Categories
Komisi Kesehatan PPI Dunia Pusat Kajian & Gerakan

Kebijakan dan Strategi Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular – Rekomendasi Terhadap Penurunan Faktor Risiko Bersama Terkait Kebiasaan Makanan Terhadap Penyakit Tidak Menular di Indonesia

WP Komisi Kesehatan No. 2 tahun 2020

Indonesia mengalami berbagai tantangan kesehatan terdiri dari Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular (PTM) yang mempunyai kecenderungan untuk meningkat dari tahun ke tahun. Dalam upaya penanggulangan PTM, pemerintah telah menetapkan kebijakan-kebijakan mulai dari peningkatan kualitas sarana prasarana hingga monitoring evaluasi di lapangan. Akan tetapi, dalam setiap temuan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) telah terjadi peningkatan prevalensi PTM yang tidak sedikit mengindikasikan bahwa risiko PTM belum menunjukkan perbaikan. Selain itu, ada pergeseran penyebab kematian di Indonesia dimana hampir separuhnya adalah kematian disebabkan oleh PTM.

Lalu bagaimana kebijakan dan strategi penanggulangan penyakit tidak menular di Indonesia? Berikut adalah kajian komisi kesehatan PPI Dunia yang ditulis oleh Fakhruddin Masse, Indri Kartiko Sari, Yoser Thamtono.

WP-Komisi-Kesehatan-No-2-2020

Categories
Komisi Kesehatan Pusat Kajian & Gerakan

Tinjauan Kesiapan Indonesia Dalam Memasuki Masa New Normal Selama Pandemi COVID-19 di Indonesia: Aspek Tatalaksana Kesehatan Masyarakat – PPI Brief No. 9/2020

PPI Brief No. 9 / 2020, Komisi Kesehatan

Pemerintah Indonesia sudah mulai melonggarkan pembatasan sosial bersakala besar (PSBB) di berbagai daerah dan menggalakkan new normal atau adaptasi kebiasaan baru (AKB). Terlepas dari masih pesatnya pertumbuhan kasus COVID-19 di Indonesia, beberapa daerah merasa sudah siap dan perlu membuka kembali roda perekonomian. Namun, pemberlakuan AKB tentunya perlu dilakukan secara hati-hati setelah mempertimbangkan kesiapan daerah dalam menerapkan AKB. Lalu bagaimana kesiapan Indonesia dalam memasuki masa New Normal selama Pandemi COVID-19 di Indonesia? Berikut adalah kajian dari Yoser Thamtono & Indri Kartiko Sari, Anggota Divisi Kajian Komisi Kesehatan PPI Dunia 19/20.

PPI-Brief-No-9-2020-Komisi-Kesehatan

Categories
Komisi Kesehatan Pusat Kajian & Gerakan

Tinjauan Sistem Pembiayaan Kesehatan di Indonesia: Menilai Kesiapan Indonesia menuju Cakupan Kesehatan Semesta – PPI Brief No. 8/2020

PPI Brief No. 8 / 2020, Komisi Kesehatan

6 tahun semenjak dicanangkannya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia, berbagai hambatan masih dijumpai dalam mencapai target cakupan kesehatan semesta. Adanya defisit anggaran BPJS Kesehatan dan rendahnya anggaran kesehatan Indonesia mengancam keberlangsungan program JKN. Lalu bagaimana tinjauan sistem pembiayaan kesehatan di Indonesia? Berikut adalah kajian dari Yoser Thamtono, Anggota Komisi Kesehatan PPI Dunia 19/20.

PPI-Brief-No-8-2020-Komisi-Kesehatan

Categories
Komisi Kesehatan RRI Voice Suara Anak Bangsa

Hari Dokter Nasional

Resume Siaran RRI World Service

Hari Dokter Indonesia diperingati setiap tanggal 24 Oktober. Tahun ini, menjadi hari perayaan ke-69 sejak peresmian Ikatan Dokter Indonesia pada tahun 1950. Dari penuturan Silvester Hendry Leresina (Endy), seorang pelajar Indonesia yang sedang mengenyam pendidikan sarjana di Chongqing Medical University, Tiongkok, melalui program siaran KAMU (Kami yang Muda) bersama RRI VOI, bahwa masih banyak hal yang menjadi personal di dunia kedokteran di Indonesia meskipun hari dokter sudah cukup lama diperingati. Hal yang sama juga dituturkan oleh Langgeng Agung Waskito (Langgeng), yang baru saja menyelesaikan program doktoral di Department of Environemtnal and Preventive Medicine, Oita University, Jepang, melalui program siaran  Youth Forum. Dalam wawancaranya pada hari Senin, 21 Oktober 2019, Endy menyertakan beberapa contoh seperti masalah stunting, pelayanan kesehatan, begitupun dengan isu permasalahan BPJS, yang juga menjadi spotlight bagi kawan-kasiaranwan di Komisi Kesehatan PPI Dunia.

Pemeratan Jumlah Dokter dan Peningkatan Fasilitas Kesehatan di Indonesia
Sebagai Ketua Komisi Kesehatan di PPI Dunia sekaligus calon dokter, Endy menyatakan bahwa pemeratan jumlah dokter di Indonesia sudah bisa dikatakan cukup rata dengan merujuk data per bulan Mei 2016, ada 110 ribu jumlah dokter yang mana bila dikalkulasi ada sekitar 2000 pasien yang harus ditangani oleh satu orang dokter. Meskipun sudah terbilang cukup, Endy berharap jumlahnya bisa ditingkatkan sehingga seorang dokter hanya menangani 1000 pasien saja.

Endy berpendapat, masalah pemeratan jumlah dokter di Indonesia datang dari masing-masing individu dokter yang lebih memilih untuk tinggal di kota besar karena fasilitas (rumah sakit) yang lebih lengkap juga insentif yang cukup untuk memenuhi keperluan hidup apabila dibandingkan dengan kota-kota kecil dan daerah terpencil. Begitupun tutur Langgeng, berdasarkan pengalamannya pergi ke beberapa daerah terpencil seperti Merauke dan Palu, fasilitas dan infrastuktur di kota-kota di luar Pulau Jawa masih sangat tertinggal, padahal tanpa fasilitas dan infrastuktur yang menunjung, mengakomodasi pasien pun jadi lebih sulit. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah sudah mengadakan sebuah program bersnama “Nusantara Sehat”, yang bertujuan untuk mertakan jumlah dokter di setiap daerah. Endy sangat mengapresiasi inisiatif pemerintah, meskipun sampai saat ini jumlah dokter belum betul-betul merata.

BPJS dan Persoalannya
Defisit menjadi salah satu persoalan yang saat ini sering didengar dari program BPJS. Dari keterangan yang Endy berikan, menurutnya defisit ini dikarenakan manajemen yang kurang baik antara program BPJS dan rumah sakit. Meskipun begitu, ia melihat usaha pemerintah untuk menaikan iyuran bulanan menjadi jalan yang cukup baik untuk mentupi defisit ini. Menurutnya, kenaikan iuran BPJS mungkin dinilai sebagai sesuatu yang memberatkan bagi rakyat, khususnya rakyat kalangan menengah kebawah, meski jika dibandingkan dengan asuransi kesehatan dari pihak swasta yang jauh lebih mahal, Ia yakin perlahan-lahan rakyat Indonesia bisa menerimanya. Langgeng pun membandingkan, dengan program kesehatan yang ada di Jepang, yang mana pasien tetap harus membayar 30% dari treatment. Pasalnya, program BPJS ini pun belum mampu memberikan insentif yang sesuai kepada dokter yang menangani, bahkan bisa dikatakan dokter dihargai sangat murah. Jadi program BPJS ini memang bukan saja menimbulkan masalah kepada pengguna BPJS (pasien), tapi juga pihak rumah sakit, dan dokter itu sendiri, atau dapat dikatakan menimbulkan permasalahan ke berbagai sisi.

Apa yang Bisa Dipelajari dari Tiongkok dan Jepang
Sebagai mahasiswa kedokteran di Tiongkok, Endy menuturkan bahwa ada perbedaan yang cukup menarik antara sistem kesehatan di Indonesia dan Tiongkok. Menurutnya, setiap individu di Tiongkok, dari berbagai kalangan, sekalipun miskin, sudah dipastikan memiliki asuransi kesehatan. Pelayanan untuk setiap inidividunya pun sangat baik dikarenakan manajemen asuransi yang sudah baik. Berbeda dengan di Indonesia, yang mana pasienlah yang harus mendaftarkan diri untuk mendapatkan asuransi.

Harapan untuk Bidang Kesehatan di Indonesia
Besar harapannya kelak Indonesia bisa meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dari tingkat primer seperti Puskesmas dengan menyediakan tenaga kesehatan yang memadai. Saat ini Endy dan kawan-kawan di Komisi Kesehatan PPI Dunia, secara khusus, dan PPI Dunia secara umum, sedang mengusahakan realisasi sebuah program di bidang kesehatan. Diantaranya program Bantu Puskesmas dan Susu untuk Ibu yang nantinya akan dilaksanakan dalam kepengurusan 2019-2020 ini. Dengan begitu meskipun tidak berada di Indonesia, para pelajar tetap bisa berkontribusi untuk membantu dan meningkatkan kualitas kesehatan di Indonesia.

Dirangkum oleh:
Mutiara Syifa (PERPIKA) dan Selsa (PPMI Mesir)
PIC RRI, RPD, dan PPI TV, Pusat Komunikasi, Pusmedkom PPI Dunia 2019/2020

Categories
Inspirasi Dunia Komisi Kesehatan Pusat Kajian & Gerakan

Kajian Strategis Komisi Kesehatan: Kemanusiaan di Atas Profesi

Mengenakan jas dokter dengan dihiasi stetoskop mungkin adalah mimpi besar bagi sebagian besar orang. Belajar siang dan malam serta mengikuti ujian yang ketat untuk merebutkan sebuah kursi dalam jurusan tersebut adalah hal yang wajar. Karena menjadi dokter ialah profesi yang sangat didambakan banyak orang. Selain itu, sebagian orang juga berpendapat bahwa menjadi dokter dapat menjamin pundi-pundi penghasilan mereka tetap terisi sepanjang hari.

Namun, apa yang terjadi jika menjadi dokter bukanlah hanya sebatas profesi saja, tetapi juga sebagai dorongan untuk turut serta dalam kegiatan kemanusiaan. Atau seorang dokter yang sama sekali tidak mencari penghasilan dari keahliannya sebagai dokter. Apakah masih ada seseorang seperti itu? Rasanya mustahil. Tapi jawabannya ialah benar ada.

Di dunia ini, masih ada sebagian dokter yang berhati mulia dan secara sukarela mengobati dan memberikan pelayanan kesehatan tanpa tarif, alias gratis. Berikut kami menyajikan beberapa dokter berhati mulia di Indonesia :

  • dr. Lie Augustinus Darmawan, PhD, FICS, Sp.B, Sp.BTKV.

Rumah Sakit Apung dr. Lie A. Darmawan adalah rumah sakit apung swasta pertama di Indonesia. Rumah sakit ini didirikan oleh dr. Lie A. Darmawan yang juga pendiri Yayasan Dokter Peduli atau doctorSHARE. Beliau lulus sebagai dokter dengan empat spesialis sekaigus yakni ahli bedah umum, ahli bedah toraks, ahli bedah jantung dan ahli bedah pembuluh darah. Dokter Lie sangat aktif mengikuti kegiatan organisasi ketika masih menjadi mahasiswa, Ia merupakan pendiri Mahasiswa Kedokteran Indonesia di Berlin (1971) dan juga pengurus Perhimpunan Dokter Indonesia di Jerman Barat (1981-1984).

Suatu hari, Dokter Lie bertemu seorang ibu dan anaknya yang berumur 9 tahun yang sedang sakit di salah satu pulau di Indonesia. Mereka menempuh perjalanan laut selama 3 hari dan 2 malam hanya untuk menerima pertolongan medis dari Dokter Lie. Beberapa hari setelah Dokter Lie menolong anak itu, ia selalu bermimpi tentang peristiwa tersebut. Hingga beiau memutuskan untuk mendirikan rumah sakit apung swasta pertama.  Dokter Lie juga selalu mengingat perkataan ibundanya yang berkata “…Lie, kalau kamu jadi dokter, jangan memeras orang kecil atau orang miskin. Mungkin mereka akan membayar kamu berapapun tetapi diam-diam mereka menangis di rumah karena tidak punya uang untuk membeli beras”

Rumah sakit apung ini memiliki bermacam fasilitas seperti ruang operasi, ruang perawatan, X-ray, USG, dan EKG. Rumah sakit apung ini juga telah melakukan banyak pengobatan dan pembedahan di berbagai penjuru nusantara.

 

  • Prof. dr. Aznan Lelo Ph.D, Sp.FK.

Dokter Aznan Lelo ialah seorang guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Dibalik posisinya sebagai guru besar, beliau juga membuka kegiatan praktik di kediamannya. Namun, beliau tidak memasang papan nama dan tidak memasang tarif. Pasien membayar jasa konsultasi dan obat racikannya sesuka hati. Resepnya untuk obat apotek pun terjangkau.

Dokter Aznan menanamkan prinsip di dalam dirinya untuk tidak terlalu bernafsu memikirkan harta duniawi. Beliau yakin bahwa rezeki itu berasal dari Allah, dan Allah telah mempersiapkan rezeki pada dirinya. Beliau menanamkan prinsip tersebut sejak kecil hingga dewasa dan menjadi sebuah keyakinan yang kuat.

Dokter Aznan membuka jam praktiknya dimulai dari pukul 17.00 WIB. Tempat praktiknya selalu dipadati oleh pasien. Kadangkala ia harus membuka praktik hingga dini hari akibat dari banyaknya pasien yang datang. Di meja registrasi di ujung garasi itu disediakan amplop-amplop putih bergaris putih biru-merah. Pasien yang sudah sering datang pasti sudah tahu cara dan jumlah pengisian amplop untuk tarif “ikhlas hati” itu. Amplop yang sudah diisi dibawa masuk ke ruang praktik saat diperiksa, dan seusai pemeriksaan ditinggal di meja Dokter Aznan. Bagi yang belum tahu dan menanyakan biaya, ada kalanya kena semprot kegusaran dan ketersinggungan Pak Dokter.

Kadang Dokter Aznan memberikan obat hasil racikannya sendiri, kadang pula menuliskan resep. Obat-obat yang dipilihnya pun generik, bisa diperoleh di banyak apotek dengan harga terjangkau.

 

  • dr. Michael Leksodimulyo, MBA, M.Kes.

Dokter Michael Leksodimulyo dijuluki sebagai dokter ‘spesialis gelandangan’. Dokter lulusan Universitas Sam Ratulangi ini tidak memilih bekerja di rumah sakit swasta atau membuka praktik mahal sendiri. Melainkan berkeliling mencari pasien-pasien miskin.

Setiap harinya, dia mengunjungi berbagai daerah yang dihuni masyarakat kurang mampu untuk memberikan pengobatan gratis. Karena pengabdian yang ia lakukan tersebut, ia dijuluki seperti itu. Beliau melakukan kegiatan ini bersama dengan Yayasan Pondok Kasih Surabaya.

Jalan hidup yang ia pilih ini sudah ia tentukan ketika masih duduk di bangku sekolah. Beliau setiap hari melihat banyak sekali gelandangan dan ingin membantu meringankan hidup mereka. Ia langsung mematri hatinya untuk mengambil kuliah kedokteran agar suatu saat bisa melakukan sesuatu untuk membantu para gelandangan.

Sebelum beliau terjun langsung mengabdi ke masyarakat, ia memiliki jabatan di bagian jajaran direksi di salah satu rumah sakit. Namun, nikmat duniawi yang berlimpah tersebut beliau tinggalkan demi mengabdi untuk kemanusiaan. Ia juga mengajak sang istri dan anak-anaknya untuk ikut membantu mereka yang kekurangan.

Dokter Michael saat melayani pasiennya, tidak pernah menggunakan masker penutup hidung maupun sarung tangan. Kecuali untuk perawatan luka. Sikap Dokter Michael itu didasari keinginan menghindarkan pasien-pasiennya merasa ditolak. Meski dia pun menyadari keputusannya berisiko sangat besar. Karena bukan hal yang mustahil penyakit pasien menular kepadanya.

Selain memberikan pelayanan kesehatan, Dokter Michael juga membekali pasiennya berbagai keterampilan dan pengetahuan tentang nutrisi. Juga beliau melatih spiritual mereka dengan mengajari cara berbagi. Caranya dengan meletakkan kotak amal di tempat pengobatannya. Karena sehat menurut Dokter Michael bukan sekadar menyangkut fisik dan mental, melainkan juga spiritual. Bila salah satunya belum baik, berarti seseorang bisa dibilang kurang sehat.

 

Masih banyak para dokter mulia yang dimana kegiatan mereka lakukan demi kemanusiaan belum kita dengar. Namun, mereka melakukan kegiatan kemanusiaan tersebut bukan untuk dipamerkan kepada khalayak, tetapi mereka melakukannya dengan seikhlas hati mereka. Melepas hal duniawi untuk kemanusiaan merupakan hal yang berat untuk dikerjakan. Tetapi, ketika melihat mereka yang membutuhkan itu tersenyum, kemudian bisa kembali hidup normal seperti biasa, dan tidak mengalami kesulitan dan kesakitan yang telah dilewati, merupakan suautu kepuasan dan kenikmatan hakiki yang dirasakan oleh manusia.

Dunia ini masih membutuhkan para relawan kemanusiaan baru untuk membantu mereka yang membutuhkan. Kita yang khususnya masih sebagai pelajar, tanamkanlah sifat kemanusiaan dalam hati kita. Apapun itu bidang yang kita tekuni, jangan sampai lupa bahwa ada orang-orang yang belum beruntung dan kita yang berkemampuan harus bisa membantu mereka untuk bangkit menuju ke depan yang lebih baik.

http://www.doctorshare.org/en/index.php/news/2015/04/16/18/short-bio-of-doctorshare-039-s-founder-dr-lie-dharmawan.html

http://www.wajibbaca.com/2016/03/aznan-lelo-seorang-dokter-yang-tidak.html

http://wanitaindonesia.co.id/index.php?view=viewarticle&id=17100113

http://www.tribunnews.com/nasional/2017/11/03/kisah-dokter-gelandangan-rela-setiap-hari-blusukan-ke-kawasan-kumuh-ini-tujuannya?page=all