logo ppid

Menuntut ilmu di luar negeri merupakan keinginan banyak orang, berbagai macam alasan dan tujuan menjadi motivasi para pelajar Indonesia untuk menuntut ilmu di negeri orang. Hal tersebut bukanlah tidak mungkin, buktinya saja terdapat sekitar 86.420 mahasiswa Indonesia yang tersebar di 53 negara. Dengan jumlah yang sangat banyak ini, lima peringkat negara dengan jumlah terbanyak pelajar Indonesia adalah Australia, Tiongkok, Kanada, Malaysia, dan Britania Raya. Perjalanan yang ditempuh oleh para mahasiswa yang merantau di negara orang tentu tidak mudah, berbagai macam jenis kegagalan juga dihadapi, dan semua itu mereka ceritakan dalam satu buku.

Buku bertajuk 20 Kisah Perantau Ilmu yang ditulis oleh tim Perhimpunan Pelajar Indonesia di seluruh dunia menyajikan 20 kisah inspiratif pilihan dari para mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di berbagai negara. Beragam kisah dan perjuangan yang dikemas dengan menarik dapat menjadi referensi serta panduan bagi para mahasiswa dan pelajar yang bercita-cita untuk melanjutkan studi di luar negeri.

Setelah perilisan buku 20 Kisah Perantau Ilmu pada 2 Oktober 2017 yang lalu, peluncuran buku secara resmi baru dilaksanakan pada 20 Oktober 2017 di Gramedia Depok. Acara ini mendatangkan 4 narasumber yang merupakan penulis buku ini dan perwakilan BPH PPI Dunia, yaitu Ali Abdillah, Zakiyah Eke, Adi Hersuni, dan Ulfa Ryn. Hatta Bagus Himawan menjadi moderator acara tersebut.

Acara dibuka dengan kata sambutan dari Elexmedia selaku penerbit buku 20 Kisah Perantau Ilmu, lalu Adi Hersuni sebagai perwakilan BPH PPI Dunia, kemudian dilanjutkan oleh Ali Abdillah selaku perwakilan dari 20 penulis. Aninta, Adi dan Ali sepakat bahwa buku ini memberikan perspektif baru bagi pemburu kuliah ke luar negeri yang selalu menghadapi hambatan saat memperjuangkan mimpinya untuk kuliah di luar negeri. Selama ini, buku yang berada di pasaran cenderung lebih menonjolkan kisah sukses kuliah di luar negeri. Sebaliknya buku ini lebih menyoroti bagaimana kegagalan-kegagalan yang dihadapi oleh para penulis saat berburu kuliah ke luar negeri dan proses menjalaninya. Mereka juga menyampaikan bahwa kegagalan bukanlah hal yang luar biasa, untuk bisa kuliah ke luar negeri membutuhkan kerja keras, disiplin dan pantang menyerah dalam menghadapi masalah yang ada. Bahkan pada satu titik, kegagalan adalah kawan baik mereka. Mereka juga menambahkan, saat setelah lulus nanti jangan pernah lupakan negara Indonesia yang telah membesarkan kita.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan talkshow dan tanya jawab. Disini moderator, Hatta, memberikan beberapa pertanyaan kepada narasumber seputar proses mendapatkan beasiswa dan sekolah di luar negeri, dan proses menjalaninya. Beragam cerita disampaikan oleh para narasumber. Sebagai contoh Zakiyah Eke atau biasa dipanggil Eke, untuk dapat bisa meraih mimpinya Eke harus melalui jalan terjal dan berliku. Penolakan-penolakan dan kegagalan sudah menjadi makanan ia selama 3 tahun memperjuangkan mimpinya. Saat itu, Eke juga sedang bekerja saat proses mendaftar beasiswa sekolah ke luar negeri, sehingga ia harus putar otak dan membagi waktu untuk belajar dan mempersiapkan persyaratan kuliah di luar negeri seperti IELTS dan surat-surat lainnya. Khusus untuk
IELTS, Eke menyiapkan waktu tersendiri. Eke sengaja datang ke kantor 2 jam sebelum jam masuk kantor agar bisa belajar IELTS dan juga sepulang kerja Eke meluangkan waktu untuk belajar minimal 2 jam. Tetapi, ternyata kedisiplinan belajar tidaklah cukup, butuh dedikasi dan di sinilah kekuatan mimpi diuji. Tidak serta-merta Eke mendapatkan nilai IELTS yang cukup memenuhi syarat untuk mendaftarkan diri pada beasiswa atau sekolah yang diinginkan. Eke harus mengalami kegagalan 5 kali tes IELTS hingga tes ke 6 dapat membawanya kuliah ke luar negeri dengan beasiswa penuh dari pemerintah Belanda.

Lain lagi cerita dari Adi Hersuni, Adi harus menerima bahwa IPK S1 dia dibawah 3 (tiga). Tetapi hal tersebut belumlah cukup untuk memaksa Adi mengatakan kata menyerah dan mengubur asa kuliah di luar negeri. Adi berjuang dengan berbagai cara hingga harus menyiapkan waktu khusus setiap hari menyiapkan persyaratan ke luar negeri. Adi bercerita, setiap rehat kerja, dia selalu membuka buku persiapan IELTS bahkan tidak jarang Adi pergi ke mushola untuk bisa fokus belajar. Bahkan di tengah proses itu, Adi harus menghadapi kenyataan anak yang masih di dalam kandungan istrinya meninggal dunia. Tetapi lagi-lagi, hal itu tidaklah cukup kuat memendam asa Adi untuk dapat kuliah di luar negeri. Di akhir cerita, Birmingham University menjadi saksi perjuangan Adi yang tanpa kenal kata menyerah. Dan tahun ini, Adi telah pulang dari perantauan di tanah Britania Raya dengan membawa ijazah master-nya.

Kisah selanjutnya adalah tentang Ulfa, yang dihadapi Ulfa berbeda dengan yang lainnya. Izin orang tua yang menjadi kendala utamanya. Tetapi Ulfa bukanlah orang yang gampang mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Seribu satu cara telah difikirkan matang-matang olehnya. Alhasil summer course, conference dan exchange program telah membawanya menjejakkan kaki di universitas-universitas di luar eropa tanpa harus melanggar janji terhadap orang tua-nya.

Kisah terakhir dari Ali Abdillah, untuk menggapai mimpinya Ali harus menghadapi kenyaatan bahwa dialah sekarang yang menjadi kepala keluarga setelah ayahnya meninggalkan ia dan keluarganya 2 tahun sebelumnya. Praktis urusan pemasukan rumah tangga berada di pundak Ali. Disini mimpi Ali diuji dalam merealisasikan mimpi ayahnya untuk kuliah di luar negeri. Masalah boleh datang tapi ikhtiar tidak akan pernah bisa mengkhianati orang yang telah berusaha mati-matian. Sekarang, dia telah membuktikan diri, Leiden University telah ditaklukkannnya dan tentu mimpi-mimpi selanjutnya siap untuk ditaklukkannya.

Di akhir sesi, para narasumber berpesan bahwa saat kita sudah di luar negeri nanti dan sudah meraih mimpi kita nanti, jangan lupakan negeri ini. Banyak hal yang butuh diperbaiki. Memang negeri orang lain akan menawarkan beribu janji untuk perbaikan kehidupan. Tetapi, negeri sendiri selalu layak untuk diperjuangkan.

Narasumber :

- Ali Abdillah (Master – European Union law at Leiden Law School (Belanda), Sekjen PPI Belanda 2015, Ketua BEM UI 2013, Ketua BEM FHUI 2012).

- Zakiyah Eke (Master – Nutrition Epidemiology at Wageningen University & Research (Belanda), Ketua Divisi Humas PPI Belanda 2015).

- Adi Hersuni (Master – Materials Science & Engineering at University of Birmingham (Inggris), Ketua Kantor Komunikasi PPI Dunia 2017, Ketua BEM FTUI 2008, Ketua Ikatan Mahasiswa Metalurgi & Material FTUI 2007).

- Ulfa Ryn (Mobility- Software Engineering, UTeM (Malaysia)).

Moderator
Hatta Bagus Himawan (Master – Innovation management at TU Eindhoven (Belanda))

 

 

 

Assalamualaikum wr.wb. hello sahabat PPI salam perhimpunan....
Gimana kabar kalian? Semoga senantiasa dalam lindungan Allah yah..

Kami dari Panitia Sayembara Cerita Mini Internasional 3 PPI Hadhramaut dan FLP Hadhramaut ingin mengumumkan Juara *SCMI3* 2017. Setelah melalui tahap penjurian dengan persaingan naskah yang sangat ketat, akhirnya dewan juri memutuskan para juara SCMI 3 2017 PPI Hadhramaut dan FLP Hadhramaut adalah sbb :
.

???? *Juara 1 : Dengan judul naskah "Maafkan Kebisuanku" by Murni Oktarina*
.
???? *Juara 2 : Dengan judul naskah "Lelaki Pengibar Bendera" by Susanawati*
.
???? *Juara 3 : Dengan judul naskah "Pelangi di Mata Maria" by Septiani*
.

Nb: Para pemenang harap mengkonfirmasi via WA dengan no.
+967 772 455 277 (Ahmad Rizki/ketua panitia penyelenggara SCMI 3)

Selamat dan sukses untuk para juara. Semoga semakin memicu semangat dalam menulis, berdakwah dengan pena!

Kami memohon maaf sedalam-dalamnya atas keterlambatan pengumuman juara serta segala kekurangan kami. Ucapan terima kasih kami haturkan kepada semua pihak yang telah turut ikut serta dalam mensukseskan sayembara ini.

Akhir kata, salam perhimpunan dan salam literasi dari bumi Hadhramaut !!!

Wassalamualaikum wr. wb.

Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) telah mencatat setidaknya empat doktor termuda di Indonesia. Pada tahun 2015, Arief Setiawan memperoleh gelar doktor dalam bidang intelligent structures and mechanics systems engineering dari Universitas Tokushima di Jepang pada usia 25 tahun. Sedangkan pada tahun 2016, Elanda Fikri memperoleh gelar doktor bidang Ilmu Lingkungan di Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah saat berusia 25 tahun. Sementara pada tahun 2007, Cindy Priadi juga memperoleh gelar doktor bidang Ilmu Lingkungan dari Universitas Paris-Sud di Perancis pada usia 26 tahun. Awal tahun 2017 yang lalu, Meiryani dianugerahi gelar doktor di bidang Akuntansi di Universitas Padjadjaran Bandung, Jawa Barat, saat usianya 28 tahun.

Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) kembali mencatat rekor baru lulusan doktor termuda di Indonesia. Seorang mahasiswa program doktor jurusan Kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB) bernama Grandprix Thomryes Marth Kadja menjadi lulusan doktor termuda di Indonesia pada usia 24 tahun. Dia secara resmi memperoleh gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tanggal 22 September 2017. Prestasi Grandprix mengukir sebuah sejarah baru di dunia pendidikan Indonesia karena ia masuk dalam Indonesia World Records Museum sebagai lulusan doktor termuda di Indonesia. Grandprix yang berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) menerima predikat cum-laude dari para promotornya dengan disertasinya tentang zeolit sintetis yaitu mineral yang biasa digunakan sebagai katalis petrokimia. "Di masa depan, zeolit sintetis dapat digunakan tidak hanya sebagai katalis tetapi juga sebagai penyerap karbon dioksida dan untuk pemisahan molekul", ujar Grandprix.

Grandprix Thomryes Marth Kadja, 24 tahun, menjadi doktor termuda Indonesia setelah lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tanggal 22 September 2017. Foto: Okezone.com (Oris Riswan)

Grandprix memulai sekolah dasar pada usia 5 tahun. Grandprix melanjutkan jenjang pendidikan SMA-nya melalui sistem akselerasi di SMA Katolik Giovanni di kota Kupang. Setelah lulus SMA pada usia 16 tahun, ia kemudian melanjutkan pendidikan di jurusan Kimia di Universitas Indonesia (UI). Berkat program beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggulan (PMDSU) yang disponsori Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Grandprix melanjutkan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung, program studi (prodi) Kimia, yang ia sebut sebagai prodi yang paling menantang namun menarik. "Ada terlalu banyak perhitungan dalam ilmu Fisika, dalam ilmu Biologi kita harus menghafal banyak hal. Sedangkan ilmu Kimia memiliki keseimbangan di antara keduanya" ujarnya.

Sepanjang perjalanan akademisnya, Grandprix yang memperoleh gelar Sarjana-nya dari Universitas Indonesia pada usia 19 tahun, telah menerbitkan sembilan publikasi ilmiah di jurnal nasional dan internasional. "Jangan merasa inferior hanya karena kita masih muda, justru generasi muda yang harus menjadi contoh bagi orang lain" tuturnya. Grandprix juga mengakui bahwa rangkaian penelitiannya tidak selalu lancar. Prosesnya sulit dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Dia juga mengalami masalah ketika ada instrumen analitis yang tidak tersedia atau hasil penelitian yang tidak diharapkan. Meskipun demikian, cintanya pada bidangnya membuat dia dapat bertahan dalam setiap tantangan yang dihadapinya.

Mengenai prestasinya, Grandprix berharap dunia akademis Indonesia dapat didorong untuk memajukan penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para pemuda Indonesia. Ia juga mengharapkan program beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggulan (PMDSU) untuk terus berjalan dan berkembang untuk meningkatkan kualitas kompetensi dan daya saing internasional para pemuda Indonesia. Ayah Grandprix, Octovianus Kadja, 54 tahun, mengatakan bahwa dia bangga dengan prestasi anaknya dan berkata bahwa ini sebagian karena disiplin yang dia ajarkan pada Grandprix sejak usia dini. (dok.PPID/nurjaeni)

Berita baik datang dari wakil Indonesia di ajang Festival Film Pendek tingkat Pelajar Internasional yang pertama di Nabeul, Tunisia. Hadzari, sebuah film pendek berdurasi 2 menit 44 detik adalah sebuah karya pemikiran audiovisual dari sineas muda, Irhamni Rofiun, yang merupakan pelajar Indonesia yang sedang menyelesaikan studi pascasarjana di Universitas Ezzitouna. Film Hadzari, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Waspada’ berhasil menjadi yang terbaik dalam ajang tersebut, dan satu-satunya film yang diputar ketika malam penganugerahan, Minggu malam (9/7).

Film berbahasa Arab ini tidak hanya melibatkan mahasiswa Indonesia sebagai aktor utama, melainkan mengajak crew dan pemain asing dalam proses penggarapannya. Selain itu, Indonesia juga berhasil memborong banyak penghargaan, di antaranya Best Soundtrack dalam film Silat, Taufik Imron sebagai aktor favorit dalam film Hadzari, dan film Silat sebagai film favorit pilihan hadirin panitia dan peserta.

Penghargaan Film Pendek di Tunisia

Menurut pengakuan Irhamni Rofiun, yang juga menjadi sutradara dalam film Silat tersebut, ketika dirinya tiga kali maju untuk mengambil penghargaan di panggung utama, pemanggilan ketiga pemberian penghargaan sebagai sutradara dalam film Silat, ia sempat tidak percaya dan terharu sekaligus bangga karena nama Indonesia kembali harum. Sebab, menurut penuturannya, film Silat tersebut banyak melibatkan banyak orang dan pendukung, di antaranya tim dan pemain yang tergabung dalam organisasi induk PPI Tunisia, anak-anak dari staf KBRI dan Medco Energi, serta yang paling mendukung penuh adalah KBRI Tunis sebagai sponsor tunggal.

Kompetisi film pendek ini diikuti oleh 600 karya dari 125 negara dari 3 jenis kategori: Fiksi, dokumenter dan animasi. Kebanyakan mereka adalah para pelajar atau mahasiswa yang bergelut dalam dunia sinematografi dan perfilman, bahkan ada yang sudah biasa mengikuti festival film pendek di Cannes, Prancis, Toronto, USA, dll. Hanya 27 karya film pendek dari 20 negara di antaranya: Indonesia, Palestina, Turki, Syria, Aljazair, Jordania, Lebanon, Irak, Mesir, Iran, Malaysia, USA, Prancis, Italia, Spanyol, Jerman, Cina, Thailand, Norwegia dan tuan rumah Tunisia. Dan yang diundang khusus oleh panitia penyelenggara hanya 20 sineas muda dari 20 negara tersebut, mereka ditanggung sepenuhnya mulai dari akomodasi, transportasi, penginapan, makan, dll. Untuk mengikuti acara puncak di Nabeul, Tunisia sejak tanggal 6-9 Juli 2017. Kegiatan tersebut meliputi workshop film; writing scripts, shooting & directing, editing & mixing. Dan itu semua dimentori oleh para seniman dan para pakar dalam dunia sinematografi dan perfilman, serta acara hiburan lainnya.

Pengumuman Pemenang Festival Film Pendek se-Tunisia

Berikut daftar peraih penghargaan terbaik Festival Film Pendek Pelajar Internasional 2017 di Nabeul.

- The prize of the best image: Film Fino, disutradarai oleh: Estephan Khattar, Lebanon.
- The prize of the best soundtrack: Film Silat, disutradarai oleh: Irhamni Rofiun, Indonesia.
- The prize of the best editing: Film Day 79, disutradarai oleh: Wissem Al Jaafari, Palestina.
- The prize of Best Scenario: The End of The Good Days, disutradarai oleh: Bask Mehmet, Turki.
- The prize of Best Male Performance: Memood, Jerman.
- The prize of Best Female Performance: Raya Busslah, Film Red on White, Tunisia.
The prize for the best short film: Film Hadzari (Waspada), disutradarai oleh: Irhamni Rofiun, Indonesia.

Daftar di atas adalah pemenang pilihan dewan juri, adapun pilihan pemirsa (penonton: panitia, peserta) adalah:

- Film Pendek Favorit: Film Silat, disutradarai oleh Irhamni Rofiun, Indonesia.
- Aktor Favorit: Taufik Imron, Film Hadzari (Waspada), disutradarai oleh Irhamni Rofiun, Indonesia.

(Red: PPI Tunisia/ Ed: Amir)

[Cambridge, USA, February 2017]. Belajar di Harvard University dan mewakili kampus bergengsi di ajang bertaraf dunia, World Government Summit di Dubai, menjadi pencapaian yang luar biasa bagi salah satu pelajar terbaik Indonesia, Andhyta Firselly Utami atau yang akrab disapa Afu. Mahasiswa candidate master of Public Policy ini juga berhasil menjadi juara dalam kompetisi Global Universities Challenge yang menjadi salah satu rangkaian dari acara tersebut. Pada kesempatan lalu tim PPI Dunia berhasil mengajak wawancara mahasiswa cantik berkacamata ini dengan berbagai ulasan menraik berikut hasil wawancaranya.

  1. Tolong ceritakan sedikit tentang World Government Summit 2017?

World Government Summit diadakan oleh kantor Perdana Menteri UAE. Kegiatannya selama kurang lebih 4 hari, dengan tema utama membahas tentang ‘Masa Depan Pemerintahan’ atau The Future of Government. Sepanjang acara, berbagai pemimpin kelas dunia seperti Sekretaris Jendral PBB, Presiden Bank Dunia, Sekretaris Eksekutif UNFCCC, dan beberapa Perdana Menteri seperti dari Jepang dan Bhutan hadir untuk memberikan perspektif mereka misalnya sehubungan dengan ekonomi, pendidikan, dan perubahan iklim. Saya sebagai peserta di sana untuk mendengarkan dan terlibat dalam diskusi-diskusi di dalamnya, dan yang terpenting mewakili HKS untuk mengikuti kompetisi Global Universities Challenge.

  1. Bagaimana bisa menjadi delegasi?

Saya terpilih sebagai 1 dari sekitar 20 orang mahasiswa HKS yang berangkat ke World GovernmentSummit lewat seleksi tertulis (esai), tapi untuk mengikuti kompetisi Global Universities Challenge-nya sendiri dipilih lagi 10 orang saja.

  1. Ceritakan proses kompetisinya?

HKS datang dengan ide ‘cit-coin’ atau ‘citizencoin’ yang berfungsi semacam ‘universal basicincome’, tapi didesain sedemikian rupa untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan sipil. Di masa depan dengan banyak automasi, pekerjaan yang kita punya sekarang akan digantikan oleh artificial intelligence atau robot, sehingga manusia berisiko kehilangan senseofpurposedan senseofbelongingterhadap negara. Dengan menggunakan cit-coin, pemerintah bisa memberikan insentif bagi warga negara untuk tetap terlibat. Kami menjadi juara 1, juara 2-nya adalah Stanford University dan juara 3-nya adalah IESE.

Afu (Kanan) sedang menghadiri World Government Summit 2017 di Dubai, UAE

  1. Gimana bisa kuliah di Harvard?

Ada 4 elemen aplikasi: tes (GRE & TOEFL), resume, tiga esai, dan tiga surat rekomendasi, yang semuanya dinilai secara keseluruhan (tidak ada batas minimum yang ‘strict’). Secara umum, HKS mencari mahasiswa yang memiliki komitmen di pelayanan publik dan memiliki track record kepemimpinan. Kalau mau tahu lebih lanjut, bisa periksa website HKS. Selain itu, organisasi ‘Indonesia Club at Harvard’ juga memiliki channel YouTube yang membahas lebih lanjut tentang proses aplikasi ini.

  1. Kenapa Harvard Kennedy School?

Saya pilih HKS karena program yang ditawarkan sangat cocok untuk yang berpola pikir generalis, bukan spesialis. Di hari pertama orientasi, ini semakin diperjelas bahwa mahasiswa HKS diharapkan untuk memiliki wawasan yang luas dalam berbagai isu (bukan hanya satu), namun didasari oleh keterampilan yang kuat dalam kerangka analisis yang berbasis teori ekonomi dan statistik, kepemimpinan dan manajemen, serta komunikasi dan negosiasi.

Lokasinya di Cambridge, kota yang tidak terlalu ‘bising’ seperti New York atau kota besar lainnya hehehe.

  1. Beasiswa atau dana pribadi?

Sepenuhnya ditanggung beasiswa pendidikan LPDP. Kalau bayar sendiri, nggak mampu :))

  1. Apa prodi yang sekarang diambil relevan dengan S1 kamu?

Saya S1 Hubungan Internasional di Universitas Indonesia. Secara umum, jurusan saya sekarang memungkinkan untuk ‘menyelami isu kebijakan publik’ pada level yang lebih dalam, yaitu nasional atau lokal. HIUI juga memberikan saya kerangka berpikir yang analitis. Dari sisi ini, jurusan MPP dan Hubungan Internasional bisa ‘berhubungan’.

  1. Jadwal perkuliahan di sana sepadat apa?

Tiap semester mahasiswa dianjurkan untuk ambil 20 SKS, atau sama dengan sekitar 5 kelas (@4 SKS) sampai 10 modul (@2 SKS). Semester ini saya ambil 3 kelas dan 4 modul, dengan jadwal kelas Senin-Kamis dari jam 10 sampai 4 sore. Beberapa modul ada yang sampai malam hari. Tapi yang paling memakan waktu sebenarnya tugas reading—penting untuk mahasiswa sudah memiliki pemahaman sebelum berdiskusi di kelas—dan problem set untuk kelas yang lebih kuantitatif. Di luar kelas, saya juga terlibat di beberapa kegiatan mahasiswa seperti klub Energi & Lingkungan, Climate Justice, Indonesia Club at Harvard, dan mulai semester depan saya akan menjadi Managing Editor di The Citizen (koran mahasiswa HKS). Biasanya kegiatan ini berlangsung di antara atau setelah kelas.

  1. Bagaimana perasaan Afu sekarang menjadi mahasiswa Harvard?

Sebagai mahasiswa Harvard, biasa saja, tidak ada yang beda, tapi sebagai mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump, saya merasa sangat sadar dengan identitasku yang sebelum sekolah di sini tidak terlalu kuperhatikan. Baru-baru ini saya juga menulis tentang pengalamanku sebagai minoritas dan bagaimana di kelas identitasku menjadi hal yang sangat berpengaruh dalam interaksi sehari-hari di kelas maupun di luar kelas.

  1. Ada berapa mahasiswa Indonesia yang tersebar di Harvard?

Kurang lebih ada 20-30 orang, tersebar di berbagai jurusan mulai dari Kebijakan Publik, Bisnis, Arsitektur/Desain, Teori Islam (!), Pendidikan, dsb.

  1. Pesan Afu untuk anak muda Indonesia yang ingin kuliah di Harvard?

Jangan pernah masuk Harvard hanya untuk namanya saja, karena kalau jurusannya tidak sesuai dengan apa yang teman-teman sebenarnya inginkan, nanti kuliahnya bisa tertekan dan dua tahun bukan waktu yang singkat. Kalau sudah cukup memiliki informasi tentang kecocokan visi hidup teman-teman dengan Harvard, mulai riset online secara mendalam, dan jangan tsayat untuk mengontak alumni atau teman yang memiliki pengalaman dengan sistem aplikasi universitas di Amerika Serikat untuk memberikan masukan. Goodluck!

(Red: Dinda/ Ed: Amir)

Meski jauh dari tanah air, mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Jepang terus memberikan prestasi yang membanggakan untuk negeri tercinta. Kali ini datang dari Liana Christiani, yang sedang menempuh pendidikan S3 Teknik, Jurusan Sistem Energi Hidrogen di Kyushu University, Jepang. Setelah lulus S1 dari Universitas Negeri Jakarta jurusan Kimia, Liana melanjutkan pendidikan Master dan Doktoral di Kyushu University, Jepang. Meski telah mengikuti berbagai kompetisi sejak menempuh pendidikan S1, namun ia baru berhasil memetik hasil tersebut setelah sampai di negeri sakura.

Liana sudah mengikuti berbagai kompetisi sejak S1 dan belum berhasil mendapatkan hasil yang memuaskan, tetapi ia tidak pernah patah semangat. Beberapa bulan setelah menginjakkan kaki di Jepang, Liana mendapat kesempatan untuk mengikuti suatu kompetisi. Kompetisi pertama yang diikutinya adalah Hydrogen Student Design Contest pada tahun 2013. Dalam kompetisi ini, ia beserta kelompoknya harus menyelesaikan suatu topik penelitian. “Waktu itu temanya tentang merancang infrastruktur hidrogen di South East USA, California. Teamwork sangat dibutuhkan karena ini merupakan projek jangka panjang,” jelas Liana. Proses mengerjakan projek tersebut memakan waktu 3 sampai 4 bulan. Besarnya projek dan kesibukan senpai dan sensei, membuat mereka tidak dapat berperan banyak dalam membantu proses mengerjakan projek tersebut, sedikit masukan dan tambahan selalu diberikan.

Setiap tahun Kyushu University selalu mengirimkan mahasiswanya untuk kompetisi ini dan Liana merupakan mahasiswa asing pertama yang turut bergabung dalam kompetisi ini. Pemberitahuan informasi dengan menggunakan bahasa Jepang menjadi alasan mengapa mahasiswa internasional kadang kurang mengetahui informasi kompetisi seperti ini dan juga semua lecture dan persiapan menggunakan bahasa Jepang. Setelah Liana mengikuti kompetisi ini, ia mulai mengajak mahasiswa asing lain untuk bergabung di tahun berikutnya.

Usaha Liana dan kelompoknya dalam pembuatan projek tersebut membuahkan hasil manis. Setelah masuk 5 besar, mereka menjadi pemenang di tahap berikutnya dan terbang ke Washington, Amerika Serikat untuk mempresentasikan projek mereka di depan peserta lain. Panitia dan juga direktur. Di sana, mereka berhasil menyandang gelar Grand Prize Winner dalam acara Hydrogen Student Design Contest (2013) di negeri Paman Sam.

Liana saat mengikuti kompetisi Perstorp Open Innovation Challenge di Malmo, Swedia.

Dari pengalaman pertama mengikuti kompetisi internasional, wanita asal Jakarta ini bercerita bahwa ia mendapatkan banyak pelajaran. Baginya, bisa mendaftar kompetisi tersebut sudah menjadi suatu pengalaman yang besar untuk ke depannya. Banyak sekali mahasiswa yang ingin turut berpartisipasi dalam suatu kompetisi namun informasi tersebut tidak sampai kepada mereka. Kerja keras dalam mengerjakan projek tersebut juga sangat berharga, dan menang adalah hadiah dari semua proses yang telah ia lalui. Hal lain yang ia dapatkan adalah dapat membangun network, kepercayaan diri, dan mengembangkan dirinya. Dalam proses mengerjakan projek tersebut, ia juga bertemu dengan orang orang pintar dan saling bertukar ilmu yang sangat bermanfaat. “Mahasiswa Jepang itu juga suka bercanda kok, tapi mereka sangat kerja keras dan komitmen. Jika waktunya kerjain projek jam 7, mereka akan kerjain saat itu,” tutur Liana.

Prestasi lain terus datang dari Liana, di tahun 2016 ini ia mengikuti Perstorp Open Innovation Challenge. Perstorp merupakan suatu perusahaan polimer, di mana mereka memberikan satu material polimer dan memberikan tantangan kepada para peserta, bagaimana penggunaan material tersebut 40 tahun ke depan yang dibagi menjadi 3 kategori, yaitu dalam bidang kualitas hidup manusia, lingkungan, dan teknologi komunikasi atau IT. Liana bersama satu temannya, memilih kualitas hidup manusia sebagai dasar inovasi mereka. Ia membuat material pengobatan.

Setelah sebelumnya bersaing dengan ratusan peserta dari negara yang berbeda-beda, Ia terpilih menjadi salah satu dari 3 finalis yang ada. Finalis yang terpilih berangkat ke Swedia untuk mempresentasikan atau bisa dibilang menjual inovasi material pengobatan yang telah dibuat oleh tim Liana selama 15 menit, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Dan hasil tidak menghianati janji, ia akhirnya berhasil menempati peringkat kedua dalam acara Perstorp Open Innovation Challenge di Malmo, Swedia.

Baginya, di Jepang ia lebih mempunyai kesempatan untuk mengembangkan diri dengan banyaknya akses dan fasilitas yang mendukung. Namun, Liana merasakan terdapat perbedaan antara dosen universitas di Indonesia dan di Jepang. Jika di Indonesia, universitas atau bahkan masing masing fakultas senang membuat suatu kompetisi antarmahasiswa, lain ceritanya dengan di Jepang. Di sini, Liana sudah mendapat peringatan dari dosen dan guru yang mengajarnya karena ia aktif mengikuti berbagai kompetisi. “Sensei di sini baik-baik kok, mereka hanya takut aku jadi tidak fokus lagi dengan riset dan lab,” lanjutnya.

Lalu bagaimana cara Liana bisa aktif mengikuti berbagai kompetisi disaat tetap menjalankan kehidupan kuliah dengan baik? Manajemen waktu dan kerja keras adalah jawaban pertama Liana. Di Jepang, kampus merupakan tempat untuk riset, maka jika ingin menghargai waktu, selesaikan dahulu riset sesuai jam belajar. Setelahnya, Liana akan melakukan hal lain seperti mencari informasi kompetisi, atau mengerjakan proses untuk kompetisi tersebut seperti mengerjakan kompetisi, membuat proposal, dan membaca materi yang berkaitan.

Liana juga menuturkan bahwa skill bahasa juga menjadi hal penting yang harus diperhatikan jika ingin mengikuti kompetisi internasional. “Menerjemahkan aja belum cukup, jika kita punya ide bagus tapi tidak bisa mengekspresikan dan berbicara tentang ide kita dengan baik, akan menjadi sia-sia.” Satu hal yang harus diperhatikan berikutnya adalah cara penulisan bahasa Inggris dengan menggunakan academic writing di mana tulisan yang dibuat dengan struktur yang baik dan antarparagraf saling berhubungan. Tak lupa, doa menjadi salah satu kuncinya.

Wanita ini mempunyai cita-cita untuk menjadi peneliti di sebuah instansi internasional agar mempunyai koneksi internasional dan dapat mengembangkan wawasan. Ia juga berharap dengan bekerja di instansi tersebut, dapat membuat dirinya mengetahui apa yang sedang berkembang di negara lain, agar Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara tersebut. Liana berpesan kepada teman-teman yang sedang menempuh pendidikan di Jepang, agar mencari pengalaman yang lebih baik, lebih produktif, jangan sampai pulang kembali ke Indonesia hanya membawa ijazah tanpa pengalaman lain. “Dan untuk teman-teman di Indonesia, bersediakah kita selamanya jadi bangsa pasar? Kalau kita tidak memimpin, kita akan terus mengekor. Jadi ketika kita mempunyai kesempatan menjadi pemimpin maka majulah, jangan hanya berdiam di ujung ekor tersebut.” tutup Liana.

(Putri Nurdivi/F)

img_8254

 

[Yuk dukung Janu dalam Lomba Blog Internasional 2017]

Rekan-rekan, Bapak/Ibu sekalian yang baik. Perkenalkan, saya Janu, pelajar Indonesia di University of Birmingham. Saat ini saya sedang mewakili Indonesia dalam 2017 Masdar Engage Blogging Contest. Pemenang terpilih nantinya akan menyampaikan gagasannya di Abu Dhabi Sustainability Week 2017. Mari bantu saya untuk mewakili Indonesia. Caranya mudah :

1. Masuk ke laman http://bit.ly/JANU_M
2. Baca artikelnya.
3. Vote pada 5 bintang di bawah.

Periode voting sampai 7 Januari 2017. Target kita 1100 suara (saat ini masih 600). Dukungan rekan-rekan, Bapak/Ibu sekalian sangatlah berarti. Jika berkenan, boleh juga membagikan informasi ini ke kolega atau komunitas teman-teman ya.

Terimakasih ????
Semangat berkarya untuk Indonesia.

Salam hangat.
Janu Muhammad

www.janumuhammad.com
#WorldIn2026 #ADSW2017 #Indonesia

PPIDUNIA.ORG, Saudi Arabia – Pada tahun ini, Sulaiman al-Rajhi College menerima 8 mahasiswa baru yang berasal dari Indonesia. Mereka diterima di Fakultas Kedokteran di kampus tersebut. Secara tidak langsung, mereka merupakan mahasiswa Indonesia pertama yang mendapatkan beasiswa untuk belajar kedokteran di Arab Saudi. Tepat pada hari Minggu, 30 Oktober 2016 sebagian dari mereka telah menginjakkan kakinya di Arab Saudi, sedangkan sisanya datang pada hari Sabtu, 5 November 2016.

whatsapp-image-2016-11-13-at-08-58-15

PPMI Arab Saudi yang diwakili oleh Muhammad Prabasworo Jihwakir (Sekjen PPMI Arab Saudi), Mohammad Adli Ahdiyat (Humas dan Media PPMI Arab Saudi), dan Muhammad Fahmi Aufar Asyraf (Humas dan Media PPMI Arab Saudi) berkesempatan mengunjungi dan menyambut mereka, tepatnya berada di kota Bukairiyyah, Provinsi Qassim.

Teriring doa, semoga mahasiswa Indonesia di sana dapat segera beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan menorehkan prestasi sehingga menjadi contoh bagi mahasiswa-mahasiswa yang lain, mengingat mereka adalah mahasiswa asing pertama di Arab Saudi yang belajar di Fakultas Kedokteran. [IKA/AJU]

Bertempat di halaman Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bangkok, Thailand, Bayu Pramesona (Presiden Permitha) dan Zuraidah Nasution (Kepala Departemen Sumber Daya Manusia Permitha) telah menyerahkan hasil donasi dari program #PermithaBerbagi100SepatuSekolah.

Penyerahan hasil donasi ini berlangsung sekitar pukul 16.30 waktu setempat. Kegiatan yang dimulai dari perbincangan hangat ini dilanjutkan dengan penjelasan tentang gerakan serupa yaitu Gerakan 1000 Sepatu Sekolah untuk anak yatim dan dhuafa dari Koko Iwan selaku perwakilan dari Yayasan Sahabat Cita yang menjadi partner Permitha dalam pendistribusian sepatu sekolah. “Gerakan yang dimulai pada tahun 2012 ini sudah membagikan lebih dari ribuan sepatu sekolah bagi anak yatim dan dhuafa di daerah pedalaman Jawa Barat dan beberapa daerah tertinggal di Indonesia lainnya” ungkap Koko.

15000773_692555580910275_7786104143088338006_o

Sertifikat untuk donasi 100 pasang sepatu sekolah

 

 

Program #PermithaBerbagi100SepatuSekolah ini merupakan program unggulan dari Pengurus Permitha periode 2016/2017. Program ini diinisiasi karena melihat masih banyaknya adik-adik sekolah dasar khususnya yang berada di daerah pedalaman Indonesia yang masih serba kekurangan terutama dalam hal finansial sehingga tidak jarang dari mereka yang hanya memakai sandal atau bahkan tanpa alas kaki untuk berangkat ke sekolah. “Meski kami jauh di negeri orang, kami ingin tetap bisa berkontribusi bagi kemajuan pendidikan di Indonesia khususnya di daerah pedalaman. Kami memilih sepatu karena bagi sebagian besar anak-anak, sepatu baru seperti menjadi semangat ketika mereka pergi ke sekolah, semangat itulah yang ingin kita sebarkan” ungkap Bayu.

15003279_692555644243602_6841982728528222031_o

Penyerahan cinderamata dari PERMITHA

Program #PermithaBerbagi100SepatuSekolah ini dibuat dengan maksud untuk menumbuhkan jiwa berbagi dan sekaligus semangat berwirausaha bagi seluruh pengurus Permitha. Donasi berupa uang tunai ini tidak hanya merupakan dana dari para donator saja, tetapi juga dari penyisihan hasil keuntungan penjualan kaos dan buku Permitha selama 10 bulan terakhir. “Kita semua merasa beruntung bisa diberi kesempatan untuk bersekolah dengan fasilitas yang lengkap, tapi jauh di dalam sana masih banyak adik-adik kita yang kurang beruntung, semoga donasi yang tidak seberapa ini bisa memacu semangat adik-adik kita untuk tetap belajar meski dalam segala keterbatasan” tutup Zuraidah.

(Red: Permitha/ Ed: Amir)

Dalam rangka memperingati hari Pahlawan 10 November 2016, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Turki menerbitkan buku untuk Indonesia yang berjudul "Bersatu untuk Menginspirasi."

"Buku setebal 124 halaman tersebut berisi kumpulan tulisan dari para pelajar Indonesia di berbagai kota di Turki" ujar Naelil Maghfiroh, koordinator penulisan buku.

Gagasan menulis untuk Indonesia merupakan salah satu program PPI Turki dalam semangat berkontribusi untuk bangsa dan negara. Meskipun para pelajar sedang menuntut ilmu di Turki, rasa cinta terhadap tanah air tak boleh lekang dan pudar.

Para pelajar Indonesia di Turki dari berbagai tingkatan serta latar belakang diberi kesempatan untuk menuangkan ide inspiratif bagi Indonesia, baik dalam hal menarik yang didapatkan selama mengenyam pendidikan di Turki maupun dalam basis pengetahuan yang menjadi fokus studi.

"Hari Pahlawan sengaja dipilih sebagai momentum untuk mengingat dan revitalisasi semangat generasi muda untuk bangsa Indonesia yang majemuk dan ber-Bhineka Tunggal Ika." sebut Azwir Nazar, selaku PPI Turki.

Untuk itu kita berharap buku sederhana tersebut akan menjadi kontribusi nyata Mahasiswa Indonesia di Turki bagi bangsa dan negara Indonesia treinta. Kita terus mendorong karya karya intelektual yang berguna bagi pembangunan bangsa. Sebab setiap Warga Negara Indonesia dimanan besada bisa menjadi pahlawan bagi Indonesia.

Turki, 10 November 2016

Naelil Maghfiroh (Koordinator Penulisan Buku)

Azwir Nazar (Ketua Umum PPI Turki)

(Ed/AASN)

zuf_1syo

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920