logo ppid

Hingga 13 Maret terdapat 61 negara di Afrika, Asia, Eropa, Timur Tengah, Amerika Utara dan Amerika Selatan yang telah mengumumkan atau menerapkan pembatasan pembelajaran sekolah dan universitas. United Nations of Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menyediakan dukungan langsung untuk seluruh negara di dunia, termasuk solusi pembelajaran jarak jauh di masa COVID-19.  Berdasarkan data yang diperoleh dari UNESCO, penutupan sekolah akan melibatkan 421.388.462 anak di dunia tidak pergi ke sekolah.

Di Indonesia,  sejak diberlakukannya social distancing. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mendukung kebijakan pemerintah daerah untuk meliburkan sekolah-sekolah di daerahnya. Selain itu Nadiem juga meniadakan UN tahun ini, meniadakan ujian sekolah, bahkan membuat aturan khusus terkait kenaikan kelas dan penerimaan siswa baru sekolah. Hal ini dilakukan untuk menekan angka penyebaran COVID-19.

Semua lembaga pendidikan di semua jenjang pendidikan serempak memberlakukan kelas online, begitupun di Universitas. Langkah ini tentu bagus sekali, hanya pemerintah tetap perlu melakukan pengawasan terhadap keberlangsungan belajar di rumah, apakah efektif dan berhasil atau tidak.

Jika kita petakan secara geografis maka wilayah Indonesia berdasarkan kategorinya terbagi menjadi dua wilayah, wilayah perkotaan dan wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Permasalahan proses belajar di sekolah perkotaan seperti kendala jaringan website, teknologi yang tidak memadai, lemah sinyal, juga biaya paket internet perlu ditinjau. Lalu apakah orang tua anak murid benar-benar membantu proses belajar anaknya di rumah. Jangan-jangan anak malah lebih sering memainkan game online-nya ketimbang mengikuti proses pembelajaran di kelas online.

Lalu bagaimana dengan anak murid yang tinggal di desa, di daerah 3T. Anak-anak yang tidak memiliki fasilitas teknologi dan jaringan, memiliki fasilitas buku sedikit, belum juga orang tua mereka yang kebanyakan tidak tertarik dengan pendidikan sehingga tidak acuh terhadap proses belajar anaknya di rumah. Orang tua yang lebih menyukai anaknya membantu mereka di ladang dan kebun daripada bersekolah. Ketidakadaan fasilitas membuat anak-anak yang tinggal di wilayah dalam lebih rentan mengalami putus belajar.

Yang disebutkan di atas adalah sekelumit permasalahan yang perlu diperhatikan pemerintah, yaitu tentang kekhawatiran ketidakberhasilan proses pembelajaran online selama karantina COVID-19 baik di kota maupun di daerah 3T. Hal ini tentu harus segera ditinjau dan dibenahi agar tidak berdampak panjang. Siswa yang harus tertunda proses pembelajarannya akibat penutupan sekolah akan mengalami trauma psikologis dan mengalami demotivasi belajar.

Untuk itu diperlukan sebuah kebijakan lebih lanjut dari pihak pemerintah baik pusat maupun daerah untuk memonitoring kegiatan belajar mengajar di rumah dan memikirkan strategi khusus yang mengikat orang tua terlibat aktif dalam proses belajar di rumah. Pemerintah juga perlu memfasilitasi buku pelajaran dan buku bacaan tambahan untuk anak terlebih untuk mereka yang tinggal di wilayah 3T.

Sebagai bangsa yang besar, Indonesia harus mampu beradaptasi dengan dampak pandemi ini, terutama dalam reformasi pendidikan. Dengan pengelolaan yang baik Indonesia akan tetap dapat mendidik generasi emasnya dan meneruskan mimpinya menjadi negara maju.

Penulis: Sunarto Natsir, Education Management Anadolu University. Turki

Editor: Nuansa Garini, Mass Media, Pusat Media dan Komunikasi, PPI Dunia 2019/2020

       Kehidupan manusia tidak lepas dari tempat tinggalnya, apalagi di zaman modern ini orang-orang mendabakan tempat tinggal terbaik untuk hidupnya. Ya, itu wajar karena tempat tinggal dan lingkungan dapat mempengaruhi kehidupan seseorang. Tempat tinggal yang baik bisa membuat seseorang menjadi lebih baik, begitupun sebaliknya. Namun yang jadi pertanyaan bagaimana karakteristik kota baik, di mana tempatnya. Banyak peneliti mengukur dan mendefinisikan kota paling layak huni, dinilai dari tingkat stabilitas keamanan, budaya, lingkungan, kesehatan, pendidikan dan infrastruktur. Seperti kota Wina di Austria, Sydney di Australia, Calgary di Kanada, Tokyo Di Jepang yang mendapat penilaian kota terbaik dan paling layak dihuni di muka bumi.

       Berbeda dengan imaji peneliti, menurut Islam, Al-Madinah AL-Munawwaroh adalah kota paling layak huni, disusul dengan Makkah. Kota tempat lahir agama Islam ini konon seluruh perbatasannya dijaga malaikat. Kota di mana Rasul tinggal selama kurang lebih 20 tahun. Kota yang di dalamnya terdapat taman surga dan masjid Nabawi. Sebuah masjid terbesar kedua di dunia setelah Masjidil Haram di kota Makkah. Sebuah masjid yang menjadi pusat pembelajaran kajian keislaman dan halakah tahfiz Qur’an. Kota ini dipenuhi keberkahan sebagaimana disebutkan dalam hadis Sa’ad bin Abi Waqqosh radhiyallohu ‘anh:

      "الْمَدِيْنَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ"

Kota Madinah adalah kota terbaik untukmu sekalian jika kamu mengetahuinya. (H.R Muslim 1363).

       Al-Madinah berarti  kota dan Al-Munawwarohartinya bercahaya, jadi Al-Madinah Al-Munawwaroh adalah kota yang senantiasa bercahaya. Selain itu kota Madinah juga memliki banyak nama lain seperti pada “Tarikh Al Madinah AL Munawwroh”  karya Syeikh AL-Mubarokfury menyebutkan Madinah memiliki nama lain sebanyak 29 nama, salah satunya Al mahabbah, An Naajiyah, Daarulhijrah, AL Mukhtaroh, Al Muharommah, Al Mubaarokah dan Thâbah atau kota yang baik dan mulia), Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:    

"إِنَّ اللهَ سَمَّى الْمَدِيْنَةَ طَابَةً"

Sesungguhnya Allâh menyebut kota Madinah dengan (nama) Thâbah. (H.R Muslim 1385).

      Nabi juga pernah bersabda dalam sebuah hadis yang menyebutkan siapa yang meninggal di tanah Madinah maka ia akan mendapat syafaat.           

“مَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَفْعَلْ، فَإِنِّي أَشْفَعُ لِمَنْ مَاتَ بِهَا”

“Siapa yang bisa memilih mati di Madinah, silahkan dia lakukan. Karena saya akan memberi syafaat bagi mereka yang mati di Madinah”. (HR. Ahmad 5437, Tirmidzi 4296).

Hadis-hadis di atas menceritakan keutamaan kota Madinah dan tinggal di dalamnya. Karena terdapat keberkahan yang luar biasa banyak. Dengan ini kota Madinah dinamakan kota paling layak huni berdasarkan keterangan dari hadis-hadis tersebut.

Penulis: Muhammad Abdul Aziz, Mahasiswa Fakultas Hadis di  Islamic University of Medina, PPMI Madinah

Editor: Nuansa Garini, Mass Media, Pusat Media dan Komunikasi, PPI Dunia

Mari kita mulai dengan sebuah pertanyaan. “Pada umur berapa rata-rata manusia mulai bisa mengingat?”. Aku kira, untuk mengingat kapan kita mulai dapat mengingat cukup sulit. Aku sendiri tidak ingat. Tapi bagaimana dengan pertanyaan ini, “Siapa nama gurumu di kelas 1 SD”?. Aku akan menjawab “Bu Neneng” dan aku dapat menggambarkan perawakannya dengan cukup baik. Lalu bagaimana dengan pertanyaan ini, “Siapa nama gurumu ketika kamu masih di Taman Kanak-kanak (TK)?”. Aku tidak dapat mengingat siapa guruku pada waktu itu, tapi aku dapat mengingat beberapa keping gambar abstrak bersama beberapa temanku terekam di dalam memori. Bagaimana denganmu?. Jika kita sepakati, dua pertanyaan terakhir menunjukkan bahwa rata-rata manusia mulai dapat memfungsikan daya ingatnya sekitar umur 5 sampai 6 tahun. Dan ingatan serta kemampuan berfikir mulai berfungsi sempurna pada umur 7 sampai 8 tahun. Maka dari itu sekolah dasar biasanya memiliki batas umur minimal untuk menerima siswa baru, yaitu  7 tahun. 

Kemampuan mengingat dan berpikir adalah salah satu ciri yang paling menonjol yang dimiliki manusia. Tidak ada satu pekerjaan manusiapun yang tidak berangkat dari hasil olah pikirnya sendiri, baik secara sukarela maupun terpaksa. Pada umumnya, manusia cenderung melakukan sesuatu yang ia suka, ia butuhkan, dan atau ia inginkan. Semua ini dipengaruhi oleh naluri dan informasi yang ia miliki. Naluri manusia membutuhkan makanan, sehingga ia akan selalu terdorong untuk mencari makanan dan memakannya ketika ia lapar. Sama halnya dengan informasi, seseorang yang membutuhkan makanan berprotein tinggi dan ia tahu bahwa salah satu makanan yang mengandung protein tinggi adalah ikan, ia akan menjadikanya sebagai salah satu yang masuk ke dalam daftar makanan sehatnya. Begitu seterusnya pada setiap kelakuan hewan berakal ini. Dan pada akhirnya, apa-apa yang dikerjakan oleh manusia bermuara pada satu naluri mendasar, ialah kebahagiaan. 

Semua manusia ingin bahagia. Aku, kamu, dia, mereka, kita dan kata ganti lainnya menginginkan kebahagiaan. “Apa itu kebahagiaan?” adalah salah satu pertanyaan yang percuma diungkapkan, seperti memukul udara kosong. Sama halnya dengan orang yang bertanya “Apa itu manis”?, karena kedua pertanyaan tersebut tertuju kepada rasa, dan rasa tidak pernah cukup terwakilkan dengan kata-kata. Di salah satu tweet, aku pernah mengutip kata-kata Prof. Dr. Quraish Shihab, di dalam salah satu karya tulisnya beliau mengatakan “Jangan bertanya apa itu jeruk manis, tidak perlu juga membawanya ke laboratorium untuk mengukur kadar manisnya. Makan dan rasakanlah!”. Dengan demikian, kita tidak dapat mengurai hakikat makna kebahagiaan itu sendiri. Tapi mari mencoba mengais sisa-sisa yang dapat kita lakukan untuk membahasnya.

Benar, kita akan membahas kebahagiaan.

Jika kata-kata tidak mampu untuk mengungkapkan yang satu ini, maka tersisa bagaimana cara kita mencapainya. Sebenarnya, tanpa perlu menanyakan apakah seseorang sudah menempuh jalan untuk mencapai kebahagiaan, mereka pasti telah dan sedang menempuhnya. Hanya saja, karena ini adalah sebuah naluri, sehingga kebanyakan manusia merasa tidak perlu untuk membahasnya. Dari kebanyakan manusia ini, ada segelintir orang yang rela berpikir keras untuk mencapai kebahagiaan hakiki. Aku yakin kalian juga sudah mulai menebaknya. Benar, mereka adalah para filsuf. Dan sekali lagi benar, mereka berasal dari Yunani. Mungkin kalian sudah tidak asing dengan nama-nama seperti: Socrates, Plato, Aristoteles. Jika demikian, maka itu adalah kabar baik karena pembicaraan ini akan terasa lebih relate untuk kita semua. “Siapa mereka?”, mereka adalah para pencari kebahagiaan. Dan “Apakah mereka menemukannya?”, mungkin. Yang jelas, mereka memiliki pandangan dan cara yang berbeda untuk mencapainya. Tiap-tiap dari mereka telah menggagaskan cara berpikir yang baru untuk mencapai apa yang dinamakan kebahagiaan. Setelah ketiga orang ini berlalu, pikiran mereka tetap kekal. Gagasan-gagasan yang pernah diusung rupanya tidak berhenti dengan berhentinya kehidupan mereka. Tapi maaf, aku tidak dapat menuliskan pikiran apa yang mereka gagas di kehidupan ini. Hanya sekedar menyinggung ketiga tokoh tersebut karena apa yang terjadi setelahnya lah yang akan menjadi poin penting untuk kita.

Kalian tahu apa yang terjadi setelah mereka berlalu?

Semasa hidup, ketiganya adalah seorang filsuf yang juga seorang guru. Dengan begitu, jelaslah bahwa mereka memiliki murid. Dari murid-murid mereka inilah kemudian berbagai ide dan gagasan yang pernah mereka ciptakan berkembang. Aktifitas olah pikiran yang berlangsung di Yunani ini rupanya membuat mereka menjadi bangsa yang dikenal dunia. Bahkan, sejarah mencatat bahwa ada satu masa dimana masyarakat dunia banyak berperilaku seperti orang Yunani, berbicara dengan bahasa mereka dan berlaku dengan budaya mereka. Periode ini yang berlangsung selama kira-kira 300 tahun, dikenal dengan Helenisme. Karakter dari filsafat helenistik adalah selalu berusaha untuk mengatasi masalah-masalah yang dikemukakan oleh Socatres, Plato, dan Aristoteles. Ciri umum dari filsafat tersebut adalah menemukan cara bagaimana untuk menjalani kehidupan dan menghadapi kematian sebaik mungkin. Tekanan terbesar diberikan pada upaya menemukan apakah kebahagiaan itu dan bagaimana mencapainya. Setidaknya ada empat aliran filsafat Helenistik yang memiliki ide dan kiat-kiat yang berbeda. 

Kita mulai dengan Kaum Sinis atau Sinisme

Konon, suatu hari Socrates sedang memandangi sebuah kedai yang menjual berbagai barang, kemudian ia berujar, “Betapa banyak benda yang tidak aku butuhkan!”. Ungkapan ini bisa jadi merupakan moto dari aliran filsafat ini.

Kaum Sinis adalah satu dari aliran filsafat Helenistik yang dipelopori oleh Antisthenes di Athena sekitar 400 SM. Warna yang menjadi ciri dari filsafat ini adalah bahwa kebahagiaan tidak terletak pada kelebihan materi, kekuasaan, dan atau popularitas. Dan karena kebahagiaan tidak terletak pada hal-hal seperti disebutkan, maka semua orang dapat mencapainya. Jadi, kecenderungan mayoritas manusia saat ini yang bergantung kepada materi dan popularitas merupakan arus balik terhadap aliran ini. Bagi mereka, kebahagiaan sejati terletak pada sesuatu yang tidak mengambang, fundamental dan sederhana. Bahkan kata sederhana disini mungkin melampaui makna sederhana yang kebanyakan orang pahami. Paradigma mereka yang anti-mainstream akan kesederhanaan membuat orang-orang memandangnya dengan aneh. Bagaimana bisa?

Salah satu tokoh terbesar dari  kalangan ini ialah Diogenes, seorang filsuf dari Sinope yang hidup di dalam sebuah tong di tengah kota Athena. Siapapun dapat menyaksikan kesehariannya. Makan, minum, tidur, buang air, berjemur, melamun. Pakaiannya adalah dua helai kain yang hanya cukup untuk menutupi sebagian tubuhnya. Diogenes tidak memiliki apa pun kecuali sebuah mantel, tongkat dan kantong roti. Maka cukup sulit untuk merenggut kebahagiaan darinya. Kisah yang paling masyhur tentangnya ialah ketika Alexander Agung, Raja Macedonia saat itu menghampiri Athena untuk melihat filsuf besar ini. saat tu, Diogenes sedang berjemur, lalu Alexander Agung bertanya, “Apakah ada yang bisa aku lakukan untukmu?”. Lalu ia menjawab, “Ya. Menyingkirlah! Kau menghalangi matahari”. Dengan demikian, Diogenes telah membuktikan bahwasanya ia tidak kalah bahagia dibandingkan dengan pria agung di hadapannya.

Mereka juga beranggapan bahwa kebahagiaan tidak terletak pada kesehatan yang baik. Hal ini tidak berarti mengharuskan mereka untuk selalu berada pada keadaan tubuh yang tidak sehat, melainkan lebih kepada ketidakpedulian terhadap kesehatan itu sendiri. Dengan begitu, tidak ada lagi kekhawatiran pada diri mereka akan sebuah penyakit. Begitu juga dengan penderitaan dan kematian tidak boleh menggangu mereka. 

Lantas, mengapa mereka dinamakan Kaum Sinis?

Disebut sebagai kaum Sinis karena apatisme mereka terhadap penderitaan orang lain. Hal ini menjadi tidak mengherankan setelah mengetahui bahwa penderitaan yang ada pada diri mereka pun diabaikan, apalagi penderitaan orang lain. Kalangan ini juga cenderung tidak mempercayai ketulusan manusia dan kebenaran teoritis. Sama seperti kata “sinis”, yang berarti ketidakpercayaan yang mengandung cemooh, seperti jika kalian mengatakan suatu kebenaran kepada teman-teman, dan satu di antara mereka ada yang memandang sinis seakan tidak percaya dan merendahkan.

Praktek kehidupan sosial yang berdasarkan sikap apatis terhadap penderitaan dan ketidaktergantungan terhadap materi menjadikan mereka seorang asketik. Ketika seseorang telah mencapai tingkatan ini, maka -menurut mereka- kebahagiaan sejati telah didapat.

Selanjutnya adalah Kaum Stoik atau Stoikisme

Aliran filsafat ini dipelopori oleh filsuf asal Syprus bernama Zeno pada sekitar 300 SM. Setelah kapalnya karam, ia bergabung dengan kaum Sinis di Athena. Zeno sering kali mengumpulkan para pengikutnya di sebuah serambi. Nama stoik sendiri berasal dari kata Yunani (stoa) yang berarti serambi atau beranda.

Para pengikut Stoikisme terbilang kosmopolitan, dalam artian mereka lebih mudah menerima kebudayaan kontemporer ketimbang para ”filosof tong”. Jika kaum Sinis krisis akan kepedulian terhadap orang lain, maka kaum Stoik adalah sebaliknya. Mereka banyak memberikan perhatian terhadap persahabatan manusia, sibuk dalam dunia politik dan kebanyakan dari mereka adalah negarawan yang aktif. Salah satu tokoh terbesar dari kalangan ini adalah Cicero (106-43 SM), sang orator, filsuf, sekaligus negarawan. Beberapa tahun kemudian, seorang tokoh Stoik bernama Seneca (4 SM- 65 M) mengatakan bahwa “Bagi umat manusia, manusia itu suci”. Ungkapan ini kemudian menjadi slogan humanisme sampai sekarang.

Ajaran Stoik yang paling menonjol adalah bagaimana manusia bertindak menurut keteraturan hukum alam yang diselenggarakan Sang Ilahi. Penyakit, penderitaan, kematian adalah bagian dari sebuah rangkaian hukum alam. Tidak ada sesuatu yang terjadi kebetulan, seperti yang dikatakan Holmes bersaudara, “Alam semesta tidak malas”. Segala sesuatu terjadi karena ada sebabnya. Oleh karena itu, mereka menegaskan bahwa manusia hendaknya menerima dengan lapang dada apa-apa yang terjadi padanya. Manusia tidak akan pernah bisa menghindari takdir. Dalam istilah awam, stoikisme kadang-kadang disebut sebagai “menderita dalam kesunyian”. Kini istilah stoic digunakan di dalam bahasa Inggris yang berarti “orang yang sangat tabah”

Kebahagiaan versi stoikisme tidak akan pernah tercapai bagi para pemberontak. Penolakan demi penolakan terhadap apa yang terjadi pada diri seseorang hanya akan menjadikannya semakin sengsara. Sebaliknya, mereka yang berusaha sedikit demi sedikit untuk menanam  sebuah praktek “tawakkal”, yaitu menerima segala yang telah dan akan terjadi, maka suatu saat akan menuai kebahagiaan yang hakiki. 

Dari uraian berikut, dapat ditentukan sebuah titik temu antara kedua aliran diatas bahwasanya keduanya sama-sama menghendaki bahwa manusia harus membebaskan diri dari kemewahan materi. Meski keduanya bertolak dari ide seorang filosof yang sama, yaitu Socrates, tuan dari proyek filsafat “Bagaimana cara manusia menjalani kehidupan dengan baik”, ia -Socrates- juga memiliki seorang murid yang mana gagasannya sedikit berbeda dengan para pendahulunya. Ialah Aristippus. Ia percaya bahwa tujuan hidup adalah kenikmatan indriawi setinggi mungkin. Katanya, “Kebaikan tertinggi adalah kenikmatan dan kejahatan tertinggi adalah penderitaan”. Tujuan dari ungkapan ini ialah usaha untuk menghindari penderitaan, yang mana bertolak belakang dengan dua aliran terdahulu yang berpedoman denagan “menahan penderitaan” tersebut.

Gagasan Aristippus ini kemudian menjadi salah satu corak yang paling menonjol dari kaum selanjutnya, yaitu  kaum Epikurian atau Epikurianisme.

Sama seperti pendahulunya, Epikurianisme juga merupakan aliran filsafat yang berkembang pada periode Helenisme yang didirikan oleh Epicurus (341-270 SM) di Athena sekitar 300 SM. Filsafat ini menggabungkan dua mega ide dari Aristippus dan teori atom Democritus. Mereka juga dikenal sebagai “para filosof taman” karena di sana lah mereka hidup. Di atas gerbang masuk menuju taman, tertulis kalimat yang seakan-akan menginformasikan bahwa taman ini merupakan tempat terbaik bagi mereka yang sudah terlalu gerah dengan anggapan bahwa menahan penderitaan adalah baik untuk mereka, kalimat itu bertuliskan “orang asing, di sini kalian akan hidup senang. Di sini kenikmatan adalah kebaikan tertinggi”. 

Seperti yang telah disinggung, filsafat ini mengandung gagasan seorang Aristippus. Kenikmatan indrawi menjadi sangat penting untuk dipenuhi demi mencapai kebaikan dan kebahagiaan tertinggi. Kaum Epikurian juga menekankan bahwa kenikmatan tidak lantas hanya kenikmatan indrawi saja, nilai-nilai seperti persahabatan dan penghargaan terhadap kesenian termasuk di dalamnya. Akan tetapi, hasil-hasil yang menyenangkan dari suatu tindakan harus dipertimbangkan efek sampingnya. Jangan sampai hanya karena kalian menginginkan iphone 11, kemudian menangguhkan uang saku dan membuka tabungan yang pas-pasan untuk membelinya. Lalu kebutuhan lain yang terbilang primer malah terbengkalai, tidak dapat tercukupi. Juga jangka waktu dari kenikmatan tersebut, jika kenikmatan itu berjangka pendek, maka lebih baik ditahan demi kemungkinan mendapatkan kenikmatan yang lebih hebat, lebih kekal dan lebih besar dalam jangka panjang. Bukankah lebih menyenangkan pergi berlibur ke Inggris, mengunjungi 221B Baker Street tempat tinggal Si Detektif Sherlock Holmes dan temannya dr. Watson (yaa aku tahu dia hanya tokoh fiksi) dari pada menghabiskan uang jajan dan tabungan untuk membeli 200 bungkus pecel lele dalam satu waktu?! (fyi, aku suka pecel lele). 

Mega ide lainnya berasal dari Democritus dengan teori atomnya. Democritus percaya bahwa ada yang dinamakan “atom jiwa” yang mana jika manusia mati, maka atom jiwa akan terurai menyebar ke seleruh penjuru. Dengan ini, ia juga percaya bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian. Rupanya, teori inilah yang menjadi obat bagi para Epikurian untuk menanggulangi ketakutannya terhadap kematian. Mereka berpedoman bahwa untuk menjalani kehidupan yang baik, manusia perlu mengatasi rasa takutnya terhadap kematian. Epicurus mengatakan, “Kematian tidak menakutkan kita. Sebab selama kita ada, kematian tidak bersama kita. Dan ketika ia datang, kita tidak ada lagi”.

Kemudian, Epicurus meringkas filsafatnya dengan apa yang dinamakannya empat “ramuan obat”: Dewa-dewa atau tuhan bukan untuk ditakuti. Kematian tidak perlu dikhawatirkan. Kebaikan itu mudah dicapai. Ketakutan itu mudah ditanggulangi. 

Maka, dengan uraian dan empat “ramuan obat” di atas, manusia dapat mencapai apa yang dinamakan dengan kebaikan tertinggi dan kebahagiaan sejati, setidaknya itu yang dipercaya oleh Epikurian. Kalian percaya itu?

Tersisa satu aliran filsafat, dan yang satu ini adalah yang paling berbeda dari sebelumnya dan bisa dibilang perlu sedikit tambahan tenaga untuk memahaminya secara komprehensif. Maka aku sarankan jika kalian sudah cukup lelah membaca ritus-ritus ini, ambillah segelas air segar dan minumlah secukupnya. Aku juga tidak melarang jika kalian ingin minum teh atau kopi, karena yang terpenting ketika membaca dan mencoba memahami sesuatu adalah kenyamanan. 

Baiklah, jika kalian sudah cukup nyaman untuk membaca kembali, aku perkenalkan aliran filsafat ke empat yang mengalir pada periode Helenisme, aliran filsafat yang paling berpengaruh di akhir periode ini. 

Namanya Neo-Platonisme

Jika tiga aliran filsafat terdahulu semuanya berakar pada ajaran Socrates dan tokoh-tokoh sebelumnya seperti Democritus, maka yang satu ini memiliki kecenderungan filsafat terhadap apa yang diajarkan oleh Plato. Oleh karena itu dinamakan Neo-Platonisme. Tokoh paling penting pada filsafat Neo-Platonisme adalah Plotinus (sekitar 205-270 M) yang berasal dari Alexandria, kota yang menjadi titik temu antara filsafat Yunani dan mistisme timur selama berabad-abad. 

Untuk memahami filsafat Neo-Platonisme, kita perlu memulai dengan gagasan Plato mengenai “Dunia Ide”. Plato percaya bahwa segala sesuatu terdiri dari dua bentuk, yaitu materi dan ide. Ide disini menjadi asal muasal terbentuknya materi. Dimisalkan dengan kue jahe yang berbentuk manusia, atau binatang atau bentuk apapun. Jika kalian ingin membuat banyak kue dengan bentuk yang sama, maka kalian membutuhkan sebuah cetakan kue. Setelah kue jadi, kita dapat melihat bahwa kue satu dengan lainnya memiliki persamaan bentuk, meski juga tidak seratus persen sama. Mungkin salah satu dari kue itu memiliki bagian tangan yang kurang sempurna, dan yang lainnya kehilangan mata, atau perutnya berlubang. Dan itu tidak terjadi pada cetakan kue, kita akan mendapati cetakan kue dalam bentuk sempurna, lebih sempurna dari pada kue-kue tersebut. Kue-kue ini disebut sebagai raga dan cetakan kue yang lebih sempurna itu disebut sebagai ide. Karena itu bagi Plato realitas tertinggi adalah ide. Penjelasan ini juga mengantarkan kita pada sebuah perbedaan antara raga dan jiwa. Maka dari itu manusia disebut sebagai makhluk ganda karena memiliki raga yang temporer dan jiwa yang kekal.

Plotinus sampai kepada pemahaman semisal. Seperti sebuah api unggun besar yang percik cahayanya berterbangan di tengah malam. Baginya, api adalah Tuhan, percikan cahaya adalah jiwa manusia, dan benda-benda lainnya yang dingin karena malam adalah raga. Yang paling dekat dengan Tuhan adalah jiwa, sebagaimana yang paling dekat dengan api adalah percikannya.

Jika plato percaya dengan realitas gandanya, Plotinus tidak demikian. Ia memberikan banyak perhatian terhadap “pengalaman tentang kesatuan”, atau yang disebut dengan “pengalaman mistik”. Ia percaya bahwa segala sesuatu itu berasal dari Tuhan, dan semuanya mangandung pijaran lemah cahaya-Nya. Seperti setetes air yang mengalir menuju samudra, jiwa yang naik menuju Tuhan dan “menjadi Tuhan”. Karena Tuhan adalah sumber segala sesuatu dan pemilik kekuatan terbesar, maka “bersatu dengan-Nya” dapat diterjemahkan dengan apa yang dimaksud dengan kebahagiaan sejati. Itu karena sifat Tuhan yang tidak memiliki ketergantungan terhadap apapun, juga tidak membutuhkan apapun. Ia juga kekal, pantas bukan jika mereka yang berhasil naik dan “menyatu dengan-Nya” merasakan kebahagiaan tertinggi?!.

“Pengalaman mistik” atau “penyatuan” ini dapat dicapai melalui tiga langkah. Langkah pertama adalah penyucian, dimana manusia melepaskan diri dari materi dengan laku tapa. Langkah kedua adalah penerangan, dimana ia diterangi dengan pengetahuan tentang ide-ide akal budi. Lalu, langkah ketiga adalah “penyatuan” dengan Yang Esa yang melebihi segala pengetahuan. 

Dengan begitu, manusia akan sampai kepada tujuan hidup yang paling mulia, sebagaimana yang dituju adalah Tuhan, dan ia adalah Yang Paling Mulia. Berbahagialah bagi mereka yang dapat sampai kepada-Nya di dunia ini. 

Demikian adalah empat aliran filsafat paling masyhur pada periode Helenisme dengan segala gagasan dan ritus kebahagiannya. Masing-masing memiliki jalan yang berbeda untuk menjalani kehidupan dengan baik. Mana yang benar dan mana yang salah bagi manusia akan selalu kembali pada keyakinan. Sejarah juga telah mencatat bahwa mereka semua telah mencapai apa yang mereka anggap sebagai kebahagiaan hakiki. Masih banyak gagasan lain dari aliran yang berbeda yang membahas tentang kebahagiaan. Tapi cukup sampai di sini dulu, kalian mungkin sudah cukup lelah membaca. Terimakasih sudah mau menyempatkan untuk membaca tulisan ini. Sudah waktunya untuk beristirahat. Dan jangan pernah takut untuk berubah.

Sumber:

Gaarder, Jostein. Tanpa tahun. Dunia Sophie. Bandung: Penerbit Mizan PT Mizan Pustaka Anggota IKAPI. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sinisisme, http://wikipedia.org/wiki/Epikurianisme

Penulis: Ferdi Setiawan, PPMI Mesir

Editor: Budi Waluyo, Devisi Mass Media, Pusat Media dan Komunikasi PPI Dunia 2019/2020

Ketahanan Pangan
Sumber: http://igj.or.id/wp-content/uploads/2015/10/pangan.jpg

Keterbatasan akses terhadap kebutuhan pangan sehari-hari berakibat negatif terhadap pemenuhan gizi di Indonesia. Sebagai contoh, data dari Departemen Kesehatan mengungkapkan, hanya terdapat tiga dari 34 provinsi di Indonesia yang menunjukkan persentase balita dengan gizi buruk berada di bawah 10%. Data yang sama menunjukkan terdapat 16 provinsi di Indonesia dengan persentase gizi buruk di atas rata-rata nasional.

Permasalahan terkait kelangkaan pangan tentu tidak selalu identik dengan adanya keterbatasan dari segi sumber daya alam saja, namun juga dapat dipengaruhi faktor-faktor sebagai berikut:

Sebagai contoh, di daerah Samba (perbatasan Indonesia dan Malaysia), Pulau Jawa, Merauke, Papua, dan wilayah timur lainnya yang memiliki potensi sumber daya alam khususnya komoditas pangan sangat melimpah dan potensi kearifan lokal. Namun, adanya keterbatasan modernisasi teknologi pangan, seperti tingkat teknologi diversifikasi pangan yang masih rendah menyebabkan pangan cepat membusuk dan tidak memiliki nilai tambah. Teknologi penggudangan yang kurang memadai dan efektif kemudian menyebabkan komoditas pertanian cepat rusak. Lebih jauh lagi, adanya permasalahan pada sistem transportasi dan distribusi yang kurang efisien mengakibatkan kelangkaan akan sumber pangan masih menjadi permasalahan yang serius.

Permasalahan ini diperkeruh lagi dengan kondisi tingkat pembangunan infrastruktur daerah, jaringan informasi dan komunikasi, juga pengenalan teknologi di berbagai daerah yang sangat terbatas, tidak merata dan kurang memadai sehingga menyebabkan berbagai aktivitas distribusi, akses informasi pasar, dan efisiensi pengolahan dan pengiriman produk ataupun komoditas menjadi suatu permasalahan yang masih sering ditemui. Isu akan teknologi pangan dan pemenuhan gizi di Indonesia memang masih menjadi suatu problematika yang strategis di perbatasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Hal ini mencerminkan bahwa tingkat sumber daya alam yang melimpah bukanlah jaminan bahwa kekurangan pangan dan gizi, bahkan di perkotaan, sekalipun dapat diatasi dengan mudah. Pembuat kebijakan membutuhkan strategi pembaharuan pengelolaan pangan baik dari segi peningkatan kualitas teknologi pangan, perbaikan infrastruktur yang masif, pengenalan teknologi yang efektif, serta adaptasi dan modernisasi teknologi yang bersimbiosis dengan adanya potensi lokal. Oleh karena itu, sebagai salah satu upaya dalam memerangi isu pangan dan gizi ini, tentu kolaborasi dan sinergi berbagai stakeholders di Indonesia seperti dari kaum intelektual (akademisi dan peneliti) dalam memberikan penyuluhan, pendampingan masyarakat, dan kontribusi dalam bidang penelitian sangat dibutuhkan.

Berdasarkan hal tersebut, PPI Jepang, dalam rangkaian kegiatan Annual Scientific Symposium of Indonesian Collegian in Japan 2nd (ASSIGN 2), mengadakan diskusi online melalui channel Youtube PPI Jepang serta Radio PPI Jepang dengan tema “Teknologi Pangan dan Pemenuhan Gizi di Daerah 3T”. Diskusi ini dipimpin oleh bapak Subejo, Ph.D., Alumni University of Tokyo, yang saat ini menjabat sebagai dosen di Universitas Gadjah Mada, dan dimoderatori oleh Ilham Maulidin, mahasiswa pertukaran di Tokyo University of Agriculture and Technology.

Diskusi yang diadakan pada tanggal 28 Februari 2019 yang bertepatan dengan Hari Gizi Nasional ini melahirkan beberapa strategi adaptasi dan solusi yang dapat menjadi rekomendasi perbaikan bagi pemerintah baik di pusat maupun daerah khususnya dalam upaya memerangi kekurangan pangan dan gizi di daerah 3T. Strategi adaptasi dan solusi ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Sumber daya alam yang melimpah di suatu daerah adalah potensi yang luar biasa untuk dioptimalkan. Guna memastikan adanya pemerataan ketersediaan pangan di masing-masing wilayah bahkan menciptakan lumbung pangan yang efektif di suatu daerah, maka upaya perbaikan dari aspek teknologi penyimpanan, pemrosesan, dan pendistribusian perlu untuk dilakukan sebagai langkah awal dalam memberikan peluang adaptasi teknologi diversifikasi produk di suatu wilayah berbasiskan kearifan lokal bisa tercapai. Tentu, dengan upaya-upaya strategis yang sistematis mulai dari pengkajianpotensi dan problem wilayah, perencanaan kebijakan, sampai dengan metode introduksi adaptasi teknologi yang sederhana, serta dengan menggerakan para pemangku kepentingan sampai tingkat kepala desa untuk bersama saling bahu-membahu dalam mewujudkan program daulat pangan di daerah.

2. Mendorong peran multi-stakeholder dalam pemenuhan gizi pada daerah 3T. Pemerintah sebagai core stakeholder dapat memberikan arahan dari pemerintah pusat kemudian dilanjutkan pemerintah daerah untuk mendukung program ketahanan pangan. Contoh salah satu program yang feasible dalam peningkatan ketersediaan pangan di desa adalah program dana desa yang di salah satu regulasinya dapat menunjang aktivitas masyarakat seperti mendukung pembelian benih, penyimpanan, dll, sehingga patut untuk dioptimalkan. Tentu saja dengan kembali mengevaluasi dan meninjau kembali pemberian alokasi pendanaan untuk sektor pertanian yang masih cukup terbatas diharapkan mampu mendorong akselerasi pengelolaan pangan untuk pemenuhan gizi, khususnya daerah 3T.

3. Program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan dapat digunakan untuk membangun sistem pertanian dan pemberdayaan petani sehingga mampu menjadi daya tarik dan motivasi untuk semakin meningkatkan kreativitas dan menjalin kolaborasi yang baik antara pihak swasta dan petani. Poin yang harus diperhatikan dalam pengadaan CSR adalah program yang berkelanjutan. Hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab dari perusahaan terkait saja, namun melibatkan juga pemerintah daerah sehingga program CSR dapat berjalan lebih efektif dan akuntabel.

4. Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) alias Non-Government Organization (NGO) yang bergerak dibidang pertanian, peternakan, maupun perikanan juga dapat membantu pemerintah untuk membantu pendampingan dalam pembangunan teknologi pertanian, pemasaran, budidaya pertanian, dan sejenisnya. Ilmu-ilmu yang mereka miliki dapat menjadikan mereka perpanjangan tangan pemerintahan untuk membantu memajukan sektor-sektor penting, sehingga terjadi percepatan pembangunan pada daerah-daerah tertinggal. 

5. Sistem perhutanan sosial yang dikelola dengan baik oleh pemangku jabatan terkait juga dapat menjadi sumber pangan untuk masyarakat di sekitar hutan sosial tersebut. Melalui budidaya tanaman pangan di sekitar hutan sosial serta pengawasan yang baik dari dinas pemerintahan dalam berjalannya proses penanaman dan penjagaan hutan sosial, dapat diciptakan ketersediaan pangan yang mencukupi untuk kondisi masyarakat sekitar.

6.Teknologi Informasi juga sangat dibutuhkan sebagai infrastruktur utama untuk menghubungkan desa-desa tersebut dan menyampaikan potensinya. Melalui teknologi informasi, sistem pemasaran bisa lebih maju sehingga pemerintah daerah dapat saling bertukar akses dan informasi untuk pemenuhan kebutuhan logistik maupun pemasaran tanpa harus hanya bergantung pada pemerintah pusat. Teknologi informasi yang memadai dapat memacu perkembangan teknologi sehingga permasalahan dalam bidang pertanian lainnya seperti kekurangan tenaga kerja dapat teratasi dengan adanya sistem otomasi pertanian.

7. Simbiosis mutualisme antara modernisasi teknologi pangan dengan potensi kearifan lokal perlu dilakukan untuk semakin meningkatkan efisiensi dan optimalisasi pengelolaan produk pangan. Kearifan lokal suatu daerah juga dapat diaplikasikan pada daerah lain, sehingga pertukaran pengetahuan ini dapat menjadikan semua daerah di Indonesia menjadi sama-sama maju.

Secara bertahap, upaya-upaya tersebut perlu untuk menjadi kajian bersama dalam rangka mencari solusi terbaik atas setiap isu strategis yang saat ini dihadapi terkait pangan dan pemenuhan gizi di daerah. Oleh karena itu, kami berharap akan adanya kolaborasi dan sinergi berbagai stakeholders dalam memerangi isu pangan dan gizi karena hal tersebut adalah kunci dari keberhasilan rencana program pemerintah ke depan yang akan dijalankan untuk memperoleh kedaulatan pangan bagi bangsa Indonesia.

Salam,
Biro Kajian dan Aksi Strategis
Bidang Kajian dan Gerakan
Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang

Tiga Refleksi Pendidikan Tinggi di Australia dengan Indonesia

JawaPos.com - Tak terasa satu tahun telah berlalu sejak saya kuliah S1 di Australian National University (ANU). Ketiban setumpuk bacaan dan tugas membuat saya tidak begitu sempat untuk melakukan refleksi yang mendalam tentang pengalaman saya belajar di Australia dan implikasi dari pengalaman tersebut.

Beberapa minggu terakhir setelah masa libur kampus tiba, barulah saya sempat untuk mendalami apa yang terjadi selama satu tahun hidup saya yang luar biasa ini. Saya menyadari, selain melalui kelas, kuliah di ANU memperkenalkan secara tidak langsung filosofi dan praktik pendidikan tinggi Australia itu sendiri.

Melalui tulisan ini, saya hendak berbagi pengalaman dan observasi tentang saya pendidikan tinggi di Australia. Saya berharap melalui pengalaman saya yang tak seberapa, para pembaca tetap dapat membandingkan, mempertimbangkan, dan mungkin mempertanyakan praktik dan aspek dari bidang pendidikan tinggi di tanah air.

Tiga Refleksi Pendidikan Tinggi di Australia dengan Indonesia
Kevin Marco Tanaya (Kevin for JawaPos.com)

1. O-Week, Ospek Tanpa Senioritas

Masa Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) ANU berlangsung selama seminggu mulai dari 12 Februari 2017.  Namun, Ospek yang dilakukan di ANU amat berbeda dengan apa yang biasa kita lihat di Indonesia. Kegiatan Ospek atau ‘O-Week’, dibuka dengan acara induksi sampai dengan commencement speech oleh Brian Schmidt, Vice-Chancellor  ANU yang menandakan dimulainya semester satu.

Memang semua kegiatannya bersifat tidak wajib alias suka-suka kita mau hadir ke suatu sesi atau tidak. Meskipun, direkomendasikan untuk datang di sesi tertentu. Saya perhatikan, semua kegiatan bersifat edukatif dan profesional.

Tidak ada acara atau instruksi aneh-aneh. Para mahasiswa baru diperlakukan sepantasnya orang dewasa. Tidak ada kesenjangan dengan para senior, bahkan mereka hadir untuk membantu administratif kegiatan seperti menyambut di pintu, membantu mengurus hal yang berkaitan dengan IT, bagi-bagi merchandise, dan berbagi pengalaman.

Llewellyn Hall, Tempat Sesi Induksi Undergraduate ANU

Pengalaman ini membuat saya berpikir tentang kegiatan Orientasi yang dilakukan di perguruan tinggi di tanah air. Mengapa desain ospek di Indonesia cenderung jauh berbeda dengan negara lainnya? Tak jarang saya membaca berita tentang kejanggalan- kejanggalan yang terjadi saat ospek di negara tercinta.

Padahal, menurut saya, tujuan ospek sejatinya untuk memperkenalkan kampus, presentasi dan tur yang diadakan oleh para staff universitas dan departemen rasanya cukup. Nah, jika tujuan ospek adalah untuk melatih disiplin dan kesopanan, ospek di Indonesia terasa tak sejalan dengan tujuannya. Saya tidak merasa ada korelasi antara menuruti perintah-perintah yang bisa jadi nyeleneh dengan pengembangan disiplin dan etika akademik mendasar seperti kejujuran dan ketepatan waktu.

Di sisi lain, saya juga meragukan dalih bahwa Ospek bertujuan untuk mengajarkan hormat dan solidaritas angkatan. Tentu tak ada salahnya menghormati orang yang lebih tua, namun apakah senior universitas harusnya dipertuakan? Umur senior-junior rata-rata hanya berbeda tipis (kecuali jika senior Ospek kebetulan ‘terlalu betah’ kuliah).

2. Pedagogi Berbasis Tanggung Jawab dan Critical Thinking

Ketika masih SMA, saya selalu diwanti-wanti oleh guru bahwa nanti di universitas ‘nggak ada lagi yang nyuapin kamu!’. Guru-guru bicara dalam konteks perguruan tinggi Indonesia. Tapi, perkataan mereka juga tepat untuk mahasiswa ANU. Sebagai International Student, saya diwajibkan mengambil 4 mata kuliah per semester, masing-masing berharga 6 units. 

Rata-rata murid di ANU dapat lulus dengan gelar Bachelor setelah dapat 144 units (atau sekitar 3 tahun). Namun karena saya ambil gelar ganda dengan sistem Flexible Double Degree, saya harus menyelesaikan 240 unit atau sekitar 5 tahun.

Masing-masing mata kuliah hanya butuh 3-5 jam kuliah tatap muka per minggu. Sampai-sampai, Ibu bertanya apakah saya benar-benar kuliah. Tapi tidak berarti bahwa datang ke kelas saja cukup. Untuk melahap semua mata kuliah, saya membutuhkan minimal 6 jam studi independen di luar jam perkuliahan, bahkan seringkali lebih.

Konsisten dengan pandangan ANU yang melihat setiap mahasiswa adalah orang dewasa, dengan sistem flipped classroom, ANU mencoba mendorong rasa tanggung jawab pribadi atas nilai dan pendidikan setiap muridnya. Akan tetapi, ini tak berarti bahwa mereka boleh cuek. Semua jenis lecture (kelas besar) direkam dan dapat ditonton kembali untuk revisi. Dosen dan tutor selalu siap dan datang tepat waktu, plus sangat terbuka untuk pertanyaan dan diskusi baik didalam maupun di luar jam kelas.

Keterbukaan para dosen dan tutor amat terkait dengan keinginan ANU untuk mendorong pemikiran kritis. Tentu ujian tengah dan akhir semester yang menonjolkan hafalan masih ada. Tapi mayoritas pembelajaran didesain untuk memberi insentif bagi para murid untuk mengembangkan argumen yang kritis dan original. Mayoritas tutorial (kelas kecil) diisi dengan adu pikiran baik antara para murid atau antara murid dengan dosen. Tentu dengan dibimbing daftar bacaan dan topik yang didiskusikan di lecture. Menurut saya, cara pendidikan seperti ini amatlah memperkaya dan mendidik.



3. Kampus Tak Pandang Remeh Kasus Pelecehan Seksual

Pada Agustus 2017, Australian Human Rights Commission (Komnas HAM Australia) menerbitkan laporan mengenai kekerasan dan pelecehan seksual di kampus-kampus Australia. Hasilnya sungguh memprihatinkan. Satu dari empat murid universitas di Australia melaporkan bahwa mereka dilecehkan secara seksual di dalam kampus sepanjang 2016.

Mahasiswi 2 kali lipat lebih mungkin untuk mengalami pelecehan seksual dan 3 kali lipat lebih mungkin untuk mengalami penyerangan seksual dibandingkan 
mahasiswa. Pelajar internasional juga tidaklah luput dari tindakan ini. Sebanyak 22 persen melaporkan bahwa mereka pernah dilecehkan secara seksual di Negeri Kanguru.

Saya yang ketika itu masih pelajar program persiapan untuk masuk ke ANU, kaget mendengar statistik itu. Kekagetan berubah menjadi rasa malu dan kecewa ketika saya mendengar bahwa ANU, universitas nomor 1 di Australia bersama Bond University menduduki peringkat satu dalam persentase keseluruhan responden yang mengalami pelecehan seksual di setting 
universitas atau sekitar 38 persen.

Belakangan ini, saya juga menaruh perhatian pada kasus Agni, seorang mahasiswi Universitas Gajah Mada. Melihat perkembangan kasus tersebut dan diskursus yang mengitarinya, saya prihatin tapi tidak terkejut. Ini karena hal-hal seperti kultur victim-blaming sampai sistem pelaporan yang tidak cukup, juga hadir di kasus Agni seperti halnya di ANU.

Menciptakan sistem untuk meniadakan kekerasan dan pelecehan seksual di universitas akan sulit, tetapi mengubah budaya akan jauh lebih penting. Saya berharap, kita sampai pada budaya di mana tidak ada lagi upaya menyalahkan atau menyepelekan korban pelecehan dan kekerasan seksual, baik perempuan maupun pria.

Budaya yang kita bisa berkata kepada mereka:  We hear you, we believe you, we are here for you. Yang lebih penting lagi: how can we really help?, sehingga semakin banyak ‘Agni’ lain yang berani bersuara.

Saya masih akan menempuh 4 tahun lagi pendidikan di Australia. Perjalanan masih panjang. Namun saya tak ragu bahwa pengalaman dan pemahaman saya akan terus berkembang, karena satu tahun ini telah mengajarkan saya banyak hal.

*Mahasiswa program Flexible Double Degree (Law & Politics, Philosophy and Economics), anggota PPI Dunia

The Australian National University, Australia

Perkenalkan, nama saya Arum Faiza. Saat ini saya sedang menempuh kuliah di Paris 13 University, Perancis dengan jurusan Master Santé Sécurité Au Travail. Susah dilaflakan memang, dalam Bahasa Indonesia itu jurusan Magister Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Saya kuliah dengan beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pemerintah) Indonesia.

Negara yang punya julukan romantis itu ternyata tidak seromantis yang dibayangkan. Khususnya, sebagai seorang mahasiswa. Kuliah S2 di perguruan tinggi di Perancis ternyata menuntut jadwal yang padat. Layaknya anak sekolah di Indonesia.

Bedanya, jadwal mata kuliah dan jamnya saja yang berbeda-beda setiap minggunya. Kami harus mengecek-nya online di portal mahasiswa setiap kampus untuk mengetahuinya. Selebihnya, bisa dikatakan sama. Dari Senin sampai Jumat. Jadwal istirahatnya juga hanya satu jam. Antara pukul 13.00 sampai 14.00.

Kepadatan itu terasa di Minggu ke-46 perkuliahan yang jatuh pada 12 sampai 16 November 2018. Kuliah pada senin dimulai pukul 11.00 dan berakhir pada pukul 17.00. Pada Selasa dan Rabu malah dimulai lebih pagi yakni pukul 09.00. Sedangkan kuliah paling lama pada Kamis. Dari pukul 10.00 sampai 19.30.

Pada Jumat, saya hanya menjalankan satu mata kuliah saja. Dari pukul 14.30 sampai 18.30. Kuliah yang padat dan tugas menumpuk, jika tidak diimbangi dengan “bersenang-senang”, maka akan menimbulkan stress. Saya menyiasatinya dengan menulis buku atau membuat vlog pribadi yang baru rilis 2 minggu lalu. Tepat ketika sedang liburan musim gugur.

Mungkin akan muncul pertanyaan, seperti: kok masih bisa ya, menulis dan nge-vlog di saat jadwal kuliah padat. Menurut saya, ini bisa disiasati dengan memanfaatkan waktu pada akhir pekan alias weekend. Setiap Sabtu dan Minggu saya refresh otak dengan mencari objek-objek yang menarik untuk dijadikan materi vlog.

Selain itu, saya masih aktif di dunia tulis menulis karena memang hobi. Beneran! Seperti Inilah cara ampuh untuk atasi stress. Setidaknya, versi saya.

Di lain sisi, saya bukan tipikal pelajar yang datang, duduk, pulang, nugas. Saya suka berorganisasi. Ketika di luar negeri, saya kehilangan momen berorganisasi. Jadinya, ngevlog dan menulis yang menjadi obatnya.

Apakah harus vlog dan menulis? Tentu tidak! Tergantung hobi kamu, yang jelas lakukan apa saja yang penting bisa bermanfaat untuk orang lain. Suka nyanyi? Silakan weekend buat lagu. Suka fotografi? Di sini cari spot menarik. Suka desain? Bisa dimaksimalkan. Jangan sampai, kuliah membuat hobimu terbengkalai.

Sebagai seorang mahasiswa, memang dituntut untuk bisa manajemen dengan baik. Mulai dari manajemen waktu, tenaga, sampai pengeluaran bulanan. Tapi perlu diingat, bahwa tugas utama mahasiswa adalah belajar dan lulus tepat waktu. Jadi, jangan sampai kegiatan yang kamu sukai malah mengganggu kuliah kamu ya.

Selamat berkarya!

Potongan vlog Arum saat mengunjungi katedral Katolik di Strasbourg, Alsace, Perancis. (YouTube Arum Faiza)

Tulisan ini ditulis oleh Arum Faiza , Mahasiswa S2 Santé Sécurité au Travail (Magister Kesehatan dan Keselamatan Kerja) Paris 13 University dan Penulis 20 buku

Artikel ini telah dimuat di https://www.jawapos.com/internasional/24/12/2018/menulis-dan-nge-vlog-jadi-pilihan-hadapi-stress-kuliah-di-perancis pada tanggal 24 Desember 2018


Sumber : https://cdn.yukepo.com/content-images/main-images/2017/09/28/main_image_12098.jpg

Perhimpunan Pelajar ditanam bibitnya sejak sekitar awal abad 20 oleh Mohammad Hatta. Tujuannya satu: menghidupkan diskursus dan pergerakan untuk kemerdekaan Indonesia. Narasi dan diskusi soal penentangan penjajahan di muka bumi, nilai-nilai kesetaraan, hak dan kemanusiaan, serta strategi agar kata ‘Merdeka’ berhak disandang oleh Indonesia saat itu terus diwacanakan. Alhasil, kurang dari setengah abad kemudian, masih dalam generasi yang sama, Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya yang salah satunya diwakili oleh sang pelopor, Mohammad Hatta.

Zaman terus berkembang. Jumlah pelajar Indonesia yang mendapatkan didikan serta referensi kebudayaan dan politik di luar bumi pertiwi pun kian bertambah. Diaspora Intelektual Indonesia kian menyebar di berbagai sektor dan negara. Bahkan mungkin, hampir di setiap kota besar di dunia setidaknya terdapat segelintir orang Indonesia yang belajar maupun berkarir. Hidup dalam tatanan masyarakat internasional. Seiring persebarannya yang meluas, maka kelompok-kelompok Indonesia pun mulai bermunculan. Baik berbentuk kelompok informal, komunitas dengan minat atau bidang tertentu hingga Perhimpunan Pelajar Indonesia yang digarap dengan cukup serius.

Saat ini, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) memiliki radius yang beragam: dunia, negara, kota, bahkan hingga level universitas. Tentu, ini bukanlah tingkatan yang menunjukkan bahwa satu bentuk PPI berada lebih tinggi posisinya daripada PPI lain. Misal, PPI Dunia tak bisa memberikan komando begitu saja kepada PPI sebuah negara, apalagi di sebuah kota, seberapa besar pun jumlahnya. Walau bagaimanapun, perbedaan cakupan ini bersifat koordinasi yang selayaknya saling dukung satu dengan lainnya.

Memang susah jika ditanya berapa tepatnya jumlah pelajar Indonesia, khususnya mahasiswa, yang tengah melanjutkan studi di luar Republik Indonesia. Pasalnya, tak semua orang berkenan untuk mengisi data di KBRI, maupun bergabung bersama PPI. Yang jelas, jumlahnya sangat banyak dan tak bisa dinafikkan bahwa ada potensi besar darinya yang belum digugah secara optimal.

Untuk memahami hal ini, mari mulai dengan membahas pembagian positioning dari tiap spektrum PPI. Di universitas, atau yang biasa disebut Indonesian society (indosoc) fokus besarnya berada di ranah penjaringan anggota karena relatif dekat dengan kehidupan keseharian pelajar. Hal ini pun bisa relatif mudah dilakukan secara bekerjasama dengan kampus dalam hal mengetahui jumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di universitas tersebut. Selangkah lebih jauh, hal lain seperti peminjaman ruang kampus hingga kegiatan atau kerjasama dengan society dari negara lain pun mungkin dilakukan. Untuk konteks yang lebih besar, PPI Kota pun tetap memiliki porsi besar dalam fungsi kekeluargaan mahasiswa Indonesia. Terlebih lagi, jika di suatu kota hanya terdapat satu universitas, atau mahasiswa Indonesia yang ada terfokus di satu universitas tertentu. Maka, peranan tersebut bisa disatukan dengan apa yang biasa dilakukan oleh indosoc. Uniknya, tak sedikit pula PPI Kota yang melebarkan langkah di luar pemenuhan fungsi kekeluargaan, melainkan dalam hal akademik seperti pelatihan penulisan academic writing, diskusi dan seminar dengan topik tertentu, hingga festival kebudayaan. Sehingga tak bisa disangkal bahwa PPI Kota, bersama indosoc, berada pada level akar rumput dalam menyentuh permasalahan dan menggali potensi dari diaspora intelektual muda Indonesia. Jika bicara soal duta bangsa, sesungguhnya organisasi pada level ini sangat memegang peran dalam menjaga performa mahasiswa Indonesia di luar negeri sebagai duta bangsa di kancah internasional.

Dalam ruang yang lebih luas, PPI Negara tentunya memiliki core business, core competency dan core value yang berbeda dari PPI Kota. Menjadi jembatan antar elemen mungkin adalah diksi yang sesuai bagi organisasi tersebut menjalankan tugasnya, baik antar PPI kota, kemudian PPI kota dengan PPI Negara, lantas bersama pihak KBRI, bahkan hingga urusan media coverage mengenai kegiatan PPI pun selayaknya dijalankan oleh PPI Negara. Idealnya, memang PPI Negara tidaklah menjadi PPI kota kesekian yang malah sibuk mengurus persoalan harian PPI kota atau bahkan indosoc. Dengan demikian, ekspektasi yang dibebankan pun lebih berat karena akan tercipta generalisir dari fungsi representasi bagi mahasiswa Indonesia yang berkuliah di suatu negara. Oleh karena itu, menjadi hal wajar jika PPI Negara memiliki gagasan yang lebih besar karena diamunisi oleh beragamnya elemen yang ada seperti PPI tiap kota, KBRI, media, komunitas Indonesia, dan sebagainya. Kegiatan konferensi sebagai media unjuk ide, penelitian dan solusi kebangsaan pun lumrah diadakan oleh PPI suatu negara. Selain itu, perwujudan dari kepedulian terhadap permasalahan sosial-masyarakat di Indonesia pun sering digalakan. Mulai dari penggalangan dana bencana, seminar pendidikan, pemberian bantuan materiil, pernyataan sikap terhadap suatu isu kebangsaan hingga beasiswa pun menjadi menu yang lumrah bagi bidang pengabdian masyarakat PPI Negara. Dalam hal manajemen organisasi pun sudah semestinya PPI Negara dituntut lebih profesional dalam membangun learning organization dan koordinasi yang solid serta tidak terjangkit pada politik praktis.

Selanjutnya, PPI Dunia sebagai wadah berbagi dan bekerjasama antar PPI Negara di planet bumi ini pun memiliki beban dan ekspektasi yang juga berlipat. Sesederhana bahwa pengurus PPI Dunia akan dicap sebagai wajah dari diaspora intelektual muda Indonesia. Kritisisme dalam menyikapi isu, ketrampilan dalam mengekskalasi gerakan, hingga profesionalisme dalam memanajemen organisasinya pun akan menjadi sorotan dari beragam pihak. Sayangnya, PPI Dunia sejatinya tidak sepenuhnya memiliki jangkar yang cukup dalam untuk menyentuh permukaan, alias urusan keseharian pelajar Indonesia di beragam negara, kecuali dalam urusan strategis seperti jika terjadi pelarangan terhadap segenap mahasiswa Indonesia untuk memasuki negara tujuan belajarnya. Oleh karena itu, PPI Dunia seyogyanya akan berputar pada tataran konsep strategis dan hipotesis besar dalam mendukung kemajuan Indonesia. Merangkai titik temu dan titik tuju bersama PPI Negara, pihak Pemerintah Indonesia, komunitas maupun organisasi Internasional, dan sebagainya menjadi PR besar bagi PPI Dunia. Untuk itulah, PPI Dunia membagi dirinya dalam beberapa PPI kawasan seperti amerika eropa, asia oseania serta timur tengah dan afrika. Terdapat pula komisi-komisi yang fokus mengurus kajian di berbagai topik strategis seperti energy, kesehatan, pendidikan, gerakan dan sebagainya. Memang, sebagai organisasi besar berbasiskan pada keilmuwan, bersandarkan pada kebenaran ilmiah, serta berlandaskan pada kolaborasi dan kontribusi bagi kemajuan Indonesia, maka PPI Dunia tak akan pernah bisa lepas dari dirkursus pemikiran, pengguliran wacana serta gerakan strategis untuk Indonesia.

Kesimpulan sementara, bahwa pergerakan Perhimpunan Pelajar Indonesia memiliki arah gerak serta lingkup yang berbeda di setiap masa serta stratanya. Tentunya, PPI tak bisa disalahkan begitu saja jika kondisi Indonesia belum maju dengan optimal, tidak seperti beberapa negara tempat sebagian pelajar Indonesia menempuh studi. Toh PPI Dunia, serta PPI di beberapa negara dan kota pun relatif baru dibangun serta masih membutuhkan banyak upaya penstabilan dalam memutar motor organisasinya secara efektif dan efisien. Meskipun demikian, kita sepakat bahwa potensi para diaspora intelektual muda Indonesia tak bisa dibiarkan tercecer terlalu lama. Oleh karena itu, PPI secara umum harus mampu menjadi salahsatu perangkai utama titik temu dan titik tuju bagi kemajuan Indonesia di masa depan melalui sinergisasi yang optimal dari level indosoc, PPI Kota, PPI Negara, hingga PPI Dunia. Mewujudkan perannya sebagai perkumpulan intelektual muda serta duta bangsa yang terus berkiprah bagi republik meski tak lagi menyandang gelar pelajar di institusi formal.

Penulis : Angga Fauzan
M.Sc Design & Digital Media candidate
The University of Edinburgh

Digital Economy
Sumber: https://s26913.pcdn.co/wp-content/uploads/2017/08/AdobeStock_135873223-1024x687.jpeg

Digital Economy, tema yang sedang hangat dalam diskusi para peneliti, netizen, hingga para mahasiswa lintas bidang. Apa sebenarnya Digital Economy dan dampaknya bagi pembangunan Indonesia? Mengapa model ekonomi zaman millennial ini digadang-gandang akan mengubah model ekonomi konvensional yang sudah lama mengakar kuat ?

Don Tapscott's (1995) menerbitkan buku best-seller berjudul The Digital Economy: Promise and Peril in the Age of Networked Intelligence. Tulisan itu mengungkap istilah Digital Economy, model ekonomi ‘baru’ yang sarat dengan teknologi informasi. Sekitar 10 tahun setelah itu, penetrasi teknologi digital dan internet semakin luas dan berimplikasi nyata di beberapa bidang kehidupan. Tidak ketinggalan, negara yang berhasil memanfaatkan kekuatan ekonomi internet ini berhasil meraup nilai pertumbuhan fantastis. Ambil contoh, tahun 2018 India telah mencapai nilai US$ 1 Trilliun. Bahkan China sudah melampaui nilai US$ 3,8 trilliun. Di kedua negara ini, ekonomi digital menjadi mesin pertumbuhan dengan hasil yang mengagumkan.

Konsep ‘New Economy’ ini sejatinya memiliki beberapa komponen. Ekonom Thomas Mesenbourg (2001) menjelaskan elemen pentingnya mulai dari infrastruktur perangkat keras dan lunak, model layanan hingga cara transaksi baru dalam ekosistemnya. Realitas saat ini, penyedia layanan di dalam ekosistem digital yang sedang popular tentu saja Financial Technology (Fintech).

Perkembangan fintech telah menarik perhatian besar khususnya dari kalangan perbankan dan industri finansial konvensional. Fintech diprediksi akan mendisrupsi model industri dan bisnis bank konvensional dalam 10 tahun mendatang. Perkembangan fintech yang massif akan mengakibatkan migrasi besar bagi dunia perbankan dan institusi keuangan tradisional. Tidak ingin ketinggalan arus gelombang ‘baru’, perusahaan keuangan sekelas Citi dan JP Morgan Chase telah menginvestasikan milliaran dolar ke dalam startup fintech bernama Clarity Money and Dave. Saya memprediksi fintech akan menjadi teknologi ‘driver’ awal ekonomi berbasis internet ini.

Bahkan suntikan modal ke dalam perusahaan fintech secara global pada tahun 2018 ini sudah mencapai angka USD 57.9 Milliar. Funding tersebut banyak digunakan untuk mengembangkan layanan bidang payments dan lending. Selain itu, investasi dalam kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan analisis data (data analysis) semakin mengundang minat investor.

Menurut pandangan saya, di masa depan, data akan menjadi “harta” yang sangat penting dalam industri fintech pada khususnya. Analisis data yang akurat dan cepat dengan teknologi kecerdasan buatan akan menentukan persaingan dan kesuksesan industri ini dalam era internet economy. DI Indonesia sendiri, perusahan seperti Go-Pay, Modalku hingga UangTeman, rintisan startup dipercaya menjadi infrastruktur awal dalam pengembangan ekonomi digital dalam negeri.

Ekonomi Digital yang terbuka

Di dalam ekonomi digital, layanan Fintech sejatinya sangat dekat dengan konsep open banking, artificial intelligence and blockchain. Ini akan membawa potensi perubahan yang besar dalam industri keuangan tradisional yang terkenal tertutup dan tersentral. Bagaimana dengan Indonesia, siapkah para stakeholders untuk menyambut era digital ekonomi yang makin nyata hari ini ?

Dengan model ekonomi internet berbasis Artificial Intelligence (AI), Open Banking dan Blockchain. Digitalisasi ekonomi menjadi sangat terbuka dan cepat bagi banyak kalangan. AI sebagai teknologi yang mengkoneksikan berbagai mesin secara otomatis telah mengundang perhatian besar akhir-akhir ini. Pada tahun 2018, total investasi dalam bidang AI mencapai USD 19.1 milliar, bukti besarnya perhatian dalam pengembangan teknologi ini. Saat ini, perbankan dan institusi keuangan gencar berkolaborasi dengan perusahaan ‘digital’ dalam upaya migrasi teknologi berbasis AI.

Nah, dengan munculnya fenomena AI dan blockchain, model bisnis perbankan konvensional harus siap mengalami disrupsi. Sejak lama perbankan umum memiliki identitas closed banking dengan akses data terbatas. Di dalam ekonomi digital, ada konsep yang disebut open banking dimana terbukanya akses data yang luas bagi pihak nasabah atau pihak ketiga secara realtime dengan standar terbuka. Penerapan open banking sudah mulai dilakukan dengan hadirnya interface aplikasi pihak ketiga telah digunakan secara massif dan efisien seperti wechat pay dan hellopay.

Berbicara masalah open standard dan transparansi, tentu kita pernah mendengar Bitcoin, bukan? sebuah fenomena cryptocurrency yang mengundang banyak perhatian netizen. Pada prinsipnya, Bitcoin ialah fenomena ekonomi digital yang menjadi fase dalam pengembangan industri finansial. Blockchain, teknologi yang berada dibalik Bitcoin, menjadi solusi baru dalam pengembangan industri Fintech dan menjadi penggerak ekonomi digital masa depan. Di Indonesia sendiri, pemerintah masih wait and see dengan fenomena blockchain ini.

Kunci Sukses Ekonomi Digital di Indonesia.

Pada tahun 2025, nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai US$ 150 miliar atau sekitar Rp2.040 triliun. Untuk mencapai nilai ekonomi yang besar tersebut, penting bagi Indonesia untuk menerapan teknologi digital secara efektif. Ekosistem bisnis ini memerlukan pengambilan keputusan yang lebih smart berbasis kecerdasan buatan, melalui model yang lebih simple dan melalui kecepatan transaksi berbasis blockchain. Semuanya akan menciptakan konektifitas realtime dalam ekosistem ekonomi berbasis internet ini.

Jika melihat dari sisi penanaman modal, menurut BKPM tahun 2017 investasi dalam bidang ekonomi digital telah encapai US$ 4.8 milliar. Nilai yang cukup besar bagi pelaku industri untuk segera mengambil langkah cepat dalam industri digital seperti Fintech, Kecerdasan Buatan, Analisis Data hingga Blockchain. Selain pengembangan teknologi, besarnya investasi harus digunakan untuk penguatan sumber daya manusia sebagai komponen penting dalam bangunan Ekonomi Digital di Tanah Air.

Selain melihat dari sisi inovasi teknologi dan pelaku industri, kesuksesan ekonomi digital ini tentu tidak lepas dari keseriusan Pemerintah sebagai pemangku kebijakan. Untuk menjalankan roda ekonomi digital, Pemerintah mesti mengambil langkah-langkah agresif untuk membuat ekosistem ‘baru’ ini benar-benar menjadi engine pertumbuhan era digital. Inilah momen yang tepat untuk mengembangkan ekonomi digital di tengah penetrasi pengguna internet yang sudah melewati 140 Juta pengguna di seantero Nusantara.

McKinsey Global Institute menyebut Indonesia memiliki sekitar 30 juta online shoppers pada periode 2017, Ini layaknya gelombang baru pertumbuhan bisnis online bidang digital bagi Indonesia. Agar bisa berhasil, kolaborasi antar stakeholders yakni Pemerintah, Pelaku Industri digital, dan Pejabat Perbankan mesti harus positif. Ini menjadi parameter kesuksesan sebuah negara dalam ekosistem the new economy ini.

World Economic Forum tahun 2015 pernah menyebut ekonomi digital adalah kunci pertumbuhan bagi Indonesia. Ini harus disambut sebagai signal positif bagi pelaku Industri dan Pemerintah sebagai katalis utama untuk pertumbuhan industri era baru. SIngkatnya, konsep Fintech, Smart City, Intelligence Commerce hingga E-Tax hanya menjadi khayalan belaka jika tidak ada keseriusan dari para stakeholders dalam negeri. Kabar baiknya, Pemerintah saat ini tampaknya sedang giat dalam mempersiapkan infrastruktur ekonomi digital di Tanah Air, wujud lain ialah melalui perluasan investasi dan kemudahan bisnis bagi industri yang bergerak dalam bisnis digital. Akhir kata, ‘the new wave’ dari sebuah perubahan era yakni ekonomi digital telah tiba.

Penulis
Putra Wanda
Ph.D. Candidate in Cybernetic, HUST, China
Komisi Ekonomi PPI Dunia

Saya percaya bahwa Indonesia tak bisa selamanya bergantung pada pajak, pun tak boleh terlalu mengandalkan sektor ekspor sumber daya alam karena perang dagang di dunia global yang semakin sengit. Dengan kata lain, Indonesia harus punya beragam alternatif yang produktif dalam memenuhi pendapatan negaranya. Produktifitas bangsa, yang harus dibarengi dengan kemampuan masyarakat, optimalisasi iptek dan distribusi, serta besarnya political will untuk ekspansi pasar dunia harus menjadi fokus bagi kita semua.

Seperti yang kita tahu bahwa perubahan kondisi global dan dalam negeri memengaruhi perlemahan rupiah, harga barang, dan angka-angka lain yang menjadi parameter kondisi bangsa. Dalam membedah kondisi ini, menyalahkan pihak tertentu (Pemerintah, misalnya) pun rasanya kurang bijak jika tidak dibarengi dengan kesadaran berjamaah mengenai lemah dan manjanya diri kita dalam berbuat untuk negeri. Sudah terlalu banyak pemuda yang ingin diberi ini dan itu sebagai syarat agar dirinya bisa ciptakan karya untuk negara, padahal peluang ciptakan kerjasama ada di depan mata. Masyarakat selalu ada untuk kita ajak berkolaborasi, hanya saja kita kurang menyadari.

Gerakan Berbasis Kerakyatan

Jika kita menyambangi masyarakat miskin yang pengangguran dan tak punya skill sekalipun dan bertanya apakah mereka ingin perubahan, saya yakin mereka menjawab ingin. Memang, tiap orang dan kelompok sosial memiliki tingkat keterbukaan dan kekonkritan dalam berubah yang berbeda-beda. Ada yang sekadar ingin instan, ada pula yang siap diajak banting tulang untuk mengubah nasib menjadi lebih baik. Saya percaya bahwa disinilah kita, sebagai pemuda, memiliki peran penting untuk mencipta gerakan yang bisa memicu produktivitas masyarakat – atau dengan kata lain, memberdayakan dan menghapus status miskin yang mereka sandang.

Di Indonesia sendiri, ada filosofi lucu. Jika ada penjual makanan yang cukup laris di suatu daerah, maka tak lama lagi akan banyak orang yang meniru dan menjual makanan di daerah tersebut. Konsep sederhana ini pun bisa kita coba terapkan pada masyarakat, yakni dengan mengajak kelompok tertentu di masyarakat yang memiliki keinginan plus kekonkritan yang nyata untuk memberdayakan diri mereka dan mau berubah. Perlahan tapi pasti, kelompok masyarakat lain yang awalnya wait and see hingga yang apatis sekalipun akan berpikir untuk mengikutinya. Lha kenapa tidak, wong mereka bagaimanapun juga butuh makan dan ingin hidup enak?

Pariwisata Kerakyatan sebagai Alternatif Kemandirian Ekonomi

Tak perlu panjang lebar untuk menjelaskan seberapa kaya, indah dan besarnya Indonesia. Pun tak perlu bingung untuk menceritakan bagaimana Indonesia punya ragam dan pilihan pariwisata yang super kaya. Sayangnya, kita selalu terperangkap oleh itu semua. Apa yang ada diajarkan kepada kita sejak sekolah dasar ialah berwisata berarti ke pantai, gunung, kebun binatang dan tempat-tempat yang ‘sudah dari sananya’ bagus. Padahal, Pariwisata pun bisa seperti Edinburgh yang terkenal sebagai Kota Festival Terbesar di Dunia. Sehingga tak ayal, market share pariwisata Indonesia pun masih tertinggal jauh dari negara-negara lain, bahkan di Asia Tenggara sekalipun, karena kita berpikir bahwa hanya wilayah yang sudah bagus secara alamilah yang bisa menjadi tempat wisata, dan menghasilkan uang.

Pariwisata terdiri dari beberapa tingkatan. Adapun tingkatan paling dasar ialah mengandalkan pada wisata alam, seperti gunung dan pantai. Ini tentu sudah umum bagi kita, pun Indonesia punya banyak meskipun tak semuanya terawat dengan baik. Kedua, ialah Pariwisata yang memiliki partisipasi dari warga lokalnya. Misal, tersedianya toko souvenir dan jajanan khas yang terletak di tempat wisata tersebut. Ketiga, ialah Pariwisata yang menghadirkan partisipasi aktif dan lebih serius dari beragam elemen seperti penyelenggaraan festival oleh pemerintah daerah di sebuah destinasi wisata. Terakhir, ialah Pariwisata yang bisa membuat para pengunjungnya ikut berpartisipasi bahkan hingga belajar dan turut memberdayakan wisata tersebut.

Nah, disinilah kadang kita kurang menyadari bahwa mungkin kita bisa membangun ‘destinasi wisata baru’ bersama masyarakat. Tak harus mengandalkan adanya candi, danau atau keunikan territorial tertentu untuk mengundang orang luar datang dan menciptakan perputaran uang di sebuah wilayah. Contoh, Kampung 3D di Malang yang dibuat dengan menciptakan dekorasi ruang dari mural, kemudian Kampung Ponggok di Klaten yang dibuat dengan menciptakan wisata bawah air yang kreatif, dan sebagainya. Dengan banyaknya wisatawan yang hadir berkat beragam inovasi yang dilakukan bersama masyarakat, kemandirian ekonomi sektoral pun tercipta.

Bayangkan jika paling tidak ada satu pariwisata berbasis kerakyatan di tiap kecamatan di Indonesia yang dibangun dan dikelola oleh masyarakatnya sendiri. Kemudian, aktivitas tersebut semakin membesar dan menyerap tenaga kerja lokal, meningkatkan perputaran uang, memperkuat citra lokal dan sebagainya. Tentu, impian Hatta soal ‘Indonesia yang terang berkat lilin yang menyala di tiap desa’ pun akan terwujud. Kemandirian bangsa akan muncul karena tiap bagian kecil darinya berjuang untuk membangun kemandiriannya masing-masing. Tidak hanya mengandalkan pajak atau sektor sumber daya alam yang bisa habis di masa mendatang. Meskipun sulit, saya percaya bahwa bagaimanapun juga cara paling mudah adalah menjadikan para pemuda, khususnya putra daerah, sebagai penggerak sektor pariwisata kerakyatan di wilayahnya masing-masing. Apalagi oleh para putra daerah yang berpendidikan tinggi, bahkan kuliahnya pun di luar negeri sehingga punya banyak referensi global.

 

Angga Fauzan

Anggota Pusat Kajian dan Gerakan PPI Dunia

Beberapa waktu lalu dimedia sosial, viral beberapa video yang menggambarkan bagaimana anak-anak dibawah umur mengendarai kendaraan roda dua tanpa memakai helm, membonceng dua temannya padahal masih belum dewasa dan tidak mempunyai surat izin mengemudi (SIM). Selain itu, dalam video lain juga diperlihatkan anak-anak yang menangis oleh karena akan ditilang oleh polisi serta anak-anak yang ditegur oleh polisi karena mengendarai kendaraan roda dua tanpa memiliki SIM, tidak memakai helm, tidak membawa STNK dan melanggar lalu lintas.

Pemandangan yang menjadi viral tersebut pastinya bukan pemandangan yang luar biasa di Indonesia, hal tersebut justru menjadi pemandangan yang sudah biasa kita lihat. Anak-anak yang masih duduk sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) seperti sudah lumrah memakai kendaraan roda dua di jalanan tanpa helm, tidak membawa STNK dan tidak memiliki SIM.

Hal tersebut terjadi bukan hanya ada di kota-kota besar, namun juga terjadi di kampung kampung di seluruh Indonesia dan kita sebagai masyarakat sepertinya menganggap hal yang dilakukan oleh anak-anak tersebut adalah hal biasa saja. Padahal kita sangat memahami bahwa apa yang dilakukan oleh anak-anak tersebut adalah salah dan melanggar hukum. Namun, oleh karena pelanggaran tersebut dilakukan secara bersama-sama dan serta terus menerus, maka pada akhirnya pelanggaran lalu lintas tersebut dianggap hal biasa dan bukan merupakan bagian dari pelanggaran hukum.

Peran Orang Tua, Guru dan Polisi

Data dari Kepolisian Republik Indonesia terkait kecelakaan lalu lintas khususnya kendaraan roda dua yang pengendaranya anak-anak setidaknya ada sekitar ribuan anak-anak yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas oleh karena mengendarai kendaraan bermotor dan mengalami kecelakaan. Bagi orang tua yang pernah merasakan kehilangan buah hatinya karena kecelakaan kendaraan bermotor pasti akan sangat setuju untuk menindaklanjuti dan menghukum anak-anak yang mengendarai kendaraan bermotor oleh karena belum cukup umur. Kendaraan motor roda dua sepertinya menjadi mesin senjata pembunuh masal bagi anak-anak Indonesia, namun kita sebagai orang tua sepertinya dibuat tidak sadar atau malah memang sengaja tidak sadar. Orang tua merasa bangga apabila dapat memberikan kendaraan roda dua kepada anaknya, padahal dari segi usia anak tersebut belum cukup umur untuk mengendarai kendaraan bermotor.

Kepemilikan SIM untuk seorang pengemudi kendaraan sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan. Dalam Pasal 7 ayat (1) disebutkan bahwa setiap pengemudi kendaraan bermotor wajib memiliki surat izin mengemudi sesuai dengan jenis kendaraanya. Kepolisian Republik Indonesia menetapkan bahwa batas minimal kepemilikan kartu SIM yaitu berusia 17 tahun dan jika usia masih di bawah 17 tahun artinya tidak bisa membuat SIM dan juga tidak di izinkan untuk mengemudikan kendaraan bermotor. Menurut Pasal 281 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan bahwa sanksi pidana yang dijatuhkan bagi pengguna sepeda motor yang tidak memiliki SIM adalah kurungan paling lama empat bulan atau denda paling banyak Rp1.000.000.

Namun dalam prakteknya khususnya apabila pelanggaran-pelanggaran tersebut dilakukan oleh anak-anak, maka kepolisian biasanya akan melakukan proses tilang ditempat dan akan membawa kendaraan roda dua anak tersebut ke kantor polisi untuk nantinya orang tua dari anak tersebut akan mengurus proses tilang karena secara hukum anak-anak masih dalam kuasa dan pengawasan orang tuanya. Tentunya treatment tersebut akan berbeda apabila ternyata anak-anak tersebut telah melakukan pelanggaran lalu lintas yang menyebabkan kecelakaan dan kematian, maka tetap proses penyelidikan akan berlanjut hingga ke pengadilan dan anak tersebut akan tetap dikenakan sanksi pidana.

Membangun Mental Anak agar Taat Hukum

Fenomena pelanggaran hukum yang dilakukan anak-anak dengan mengendarai kendaraan bermotor yang saat ini sudah menjadi viral di dunia maya akan sangat berdampak pada psikologis anak hingga nanti mereka menginjak dewasa. Anak-anak tersebut pada akhirnya akan terbiasa melakukannya pelanggaran hukum sehingga saat mereka dewasa pastinya akan juga menjadi manusia yang senang dan bangga melakukan pelanggaran hukum. Apabila hal tersebut dibiarkan, maka akan dipastikan generasi Indonesia selanjutnya akan diisi oleh generasi yang terbiasa melakukan pelanggaran hukum, mulai dari narkoba, korupsi hingga mungkin membunuh.

Tentunya kita tidak ingin agar generasi Indonesia selanjutnya diisi oleh generasi penerus yang arogan dan kerap bangga serta terbiasa melakukan pelanggaran-pelanggaran hukum. Ini adalah pekerjaan rumah terbesar Bangsa Indonesia saat ini. Bagaimana membangun mental anak-anak yang taat hukum yang dimulai dengan taat dan tertib berlalulintas. Dibutuhkan kerjasama antara orang tua, guru disekolah dan juga polisi untuk membangun budaya sadar taat hukum dan malu melanggar lalu lintas seperti halnya yang dilakukan oleh negara Jepang, Korea bahkan Malaysia yang telah mengenalkan etika berlalu lintas sehingga semua warga negara saat berkendara bukan hanya taat hukum tetapi juga memiliki etika dan sopan santun saat berkendara.

Kita berharap Kepolisian Republik Indonesia dapat bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan serta Pemerintah Daerah untuk kembali bekerjasama membangun mental budaya sadar hukum dan malu melanggar lalu lintas untuk anak-anak Indonesia, mulai dari taman kanak-kanak hingga dibangku SMA serta mengajarkan kurikulum etika berlalu lintas, taat hukum dan tertib berlalu lintas bagi anak anak Indonesia agar anak-anak Indonesia menjadi generasi yang bukan hanya taat hukum akan tetap juga memiliki etika dan sopan santun saat berlalu lintas serta malu apabila melanggar hukum.

Semoga hal tersebut segera dapat diwujudkan oleh Kepolisian Republik Indonesia dengan bantuan dari Pemerintah Daerah di seluruh Indonesia sehingga 5 s.d. 10 tahun ke depan kita akan melihat hasilnya, dimana anak-anak Indonesia yang telah diajarkan untuk taat hukum dan memiliki mental etika berlalu lintas akan menjadi generasi emas yang akan membangun Bangsa Indonesia di masa depan. Semoga dapat terwujud.

#sadarhukum #taathukum #etika-berlalulintas.

*) Hani Adhani
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum Internasional Islamic University Malaysia (IIUM). Wakil Koordinator Bidang Hukum Dan Advokasi PPI Malaysia. Pengurus PCIM Malaysia. Bekerja di Mahkamah Konstitusi.

Email : adhanihani@gmail.com

Mobile : +62 812831 50373

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920