasiswa Indonesia di Rusia membagikan ilmunya kepada siswa-siswi menengah atas

  • PPMI Arab Saudi

PPMI Arab Saudi membantu Atdikbud KBRI Riyadh dan guru SIR untuk membuat program BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) yang dilaksanakan di SIR (Sekolah Indonesia Riyadh). Programnya berbentuk pelatihan dan pengajaran bahasa Indonesia dengan mayoritas pesertanya pengusaha Arab Saudi yang memang menjalin kerjasama dengan orang Indonesia. Kedepannya PPMI Arab Saudi menargetkan supaya mahasiswa Arab Saudi juga turut mengikuti program BIPA ini dengan tujuan akhir mengajak mereka ke Indonesia agar bisa mempraktekan dan melatih bahasa Indonesianya secara langsung disana.

Memang sudah seharusnya ilmu yang kita pelajari kita sampaikan kepada orang lain, selain agar ilmu tersebut berguna dan tidak hilang, juga bisa menjadi amal baik yang tidak akan terputus walau kita sudah tiada. PPI Mengajar adalah program yang sangat bagus bagi kita untuk menyalurkan ilmu yang kita miliki kepada sesama. Karena selain mengajar, kita juga akan belajar, belajar sabar dalam menghadapi murid-murid dan belajar ikhlas karena mengajar tanpa dibayar. Jadi, mari kita berbagi sebagai bentuk bakti kita untuk negeri.

Semoga bermanfaat.

Categories
Berita Komisi Sosial Budaya PPI Dunia

Sosbud in Action: Kebermanfaatan di Daerah 3T

Muhammad Ridho Sastrawijaya (Ketua Komisi Sosial dan Budaya PPI Dunia 2018/2019)

Pada 11-16 Mei 2019, Komisi Sosial dan Budaya PPI Dunia mendapatkan kesempatan untuk belajar memberikan kontribusi terbaik kepada masyarakat melalui program Sosbud in Action. Lokasi yang dipilih adalah Desa Aji Kuning, Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Adapun kriteria pemilihan lokasi ini berdasarkan statusnya sebagai daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Beberapa kegiatan yang diusung diantaranya semarak Ramadhan, sosialisasi pendidikan, kunjungan tokoh dan riset daerah perbatasan.

Pulau Sebatik adalah sebuah pulau kecil di sebelah timur laut Kalimantan. Secara administratif termasuk ke dalam Provinsi Kalimantan Utara. Pulau ini juga dikatakan sebagai pulau terdepan dan terluar di Indonesia. Pulau ini pun memiliki keunikan tersendiri karena adanya dua negara yang mendudukinya, Indonesia dan Malaysia. Layaknya pulau yang menjadi rebutan, Pulau Sebatik terbagi menjadi dua di tengahnya. Salah satu yang terkenal dari pulau ini adalah sebuah rumah yang ruang tamunya di Indonesia, dapurnya di Malaysia.

Cukup panjang perjalanan yang kami tempuh untuk bisa sampai ke sana. Selain menggunakan jalur udara dengan rute penerbangan Jakarta-Tarakan selama 3 jam, jalur laut juga kami tempuh dengan menggunakan speedboat dari Tarakan menuju Pulau Sebatik selama 3 jam pula. Kedatangan kami di sana disambut hangat oleh salah satu tokoh masyarakat yang bernama Pak Aji Amir Toga. Kami pun diperkenankan untuk beristirahat dan tinggal di rumah beliau selama berada di Pulau Sebatik.

Speedboat Tarakan-Pulau Sebatik.

Pak Aji termasuk tokoh masyarakat yang sangat di kenal di sana, karena selain beliau memang sudah lama tinggal di Pulau Sebatik, sejak tahun 1970an, beliau juga menjadi pengurus tetap Masjid Al-Aqsha, masjid terbesar di Desa Aji Kuning. Beliau bercerita kalau anak dan cucunya saat ini bekerja dan tinggal di Malaysia. Beberapa anaknya ada yang menikah dengan orang Malaysia. Beliau juga mengatakan selain mempunyai KTP, juga mempunyai IC atau Identity Card (KTP nya Malaysia).

Oleh Pak Aji kami dikenalkan dengan Ustadz Syukri, salah satu ustadz di Masjid Al-Aqsha, yang juga menjadi Pembina Remaja Masjid di masjid tersebut. Bersama Ustadz Syukri, kami diberi kesempatan untuk membantu kegiatan masjid selama bulan Ramadhan, seperti memimpin shalat berjamaah dan memberikan tausiah singkat. Kami juga dipertemukan dengan para remaja masjid untuk menyampaikan materi ke-Islaman tentang aqidah, akhlak dan fiqih. Ustadz Syukri juga mempersilakan kami untuk memberikan informasi dan motivasi seputar beasiswa pendidikan di luar negeri kepada siswa-siswi SMAN 1 Sebatik yang baru saja lulus di tahun ini.  

Memberikan materi fiqih perawatan jenazah kepada Remaja Masjid Al-Aqsha.
Memberikan informasi dan motivasi beasiswa pendidikan bersama Ustadz Syukri (paling kanan) dan alumni SMAN 1 Sebatik Tengah.

Selama di Pulau Sebatik kami banyak bertemu dengan masyarakat setempat. Kami juga berkesempatan untuk bertemu pemimpin masyarakat seperti Kepala Desa Sungai Limau, Bapak Mardin dan Kepala Camat Sebatik Tengah, Bapak Haji Haini. Mereka bercerita kepada kami mengenai kondisi kehidupan mereka di daerah perbatasan. Ada beberapa hal yang dapat kami tangkap berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara langsung dengan mereka, diantaranya:

Bersama Camat Sebatik Tengah, Pak Haji Haini.

  • Kesehatan

Fasilitas kesehatan yang tersedia hanya beberapa Puskesmas (pusat kesehatan masyarakat). Belakangan dibangun sebuah rumah sakit sebagai upaya meningkatkan pelayanan bagi masyarakat, namun hingga saat ini RS Pratama tersebut belum beroperasi. Fasilitas yang kurang memadai membuat warga harus menyebrang ke Pulau Nunukan untuk mendapati rumah sakit. Tak jarang warga lebih memilih untuk melintasi perbatasan dan pergi ke Tawau, Malaysia demi bisa menikmati pelayanan kesehatan yang layak.

  • Pendidikan

Tidak banyak sekolah yang dapat kita temui di Pulau Sebatik, hanya ada 5 SDN, 1 SMPN dan 1 SMAN di Kecamatan Sebatik Tengah. Sementara di Kecamatan Sebatik Barat, Sebatik Timur dan Sebatik Utara hanya terdapat beberapa SDN dan SMPN. Banyak anak yang putus sekolah dikarenakan orang tuanya bekerja di Malaysia. Mereka lebih memilih membantu orang tuanya bekerja sebagai buruh dibandingkan sekolah yang memerlukan biaya yang cukup banyak. Karena itu didirikanlah Sekolah Tapal Batas untuk membantu anak-anak Indonesia menikmati pendidikannya di jenjang pendidikan dasar di daerah perbatasan.

  • Ekonomi

Barang-barang sembako yang beredar di Pulau Sebatik kebanyakan berasal dari Malaysia, seperti beras, gula pasir, minyak goreng, gas LPG dan lain-lain. Sembako lain dari Indonesia sebenarnya ada, namun kerena kualitasnya yang sudah menurun karena panjang dan lamanya proses perjalanan dari luar pulau menuju Pulau Sebatik dengan menggunakan jalur laut, serta harga yang lebih murah membuat masyarakat lebih memilih menggunakan barang-barang dari Malaysia. Mata uang Ringgit Malaysia juga menjadi mata uang yang biasa digunakan selain mata uang Rupiah Indonesia.

Gula dari Malaysia.

  • Mata Pencarian

Berkebun dan bertani menjadi mata pencarian yang ditekuni oleh sebagian besar masyarakat di Pulau Sebatik. Beberapa masyarakat memiliki lahan yang cukup luas untuk menanam kakao dan kelapa sawit, namun karena minimnya pengetahuan dan kemampuan untuk mengolah hasil kebun dan taninya, kebanyakan mereka menjualnya kepada pengusaha di Malaysia.

  • Keamanan

Terbaginya Pulau Sebatik atas dua negara membuat banyaknya daerah perbatasan yang membatasi dua negara tersebut. Beberapa pos dibangun untuk menjaga keamanan keadaan sekitar, para Tentara Nasional Indonesia (TNI) pun siap siaga untuk menjaga daerah perbatasan selama 24 jam. Salah satu pos penjagaan yang terkenal adalah Patok 3, disana juga terdapat rumah dua negara. Namun ada saja yang memanfaatkan banyaknya daerah perbatasan ini untuk keluar masuk antar dua negara dan membawa barang-barang ilegal untuk disalahgunakan, seperti narkoba. Kasus ini selalu menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat sekitar untuk semakin memperketat daerah perbatasan.

Pos penjagaan di Patok 3.

  • Sosial Budaya

Kehidupan masyarakat di Pulau Sebatik sangat beragam dan menggambarkan kekayaan budaya yang di miliki Indonesia. Walaupun termasuk bagian dari Pulau Kalimantan, masyarakat sebatik datang dari berbagai rumpun, seperti Bugis, Makassar, Melayu, Dayak, dan sebagainya. Hidup rukun dan saling membantu sangat diterapkan di sana. Rumah-rumah di Pulau Sebatik kebanyakan berbentuk panggung dan masih menggunakan kayu sebagai pondasi utamanya.

Setelah 6 hari kami menghabiskan waktu di Pulau Sebatik, kami pun memutuskan untuk pamit kepada Pak Aji Amir Toga, Ustadz Syukri, Remaja Masjid dan masyarakat Desa Aji Kuning lainnya. Kami meminta maaf jika ada kesalahan yang diperbuat dan berterima kasih telah menerima kami di sana.

Bersama Pak Aji Amir Toga dan istri.

Terima kasih juga kami ucapkan kepada Bang Rizal dan Kak Wiwi yang telah menjadi perantara kami dengan tokoh masyarakat di Pulau Sebatik dan rela mengantar serta menjemput kami dari dan ke pelabuhan Pulau Sebatik. Juga kepada Bang Fadjar Mulya yang telah memberikan rekomendasi tampat dan membimbing kami selama kami berada disana.

Bagi kami sangat menyenangkan rasanya bisa datang dan melihat langsung Pulau Sebatik. Banyak pelajaran yang dapat kami ambil di sana. Besar harapan kami untuk Komisi Sosial dan Budaya tahun mendatang untuk melanjutkan program Sosbud in Action ini.

Semoga bermanfaat.

Categories
Komisi Sosial Budaya Pojok Opini Pusat Kajian & Gerakan

Quadruple Helix untuk Membangun Indonesia 4.0

Quadruple Helix
Source : https://realkm.com/wp-content/uploads/2018/10/open-innovation-20-charlie-sheridan-vinny-cahill-plenary-4-final-16-638.jpg

Berdasarkan data BPS pada maret 2018, Indonesia memiliki angka koefisien gini sebesar 0,389. Hal ini masih cukup jauh daru target nasional pada tahun 2019 yakni 0,35. Secara umum, angka ketimpangan salahsatunya disebabkan oleh meningkatnya angka kekayaan sebagian golongan dan seiring dengan meningkatnya pula angka kemiskinan bagi sebagian orang. Dengan kata lain, seperti kata Rhoma Irama yakni yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Jika kita menelisik lebih jauh angka kemiskinan di Indonesia, BPS merilis data pada bulan maret 2018, bahwa terjadi penurunan hingga menyentuh 9.82%, atau berkurang sekitar 630an ribu orang. Di perkotaan, angka ini menurun dari 7.26% menjadi 7.02%, sementara di desa pun terjadi tren yang sama yakni dari 13.47% menjadi 13.20%. Sehingga, secara umum bisa ditarik kesimpulan bahwa terjadi penurunan angka kemiskinan baik di desa maupun kota, dengan prosentase kemiskinan di desa masih lebih tinggi daripada di kota.

Salah satu alasan sederhana penyebab ketimpangan kemiskinan, terutama di desa, ialah rendahnya angka perputaran uang dan produktivitas ekonomi secara merata. Kota dengan segala fasilitas seperti infrastruktur, UMR, jaringan komunikasi, fasilitas publik dan hiburan, dan beragam variabel lainnya akan selalu menjadi pilihan banyak orang untuk bekerja yang menyebabkan perputaran uang di sana lebih besar.

Sayangnya, hal ini tak bisa dibiarkan untuk terus terjadi karena kota dengan segala kemewahan yang diberikan pun menggelembungkan angka urbanisasi desa-kota. Alhasil, desa akan kekurangan talenta karena sudah terlalu banyak sumber dayanya, baik yang berkualitas maupun kurang, berpindah dan mencari peruntungan di kota. Sehingga, diperlukan intervensi yang serius untuk mengurangi angka ketimpangan ini serta membuat desa maupun kota sama-sama memiliki pesona yang menawan setiap orang untuk bekerja, berkarya dan membuat roda ekonomi berputar dengan massif.

Quadruple Helix hadir sebagai salahsatu pendekatan terkini yang digadang-gadang bisa menjadi alternative dalam menyiapkan Indonesia 4.0. Ketika beberapa negara sudah bergerak seperti mencipta Made In India maupun Thailand 4.0, maka Indonesia tentunya tak bisa hanya duduk tenang. Secara sederhana, Quadruple Helix bercerita soal kolaborasi aktif dan harmonis antara pemerintah, akademisi/peneliti, industri/swasta, dan masyarakat/komunitas. Pendekatan ini menekankan pada bagaimana semua pihak harus terlibat aktif dan sama-sama menjadi objek dan subjek dalam pembangunan itu sendiri. Kebijakan dan pendanaan didatangkan oleh pemerintah, akademisi menyiapkan teorema dan penelitian yang tepat guna terhadap suatu masalah, kemudian pihak industri hadir dengan segenap teknologi serta kalangan professional yang dimilikinya, serta masyarakat pun turun tangan sebagai kunci untuk mengembangkan wilayahnya.

Sebagai contoh, Quadruple Helix bisa dijumpai pada Bandung Creative City Forum. Dibentuk pada akhir tahun 2008, hingga kini BCCF telah menjalankan beragam kolaborasi dan karya yang luar biasa untuk pengembangan kota Bandung. BCCF secara aktif menjalin titik temu dengan beragam elemen semisal United Nations Environment Programme (UNEP) dan Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia untuk menyelenggarakan TUNZA International Children and Youth Conference, membentuk Creative Entrepreneur Network yang mewadahi wirausaha kreatif kota Bandung, menyelenggarakan Helar Fest yang berupa festival kota yang fokus pada pameran potensi ekonomi kreatif dan sebagainya. Bahkan BCCF pun menyediakan ruang public seperti Bandung Creative Hub serta Simpul Space II sebagai tempat pameran, diskusi, workshop, pertemuan komunitas dan sebagainya.

Sejatinya, BCCF adalah modular yang bisa ditiru dengan bentuknya sendiri-sendiri di berbagai wilayah di Indonesia. Pemerintah pun harus bergerak aktif dalam merangkai kolaborasi aktif, konkrit, berdampak dan sustainable bersama elemen swasta, akademisi serta masyarakat. Sehingga, simpul-simpul permasalahan yang ada di tiap petak wilayah Indonesia tidak dipresepsikan hanya bertumpu pada pundak pemerintah, serta bisa terpetakan dan terselesaikan hingga level akar rumput. Bagaimanapun, Pemerintah harus memiliki political will yang paling besar agar Indonesia 4.0 dengan pendekatan Quadruple Helix bisa tercapai. Akademisi perlu didorong dan difasilitasi untuk membuat riset terapan yang tepat sasaran dan bisa digunakan secara massal,  sehingga tidak menjadikan indeks tertentu sebagai acuan. Swasta pun perlu mengarahkan profesionalismenya dengan lebih optimal untuk menjalankan bisnisnya berbasiskan pemecahan masalah di kehidupan masyarakat, serta tidak menabrak isu penting seperti ketenagakerjaan, limbah, hokum dan sebagainya. Selain itu, masyarakat pun perlu lebih rutin disambangi dan diajak berjalan bersama untuk beraspirasi dan bergerak aktif demi meningkatkan taraf hidupnya dan lingkungan tinggalnya.

Penulis:
Angga Fauzan – M.Sc Candidate of Design & Digital Media, University of Edinburgh 

Categories
Komisi Sosial Budaya Pojok Opini PPI Dunia PPI Negara Pusat Kajian & Gerakan Suara Anak Bangsa

Mewujudkan Sektor Pariwisata Kerakyatan sebagai Tulang Punggung Perekonomian Baru bagi Indonesia di Masa Depan

Saya percaya bahwa Indonesia tak bisa selamanya bergantung pada pajak, pun tak boleh terlalu mengandalkan sektor ekspor sumber daya alam karena perang dagang di dunia global yang semakin sengit. Dengan kata lain, Indonesia harus punya beragam alternatif yang produktif dalam memenuhi pendapatan negaranya. Produktifitas bangsa, yang harus dibarengi dengan kemampuan masyarakat, optimalisasi iptek dan distribusi, serta besarnya political will untuk ekspansi pasar dunia harus menjadi fokus bagi kita semua.

Seperti yang kita tahu bahwa perubahan kondisi global dan dalam negeri memengaruhi perlemahan rupiah, harga barang, dan angka-angka lain yang menjadi parameter kondisi bangsa. Dalam membedah kondisi ini, menyalahkan pihak tertentu (Pemerintah, misalnya) pun rasanya kurang bijak jika tidak dibarengi dengan kesadaran berjamaah mengenai lemah dan manjanya diri kita dalam berbuat untuk negeri. Sudah terlalu banyak pemuda yang ingin diberi ini dan itu sebagai syarat agar dirinya bisa ciptakan karya untuk negara, padahal peluang ciptakan kerjasama ada di depan mata. Masyarakat selalu ada untuk kita ajak berkolaborasi, hanya saja kita kurang menyadari.

Gerakan Berbasis Kerakyatan

Jika kita menyambangi masyarakat miskin yang pengangguran dan tak punya skill sekalipun dan bertanya apakah mereka ingin perubahan, saya yakin mereka menjawab ingin. Memang, tiap orang dan kelompok sosial memiliki tingkat keterbukaan dan kekonkritan dalam berubah yang berbeda-beda. Ada yang sekadar ingin instan, ada pula yang siap diajak banting tulang untuk mengubah nasib menjadi lebih baik. Saya percaya bahwa disinilah kita, sebagai pemuda, memiliki peran penting untuk mencipta gerakan yang bisa memicu produktivitas masyarakat – atau dengan kata lain, memberdayakan dan menghapus status miskin yang mereka sandang.

Di Indonesia sendiri, ada filosofi lucu. Jika ada penjual makanan yang cukup laris di suatu daerah, maka tak lama lagi akan banyak orang yang meniru dan menjual makanan di daerah tersebut. Konsep sederhana ini pun bisa kita coba terapkan pada masyarakat, yakni dengan mengajak kelompok tertentu di masyarakat yang memiliki keinginan plus kekonkritan yang nyata untuk memberdayakan diri mereka dan mau berubah. Perlahan tapi pasti, kelompok masyarakat lain yang awalnya wait and see hingga yang apatis sekalipun akan berpikir untuk mengikutinya. Lha kenapa tidak, wong mereka bagaimanapun juga butuh makan dan ingin hidup enak?

Pariwisata Kerakyatan sebagai Alternatif Kemandirian Ekonomi

Tak perlu panjang lebar untuk menjelaskan seberapa kaya, indah dan besarnya Indonesia. Pun tak perlu bingung untuk menceritakan bagaimana Indonesia punya ragam dan pilihan pariwisata yang super kaya. Sayangnya, kita selalu terperangkap oleh itu semua. Apa yang ada diajarkan kepada kita sejak sekolah dasar ialah berwisata berarti ke pantai, gunung, kebun binatang dan tempat-tempat yang ‘sudah dari sananya’ bagus. Padahal, Pariwisata pun bisa seperti Edinburgh yang terkenal sebagai Kota Festival Terbesar di Dunia. Sehingga tak ayal, market share pariwisata Indonesia pun masih tertinggal jauh dari negara-negara lain, bahkan di Asia Tenggara sekalipun, karena kita berpikir bahwa hanya wilayah yang sudah bagus secara alamilah yang bisa menjadi tempat wisata, dan menghasilkan uang.

Pariwisata terdiri dari beberapa tingkatan. Adapun tingkatan paling dasar ialah mengandalkan pada wisata alam, seperti gunung dan pantai. Ini tentu sudah umum bagi kita, pun Indonesia punya banyak meskipun tak semuanya terawat dengan baik. Kedua, ialah Pariwisata yang memiliki partisipasi dari warga lokalnya. Misal, tersedianya toko souvenir dan jajanan khas yang terletak di tempat wisata tersebut. Ketiga, ialah Pariwisata yang menghadirkan partisipasi aktif dan lebih serius dari beragam elemen seperti penyelenggaraan festival oleh pemerintah daerah di sebuah destinasi wisata. Terakhir, ialah Pariwisata yang bisa membuat para pengunjungnya ikut berpartisipasi bahkan hingga belajar dan turut memberdayakan wisata tersebut.

Nah, disinilah kadang kita kurang menyadari bahwa mungkin kita bisa membangun ‘destinasi wisata baru’ bersama masyarakat. Tak harus mengandalkan adanya candi, danau atau keunikan territorial tertentu untuk mengundang orang luar datang dan menciptakan perputaran uang di sebuah wilayah. Contoh, Kampung 3D di Malang yang dibuat dengan menciptakan dekorasi ruang dari mural, kemudian Kampung Ponggok di Klaten yang dibuat dengan menciptakan wisata bawah air yang kreatif, dan sebagainya. Dengan banyaknya wisatawan yang hadir berkat beragam inovasi yang dilakukan bersama masyarakat, kemandirian ekonomi sektoral pun tercipta.

Bayangkan jika paling tidak ada satu pariwisata berbasis kerakyatan di tiap kecamatan di Indonesia yang dibangun dan dikelola oleh masyarakatnya sendiri. Kemudian, aktivitas tersebut semakin membesar dan menyerap tenaga kerja lokal, meningkatkan perputaran uang, memperkuat citra lokal dan sebagainya. Tentu, impian Hatta soal ‘Indonesia yang terang berkat lilin yang menyala di tiap desa’ pun akan terwujud. Kemandirian bangsa akan muncul karena tiap bagian kecil darinya berjuang untuk membangun kemandiriannya masing-masing. Tidak hanya mengandalkan pajak atau sektor sumber daya alam yang bisa habis di masa mendatang. Meskipun sulit, saya percaya bahwa bagaimanapun juga cara paling mudah adalah menjadikan para pemuda, khususnya putra daerah, sebagai penggerak sektor pariwisata kerakyatan di wilayahnya masing-masing. Apalagi oleh para putra daerah yang berpendidikan tinggi, bahkan kuliahnya pun di luar negeri sehingga punya banyak referensi global.

 

Angga Fauzan

Anggota Pusat Kajian dan Gerakan PPI Dunia

Categories
Kajian Papua Barat Komisi Sosial Budaya

Pengembangan Industri Hulu Migas Papua: Potensi, Tantangan serta Solusi

Pemateri kajian online ke-5 Forum Tim Kajian Papua (FTKP) yang berlangsung pada hari Sabtu, 1 Juli 2017 mulai dari pukul 20.00 – 22.00 WIB adalah Jackson Andreas. Jackson Andreas sedang menempuh pendidikan doktor di bidang Petroleum Engineering. Selain itu, kajian ini didampingi oleh moderator dari bidang pengkajian dan penelitian TKP PPI Dunia yaitu Egi Prayoga, seorang mahasiswa di bidang Qur’anic Studies and Exegesis. Notulen berasal dari bidang pengkajian dan penelitian yaitu Eni Iswati, seorang mahasiswa Kesehatan Masyarakat.

Notulensi Forum Tim Kajian Papua Ke-4 ini dapat diunduh pada link berikut: Notulensi 5 TKP

Categories
Kajian Papua Barat Komisi Sosial Budaya

Potensi Energi di Papua dan Papua Barat

Kajian online ke-4 Forum Tim Kajian Papua (FTKP) yang dibawakan oleh Lion Ferdinand Marini berlangsung pada hari Sabtu, 27 Mei 2017 lalu mulai dari pukul 20.30 – 22.30 WIB. Lion Ferdinand Marini sedang menempuh pendidikan master di bidang Manajemen Industri. Selain itu, kajian ini didampingi oleh moderator dari bidang pengkajian dan penelitian TKP PPI Dunia yaitu M. Cahya Rizky Ananda, seorang mahasiswa di bidang Sosial Ekinomi Pertanian. Notulen berasal dari bidang pengkajian dan penelitian yaitu Eni Iswati, seorang mahasiswa Kesehatan Masyarakat.

Notulensi Forum Tim Kajian Papua Ke-4 ini dapat diunduh pada link berikut: Notulensi 4 TKP

Categories
Kajian Papua Barat Komisi Sosial Budaya PPI Dunia

Education Development in Papua: Personal Insider View on Challenges and Opportunities

Kajian online ke-3 Forum Tim Kajian Papua (FTKP) berlangsung pada hari Minggu, 2 April 2017 mulai dari pukul 20.00 – 22.00 WIB. Kajian online yang dibawakan langsung oleh Septinus George Saa ini bertemakan “Education Development in Papua: Personal Insider View on Challenges and Opportunities”.

Septinus George Saa adalah wakil ketua TKP PPI Dunia. Ia sedang menempuh pendidikan master di bidang Science Research, Mechanical Engineering. Selain itu, kajian ini didampingi oleh moderator dari wakil koordinator bidang lapangan TKP PPI Dunia yaitu Izzudin Arafah Irawan, seorang alumni Ekspedisi NKRI Tahun 2016 Koridor Papua Barat. Notulen berasal dari bidang pengkajian dan penelitian yaitu Egi Prayoga, seorang mahasiswa Engineering of Qur’anic Studies and Exegesis.

Notulensi kajian online ke-3 Forum Tim Kajian Papua (FTKP) dapat diunduh melalui link berikut: Notulensi kajian online ke-3.

Categories
Berita Kajian Papua Barat Komisi Sosial Budaya PPI Dunia

Transportasi untuk Kesejahteraan di Bumi Cenderawasih : Bagaimana Peranan dan Pengembangannya?

Kajian online ke-2 Forum Tim Kajian Papua (FTKP) yang berlangsung pada hari minggu, 19 Februari 2017 dari pukul 20.00-22.00 WIB membahas mengenai peranan dan pengembangan transportasi di Bumi Cendrawasih. Kajian online ini dibawakan oleh Yanuar Muhammad Najih yang merupakan wakil kepala Bidang Media Center & IT TKP PPI Dunia.

Yanuar Muhammad Najih sedang menempuh pendidikan master di bidang Railway System Engineering. Yanuar Muhammad Najih didampingi oleh moderator yang juga berasal dari bidang Media Center & IT yaitu Yogi Lasril, seorang mahasiswa Teknik Perencanaan Wilayah Kota. Notulen berasal dari bidang Pengkajian dan Penelitian yaitu Eni Iswati, seorang mahasiswa Kesehatan Masyarakat. Berikut ini adalah penjelasan dari isi kajian online tersebut.

Penduduk Papua sebagian besar tinggal di daerah pegunungan. Daerah pegunungan merupakan daerah dengan kesenjangan yang paling tinggi khususnya dalam hal harga  komoditas sehingga kesejahteraan di Papua masih belum terwujud. Kesejahteraan di Papua salah satunya dipengaruhi oleh transportasi. Transportasi yang tersedia di Papua hanya berupa transportasi jalan dan pesawat. Kondisi transportasi jalan di Papua pun kurang baik akibat drainase yang tidak dibagun secara baik. Sementara itu, pesawat merupakan transportasi yang dianggap sudah biasa di Papua. Distribusi barang yang sering dilakukan menggunakan pesawat menyebabkan tingginya harga barang. Oleh karena itu, diperlukan transportasi yang efektif dan efisien dalam pendistribusian barang.

Pemerintah memiliki 3 rencana dalam pembangunan transportasi di Papua yaitu pembangunan pelabuhan sebagai turunan dari tol laut, jalan Trans Papua dan Kereta. Berdasarkan karakteristik wilayah Papua maka transportasi yang paling sesuai adalah kereta barang. Kontur yang berbukit tidak selamanya menjadi tantangan karena di negara lain seperti UK, India dan Swiss dapat dibangun transportasi kereta barang dan bukan tidak mungkin nantinya Pupua akan memiliki transportasi kereta barang yang akan menjangkau ke seluruh wilayah dan terintegrasi dengan tol laut dan Trans Papua.

Notulensi selengkapnya dapat diunduh pada tautan berikut: Notulensi Kajian Online ke-2 TKP

Categories
Contact Us Kajian Papua Barat Komisi Sosial Budaya Suara Anak Bangsa

Cerita dari Tim Kajian Papua Barat PPI Dunia: Benci dan Cinta di Kota Pala

Benci dan Cinta di Kota Pala
Oleh: Chalilah Syahharbanu Malikin
(Ketua Bidang Lapangan TKP PPI Dunia)

Ini adalah sebagian kecil dari pengalaman hidup saya yang begitu berkesan. Ini adalah cerita pertama kali saya pindah ke Kota Fakfak, Papua Barat. Tak pernah ada di benak saya akan pindah ke kota yang di kenal juga dengan Kota Pala ini, dan juga kota dengan durian terlezat di Papua.

Singkat cerita, saya mulai pindah ke Fakfak, tepatnya tanggal 8 Februari 2016. Bertolak dari Bandara Domine Edward Osok (DEO), menggunakan pesawat, waktu tempuh selama 1 jam perjalanan. Tibalah saya di Fakfak. Di sini saya memulai hidup baru yang begitu berat untuk saya jalani. Beberapa bulan pertama saya masih saja menangis dan begitu besar rasa benci dalam hati ini. Kenapa saya harus pindah ke kota yang seperti ini? Kota yang sama sekali tak punya pusat keramaian seperti Mall besar, ataupun punya kafe-kafe terkenal, dan juga resto-resto ternama seperti Dunkin Donuts.

Kebiasaan hidup di Kota Sorong yang membuat saya terbiasa dengan tempat-tempat seperti itu untuk menghilangkan penat, atau sekedar diskusi bersama teman-teman kuliah, atau sekedar memanfaatkan Wi-fi gratis yang telah disediakan. Di kota ini sama sekali saya tak bisa menemukan hal-hal seperti itu. Yang menjadi pusat keramaian hanyalah Pasar Tradisional Tumburuni.

Di masa awal kedatangan saya di kota ini, saya merasa sangat tak nyaman. Sering sekali saya ingin pulang ke Kota Sorong. Di sini, saya harus memulai semuanya dari awal. Saya harus mencari teman-teman baru, bersosialisasi di dunia kampus, dan mencari pengalaman baru. Beberapa bulan pertama saya masih terus mengurung diri di rumah dan tak ingin keluar rumah untuk sekedar mencari angin segar. Begitu berat rasanya menjalani hidup di kota ini. Oh ya, ini juga pertama kalinya saya pindah keluar dari Kota Sorong.

Di kampus, saya merasa begitu bosan. Bagaimana tidak? Di kampus saya, fasilitas penunjang untuk belajar sangat tidak lengkap sama sekali. Kampus saya bahkan tidak punya perpustakaan sendiri. Teman-temannya pun berbeda dengan teman kampus saya sewaktu di Sorong. Di Sorong, kemauan belajar dari sesama teman begitu tinggi sedangkan di sini, kemauan belajarnya boleh dibilang sangat minim. Banyak yang belum paham tentang komputer dan cara presentasi menggunakan proyektor. Jangankan itu, untuk menghidupkan laptop saja sekalipun masih banyak yang belum paham.

Tata cara membuat makalah pun kasarnya bukan tambah membuat mahasiswa menjadi pintar malah menjadi tambah bodoh. Dosen mengizinkan untuk copy paste makalah dari mbah Google. Ini yang menjadi salah satu permasalahan besar saya yang begitu menyiksa selama di sini. Bagaimana tidak, mahasiswa di kampus tempat saya kuliah tak memiliki daya saing. Ini lah hidup, pahit atau manis, yang saya harus jalani. Terlalu panjang jika saya menulis semuanya di cerita ini.

Sampai pada suatu ketika, tepatnya saat sebuah weekend, saya diajak oleh abang saya untuk sekedar mengunjungi tempat wisata bersama teman-teman kantornya. Pada saat itu, rasa nyaman sudah mulai menghampiri diri saya. Kami mengunjungi Sungai Ubadari yang masih begitu asri dan beberapa kampung yang masih suci yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Sampai pada weekend selanjutnya, saya meminta untuk diantar ke beberapa daerah lainnya yang tak kalah menarik.

Saya mulai jatuh cinta dengan alam di kota Pala ini. Alamnya yang membuat saya merasa begitu nyaman. Lama-kelamaan, saya sudah mulai bisa untuk bersosialisasi dengan beberapa teman di luar kampus saya. Saya mencari teman-teman di media sosial saya, mulai dari facebook hingga instagram yang berdomisili juga di kota ini. Beberapa bulan berlalu, dan sayapun sudah mulai bisa melupakan Kota Sorong dan mulai menyukai aktifitas baru di Kota Fakfak ini, yaitu jalan-jalan melihat alam dan budayanya yang megah.

Setelah 9 bulan telah berlalu, saya mengikuti kegiatan open recruitment salah satu Organisasi Pecinta Alam bernama Jelajah Fakfak. Saya di terima menjadi anggotanya dengan masa uji selama 3 bulan. Dari organisasi inilah saya menambah sederet pengalaman saya tentang budaya dan alam di Kota Fakfak. Begitu banyak informasi yang saya dapatkan, begitu banyak daerah perkampungan yang sudah saya jangkau disini, berkat tergabung dengan organisasi jelajah Fakfak ini. Hati saya jatuh cinta dengan salah satu perkampungan di daerah ujung Fakfak bernama Kampung Wambar. Saya jatuh cinta dengan pantainya yang begitu Indah. Tak pernah saya merasa jatuh cinta dengan pantai seperti Pantai Wambar ini.

Sudah hampir setahun saya berdomisili di Kota ini. Rasa benci, bosan, dan tidak betah sudah berubah menjadi jatuh cinta yang teramat dalam. Tak bisa berkata apapun selain jatuh cinta dengan alam dan budaya di Fakfak. Jatuh cinta dan begitu jatuh cinta. Mengenai dunia kampus, yah jalani sajalah.

 

 

Nantikan cerita berikutnya dari TKP PPI Dunia!
Chalilah, atau biasa dipanggil Lila, adalah salah satu putri asli daerah dari sekian banyak putra/putri daerah yangg memiliki keinginan kuat untuk memperjuangkan Papua mnjadi lebih baik lagi dalam bingkai persatuan NKRI.

Karena kita adalah satu sebagai anak bangsa. Bangsa Indonesia.

Page 1 of 2
1 2